0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Akibat Hukum Hibah Wasiat dan Legitime Portie

Dokumen ini membahas tentang akibat hukum hibah wasiat yang melebihi hak mutlak (legitime portie) ahli waris menurut Burgerlijk Wetboek. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif untuk menjelaskan bahwa hibah yang merugikan ahli waris dapat dibatalkan dan dianggap tidak pernah ada. Hal ini menunjukkan pentingnya perlindungan hak ahli waris dalam sistem hukum waris di Indonesia.

Diunggah oleh

Aditio Sulaeman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Akibat Hukum Hibah Wasiat dan Legitime Portie

Dokumen ini membahas tentang akibat hukum hibah wasiat yang melebihi hak mutlak (legitime portie) ahli waris menurut Burgerlijk Wetboek. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif untuk menjelaskan bahwa hibah yang merugikan ahli waris dapat dibatalkan dan dianggap tidak pernah ada. Hal ini menunjukkan pentingnya perlindungan hak ahli waris dalam sistem hukum waris di Indonesia.

Diunggah oleh

Aditio Sulaeman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Media Iuris Vol. 3 No.

2, Juni 2020 p-ISSN: 2721-8384


DOI: 10.20473/mi.v3i2.18774 e-ISSN: 2621-5225
Article history: Submitted 8 April 2020; Accepted 21 May 2020; Available online 1 June 2020.

Akibat Hukum Hibah Wasiat yang Melebihi Legitime Portie


Yanuar Suryadini dan Alifiana Tanasya Widiyanti
[Link]-2018@[Link]
Universitas Airlangga
Keywords: Abstract
Testamentary The western legal system sourced from Burgerlijk Weatboek regulates the testamentary will
Gifting; Legitime contained in article 957 BW explains that the testamentary will is a special stipulation, which
Portie; Cancellation bequeaths to others giving an object such as movable or immovable property, or giving us the
Testamentary usufructuary rights in whole or some of the legacy. The determination of a will is a will of
Gifting. the heir. In article 1683 BW jo article 1682 BW explains that a grant is said to be valid if it
applies to all parties if the recipient of the grant has received an object given from the donor
with valid evidence. This research was conducted using the normative juridical method which
is a method that refers to the provisions of the applicable legal rules, the legal rules also on the
rules in Burgerlijk Weatboek relating to grants. granting property is indeed not prohibited in
the law but there are rules and calculations in the testamentary will to the person who receives
the grant so as not to harm the heirs because in Burgerlijk Weatboek there is an absolute right
(legitime portie) to the heirs regulated in article 913 BW, if the heir is harmed, the heir can
sue his portion to the court on the basis of article 913 BW regarding its absolute part (legitime
portie) the right has been protected by law, even though there is a will that the inheritance’s
entire assets are given to the recipient of the grant. the legal consequences of the gifting that
has been done if it harms the heirs in a decision that has legal force will still apply retroactively
to the disputed object, the will given will no longer be the property of the recipient of the grant
but will be as before and it is considered that the agreement never existed.

Kata Kunci: Abstrak


Hibah Wasiat; Sistem hukum barat yang bersumber dari Burgerlijk Weatboek mengatur mengenai hibah
Legitime Portie; wasiat yang terdapat pada pasal 957 BW menjelaskan mengenai hibah wasiat adalah
Pembatalan Hibah suatu penetapan khusus, dimana yang mewariskan kepada orang lain memberikan
Wasiat. suatu barang seperti barang bergerak atau tidak bergerak, atau memberikan hak pakai
hasil seluruh atau sebagian peninggalannya. Penetapan hibah wasiat merupakan
kehendak pewaris. Pada pasal 1683 BW jo pasal 1682 BW menjelaskan bahwa hibah
dikatakan sah apabila berlaku bagi semua pihak jika penerima hibah telah menerima
benda yang diberikan dari penghibah dengan bukti yang sah. Penelitian ini dilakukan
menggunakan metode yuridis normatif yaitu metode yang mengacu pada ketentuan
aturan-aturan hukum yang berlaku, kaidah-kaidah hukum juga pada aturan di dalam
Burgerlijk Weatboek yang berkaitan dengan hibah. Menghibahkan harta memang tidak
dilarang dalam undang-undang tetapi terdapat aturan dan perhitungan dalam hibah
wasiat ke pada orang yang menerima hibah agar tidak merugikan ahli waris karena di
dalam Burgerlijk Weatboek terdapat hak mutlak (legitieme portie) terhadap ahli waris yang
diatur dalam pasal 913 BW, jika ahli waris dirugikan maka ahli waris dapat menuntut
bagiannya ke pengadilan atas dasar pasal 913 BW mengenai bagian mutlaknya (legitieme
portie) hak tersebut telah dilindungi undang-undang, sekalipun ada wasiat bahwa harta
pewaris seluruhnya diberikan kepada penerima hibah. akibat hukum dari penghibahan
yang telah dilakukan jika merugikan ahli waris pada putusan yang berkekuatan hukum
tetap akan berlaku surut terhadap obyek yang disengketakan, maka hibah wasiat yang
diberikan bukan lagi milik dari penerima hibah melainkan akan menjadi keadaan seperti
semula dan dianggap perjanjian tersebut tidak pernah ada.
Copyright © 2020 Universitas Airlangga

241
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...

Pendahuluan
Indonesia adalah negara hukum, hal ini sesuai dengan ketentuan yang
termuat pada Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Dengan ketentuan ini
ditegaskan segala macam aspek dan aktivitas dalam masyarakat, pemerintahan,
dan negara harus berlandaskan hukum. Namun dikarenakan belum adanya
kodifikasi mengenai hukum waris pasca kemerdekaan, maka dasar hukum
mengenai penyelesaian sengketa pewarisan masih menggunakan pasal 131 jo. 163
I.S. Jadi di Indonesia ragam sistem hukum waris yang berlaku bagi warga negara
Indonesia, yaitu:1
1. Sistem hukum waris Barat dimana tertuang dalam Burgerlijk Wetboek
yang berdasarkan ketentuan Pasal 131 I.S. jo. Staatsblad 1917 Nomor 12 jo.
Staatsblad 1924 Nomor 557 jo. Staatsblad 1917 Nomor 12 tentang penundukan
diri terhadap Hukum Eropa, maka Burgerlijk Wetboek tersebut berlaku bagi:
a. Orang-orang Eropa dan mereka yang dipersamakan dengan Eropa.
b. Orang Timur Asing Tionghoa.
c. Orang Timur Asing lainnya dan orang-orang Indonesia yang
menundukkan diri kepada Hukum Eropa.
2. Sistem hukum waris Adat dimana pada saat terbentuk dipengaruhi oleh etnis
di berbagai daerah lingkungan Hukum Adat, yang diberlakukan kepada
golongan Bumi Putera. Yang tunduk pada hukum adat baik Matrilineal,
Patrilineal, maupun Bilateral
3. Sistem hukum waris Islam, yang juga terdiri dari puralisme ajaran, seperti
ajaran Kewarisan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ajaran Syi’ah. Yang paling
dominan dianut di Indonesia adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Hukum Waris Perdata Eropa awalnya hanya berlaku bagi Golongan Eropa,
Dalam perjalanannya, Burgelijk Wetboek diberlakukan bagi golongan Timur
Asing dan diberikan kemungkinan bagi Golongan Bumiputra untuk melakukan
penundukan diri secara sukarela (gelijkstelling) terhadap Burgelijk Wetboek, di

1
M Idris Ramulyo, Perbandingan Hukum Kewarisan Islam Dengan Kewarisan Menurut Burgerli-
jk Wetboek (BW) (Sinar Grafika 2000).

242
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256

dalamnya termasuk hukum kewarisannya. Berdasarkan asas konkordansi,


Hukum Perdata Belanda diberlakukan di Indonesia dan kodifikasi diumumkan
pada tahun 1847 dengan Staatsblaad No.23. Dalam Burgerlijk Wetboek, tidak ada
pasal yang menjelaskan pengertian hukum waris. Tetapi seperti pengertian
yang telah diuraikan sebelumnya oleh penjelasan Subekti yang meskipun tidak
menyebutkan definisi hukum kewarisan, dalam hukum waris Burgerlijk Wetboek
berlaku satu asas, bahwa hanyalah hak dan kewajiban dalam lapangan hukum
kekayaan harta benda saja yang dapat diwariskan.
Jadi, pada dasarnya pengertian kewarisan menurut BW memperlihatkan
unsur berikut:
1. Seorang peninggal warisan (erf later) pada wafatnya meninggalkan kekayaan.
Unsur pertama ini menimbulkan persoalan, yaitu bagaimana dan sampai
di mana hubungan seorang peninggal warisan dengan kekayaannya yang
dipengaruhi oleh sifat lingkungan kekeluargaan di mana si peninggal warisan
berada;
2. Seseorang atau beberapa ahli waris (erf genaam) yang berhak menerima
kekayaan yang ditinggalkan itu. Hal ini menimbulkan persoalan bagaimana
dan sampai di mana harus ada tali kekeluargaan antara peninggal warisan dan
ahli waris agar kekayaan si peninggal warisan beralih kepada si ahli waris;
3. Harta warisan (nalaten schap), yaitu wujud kekayaan yang ditinggakan dan
beralih kepada ahli waris itu. Hal ini menimbulkan persoalan, yaitu bagaimana
dan sampai di mana wujud kekayaan yang beralih itu dipengaruhi oleh sifat
lingkungan kekeluargaan.
dimana si peninggal warisan dan ahli waris bersama-sama berada. Jadi hukum
waris diciptakan untuk mengatur tata cara pembagian harta peningalan agar harta
tersebut kedepannya dapat bermanfaat bagi waris atau ahli waris maupun pihak
yang ditinggalkan secara adil dan baik.2
Sebagaimana dijelaskan pada Pasal 830 BW, pewarisan baru akan terjadi

2
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Warisan Di Indonesia (Is Gravennage Vorkink Van Hove) (1962).[8].

243
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...

bilamana terjadi suatu peristiwa hukum kematian. Dapat dilihat pada ketentuan
Pasal 832 BW yang berhak mendapatkan harta warisan adalah keluarga sedarah,
baik sah maupun luar kawin dan si yang hidup terlama. Jadi pada dasarnya
ahli waris menurut hukum adalah pemilik atas semua barang, piutang dan hak
dari pewaris hal ini terdapat pada Pasal 833 BW, akan tetapi Burgerlijk Wetboek
memberikan hak pada pewaris dimana pewaris mempunyai hak untuk berkehendak setelah
ia meninggal yang disebut dengan wasiat. Seperti yang termuat dalam Pasal 875 BW
“Adapun yang dinamakan surat wasiat atau testamen ialah suatu akta yang memuat
pernyataan seorang tentang apa yang dikehendakinya akan terjadi setelah ia meninggal
dunia dan yang olehnya dapat dicabut kembali lagi”. Jadi pemberian wasiat diberikan
pada saat pemberi wasiat masih hidup, tetapi pelaksanaannya dilakukan pada
saat pemberi wasiat meninggal dunia. Pasal 874 BW menyatakan bahwa segala
harta peninggalan seseorang yang meninggal dunia, adalah kepunyaan para
ahli warisnya menurut undang-undang, sejauh mengenai hal itu dia belum
mengadakan ketetapan yang sah. Ketetapan yang sah tersebut ialah surat wasiat.
Artinya, jika ada surat wasiat yang sah, surat wasiat harus dijalankan oleh para
ahli waris. Sebaliknya, apabila tidak ada surat wasiat, semua harta peninggalan
pewaris adalah milik ahli waris.
Ada dua jenis wasiat, yaitu wasiat pengangkatan waris (erfstelling) dan hibah
wasiat (legaat).
1. Wasiat Pengangkatan Waris (erfstelling)
Pemberi wasiat memberikan harta kekayaannya dalam bentuk bagian baik itu
seluruhnya, setengah, maupun sepertiga. Pemberi wasiat tidak menyebutkan
secara spesifik benda atau barang apa yang diberikannya kepada penerima
wasiat sesuai dengan Pasal 954 BW
2. Hibah Wasiat (legaat)
Pemberi wasiat memberikan beberapa barang-barangnya secara spesifik dari
suatu jenis tertentu kepada pihak tertentu. Hal ini termuat dalam Pasal 957 BW.
Di dalam Pasal 832 Burgerlijk Wetboek menyebutkan bahwa yang berhak
menjadi ahli waris ialah keluarga sedarah, baik yang sah menurut undang-undang

244
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256

maupun yang diluar perkawinan dan suami atau istri yang hidup terlama. Ahli
hukum perdata membagi ahli waris menjadi beberapa golongan diantaranya:
1. Ahli waris golongan pertama, yaitu meliputi keluarga sedarah dalam garis
lurus ke bawah si pewaris. Apabila pewaris meninggalkan seorang suami/
istri, maka berdasarkan undang-undang, suami atau istri disamakan dengan
seorang anak, seperti dikatakan dalam Pasal 852 Burgerlijk Wetboek:
“anak-anak atau sekalian keturunan mereka, baik dilahirkan dari lain lain
perkawinan sekalipun, mewaris dari kedua orang tua, kakekatau nenek atau
semua keluarga sedarah mereka selanjutnya dalam garis lurus keatas, dengan
tiada perbedaan antara laki dan perempuan dan tiada perbedaan berdasarkan
kelahiran lebih dahulu, mereka mewaris kepala demi kepala, jika dengan
si meninggal mereka bertalian keluarga dalam derajat ke satu dan masing-
masing mempunyai hak karena diri sendiri dan mereka mewaris pancang
demi pancang”.
2. Ahli waris golongan kedua, meliputi orang tua, saudara dan keturunan dari
saudara. Untuk menentukan bagian warisan dari orang tua, maka warisan
dibagi dua bagian yang sama menurut banyaknya orang, antara orang tua
dan saudara laki-laki dan saudara perempuan. Akan tetapi, bagian warisan
dari orang tua tidak pernah kurang dari seperempat. Hal ini seperti tercantum
dalam Pasal 854-855 Burgerlijk Wetboek.
3. Ahli waris golongan ketiga yaitu kakek dan nenek serta leluhur dan selanjutnya.
Apabila si pewaris tidak meninggalkan keturunan, orang tua, saudara dan
keturunan dari saudara, maka harta peninggalannya sebelum dibagi dibelah
terlebih dahulu (kloving).
4. Ahli waris golongan keempat adalah keluarga selanjutnya yang menyamping.
Apabila tidak ada ahli waris dalam garis yang satunya, maka seluruh warisan
jatuh kepada ahli waris dalam garis lainnya. Hal ini seperti tercantum dalam
Pasal 861 ayat (2) Burgerlijk Wetboek.
Keempat golongan ahli waris ialah golongan ahli waris yang mewaris berdasarkan
kedudukannya, sedangkan untuk ahli waris yang mewaris berdasarkan
penggantian dibagi atas beberapa golongan. Berdasarkan penggantian (bij
plaatsvervulling) atau sering disebut dengan ahli waris tidak langsung yaitu
diantaranya :
1. Penggantian dalam garis lurus ke bawah yang sah, berlangsung terus dengan
tiada akhirnya. Dalam segala hal, pergantian seperti di atas selamanya
diperbolehkan, baik dalam hal bilamana beberapa anak si yang meninggal
mewaris bersama-sama dengan keturunan seorang anak yang telah meninggal
lebih dulu, maupun sekalian keturunan mereka mewaris bersama-sama, satu

245
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...

sama lain dalam pertalian keluarga yang berbeda-beda derajatnya, hal ini
diatur dalam Pasal 842 Burgerlijk Wetboek;
2. Penggantian dalam garis ke samping tiap saudara kandung/tiriyang
meninggal lebih dulu digantikan oleh sekalian anaknya sehingga mereka
mewaris bersama-sama dengan paman atau bibi mereka, hal ini diatur dalam
Pasal 844 Burgerlijk Wetboek;
3. Penggantian dalam garis menyimpang diperbolehkan juga bagi para
keponakan, ialah dalam hal bilamana di samping keponakan yang bertalian
keluarga sedarah terdekat dengan si meninggal, masih ada anak-anak dan
keturunan saudara laki-laki atau perempuan darinya saudara-saudara mana
telah meninggal lebih dahulu, sebagaimana diatur dalam Pasal 845 Burgerlijk
Wetboek.
Ahli waris yang mewaris berdasarkan penggantian memiliki beberapa syarat
yang harus dipenuhi dalam kedudukannya sebagai pengganti dalam pewarisan, yaitu:
1. Ditinjau dari orang yang digantikan.
Dasar hukum Pasal 847 Burgerlijk Wetboek yang berbunyi “Tiada seorangpun
diperbolehkan bertindak untuk orang yang masih hidup selaku penggantinya”.
2. Ditinjau dari orang yang menggantikan:
a. Keturunan sah dari yang digantikan, termasuk keturunan sah dari anak
luar kawin. Hal ini menjelaskan bahwa keturunan dari pewaris harus
keturunan yang sah, karena yang dipentingkan adalah hubungan hukum
antara ahli waris dengan pewaris.
b. Memenuhi syarat untuk mewaris pada umumnya yaitu hidup pada
saat warisan terbuka (Pasal 836 Burgerlijk Wetboek, dengan pengecualian
Pasal 2 ayat 2 Kitab Undang Undang Hukum Perdata tentang bayi dalam
kandungan), bukan orang yang dinyatakan tidak patut mewaris, serta
tidak ditiadakan hak mewarisnya oleh pewaris dengan surat wasiat.
Penghibahan yang terdapat dalam buku III pasal 1666-1693 BW, pada pasal 1666
BW memuat pengertian dari hibah adalah suatu perjanjian dimana pemberi hibah
memberikan sesuatu barang kepada penerima hibah yang diberikan secara cuma-

246
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256

cuma dan tidak dapat ditarik kembali kecuali terjadinya keadaan tertentu, hibah
harus disertai dengan bukti, seperti adanya akta otentik yang dibuat oleh notaris
dan harus disimpan oleh notaris yang mengurusi mengenai akta tersebut, jika
hal tersebut tidak dipenuhi maka akan batal demi hukum. Adapun yang tidak
perlu dengan akta otentik yaitu penghibahan terhadap benda surat piutang dan
benda bergerak hal tersebut melalui penyerahan nyata.3 Penghibahan tidak boleh
dilakukan oleh sembarang orang dalam pasal 1677 BW anak-anak di bawah umur
tidak boleh memberikan hibah kepada orang lain kecuali yang telah ditentukan
oleh undang-undang ini. pengecualian dalam pasal 1688 BW yaitu jika syarat
penerima hibah tidak terpenuhi, jika penerima hibah telah melakukan kejahatan
terhadap pemberi hibah, apabila penerima hibah menolak untuk memberikan
nafkah terhadap pemberi hibah yang jatuh miskin. Menurut pasal 1667 BW
penghibahan kepada orang lain benda nya harus ada, jika bendanya belum ada
dan baru dijanjikan di hari kemudian maka hibah dinyatakan batal. Terdapat
dalam Burgerlijk weatboek mengenai penarikan hibah dengan perumpamaan
secara diam-diam yaitu :
1. Ada kemungkinan pembuat wasiat membuat wasiat secara berturut-turut
satu dan lainnya berbeda misalkan pembuat wasiat ingin memberikan hak
tanahnya kepada X di wasiat lain pembuat wasiat ingin memberikan hak
tanah tersebut kepada Y;
2. Pada pasal 966 BW menjelaskan bahwa barang yang di hibah wasiatkan bukan
milik pewaris entah pewaris tahu atau tidak maka hibah wasiat tersebut akan
batal;
3. Pada pasal 934 BW menjelaskan bahwa pembuat wasiat dapat meminta
wasiat olografisnya sewaktu-waktu untuk dicabut kembali dengan
pertanggungjawaban jika maka wasiat tersebut dinyatakan dicabut kembali.4
Jadi hibah wasiat yang dimaksudkan di sini ialah wasiat yang berisi hibah

3
Utami & Dewi Sartika, ‘Akibat Hukum Pemberian Hibah Yang Melebihi Batas Legitieme
Portie’ (2016) 4 Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan.
4
Husni Muhamad, ‘Kedudukan Hibah Wasiat Menurut Hukum Islam Dan Hukum Perdata’
(2019) 15 Al Maslahah.

247
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...

yang pelaksanaannya terjadi setelah di pewaris meninggal dunia bukan hibah


yang dimaksud dalam Buku Ketiga Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
yang tidak menyinggung tentang hibah wasiat meskipun pada dasarnya hibah
wasiat memiliki unsur adanya pemberian. Hibah wasiat menurut Pitlo, adalah
apa yang didapat oleh penerima hibah wasiat itu. Sedangkan penerima hibah
wasiat (legataris) ialah seseorang tertentu yang berdasarkan ketetapan pewaris
dalam suatu wasiat menerima barang tertentu (zaak/Zaken) atau sejumlah benda
yang dapat diganti (vervangbare zaken). Legataris termasuk kategori penerima hak
dengan atau secara hak khusus.
Mengenai ketentuan hibah yang diberikan kepada orang lain di dalam hukum
perdata memang tidak diatur tetapi dalam undang-undang harus memperhatikan
bagian tentang hak mutlak. Berdasarkan latar belakang di atas, maka ditentukan
dua rumusan masalah yang akan dibahas yaitu ketentuan hukum terkait hibah
wasiat dan akibat hibah wasiat yang melanggar legitime portie.

Ketentuan Hukum Terkait Hibah Wasiat


Menurut hukum wasiat (testament) adalah kehendak dari pembuat saat
masih hidup dan wasiat akan berlaku jika pembuat telah meninggal, wasiat juga
dapat ditarik kembali oleh pembuatnya.5 Burgerlijk Wetboek mengatur hibah wasiat
dalam Buku Kedua tentang Kebendaan dalam Bab XIII tentang surat wasiat
pada Bagian VI tentang Hibah Wasiat, berbeda dengan hibah yang diatur dalam
Buku Ketiga tentang perikatan karena hibah wasiat memiliki unsur yang lebih
mendekati dengan wasiat dibanding dengan sebuah perjanjian bernama yang
diatur dalam Buku Ketiga karena jelas bahwa hibah wasiat merupakan salah satu
jenis dari wasiat apabila dilihat dari isinya dan pelaksanaanya berbeda dengan
hibah yang mana hibah wasiat dilaksanakan setelah seseorang meninggal dunia.
Hibah Wasiat diatur dalam Pasal 957-972 Burgerlijk Wetboek dan juga disinggung
dalam Pasal 902 Burgerlijk Wetboek. Terdapat tiga macam cara membuat hibah

5
Oemarsalim, Dasar-Dasar Hukum Waris Di Indonesia (Rineka Cipta 1991).[82].

248
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256

wasiat yang terdapat dalam pasal 931 BW, yaitu:


1. Testament rahasia (geheim) terdapat dalam pasal 940 dan 941 BW bahwa
testament ini penulis menulis sendiri isi wasiat tersebut dan dimasukkan ke
amplop tersegel llau diberikan kepada notaris untuk disimpan;
2. Testament tak rahasia (openbaar) terdapat dalam pasal 938 BW bahwa wasiat
dibuat dihadapan notaris dan mengajukan dua orang saksi;
3. Testament tertulis sendiri (olografis) testamen ini biasanya bersifat rahasia atau
dapat juga tidak rahasia, testament ini dibuat oleh notaris dan ditandatangai
oleh yang meninggalkan harta serta surat tersebut disimpan oleh notaris.6
Pewaris memiliki hak atas harta yang telah ditinggalkan, biasanya pewaris
membuat wasiat yang berisi kehendaknya dan telah diatur dalam Burgerlijk
Weatboek yang berisi :
1. Pasal 954 BW menjelaskan bahwa terdapat pengangkatan waris (erfstelling)
dimana orang yang mewasiatkan kepada satu orang atau lebih untuk diberikan
harta peninggalannya seteah pewasiat meninggal.
2. Legaat ialah pemberian hak dengan dasar surat wasiat, orang yang menerima
legaat disebut dengan legataris.
Kehendak di dalam wasiat tersebut tidak semuanya dapat dilaksanakan
karena termuat dalam pasal 872 BW wasiat tidak boleh bertentangan dengan
undang-undang, dalam wasiat juga terdapat seseorang sebagai ahli waris namun
bukan menurut undang-undang. Terdapat aturan mengenai wasiat sebagai
berikut:
1. Pasal 874 BW mengatur mengenai harta peninggalan adalah kepunyaan ahli
waris menurut undang-undang. Pasal 875 BW mengatur tentang pengertian
dari wasiat, pasal 876 BW mengatur tentang pemberian wasiat diberikan
melalui hak umum dan hak khusus, pasal 877 BW mengatur tentang surat
wasiat untuk keuntungan keluarga atau orang dan ahli waris yang memiliki
hubungan darah dengan pembuat wasiat menurut undang-undang, pasal 878
BW mengatur tentang wasiat untuk kepentingan orang yang membutuhkan
tanpa memandang agama;

6
Muliana & Akmad Khisni, ‘Akibat Hukum Akta Hibah Yang Melanggar Ha Mutlak Ahli
Waris (Legitieme Portie)’ (2017) 4 Jurnal Akta.

249
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...

2. Orang yang cakap untuk membuat wasiat adalah orang yang dapat berfikir
secara jernih dan berakal sehat, anak dibawah delapan belas tahun tidak
diperbolehkan untuk membuat surat wasiat. Dalam perkawinan barang
dari suami dan istri dapat menghibah wasiatnya diambil dari harta bersama
tersebut dan sekedar bahwa itu barang mereka masing-masing. Seorang
anak juga tidak dapat menghibah wasiatnya umtuk kepentingan walinya
dan anak yang sudah berumur delapan belas tahun tidak dapat menghibah
wasiatkan bekas walinya, kecuali wali tersebut telah menutup perhitungan
waliannya;7
3. Pasal 944 ayat (2) BW menjelaskan dalam membuat wasiat terbuka para saksi
tidak boleh ahli waris, keluarga(yang masih memiliki hubungan darah),
menantu, penerima hibah, pembantu notaris;
4. Hak mutlak yang diberikan kepada ahli waris menurut undang-undang dalam
garis lurus kebawah maupun keatas, hal mutlak (legitime portie) diatur dalam
pasal 913 BW. sekalipun ada wasiat legitime portie harus lebih diutamakan dan
tidak boleh dirugikan akibat adanya wasiat tersebut.
Akta otentik dalam penulisan surat wasiat memiliki akibat hukum termuat
dalam pasal 1870 BW bahwa akta otentik diantara pihak-pihak dan ahli warisnya
atau mereka yang mendapat hak itu adalah bukti sempurna tentang isi yang ada di
dalamnya, sehingga pada pasal tersebut bahwa surat wasiat harus disahkan serta
didaftarkan ke pihak yang memiliki kewenangan, apabila tidak didaftarkan maka
akan memiliki akibat hukum sama dan berlaku juga bagi surat wasiat tersebut.8
Menurut pendapat [Link] bahwa jika terdapat wasiat sah maka surat wasiatnya
harus dilaksanakan oleh seluruh ahli waris. 9 Yang bertujuan agar kehendak yang
pembuat surat wasiat dapat dilaksanakan.
Mengenai hal pembatalan terhadap akta hibah wasiat yang telah dibuat
dengan melihat syarat-syarat yang bisa dipenuhi dalam hibah tersebut, apakah
terdapat akta hibah jika tidak ada akta maka ahli waris dapat mengajukan
gugatan ke pengadilan untuk membatalkan hibah tersebut, termuat dalam
pasal 1682 BW bahwa tidak ada hibah kecuali yang ada pada pasal 1687 BW
yang menjelaskan bahwa hadiah yang diberikan secara langsung berupa barang

7
[Link], ‘Tinjauan Hukum Surat Wasiat Menurut Hukum Perdata’ (2014) 2 Jurnal Ilmu
Hukum Legal Opinion.
8
Habibulloh, ‘Analisis Pembagian Harta Warisan Berdasarkan Wasiat Yang Tertuang Da-
lam Akta Notaris (Menurut Hukum Perdata Dan Hukum Islam)’ (2018) 12 Jurnal Penelitian dan
Kajian Ilmiah Menara Ilmu.
9
[Link], Hukum Waris (Alumni 1992).[179].

250
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256

bergerak berwujud, surat piutang yang dibayarkan tidak perlu akta notaris.
Agar sah akta otentik tersebut harus dibuat oleh pejabat yang berwenang dan
adanya objek yang akan dihibahkan.10

Akibat Hukum Hibah Wasiat Yang Melanggar Legitime Portie


Dalam Burgerlijk Wetboek pembatasan mengenai hibah wasiat mengacu pada
harta yang akan dibagikan pada ahli waris karena terdapat hak mutlak (legitime
portie) yang telah ditentukan oleh undang-undang. Secara hukum jika hibah
wasiat melanggar legitieme portie akan mejadi batal demi hukum,tetapi terdapat
kaidah yang dibuat oleh Mahkamah Agung bahwa jika ada pelanggaran terhadap
legitime portie ahli waris, jika ahli waris tersebut merasa tidak dirugikan maka
sifatnya menjadi dapat dibatalkan, jika ahli waris tidak menuntut bagiannya ke
pengadilan maka akta tersebut dapat dianggap sah.11 Termuat dalam pasal 913 BW
yang dimaksud legitime portie adalah bagian dari harta peninggalan pewaris setelah
meninggal yang harus diberikan kepada ahli waris, ahli waris yang dimaksud
adalah ahli waris keturunan garis lurus menurut undang-undang. Jadi pewaris
tidak boleh menetapkan sesuatu pada saat masih hidup maupun melalui wasiatnya
atau meberikan hibah pasa siapapun terhadap harta peninggalannya yang dapat
merugikan ahli waris yang telah ditetapkan oleh undang-undang. Pasal 914 BW
memuat tentang bagian legitime portie keturunan garis lurus ke bawah yaitu:
1. Jika pewaris hanya meninggalkan satu anak sah dalam garis lurus kebawah
maka anak tersebut akan mendapat bagian seperdua dari harta yang
ditinggalkan pewaris karena kematian;
2. Jika pewaris meninggalkan dua anak sah dalam garis lurus kebawah maka
bagian tiap anak adalah duapertiga bagian dari pewaris kerena kematian;
3. Jika pewaris meninggalkan tiga anak atau lebih maka bagiannya tiga perempat
bagian.

10
Djusfi Apri Rotin & Winata Jumadi, ‘Penyelesaian Sengketa Hibah Menurut Kitab Un-
dang-Undang Hukum Perdata’ [1991] Jurnal Ius Civile.
11
Muliana & Akmad Khisni (n 6).,[Link].[742].

251
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...

Pasal 915 BW memuat bagian legitime portie untuk keturunan garis lurus
keatas adalah setengah bagian menurut undang-undang. Pasal 916 BW memuat
tentang bagian untuk anak luar kawin yang telah diakui adalah setengah dari
bagian yang harusnya diterima anak luar kawin tersebut menurut undang-undang.
Jika anak sebagai ahli waris telah meninggal mendahului pewaris maka legitime
portie nya akan pindah ke anak yang sebagai penggantinya. Jika legitime portie
belum terpenuhi maka akan diambilkan dari wasiat dan tidak memperhitungkan
wasiat itu kapan dibuat serta menurut perbandingan wasiat tersebut, jika dari
wasiat tidak dapat memenuhi legitime portie maka diambilkan dari hibah yang
diberikan kepada penerima hibah dengan memperhatikan tanggal pemberiannya
yaitu tanggal dekat kematian dari pewaris dan jika legitieme portie telah dipenuhi
maka tidak perlu untuk mengambil dari hibah lain. legitime portie memiliki bagian
mutlak sehingga tidak dapat dikurangi bagiannya kecuali ahli waris merasa tidak
dirugikan dan ha tersebut telah diatur dalam pasal 924 BW.12 sifat dari legitime
portie adalah sebagai berikut:13
a. Legitimaris dapat menuntut pembatalan dari perbuatan-perbuatan si pewaris
yang merugikan legitime portie (bagian mutlak).
b. Si pewaris bagaimanapun tidak boleh beschikken (membuat ketetapan)
mengenai bagian mutlak itu.
Berdasarkan Pasal 921 BW, besarnya bagian mutlak atau legitime portie dihitung
dengan cara yaitu sebagai berikut:14
1. Menghitung semua hibah yang telah diberikan oleh pewaris semasa hidupnya,
termasuk hibah yang diberikan kepada salah seorang atau para ahli waris
mutlak atau legitimaris;
2. Jumlah tersebut ditambahkan dengan aktiva warisan yang ada;
3. Kemudian, dikurangi utang-utang pewaris;
4. Dari hasil penjumlahan dan pengurangan di atas, kemudian dihitung besarnya
bagian mutlak atau legitime portie dari ahli waris mutlak atau legitimaris yang

12
Wiliam Marthianus Setiawan, ‘Kedudukan Legitieme Portie Dalam Hal Pemberian Hibah
Wasiat Berdasarkan Hukum Waris Burgerlijk Weatboek’ (2019) 2 Notaire.
13
Andreas P Senoadji, ‘Penerapan Legitime Portie (Bagian Mutlak) Dalam Pembagian Waris
Menurut Kitab Undang Hukum Perdata. (Studi Kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor Reg 148/
PK/Perd/1982)’ (Universitas Diponegoro 2007).
14
Maman Suparman, Hukum Waris Perdata (Sinar Grafika 2015).[94].

252
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256

menuntut bagiannya.
Besarnya bagian mutlak atau legitime portie yang didapat tersebut adalah
jumlah yang benar-benar diterima ahli waris mutlak atau legitimaris yang
bersangkutan.
Dalam hal pelanggaran hibah wasiat terhadap legitime portie atau bagian
mutlak maka akan menimbulkan akibat hukum tetapi tergantung dari penyikapan
legitimaris yaitu jika legitimaris dapat menerima kenyataan begitu saja tanpa
menuntut ke pengadilan atau mengajukan gugatan ke pengadilan atas dasar
bagian mutlaknya.15 Terdapat pertimbangan hakim dalam putusan Nomor 188/
Pdt.G/2013/[Link] tentang penghibahan wasiat yang melanggar bagian mutlak
(legitieme portie) yaitu akta hibah wasiat tersebut dibatalkan dan membagi harta
peninggalan pewaris kepada ahli waris yang ditetapkan undang-undang sama
rata, tetapi mengacu pada pasal 920 BW bahwa yang diputuskan hakim kurang
tepat karena di dalam Burgerlijk Weatboek terdapat solusi yaitu pemotongan hibah
wasiat atau inkorting jika melanggar bagian mutlak bagi ahli waris. supaya sesuai
dengan aturan pada pasal 920 BW maka seharusnya hakim dapat melakukan
pertimbangan dengan pasal tersebut.16 Bahwa juga undang-undang tidak memilih
penyelesaian yang ketiga, sebagaimana pada Pasal 924, 925, 926, 927 dan 928 Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata tidak diperbolehkannya ada ganti rugi saat ada
penuntutan dari ahli waris yang berhak atas bagian mutlak. Jadi ternyata undang-
undang memilih penyelesaian yang kedua, yaitu “eenvoudige vernietigbaarheid”
(dapat dibatalkan secara sederhana).

Kesimpulan
Burgerlijk Weatboek hak bagi ahli waris legitimaris yang berkenaan dengan
adanya bagian mutlak yang dilanggar untuk mendapatkan bagian mutlaknya

15
[Link], Beberapa Bab Penting Dalam Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata (Fakultas Hukum Universitas Sumaetra Utara 1989).[81].
16
Rivera Wijaya, ‘Akibat Hukum Terhadap Penghibahan Seluruh Harta Warisan Oleh Pe-
waris Sehingga Melanggar Legitieme Portie Ahli Waris Ditinjau Dari KUHPerdata (Study Putusan
Nomor 188/Pdt.g/2013/[Link])’ (Media Neliti).

253
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...

dalam pembuatan surat wasiat (testament), yaitu dengan memberikan hak


untuk mengajukan tuntutan terhadap wasiat yang secara jelas telah melanggar
hak mutlak mereka. Hak yang diberikan oleh undang-undang adalah hak untuk
mengajukan tuntutan pengurangan atau pengembalian terhadap wasiat yang
diberikan kepada pihak ketiga yang di dalam wasiat tersebut terhadap harta
yang menjadi bagian mutlak (legitime portie). Para ahli waris legitimaris berhak
mengajukan tuntutan untuk memenuhi legitime portie mereka melalui inkorting
pengurangan pemotongan dari wasiat, dengan cara perbandingan diantara ahli
waris yang diberikan melalui surat wasiat. Setelah didapat hasil perbandingannya
maka dihitunglah bagian mutlak ahli waris legitimaris dengan cara, bagian yang
diberikan dalam surat wasiat dikurangi hasil perbandingan dikalikan dengan
keseluruhan kekurangan bagian mutlak. Adapun urutan untuk melakukan
inkorting/pengurangan dalam suatu wasiat adalah, pertama dari ahli waris
yang non legitimaris (garis kesamping, janda/duda, saudara- saudara), kedua
dari wasiat (hibah wasiat dan erfstelling), dan ketiga di inkorting dari hibah
yang diberikan oleh pewaris semasa ia hidup. Jika setelah di inkorting dari non
legitimaris, bagian mutlak belum terpenuhi, maka dilanjutkan dengan inkorting
terhadap ahli waris dalam wasiat, jika belum terpenuhi juga bagian mutlak, maka
di inkorting dari hibah-hibah (Pasal 916a BW). Sedemikian pentingnya hak mutlak
para ahli waris legitimaris sehingga BW, memberikan perlindungan dengan
membatasi kebebasan pewaris dalam membuat wasiat dan memberikan hak
untuk mengajukan tuntutan untuk melakukan pengurangan jika wasiat secara
nyata dan benar-benar melanggar legitime portie, dengan tujuan agar ahli waris
legitimaris “harus” mendapatkan apa yang menjadi hak mutlak mereka terhadap
harta peninggalan pewaris.

Daftar Pustaka
Buku
[Link], Hukum Waris (Alumni 1992).

M Idris Ramulyo, Perbandingan Hukum Kewarisan Islam Dengan Kewarisan Menurut

254
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256

Burgerlijk Wetboek (BW) (Sinar Grafika 2000).

Maman Suparman, Hukum Waris Perdata (Sinar Grafika 2015).

Oemarsalim, Dasar-Dasar Hukum Waris Di Indonesia (Rineka Cipta 1991).

Prodjodikoro W, Hukum Warisan Di Indonesia (Is Gravennage Vorkink Van Hove)


(1962).

Tesis
Andreas P Senoadji, ‘Penerapan Legitime Portie (Bagian Mutlak) Dalam
Pembagian Waris Menurut Kitab Undang Hukum Perdata. (Studi Kasus
Putusan Mahkamah Agung Nomor Reg 148/PK/Perd/1982)’ (Universitas
Diponegoro 2007).

[Link], Beberapa Bab Penting Dalam Hukum Waris Menurut Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata (Fakultas Hukum Universitas Sumaetra Utara 1989).

Jurnal
Djusfi Apri Rotin & Winata Jumadi, ‘Penyelesaian Sengketa Hibah Menurut Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata’ [1991] Jurnal Ius Civile.

Habibulloh, ‘Analisis Pembagian Harta Warisan Berdasarkan Wasiat Yang


Tertuang Dalam Akta Notaris (Menurut Hukum Perdata Dan Hukum
Islam)’ (2018) 12 Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Menara Ilmu.

Husni Muhamad, ‘Kedudukan Hibah Wasiat Menurut Hukum Islam Dan Hukum
Perdata’ (2019) 15 Al Maslahah.

[Link], ‘Tinjauan Hukum Surat Wasiat Menurut Hukum Perdata’ (2014) 2


Jurnal Ilmu Hukum Legal Opinion.

Muliana & Akmad Khisni, ‘Akibat Hukum Akta Hibah Yang Melanggar Hak
Mutlak Ahli Waris (Legitieme Portie)’ (2017) 4 Jurnal Akta.

Utami & Dewi Sartika, ‘Akibat Hukum Pemberian Hibah Yang Melebihi Batas
Legitieme Portie’ (2016) 4 Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan.

Wiliam Marthianus Setiawan, ‘Kedudukan Legitieme Portie Dalam Hal Pemberian


Hibah Wasiat Berdasarkan Hukum Waris Burgerlijk Weatboek’ (2019) 2
Notaire.

255
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...

Laman
Rivera Wijaya, ‘Akibat Hukum Terhadap Penghibahan Seluruh Harta Warisan
Oleh Pewaris Sehingga Melanggar Legitieme Portie Ahli Waris Ditinjau Dari
KUHPerdata (Study Putusan Nomor 188/Pdt.g/2013/[Link])’ (Media
Neliti).

How to cite: Yanuar Suryadini dan Alifiana Tanasya Widiyanti, ‘Akibat Hukum Hibah Wasiat yang Melebihi
Legitime Portie’ (2020) Vol. 3 No. 2 Media Iuris.

256

Anda mungkin juga menyukai