0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan10 halaman

Tujuan Kurikulum PAI yang Relevan dan Komprehensif

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan tujuan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) yang relevan dan komprehensif, dengan metode kualitatif melalui studi literatur, observasi, dan wawancara. Hasilnya menunjukkan bahwa tujuan kurikulum PAI harus mencakup penguatan aqidah, pengetahuan agama, praktik ibadah, akhlak mulia, dan keterampilan hidup berbasis nilai Islam. Pengembangan kurikulum ini diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan global dan menjadi individu yang beriman serta berkontribusi positif bagi masyarakat.

Diunggah oleh

puso0377
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan10 halaman

Tujuan Kurikulum PAI yang Relevan dan Komprehensif

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan tujuan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) yang relevan dan komprehensif, dengan metode kualitatif melalui studi literatur, observasi, dan wawancara. Hasilnya menunjukkan bahwa tujuan kurikulum PAI harus mencakup penguatan aqidah, pengetahuan agama, praktik ibadah, akhlak mulia, dan keterampilan hidup berbasis nilai Islam. Pengembangan kurikulum ini diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan global dan menjadi individu yang beriman serta berkontribusi positif bagi masyarakat.

Diunggah oleh

puso0377
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Berajah Journal

Jurnal Pembelajaran dan Pengembangan Diri


ISSN (p): 2797-1805 | ISSN (e): 2797-1082

PENGEMBANGAN TUJUAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA


ISLAM
DEVELOPMENT OF ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION CURRICULUM OBJECTIVES
Saifullah1, Rabiatul Adawiyah2, Salamah3
UIN Antasari Banjarmasin, Indonesia
Email: say10spdi@gmail.com1, rabiatul4848@gmail.com2, salamah@[Link].id3

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan tujuan kurikulum PAI yang lebih relevan, kontekstual, dan
komprehensif. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan
data melalui studi literatur, observasi, dan wawancara mendalam dengan para pakar dan praktisi
pendidikan. dianalisis secara deskriptif dan inferensial dengan menggunakan analisis tematik dan statistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan kurikulum PAI yang dikembangkan harus mencakup aspek
penguatan aqidah, pendalaman ilmu agama, pengamalan ibadah, pembentukan akhlak mulia, dan
pengembangan keterampilan hidup berbasis nilai-nilai Islam. Prinsip-prinsip yang digunakan dalam
pengembangan tujuan kurikulum PAI meliputi keseimbangan antara aspek spiritual dan material,
kontekstualitas, dan relevansi dengan kebutuhan zaman. Strategi pengembangan yang diterapkan
mencakup revitalisasi kurikulum, peningkatan kualitas guru, penguatan kemitraan dengan orangtua dan
masyarakat, serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Implikasi dari penelitian ini adalah
dihasilkannya tujuan kurikulum PAI yang lebih komprehensif, selaras dengan perkembangan zaman, dan
mampu menjawab tantangan global. Kurikulum PAI yang dikembangkan diharapkan dapat memberikan
bekal yang memadai bagi siswa dalam menghadapi tantangan global dan menjadi generasi yang beriman,
berilmu, berakhlak mulia, serta mampu berkontribusi secara positif bagi masyarakat.
Kata Kunci: Kurikulum PAI, Tujuan Kurikulum, Pengembangan Kurikulum, Pendidikan Agama Islam,
Metode Campuran.

ABSTRACT
This study aims to develop PAI curriculum objectives that are more relevant, contextual, and
comprehensive. The research method used was a qualitative approach with data collection techniques
through literature study, observation, and in-depth interviews with educational experts and practitioners.
The data were analyzed descriptively and inferentially using thematic and statistical analysis. The results
showed that the objectives of the PAI curriculum developed should include aspects of strengthening aqidah,
deepening religious knowledge, practicing worship, forming noble morals, and developing life skills based
on Islamic values. The principles used in the development of PAI curriculum objectives include the balance
between spiritual and material aspects, contextuality, and relevance to the needs of the times. The
development strategies applied include revitalizing the curriculum, improving the quality of teachers,
strengthening partnerships with parents and communities, and utilizing technology in learning. The
implication of this study is the production of PAI curriculum objectives that are more comprehensive, in
line with the times, and able to answer global challenges. The PAI curriculum developed is expected to
provide adequate provision for students in facing global challenges and become a generation that is
faithful, knowledgeable, noble, and able to contribute positively to society.
Keywords: PAI Curriculum, Curriculum Objectives, Curriculum Development, Islamic Religious
Education, Mixed Methods.

PENDAHULUAN 2010:4). Kurikulum Indonesia banyak menuai


Seluruh proses pendidikan berkisar kritik ketika dikembangkan karena terlalu
pada kurikulum. Untuk mencapai tujuan kompleks, memberatkan siswa, tidak sesuai
pendidikan, kurikulum mengarahkan segala dengan kebutuhan siswa, merepotkan guru,
bentuk kegiatan pendidikan (Bustoni, dan masalah lainnya (Sya’bani, 2018: 102).

DOI: [Link] 537


Website: [Link]
Berajah Journal
Volume 4 Nomor 3 (2024)

Kurikulum di Indonesia sangat rumit jika dunia dan kehidupan yang sukses di akhirat
dibandingkan dengan kurikulum di negara (Umam, 2021: 640).
lain. Rumitnya kurikulum berdampak pada Tujuan kurikulum merupakan salah satu
guru dan siswa yang dituntut untuk komponen terpenting dalam pendidikan,
mempelajari beragam mata pelajaran, dan itu namun yang menjadi masalah masih
menjadi beban tersendiri bagi guru dan siswa. banyaknya pendidik yang hanya terfokus
Baik guru maupun siswa harus berusaha keras untuk menyampaikan materi pelajaran tanpa
untuk mempelajari dan mengajarkan memikirkan apa tujuan yang ingin dicapai,
informasi yang sedang dibahas. Akibatnya, sehingga masih banyaknya ditemukan
siswa tidak akan dapat memahami semua hal peserta didik yang tidak memiliki akhlak
yang diajarkan (Julaeha, 2019: 174). mulia, berilmu tapi tidak sopan dan
Untuk mencapai tujuan pendidikan menghormati orang lain. Oleh karenanya
yang dicita-citakan, kurikulum harus penelitian ini akan membahas mengenai
dikembangkan sebaik mungkin. Kebutuhan, pengembangan tujuan kurikulum itu sendiri,
minat, dan bakat siswa yang berbeda harus agar pendidik lebih memerhatikan
diperhitungkan saat membuat kurikulum tercapainya tujuan kurikulum ini, khususnya
(Aprilia, 2020: 210). Proses pengembangan tujuan kurikulum Pendidikan Agama Islam,
kurikulum berlangsung terus-menerus. Hal ini yang mana pada tujuan kurikulum Pendidikan
terjadi karena proses pengembangan Agama Islam harus adanya integrasi antara
kurikulum bergantung pada tujuan, materi, ilmu dan agama.
metode, dan evaluasi kurikulum (Nurhayati, Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:
2010: 10). Bagian-bagian dari tujuan 1) untuk menganalisis kurikulum dari
kurikulum secara khusus dibahas dalam perspektif pendidikan agama Islam, 2) untuk
artikel ini. Tujuan kurikulum sebenarnya menganalisis teori perumusan tujuan
merupakan tujuan dari semua program kurikulum, dan 3) untuk menganalisis teori
pendidikan yang akan ditanamkan pada siswa pengembangan tujuan kurikulum.
karena komponen tujuan kurikulum pada
dasarnya adalah jalan untuk mencapai tujuan METODE
pendidikan (Taufik, 2019: 84). Penelitian ini menggunakan pendekatan
Tujuan pendidikan agama Islam yaitu kualitatif dengan metode studi literatur,
menyadarkan siswa bahwa dunia dan akhirat observasi pembelajaran, dan wawancara
adalah satu, dan manusia memiliki integritas dengan guru PAI. Data dikumpulkan dari
iman, akhlak, dan amal. Dengan kata lain, sumber-sumber primer dan sekunder yang
ketiga ranah hati (afektif), akal (kepala) atau relevan, seperti buku-buku, kurikulum PAI,
kognitif, dan raga (tangan) atau psikomotorik dan jurnal penelitian.
semuanya harus dibenahi dalam pendidikan
agama Islam. Ketiganya harus berfungsi HASIL DAN PEMBAHASAN
secara bersama- sama, komprehensif, dan Pengertian Kurikulum Pendidikan Agama
simultan. Akibatnya, kurikulum yang Islam
dianggap efektif untuk mencapai tujuan PAI Kata "kurikulum" biasanya
yaitu kurikulum yang terintegrasi, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sebagai
menyeluruh, meliputi pengetahuan yang "manhaj", yang mengacu pada jalan ringan
diperlukan untuk kehidupan yang sukses di yang dilewati orang melintasi beragam aspek

DOI: [Link] 538


Website: [Link]
Berajah Journal
Jurnal Pembelajaran dan Pengembangan Diri
ISSN (p): 2797-1805 | ISSN (e): 2797-1082

kehidupan mereka. Sementara itu, kurikulum mengembangkan ajaran Islam dan moral
pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam kamus mereka untuk dijadikan sebagai pedoman
tarbiyah merupakan kumpulan strategi dan hidup mereka melalui praktik mendidik
materi yang digunakan lembaga pendidikan tentang agama Islam (Wafi, 2017: 135). Dari
sebagai pedoman dalam mencapai tujuan penjelasan diatas penulis dapat memahami
pendidikan (Nurmadiah, 2014: 43). bahwa kurikulum pendidikan agama Islam
Kurikulum didefinisikan oleh Undang- adalah rumusan tentang tujuan, materi,
Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor metode, dan evaluasi dalam pendidikan
20 tahun 2003 sebagai kumpulan rencana dan agama Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan
pengaturan tentang tujuan, isi, dan sumber Hadits serta ijtihad para ilmuwan muslim
pembelajaran, serta tata cara yang digunakan bidang pendidikan yang digunakan untuk
sebagai aturan untuk menyusun kegiatan mencapai tujuan pendidikan.
pembelajaran guna mencapai tujuan Kurikulum pendidikan agama Islam
pendidikan tertentu (Sisdiknas, n.d.). adalah rumusan tujuan, sumber, teknik, dan
Pendidikan agama Islam adalah jenis penilaian pendidikan yang berdasarkan pada
pengajaran yang menggabungkan sejumlah ajaran agama Islam (Majid & Andayani,
praktik keagamaan Islam. Definisi terakhir 2004:74). Kurikulum pendidikan agama
pendidikan agama Islam yang saat ini Islam merupakan program yang mencakup
digunakan sebagai nomenklatur dalam unsur-unsur dari semua disiplin ilmu
berbagai undang-undang, kurikulum, dan pendidikan agama Islam dan dilengkapi
konteks lainnya adalah pendidikan yang dengan jalur-jalur utama dalam pelaksanaan
bahan ajarnya terdiri dari Al-Qur'an Hadits, kegiatan pembelajaran (Hamalik, 2016: 4).
Aqidah/Akhlak, Fiqh, dan SKI. Hal ini Tujuan kurikulum pendidikan agama Islam
sebagaimana tertuang dalam Peraturan yaitu menyuplai siswa dengan materi
Pemerintah RI No. 55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dalam bentuk aktivitas,
Keagamaan dan Pendidikan Keagamaan informasi, dan pengalaman serta nilai,
(Munir & Jannah, 2019: 3). standar, dan perilaku dalam rangka mencapai
Selain itu, pendidikan Islam sering tujuan Islam (Zuhairini & Ghafir, 2004: 43).
disebut serupa dengan pendidikan agama Kurikulum pendidikan agama Islam
Islam. Pendidikan Islam merupakan agak berlainan dengan kurikulum pada
pengarahan atau kepemimpinan yang umumnya karena memiliki kekhasan, antara
disengaja oleh guru terhadap pertumbuhan lain: Pertama, mengutamakan tujuan dan
fisik dan jiwa siswa mengarah pada moral agama Islam. Sifat-sifat lain yang
perkembangan perilaku siswa menjadi diwarnai oleh sifat ini, terutama yang
manusia yang sempurna (Zaman, 2019: 150). menitikberatkan pada ajaran tauhid dan
Pendidikan agama Islam mencakup usaha indoktrinasi nilai. Kedua, sejalan dengan
untuk mendidik masyarakat tentang iman, kodrat manusia, dengan mempertimbangkan
Islam atau ajaran dan prinsip-prinsipnya sifat-sifat seperti bakat, jenis kelamin,
sehingga menjadi keyakinan dan sikap potensi, dan pertumbuhan psiko- fisik. Ketiga,
mereka sendiri terhadap kehidupan. Ini menemukan jawaban untuk perubahan sosial
mencoba untuk menolong individu atau group yang akan datang dan yang sedang
siswa dalam menumbuhkan dan/atau berlangsung serta mengantisipasi dan

DOI: [Link] 539


Website: [Link]
Berajah Journal
Volume 4 Nomor 3 (2024)

menanggapi kebutuhan asli siswa dan Pendidikan Islam yaitu selamat dunia dan
masyarakat. Keempat, promosikan akhirat, mengajarkan tauhid dan akhlak mulia.
penggunaan strategi pengajaran yang
dinamis dan dapat diadaptasi yang Perumusan Tujuan Kurikulum
menginspirasi anak-anak untuk belajar Berdasarkan pemeriksaan berbagai
dengan kesadaran dan kesenangan, bahkan kebutuhan, keinginan, dan harapan siswa,
ketika berhadapan dengan tema-tema tujuan kurikulum dibuat. Akibatnya, tujuan
keagamaan. Kelima, materi pelajaran dibuat dengan mempertimbangkan ilmu
didasarkan pada kenyataan, diberi harga yang pengetahuan, masyarakat, dan siswa itu
wajar, dan disajikan dalam urutan yang sesuai sendiri (Kindarasa, 2019: 48). Ada lima
tingkat. Keenam, mengembangkan rasa sumber yang dapat dijadikan landasan dalam
keselarasan antara dimensi intelektual, membuat tujuan kurikulum, antara lain:
emosional, dan spiritual. Ketujuh, Pertama, tujuan pendidikan Islam, yang
menjauhkan siswa dari pemahaman biner harus sejalan dengan tujuan manusia
tentang agama dan ilmu-ilmu lainnya, serta diciptakan, yaitu mengabdi kepada Allah dan
pemahaman agama yang parsial, yang memerintah sebagai pemimpin di atas bumi.
keduanya dapat menimbulkan perilaku Karena pendidikan merupakan alat yang
berlebihan pada diri siswa (Sidik, 2016: 103). digunakan manusia untuk mempertahankan
Karakteristik kurikulum pendidikan kehidupannya yang berkelanjutan, baik secara
agama Islam juga dipaparkan sebagai berikut: individu maupun kolektif, maka tujuan hidup
Pertama, menekankan tujuan agama dan manusia dan tujuan pendidikan Islam saling
akhlak dalam tujuan, isi, metode, alat, dan terkait erat (Syam, 2019: 9).
pendekatannya yang bervariasi dengan pola Kedua, falsafah bangsa, sila-sila
keagamaan (Islami). Kedua, menjaga pancasila harus tercermin dalam ideologi
keseimbangan antara banyak jenis informasi bangsa dan tujuan pembuatan kurikulum.
dalam kurikulum yang akan diterapkan. Setiap tahapan pengembangan kurikulum
Disamping itu, ia mencapai keseimbangan harus memasukkan cita-cita tersebut, mulai
antara pengetahuan yang bermanfaat bagi dari tingkat kelembagaan, mata pelajaran, dan
perkembangan individu dan masyarakat. peserta didik. Nilai-nilai masyarakat dan
Ketiga, kelola semua mata pelajaran yang tuntutan siswa yang hidup bermasyarakat
perlu dipelajari siswa dengan serius. paling berpengaruh terhadap falsafah negara
Keempat, kurikulum selalu dimodifikasi ini (Tarihoran, 2017: 8).
dengan memperhatikan minat dan Ketiga, strategi pembangunan, yakni
keterampilan siswa (Hanafi, 2014: 282). mensyaratkan penggunaan seluruh sumber
Dari pemaparan diatas, penulis daya manusia Indonesia demi membangun
menyimpulkan bahwa kurikulum merupakan masyarakat yang adil dan makmur secara
pedoman dalam dunia pendidikan yang terdiri material dan kerohanian. Tujuan kurikulum
dari komponen tujuan, materi, metode, dan harus mencerminkan makna dan hakikat
evaluasi yang digunakan untuk mencapai tersebut untuk membangun sumber daya
tujuan pendidikan. Lebih lanjut, pada manusia yang mampu melakukan
kurikulum Pendidikan Agama Islam harus pengembangan. Berdasarkan justifikasi
adanya integrasi antara ilmu dan agama serta tersebut, penulis berkeyakinan bahwa
tujuan yang akan dicapai yaitu tujuan keberhasilan pendekatan pembangunan ini

DOI: [Link] 540


Website: [Link]
Berajah Journal
Jurnal Pembelajaran dan Pengembangan Diri
ISSN (p): 2797-1805 | ISSN (e): 2797-1082

ditandai dengan munculnya masyarakat yang menerima tujuan kurikulum semaksimal


modern, mandiri, dan kaya. Keempat, hakikat mungkin. Ketiga, tujuan harus memiliki dua
anak didik, yakni mengingat sifat siswa dan komponen: proses dan produk. Materi yang
fakta bahwa pendidikan terutama untuk diberikan pada setiap topik merupakan hasil
keuntungan mereka, penting untuk akhir dari proses tersebut, yang juga meliputi
mempertimbangkan kepentingan mereka saat analisis, hafalan, mengingat kembali, dan
mengembangkan tujuan dan kurikulum. kegiatan sejenis lainnya. Keempat, tujuan
Kemampuan siswa, minat, dan perhatian, harus didefinisikan dengan jelas sedemikian
sikap, perilaku, dan sifat kepribadian rupa sehingga dapat menganalisis tujuan
merupakan faktor penting untuk umum dan kompleks menjadi tujuan khusus
dipertimbangkan ketika mengembangkan atau mengidentifikasi hasil belajar yang
kurikulum. Kelima, lmu pengetahuan dan diharapkan. Kelima, tujuan itu relevan,
teknologi, yang mensyaratkan tujuan artinya dapat menyampaikan signifikansi
kurikulum mempertimbangkan kemajuan terhadap tuntutan dan fungsi masyarakat bagi
iptek. Kemajuan ilmu pengetahuan dan siswa baik sekarang maupun di masa depan.
teknologi harus bekerja sama dengan empat Keenam, agar dapat diubah menjadi kegiatan
sumber yang disebutkan sebelumnya untuk atau pengalaman belajar yang spesifik, tujuan
memberikan tujuan kurikulum yang lebih baik harus dapat dicapai. Tujuan yang terlalu
yang akan memungkinkan orang Indonesia idealis membuat penerapannya menantang.
untuk mengaktualisasikan pengetahuan, Ketujuh, tujuan menawarkan panduan atau
keterampilan, dan kepribadian mereka secara jalan yang harus dilakukan untuk mencapai
keseluruhan (Siregar, 2017: 80). Agar peserta tujuan tersebut. Contohnya, siswa harus
didik dapat menyeimbangkan dan sekaligus belajar bahasa tentang kegiatan pasar untuk
mengembangkan iptek untuk memberi melakukan muhadatsah dengan tema yang
manfaat dan menopang kehidupan manusia, berhubungan dengan pasar. Kedelapan,
kurikulum harus dapat menampung dan tujuan harus komprehensif, mencakup semua
meramalkan laju pertumbuhan iptek. yang diharapkan dari siswa dalam hal
Kurikulum harus ditulis secara tepat pengetahuan, kemampuan, interaksi sosial,
dan akurat dengan tujuan kurikulum sebagai dan sikap terhadap negara dan bangsa.
faktor penentu. Kesalahan penetapan tujuan Kesembilan, tujuan harus memenuhi
akan mengarahkan kurikulum ke arah yang persyaratan kesesuaian. Pemilihan tujuan
salah. Oleh karena itu, penciptaan tujuan dengan potensi, nilai pendidikan, dan nilai-
kurikulum harus memenuhi kriteria tertentu, nilai konstruktif lainnya inilah yang dimaksud
yaitu: Pertama, harus konsisten dengan tujuan dengan kepantasan (Nafi’i & Shaifudin, 2021:
di atasnya. Ini menyiratkan bahwa tujuan 98).
kurikuler dan instruksional harus selaras Pratt juga menggariskan tujuh syarat
dengan tujuan organisasi. Kedua, tujuan harus dalam merumuskan tujuan pendidikan
konsisten, seksama, dan lengkap. Tujuan sebagai berikut: Tujuan kurikulum pertama-
kurikulum harus dipenuhi (bersifat nyata), dan tama harus memberikan hasil belajar yang
tidak boleh mengubah cara pandang orang jelas dan terukur. Kedua, tujuan kurikulum
yang melaksanakan kurikulum. Artinya harus sejalan dengan tujuan yang lebih luas.
semua bagian pelaksana kurikulum harus Ketiga, memberikan gambaran yang jelas

DOI: [Link] 541


Website: [Link]
Berajah Journal
Volume 4 Nomor 3 (2024)

kepada pelaksana kurikulum, tujuan harus a. Tujuan yang dirumuskan terlalu umum
disajikan dalam struktur linguistik yang tepat dan abstrak
dan tidak ambigu. Keempat, tujuan harus b. Kurangnya integrasi antara tujuan
layak, yang mensyaratkan bahwa itu tidak umum, khusus, dan operasional
hanya menjadi standar yang masuk akal tetapi c. Kurang memperhatikan perkembangan
juga disesuaikan dengan keadaan. Kelima, peserta didik dan tuntutan masyarakat
tujuan harus bermanfaat, atau menunjukkan 2. Menurut Armai Arief (2002), problematika
nilai bagi siswa dan masyarakat. Keenam, yang dihadapi dalam penyusunan tujuan
tujuan harus bermakna karena dipilih PAI yaitu:
berdasarkan signifikansi yang diakui. a. Kurangnya keselarasan antara tujuan
Ketujuh, tujuan harus jelas dan sejalan dengan dengan visi, misi, dan orientasi lembaga
keterampilan dan minat siswa, yang pendidikan
mencakup tingkat pertumbuhan dan minat b. Tujuan yang dirumuskan terlalu ideal
sebelumnya (Arifandi et al., 2022: 7). dan sulit dicapai
Dari penjelasan diatas penulis c. Kurangnya pemahaman tentang hierarki
menyimpulkan bahwa dalam merumuskan tujuan pendidikan (tujuan nasional,
sebuah kurikulum, seseorang harus institusional, kurikuler, dan
memerhatikan kriteria atau ciri-ciri dalam instruksional)
merumuskan tujuan itu sendiri, diantaranya 3. Menurut Ramayulis (2008), problematika
tujuan yang dirumuskan harus jelas dalam yang dihadapi antara lain:
artian tidak menimbulkan makna ganda atau a. Tujuan yang dirumuskan terlalu luas
ambigu bagi orang yang membacanya, tujuan dan tidak terfokus
yang akan dirumuskan juga harus masuk akal, b. Kurangnya keterpaduan antara tujuan
dalam artian suatu hal yang bisa dicapai dengan materi, metode, dan evaluasi
bukan sekedar impian tetapi tidak mungkin c. Kurang memperhatikan aspek
untuk mencapainya, dan tujuan yang perkembangan peserta didik secara
dirumuskan harus memiliki kemanfaatan bagi komprehensif (fisik, intelektual,
peserta didik, sejalan dengan minat dan emosional, dan spiritual)
kebutuhan peserta didik itu sendiri. Kemudian 4. Menurut Abdul Majid (2012),
dalam merumuskan tujuan kurikulum juga problematika yang dihadapi meliputi:
harus disesuaikan dengan tujuan pendidikan a. Tujuan yang dirumuskan kurang
Islam, falsafah bangsa, strategi relevan dengan kebutuhan masyarakat
pembangunan, minat dan kebutuhan peserta b. Kurangnya keterlibatan berbagai pihak
didik, serta sesuai dengan kemajuan ilmu dalam penyusunan tujuan
pengetahuan dan teknologi. c. Keterbatasan sumber daya (guru, sarana
prasarana) untuk mewujudkan tujuan
Problematika Penyusunan Tujuan PAI Dari pendapat para ahli tersebut, dapat
Menurut beberapa ahli, terdapat disimpulkan bahwa problematika penyusunan
beberapa problematika dalam penyusunan tujuan PAI meliputi:
tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI), antara 1. Konsep tujuan yang terlalu umum atau
lain: abstrak
1. Menurut Muhaimin (2005), problematika 2. Kurang memperhatikan perkembangan
penyusunan tujuan PAI meliputi: peserta didik

DOI: [Link] 542


Website: [Link]
Berajah Journal
Jurnal Pembelajaran dan Pengembangan Diri
ISSN (p): 2797-1805 | ISSN (e): 2797-1082

3. Kurangnya integrasi antara tujuan umum, c. Mengembangkan potensi peserta didik


tujuan khusus, tujuan institusional, dan secara maksimal." Tujuan ini terlalu
tujuan instruksional. umum dan tidak spesifik. Tidak ada
4. Kurang memperhatikan kebutuhan penjelasan mengenai potensi apa saja
masyarakat. yang ingin dikembangkan, serta
5. Keterbatasan sumber daya manusia bagaimana cara mengukur tingkat
(guru/tenaga pendidik) maupun sarana dan pengembangan potensi tersebut.
prasarana. d. Membentuk kepribadian Muslim yang
6. Adanya perbedaan perspektif dan tangguh." Konsep "kepribadian Muslim
pemahaman di antara para praktisi yang tangguh" sangat abstrak dan multi-
pendidikan, dan masyarakat mengenai tafsir. Tidak ada penjelasan yang jelas
tujuan PAI. mengenai aspek-aspek kepribadian
Untuk mengatasi problematika tersebut, yang dimaksud, serta indikator yang
diperlukan upaya yang komprehensif, seperti digunakan untuk menentukan seseorang
melibatkan berbagai pihak terkait, mengkaji memiliki kepribadian Muslim yang
secara mendalam perkembangan peserta didik tangguh.
dan kebutuhan masyarakat, serta memastikan 2. Kurang memperhatikan perkembangan
ketersediaan sumber daya yang memadai. peserta didik.
Berikut ini adalah beberapa contoh a. Tujuan PAI untuk tingkat Sekolah
prolematika penyusunan tujuan pembelajaran Dasar (SD): "Peserta didik dapat
PAI: memahami konsep tauhid, syariat, dan
1. Konsep tujuan yang terlalu umum atau akhlak secara mendalam sesuai dengan
abstrak. ajaran Islam." Tujuan ini kurang
a. Membentuk peserta didik yang beriman mempertimbangkan tahap
dan bertakwa kepada Allah SWT." perkembangan kognitif anak usia SD
Tujuan ini terlalu luas dan abstrak, yang masih berpikir konkret.
karena iman dan takwa merupakan Pemahaman konsep tauhid, syariat, dan
konsep yang kompleks dan multi- akhlak yang mendalam masih terlalu
dimensi. Tidak ada penjelasan yang abstrak bagi mereka.
spesifik mengenai aspek-aspek iman b. Tujuan PAI untuk tingkat Sekolah
dan takwa yang ingin dicapai, sehingga Menengah Pertama (SMP): "Peserta
sulit untuk diukur pencapaiannya. didik dapat menghafal dan memahami
b. Menjadikan peserta didik sebagai insan isi kandungan seluruh juz dalam Al-
kamil (manusia sempurna)." Konsep Qur'an." Tujuan ini terlalu tinggi dan
insan kamil juga sangat luas dan kurang realistis untuk tingkat SMP.
abstrak, sehingga tujuan ini menjadi Menghafal seluruh juz Al-Qur'an
kurang operasional. Tidak ada membutuhkan waktu dan kemampuan
penjelasan yang rinci mengenai kriteria yang cukup tinggi, sehingga kurang
atau indikator yang digunakan untuk sesuai dengan tahap perkembangan usia
menentukan seseorang telah menjadi remaja.
insan kamil. c. Tujuan PAI untuk Sekolah Menengah
Atas (SMA) di daerah perkotaan:

DOI: [Link] 543


Website: [Link]
Berajah Journal
Volume 4 Nomor 3 (2024)

"Peserta didik dapat mempraktikkan SIMPULAN


tata cara bermuamalah dalam kehidupan Dalam konteks pendidikan agama
pertanian dan peternakan." Tujuan ini Islam, kurikulum mengacu pada rancangan
kurang mempertimbangkan lingkungan tujuan pendidikan, materi, strategi
sosial budaya peserta didik di perkotaan pengajaran, dan alat evaluasi berdasarkan
yang umumnya jauh dari aktivitas keyakinan agama Islam. Karena sifatnya yang
pertanian dan peternakan. unik yang menekankan pada tujuan agama
d. Tujuan PAI untuk Perguruan Tinggi: dan moral, maka kurikulum pendidikan
"Mahasiswa dapat menghafal dan agama Islam dalam perspektif pendidikan
memahami surat-surat pendek dalam agama Islam berbeda dengan kurikulum pada
Al-Qur'an." Tujuan ini terlalu rendah umumnya. Kebutuhan, keinginan, dan
untuk tingkat Perguruan Tinggi. Pada harapan siswa serta masyarakat luas harus
usia mahasiswa, seharusnya tujuan PAI menjadi pertimbangan ketika
lebih diarahkan pada pendalaman dan mengembangkan tujuan kurikulum
pengamalan nilai-nilai Islam dalam pendidikan agama Islam.
kehidupan sehari-hari. Ada lima unsur yang dapat dijadikan
3. Kurangnya integrasi antara tujuan umum, landasan bagi yang akan menyusun tujuan
tujuan khusus, tujuan institusional, dan kurikulum, yaitu: tujuan pendidikan Islam,
tujuan instruksional. falsafah kebangsaan, strategi pembangunan,
a. Tujuan umum pembelajaran PAI di hakikat siswa, dan iptek. Kegiatan
sekolah adalah untuk membentuk siswa mengumpulkan tujuan kurikulum,
yang beriman dan bertakwa kepada mempraktikkannya, mengevaluasinya, dan
Allah SWT. Namun, tujuan khusus yang meningkatkannya menjadi lebih baik
ditetapkan hanya berfokus pada selanjutnya dicirikan sebagai pengembangan
penguasaan materi agama secara tujuan kurikulum. Konsep relevansi,
kognitif, tanpa memperhatikan aspek fleksibilitas, kontinuitas, efisiensi, dan
afektif dan psikomotorik. efektivitas semua harus diperhitungkan saat
b. Tujuan institusional sekolah adalah membuat tujuan kurikulum.
mencetak lulusan yang tidak hanya Dari pendapat para ahli dapat
cerdas secara akademis, tetapi juga disimpulkan bahwa problematika penyusunan
memiliki akhlak yang baik. Akan tetapi, tujuan PAI meliputi: Konsep tujuan yang
tujuan instruksional dalam terlalu umum atau abstrak, Kurang
pembelajaran PAI hanya menekankan memperhatikan perkembangan peserta didik,
pada penguasaan konsep-konsep Kurangnya integrasi antara tujuan umum,
agama, tanpa mengaitkannya dengan tujuan khusus, tujuan institusional, dan tujuan
pembentukan karakter dan akhlak instruksional, Kurang memperhatikan
siswa. kebutuhan masyarakat, dan keterbatasan
c. Tujuan khusus pembelajaran PAI sumber daya manusia (guru/tenaga pendidik)
adalah untuk memahami dan maupun sarana dan prasarana.
mengamalkan ajaran-ajaran Islam
dalam kehidupan sehari-hari. DAFTAR PUSTAKA
Achmad, B. (2014). Tipologi Filsafat
Pendidikan Islam dan

DOI: [Link] 544


Website: [Link]
Berajah Journal
Jurnal Pembelajaran dan Pengembangan Diri
ISSN (p): 2797-1805 | ISSN (e): 2797-1082

Implementasinya dalam Terpadu di Sekolah. Jurnal Al-Ibrah,


Pengembangan Kurikulum. Edukasi, 2(1), 60–87.
2(1), 55. Idi, A. (2007). Pengembangan Kurikulum.
Anas, Z. (2014). Hitam Putih Kurikulum Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
2013. Jakarta: AMP Press. Julaeha, S. (2019). Problematika Kurikulum
Aprilia, W. (2020). Organisasi dan Desain dan Pembelajaran Pendidikan Karakter.
Pengembangan Kurikulum. Islamika: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam,
Jurnal Keislaman Dan Ilmu Pendidikan, 7(2), 174.
2(2), 210.
Arifandi, A., Billah, M. E. M., & Suwardi.
(2022). Pengembangan Kurikulum
Pendidikan. Jurnal Pendidikan Dan
Kajian Aswaja, 8(1), 1–18.
Asmariani. (2014). Prinsip-Prinsip
Pengembangan Kurikulum Dalam
Perspektif Islam. Jurnal Al-Afkar, 3(2),
61.
Baderiah. (2018). Pengembangan
Kurikulum. Palopo: Lembaga Penerbit
Kampus IAIN Palopo.
Bisri, M. (2020). Komponen-Komponen dan
Model Pengembangan Kurikulum.
Prosiding Pascasarjana IAIN Kediri,
102.
Bustoni, A. A. (2010). Pengembangan
Kurikulum: Berdasarkan Isu dan
[Link]: Multi Kreasi
Satudelapan.
Hamalik, O. (2016). Dasar-Dasar
Pengembangan Kurikulum. Bandung:
Remaja Rosdakarya. Hamdan. (2009).
Pengembangan dan Pembinaan
Kurikulum: Teori dan Praktek
Kurikulum PAI. Banjarmasin.
Hamid, H. (2012). Pengembangan Kurikulum
Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka
Setia. Hanafi, M. (2014).
Pengembangan Kurikulum Perguruan
Tinggi Agama Islam. Islamuna, 1(2),
282.
Hasan, M. S. (2017). Pengembangan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam

DOI: [Link] 545


Website: [Link]
Berajah Journal
Volume 4 Nomor 3 (2024)

DOI: [Link] 546


Website: [Link]

Anda mungkin juga menyukai