BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Negara Republik Indonesia merupakan sebagai negara hukum berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
menjamin kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum bagi setiap warga
negara. Untuk menjamin ketertiban dan perlindungan hukum dibutuhkan
penetapan dan peristiwa hukum yang dibuat dihadapan atau pejabat yang
berwenang.1
Jabatan Notaris lahir karena masyarakat membutuhkannya, bukan jabatan
yang sengaja diciptakan kemudian baru disosialisasikan kepada khayalak.
Jabatan Notaris ini tidak ditempatkan di lembaga legislatif, eksekutif ataupun
yudikatif karena Notaris diharapkan memiliki posisi netral. Jabatan Notaris
diadakan atau kehadirannya dikehendaki oleh aturan hukum dengan maksud
untuk membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti
tertulis yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan
hukum.
Notaris merupakan profesi hukum sehingga profesi Notaris merupakan
suatu profesi yang mulia. Akta yang dibuat oleh Notaris dapat menjadi alas
hukum atas status harta benda, hak dan kewajiban seseorang. Kekeliruan atas
akta yang dibuat Notaris dapat menyebabkan tercabutnya hak seseorang atau
1
M. Luthfan Hadi Darus, Hukum Notariat Dan Tanggungjawab Jabatan Notaris, Yogyakarta, Uii
Press, 2017, h. 1.
terbebaninya seseorang atas sesuatu kewajiban, oleh karena itu Notaris dalam
menjalankan tugas jabatannya harus mematuhi berbagai ketentuan yang
tersebut dalam Undang-Undang Jabatan Notaris.2 Istilah Pejabat umum
merupakan dari istilah Openbare Ambtenaren yang terdapat dalam Undang-
undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris yang diundangkan
pada tanggal 6 November 2004 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 117 (UUJN) jo. Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30
Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris yang diundangkan pada tanggal 15
Januari 2014 Lemabaran Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 3 (UU
Perubahan atas UUJN). Dalam Pasal 1 angka 1 UU Perubahan atas UUJN yang
menegaskan bahwa Notaris adalah Pejabat umum yang berwenang untuk
membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang ini. Saat menjalankan tugas jabatannya, Notaris berpegang
teguh dan menjunjung tinggi martabat profesinya sebagai jabatan kepercayaan
dan terhormat. Karena lekatnya etika pada profesi Notaris disebut sebagai
profesi yang mulia (officum nobile).
Sesuai substansinya, adanya nilai moral dan etik Notaris, maka
pengebangan jabatan Notaris adalah pelayanan kepada masyarakat
(klien)secara mandiri dan tidak memihak bagi salah satu pihak. Bidang
kenotariatan dalam pengembangannya dihayati sebagai panggilann hidup
bersumber pada semangat pengabdian terhadap sesama demi kepentingan
2
Abdul Ghofur Anshori, Lembaga Kenotariatan Indonesia, Perspektif Hukum dan Etika,
Yogyakarta, UII Press, 2009, h.46
umum serta berakar dalam penghormatan terhadap martabat manusia pada
umumnya dan martabat Notaris pada khususnya.
Disinilah kemudian Notaris perlu memedomani kode etik Notaris. Kode
etik Notaris merupakan seluruh kaidah moral yang menjadi pedoman dalam
menjalankan jabatan Notaris. Ruang lingkup kode etik Notaris berdasarkan
Pasal 2 Kode Etik Notaris Ikatan Notaris Indonesia (INI), berlaku bagi seluruh
anggota perkumpulan maupun orang lain yang memangku dan menjalankan
jabatan Notaris baik dalam pelaksanaan jabatan maupun dalam kehidupan
sehari-hari.
Notaris sebagai pejabat umum yang menjalankan profesi dalam
memberikan jasa hukum kepada masyarakat yang berkaitan dengan pembuatan
alat bukti otentik.3Mengingat luasnya kewenangan yang diamanatkan oleh
Undang-Undang kepada Notaris, untuk itu diperlukan suatu lembaga yang
dapat mengawasi tindakan Notaris dalam pelaksanaan kewenangan jabatannya
sebagai pejabat umum pembuat akta otentik yang rentan terhadap
penyalahgunaan kewenangannya tersebut. Tujuan dari pengawasan yang
dilakukan terhadap para Notaris adalah agar para Notaris mentaati peraturan-
peraturan yang telah diamanatkan oleh Undang-Undang demi menjaga
keamanan kepentingan dirinya sendiri tetapi untuk kepentingan masyarakat
umum yang dilayaninya. Untuk itu, undang-undang memberi kepercayaan
yang besar kepada Notaris guna memikul tanggungjawab yang besar pula
berdasarkan hukum dan moral. Peraturan-peraturan tentang pengawasan yang
3
Habib Adjie, Sekilas Dunia Notaris dan PPAT Indonesia, Bandung, Mandar Maju, 2009, h.1
bersifat pemeriksaan protokol sesungguhnya sangat penting untuk menjaga
ketertiban dalam pekerjaan Notaris. Hal ini untuk meminimalkan keteledoran
Notaris dalam menajalankan jabatannya sehingga tidak mengecewakan dan
merugikan masyarakat, seperti membuat akta yang menguntungkan salah satu
pihak yang menjadikan akta tersebut dianggap tidak sah, tidak mengecek ulang
dan klien yang mungkin akan menjadi masalah dikemudian hari, dengan
demikian Notaris perlu diawasi.
Dalam praktik banyak ditemukan , jika ada akta Notaris dipermasalahkan
oleh para pihak atau pihak ketiga lainnya, maka sering pula Notaris ditark
sebagai pihak yang turut serta melakukan atau membantu melakukan suatu
tindak pidana, yaitu membuat atau memeberikan keterangan palsu ke dalam
akta Notaris4. Dalam hal ini Notaris secara sengaja atau tidak disengaja Notaris
bersama-sama dengan pihak/penghadap untuk membuat akta dengan maksud
dan tujuan untuk menguntungkan pihak atau pengahadap tertentu saja atau
merugikan penghadap yang lain harus dibuktikan di [Link] Notaris
dibuat sesuai kehendak para pihak yang berkepentingan guna memastikan atau
menjamin hak dan kewajiban para pihak, kepastian, ketertiban dan
perlindungan hukum para pihak. Akta Notaris pada hakekatnya memuat
kebenaran formal sesuai dengan apa yang diberitahukan para pihak kepada
Pejabat umum (Notaris). Notaris berkewajiban untuk memasukan dalam akta
tentang apa yang sungguh-sungguh telah dimengerti sesuai dengan kehendak
para pihak dan membacakan kepada para pihak tentang isi dari akta tersebut.
4
Habib Adjie, Hukum Notariat di Indonesia- Tafsiran Tematik Terhadap UU No.30 Tahun 2004
Tentang Jabatan Notaris, Bandung, Refika Aditama, 2008, h.24
Pernyataan atau keterangan para pihak tersebut oleh Notaris dituangkan dalam
akta Notaris.5
Kedudukan Notaris sebagai Pejabat umum, dalam arti kewenangan yang
ada pada Notaris tidak pernah diberikan kepada pejabat-pejabat lainnya, selama
sepanjang kewenangan tersebut tidak menjadi kewenangan pejabat-pejabat
lain. Sesuai dengan ketentuan, maka Notaris adalah satu-satunya pejabat yang
berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian,
dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang
berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik,
semuanya sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu perturan umum tidak juga
ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain.
Lembaga yang dimaksud mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk
melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap Notaris yaitu Majelis
Pengawas Notaris. Lembaga ini dibentuk oleh Menteri yang kewenangannya
didelegasikan untuk mengawasi sekaligus membina Notaris yang meliputi
perilaku dan pelaksanaan kewenangan jabatan Notaris. 6Meskipun sudah
dilakukan pengawasan terhadap Notaris oleh Majelis Pengawas Notaris dalam
hal ini dilakukan oleh Majelis Pengawas Daerah, tidak berarti dalam
pelakasanaan tugas dan jabatannya Notaris melakukan pelanggaran terhadap
tanggungjawab dan etika profesi Notaris tidak terjadi. Penyebabnya dapat
dikatakan bahwa jumlah antara Majelis Pengawas Notaris lebih sedikit dari
pada jumlah Notaris dan selain itu juga Notaris tidak berpedoman normatif
5
[Link], h. 45
6
Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia Tafisr Tematik Terhadap UU No. 30 Tahun 2004 Tentang
Jabatan Notaris, Bandung: Refika Aditama, 2014, h.44
terhadap UUJN. Pentingnya penelitian diharapkan untuk dapat meminimalisir
kelalaian yang menyebabkan terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh
Notaris dalam menjalankan kewajiban dan tanggungjawabnya.
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pihak Majelis Pengawas dalam
melakukan tugas pengawasannya, antara lain:
1. Berupa teguran tertulis atau lisan dan disertai pemanggilan;
2. Jika teguran tidak diindahkan maka Majelis Pengawas dapat
merekomendasikan pemecatan.
Hanya saja didalam Undang-undang Notaris baik Undang-undang yang
terdahulu maupun Undang-undang yang sekarang ada, tidak di atur dengan
jelas tentang bagaimana seserorang Notaris selaku Pejabat umum
mempertanggungjawabkan secara hukum apabila dia melakukan kesalahan
dalam membuat akta yang dibuatnya, hanya dikatakan bahwa seorang Notaris
tidak boleh menolak untuk membuat suatu akta yang dimohon dan seorang
Notaris tidak boleh membuat akta yang bertentangan dengan hukum.
Notaris mempunyai pertanggungjawaban yang meliputi bidang : hukum
privat, hukum pajak, dan hukum pidana. Ada kemungkinan bahwa
pertanggungjawaban disatu bidang hukum tidak menyangkut bidang hukum
yang lain. Sebaliknya, tindakan yang menimbulkan tuntutan berdasarkan
perbuatan melawan hukum (Pasal 1365 KUHPerdata) dapat menimbulkan
pengambilan tindakan dibidang hukum pidana. Pertanggungjawaban Notaris
terutama terletak di bidang hukum privat.
Ditinjau dari aspek teoritik dan praktik pada hakekatnya dalam
menjalankan jabatannya tersebut maka yang harus dipunyai oleh seorang
Notaris adalah aspek kehati-hatian, kecermatan dan kejujuran yang merupakan
hal mutlak dalam melaksanakan jabatan Notaris tersebut. apabila aspek ini
terabaikan dalam pembuatan suatu akta, maka dapat berakibat langsung
maupun tidak langsung kepada suatu perbuatan yang harus
dipertanggungjawabkan secara administratif (Pasal 85 UUJN) dan bisa berupa
pelanggaran perdata (Pasal 84 UUJN) bahkan perbuatan yang termasuk dalam
tindak pidana. Hal mana pertanggungjawaban Notaris dalam bidang pidana
dari aspek praktik peradilan pada hakekatnya meliputi 3 (tiga)
pertanggungjawban yaitu pertanggungjawban selaku terdakwa,
pertanggungjawaban selaku saksi, dan pertanggungjawaban sebagai tenaga ahli
dalam hal keterangan ahli yaitu seputar tentang kerahasiaan suatu akta yang
tidak mungkin diungkapkan dalam persidangan maka lebih baik Notaris minta
dibebaskan pemberian keterangan seputar kerahasiaan akta tersebut
berdasarkan kententuan Pasal 170KUHAP.
Notaris wajib dan harus mematuhi serta memahami semua ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tugas dan
tanggungjawabnya. Pasal 16 ayat (1) UUJN menyebutkan bahwa dalam
menjalankan jabatannya Notaris wajib :
a. Bertindak amanah, jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga
kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum;
b. Membuat akta dalam bentuk Minuta Akta dan menyimpannya sebagai
bagian dari Protokol Notaris;
c. Melekatkan surat dan dokumen serta sidik jari penghadap pada Minuta
Akta;
d. Mengeluarkan Grosse Akta, Salinan Akta atau Kutipan Akta berdasarkan
Minuta Akta;
e. Memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini,
kecuali ada alasan untuk menolaknya;
f. Merahasiakan segala sesuatu mengenai Akta yang dibuatnya dan segala
keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan
sumpah/janji jabatan, kecuali ditentukan lain oleh Undang-undang;
g. Menjilid akta yang dibuatnya dalam 1 (satu) bulan menjadi buku yang
memuat tidak lebih dari 50 (lima puluh) akta, dan jika jumlah akta tidak
dapat dimuat dalam satu buku, akta tersebut dapat dijilid menjadi lebih
dari satu buku, dan mencatat jumlah Minuta Akta, bulan, dan tahun
pembuatannya pada sampul setiap buku;
h. Membuat daftar dari akta protes terhadap tidak dibayar atau tidak
diterimanya surat berharga;
i. Membuat daftar akta yang berkanaan dengan wasiat menurut urutan waktu
pembuatan akta setiap bulan;
j. Mengirimkan daftar akta sebagaimana dimaksud dalam huruf i atau daftar
nihil yang berkenaan dengan wasiat ke pusat daftar wasiat pada
kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintah dibidang hukum
dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu pertama setiap bulan berikutnya;
k. Mencatat dalam reportorium tanggal pengiriman daftar wasiat pada setiap
akhir bulan;
l. Mempunyai cap atau stempel yang memuat lambang Negara Republik
Indonesia dan pada ruang yang melingkarinya dituliskan nama, jabatan,
dan tempat kedudukan yang bersangkutan;
m. Membacakan akta dihadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling
sedikit 2(dua) orang saksi, atau 4 (empat) orang saksi khusus untuk
pembuatan akta wasiat dibawah tangan, dan ditandatangani pada saat itu
juga oleh penghadap, saksi, dan Notaris;
n. Menerima magang calon Notaris.
Pelaksanaan tanggungjawab jabatan yang dimiliki oleh seorang Notaris
tidak dilakukan, maka bisa berakibat pada akta yang dibuat demi hukum,
dibatalkan oleh para pihak dan atau akta tersebut hanya menjadi alat
pembuktian akat dibawah tangan. Karena akta akta batal demi hukum, menjadi
alasan bagi para pihak yang menderita kerugian untuk menuntut pergantian
biaya, ganti rugi dan bunga pada Notaris.
Berdasarkan uraian di atas, selalu adanya kata-kata pembenaran di dalam
suatu akta yang dibuat oleh pejabat umum yang bersangkutan yaitu : “Menurut
Keterangan”. Seakan-akan seseorang Notaris tidak dapat diambil
pertanggungjawaban terhadap kesalahan yang terdapat dalan akta yang
dibuatnya, sehingga timbul pertanyaan kesalahan yang bagaimana yang dapat
diminta pertanggungjawaban seorang Notaris selaku pejabat umum, sehingga
sebagai suatu lembaga yang berasaskan kepercayaan dapat menjamin kepastian
hukum bagi kliennya (masyarakat umum dan atau orang/badan hukum).
Adanya hal-hal tersebut diatas melalui berbagai permasalahan tentang :
“PELAKSANAAN PERTANGGUNGJAWBAN NOTARIS DALAM
PEMBUATAN AKTA JUAL BELI DI KABUPATEN TEGAL”
A. Rumusan Masalah
Berawal dari latar belakang masalah tadi, maka penulis akan mencoba
mengemukakan permasalahan yang akan diuraikan lebih lanjut dalam tesis ini
yaitu:
1. Bagaimana pelaksanaan pertanggungjawaban Notaris dalam pembuatan akta
Jual Beli di Kabupaten Tegal?
2. Bagaimana perlindungan hukum Notaris dalam pembuatan akta Notaris di
Kabupaten Tegal?
B. Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahuidan menganalisa pelaksanaan pertanggungjawaban
Notaris dalam pembuatan akta jual beli di Kabupaten Tegal.
2. Untuk mengetahuidan menganalisa perlindungan hukum Notaris dalam
pembuatan akta Notaris di Kabupaten Tegal.
C. Manfaat Penelitian
Adapun hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk:
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran,
penambahan literature dan bahan bacaan bagi Notaris maupun praktisi
hukum serta peningkatan dan pengembangan ilmu hukum pada umumnya
dan khususnya pada bidang kenotariatan yang menjadi wilayah penelitian
hukum ini, sehingga kepastian hukum dan perlindungan hukumnya
terjamin.
2. Manfaat Praktis dalam hal ini diharapkan semakin menumbuhkan kesadaran
bagi Notaris akan tanggungjawab dalam pembuatan suatu akta bagi
masyarakat pengguna jasa Notaris akan kejelasan hak dan kewenangan yang
terkait dalam suatu akta.
D. Kerangka Konseptual dan Kerangka Teoritis
1. Kerangka Konseptual
Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap judul tesis ini, maka penulis
membatasi istilah pokok yang terkandung dalam judul ini :
a. Pertanggungjawaban
Pertanggungjawaban berasal dari kata tanggung jawab, yang secara
etimologi berarti kewajiban terhadap segala sesuatunya atau fungsi
menerima pembebanan sebagai akibat tindakan sendiri atau pihak lain.
Pengertian tanggungjawab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah suatu keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (jika terjadi
sesuatu dapat dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya). 7
Tanggung jawab hukum menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata
adalah tanggung jawab dengan unsur kesalahan (kesengajaan dan
kelalaian) sebagaimana terdapat dalam Pasal 1365 Kitab Undang-undang
Hukum Perdata: “ Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa
kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya
menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut”. Tanggung
jawab dengan unsur kesalahan khususnya kelalaian sebagaimanan
terdapat dalam Pasal 1366 Kitab Undang-undang Hukum Perdata: “setiap
orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan
karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena
kelalaiannya atau kurang hati-hatinya” dan tanggung jawab mutlak(tanpa
kesalahan) sebagaimana terdapat dalam Pasal 1367 Kitab Undang-
undang Hukum Perdata:
“Seorang tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang
disebabkan karena perbuatannya sendir, tetapi juga untuk kerugian
yang disebabkan karena perbuatan orang-orang yang menjadi
tanggungannya, atau disebabkan oleh orang-orang yang berbeda
dibawah pengawasannya dan seterusnya”. 8
Tanggung jawab Notaris bila dilihat dari Undang-undang Nomor 2
Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris adalah sangat erat kaitannya dengan
tugas dan pekerjaan Notaris. Dikatakan demikian oleh karena selain
7
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 2002,
h.1139
8
Munir Fuady, Perbuatan Melawan Hukum(Pendekatan Kontemporer), Bandung, PT. Citra Aditya
Bakti, 2013. h.4.
untuk membuat akta otentik, Notaris juga ditugaskan dan bertanggung
jawab untuk melakukan pendaftaran dan mengesahkan (waarmeken dan
legalisasi) surat-surat/akta-akta yang dibuat di bawahtangan. Notaris
tidak bertanggung jawab atas isi akta yang dibuat di hadapannya,
melainkan Notaris hanya bertanggung jawab terhadap bentuk formal akta
otentik sebagaimana yang ditetapkan oleh Undang-undang.
b. Notaris
Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk
membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan
penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang
berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik,
menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan
grosse, salinan dan kutipannya, semua sepanjang pembuatan akta itu oleh
suatu pertauran umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada
pejabat atau orang lain.9
c. Akta Notaris
Akta dalam Pasal 1 ayat (7) Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014
tentang Jabatan Notaris menyatakan bahwa akta Notaris selanjutnya
disebut akta adalah akta otentik yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris
menurut bentuk dan tata cara yang diterapkan dalam Undang-undang.
Akta sebagai surat bukti yang sengaja diadakan sebagai alat pembuktian
mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat modern
9
Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia Tafsir Tematik Terhadap UU No 30 Tahun 2004 Tentang
Jabatan Notaris, Bandung, Refika Aditama, 2008. h.13
ini, dimana akta sebagai dokumen tertulis yang dapat memberikan bukti
akan peristiwa hukum yang menjadi dasar dari hak atau perikatan. Akta
Notaris merupakan dokumen resmi yang dibuat oleh dan/atau dihadapan
Notaris yang merupakan akta Notaris dan memiliki kekuatan pembuktian
secara sempurna. Mengenai pembuktian secara otentik disebutkan dalam
Pasal 1868 KUHPerdata :
“suatu akta otentik adalah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang
ditentukan oleh Undang-undang oleh atau dihadapan pejabat umum yang
berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat” .
2. Kerangka Teoritis
Melakukan sebuah penelitian diperlukan adanya landasan teoritis,
sebagaimana dikemukakan oleh M. Solly Lubis bahwa landasan teoritis
merupakan kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, asas
maupun konsep yang relevan digunakan untuk mengupas suatu kasus
ataupun permasalahan. Untuk meneliti mengenai suatu permasalahan
hukum, maka pembahasan adalah relevan apabila dikaji menggunakan teori-
teori hukum, untuk menganalisis dan menerangkan pengertian hukum dan
konsep yuridis, yang relevan untuk menjawab permasalahan yang muncul
dalam penelitian hukum.10
Teori berasal dari kata teoritik, dapat didefinisikan adalah alur logika atau
penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposal yang
disusun secara sistematis. Secara umum, teori mempunyai tiga fungsi, yaitu
10
Salim H. S, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, Jakarta, Rajawali Press, 2010, h.54
untuk menjelaskan , meramalkan, dan pengendalian suatu gejala. Menurut
pendapat Mukti Fajar dan Yualinto Achmad, teori adalah suatu penjelasan
yang berupaya untuk menyederhanakan pemahaman mengenai suatu
fenomena atau teori juga merupakan simpulan dari rangkaian berbagai
fenomena menjadi sebuah penjelasan yang sifatnya umum. 11
Adapun teori-teori yang digunakan dalam kerangka teori penelitian ini
adalah sebagai berikut:
a. Teori Kepastian Hukum
Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya wajib berpedoman
secara normatif kepada aturan hukum yang terkait dengan segala
tindakan yang diambil untuk kemudian dituangkan dalam sebuah akta.
Bertindak berdasarkan aturan hukum yang berlaku akan memberikan
kepada pihak, bahwa akta yang dibuat di “hadapan” dan “oleh” Notaris
telah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, sehingga jika terjadi
permasalahan, akta Notaris dapat dijadikan pedoman oleh para pihak.12
Dalam hal Notaris adalah pejabat umum yang berwenang membuat
akta otentik yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna, akta
Notaris wajib dibuat dalam bentuk yang sudah di tentukan Undang-
undang, hal ini merupakan salah satu karakter dari akta Notaris. Bila akta
Notaris telah memenuhi ketentuan yang ada maka akta Notaris tersebut
memberikan kepastian dan perlindungan hukum kepada para pihak
11
Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian HukumNormatif dan Empiris,
Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010, h. 134
12
Habib Adjie, [Link], h. 37
mengenai perjanjian yang dibuatnya. Ketaatannya Notaris menjalankan
sebagian kekuasaan Negara dalam bidang hukum perdata untuk melayani
kepentingan masyarakat yang memerlukan alat bukti berupa akta otentik
yang mempunyai kepastian hukum yang sempurna apabila terjadi
permasalahan.13
Kepastian hukum merupakan pertanyaan yang hanya bisa dijawab
secara normatif, bukan sosiologis, kepastian hukum secara normatif
adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena
mengatur secara jelas dan logis. Jelas dalam artian tidak menimbulkan
keragu-raguan(multi-tafsir) dan logis dalam artian menjadi suatu sistem
norma dengan norma lan sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan
konflik norma.
b. Teori Kewenangan
Menurut Philpus M. Hadjon, “wewenang (bevoegdheid) dideskripsikan
sebagai kekuasaan hukum (rechtsmarcht). Jadi dalam konsep hukum
publik, wewenang berkaitan dengan kekuasaan.14 Wewenang Notaris
terbatas sebagaimana peraturan perundang-undangan yang mengatur
jabatan pejabat yang bersangkutan, kewenangan yang berasal dari
perundang-undangan dapat diperoleh melalui tiga tahap yaitu:15
1. Atribusi, yaitu pemberian wewenang pemerintah (eksekutif) oleh
pembuat undang-undang (legislatif) kepada instansi pemerintah atau
13
Habib Adjie (a), [Link], h.42
14
Phipus M. Hadjon, Hukum Administrasi Indonesia, Cetakan ketujuh, Yogyakarta, Gajah Mada
University Press, 2001, h.130
15
Lutfi Effendi, Pokok-Pokok Hukum Administrasi, Malang, Bayu Media Publishing, 2003, h. 77-78
organ pemerintah. kewenangan atribusi dapat diartikan sebagai
pembagian kekuasaan yang diberikan negara kepada pihak-pihak yang
berhak atas kewenangan tersebut yang didasari oleh Undang-undang
Dasar.
2. Delegasi, yaitu pemberian wewenang dari instansi pemerintah yang
satu ke instansi pemerintah yang lain, mengenai tanggungjawab dan
tanggung gugatnya diberikan sepenuhnya kepada yang dilimpahkan
atas wewenang tersebut.
3. Kewenangan Mandat dapat dijadikan jika instansi pemerintah
memberikan kewenangan kepada instansi yang lain untuk melakukan
kegiatan atas nama Negara.
c. Teori Pertanggungjawaban Hukum
Teori pertanggungjawaban menjelaskan bahwa seseorang bertanggung
jawab secara hukum atas suatu perbuatan tertentu atu bahwa dia memikul
tanggung jawab hukum. Ini berartu bahwa di bertanggung jawab atau
suatu sanksi dalam hal perbuatan yang dilakukan itu bertentangan. Hans
Kelsen membagi pertanggung jawaban menjadi 4 (empat) macam yaitu: 16
1. Pertanggungjawaban individu yaitu pertanggungjawabanyang harus
dilakukan terhadap pelanggaran yang dilakukannya sendiri.
2. Pertanggungjawaban kolektif berarti bahwa seorang individu
bertanggungjawab atas suatu pelanggaran yang dilakukan oleh orang
lain.
16
Hans Kelsen(b), sebagai mana telah diterjemahkan oleh Raisul Mutaqien, Teori Hukum Murni
Nuansa & Nusa Media, Bandung, 2006, h. 140
3. Pertanggungjawaban berdasarkan kesalahan yang berarti bahwa
seorang individu bertanggungjawab atas pelanggaran yang
dilakukannya karena sengaja dan diperkirakan dengan tujuan
menimbulkan kerugian.
4. Pertanggungjawaban mutlak yang berarti bahwa seorang individu
bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukannya karena tidak
sengaja dan tidak diperkirakan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tanggung jawab
adalah kewajiban menanggung segala sesuatunya apabila terjadi apa-apa
boleh dituntut, dipermasalahkan, dan diperkarakan. Tanggung jawab
dalam kamus hukum dapat di istilahkan sebagai liability dan
responsibility, istilah liability menunjuk pada pertanggung jawaban huku
yaitu tanggung gugat akibat kesalahan yang dilakukan oleh subjek
hukum, sedangkan istilah responsibility menunjuk pada
pertanggungjawaban politik.17 Teori tanggungjawab lebih menekankan
pada makna tanggung jawab yang lahir dari ketentuan Peraturan
Perundang-undangan sehinggaa teori tanggung jawab dimaknai dalam
arti liability,18 sebagai suatu konsep yang terkait dengan kewajiban
hukum seseorang yang bertanggung jawab secara hukum atas
perbuatannya bertentangan dengan hukum.
17
HR. Ridwan, Hukum Administrasi Negara, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2006, h.337
18
Busyra Azheri, Corporase Social Responsibility dari Voluntary menjadi Mandotary, Jakarta, Raja
Grafindo Press, 2011, h. 54
Mengenai persoalan pertanggungjawaban pejabat menurut
Kranenburg dan Vegtig ada dua teori yang melandasinya yaitu :
a) Teori fautes personalles, yaitu teori yang menyatakan bahwa kerugian
terhadap pihak ketiga dibebankan kepada pejabat yang karena
tindakannya itu telah menimbulkan kerugian. Dalam teori beban
tanggung jawab ditujukan pada manusia selaku pribadi.
b) Teori fautes de services, yaitu teori yang menyatakan bahwa kerugian
terhadap pihak ketiga dibebankan pada instansi dari pejabat yang
bersangkutan. Menurut ini tanggung jawab dibebankan kepada
jabatan. Dalam penerapannya, kerugian yang timbul itu disesuaikan
pula apakah kesalahan yang dilakukan itu merupakan kesalahan berat
atau kesalahan ringan, dimana berat dan ringannya suatu kesalahan
berimplikasi pada tanggung jawab yang harus ditanggung 19
Dalam memberikan pelayanannya, profesional itu bertanggung jawab
kepada diri sendiri dan kepada masyarakat. Bertanggung jawab kepada
diri sendiri, artinya dia bekerja karena integritas moral, intelektual dan
profesional sebagai bagian dari kehidupannya. Dalam memberikan
pelayanan, seorang profesional selalu mempertahankan cita-cita luhur
profesi sesuai dengan tuntutan kewajiban hati nuraninya, bukan karena
sekedar hobi belaka. Bertanggung jawab kepada masyarakat, artinya
kesediaan memberikan pelayanan sebaik mungkin tanpa membedakan
antara pelayanan bayaran dan pelayanan Cuma-Cuma serta menghasilkan
19
Ridwan H.R, Ibid, h. 365
layanan yang bermutu, yang berdampak positif pada masyarakat.
Pelayanan yang diberikan tidak semata-mata bermotif mencari
keuntungan, melainkan juga pengabdian kepada semua manusia.
Bertanggung jawab juga berani menanggung segala resiko yang timbul
akibat dari pelanannya itu. Kelalaian dalam melaksanakan profesi
menimbulkan dampak yang membahayakan atau mungkin diri sendiri,
orang lain dan berdosa kepada Tuhan Yang Maha Esa.20
Fungsi teori ini pada penulisan tesis ini adalah memberikan
arah/petunjuk serta menjelaskan gejala yang diamati, oleh karena itu
penelitian diarahkan kepada hukum positif yang berlaku tentang :
pelaksanaan tanggung jawab Notaris dalam peembuatan Akta nya ,
dengan dasar teori tanggung jawab menjadi pedoman guna menentukan
bagaimana kedudukan dan tanggung jawab Notaris.
d. Teori Perlindungan Hukum
Terkait dengan perlindungan hukum menurut Phillipus M. Hadjon
bahwa perlindungan hukum bagi rakyat sebagai tindakan pemerintah
yang bersifat preventif dan represif. Perlindungan hukum preventif
bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa, yang mengarahkan
tindakan pemerintah bersikap hati-hati dalam pengambilan keputusan
berdasarkan diskresi dan perlindungan represif bertujuan untuk
mencegah terjadinya sengketa, termasuk penanganannya dilembaga
peradilan.
20
Abdulkadir Muhammad, Etika Profesi Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2001, h. 60
Perlindungan hukum dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a) Perlindungan Hukum Preventif
Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk
mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam
peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu
pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan
dalam melakukan suatu kewajiban.
b) Perlindungan Hukum Represif
Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan aktif berupa
sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan
apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan pelanggaran.
E. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode yuridis sosiologis. Di mana pelaksanaan
metode ini merupakan penelitian terhadap azas-azas hukum, sistematika
hukum, dan lainnya yang berkaitan dengan metode ini dalam mencari data-
datanya.
1. Metode Pendekan
Metode pendekan masalah yang diguanakan adalah yuridis sosiologis,
karena penelitian ini tidak hanya meliputi pada Peraturan-peraturan
Perundang-undangan dan bahan-bahan hukum di perpustakaan, tetapi
juga terhadap praktiknya dilapangan sebagai data penunjang. Selain itu
dalam penelitian ini digunakan pula sumber data primer sebagai data
pendukung dalam menemukan permasalahan yang akan diteliti yang
berkaitan dengan pertanggungjawawban Notaris berdasarkan Undang-
undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.
2. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi peneliatian yang digunakan bersifat deskriptif analitis yaitu
untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh dan sistematis tentang
pertanggungjabawan Notaris berdasarkan Undang-undang Nomor 2
Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.
3. Ruang Lingkup
Pembatasan ruang lingkup penelitian dilakukan untuk
memfokuskan pembahasan terhadap pelaksanaan pertanggungjawaban
Notaris dalam pembuatan akta Notaris di Kabupaten Tegal.
4. Sumber Data
Dalam penelitian data pada umumnya dibedakan antara data yang
diperoleh secara langsung dari masyarakat dan dari bahan-bahan
pustaka. Yang diperoleh langsung dari masyarakat dinamakan data
primer (data dasar), sedangkan yang diperoleh dari bahan-bahan
pustaka lazimnya dinamakan data sekunder.21
Data dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu bahan pustaka
yang mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-buku perpustakaan,
peraturan perundang-undangan, karya ilmiah, artikel-artikel, serta
21
Soerjono Soekamto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat,
Jakarta, Raja Grafindo, 2011, h.12
dokumen yang berkaitan dengan materi penelitian. Dari bahan hukum
sekunder tersebut jenis meliputi:
a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum prmer. yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat,
Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini terdiri
dari:
- Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata)
- Kitab Undang-undang Hukum Pidana
- Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
- Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris
b. Bahan hukum Sekunder:
Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai
bahan hukum primer, yang terdiri dari :
- Buku-buku literatur
- Makalah
- Artikel
c. Bahan hukum Tersier:
Bahan hukum tersier, yakni bahan yang memberikan petunjuk
maupun penjelasan terhadap hukum primer dan sekunder, yang
terdiri:
- Kamus-kamus Hukum
- Kamus Bahasa Indonesia Modern
5. Metode Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan dara dalam proposal ini, yaitu:
a. Penelitian Kepustakaan, dilakukan untuk memperoleh data sekunder
guna mendapatkan landasan teoritis berupa pendapat-pendapat para
ahli atau para pihak-pihak yanhg berwenang dan juga untuk
memperoleh informasi baik dalam bentuk-bentuk ketentuan formal
maupun data, melalui naskah resmi yang ada atau pun bahan hukum
yang berupa Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, buku-
buku hasil penelitian, dokumentasi, majalah, jurnal, surat kabar,
internet dan sumber lainnya dengan masalah-masalah yang akan
dibahas dalam tesis ini.
b. Penelitian Lapangan, untuk mendapatkan data primer dengan cara
melakukan wawancara secara mendalam dengan berpedoman yang
terkait dalam permasalahan ini.
6. Metode Penyajian Data
Hasil penelitian disajikan dalam bentuk uraian-uraian yang
tersususn secara sistematis, artinya data sekunder yang diperoleh akan
dihubungkan satu dengan yang lain disesuaikan dengan permasalahan
yang diteliti, secara keseluruhan merupakan satu kesatuan yang utuh
sesuai dengan kebutuhan penelitian.
7. Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini, data yang diperoleh dianalisis
menngunakan teknik analisis kualitatif. Metode kualitatif adalah cara
penelitian yang menghasilkan data deskriptif analisis, yaitu apa yang
dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan dan juga
perilakunya yang nyata, diteliti dan dipelajari sebagai suatu yang utuh.
Dari hasil tersebut kemudian ditaik suatu kesimpulan yang merupakan
jawaban atas permasalahan yang diangkat.
F. Sistematika Penelitian
Dalam penulisan proposal tesis ini, penulis akan memberikan secara garis besar
tentang apa yang peneliti kemukakan pada tiap-tiap BAB dari tesis ini dengan
sistematika sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan
Pada Bab ini berisikan tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, kerangka konseptual/ kerangka teoritik, metode
penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan Pustaka.
Pada Bab ini merupakan uraian mengenai permasalahan dalam penelitian,
yang meliputi : Tinjauan Umum tentang Notaris, Tinjauan Umum tentang
Perjanjian, Tinjauan Umum tentang Akta dan Tanggung Jawab Notaris,
Organisasi Notaris dan Tinjauan Umum tentang Majelis Pengawas Daerah,
Tinjauan Perspektif Islam tentang Akta.
BAB III : Hasil Penelitian dan Pembahasan.
Pada Bab ini merupakan inti dari penelitian yang berisikan mengenai hasil
penelitian yang relevan dengan permasalahan dan pembahasannya terutama
menyangkut tentang bagaimna pelaksanaan pertanggungjawaban Notaris dalam
pembuatan akta Notaris di Kabupaten Tegal, serta bagaimana perlindungan
hukum Notaris dalam pembuatan akta Notaris di Kabupaten Tegal.
BAB IV : Penutup
Pada Bab ini merupakan bagian akhir dari penulisan yang mengungkapkan
kesimpulan dan saran dalam penulisan ini. Kesimpulan merupakan jawaban
dari rumusan masalah setelah di bahas, sedangkan saran-saran merupakan
sumbangan pemikiran penulis yang berkaitan dengan hasil penelitian tersebut.