0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan16 halaman

Asuhan Keperawatan pada DBD

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan tentang asuhan keperawatan pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di Rumah Sakit M. Yunus Kota Bengkulu. DBD adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue, dengan manifestasi klinis seperti demam tinggi, perdarahan, dan nyeri otot. Laporan ini mencakup konsep medis, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, dan penatalaksanaan keperawatan untuk pasien DBD.

Diunggah oleh

Cici P
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan16 halaman

Asuhan Keperawatan pada DBD

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan tentang asuhan keperawatan pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di Rumah Sakit M. Yunus Kota Bengkulu. DBD adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue, dengan manifestasi klinis seperti demam tinggi, perdarahan, dan nyeri otot. Laporan ini mencakup konsep medis, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, dan penatalaksanaan keperawatan untuk pasien DBD.

Diunggah oleh

Cici P
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI


RUANG EDELWIES RUMAH SAKIT [Link] KOTA BENGKULU

24-29 MARET 2025

DISUSUN OLEH :
CICI PARAMITA
2126010025

PEMBIMBING AKADEMIK PEMBIMBING KLINIK

([Link] Colin,[Link]) ([Link], [Link])

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU


KESEHATAN ( STIKES ) TRI
MANDIRI SAKTI KOTA
BENGKULU
2025
I. KONSEP MEDIS
A. DEFINISI
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang
disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan ditesis hemoragik.
Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai dengan hemokosentrasi
(peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan dirongga tubuh. Sindrom renjatan
dengue yang ditandai oleh renjatan atau syok (Nurarif & Kusuma 2015).
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang menyerang anak dan
orang dewasa yang disebabkan oleh virus dengan manifestasi berupa demam akut,
perdarahan, nyeri otot dan sendi. Dengue adalah suatu infeksi Arbovirus (Artropod
Born Virus) yang akut ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti atau oleh Aedes
Aebopictus (Wijayaningsih 2017).
DBD atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) menular melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti. merupakan penyakit berbasis vektor yang menjadi penyebab kematian
utama di banyak negara tropis (Harmawan 2018).

B. KLASIFIKASI
DBD dibedakan menjadi 4 derajat sebagai berikut :
1) Derajat I : demam disertai gejala tidak khas, hanya terdapat manifestasi
perdarahan (uji turniket positif)
2) Derajat II : seperti derajat I disertai perdarahan spontan di kulit dan perdarahan
lain
3) Derajat III : ditemukan kegagalan sirkulasi darah dengan adanya nadi cepat dan
lemah, tekanan nadi menurun atau hipotensi disertai kulit yang dingin dan
lembab, gelisah
4) Derajat IV : ranjatan berat dengan nadi tidak teraba dan tekanan darah yang tidak
dapat diukur. (WHO, 2017)

C. ETIOLOGI
Virus dengue, termasuk genus Flavivirus, keluarga flaviridae. Terdapat 4
serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Keempatnya ditemukan di
Indonesia dengan DEN-3 serotipe terbanyak. Infeksi salah satu serotipe akan
menimbulkan antibody terhadap serotipe yang bersangkutan, sedangkan antibody
yang terbentuk terhadap serotype lain sangat kurang, sehingga tidak dapat
memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotipe lain tersebut. Seseorang
yang tinggal di daerah endemis dengue dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama
hidupnya. Keempat serotipe virus dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di
Indonesia (Nurarif & Kusuma 2015).

D. PATOFISIOLOGI
Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan viremia.
Hal tersebut akan menimbulkan reaksi oleh pusat pengatur suhu di hipotalamus
sehingga menyebabkan (pelepasan zat bradikinin, serotinin, trombin, histamin)
terjadinya: peningkatan suhu. Selain itu viremia menyebabkan pelebaran pada
dinding pembuluh darah yang menyebabkan perpindahan cairan dan plasma dari
intravascular ke intersisiel yang menyebabkan hipovolemia. Trombositopenia dapat
terjadi akibat dari penurunan produksi trombosit sebagai reaksi dari antibodi melawan
virus (Murwani 2018).
Pada pasien dengan trombositopenia terdapat adanya perdarahan baik kulit
seperti petekia atau perdarahan mukosa di mulut. Hal ini mengakibatkan adanya
kehilangan kemampuan tubuh untuk melakukan mekanisme hemostatis secara
normal. Hal tersebut dapat menimbulkan perdarahan dan jika tidak tertangani maka
akan menimbulkan syok. Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari.
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Pertama
tama yang terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam,
sakit kepala, mual, nyeri otot pegal pegal di seluruh tubuh, ruam atau bintik bintik
merah pada kulit, hiperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi
pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati atau hepatomegali (Murwani
2018).
Kemudian virus bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks virus
antibodi. Dalam sirkulasi dan akan mengativasi sistem komplemen. Akibat aktivasi
C3 dan C5 akan di lepas C3a dan C5a dua peptida yang berdaya untuk melepaskan
histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningkatnya permeabilitas
dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya pembesaran plasma
ke ruang ekstraseluler. Pembesaran plasma ke ruang eksta seluler mengakibatkan
kekurangan volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi dan hipoproteinemia
serta efusi dan renjatan atau syok. Hemokonsentrasi atau peningkatan hematokrit
>20% menunjukan atau menggambarkan adanya kebocoran atau perembesan
sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena
(Murwani 2018).
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler di buktikan dengan
ditemukan cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritonium,
pleura, dan perikardium yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan
melalui infus. Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit
menunjukan kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan intravena
harus di kurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadi edema paru dan
gagal jantung, sebaliknya jika tidak mendapat cairan yang cukup, penderita akan
mengalami kekurangan cairan yang akan mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan
bisa mengalami renjatan. Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan
timbul anoksia jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi
dengan baik (Murwani 2018).
E. MANISFESTASI KLINIS
1. Panas tinggi disertai menggigil pada saat serangan
2. Uji turniquet positif
3. Lemah
4. Nafsu makan berkurang
5. Anoreksia
6. Muntah
7. Nyeri sendi dan otot
8. Pusing
9. Manifestasi perdarahan seperti: ptekie, epitaksis, gusi bedarah, melena, hematuria
masif (Renira, 2019).

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan pada penderita DHF antara lain
adalah (Wijayaningsih 2017) :
1. Pemeriksaan darah lengkap
a. Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk memeriksa kadar hemoglobin,
hematokrit, jumlah trombosit. Peningkatan nilai hematokrit yang selalu
dijumpai pada DHF merupakan indikator terjadinya perembesan plasma.
b. Pada demam dengue terdapat Leukopenia pada hari kedua atau hari ketiga.
c. Pada demam berdarah terdapat trombositopenia dan hemokonsentrasi
2. Uji serologi = Uji HI (Hemaglutination Inhibition Test) Uji serologi didasarkan
atas timbulnya antibody pada penderita yang terjadi setelah infeksi. Untuk
menentukan kadar antibody atau antigen didasarkan pada manifestasi reaksi
antigen-antibody.
3. = Uji HI (Hemaglutination Inhibition Test) Uji serologi didasarkan atas timbulnya
antibody pada penderita yang terjadi setelah infeksi. Untuk menentukan kadar
antibody atau antigen didasarkan pada manifestasi reaksi antigen-antibody
4. Uji hambatan hemaglutinasi Prinsip metode ini adalah mengukur campuran titer
IgM dan IgG berdasarkan pada kemampuan antibody-dengue yang dapat
menghambat reaksi hemaglutinasi darah angsa oleh virus dengue yang disebut
reaksi hemaglutinasi inhibitor (HI).
5. Uji netralisasi (Neutralisasi Test = NT test) Merupakan uji serologi yang paling
spesifik dan sensitif untuk virus dengue. Menggunakan metode plague reduction
neutralization test (PRNT). Plaque adalah daerah tempat virus menginfeksi sel dan
batas yang jelas akan dilihat terhadap sel di sekitar yang tidak terkena infeksi
6. Uji ELISA anti dengue Uji ini mempunyai sensitivitas sama dengan uji Hemaglutination
Inhibition (HI). Dan bahkan lebih sensitive dari pada uji HI. Prinsip dari metode ini
adalah mendeteksi adanya antibody IgM dan IgG di dalam serum penderita.
7. Rontgen Thorax : pada foto thorax (pada DHF grade III/ IV dan sebagian besar grade II)
di dapatkan efusi pleura

G. KOMPLIKASI
Komplikasi pada DBD yaitu:
1. Dehidrasi sedang sampai berat
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan.
3. Kejang karena demam terlalu tinggi yang terus menerus. Selain itu komplikasi
dari pemberian cairan yang berlebihan akan menyebabkan gagal nafas, gangguan
pada elektrolit, gula darah menurun, kadar natrium, kalsium juga menurun, serta
dapat mengakibatkan gula darah diatas normal atau mengalami peningkatan
(Jannah, 2019).

H. PENATALAKSANAAN
Pada pasien DHF terdapat beberapa masalah keperawatan yang muncul.
Masalah yang muncul dapat ditemukan pada saat pengkajian. Pada umumnya
masalah yang ada pada pasien DHF yakni demam tinggi disertai menggigil. Pada
pasien demam dapat dilakukan pemberian kompres hangat untuk menurunkan
demam. Selain itu pasien DHF juga mengalami kekurangan volume cairan
dikarenakan demam karena pindahnya cairan interavaskuler ke ekstravaskuler. Pada
pasien DHF yang mengalami kekurangan volume cairan, tindakan keperawatan yang
dapat dilakukan yaitu mengganti cairan yang hilang dengan meningkatkan asupan
secara oral misalnya makan dan minum air yang cukup, pemberian oralit serta
pemberian cairan secara parenteral (Jannah, 2019).

II. KONSEP KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
Menurut Rohmah & Walid (2019) Pengkajian adalah proses melakukan
pemeriksaan atau penyelidikan oleh seorang perawat untuk mempelajari kondisi
pasien sebagai langkah awal yang akan dijadikan pengambilan keputusan klinik
keperawatan. Oleh karena itu pengakjian harus dilakukan dengan teliti dan cermat
sehingga seluruh kebutuhan keperawatan dapat teridentifikasi. Pada pasien DBD
pengkajian meliputi :
1. Biodata / Identitas
DBD dapat menyerang dewasa atau anak-anak terutama anak berumur < 15
tahun. Endemik didaerah Asia tropik.
2. Keluhan Utama : Panas / demam.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Demam mendadak selama 2-7 hari dan kemudian demam turun dengan tanda-
tanda lemah, ujung-ujung jari, telinga dan hidung teraba dingin dan lembab.
Demam disertai lemah, nafsu makan berkurang, muntah, nyeri pada anggota
badan, punggung, sendi, kepala dan perut, nyeri ulu hati, konstipasi atau diare.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Ada kemungkinan anak yang telah terjangkau penyakit DHF bisa berulang DHF
lagi, Tetapi penyakit ini tidak ada hubungannya dengan penyakit yang pernah
diderita dahulu.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit DHF bisa dibawa oleh nyamuk jadi jika dalam satu keluarga ada yang
menderita penyakit ini kemungkinan tertular itu besar.
6. Riwayat Kesehatan Keluarga
Daerah atau tempat yang sering dijadikan tempat nyamuk ini adalah lingkungan
yang kurang pencahayaan dan sinar matahari, banyak genangan air, vas and ban
bekas.
7. Riwayat Tumbuh Kembang Anak : Sesuai dengan tumbuh kembang klien.
8. ADL
Nutrisi : Dapat menjadi mual, muntah, anoreksia.
Aktifitas : Lebih banyak berdiam di rumah selama musim hujan dapat
terjadi nyeri otot dan sendi, pegal-pegal pada seluruh tubuh,
menurunnya aktifitas bermain.
Istirahat tidur : Dapat terganggu karena panas, sakit kepala dan nyeri.
Eliminasi alvi : Dapat terjadi diare/ konstipasi, melena.
Personal hygien : pegal-pegal diseluruh badan serta tidak
dapat meningkatkan ketergantungan kebutuhan perawatan diri.
9. Pemeriksaan
a. Keadaan umum
Suhu tubuh tinggi (39,4 – 41,1 0C), menggigit hipotensi,nadi cepat dan lemah.
b. Kulit
Tampak bintik merah (petekil), hematom, ekimosit.
c. Kepala
mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor (kadang).
d. Dada
Nyeri tekan epigastrik, nafas cepat dan sering berat.
e. Abdomen
Pada palpasi teraba pembesaran hati dan limfe pada keadaan dehidrasi turgor
kulit menurun.
f. Anus dan genetalia
Dapat terganggu karena diare/ konstipasi.
g. Ekstrimitas atas dan bawah
Ekstrimitas dingin, sianosis.
10. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan di jumpai:
a. Hb dan PCV meningkat (≥20%).
b. Trombositopenia (≤100.000/ml).
c. Leukopenia (mungkin normal atau leukositosis).
d. [Link] positif.
e. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukan: hipoprotinemia, hipokloremia,
dan hiponatremia.
f. Urium dan PH darah mungkin meningkat.
g. Asidosis metabolik: pCO <35-40 mmHg HCO rendah.
h. SGOT/SGPT memungkinkan meningkat.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons klien
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik berlangsung
aktual maupun potensial. Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada kasus DBD
menurut PPNI (2017) sebagai berikut :
1. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan suhu tubuh

diatas nilai normal (D.0130)

2. Defisit nutrisi berhubungan dengan penurunan intake makanan, ketidakmampuan

mengabsorbsi nutrien (D0019)

3. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera biologis (penekanan intra

abdoment) (D.0077)

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan (D.0056)

5. Hipovolemi berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (D0023)

6. Risiko syok berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (D0039


C. INTERVENSI

SLKI-SIKI
DIAGNOSA
No KEPERAWATAN
(SDKI) SLKI SIKI

1. D.0130 Setelah dilakukan Observasi


Hipertermia berhubungan intervensi keperawatan 1. identifikasi penyebab
dengan proses penyakit diharapkan termogulasi hipertermia
ditandai dengan suhu tubuh membaik dengan kriteria 2. monitor suhu tubuh
diatas nilai normal. hasil : 3. monitor warna dan suhu kulit
Ditandai dengan : - menggigil membaik
- suhu tubuh diatas nilai - kejang menurun Teraupetik
normal - takikardi membaik 4. longgarkan atau lepaslan
- kejang - takipnea membaik pakaian
- takikardi - suhu tubuh membaik 5. berikan cairan oral
- takipnea - suhu kulit membaik 6. lakukan kompres dingin
- kulit terasa hangat - tekanan darah 7. sesuaikan suhu lingkungan
membaik dengan kebutuhan pasien
- ventilasi membaik
Edukasi
8. anjurkan tirah baring

Kolaborasi
9. kolaborasi pemberian cairan
elektrolit
10. Kolaborasikan pemberian
antipiretik
2. D.0019 Setelah dilakukan Observasi
Defisit nutrisi b.d intervensi keperawatan 1. Identifikasi status nutrisi
penurunan intake makanan, diharapkan status nutrisi 2. Identifikasi alergi dan
Ketidak mampuan pasien membaik dengan intoleransi makanan
mengabsorbsi nutrient. kriteria hasil : 3. identifikasi makanan yang
Dibuktikan dengan : - Porsi makanan yang disukai
- Berat badan menurun dihabiskan meningkat 4. Identifikasi keburuhan kalori
minimal 10% dibawah - Diare menurun dan nutrisi
rentang ideal Kriteria - Frekuensi makan 5. Monitor asupan makanan
- Cepat kenyang setelah membaik 6. Monitor berat badan
makan - Nafsu makan membaik
- Kram/nyeri abdomen - Bising usus membaik Terapeutik
- Nafsu makan menurun 7. Berikan makanan secara
- Bising usus hiperaktif menarik dan suhu yang sesuai
- Otot pengunyah lemah 8. Berikan makanan tinggi kalori
- Otot menelan lemah dan protein
- Membrane mukosa
pucat
Edukasi
9. Anjurkan diet yang
diprogramkan

Kolaborasi
10. Kolaborasi dengn ahli gizi
untuk menetukan jumlh
kalori dan jenis nutsisi yang
dibutuhkan jika perlu.
11. Kolaborasi pemberian obat
antimetik jika perlu
3. D.0077 Setelah dilakukan Observasi
Nyeri akut berhubungan intervensi keperawatan 1. Idntifikasi lokasi,
dengan agen pencedera diharapkan tingkat nyeri karakteristik, durasi,
biologis (penekanan intra menurun dengan kriteria frekuensi, kualitas, intensitas
abdoment). Ditandai hasil : nyeri
dengan : 1. Keluhan nyri 2. Identifikasi skala nyeri
1. Mengeluh nyeri menurun 3. Identifikasi respon nyeri non
2. Tampak meringis 2. Meringis menurun verbal
3. Gelisah 3. Gelisah menurun 4. Identifikasi faktor yang
4. Frekuensi nadi 4. Kesulitan tidur memperberat dan
meningkat membaik memperingan nyeri
5. Sulit tidur 5. Frekuensi nadi
membaik Teraupetik
5. Berikan teknik non
farmakologi untuk
mengurangi rasa nyeri
6. Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri
7. Fasilitasi istirahat dan tidur

Edukasi
8. Jelaskan penyebab, periode
dan pemicu nyeri
9. Jelaskan strategi meredakan
nyeri
10. Ajarkan teknik non
farmakologis

4. D.0056 Setelah dilakukan Observasi


Intoleransi aktivitas b.d intervensi keperawatan 1. monitor kelelahan fisik
tirah baring, kelemahan,. diharapkan toleransi 2. identifikasi kemampuan
Dibuktikan dengan : aktivitas meningkat berpartisipasi dalam aktivitas
Mengeluh lelah dengan kriteria hasil : tertentu
1. Frekuensi jantung 1. kemudahan dalam
meningkat melakukan aktivitas Teraupetik
2. Sianosis sehari-hari meningkat 3. latihan gerak pasif dan aktif
3. Mengeluh lelah 2. kekuatan tubuh bagian 4. libatkan keluarga dalam
4. Merasa tidak nyaman atas dan bawah aktivitas
setelah beraktivitas meningkat
3. keluhan lelah Kolaborasi
membaik 5. anjurkan melakukan aktivitas
4. dispneu saat aktivitas secara bertahap
menurun
5. Hipovolemi b.d kehilangan Setelah dilakukan Obsevasi
cairan aktif. intervensi keperawatan 1. Periksa tanda dan gejala
Dibuktikan dengan : diharapkan status cairan hypovolemia (missal
1. Frekuensi nadi pasien membaik dengan frekuensi nadi meningkat,
meningkat kriteria hasil : nadi teraba lemah, tekanan
2. Nadi teraba lemah - Turgor kulit membaik darah menurun, tekanan nadi
3. Tekanan darah - Frekuensi nadi menyempit, turgor kulit
menurun membaik menurun, membrane mukosa
4. Tekanan nadi - Tekanan darah kering, volume urin
menyempit membaik menurun,haus,lemah).
5. Turgor kulit menurun - Membrane mukosa 2. Monitor intake dan output
6. Membran mukosa membaik cairan
kering - Intake cairan membaik
7. Volume urin menurun - Output urine Terapeutik
8. Hematokrit meningkat meningkat 3. Hitung kebutuhan cairan
4. Berikan asupan cairan oral

Edukasi
5. Anjurkan memperbanyak
asupan cairan oral
6. Anjurkan menghidari posisi
mendadak

Kolaborasi
7. Kolaborasi pemberian cairan
isotonis ([Link])
8. Kolaborasi pemberian infus
cairan kristaloid 20 ml/kg bb
untuk anak
6. (D.0039) Setelah dilakukan Observasi
Resiko Syok berhubungan intervensi keperawatan
dengan kehilangan volume diharapkan tingkat syok 1. Monitor status
cairan, dibuktikan dengan : pasien menurun dengan kardiopulmonal
- Hipotensi kriteria hasil : 2. Monitor frekuensi nafas
- Kekurangan volume - Kekuatan nadi 3. Monitor status oksigenasi
cairan meningkat 4. Monitor status cairan
- Output urine 5. Monitor tingkat kesdaran dan
meningkat respon pupil
- Frekuensi nafas 6. Monitor jumlah,warna,dan
membaik berat jenis urine
- Tingkat kesadaran
meningkat Terapeutik
- Tekanan darah
sistolik,diastolic 7. Berikan oksigen untuk
membaik mempertahankan saturasi
oksigen >94%
8. Pasang jalur IV, jika perlu

Edukasi

9. Jelaskan tujuan dan prosedur


pemantauan
10. Jelaskan penyebab/factor
risiko syok
11. Anjurkan memperbanyak
asupan cairan oral

Kolaborasi

12. Kolaborasi pemberian IV,


jika perlu

D. IMPLEMENTASI
Implementasi Keperawatan adalah pelaksanaan rencana keperawatan yang
dilakukan secara mandiri maupun dengan kolaborasi dengan multidisiplin yang lain.
Perawat bertanggung jawab terhadap asuhan keperawatan yang berfokus pada pasien
dan berorientasi pada tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan
dimana tindakan dilakukan dan diselesaikan, sebagaimana di gambarkan dalam
rencana yang sudah dibuat (Patrisia et al., 2020)

E. EVALUASI
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara
membandingkan tindakan keperawatan yang dilakukan terhadap hasil yang
diharapkan. Evaluasi juga dilakukan untuk mengidentifikasi sejauh mana tujuan dari
rencana keperawatan tercapai atau tidak. Dalam melakukan evaluasi, perawat
seharusnya memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam memahami respon terhadap
intervensi keperawatan, kemampuan menggambarkan kesimpulan tentang tujuan
yang ingin dicapai serta kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan
dalam kriteria hasil (Patrisia et al., 2020).
WOC

Gigitan nyamuk
Aedes Aegypti

Masuknya virus
dengue ke tubuh

Kontak dengan
antibodi

Virus bereaksi
dengan antibody

Menstimulasi Aktivasi C3 Pelepasan Perpindahan


makrofag dan dan C5 histamine dan cairan
neutrofil prostgalndin ekstravaskuler

Menigkatkan Peningkatan Hepatomslemegali Berikatan kelemahan


prostaglandin dan permeabilitas dengan
neurotransmiter dinding rspirator nyeri
pembuluh darah Mendesak Metabolism
lambung menurun
Peningkatan suhu Implus nyeri
tubuh Kebocoran masuk ke
Plasma ke HCL meningkat hipotalamus Tirah Baring
ekstravaskuler
Hipertermi
Mual muntah Nyeri Akut Intoleransi
D. 0130 Resiko Syok Aktivitas
D.0077
D.0039 Anoreksia D.0056

Hipovolemia Defisit Nutrisi


D.0023 D.0019
DAFTAR PUSTAKA
Amin Huda Nurarif & Kusuma, Hardhi. 2015. APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC (Edisi Revisi). MediAction.
Harmawan. 2018. Dengue Hemorrhagic Fever. Jakarta.
Murwani. 2018. Patofisiologi Dengue Hemorrhagic Fever. Jakarta

Patrisia, I., Juhdeliena, J., Kartika, L., Pakpahan, M., Siregar, D., Biantoro, B., Hutapea, A.
D.,Khusniyah, Z., & Sihombing, R. M. (2020). Asuhan Keperawatan Dasar Pada
Kebutuhan Manusia (Edisi 1). Yayasan Kita Menulis. (diakes tanggal 15 juni 2021, jam
15.00)

Rohmah, N., & Walid, S. (2019). Proses Keperawatan Berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi
Nasional Indonesia) (Edisi I). AR-RUZZ Media.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan [Link] Selatan.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan [Link] Selatan

WHO. 2016. Prevention and Control of Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever

Anda mungkin juga menyukai