Penelitian Arsitektur
Islam pada rumah
panggung
Muhammad Yasin/142022009
Yang diteliti:
1. Deskripsi Bangunan
2. Tampak Bangunan
3. Denah
4. Arsitektur Islam
Anjungan Kabupaten Ogan Ilir
Ciri Arsitektur Rumah Panggung Palembang:
Rumah panggung Palembang adalah salah satu bentuk arsitektur tradisional khas masyarakat Palembang, Sumatra Selatan. Rumah ini dibangun di atas tiang-tiang kayu (panggung) dan memiliki
ciri khas serta nilai budaya yang kental. Berikut adalah deskripsinya:
1. Struktur dan Material
Panggung: Rumah ini dibangun di atas tiang-tiang kayu tinggi, biasanya setinggi 1,5 hingga 2 meter dari permukaan tanah. Tujuan utama adalah untuk menghindari banjir, mengingat
Palembang berada di daerah rawa dan dekat sungai Musi.
Material: Material utama adalah kayu berkualitas seperti kayu unglen, tembesu, atau merbau yang tahan terhadap air dan rayap.
2. Ciri Arsitektur
Atap Limas: Bentuk atap rumah biasanya limasan atau limas bertingkat yang disebut rumah limas. Atap ini memiliki filosofi tersendiri dan berfungsi untuk sirkulasi udara yang baik.
Tangga Depan: Terdapat tangga di bagian depan rumah yang menjadi akses masuk, disebut tangga patah karena bentuknya yang tidak lurus.
Kolong Rumah: Area di bawah rumah dimanfaatkan untuk aktivitas tertentu, seperti menyimpan alat pertanian, memelihara hewan, atau tempat bermain anak.
3. Pembagian Ruang
Rumah panggung Palembang memiliki pembagian ruang yang jelas berdasarkan adat:
Ruang Jogan (depan): Untuk tamu dan acara formal.
Ruang Tengah: Tempat berkumpul keluarga.
Ruang belakang (amben atau dapur): Untuk kegiatan domestik seperti memasak.
4. Ornamen dan Ukiran
Banyak rumah panggung khas Palembang yang dihiasi dengan ukiran khas Palembang yang bernuansa flora, sulur, dan kaligrafi. Ini menunjukkan kemewahan dan estetika rumah bangsawan
Palembang zaman dahulu.
5. Filosofi
Rumah limas (salah satu bentuk rumah panggung Palembang) melambangkan stratifikasi sosial dan adat, dengan lantai bertingkat (kijing) yang menunjukkan kedudukan atau status tamu
dalam masyarakat.
Rumah Panggung Palembang
Rumah Panggung Palembang
Rumah Panggung Palembang
Rumah Panggung Palembang
Rumah Panggung Palembang
Rumah Panggung Palembang
Ciri Arsitektur Islam Rumah Panggung Palembang:
Arsitektur Islam pada rumah panggung Palembang muncul sebagai hasil akulturasi antara budaya lokal Palembang dan pengaruh Islam yang kuat sejak abad ke-15, terutama setelah masuknya Islam melalui jalur perdagangan dan
kerajaan-kerajaan Islam seperti Kesultanan Palembang Darussalam. Unsur-unsur Islam ini tidak mengubah bentuk rumah sepenuhnya, tetapi menyatu secara halus melalui ornamen, tata ruang, dan simbolik. Berikut penjelasannya:
🔹 1. Ornamen Kaligrafi dan Motif Islami
Banyak rumah panggung Palembang—terutama rumah limas milik bangsawan atau keluarga ulama—dihiasi dengan kaligrafi Arab, seperti potongan ayat Al-Qur'an atau lafaz Bismillah, Allah, dan Muhammad.
Ukiran berbentuk motif sulur, daun, dan bunga dipilih karena sesuai dengan prinsip Islam yang melarang penggambaran makhluk hidup secara utuh (terutama manusia dan hewan).
Motif-motif ini sering ditempatkan di pintu, jendela, dinding atas (lisplang), atau perabotan seperti lemari dan partisi.
🔹 2. Tata Ruang dan Adab Islam
Pembagian ruang dalam rumah limas mencerminkan nilai-nilai Islam, seperti menjaga aurat dan privasi.
Tamu laki-laki biasanya hanya diperkenankan sampai ruang depan (jogan), sedangkan area dalam (ruang keluarga dan dapur) lebih privat, terutama bagi perempuan.
Ada pembagian ketinggian lantai (kijing) yang juga selaras dengan nilai Islam tentang adab dan penghormatan terhadap tamu berdasarkan status dan hubungan kekerabatan.
🔹 3. Arah Kiblat
Beberapa rumah adat dibangun dengan mempertimbangkan arah kiblat, terutama dalam penempatan ruang shalat atau mushala kecil di dalam rumah.
Hal ini menunjukkan integrasi nilai spiritual dalam desain rumah, meskipun tidak semua rumah adat secara ketat menerapkan ini karena pengaruh geografis dan teknis konstruksi.
🔹 4. Nilai dan Simbolisme
Arsitektur rumah limas kerap dianggap mewakili filosofi Islam, seperti:
Kelima tingkatan lantai (kijing) bisa dimaknai sebagai simbol rukun Islam atau jenjang dalam kehidupan spiritual.
Konsep tawadhu’ (rendah hati) tercermin dalam penggunaan bahan alami dan struktur rumah yang terbuka, tidak menonjolkan kemewahan meski pemiliknya terpandang.
🔹 5. Pengaruh Kesultanan Palembang
Pada masa kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam, banyak rumah panggung dibangun dengan konsep Islam-Melayu, menggabungkan gaya rumah limas dengan sentuhan arsitektur istana Islam, seperti:
Kubah mini di atap rumah.
Pilar besar yang mencerminkan kekuatan serta kestabilan—dua nilai penting dalam Islam.
d
Thank
You