IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED
LEARNING (PBL) DALAM MEINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA PADA
MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DI KELAS III B SD NU
METRO
Proposal Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan ([Link])
Oleh:
Ngainul Yaqin
NPM 211260043
Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS MA’ARIF LAMPUNG
2024 M/1446 H
KATA PENGANTAR
ِب ۡس ِم ٱل َّل ِه ٱل َّر ۡح َٰم ِن ٱل َّر ِحي ِم
Alhamdulillah hirobbil’alamin, segala puji bagi Allah yang telah
melimpahkan taufik serta hidyah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan proposal ini sebagai persyaratan tugas akhir perkuliahan guna
mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan ([Link]) di Universitas Ma’arif Lampung.
Sholawat serta salam-Nya Allah tetap limpahkan kehadiran junjungan
Nabi agung Muhammad SAW, semoga kita semua yang membaca sholawat
kepada Nabi Muhammad SAW, mndapatkan syafa’at fi yaumil qiyamah. Amiin.
Sehubungan dengan telah selesainya proposal ini, tidak lupa penulis
ucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Mispani, [Link].I, selaku Rektor Universitas Ma’arif Lampung.
2. Bapak Agus Setiawan [Link]. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Ma’arif Lampung.
3. Ibu Masrurotul Mahmuda, M. selaku ketua Prodi Pendidikan Agama Islam
Universitas Ma’arif Lampung.
4. Kyai Mufid Arsyad, M.H.I, selaku pengasuh pondok Ma’arif Nahlatul Ulama
Metro Lampung.
5. Ibu, Nurul Aisyah, [Link]. pembimbing (I) yang telah membimbing dalam
penyususnan proposal ini.
6. Bapak [Link] Zaenal, [Link] pembimbing (II) yang telah membimbing dalam
penyusunan proposal ini.
7. Ayahanda Tukimin dan ibunda Sarumi yang selalu memberi dukungan dan
semangat serta membesarkan, mendidiku serta tiada henti- hentinya selalu
memanjatkan do’a demi keberhasilan studiku.
8. Keluarga besar mbah Sarijan dan mbah slamet yang telah memberikan
motivasi dan dukungan kepadaku.
9. Teman- teman di Pondok Pesantern Ma’arif NU Metro Lampung yang selalu
memberikan semngat, do’a dan dukungan kepadaku sehingga dapat
menyelesaikan studiku.
10. Dan tidak lupa kepada teman hidupku yang selalu memberi support dan
dukungan disetiap waktunya.
Tentunya ini semua masih banyak kekurangan dalam penulisan, oleh
karean itu mengaharpkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun dari pihak
demi terciptanya perubahan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Metro, 04 oktober 2024
Penulis
Ngainul Yaqin
NPM: 211260043
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada era globalisasi, keterampilan hidup menjadi sangat penting.
Oleh karena itu, dalam dunia pendidikan perlu dikembangkan keterampilan
keterampilan untuk hidup atau disebut dengan life skill agar generasi muda
siap bersaing di era perkembangan yang sangat pesat ini.1
Pendidikan nasional adalah upaya sistematis yang dilakukan oleh
Negara dalam mengembangkan potensi peserta didik secara utuh, lewat jalur
pembinaan kecerdasan, akhlak, dan keterampilan, guna menyiapkan generasi
penerus bangsa yang sangat berkualitas. Referensi dalam pernyataan ini bisa
ditemukan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Republik
Indonesia No. 20 Tahun 2003 dan peraturan perundang-undangan pendidikan
terkait yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia2
Pendidikan di sekolah pada pada hakikatnya merupakan proses
pembelajaran yang melibatkan hubungan antara guru dan siswa. Asis
Saefuddin, H., mengemukakan bahwa Proses belajar mengajar yang bertujuan
untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh setiap siswa, dengan ini
maka menjadikan sebuah pendidikan di sekolah berhasil. Proses pembelajaran
1
Brilian Alvin Kurnain and Dony Andrijanto, ‘Pengaruh Permainan Kecil Terhadap
Keaktifan Siswa Pada Proses Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga Dan Kesehatan’, Jurnal
Pendidikan Olahraga Dan Kesehatan, 7.3 (2019), 551–56.
2
Windy Cahyanti et al., “Implementasi Model Problem Based Learning (PBL) untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Siswa Kelas V,” Jurnal Inovasi, Evaluasi dan
Pengembangan Pembelajaran (JIEPP) 4, no. 2 (2024): 223–29,
[Link] Hlm. 223
yang efektif diawali dari pembelajaran yang berfokus pada siswa. Model
pembelajaran yang bervariasi di dunia pendidikan dianggap mampu dalam
meningkatkan keaktifan belajar siswa. namun tujuan dari pendidikan yaitu
untuk meningkatkan sumber daya manusia, dengan pendidikan yang baik kita
bisa dengan mudah beradaptasi dengan keadaan yang berubah dan tuntutan
dunia luar3
Menurut Sebayang, ilmu pendidikan memberikan landasan sosial,
personal, dan fundamental bagi manajemen pendidikan dalam upaya berperan
sebagai mediator dalam pengembangan masyarakat. Tujuan pendidikan adalah
menyediakan lingkungan belajar yang produktif yang dapat membantu siswa
dalam mencapai potensinya sendiri. Hal ini dilakukan secara sengaja dan
cermat.4 Tujuan pendidikan sistematis adalah menciptakan masyarakat yang
berpendidikan tinggi secara umum. Tujuan reformasi pendidikan adalah
memaksimalkan potensi manusia dengan meningkatkan dan
menyelenggarakan pendidikan melampaui apa yang telah ada di masa lalu.
Hal ini menunjukkan pentingnya pendidikan bagi kehidupan manusia.5
Perlu diketahui juga bahwasanya dalam tujuan pendidikan itu sangat
berpengaruh pada manusia seperti yang ada pada firman Allah :
3
Puput Tri Hartanti Anindya, Erlen Intan Sri Suneki, “Implementasi Model Pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata
Pelajaran Matematika,” Journal Of Social Science Research Volume 4, no. 3 (2023): 4840-4848
E-ISSN 2807-4238 and P-ISSN 2807-4246 We, [Link] Hlm.225
4
sebayang sofia, “PENGARUH PENDIDIKAN, PELATIHAN DAN MOTIVASI
KERJA TERHADAP KINERJA GURU DI SD DAN SMP SWASTA BUDI MURNI 3
MEDAN,” Jurnal Ilmu Manajemen METHONOMIX 2 (2020): p-ISSN: 2622-5204. Hlm. 105
5
Fahdian Rahmandani et al., “Penerapan Problem Based Learning (PBL) dalam
Peningkatan Keaktifan dan Motivasi Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Pendidikan
Pancasila di SMAN 2 Batu,” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) 4, no. 3
(2024): 1016–27, [Link] Hlm 1017
َو ِم َن ال َّنا ِس َم ْن َي ْش ِري َن ْف َس ُه ا ْب ِت َغا َء َم ْر َضا ِت ال َّل ِه ۗ َوال َّل ُه َر ُءو ٌف ِبا ْل ِع َبا ِد
Artinya : dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan
dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun
kepada hamba-hamba-Nya.(Q.S Al-Baqarah : 207) 6
Kemudian dalam hadits juga telah diterangkan tetntang Tujuan
pendidikan yang menjadikan manusia sebagai orang yang berilmu,
pembelajar, pendengar, dan pecinta ilmu7. Hal ini diisyaratkan dalam hadis-
hadis berikut:
ُك ْن َعا ِل ًما َا ْو ُم َت َع ِّل ًما َا ْو ُم ْس َت ِم ًعا َا ْو ُم ِح ًبا َوَلا َت ُك ْن َخا ِم ًسا َف ُت ْه ِل َك ( َر َوا ُه:َقا َل ال َّن ِب ُّي َص َّلى الل ُه َع َل ْي ِه َو َس َّلم
) ا ْل َب ْي َه ِق
Rasulullah SAW bersabda “Jadilah engkau orang yang berilmu
(pandai) atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan ilmu atau
yang mencintai ilmu. dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima, maka
kamu akan celaka” ([Link]).
Dalam proses kegiatan belajar didalam pendidikan sekolah pasti
membutuhkan yang namanya pendidik atau guru. Guru adalah Salah satu
komponen manusia yang terlibat dalam proses belajar mengajar yang
berkontribusi terhadap pembentukan sumber daya manusia yang potensial.
Oleh karena itu, merupakan salah satu elemen dalam sektor pelatihan yang
perlu memenuhi harapan masyarakat yang terus berkembang dengan bertindak
sebagai bagian fungsional dan menempatkan statusnya sebagai seorang ahli.
Dari sudut pandang yang luar biasa, dapat dikatakan bahwa setiap guru
6
Al-Qur’an
7
Panur M. Shobirun, “Ayat dan Hadits Tentang Tujuan Pendidikan Islam,” Blantika:
Multidisciplinary Journal 2, no. 5 (2024): 524–32, [Link]
Hlm 529
memiliki tugas untuk memajukan siswanya ke tahap pertumbuhan tertentu dan
salah satunya adalah keaktifan siswa demi tercapainya hasil belajarbagi siswa
tersebut8
Jika kita berbicara tentang pendidikan, kita tidak bisa lepas dari
aktivitas paling penting, yaitu pembelajaran. Strategi, model pembelajaran,
dan metode yang digunakan sangat berpengaruh pada efektivitas
pembelajaran. Pendidik memainkan peran yang sangat penting dalam proses
pembelajaran dan bertanggung jawab atas keberhasilan proses belajar
mengajar itu sendiri.9 Pendidik bertanggung jawab untuk menyusun desain
pembelajaran, menerapkan pembelajaran, dan menilai hasil pembelajaran.
Oleh karena itu, proses pembelajaran disampaikan dengan menggunakan
berbagai model pembelajaran. Agar peserta didik lebih termotivasi untuk
belajar, perlu digunakan model pembelajaran yang mampu meningkatkan
aktifitas belajar peserta didik selama proses pembelajaran. 10
Soekamto, dkk. mengemukakan maksud dari model pembelajaran,
yaitu kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar
8
Rizty Azzahra Sastradipura, DinieAnggraeni Dewi, dan Yayang Furi Furnamasari,
“Peran Guru Pendidikan Kewarganegaraan dalam Meningkatkan Rasa Nasionalisme pada Siswa
Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Tambusai 5, no. 3 (2021): Hlm8629–37,
[Link]
9
Selvi Meilasari, Damris M Damris M, dan Upik Yelianti, “Kajian Model Pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) dalam Pembelajaran di Sekolah,” BIOEDUSAINS:Jurnal
Pendidikan Biologi dan Sains 3, no. 2 (2020): 195–207,
[Link] 195
10
Wena, [Link] Pembelajaran Inovatif Konteporer Suatu Tinjauan Konseptual
Operasional. (Jakarta: Bumi Aksara.2009). Hlm 17
tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran
dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.11
Pendapat tersebut selaras dengan Joyce yang mengungkapkan model
pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan
sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau
pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat
pembelajaran.12
Dalam mengajarkan suatu materi tertentu harus dipilih model
pembelajaran yang paling sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Oleh
karena itu, dalam memilih suatu model pembelajaran harus memililiki
pertimbangan-pertimbangan tertentu misalnya materi pelajaran, tujuan yang
akan dicapai, dan fasillitas yang tersedia. Arends menyeleksi enam model
pengajaran yang sering dan praktis digunakan guru dalam mengajar, yaitu:
presentasi, pengajaran langsung, pengajaran konsep, pembelajaran kooperatif,
pengajaran berdasarkan masalah, dan diskusi kelas.13
Dengan demikian, yang dimaksud dengan model pembelajaran
adalah suatu prosedur sebagai pedoman guru untuk merencanakan
pembelajaran di kelas dalam rangka mencapai suatu tujuan.
Menurut Adri bahwa pelaksanaan pembelajaran telah berubah, dan
siswa tidak hanya dilihat sebagai objek pembelajaran, tetapi harus berperan
11
Sulaeman, D.. Implementasi Media Peraga dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran.
Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 2022 6(1), 71–77.
12
Arifudin, O. Media Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini. (Bandung : Widina
Bhakti Persada 2021). Hlm 34
13
Hanafiah Hanafiah et al., “Penanggulangan Dampak Learning Loss dalam
Meningkatkan Mutu Pembelajaran pada Sekolah Menengah Atas,” JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu
Pendidikan 5, no. 6 (2022): 1816–23, [Link] hlm. 1817
aktif dalam proses pembelajaran, menjadi tim dalam proses pembelajaran, dan
memungkinkan siswa menjadi pembelajar yang aktif dan guru menjadi
fasilitator yang kreatif.14
Dalam kegiatan belajar mengajar, menurut Ulfah yang berpendapat
bahwa tugas seorang guru adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada
siswa. Tujuan yang diharapkan adalah pengetahuan siswa bertambah dari
yang tidak tahu menjadi tahu. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu model
pembelajaran yang tepat agar proses transfer ilmu pengetahuan dari guru ke
siswa berlangsung secara efektif. Problem Based Learning merupakan salah
satu dari sekian banyak model pembelajaran yang dapat dilakukan untuk
siswa di sekolah.15
Menurut Nurhadi dkk Problem Based Learning (PBL) adalah suatu
pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai
konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan masalah,
serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi
pelajaran16. Hal ini disampaikan juga oleh Arends menyatakan bahwa model
pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran
di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud
14
AR, Sahabul Adri. "Pengaruh Media Pembelajaran Dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar
Dribbling Passing Dalam Permainan Sepakbola Pada Siswa SMA Negeri 1 Semarang." Jurnal: Of
Physical Education and Sports Visipena 6.2 (2015): 104-113.
15
Ulfah Ulfah dan Opan Arifudin, “Implementasi Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah
Dalam Kurikulum 2013,” Jurnal Tahsinia 1, no. 2 (2020): 138–46,
[Link] Hlm.137
16
Ety Kusmiati, Dede Kusnadi, dan Latipah Latipah, “Penerapan Model Pembelajaran
Problem Based Learning Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Ipa Dalam
Memahami Konsep Hubungan Antara Struktur Organ Tubuh Manusia Dengan Fungsi Dan
Pemeliharaannya,” Jurnal Tahsinia 1, no. 1 (2019): 49–62, [Link]
Hlm 53
untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri, dan
keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan
percaya diri serta keaktifan didalam kelas17
Problem Based Learning merupakan salah satu bentuk pembelajaran
yang berlandaskan pada paradigma kontruktivisme, yang berorientasi pada
proses belajar siswa (student-centered learning). Problem Based Learning
berfokus pada penyajian suatu permasalahan (nyata atau simulasi) kepada
siswa, kemudian siswa diminta mencari pemecahannya melalui serangkaian
penelitian dan investigasi berdasarkan teori, konsep prinsip yang dipelajarinya
dari berbagai ilmu. Permasalahan sebagai fokus, stimulus dan pemandu proses
belajar. Sementara guru menjadi fasilitator dan pembimbing18
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) memiliki peran
yang strategis dan penting, yaitu dalam membentuk siswa maupun sikap
dalam berperilaku sehari-hari, sehingga diharapkan mampu menjadi pribadi
yang lebih baik. Minat belajar siswa pada bidang PPKn ini perlu mendapat
perhatian khusus karena minat merupakan salah satu faktor penunjang
keberhasilan proses belajar.19 Tri Izma menyatakan bahwa pendidikan
Pancasila dan kewarganegaraan itu penting, Pendidikan ini merupakan suatu
hal mendasar yang akan membawa individu untuk mengetahui nilai nilai,
17
Vina Febiani Musyadad et al., “Supervisi Akademik untuk Meningkatkan Motivasi Kerja
Guru dalam Membuat Perangkat Pembelajaran,” JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan 5, no. 6
(2022): 1936–41, [Link]
18
Annisa Mayasari, Opan Arifudin, dan Eri Juliawati, “Implementasi Model Problem
Based Learning (Pbl) Dalam Meningkatkan Keaktifan Pembelajaran,” Jurnal Tahsinia 3, no. 2
(2022): 167–75, [Link] Hlm. 169
19
Ina Magdalena, Ahmad Syaiful Haq, and Fadlatul Ramdhan, ‘Pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan Di Sekolah Dasar Negri Bojong 3 Pinang’, Jurnal Pendidikan Dan Sains, 2.3
(2020), 418–30
peranan, sistem, aturan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan
kemasyarakatan dan kenegaraan. Dengan pendidikan dimaksudkan agar para
generasi muda dapat menjadi pribadi yang berbudi luhur, bertanggung jawab,
bermoral dan menjadi warga negara yang baik.
Tujuan utama pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan adalah
untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara, sikap serta perilaku
yang cinta tanah air, wawasan nusantara, Fakta yang terjadi jika siswa tidak
memilki jiwa aktif di dalam proses kegiatan pembelajaran maka yang terjadi
siswa akan sulit memahami terkait materi materi yang ada didalam mata
pelajaran pendidikan pancasila20
Dari pernyataan diatas Berdasarkan hasil observasi awal penulis
ketika melakukan kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)
permasalahan yang sering muncul dalam kegiatan belajar mengajar (KBM)
terkhusus dalam pembelajaran Pemdidikan Pancasila di kelas III sekolah SD
Nahdlatul Ulama kota Metro selama ini kurang berperannya keaktifan dan
kurangnya siswa dalam memahami materi Pendidikan Pancasila dari peserta
didik dalam proses pembelajaran. Hal tersebut akan berdampak dalam proses
dan hasil pembelajarannya.
Pernyataan tersebut menarik rasa penasaran peneliti dalam
melakukan penelitian dengan judul tersebut “Implementasi Model
Pembelajaran Problem Based Learning Dalam Meningkatkan Keaktifan
20
5 Pebbriani Clarita Lewier and Kelly Sinaga, ‘Kajian Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
Melalui Pendekatan Aktivitas Aesop’S Dalam Pembelajaran Kimia Materi Hidrokarbon’, Dalton :
Jurnal Pendidikan Kimia Dan Ilmu Kimia, 3.2 (2020), 35–44
Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila di Kelas III B SD NU
Metro”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat di
identifikasi masalah sebagai berikut :
1. Minimnya keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan
Pancasila di kelas III B SD NU Metro
2. Kurangnya siswa dalam memahami materi Pendidikan Pancasila yang
dapat mempengaruhi hasil belajar siswa
C. Fokus Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang ada, maka penelitian ini perlu
adanya batasan masalah agar pembahasan tidak terlalu meluas dan untuk lebih
terfokus, maka penelitian ini dibatasi masalahnya yaitu penelitian ini
difokuskan terhadap upaya guru dalam mengaktifkan siswa dalam kegiatan
pembelajaran Pendidikan Pancasila melalui model pembelajaran Problem
Based Learning.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas maka peneliti merumuskan
masalah yaitu, ”Bagaimana Implementasi Model Pembelajaran Problem
Based Learning Dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada Mata Pelajaran
Pendidikan Pancasila di Kelas III B SD NU Metro?”
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan penelitian tersebut maka dapat diambil tujuan dari
penelitian adalah, ” Implementasi Model Pembelajaran Problem Based
Learning Dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada Mata Pelajaran
Pendidikan Pancasila di Kelas III B SD NU Metro”
F. Manfaat Penelitian
Berdasarkan penelitian tersebut dapat diambil suatu manfaatnya
yaitu:
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi,
menambah ilmu dan khazanah keilmuan bagi peneliti, bagi pembaca dan
bagi guru yang melakukan proses pembelajaran khususnya dalam
menentukan model pembelajaran dengan mempertimbangkan
menggunakan model pembelajran Problem Based Learning dalam
meningkatkan keaktifan siswa guna meningkatkan hasil belajar siswa dan
juga penelitian ini bisa di jadikan penelitian yang relevan di penelitian
yang akan datang
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peserta Didik
Melalui implementasi model pembelajaran Problem Based
Learning diharapkan peserta didik dapat berlatih untuk belajar lebih
aktif sehingga bisa meningkatkan semangat sehingga mampu
menghasilkan ketercapaian hasil belajar
b. Bagi Guru
Sebagai referensi bagi guru dalam menentukan pembelajaran di
kelas dan memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas dengan
menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning serta
dapat meningkatkan kinerja guru dalam mengajar.
c. Bagi Sekolah
Menjadi referensi bagi pihak sekolah dalam upaya meningkatkan
mutu pembelajaran di SD NU Metro khususnya pengalaman strategi
model pembelajaran Problem Based Learning dalam pembelajaran,
sehingga diharapkan sekolah lebih meningkatkan mutu pendidikan,
selektif dalam perubahan serta pembaharuan dunia pendidikan.
d. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat memotivasi peneliti untuk terus belajar dan
menggali pengetahuan mengenai perkembangan dalam dunia
pendidikan guna menambah wawasan dan pengetahuan, sehingga
akan tercipta guru yang prefessional serta meningkatkan mutu
pendidikan di Indonesia.