BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Tanggung Jawab
Pengertian tanggung jawab sangat luas, menurut Peter Salim tanggung
jawab dapat dikelompokkan menjadi tiga dalam arti accountability, responsibility,
dan [Link] jawab dalam arti accountability biasanya berkaitan dengan
keuangan atau pembukuan atau yang berkaitan dengan [Link] itu
accountability dapat diartikan sebagai [Link] jawab dalam arti
responsibility dapat diartikan sebagai ikut memikul beban, akibat suatu
[Link] jawab dalam arti responsibility juga dapat diartikan sebagai
kewajiban memperbaiki kesalahan yang pernah terjadi. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia tanggung jawab dalam arti responsibility dapat diartikan sebagai
wajib menanggung segala sesuatunnya, jika terjadi apa dapat disalahkan, dituntut,
dan diancam hukuman oleh penegak hukum di depan pengadilan, menerima beban
akibat tindakan sendiri atau orang lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
tanggung jawab dalam arti liability dapat pula berarti menanggung segala sesuatu
kerugian yang terjadi akibat perbuatannya atau perbuatan orang lain yang
bertindak untuk dan atas namanya. Tanggungjawab liability dapat diartikan
kewajiban membayar ganti kerugian yang diderita. 13
B. Pengertian Kerugian
Pengertian kerugian menurut R. Setiawan, adalah kerugian nyata yang
terjadi karena [Link] besarnya kerugian ditentukan dengan
membandingkan keadaan kekayaan setelahwanprestasi dengan keadaan jika
sekiranya tidak terjadi wanprestasi.14Pengertian kerugian yang hampir sama
dikemukakan pula oleh Yahya Harahap, ganti rugi ialah “kerugian nyata” atau
“fietelijke nadeel” yang ditimbulkan perbuatan wanprestasi. 15Kerugian nyata ini
13
K. Martono,Hukum Angkutan Udara Berdasarkan UU RI No. 1 Tahun 2009, Jakarta, PT
Raja Grafindo Persada, 2011, Hal. 217.
14
R. Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Bandung, Binacipta, 1977, Hal. 17.
15
M. Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Perjanjian, Bandung, Alumni, 1986, Hal. 66.
10
11
ditentukan oleh suatu perbandingan keadaan yang tidak dilakukan oleh pihak
debitur. Lebih lanjut dibahas oleh Harahap, kalau begitu dapat kita ambil suatu
rumusan, besarnya jumlah ganti rugi kira-kira sebesar jumlah yang “wajar” sesuai
dengan besarnya nilai prestasi yang menjadi obyek perjanjian dibanding dengan
keadaan yang menyebabkan timbulnya wanprestasi. Atau ada juga yang
berpendapat besarnya ganti rugi ialah “sebesar kerugian nyata” yang diderita
kreditur yang menyebabkan timbulnya kekurangan nilai keutungan yang akan
diperolehnya.
Lebih lanjut dikatakan oleh Abdulkadir Muhammad, bahwa pasal 1243
KUH Perdata sampai dengan pasal 1248 KUH Perdata merupakan
pembatasanpembatasan yang sifatnya sebagai perlindungan undang-undang
terhadap debitur dari perbuatan sewenang-wenang pihak kreditur sebagai akibat
wanprestasi. 16 Pengertian kerugian yang lebih luas dikemukakan oleh Mr. J. H.
Nieuwenhuis sebagaimana yang diterjemahkan oleh Djasadin Saragih, pengertian
kerugian adalah berkurangnya harta kekayaan pihak yang satu, yang disebabkan
oleh perbuatan (melakukan atau membiarkan) yang melanggar norma oleh pihak
yang lain. 17 Yang dimaksud dengan pelanggaran norma oleh Nieuwenhuis di sini
adalah berupa wanprestasi dan perbuatan melawan hukum. Bila kita tinjau secara
mendalam, kerugian adalah suatu pengertian yangrelatif, yang bertumpu pada
suatu perbandingan antara dua keadaan. Kerugian adalah selisih (yang merugikan)
antara keadaan yang timbul sebagai akibat pelanggaran norma, dan situasi yang
seyogyanya akan timbul anadaikata pelanggaran norma tersebut tidak terjadi.
Lebih lanjut Nieuwenhuis mengatakan bahwa kita harus hati-hati agar tidak
melukiskan kerugian sebagai perbedaan antara situasi sebelum dan setelah
wanprestasi atau perbuatan melanggar hukum. 18 Pengertian kerugian dibentuk
oleh perbandingan antara situasi sesungguhnya (bagaiaman dalam kenyataannya
keadaan harta kekayaan sebagai akibat pelanggaran norma) dengan situasi
hipotesis (situasi itu akan menjadi bagaimana andaikata pelanggaran norma
16
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, Bandung, Alumni, 1982, Hal. 41.
17
Mr. J.H. Nieuwenhuis, terjemahan Djasadin Saragih, Pokok-Pokok Hukum Perikatan,
Surabaya, Airlangga University Press, 1985, Hal. 54.
18
Ibid
12
tersebut tidak terjadi). Sehingga dapat ditarik suatu rumusan mengenai kerugian
adalah situasi berkurangnya harta kekayaan salah satu pihak yang ditimbulkan
dari suatu perikatan (baik melalui perjanjian maupun melalui undang-undang)
dikarenakan pelanggaran norma oleh pihak lain.
C. Perjanjian Ekspedisi
Perjanjian ekspedisi adalah perjanjian timbal balik antara ekspeditur dengan
[Link] ekspeditur mengikatkan diri untuk mencarikan pengangkut yang
baik bagi pengirim, sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar
sejumlah provisi kepada ekspeditur. Berdasarkan perjanjian ekspedisi yang telah
dikemukakan di atas, unsur- unsur dari suatu perjanjian ekspedisi yaitu : 19
1. Ada Pihak-Pihak
Pihak-pihak dalam perjanjian ekspedisi adalah ekspeditur sebagai pihak
yang mencarikan pengangkut dan pengirim sebagai pemilik barang;
2. Ada Persetujuan Dari Pihak-Pihak
Persetujuan dalam perjanjian ekspedisi adalah persetujuan untuk
mencarikan pengangkut dalam rangka pengiriman barang;
3. Ada Tujuan Yang Akan Dicapai
Tujuan perjanjian ekspedisi bagi pengirim adalah barang yang dikirim
selamat sampai tujuan. Sedangkan bagi ekspeditur adalah memperoleh
keuntungan yang dibayar oleh pengirim agar perusahaannya dikenal oleh
masyarakat luas;
4. Ada Prestasi Yang Dilaksanakan
Kewajiban ekspeditur adalah mencarikan pengangkut yang baik bagi
pengirim dan melaksanakan segala urusan pengiriman [Link]
Hak ekspeditur adalah menerima provisi dari [Link]
pengirim adalah membayar provisi kepada ekspeditur dan berhak
mendapatkan angkutan yang baik untuk barang-barangnya. Sehingga
pengiriman tersebut berjalan lancar;
5. Ada Bentuk Tertentu, Lisan Atau Tulisan
19
Ibid, Hal. 100.
13
Perjanjian ekspedisi tidak mengharuskan dilaksanakan tertulis, jadi dapat
juga dilaksanakan secara lisan maupun tulisan berdasarkan kesepakatan
pihak-pihak
Perjanjian ekspedisi yang dibuat oleh ekspeditur dengan pengirim barang
harus tertuang dalam bentuk lisan maupun tulisan dan ada syarat–syarat tertentu
sebagai isi pelaksanaan [Link] perjanjian yang dibuat tidak boleh
bertentangan dengan undang–undang, ketertiban umum dan kesusilaan. Pasal
1320 KUHPdt menentukan bahwa perjanjian dianggap sah apabila memenuhi
empat syarat, yaitu :20
a. Sepakat mereka mengikatkan dirinya;
b. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian;
c. Suatu hal tertentu;
d. Suatu sebab yang halal.
Dua syarat yang pertama, dinamakan syarat-syarat subjektif, karena
mengenai orang-orangnya atau subjeknya yang mengadakan perjanjian,
sedangkan duasyarat yang terakhir dinamakan syarat objektif karena mengenai
perjanjiannya sendiri atau objek dari perbuatan hukum yang dilakukan [Link]
karena itu dalam suatu perjanjian harus memenuhi keempat dari syarat tersebut,
baik subjektif maupun [Link] syarat subjektif tidak terpenuhi maka
salah satu pihak mempunyai hak untuk meminta supaya perjanjian itu
[Link] apabila syarat objektif tidak terpenuhi maka perjanjian itu batal
demi hukum.
Unsur pertama sahnya perjanjian adalah kesepakatan para
[Link] merupakan pangkal dari diadakannya perjanjian atau
[Link] ekspedisi antara perusahaan ekspedisi dengan pengirim
barang didasarkan atas kesepakatan atau persetujuan kehendak pihak-pihak, baik
mengenai objek perjanjian maupun syarat-syarat [Link] dengan adanya
asas kebebasan berkontrak dalam mengadakan suatu perjanjian, maka pihak-pihak
20
Pasal 1320 KUHPerdata.
14
yang terkait dalam perjanjian bebas untuk menentukan syarat-syarat dan ketentuan
sebagai isi perjanjian sejauh tidak dilarang oleh undang-undang, tidak
bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum (Pasal 1337 KUH
Perdata).Demikian halnya dengan perjanjian ekspedisi, pihak-pihak yang terkait
dalam perjanjian mempunyai kemampuan yang bebas tersebut untuk mengadakan
suatu perjanjian [Link] kesepakatan para pihak sebagai syarat pertama
untuk syahnya perjanjian dianggap tidak sah jika perjanjian tersebut terjadi karena
adanya paksaan ataupemerasan (dwang), kehilafan atau kekeliruan (dwaling) dan
penipuan (bedrug). 21Akibat hukum dari perbuatan itu adalah perjanjian tersebut
dapat dimintai pembatalan oleh [Link] pembatalan tidak dimintakan oleh
pihak yang berkepentingan, sepanjang tidak dimungkiri oleh pihak yang
berkepentingan, perjanjian itu tetap berlaku bagi pihak-pihak.
Syarat kedua untuk sahnya suatu perjanjian menurut Pasal 1320 KUH
Perdata adalah kecakapan pihak-pihak yang membuat perjanjian tersebut. Dalam
hal ini berarti masing-masing pihak yang terkait dalam perjanjian harus
menguasai pengetahuan dal hal-hal yang akan diatur dalam perjanjian. Dalam hal
ini pihak yang terlibat yaitu perusahaan ekspedisi sebagai ekspeditur yang
merupakan sebuah perusahaan berbadan hukum dan pengirim barang (baik
perorangan maupun badan hukum) harus cakap dan telah sesuai dengan syarat
kedua yaitu cakap hukum untuk mengadakan suatu [Link] hukum dari
ketidakcakapan atau ketidak wenangan pihak dalam membuat perjanjian yang
telah dibuat, maka dapat dimintakan pembatalan oleh [Link] bahwa
perjanjian tersebut tetap berlaku bagi pihak-pihak yang membuatnya apabila
pembatalan tersebut tidak dimintakan oleh pihak yang berkepentingan.
Untuk syarat ketiga sahnya suatu perjanjian menurut pasal 1320 KUH
Perdata yaitu suatu hal tertentu, Artinya dalam suatu perjanjian terdapat hal-hal
yang diperjanjikan atau hal yang biasa disebut sebagai objek [Link]
tersebutdapat berupa benda maupun suatu prestasi tertentu atau setidaknya dapat
ditentukan, untuk menetapkan kewajiban dan hak kedua belah pihak apabila
timbul perselisihan dalam pelaksanaan [Link] syarat ini tidak dipenuhi
21
Pasal 1321 KUHPerdata.
15
dalam perjanjian maka akibat hukumnya adalah perjanjian tersebut batal demi
hukum.
Syarat keempat untuk syahnya perjanjian menurut Pasal 1320 KUH Perdata
adalah suatu sebab yang [Link] perjanjian haruslah mengenai hal-hal yang
baik atau halal apabila dilaksanakan tidak bertentangan dengan kepentingan
umum, dan kesusilaan.22Maka dengan kata lain, hal-hal yang diperjanjikan dalam
perjanjian tersebut, baik isi maupun maksud dari tujuan perjanjian itu tidak
bertentangan dengan norma-norma hukum yang berlaku. Perjanjian ekspedisi
yang telah disepakati oleh perusahaan ekspedisi dengan pengirim barang,
ditentukan juga bahwa barang muatan yang berbahaya, barang yang dilarang,
barang-barang yang menurut peraturan dikenakan pembatasan, barang yang dapat
menggangu stabilitas keamanan serta barang-barang yang bertentangan dengan
kesusilaaan tidak akan diangkut.
Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang
lain atau dua orang tersebut saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal yang
menimbulkan suatu perikatan antara dua pihak yang membuatnya. 23 Perjanjian
adalah suatu hubungan hukum mengenai harta benda antara dua pihak, dalam
mana suatu pihak berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau untuk
tidakmelakukan sesuatu hal, sedang pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji
itu. 24Perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling
mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal dalam lapangan harta kekayaan. 25
Hukum perjanjian yang berlaku di Indonesia mengenal beberapa asas,
diantaranya adalah asas kebebasan berkontrak. Asas tersebut menjelaskan bahwa
setiap orang bebas untuk menentukan bentuk, macam, dan isi perjanjian sepanjang
masih memenuhi syarat sahnya perjanjian sebagaimana disebutkan dalam Pasal
1320 KUH Perdata, dan juga tidak bertentangan dengan undang-undang,
ketertiban umum, serta kesusilaan, sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 (1) KUH
22
Pasal 1337 KUHPerdata.
23
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Jakarta, PT Inter Masa, 2001, Hal. 22.
24
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta, Sumur Bandung, 1960,
Hal. 9.
25
Abdulkadir Muhammad, Hukum PerjanjianOp Cit, Hal. 78.
16
Perdata. Ketentuan Pasal 1338 (1) KUH Perdata ini menggambarkan bahwa Buku
III KUH Perdata bersifat terbuka. Perjanjian yang dibuat antara perusahaan
ekspedisi dengan pengirim barang disebut dengan perjanjian ekspedisi, sedangkan
perjanjian antara perusahaan ekspedisi (ekspeditur) atas nama pengirim barang
dengan pihak pengangkut disebut perjanjian pengangkutan. Ekspeditur
mengikatkan diri melalui perjanjian untuk mencarikan pengangkut yang baik bagi
pengirim barang, dan pengirim barang mengikatkan dirinya untuk membayar
sejumlah provisi kepada perusahaan ekspedisi.