Pendidikan merupakan proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik untuk
dapat menempatkan dirinya sebaik mungkin terhadap lingkungannya, untuk itu akan
berdampak bagi perubahan dalam dirinya yang akan memungkinkan berfungsi dan
berpengaruh dalam kehidupan Masyarakat(Evita Sari Dalimunthe dan Muhammad
Syahbudi 2023). Sekolah merupakan Lembaga Pendidikan formal yang secara sistematis
merencanakan bermacam-macam lingkungan, yaitu pendidikan untuk menjadikan wadah
bagi siswa dalam melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga siswa mendapatkan
potensi yang sebaik mungkin (Oemar Hamalik 2006)
Dalam proses pembelajaran di pendidikan sekolah maka diperlukan adanya
seorang guru atau pendidik yang merupakan suatu pekerjaan yang sangat mulia karena
dengan tugasnya dalam mendidik serta mengajar seorang peserta didik.(Adawiyah 2021)
Tercapai atau tidaknya sebuah pembelajaran tergantung kepada seorang pendidik dalam
mengelola serta metode dan model pembelajaran didalam kelas(Aini dan Alfan Hadi
2023) Sehubungan dengan hal tersebut winoto menyampaikan dalam mengatasi
tantangan dan hambatan didalam sebuah pendidikan, peran seorang pendidik dalam
mengembangkan metode mengajar serta model pembelajaran yang dapat menarik dan
membangun keaktifan bagi peserta didik,(Alawiyah, Sukron, dan Firdaus 2023)
penggunaan mengelola kelas dalam menyampaikan sebuah materi yang kurang aktif dan
akan berpusat bagi peserta didik dengan tanpa terstruktur akan menjadi sebuah hambatan
bagi peserta didik yang akan menyebabkan rendahnya tingkat keaktifan siswa. Sehingga
diperlukan sebuah persiapan di dalam membentuk dan menetapkan model pembelajaran
di dalam kelas(Usman et al. 2024)
Di sekolah MA Ma’arif 14 Bumi Nabung kelas X ditemukan adanya suatu
permasalahan yang sering muncul dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) terkhusus
dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Berdasarkan Observasi awal
terdapat suatu permasalahan seperti kurang berperannya keaktifan dari peserta didik,
peserta didik yang merasa bosan dengan metode pembelajaran yang cenderung monotoon
seperti ceramah dan lain sebagainya serta peserta didik yang kurang dalam memahami
materi Sejarah Kebudayaan Islam dalam proses pembelajaran. Dengan demikian akan
berdampak dalam proses dan hasil pembelajarannya.
Model pembelajaran merupakan sebuah bentuk pembelajaran yang tergambar
dari awal pembelajaran sampai akhir yang lakukan bagi seorang pendidik.(Fahlevi 2022)
Maka dari itu model pembelajaran perlu dipahami oleh pendidik supaya dapat melakukan
pembelajaran secara efektif dalam meningkatkan pembelajaran. Dalam implementasinya,
model pembelajaran harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan peserta didik karena
masing-masing model pembelajaran tersebut mempunyai tujuan, prinsip dan tekanan
utama yang berbeda-beda(Sulistio 2011)
Salah satu model pembelajaran yang dapat mengembangkan pola fikir dan
situasu aktif bagi peserta didik adalah model pembelajaran kooperatif dengan tipe Team
Games Tournamen (TGT).(Santosa 2019) Menurut Slavin, model pembelajaran
kooperatif dengan tipe Team Games Tournament (TGT) bertujuan dalam tercapainya
hal-hal untuk menginspirasi peserta didik dengan membantu satu sama lain dalam
mempelajari keterampilan yang diajarkan oleh pendidik kepada para peserta didik, yang
pada bagian akhir pembelajaran akan menghasilkan skor bagi setiap anggota tim atau
kelompok. Hal tersebut dapat mendorong peserta didik supaya mengupayakan
pemahaman materi yang mendalam yang dapat berpengaruh bagi pola fikir yang kritis
serta aktif.(Alawiyah, Sukron, dan Firdaus 2023)
Mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam dalam kurikulum Madrasah
merupakan salah satu bagian dalam mata pelajaran pendidikan agama islam yang menuju
kearah dalam menyiapkan peserta didik dalam mengenal, mengetahui dan memahami
serta menghayati sejarah kebudayaan Islam yang kemudian menjadi dasar pandangan
dalam hidupnya.(Hasmar 2020) Dengan menganalisis situasi di masa lalu dan
mempersiapkan tujuan kehidupan yang lebih baik untuk masa yang akan datang. Lalu,
umat Islam mungkin akan dapat mencontoh sistem pendidikan Islam yang telah ada sejak
zaman Nabi Muhammad SAW, Khulafaur Rasyidin, para ulama besar, dan para pionir
perintis perjuangan kebangkitan pendidikan Islam sebagai referensi.(Usman et al. 2024)
Hal ini juga pernah diteliti langsung oleh Mohammad Umar dengan judul
penelitian yaitu “Implementasi Model Pembelajaran Team Game Tournament untuk
Meningkatkan Hasil Belajar”. Dengan hasil peneltian terdapat perbedaan yaitu penelitian
tersebut hanya berfokus pada hasil belajar sedangkan penelitian ini berfokus pada
meningkatkan keaktifan siswa. Maka dari itu penilitian ini pentin dilakukan guna untuk
meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.
Pernyataan tersebut menarik rasa penasaran peneliti dalam melakukan penelitian
dengan judul tersebut “Implementasi Model Pembelajaran Team Game Tournament
Dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada Mata Pembelajaran Sejarah Kebudayaan
Islam di Kelas X MA Ma’arif Roudlotut Tholibin”. Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan partisipasi terhadap peserta didik guna meningkatkan keaktifan didalam
kegiatan belajar mengajar didalam kelas terkhusus mata pelajaran Sejarah Kebudayaan
Islam dan mata pelajaran lainnya.
Metod
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian lapangan (field
research). Penulis menerapkan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi
dan memahami makna yang dimiliki oleh individu serta kelompok yang
menjadi objek penelitian.(Puspita dan Andriani 2021). Penelitian yang
menggunakan metode deskriptif bertujuan untuk mendetailkan data
berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Jenis penelitian ini berfungsi untuk
menyajikan gambaran objektif mengenai fenomena yang terjadi di lapangan
serta memberikan interpretasi yang ilmiah dan sistematis terhadap fenomena
tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif
merupakan penelitian yang melibatkan pengamatan langsung atau turun ke
lapangan, kemudian mendeskripsikan temuan-temuan lapangan secara rinci
dalam laporan penelitian. (Sambuaga, Palar, dan Polii 2023)
Dengan melakukan observasi langsung di tempat penelitian, penulis
dapat mengumpulkan data yang diperlukan sesuai dengan fokus penelitian
yang telah ditetapkan. Peneliti bertujuan untuk mengamati implementasi
model pembelajaran Team Game Tournament dalam upaya meningkatkan
keaktifan siswa kelas X di MA Ma’arif 14 Bumi Nabung. sehingga metode
deskriptif analisis dipilih untuk mengamati fenomena sosial yang sedang
berlangsung. (Siti Maryam 2023)
Setelah melakukan observasi lapangan, peneliti kemudian
mengumpulkan informasi lebih mendalam melalui wawancara dan
memperkuatnya dengan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan di MA
Ma’arif 14 Bumi Nabung mulai Oktober 2024 hingga Februari 2025. Subjek
penelitian terdiri dari guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam serta
siswa kelas X di MA Ma’arif 14 Bumi Nabung. Pemilihan siswa kelas X MA
Ma’arif 14 Bumi Nabung sebagai sampel penelitian dilakukan untuk
mempermudah proses penelitian dan mengatasi berbagai kendala yang
mungkin trjadi.
Dalam studi ini, peneliti menggunakan berbagai metode
pengumpulan data, termasuk observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data
sekunder diperoleh dari buku-buku dan jurnal yang relevan dengan topik
penelitian. Sementara itu, data primer dikumpulkan dari pihak-pihak yang
dianggap memiliki pengetahuan terkait objek penelitian.(Subekti, Rugaiyah,
dan Madhakomala 2023), sehingga sumber data primer penelitian ini adalah
siswa kelas X MA Ma’arif 14. Penelitian ini menggunakan triangulasi sumber
dan teknik untuk memastikan keaslian data. Ada tiga metode yang digunakan
dalam teknik analisis data, yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan
kesimpulan. (Muslim, Azizah, dan Supriatna 2021)