0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan15 halaman

Manajemen Poliarthralgia pada Pasien

Dokumen ini adalah lembar kerja CBL mahasiswa yang membahas kasus gangguan tulang dan sendi pada seorang pasien dengan poliarthralgia. Terdapat analisis mengenai masalah terkait obat yang digunakan, termasuk penggunaan obat yang tidak tepat dan dosis yang terlalu tinggi, serta rekomendasi terapi yang sesuai untuk mengatasi keluhan pasien. Penilaian asuhan kefarmasian mencakup pengelolaan nyeri, mual, anemia, dan pemantauan fungsi hati.

Diunggah oleh

kikiskristavia25
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan15 halaman

Manajemen Poliarthralgia pada Pasien

Dokumen ini adalah lembar kerja CBL mahasiswa yang membahas kasus gangguan tulang dan sendi pada seorang pasien dengan poliarthralgia. Terdapat analisis mengenai masalah terkait obat yang digunakan, termasuk penggunaan obat yang tidak tepat dan dosis yang terlalu tinggi, serta rekomendasi terapi yang sesuai untuk mengatasi keluhan pasien. Penilaian asuhan kefarmasian mencakup pengelolaan nyeri, mual, anemia, dan pemantauan fungsi hati.

Diunggah oleh

kikiskristavia25
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LEMBAR KERJA CBL MAHASISWA

LEMBAR KERJA CBL MAHASISWA


Kelompok/Kelas : 5/B
Nama Anggota :
1. Ivanna Susila (2308611078)
2. Safira Nur Syifa (2308611079)
3. Sita Udayanti (2308611080)
4. Ni Wayan Sukma Pramitha Sari (2308611081)
5. Sang Ayu Made Dwi Ariesta Putri (2308611082)
Hari, tanggal / CBL ke- : Rabu, 01 November 2023/ CBL ke-9
Topik : Gangguan Tulang dan Sendi

1. DRP yang Ditemukan pada Kasus


Drug Related Problem pada kasus di atas yaitu sebagai berikut:

Kelompok DRP DRP antara Kondisi Pasien dan Terapi yang


Diberikan

C1.3 Tidak ada indikasi Pasien memiliki keluhan mual, muntah, nyeri pada
untuk obat
sendi kiri seperti ditusuk-tusuk dan panas. Nyeri
Obat yang tidak perlu
(unnecessary drug) atau dirasakan mendadak. Pasien juga mengeluh
menerima obat tanpa indikasi
demam sebelum nyeri sendi. Omeprazole adalah
kelas obat PPI (proton pump inhibitor) yang
bekerja dengan memblok sekresi asam lambung
dengan menghambat hidrogen potasium adenosin
trifosfat di sel parietal lambung sehingga
memberikan efek penekanan asam lambung dalam
jangka panjang. Sedangkan sukralfat adalah
mukoprotektor yang bekerja dengan membentuk
lapisan pelindung dari produksi bikarbonat
sehingga melindungi ulser dari asam lambung
(Dipiro, 2012). Penggunaan kedua obat ini tidak
sesuai dengan indikasi karena pasien tidak ada
keluhan, data laboratorium, ataupun diagnosa yang
berhubungan dengan tukak lambung.

P1.3 Gejala atau indikasi Pasien memiliki keluhan mual dan muntah yang
yang tidak diobati belum ditangani. Namun, pasien belum
Membutuhkan obat namun mendapatkan terapi untuk gejala mual dan muntah
belum menerima terapi yang dirasakan. Oleh karena itu, pasien dapat
diberikan ondansetron sebanyak 1 x 16 mg per
oral (MIMS, 2023).
Selain dari keluhan pasien, data klinik dan hasil
laboratorium juga menunjukkan bahwa pasien
mengalami anemia atau kekurangan sel darah
merah karena hasil platelet count, hemoglobin,
MCV, dan MCH yang rendah. Hal ini juga yang
menyebabkan tensi dari pasien rendah. Oleh
karena itu, pasien memerlukan suplemen
penambah darah untuk mencegah anemia dan
kekurangan sel darah merah.

C3.2 Dosis obat terlalu Berdasarkan data laboratorium, pasien memiliki


tinggi
kadar SGOT dan SGPT lebih tinggi dari nilai
Dosis terlalu tinggi (dose too
high) rujukan yang dapat mengindikasikan adanya
gangguan pada fungsi hati. Kadar SGOT (140
µ/L) lebih tinggi hampir 4 x lipat dari nilai
rujukan (< 40 µ/L) dan kadar SGPT (64 µ/L) lebih
tinggi hampir 1 x lipat dari nilai rujukan (<
41µ/L). Jumlah parasetamol yang terlalu banyak
dapat mengakibatkan kerusakan hati karena
metabolisme obat ini terjadi di hati. Parasetamol
melalui jalur glutation akan diubah menjadi
metabolitnya, NAPQI (N-Acetyl-p-
benzoquinomine), yang dalam jumlah banyak
bersifat toksik sehingga merusak organ hati.
(Peningkatan kadar SGOT dan SPOT umumnya
terjadi 24 jam sampai 72 jam setelah pemberian
parasetamol (LiverTox, 2016). Oleh karena itu,
perlu dilakukan penurunan dosis paracetamol
dimulai dari dosis lazim terkecilnya, yaitu 3 x 500
mg sehari dan tidak melebih 2.000 mg per hari
(Medscape, 2023). Jika suhu tubuh pasien sudah
normal, maka pemberian parasetamol dapat
dihentikan.

Drug Related Problem pada kasus di atas yaitu sebagai berikut:


a. Membutuhkan obat namun belum menerima terapi
- Pasien mengeluhkan mual dan muntah sehingga perlu diberikan
ondansetron sebagai obat mual muntah
- Pasien mengalami anemia sehingga perlu diberikan suplemen
penambah darah yaitu sangobion yang mengandung B6, B12, asam
folat dan zat besi
b. Menerima obat tanpa indikasi
Pasien memperoleh omeprazole dan sukralfat. penggunaan kedua obat ini
harus dihentikan karena tidak tepat indikasi.
c. Dosis Obat terlalu tinggi
Pada kasus kadar SGOT, SGPT pasien melebihi ambang batas sehingga
penggunaan obat paracetamol perlu dikurangi dosisnya menjadi 3x500 mg.
2. Catatan Asuhan Kefarmasian
1. Problem medik (keluhan):
Pasien mengeluh mual, muntah, nyeri pada sendi kiri sejak sejak 6 hari yang
lalu, keluhan nyeri sendi dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan panas. Nyeri
dirasakan berat dan mendadak. Sebelumnya pasien mengeluh demam
sebelum nyeri sendi.

2. Diagnosis:
Pasien didiagnosis oleh dokter mengalami Poliarthralgia.

3. Assessment Pasien:
Subjektif (S):
- Nama pasien : Tn B
- Jenis kelamin : laki-laki
- Usia : 32 tahun 2 bulan 16 hari

Objektif (O):
● Suhu : 36,6℃ (normal)
● Nadi : 101 x/menit
● RR : 20x/min
● TD : 100//60 mmHg (rendah)
● Skala Nyeri : 7 (akut)
● SpO2 : 99%
● Memiliki riwayat alergi obat ampicilin
● Memiliki riwayat penyakit terdahulu nyeri sendi
● Mengkonsumsi obat herbal Sendifit

Assessment (A):
Poliarthralgia dapat didefinisikan sebagai nyeri yang terjadi pada
beberapa sendi. Kondisi ini sering terkait dengan penyakit seperti sinovitis,
enthesitis, akumulasi kristal asam urat, arthritis yang disebabkan oleh
infeksi, dan masalah struktural atau mekanik. Poliarthralgia bisa muncul
karena berbagai penyebab, mulai dari infeksi virus hingga penyakit kronis.
Gejala poliarthralgia melibatkan nyeri pada beberapa sendi di tubuh.
Beberapa gejala umum yang dapat terjadi termasuk nyeri sendi atau
ketidaknyamanan yang dapat muncul pada beberapa sendi di seluruh tubuh
biasanya lebih dari lima sendi yang tentunya mampu mengakibatkan
terjadinya keterbatasan dalam pergerakan sendi, kekakuan, kemerahan dan
pembengkakan (Burstein, 2007). Gejala lain yang dapat terjadi yaitu adanya
rasa kesemutan atau sensasi tidak biasa lainnya dan sensasi terbakar di
pergelangan tangan. Gejala penyerta lainnya bisa disertai juga dengan
seperti demam, kelelahan, penurunan berat badan, atau gejala penyakit lain
yang mendasarinya. Adapun faktor risiko dari poliartralgia yaitu mengalami
obesitas atau obesitas karena kelebihan berat badan dapat menambah beban
pada persendian, memiliki riwayat cedera sendi atau operasi, bertambahnya
usia, mengerjakan pekerjaan yang menuntut fisik yang membuat persendian
berisiko digunakan secara berlebihan, dan memiliki riwayat keluarga
dengan kondisi apapun yang memengaruhi persendian.
Berdasarkan kasus di atas, pasien mengeluh mual, muntah, nyeri pada
sendi kiri sejak sejak 6 hari yang lalu, keluhan nyeri sendi dirasakan seperti
ditusuk-tusuk dan panas, nyeri dirasakan berat dan mendadak. Sebelumnya
pasien mengeluh demam sebelum nyeri sendi. Nyeri sendi merupakan
manifestasi klinis yang mengganggu pada daerah persendian sehingga
mengakibatkan terganggunya fungsi tubuh penderita. Pada umumnya nyeri
sendi ini membuat penderita merasa tidak nyaman apabila persendian
disentuh, tampak pembengkakan, peradangan, kekakuan hingga pergerakan
terbatas (Muchlis dan Ernawati, 2021). Nyeri sendi ditandai dengan adanya
pembengkakan pada sendi, adanya kemerahan, terasa panas, nyeri akan
mengakibatkan terjadinya gangguan pada sistem gerak (Malo dkk., 2019).
Tujuan dari manajemen tatalaksana poliartralgia antara lain mengurangi rasa
nyeri yang dirasakan, meningkatkan fungsi bagian tubuh yang sakit, dan
meningkatkan kualitas hidup.
Penilaian Penggunaan Obat dan Keluhan Pasien
a. Terapi Pengatasan Nyeri Poliarthralgia
Pengatasan poliarthralgia atau poliarthritis pada kasus sudah tepat,
yaitu dengan memberikan terapi golongan obat NSAID dengan
ketorolac IV. Menurut guideline ACR, ketorolac injeksi dianggap tepat
untuk manajemen gejala nyeri (Ringold et al., 2019). Dosis pemberian
ketorolac IV berdasarkan pustaka adalah dosis tunggal 30 mg atau dosis
30 mg yang digunakan setiap 6 jam tetapi tidak melebihi 120mg
perharinya. Pada kasus pemberian ketorolac IV sudah tepat sebanyak 3
kali dalam waktu 24 jam, tetapi kekuatan dosis ketorolac IV belum
disampaikan.
Pada kasus, pasien juga diberikan obat lain yang sama golongan
NSAID, yaitu natrium diklofenak oral 50 mg yang diberikan saat pasien
telah berada di ruang rawat inap. Natrium diklofenak
dikontraindikasikan pada pasien yang menggunakan NSAID lain seperti
ketorolac bila digunakan secara bersamaan sebab akan meningkatkan
toksisitas melalui interaksi sinergis farmakodinamik, meningkatkan
koagulasi, dan meningkatkan serum potassium. Namun, pada kasus
ketorolac diinjeksikan secara IV, kemudian setelah 6 jam diberikan Na
diklofenak oral sehingga sudah tepat diberikan untuk pasien. Dosis Na
diklofenak oral adalah 75-150 mg sehari dalam dosis terbagi (MIMS,
2023). Dengan demikian, pemberian dosis Na diklofenak pada kasus
sudah tepat dosis.
Penggunaan obat eperisone oral diindikasikan untuk pengatasan
nyeri akut pasien dan sebagai pelemas otot atau muscle relaxant.
Kombinasi eperisone dengan golongan NSAID secara efektif dapat
mengurangi rasa nyeri pada pasien nyeri akut non spesifik dan kejang
otot (Pinzon et al., 2020). Pemberian eperisone oral sudah tepat sebagai
kombinasi NSAID ketorolac. Dosis pemberian eperisone berdasarkan
pustaka, yaitu 50 mg yang dapat digunakan hingga 3 kali dalam 24 jam
dan dapat disesuaikan pada pasien tertentu, seperti pasien yang telah
menerima obat pereda nyeri lain. Penggunaan eperisone sudah tepat
dosis pada kasus.
Pemberian Amitriptilin diindikasikan sebagai pengatasan neuropatic
pain atau nyeri saraf. Pasien dengan arthritis memiliki sekitar 50%
kemungkinan terkena neuropati perifer (Kasper et al., 2015). Dengan
demikian, pemberian amitriptilin sudah tepat indikasi sebagai terapi
suportif untuk keluhan nyeri pasien. Dosis amitriptilin berdasarkan
pustaka adalah 10-25 mg sehari (MIMS, 2023). Berdasarkan kasus,
amitriptilin sudah tepat dosis diberikan sebanyak 2 kali 12,5mg setiap
12 jam.
b. Penggunaan Obat Parasetamol dan Potensi Gangguan Hati
Pasien mengeluhkan demam, maka pada kasus pasien diberikan
parasetamol 1000mg pada waktu yang bersamaan dengan pemberian
ketorolac IV. Tidak ada interaksi yang ditimbulkan dari pemberian
kedua obat ini secara bersamaan (Medscape, 2023). Namun, dosis
pemberian parasetamol pada kasus belum tepat dosis karena terlalu
tinggi, yaitu 3x1000 mg sehingga perlu diturunkan menjadi 500 mg.
Hal ini dicurigai parasetamol menyebabkan abnormalitas pada nilai
SGOT dan SGPT pasien pada pemeriksaan pasien di hari berikutnya.
Konsumsi parasetamol dosis tinggi akan menyebabkan metabolit
NAPQI terbentuk sehingga menyebabkan hepatosit rentan terhadap
kerusakan. Indikasi klinis kerusakan hati dapat muncul dalam 2 hingga
4 hari (Shah and Gada, 2018).
Dosis parasetamol berdasarkan pustaka adalah 500-1000 mg dalam
4-6 jam sehari (MIMS, 2023). Dosis yang diberikan berdasarkan kasus
cukup tinggi yang berpotensi menyebabkan gangguan hati. Dengan
demikian, diperlukan penurunan dosis parasetamol untuk demam
menjadi 500mg. Namun, pada kasus demam pasien sudah menurun dan
suhu tubuh pasien normal sehingga penggunaan parasetamol harus
dihentikan penggunaannya sebab potensi kerusakan hati tersebut.
Pada kasus, pasien juga diberikan tablet Curcuma. Curcuma atau
kurkumin diindikasikan sebagai suplemen terapi pemeliharaan hati.
Kurkumin berperan dalam mencegah perkembangan kerusakan hati
dalam berbagai penyakit dengan mencegah peradangan dan fibrosis
(Buonomo et al., 2019). Dosis Curcuma yang dapat diberikan hingga 3
kali 1 tablet sehari (Hellosehat, 2023). Dengan demikian, pemberian
Curcuma pada pasien berdasarkan kasus sudah tepat indikasi dan dosis.
c. Pemberian Omeprazole dan Sukralfat
Omeprazole dan Sukralfat diindikasikan kepada pasien yang
mengalami gangguan lambung seperti tukak lambung. Berdasarkan
kasus, pasien tidak mengalami keluhan terkait dengan masalah
pencernaan khususnya lambung. Omeprazole IV diindikasikan untuk
tukak lambung, tukak duodenum dan refluks esofagitis. Sedangkan
sukralfat diindikasikan untuk pasien yang menggunakan NSAID oral.
Namun, pada kasus, sukralfat tidak tepat waktu diberikan karena pasien
belum menerima NSAID oral. Maka, dapat disimpulkan pemberian
omeprazole dan sukralfat tidak tepat indikasi pada pasien.
d. Keluhan Mual dan Muntah
Pasien mengeluh mual dan muntah tetap tidak ada keluhan masalah
pencernaan lain. Maka dari itu, diperlukan penatalaksanaan terapi mual
dan muntah untuk pasien, seperti ondansetron. Namun, penggunaan
ondansetron dan amitriptilin tidak boleh bersamaan karena berpotensi
menimbulkan peningkatan toksisitas dan interval QTc (Medscape,
2023).
e. Pasien Mengalami Anemia
Hasil pemeriksaan pasien berdasarkan data laboratorium pada kasus
menunjukkan bahwa nilai Hb, MCV, MCH, dan MCHC pasien
abnormal yang menunjukkan indikasi anemia. Nilai Hb pasien rendah
menunjukkan bahwa tingkat Hb yang rendah menyebabkan kurangnya
pengangkutan O2 di dalam tubuh. Nilai mean corpuscular volume
(MCV) pasien rendah berarti bahwa sel darah merah pasien lebih kecil
dari biasanya dan dapat mengindikasikan anemia mikrositik. Nilai mean
corpuscular hemoglobin (MCH) pasien rendah dapat terjadi karena
pasien mengalami kekurangan zat besi. Di samping itu, nilai mean
corpuscular hemoglobin concentration (MCHC) pasien lebih tinggi dari
nilai rujukan. Nilai MCHC tinggi mengindikasikan anemia hiperkromik
disebabkan oleh sferositosis, yaitu kondisi tubuh membentuk sel darah
merah abnormal atau aglutinasi sel darah merah (Cook, 2022).
Pada kasus, pasien juga mengalami tekanan darah rendah yang dapat
disebabkan oleh kondisi anemia pasien. Namun, indikasi anemia pada
pasien ini belum teratasi. Maka dari itu, diperlukan terapi suplemen
penambah darah khususnya yang mengandung komponen zat besi serta
vitamin B6 dan B12 yang terlibat dalam produksi sel darah merah.
4. Planning (P):
- Rekomendasi terapi non-farmakologi:
1. Melakukan kompres hangat secara rutin mampu memberikan efek
terhadap penurunan nyeri sendi. Hal ini karena kompres hangat pada
permukaan tubuh dapat memperbaiki fleksibilitas tendon dan
ligamen, mengurangi spasme otot, meredakan nyeri, meningkatkan
aliran darah dan metabolisme (Kurniasih dkk., 2021).
2. Merubah gaya hidup seperti menurunkan berat badan hingga ideal,
diet rendah purin, meningkatkan konsumsi produk susu rendah
lemak, menghindari alkohol, serta melakukan aktivitas fisik sedang
secara teratur (Toto dan Nababan, 2023).
3. Relaksasi adalah metode yang dilakukan melalui latihan pernafasan
dengan prinsip dapat mengurangi nyeri dengan cara mengurangi
sensasi nyeri dan mengontrol intensitas reaksi terhadap nyeri.
Relaksasi dapat dilakukan dengan cara menciptakan lingkungan
yang tenang, menentukan posisi yang nyaman, konsentrasi pada
suatu obyek atau bayangan visual, dan melepaskan ketegangan
(Mayasari, 2016).
4. Pengobatan komplementer seperti terapi akupuntur telah terbukti
menjadi pengobatan yang aman dan menghasilkan efek dalam hal
mengurangi rasa sakit, peradangan, dan kekakuan dalam jangka
pendek maupun menengah (Dewi, 2011).

- Rekomendasi terapi farmakologi:


a. Terapi farmakologi yang dapat diberikan pada pasien poliarthralgia
atau polyarthritis adalah ketorolac IV yang digunakan untuk
mengatasi nyeri akut pada pasien. Ketorolac IV diberikan kepada
pasien berupa dosis tunggal 30 mg atau dosis 30 mg yang digunakan
setiap 6 jam dengan maksimal 120 mg perharinya.
b. Pasien melanjutkan terapi amitriptilin dengan dosis 2x12,5 mg
sebagai terapi nyeri saraf.
c. Pasien melanjutkan terapi eperison dengan dosis 2 x 50 mg.
Pemberian eperison ini digunakan sebagai pereda nyeri akut pasien
pada pasien dan sebagai pelemas otot.
d. Pasien diberikan curcuma sebagai suplemen sendi yang efektif untuk
mengatasi masalah kesehatan dan nyeri sendi pasien. Dosis yang
diberikan yaitu 2x1 tablet.
e. Pasien melanjutkan terapi paracetamol dengan dosis 3x500 mg
untuk menurunkan demam. Apabila demam sudah turun, hentikan
penggunaan paracetamol.
f. Pasien melanjutkan terapi dengan natrium diklofenak. Dosis natrium
diklofenak untuk mengatasi nyeri sendi 2 x 50 mg.
g. Pasien diberikan ondansetron untuk mengatasi mual dan muntah
yang dialami oleh pasien dengan dosis
h. Pasien diberikan tambahan terapi sangobion sebanyak 1x sehari
sebagai suplemen penambah darah.

- Rencana konseling, informasi, dan edukasi:


Rencana konseling, informasi, dan edukasi yang dapat disampaikan
kepada pasien yang sedang dirawat inap adalah terkait dengan
penggunaan terapi farmakologi obat dan non farmakologi. Edukasi dan
informasi sebaiknya didiskusikan bersama dengan tenaga kesehatan lain
terkait dengan penatalaksanaan kondisi pasien hingga pasien mengalami
peningkatan kondisi kesehatan.
a. Pasien diedukasi terkait dengan penggunaan obat oral yang meliputi
obat amitriptilin, eperison, curcuma, dan Na diklofenak. Penggunaan
obat-obatan tersebut sudah berada di bawah pengawasan tenaga
kesehatan sebab pasien berada di rumah sakit di samping
penggunaan obat IV. Dengan demikian, pasien diberikan edukasi
untuk mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan.
b. Pasien diedukasi untuk menjaga pola makan sesuai dengan anjuran
makan bergizi di rumah sakit. Pasien dilarang mengonsumsi
makanan lain yang berpotensi berinteraksi dengan penggunaan
obat-obatan.
c. Pasien diedukasi terkait dengan terapi posthospitalized yang
memungkinkan, seperti penggunaan obat NSAID Na diklofenak oral
jangka panjang harus dihindari sebab akan menimbulkan masalah
gangguan pencernaan. Di samping itu, edukasi pasca rawat inap
adalah penjagaan kondisi tubuh pasien untuk beristirahat dengan
cukup dan peregangan ringan untuk memastikan nyeri sendi tidak
kambuh kembali.
- Rencana monitoring efek terapi & efek samping:
● Tujuan monitoring
Pemantauan terapi obat (PTO) merujuk pada serangkaian kegiatan
yang dilakukan dalam rangka:
a. Memastikan regimen terapi yang diberikan kepada pasien sudah
sesuai dan selaras dengan apa yang diadministrasikan oleh
perawat dan dokter.
b. Memastikan pasien patuh dalam menjalankan terapi.
c. Memastikan terapi berjalan dengan optimal untuk mencapai
tujuan terapi obat
d. Memastikan pasien tidak mengalami efek samping yang tidak
diinginkan
PTO bertujuan untuk meningkatkan tingkat keberhasilan terapi obat
dan pada saat yang sama mengurangi risiko munculnya reaksi obat
yang tidak dikehendaki (ROTD).
(Fajarini, 2018).
● Parameter monitoring
a. Kepatuhan Penggunaan Obat
Kepatuhan dalam minum obat merupakan aspek utama dalam
menangani penyakit-penyakit kronis. Kepatuhan dalam
mengkonsumsi obat harian menjadi fokus dalam tercapainya
derajat kesehatan pasien, seperti perilaku pasien dalam
mengikuti dan mentaati perencanaan terapi yang telah
disepakati.
b. Monitoring Efek Samping Obat
Beberapa obat yang diresepkan memiliki efek samping yang
berbeda-beda untuk setiap individu, sehingga dalam
menjalankan terapi, perlu dilakukan evaluasi terdapat efek
samping yang dialami pasien untuk mencegah terjadinya efek
samping yang tidak diinginkan.
c. Pemantauan Skala Nyeri
Skala nyeri yang dialami oleh pasien perlu dilakukan
pemantauan untuk menilai sejauh mana terapi obat sudah
berhasil dalam mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri.
5. Pencatatan dan Pelaporan:
Dokumen Pencatatan:
a. Catatan riwayat medis
- Riwayat keluhan utama
Pasien berusia 32 tahun didiagnosa oleh dokter mengalami
polyarthralgia dengan keluhan mual, muntah, nyeri pada sendi kiri
sejak 6 hari yang lalu, keluhan nyeri sendi dirasakan seperti
ditusuk-tusuk dan panas. Selain itu, nyeri dirasakan berat dan
mendadak. Sebelumnya pasien mengeluh demam sebelum nyeri
sendi
- Riwayat medis sebelumnya dan alergi
Pasien memiliki riwayat alergi obat ampicilin dan pasien
mengkonsumsi obat herbal Sendifit.
b. Catatan pemeriksaan fisik
- Suhu : 36,6℃
- Nadi : 101x/min
- RR : 20x/menit
- TD : 100/60 mmHg
- SpO2 : 99%
c. Catatan Kemajuan
Catatan perkembangan kondisi pasien setelah pemberian terapi atau
pengobatan.
d. Catatan Rencana Tindak Lanjut
Rencana untuk kunjungan berikutnya, pengawasan atau pemantauan
pasien.
Dokumen Pelaporan
a. Laporan kejadian seperti adanya reaksi obat yang tidak diharapkan dan
tidak diprediksi
b. Dokumen pemantauan jangka panjang, yaitu catatan dan laporan berkala
tentang kondisi pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Buonomo, A. R., Scotto, R., Nappa, S., Arcopinto, M., Salzano, A., Marra, A. M., et al.
2019. The role of curcumin in liver diseases. Archives of Medical Science. 15(6):
1608-1620.
Burstein, H. J. 2007. Aromatase inhibitor-associated arthralgia syndrome. The Breast. 16(3):
223-234.
Cook, S. 2022. Increased Mean Cell Hemoglobin Concentration. Clinical Chemistry. 68(6):
861-862.
Dewi, K. 2011. Akupunktur Sebagai Terapi Pada Frozen Shoulder. Maranatha Journal of
Medicine and Health. 11(1): 151827.
DiPiro, J.T., Wells, B.G., Schwinghammer, T.L., et al DiPiro, C.V. 2012. Pharmacotherapy
Handbook. Ninth Edition. New York: McGraw Hill Education.
Ekayamti, E. 2021. Terapi Non Farmakologi Sebagai Bentuk Swamedikasi Lansia Dalam
Manajemen Nyeri Osteoartritis: Non-Pharmacological Therapy: Elderly Swamedication
In Osteoarthritis Pain Management. Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan. 7(2):
119-126.
Fajarini, H. 2018. Implementasi Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 73 tahun 2016 Tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Parapemikir: Jurnal Ilmiah Farmasi. 7(2):
260-269.
Hellosehat. 2023. Curcuma FTC Tablet. Tersedia pada:
[Link] Diakses pada 1 November
2023.
Kasper, D., Fauci, A., Hauser, S., Longo, D., Jameson, J., and Loscalzo, J. 2015. Harrison's
principles of internal medicine, 19e (Vol. 1, No. 2). New York, NY, USA:: Mcgraw-hill.
LiverTox. 2016. LiverTox: Clinical and Research Information on Drug-Induced Liver Injury
[Internet]. Tersedia pada situs internet:
[Link] Diakses pada 1 November 2023.
Malo, Y., Ariani, N. L., dan Yasin, D. D. F. 2019. Pengaruh senam ergonomis terhadap skala
nyeri sendi pada lansia wanita. Nursing News: Jurnal Ilmiah Keperawatan.
4(1):190-199.
Mayasari, C. D. 2016. Pentingnya pemahaman manajemen nyeri non farmakologi bagi
seorang perawat. Wawasan Kesehatan. 1(1): 35-42.
Medscape. 2023. Acetaminophen (OTC). Diakses melalui:
[Link] Diakses pada 1
November 2023.
Medscape. 2023. Interaksi Obat. Diakses melalui:
[Link] Diakses pada 1 November
2023.
MIMS. 2023. Amitriptyline. Tersedia pada:
[Link] Diakses pada
1 November 2023.
MIMS. 2023. Diclofenac Sodium. Tersedia pada:
[Link] Diakses pada 1
November 2023.
MIMS. 2023. Ondansetron. Tersedia pada:
[Link] Diakses pada
tanggal 01 November 2023.
MIMS. 2023. Parasetamol. Tersedia pada:
[Link] Diakses pada
1 November 2023.
Muchlis, M. R. dan Ernawati, E. 2021. Efektivitas pemberian terapi kompres hangat jahe
merah untuk mengurangi nyeri sendi pada lansia. Ners Muda. 2(3): 165-173.
Pinzon, R. T., Wijaya, V. O., Paramitha, D., & Bagaskara, R. R. 2020. Effects of Eperisone
Hydrochloride and Non-Steroid Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs) for Acute
Non-Specific Back Pain with Muscle Spasm: A Prospective, Open-Label Study. Drug,
Healthcare and Patient Safety, 221-228.
Ringold, S., Angeles‐Han, S. T., Beukelman, T., Lovell, D., Cuello, C. A., Becker, M. L., et
al. 2019. 2019 American College of Rheumatology/Arthritis Foundation guideline for
the treatment of juvenile idiopathic arthritis: therapeutic approaches for non‐systemic
polyarthritis, sacroiliitis, and enthesitis. Arthritis Care & Research. 71(6): 717-734.
Shah, I., & Gada, P. 2018. Acute Liver Failure due to acetaminophen toxicity-How to treat?.
Pediatric Oncall Journal. 15(1): 28-28.
Toto, E. M. dan Nababan, S. 2023. Penerapan Terapi Non-Farmakologis Mengurangi Nyeri
dan Menurunkan Kadar Asam Urat Lansia Gout Arthritis. Ners Muda. 4(1): 13-19.

Anda mungkin juga menyukai