MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila
Dan Kewarganegaraan (PPKn)
Guru Pengampu :
Bu Dwi Nopiyani,.S.H.
Diajukan Oleh :
WAFIQ DIQRA
PROGRAM KEJURUAN TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN
SMK ISLAM TERPADU MA’RIFA
Pasanggrahan Ds. Pusparaja Kec. Cigalontang Kab. Tasikmalaya
Prov. Jawa Barat
2024
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Alloh Subhanahu Wata’ala syukur saya pajatkan kepada-Nya karena
atas berkat dan karunia-Nya saya dapat Menyusun dan menyelesaikan makalah ini dan tak
mendapatkan halangan yang begitu berarti, sholawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada
sosok yang paling saya rindukan nabi Muhammad Shollallohu Alaihi Wasallam.
Makalah ini disusun tiada lain adalah untuk mengasah keterampilan dan ketajaman analisis
serta juga bertujuan untuk memenuhi tugas akhir semester pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila
dan Kewarganegaraan (PPKn) dalam program kejuruan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di
SMK Islam Terpadu Ma’rifa.
Terima kasih saya ucapkan kepada semua pihak yang telah mendukung dan memfasilitasi
hingga saya dapat Menyusun dan menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tentu, dalam
penyusunan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekeliruan untuk itu sangat saya harapkan
kritik dan saran yang dapat membangun kesempurnaan selayaknya ciptaan.
Cipakat, 03 Desember 2024
Penyusun
II
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................................II
DAFTAR ISI..........................................................................................................................................III
BAB I : PENDAHULUAN......................................................................................................................4
A. Latar Belakang.............................................................................................................................4
B. Rumusan Masalah........................................................................................................................4
C. Tujuan..........................................................................................................................................4
BAB II : PEMBAHASAN.......................................................................................................................5
A. Hakikat Perlindungan dan penegakan hukum.............................................................................5
B. Dasar Hukum Perlindungan dan Penegakan Hukum...................................................................6
C. Lembaga Penegak Hukum dan Fungsinya...................................................................................8
D. Dinamika Pelanggaran Hukum Di Indonesia............................................................................11
BAB III PENUTUP...............................................................................................................................14
A. Kesimpulan................................................................................................................................14
B. Daftar Pustaka............................................................................................................................15
III
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penegakan hukum adalah hal mutlak bagi negara dengan embel-embel negara hukum.
Selain itu penegakan hukum adalah faktor yang sangat krusial agar tujuan negara ini bisa
tercapai, sesuai dengan Alinea ke-4 dalam Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik
Indonesia tahun 1945.
Akibatnya segala sesuatu yang dilakukan di wilayah NKRI harus berlandaskan
hukum, oleh karena itu untuk terjaganya keadilan dan mengawasi sistematika dan dinamika
hukum yang berjalan haruslah dibentuk Lembaga peradilan sebagai media bagi masyarakat
untuk mencapai keadilan dan mendapatkan kesetaraan dimata hukum
B. Rumusan Masalah
1) Apakah hakikat perlindungan dan penegakan hukum di Indonesia?
2) Apakah dasar hukum perlindungan dan penegakan hukum di Indonesia?
3) Mengapa hukum harus ditegakan?
4) Apakah Lembaga penegak hukum yang berhak melindungi dan menegakkan hukum di
Indonesia?
5) Bagaimana peran Lembaga penegak hukum dalam menjamin keadilan dan kedamaian?
6) Bagaimana dinamika pelanggaran hukum?
C. Tujuan
Mengacu pada rumusan masalah tersebut tujuan yang diharapkan antara lain;
1) Memahami hakikat hukum, perlindungannya, dan penegakannya.
2) Memahami dasar hukum perlindungan dan penegakan hukum.
3) Memahami peran Lembaga penegak hukum.
4) Memahami dinamika pelanggaran hukum.
4
BAB II : PEMBAHASAN
A. Hakikat Perlindungan dan penegakan hukum
1. Perlindungan Hukum
menurut Soerjono Soekanto, perlindungan hukum pada dasarnya merupakan perlindungan yang
diberikan kepada subjek hukum dalam bentuk perangkat hukum.
Satjipto Rahardjo mengartikan perlindungan hukum adalah perlindungan terhadap kepentingan
seseorang dengan cara mengalokasikan kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka
kepentingannya tersebut. Adapun yang dimaksud dengan kekuasaan adalah hak, yaitu kekuasaan yang
hanya diberikan oleh hukum kepada seseorang.
Perlindungan hukum juga dapat diartikan sebagai upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat
penegak hukum yang memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik atas gangguan dan
berbagai ancaman dari pihak manapun.
Adapun, bentuk perlindungan hukum antara lain perlindungan hukum perdata, perlindungan
hukum konsumen, pelindungan data pribadi, dan lain sebagainya. Contoh perlindungan hukum
perdata dapat ditemukan dalam Pasal 1365 KUH Perdata.
Selanjutnya, perlindungan konsumen diatur dalam UU Perlindungan Konsumen. Arti
perlindungan konsumen sebagaimana termaktub di Pasal 1 Angka 1 UU Perlindungan
Konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan
kepada konsumen.
Lalu, yang dimaksud dengan pelindungan data pribadi adalah keseluruhan upaya untuk
melindungi data pribadi dalam rangkaian pemrosesan data pribadi guna menjamin hak konstitusional
subjek data pribadi.
2. Penegakan Hukum
Lalu, apa yang dimaksud dengan penegakan hukum di Indonesia? Pengertian penegakan
hukum menurut Jimly Asshiddiqie adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau
berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu lintas atau
hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Penegakan hukum dalam arti luas mencakup kegiatan untuk melaksanakan dan menerapkan
hukum serta melakukan tindakan hukum terhadap setiap pelanggaran atau penyimpangan hukum yang
dilakukan subjek hukum, baik melalui prosedur peradilan ataupun melalui prosedur non-
peradilan. Sedangkan dalam arti sempit penegakan hukum adalah penegakan peraturan yang formal
dan tertulis saja.
Menurut Satjipto Rahardjo, penegakan hukum adalah usaha untuk mewujudkan ide-ide atau
konsep-konsep yang abstrak menjadi kenyataan. Sementara itu, menurut Soerjono Soekanto,
penegakan hukum adalah kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam
kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah, serta sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran
nilai-nilai, untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup.
Untuk mewujudkan penegakan hukum di Indonesia, membutuhkan lembaga penegak
hukum. Apa saja yang termasuk dalam lembaga penegak hukum di Indonesia? Disarikan dari
artikel Apa Saja Lembaga Penegak Hukum di Indonesia? yang termasuk lembaga penegak hukum
antara lain kepolisian, Otoritas Jasa Keuangan, Mahkamah Konstitusi, Polisi Pamong Praja,
kejaksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan Mahkamah Agung.
[
5
Pada hakikatnya, semua oranag berhak mendapatkan perlindungan dari hukum dan hukum
wajib melindungi semua orang.
Hukum dapat melindungi seseorang, bila ditegakan. Dengan kata lain, perlindungan hukum
dapat ditempuh dengang menegakkan hukum. Apabila proses penegakan hukum berjalan maka
perlindungan hukum pun berjalan, begitupun sebaliknya, bagaimana bisa hukum melindungi
seseorang jika tidak ditegakan.
Bisa dikatakan, penegakan hukum adalah syarat agar perlindungan hukum bisa terwujud.
Kepentingan setiap orang akan terlindungi jika hukum yang mengaturnya dipatuhi dan dilaksanakan.
Misalnya, hak cipta seseorang akan dilindungi jika sesuai dengan undang-undang yang mengaturnya.
Begitupula kehidupan sehari hari dalam ruang lingkup keluarga, sekolah, dan bermasyarakat. -akan
dilindungi jika mereka melaksanakan tata tertib atau undanng undan yang berlaku.
B. Dasar Hukum Perlindungan dan Penegakan Hukum
Pasal 27 ayat (1) UUD 1945
“Segala warga negara ersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”
Penjelasan : Pasal ini menjelaskan kesetaraan dalam hukum dan kesetaraan dalam kewajiban mentaati
hukum, baik itu pemerintah atau rakyat biasa, baik itu ASN ataupun serabutan, kalimat ‘tidak ada
kecualinya’ menegaskan bahwa tidak ada yang dekecualikan, disisihkan, dibiarkan, dikambing-
hitamkan.
Pasal 28 ayat (1) UUD 1945
“setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama di hadapan hukum.”
Penjelasam : Pasal ini dapat dijalankan dengan ditegakannya supremasi hukum bagi tiap lapisan
masyarakat, agar tidak terjadi hukum yang menjadi pisau mata satu, seperti yang terjadi saat ini,
contohnya dalam kasus seorang ibu yang mencuri susu formula dan minyak kayu putih sempat
divonis 7 tahun penjara, bandingkan dengan kasus heru wahyudi, ketua DPRD kabupaten bengkalis
yang menjeratkan dirinya dalam kasus korupsi dana BANSOS sebesar Rp. 31 Milyar, atas kasus
tersebut si Heru hanya divonis satu tahun enam bulan penjara. Ini membuktikan belum tegaknya
supremasi hukum di negara ini yang menjunjung nama NEGERI HUKUM.
Pasal 24 ayat (1) UUD RI 1945
“Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan
guna menegakkan hukum dan keadilan”
Pasal 28 ayat (5) UUD RI 1945
“Untuk menegakkan dan melindunngi Hak Asasi Manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang
demokratis, maka pelaksanaan Hak asasi Manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan
perundang-undangan”
Pasal 30 ayat (4) UUD RI 1945
“Kepolisian Negara republic Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban
masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum”
6
C. Lembaga Penegak Hukum dan Fungsinya
1. Kepolisian
Kepolisian adalah lembaga yang bertugas utama dalam memelihara keamanan dan ketertiban
di dalam negeri. Mereka juga berperan sebagai penyidik dalam kasus-kasus pidana. Polisi memiliki
wewenang untuk menerima laporan tindak pidana, mencari bukti, melakukan penangkapan, dan
melakukan tindakan lain sesuai hukum. Selain itu, mereka dapat bertindak sebagai penyidik dan
memeriksa tersangka. Fungsinya antara lain;
1) Memelihara keamanan dan ketertiban di dalam negeri.
2) Menyelidiki dan menyidik tindak pidana.
3) Menerima laporan atau pengaduan tentang adanya tindak pidana.
4) Mencari keterangan dan barang bukti.
5) Menyuruh berhenti seorang yang dicurigai.
6) Melakukan tindakan lain sesuai dengan hukum yang berlaku.
Agar tercapainya tugas tersebut POLRI diberi wewenangsebagai berikut
1) menerima laporan dan/atau pengaduan;
2) membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban
umum;
3) mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat;
4) mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan
kesatuan bangsa;
5) mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan administratif kepolisian;
6) melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam rangka
pencegahan;
7) melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;
8) mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang;
9) mencari keterangan dan barang bukti;
10) menyelenggarakan Pusat Informasi Kriminal Nasional;
11) mengeluarkan surat izin dan/atau surat keterangan yang diperlukan dalam rangka pelayanan
masyarakat;
12) memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan pengadilan,
kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat; dan
13) menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu.
1. Kejaksaan
Kejaksaan adalah lembaga yang bertanggung jawab untuk melakukan penuntutan dalam
proses peradilan. Jaksa (penuntut umum) memiliki wewenang untuk menerima berkas perkara
penyidikan, membuat surat dakwaan, dan melimpahkan perkara ke pengadilan.
Mereka juga melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Kejaksaan tidak hanya berperan dalam kasus pidana, tetapi juga dalam bidang perdata, tata usaha
negara, dan memberikan pertimbangan hukum kepada instansi pemerintah lainnya. Tugasnya antara
lain;
1) Melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan.
2) Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan.
3) Membuat surat dakwaan.
4) Melimpahkan perkara ke pengadilan.
5) Menuntut pelaku perbuatan melanggar hukum.
[
7
6) Melaksanakan penetapan hakim.
Kejaksaan juga diberi wewenang agar tugasnya bisa dijalankan, antara lain;
a. Di bidang pidana:
1) melakukan penuntutan;
2) melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum Tetap;
3) melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat, putusan pidana
pengawasan, dan keputusan lepas bersyarat;
4) melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang; dan
5) melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan
sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan
penyidik.
b. Di bidang perdata dan tata usaha: kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak baik di
dalam maupun luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah.
c. Dalam bidang ketertiban umum, kejaksaan turut menyelenggarakan kegiatan:
1) peningkatan kesadaran hukum masyarakat;
2) pengamanan kebijakan penegakan hukum;
3) pengawasan peredaran barang cetakan;
4) pengawasan aliran kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan negara;
5) pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama; dan
6) penelitian dan pengembangan hukum serta statistik kriminal.
d. Dalam pemulihan aset, kejaksaan berwenang untuk melakukan kegiatan penelusuran,
perampasan, dan pengembalian aset perolehan tindak pidana dan aset lainnya kepada negara,
korban, atau orang yang berhak.
e. Dalam bidang intelijen penegakan hukum, kejaksaan berwenang untuk:
1) menyelenggarakan fungsi penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan untuk kepentingan
penegakan hukum;
2) menciptakan kondisi yang mendukung dan mengamankan pelaksanaan pembangunan;
3) melakukan kerja sama intelijen penegakan hukum dengan lembaga intelijen dan/atau
penyelenggara intelijen negara lainnya, di dalam maupun di luar negeri;
4) melaksanakan pencegahan korupsi, kolusi, dan nepotisme; dan
5) melaksanakan pengawasan multimedia
2. Kehakiman
Kehakiman adalah lembaga yang memiliki wewenang untuk mengadili perkara dan
memutuskan sengketa. Hakim, sebagai pejabat peradilan negara, memiliki tugas untuk menjalankan
peradilan dengan adil, jujur, dan tidak memihak.
Mereka memutuskan perkara berdasarkan hukum dan keadilan. Kehakima n berperan penting dalam
menegakkan hukum dan memastikan kepatuhan terhadap hukum materiil dengan menggunakan
prosedur hukum formal. Fungsinya antara lain;
1) Mengadili perkara pidana.
2) Menegakkan hukum dan keadilan.
3) Menerima, memeriksa, dan memutus perkara pidana.
4) Menjalankan peradilan berdasarkan asas bebas, jujur, dan tidak memihak.
8
5) Menyelenggarakan peradilan dengan merdeka dan tidak dipengaruhi oleh kekuasaan-
kekuasaan lain.
Wewenang hakim sebagaimana termaktub dalam UU 48/2009, adalah
1) Kekuasaan kehakiman dilaksanakan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang
berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,
lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah
Mahkamah Konstitusi.
2) Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-
undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang
lainnya yang diberikan oleh undang-undang.
3) Mahkamah Konstitusi berwenang untuk menguji undang-undang terhadap Undang- Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan memutus sengketa kewenangan lembaga
negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
4) Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai
wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat,
serta perilaku hakim.
3. Advokat
Advokat adalah para pengacara yang memiliki peran sebagai penegak hukum. Mereka
merupakan pihak yang berperan dalam memberikan bantuan hukum kepada individu atau
kelompok yang membutuhkan.
Advokat berstatus bebas dan mandiri yang dijamin oleh hukum dan peraturan perundang-
undangan. Mereka membantu dalam proses peradilan, memberikan nasihat hukum, dan mewakili
klien mereka di pengadilan. Tugasnya antara lain;
1) Memberikan nasihat hukum kepada masyarakat.
2) Mendampingi dalam proses hukum.
3) Memberikan bantuan hukum kepada mereka yang membutuhkannya.
Wewenang advokat antara lain;
1) Bebas mengeluarkan pendapat atau pernyataan dalam membela perkara dengan berpegang
pada kode etik profesi dan peraturan perundang-undangan;
2) Bebas dalam menjalankan tugas profesinya untuk membela perkara yang menjadi tanggung
jawabnya dengan tetap berpegang pada kode etik profesi dan peraturan perundang-undangan;
3) Advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan
profesinya dengan itikad baik untuk membela klien dalam sidang pengadilan;
4) Dalam menjalankan profesinya, advokat berhak memperoleh informasi, data, dan dokumen
lainnya yang berkaitan dengan kepentingan tersebut yang diperlukan untuk pembelaan
kepentingan kliennya sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
5) Advokat dilarang membedakan perlakuan terhadap klien berdasarkan jenis kelamin, agama,
politik, keturunan, ras, atau latar belakang sosial dan budaya;
6) Advokat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui atau diperoleh dari kliennya
karena hubungan profesinya;
9
7) Advokat berhak atas kerahasiaan hubungannya dengan klien, termasuk perlindungan atas
berkas dan dokumennya terhadap penyitaan atau pemeriksaan dan perlindungan terhadap
penyadapan atas komunikasi elektronik Advokat;
8) Advokat berhak menerima Honorarium atas Jasa Hukum yang telah diberikan kliennya; dan
9) Advokat wajib memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada pencari keadilan yang
tidak mampu.
D. Dinamika Pelanggaran Hukum Di Indonesia
Kehadiran hukum dalam Masyarakat merupakan sarana penting untuk membentuk
kesejahteraan sosial. Namun mengapa terjadi pelanggaran hukum?, Contoh, pelanggaran
hukum ini beragam, misal pencurian, judi , atau bahkan main hakim sendiri.
Dinamika pelanggaran hukum kerap dikaitkan dengan kemiskinan. Ekonomi digadang-
gadang menjadi penyebab utama maraknya pelanggaran hukum. Namun , berdasarkan
analisis yang dimuat di laman LIPI, kemiskinan bukanlah alasan utama.
Pasalnya, pelaku pelanggaran hukum bukan saja dari golongan bawah, tetapi sering
kali dijumpai pelanggaran yang dilakukan oleh orang orang menengah keatas bahkan oleh
orang orang kelas atas, seperti korupsi dan penggelapan atau pencucian uang, atas dasar inilah
pelanggaran hukum tidak bisa di sangkut-pautkan dengan keadaan ekonomi pelanggar itu
sendiri.
Terkait alasan pelanggaran hukum, umumnya pelanggaran hukum terjadi karena tiga
hal berikut.
1. Lemahnya penegakan hukum.
2. Pelanggaran dianggap sebagai hal biasa.
3. Rendahnya kepatuhan hukum dalam masyarakat.
4. Lemahnya penegakan hukum
Penegakan hukum di Indonesia masih lemah. Terkait lemahnya penegakkan hukum
ini, Juwono (dalam Santoyo, 2008:199) menerangkan 8 alasan lemahnya penegakan hukum di
Indonesia, yakni:
1. Masalah dalam pembuatan peraturan perundang-undangan;
2. Masyarakat mencari kemenangan bukan keadilan;
3. Uang mewarnai penegakan hukum;
4. Penegakan hukum sebagai komoditas politik sehingga menjadi diskriminatif;
5. Lemahnya sumber daya manusia;
6. Adanya advokat tahu hukum melawan advokat tahu koneksi;
7. Keterbatasan anggaran; dan
8. Penegakan hukum yang dipicu oleh media massa.
Alasan kedua mengapa terjadinya pelanggaran hukum adalah karena masyarakat
menganggap pelanggaran tersebut sebagai hal biasa atau bukan sesuatu yang salah.
Contohnya adalah tindak pidana main hakim sendiri.
Tindak pidana main hakim sendiri adalah bentuk pelanggaran hukum. Namun,
masyarakat kerap menganggap cara ini merupakan langkah membela “korban”. Main hakim
sendiri pun dianggap sebagai tindakan yang benar dalam memenuhi keadilan yang
dibutuhkan.
10
Alasan ketiga mengapa terjadinya pelanggaran hukum adalah karena kepatuhan
hukum dalam masyarakat masih rendah. Kepatuhan hukum adalah kesadaran akan hukum
yang membentuk rasa setia dalam masyarakat terhadap nilai-nilai hukum yang diberlakukan.
Dalam meningkatkan kepatuhan hukum, ada tiga cara yang dapat dilakukan, yakni:
1. represif: tindakan yang diberikan agar penegakan hukum dilaksanakan. Pelaksanaan tindakan
ini contohnya sebagaimana dilakukan aparat penegak hukum dalam proses penegak hukum,
yakni memerlukan pengawasan, baik internal maupun eksternal.
2. preventif: usaha untuk mencegah terjadinya pelanggaran-pelanggaran hukum atau
menurunnya kesadaran hukum.
3. persuasif: langkah mendorong atau memacu agar terciptanya kesadaran hukum yang erat
kaitannya dengan nilai-nilai hukum atau budaya hukum.
11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Hakikat Perlindungan Dan Penegakan Hukum
Perlindungan Hukum adalah perlindungan subjek hukum yang diberikan oleh perangkat hukum.
Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya
norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu lintas atau hubungan-
hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Perlindungan hukum dan penegakan hukum adalah dua hal yang saling berkaitan erat, karena
untuk mendapatkan perlindungan hukum maka hukum harus ditegakan, begitupula jika hukum ingin
tegak, harus mendapat perlindungan.
2. Dasar Hukum Perlindungan Dan Penegakan hukum
Pasal 27 ayat (1) UUD 1945
“Segala warga negara ersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”
Pasal 28 ayat (1) UUD 1945
“setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama di hadapan hukum.”
Pasal 24 ayat (1) UUD RI 1945
“Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan
guna menegakkan hukum dan keadilan”
Pasal 28 ayat (5) UUD RI 1945
“Untuk menegakkan dan melindunngi Hak Asasi Manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang
demokratis, maka pelaksanaan Hak asasi Manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan
perundang-undangan”
Pasal 30 ayat (4) UUD RI 1945
“Kepolisian Negara republic Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban
masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum”
3. Lembaga Penegak Hukum yang bertugas menegakkan hukum
a) Kepolisian
b) Kejaksaan
c) Kehakiman
d) Advokat
12
4. Dinamika Pelanggaran Hukum
Alasan lemahnya penegakan hukum di Indonesia, yakni:
1. Masalah dalam pembuatan peraturan perundang-undangan;
2. Masyarakat mencari kemenangan bukan keadilan;
3. Uang mewarnai penegakan hukum;
4. Penegakan hukum sebagai komoditas politik sehingga menjadi diskriminatif;
5. Lemahnya sumber daya manusia;
6. Adanya advokat tahu hukum melawan advokat tahu koneksi;
7. Keterbatasan anggaran; dan
8. Penegakan hukum yang dipicu oleh media massa.
Dalam meningkatkan kepatuhan hukum, ada tiga cara yang dapat dilakukan, yakni:
1. Represif
2. Preventif
3. Persuasif
B. Daftar Pustaka
[Link]
[Link]
hukum-global/
[Link]
%20penegak,Usaha%2C%20dan%20Badan%20Nasional%20Narkotika.
[Link]
%20sebenarnya%20lebih%20pada,%2C%20kepastian%20hukum%2C%20dan%20kemanfaatan.
[Link]
13