0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan17 halaman

PBL Tingkatkan Keaktifan Siswa PPKn

Dokumen ini adalah proposal skripsi yang membahas implementasi model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila di kelas III B SD NU Metro. Penulis, Ngainul Yaqin, menjelaskan pentingnya pengembangan keterampilan hidup dalam pendidikan di era globalisasi dan bagaimana model pembelajaran yang bervariasi dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. Proposal ini diajukan untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Ma'arif Lampung.

Diunggah oleh

Lutfi Amrullah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan17 halaman

PBL Tingkatkan Keaktifan Siswa PPKn

Dokumen ini adalah proposal skripsi yang membahas implementasi model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila di kelas III B SD NU Metro. Penulis, Ngainul Yaqin, menjelaskan pentingnya pengembangan keterampilan hidup dalam pendidikan di era globalisasi dan bagaimana model pembelajaran yang bervariasi dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. Proposal ini diajukan untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Ma'arif Lampung.

Diunggah oleh

Lutfi Amrullah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED

LEARNING (PBL) DALAM MEINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA PADA

MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DI KELAS III B SD NU

METRO

Proposal Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Guna Memperoleh

Gelar Sarjana Pendidikan ([Link])

Oleh:

Ngainul Yaqin

NPM 211260043

Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

UNIVERSITAS MA’ARIF LAMPUNG

2024 M/1446 H
KATA PENGANTAR

‫ِب ۡس ِم ٱل َّل ِه ٱل َّر ۡح َٰم ِن ٱل َّر ِحي ِم‬

Alhamdulillah hirobbil’alamin, segala puji bagi Allah yang telah

melimpahkan taufik serta hidyah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat

menyelesaikan proposal ini sebagai persyaratan tugas akhir perkuliahan guna

mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan ([Link]) di Universitas Ma’arif Lampung.

Sholawat serta salam-Nya Allah tetap limpahkan kehadiran junjungan

Nabi agung Muhammad SAW, semoga kita semua yang membaca sholawat

kepada Nabi Muhammad SAW, mndapatkan syafa’at fi yaumil qiyamah. Amiin.

Sehubungan dengan telah selesainya proposal ini, tidak lupa penulis

ucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Mispani, [Link].I, selaku Rektor Universitas Ma’arif Lampung.

2. Bapak Agus Setiawan [Link]. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

Universitas Ma’arif Lampung.

3. Ibu Masrurotul Mahmuda, M. selaku ketua Prodi Pendidikan Agama Islam

Universitas Ma’arif Lampung.

4. Kyai Mufid Arsyad, M.H.I, selaku pengasuh pondok Ma’arif Nahlatul Ulama

Metro Lampung.

5. Ibu, Nurul Aisyah, [Link]. pembimbing (I) yang telah membimbing dalam

penyususnan proposal ini.

6. Bapak [Link] Zaenal, [Link] pembimbing (II) yang telah membimbing dalam

penyusunan proposal ini.


7. Ayahanda Tukimin dan ibunda Sarumi yang selalu memberi dukungan dan

semangat serta membesarkan, mendidiku serta tiada henti- hentinya selalu

memanjatkan do’a demi keberhasilan studiku.

8. Keluarga besar mbah Sarijan dan mbah slamet yang telah memberikan

motivasi dan dukungan kepadaku.

9. Teman- teman di Pondok Pesantern Ma’arif NU Metro Lampung yang selalu

memberikan semngat, do’a dan dukungan kepadaku sehingga dapat

menyelesaikan studiku.

10. Dan tidak lupa kepada teman hidupku yang selalu memberi support dan

dukungan disetiap waktunya.

Tentunya ini semua masih banyak kekurangan dalam penulisan, oleh

karean itu mengaharpkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun dari pihak

demi terciptanya perubahan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Metro, 04 oktober 2024

Penulis

Ngainul Yaqin

NPM: 211260043
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada era globalisasi, keterampilan hidup menjadi sangat penting.

Oleh karena itu, dalam dunia pendidikan perlu dikembangkan keterampilan

keterampilan untuk hidup atau disebut dengan life skill agar generasi muda

siap bersaing di era perkembangan yang sangat pesat ini.1

Pendidikan nasional adalah upaya sistematis yang dilakukan oleh

Negara dalam mengembangkan potensi peserta didik secara utuh, lewat jalur

pembinaan kecerdasan, akhlak, dan keterampilan, guna menyiapkan generasi

penerus bangsa yang sangat berkualitas. Referensi dalam pernyataan ini bisa

ditemukan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Republik

Indonesia No. 20 Tahun 2003 dan peraturan perundang-undangan pendidikan

terkait yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia2

Pendidikan di sekolah pada pada hakikatnya merupakan proses

pembelajaran yang melibatkan hubungan antara guru dan siswa. Asis

Saefuddin, H., mengemukakan bahwa Proses belajar mengajar yang bertujuan

untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh setiap siswa, dengan ini

maka menjadikan sebuah pendidikan di sekolah berhasil. Proses pembelajaran

1
Brilian Alvin Kurnain and Dony Andrijanto, ‘Pengaruh Permainan Kecil Terhadap
Keaktifan Siswa Pada Proses Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga Dan Kesehatan’, Jurnal
Pendidikan Olahraga Dan Kesehatan, 7.3 (2019), 551–56.
2
Windy Cahyanti et al., “Implementasi Model Problem Based Learning (PBL) untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Siswa Kelas V,” Jurnal Inovasi, Evaluasi dan
Pengembangan Pembelajaran (JIEPP) 4, no. 2 (2024): 223–29,
[Link] Hlm. 223
yang efektif diawali dari pembelajaran yang berfokus pada siswa. Model

pembelajaran yang bervariasi di dunia pendidikan dianggap mampu dalam

meningkatkan keaktifan belajar siswa. namun tujuan dari pendidikan yaitu

untuk meningkatkan sumber daya manusia, dengan pendidikan yang baik kita

bisa dengan mudah beradaptasi dengan keadaan yang berubah dan tuntutan

dunia luar3

Menurut Sebayang, ilmu pendidikan memberikan landasan sosial,

personal, dan fundamental bagi manajemen pendidikan dalam upaya berperan

sebagai mediator dalam pengembangan masyarakat. Tujuan pendidikan adalah

menyediakan lingkungan belajar yang produktif yang dapat membantu siswa

dalam mencapai potensinya sendiri. Hal ini dilakukan secara sengaja dan

cermat.4 Tujuan pendidikan sistematis adalah menciptakan masyarakat yang

berpendidikan tinggi secara umum. Tujuan reformasi pendidikan adalah

memaksimalkan potensi manusia dengan meningkatkan dan

menyelenggarakan pendidikan melampaui apa yang telah ada di masa lalu.

Hal ini menunjukkan pentingnya pendidikan bagi kehidupan manusia.5

Perlu diketahui juga bahwasanya dalam tujuan pendidikan itu sangat

berpengaruh pada manusia seperti yang ada pada firman Allah :

3
Puput Tri Hartanti Anindya, Erlen Intan Sri Suneki, “Implementasi Model Pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata
Pelajaran Matematika,” Journal Of Social Science Research Volume 4, no. 3 (2023): 4840-4848
E-ISSN 2807-4238 and P-ISSN 2807-4246 We, [Link] Hlm.225
4
sebayang sofia, “PENGARUH PENDIDIKAN, PELATIHAN DAN MOTIVASI
KERJA TERHADAP KINERJA GURU DI SD DAN SMP SWASTA BUDI MURNI 3
MEDAN,” Jurnal Ilmu Manajemen METHONOMIX 2 (2020): p-ISSN: 2622-5204. Hlm. 105
5
Fahdian Rahmandani et al., “Penerapan Problem Based Learning (PBL) dalam
Peningkatan Keaktifan dan Motivasi Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Pendidikan
Pancasila di SMAN 2 Batu,” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) 4, no. 3
(2024): 1016–27, [Link] Hlm 1017
‫َو ِم َن ال َّنا ِس َم ْن َي ْش ِري َن ْف َس ُه ا ْب ِت َغا َء َم ْر َضا ِت ال َّل ِه ۗ َوال َّل ُه َر ُءو ٌف ِبا ْل ِع َبا ِد‬

Artinya : dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan


dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun
kepada hamba-hamba-Nya.(Q.S Al-Baqarah : 207) 6
Kemudian dalam hadits juga telah diterangkan tetntang Tujuan

pendidikan yang menjadikan manusia sebagai orang yang berilmu,

pembelajar, pendengar, dan pecinta ilmu7. Hal ini diisyaratkan dalam hadis-

hadis berikut:

‫ ُك ْن َعا ِل ًما َا ْو ُم َت َع ِّل ًما َا ْو ُم ْس َت ِم ًعا َا ْو ُم ِح ًبا َوَلا َت ُك ْن َخا ِم ًسا َف ُت ْه ِل َك ( َر َوا ُه‬:‫َقا َل ال َّن ِب ُّي َص َّلى الل ُه َع َل ْي ِه َو َس َّلم‬

) ‫ا ْل َب ْي َه ِق‬

Rasulullah SAW bersabda “Jadilah engkau orang yang berilmu

(pandai) atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan ilmu atau

yang mencintai ilmu. dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima, maka

kamu akan celaka” ([Link]).

Dalam proses kegiatan belajar didalam pendidikan sekolah pasti

membutuhkan yang namanya pendidik atau guru. Guru adalah Salah satu

komponen manusia yang terlibat dalam proses belajar mengajar yang

berkontribusi terhadap pembentukan sumber daya manusia yang potensial.

Oleh karena itu, merupakan salah satu elemen dalam sektor pelatihan yang

perlu memenuhi harapan masyarakat yang terus berkembang dengan bertindak

sebagai bagian fungsional dan menempatkan statusnya sebagai seorang ahli.

Dari sudut pandang yang luar biasa, dapat dikatakan bahwa setiap guru
6
Al-Qur’an
7
Panur M. Shobirun, “Ayat dan Hadits Tentang Tujuan Pendidikan Islam,” Blantika:
Multidisciplinary Journal 2, no. 5 (2024): 524–32, [Link]
Hlm 529
memiliki tugas untuk memajukan siswanya ke tahap pertumbuhan tertentu dan

salah satunya adalah keaktifan siswa demi tercapainya hasil belajarbagi siswa

tersebut8

Jika kita berbicara tentang pendidikan, kita tidak bisa lepas dari

aktivitas paling penting, yaitu pembelajaran. Strategi, model pembelajaran,

dan metode yang digunakan sangat berpengaruh pada efektivitas

pembelajaran. Pendidik memainkan peran yang sangat penting dalam proses

pembelajaran dan bertanggung jawab atas keberhasilan proses belajar

mengajar itu sendiri.9 Pendidik bertanggung jawab untuk menyusun desain

pembelajaran, menerapkan pembelajaran, dan menilai hasil pembelajaran.

Oleh karena itu, proses pembelajaran disampaikan dengan menggunakan

berbagai model pembelajaran. Agar peserta didik lebih termotivasi untuk

belajar, perlu digunakan model pembelajaran yang mampu meningkatkan

aktifitas belajar peserta didik selama proses pembelajaran. 10

Soekamto, dkk. mengemukakan maksud dari model pembelajaran,

yaitu kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam

mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar

8
Rizty Azzahra Sastradipura, DinieAnggraeni Dewi, dan Yayang Furi Furnamasari,
“Peran Guru Pendidikan Kewarganegaraan dalam Meningkatkan Rasa Nasionalisme pada Siswa
Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Tambusai 5, no. 3 (2021): Hlm8629–37,
[Link]
9
Selvi Meilasari, Damris M Damris M, dan Upik Yelianti, “Kajian Model Pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) dalam Pembelajaran di Sekolah,” BIOEDUSAINS:Jurnal
Pendidikan Biologi dan Sains 3, no. 2 (2020): 195–207,
[Link] 195
10
Wena, [Link] Pembelajaran Inovatif Konteporer Suatu Tinjauan Konseptual
Operasional. (Jakarta: Bumi Aksara.2009). Hlm 17
tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran

dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.11

Pendapat tersebut selaras dengan Joyce yang mengungkapkan model

pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan

sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau

pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat

pembelajaran.12

Dalam mengajarkan suatu materi tertentu harus dipilih model

pembelajaran yang paling sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Oleh

karena itu, dalam memilih suatu model pembelajaran harus memililiki

pertimbangan-pertimbangan tertentu misalnya materi pelajaran, tujuan yang

akan dicapai, dan fasillitas yang tersedia. Arends menyeleksi enam model

pengajaran yang sering dan praktis digunakan guru dalam mengajar, yaitu:

presentasi, pengajaran langsung, pengajaran konsep, pembelajaran kooperatif,

pengajaran berdasarkan masalah, dan diskusi kelas.13

Dengan demikian, yang dimaksud dengan model pembelajaran

adalah suatu prosedur sebagai pedoman guru untuk merencanakan

pembelajaran di kelas dalam rangka mencapai suatu tujuan.

Menurut Adri bahwa pelaksanaan pembelajaran telah berubah, dan

siswa tidak hanya dilihat sebagai objek pembelajaran, tetapi harus berperan

11
Sulaeman, D.. Implementasi Media Peraga dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran.
Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 2022 6(1), 71–77.
12
Arifudin, O. Media Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini. (Bandung : Widina
Bhakti Persada 2021). Hlm 34
13
Hanafiah Hanafiah et al., “Penanggulangan Dampak Learning Loss dalam
Meningkatkan Mutu Pembelajaran pada Sekolah Menengah Atas,” JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu
Pendidikan 5, no. 6 (2022): 1816–23, [Link] hlm. 1817
aktif dalam proses pembelajaran, menjadi tim dalam proses pembelajaran, dan

memungkinkan siswa menjadi pembelajar yang aktif dan guru menjadi

fasilitator yang kreatif.14

Dalam kegiatan belajar mengajar, menurut Ulfah yang berpendapat

bahwa tugas seorang guru adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada

siswa. Tujuan yang diharapkan adalah pengetahuan siswa bertambah dari

yang tidak tahu menjadi tahu. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu model

pembelajaran yang tepat agar proses transfer ilmu pengetahuan dari guru ke

siswa berlangsung secara efektif. Problem Based Learning merupakan salah

satu dari sekian banyak model pembelajaran yang dapat dilakukan untuk

siswa di sekolah.15

Menurut Nurhadi dkk Problem Based Learning (PBL) adalah suatu

pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai

konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan masalah,

serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi

pelajaran16. Hal ini disampaikan juga oleh Arends menyatakan bahwa model

pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran

di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud

14
AR, Sahabul Adri. "Pengaruh Media Pembelajaran Dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar
Dribbling Passing Dalam Permainan Sepakbola Pada Siswa SMA Negeri 1 Semarang." Jurnal: Of
Physical Education and Sports Visipena 6.2 (2015): 104-113.
15
Ulfah Ulfah dan Opan Arifudin, “Implementasi Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah
Dalam Kurikulum 2013,” Jurnal Tahsinia 1, no. 2 (2020): 138–46,
[Link] Hlm.137
16
Ety Kusmiati, Dede Kusnadi, dan Latipah Latipah, “Penerapan Model Pembelajaran
Problem Based Learning Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Ipa Dalam
Memahami Konsep Hubungan Antara Struktur Organ Tubuh Manusia Dengan Fungsi Dan
Pemeliharaannya,” Jurnal Tahsinia 1, no. 1 (2019): 49–62, [Link]
Hlm 53
untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri, dan

keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan

percaya diri serta keaktifan didalam kelas17

Problem Based Learning merupakan salah satu bentuk pembelajaran

yang berlandaskan pada paradigma kontruktivisme, yang berorientasi pada

proses belajar siswa (student-centered learning). Problem Based Learning

berfokus pada penyajian suatu permasalahan (nyata atau simulasi) kepada

siswa, kemudian siswa diminta mencari pemecahannya melalui serangkaian

penelitian dan investigasi berdasarkan teori, konsep prinsip yang dipelajarinya

dari berbagai ilmu. Permasalahan sebagai fokus, stimulus dan pemandu proses

belajar. Sementara guru menjadi fasilitator dan pembimbing18

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) memiliki peran

yang strategis dan penting, yaitu dalam membentuk siswa maupun sikap

dalam berperilaku sehari-hari, sehingga diharapkan mampu menjadi pribadi

yang lebih baik. Minat belajar siswa pada bidang PPKn ini perlu mendapat

perhatian khusus karena minat merupakan salah satu faktor penunjang

keberhasilan proses belajar.19 Tri Izma menyatakan bahwa pendidikan

Pancasila dan kewarganegaraan itu penting, Pendidikan ini merupakan suatu

hal mendasar yang akan membawa individu untuk mengetahui nilai nilai,

17
Vina Febiani Musyadad et al., “Supervisi Akademik untuk Meningkatkan Motivasi Kerja
Guru dalam Membuat Perangkat Pembelajaran,” JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan 5, no. 6
(2022): 1936–41, [Link]
18
Annisa Mayasari, Opan Arifudin, dan Eri Juliawati, “Implementasi Model Problem
Based Learning (Pbl) Dalam Meningkatkan Keaktifan Pembelajaran,” Jurnal Tahsinia 3, no. 2
(2022): 167–75, [Link] Hlm. 169
19
Ina Magdalena, Ahmad Syaiful Haq, and Fadlatul Ramdhan, ‘Pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan Di Sekolah Dasar Negri Bojong 3 Pinang’, Jurnal Pendidikan Dan Sains, 2.3
(2020), 418–30
peranan, sistem, aturan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan

kemasyarakatan dan kenegaraan. Dengan pendidikan dimaksudkan agar para

generasi muda dapat menjadi pribadi yang berbudi luhur, bertanggung jawab,

bermoral dan menjadi warga negara yang baik.

Tujuan utama pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan adalah

untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara, sikap serta perilaku

yang cinta tanah air, wawasan nusantara, Fakta yang terjadi jika siswa tidak

memilki jiwa aktif di dalam proses kegiatan pembelajaran maka yang terjadi

siswa akan sulit memahami terkait materi materi yang ada didalam mata

pelajaran pendidikan pancasila20

Dari pernyataan diatas Berdasarkan hasil observasi awal penulis

ketika melakukan kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)

permasalahan yang sering muncul dalam kegiatan belajar mengajar (KBM)

terkhusus dalam pembelajaran Pemdidikan Pancasila di kelas III sekolah SD

Nahdlatul Ulama kota Metro selama ini kurang berperannya keaktifan dan

kurangnya siswa dalam memahami materi Pendidikan Pancasila dari peserta

didik dalam proses pembelajaran. Hal tersebut akan berdampak dalam proses

dan hasil pembelajarannya.

Pernyataan tersebut menarik rasa penasaran peneliti dalam

melakukan penelitian dengan judul tersebut “Implementasi Model

Pembelajaran Problem Based Learning Dalam Meningkatkan Keaktifan

20
5 Pebbriani Clarita Lewier and Kelly Sinaga, ‘Kajian Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
Melalui Pendekatan Aktivitas Aesop’S Dalam Pembelajaran Kimia Materi Hidrokarbon’, Dalton :
Jurnal Pendidikan Kimia Dan Ilmu Kimia, 3.2 (2020), 35–44
Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila di Kelas III B SD NU

Metro”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat di

identifikasi masalah sebagai berikut :

1. Minimnya keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan

Pancasila di kelas III B SD NU Metro

2. Kurangnya siswa dalam memahami materi Pendidikan Pancasila yang

dapat mempengaruhi hasil belajar siswa

C. Fokus Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang ada, maka penelitian ini perlu

adanya batasan masalah agar pembahasan tidak terlalu meluas dan untuk lebih

terfokus, maka penelitian ini dibatasi masalahnya yaitu penelitian ini

difokuskan terhadap upaya guru dalam mengaktifkan siswa dalam kegiatan

pembelajaran Pendidikan Pancasila melalui model pembelajaran Problem

Based Learning.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas maka peneliti merumuskan

masalah yaitu, ”Bagaimana Implementasi Model Pembelajaran Problem

Based Learning Dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada Mata Pelajaran

Pendidikan Pancasila di Kelas III B SD NU Metro?”

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan penelitian tersebut maka dapat diambil tujuan dari

penelitian adalah, ” Implementasi Model Pembelajaran Problem Based

Learning Dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada Mata Pelajaran

Pendidikan Pancasila di Kelas III B SD NU Metro”

F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan penelitian tersebut dapat diambil suatu manfaatnya

yaitu:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi,

menambah ilmu dan khazanah keilmuan bagi peneliti, bagi pembaca dan

bagi guru yang melakukan proses pembelajaran khususnya dalam

menentukan model pembelajaran dengan mempertimbangkan

menggunakan model pembelajran Problem Based Learning dalam

meningkatkan keaktifan siswa guna meningkatkan hasil belajar siswa dan

juga penelitian ini bisa di jadikan penelitian yang relevan di penelitian

yang akan datang

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Peserta Didik

Melalui implementasi model pembelajaran Problem Based

Learning diharapkan peserta didik dapat berlatih untuk belajar lebih

aktif sehingga bisa meningkatkan semangat sehingga mampu

menghasilkan ketercapaian hasil belajar

b. Bagi Guru
Sebagai referensi bagi guru dalam menentukan pembelajaran di

kelas dan memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas dengan

menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning serta

dapat meningkatkan kinerja guru dalam mengajar.

c. Bagi Sekolah

Menjadi referensi bagi pihak sekolah dalam upaya meningkatkan

mutu pembelajaran di SD NU Metro khususnya pengalaman strategi

model pembelajaran Problem Based Learning dalam pembelajaran,

sehingga diharapkan sekolah lebih meningkatkan mutu pendidikan,

selektif dalam perubahan serta pembaharuan dunia pendidikan.

d. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat memotivasi peneliti untuk terus belajar dan

menggali pengetahuan mengenai perkembangan dalam dunia

pendidikan guna menambah wawasan dan pengetahuan, sehingga

akan tercipta guru yang prefessional serta meningkatkan mutu

pendidikan di Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai