0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan26 halaman

Tanggung Jawab dan Etika Notaris di Indonesia

Dokumen ini membahas tentang peran dan tanggung jawab Notaris sebagai pejabat umum dalam pembuatan akta otentik di Indonesia, serta pentingnya kode etik dan pengawasan terhadap Notaris untuk mencegah penyalahgunaan kewenangan. Notaris diharapkan untuk bertindak jujur, amanah, dan tidak berpihak dalam melayani masyarakat, serta mematuhi peraturan yang berlaku. Tanggung jawab Notaris meliputi aspek hukum privat, pajak, dan pidana, dan pelanggaran dapat mengakibatkan konsekuensi hukum bagi Notaris dan pihak terkait.

Diunggah oleh

Aditio Sulaeman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan26 halaman

Tanggung Jawab dan Etika Notaris di Indonesia

Dokumen ini membahas tentang peran dan tanggung jawab Notaris sebagai pejabat umum dalam pembuatan akta otentik di Indonesia, serta pentingnya kode etik dan pengawasan terhadap Notaris untuk mencegah penyalahgunaan kewenangan. Notaris diharapkan untuk bertindak jujur, amanah, dan tidak berpihak dalam melayani masyarakat, serta mematuhi peraturan yang berlaku. Tanggung jawab Notaris meliputi aspek hukum privat, pajak, dan pidana, dan pelanggaran dapat mengakibatkan konsekuensi hukum bagi Notaris dan pihak terkait.

Diunggah oleh

Aditio Sulaeman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara Republik Indonesia merupakan sebagai negara hukum berdasarkan

Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

menjamin kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum bagi setiap warga

negara. Untuk menjamin ketertiban dan perlindungan hukum dibutuhkan

penetapan dan peristiwa hukum yang dibuat dihadapan atau pejabat yang

berwenang.1

Jabatan Notaris lahir karena masyarakat membutuhkannya, bukan jabatan

yang sengaja diciptakan kemudian baru disosialisasikan kepada khayalak.

Jabatan Notaris ini tidak ditempatkan di lembaga legislatif, eksekutif ataupun

yudikatif karena Notaris diharapkan memiliki posisi netral. Jabatan Notaris

diadakan atau kehadirannya dikehendaki oleh aturan hukum dengan maksud

untuk membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti

tertulis yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan

hukum.

Notaris merupakan profesi hukum sehingga profesi Notaris merupakan

suatu profesi yang mulia. Akta yang dibuat oleh Notaris dapat menjadi alas

hukum atas status harta benda, hak dan kewajiban seseorang. Kekeliruan atas

akta yang dibuat Notaris dapat menyebabkan tercabutnya hak seseorang atau

1
M. Luthfan Hadi Darus, Hukum Notariat Dan Tanggungjawab Jabatan Notaris, Yogyakarta, Uii
Press, 2017, h. 1.
terbebaninya seseorang atas sesuatu kewajiban, oleh karena itu Notaris dalam

menjalankan tugas jabatannya harus mematuhi berbagai ketentuan yang

tersebut dalam Undang-Undang Jabatan Notaris.2 Istilah Pejabat umum

merupakan dari istilah Openbare Ambtenaren yang terdapat dalam Undang-

undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris yang diundangkan

pada tanggal 6 November 2004 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2004 Nomor 117 (UUJN) jo. Undang-undang Republik Indonesia

Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30

Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris yang diundangkan pada tanggal 15

Januari 2014 Lemabaran Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 3 (UU

Perubahan atas UUJN). Dalam Pasal 1 angka 1 UU Perubahan atas UUJN yang

menegaskan bahwa Notaris adalah Pejabat umum yang berwenang untuk

membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam

Undang-Undang ini. Saat menjalankan tugas jabatannya, Notaris berpegang

teguh dan menjunjung tinggi martabat profesinya sebagai jabatan kepercayaan

dan terhormat. Karena lekatnya etika pada profesi Notaris disebut sebagai

profesi yang mulia (officum nobile).

Sesuai substansinya, adanya nilai moral dan etik Notaris, maka

pengebangan jabatan Notaris adalah pelayanan kepada masyarakat

(klien)secara mandiri dan tidak memihak bagi salah satu pihak. Bidang

kenotariatan dalam pengembangannya dihayati sebagai panggilann hidup

bersumber pada semangat pengabdian terhadap sesama demi kepentingan

2
Abdul Ghofur Anshori, Lembaga Kenotariatan Indonesia, Perspektif Hukum dan Etika,
Yogyakarta, UII Press, 2009, h.46
umum serta berakar dalam penghormatan terhadap martabat manusia pada

umumnya dan martabat Notaris pada khususnya.

Disinilah kemudian Notaris perlu memedomani kode etik Notaris. Kode

etik Notaris merupakan seluruh kaidah moral yang menjadi pedoman dalam

menjalankan jabatan Notaris. Ruang lingkup kode etik Notaris berdasarkan

Pasal 2 Kode Etik Notaris Ikatan Notaris Indonesia (INI), berlaku bagi seluruh

anggota perkumpulan maupun orang lain yang memangku dan menjalankan

jabatan Notaris baik dalam pelaksanaan jabatan maupun dalam kehidupan

sehari-hari.

Notaris sebagai pejabat umum yang menjalankan profesi dalam

memberikan jasa hukum kepada masyarakat yang berkaitan dengan pembuatan

alat bukti otentik.3Mengingat luasnya kewenangan yang diamanatkan oleh

Undang-Undang kepada Notaris, untuk itu diperlukan suatu lembaga yang

dapat mengawasi tindakan Notaris dalam pelaksanaan kewenangan jabatannya

sebagai pejabat umum pembuat akta otentik yang rentan terhadap

penyalahgunaan kewenangannya tersebut. Tujuan dari pengawasan yang

dilakukan terhadap para Notaris adalah agar para Notaris mentaati peraturan-

peraturan yang telah diamanatkan oleh Undang-Undang demi menjaga

keamanan kepentingan dirinya sendiri tetapi untuk kepentingan masyarakat

umum yang dilayaninya. Untuk itu, undang-undang memberi kepercayaan

yang besar kepada Notaris guna memikul tanggungjawab yang besar pula

berdasarkan hukum dan moral. Peraturan-peraturan tentang pengawasan yang

3
Habib Adjie, Sekilas Dunia Notaris dan PPAT Indonesia, Bandung, Mandar Maju, 2009, h.1
bersifat pemeriksaan protokol sesungguhnya sangat penting untuk menjaga

ketertiban dalam pekerjaan Notaris. Hal ini untuk meminimalkan keteledoran

Notaris dalam menajalankan jabatannya sehingga tidak mengecewakan dan

merugikan masyarakat, seperti membuat akta yang menguntungkan salah satu

pihak yang menjadikan akta tersebut dianggap tidak sah, tidak mengecek ulang

dan klien yang mungkin akan menjadi masalah dikemudian hari, dengan

demikian Notaris perlu diawasi.

Dalam praktik banyak ditemukan , jika ada akta Notaris dipermasalahkan

oleh para pihak atau pihak ketiga lainnya, maka sering pula Notaris ditark

sebagai pihak yang turut serta melakukan atau membantu melakukan suatu

tindak pidana, yaitu membuat atau memeberikan keterangan palsu ke dalam

akta Notaris4. Dalam hal ini Notaris secara sengaja atau tidak disengaja Notaris

bersama-sama dengan pihak/penghadap untuk membuat akta dengan maksud

dan tujuan untuk menguntungkan pihak atau pengahadap tertentu saja atau

merugikan penghadap yang lain harus dibuktikan di [Link] Notaris

dibuat sesuai kehendak para pihak yang berkepentingan guna memastikan atau

menjamin hak dan kewajiban para pihak, kepastian, ketertiban dan

perlindungan hukum para pihak. Akta Notaris pada hakekatnya memuat

kebenaran formal sesuai dengan apa yang diberitahukan para pihak kepada

Pejabat umum (Notaris). Notaris berkewajiban untuk memasukan dalam akta

tentang apa yang sungguh-sungguh telah dimengerti sesuai dengan kehendak

para pihak dan membacakan kepada para pihak tentang isi dari akta tersebut.

4
Habib Adjie, Hukum Notariat di Indonesia- Tafsiran Tematik Terhadap UU No.30 Tahun 2004
Tentang Jabatan Notaris, Bandung, Refika Aditama, 2008, h.24
Pernyataan atau keterangan para pihak tersebut oleh Notaris dituangkan dalam

akta Notaris.5

Kedudukan Notaris sebagai Pejabat umum, dalam arti kewenangan yang

ada pada Notaris tidak pernah diberikan kepada pejabat-pejabat lainnya, selama

sepanjang kewenangan tersebut tidak menjadi kewenangan pejabat-pejabat

lain. Sesuai dengan ketentuan, maka Notaris adalah satu-satunya pejabat yang

berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian,

dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang

berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik,

semuanya sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu perturan umum tidak juga

ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain.

Lembaga yang dimaksud mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk

melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap Notaris yaitu Majelis

Pengawas Notaris. Lembaga ini dibentuk oleh Menteri yang kewenangannya

didelegasikan untuk mengawasi sekaligus membina Notaris yang meliputi

perilaku dan pelaksanaan kewenangan jabatan Notaris. 6Meskipun sudah

dilakukan pengawasan terhadap Notaris oleh Majelis Pengawas Notaris dalam

hal ini dilakukan oleh Majelis Pengawas Daerah, tidak berarti dalam

pelakasanaan tugas dan jabatannya Notaris melakukan pelanggaran terhadap

tanggungjawab dan etika profesi Notaris tidak terjadi. Penyebabnya dapat

dikatakan bahwa jumlah antara Majelis Pengawas Notaris lebih sedikit dari

pada jumlah Notaris dan selain itu juga Notaris tidak berpedoman normatif
5
[Link], h. 45
6
Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia Tafisr Tematik Terhadap UU No. 30 Tahun 2004 Tentang
Jabatan Notaris, Bandung: Refika Aditama, 2014, h.44
terhadap UUJN. Pentingnya penelitian diharapkan untuk dapat meminimalisir

kelalaian yang menyebabkan terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh

Notaris dalam menjalankan kewajiban dan tanggungjawabnya.

Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pihak Majelis Pengawas dalam

melakukan tugas pengawasannya, antara lain:

1. Berupa teguran tertulis atau lisan dan disertai pemanggilan;

2. Jika teguran tidak diindahkan maka Majelis Pengawas dapat

merekomendasikan pemecatan.

Hanya saja didalam Undang-undang Notaris baik Undang-undang yang

terdahulu maupun Undang-undang yang sekarang ada, tidak di atur dengan

jelas tentang bagaimana seserorang Notaris selaku Pejabat umum

mempertanggungjawabkan secara hukum apabila dia melakukan kesalahan

dalam membuat akta yang dibuatnya, hanya dikatakan bahwa seorang Notaris

tidak boleh menolak untuk membuat suatu akta yang dimohon dan seorang

Notaris tidak boleh membuat akta yang bertentangan dengan hukum.

Notaris mempunyai pertanggungjawaban yang meliputi bidang : hukum

privat, hukum pajak, dan hukum pidana. Ada kemungkinan bahwa

pertanggungjawaban disatu bidang hukum tidak menyangkut bidang hukum

yang lain. Sebaliknya, tindakan yang menimbulkan tuntutan berdasarkan

perbuatan melawan hukum (Pasal 1365 KUHPerdata) dapat menimbulkan

pengambilan tindakan dibidang hukum pidana. Pertanggungjawaban Notaris

terutama terletak di bidang hukum privat.


Ditinjau dari aspek teoritik dan praktik pada hakekatnya dalam

menjalankan jabatannya tersebut maka yang harus dipunyai oleh seorang

Notaris adalah aspek kehati-hatian, kecermatan dan kejujuran yang merupakan

hal mutlak dalam melaksanakan jabatan Notaris tersebut. apabila aspek ini

terabaikan dalam pembuatan suatu akta, maka dapat berakibat langsung

maupun tidak langsung kepada suatu perbuatan yang harus

dipertanggungjawabkan secara administratif (Pasal 85 UUJN) dan bisa berupa

pelanggaran perdata (Pasal 84 UUJN) bahkan perbuatan yang termasuk dalam

tindak pidana. Hal mana pertanggungjawaban Notaris dalam bidang pidana

dari aspek praktik peradilan pada hakekatnya meliputi 3 (tiga)

pertanggungjawban yaitu pertanggungjawban selaku terdakwa,

pertanggungjawaban selaku saksi, dan pertanggungjawaban sebagai tenaga ahli

dalam hal keterangan ahli yaitu seputar tentang kerahasiaan suatu akta yang

tidak mungkin diungkapkan dalam persidangan maka lebih baik Notaris minta

dibebaskan pemberian keterangan seputar kerahasiaan akta tersebut

berdasarkan kententuan Pasal 170KUHAP.

Notaris wajib dan harus mematuhi serta memahami semua ketentuan

peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tugas dan

tanggungjawabnya. Pasal 16 ayat (1) UUJN menyebutkan bahwa dalam

menjalankan jabatannya Notaris wajib :

a. Bertindak amanah, jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga

kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum;


b. Membuat akta dalam bentuk Minuta Akta dan menyimpannya sebagai

bagian dari Protokol Notaris;

c. Melekatkan surat dan dokumen serta sidik jari penghadap pada Minuta

Akta;

d. Mengeluarkan Grosse Akta, Salinan Akta atau Kutipan Akta berdasarkan

Minuta Akta;

e. Memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini,

kecuali ada alasan untuk menolaknya;

f. Merahasiakan segala sesuatu mengenai Akta yang dibuatnya dan segala

keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan

sumpah/janji jabatan, kecuali ditentukan lain oleh Undang-undang;

g. Menjilid akta yang dibuatnya dalam 1 (satu) bulan menjadi buku yang

memuat tidak lebih dari 50 (lima puluh) akta, dan jika jumlah akta tidak

dapat dimuat dalam satu buku, akta tersebut dapat dijilid menjadi lebih

dari satu buku, dan mencatat jumlah Minuta Akta, bulan, dan tahun

pembuatannya pada sampul setiap buku;

h. Membuat daftar dari akta protes terhadap tidak dibayar atau tidak

diterimanya surat berharga;

i. Membuat daftar akta yang berkanaan dengan wasiat menurut urutan waktu

pembuatan akta setiap bulan;

j. Mengirimkan daftar akta sebagaimana dimaksud dalam huruf i atau daftar

nihil yang berkenaan dengan wasiat ke pusat daftar wasiat pada


kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintah dibidang hukum

dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu pertama setiap bulan berikutnya;

k. Mencatat dalam reportorium tanggal pengiriman daftar wasiat pada setiap

akhir bulan;

l. Mempunyai cap atau stempel yang memuat lambang Negara Republik

Indonesia dan pada ruang yang melingkarinya dituliskan nama, jabatan,

dan tempat kedudukan yang bersangkutan;

m. Membacakan akta dihadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling

sedikit 2(dua) orang saksi, atau 4 (empat) orang saksi khusus untuk

pembuatan akta wasiat dibawah tangan, dan ditandatangani pada saat itu

juga oleh penghadap, saksi, dan Notaris;

n. Menerima magang calon Notaris.

Pelaksanaan tanggungjawab jabatan yang dimiliki oleh seorang Notaris

tidak dilakukan, maka bisa berakibat pada akta yang dibuat demi hukum,

dibatalkan oleh para pihak dan atau akta tersebut hanya menjadi alat

pembuktian akat dibawah tangan. Karena akta akta batal demi hukum, menjadi

alasan bagi para pihak yang menderita kerugian untuk menuntut pergantian

biaya, ganti rugi dan bunga pada Notaris.

Berdasarkan uraian di atas, selalu adanya kata-kata pembenaran di dalam

suatu akta yang dibuat oleh pejabat umum yang bersangkutan yaitu : “Menurut

Keterangan”. Seakan-akan seseorang Notaris tidak dapat diambil

pertanggungjawaban terhadap kesalahan yang terdapat dalan akta yang

dibuatnya, sehingga timbul pertanyaan kesalahan yang bagaimana yang dapat


diminta pertanggungjawaban seorang Notaris selaku pejabat umum, sehingga

sebagai suatu lembaga yang berasaskan kepercayaan dapat menjamin kepastian

hukum bagi kliennya (masyarakat umum dan atau orang/badan hukum).

Adanya hal-hal tersebut diatas melalui berbagai permasalahan tentang :

“PELAKSANAAN PERTANGGUNGJAWBAN NOTARIS DALAM

PEMBUATAN AKTA JUAL BELI DI KABUPATEN TEGAL”

A. Rumusan Masalah

Berawal dari latar belakang masalah tadi, maka penulis akan mencoba

mengemukakan permasalahan yang akan diuraikan lebih lanjut dalam tesis ini

yaitu:

1. Bagaimana pelaksanaan pertanggungjawaban Notaris dalam pembuatan akta

Jual Beli di Kabupaten Tegal?

2. Bagaimana perlindungan hukum Notaris dalam pembuatan akta Notaris di

Kabupaten Tegal?

B. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahuidan menganalisa pelaksanaan pertanggungjawaban

Notaris dalam pembuatan akta jual beli di Kabupaten Tegal.

2. Untuk mengetahuidan menganalisa perlindungan hukum Notaris dalam

pembuatan akta Notaris di Kabupaten Tegal.


C. Manfaat Penelitian

Adapun hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk:

1. Manfaat Teoritis

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran,

penambahan literature dan bahan bacaan bagi Notaris maupun praktisi

hukum serta peningkatan dan pengembangan ilmu hukum pada umumnya

dan khususnya pada bidang kenotariatan yang menjadi wilayah penelitian

hukum ini, sehingga kepastian hukum dan perlindungan hukumnya

terjamin.

2. Manfaat Praktis dalam hal ini diharapkan semakin menumbuhkan kesadaran

bagi Notaris akan tanggungjawab dalam pembuatan suatu akta bagi

masyarakat pengguna jasa Notaris akan kejelasan hak dan kewenangan yang

terkait dalam suatu akta.

D. Kerangka Konseptual dan Kerangka Teoritis

1. Kerangka Konseptual

Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap judul tesis ini, maka penulis

membatasi istilah pokok yang terkandung dalam judul ini :

a. Pertanggungjawaban

Pertanggungjawaban berasal dari kata tanggung jawab, yang secara

etimologi berarti kewajiban terhadap segala sesuatunya atau fungsi

menerima pembebanan sebagai akibat tindakan sendiri atau pihak lain.

Pengertian tanggungjawab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia


adalah suatu keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (jika terjadi

sesuatu dapat dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya). 7

Tanggung jawab hukum menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata

adalah tanggung jawab dengan unsur kesalahan (kesengajaan dan

kelalaian) sebagaimana terdapat dalam Pasal 1365 Kitab Undang-undang

Hukum Perdata: “ Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa

kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya

menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut”. Tanggung

jawab dengan unsur kesalahan khususnya kelalaian sebagaimanan

terdapat dalam Pasal 1366 Kitab Undang-undang Hukum Perdata: “setiap

orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan

karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena

kelalaiannya atau kurang hati-hatinya” dan tanggung jawab mutlak(tanpa

kesalahan) sebagaimana terdapat dalam Pasal 1367 Kitab Undang-

undang Hukum Perdata:

“Seorang tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang


disebabkan karena perbuatannya sendir, tetapi juga untuk kerugian
yang disebabkan karena perbuatan orang-orang yang menjadi
tanggungannya, atau disebabkan oleh orang-orang yang berbeda
dibawah pengawasannya dan seterusnya”. 8

Tanggung jawab Notaris bila dilihat dari Undang-undang Nomor 2

Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris adalah sangat erat kaitannya dengan

tugas dan pekerjaan Notaris. Dikatakan demikian oleh karena selain

7
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 2002,
h.1139
8
Munir Fuady, Perbuatan Melawan Hukum(Pendekatan Kontemporer), Bandung, PT. Citra Aditya
Bakti, 2013. h.4.
untuk membuat akta otentik, Notaris juga ditugaskan dan bertanggung

jawab untuk melakukan pendaftaran dan mengesahkan (waarmeken dan

legalisasi) surat-surat/akta-akta yang dibuat di bawahtangan. Notaris

tidak bertanggung jawab atas isi akta yang dibuat di hadapannya,

melainkan Notaris hanya bertanggung jawab terhadap bentuk formal akta

otentik sebagaimana yang ditetapkan oleh Undang-undang.

b. Notaris

Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk

membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan

penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang

berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik,

menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan

grosse, salinan dan kutipannya, semua sepanjang pembuatan akta itu oleh

suatu pertauran umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada

pejabat atau orang lain.9

c. Akta Notaris

Akta dalam Pasal 1 ayat (7) Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014

tentang Jabatan Notaris menyatakan bahwa akta Notaris selanjutnya

disebut akta adalah akta otentik yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris

menurut bentuk dan tata cara yang diterapkan dalam Undang-undang.

Akta sebagai surat bukti yang sengaja diadakan sebagai alat pembuktian

mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat modern

9
Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia Tafsir Tematik Terhadap UU No 30 Tahun 2004 Tentang
Jabatan Notaris, Bandung, Refika Aditama, 2008. h.13
ini, dimana akta sebagai dokumen tertulis yang dapat memberikan bukti

akan peristiwa hukum yang menjadi dasar dari hak atau perikatan. Akta

Notaris merupakan dokumen resmi yang dibuat oleh dan/atau dihadapan

Notaris yang merupakan akta Notaris dan memiliki kekuatan pembuktian

secara sempurna. Mengenai pembuktian secara otentik disebutkan dalam

Pasal 1868 KUHPerdata :

“suatu akta otentik adalah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang

ditentukan oleh Undang-undang oleh atau dihadapan pejabat umum yang

berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat” .

2. Kerangka Teoritis

Melakukan sebuah penelitian diperlukan adanya landasan teoritis,

sebagaimana dikemukakan oleh M. Solly Lubis bahwa landasan teoritis

merupakan kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, asas

maupun konsep yang relevan digunakan untuk mengupas suatu kasus

ataupun permasalahan. Untuk meneliti mengenai suatu permasalahan

hukum, maka pembahasan adalah relevan apabila dikaji menggunakan teori-

teori hukum, untuk menganalisis dan menerangkan pengertian hukum dan

konsep yuridis, yang relevan untuk menjawab permasalahan yang muncul

dalam penelitian hukum.10

Teori berasal dari kata teoritik, dapat didefinisikan adalah alur logika atau

penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposal yang

disusun secara sistematis. Secara umum, teori mempunyai tiga fungsi, yaitu

10
Salim H. S, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, Jakarta, Rajawali Press, 2010, h.54
untuk menjelaskan , meramalkan, dan pengendalian suatu gejala. Menurut

pendapat Mukti Fajar dan Yualinto Achmad, teori adalah suatu penjelasan

yang berupaya untuk menyederhanakan pemahaman mengenai suatu

fenomena atau teori juga merupakan simpulan dari rangkaian berbagai

fenomena menjadi sebuah penjelasan yang sifatnya umum. 11

Adapun teori-teori yang digunakan dalam kerangka teori penelitian ini

adalah sebagai berikut:

a. Teori Kepastian Hukum

Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya wajib berpedoman

secara normatif kepada aturan hukum yang terkait dengan segala

tindakan yang diambil untuk kemudian dituangkan dalam sebuah akta.

Bertindak berdasarkan aturan hukum yang berlaku akan memberikan

kepada pihak, bahwa akta yang dibuat di “hadapan” dan “oleh” Notaris

telah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, sehingga jika terjadi

permasalahan, akta Notaris dapat dijadikan pedoman oleh para pihak.12

Dalam hal Notaris adalah pejabat umum yang berwenang membuat

akta otentik yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna, akta

Notaris wajib dibuat dalam bentuk yang sudah di tentukan Undang-

undang, hal ini merupakan salah satu karakter dari akta Notaris. Bila akta

Notaris telah memenuhi ketentuan yang ada maka akta Notaris tersebut

memberikan kepastian dan perlindungan hukum kepada para pihak

11
Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian HukumNormatif dan Empiris,
Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010, h. 134
12
Habib Adjie, [Link], h. 37
mengenai perjanjian yang dibuatnya. Ketaatannya Notaris menjalankan

sebagian kekuasaan Negara dalam bidang hukum perdata untuk melayani

kepentingan masyarakat yang memerlukan alat bukti berupa akta otentik

yang mempunyai kepastian hukum yang sempurna apabila terjadi

permasalahan.13

Kepastian hukum merupakan pertanyaan yang hanya bisa dijawab

secara normatif, bukan sosiologis, kepastian hukum secara normatif

adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena

mengatur secara jelas dan logis. Jelas dalam artian tidak menimbulkan

keragu-raguan(multi-tafsir) dan logis dalam artian menjadi suatu sistem

norma dengan norma lan sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan

konflik norma.

b. Teori Kewenangan

Menurut Philpus M. Hadjon, “wewenang (bevoegdheid) dideskripsikan

sebagai kekuasaan hukum (rechtsmarcht). Jadi dalam konsep hukum

publik, wewenang berkaitan dengan kekuasaan.14 Wewenang Notaris

terbatas sebagaimana peraturan perundang-undangan yang mengatur

jabatan pejabat yang bersangkutan, kewenangan yang berasal dari

perundang-undangan dapat diperoleh melalui tiga tahap yaitu:15

1. Atribusi, yaitu pemberian wewenang pemerintah (eksekutif) oleh

pembuat undang-undang (legislatif) kepada instansi pemerintah atau

13
Habib Adjie (a), [Link], h.42
14
Phipus M. Hadjon, Hukum Administrasi Indonesia, Cetakan ketujuh, Yogyakarta, Gajah Mada
University Press, 2001, h.130
15
Lutfi Effendi, Pokok-Pokok Hukum Administrasi, Malang, Bayu Media Publishing, 2003, h. 77-78
organ pemerintah. kewenangan atribusi dapat diartikan sebagai

pembagian kekuasaan yang diberikan negara kepada pihak-pihak yang

berhak atas kewenangan tersebut yang didasari oleh Undang-undang

Dasar.

2. Delegasi, yaitu pemberian wewenang dari instansi pemerintah yang

satu ke instansi pemerintah yang lain, mengenai tanggungjawab dan

tanggung gugatnya diberikan sepenuhnya kepada yang dilimpahkan

atas wewenang tersebut.

3. Kewenangan Mandat dapat dijadikan jika instansi pemerintah

memberikan kewenangan kepada instansi yang lain untuk melakukan

kegiatan atas nama Negara.

c. Teori Pertanggungjawaban Hukum

Teori pertanggungjawaban menjelaskan bahwa seseorang bertanggung

jawab secara hukum atas suatu perbuatan tertentu atu bahwa dia memikul

tanggung jawab hukum. Ini berartu bahwa di bertanggung jawab atau

suatu sanksi dalam hal perbuatan yang dilakukan itu bertentangan. Hans

Kelsen membagi pertanggung jawaban menjadi 4 (empat) macam yaitu: 16

1. Pertanggungjawaban individu yaitu pertanggungjawabanyang harus

dilakukan terhadap pelanggaran yang dilakukannya sendiri.

2. Pertanggungjawaban kolektif berarti bahwa seorang individu

bertanggungjawab atas suatu pelanggaran yang dilakukan oleh orang

lain.

16
Hans Kelsen(b), sebagai mana telah diterjemahkan oleh Raisul Mutaqien, Teori Hukum Murni
Nuansa & Nusa Media, Bandung, 2006, h. 140
3. Pertanggungjawaban berdasarkan kesalahan yang berarti bahwa

seorang individu bertanggungjawab atas pelanggaran yang

dilakukannya karena sengaja dan diperkirakan dengan tujuan

menimbulkan kerugian.

4. Pertanggungjawaban mutlak yang berarti bahwa seorang individu

bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukannya karena tidak

sengaja dan tidak diperkirakan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tanggung jawab

adalah kewajiban menanggung segala sesuatunya apabila terjadi apa-apa

boleh dituntut, dipermasalahkan, dan diperkarakan. Tanggung jawab

dalam kamus hukum dapat di istilahkan sebagai liability dan

responsibility, istilah liability menunjuk pada pertanggung jawaban huku

yaitu tanggung gugat akibat kesalahan yang dilakukan oleh subjek

hukum, sedangkan istilah responsibility menunjuk pada

pertanggungjawaban politik.17 Teori tanggungjawab lebih menekankan

pada makna tanggung jawab yang lahir dari ketentuan Peraturan

Perundang-undangan sehinggaa teori tanggung jawab dimaknai dalam

arti liability,18 sebagai suatu konsep yang terkait dengan kewajiban

hukum seseorang yang bertanggung jawab secara hukum atas

perbuatannya bertentangan dengan hukum.

17
HR. Ridwan, Hukum Administrasi Negara, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2006, h.337
18
Busyra Azheri, Corporase Social Responsibility dari Voluntary menjadi Mandotary, Jakarta, Raja
Grafindo Press, 2011, h. 54
Mengenai persoalan pertanggungjawaban pejabat menurut

Kranenburg dan Vegtig ada dua teori yang melandasinya yaitu :

a) Teori fautes personalles, yaitu teori yang menyatakan bahwa kerugian

terhadap pihak ketiga dibebankan kepada pejabat yang karena

tindakannya itu telah menimbulkan kerugian. Dalam teori beban

tanggung jawab ditujukan pada manusia selaku pribadi.

b) Teori fautes de services, yaitu teori yang menyatakan bahwa kerugian

terhadap pihak ketiga dibebankan pada instansi dari pejabat yang

bersangkutan. Menurut ini tanggung jawab dibebankan kepada

jabatan. Dalam penerapannya, kerugian yang timbul itu disesuaikan

pula apakah kesalahan yang dilakukan itu merupakan kesalahan berat

atau kesalahan ringan, dimana berat dan ringannya suatu kesalahan

berimplikasi pada tanggung jawab yang harus ditanggung 19

Dalam memberikan pelayanannya, profesional itu bertanggung jawab

kepada diri sendiri dan kepada masyarakat. Bertanggung jawab kepada

diri sendiri, artinya dia bekerja karena integritas moral, intelektual dan

profesional sebagai bagian dari kehidupannya. Dalam memberikan

pelayanan, seorang profesional selalu mempertahankan cita-cita luhur

profesi sesuai dengan tuntutan kewajiban hati nuraninya, bukan karena

sekedar hobi belaka. Bertanggung jawab kepada masyarakat, artinya

kesediaan memberikan pelayanan sebaik mungkin tanpa membedakan

antara pelayanan bayaran dan pelayanan Cuma-Cuma serta menghasilkan

19
Ridwan H.R, Ibid, h. 365
layanan yang bermutu, yang berdampak positif pada masyarakat.

Pelayanan yang diberikan tidak semata-mata bermotif mencari

keuntungan, melainkan juga pengabdian kepada semua manusia.

Bertanggung jawab juga berani menanggung segala resiko yang timbul

akibat dari pelanannya itu. Kelalaian dalam melaksanakan profesi

menimbulkan dampak yang membahayakan atau mungkin diri sendiri,

orang lain dan berdosa kepada Tuhan Yang Maha Esa.20

Fungsi teori ini pada penulisan tesis ini adalah memberikan

arah/petunjuk serta menjelaskan gejala yang diamati, oleh karena itu

penelitian diarahkan kepada hukum positif yang berlaku tentang :

pelaksanaan tanggung jawab Notaris dalam peembuatan Akta nya ,

dengan dasar teori tanggung jawab menjadi pedoman guna menentukan

bagaimana kedudukan dan tanggung jawab Notaris.

d. Teori Perlindungan Hukum

Terkait dengan perlindungan hukum menurut Phillipus M. Hadjon

bahwa perlindungan hukum bagi rakyat sebagai tindakan pemerintah

yang bersifat preventif dan represif. Perlindungan hukum preventif

bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa, yang mengarahkan

tindakan pemerintah bersikap hati-hati dalam pengambilan keputusan

berdasarkan diskresi dan perlindungan represif bertujuan untuk

mencegah terjadinya sengketa, termasuk penanganannya dilembaga

peradilan.

20
Abdulkadir Muhammad, Etika Profesi Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2001, h. 60
Perlindungan hukum dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

a) Perlindungan Hukum Preventif

Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk

mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam

peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu

pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan

dalam melakukan suatu kewajiban.

b) Perlindungan Hukum Represif

Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan aktif berupa

sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan

apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan pelanggaran.

E. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode yuridis sosiologis. Di mana pelaksanaan

metode ini merupakan penelitian terhadap azas-azas hukum, sistematika

hukum, dan lainnya yang berkaitan dengan metode ini dalam mencari data-

datanya.

1. Metode Pendekan

Metode pendekan masalah yang diguanakan adalah yuridis sosiologis,

karena penelitian ini tidak hanya meliputi pada Peraturan-peraturan

Perundang-undangan dan bahan-bahan hukum di perpustakaan, tetapi

juga terhadap praktiknya dilapangan sebagai data penunjang. Selain itu

dalam penelitian ini digunakan pula sumber data primer sebagai data
pendukung dalam menemukan permasalahan yang akan diteliti yang

berkaitan dengan pertanggungjawawban Notaris berdasarkan Undang-

undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.

2. Spesifikasi Penelitian

Spesifikasi peneliatian yang digunakan bersifat deskriptif analitis yaitu

untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh dan sistematis tentang

pertanggungjabawan Notaris berdasarkan Undang-undang Nomor 2

Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.

3. Ruang Lingkup

Pembatasan ruang lingkup penelitian dilakukan untuk

memfokuskan pembahasan terhadap pelaksanaan pertanggungjawaban

Notaris dalam pembuatan akta Notaris di Kabupaten Tegal.

4. Sumber Data

Dalam penelitian data pada umumnya dibedakan antara data yang

diperoleh secara langsung dari masyarakat dan dari bahan-bahan

pustaka. Yang diperoleh langsung dari masyarakat dinamakan data

primer (data dasar), sedangkan yang diperoleh dari bahan-bahan

pustaka lazimnya dinamakan data sekunder.21

Data dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu bahan pustaka

yang mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-buku perpustakaan,

peraturan perundang-undangan, karya ilmiah, artikel-artikel, serta

21
Soerjono Soekamto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat,
Jakarta, Raja Grafindo, 2011, h.12
dokumen yang berkaitan dengan materi penelitian. Dari bahan hukum

sekunder tersebut jenis meliputi:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum prmer. yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat,

Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini terdiri

dari:

- Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata)

- Kitab Undang-undang Hukum Pidana

- Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

- Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris

b. Bahan hukum Sekunder:

Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai

bahan hukum primer, yang terdiri dari :

- Buku-buku literatur

- Makalah

- Artikel

c. Bahan hukum Tersier:

Bahan hukum tersier, yakni bahan yang memberikan petunjuk

maupun penjelasan terhadap hukum primer dan sekunder, yang

terdiri:

- Kamus-kamus Hukum

- Kamus Bahasa Indonesia Modern

5. Metode Pengumpulan Data


Adapun teknik pengumpulan dara dalam proposal ini, yaitu:

a. Penelitian Kepustakaan, dilakukan untuk memperoleh data sekunder

guna mendapatkan landasan teoritis berupa pendapat-pendapat para

ahli atau para pihak-pihak yanhg berwenang dan juga untuk

memperoleh informasi baik dalam bentuk-bentuk ketentuan formal

maupun data, melalui naskah resmi yang ada atau pun bahan hukum

yang berupa Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, buku-

buku hasil penelitian, dokumentasi, majalah, jurnal, surat kabar,

internet dan sumber lainnya dengan masalah-masalah yang akan

dibahas dalam tesis ini.

b. Penelitian Lapangan, untuk mendapatkan data primer dengan cara

melakukan wawancara secara mendalam dengan berpedoman yang

terkait dalam permasalahan ini.

6. Metode Penyajian Data

Hasil penelitian disajikan dalam bentuk uraian-uraian yang

tersususn secara sistematis, artinya data sekunder yang diperoleh akan

dihubungkan satu dengan yang lain disesuaikan dengan permasalahan

yang diteliti, secara keseluruhan merupakan satu kesatuan yang utuh

sesuai dengan kebutuhan penelitian.

7. Metode Analisis Data

Dalam penelitian ini, data yang diperoleh dianalisis

menngunakan teknik analisis kualitatif. Metode kualitatif adalah cara

penelitian yang menghasilkan data deskriptif analisis, yaitu apa yang


dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan dan juga

perilakunya yang nyata, diteliti dan dipelajari sebagai suatu yang utuh.

Dari hasil tersebut kemudian ditaik suatu kesimpulan yang merupakan

jawaban atas permasalahan yang diangkat.

F. Sistematika Penelitian

Dalam penulisan proposal tesis ini, penulis akan memberikan secara garis besar

tentang apa yang peneliti kemukakan pada tiap-tiap BAB dari tesis ini dengan

sistematika sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan

Pada Bab ini berisikan tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian, kerangka konseptual/ kerangka teoritik, metode

penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : Tinjauan Pustaka.

Pada Bab ini merupakan uraian mengenai permasalahan dalam penelitian,

yang meliputi : Tinjauan Umum tentang Notaris, Tinjauan Umum tentang

Perjanjian, Tinjauan Umum tentang Akta dan Tanggung Jawab Notaris,

Organisasi Notaris dan Tinjauan Umum tentang Majelis Pengawas Daerah,

Tinjauan Perspektif Islam tentang Akta.

BAB III : Hasil Penelitian dan Pembahasan.

Pada Bab ini merupakan inti dari penelitian yang berisikan mengenai hasil

penelitian yang relevan dengan permasalahan dan pembahasannya terutama


menyangkut tentang bagaimna pelaksanaan pertanggungjawaban Notaris dalam

pembuatan akta Notaris di Kabupaten Tegal, serta bagaimana perlindungan

hukum Notaris dalam pembuatan akta Notaris di Kabupaten Tegal.

BAB IV : Penutup

Pada Bab ini merupakan bagian akhir dari penulisan yang mengungkapkan

kesimpulan dan saran dalam penulisan ini. Kesimpulan merupakan jawaban

dari rumusan masalah setelah di bahas, sedangkan saran-saran merupakan

sumbangan pemikiran penulis yang berkaitan dengan hasil penelitian tersebut.

Anda mungkin juga menyukai