0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Masalah Penggunaan Ketorolac IV pada Nyeri

Dokumen ini adalah lembar kerja CBL mahasiswa yang mencakup analisis kasus nyeri pada pasien dengan diagnosis poliarthralgia. Terdapat identifikasi masalah terkait obat (DRP) yang dihadapi pasien, serta catatan asuhan kefarmasian yang mencakup terapi farmakologi dan hasil pemeriksaan klinis dan laboratorium. Penekanan pada pentingnya pengelolaan masalah terkait obat untuk meningkatkan kualitas hidup pasien juga disampaikan.

Diunggah oleh

kikiskristavia25
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Masalah Penggunaan Ketorolac IV pada Nyeri

Dokumen ini adalah lembar kerja CBL mahasiswa yang mencakup analisis kasus nyeri pada pasien dengan diagnosis poliarthralgia. Terdapat identifikasi masalah terkait obat (DRP) yang dihadapi pasien, serta catatan asuhan kefarmasian yang mencakup terapi farmakologi dan hasil pemeriksaan klinis dan laboratorium. Penekanan pada pentingnya pengelolaan masalah terkait obat untuk meningkatkan kualitas hidup pasien juga disampaikan.

Diunggah oleh

kikiskristavia25
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LEMBAR KERJA CBL MAHASISWA

Kelompok/Kelas : 3/B
Nama Anggota :
1. Kadek Lia Andini (2308611068)
2. Putu Ayuning Dinda Nirmalayanti (2308611069)
3. Izzul Ishfahan (2308611070)
4. Wahyu Nadi Eka Putri (2308611071)
5. Ni Putu Shinta Paramita Sari (2308611072)
Hari, tanggal / CBL ke- : Rabu, 1 November 2023
Topik : Nyeri
1. DRP yang Ditemukam pada Kasus

Problem
Obat Drug Related Problem Keterangan
Medik/Indikasi
Nyeri Ketorolac IV P3.3 Ketorolac adalah NSAID prototipikal dengan sifat antipiretik dan analgesik.
Masalah terkait obat yang tidak Fungsi ketorolac adalah meredakan peradangan dan nyeri dari sedang hingga
jelas, sehingga memerlukan nyeri berat. Ketorolak bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin
klarifikasi lebih lanjut. yang merupakan mediator yang berperan pada inflamasi, nyeri, demam dan
sebagai penghilang rasa nyeri perifer. Dalam penyakit jangka pendek,
P2.1 Kejadian obat yang mungkin ketorolac digunakan tidak lebih dari 5 hari (Smeltzer dan Bare, 2001).
merugikan terjadi. Ketorolac IV pada pasien dewasa adalah sebanyak 10-30 mg setiap 4-6 jam
sesuai kebutuhan mg dengan dosis maksimal perhari 90 mg. Berdasarkan
kasus, tidak disebutkan berapa dosis ketorolac IV namun pengobatan
ketorolac IV sudah tepat selama 2 hari (MIMS, 2023). Dalam penggunaanya,
Ketorolac IV dosis tinggi tidak dianjurkan karena dapat meningkatkan risiko
nefropati analgesik, nekrosis papiler ginjal, penyakit ginjal stadium akhir, dan
kanker ginjal. atau kandung kemih (Drugbank, 2023).
Natrium P2.1 Kejadian obat yang mungkin Penggunaan Natrium Diklofenak dan Eperisone dapat menyebabkan
Diklofenac 2x merugikan terjadi hiperkalemia. Hiperkalemia terjadi melalui berbagai mekanisme yang
50 mg mengganggu homeostasis kalium, seperti gangguan sekresi kalium atau
perubahan serapan kalium oleh sel.2,3 Hiperkalemia akibat obat dapat
dikaitkan dengan timbulnya tindakan, gejala, dan tingkat keparahan yang
bervariasi (Drugbank, 2023).
Paracetamol P2.1 Kejadian obat yang mungkin Penggunaan Paracetamol sebagai analgesik, namun memiliki interaksi
3x1000 mg merugikan terjadi dengan obat lainnya (Ketorolac) dan dapat meningkatkan risiko nefropati
analgesik, nekrosis papiler ginjal, penyakit ginjal stadium akhir, dan kanker
ginjal atau kantung kemih apabila digunakan bersamaan (Fendrick et al.,
2008). Toksikologi parasetamol dipengaruhi oleh dosis parasetamol (dose-
dependent) itu sendiri, parasetamol dapat meningkatkan kejadian
hepatotoksisitas saat penggunaan dosis maksimum dalam sehari (3-4 gram)
karena pada dosis ini jendela terapi parasetamol menjadi sempit (Dipiro,
2020).
Pelemas Otot Eperison 2x P2.1 Kejadian obat yang mungkin Eperisone adalah antipasmodik yang berfungsi dalam mengatasi ketegangan
50 mg merugikan terjadi. otot atau melemaskan otot yang kaku sehingga dapat meredakan nyeri otot.
Dalam penggunaannya, penggunaan eperison dengan Amitriptilin dapat
meningkatkan resiko dan tingkat keparahan perpanjangan QTc (Drugs,
2023).
Nyeri Neuropati Amitriptilin 2 P2.1 Kejadian obat yang mungkin Pemberian Amitriptilin dan parasetamol tidak direkomendasikan diberikan
x 12,5 mg merugikan terjadi secara bersamaan karena dapat menurunkan metabolisme salah satu atau
kedua obat karena obat tersebut bersaing untuk metabolisme oleh enzim
CYP2D6. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi serum salah
satu atau kedua obat yang dapat meningkatkan keparahan efek samping
(Drugbank, 2023).
Pemberian Amitriptilin dan eperisone tidak direkomendasikan diberikan
secara bersamaan karena dapat menyebabkan pemanjangan QTc yang
moderat (Drugbank, 2023).
Mual dan Omeprazole P2.1 Penggunaan omeprazole sudah tepat untuk mengatasi masalah mual dan
Muntah IV Kejadian obat yang mungkin muntah pasien. Namun, penggunaan Omeprazole bersamaan dengan
merugikan terjadi Amitriptilin dapat menyebabkan penurunan metabolisme Amitriptilin yang
diinduksi oleh penghambatan CYP2C19 sehingga menyebabkan
kemungkinan efek samping Amitriptilin
Pelapis Sucralfat 3x Tidak ada DRP Sukralfat merupakan barier yang mempunyai efek sitoproteksi atau
Lambung 15 mL perlindungan pada mukosa lambung yang digunakan sebagai untuk
mencegah efek samping gastrointestinal akibat pemberian NSAID (BNF,
2014).
Peradangan Curcuma 2x 1 Tidak ada DRP Ekstrak curcuma longa dengan kandungan kurkumin dapat digunakan
tab sebagai terapi penunjang penderita nyeri persendian pada kasus OA.
Disarankan untuk dikonsumsi selama lebih dari 12 minggu (Zheng et al.,
2021).
2. Catatan Asuhan Kefarmasian
1. Problem medik (keluhan):
Pasien mengeluhkan mual, muntah, nyeri pada sendi kiri sejak 6 hari yang lalu.
Keluhan nyeri sendi dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan panas. Nyeri dirasakan berat
dan mendadak. Sebelumnya, pasien mengeluh demam sebelum nyeri sendi.
2. Diagnosis:
Poliarthralgia
3. Assessment Pasien:
Subjektif (S):
Pasien mengeluh mual, muntah nyeri pada sendi kiri sejak 6 hari yang lalu,
keluhan nyeri sendi dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan panas. Nyeri
dirasakan berat dan mendadak. Sebelumnya pasien mengeluh demam
sebelum nyeri sendi
Objektif (O):
• Nama pasien Tn B
• Nomor rekam medis pasien 06.6b.56
• Pasien berumur 32 tahun 2 bulan 16 hari
• Berat Badan pasien: 55 Kg
• Tinggi Badan: 160 cm
• Pasien adalah seorang petani/pekebun
• Pasien memiliki riwayat penyakit terdahulu yakni nyeri sendi
• Tanggal masuk IGD dan dipindahkan ke Ruang Rawat Inap
Medik18/10/23
• Hasil Pemeriksaan fisik pasien:
No. Data Klinik Nilai Normal Hasil (8/10/23) Keterangan
1 Suhu 36-37,5oC 36.6oC Normal
2 Nadi 80-100x/m 101x/min Normal
3 RR 18-20 x/m 20x/min Normal
4 Tekanan Darah <140/90 100/60 mmHg Normal
5 SpO2 >95% 99% Normal
• Hasil Pemeriksaan Laboratorium pasien:
No Data Klinik Rujukan Hasil (19/10/23) Keterangan
1 PLT 150-450 90 Tidak normal
2 BUN 6-20 17 Normal
3 Kreatinin 0,67-1,17 0,69 Normal
4 SGOT <40 140 Tidak Normal
5 SGPT <41 64 Tidak Normal
6 Natrium (Na) 136-145 mmol/l 132 Tidak Normal
7 Kalium (K) 3,5-5,1 mmol/l 3,9 Normal
8 WBC 3,80-10,60 3,82 Normal
9 Hemoglobin 13,2-17,3 11,8 Tidak Normal
10 Lekosit 0,5 0-1 Normal
11 MCV 80,0-100,0 71,1 Tidak Normal
12 MCH 26,0-34,0 24,9 Tidak Normal
13 MCHC 29,7-33,1 35,0 Tidak Normal
- Nyeri pada pasien tergolong skala 7 nyeri akut
- Pasien memiliki Riwayat alergi obat ampicilin
- Pasien mengkonsumsi obat herbal Sendifit
• Terapi Farmakologi:
No Obat Tanggal Pemberian Obat
18/10/23 19/10/23
1 Ketorolac IV 13.00 ✓ 12.00 ✓
24.00 ✓
2 Omeprazole IV 18.00 ✓
3 Amitriptilin 2 x 12,5 mg 18.00 ✓ 06.00 ✓
4 Paracetamol 3 x 1000 mg 13.00 ✓ 06.00 ✓
21.00 ✓ 13.00 ✓
5 Eperison 2 x 50 mg 18.00 ✓ 06.00 ✓
6 Curcuma 2x1 tab 18.00 ✓ 06.00 ✓
7 Sucralfat 3x15 mL 13.00 ✓ 06.00 ✓
18.00 ✓ 12.00 ✓
8 Natrium Diklofenac 2x50 mg 18.00 ✓
Assessment (A):
• Identifikasi Masalah Penyakit
Polyarthralgia merupakan nyeri pada banyak sendi di tubuh (lima
sendi atau lebih terasa nyeri) yang seringkali ditandai dengan peradangan
persendiaan. Hal ini terkait dengan nyeri rematik. Pada kasus nyeri sendi
yang dirasakan pasien adalah nyeri yang ditusuk-tusuk dan panas. Nyeri
juga terasa berat dan mendadak. Hal ini dikarenakan, nyeri sendi yang
intermiten dan terus-menerus karena berbagai alasan, seringkali dimulai
dengan rasa sakit ringan yang menjadi semakin hebat seiring berjalannya
waktu. Pada kasus diketahui data klinik normal sedangkan data
laboratorium terdapat hasil yang tidak termasuk kategori normal
meliputi:
• PLT
Berdasarkan data PLT/trombosit pada pasien diketahui pasien memiliki
nilai 90 x 103/µL dimana kisaran normal pada PLT yaitu 150 - 450 x
103/µL, hal ini menandakan nilai PLT pasien rendah dimana akan
mengakibatkan pendarahan fatal pada pasien (Yu-hua et al., 2017).
• SGOT dan SGPT
Berdasarkan data SGOT dan SGPT pada pasien diketahui bahwa pasien
memiliki nilai 140 u/L dan 64 u/L, sedangkan nilai normal dari SGOT
dan SGPT yakni <40 u/L dan <41 u/L, sehingga dapat dikatakan bahwa
kadar nilai SGOT dan SGPT pada pasien meningkat. Kadar
SGOT/SGPT yang meningkat disebabkan oleh kerusakan hepatosit.
Penyebab utama peningkatan kadar SGOT/SGPT adalah fatty liver,
hepatitis virus, medication induced hepatitis¸ hepatits autoimun dan
penyakit hepar alkoholik (Aleya dan Khairun, 2015).
• Natrium (Na)
Pasien memiliki nilai Natrium di bawah rentang nilai normal yakni
sebesar 132 mmol/l dimana nilai normal natrium terletak pada rentang
136-145 mmol/l. Kadar natrium yang rendah memberikan prognosis
buruk pada gagal jantung akut. Natrium memegang peranan penting
dalam homeostasis tubuh untuk mengatur pelepasan hormon
vasopressin (AVP) yang berguna untuk mengatur aktivitas pompa
jantung dan sistem saraf simpatis jantung. Sehingga dapat disimpulkan
semakin rendah kadar natrium pada darah maka akan semakin besar
juga terjadi mortalitas pada pasien (Vitasari dkk., 2018).
• Hemoglobin
Pasien memiliki nilai hemoglobin di bawah rentang nilai normal yakni
sebesar 11,8 g/dl dimana nilai normal hemoglobin terletak pada rentang
13,2 - 17,3 g/dl. Kadar Hb di bawah normal dapat menyebabkan gejala
awal anemia karena kurangnya konsumsi zat besi.
• MCV (Mean Corpuscular Volume)
Pasien memiliki nilai MCV (Mean Corpuscular Volume/ perhitungan
ukuran rata-rata sel darah merah) di bawah rentang nilai normal yakni
sebesar 71,1 fl, dimana nilai normal MCV terletak pada rentang 80,0 -
100,0 fl. Semakin kecil ukuran sel darah merah biasanya kandungan
hemoglobin juga sedikit.
• MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin)
MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin/jumlah rata-rata hemoglobin) di
bawah rentang nilai normal yakni sebesar 24,9, dimana nilai normal
MCH terletak pada rentang 26,0-34,0. MCH yang abnormal
menggambarkan penurunan (hipokromik), biasanya terjadi pada
defisiensi besi atau thalasemia. Anemia jenis mikrositik hipokromik
adalah jenis anemia yang terjadi pada pasien tuberkulosis paru. Anemia
penyakit kronik sering bersamaan dengan anemia defisiensi besi dan
keduanya memberikan gambaran penurunan besi (Tirta dan Syarif,
2019).
• MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration)
MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration/Konsentrasi
atau kadar rata-rata hemoglobin) di atas rentang nilai normal yakni
sebesar 35,0, dimana nilai normal MCHC terletak pada rentang 29,7-
33,1. Nilai MCHC meningkat dapat disebabkan oleh penyakit aglutinin
dingin (CAD), suatu kelainan autoimun langka di mana sistem
kekebalan tubuh menyerang sel darah merah.
• Identifikasi Masalah Obat
Drug Related Problems (DRPs) atau Masalah Terkait Obat dapat
didefinisikan sebagai suatu kondisi terkait dengan terapi obat yang secara
nyata atau potensial mengganggu hasil klinis kesehatan yang diinginkan
(Schindler et al., 2021). Masalah Terkait Obat (DRPs) menjadi dominan
pada pasien penyakit kardiovaskular yang menggunakan banyak obat
dalam pengobatannya. DRP dapat menyebabkan penurunan kualitas
hidup pasien, peningkatan lama rawat inap di rumah sakit, peningkatan
biaya perawatan dan bahkan meningkatkan resiko morbiditas dan
mortalitas (Jamal et al., 2015). Asuhan kefarmasian bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien melalui pencapaian hasil terapeutik.
Fungsi asuhan kefarmasian yang terpenting yaitu mengidentifikasi
masalah terkait obat potensial dan aktual, menyelesaikan masalah terkait
obat yang sebenarnya, dan mencegah potensi masalah terkait obat. Oleh
sebab itu dikaji apakah ada masalah terkait obat pada kasus pasien
tersebut.
• Ketorolac IV
Ketorolac IV merupakan obat golongan NSAID yang sering
digunakan untuk mengatasi nyeri dan peradangan, terutama pada
pasca operasi ortopedi dengan intensitas nyeri sedang hingga akut.
Obat ini bekerja dengan menghambat produksi prostaglandin melalui
COX-1 dan COX-2, memberikan efek analgesik yang lebih dominan
daripada efek antiinflamasi. Penggunaan ketorolac disarankan untuk
tidak melebihi dua hari dengan dosis berkisar antara 10 hingga 30 mg
per hari, mengingat risiko efek samping yang dapat meningkat jika
digunakan dalam dosis tinggi pada pasien yang rentan. Dalam kasus
ini, pemberian ketorolac IV 20 mg setiap 6 jam sesuai dengan indikasi
dan profil pasien.
• Omeprazole IV
Omeprazole IV umumnya digunakan untuk mengobati penyakit tukak
lambung dalam jangka waktu tertentu. Penggunaan omeprazole IV
juga efektif untuk mengatasi mual dan muntah dengan frekuensi tinggi
secara cepat. Setelah gejala mual dan muntah teratasi, penggunaan
omeprazole IV dihentikan dan digantikan dengan terapi oral, seperti
sucralfat. Dosis omeprazole IV biasanya adalah 40 mg sekali sehari
melalui infus IV atau injeksi IV.
• Amitriptilin
Amitriptilin dapat digunakan untuk manajemen nyeri kronis atau
penggunaan off-label dengan dosis awal secara oral. Namun, perlu
diperhatikan bahwa penggunaan amitriptilin mungkin kurang tepat
jika pasien mengalami nyeri akut dengan tingkat nyeri yang mencapai
7. Dalam kasus ini, evaluasi lebih lanjut mungkin diperlukan untuk
menentukan metode pengobatan yang lebih sesuai.
• Eperison
Eperisone adalah antipasmodik yang berfungsi dalam mengatasi
ketegangan otot atau melemaskan otot yang kaku sehingga dapat
meredakan nyeri otot. Dalam penggunaannya, penggunaan eperison
dengan Amitriptilin tidak direkomendasikan karena dapat
meningkatkan resiko dan tingkat keparahan perpanjangan QTc
(Drugs, 2023).
• Curcuma
Curcuma diindikasikan untuk membantu menjaga fungsi hati agar
tetap sehat Pada kasus pasien mengalami kadar SGOT dan SGPT
yang tinggi sehingga diperlukan suplemen untuk membantu menjaga
fungsi hati dan kadar SGOT dan SGPT kembali normal. Dosis
Curcuma yaitu 1-2 tablet 3 kali sehari (MIMS, 2023). Berdasarkan
kasus dosis curcuma kurang tepat (rendah).
• Sucralfat
Obat ini diindikasikan untuk penyakit terapi simptomatik GERD
(MIMS, 2023). Pada kasus tidak disebutkan bahwa pasien mengalami
mual muntah akibat GERD sehingga pengobatan dengan sukralfat
masing kurang tepat.
• Natrium diklofenak
Dosis natrium diklofenak yang diberikan kepada pasien yakni 2 x 50
mg sudah tepat (Schwinghammer et al, 2021). Namun natrium
diklofenak dapat menyebabkan efek samping terjadinya gangguan
gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, perdarahan di lambung,
dan lain-lain (BNF, 2014). Sehingga pada penggunaanya diperlukan
obat yang bersifat sitoprotektif pada lambung seperti sukralfat dan
natrium diklofenak harus diminum setelah makan. Dosis pada kasus
natrium diklofenak diberikan 2 kali sehari 50 mg. Dosis pada kasus
sudah tepat.

4. Planning (P):
- Rekomendasi terapi non-farmakologi:
a. Fisioterapi
Fisioterapi pada pasien poliartralgia dapat mengurangi pain score,
penguatan otot, serta peningkatan rentang gerak.
b. Aktivitas Fisik dan Latihan Fisik
Aktivitas fisik dan latihan fisik sangat disarankan untuk mengurangi
nyeri dan memperbaiki fungsi sendi. Latihan aerobik disarankan
untuk dilakukan secara rutin 30 - 60 menit/hari selama 3-5 hari
minggu, dimana aktivitas yang dapat dilakukan seperti jalan pelan,
berenang dan bersepeda santai. Aktivitas ini bertujuan untuk
mempertahankan dan meningkatkan cakupan gerak sendi.
c. Pemberian Nutrisi yang Seimbang
Sama seperti anjuran makan untuk masyarakat umum, anjuran makan
bagi penderita Polyarthralgia adalah makanan seimbang yang
menyesuaikan dengan zat gizi dan kebutuhan kalori dari masing -
masing individu. Penderita Polyarthralgia harus mengetahui betapa
pentingnya keteraturan terhadap jenis makanan, jadwal makan, dan
jumlah kalori yang terkandung dalam makanannya.
d. Terapi Okupasi
Terapi okupasi meliputi proteksi sendi dan konservasi energi,
menggunakan splint dan alat bantu gerak sendi untuk aktivitas fisik
sehari-hari.
- Rekomendasi terapi farmakologi:
a. Untuk mengatasi anemia yang dialami pasien yang dapat diihat dari
data klinis, pasien dapat diberikan sangobion 1 tablet 1 kali sehari
(MIMS, 2023)
b. Penggunaan amitripin dan Na diklofenok dapat dilanjutkan untuk
meredakan gejala nyeri.
c. Penggunaan Curcuma juga dapat dilanjutkan mempertimbangkan
nilai SGOT dan SGPT yang mana curcuma berperan sebagai
hepatoprotektif.
d. Pemberian ketorolac IV, eperison, dan parasetamol telah dihentikan
karena pasien kini sedang menggunakan NSAID dan amitriptilin
untuk mengatasi rasa nyeri. Selain itu, eperison telah dihentikan
karena diketahui terjadi interaksi obat dengan natrium diklofenak.
e. Pemberian omeprazole iv dapat dihentikan apabila pasien tidak
mengalami gejala mual dan muntah kembali.
- Rencana konseling, informasi, dan edukasi:
Edukasi dan promosi kesehatan terkait polyarthralgia atau poliartralgia
harus mencakup informasi tentang dasar penyakitnya, terapi yang dapat
mengatasi gejala, serta pengelolaan faktor risiko. Faktor risiko yang dapat
diubah dan perlu dipahami oleh pasien meliputi obesitas, gaya hidup, dan
pekerjaan berulang. Berikut adalah beberapa bentuk edukasi yang dapat
diberikan kepada pasien:
1. Menjaga pola makan yang seimbang dan sehat serta mencapai berat
badan yang ideal.
2. Melakukan aktivitas fisik ringan hingga sedang secara teratur setiap
hari.
3. Mengurangi pekerjaan fisik yang berat dan berulang.
4. Menghentikan kebiasaan merokok atau menghindari asap rokok.
2. Memantau kadar gula darah terutama jika pasien memiliki diabetes
mellitus sebagai komorbiditas.
3. Rutin berkonsultasi dengan dokter untuk memantau perkembangan
gejala dan memperoleh bantuan yang diperlukan.
(Freilich dan Larsen, 2018)
- Rencana monitoring efek terapi & efek samping:
● Tujuan monitoring
Tujuan monitoring efek terapi dan efek samping yang mungkin
muncul dari pengobatan obat pada pasien yang mengalami
polyarthralgia adalah untuk mencegah komplikasi dan perkembangan
penyakit yang lebih lanjut. Selain itu, tujuannya juga meliputi
peningkatan kualitas hidup pasien serta produktivitas mereka.
Evaluasi dan pemantauan dilakukan dengan fokus pada peningkatan
fungsi sendi dengan mengurangi faktor risiko serta mendorong
aktivitas fisik melalui senam yang sehat. Upaya untuk menghindari
faktor risiko ini juga akan mengurangi risiko terjadinya nyeri sendi
dengan menjaga berat badan dalam kisaran normal.
● Parameter monitoring
a. Jika terdapat pembengkakan dan tanda-tanda peradangan, maka
perlu mempertimbangkan kemungkinan terjadinya inflamasi
pada sendi (penyebab paling umumnya adalah reumatoid
artritis). Selanjutnya, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,
seperti pemeriksaan darah lengkap untuk memeriksa tanda-
tanda anemia, penanda peradangan seperti laju sedimentasi
eritrosit, viskositas plasma, protein C reaktif, faktor reumatoid,
dan juga radiografi.
b. Jika tidak ditemukan tanda-tanda peradangan aktif, maka perlu
mempertimbangkan penanganan yang lebih sederhana untuk
mengatasi arthralgia. Pasien perlu diberi keyakinan dan
disarankan untuk mengonsumsi obat analgesik atau obat
antiinflamasi nonsteroid (NSAID). Jika pasien mengalami nyeri
yang lebih umum dengan gejala depresi, perlu
mempertimbangkan kemungkinan adanya kondisi fibromyalgia.
Selanjutnya, perlu mendorong perubahan gaya hidup yang sehat
dan mengatur jadwal kontrol pasien dalam interval empat
minggu (1 bulan).
c. Jika setelah penanganan terdahulu ternyata tanda dan gejalanya
mengarah kepada osteoartritis, pasien perlu dijelaskan mengenai
sifat masalah ini (yang disebabkan oleh "wear and tear"). Pasien
harus dianjurkan untuk menggunakan analgesik atau NSAID
(atau keduanya), mendapatkan edukasi mengenai gaya hidup
yang sehat, dan didorong untuk berolahraga secara rutin guna
mencapai berat badan yang ideal. Jika diperlukan, pasien perlu
dirujuk untuk mendapatkan perawatan intensif dari seorang
fisioterapis.
d. Disarankan juga untuk pasien agar merestui istirahat bagi sendi
yang sedang mengalami peradangan dan pertimbangkan untuk
merujuk pasien ke terapi okupasi. Perlu dijadwalkan tindak
lanjut dalam jangka waktu empat hingga enam minggu untuk
melakukan penilaian klinis, memperkuat saran sebelumnya,
serta mengevaluasi kualitas hidup dan produktivitas pasien.
(Samantha [Link]., 2023)
4. Pencatatan dan Pelaporan:
Dokumen Pencatatan:
a. Catatan riwayat medis
• Pasien mengeluh mual, muntah, nyeri pada sendi kiri sejak sejak 6
hari yang lalu, keluhan nyeri sendi dirasakan seperti ditusuk-tusuk
dan panas. Nyeri dirasakan berat dan mendadak. Sebelumnya pasien
mengeluh demam sebelum nyeri sendi.
• Pasien memiliki riwayat penyakit terdahulu yakni nyeri sendi
b. Catatan pemeriksaan fisik
• Penilaian Nyeri pasien termasuk skala 7 nyeri akut
• Data klinik pasien
No. Data Klinik Nilai Normal Hasil (18/10/23)
1 Suhu 36-37,5oC 36.6oC
2 Nadi 80-100x/m 101x/min
3 RR 18-20 x/m 20x/min
4 Tekanan Darah <140/90 100/60 mmHg
5 SpO2 >95% 99%

• Data Laboratorium
No Data Klinik Rujukan Hasil (19/10/23)
1 PLT 150-450 90
2 BUN 6-20 17
3 Kreatinin 0,67-1,17 0,69
4 SGOT <40 140
5 SGPT <41 64
6 Natrium (Na) 136-145 mmol/l 132
7 Kalium (K) 3,5-5,1 mmol/l 3,9
8 WBC 3,80-10,60 3,82
9 Hemoglobin 13,2-17,3 11,8
10 Lekosit 0,5 0-1
11 MCV 80,0-100,0 71,1
12 MCH 26,0-34,0 24,9
13 MCHC 29,7-33,1 35,0

c. Riwayat terapi dan obat-obatan:


• Pasien memiliki Riwayat alergi obat ampicillin
• Pasien mengkonsumsi obat herbal Sendifit
• Adapun obat-obat yang diberikan untuk terapi keluhan pasien yakni
sebagai berikut.
No Obat Tanggal Pemberian Obat
18/10/23 19/10/23
1 Ketorolac IV 13.00 ✓ 12.00 ✓
24.00 ✓
2 Omeprazole IV 18.00 ✓
3 Amitriptilin 2 x 12,5 mg 18.00 ✓ 06.00 ✓
4 Paracetamol 3 x 1000 mg 13.00 ✓ 06.00 ✓
21.00 ✓ 13.00 ✓
5 Eperison 2 x 50 mg 18.00 ✓ 06.00 ✓
6 Curcuma 2x1 tab 18.00 ✓ 06.00 ✓
7 Sucralfat 3x15 mL 13.00 ✓ 06.00 ✓
18.00 ✓ 12.00 ✓
8 Natrium Diklofenac 2x50 mg 18.00 ✓

d. Catatan Konsultasi dengan Keluarga


Catatan mengenai pembicaraan dengan keluarga Tn. B termasuk keluhan
dan efek samping serta kepatuhan dalam mengkonsumsi obat
e. Catatan Kemajuan
Catatan mengenai perkembangan kondisi pasien setelah pemberian terapi
atau pengobatan.
f. Catatan Rencana Tindak Lanjut
Rencana untuk kunjungan berikutnya, pengawasan, atau pemantauan
pasien
Dokumen Pelaporan
a. Laporan Kejadian (Jika Terjadi Kejadian Penting)
Laporan jika terjadi kejadian penting, seperti reaksi obat yang tidak
diharapkan atau perubahan drastic dalam kondisi pasien
b. Dokumen Pemantauan Jangka Panjang
Jika Tn. B memerlukan pemantauan jangka panjang, catatan, dan laporan
berkala tentang kondisinya.
DAFTAR PUSTAKA
Aleya dan Khairun, N. B. 2014. Korelasi Pemeriksaan Laboratorium SGOT/SGPT dengan
Kadar Bilirubin pada Pasien Hepatitis C di Ruang Penyakit Dalam RSUD Dr. H. Abdul
Moeloek Provinsi Lampung pada Bulan Januari - Desember 2014. Majority. 4(9): 135
– 139.
BNF. 2014. British National Formulary. UK: Pharmaceutical Press.
DiPiro, J.T., Yee, G.C., Posey, L.M., Haines, S.T., Nolin, T.D., and Ellingrod, V. 2021.
Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach. 11th Edition. US: McGraw Hill.
DrugBank. 2023. Drug Interaction Checker. Diakses melalui: [Link]
interaction-checker. Diakses pada 1 November 2023.
[Link]. 2023. Drug Interaction Report. Diakses melalui:
[Link] Diakses pada 1 November
2023.
Freilich, A. and Larsen, H. 2018. Approach to Polyarthritis for the Primary Care Physician.
Osteopathic Family Physician. 10 (5): 24-31.
Medscape. 2023. Ketorolac. Diakses pada 1 November 2023, melalui laman:
[Link]
MIMS. 2023. Eperisone. Diakses pada 1 November 2023, melalui laman:
[Link]
Samanta, J., Kendall, J., and Samanta, A. 2003. 10-Minute Consultation Polyarthralgia. BMJ
(Clinical Research Ed.). 326 (7394): 859.
Smeltzer, S. C. and Bare, B. G. 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &
Suddart. EGC : Jakarta.
Tirta, dan Syarif, S. 2019. Perbandingan Penilaian Morfologi Eritrosit Menggunakan Nilai
Indeks Dengan Sediaan Apusan Darah Tepi Pada Penderita Tb Paru Di Puskesmas
Perumnas. Jurnal Medilab Mandala Waluya Kendari. 3(1):52-58.
Vitasari, V., Uddin, I. dan Sofia, S.N. 2018. Hiponatremia Sebagai Prediktor Mortalitas Gagal
Jantung Studi Kasus Di Rsup Dr. Kariadi Semarang. Jurnal Kedokteran Diponegoro.
7(2): 1585-1595.
Yu-hua et al., 2017. Low platelet count is potentially the most important contributor to severe
bleeding in patients newly diagnosed with acute promyelocytic leukemia. Onco Targets
Ther. 10: 4917–4924.
Zheng, L., Yu, G., Hao, W. 2021. The efficacy and safety of Curcuma longa extract and
curcumin supplements on osteoarthritis: a systematic review and meta-analysis. Biosci
Rep. 41(6): 1-20.

Anda mungkin juga menyukai