BAB V
Penutup
5.1 Kesimpulan
Tujuan perencanaan Taman Wisata Alam Danau Lebo sebagai Waterfront Resort
adalah ingin menjadikan Danau Lebo sebagai atraksi wisata yang dapat menarik minat
wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Sumbawa Barat dengan mengaplikasikan
arsitektur ekologi yang berkelanjutan dengan nilai-nilai budaya sekitar. Dalam rangka
mencapai tujuan tersebut, perancangan Taman Wisata Alam Danau Lebo menggunakan
konsep eco-cultur yang dapat dikembangkan menjadi dasar pendekatan perancangan
waterfront resort menjadi beberapa konsep dasar diantaranya konsep program wisata,
konsep pola penataan ruang dan massa serta konsep konservasi tapak.
Konsep program wisata merupakan konsep dasar kegiatan yang akan diwadahi dalam
waterfront resort meliputi fungsi concervation, edukasi, rekreasi, dan embracing.
Fungsi konservasi arah pengembangannya untuk melindungi kawasan wisata Danau
Lebo dan mengembangkan kegiatan pendidikan serta pelestarian budaya sekitar dengan
program kegiatan perlindungan, plestarian, dan pemanfaatan. Adapun fasilitas yang
disediakan berupa balai penangkaran burung, waterfront tonyong (botanical garden),
laboratorium konservasi, aquarium floating (tempat memamer ikan-ikan endemik
kawasan), open stage (sebagai tempat melestarikan warisan budaya setempat ), menumen
Kaki Anca (media informasi visual menganai tokoh Kaki Anca), tempat peminjaman alat
tangkap ikan tradisional dan pembuatan spot pemancingan.
Fungsi edukasi merupakan kegiatan pendidikan yang memberikan pengetahuan dan
informasi mengenai kawasan Danau Lebo. Program kegiatan yang ditawarkan, diantaranya
program pembelajaran dengan fasilitas yang disediakan berupa Waterfront School (kelas
yang mengapung), program pengetahuan dengan fasilitas yang disediakan berupa fasilitas
yang dapat memberi pengetahuan mengenai alat-alat tangkap tradisional dan cara
penggunaannya seperti Green House, dan program penelitian dengan fasilitas yang
sediakaan bangunan laboratorium konservasi.
Fungsi rekreasi merupakan program wisata yang menawarkan kegiatan bersantai dan
istirahat. Fasilitas yang disediakan cottage delux 14 unit dan suite 12 unit, massage room,
kolam renang, dayung sampan, sepeda air, spot pemancingan, restaurant dan erea jogging
track.
Fungsi embracing merupakan upaya memberdayakan masyarakat untuk mengembang
kreatifitas yang berkaitan dengan penyediaan berbagai kebutuhan wisatawan seperti
190
191
cindramata, makanan khas daerah setempat, dan usaha transportasi. Fasilitas yang sediakan
berupa kios souvenir, galeri, warung makan, ruang pelatihan dan tempat parkir khusus
cidomo.
Konsep pola penataan ruang dan massa fasilitas waterfront risort merupakan konsep
dasar perancangan pada tapak dengan membagi tapak menjadi 3 bagian zona yaitu zona
rekreasi, zona konservasi, dan zona hunian.
Zona rekreasi sebagai ruang publik dan zona utama. Pada zona ini ditempatkan
fasilitas rumah makan pengunjung, musallah, kolam renang, kolam sepeda air, playground,
Open stage dan ruang pamer bagi karya seni budaya masyarakat setempat aSmphitheathre
serta kios souvenir.
Zona konservasi sebagai ruang semi publik untuk kegiatan pendidikan, perlindangn
dan penelitian. Zona ini terdiri dari waterfront school sebagai area untuk kegiatan belajar
mengajar dan pengamatan. Area ini terdiri dari Floating school, pustaka konservasi, dan
balai penangkaran. Area Watefront Tonyong tempat untuk melihat tanaman tonyong,
memancing, dan foto-foto. Terdiri dari spot pemancingan, dermaga foto dan botanical
garden. Area Waterfront Dea Bide sebagai area pelatihan terhadap kegiatan-kegiatan
budaya dan budidaya ikan air tawar. Pada waterfront Dea Bide terdiri dari green house,
floating aquarium, balai laboratorium konservasi dan dermaga perahu.
Zona hunian sebagai ruang privat untuk pengunjung yang menginap terdiri dari
fasilitas cottage yang dibedakan menjadi dua cottage delux (Bala ode) 14 unit dengan
ukuran 5x9 m dan suite (Bala rea) 12 unit dengan ukuran 5x12 m, restaurant, sculptur Kaki
Anca, flaza apung, dermaga pancing, massage room, dan kolam ranang
Konsep konservasi tapak sebagai respon terhadap setatus Danau Lebo sebagai daerah
konservasi, dimana konsep ini menjelaskan konsep lansekap dan konsep utilitas. Konsep
lansekap sebagai cara penataan ruang luar pada tapak dilakukan dengan mempertahankan
tanaman eksisting yang berada di sekeliling tapak dan disesuaikan dengan kondisi tapak
kawasan serta keberadaannya tidak mengganggu ekosistem setempat. Sedengkan konsep
utilitas sendiri merupakan cara memanfaatkan sumber-sumber yang ada seperti air danau
dan panas terik matahari untuk dikembangkan sebagai sumber air bersih dan energi listrik
serta menghindari pencemaran lingkungan danau dengan menggunakan sistem buangan
yang ramah lingkungan seperti menggunakan septictank biotech.
Melalui pendekatan perancangan ini diharapkan mampu menciptakan Taman Wisata
Danau Lebo yang terintegrasi dengan lingkungan sekitar serta dapat menjaga
192
keberlangsungan ekosistem setempat, sehingga apa yang kita miliki saat ini dapat kita
wariskan pada generasi selanjutnya.
5.2 Saran
Perencanaan pembangunan Taman Wisata Danau Lebo, perlu ditetapkan peraturan
yang jelas terhadap pemanfaatan Danau Lebo sebagai objek wisata, selain itu untuk
meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar kawasan, perlu adanya kerjasama dengan pihak
pemerintah daerah atau suwasta untuk memberi pembekalan dan pelatihan terhadap
kegiatan okowisata seperti penyediaan jasa wisata dan pengetahuan terhadap cara
pengelolaan lokasi kawasan Danau Lebo secara berkelanjutan.
193
LAMPIRAN
Waterfront School (Zona Konservasi)
Waterfront Tonyong (Zona Konservasi)
Balai Laboratorium Konservasi (Zona Konservasi)
194
Cottage Bala Ode (Zona Hunian)
Open Stage (Zona Rekreasi)
Waterfront Kamutar Telu Center (Zona Rekreasi)
195