Jurnal Al-Mizan: Jurnal Hukum Islam dan Ekonomi Syariah
ISSN: 2354-6468 (P); 2807-7695 (E)
Received:11-11-2024|Accepted: 31-12-2024|Published: 31-12-2024
Asas Keadilan dalam Undang-Undang Pokok Agraria: Perspektif
Hukum Islam dalam Pengelolaan Tanah
Khurul Anam1, Hendriyanto2, Abdullah Sani3, La Jaudi4, Nuryati Solapari5
1Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro
2Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah Tunas Palapa Tulang Bawang Barat
3Sekolah Tinggi Agama Islam Aceh Tamiang
4STAI Syarif Muhammad Raha
5Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Email: khurulanam@[Link].id1, Hendryy70@gmail.com2,
[Link]@gmail.com3, lajaudi90@gmail.com4, solapari2024@gmail.com5
ABSTRACT
The Basic Agrarian Law (UUPA) was designed to ensure equitable land distribution;
however, its implementation faces challenges, including land ownership disparities. This
study aims to analyze the principle of justice in UUPA through the lens of Islamic law,
focusing on the alignment of distributive justice principles and sustainability. The research
employs a library study method with a descriptive-analytical approach to national legal
documents and Islamic legal sources. The findings reveal that Islamic law provides a
holistic approach to strengthening justice principles in UUPA through land ownership
restrictions and more equitable resource distribution. This study contributes to integrating
Islamic legal values into national agrarian policies to achieve more inclusive and just land
management.
Keywords: Justice Principles, Islamic Law, UUPA, Agrarian.
ABSTRAK
Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dirancang untuk menciptakan distribusi tanah
yang adil, namun implementasinya menghadapi berbagai tantangan, termasuk ketimpangan
penguasaan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis asas keadilan dalam UUPA
melalui perspektif hukum Islam, dengan fokus pada kesesuaian prinsip-prinsip keadilan
distributif dan keberlanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan,
dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap dokumen hukum nasional dan sumber
hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum Islam menawarkan pendekatan
holistik yang dapat memperkuat asas keadilan dalam UUPA melalui pembatasan
penguasaan tanah dan distribusi sumber daya yang lebih merata. Penelitian ini memberikan
kontribusi dalam mengintegrasikan nilai-nilai hukum Islam ke dalam kebijakan agraria
nasional untuk menciptakan pengelolaan tanah yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Kata Kunci: Asas Keadilan, Hukum Islam, UUPA, Agraria.
VOLUME: 11| NOMOR: 2| TAHUN 2024 | 358
PENDAHULUAN
Tanah merupakan salah satu sumber daya penting yang memegang peranan strategis
dalam kehidupan masyarakat Indonesia (Gita Silva Pramesti, 2024). Sebagai negara
agraris, tanah tidak hanya menjadi modal utama dalam sektor pertanian, tetapi juga
menjadi faktor penentu dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Pentingnya tanah
tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pemukiman, infrastruktur, dan kegiatan
ekonomi lainnya. Oleh karena itu, pengelolaan tanah yang adil dan berkelanjutan menjadi
kebutuhan mendasar bagi masyarakat.
Pengelolaan tanah di Indonesia tidak hanya berorientasi pada nilai ekonominya,
tetapi juga menyentuh dimensi sosial, budaya, dan hukum (Yatulloh et al., 2024). Tanah
sering kali dianggap memiliki nilai sakral dalam budaya masyarakat lokal, sementara dari
sisi hukum, pengelolaan tanah memerlukan pengaturan yang jelas untuk menghindari
sengketa. Kompleksitas dalam pengelolaan tanah ini menunjukkan pentingnya regulasi
yang mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan nilai-nilai masyarakat.
Dengan demikian, pengelolaan tanah bukan hanya soal hak milik, tetapi juga tanggung
jawab bersama.
Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) hadir sebagai landasan utama dalam
pengaturan pengelolaan tanah di Indonesia (Putri et al., 2024). Sebagai kerangka hukum
nasional, UUPA bertujuan untuk menciptakan keadilan dalam penguasaan, pemanfaatan,
dan pemeliharaan tanah. Melalui undang-undang ini, pemerintah berupaya untuk mengatur
hak-hak atas tanah agar tidak hanya berpusat pada segelintir pihak, tetapi juga melibatkan
kepentingan masyarakat luas. UUPA juga menegaskan pentingnya keadilan sosial sebagai
prinsip dasar dalam pengelolaan sumber daya agraria.
Prinsip keadilan dalam UUPA menjadi elemen penting dalam mewujudkan
keselarasan antara hak individu dan kepentingan masyarakat (Erwanto et al., 2024) .
Dalam konteks ini, keadilan tidak hanya berarti memberikan hak secara proporsional,
tetapi juga memastikan bahwa pengelolaan tanah dapat memberikan manfaat yang merata.
Hal ini relevan mengingat sering kali terjadi ketimpangan dalam penguasaan tanah, yang
dapat menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itu, implementasi prinsip keadilan dalam
UUPA menjadi tantangan besar yang harus dijawab dalam praktik pengelolaan tanah.
Dalam perspektif hukum Islam, konsep keadilan menawarkan pendekatan yang unik
dan relevan untuk pengelolaan tanah. Hukum Islam menekankan pentingnya distribusi
yang adil, pemanfaatan yang tidak merugikan pihak lain, dan tanggung jawab sosial dalam
VOLUME: 11| NOMOR: 2| TAHUN 2024 | 359
kepemilikan tanah. Prinsip-prinsip ini sejalan dengan nilai-nilai yang diusung oleh UUPA,
tetapi memberikan dimensi spiritual yang memperkuat penerapan keadilan. Dengan
mengintegrasikan prinsip keadilan dari sudut pandang hukum Islam, pengelolaan tanah di
Indonesia dapat diarahkan pada tercapainya keseimbangan antara aspek duniawi dan
ukhrawi.
Asas keadilan merupakan prinsip utama yang diusung dalam Undang-Undang Pokok
Agraria (UUPA) untuk mengatur pengelolaan tanah di Indonesia . Namun, dalam
praktiknya, penerapan asas ini sering kali menghadapi tantangan yang menyebabkan
ketidakadilan dalam penguasaan dan pemanfaatan tanah. Ketimpangan ini terlihat pada
kasus-kasus konflik agraria yang terus terjadi, baik antara individu maupun antara
masyarakat dengan pemerintah atau pihak swasta. Hal ini menunjukkan adanya
kesenjangan antara konsep keadilan yang diatur dalam UUPA dan realitas di lapangan,
yang memerlukan perhatian lebih mendalam.
Di sisi lain, perspektif hukum Islam yang juga menekankan pentingnya keadilan
dalam pengelolaan tanah masih belum banyak diterapkan secara eksplisit dalam sistem
hukum agraria nasional (Tierra Kresna & Tajul Arifin, 2024). Prinsip-prinsip seperti
keadilan distributif, tanggung jawab sosial, dan larangan penguasaan tanah secara
berlebihan menjadi konsep yang relevan untuk memperkuat asas keadilan dalam UUPA.
Namun, sejauh ini, kajian mendalam tentang bagaimana prinsip hukum Islam dapat
diintegrasikan ke dalam pengaturan tanah di Indonesia masih sangat terbatas. Hal ini
menjadi celah penting yang perlu diisi oleh penelitian lebih lanjut.
Selain itu, belum banyak penelitian yang mengupas secara aplikatif bagaimana
konsep keadilan dalam hukum Islam dapat diterapkan dalam konteks pengelolaan tanah di
Indonesia. Kajian yang ada cenderung bersifat teoritis tanpa menyentuh aspek
implementasi yang nyata di lapangan. Padahal, pendekatan ini penting untuk menjawab
tantangan keadilan yang belum sepenuhnya terwujud dalam praktik pengelolaan tanah.
Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan
menawarkan solusi yang relevan dan aplikatif bagi pengelolaan tanah yang adil sesuai
dengan perspektif hukum Islam.
Penelitian sebelumnya telah banyak membahas asas keadilan yang diatur dalam
Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) sebagai landasan hukum untuk pengelolaan tanah
di Indonesia. Namun, penerapan prinsip keadilan tersebut sering kali menemui berbagai
hambatan, terutama dalam menciptakan distribusi tanah yang merata dan mengurangi
konflik agrarian (Earlene & Djaja, 2023). Ketimpangan dalam penguasaan tanah dan
VOLUME: 11| NOMOR: 2| TAHUN 2024 | 360
kurangnya regulasi yang efektif menunjukkan bahwa upaya menciptakan keadilan belum
sepenuhnya berhasil. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi pendekatan lain yang
dapat memperkuat penerapan asas keadilan ini.
Salah satu pendekatan yang relevan adalah perspektif hukum Islam, yang
menekankan keadilan distributif, tanggung jawab sosial, dan pelarangan penguasaan
sumber daya secara berlebihan (Karimullah, 2023). Meskipun prinsip-prinsip ini telah lama
menjadi bagian dari literatur hukum Islam, integrasinya dengan kerangka hukum nasional,
khususnya dalam pengelolaan tanah, masih minim diteliti. Pendekatan ini menawarkan
nilai tambah karena memberikan dasar normatif yang kuat untuk menciptakan pengelolaan
tanah yang berkelanjutan dan adil. Dengan demikian, kajian tentang integrasi hukum Islam
ke dalam sistem agraria nasional menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan
tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji secara
komprehensif penerapan asas keadilan dalam UUPA berdasarkan perspektif hukum Islam.
Kajian ini tidak hanya akan membahas prinsip-prinsip keadilan dalam hukum Islam, tetapi
juga bagaimana prinsip tersebut dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan praktik
pengelolaan tanah. Dengan menawarkan solusi yang aplikatif, penelitian ini diharapkan
dapat menjadi kontribusi penting dalam menciptakan sistem agraria yang lebih adil,
merata, dan sesuai dengan nilai-nilai lokal serta spiritual yang diusung oleh masyarakat
Indonesia.
METODE KAJIAN
Metode kajian dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
desain penelitian deskriptif-analitis (Movitaria et al., 2024).,. Penelitian ini bertujuan untuk
memahami dan menganalisis penerapan asas keadilan dalam Undang-Undang Pokok
Agraria (UUPA) berdasarkan perspektif hukum Islam. Data yang digunakan meliputi data
primer berupa teks peraturan perundang-undangan, khususnya UUPA, serta data sekunder
berupa literatur terkait hukum agraria dan hukum Islam. Pendekatan ini memungkinkan
peneliti untuk menggali hubungan antara konsep keadilan dalam UUPA dan prinsip-prinsip
hukum Islam secara mendalam.
Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan (library research), yang
melibatkan analisis dokumen hukum, buku, jurnal ilmiah, dan sumber literatur lain yang
relevan. Analisis dokumen dilakukan dengan menyoroti asas keadilan dalam UUPA dan
VOLUME: 11| NOMOR: 2| TAHUN 2024 | 361
mengeksplorasi kesesuaian serta potensi integrasinya dengan prinsip-prinsip hukum Islam.
Kajian ini juga menggunakan metode komparatif untuk membandingkan konsep keadilan
dalam UUPA dengan nilai-nilai keadilan yang diusung dalam hukum Islam. Hal ini
bertujuan untuk mengidentifikasi kesenjangan dan menemukan titik temu antara keduanya.
Data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan metode analisis konten, yang
fokus pada interpretasi makna dari teks yang dikaji. Peneliti mengevaluasi konsep keadilan
dalam UUPA dan menghubungkannya dengan teori keadilan dalam hukum Islam untuk
menghasilkan temuan yang relevan. Hasil analisis diharapkan memberikan wawasan
mendalam tentang penerapan asas keadilan dalam pengelolaan tanah serta menawarkan
rekomendasi kebijakan yang aplikatif dan berbasis pada prinsip keadilan hukum Islam.
Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan sistem
agraria yang lebih adil di Indonesia.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Kajian
Penelitian ini menemukan bahwa asas keadilan yang tercantum dalam Undang-
Undang Pokok Agraria (UUPA) bertujuan untuk menciptakan distribusi tanah yang adil
bagi seluruh masyarakat Indonesia. Ketentuan ini secara eksplisit termaktub dalam Pasal 2
dan Pasal 6 UUPA yang menegaskan bahwa tanah harus dimanfaatkan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat (Wijaya & Arthanaya, 2018). Namun, dalam praktiknya, implementasi
asas keadilan ini menghadapi tantangan yang cukup kompleks, seperti ketimpangan dalam
penguasaan tanah dan konflik agraria yang berkepanjangan. Kondisi ini menunjukkan
adanya kesenjangan antara tujuan normatif UUPA dan realitas di lapangan yang
membutuhkan solusi strategis.
Salah satu solusi potensial yang ditawarkan adalah integrasi nilai-nilai hukum Islam
ke dalam kerangka hukum agraria nasional (Tierra Kresna & Tajul Arifin, 2024). Hukum
Islam menekankan pentingnya keadilan distributif dan tanggung jawab sosial dalam
pengelolaan sumber daya, termasuk tanah. Sebagai contoh, ajaran Islam melarang
seseorang untuk menguasai tanah secara berlebihan tanpa memanfaatkannya, sebagaimana
disampaikan dalam hadits Nabi SAW tentang ghaban al-ard (larangan menelantarkan
tanah). Prinsip ini sejalan dengan semangat UUPA dalam mencegah monopoli tanah yang
merugikan masyarakat luas.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa nilai keadilan distributif dalam hukum
Islam dapat memperkuat asas keadilan dalam UUPA. Konsep ini mengutamakan
VOLUME: 11| NOMOR: 2| TAHUN 2024 | 362
pemerataan akses terhadap sumber daya, sehingga setiap individu memiliki peluang yang
sama untuk memanfaatkan tanah sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu, hukum Islam
juga mengatur mekanisme untuk menghindari penumpukan aset yang tidak produktif, yang
relevan dengan konteks pengelolaan tanah di Indonesia. Oleh karena itu, prinsip ini
memberikan landasan normatif yang kuat untuk menciptakan distribusi tanah yang lebih
merata.
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa UUPA memiliki elemen-elemen yang
selaras dengan prinsip-prinsip keadilan dalam hukum Islam, tetapi belum sepenuhnya
terimplementasi. Misalnya, Pasal 6 UUPA menyatakan bahwa setiap hak atas tanah
memiliki fungsi sosial, yang sejalan dengan ajaran Islam tentang tanggung jawab sosial
pemilik tanah terhadap masyarakat. Namun, dalam kenyataannya, pelaksanaan fungsi
sosial ini sering kali terabaikan karena kurangnya pengawasan dan regulasi yang efektif.
Hal ini mengindikasikan perlunya penguatan regulasi berbasis nilai-nilai hukum Islam
untuk mendukung implementasi asas keadilan tersebut.
Prinsip keadilan dalam hukum Islam juga mengedepankan nilai transparansi dan
akuntabilitas dalam pengelolaan tanah. Sebagai contoh, hukum Islam menganjurkan
adanya pengawasan ketat terhadap pengelolaan tanah untuk memastikan tanah digunakan
sesuai dengan kepentingan masyarakat. Dalam konteks ini, UUPA dapat mengambil
inspirasi dari mekanisme pengawasan yang diatur dalam hukum Islam, sehingga
pelaksanaan fungsi sosial tanah dapat berjalan lebih efektif (Wijaya & Arthanaya, 2018) .
Dengan demikian, integrasi nilai-nilai ini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat
terhadap sistem agraria nasional.
Penelitian ini juga menemukan bahwa konflik agraria yang terjadi di Indonesia
sering kali dipicu oleh ketidakseimbangan dalam penguasaan tanah. Dalam hukum Islam,
penyelesaian konflik didasarkan pada prinsip keadilan dan musyawarah, yang memberikan
ruang bagi semua pihak untuk mencapai solusi yang adil. Integrasi pendekatan ini ke
dalam sistem agraria nasional dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi konflik
agraria yang berlarut-larut (Smirnov & Stukova, 2015). Selain itu, pendekatan ini juga
sesuai dengan budaya lokal yang mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan
permasalahan.
Kajian komparatif antara UUPA dan hukum Islam juga menunjukkan bahwa
keduanya memiliki potensi untuk saling melengkapi dalam menciptakan sistem agraria
yang berkeadilan. Hukum Islam menawarkan konsep keadilan yang lebih holistik, meliputi
aspek sosial, ekonomi, dan spiritual (Permana & Nisa, 2024). Konsep ini dapat
VOLUME: 11| NOMOR: 2| TAHUN 2024 | 363
memperkaya asas keadilan dalam UUPA yang selama ini lebih berfokus pada aspek legal
formal. Dengan sinergi ini, sistem agraria nasional dapat lebih responsif terhadap
kebutuhan masyarakat yang beragam.
Selain itu, hukum Islam juga memberikan perhatian khusus pada aspek keberlanjutan
dalam pengelolaan sumber daya (Julia et al., 2024) . Prinsip ini relevan dengan tantangan
pengelolaan tanah di Indonesia yang menghadapi masalah kerusakan lingkungan akibat
eksploitasi yang tidak terkendali. UUPA dapat mengadopsi nilai keberlanjutan ini untuk
memastikan bahwa pengelolaan tanah tidak hanya berkeadilan, tetapi juga berkelanjutan
untuk generasi mendatang. Dengan demikian, pendekatan ini dapat memberikan manfaat
jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pendidikan dan penyuluhan hukum sebagai
bagian dari upaya menciptakan pengelolaan tanah yang adil. Dalam hukum Islam,
pendidikan dianggap sebagai kunci untuk membangun kesadaran masyarakat tentang
tanggung jawab sosial dan moral dalam penguasaan tanah (Rejekiningsi, 2015).
Pendekatan ini dapat diadopsi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang fungsi
sosial tanah sebagaimana diatur dalam UUPA. Dengan meningkatkan kesadaran
masyarakat, konflik agraria yang disebabkan oleh ketidaktahuan dapat diminimalkan.
Sebagai langkah konkret, penelitian ini merekomendasikan pengembangan regulasi
berbasis hukum Islam untuk melengkapi UUPA. Regulasi ini dapat mencakup mekanisme
redistribusi tanah, pengawasan penggunaan tanah, dan penyelesaian konflik agraria yang
berbasis pada nilai-nilai keadilan Islam. Dengan regulasi yang lebih inklusif, pengelolaan
tanah dapat berjalan lebih efektif dan adil (Isarapu, 2024). Hal ini juga akan meningkatkan
legitimasi sistem agraria di mata masyarakat.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa integrasi prinsip hukum Islam ke dalam sistem
agraria nasional membutuhkan dukungan politik dan kelembagaan. Pemerintah dan
pembuat kebijakan perlu mengambil langkah proaktif untuk menjembatani kesenjangan
antara norma-norma hukum Islam dan kerangka hukum nasional (Khisni, 2020). Selain itu,
diperlukan koordinasi antar lembaga untuk memastikan bahwa nilai-nilai ini dapat
diimplementasikan secara konsisten di seluruh wilayah Indonesia.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa asas keadilan dalam UUPA
dapat diperkuat dengan mengintegrasikan nilai-nilai hukum Islam. Pendekatan ini tidak
hanya akan mengatasi kesenjangan dalam pengelolaan tanah, tetapi juga memberikan
solusi yang aplikatif untuk menciptakan sistem agraria yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Dengan menggabungkan kekuatan keduanya, diharapkan pengelolaan tanah di Indonesia
VOLUME: 11| NOMOR: 2| TAHUN 2024 | 364
dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual
dan sosial.
Analisa Penulis
Penulis menganalisis bahwa asas keadilan dalam Undang-Undang Pokok Agraria
(UUPA) telah dirumuskan untuk menciptakan distribusi tanah yang adil dan merata,
namun implementasinya masih jauh dari harapan. Ketimpangan penguasaan tanah dan
konflik agraria yang terus terjadi mencerminkan kesenjangan antara idealitas hukum dan
realitas sosial. Hal ini menandakan adanya kelemahan dalam pengaturan dan penerapan
asas keadilan di lapangan. Analisis penulis terhadap temuan ini mengindikasikan bahwa
nilai-nilai keadilan yang terkandung dalam hukum Islam dapat menjadi solusi potensial
untuk mengatasi berbagai kendala tersebut.
Dari segi konsep, keadilan dalam hukum Islam memiliki keselarasan dengan prinsip-
prinsip yang diusung UUPA. Konsep keadilan distributif dalam hukum Islam, yang
menekankan pada pemerataan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dapat
memperkuat asas keadilan dalam UUPA. Sebagai contoh, larangan penguasaan tanah
secara berlebihan dalam hukum Islam berfungsi untuk mencegah monopoli dan
ketimpangan sosial. Ketika prinsip ini diterapkan dalam kebijakan agraria, distribusi tanah
yang lebih adil dapat tercapai. Dalam konteks ini, penulis berpendapat bahwa hukum Islam
tidak hanya relevan secara normatif, tetapi juga aplikatif untuk memperbaiki sistem
pengelolaan tanah di Indonesia.
Salah satu tantangan utama yang teridentifikasi dalam penelitian ini adalah kurangnya
pengaturan eksplisit dalam UUPA terkait pembatasan penguasaan tanah. Hal ini membuka
peluang terjadinya akumulasi tanah oleh segelintir pihak, yang pada akhirnya menciptakan
ketimpangan sosial. Di sisi lain, hukum Islam telah lama mengatur batasan-batasan dalam
penguasaan tanah untuk memastikan distribusi yang adil. Penulis melihat bahwa integrasi
prinsip-prinsip hukum Islam ini ke dalam UUPA dapat menjadi solusi konkret untuk
mengatasi masalah tersebut. Misalnya, melalui pengaturan batas maksimal penguasaan
tanah yang sesuai dengan kebutuhan dan kemaslahatan masyarakat.
Temuan penelitian ini juga mengungkapkan bahwa hukum Islam memiliki pendekatan
yang holistik dalam pengelolaan tanah. Selain menekankan pada keadilan distributif,
hukum Islam juga memberikan perhatian pada keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.
Dalam pandangan Islam, tanah adalah amanah yang harus dimanfaatkan dengan bijaksana
dan tidak merugikan lingkungan. Pendekatan ini menawarkan dimensi tambahan yang
VOLUME: 11| NOMOR: 2| TAHUN 2024 | 365
belum sepenuhnya diakomodasi oleh UUPA. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa
penerapan prinsip-prinsip hukum Islam dapat memperkaya kerangka regulasi agraria
nasional, tidak hanya dari segi keadilan, tetapi juga keberlanjutan.
Selain itu, analisis penulis terhadap temuan ini menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai
hukum Islam dengan asas keadilan dalam UUPA dapat meningkatkan legitimasi kebijakan
agraria. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, penerapan nilai-nilai hukum
Islam dalam kebijakan agraria akan lebih mudah diterima oleh masyarakat. Hal ini penting
untuk menciptakan kepercayaan dan dukungan publik terhadap kebijakan agraria yang
diterapkan oleh pemerintah. Dengan demikian, integrasi ini tidak hanya relevan dari segi
hukum, tetapi juga dari segi sosial dan budaya.
Namun, penulis juga menyadari bahwa integrasi antara hukum Islam dan UUPA
memerlukan pendekatan yang hati-hati dan komprehensif. Perbedaan dalam sistem hukum
dan terminologi antara keduanya dapat menjadi tantangan dalam proses integrasi. Oleh
karena itu, dibutuhkan kajian lebih lanjut yang mendalam untuk mengidentifikasi titik
temu antara kedua sistem hukum ini. Penulis menyarankan agar integrasi dilakukan
melalui dialog dan kolaborasi antara para ahli hukum agraria dan hukum Islam. Dengan
cara ini, potensi konflik atau kesalahpahaman dapat diminimalkan.
Selain itu, penulis juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam
mengimplementasikan hasil temuan ini. Kebijakan agraria yang berbasis pada nilai-nilai
keadilan hukum Islam harus didukung oleh regulasi yang jelas dan pelaksanaan yang
konsisten. Pemerintah perlu memastikan bahwa prinsip-prinsip keadilan ini diintegrasikan
ke dalam kebijakan agraria secara efektif, baik melalui revisi UUPA maupun
pengembangan peraturan pelaksana yang relevan. Dukungan dari masyarakat, akademisi,
dan pemangku kepentingan lainnya juga sangat diperlukan untuk mewujudkan sistem
agraria yang lebih adil dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, analisis penulis terhadap hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa
integrasi prinsip keadilan dalam hukum Islam dengan asas keadilan dalam UUPA adalah
langkah yang strategis untuk menciptakan pengelolaan tanah yang berkeadilan. Temuan ini
memberikan kontribusi penting dalam pengembangan teori dan praktik hukum agraria di
Indonesia. Selain itu, kajian ini juga membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut yang
dapat memperdalam pemahaman tentang integrasi hukum Islam dalam berbagai aspek
kebijakan agraria. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya relevan secara akademis,
tetapi juga memiliki dampak praktis yang signifikan dalam menciptakan sistem agraria
yang lebih inklusif dan berkeadilan di Indonesia.
VOLUME: 11| NOMOR: 2| TAHUN 2024 | 366
PENUTUP
Penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa asas keadilan dalam Undang-Undang Pokok
Agraria (UUPA) dapat diterapkan lebih optimal dengan pendekatan hukum Islam yang
menekankan keadilan distributif dan keberlanjutan. Hal ini dibuktikan melalui analisis
yang menunjukkan bahwa prinsip-prinsip hukum Islam, seperti pembatasan penguasaan
tanah dan distribusi sumber daya yang merata, mampu memberikan solusi terhadap
ketimpangan agraria. Kontribusi penelitian ini terletak pada usulan integrasi nilai-nilai
hukum Islam ke dalam kebijakan agraria nasional, yang memberikan dasar untuk
pengelolaan tanah yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.
VOLUME: 11| NOMOR: 2| TAHUN 2024 | 367
DAFTAR PUSTAKA
Earlene, F., & Djaja, B. (2023). Implikasi kebijakan reforma agraria terhadap
ketidaksetaraan kepemilikan tanah melalui lensa hak asasi manusia. Tunas Agraria,
6(2), 152–170. [Link]
Gita Silva Pramesti. (2024). Pengaturan Kepemilikan Tanah Berdasarkan Hukum
Pertanahan dan Implementasinya. Savana: Indonesian Journal of Natural
Resources and Environmental Law, 1(01), 39–52.
[Link]
Khisni, A. (2020, May 14). The Transformation of Islamic Law Into the National
Legislation. SciSpace - Paper. [Link]
islamic-law-into-the-national-2uwq8efzs4
Movitaria, M. A., Ode Amane, A. P., Munir, M., Permata, Q. I., Amiruddin, T., Saputra,
E., Ilham, I., Anam, K., Masita, M., Misbah, Muh., Haerudin, H., Halawati, F.,
Arifah, U., Rohimah, R., & Siti Faridah, E. (2024). Metodologi Penelitian. CV.
Afasa Pustaka.
Permana, Y., & Nisa, F. L. (2024). KONSEP KEADILAN DALAM PERSPEKTIF
EKONOMI ISLAM. Jurnal Ekonomi Syariah Darussalam, 5(2), 80–94.
[Link]
Putri, N. A., Sarmilah, S., Velda, J., & Zschock, W. M. (2024). Bridging the Gap by
Exploring Inequalities in Access to Land and Disparities in Agrarian Law in
Indonesia. Jurnal Ilmu Kenotariatan, 5(1), 1.
[Link]
Rejekiningsi, T. (2015). Citizenship Education Model For The Establishment Of Legal
Awareness To Implement The Social Functions Of Land Rights. SciSpace - Paper,
1(1). [Link]
of-legal-2pbon22vey
Tierra Kresna & Tajul Arifin. (2024). Analisis Hak Atas Tanah Dalam Perspektif Hadist
Dan Hukum Agraria Nasional. WISSEN : Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(3),
247–259. [Link]
Wijaya, I. K. K. A., & Arthanaya, I. W. (2018). Implementation of Social Function in Land
Acquisition. Proceedings of the International Conference on Business Law and
Local Wisdom in Tourism (ICBLT 2018). Proceedings of the International
Conference on Business Law and Local Wisdom in Tourism (ICBLT 2018), Bali,
Indonesia. [Link]
Yatulloh, D. M., Zahra, S. P. F., & Nagari, C. G. (2024). Balancing Economic Growth and
Social Equity: A Legal and Conceptual Analysis of Indonesian Agrarian Reform in
the Agribusiness Sector. Arkus, 11(1), Article 1.
[Link]
VOLUME: 11| NOMOR: 2| TAHUN 2024 | 368