0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan28 halaman

Tanggung Jawab Hukum dan Ganti Rugi

Dokumen ini membahas tanggung jawab hukum, perbuatan melawan hukum, dan ganti rugi terkait peristiwa tumbangnya pohon. Tanggung jawab hukum diartikan sebagai kewajiban untuk mempertanggungjawabkan tindakan yang merugikan orang lain, baik secara sengaja maupun karena kelalaian. Selain itu, terdapat penjelasan mengenai tanggung jawab pemerintah dan pengaturan dalam KUHPerdata terkait perbuatan melawan hukum.

Diunggah oleh

Aditio Sulaeman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan28 halaman

Tanggung Jawab Hukum dan Ganti Rugi

Dokumen ini membahas tanggung jawab hukum, perbuatan melawan hukum, dan ganti rugi terkait peristiwa tumbangnya pohon. Tanggung jawab hukum diartikan sebagai kewajiban untuk mempertanggungjawabkan tindakan yang merugikan orang lain, baik secara sengaja maupun karena kelalaian. Selain itu, terdapat penjelasan mengenai tanggung jawab pemerintah dan pengaturan dalam KUHPerdata terkait perbuatan melawan hukum.

Diunggah oleh

Aditio Sulaeman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TANGGUNG JAWAB HUKUM, PERBUATAN MELAWAN

HUKUM, DAN GANTI RUGI ATAS PERISTIWA TUMBANGNYA

POHON

A. Tinjauan Umum tentang Tanggung Jawab Hukum

1. Pengertian Pertanggungjawaban

Pengertian tanggung jawab secara harifah dapat diartikan sebagai

keadaan wajib memegang segala sesuatunya jika terjadi suatu hal yang dapat

dituntut, dipersalahkan, diperkarakan atau juga hak yang berfungsi menerima

pembebanan sebagai akibat sikapnya oleh pihak lain.21 Menurut hukum

tanggung jawab adalah suatu akibat atas konsekuensi kebebasan seorang

tentang perbuatannya yang berkaitan dengan etika atau moral dalam melakukan

suatu perbuatan.22 Menurut Soegeng istanto pertanggungjawaban berarti

kewajiban untuk memberikan jawaban yang merupakan perhitungan atas semua

21
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,
Jakarta, 2006, hlm 106
22
Soekidjo Notoatmojo, Etika dan Hukum Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta, 2010, hlm 62.

33
34

hal yang terjadi dan kewajiban untuk memberikan pemulihan atas kerugian

yang mungkin ditimbulkannya.23

Konsep tanggung jawab juga dikemukakan oleh pencetus teori hukum

murni yaitu Hans Kelsen. Menurut Hans, tanggung jawab berkaitan erat dengan

kewajiban, namun tidak identik. Kewajiban tersebut muncul karena adanya

aturan hukum yang mengatur dan memberikan kewajiban kepada subyek

hukum. Subyek hukum yang dibebani kewajiban harus melaksanakan

kewajiban tersebut sebagai perintah dari aturan hukum. Akibat dari tidak

dilaksanakannya kewajiban maka akan menimbulkan sanksi. Sanksi ini

merupakan tindakan paksa dari aturan hukum supaya kewajiban dapat

dilaksanakan dengan baik oleh subyek hukum. Menurut Hans, subyek hukum

yang dikenakan sanksi tersebut dikatakan “bertanggung jawab” atau secara

hukum bertanggung jawab atas pelanggaran.24

Berdasar konsep tersebut, maka dapat dikatakan bahwa tanggung jawab

muncul dari adanya aturan hukum yang memberikan kewajiban kepada subyek

hukum dengan ancaman sanksi apabila kewajiban tersebut tidak dilaksanakan.

Tanggung jawab demikian dapat juga dikatakan sebagai tanggung jawab

hukum, karena muncul dari perintah aturan hukum/undang-undang dan sanksi

23
F. Soegeng Istanto, Hukum Internasional, Penerbitan UAJ, Yogyakarta, 1994, hlm 77
24
Hans Kelsen, Pure Theory of Law, Terjemah, Raisul Muttaqien, Teori Hukum Murni:
Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif, Cetakan Keenam, Bandung: Penerbit Nusa Media, 2008, hlm.
136.
35

yang diberikan juga merupakan sanksi yang ditetapkan oleh undang-undang,

oleh karena itu pertanggungjwaban yang dilakukan oleh subyek hukum

merupakan tanggung jawab hukum.

2. Teori Pertanggungjawaban Hukum

Menurut Abdulkadir Muhammad teori tanggung jawab dalam

perbuatan melanggar hukum (tort liability) dibagi menjadi beberapa teori, yaitu

:25

a. Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan

dengan sengaja (intertional tort liability), tergugat harus sudah melakukan

perbuatan sedemikian rupa sehingga merugikan penggugat atau

mengetahui bahwa apa yang dilakukan tergugat akan mengakibatkan

kerugian.

b. Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan

karena kelalaian (negligence tort lilability), didasarkan pada konsep

kesalahan (concept of fault) yang berkaitan dengan moral dan hukum yang

sudah bercampur baur (interminglend).

c. Tanggung jawab mutlak akibat perbuatan melanggar hukum tanpa

mempersoalkan kesalahan (stirck liability), didasarkan pada perbuatannya

25
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perusahaan Indonesia, Citra Aditya Bakti, 2010, hlm. 503.
36

baik secara sengaja maupun tidak sengaja, artinya meskipun bukan

kesalahannya tetap bertanggung jawab atas kerugian yang timbul akibat

perbuatannya

Seseorang bertanggungjawab secara hukum atas perbuatan tertentu atau

bahwa dia bertanggungjawab atas suatu sanksi bila perbuatannya bertentangan.

Dalam teori hukum umum, menyatakan bahwa setiap orang, termasuk

pemerintah, harus mempertangungjawabkan setiap tindakannya, baik karena

kesalahan atau tanpa kesalahan.

3. Pengertian Tanggung Jawab Pemerintah

Setiap perbuatan seseorang kepada orang lain, termasuk perbuatan yang

dilakukan oleh pemerintah haruslah dipertanggung jawabkan secara hukum.

Apabila, tanggung jawab tersebut masuk ke dalam ranah hukum, maka

tanggung jawab pemerintah seperti itu disebut sebagai tanggung jawab

hukum.

Bahwa pemerintah harus bertanggung jawab secara hukum kepada

rakyatnya muncul dalam dua teori sebagai berikut:

a. Teori hukum umum, yang menyatakan bahwa setiap orang, termasuk

pemerintah, harus mempertanggung jawabkan setiap tindakannya,

baik karena kesalahan atau tanpa kesalahan (strict liability). Dari

teori ini selanjutnya muncul tanggung jawab hukum berupa


37

tanggung jawab pidana, perdata, dan administrasi negara. Tanggung

jawab hukum dari pemerintah seperti ini dilakukan di depan badan

pengadilan.

b. Teori demokrasi, yang menyatakan bahwa setiap yang memerintah

harus mempertanggung jawabkan tindakanya kepada yang

diperintah, karena kekuasaan yang memerintah tersebut berasal dari

yang diperintahnya (rakyatnya). Dari teori ini muncul tanggung

jawab yang berakibat kepada "pemakzulan" (impeachment).

Tanggung jawab pemerintah terhadap warga negara atau pihak ketiga

dianut oleh hampir semua negara yang berdasarkan atas hukum. Sekedar

contoh berikut ini dapat disebutkan beberapa negara yang secara tegas

memberikan beban tanggung jawab kepada pemerintah, berdasarkan

yurisprudensi maupun ketentuan hukum positifnya. Berdasarkan

yurisprudensi Conseil d'Etat, pemerintah atau negara dibebani membayar

ganti rugi kepada seseorang rakyat atau warga negara yang menjadi korban

pelaksanaan tugas administratif.

Tindakan hukum pemerintahan itu selanjutnya dituangkan dalam dan

dipergunakan beberapa instrument hukum kebijaksanaan seperti peraturan

perundang-undangan (reegling), peraturan kebijakan (beleidsregel), dan

keputusan (beschikking). Di samping itu, pemerintah juga sering

menggunakan instrumen hukum keperdataan seperti perjanjian dalam

menjalankan tugas-tugas pemerintahan. Setiap pengunaan wewenang dan


38

penerapan instrument hukum oleh pejabat pemerintahan pasti menimbulkan

akibat hukum, karena memang dimaksudkan untuk menciptakan hubungan

hukum dan akibat hukum. Hubungan hukum ini ada yang bersifat intern

(interne rechtsbetrekking), yakni hubungan di dalam hal hubungan hukum

ekstern, akibat hukum yang ditimbulkannya ada yang bersifat umum, dalam

arti mengenai setiap warga negara, dan akibat hukum yang bersifat khusus,

yakni mengenai seseorang atau badan hukum perdata tertentu.

Dijelaskan bahwa setiap penggunaan kewenangan itu didalamnya

terkandung pertanggung jawaban, namun demikian harus pula dikemukakan

tentang menjalankan cara-cara memperoleh dan kewenangan. Sebab tidak

semua pejabat tata usaha negara yang menjalankan kewenangan

pemerintahan itu secara otomatis memikul tanggung jawab hukum.

Badan atau pejabat tata usaha negara yang melakukan tindakan atas

dasar kewenangan yang diperoleh secara atribusi dan delegasi adalah

sebagai pihak yang memikul pertanggung jawaban hukum, sedangkan badan

atau pejabat tata usaha negara yang melaksanakan tugas dan pekerjaan atas

dasar mandate bukanlah pihak yang memikul tanggung jawab hukum, yang

memikul tanggung jawab adalah pemberi mandate (mandans). Telah

dijelaskan bahwa dalam prespektif hukum public, yang melakukan tindakan

hukum adalah jabatan (ambt) yakni suatu lembaga dengan lingkup pekerjaan
39

sendiri dibentuk untuk waktu lama dan kepadanya diberikan tugas dan

wewenang.26

4. Tanggung Jawab Menurut KUHPerdata

Kitab Undang-Undang Hukum perdata membagi masalah pertanggung jawaban

terhadap perbuatan melawan hukum menjadi 2 golongan yaitu:

a. Tanggung jawab langsung

Hal ini diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata. Dengan adanya

interprestasi yang luas sejak tahun 1919 (Arest Lindenbaun vs Cohen) dari

Pasal 1365 KUHPerdata ini, maka banyak hal-hal yang dulunya tidak dapat

dituntut atau dikenakan sanksi atau hukuman, kini terhadap pelaku dapat

dimintakan pertanggung jawaban untuk membayar ganti rugi.

b. Tanggung jawab tidak langsung.

Menurut Pasal 1367 KUHPerdata, seorang subjek hukum tidak hanya

bertanggung jawab atas perbuatan melawan hukum yang dilakukannya

saja, tetapi juga untuk perbuatan yang dilakukan oleh orang lain yang

menjadi tanggungan dan barang-barang yang berda di bawah

pengawasannya. Tanggung jawab atas akibat yang ditimbulkan oleh

perbuatan melawan hukum dalam hukum pedata, pertanggung jawabannya

26
Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, PT. Raja Grafindo, Jakarta, 2011, hlm 339
40

selain terletak pada pelakunya sendiri juga dapat dialihkan pada pihak lain

atau kepada Negara, tergantung siapa yang melakukannya.

B. Perbuatan Melawan Hukum

1. Pengertian Perbuatan Melawan Hukum

Bagi masyarakat Indonesia yang sangat beragam dan terdiri dari

berbagai suku bangsa serta adat kebiasaan, tentunya sangat mendambakan

adanya ketenangan dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itu supremasi

hukum merupakan hal utama yang menjadi dambaan masyarakat, terutama

untuk mengeliminasi perbuatanperbuatan melawan hukum. Perbuatan melawan

hukum/ melanggar hukum telah diatur melalui KUHPerdata khususnya Pasal

1365 KUHPerdata yang menyatakan: “Tiap perbuatan yang melanggar hukum

dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang

menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk mengganti kerugian

tersebut". Menurut R. Setiawan rumusan dalam Pasal 1313 KUHPerdata selain

tidak lengkap juga sangat luas maknanya karena hanya menyebutkan perjanjian

yang sepihak saja sedangkan sangat luas karena dengan dipergunakan


41

perkataan "perbuatan" tercakup pula perwakilan sukarela dan perbuatan

melawan hukum27

Perbuatan melawan hukum sudah dikenal dalam bahasa Belanda

disebut dengan onrechmatige daad dan dalam bahasa Inggris disebut tort. Kata

tort itu sendiri sebenarnya hanya berarti salah (wrong). Akan tetapi, khususnya

dalam bidang hukum, kata tort itu sendiri berkembang sedemikian rupa

sehingga memiliki arti kesalahan perdata yang bukan berasal dari wanprestasi

dalam suatu perjanjian. Jadi serupa dengan pengertian perbuatan melawan

hukum yang disebut onrechmatige daad dalam sistim hukum Belanda atau di

negara-negara Eropa Kontinental lainnya.28

Beberapa definisi lain yang pernah diberikan terhadap perbuatan melawan

hukum adalah sebagai berikut:29

a. Tidak memenuhi sesuatu yang menjadi kewajibannya selain dari

kewajiban kontraktual atau kewajiban quasi contractual yang

menerbitkan hak untuk meminta ganti rugi.

b. Suatu perbuatan atau tidak berbuat sesuatu yang mengakibatkan

timbulnya kerugian bagi orang lain tanpa sebelumnya ada suatu

hubungan hukum yang mana perbuatan atau tidak berbuat tersebut, baik

27
R. Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Bina Cipta, Bandung, 2009, hlm. 49.
28
R. Wirjono Prodjodikoro, Perbuatan Melawan Hukum, Sumur Bandung, Bandung, 1984,
hlm.7.
29
Munir Fuady, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), PT. Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2003, hlm. 4.
42

merupakan suatu perbuatan biasa maupun bisa juga merupakan suatu

kecelakaan.

c. Tidak memenuhi suatu kewajiban yang dibebankan oleh hukum,

kewajiban mana ditujukan terhadap setiap orang pada umumnya, dan

dengan tidak memenuhi kewajibannya tersebut dapat dimintakan suatu

ganti rugi.

d. Suatu kesalahan perdata (civil wrong) terhadap mana suatu ganti

kerugian dapat dituntut yang bukan merupakan wanprestasi terhadap

kontrak atau wanprestasi terhadap kewajiban trust ataupun wanprestası

terhadap kewajiban equity lainnya.

e. Suatu kerugian yang tidak disebabkan oleh wanprestasi terhadap

kontrak atau lebih tepatnya, merupakan suatu perbuatan yang

merugikan hak-hak orang lain yang diciptakan oleh hukum yang tidak

terbit dari hubungan kontraktual.

f. Sesuatu perbuatan atau tidak berbuat sesuatu yang secara bertentangan

dengan hukum melanggar hak orang lain yang diciptakan oleh hukum

dan karenanya suatu ganti rugi dapat dituntut oleh pihak yang dirugikan.

Perbuatan melawan hukum bukan suatu kontrak seperti juga kimia

bukan suatu fisika atau matematika.30

30
Ibid, hlm. 5.
43

Seseorang yang menjadi pejabat dalam lingkungan pemerintahan,

melakukan perbuatan melanggar hukum, perbuatan tersebut dapat

dikualifikasikan sebagai perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad),

dapat pula dikualifi-kasikan sebagai perbuatan penguasa melanggar hukum.

Jika perbuatan melanggar hukum tersebut dilakukan di dalam lingkup

pekerjaan atau wewenang dari si pejabat yang melakukan pelanggaran (binen

de kring van zijn bevoegheid), perbuatan ini merupakan perbuatan penguasa

melanggar hukum (onrechtmatie overheidsdaad). Jika perbuatan tersebut

dilakukannya di luar lingkup wewenang atau pekerjaannya (buiten de kring zijn

bevoegheid), perbuatan tersebut merupakan melanggar hukum biasa

(onrechtmatigedaad).

2. Sejarah Perbuatan Melawan Hukum

Perkembangan sejarah hukum tentang perbuatan melawan hukum di negeri

Belanda sangat berpengaruh terhadap perkembangan di Indonesia, karena

berdasarkan asas korkondansi, kaidah hukum yang berlaku di negeri Belanda

akan berlaku juga di negeri jajahannya, termaksud di Indonesia. Di negeri

Belanda perkembangan sejarah tentang perbuatan melawan hukum dapat dibagi

menjadi 3 (tiga) periode sebagai berikut:

a. Periode sebelum tahun 1838


44

Kodifikasi pada tahun 1983 membawa perubahan besar mengenai

pendapat tentang makna dan ruang lingkup dari pengertian onrechtmatige

daad. Pada waktu itu dianut pendirian bahwa onwetmatig , yang berarti

bahwa suatu perbuatan baru dianggap melawan hukum bilamana perbuatan

itu adalah bertentangan dengan ketentuan undang – undang.31 Sampai

dengan kodifikasi Burgerlijk Wetboek (BW) di negeri Belanda pada tahun

1838, maka ketentuan seperti Pasal 1365 KUH Perdata di Indonesia saat ini

belum tentu ada di Belanda. Karenanya kala itu, tentang perbuatan melawan

hukum ini, pelaksanaannya belum jelas dan belum terarah.

b. Periode antara tahun 1838 – 1919

Setelah BW Belanda dikodifikasi, maka mulailah berlaku ketentuan

dalam Pasal 1401 (yang sama dengan Pasal 1365 KUH Perdata Indonesia)

tentang perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad). Meskipun kala itu

sudah di tafsirkan bahwa yang merupakan perbuatan melawan hukum, baik

perbuatan suatu (aktif berbuat) maupun tidak berbuat sesuatu (pasif) yang

merugikan orang lain, baik yang disengaja maupun yang merupakan

kelalaian sebagai mana yang dimaksud dalam Pasal 1366 KUH Perdata

Indonesia, tetapi sebelum tahun 1919 dianggap tidak termaksud ke dalam

perbuatan melawan hukum jika perbuatan tersebut hanya merupakan

31
M.A Moegni Djojodirdjo, Perbuatan Melawan Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta
Pusat,1979, hlm. 28
45

tindakan yang bertentangan dengan kesusilaan atau bertentangan dengan

putusan masyarakat perihal memperhatikan kepentingan orang lain.

c. Periode setelah tahun 1919

Dalam tahun 1919 terjadi suatu perkembangan yang luar biasa dalam

bidang hukum tentang perbuatan melawan hukum khususnya di negeri

Belanda, sehingga demikian juga di Indonesia. Perkembangan tersebut

adalah dengan bergesernya makna perbuatan melawan hukum, dari semula

yang cukup kaku, kepada perkembangan yang luwes. Perkembangan

tersebut terjadi dengan diterimanya penafsiran luas terhadap perbuatan

melawan hukum oleh Hoge Raad (Mahkamah Agung) negeri Belanda, yakni

penafsiran terhadap Pasal 1401 BW Belanda, yang sama dengan ketentuan

yang terdapat dalam Pasal 1365 KUH Perdata Indonesia. Putusan Hoge Raad

adalah terhadap kasus Lindenbaum versus Cohen.

Pengertian perbuatan melawan hukum menjadi lebih luas dengan adanya

keputusan Hoge Raad tanggal 31 Januari 1919 dalam perkara Lindebaum lawan

Cohen. Hoge Raad telah memberikan pertimbangan yaitu: "bahwa dengan

perbuatan melawan hukum (onrechmatige daad) diartikan suatu perbuatan atau

kealpaan, yang atau bertentangan dengan hak orang lain, atau bertentangan

dengan kewajiban hukum si pelaku atau bertentangan, baik dengan kesusilaan,

baik pergaulan hidup terhadap orang lain atau benda, sedang barang siapa
46

karena salahnya sebagai akibat dari perbuatannya itu telah mendatangkan

kerugian pada orang lain, berkewajiban membayar ganti kerugian”.32

Kasus Lindenbaum versus Cohen tersebut pada pokoknya berkisar tentang

persoalan persaingan tidak sehat dalam bisnis. Baik Lindenbaum maupun

Cohen adalah sama – sama perusahaan yang bergerak di bidang percetakan

yang saling bersaing satu sama lain. Dalam kasus ini, dengan maksud untuk

menarik pelanggan – pelanggan dari Lindenbaum, seorang pegawai dari

Lindebaum di bujuk oleh perusahaan Cohen dengan berbagai macam hadiah

agar pegawai Lindenbaum tersebut mau memberitahukan kepada Cohen

salinan dari penawaran – penawaran yang dilakukan oleh Lindenbaum kepada

masyarakat, dan memberi tahu nama – nama dari orang – orang yang

mengajukan order kepada Lindenbaum. Tindakan Cohen itu akhirnya tercium

oleh Lindenbaum. Akhirnya Lindenbaum menggugat Cohen ke pengadilan

Amsterdam dengan alasan bahwa Cohen telah melakukan perbuatan melawan

hukum (Onrechtmatige daad) sehingga melanggar Pasal 1401 BW Belanda,

yang sama dengan Pasal 1365 KUH Perdata Indonesia.

Ternyata langkah Lindenbaum untuk mencari keadilan tidak berjalan

mulus. Memang di tingkat pengadilan pertama Lindenbaum dimenangkan,

tetapi di tingkat banding justru Cohen yang di menangkan, dengan alasan

bahwa Cohen tidak pernah melanggar suatu pasal apapun dari perundang –

32
Ibid, hlm 25-26.
47

undangan yang berlaku. Dan pada tingkat kasasi turunlah putusan yang

memenangkan Lindenbaum, suatu putusan yang terkenal dalam sejarah hukum,

dan merupakan tonggak sejarah tentang perkembangan yang revolusioner

tentang perbuatan melawan hukum tersebut.

Dalam putusan tingkat kasasi tersebut, Hoge Raad menyatakan bahwa

yang dimaksud dengan perbuatan melawan hukum bukan hanya melanggar

undang – undang yang tertulis seperti yang ditafsirkan saat itu, melainkan juga

termasuk kedalam pengertian perbuatan melawan hukum adalah setiap

tindakan:

a. Yang melanggar hak orang lain

b. Perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku, atau

c. Perbuatan yang bertentangan dengan kesusilaan (geode zeden),atau

d. Perbuatan yang bertentangan dengan sikap yang baik dalam bermasyarakat

untuk memperhatikan kepentingan orang lain.33

Dengan demikian dengan terbitnya putusan Hoge Raad dalam kasus

Lindenbaum versus Cohen tersebut, maka perbuatan melawan hukum tidak

hanya dimaksudkan sebagai yang perbuatan yang bertentangan dengan pasal –

pasal dalam perundang – undangan yang berlaku, tetapi juga termasuk

perbuatan yang melanggar kepatutan dalam masyarakat.

33
Ibid, hlm. 32.
48

3. Unsur-Unsur Perbuatan Melawan Hukum

Unsur-unsur yang harus dipenuhi agar seseorang dapat dikatakan telah

melakukan perbuatan melawan hukum ialah:34

a. adanya suatu perbuatan;

b. perbuatan tersebut melawan hukum;

c. adanya kesalahan dari pihak pelaku;

d. adanya kerugian bagi korban;

e. adanya hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian;

f. adanya perbuatan yang bertentangan dengan kehati-hatian atau

keharusan dalam pergaulan masyarakat yang baik.

Berikut ini penjelasan bagi masing – masing unsur dari perbuatan melawan

hukum tersebut, yaitu sebagai berikut :

a. Adanya Suatu Perbuatan

Kata perbuatan meliputi perbuatan positif, yang bahasa aslinya “daad”

(Pasal 1365 KUH Perdata) dan perbuatan negatif, yang dalam bahasa aslinya

bahasa Belanda “nalatigheid” (kelalaian) atau “onvoorzigtigheid” (kurang

hati – hati) seperti ditentukan dalam Pasal 1366 KUH Perdata. Dengan

demikian, Pasal 1365 itu untuk orang – orang yang betul – betul berbuat,

34
Rosa Agustina, Perbuatan Melawan Hukum, Program Pascasarjana FHUI, Jakarta, 2003,
hlm. 39.
49

sedangkan Pasal 1366 itu untuk orang yang tidak berbuat. Pelanggaran dua

pasal ini mempunyai akibat hukum yang sama, yaitu mengganti kerugian.35

Perbuatan adalah perbuatan yang nampak secara aktif, juga termasuk

perbuatan yang nampak secara tidak aktif artinya tidak nampak adanya suatu

perbuatan, tetapi sikap ini bersumber pada kesadaran dari yang bersangkutan

akan tindakan yang harus dilakukan tetapi tidak dilakukan.36

Suatu perbuatan melawan hukum diawali oleh suatu perbuatan dari

pelakunya. Umumnya diterima anggapan bahwa dengan perbuatan disini

dimaksudkan, baik berbuat sesuatu (dalam arti aktif) maupun tidak berbuat

sesuatu (dalam arti pasif), misalnya tidak berbuat sesuatu, padahal dia

mempunyai kewajiban hukum untuk membuatnya, kewajiban mana timbul

dari hukum yang berlaku ( karena ada juga kewajiban yang timbul dari suatu

kontrak). Karena itu, terhadap perbuatan melawan hukum, tidak ada unsur

“persetujuan atau kata sepakat” dan tidak ada juga unsur “causa yang

diperbolehkan” sebagaimana yang terdapat dalam kontrak.

b. Perbuatan tersebut Melawan Hukum

35
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,
2000, hlm. 4
36
Achmad Ichsan, Hukum Perdata, PT. Pembimbing Masa, Jakarta, 1969, hlm. 250
50

Perbuatan yang dilakukan tersebut haruslah melawan hukum. Sejak

tahun 1919, unsur melawan hukum tersebut diartikan dalam arti yang seluas

- luasnya, yakni meliputi hal – hal sebagai berikut:

1) Perbuatan yang melanggar undang – undang yang berlaku,

2) Yang melanggar hak orang lain yang dijamin oleh hukum, atau

3) Perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku, atau

4) Perbuatan yang bertentangan dengan kesusilaan (goede zedeen), atau

5) Perbuatan yang bertentangan dengan sikap yang baik dalam

bermasyarakat untuk memperhatikan kepentingan orang lain (indruist

tegen de zorgvuldigheid, welke in het maatschap-pelijk verkeer betaamt

ten aanzien van anders persoon of goed). Jadi, perbuatan itu harus

melanggar hak orang lain atau bertentangan dengan kewajiban

hukumnya sendiri yang diberikan oleh undang – undang. Dengan

demikian, melanggar hukum (Onrechtmatig) sama dengan melanggar

undang – undang (Onwetmatig).37

c. Adanya Kesalahan dari Pihak Pelaku

Kesalahan dalam Pasal 1365 KUH Perdata mengandung semua gradasi

dari kesalahan dalam arti “sengaja” sampai pada kesalahan dalam arti “tidak

sengaja” (lalai). Menurut hukum perdata, seorang itu dikatakan bersalah jika

37
Ibid, hlm. 253.
51

terhadapnya dapat disesalkan bahwa ia telah melakukan / tidak melakukan

suatu perbuatan yang seharusnya dihindarkan. Perbuatan yang seharusnya

dilakukan / tidak dilakukan itu tidak terlepas dari dapat tidaknya hal itu

dikira – kirakan. Dapat dikira – kirakan itu harus diukur secara objektif,

artinya manusia normal dapat mengira – ngirakan dalam keadaan tertentu itu

perbuatan seharusnya dilakukan / tidak dilakukan. Dapat dikira – kirakan itu

harus juga diukur secara subjektif, artinya apa yang justru orang itu dalam

kedudukannya dapat mengira – ngirakan bahwa perbuatan itu seharusnya

dilakukan / tidak dilakukan.38

Agar dapat dikenakan Pasal 1365 KUH Perdata tentang Perbuatan

Melawan Hukum tersebut, undang – undang dan yurisprudensi

mensyaratkan agar para pelaku haruslah mengandung unsur kesalahan

(schuldelement) dalam melaksanakan perbuatan tersebut. Karena itu,

tanggung jawab tanpa kesalahan (strict liability) tidak termasuk tanggung

jawab berdasarkan kepada Pasal 1365 KUH Perdata. Jikapun dalam hal

tertentu diberlakukan tanggung jawab tanpa kesalahan tersebut (strict

liability), hal tersebut tidak didasari atas Pasal 1365 KUH Perdata, tetapi

didasarkan kepada undang – undang lain.39 Karena Pasal 1365 KUH Perdata

mensyaratkan adanya unsur “kesalahan”(schuld) dalam suatu perbuatan

38
Ibid, hlm. 256.
39
Ibid, hlm. 255
52

melawan hukum, maka perlu diketahui bagaimana cakupan dari unsur

kesalahan tersebut. Suatu tindakan dianggap oleh hukum mengandung unsur

kesalahan sehingga dapat dimintakan tanggung jawabnya secara hukum jika

memenuhi unsur – unsur sebagai berikut:

1) Ada unsur kesengajaan, atau

2) Ada unsur kelalaian (negligence, culpa), dan

3) Tidak ada alasan pembenar atau alasan pemaaf (recht vaardigingsgrond),

seperti keadaan overmacht, membela diri, tidak waras, dan lain – lain.

4) Adanya Kerugian Bagi Korban.

Dalam perbuatan melawan hukum, unsur – unsur kerugian dan ukuran

penilaiannya dengan uang dapat diterapkan secara analogis. Dengan

demikian, penghitungan ganti kerugian dalam perbuatan melawan hukum

didasarkan pada kemungkinan adanya tiga unsur yaitu biaya, kerugian yang

sesungguhnya, dan keuntungan yang diharapkan (bunga). Dan kerugian itu

dihitung dengan sejumlah uang40

d. Adanya Hubungan Kausal antara Perbuatan dengan Kerugian

Untuk mengetahui apakah suatu perbuatan adalah sebab dari suatu

kerugian, maka perlu diikuti teori “adequate veroorzaking” dari Von Kries.

Menurut ini yang dianggap sebagai sebab adalah perbuatan yang menurut

40
Ibid, hlm. 256.
53

pengalaman manusia normal sepatutnya dapat diharapkan menimbulkan

akibat, dalam hal ini kerugian. Jadi antara perbuatan dan kerugian yang

timbul harus ada hubungan langsung.

4. Ganti Rugi Perbuatan Melawan Hukum

Ganti rugi dalam konsep hukum perdata dikarenakan adanya perbuatan

melawan Hukum dapat dibagi dengan dua (2) pendekatan yakni ganti rugi

umum dan anti rugi khusus. Yang dimaksud dengan ganti rugi umum dalam

hal ini adalah ganti rugi yang berlaku untuk semua kasus baik untuk kasus

wanprestasi, kontrak, maupun kasus yang berkaitan dengan perikatan

termasuk karena perbuatan melawan hukum. Selain dari ganti rugi umum,

dalam hukum perdata dikenal juga ganti rugi khusus yakni ganti rugi yang

terbit dikarenakan perikatan perikatan tertentu, dalam hubungan dengan

ganti rugi yang terbit dari suatu perbuatan melawan hukum.

Bentuk ganti rugi terhadap perbuatan melawan hukum yang dikenal oleh

hukum adalah sebagai berikut:

a. Ganti Rugi Nominal

Apabila adanya perbuatan melawan hukum yang serius, seperti

perbuatan yang mengandung unsure kesengajaan tetapi tidak

menimbulkan kerugian yang nyata bagi korban, maka kepada korban

dapat diberikan sejumlah uang tertentu sesuai dengan rasa keadilan


54

tanpa menghitung berapa sebenarnya kerugian tersebut. Inilah yang

disebut dengan ganti rugi nominal.

b. Ganti Rugi Kompensasi

Ganti rugi kompensasi (compensatory damages) merupakan ganti rugi

yang merupakan pembayaran kepada korban atas dan sebesar kerugian

yang benar-benar telah dialami oleh pihak korban dari suatu perbuatan

melawan hukum. Karena itu, ganti rugi seperti ini disebut juga dengan

ganti rugi aktual. Misalnya, ganti rugi atas segala biaya yang

dikeluarkan oleh korban, kehilangan keuntungan/gaji, sakit dan

penderitaan, termasuk penderitaan mental seperti stress, malu, jatuh

nama baik dan lain-lain.

c. Ganti Rugi Penghukuman

Ganti Rugi Penghukuman Ganti rugi penghukuman (punitive damages)

merupakan suatu ganti rugi dalam jumlah besar yang melebihi dari

jumlah kerugian yang sebenarnya. Besarnya jumlah ganti rugi terseut

dimaksudkan sebagai hukuman bagi si pelaku. Ganti rugi penghukuman

ini layak diterapkan terhadap kasus-kasus kesenggajaan yang berat atau

sadis.41

Oleh karena ganti rugi atas suatu Perbuatan Melawan Hukum tidak

diatur dalam KUH Perdata, maka diterapkannya metode penemuan hukum.

41
Munir Fuady, Perbuatan Melawan Hukum (Pendekatan Kontenporer), PT Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2013, hlm. 135
55

Menurut Sudikno Mertokusumo metode penemuan hukum adalah proses

pembentukan hukum oleh hakim atau petugas-petugas hukum lainnya yang

diberi tugas melaksanakan hukum terhadap peristiwa-perisitiwa hukum

konkrit.

C. Ruang Terbuka Hijau

1. Pengertian Ruang Terbuka Hijau

Pertambahan jumlah penduduk tersebut mengakibatkan terjadinya

densifikasi penduduk dan permukiman yang cepat dan tidak terkendali di

bagian kota. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan ruang meningkat untuk

mengakomodasi kepentingannya. Semakin meningkatnya permintaan akan

ruang khususnya untuk permukiman dan lahan terbangun berdampak kepada

semakin merosotnya kualitas lingkungan. Rencana Tata Ruang yang telah

dibuat tidak mampu mencegah alih fungsi lahan di perkotaan sehingga

keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) semakin terancam dan kota semakin

tidak nyaman untuk beraktivitas42

Ruang Terbuka Hijau (RTH) menurut UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang

Penataan Ruang adalah area memanjang atau jalur dan atau mengelompok,

42
Dwihatmojo, R. (2010). Ruang terbuka hijau yang semakin terpinggirkan. Diunduh dari
[Link] bakosurtanal. go.
id/assets/download/artikel/BIGRuangTerbukaHijauyangSemakinTerpinggirkan. pdf.(22 Januari
2014).
56

yang penggunaannya lebih bersifat terbuka sebagai tempat tumbuh tanaman,

baik yang tumbuh secara alamiah ataupun sengaja ditanam. Keberadaan Ruang

Terbuka Hijau merupakan salah satu unsur penting dalam membentuk

lingkungan kota yang nyaman dan sehat. RTH bertujuan untuk menjaga

ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air. Dilihat dari aspek planologis

perkotaan RTH diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara lingkungan

alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat.

Keberadaan RTH memberikan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana

pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih.

Ruang terbuka hijau privat, adalah RTH milik institusi tertentu atau orang

perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa

kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami

tumbuhan. Ruang terbuka hijau publik, adalah RTH yang dimiliki dan dikelola

oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan

masyarakat secara umum. Ruang terbuka hijau di Kota Bandung terdiri dari:

taman unit lingkungan; taman sepanjang sempadan jaringan jalan, jalan tol, rel

kereta api, sungai, irigasi, dan SUTT; kawasan pemakaman; dan hutan kota.

Pemerintah Daerah wajib melakukan pengelolaan RTH. Hal itu tercantum

dalam Pasal 22 Peraturan2Daerah Kota Bandung2Nomor 72Tahun

20111tentang Pengelolaan2Ruang Terbuka Hijau. Dalam menjaga1keberadaan


57

dan keberlangsungan RTH, Pemerintah Daerah wajib melakukan

pengelolaan1RTH.

2. Tujuan Ruang Terbuka Hijau

Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang

wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan

berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan :

a. terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;

b. terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan

sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan

c. terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif

terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.

3. Fungsi Dan Manfaat Ruang Terbuka Hijau

a. Fungsi Ruang Terbuka Hijau adalah :

1) Sebagai areal perlindungan berlangsungnya fungsi ekosistem dan

penyangga kehidupan;

2) Sebagai sarana untuk menciptakan kebersihan, kesehatan, keserasian,

dan keindahan lingkungan;

3) Sebagai sarana rekreasi;

4) Sebagai pengaman lingkungan hidup perkotaan terhadap berbagai

macam pencemaran, baik darat, perairan maupun udara;


58

5) Sebagai sarana penelitian dan pendidikan serta penyuluhan bagi

masyarakat untuk membentuk kesadaran lingkungan;

6) Sebagai sarana perlindungan plasma nutfah;

7) Sebagai pengatur tata air;

8) Sebagai penghasil oksigen yang sangat diperlukan oleh makhluk hidup.

b. Manfaat yang dapat diperoleh dari Ruang Terbuka Hijau adalah:

1) Memberi kesegaran, kenyamanan, dan keindahan lingkungan;

2) Memberikan lingkungan yang bersih dan sehat bagi penduduk kota;

3) Memberikan hasil produksi berupa kayu, daun, bunga dan buah.

RTH, baik RTH publik maupun RTH privat, memiliki fungsi utama

(intrinsik) yaitu fungsi ekologis, dan fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu fungsi

arsitektural, sosial, dan fungsi ekonomi. Dalam suatu wilayah perkotaan empat

fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan, kepentingan,

dan keberlanjutan kota.

RTH berfungsi ekologis, yang menjamin keberlanjutan suatu wilayah kota

secara fisik, harus merupakan satu bentuk RTH yang berlokasi, berukuran, dan

berbentuk pasti dalam suatu wilayah kota, seperti RTH untuk perlindungan

sumberdaya penyangga kehidupan manusia dan untuk membangun jaringan

habitat hidupan liar.


59

RTH untuk fungsi-fungsi lainnya (sosial, ekonomi, arsitektural) merupakan

RTH pendukung dan penambahan nilai kualitas lingkungan dan budaya kota

tersebut, sehingga dapat berlokasi dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan

kepentingannya, seperti untuk keindahan, rekreasi, dan pendukung arsitektur

kota. Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas manfaat langsung (dalam

pengertian cepat dan bersifat tangible) seperti mendapatkan bahan-bahan untuk

dijual (kayu, daun, bunga), kenyamanan fisik (teduh, segar), keinginan dan

manfaat tidak langsung (berjangka panjang dan bersifat intangible) seperti

pertindungan tata air dan konservasi hayati atau keanekaragaman hayati.43

Pasal 2, 3 dan 4 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007

tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan, tujuan, fungsi dan

manfaat penataan ruang terbuka hijau kawasan perkotaan yaitu :

Tujuan RTHKP adalah :

d. Menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan perkotaan.

e. Mewujudkan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan

buatan di perkotaan, dan

f. Meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah, bersih dan

nyaman.

43
Makalah Lokakarya, Pengembangan Sistem RTH di Perkotaan, Departemen PU/RTH
Wilayah Perkotaan, 30 November 2005, hlm. 7.
60

Fungsi RTHKP adalah :

f. Pengamanan keberadaan kawasan lingkungan perkotaan.

g. Pengendalian pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara,

h. Tempat perlindungan plasma nuftah dan keanekaragaman hayati.

i. Pengendalian tata air, dan

j. Sarana estetika kota.

4. Ruang Terbuka Hijau Jalur Hijau Jalan

Jalur hijau merupakan bagian dari elemen Ruang Terbuka Hijau

Publik. Salah satu bentuk jalur hijau adalah jalur hijau jalan. Terdapat

beberapa struktur pada jalur hijau jalan yaitu daerah sisi jalan, median

jalan, maupun pulau lalu lintas (traffic islands). Daerah sisi jalan adalah

daerah yang berfungsi untuk keselamatan dan kenyamanan pemakai jalan,

lahan untuk pengembangan jalan, kawasan penyangga, jalur hijau,

tempat pembangunan fasilitas pelayanan dan melindungi bentukan alam.

Untuk jalur hijau jalan, RTH dapat disediakan dengan penempatan

tanaman antara 20–30% dari ruang milik jalan (rumija) sesuai dengan klas

jalan. Untuk menentukan pemilihan jenis tanaman, perlu memperhatikan 2

(dua) hal, yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. Disarankan

agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat, yang disukai oleh burung-

burung, serta tingkat evapotranspirasi rendah.

Anda mungkin juga menyukai