0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan17 halaman

Eperisone dan Natrium Diklofenak dalam Terapi

Dokumen ini adalah lembar kerja CBL mahasiswa yang berisi informasi tentang kasus medis pasien dengan gangguan tulang dan sendi, termasuk diagnosis, masalah terkait obat, dan terapi yang diberikan. Terdapat analisis mengenai efek samping potensial dari obat-obatan yang diresepkan serta hasil pemeriksaan laboratorium pasien. Pasien mengalami poliarthralgia dengan beberapa hasil laboratorium yang tidak normal, menunjukkan adanya masalah kesehatan yang perlu ditangani.

Diunggah oleh

kikiskristavia25
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan17 halaman

Eperisone dan Natrium Diklofenak dalam Terapi

Dokumen ini adalah lembar kerja CBL mahasiswa yang berisi informasi tentang kasus medis pasien dengan gangguan tulang dan sendi, termasuk diagnosis, masalah terkait obat, dan terapi yang diberikan. Terdapat analisis mengenai efek samping potensial dari obat-obatan yang diresepkan serta hasil pemeriksaan laboratorium pasien. Pasien mengalami poliarthralgia dengan beberapa hasil laboratorium yang tidak normal, menunjukkan adanya masalah kesehatan yang perlu ditangani.

Diunggah oleh

kikiskristavia25
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LEMBAR KERJA CBL MAHASISWA

LEMBAR KERJA CBL MAHASISWA

Kelompok/Kelas : 4B

Nama Anggota :

1. Ni Ketut Sri Anggreni (2308611073)

2. Dewa Gede Wahyu Nuryatama (2308611074)

3. Fiorenza Jocelyn Thelmalina (2308611075)

4. Ni Putu Dinda Mirayanti (2308611076)

5. Gabriel Quentin (2308611073)

Hari, tanggal / CBL ke- : Rabu, 1 November 2023

Topik : Gangguan Tulang dan Sendi


1. DRP yang Ditemukan pada Kasus

Problem Medik/ Obat Drug Related Problem Keterangan


Indikasi
Nyeri Ketorolac IV • P2.1 Kejadian obat • Ketorolac merupakan NSAID yang dipromosikan untuk digunakan
yang mungkin secara sistemik terutama sebagai analgesik (Katzung et al., 2012).
merugikan terjadi. Ketolorac IV diberikan kepada pasien untuk mengatasi nyeri sangat
• C1.6 Terlalu banyak berat dengan segera sehingga ketika derajat nyeri turun penggunaan
obat/bahan aktif yang ketolorac dihentikan dan digantikan penggunaannya dengan
diresepkan untuk natrium diklofenak.
indikasi • Ketorolac IV pada pasien dewasa adalah sebanyak 10-30 mg setiap
4-6 jam sesuai kebutuhan mg dengan dosis maksimal perhari 90 mg.
Pada kasus tidak disebutkan berapa dosis ketorolac IV yang
diberikan. Berdasarkan MIMS (2023) durasi pengobatan maksimal
ketorolac 2 hari. Pada kasus pengobatan ketorolac sudah tepat
selama 2 hari (MIMS, 2023).
• Penggunaan Ketorolac IV yang termasuk ke dalam golongn NSAID
tidak dianjurkan karena bukti terbaru menunjukkan bahwa
pemberian analgesik kombinasi dosis tinggi yang kronis secara
signifikan meningkatkan risiko nefropati analgesik, nekrosis papiler
ginjal, penyakit ginjal stadium akhir, dan kanker ginjal. atau
kandung kemih (Drugbank, 2023).
Natrium Diklofenac • P2.1 Kejadian obat • Natrium diklofenak merupakan obat golongan Anti Inflamasi Non-
2x 50 mg yang mungkin Steroid (OAINS) selektif atau inhibitor selektif siklooksigenase2
merugikan terjadi. (COX-2). NSAID memiliki sifat analgesik dan anti-inflamasi
• C1.6 Terlalu banyak (Katzung et al., 2012).
obat/bahan aktif yang
diresepkan untuk • Penggunaan Natrium Diklofenak dan Eperisone dapat
indikasi menyebabkan hiperkalemia. Hiperkalemia terjadi melalui berbagai
mekanisme yang mengganggu homeostasis kalium, seperti
gangguan sekresi kalium atau perubahan serapan kalium oleh
sel.2,3 Hiperkalemia akibat obat dapat dikaitkan dengan timbulnya
tindakan, gejala, dan tingkat keparahan yang bervariasi (Drugbank,
2023).
Paracetamol 3x1000 • P2.1 Kejadian obat • Penggunaan analgesik dosis yang termasuk ke dalam golongn
mg yang mungkin NSAID tidak dianjurkan karena bukti terbaru menunjukkan bahwa
merugikan terjadi. pemberian analgesik kombinasi dosis tinggi yang kronis secara
• C1.6 Terlalu banyak signifikan meningkatkan risiko nefropati analgesik, nekrosis papiler
obat/bahan aktif yang ginjal, penyakit ginjal stadium akhir, dan kanker ginjal. atau
diresepkan untuk kandung kemih (Drugbank, 2023).
indikasi • Parasetamol dapat meningkatkan kejadian hepatotoksisitas saat
penggunaan dosis maksimum dalam sehari (3-4 gram) karena pada
dosis ini jendela terapi parasetamol menjadi sempit (Dipiro, 2020).

Pelemas Otot Eperison 2x 50 mg • P2.1 Kejadian obat • Penggunaan Eperisone dan Natrium Diklofenak dapat menyebabkan
yang mungkin hiperkalemia. Hiperkalemia terjadi melalui berbagai mekanisme
merugikan terjadi. yang mengganggu homeostasis kalium, seperti gangguan sekresi
• C1.1 Obat yang tidak kalium atau perubahan serapan kalium oleh sel. Hiperkalemia akibat
sesuai dengan obat dapat dikaitkan dengan timbulnya tindakan, gejala, dan tingkat
pedoman/formularium keparahan yang bervariasi (Drugbank, 2023).

Nyeri Amitriptilin 2 x 12,5 P2.1 Kejadian obat yang • Amitriptilin merupakan salah satu obat antidepresan yang sangat
mg mungkin merugikan terjadi luas penggunaannya sebagai analgesik adjuvant terutama untuk
nyeri neuropatik kronik dan nyeri. Pemberian Amitriptilin dan
parasetamol tidak direkomendasikan diberikan secara bersamaan.
Kedua obat ini dimetabolisme oleh CYP2D6. Pemberian agen ini
secara bersamaan dapat menyebabkan penurunan laju metabolisme
salah satu atau kedua obat karena obat tersebut bersaing untuk
metabolisme oleh enzim CYP2D6. Hal ini dapat menyebabkan
peningkatan konsentrasi serum salah satu atau kedua obat dan oleh
karena itu, dapat meningkatkan kejadian atau tingkat keparahan efek
samping yang terkait. Peningkatan konsentrasi serum obat ini dapat
mengakibatkan peningkatan signifikan dalam kejadian dan/atau
tingkat keparahan efek samping (Drugbank, 2023).
• Pemberian Amitriptilin dan eperisone tidak direkomendasikan
diberikan secara bersamaan. Baik subjek maupun obat yang
terpengaruh dianggap sebagai agen dengan risiko pemanjangan QTc
yang moderat. Menggabungkan beberapa agen dengan potensi
perpanjangan QTc dapat menyebabkan perpanjangan interval
tambahan dan merupakan faktor risiko yang signifikan untuk
pengembangan torsades de pointes (TdP), suatu aritmia ventrikel
yang berpotensi fatal yang dapat timbul sekunder akibat
perpanjangan QTc (Drugbank, 2023).
Mual dan Muntah Omeprazole IV P2.1 Kejadian obat yang • Penggunaan Omeprazole sudah tepat untuk mengatasi masalah mual
mungkin merugikan terjadi dan muntah pasien. Omeprazole merupakan obat golongan PPI
(Proton Pump Inhibitors) yang dapat mengurangi gejala iritasi
dinding lambung, seperti nyeri ulu hati, mual dan kembung (MIMS,
2023). Namun, penggunaan Omeprazole bersamaan dengan
Amitriptilin dapat menyebabkan penurunan metabolisme
Amitriptilin yang diinduksi oleh penghambatan CYP2C19 sehingga
menyebabkan kemungkinan efek samping Amitriptilin (Drugbank,
2023)
Pelapis Lambung Sucralfat 3x 15 mL Tidak ada DRP • Penggunaan sucralfat digunakan Pasien dengan osteoartritis, artritis
reumatoid, dan kondisi nyeri jangka panjang lainnya, yang
diperkirakan akan menerima NSAID selama lebih dari tiga bulan.
pasien yang menerima terapi NSAID kronis, pemberian sukralfat
secara simultan mengurangi kejadian lesi lambung superfisial
namun tidak berpengaruh signifikan terhadap gejala atau
pembentukan ulkus (Anand et al., 2017).
Peradangan Curcuma 2x 1 tab Tidak ada DRP • Pemberian Curuma pada pasien poliarthalgia diperuntukan sebagai
terapi penunjang untuk penanganan peradangan sendi. Ekstrak
Curcuma longa dengan kandungan kurkumin merupakan suplemen
yang lebih aman dan efektif untuk pasien penderita nyeri persendian
seperti pada kasus OA. Disarankan untuk menggunakan ekstrak
Curcuma longa dan suplemen kurkumin untuk pasien nyeri sendi
selama lebih dari 12 minggu (Zheng et al., 2021).
2. Catatan Asuhan Kefarmasian

1. Problem medik (keluhan):


Pasien mengeluhkan mual, muntah, nyeri pada sendi kiri sejak 6 hari yang lalu. Keluhan nyeri
sendi dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan panas. Nyeri dirasakan berat dan mendadak.
Sebelumnya, pasien mengeluh demam sebelum nyeri sendi.

2. Diagnosis:
Pasien didiagnosis poliarthralgia

3. Assessment Pasien:
Subjektif (S):
- Pasien laki-laki (Tn. B) masuk rumah sakit dengan keluhan mual, muntah, nyeri pada sendi
kiri sejak 6 hari yang lalu. Keluhan nyeri sendi dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan panas.
Nyeri dirasakan berat dan mendadak. Sebelumnya, pasien mengeluh demam sebelum nyeri
sendi.
Objektif (O):
- Pasien (Tn. B) berusia 32 tahun 2 bulan 16 hari (tanggal lahir: 3 Agustus 1991)
- Berat badan pasien adalah 55 kg dengan tinggi badan 160 cm
- Pasien adalah seorang petani/pekebun
- Pasien masuk rumah sakit pada 18 Oktober 2023 (pasien masuk dari IGD dan dipindah ke
ranap medik)
- Nomor rekam medis pasien: 06.68.56
- Hasil pemeriksaan fisik pasien:
Pemeriksaan Hasil (18/10/23) Nilai Normal Keterangan
Suhu Tubuh 36,6°C 36 – 37,5°C Suhu tubuh pasien
normal
Denyut Nadi 101 kali/menit 80 – 100 kali/menit Denyut nadi pasien
diatas normal
Laju Respirasi 20 kali/menit 18 – 20 kali/menit Laju respirasi pasien
normal
Tekanan Darah 100/60 mmHg < 140/90 Tekanan darah pasien
normal
SpO2 99% > 95% Saturasi oksigen pasien
normal
- Hasil pemeriksaan laboratorium pasien:
Pemeriksaan Hasil (19/10/23) Nilai Normal Keterangan
PLT 90 150 – 450 Tidak normal
BUN 17 6 – 20 Normal
Kreatinin 0,69 0,67 – 1,17 Normal
SGOT 140 < 40 Tidak normal
SGPT 64 < 41 Tidak normal
Natrium (Na) 132 mmol/L 136 – 145 mmol/L Tidak normal
Kalium (K) 3,9 mmol/L 3,5 – 5,1 mmol/L Normal
WBC 3,82 3,80 – 10,60 Normal
Hemoglobin 11,8 13,2 – 17,3 Tidak normal
Leukosit 0–1 0–5 Normal
MCV 71,1 80,0 – 100,0 Tidak normal
MCH 24,9 26,0 – 34,0 Tidak normal
MCHC 35,0 29,7 – 33,1 Tidak normal
- Skala nyeri pasien adalah 7 (akut)
- Pasien memiliki riwayat alergi obat Ampicilin
- Pasien mengonsumsi obat herbal Sendifit
- Terapi farmakologi yang diberikan kepada pasien:
No. Obat Tanggal Pemberian Obat
18/10/23 19/10/23
1. Ketorolac IV 13.00 ✓ 12.00 ✓
24.00 ✓
2. Omeprazole IV 18.00 ✓
3. Amitriptilin 2 x 12,5 mg 18.00 ✓ 06.00 ✓
4. Paracetamol 3 x 1000 mg 13.00 ✓ 06.00 ✓
21.00 ✓ 13.00 ✓
5. Eperison 2 x 50 mg 18.00 ✓ 06.00 ✓
6. Curcuma 2 x 1 tab 18.00 ✓ 06.00 ✓
7. Sucralfat 3 x 15 mL 13.00 ✓ 06.00 ✓
18.00 ✓ 12.00 ✓
8. Natrium Diklofenac 2 x 50 mg 18.00 ✓
Assessment (A):
- Identifikasi Masalah Penyakit
Diketahui pasien didiagnosa Poliartralgia. Poliartralgia didefinisikan sebagai nyeri
sendi pada lebih dari 4 sendi. Berbagai penyebab nyeri sendi antara lain adalah infeksi
virus, infeksi bakteri, sinovitis akibat kristal, penyakit rematik sistemik, vaskulitis
sistemik, spondyloarthropathies, kelainan endokrin, penyebab keganasan, seperti kanker
metastatik, dan lain-lain seperti osteoartritis, fibromyalgia, dan lain-lain. Pada pemeriksaan
laboratorium terdapat hasil yang tidak termasuk kategori normal yakni:
• PLT
Hasil pemeriksaan PLT pasien adalah 90 103/uL yang apabila dibandingkan dengan
nilai normal PLT adalah berkisar 150-450 x 103/uL. Nilai PLT yang rendah pasien
akan meningkatkan kemungkinan pendarahan fatal pada pasien.
• SGOT dan SGPT
Hasil pemeriksaan SGOT dan SGPT pasien adalah 140 u/L dan 64 u/L yang apabila
dibandingkan dengan nilai normal SGOT dan SGPT adalah berkisar <40 u/L dan <41
u/L, sehingga dapat dikatakan bahwa kadar nilai SGOT dan SGPT pada pasien
meningkat. Penyebab utama peningkatan kadar SGOT/SGPT adalah fatty liver,
hepatitis virus, medication induced hepatitis¸ hepatits autoimun dan penyakit hepar
alkoholik (Aleya dan Khairun, 2015).
• Natrium
Hasil pemeriksaan kadar natrium pasien adalah 132 mmol/L yang apabila
dibandingkan dengan nilai normal natrium dalam tubuh adalah berkisar 136 - 145
mmol/L. Natrium turut berkontribusi dalam menjaga homeostasis tubuh dengan
mengatur pelepasan hormon vasopressin (AVP). Sehingga dapat disimpulkan
semakin rendah kadar natrium pada darah maka akan semakin besar juga terjadi
mortalitas pada pasien (Vitasari dkk., 2018). Pasien pada kasus mengeluhkan mual
dan muntah yang mengarah pada gejala hiponatremia yang membuat tubuh
kekurangan asupan elektrolit.
• Hemoglobin
Hasil pemeriksaan Hemoglobin pasien adalah 11,8 g/dL yang apabila dibandingkan
dengan nilai normal kadar hemoglobin adalah berkisar 13,2 - 17,3 g/dL. Kadar Hb di
bawah normal dapat menyebabkan gejala awal anemia karena kurangnya konsumsi
zat besi (Ningsih dan Septiani, 2019).
• MCV (Mean Corpuscular Volume)
Hasil pemeriksaan MCV pasien adalah 71,1 fl yang apabila dibandingkan dengan
nilai normal MCV adalah berkisar 80,0 - 100,0 fl.
• MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin)
Hasil pemeriksaan MCH pasien adalah 24,9 pg yang apabila dibandingkan dengan
nilai normal MCH adalah berkisar 26,0 - 34,0 pg.
• MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration)
Hasil pemeriksaan MCHC pasien adalah 35,0 g/dL yang apabila dibandingkan
dengan nilai normal MCHC adalah berkisar 29,7 - 33,1 g/dL. Nilai MCHC meningkat
dapat disebabkan oleh penyakit aglutinin dingin (CAD), suatu kelainan autoimun
langka di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel darah merah.
- Identifikasi Masalah Obat
Masalah terkait obat atau Drug Related Problems (DRPs) dapat didefinisikan sebagai
suatu kondisi terkait dengan terapi obat yang secara nyata atau potensial mengganggu hasil
klinis kesehatan yang diinginkan (Schindler et al., 2021). DRPs umumnya terjadi pada
pasien yang menerima terapi rawat jalan ataupun rawat inap yang menyebabkan terjadinya
penurunan kualitas dari hidup pasien serta dapat meningkatkan resiko morbiditas dan
motalitas (Jamal et al., 2015). Oleh karena itu, untuk meminimalkan terjadi DRPs pada
kasus ini akan dikaji apakah terdapat masalah terkait terapi pengobatan yang diberikan pada
kasus ini.
1. Ketorolac IV
• Ketorolac merupakan NSAID yang dipromosikan untuk digunakan secara sistemik
terutama sebagai analgesik (Katzung et al., 2012). Ketolorac IV diberikan kepada
pasien untuk mengatasi nyeri sangat berat Pada kasus dikatakan bahwa pasien
mengalami nyeri dengan derajat nyeri 7. sehingga penggunaan keterolac dihentikan
dan dilanjutkan dengan pengobatan NSAID oral yaitu natrium diklofenak.
• Penggunaan Ketorolac IV yang termasuk ke dalam golongn NSAID tidak dianjurkan
karena bukti terbaru menunjukkan bahwa pemberian analgesik kombinasi dosis
tinggi yang kronis secara signifikan meningkatkan risiko nefropati analgesik,
nekrosis papiler ginjal, penyakit ginjal stadium akhir, dan kanker ginjal. atau
kandung kemih (Drugbank, 2023).
2. Omeprazole IV
• Pada kasus dikatakan bahwa pasien diberikan omerprazole IV dan kemudian
dihentikan. Hal ini telah sesuai karena Omeprazole IV digunakan untuk mengatasi
mual dan muntah dengan frekuensi tinggi dengan segera (Mahdayana dkk., 2020).
• Penggunaan Omeprazole bersamaan dengan Amitriptilin dapat menyebabkan
penurunan metabolisme Amitriptilin yang diinduksi oleh penghambatan CYP2C19
sehingga menyebabkan kemungkinan efek samping Amitriptilin (Drugbank, 2023).
3. Amitriptilin
• Amitriptilin merupakan salah satu obat antidepresan yang sangat luas
penggunaannya sebagai analgesik adjuvant terutama untuk nyeri neuropatik kronik
dan nyeri. Dosis amitriptilin pada kasus ini yakni 2 x 12,5 mg yang sudah tepat
karena amitriptilin dengan dosis 10 - 30 mg/hari sudah efektif dalam mengurangi
nyeri.
• penggunaan Amitriptilin dengan Eperison pada kasus ini menimbulkan efek samping
obat berupa meningkatkan resiko dan tingkat keparahan perpanjangan QTc
(DrugBank, 2023).
4. Paracetamol
• Pada kasus dikatakan bahwa derajat nyeri pasien sudah berada pada derajat 7 yang
merujuk pada nyeri yang sangat parah. Namun menurut pustaka, paracetamol oral
diindikasikan sebagai analgesik untuk meringankan nyeri pada sendi dengan skala
ringan-sedang (BNF, 2014). Sehingga penggunaannya pada kasus ini masih
dikategorikan belum tepat.
• Parasetamol dapat meningkatkan kejadian hepatotoksisitas saat penggunaan dosis
maksimum dalam sehari (3-4 gram) karena pada dosis ini jendela terapi parasetamol
menjadi sempit (Dipiro, 2020).
5. Eperisone
• Pada kasus dikatakan bahwa pasien diberikan eperisone yang merupakan pelemas
atau relaksasi otot yang berfungsi untuk mengurangi rasa nyeri dan kekakuan otot.
Namun penggunaan relaksan otot seperti Eperison sebaiknya dihindari karena sifat
antikolinergik, sedasi, dan peningkatan risiko patah tulang (Gleason et al., 2018).
• Penggunaan Eperisone dan Natrium Diklofenak dapat menyebabkan hiperkalemia.
Hiperkalemia terjadi melalui berbagai mekanisme yang mengganggu homeostasis
kalium, seperti gangguan sekresi kalium atau perubahan serapan kalium oleh sel
(Drugbank, 2023).
6. Curcuma
• Pemberian Curuma pada pasien poliarthalgia diperuntukan sebagai terapi penunjang
untuk penanganan peradangan sendi. Ekstrak Curcuma longa dengan kandungan
kurkumin merupakan suplemen yang lebih aman dan efektif untuk pasien penderita
nyeri persendian seperti pada kasus OA. Disarankan untuk menggunakan ekstrak
Curcuma longa dan suplemen kurkumin untuk pasien nyeri sendi selama lebih dari
12 minggu (Zheng et al., 2021).
7. Sucralfat
• Penggunaan sucralfat digunakan Pasien dengan osteoartritis, artritis reumatoid, dan
kondisi nyeri jangka panjang lainnya, yang diperkirakan akan menerima NSAID
selama lebih dari tiga bulan. pasien yang menerima terapi NSAID kronis, pemberian
sukralfat secara simultan mengurangi kejadian lesi lambung superfisial namun tidak
berpengaruh signifikan terhadap gejala atau pembentukan ulkus (Anand et al., 2017).
8. Natrium Diklofenak
• Pada kasus dikatakan bahwa pasien mendapatkan NSAID oral pada hari kedua yaitu
natrium diklofenak. Dosis natrium diklofenak yang diberikan kepada pasien yakni 2
x 50 mg sudah tepat yakni dengan dosis 50 mg 2 -3 kali sehari (Dipiro, 2021).
• Penggunaan natrium diklofenak erat kaitannya dengan efek sampingnya pada saluran
gastrointestinal terutama lambung. Sehingga penting untuk memberikan agen
perlindungan lambung ketika pasien memperoleh pengobatan NSAID secara oral.

4. Planning (P):
Rekomendasi terapi non-farmakologi:
a. Melakukan fisioterapi
Pasien poliartralgia direkomendasikan untuk melakukan fisioterapi guna mengurangi
nyeri dan meningkatkan kualitas hidup. Penelitian melaporkan bahwa fisioterapi dengan
kinesioterapi memberikan pengaruh positif pada pasien poliartralgia, yaitu mengurangi
pain score, peningkatan kekuatan otot, peningkatan rentang gerak, pengurangan edema,
dan peningkatan kapasitas fungsional (Oliveira et al., 2017).
b. Melakukan aktivitas fisik
Pasien juga direkomendasikan untuk melakukan aktivitas fisik secara regular, seperti
berjalan setelah periode tindak lanjut rawat jalan untuk menjaga hasil yang telah diperoleh
dan mendorong perawatan diri pasien (Oliveira et al., 2017).
Rekomendasi terapi farmakologi:
a. Terapi Nyeri
Menurut Bates et al. (2019), tatalaksana terapi nyeri yang dialami oleh pasien dapat
dilakukan berdasarkan algoritma berikut.

Sebagai terapi lini pertama, salah satunya dapat digunakan kelompok obat antidepresan
trisiklik (TCA), dalam hal ini pada kasus digunakan Amitriptilin. TCAs memiliki
beberapa mekanisme aksi, dimana efek pereda nyeri utamanya diperkirakan melalui
penghambatan pengambilan kembali serotonin dan norepinefrin. Mekanisme aksi TCAs
yang mencakup peningkatan konsentrasi serotonin dan norepinefrin di sinaps saraf dapat
membantu mengurangi transmisi sinyal nyeri di sistem saraf pusat dan perifer. Meskipun
TCAs dapat efektif dalam mengelola nyeri neuropatik, penting untuk memahami bahwa
obat ini memiliki profil efek samping yang luas, termasuk efek antikolinergik, sedasi,
peningkatan berat badan, dan risiko aritmia jantung. Oleh karena itu, penggunaan TCAs
harus dimonitor dengan hati-hati oleh profesional kesehatan, dan pasien harus diberikan
informasi lengkap tentang manfaat dan risiko penggunaan obat ini.
Terapi amitriptilin dapat dilanjutkan bersamaan dengan natrium diklofenak.
Namun, na diklofenak merupakan NSAID yang tidak selektif, sehingga dapat
menimbulkan efek samping berupa peningkatan asam lambung. Oleh karena itu, obat ini
sebaiknya dikonsumsi setelah makan.
Selain itu, pasien juga menerima curcuma yang berfungsi dalam pengatasan nyeri
sendi dan menjaga fungsi hati. Pemberian curcuma ini merujuk pada hasil pemeriksaan
laboratorium khususnya pada nilai SGOT dan SGPT yang melebihi nilai normal dimana
hal ini menunjukkan adanya kegagalan fungsi hati.
b. Terapi Anemia
Berdasarkan kasus yang diberikan, diketahui hasil pemeriksaan laboratorium pasien yang
berkaitan dengan sel darah merah, seperti hemoglobin, MCV, dan MCH berada di bawah
rentang nilai normal, sehingga pasien diduga mengalami anemia. Oleh karena itu, dapat
disarankan agar pasien diberikan terapi anemia berupa pemberian zat besi secara per oral
seperti sangobion. Sangobion dapat dikonsumsi sebanyak 1 tablet 1 kali sehari (MIMS,
2023).
c. Penggunaan ketorolac IV, eperison, dan parasetamol dapat dihentikan karena telah
digunakan obat golongan NSAID dan amitriptilin untuk mengatasi nyeri yang dialami
oleh pasien. Selain itu, diketahui terjadi interaksi obat antara eperison dengan natrium
diklofenak, sehingga penggunaannya dapat dihentikan.
d. Sebelumnya pasien menerima omeprazole IV sebagai terapi terhadap keluhan mual
muntah yang diderita oleh pasien. Namun, pemberian obat tersebut telah dihentikan
diduga karena gejala mual muntah telah berhasil dihentikan dengan terapi tersebut.
Apabila gejala mual muntah timbul kembali maka pasien dapat diberikan omeprazole IV
kembali atau menggunakan obat antiemetik oral lainnya seperti domperidone atau
metoclopramide.
Rencana konseling, informasi, dan edukasi:
Edukasi perlu dilakukan kepada pasien poliartralgia untuk menambah pengetahuan pasien
mengenai penyakit yang dideritanya serta terapi yang sedang dijalankannya, sehingga faktor
risiko yang mungkin terjadi dapat dihindarkan. Beberapa faktor risiko yang mungkin terjadi
diantaranya obesitas dan gaya hidup yang tidak sehat. Oleh karena itu, perlu dilakukan
pemberian informasi dan edukasi kepada pasien mengenai pentingnya menjaga pola makan
seimbang dan sehat guna menjaga berat badan ideal; melakukan aktivitas fisik yang ringan
setiap hari; mengurangi pekerjaan fisik yang berat; menghentikan kebiasaan merokok; serta
melakukan check-up rutin ke dokter sesuai dengan waktu yang diarahkan.
Rencana monitoring efek terapi & efek samping:
● Tujuan monitoring
Monitoring terapi obat atau pemantauan terapi obat (PTO) adalah kegiatan yang
dilakukan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional bagi pasien.
Adapun tujuan dari dilaksanakannya PTO adalah untuk meningkatkan efektivitas dari
terapi dan meminimalisir resiko adanya ROTD (Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki)
(Wiseva dkk., 2023).
● Parameter monitoring
Adapun parameter monitoring yang harus diamati untuk melihat dan mengawasi
keberhasilan terapi adalah sebagai berikut.
1) Pemantauan Skala Nyeri
Pemantauan skala nyeri dilakukan untuk membantu dokter dan profesional lainnya
untuk mengelola keluhan nyeri pasien sehingga dapat membantu dalam
merencanakan perawatan selanjutnya. Pemantauan skala nyeri dapat dilakukan
menggunakan skala numerik (numeric rating scale – NRS) maupun skala visual
analog (VAS). Pada NRS, pasien akan diminta untuk memberikan nilai numerik
untuk tingkat nyeri yang dirasakan, dimana biasanya 0 mewakili tanpa nyeri dan 10
mewakili nyeri yang sangat parah. Sedangkan pada VAS, pasien diminta untuk
menilai nyeri yang dirasakan dengan menarik tanda pada garis horizontal yang
menggambarkan intensitas nyeri dari ujung kiri garis hingga ujung kanan (Rosas et
al., 2017).
2) Kepatuhan Penggunaan Obat
Kepatuhan terhadap pengobatan merupakan faktor penting dalam keberhasilan
pengobatan. Monitoring kepatuhan bertujuan untuk memastikan efektivitas terapi
yang dijalankan, mengoptimalkan pengobatan, mencegah kambuhnya gejala, serta
mencegah resistensi obat.
3) Efek Samping Obat dan Interaksi Obat
Berdasarkan analisis drug related problems yang telah dilakukan sebelumnya,
diketahui bahwa terdapat beberapa obat yang berinteraksi satu sama lain. Oleh karena
itu, perlu dilakukan monitoring interaksi obat serta efek samping yang ditimbulkan.
Monitoring efek samping obat merupakan bagian dari pelayanan farmasi klinik dan
hasil monitoring efek samping obat disampaikan ke BPOM. Dengan adanya
pelaporan dini dari masyakarat, maka apoteker dapat melakukan tindakan yang tepat
untuk segera meminimalkan risiko, seperti merubah obat yang digunakan,
pembatasan dosis, atau kontraindikasi (Sholihah dan Santoso, 2021).

5. Pencatatan dan Pelaporan:


Dokumen Pencatatan:
a. Catatan Riwayat Medis
• Pasien mengalami mual, muntah, nyeri pada sendi kiri sejak 6 hari
• Keluhan nyeri sendi yang dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan panas
• Nyeri yang dirasakan berat dan mendadak
• Pasien mengeluh demam sebelum nyeri sendi
• Pasien memiliki riwayat alergi obat Ampicillin
• Data pemeriksaan laboratorium pasien:
No. Data Klinik Nilai Normal Tanggal 19/10/23
1. PLT 150 - 450 90
2. BUN 6 - 20 17
3. Kreatinin 0,67 – 1,17 0,69
4. SGOT < 40 140
5. SGPT < 41 64
6. Natrium (Na) 136 – 145 mmol/l 132
7. Kalium (K) 3,5 – 5,1 mmol/l 3,9
8. WBC 3,80 – 10,60 3,82
9. Hemoglobin 13,2 – 17,3 11,8
10. Leukosit 0 -5 0-1
11. MCV 80,0 – 100,0 71,1
12. MCH 26,0- 34,0 24,9
13. MCHC 29,7 – 33,1 35,0
b. Catatan Pemeriksaan Fisik
• Pasien mengalami nyeri akut dengan pain score 7
• Data pemeriksaan klinik pasien:
No. Data Klinik Nilai Normal Tanggal 18/10/23
o
1. Suhu 36 – 37,5 C 36,6oC
2. Nadi 80 – 100x/menit 101x/menit
3. Respiration Rate 18 – 20x/menit 20x/menit
4. Tekanan Darah < 140/90 mmHg 100/60 mmHg
5. SpO2 > 95% 99%
c. Riwayat Terapi dan Obat-obatan
Adapun riwayat terapi dan obat yang diterima pasien selama di IGD dan menjalani rawat
inap adalah sebagai berikut.
• Ketorolac IV
• Omeprazole IV
• Amitriptilin 2 x 12,5 mg
• Paracetamol 3 x 1000 mg
• Eperison 2 x 50 mg
• Curcuma 2 x 1 tab
• Sucralfate 3 x 15 mL
• Na Diklofenak 2 x 50 mg
d. Catatan Konsultasi dengan Keluarga
Catatan mengenai pembicaraan dengan keluarga Tn. B, termasuk cara penggunaan obat-
obatan peroral dan kepatuhan dalam mengonsumi obat
e. Catatan Kemajuan
Catatan mengenai perkembangan kondisi pasien setelah pemberian terapi atau
pengobatan.
f. Catatan Rencana Tindak Lanjut
Rencana untuk pengawasan atau pemantauan pasien
Dokumen Pelaporan
a. Laporan Kejadian (Jika Terjadi Kejadian Penting)
Laporan jika terjadi kejadian penting, seperti reaksi obat yang tidak diharapkan atau
perubahan drastis dalam kondisi pasien.
b. Dokumen Pemantauan Jangka Panjang
Jika Tn. B memerlukan pemantauan jangka panjang, catatan, dan laporan berkala tentang
kondisinya.
DAFTAR PUSTAKA

Aleya dan Khairun, N. B. 2014. Korelasi Pemeriksaan Laboratorium SGOT/SGPT dengan kadar bilirubin
pada pasien Hepatitis C di ruang Penyakit dalam RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung
pada Bulan Januari-Desember 2014. Majority. 4(9):135-139.
Anand, A. C., Adya, C.M., Dham, S.K. 2017. Efficacy Of Sucralfate In Preventing Gastrointestinal Side
Effects of NSAIDs. Med J Armed Forces India. 50(2): 93–96.
DiPiro, J.T., Yee, G.C., Posey, L.M., Haines, S.T., Nolin, T.D., and Ellingrod, V. 2021. Pharmacotheraphy:
A Pathophysiologic Approach. 11th Edition. US: McGraw Hill.
DrugBank. 2023. Drug Interaction Checker. Tersedia pada: [Link]
checker#results. Diakses pada 1 November 2023.
Gleason, L. J., Escue, E. D., & Hogan, T. M. 2018. Older adult emergency department pain management
strategies. Clinics in geriatric medicine. 34(3): 491-504.
MIMS. 2023. Ketorolac. Tersedia pada. [Link]
=generic. Diakses pada 1 November 2023.
MIMS. 2023. Omeprazole. Tersedia pada. [Link]
=generic. Diakses pada 1 November 2023.
Oliveira, A. D. S. dan Silva, J. G. 2017. Effect of a physiotherapy program in patient with persistent
polyarthralgia after chikungunya fever. Revista Dor. 18(4): 370 – 373.
Rosas, S., Paco, M., Lemos, C., Pinho, T. 2017. Comparison between the Visual Analog Scale and the
Numerical Rating Scale in the perception of esthetics and pain. International Orthodontics. 15: 543
– 560.
Sholihah, I. dan Santoso, J. 2021. Upaya Peningkatan Pengetahuan tentang Efek Samping Obat pada Warga
Dasa Wisma dalam Upaya Penerapan Farmakovigilans. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat.
1(2): 142 – 146.
Vitasari, V., Uddin, I., dan Sofia, S. N. 2018. Hiponatremia Sebagai Prediktor Mortalitas Gagal Jantung
Studi Kasus Di Rsup Dr. Kariadi Semarang. JKD: Jurnal Kedokteran Diponegoro. 7(2): 1585 - 1595.
Wiseva, K.O., Setiadi, A., dan Suwantika, A.A. 2023. Pemantauan Terapi pada Pasien Angina Pektoris
Tidak Stabil dan Penyakit Jantung Hipertensi di Salah Satu Rumah Sakit di Bandung. Farmaka.
21(2): 132-141.
Zheng, L., Yu, G., Hao, W. 2021. The efficacy and safety of Curcuma longa extract and curcumin
supplements on osteoarthritis: a systematic review and meta-analysis. Biosci Rep. 41(6): 1-20.

Anda mungkin juga menyukai