International Journal on Advanced Science, Education, and Religion
(IJoASER)
E-ISSN: 2614-8862 & P-ISSN: 2565-0836
Volume 7, Number 1, March 2024
Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) Dengan Media Poster Dalam Meningkatkan Keaktifan
Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Di Kelas III
B SD NU Metro
Ngainul Yaqin1*, [Link] Zaenal Makmun 2, Nurul Aisyah3
1,2
Universitas Ma’arif Lampung, Indonesia
Corresponding Author lutfiamrulloh04@[Link]*
ABSTRACT
Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan model
pembelajaran Problem Based Learning dengan media poster
dalam meningkatkan keaktifan siswa pada mata pelajaran
Pendidikan Pancasila di SD NU Metro. Model PBL dirancang
untuk mendorong siswa agar lebih aktif dalam proses
pembelajaran. Siswa tidak hanya pasif mendengarkan
penjelasan guru, tetapi juga terlibat secara langsung dalam
memecahkan masalah yang diberikan. permasalahan yang
sering muncul dalam kegiatan belajar mengajar (KBM)
terkhusus dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas III
sekolah SD NU Metro selama ini sebelum menggunakan model
pembelajaran Problem Based Learning kurangnya keaktifan
ARTICLE INFO siswa didalam kelas dan kurangnya siswa dalam memahami
Article history: mata pelajaran pendidikan pancasila pada materi hal tersebut
Received didasari metode pengajaran yang kurang relevan. Penelitian ini
February 20, menggunakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik
2024 pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan
Revised dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari 18 siswa kelas III B
March 31, 2024
dan guru Pendidikan Pancasila. Hasil penelitian menunjukkan
Accepted
April 04,2024 bahwa penerapan model PBL dapat meningkatkan keaktifan
siswa dalam pembelajaran, yang terlihat dari peningkatan
partisipasi siswa dalam diskusi, kemampuan siswa dalam
menyelesaikan masalah, serta kolaborasi dan kerja sama antar
siswa. Selain itu, siswa menjadi lebih aktif dalam
mengemukakan pendapat dan memahami materi yang
disampaikan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
model PBL efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang
interaktif dan menyenangkan, sehingga mendorong siswa untuk
lebih terlibat dalam proses pembelajaran.
Keywords: Problem Based Learning, Keaktifan, Poster
Journal Homepage [Link]
This is an open access article under the CC BY SA license
[Link]
INTRODUCTION
Pendidikan nasional adalah upaya sistematis yang dilakukan oleh
Negara dalam mengembangkan potensi peserta didik secara utuh, lewat
jalur pembinaan kecerdasan, akhlak, dan keterampilan, guna menyiapkan
generasi penerus bangsa yang sangat berkualitas. Referensi dalam
pernyataan ini bisa ditemukan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 dan peraturan perundang-
International Journal on Advanced Science, Education, and Religion (IJoASER)
undangan pendidikan terkait yang diterbitkan oleh pemerintah
Indonesia(Cahyanti et al., 2024)
Pendidikan di sekolah pada hakikatnya merupakan proses
pembelajaran yang melibatkan hubungan antara guru dan siswa (Hariaty1 et
al., 2024). Puput Tri Hartanti A., mengemukakan bahwa Proses belajar
mengajar yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh
setiap siswa, dengan ini maka menjadikan sebuah pendidikan di sekolah
berhasil(Pratama et al., 2024). Proses pembelajaran yang efektif diawali dari
pembelajaran yang berfokus pada siswa. Dengan pendidikan yang baik kita
bisa dengan mudah beradaptasi dengan keadaan yang berubah dan
tuntutan dunia luar(Anindya, Erlen Intan Sri Suneki, 2023)
Menurut Sebayang, ilmu pendidikan memberikan landasan sosial,
personal, dan fundamental bagi manajemen pendidikan dalam upaya
berperan sebagai mediator dalam pengembangan masyarakat. (sebayang
sofia, 2020) Tujuan pendidikan adalah menyediakan lingkungan belajar
yang produktif yang dapat membantu siswa dalam mencapai potensinya
sendiri. Hal ini dilakukan secara sengaja dan cermat.(Saputro & Sukiman,
2024) Hal ini menunjukkan pentingnya pendidikan bagi kehidupan manusia.
(Rahmandani et al., 2024)
Dalam proses kegiatan belajar didalam pendidikan sekolah pasti
membutuhkan yang namanya pendidik atau guru.(Lestari et al., 2024) Guru
adalah Salah satu komponen manusia yang terlibat dalam proses belajar
mengajar yang berkontribusi terhadap pembentukan sumber daya
manusia yang potensial. Dapat dikatakan bahwa setiap guru memiliki tugas
untuk memajukan siswanya ke tahap pertumbuhan tertentu dan salah
satunya adalah keaktifan siswa demi tercapainya hasil belajarbagi siswa
tersebut(Sastradipura et al., 2021)
Didalam aktifitas pembelajaran seorang guru tidak bisa lepas dari
aktivitas paling penting, yaitu pembelajaran. Strategi, model pembelajaran,
dan metode yang digunakan sangat berpengaruh pada efektivitas
pembelajaran. Guru memainkan peran yang sangat penting dalam proses
pembelajaran dan bertanggung jawab atas keberhasilan proses belajar
mengajar itu sendiri.(Meilasari et al., 2020) Guru bertanggung jawab untuk
menyusun desain pembelajaran, menerapkan pembelajaran, dan menilai
hasil pembelajaran. Oleh karena itu, proses pembelajaran disampaikan
dengan menggunakan berbagai model pembelajaran. Agar peserta didik
lebih termotivasi untuk belajar, perlu digunakan model pembelajaran yang
mampu meningkatkan aktifitas belajar peserta didik selama proses
pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang relevan adalah Problem
Based Learning
Problem Based Learning merupakan salah satu dari sekian banyak
model pembelajaran yang dapat dilakukan untuk siswa di sekolah.(Ulfah &
Arifudin, 2020). Menurut Ety Kusmiati Problem Based Learning (PBL) adalah
suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata
sebagai konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan
masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial
dari materi pelajaran. (Kusmiati et al., 2019) Hal ini disampaikan juga oleh
Musyadad yang menyatakan bahwa model pembelajaran berdasarkan
masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa
mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun
pengetahuan mereka sendiri, dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi,
mengembangkan kemandirian dan percaya diri serta keaktifan didalam
65
International Journal on Advanced Science, Education, and Religion (IJoASER)
kelas(Musyadad et al., 2022). Problem Based Leaning sendiri bisa digunakan
atau diimplementasikan di banyak mata pelajaran. Salah satu mata
pelajaran yang tepat digunakannya model pembelajaran Problem Based
Leaning adalah mata pelajaran Pendidikan Pancasila.
Pendidikan Pancasila memiliki peran yang strategis dan penting, yaitu
dalam membentuk siswa maupun sikap dalam berperilaku sehari-hari,
sehingga diharapkan mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Minat belajar
siswa pada bidang Pendidikan Pancasila ini perlu mendapat perhatian
khusus karena minat merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan
proses belajar.(Magdalena et al., 2020) Tri Izma menyatakan bahwa
pendidikan Pancasila itu penting, Pendidikan pancasila ini merupakan suatu
hal mendasar yang akan membawa individu untuk mengetahui nilai nilai,
peranan, sistem, aturan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan
kemasyarakatan dan kenegaraan. Dengan pendidikan dimaksudkan agar
para generasi muda dapat menjadi pribadi yang berbudi luhur, bertanggung
jawab, bermoral dan menjadi warga negara yang baik.(Izma & Kesuma,
2019)
Tujuan utama pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan adalah
untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara, sikap serta
perilaku yang cinta tanah air, wawasan nusantara, Fakta yang terjadi jika
guru dalam menerapkan model pembelajaran terlalu monoton membuat
siswa merassa bosan maka yang terjadi siswa tidak memilki jiwa aktif di
dalam proses kegiatan pembelajaran, siswa akan sulit memahami terkait
materi materi yang ada didalam mata pelajaran pendidikan
pancasila(Lewier & Sinaga, 2020)
Berdasarkan hasil observasi awal yang peneliti lakukan di SD NU
kelas III B bahwa pendidikan pancasila dasar NU itu sangat penting
dikarnakan pembelajaran pendidikan pancasila itu yang akan
menumbuhkan jiwa nasionalisme bagi peserta didik kelas III B mengingat
kembali sangat pentingnya pancasila sebagai dasar Negara, maka kita
harus meneruskan perjuangan serta memelihara, melestarikan menghayati,
dan mengamalkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari agar
tujuan dan pancasila dapat terpenuhi, sehingga akan menjadi ketahanan jati
diri bangsa. Maka adanya suatu permasalahan yang sering muncul dalam
kegiatan belajar mengajar (KBM) terkhusus dalam pembelajaran Pendidikan
Pancasila, selama ini sebelum menggunakan model pembelajaran Problem
Based Learning kurang berperannya keaktifan siswa didalam kelas, seperti
contohnya siswa malas belajar dikarenakan metode dalam belajar yang
terlalu monotoon dan sehingga membuat kelas menjadi pasif. Hal ini
membuat siswa tidak aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Kemudian terdapat juga masalah yang lain muncul yaitu kurangnya
siswa dalam memahami mata pelajaran pendidikan pancasila pada materi ”
Memahami Makna Pancasila”. Pada materi tersebut siswa di haruskan
setidaknya bisa memahami atau mengerti makna dan simbol-simbol atau
lambang dari Pancasila. Dengan ketidakaktifan siswa tersebut akan
berdampak dalam proses dan hasil pembelajaran pada mata pelajaran
Pendidikan Pancasila.
Dengan demikian guru mulai memecahkan suatu permasalahan yang
ada di dalam kelas tersebut dengan mengimplementasikan model
pembelajaran Problem Based Learning dengan berbantu media
pembelajaran yaitu poster atau gambar-gambar pancasila. Hal tersebut
66
International Journal on Advanced Science, Education, and Religion (IJoASER)
bertujuan untuk membuat siswa aktif dan semngat dalam kegiatan
pembelajaran di dalam kelas.
Hal ini juga pernah diteliti langsung oleh Annisa Mayasari dengan
judul Implementasi Model Problem Based Learning (Pbl) Dalam
meningkatkan Keaktifan Pembelajaran. Dengan Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa siswa kelas V dapat dilihat sebelum menggunakan
model Problem Based Learning sebesar 34,9% dan setelah menggunakan
model Problem Based Learning mengalami peningkatan menjadi 77,6%
pada materi Suhu dan Kalor.(Mayasari et al., 2022) Penelitian tersebut
terdapat perbedaan yaitu penelitian tersebut untuk meningkatkan materi
suhu dan kalor sedangkan penelitian ini berfokus pada meningkatkan
keaktifan siswa dalam mata pelajaran pendidikan pancasila. Maka dari itu
penilitian ini penting dilakukan guna untuk meningkatkan keaktifan siswa
dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.
Pernyataan tersebut menarik rasa penasaran peneliti dalam
melakukan penelitian dengan judul tersebut “Implementasi Model
Pembelajaran Problem Based Learning Dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa
Pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila di Kelas III B SD NU Metro”
METHOD
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian lapangan (field
research). Penulis menerapkan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi
dan memahami makna yang dimiliki oleh individu serta kelompok yang
menjadi objek penelitian.(Puspita & Andriani, 2021). Penelitian yang
menggunakan metode deskriptif bertujuan untuk mendetailkan data
berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Jenis penelitian ini berfungsi untuk
menyajikan gambaran objektif mengenai fenomena yang terjadi di lapangan
serta memberikan interpretasi yang ilmiah dan sistematis terhadap
fenomena tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penelitian
kualitatif merupakan penelitian yang melibatkan pengamatan langsung atau
turun ke lapangan, kemudian mendeskripsikan temuan-temuan lapangan
secara rinci dalam laporan penelitian. (Sambuaga et al., 2023)
Dengan melakukan observasi langsung di tempat penelitian, penulis
dapat mengumpulkan data yang diperlukan sesuai dengan fokus penelitian
yang telah ditetapkan. Peneliti bertujuan untuk mengamati implementasi
model pembelajaran Problem Based Learning dengan media poster dalam
upaya meningkatkan keaktifan siswa kelas III B SD NU Metro. sehingga
metode deskriptif analisis dipilih untuk mengamati fenomena sosial yang
sedang berlangsung. (Siti Maryam, 2023)
Setelah melakukan observasi lapangan, peneliti kemudian
mengumpulkan informasi lebih mendalam melalui wawancara dan
memperkuatnya dengan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan di SD NU
Metro mulai November 2024 hingga Februari 2025. Subjek penelitian terdiri
dari guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan siswa kelas III SD NU
Metro. Pemilihan guru Pendidikan Pancasila dan siswa kelas II B SD NU
Metro sebagai sampel penelitian dilakukan untuk mempermudah proses
penelitian dan mengatasi berbagai kendala yang mungkin trjadi.
Dalam studi ini, peneliti menggunakan berbagai metode
pengumpulan data, termasuk observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data
sekunder diperoleh dari buku-buku dan jurnal yang relevan dengan topik
penelitian. Sementara itu, data primer dikumpulkan dari pihak-pihak yang
dianggap memiliki pengetahuan terkait objek penelitian.(Subekti et al.,
67
International Journal on Advanced Science, Education, and Religion (IJoASER)
2023), sehingga sumber data primer penelitian ini adalah guru Pendidikan
Pancasila dan siswa kelas II B SD NU Metro. Penelitian ini menggunakan
triangulasi sumber dan teknik untuk memastikan keaslian data.(Wijaya,
2023) Ada tiga metode yang digunakan dalam teknik analisis data, yaitu:
reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. (Muslim et al., 2021)
RESULTS AND DISCUSSION
Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning di MA
Ma’arif 14 Bumi Nabung
Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang
memfokuskan penyelesaian problem dan memicu interaksi aktif siswa 1.
Sedangkan menurut Pratiwi, mengartikan PBL sebagai pembelajaran yang
mendorong siswa menyerap informasi dan membangun pengetahuan guna
memecahkan masalah2. Hal ini didukung oleh Ardianti dkk. yang
menggambarkan model pembelajaran berbasis masalah dimana siswa
menjelaskan permasalahan dunia nyata sepanjang proses pembelajaran
dan menggunakannya sebagai stimulus untuk mendorong siswa belajar dan
bekerja keras memecahkan suatu masalah.3
CONCLUSION
REFERENCES
1.
2. Copyright Holder :
© Afina Nour Aini, Ikhwan Aziz, Suhono (2024).
3.
4.
5. First Publication Right :
6. © International Journal on Advanced Science, Education, and Religion (IJoASER)
7.
8. This article is under:
9.
1
Darwati, I. M., & Purana, I. M. (2021). Problem Based Learning (PBL): Suatu model
pembelajaran untuk mengembangkan cara berpikir kritis peserta didik. Widya Accarya, 12(1), 61-69
2
Pratiwi, A., Triwahyuni, I., & Musaddat, S. (2023). Penerapan Model Pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas 3 Di SDN 1 Mataram.
Journal of Science Instruction and Technology, 3(1), 17-23.
3
Rahmandani et al., “Penerapan Problem Based Learning (PBL) dalam Peningkatan Keaktifan
dan Motivasi Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila di SMAN 2 Batu.”
68