0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan30 halaman

Analisis QoS dan Jaringan Komputer

Dokumen ini membahas berbagai penelitian terkait Quality of Service (QoS) dalam jaringan komputer, termasuk analisis bandwidth dan teknologi jaringan Wi-Fi. Penelitian menunjukkan bahwa banyak jaringan mengalami masalah dalam memenuhi standar QoS yang ditetapkan, dengan kebutuhan bandwidth yang sering kali lebih tinggi dari yang tersedia. Selain itu, dijelaskan juga tentang konsep bandwidth, alokasi, dan metode load balancing untuk meningkatkan kinerja jaringan.

Diunggah oleh

diochristyan37
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan30 halaman

Analisis QoS dan Jaringan Komputer

Dokumen ini membahas berbagai penelitian terkait Quality of Service (QoS) dalam jaringan komputer, termasuk analisis bandwidth dan teknologi jaringan Wi-Fi. Penelitian menunjukkan bahwa banyak jaringan mengalami masalah dalam memenuhi standar QoS yang ditetapkan, dengan kebutuhan bandwidth yang sering kali lebih tinggi dari yang tersedia. Selain itu, dijelaskan juga tentang konsep bandwidth, alokasi, dan metode load balancing untuk meningkatkan kinerja jaringan.

Diunggah oleh

diochristyan37
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Penelitian Terdahulu


Penelitian yang dilakukan oleh Yanto (2013) dalam penelitiannya berjudul
“Analisis Quality of Service pada jaringan internet (studi kasus: Fakultas Teknik
Universitas Tanjungpura)”. Masalah dari penelitiannya alokasi bandwidth puskom
untan ke fakultas Teknik Universitas sebesar 3Mb, tetapi dari daily report graphic,
down stream sebesar 612,63 Kb dan up stream sebesar 3,74 Mb terlihat stabil dan
kurang dari bandwidth yang dialokasikan, sehingga perlu adanya suatu analisis
QoS untuk mengatasi permasalahan tersebut. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa Parameter-parameter QoS yang diukur adalah delay, jitter, throughput,
packet loss dan MOS (Mean Opinion Score), dikarenakan belum adanya alat untuk
mengukur parameter echo cancellation dan PDD dan tidak terdapat layanan yang
memerlukan pengukuran kedua parameter tersebut. Total rata-rata parameter QoS
sebesar 2,45 dengan indeks cukup dan presentasenya sebesar 61,25% dalam
standar TIPHON. Dengan demikian hasil penelitian jaringan internet fakultas
Teknik Universitas Tanjungpura tergolong dalam standar yang kurang memuaskan
berdasarkan standar dari TIPHON Joesman (2008) dengan rating <95%.
Kebutuhan bandwidth berdasarkan hasil QoS Fakultas Teknik Universitas
Tanjungpura, dengan kebutuhan setiap parameter QoS fakultas Teknik Universitas
Tanjungpura menunjukkan besaran bandwidth yang hampir sama yaitu 4,65 Mb.
Penelitian yang dilakukan oleh Yohanes (2016) dalam penelitiannya
berjudul “Analisis Optimasi Kinerja Quality Of Service pada layanan komunikasi
data NS-2 di PT. PLN (PERSERO) Jember”. Masalah dari penelitiannya dengan
dibuatnya sistem pembayaran online yang terdapat di [Link] (Persero) Jember,
layanan yang digunakan hendaknya harus memenuhi standar TIPHON. Hasil
perbandingan hasil simulasi dengan hasil pengukuran menunjukan bahwa dengan
perhitungan optimasi yang diperoleh dari hasil pengukuran di PT. PLN (Persero)
Jember kemudian disimulasikan diperoleh hasil yang sangat memuaskan. Jadi
antara perhitungan bandwidth yang dibutuhkan dengan hasil simulasi sangat
compatible. Pada hasil simulasi terdapat parameter uji yang mendapatkan hasil
yang kurang maksimal adalah packet loss, ini dikarenakan tipe aliran paket yang
digunakan oleh peneliti yaitu tipe droptail. Paket mengalir dengan membuat
antrian panjang, dimana untuk paket terakhir yang tidak dapat antrian akan
dibuang. Selain itu, model perbaikan QoS yang cocok adalah Integrated Service
(IntServ). Dimana model IntServ merupakan sebuah model QoS yang bekerja
untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan QoS berbagai perangkat dan berbagai
aplikasi dalam sebuah jaringan yang peka terhadap delay dan keterbatasan
bandwidth.
Penelitian yang dilakukan oleh Iskandar dan Hidayat (2015) dalam
penelitiannya yang berjudul “Analisa Quality of Service Jaringan Internet Kampus
(Studi Kasus: UIN Suska Riau)”. Bandwidth yang diperoleh dari ISP Telkom
sebesar 45 Mbps. Dari penelitian ini mendapatkan kesimpulan untuk Account
Mahasiswa 128 Kbps tergolong pada kategori QoS buruk berdasarkan tiga dari
empat parameter uji yaitu throughput tergolong pada kualitas yang bagus yaitu
rata-rata pada jam sibuk dan jam sepi dengan indeks 3,25. Delay tergolong pada
kualitas buruk. Jitter tergolong pada kualitas buruk. Packet loss tergolong pada kualitas
buruk. Hasil menggunakan Account Staff atau Dosen 384 Kbps tergolong pada
kategori QoS bagus berdasarkan empat parameter uji.
2.2 Pengertian Jaringn Komputer
Jaringan komputer adalah kumpulan beberapa komputer (perangkat lain
seperti printer, hub, dan sebagainya) yang saling satu sama lain melalui perantara
Iwan (2008). Menurut Andri (2003) jaringan komputer merupakan sekelompok
otonom yang saling berh ubungan antara satu dengan yang lainnya menggunakan
protocol komunikasi melalui media komunikasi sehingga dapat saling berbagi
informasi, program-program, penggunaan bersama perangkat keras seperti printer,
harddisk, dan sebagainya.
2.2.1 Tipe-Tipe Jaringan Komputer
Jaringan komputer dapat dibedakan berdasarkan cakupan geografisnya.
Ada empat kategori utama jaringan komputer menurut (Budhi, 2005) yaitu:

7
1. LAN (Lokal Area Network)
LAN digunakan untuk menghubungkan komputer yang berada di dalam
suatu area yang kecil, misalnya di dalam suatu gedung perkantoran atau
kampus. Jarak antar komputer yang dihubungkannya bisa mencapai 5
sampai 10 km. Suatu LAN biasanya bekerja pada kecepatan mulai 10 Mbps
sampai 100 Mbps.
2. MAN (Metropolitan Area Network)
MAN merupakan suatu jaringan yang cakupannya meliputi suatu kota.
MAN menghubungkan LAN-LAN yang lokasinya berjauhan. Jangkauan
MAN biasa mencapai 10 km sampai beberapa ratus km. suatu MAN
biasanya bekerja pada kecepatan 1,5 sampai 150 Mbps.
3. WAN (Wide Area Network)
WAN dirancang untuk menghubungkan komputer-komputer yang terletak
pada suatu cakupan geografis yang luas, seperti hubungan dari suatu kota
ke kota lain di dalam suatu negara. Cakupan WAN biasa meliputi 100 km
sampai 1.000 km dan kecepatan antar kota bisa bervariasi antara 1,5 Mbps
sampai 2,4 Gbps.
4. GAN (Global Area Network)
GAN merupakan suatu jaringan yang menghubungkan negara-negara
diseluruh dunia. Kecepatan GAN bervariasi dan cakupannya mencakupi
ribuan kilometer, contohnya adalah internet.
2.2.2 Topologi Jaringan Komputer
Topologi adalah suatu aturan bagaimana menghubungkan komputer (node)
satu sama lain secara fisik dan pola hubungan antara komponen-komponen yang
berkomunikasi melalui media atau peralatan jaringan, seperti: server, hub atau
switch dan pengkabelannya (media transmisi data). Jenis topologi jaringan ada
lima jenis topologi yang terdiri atas Bus, Ring, Star, Tree,dan Mesh (Iwan, 2008).
2.3 Teknologi Jaringan Wi-Fi
Wi-Fi atau Wireless Fidelity adalah suatu standar Wireless Networking
tanpa kabel, hanya dengan komponen yang sesuai dapat terkoneksi ke jaringan.
Teknologi Wi-Fi memiliki standar, yang ditetapkan oleh sebuah institusi

8
internasional yang bernama Institute of Electrical and Electronic Engineers
(IEEE), yang secara umum sebagai berikut menurut (Tri, 2005):
1. Standar IEEE 802.11a yaitu Wi-Fi dengan frekuensi 5 Ghz yang memiliki
kecepatan 54 Mbps dan jangkauan jaringan 300 m.
2. Standar IEEE 802.11b yaitu Wi-Fi dengan frekuensi 2,4 Ghz yang
memiliki kecepatan 11 Mbps dan jangkauan jaringan 100 m.
3. Standar IEEE 802.11b yaitu Wi-Fi dengan frekuensi 2,4 Ghz yang
memiliki kecepatan 54 Mbps dan jangkauan jaringan 300 m.
Teknologi Wi-Fi yang akan diimplementasikan adalah standar IEEE
802.11g karena standar tersebut lebih cepat untuk proses transfer data dengan
jangkauan yang lebih jauh serta dukungan vendor (perusahaan pembuat hardware).
Perangkat tersebut bekerja di frekuensi 2,4 GHz atau disebut sebagai pita frekuensi
ISM (Industrial, Scientific, and Medical) yang juga digunakan oleh peralatan lain
seperti microwave open, cordless phone, dan bluetooth.
2.3.1 Tipe Jaringan Wi-Fi
Seperti halnya Ethernet-LAN (Jaringan dengan kabel), jaringan Wi-Fi juga
dikonfigurasikan ke dalam dua jenis jaringan:
1. Jaringan peer to peer atau ad hoc Wireless LAN
Komputer dapat saling berhubungan berdasarkan nama SSID (Service Set
Identifier). SSID adalah nama identitas komputer yang memiliki komponen
nirkabel.
2. Jaringan Server Based atau Wireless Infastructure
Sistem infastruktur membutuhkan sebuah komponen khusus yang berfungsi
sebagai Access Point.
2.3.2 Komponen Utama Jaringan Wi-Fi
Terdapat empat komponen utama untuk membangun jarigan Wi-Fi menurut
(Tri, 2005) yaitu:
1. Access Point
Komponen yang berfungsi menerima dan mengirimkan data dari adapter
wireless. Access Point mengonversi sinyal frekuensi radio menjadi sinyal
digital atau sebaliknya. Komponen tersebut bertindak layaknya sebuah hub

9
atau switch pada jaringan ethernet. Access Point direkomendasikan dapat
menampung maksimal 40-an klien.
2. Wireless-LAN Device
Komponen yang dipasangkan di Mobile atau Dekstop PC.
3. Mobile atau Dekstop PC
Komponen akses untuk klien, mobile PC pada umumnya sudah terpasang
port PCMCIA (personal Computer memory Card International
Association), sedangkan Dekstop PC harus ditambahkan Peripheral
Componen Interconnect (PCI) Card, serta USB (universal Serial Bus)
Adapter.
4. Ethernet LAN
Jaringan kabel yang sudah ada (bila perlu).
2.3.3 Keunggulan dan Kelemahan Jaringan Wi-Fi
1. Keunggulan Jaringan Wi-Fi.
a. Biaya pemeliharaan murah.
b. Infrastruktur berdimensi kecil.
c. Pembangunannya cepat.
d. Mudah dan murah untuk direlokasi.
e. Mendukung porabilitas.
2. Kelemahan jaringan Wi-Fi.
a. Biaya peralatan mahal.
b. Delay yang sangat besar.
c. Kesulitan karena masalah propagasi radio.
d. Mudah untuk terinterferensi.
e. Kapasitas jaringan kecil karena keterbatasan spektrum (pita frekuensi
yang tidak dapat diperlebar).
f. Keamanan atau kerahasiaan data kurang terjamin.
2.4 Pengertian Bandwidth
Menurut Athailah (2013) dikutip Suryani (2014), bandwidth adalah
konsumsi data yang tersedia pada suatu telekomunikasi yang dihitung dalam bit
per detik. Bandwidth merupakan suatu ukuran dari banyaknya informasi yang

10
dapat mengalir dari suatu tempat ke tempat lain dalam suatu waktu tertentu.
Bandwidth dapat dipakaikan untuk mengukur baik aliran data analog maupun
digital. Sekarang bandwidth lebih banyak digunakan untuk mengukur aliran data
digital. Satuan yang dipakai untuk bandwidth adalah bit per secon (bps). Seperti
kita ketahui bahwa bit atau binary digit adalah bilangan angka yang terdiri dari
angka 0 dan 1. Satuan ini menggambarkan seberapa banyak bit yang dapat
mengalir dari satu tempat ke tempat lain dalam setiap detiknya melalui suatu
media.
Bandwidth merupakan konsep pengukuran yang sangat penting dalam
jaringan, tetapi konsep ini memiliki kekurangan atau batasan, tidak peduli
bagaimana cara anda mengirimkan informasi maupun media yang digunakan
dalam mengantarkan informasi. Hal ini adanya hukum fisika maupun hukum
batasan teknologi, akan menyebabkan batasan terhadap panjang media yang
dipakai, kecepatan maksimal yang dapat dipakai, maupun media yang dipakai.
2.4.1 Pembagian Bandwidth
Pada sebuah jaringan komputer bandwidth terbagi 2 yaitu bandwidth digital
dan bandwidth analog. Berikut adalah penjelasan masing-masing bandwidth
tersebut:
1. Bandwidth digital adalah jumlah atau volume suatu data (dalam satuan bit
per second atau bps) yang dapat dikirmkan melalui sebuah saluran
komunikasi tanpa adanya distorsi (Athailah, 2013).
2. Bandwidth analog merupakan perbedaan antara frekuensi terendah dan
frekuensi tertinggi dalam sebuah rentang frekuensi yang diukur dalam
satuan Hz yang dapat menentukan banyaknya informasi yang dapat
ditransmisikan dalam suatu saat.
2.4.2 Alokasi Bandwidth
Menurut Athailah (2013) dikutip Suryani (2014), Bandwidth Management
System (BMS) adalah suatu metode yang diterapkan untuk mengatur besarnya
bandwidth yang akan digunakan oleh masing-masing user disebuah jaringan
sehingga penggunaan bandwidth akan terdistribusi secara merata. Alokasi atau
reservasi bandwidth adalah sebuah proses menentukan jatah bandwidth kepada

11
pemakai dan aplikasi dalam sebuah jaringan. Termasuk di dalamnya menentukan
prioritas terhadap berbagai jenis aliran data berdasarkan seberapa penting atau
krusia dan delay-sensitive aliran data tersebut.
Hal ini memungkinkan penggunaan bandwidth yang tersedia secara efisien,
dan apabila sewaktu-waktu jaringan menjadi lambat, aliran data yang memiliki
prioritas yang lebih rendah dapat dihentikan, sehingga aplikasi penting dapat tetap
berjalan dengan lancar. Besarnya saluran atau bandwidth akan berdampak pada
kecepatan transmisi. Data dalam jumlah besar akan menempuh saluran yang
memiliki bandwidth kecil lebih lama dibandingkan melewati saluran yang
memiliki bandwidth yang besar.
Kecepatan transmisi tersebut sangat dibutuhkan untuk aplikasi komputer
yang memerlukan jaringan terutama aplikasi real-time, seperti video conferencing.
Penggunaan bandwidth untuk LAN bergantung pada tipe alat medium yang
digunakan, umumnya semakin tinggi bandwidth yang ditawarkan oleh sebuah alat
atau medium, semakin tinggi pula nilai jualnya. Sedangkan penggunaan bandwidth
untuk WLAN bergantung dari kapasitas yang ditawarkan dari pihak ISP,
perusahaan harus membeli bandwidth dari ISP, dan semakin tinggi bandwidth yang
diinginkan, semakin tinggi pula harganya. Sebuah teknologi jaringan baru
dikembangkan dan infrastruktur jaringan yang ada diperbaharui, aplikasi yang
akan digunakan umumnya juga akan mengalami peningkatan dalam hal konsumsi
bandwidth. Video streaming dan Voicer over IP (VoIP) adalah beberapa contoh
penggunaan teknologi baru yang turut mengonsumsi bandwidth dalam jumlah
besar.
2.5 Load Balancing
Load Balancing adalah proses pendistribusian beban terhadap sebuah
service yang ada pada sekumpulan server atau perangkat jaringan ketika ada
permintaan dari pengguna. Ketika banyak permintaan dari pengguna maka server
tersebut akan terbebani karena harus melakukan proses pelayanan terhadap
permintaan user. Solusi yang cukup bermanfaat adalah dengan membagi beban
yang datang ke beberapa server, jadi tidak berpusat ke salah satu perangkat
jaringan saja, dengan teknik load balancing maka dapat diperoleh keuntungan

12
seperti menjamin reabilitas service, ketersediaan beban bandwidth dan
kemampuan suatu jaringan Rijayana, 2005 dalam (Gustriama, 2016).
Menurut Hafizh (2011) dikutip Adani (2016) Metode load balance PCC
merupakan metode yang mengelompokkan traffic koneksi melalui atau keluar
masuk router menjadi beberapa kelompok. Pengelompokan ini bisa
dibedakan berdasarkan src-address, src-port, dan dst-port. Router akan
menyimpan informasi tentang jalur gateway yang dilewati data ditiap trafik
koneksi, sehingga pada paket-paket selanjutnya yang masih berkaitan dengan paket
data sebelumnya akan dilewatkan pada jalur gateway yang sama juga. Karena
metode PCC melewatkan paket data melalui jalur gateway yang sama, maka
metode tersebut mempunyai kekurangan yaitu dapat terjadi overload pada
salah satu gateway.
2.5.1 Per Connection Clasifier (PCC)
Metode PCC merupakan salah satu metode yang dapat digunakan pada
load balancing, dengan PCC dapat digunakan untuk mengelompokan traffic
koneksi yang melalui router menjadi beberapa kelompok, sehingga router akan
mengetahui jalur gateway yang dilewati diawal traffic koneksi dan pada paket-
paket selanjutnya yang masih berkaitan dengan koneksi awalnya akan dilewatkan
pada jalur gateway yang sama juga Twidjojo 2013 dalam (Bhayangkara, 2014).
2.6 Quality of Service (QoS) Networking
Quality of Service mengacu pada kemampuan jaringan untuk memberikan
layanan yang lebih baik untuk dipilih lalu lintas jaringan lebih dari berbagai
teknologi, termasuk Frame Relay, Asynchronous Transfer Mode (ATM), Ethernet
dan 802.1 jaringan, SONET, dan jaringan IP diarahkan yang dapat menggunakan
salah satu atau semua teknologi yang mendasari. Tujuan utama dari QoS adalah
untuk memberikan prioritas termasuk bandwidth dedicated, jitter dikendalikan
dan latency (diperlukan oleh beberapa real-time dan lalu lintas interaktif) dan
peningkatan hilangnya karakteristik dan memastikan bahwa memberikan prioritas
untuk satu atau lebih arus tidak membuat arus lain gagal. Teknologi QoS
menyediakan blok bangunan unsur yang akan digunakan untuk aplikasi masa
depan bisnis di kampus, WAN, dan jaringan penyedia layanan (Flannagan, 2003).

13
2.6.1 Parameter-Parameter QoS
Untuk menentukan kualitas QoS dibutuhkan beberapa parameter
pendukung diantaranya adalah latency, jitter, packet loss, throughput, MOS, echo
cancellation dan PDD. Untuk tabel kualitas QoS menurut (Yohanes, 2016) seperti
Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Kualitas QoS
Nilai Presentase (%) Indeks
3,8-4 95-100 Sangat Memuaskan
3-3,79 75-95,75 Memuaskan
2-2,99 50-74,75 Kurang Memuaskan
1-1,99 25-49,75 Buruk
(Sumber: TIPHON, 1999)
1. Packet Loss
Merupakan suatu parameter yang menggambarkan suatu kondisi yang
menunjukkan jumlah total paket yang hilang, dapat terjadi karena collision
dan congestion pada jaringan dan hal ini berpengaruh pada semua aplikasi
karena retransmisi akan mengurangi efisiensi jaringan secara keseluruhan
meskipun jumlah bandwidth cukup tersedia untuk aplikasi tersebut. Berikut
kategori packet loss dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut:
Tabel 2.2 Kategori Packet Loss
Kategori Degradasi Packet loss (%) Indeks
Sangat Bagus 0 4
Bagus 3 3
Sedang 15 2
Buruk 25 1
(Sumber: TIPHON, 1999)

Adapun persamaan yang digunakan adalah packet loss= x 100 (2.1)


A

Keterangan:
Y = Packet data dikirim – Packet data diterima
A = Packet data dikirim

14
2. Delay
Delay adalah waktu yang dibutuhkan data untuk menempuh jarak dari asal
ke tujuan. Delay dapat dipengaruhi oleh jarak, media fisik, kongesti atau
juga waktu proses yang lama. Delay di dalam jaringan dapat digolongkan
(Iskandar, 2015) sebagai berikut:
a. Packetization Delay
Delay yang disebabkan oleh waktu yang diperlukan untuk proses
pembentukan paket IP dari informasi user. Delay ini hanya terjadi
sekali saja, yaitu di sumber informasi.
b. Queuing Delay
Delay ini disebabkan oleh waktu proses yang diperlukan oleh router
dalam menangani transmisi paket di jaringan. Umumnya delay ini
sangat kecil, kurang lebih sekitar 100 micro second.
c. Delay Propagasi
Proses perjalanan informasi selama di dalam media transmisi, misalnya
kabel SDH, coax atau tembaga, menyebabkan delay yang disebut
dengan delay propagasi.
Menurut Subekti, 2015 dalam (Yohanes, 2016) besarnya delay dapat
diklasifikasikan pada Tabel 2.3 berikut:
Tabel 2.3 Kategori Delay
Kategori Latency Besar Delay (ms) Indeks
Sangat Bagus <150 4
Bagus 150 s/d 300 3
Sedang 300 s/d 450 2
Buruk >450 1
(Sumber: TIPHON, 1999)
Untuk persamaannya dapat dilihat pada persamaan 2.2 berikut:

Delay = (2.2)

3. Jitter
Jitter atau variasi delay, berhubungan erat dengan latency, yang
menunjukkan banyaknya variasi delay pada taransmisi data di jaringan.

15
Delay antrian pada router dan switch menyebabkan jitter. Hal ini
diakibatkan oleh variasi-variasi panjang antrian, waktu pengolahan data,
dan waktu penghimpunan ulang paket-paket diakhir perjalanan jitter.
Terdapat empat kategori penurunan performansi jaringan berdasarkan nilai
peak jitter dapat dilihat pada Tabel 2.4 di bawah ini:
Tabel 2.4 Kategori Jitter
Kategori Degradasi Peak Jitter (ms) Indeks
Sangat Bagus 0 4
Bagus 0 s/d 75 3
Sedang 75 s/d 125 2
Buruk 125 s/d 225 1
(Sumber: TIPHON, 1999)
Adapun persamaan yang digunakan dapat dilihat pada persamaan 2.3
berikut:
Total variansi delay
Jitter = (2.3)
Total Packet diterima

Total variasi Delay = Delay – (rata- rata delay)


4. Throughput
Yaitu kecepatan (rate) transfer data efektif, yang diukur dalam bps.
Throughput merupakan jumlah total kedatangan paket yang sukses yang
diamati pada tujuan selama interval waktu tertentu dibagi oleh durasi
interval waktu tersebut. Berikut kategori throughput dapat dilihat pada
Tabel 2.5 berikut.
Tabel 2.5 Kategori Throughput
Kategori Throughput Throughput (%) Indeks
Sangat Bagus 100 4
Bagus 75 3
Sedang 50 2
Buruk <25 1
(Sumber: TIPHON, 1999)

16
Untuk persamaannya dapat dilihat pada persamaan 2.4 berikut.
Packet data diterima
Throughput = (2.4)
Lama pengamatan

5. Mean Opinion Source (MOS)


Kualitas sinyal yang diterima biasanya diukur secara subjektif dan objektif.
Metode pengukuran subjektif yang umum dipergunakan dalam pengukuran
kualitas speech coder adalah ACR (Absolute Category Rating) yang akan
menghasilkan nilai MOS. Tes subyektif ACR meminta pengamat untuk
menentukan kualitas suatu speech coder tanpa membandingkannya dengan
sebuah referensi. Skala rating umumnya mempergunakan penilaian yaitu
beruturut-turut: Exellent, Good, Fair, Poor dan Bad dengan nilai MOS
berturut-turut: 5, 4, 3, 2 dan 1. Kualitas suara 1minimum mempunyai nilai
setara MOS 4.0 dapat dilihat pada Tabel 2.6 berikut:
Tabel 2.6 Kategori MOS
Kategori Throughput Nilai Indeks
Sangat Baik 5 4
Baik 4 3
Cukup 3 2
Kurang Baik 2 1
Buruk 1 0
(Sumber: TIPHON, 1999)
6. Echo Cancelation
Untuk menjamin kualitas layanan voice over packet terutama disebabkan
oleh echo karena delay yang terjadi pada jaringan paket maka perangkat
harus menggunakan teknik echo cancelation. Persyaratan performansi yang
diperlukan untuk echo canceller harus mengacu standar internasional ITU
G.165 atau G.168.
7. Post Dial Delay (PDD)
PDD yang diijinkan kurang dari 10 detik dari saat digit terakhir yang
dimasukkan sampai mendapatkan ringing back.

17
2.6.2 Penyebab QoS yang Buruk
Terdapat beberapa faktor pengganggu dalam jaringan yang menyebabkan
turunnya nilai QoS yaitu redaman, distorsi, dan noise (Yanto, 2013).
1. Redaman yaitu jatuhnya kuat sinyal karena pertumbuhan jarak pada media
transmisi. Setiap media transmisi memiliki redaman yang berbeda-beda,
tergantung dari bahan yang digunakan. Untuk mengatasi hal ini, perlu
digunakan repeater sebagai penguat sinyal. Pada daerah frekuensi tinggi
biasanya mengalami redaman lebih tinggi dibandingkan pada daerah
frekuensi rendah.
2. Distorsi yaitu fenomena yang disebabkan bervariasinya kecepatan
propogasi karena perbedaan bandwidth transmisi yang memadai dalam
mengakomodasi adanya spekrum sinyal. Dianjurkan digunakan pemakaian
bandwidth yang seragam, sehingga distorsi dapat dikurangi.
3. Noise
Noise ini sangat berbahaya, karena jika terlalu besar akan dapat mengubah
data asli yang dikirimkan. Jenis-jenis noise dalam jaringan:
a. Thermal noise
1) Terjadi pada media transmisi bila suhunya diatas suhu mutlak (0 oK)
2) Akibat pergerakan electron secara random dan memiliki
karakteristik energi terdistribusi seragam.
3) Menjadi faktor yang menentukan batas bawah sensitifitas sistem
penerima.
b. Intermodulation noise
1) Terjadi karena ketidak-linieran komponen transmitter dan receiver
2) Sinyal output merupakan penjumlahan dan perbedaan dari sinyal
input.
3) Sistem diharapkan linerar sehingga sinyal output = sinyal input.
c. Impulse noise
1) Pulsa-pulsa iregular atau spikes
2) Durasi pendek
3) Amplituda tinggi

18
4) Pengaruh kecil pada komunikasi telepon analog
5) Pengaruh besar pada komunikasi data
d. Crosstalk
1) Gandengan yang tidak diinginkan antar lintasan sinyal = media
metal (twisted pair dan koaksial).
2) Penyebabnya adalah gandengan elektris dan pengendalian respon
frekuensi yang buruk, contoh: ketika bertelepon, kita mendengarkan
percakapan lain.
e. Echo
Terjadi ketika sinyal yang dikirim oleh transmitter kembali (feedback)
kepadanya.
2.6.3 Perbaikan QoS
Dalam usaha menjaga dan meningkatkan nilai QoS, dibutuhkan teknik
untuk menyediakan utilitas jaringan, yaitu dengan mengklasifikasikan dan
memprioritaskan setiap informasi sesuai dengan karakteristiknya masing-masing,
contohnya, terdapat paket data yang bersifat sensitif terhadap delay tetapi tidak
sensitif terhadap packet loss seperti VoIP, ada juga paket yang bersifat sensitif
terhadap packet loss tetapi tidak sensitif terhadap delay seperti transfer data
(Yanto, 2013).
2.6.4 Model Layanan QoS
Terdapat tiga teknik atau metode QoS yang umum dipakai, yaitu: best-
effort service, integrated service, dan differentiated service (Flannagan, 2003).
1. Best effort service
Sesuai dengan namanya, model QoS Best-Effort merupakan model servis
yang dihantarkan kepada penggunanya akan dilakukan sebisa mungkin dan
sebaik-baiknya tanpa ada jaminan apa-apa. Jika ada sebuah data yang ingin
dikirim, maka data tersebut akan dikirim segera begitu media perantaranya siap
dan tersedia. Data yang dikirim juga tidak dibatasi, tidak diklasifikasikan, tidak
perlu mendapatkan ijin dari perangkat manapun, tidak diberi policy, semuanya
hanya berdasarkan siapa yang datang terlebih dahulu ke perangkat gateway.

19
Dengan kata lain model Best-Effort ini tidak memberikan jaminan apa-apa
terhadap reliabilitas, performa, bandwidth, kelancaran data dalam jaringan,
delay, dan banyak lagi parameter komunikasi data yang tidak dijamin. Data
akan dihantarkan sebisa mungkin untuk sampai ke tujuannya. Jika hilang
ditengah jalan atau tertunda dengan waktu yang cukup lama di dalam
perjalanannya, maka tidak ada pihak maupun perangkat yang bertanggung
jawab.
Model Best-Effort ini sangat cocok digunakan dalam jaringan dengan
koneksi lokal (LAN) atau jaringan dengan koneksi WAN yang berkecepatan
sangat tinggi. Model ini sangat tepat jika digunakan dalam jaringan yang
melewatkan aplikasi dan data yang bermacam-macam dengan tingkat prioritas
yang sama. Jadi semua aplikasi di dalamnya memiliki kualitas yang sama.
Contohnya, misalnya penggunaan internet di rumah atau perkantoran yang
digunakan untuk browsing, email, chatting, banyak aplikasi lain.
Jenis QoS ini tidak cocok digunakan untuk melayani aplikasi-aplikasi
bisnis yang kritis dan penting, karena aplikasi tersebut biasanya membutuhkan
perlakuan istimewa untuk dapat berjalan dengan baik. 22 Network Traffic
Management, Quality of Service, Congestion Control dan Frame Relay. Untuk
membuat QoS model Best-Effort ini, biasanya antarmuka router atau perangkat
jaringan berkemampuan QoS dikonfigurasi dengan menggunakan metode
Quein First In First Out (FIFO). Data yang masuk pertama kali akan keluar
pertama kali juga, maka terciptalah servis model Best-Effort yang sangat adil
dalam hal perlakuannya di perangkat QoS.
2. Integrated Service (IntServ)
IntServ merupakan sebuah model QoS yang bekerja untuk memenuhi
berbagai macam kebutuhan QoS berbagai perangkat dan berbagai aplikasi
dalam sebuah jaringan. Dalam model IntServ ini, para pengguna atau aplikasi
dalam sebuah jaringan akan melakukan request terlebih dahulu mengenai
servis dan QoS jenis apa yang mereka dapatkan, sebelum mereka mengirimkan
data. Request tersebut biasanya dilakukan dengan menggunakan sinyal-sinyal
yang jelas dalam proses komunikasinya.

20
Dalam request tersebut, pengguna jaringan atau sebuah aplikasi akan
mengirimkan genai profile traffic mereka ke perangkat QoS. Profile traffic
tersebut akan menentukan hak-hak apa yang akan mereka dapatkan seperti
misalnya berapa bandwidth dan delay yang akan mereka terima dan gunakan.
3. Differentiated Service (DiffServ)
Model QoS ini merupakan model yang sudah lama ada dalam standarisasi
QoS dari organisasi IETF. Model QoS ini bekerja dengan cara melakukan
klasifikasi terlebih dahulu terhadap semua paket yang masuk ke dalam sebuah
jaringan. Pengklasifikasian ini dilakukan dengan cara menyisipkan sebuah
informasi tambahan yang khusus untuk keperluan pengaturan QoS dalam
header IP pada setiap paket.
Setelah paket diklasifikasikan pada perangkat-perangkat jaringan
terdekatnya, jaringan akan menggunakan klasifikasi ini untuk menentukan
bagaimana traffic data ini diperlakukan, seperti misalnya perlakuan queuing,
shaping dan policing. Setelah melalui semua proses tersebut, maka akan
didapat sebuah aliran data yang sesuai dengan apa yang dikomitmenkan kepada
penggunanya.
Informasi untuk proses klasifikasi pada field IP header atau dengan kata
lain proses klasifikasi pada Layer 3 standar OSI ada dua jenis, yaitu IP
Precedence dan Differential Service Code Point (DSCP). Informasi klasifikasi
ini ditentukan dalam tiga atau enam bit pertama dari field Type of Service (ToS)
pada header paket IP.
Berikut ini adalah proses-proses yang akan dilewati oleh paket-paket
tersebut untuk mencapai tujuannya:
a. Marking atau klasifikasi
Proses klasifikasi terhadap traffic yang keluar dan masuk merupakan
langkah pertama yang harus dilakukan untuk membangun sebuah QoS. Dari
proses marking ini, kemudian bermacam-macam traffic yang lewat dapat
dikenali satu persatu dan kemudian diberi perlakuan yang berbeda-beda. Untuk
keperluan proses marking ini maka telah disediakan sebuah field khusus dalam
komunikasi TCP atau IP, seperti telah dibahas sekilas di atas, field-field

21
tersebut adalah CoS pada layer 2 atau data link layer, dan field ToS pada layer
3 atau network layer.
Dengan adanya field informasi QoS pada dua lapis proses komunikasi,
maka penggunanya dapat bebas menentukan QoS tersebut akan dilakukan di
proses yang mana dapat membuat QoS hanya menggunakan field CoS atau
hanya menggunakan ToS atau bahkan kedua-duanya.
Berikut ini adalah beberapa pertimbangan yang harus anda lihat sebelum
menentukan field mana yang akan digunakan:
1) Marking yang dilakukan pada frame layer 2 dapat digunakan untuk
menandai data yang bukan berdasarkan komunikasi IP.
2) Layer 2 marking merupakan satu-satunya opsi yang dapat digunakan
pada perangkat yang tidak menggunakan IP sebagai protokol
komunikasinya.
3) Layer 3 marking dapat membawa informasi QoS dari pengirim sampai
ke penerima data (end-to-end marking).
4) Perangkat jaringan lama yang sudah berumur biasanya tidak dapat
mengenali sistem DSCP yang diberikan pada header IP.
b. Metering
Proses Metering merupakan mekanisme untuk melakukan pengukuran
kecepatan aliran data dalam sebuah jaringan. Output yang dihasilkan proses
metering ini dapat digunakan untuk mempengaruhi proses selanjutnya. Output
proses metering biasanya akan disesuaikan dengan Commited Information Rate
(CIR) yang dijanjikan. Jika traffic masih berada dalam batasan CIR,
perlakuannya akan berbeda ketika traffic telah melampaui CIR. Metering
sangat perlu untuk menjalankan policy-policy selanjutnya.
c. Shaping
Proses shaping merupakan proses untuk membatasi aliran data yang
melampaui batas-batas yang telah ditentukan melalui CIR. Proses pembatasan
dilakukan dengan cara meneruskan traffic ketika CIR belum dilampaui, dan
jika telah melampaui traffic akan di queue dalam perangkat tersebut dan akan
dikeluarkan perlahan-lahan sesuai dengan model scheduling yang berlaku.

22
Kebanyakan proses shaping dilakukan pada traffic yang menuju ke luar
perangkat. Mekanisme shaping yang banyak digunakan ada tiga jenis, yaitu
Generic Traffic Shaping, Frame Relay Traffic Shaping, dan VC Shaping.
d. Scheduling
Proses scheduling seperti telah disebutkan diatas merupakan proses
pengaturan keluar masuknya queing dari paket-paket data yang dianggap
melebihi CIR yang ditetapkan. Aturan keluar masuknya data ini bisa dibuat
dengan berdasarkan klasifikasi yang bisa dibuat.
Tiga jenis sistem scheduling yang paling banyak digunakan adalah First In
First Out (FIFO), Weighted Fair Queing (WFQ), dan Class Based Weighted
Fair Queing (WFQ).
e. Dropping
Ketika penumpukan terjadi akibat proses QoS ini, maka dalam kondisi
tertentu, paket-paket menumpuk tersebut akan di-drop atau di buang. Proses ini
disebut dengan istilah dropping. Proses dropping juga memiliki beberapa
mekanisme, yaitu Dropping Weighted Random Early Detection, Flow-Based
Weighted Random Early Detection, dan Commited Access Rate.
2.7 TIPHON
TIPHON adalah salah satu inisiatif organisasi yang dibentuk oleh European
Telecommunications Standars Institute (ETSI). Dirancang untuk mendukung pasar
komunikasi suara dan aspek multimedia terkait antara pengguna jaringan berbasis
IP dan pengguna jaringan circuit switched.
ETSI proyek TIPHON memberikan kesempatan yang menarik untuk
mengeksploitasi yang terbaik dari dua teknologi, dunia telekomunikasi dan
internet, memungkinkan produsen untuk menawarkan solusi baru dan operator
untuk mengekploitasi aliran pendapatan tambahan dan menyediakan layanan baru.
Tujuan dari TIPHON adalah untuk mendukung pasar untuk komunikasi
suara dan terkait voice-band-communication (fax), dan memastikan bahwa internet
dan pengguna dapat berkomunikasi.

23
2.8 Axence NetTools
NetTools adalah salah satu Network analyzer yang sangat handal. Tool ini
dipakai unuk mengukur atau menganalisa perfomance network dan mendiagnosa
problem yang terjadi pada network tersebut. NetTools sangat populer karena
dilengkapi dengan trace, lookup, port scanner, network scanner, dan SNMP
browser (Aga, 2003).
2.8.1 System requirements
1. Operating system
Windows 2000/2003/XP/Vista/7
2. Hardware
a. Free Space Hardisk 500 MHz atau lebih
b. Minimal 128 MB RAM
c. Resolusi Video minimal 800x600
d. Network Adapter Card
3. Available Tools
a. NetWatch
b. WinTools
c. Local Info
d. Netstat ( part of Local Info )
e. Ping
f. Trace
g. Lookup
h. Bandwidth
i. Netcheck
j. TCP/IP workshop
k. Scan Host
l. Scan Network
m. SNMP
2.8.2 Monitoring Host
Untuk memonitor host, dapat menggunakan tools NetWatch. Tools ini akan
memonitor ketersediaan host dalam jaringan. Cara kerjanya yaitu dengan cara

24
mengirimkan packet ICMP (ping) kesemua host. Untuk memulai monitoring host,
dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Jalankan program Axence NetTools
2. Pilih NetWatch tool pada navigation bar
3. Ketikkan IP address dari host
Berikut merupakan tampilan halaman depan nettools dapat dilihat pada
Gambar 2.1 berikut ini:

Gambar 2.1 Halaman depan nettools1


4. Klik add button atau tekan Enter dapat dilihat pada Gambar 2.2 di bawah
ini:

Gambar 2.2 Halaman depan nettools 2


Dari data yang berhasil direkam oleh NetWatch, menyatakan bahwa jumlah
packet yang dikirimkan ke IP [Link] mengalami 100% lost. Hal ini terjadi
karena packet yang dikirim sebanyak 21 packet dan terjadi lost 21 packet pula.
Dalam memonitor host, cara seperti ini kurang efektif karena apabila terjadi
problem administrator tidak akan memperoleh informasi secara cepat. Solusi
dalam kondisi seperti ini adalah dengan menggunakan fasilitas alerts. Alert atau
pemberitahuan ini dapat berupa email, sound, alert icon, ataupun message window.

25
2.8.3 Alerts
Ada 3 kondisi untuk membangkitkan alert:
1. Host not responding
2. Packet loss terlalu tinggi
3. Waktu respons terlalu tinggi atau lama
Sebagai gambaran untuk mempermudah pemahaman, dapat dilihat pada
Gambar 2.3 di bawah ini.

Gambar 2.3 Grafik Alert


Garis merah adalah alert [Link] respons packet melewati garis
merah, maka alert akan dibangkitkan.
1. Setting alerts
Untuk men-setup alerts, dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.
a. Pilih NetWatch tool pada navigasi bar
b. Klik Set alert
Berikut merupakan tampilan Set Alerts NetTools 1 dapat dilihat pada
Gambar 2.4 di bawah ini:

Gambar 2.4 Set Alerts NetTools 1

26
c. Selanjutnya konfigurasi set alert pada define alerts. Pilihan yang
dilingkari warna merah menunjukkan bahwa, ketika dalam waktu 5
menit host not responding, maka alert akan dikirimkan kepada
administrator dapat dilihat pada Gambar 2.5 berikut ini:

Gambar 2.5 Set Alerts NetTools 2


d. Lingkaran warna merah yang kedua menujukkan bahwa ketika ada
packet loss sama dengan atau lebih dari 80% selama sekurang-
kurangnya 5 menit maka akan ada alert. Tetapi apabila terjadi error
hanya 50% maka alerts tidak akan terjadi alert dapat dilihat pada
Gambar 2.6 di bawah ini:

Gambar 2.6 Set Alerts NetTools 3


e. Untuk lingkaran merah yang ketiga menunjukkan bahwa ketika waktu
respons sama dengan atau lebih dari 800 ms selama 5 menit maka akan
terjadi alert. Sedangkan apabila waktu respons kurang dari atau sama
dengan 500 Ms maka tidak akan terjadi alert dapat dilihat pada Gambar
2.7 di bawah ini:

27
Gambar 2.7 Set Alerts NetTools 3
f. Selanjutnya untuk melakukan action, dapat dipilih send email atau play
sound.
2. Cek Keberadaan Host
Untuk megecek keberadaan dari host maka dapat digunakan Ping Tools.
Ping Tools akan mengirimkan packet ICMP menuju host dan akan
menampilkan waktu respons dalam bentuk grafik. Langkah-langkah untuk
menggunakan ping tools adalah sebagai berikut.
a. Pilih ping tools pada Navigasi bar, kemudian ketikkan ip address yang
akan di monitoring misalkan [Link], selanjutnya klik ping dapat
dilihat pada Gambar 2.8 di bawah ini:

Gambar 2.8 Tampilan Cek Host


b. Hasil ping yang akan ditampilkan dapat dilihat pada gambar 2.9 berikut
ini:

28
Gambar 2.9 Tampilan Hasil Cek Host
3. Cek Kualitas Jaringan dan Bandwidth
Untuk mengecek bandwidth maka dapat menggunakan tool bandwidth pada
navigasi bar. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut.
a. Pilih bandwidth pada navigasi bar.
b. Ketikkan IP address yang akan di monitoring, misalkan [Link],
selanjutnya tekan enter dapat dilihat pada Gambar 2.10 berikut ini:

Gambar 2.10 Cek Kualitas Bandwidth


c. Hasil yang akan ditampilkan adalah hubungan antara bandwidth terhadap
waktu real time dapat dilihat pada Gambar 2.11 berikut ini:

Gambar 2.11 Hasil Pengecekan Bandwidth.

29
4. Scan Port, Host dan Jaringan
Untuk melakukan scannning terhadap host, maka dapat menggunakan Host
scan. Host scan akan menunjukkan semua service dan port yang terbuka pada
host tertentu. Sedangkan scan network tools akan menunjukkan beberapa host
yang sedang running dalam suatu network.
5. Host Scan
Untuk melakukan scan host, maka langkah-langkah yang perlu dilakukan
adalah sebagai berikut.
a. Pilih scan host tool pada navigasi bar.
b. Ketikkan DNS host atau IP address host, kemudian klik scan dapat
dilihat pada Gambar 2.12 berikut ini:

Gambar 2.12 Cara Scan Host.


c. Hasil yang didapatkan dapat dilihat pada Gambar 2.13 berikut ini:

Gambar 2.13 Hasil Scan Host.


Dari data tersebut dapat memberikan informasi bahwa port yang diakses
adalah 445, 21, 80, 139.
6. Scan network
untuk mengetahui host yang berjalan pada selected network, dapat
dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
a. Pilih scan network pada navigasi bar.

30
b. Ketikkan network IP atau IP address atau DNS host yang akan di
monitoring, selanjutnya klik scan dapat dilihat pada Gambar 2.14
berikut ini:

Gambar 2.14 Pengecekan Host.


c. Data yang berhasil ditangkap dapat dilihat pada Gambar 2.15 berikut
ini:

Gambar 2.15 Hasil Pengecekan Host.


Data tersebut tidak berbeda dengan scan host yang menampilkan service
running pada host yang sedang aktif.
2.9 WIRESHARK
Wireshark adalah tool penganalisa paket jaringan. Sebuah penganalisa
paket jaringan akan mencoba untuk menangkap paket jaringan dan mencoba untuk
menampilkan paket data sedetail mungkin. Pengguna dapat menggunakan analyzer
paket jaringan sebagai alat ukur yang digunakan untuk memeriksa apa yang terjadi
di dalam kabel jaringan, seperti halnya voltmeter digunakan untuk memeriksa apa
yang terjadi di dalam kabel. Di masa lalu, alat-alat semacam itu sangat mahal,
eksklusif, atau keduanya. Namun, dengan munculnya wireshark, semua itu telah
berubah. Wireshark adalah salah satu tool analisa paket open source terbaik yang
tersedia saat ini (Hidayat, 2013).
Berikut adalah beberapa contoh orang menggunakan wireshark:
1. Administrator jaringan menggunakannya untuk memecahkan masalah
jaringan.
2. Insinyur keamanan jaringan menggunakannya untuk memeriksa masalah
keamanan.

31
3. Pengembang menggunakannya untuk mengatasi implementasi protokol.
4. Orang menggunakannya untuk mempelajari protokol jaringan internal.
Fitur-Fitur Wireshark:
1. Tersedia untuk UNIX dan Windows.
2. Menangkap paket data dari antarmuka jaringan.
3. Menampilkan paket dengan informasi protokol yang detail.
4. Ekspor dan impor paket data dengan banyak tool sejenis.
5. Mem-filter paket dengan banyak kriteria.
6. Mencari paket dengan banyak kriteria.
7. Membuat statistik yang bervariasi.
2.10 Profil Universitas Islam Riau
Profil UIR menjelaskan detail tentang UIR baik dari segi sejarah, visi, dan
misi, serta struktur organisasi UIR.
2.10.1 Sejarah Universitas Islam Riau
UIR adalah perguruan tinggi negeri tertua di Provimsi Riau berdiri pada
tanggal 4 September 1962 bertepatan dengan Zulkaidah 1382 H, di bawah YLPI
Riau dan diresmikan Menteri Agama RI yang dituangkan dalam piagam yang
ditanda tangani pada tanggal 18 April 1963. UIR berkedudukan di Pekanbaru
dengan alamat jalan Kaharuddin Nasution No. 133 perhentian Marpoyan,
Pekanbaru, Provinsi Riau. UIR didirikan dengan akta Notaris Syawal Sutan di atas
nomor 15 tanggal 30 September 1972 yang merupakan perbaikan Akta Notaris
tahun 1962. UIR berasaskan Islam, Pancasila, dan Undang-undang dasar 1945,
tokoh pendiri UIR yaitu:
1. Dt. Wan Abdurahman
2. Soeman Hasibuan
3. H. Zaini Kunin
4. H. A. Malik
5. H. Bakri Sulaiman
6. H. A. Kadir Abbas, S.H
7. H. A. Hamid Sulaiman

32
UIR hanya memiliki satu areal kampus yang terletak di pusat kota jalan
Prof. Mohd. Yamin, SH Pekanbaru dengan bangunan gedung tingkat II, namun
pengembangan kampus tidak sampai disini saja, maka UIR terus mengembangkan
pembangunan fisik. Berkat kejelian dan kegigihan Pimpinan YLPI Riau maka
diusahakan pembelian lahan di KM. 11 pemberhentian Marpoyan seluas 65 Ha,
dan tepatnya pada tahun 1983 dilaksanakan pembangunan pertama untuk gedung
Fakultas Pertanian, sehingga pada tahun itu juga Fakultas Pertanian resmi
menempati gedung baru di Perhentian Marpoyan tersebut. Dengan adanya lahan di
Perhentian Marpoyan tersebut UIR tetap berusaha menegmbangkan pembangunan
gedung, sehingga pada tahun akademis 1990/1991 semua Fakultas di lingkungan
UIR resmi menempati kampus baru yang terletak di Perhentian Marpoyan, Km. 11
seluas 65 Ha, yang telah memperoleh hak guna bangunan atas nama Yayasan
Pendidikan Islam.
2.10.2 Visi UIR
Visi UIR adalah menjadi Universitas Islam yang unggul dan terkemuka di
Asia Tenggara pada tahun 2020.
2.10.3 Misi UIR
1. Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang berkualitas.
2. Menyelenggarakan penelitian yang kreatif dan inovatif untuk memperkaya
kahasah ilmu pengetahuan dan menciptakan inovasi baru.
3. Menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat sebagai tanggung jawab
sosial kemasyrakatan.
4. Menyelenggarakan manajemen Universitas yang bersih dan transparan.
5. Membangun kemitraan yang saling menguntungkan dengan Perguruan
Tinggi, Industri, Masyarakat dan Pemerintah, baik local, Nasional maupun
Internasional.
2.10.4 Tujuan UIR
1. Menghasilkan lulusan yang berdaya saling berkarakter, bermoral, beretika,
berakhlak serta berintegrasi tinggi sesuai dengan tuntutan masyarakat lokal,
nasional, dan Internasional.

33
2. Menghasilkan inovasi sebagai landasan dalam penyelenggaraan pendidikan
serta pengembangan dan penyebarluasan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan
Seni (IPTEKS) untuk mendukung pembangunan daerah, nasional dan
Internasional.
3. Menghasilkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang mampu
mendorong potensi Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam
(SDA) dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan
lingkungan, terutama dalam mengembangkan pola ilmiah pokok, yakni
pembangunan wilayah pedesaan.
4. Menghasilkan masyarakat madani berlandaskan nilai-nilai keislaman.
5. Terwujudnya pengelolaan UIR yang terencana, produktif, efektif, efisien
dan akutanbel.
6. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan, penelitian, pengabdian
kepada masyarakat dan dakwah Islamiyah serta memperkuat daya saing
UIR di Asia Tenggara.
2.10.5 Struktur Organisasi UIR
Berikut merupakan struktur organisasi UIR dapat dilihat pada Gambar 2.16
di bawah ini:

34
Gambar 2.16 Strukur Organisasi UIR
(Sumber: Universitas Islam Riau)

35

Anda mungkin juga menyukai