NASKAH DRAMA DETIK-DETIK PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA
Tokoh
Soekarno : Radit
Hatta : Rivan
Sjahrir : Cleon
Chairul Shaleh : Reva
Darwis : Syifa
Wikana : ilhan
Sukarni : Rashifa
Soebardjo : Haykal
Fatmawati : Clarizza
Sayuti melik : Callista
Bm diah : Wafa
Sydanco singgih : Julia
Iwa kusumasumantri : akhdan
Sudiro : Akhdan
Djojo : wafa
Laksamana maeda : akhdan
Narator : Prilla
Adegan 1 : Berita Kekalahan Jepang
Pada tanggal 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito memerintahkan penghentian
permusuhan terhadap sekutu, setelah sebelumnya yaitu pada tanggal 14 Agustus 1945
sekutu menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Berita tentang genjatan
senjata yang dilakukan oleh Jepang ini disiarkan di radio jepang dari Tokyo. Ternyata
siaran tersebut tertangkap di Indonesia dan Sutan Syahrir mendengarnya.
Adegan 1 sjahrir mendengarkan putaran radio yang berisi info tentang kekalahan jepang lalu ia
bergegas menuju perkumpulan golongan muda
Sutan Syahrir : Apakah kalian sudah mendengar berita kekalahan Jepang ?
Sukarni : Belum, Bung . Benarkah itu ? Apa yang terjadi dengan Jepang ?
Sutan Syahrir : Dari yang kudengar, Sekutu telah menjatuhkan bom di kota
Hiroshima dan Nagasaki. Oleh sebab itulah, Jepang melakukan genjatan senjata.
Chairul Shaleh : Kalau begitu, berarti kita harus segera memproklamirkan kemerdekaan.
Sukarni : Benar itu, Jepang sudah tak ada wewenang lagi di negeri kita. Kita harus memanfaatkan
momen ini !
Adegan 2 : Peristiwa Rengasdengklok
Babak 1 : Perdebatan golongan tuan dengan golongan muda
Setelah mendengar berita kekalahan Jepang, Chairul Shaleh segera
merencanakan pertemuan dengan anggota golongan muda lainnya untuk
membicarakan masalah proklamasi kemerdekaan. Pertemuan ini
dilangsungkan di Jalan Pegangsaan Tinur No. 17 Jakarta pukul 20.00 WIB.
Latar : sedang berkumpul di meja
Chairul Shaleh : Teman-teman sekalian, sudahkah kalian mendengar berita tentang kekalahan
Jepang ?
Wikana : Belum, kawan . Darimana engkau tahu tentang itu ?
Chairul Shaleh : Barusan saya dan Sukarni berkumpul dengan Syahrir, ia mendengar siaran radio
Jepang yang mengumumkan berita tentang genjatan senjata itu.
Darwis : Berarti negeri kita sekarang dalam kondisi vacuum of power ?
Chairul Shaleh : Benar. Demikian, saya mengumpulkan kalian semua disini untuk membicarakan
masalah itu. Kita harus memanfaatkan situasi ini untuk memproklamirkan kemerdekaan.
Sukarni : Tepat sekali . Kalau begitu, kita harus membagi tugas. Sjahrir dan Chairul , kalian harus pergi
ke kediaman Soekarno untuk menyampaikan kabar ini. Saya dan Bung Darwis akan memerintahkan
anggota pemuda lainnya untuk merebut kekuasaan dari Jepang.
ADEGAN 3
Sutan Sjahrir dan chairul shaleh menemui Soekarno di rumahnya untuk memberitahukan
tentang kekalahan Jepang. Sjahrir mendesak untuk mempercepat proklamasi, tetapi Bung
Karno menolak.
Shaleh + Sjahrir : (mengetuk pintu) ”Assalamualaikum”
Soekarno : (membuka pintu) “Waalaikumsalam, silakan masuk”
Shaleh + Sjahrir : “Terima kasih” (masuk)
Soekarno : (duduk ) “Duduklah” (hatta dan sjahrir duduk) “Mengapa kalian datang kemari? Ada masalah
apa ?”
shaleh : “Ada berita penting yang akan Sjahrir sampaikan.”
Soekarno : “Berita apakah itu Sjahrir?”
Sjahrir : “Saya dengar jepang telah menyerah pada sekutu. Bagaimana jika kesempatan ini kita gunakan untuk
memproklamasikan kemerdekaan agar Indonesia memiliki kepemimpinan baru? “
Soekarno : “Saya tidak berhak bertindak sendiri, semua itu hak PPKI. Alangkah janggal bila saya mengucapkan
kemerdekaan tanpa melalui PPKI yang saya ketuai.”
Sjahrir : “Tapi Bung...”
Soekarno : “Maafkan saya Sjahrir, tapi kita memang tidak boleh gegabah.”
Sjahrir : “Baiklah... kalau begitu kami permisi. Mari Bung Hatta.” (dengan nada kesal0
shaleh : “Mari.”
ADEGAN 4
Malam hari golongan pemuda datang Kembali ke Kediaman Soekarno
Untuk mencoba meyakinkan kembali Soekarno, Di Jl. Pegangsaan
Timur No.56 Jakarta pukul 22.00 WIB. Dan Terjadi Perdebatan serius
antara golongan pemuda dengan Soekarno
Wikana + shaleh : asalamualaikum (sambil mengetuk pintu)
Fatmawati : waalaikum salam, ada keperluan apa ya
Wikana : kami ingin berbicara kepada bung karno
Fatmawati : oh…, baik sebentar saya panggilkan bapak dulu
Soekarno : ada apa dari kedatangan kalian malam malam begini
Shaleh : Kami ingin membahas Kembali tentang kemerdekaan negara ini bung
Wikana : Kita harus memproklamirkan kemerdekaan sekarang, Jika Bung karno tidak
bertindak cepat, maka akan ada pertumpahan darah dan pembunuhan
besar-besaran esok hari
Soekarno : Ini batang leherku, seretlah aku ke pojok itu sekarang dan potong
leherku malam ini juga ! Kamu tidak perlu menunggu hingga esok hari !
Shaleh : Tapi ini saat yang tepat, Bung. Jepang sudah kalah oleh Sekutu dan tak ada kuasa lagi di
negeri ini. Mengapa harus menunggu ? Rakyat sudah banyak menderita akibat penjajahan ini..
Moh hatta masuk ke ruangan perdebatan tersebut
Moh. Hatta : Jepang adalah masa yang silam. Belum lagi kita harus menghadapi Belanda yang hendak
kembali berkuasa di negeri ini. Jika Saudara tidak setuju dengan apa yang saya katakan, dan mengira
diri Saudara telah sanggup menopang kekuatan sendiri, Mengapa datang pada Soekarno dan
memintanya untuk memproklamirkan kemerdekaan?
Chairul Shaleh : Apakah kita harus menunggu janji Jepang untuk memerdekakan
bangsa ini ? Kita bisa, Bung . Kita harus bangkit dan memproklamirkan kemerdekaan sendiri .
Mengapa harus menunggu janji manis itu ? Jepang sendiri bahkan telah kalah dalam ³Perang Suci´ nya
!
Soekarno : Kekuatan segelintir ini takkan mampu mengalahkan armada perang milik Jepang ! Coba
kau perlihatkan padaku, mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu ? Apa tindakanmu untuk
menyelamatkan wanita dan anak-anak jika ternyata terjadi pertumpahan darah ? Bagaimana cara kita
nanti untuk mempertahankan kemerdekaan ? Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas
kekuatan sendiri.
Wikana : Tapi semakin cepat kita memproklamasikan kemerdekaan akan semakin cepat pula kita
mengakhiri penderitaan rakyat yang sudah ditanggung selama ini.. Inilah yang sudah ditunggu-tunggu
bangsa kita, Bung.
Moh. Hatta : Baiklah. Tapi berikan kami waktu untuk berunding sebentar.
ADEGAN 5
Kemudian para anggota golongan tua yang berada di kediaman Soekarno
langsung membicarakan permasalahan tersebut.
Moh. Hatta : Bagaimana ini ? Para pemuda menuntut untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.
Soekarno : Tapi kita tidak boleh gegabah, Bung. Kita butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya
dengan matang agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Mr. Soebardjo : Saya setuju. Menurut saya, yang terpenting sekarang adalah menghadapi Sekutu yang
hendak berniat kembali berkuasa di negeri ini. Selain itu, masalah kemerdekaan sebaiknya dibicarakan
lagi dalam sidang PPKI 18 Agustus mendatang.
Iwa Kusumasumantri : Lalu bagaimana dengan pendapat golongan muda ? Apa kita abaikan saja ?
djojo : Ya, lagipula mereka masih muda, pemikiran mereka terlalu pendek. Kita harus melihat ke
depan, mempersiapkannya dengan matang. Kalau tidak bagaimana nanti jika semuanya berantakan?
Iwa Kusumasumantri : Baiklah , Bung. Berarti kita semua sudah sepakat.
Setelah selesai berunding, para golongan tua segera menemui para
anggota golongan muda yang menunggu di luar ruangan.
Moh. Hatta : Setelah kami berunding tadi, kami memutuskan untuk tidak tergesagesa mengenai hal
proklamasi kemerdekaan. Hal ini masih akan dibicarakan lagi dalam sidang PPKI.
Golongan muda yang mendengar kabar itu merasa kecewa
BABAK 2 : Penculikkan Soekarno dan Moh. Hatta oleh para pemuda.
Dengan berat hati mendengar keputusan tersebut, para pemuda pun
meninggalkan kediaman Soekarno. Tetapi mereka tidak putus asa. Mereka pun
menyusun strategi bagaimana membujuk Soekarno dan Moh. Hatta untuk
memproklamasikan kemerdekaan sesegera mungkin. Akhirnya mereka memutuskan
untuk mengasingkan kedua tokoh itu ke Rengasdengklok agar terhindar dari desakan
pemuda dan pengaruh Jepang di Jakarta.
Adegan 6
Tanggal 16 Agustus 1945 Pukul 04.00 WIB
Wikana : (mengetuk pintu dengan keras) “Bung Karno, Bung Karno!”
Soekarno : (membuka pintu) “Iyaa, ada apa?”
Shaleh: “Anda harus ikut kami ke Rengasdengklok”
Soekarno : “Untuk apa aku ikut dengan kalian?”
Wikana : “Ini sudah jadi kesepakatan para pemuda Bung, kami akan membawa anda dan Bung
Hatta ke Rengasdengklok”
Soekarno : “Tak sadarkah kalian jika aku memiliki istri dan anak yang masih kecil, bagaimana dengan
mereka?”
(Tiba-tiba ada suara tangisan, Fatmawati keluar menggendong Guntur)
Fatmawati : “Ada apa ini Kangmas? Mengapa banyak orang? Guntur sangat takut mendengar suara
kalian.”
Soekarno : “Nimas, pemuda- pemuda ini akan membawaku dan Hatta ke Rengasdengklok.”
Fatmawati : “Untuk apa Kangmas?”
Shaleh: “Untuk menjauhkan Bung Karno dan Bung Hatta dari pengaruh Jepang, Bu.”
Fatmawati : “Lalu bagaimana denganku dan Guntur? Kalian akan meninggalkan kami?” Soekarno
: “Benar, aku tidak mau berpisah dengan istri dan anakku. Jika kalian membawaku, kalian juga
harus membawa mereka.”
Wikana : “Baiklah Bung, kami akan membawa anda dan anak istri anda, tetapi kita harus pergi
sekarang.”
Selanjutnya mereka dibawa menuju kediaman Jiaw Kie Song yang berada di Rengasdengklok
Adegan 7
Hilangnya Soekarno dan Moh. Hatta secara misterius pagi itu,menimbulkan kepanikan di kalangan
para pemimpin di Jakarta. Peristiwa ini baru diketahui oleh Mr. Ahmad Soebardjo pukul 08.00 pagi.
Mr. Soebardjo : Apakah Saudara tahu keberadaan Soekarno dan Bung Hatta ?
sukarni : Maaf, saya tidak tahu, Bung.
Mr. Soebardjo : Katakanlah kepadaku dimana mereka sekarang, dan aku akan menjamin keselamatan
mereka ketika kembali ke Jakarta, dan aku akan menjamin kemerdekaan untuk kalian esok harinya.
Sudiro : Akankah Anda bersumpah untuk itu ?
Mr. Soebardjo : Kau bisa percaya padaku, Nak
Sukarni : Baiklah, kami akan menunjukkan tempatnya, di Rengasdengklok.
Selanjutnya mereka bergegas pergi menuju rengasdengklok dan tiba pada sore harinya
Adegan 8 : Perundingan dengan Soekarno di Rengasdengklok
Rombongan pemuda yang membawa Soekarno dan Hatta tiba di Rengasdengklok. Bung
Hatta telah sampai terlebih dahulu sebelum Bung Karno. Keduanya dibawa ke sebuah
ruangan di dalam rumah Jiaw Kie Song.
Soekarno : Nah , jelaskan sekarang mengapa Saudara sekalian membawa kami
Chairul Shaleh : Maafkan kelancangan kami, Bung . Ini demi keselamatan Anda.
Darwis : Kami ingin membicarakan masalah proklamasi kembali.
Moh. Hatta : Bukankah tempo hari sudah kami katakan kepada kalian, masalah
kemerdekaan masih akan dibicarakan dalam sidang PPKI ?
Chairul Shaleh : Memang benar adanya. Tetapi kami semua berpendapat, Mengapa menunggu untuk
di merdekakan oleh Jepang ? Mengapa menunggu hasil sidang PPKI, kalau kita bisa bergerak dengan
kekuatan sendiri ? PPKI itu bentukan Jepang, Bung. Kami ingin memproklamasikan kemerdekaan tanpa
campur tangan dari Jepang.
Soekarno : Pendapat itu benar. Namun, kita masih terlalu dini untuk memproklamasikan
kemerdekaan. Selain itu kita belum siap dan masih membutuhkan bantuan dari Jepang untuk
merdeka.
Darwis : Bagaimana bila perkataan Jepang tentang kemerdekaan bangsa kita hanya janji manis
belaka ? Apa yang akan Anda lakukan ?
Darwis : Apakah akan selamanya menunggu janji itu, Bung ? Kita harus memproklamasikan
kemerdekaan sekarang juga, demi rakyat yang sudah bertahun-tahun terbelenggu oleh penjajahan di
Tanah Air mereka sendiri ! Mereka berhak bebas, dan sekaranglah saatnya !
Syodanco Singgih : Tenang Saudara sekalian. Mari bicarakan semuanya dengan kepala dingin, tidak
perlu ada ketegangan , ok ?
(Syodanco Singgih membawa Soekarno dan Moh. Hatta menjauh dari perdebatan itu, kemudian
mereka berunding )
Syodanco Singgih : Saya mengerti perhitungan Anda berdua mengenai masalah proklamasi ini, kita
memang belum mempertimbangkan semuanya dengan matang. Tapi saya
percaya kita dapat bangkit dan memanfaatkan situasi ini. Kesempatan tidak akan datang dua kali,
Bung . Apa yang mereka katakan benar adanya dan saya mendukung mereka.
Moh. Hatta : Tetapi, apakah kita bisa?Akankah ini semua mungkin dilakukan ?
Syodanco Singgih : Tentu mungkin, Bung . Asal kita berusaha tentu akan kita temukan
jalan keluarnya. Lagipula, para pemuda di Jakarta sedang menyusun strategi pertahanan untuk
mencegah serangan dari Jepang ataupun sekutu yang tidak menerima proklamasi bangsa kita.
Soekarno : Baiklah, saya setuju. Kita akan memproklamasikan kemerdekaan tanpa ada campur tangan
Jepang.
(Fatmawati menggendong Guntur yang menangis, menghampiri mereka)
Fatmawati : “Bolehkah kami pulang ? Lihatlah Guntur daritadi menangis terus.”
Selepas itu rombongan soebarjdo dari Jakarta tiba untuk menjemput Kembali Soekarno dan hatta
Soebardjo : “Benar, bolehkah saya membawa pulang Bung Karno dan Bung Hatta,
Wikana?”
Wikana : “Tidak!”
Soebardjo : “Saya berjanji akan menjaga mereka dengan taruhan nyawa saya.”
Wikana : “Apa aku bisa memegang janjimu itu ?”
Soebardjo : “Tentu saja.”
Wikana : “Baiklah kalau begitu.”
Soebardjo : “Terima kasih.”
Adegan 9
17 Agustus 1945 dini hari. Setelah sampai di rumah Laksamana Maeda yang terletak di Jalan Imam
Bonjol nomor 1, Bung Karno pergi menemui Nishimura agar merubah status dan keadaan di
Indonesia. Namun Nishimura tidak mau. Sehingga Bung Karno kembali ke rumah Laksamana
Maeda. Di ruang makan dalam rumah Laksamana Maeda, berkumpullah Ir. Soekarno, Drs. Moh
Hatta, Ahmad Soebardjo, Soekarni, Sayuti Melik dan BM. Diah untuk merumuskan naskah
proklamasi.
Soekarno : “Saudara-saudara, bagaimana bunyi naskah proklamasi kita ?” (menulis kata
“PROKLAMASI” sambil mengejanya)
Soebardjo : “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.”
Soekarno : “Baik, sudah saya tulis”
Hatta : “Lanjutannya Bung, Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain
dilaksanakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”
Soekarno : (menulis sambil mengeja)” Jakarta, 17-8-05. Wakil bangsa Indonesia. Yak, sudah selesai,
apakah anda semua setuju ?”
Pemuda : “Setuju”
Hatta : “Lalu, siapa yang akan menandatangani naskah ini?”
Soebardjo : “Bagaimana kalau naskah ini ditandatangani semua yang hadir?”
Soekarni : “Saya rasa jangan, terlalu banyak. Menurut saya, lebih baik Bung Karno dan
Bung
Hatta saja yang menandatanganinya atas nama bangsa Indonesia”
Semuanya : “Setuju.”
Soekarno : “Sayuti, tolong kau ketikkan naskah ini.”
Sayuti :”Siap bung.” (keluar untuk mengetik naskah proklamasi)
Hatta :: “Kapan kita akan melaksanakan proklamasi?”
Soekarno : “Menurut saya, tanggal 17 adalah tanggal baik. Sebagaimana Al-Quran diturunkan
tanggal 17, selain itu dalam sehari semalam orang Islam sholat sebanyak 17 rakaat. Jadi,
bagaimana kalau hari ini, Jumat legi, tanggal 17 Agustus ?”
Soekarni : “Setuju Bung, lebih cepat lebih baik. Pukul berapa kita akan melaksanakannya?”
Hatta : “Pukul 10.00 tepat, bagaimana?”
Semuanya : “Setuju”
Soekarno : “Saya akan menyuruh Fatmawati untuk menjahit bendera merah putih, tolong
siapkan tiangnya.”
BM. Diah : “Baik Bung, tapi dimana kita akan melaksanakannya?”
Soebardjo : “Di rumah Bung Karno!”
Semuanya : “Setuju”
(Sayuti masuk membawa naskah yang sudah diketik, memberikannya pada Soekarno)
Sayuti : “Ini naskahnya Bung, silakan ditandatangani.”
Soekarno-Hatta : “Baiklah” (menandatangani naskah)
Hatta : “Diah, tolong perbanyak naskah ini dan sebarkan ke seluruh Indonesia.” BM. Diah : “Siap
bung.” (pergi)
Adegan 10
Jumat pagi pukul 10.00, semua orang telah berkumpul di halaman depan rumah Ir.
Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta untuk mendengarkan
pelaksanaan proklamasi. Bung Karno, Bung Hatta, keluar ke serambi depan rumah
diikuti Ibu Fatmawati. Bung Karno mendekati mikrofon sebelum membacakan
proklamasi dan mengucapkan pidato pendahuluan.
Soekarno : Saudara-saudara sekalian, saya telah meminta saudara-saudara hadir, disini untuk
menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah bangsa kita. Berpuluh-puluh tahun kita
bangsa Indonesia berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah
beratus-ratus tahun. Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan itu ada naiknya dan ada
turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di zaman Jepang usaha kita untuk
mencapai kemerdekaan nasional tidak ada [Link] dalam zaman jepang ini, tampaknya kita
menyadarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakikatnya kita tetap menyusun tenaga kita sendiri,
tetapi kita percaya pada kekuatan senidiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil
nasib bangsa dan nasib tanah air kita dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani
mengambil Nasib dalam tangannya sendirikan dapat berdiri dengan kuatnya, maka kami tadi malam
telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-muka rakyat Indonesia. Permusyawaratan itu telah
seiya- sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang waktunya untuk menyatakan kemerdekaan
kita. Saudara-saudara ! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekat itu. Dengarkanlah proklamasi
kami.
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain di selenggarakan dengan cara seksama
dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta hari 17 bulan 08 tahun 05
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno Hatta :
Demikianlah saudara-saudara ! Kita sekarang telah merdeka ! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air
kita dan bangsa kita. Mulai saat ini kita menyusun Negara kita. Negara merdeka, Negara Republik Indonesia
merdeka. Kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita ini.
Adegan 11
PENGIBARAN BENDERA MERAH PUTIHHHH