Hari kiamat merupakan hari dimana kehidupan di dunia terhenti.
Tatkala seluruh dunia hancur berkeping-keping, maka kehidupan
dunia telah berakhir dan berubah menuju kehidupan akhirat yang
kekal abadi. Hari itu bumi bergoncang dahsyat, semua makhluk
yang ada di dalam bumi keluar dari dalam hingga menewaskan
semua makhluk yang ada di permukaan bumi. Allah Swt.
Menjelaskan kejadian ini dalam sebuah surat yang terdapat di Juz 30
atau Juz ‘Amma yakni Surat al-Zalzalah yang berarti Kegoncangan.
Surat yang berada pada nomor urut 99 dinamakan dengan surat al-
Zalzalah karena sesuai dengan bunyi ayat pertama Idza Zulzilatil
Ardh Zilzalaha. Surat ini terdiri dari 8 ayat dan termasuk dalam
kategori Madaniyyah (turun di Madinah).
Hubungan surat ini dengan surat sebelumnya yakni surat al-
Bayyinah adalah jika surat sebelumnya berbicara mengenai dua
golongan yakni golongan beriman terhadap ayat Allah (al-Mu’minin)
dan golongan yang mengingkari ayat Allah (al-Kafirin).
Golongan pertama disebut sebagai golongan terbaik (khayr al-
bariyyah). Sedangkan, golongan kedua mendapatkan sebutan
sebagai golongan terburuk ( syarrul Bariyyah ). Surat ini merupakan
penjelas dari surat sebelumnya mengenai informasi terhadap semua
makhluk Allah bahwa setiap perbuatan terdapat balasan atau
konsekuensi pada saat hari pembalasan. Balasan terhadap apa yang
dilakukan dijelaskan dalam ayat ke-7 dan 8:
ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره. فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره
“Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji zarrah,
niscaya dia akan melihat balasannya. Maka barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan seberat biji zarrah, niscaya dia akan melihat
balasannya.”
Al-Tabari dalam tafsirnya kedua ayat terakhir ini merupakan
penegas dari ayat ke 6. Ayat ke 7 menjelaskan mengenai
penegasan Allah bahwa siapa saja yang mengerjakan perbuatan
baik sekecil apa pun, maka orang tersebut akan mendapat balasan
dari apa yang diperbuat.
Begitu pula sebaliknya, maka balasannya pun setimpal dengan
perbuatannya sebagaimana yang dijelaskan pada ayat 8. Al-Tabari
pun menjelaskan lebih lanjutn bahwa kedua ayat tersebut bertujuan
untuk memahamkan para pembaca juga pendengar agar dapat
lebih memahami konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan selama
hidup di dunia. Bagi yang taat kepada Allah Swt., maka ia akan
beruntung. Sedangkan bagi yang ingkar, maka akan celaka.
Imam al-Mawardi pun menambahkan dari penafsiran ayat di atas
bahwa balasan akan diterima oleh siapa pun. Jika seorang beriman
melakukan perbuatan salah, maka perbuatan salah akan
mendapatkan balasan di dunia, sedangkan di akhirat akan
mendapatkan balasan yang baik. Namun, bagi orang yang kafir
melakukan hal perbuatan baik, maka balasan perbuatan tersebut
hanya berlaku di dunia, sedangkan di akhirat akan mendapatkan
balasan yang buruk. Ada pun perbuatan yang dilakukan mencakup
hal yang bersifat besar dan kecil serta hal yang nyata maupun
tersembunyi.
Penutup, menurut hemat penulis surat ini mengajarkan kepada
semua hamba Allah untuk mengimani eksistensi hari kiamat. Selain
itu surat ini mengajarakan kepada kita untuk tetap intropeksi diri
terhadap segala perbuatan yang sering dilakukan. Karena hal itu
terdapat akibat dan balasan di kemudian hari. Apa yang dilakukan
saat ini, hasilnya akan dituai di akhirat. Oleh sebab itu, marilah kita
intropeksi diri dan tetap optimis dalam hidup sehingga
mendapatkan balasan yang terbaik dari Allah Swt. Wallahu A’lam
Bisshowab.