Akibat Hukum Hibah Wasiat dan Legitime Portie
Akibat Hukum Hibah Wasiat dan Legitime Portie
241
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...
Pendahuluan
Indonesia adalah negara hukum, hal ini sesuai dengan ketentuan yang
termuat pada Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Dengan ketentuan ini
ditegaskan segala macam aspek dan aktivitas dalam masyarakat, pemerintahan,
dan negara harus berlandaskan hukum. Namun dikarenakan belum adanya
kodifikasi mengenai hukum waris pasca kemerdekaan, maka dasar hukum
mengenai penyelesaian sengketa pewarisan masih menggunakan pasal 131 jo. 163
I.S. Jadi di Indonesia ragam sistem hukum waris yang berlaku bagi warga negara
Indonesia, yaitu:1
1. Sistem hukum waris Barat dimana tertuang dalam Burgerlijk Wetboek
yang berdasarkan ketentuan Pasal 131 I.S. jo. Staatsblad 1917 Nomor 12 jo.
Staatsblad 1924 Nomor 557 jo. Staatsblad 1917 Nomor 12 tentang penundukan
diri terhadap Hukum Eropa, maka Burgerlijk Wetboek tersebut berlaku bagi:
a. Orang-orang Eropa dan mereka yang dipersamakan dengan Eropa.
b. Orang Timur Asing Tionghoa.
c. Orang Timur Asing lainnya dan orang-orang Indonesia yang
menundukkan diri kepada Hukum Eropa.
2. Sistem hukum waris Adat dimana pada saat terbentuk dipengaruhi oleh etnis
di berbagai daerah lingkungan Hukum Adat, yang diberlakukan kepada
golongan Bumi Putera. Yang tunduk pada hukum adat baik Matrilineal,
Patrilineal, maupun Bilateral
3. Sistem hukum waris Islam, yang juga terdiri dari puralisme ajaran, seperti
ajaran Kewarisan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ajaran Syi’ah. Yang paling
dominan dianut di Indonesia adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Hukum Waris Perdata Eropa awalnya hanya berlaku bagi Golongan Eropa,
Dalam perjalanannya, Burgelijk Wetboek diberlakukan bagi golongan Timur
Asing dan diberikan kemungkinan bagi Golongan Bumiputra untuk melakukan
penundukan diri secara sukarela (gelijkstelling) terhadap Burgelijk Wetboek, di
1
M Idris Ramulyo, Perbandingan Hukum Kewarisan Islam Dengan Kewarisan Menurut Burgerli-
jk Wetboek (BW) (Sinar Grafika 2000).
242
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256
2
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Warisan Di Indonesia (Is Gravennage Vorkink Van Hove) (1962).[8].
243
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...
bilamana terjadi suatu peristiwa hukum kematian. Dapat dilihat pada ketentuan
Pasal 832 BW yang berhak mendapatkan harta warisan adalah keluarga sedarah,
baik sah maupun luar kawin dan si yang hidup terlama. Jadi pada dasarnya
ahli waris menurut hukum adalah pemilik atas semua barang, piutang dan hak
dari pewaris hal ini terdapat pada Pasal 833 BW, akan tetapi Burgerlijk Wetboek
memberikan hak pada pewaris dimana pewaris mempunyai hak untuk berkehendak setelah
ia meninggal yang disebut dengan wasiat. Seperti yang termuat dalam Pasal 875 BW
“Adapun yang dinamakan surat wasiat atau testamen ialah suatu akta yang memuat
pernyataan seorang tentang apa yang dikehendakinya akan terjadi setelah ia meninggal
dunia dan yang olehnya dapat dicabut kembali lagi”. Jadi pemberian wasiat diberikan
pada saat pemberi wasiat masih hidup, tetapi pelaksanaannya dilakukan pada
saat pemberi wasiat meninggal dunia. Pasal 874 BW menyatakan bahwa segala
harta peninggalan seseorang yang meninggal dunia, adalah kepunyaan para
ahli warisnya menurut undang-undang, sejauh mengenai hal itu dia belum
mengadakan ketetapan yang sah. Ketetapan yang sah tersebut ialah surat wasiat.
Artinya, jika ada surat wasiat yang sah, surat wasiat harus dijalankan oleh para
ahli waris. Sebaliknya, apabila tidak ada surat wasiat, semua harta peninggalan
pewaris adalah milik ahli waris.
Ada dua jenis wasiat, yaitu wasiat pengangkatan waris (erfstelling) dan hibah
wasiat (legaat).
1. Wasiat Pengangkatan Waris (erfstelling)
Pemberi wasiat memberikan harta kekayaannya dalam bentuk bagian baik itu
seluruhnya, setengah, maupun sepertiga. Pemberi wasiat tidak menyebutkan
secara spesifik benda atau barang apa yang diberikannya kepada penerima
wasiat sesuai dengan Pasal 954 BW
2. Hibah Wasiat (legaat)
Pemberi wasiat memberikan beberapa barang-barangnya secara spesifik dari
suatu jenis tertentu kepada pihak tertentu. Hal ini termuat dalam Pasal 957 BW.
Di dalam Pasal 832 Burgerlijk Wetboek menyebutkan bahwa yang berhak
menjadi ahli waris ialah keluarga sedarah, baik yang sah menurut undang-undang
244
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256
maupun yang diluar perkawinan dan suami atau istri yang hidup terlama. Ahli
hukum perdata membagi ahli waris menjadi beberapa golongan diantaranya:
1. Ahli waris golongan pertama, yaitu meliputi keluarga sedarah dalam garis
lurus ke bawah si pewaris. Apabila pewaris meninggalkan seorang suami/
istri, maka berdasarkan undang-undang, suami atau istri disamakan dengan
seorang anak, seperti dikatakan dalam Pasal 852 Burgerlijk Wetboek:
“anak-anak atau sekalian keturunan mereka, baik dilahirkan dari lain lain
perkawinan sekalipun, mewaris dari kedua orang tua, kakekatau nenek atau
semua keluarga sedarah mereka selanjutnya dalam garis lurus keatas, dengan
tiada perbedaan antara laki dan perempuan dan tiada perbedaan berdasarkan
kelahiran lebih dahulu, mereka mewaris kepala demi kepala, jika dengan
si meninggal mereka bertalian keluarga dalam derajat ke satu dan masing-
masing mempunyai hak karena diri sendiri dan mereka mewaris pancang
demi pancang”.
2. Ahli waris golongan kedua, meliputi orang tua, saudara dan keturunan dari
saudara. Untuk menentukan bagian warisan dari orang tua, maka warisan
dibagi dua bagian yang sama menurut banyaknya orang, antara orang tua
dan saudara laki-laki dan saudara perempuan. Akan tetapi, bagian warisan
dari orang tua tidak pernah kurang dari seperempat. Hal ini seperti tercantum
dalam Pasal 854-855 Burgerlijk Wetboek.
3. Ahli waris golongan ketiga yaitu kakek dan nenek serta leluhur dan selanjutnya.
Apabila si pewaris tidak meninggalkan keturunan, orang tua, saudara dan
keturunan dari saudara, maka harta peninggalannya sebelum dibagi dibelah
terlebih dahulu (kloving).
4. Ahli waris golongan keempat adalah keluarga selanjutnya yang menyamping.
Apabila tidak ada ahli waris dalam garis yang satunya, maka seluruh warisan
jatuh kepada ahli waris dalam garis lainnya. Hal ini seperti tercantum dalam
Pasal 861 ayat (2) Burgerlijk Wetboek.
Keempat golongan ahli waris ialah golongan ahli waris yang mewaris berdasarkan
kedudukannya, sedangkan untuk ahli waris yang mewaris berdasarkan
penggantian dibagi atas beberapa golongan. Berdasarkan penggantian (bij
plaatsvervulling) atau sering disebut dengan ahli waris tidak langsung yaitu
diantaranya :
1. Penggantian dalam garis lurus ke bawah yang sah, berlangsung terus dengan
tiada akhirnya. Dalam segala hal, pergantian seperti di atas selamanya
diperbolehkan, baik dalam hal bilamana beberapa anak si yang meninggal
mewaris bersama-sama dengan keturunan seorang anak yang telah meninggal
lebih dulu, maupun sekalian keturunan mereka mewaris bersama-sama, satu
245
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...
sama lain dalam pertalian keluarga yang berbeda-beda derajatnya, hal ini
diatur dalam Pasal 842 Burgerlijk Wetboek;
2. Penggantian dalam garis ke samping tiap saudara kandung/tiriyang
meninggal lebih dulu digantikan oleh sekalian anaknya sehingga mereka
mewaris bersama-sama dengan paman atau bibi mereka, hal ini diatur dalam
Pasal 844 Burgerlijk Wetboek;
3. Penggantian dalam garis menyimpang diperbolehkan juga bagi para
keponakan, ialah dalam hal bilamana di samping keponakan yang bertalian
keluarga sedarah terdekat dengan si meninggal, masih ada anak-anak dan
keturunan saudara laki-laki atau perempuan darinya saudara-saudara mana
telah meninggal lebih dahulu, sebagaimana diatur dalam Pasal 845 Burgerlijk
Wetboek.
Ahli waris yang mewaris berdasarkan penggantian memiliki beberapa syarat
yang harus dipenuhi dalam kedudukannya sebagai pengganti dalam pewarisan, yaitu:
1. Ditinjau dari orang yang digantikan.
Dasar hukum Pasal 847 Burgerlijk Wetboek yang berbunyi “Tiada seorangpun
diperbolehkan bertindak untuk orang yang masih hidup selaku penggantinya”.
2. Ditinjau dari orang yang menggantikan:
a. Keturunan sah dari yang digantikan, termasuk keturunan sah dari anak
luar kawin. Hal ini menjelaskan bahwa keturunan dari pewaris harus
keturunan yang sah, karena yang dipentingkan adalah hubungan hukum
antara ahli waris dengan pewaris.
b. Memenuhi syarat untuk mewaris pada umumnya yaitu hidup pada
saat warisan terbuka (Pasal 836 Burgerlijk Wetboek, dengan pengecualian
Pasal 2 ayat 2 Kitab Undang Undang Hukum Perdata tentang bayi dalam
kandungan), bukan orang yang dinyatakan tidak patut mewaris, serta
tidak ditiadakan hak mewarisnya oleh pewaris dengan surat wasiat.
Penghibahan yang terdapat dalam buku III pasal 1666-1693 BW, pada pasal 1666
BW memuat pengertian dari hibah adalah suatu perjanjian dimana pemberi hibah
memberikan sesuatu barang kepada penerima hibah yang diberikan secara cuma-
246
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256
cuma dan tidak dapat ditarik kembali kecuali terjadinya keadaan tertentu, hibah
harus disertai dengan bukti, seperti adanya akta otentik yang dibuat oleh notaris
dan harus disimpan oleh notaris yang mengurusi mengenai akta tersebut, jika
hal tersebut tidak dipenuhi maka akan batal demi hukum. Adapun yang tidak
perlu dengan akta otentik yaitu penghibahan terhadap benda surat piutang dan
benda bergerak hal tersebut melalui penyerahan nyata.3 Penghibahan tidak boleh
dilakukan oleh sembarang orang dalam pasal 1677 BW anak-anak di bawah umur
tidak boleh memberikan hibah kepada orang lain kecuali yang telah ditentukan
oleh undang-undang ini. pengecualian dalam pasal 1688 BW yaitu jika syarat
penerima hibah tidak terpenuhi, jika penerima hibah telah melakukan kejahatan
terhadap pemberi hibah, apabila penerima hibah menolak untuk memberikan
nafkah terhadap pemberi hibah yang jatuh miskin. Menurut pasal 1667 BW
penghibahan kepada orang lain benda nya harus ada, jika bendanya belum ada
dan baru dijanjikan di hari kemudian maka hibah dinyatakan batal. Terdapat
dalam Burgerlijk weatboek mengenai penarikan hibah dengan perumpamaan
secara diam-diam yaitu :
1. Ada kemungkinan pembuat wasiat membuat wasiat secara berturut-turut
satu dan lainnya berbeda misalkan pembuat wasiat ingin memberikan hak
tanahnya kepada X di wasiat lain pembuat wasiat ingin memberikan hak
tanah tersebut kepada Y;
2. Pada pasal 966 BW menjelaskan bahwa barang yang di hibah wasiatkan bukan
milik pewaris entah pewaris tahu atau tidak maka hibah wasiat tersebut akan
batal;
3. Pada pasal 934 BW menjelaskan bahwa pembuat wasiat dapat meminta
wasiat olografisnya sewaktu-waktu untuk dicabut kembali dengan
pertanggungjawaban jika maka wasiat tersebut dinyatakan dicabut kembali.4
Jadi hibah wasiat yang dimaksudkan di sini ialah wasiat yang berisi hibah
3
Utami & Dewi Sartika, ‘Akibat Hukum Pemberian Hibah Yang Melebihi Batas Legitieme
Portie’ (2016) 4 Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan.
4
Husni Muhamad, ‘Kedudukan Hibah Wasiat Menurut Hukum Islam Dan Hukum Perdata’
(2019) 15 Al Maslahah.
247
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...
5
Oemarsalim, Dasar-Dasar Hukum Waris Di Indonesia (Rineka Cipta 1991).[82].
248
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256
6
Muliana & Akmad Khisni, ‘Akibat Hukum Akta Hibah Yang Melanggar Ha Mutlak Ahli
Waris (Legitieme Portie)’ (2017) 4 Jurnal Akta.
249
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...
2. Orang yang cakap untuk membuat wasiat adalah orang yang dapat berfikir
secara jernih dan berakal sehat, anak dibawah delapan belas tahun tidak
diperbolehkan untuk membuat surat wasiat. Dalam perkawinan barang
dari suami dan istri dapat menghibah wasiatnya diambil dari harta bersama
tersebut dan sekedar bahwa itu barang mereka masing-masing. Seorang
anak juga tidak dapat menghibah wasiatnya umtuk kepentingan walinya
dan anak yang sudah berumur delapan belas tahun tidak dapat menghibah
wasiatkan bekas walinya, kecuali wali tersebut telah menutup perhitungan
waliannya;7
3. Pasal 944 ayat (2) BW menjelaskan dalam membuat wasiat terbuka para saksi
tidak boleh ahli waris, keluarga(yang masih memiliki hubungan darah),
menantu, penerima hibah, pembantu notaris;
4. Hak mutlak yang diberikan kepada ahli waris menurut undang-undang dalam
garis lurus kebawah maupun keatas, hal mutlak (legitime portie) diatur dalam
pasal 913 BW. sekalipun ada wasiat legitime portie harus lebih diutamakan dan
tidak boleh dirugikan akibat adanya wasiat tersebut.
Akta otentik dalam penulisan surat wasiat memiliki akibat hukum termuat
dalam pasal 1870 BW bahwa akta otentik diantara pihak-pihak dan ahli warisnya
atau mereka yang mendapat hak itu adalah bukti sempurna tentang isi yang ada di
dalamnya, sehingga pada pasal tersebut bahwa surat wasiat harus disahkan serta
didaftarkan ke pihak yang memiliki kewenangan, apabila tidak didaftarkan maka
akan memiliki akibat hukum sama dan berlaku juga bagi surat wasiat tersebut.8
Menurut pendapat [Link] bahwa jika terdapat wasiat sah maka surat wasiatnya
harus dilaksanakan oleh seluruh ahli waris. 9 Yang bertujuan agar kehendak yang
pembuat surat wasiat dapat dilaksanakan.
Mengenai hal pembatalan terhadap akta hibah wasiat yang telah dibuat
dengan melihat syarat-syarat yang bisa dipenuhi dalam hibah tersebut, apakah
terdapat akta hibah jika tidak ada akta maka ahli waris dapat mengajukan
gugatan ke pengadilan untuk membatalkan hibah tersebut, termuat dalam
pasal 1682 BW bahwa tidak ada hibah kecuali yang ada pada pasal 1687 BW
yang menjelaskan bahwa hadiah yang diberikan secara langsung berupa barang
7
[Link], ‘Tinjauan Hukum Surat Wasiat Menurut Hukum Perdata’ (2014) 2 Jurnal Ilmu
Hukum Legal Opinion.
8
Habibulloh, ‘Analisis Pembagian Harta Warisan Berdasarkan Wasiat Yang Tertuang Da-
lam Akta Notaris (Menurut Hukum Perdata Dan Hukum Islam)’ (2018) 12 Jurnal Penelitian dan
Kajian Ilmiah Menara Ilmu.
9
[Link], Hukum Waris (Alumni 1992).[179].
250
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256
bergerak berwujud, surat piutang yang dibayarkan tidak perlu akta notaris.
Agar sah akta otentik tersebut harus dibuat oleh pejabat yang berwenang dan
adanya objek yang akan dihibahkan.10
10
Djusfi Apri Rotin & Winata Jumadi, ‘Penyelesaian Sengketa Hibah Menurut Kitab Un-
dang-Undang Hukum Perdata’ [1991] Jurnal Ius Civile.
11
Muliana & Akmad Khisni (n 6).,[Link].[742].
251
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...
Pasal 915 BW memuat bagian legitime portie untuk keturunan garis lurus
keatas adalah setengah bagian menurut undang-undang. Pasal 916 BW memuat
tentang bagian untuk anak luar kawin yang telah diakui adalah setengah dari
bagian yang harusnya diterima anak luar kawin tersebut menurut undang-undang.
Jika anak sebagai ahli waris telah meninggal mendahului pewaris maka legitime
portie nya akan pindah ke anak yang sebagai penggantinya. Jika legitime portie
belum terpenuhi maka akan diambilkan dari wasiat dan tidak memperhitungkan
wasiat itu kapan dibuat serta menurut perbandingan wasiat tersebut, jika dari
wasiat tidak dapat memenuhi legitime portie maka diambilkan dari hibah yang
diberikan kepada penerima hibah dengan memperhatikan tanggal pemberiannya
yaitu tanggal dekat kematian dari pewaris dan jika legitieme portie telah dipenuhi
maka tidak perlu untuk mengambil dari hibah lain. legitime portie memiliki bagian
mutlak sehingga tidak dapat dikurangi bagiannya kecuali ahli waris merasa tidak
dirugikan dan ha tersebut telah diatur dalam pasal 924 BW.12 sifat dari legitime
portie adalah sebagai berikut:13
a. Legitimaris dapat menuntut pembatalan dari perbuatan-perbuatan si pewaris
yang merugikan legitime portie (bagian mutlak).
b. Si pewaris bagaimanapun tidak boleh beschikken (membuat ketetapan)
mengenai bagian mutlak itu.
Berdasarkan Pasal 921 BW, besarnya bagian mutlak atau legitime portie dihitung
dengan cara yaitu sebagai berikut:14
1. Menghitung semua hibah yang telah diberikan oleh pewaris semasa hidupnya,
termasuk hibah yang diberikan kepada salah seorang atau para ahli waris
mutlak atau legitimaris;
2. Jumlah tersebut ditambahkan dengan aktiva warisan yang ada;
3. Kemudian, dikurangi utang-utang pewaris;
4. Dari hasil penjumlahan dan pengurangan di atas, kemudian dihitung besarnya
bagian mutlak atau legitime portie dari ahli waris mutlak atau legitimaris yang
12
Wiliam Marthianus Setiawan, ‘Kedudukan Legitieme Portie Dalam Hal Pemberian Hibah
Wasiat Berdasarkan Hukum Waris Burgerlijk Weatboek’ (2019) 2 Notaire.
13
Andreas P Senoadji, ‘Penerapan Legitime Portie (Bagian Mutlak) Dalam Pembagian Waris
Menurut Kitab Undang Hukum Perdata. (Studi Kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor Reg 148/
PK/Perd/1982)’ (Universitas Diponegoro 2007).
14
Maman Suparman, Hukum Waris Perdata (Sinar Grafika 2015).[94].
252
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256
menuntut bagiannya.
Besarnya bagian mutlak atau legitime portie yang didapat tersebut adalah
jumlah yang benar-benar diterima ahli waris mutlak atau legitimaris yang
bersangkutan.
Dalam hal pelanggaran hibah wasiat terhadap legitime portie atau bagian
mutlak maka akan menimbulkan akibat hukum tetapi tergantung dari penyikapan
legitimaris yaitu jika legitimaris dapat menerima kenyataan begitu saja tanpa
menuntut ke pengadilan atau mengajukan gugatan ke pengadilan atas dasar
bagian mutlaknya.15 Terdapat pertimbangan hakim dalam putusan Nomor 188/
Pdt.G/2013/[Link] tentang penghibahan wasiat yang melanggar bagian mutlak
(legitieme portie) yaitu akta hibah wasiat tersebut dibatalkan dan membagi harta
peninggalan pewaris kepada ahli waris yang ditetapkan undang-undang sama
rata, tetapi mengacu pada pasal 920 BW bahwa yang diputuskan hakim kurang
tepat karena di dalam Burgerlijk Weatboek terdapat solusi yaitu pemotongan hibah
wasiat atau inkorting jika melanggar bagian mutlak bagi ahli waris. supaya sesuai
dengan aturan pada pasal 920 BW maka seharusnya hakim dapat melakukan
pertimbangan dengan pasal tersebut.16 Bahwa juga undang-undang tidak memilih
penyelesaian yang ketiga, sebagaimana pada Pasal 924, 925, 926, 927 dan 928 Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata tidak diperbolehkannya ada ganti rugi saat ada
penuntutan dari ahli waris yang berhak atas bagian mutlak. Jadi ternyata undang-
undang memilih penyelesaian yang kedua, yaitu “eenvoudige vernietigbaarheid”
(dapat dibatalkan secara sederhana).
Kesimpulan
Burgerlijk Weatboek hak bagi ahli waris legitimaris yang berkenaan dengan
adanya bagian mutlak yang dilanggar untuk mendapatkan bagian mutlaknya
15
[Link], Beberapa Bab Penting Dalam Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata (Fakultas Hukum Universitas Sumaetra Utara 1989).[81].
16
Rivera Wijaya, ‘Akibat Hukum Terhadap Penghibahan Seluruh Harta Warisan Oleh Pe-
waris Sehingga Melanggar Legitieme Portie Ahli Waris Ditinjau Dari KUHPerdata (Study Putusan
Nomor 188/Pdt.g/2013/[Link])’ (Media Neliti).
253
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...
Daftar Pustaka
Buku
[Link], Hukum Waris (Alumni 1992).
254
Media Iuris, 3 (2) 2020: 241-256
Tesis
Andreas P Senoadji, ‘Penerapan Legitime Portie (Bagian Mutlak) Dalam
Pembagian Waris Menurut Kitab Undang Hukum Perdata. (Studi Kasus
Putusan Mahkamah Agung Nomor Reg 148/PK/Perd/1982)’ (Universitas
Diponegoro 2007).
[Link], Beberapa Bab Penting Dalam Hukum Waris Menurut Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata (Fakultas Hukum Universitas Sumaetra Utara 1989).
Jurnal
Djusfi Apri Rotin & Winata Jumadi, ‘Penyelesaian Sengketa Hibah Menurut Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata’ [1991] Jurnal Ius Civile.
Husni Muhamad, ‘Kedudukan Hibah Wasiat Menurut Hukum Islam Dan Hukum
Perdata’ (2019) 15 Al Maslahah.
Muliana & Akmad Khisni, ‘Akibat Hukum Akta Hibah Yang Melanggar Hak
Mutlak Ahli Waris (Legitieme Portie)’ (2017) 4 Jurnal Akta.
Utami & Dewi Sartika, ‘Akibat Hukum Pemberian Hibah Yang Melebihi Batas
Legitieme Portie’ (2016) 4 Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan.
255
Yanuar Suryadini: Akibat Hukum Hibah...
Laman
Rivera Wijaya, ‘Akibat Hukum Terhadap Penghibahan Seluruh Harta Warisan
Oleh Pewaris Sehingga Melanggar Legitieme Portie Ahli Waris Ditinjau Dari
KUHPerdata (Study Putusan Nomor 188/Pdt.g/2013/[Link])’ (Media
Neliti).
How to cite: Yanuar Suryadini dan Alifiana Tanasya Widiyanti, ‘Akibat Hukum Hibah Wasiat yang Melebihi
Legitime Portie’ (2020) Vol. 3 No. 2 Media Iuris.
256