PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA
Penulis:
Firdaus Ubaidillah
ISBN: 978-623-7973-23-2
Penerbit:
UPT Percetakan & Penerbitan Universitas Jember
Redaksi:
Jl. Kalimantan 37
Jember 68121
Telp. 0331-330224, Voip 00319
e-mail : upt-penerbitan@[Link]
Distributor Tunggal:
UNEJ Press
Jl. Kalimantan 37
Jember 68121
Telp. 0331-330224, Voip 0319
e-mail : upt-penerbitan@[Link]
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak tan-
pa ijin tertulis dari penerbit, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk
apapun, baik cetak, photoprint, maupun microfilm
Kata Pengantar
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas limpah-
an nikmat, rahmat, dan hidayahNya sehingga kita dapat beraktivitas
sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Shalawat beserta salam
semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad
SAW.
Penyusunan buku ajar Persamaan Diferensial Biasa ini dimulai de-
ngan mengenalkan pengertian persamaan diferensial, baik itu persa-
maan diferensial biasa maupun persamaan diferensial parsial. Setelah
itu diberikan klasifikasi persamaan diferensial biasa. Dalam penjabar-
an persamaan diferensial biasa, Anda akan diajak untuk mengenali
bentuk-bentuk persamaan diferensial, kemudian penyelesaian persa-
maan diferensial mulai dari orde satu hingga orde tinggi. Pada umum-
nya yang dibahas di buku ajar ini adalah persamaan diferensial ber-
bentuk linear, namun untuk persamaan diferensial orde satu diberikan
dalam bentuk linear maupun nonlinear. Selain itu, diberikan penera-
pannya pada permasalahan sehari-hari misalkan pada peluruhan radio
aktiv, persamaan pertumbuhan, rangkaian listrik, persamaan getaran,
dan lain-lain. Dengan demikian, saya merekomendasikan buku ajar
ini bisa juga digunakan oleh mahasiswa di luar program studi mate-
matika misalkan dari program studi fisika dan program-program studi
di fakultas teknik. Beberapa metode dalam menyelesaikan persamaan
diferensial biasa juga diberikan di sini. Selain itu, pada bab-bab ter-
akhir dibahas tentang sistem persamaan diferensial dan penyelesaian-
nya baik yang berbentuk linear maupun nonlinear, hingga membahas
masalah kestabilan sistem persamaan diferensial linear.
Secara umum, Anda akan menemukan bahwa penyajian materi da-
lam buku ajar ini mengikuti alur penyajian pada perkuliahan Persa-
maan Diferensial Biasa di kelas. Dengan demikian, bisa dikatakan
bahwa untuk memahami materi perkuliahan Persamaan Diferensial
Biasa perlu mempelajari buku ajar ini.
Selain pembahasan materinya yang disajikan secara terstruktur,
buku ajar ini juga dilengkapi dengan contoh-contoh penyelesaian per-
samaan diferensial maupun masalah nilai awal, yang hasilnya seba-
gian dilengkapi dengan visualisasi dalam bentuk gambar. Penyajian
tersebut akan memudahkan pembaca untuk merelasikan apa yang dije-
laskan dalam contoh dengan bentuk tampilan grafik penyelesaiannya.
iii
iv
Buku ajar ini juga menyediakan rangkuman materi, bahan diskusi,
dan soal-soal latihan yang dapat Anda gunakan untuk mengetahui se-
jauh mana Anda memahami materi yang telah dipelajari di tiap-tiap
bab.
Jember, November 2020
Dr. Mohammad Fatekurrohman, [Link]., [Link].
Prakata
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah me-
limpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga penulisan buku ajar Per-
samaan Diferensial Biasa ini dapat diselesaikan dengan baik tanpa
kendala yang berarti. Tidak lupa, ucapan terima kasih disampaikan
kepada rekan-rekan dosen tim pengajar matakuliah Persamaan Dife-
rensial Biasa di Fakultas MIPA Universitas Jember yang telah ikut
memberikan kontribusi dalam penulisan buku ajar ini.
Persamaan Diferensial Biasa merupakan matakuliah wajib semes-
ter ketiga pada program studi Matematika Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember semenjak diberlakukan
Kurikulum 2017, terdiri dari 3 sks (2 sks kuliah dan 1 sks praktikum).
Buku ajar Persamaan Diferensial Biasa ini ditulis untuk diguna-
kan pada perkuliahan Persamaan Diferensial Biasa di Jurusan Mate-
matika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universi-
tas Jember, meskipun tidak menutup kemungkinan bisa dipakai pada
perkuliahan di prodi lain bahkan di luar fakultas MIPA. Penyusunan
buku ajar ini dalam rangka untuk mengefektifkan proses pembela-
jaran, apalagi di masa pandemi covid 19 yang mana hampir seluruh
perkuliahan dan praktikum dilaksanakan secara daring. Pada proses
pembelajaran di kelas secara daring, biasanya dosen menjelaskan per-
kuliahan dengan mencatat atau melalui media presentasi atau bahkan
video. Mahasiswa umumnya menyalin catatan tersebut sambil me-
nyimak dan mengikuti penjelasan dosen. Proses pembelajaran lebih
banyak mendengarkan ceramah dari dosen.
Fungsi dari buku ajar ini, untuk dosen digunakan dalam menje-
laskan materi kuliah, sedangkan untuk mahasiswa sebagai pengganti
catatan kuliah. Oleh karena itu waktu pembelajaran di kelas dapat
digunakan lebih efektif untuk caramah dan diskusi. Pada buku ajar
ini, diberikan banyak contoh (teladan) soal yang telah diberikan pe-
nyelesaiannya. Harapannya soal-soal yang diberikan di tiap akhir bab
dapat diselesaikan oleh mahasiswa sebagai alat ukur keberhasilan me-
mahami materi, begitu juga bahan diskusi yang sudah diberikan di
tiap bab.
Buku ajar ini dalam penyusunannya didasarkan pada beberapa bu-
ku teks mutahir yang digunakan seperti dituliskan dalam Bibliografi
(Daftar Pustaka). Semoga buku ajar ini dapat berguna untuk me-
v
vi
ningkatkan kualitas pembelajaran matakuliah Persamaan Diferensial
Biasa, terlebih khusus di Jurusan Matematika Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember.
Jember, November 2020
Penulis
Daftar Isi
Kata Pengantar iii
Prakata v
Daftar Isi ix
Daftar Gambar xi
Daftar Tabel xiii
1 Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa 1
1.1 Klasifikasi Persamaan Diferensial . . . . . . . . . . . . . 2
1.1.1 Orde Persamaan Diferensial . . . . . . . . . . . . 4
1.1.2 Persamaan Diferensial Linear dan Nonlinear . . . 5
1.1.3 Persamaan Diferensial Linear Homogen dan Non-
homogen . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
1.2 Sistem Persamaan Diferensial . . . . . . . . . . . . . . . 7
1.3 Penyelesaian Persamaan Diferensial . . . . . . . . . . . . 8
1.4 Rangkuman . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9
1.5 Bahan Diskusi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 10
1.6 Rujukan/Daftar Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . 10
1.7 Soal-soal Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 10
2 Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 15
2.1 Persamaan Diferensial Linear Orde Satu . . . . . . . . . 16
2.2 Persamaan Diferensial Peubah Terpisah (Separabel) . . 18
2.3 Persamaan Diferensial Eksak . . . . . . . . . . . . . . . 22
2.4 Persamaan Diferensial Noneksak dan Faktor Integrasi . 25
2.5 Persamaan Diferensial Bernoulli . . . . . . . . . . . . . . 31
2.6 Persamaan Diferensial Euler . . . . . . . . . . . . . . . . 33
vii
viii DAFTAR ISI
2.7 Masalah Nilai Awal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 36
2.8 Aplikasi Persamaan Diferensial Orde Satu . . . . . . . . 38
2.9 Rangkuman . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 41
2.10 Bahan Diskusi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 42
2.11 Rujukan/Daftar Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . 42
2.12 Soal-soal Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 43
3 Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya 47
3.1 Persamaan Diferensial Linear Orde Dua . . . . . . . . . 48
3.2 Persamaan Linear Homogen dengan Koefisien Konstan . 49
3.3 Persamaan Linear Orde Dua Nonhomogen dengan Ko-
efisien Konstan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 53
3.4 Aplikasi Persamaan Diferensial Orde Dua . . . . . . . . 61
3.5 Rangkuman . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 65
3.6 Bahan Diskusi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 66
3.7 Rujukan/Daftar Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . 66
3.8 Soal-soal Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 67
4 Persamaan Diferensial Linear Orde Lebih dari Dua 69
4.1 Persamaan Linear Homogen dengan Koefisien Konstan . 70
4.2 Persamaan Linear Orde Tinggi Nonhomogen dengan
Koefisien Konstan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 73
4.3 Rangkuman . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 76
4.4 Bahan Diskusi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 78
4.5 Rujukan/Daftar Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . 78
4.6 Soal-soal Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 79
5 Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator
D 81
5.1 Pengertian Operator Diferensial dan Sifat-sifatnya . . . 82
5.2 Kernel Operator D . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 87
5.3 Invers Operator D . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 89
5.4 Penyelesaian Persamaan Diferensial
Linear Nonhomogen dengan Koefisien Konstan . . . . . 92
5.5 Rangkuman . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 107
5.6 Bahan Diskusi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 109
5.7 Rujukan/Daftar Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . 109
5.8 Soal-soal Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 109
DAFTAR ISI ix
6 Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
Laplace 111
6.1 Transformasi Laplace . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 112
6.2 Sifat-sifat Transformasi Laplace . . . . . . . . . . . . . . 114
6.3 Transformasi Laplace Invers . . . . . . . . . . . . . . . . 117
6.4 Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
Laplace . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 119
6.5 Rangkuman . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 121
6.6 Bahan Diskusi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 122
6.7 Rujukan/Daftar Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . 123
6.8 Soal-soal Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 123
7 Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu 125
7.1 Sistem Persamaan Linear Homogen dengan Koefisien
Konstan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 127
7.2 Sistem Persamaan Linear Nonhomogen
dengan Koefisien Konstan . . . . . . . . . . . . . . . . . 132
7.3 Rangkuman . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 136
7.4 Bahan Diskusi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 137
7.5 Rujukan/Daftar Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . 137
7.6 Soal-soal Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 137
8 Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial 139
8.1 Linearisasi Sistem Persamaan Diferensial Nonlinear . . . 140
8.2 Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial . . . . . . . . . 143
8.3 Rangkuman . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 146
8.4 Bahan Diskusi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 147
8.5 Rujukan/Daftar Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . 148
8.6 Soal-soal Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 148
Daftar Pustaka/Bibliografi 150
Glosarium 153
Indeks 155
Biografi 157
x DAFTAR ISI
Daftar Gambar
1.1 Bandul matematis . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
2.1 Grafik y = ce2x − 3/2, untuk beberapa nilai c . . . . . . 18
2.2 Grafik penyelesaian y 0 − y2 = e−x , dengan y(0) = 7/3 . . 31
3.1 Grafik penyelesaian masalah nilai awal y 00 + 2y 0 + y =
0, y(0) = 1, y 0 (0) = −3 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 52
3.2 Grafik solusi y 00 + 4y = x + 2e−3x , y(0) = 1, y 0 (0) = −1 . 60
3.3 Ilustrasi permasalahan pada soal . . . . . . . . . . . . . 61
3.4 Grafik pergerakan partikel . . . . . . . . . . . . . . . . . 62
3.5 Grafik pergerakan partikel dengan peredaman . . . . . . 63
3.6 Grafik (a) muatan listrik, dan (b) arus listrik . . . . . . 64
6.1 Rangkaian listrik soal nomor 14 . . . . . . . . . . . . . . 124
8.1 Bidang fasa x1 vs t kasus nilai-nilai karakteristik ber-
tanda negatif . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 143
8.2 Bidang fasa x1 vs t kasus nilai-nilai karakteristik berbe-
da tanda . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 144
8.3 Bidang fasa x1 vs t kasus nilai-nilai karakteristik ber-
tanda sama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 144
xi
xii DAFTAR GAMBAR
Daftar Tabel
1.1 Persamaan diferensial biasa dengan nama-nama khusus 3
1.2 Persamaan diferensial parsial dengan nama-nama khusus 4
1.3 Beberapa contoh persamaan diferensial linear dan non-
linear . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
6.1 Tabel Transformasi Laplace Fungsi-fungsi Khusus . . . . 113
8.1 Sifat-sifat kestabilan sistem persamaan linear . . . . . . 146
xiii
xiv DAFTAR TABEL
Bab 1
Konsep Dasar Persamaan
Diferensial Biasa
——————————————————————————–
Setelah membaca dan mempelajari bab ini, kemampuan akhir yang
diharapkan secara umum adalah mahasiswa:
1. memahami konsep dasar persamaan diferensial biasa;
2. mampu berpikir kritis dan logis;
3. mempunyai kemampuan dan kreativitas dalam menyelesaikan
masalah yang relevan;
4. mempunyai kemampuan berkomunikasi melalui diskusi materi.
Sedangkan kemampuan akhir yang diharapkan secara khusus adalah
mahasiswa mampu
1. mengklasifikasi persamaan diferensial (PDB dan PDP, persama-
an diferensial orde satu dan orde tinggi, persamaan diferensial
linear dan nonlinear, dan persamaan diferensial linear homogen
dan nonhomogen);
2. menjelaskan pengertian persamaan diferensial linear dan mem-
bedakan dengan persamaan diferensial nonlinear;
3. menjelaskan pengertian penyelesaian umum, masalah nilai awal,
dan metode penyelesaian persamaan diferensial.
1
2 Bab 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa
1.1 Klasifikasi Persamaan Diferensial
Untuk mempelajari persamaan diferensial biasa, yang pertama
adalah perlu memahami klasifikasi persamaan diferensial. Untuk itu,
terlebih dahulu diberikan pengertian persamaan diferensial.
Persamaan diferensial adalah suatu bentuk persamaan yang
memuat turunan (derivatif) satu atau lebih peubah tak bebas (pe-
ubah terikat) terhadap satu atau lebih peubah bebas suatu fungsi.
Berikut beberapa contoh persamaan diferensial
d2 y 2
dy 3
+ x y =0 (1.1)
dx2 dx
d4 x dx
4
+3 − 4x = cos t (1.2)
dt dt
∂v ∂v
− = 2v (1.3)
∂s ∂t
∂2u ∂2u ∂2u
+ 2 + 2 =0 (1.4)
∂x2 ∂y ∂z
Klasifikasi persamaan diferensial tergantung pada banyaknya peubah
bebas. Jika persamaan diferensial tergantung hanya pada satu peu-
bah bebas dikatakan persamaan diferensial biasa (PDB), dan jika
bergantung pada lebih dari satu peubah bebas dikatakan persamaan
diferensial parsial (PDP). Berikut diberikan contoh masing-masing
persamaan diferensial biasa dan persamaan diferensial parsial.
Persamaan
d2 y(t) dy(t)
2
+ sin t − 2y(t) = 2t (1.5)
dt dt
merupakan persamaan diferensial biasa dengan satu peubah tak bebas
y dan satu peubah bebas t, sedangkan
∂ 2 u(x, t) ∂u(x, t)
2
= (1.6)
∂x ∂t
merupakan persamaan diferensial parsial dengan satu peubah tak be-
bas u dan dua peubah bebas x dan t.
2 2
Untuk selanjutnya, terkadang penulisan d dty(t)
2 cukup ditulis ddt2y sa-
ja, penulisan dy(x) dy
dx cukup ditulis dx saja, dan sebagainya. Persamaan
2
(1.6) dapat pula dituliskan ∂∂xu2 = ∂u
∂t yang dapat dipahami bahwa u
Bab 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa 3
dy
adalah fungsi dari x dan t. Selain itu, terkadang penulisan dx digan-
0 d2 y 00 d3 y
ti dengan y , penulisan dx2 diganti dengan y , penulisan dx3 diganti
d4 y
dengan y 000 , dan penulisan dx4
diganti dengan y iv . Sedangkan untuk
d7 y
turunan lebih tinggi dari empat, misalkan dx7
dituliskan dengan y (7)
dan ini tentunya berbeda dengan y 7 .
Beberapa persamaan diferensial terkadang secara khusus memiliki
nama sendiri. Persamaan diferensial biasa dan parsial dengan nama-
nama khusus masing-masing diberikan pada Tabel 1.1 dan Tabel 1.2.
Tabel 1.1: Persamaan diferensial biasa dengan nama-nama khusus
No. Bentuk persamaan diferensial Nama persamaan
2
d y dy
1. (1 − x2 ) dx2 − 2x dx + p(p + 1)y = 0 Persamaan Legendre
d y 2 dy
2. x2 dx 2 2
2 + x dx + (x − p )y = 0 Persamaan Bessel
d2 y
3. dx2
+ xy = 0 Persamaan Airy
4. (1 − x2 )y 00 − xy 0 + p2 y = 0 Persamaan Chebyshev
5. y 00 − 2xy 0 + 2py = 0 Persamaan Hermite
6. y 0 = p(x)y + q(x)y n Persamaan Bernoulli
7. x2 y 00 + axy 0 + by = 0 Persamaan Euler
4 Bab 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa
Tabel 1.2: Persamaan diferensial parsial dengan nama-nama khusus
No. Bentuk pers. diferensial Nama persamaan
∂2u ∂2u
1. ∂x2
+ ∂y 2
=0 Persamaan Laplace dimensi dua
∂2u ∂2u ∂2u
2. ∂x2
+ ∂y 2
+ ∂z 2
=0 Persamaan Laplace dimensi tiga
∂2u ∂2u
3. ∂x2
+ ∂y 2
= f (x, y) Persamaan Poisson
∂2u 2
4. ∂x2
= c2 ∂∂t2u Persamaan gelombang
∂2u
5. ∂x2
= α2 ∂u
∂t Persamaan panas
1.1.1 Orde Persamaan Diferensial
Penentuan orde dari suatu persamaan diferensial tergantung pada kan-
dungan fungsi turunan yang ada di dalam persamaan diferensial ter-
sebut. Orde persamaan diferensial adalah orde tertinggi turunan
yang muncul pada persamaan diferensial. Persamaan diferensial (1.1),
(1.4), (1.5) dan (1.6) merupakan contoh-contoh persamaan diferensial
orde dua. Sedangkan persamaan diferensial (1.2) dan (1.3) masing-
masing berorde empat dan satu.
Definisi 1.1. Persamaan diferensial biasa orde satu, atau cukup
dikatakan persamaan diferensial orde satu, adalah persamaan di-
ferensial yang berbentuk
y 0 (x) = f (x, y(x)). (1.7)
Bab 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa 5
Secara umum, persamaan diferensial orde n adalah persamaan
diferensial yang berbentuk
y (n) (x) = f (x, y, y 0 , y 00 , · · · , y (n−1) ). (1.8)
1.1.2 Persamaan Diferensial Linear dan Nonlinear
Persamaan diferensial orde satu (1.7) dikatakan linear jika persamaan
(1.7) dapat dinyatakan dengan
y 0 (x) = r(x)y + s(x). (1.9)
Jika tidak demikian maka persamaan diferensial dikatakan tidak li-
near atau nonlinear. Secara umum, persamaan diferensial dikatakan
linear orde n jika persamaan diferensial tersebut dapat dituliskan se-
bagai
dn y dn−1 y dy
an (x) n
+ a n−1 (x) n−1
+ · · · + a1 (x) + a0 (x)y = b(x) (1.10)
dx dx dx
dengan an 6= 0.
Persamaan diferensial biasa dikatakan nonlinear jika ia tidak linear,
yakni tidak dapat dinyatakan dalam persamaan (1.10). Salah satu con-
toh persamaan diferensial nonlinear yang sering muncul dalam fisika
adalah persamaan bandul matematis yang diberikan
d2 θ g
+ sin θ = 0, (1.11)
dt2 l
dengan θ menyatakan besar sudut simpangan, g gaya gravitasi bumi
dan l panjang tali (Gambar 1.1).
Gambar 1.1: Bandul matematis
6 Bab 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa
Untuk kasus θ yang cukup kecil, nilai sin θ dapat dihampiri oleh
θ, yakni sin θ ≈ θ, sehingga persamaan (1.11) dapat diganti menjadi
persamaan linear
d2 θ g
+ θ = 0.
dt2 l
Beberapa contoh persamaan diferensial biasa linear dan nonlinear yang
lain diberikan pada Tabel 1.3.
Tabel 1.3: Beberapa contoh persamaan diferensial linear dan non-
linear
No. Persamaan diferensial Linear/Nonlinear
d y 2 dy
1. (1 − x2 ) dx 2 − 2x dx + p(p + 1)y = 0 Linear
d4 x
2. dt4
+ 3 dx
dt − 4x = cos t Linear
d2 y dy
3. dx2
+ 3y( dx − 4) = x Nonlinear
2
d2 y dy
4. dx2
+ 3x dx =0 Nonlinear
√
5. y 00 − 2xy 0 + y=0 Nonlinear
Persamaan (1.10) dikatakan persamaan diferensial linear de-
ngan koefisien konstan jika a1 (x), a2 (x), · · · , an (x) semuanya konst-
an, jika tidak maka dikatakan persamaan diferensial dengan koe-
fisien peubah. Berikut beberapa contoh persamaan diferensial linear
dengan koefisien konstan dan dengan koefisien peubah:
Bab 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa 7
1. y 00 + 5y 0 − 3y = cos x merupakan persamaan diferensial linear
dengan koefisien konstan.
2. Persamaan-persamaan diferensial yang diberikan pada Tabel 1.1
(persamaan Legendre, Bessel, Airy, Chebyshev, Hermite, dan
Euler) semuanya merupakan persamaan diferensial linear dengan
koefisien peubah.
1.1.3 Persamaan Diferensial Linear Homogen dan Non-
homogen
Persamaan diferensial linear (1.10), yakni
dn y dn−1 y dy
an (x) + a n−1 (x) + · · · + a1 (x) + a0 (x)y = b(x)
dxn dxn−1 dx
dengan an 6= 0, dikatakan homogen atau tereduksi jika b(x) = 0 dan
dikatakan nonhomogen atau lengkap jika b(x) 6= 0. Berikut bebe-
rapa contoh persamaan diferensial linear homogen dan nonhomogen:
1. y 00 + 5y 0 − 3y = cos x merupakan persamaan diferensial linear
nonhomogen.
2. Persamaan-persamaan diferensial yang diberikan pada Tabel 1.1
(persamaan Legendre, Bessel, Airy, Chebyshev, Hermite, dan
Euler) semuanya merupakan persamaan diferensial linear homo-
gen.
1.2 Sistem Persamaan Diferensial
Sistem persamaan diferensial merupakan kumpulan dari bebera-
pa persamaan diferensial yang saling berkaitan. Berdasarkan keline-
arannya, sistem persamaan diferensial dibedakan menjadi sistem per-
samaan diferensial linear dan sistem persamaan diferensial nonlinear.
Sebagai contoh sistem persamaan diferensial
dx
= x − y + 2t
dt
dy
= 3y − 2
dt
atau dapat dinyatakan dalam bentuk matriks
ẋ 1 −1 x 2t
= +
ẏ 0 3 y −2
8 Bab 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa
merupakan sistem persamaan diferensial linear orde satu. Contoh lain,
persamaan Lorenz sebagai berikut
dx
= σ(−x + y)
dt
dy
= rx − y − xz
dt
dz
= −bz + xy
dt
merupakan sistem persamaan diferensial nonlinear orde satu.
1.3 Penyelesaian Persamaan Diferensial
Penyelesaian atau solusi persamaan diferensial adalah suatu fung-
si yang memenuhi persamaan diferensial yang dimaksudkan. Sebagai
contoh, fungsi y = ex − 1 adalah penyelesaian dari persamaan dife-
rensial y 0 = y + 1. Perhatikan bahwa fungsi lain y = 3ex − 1, juga
merupakan penyelesaian dari persamaan diferensial y 0 = y + 1. Ini
artinya bahwa penyelesaian dari persamaan y 0 = y + 1 tidak tunggal.
Secara umum, penyelesaian persamaan diferensial y 0 = y + 1 adalah
y = cex − 1 dengan c konstanta sebarang.
Penyelesaian umum persamaan diferensial adalah koleksi (kelu-
arga) fungsi yang memenuhi persamaan diferensial yang dimaksudkan,
dalam hal ini penyelesaiannya masih mengandung konstanta esensi-
al. Penyelesaian khusus persamaan diferensial adalah suatu fungsi
yang memenuhi persamaan diferensial yang dimaksudkan, dalam hal
ini penyelesaiannya tidak mengandung konstanta esensial. Penyele-
saian singular adalah penyelesaian persamaan diferensial yang tidak
didapat dari hasil mensubstitusikan nilai konstanta pada penyelesaian
umumnya.
Penyelesaian persamaan diferensial linear dengan koefisien konst-
an lebih sederhana dibandingkan dengan koefisien peubah. Namun
begitu, dengan mengintegralkan kedua ruas persamaan (1.9) terhadap
peubah x, terkadang tidak menghasilkan seperti yang diharapkan. Se-
bagai contoh, untuk menyelesaikan persamaan
y 0 = 2y + 1
dengan cara mengintegralkan kedua ruas terhadap peubah x diperoleh
Z Z
0
y (x) dx = 2 y(x) dx + x + C,
Bab 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa 9
dengan C sebarang
R 0 bilangan real. Berdasarkan Teorema Dasar Kal-
kulus berakibat y (x)dx = y(x), sehingga didapatkan
Z
y = 2 y dx + x + C.
Pengintegrasian kedua ruas persamaan tidak cukup untuk menentukan
penyelesaian y, karena masih perlu menentukan primitif dari y.
1.4 Rangkuman
1. Persamaan diferensial adalah suatu bentuk persamaan yang me-
muat turunan (derivatif) satu atau lebih peubah tak bebas (peu-
bah terikat) terhadap satu atau lebih peubah bebas suatu fungsi.
2. Klasifikasi persamaan diferensial (biasa atau parsial) tergantung
pada banyaknya peubah bebas. Jika hanya tergantung hanya
pada satu peubah bebas maka dikatakan persamaan diferensial
biasa, dan jika bergantung pada dua atau lebih peubah bebas
dikatakan persamaan diferensial parsial.
3. Orde persamaan diferensial adalah orde tertinggi turunan yang
muncul pada persamaan diferensial.
4. Persamaan diferensial berbentuk
dn y dn−1 y dy
an n
+ an−1 n−1
+ · · · + a1 + a0 y = b(x)
dx dx dx
merupakan persamaan diferensial linear jika an , an−1 , · · · , a0 me-
rupakan fungsi-fungsi dari x saja (tidak mengandung y dan tu-
runannya), jika tidak maka dikatakan persamaan nonlinear.
5. Persamaan diferensial linear
dn y dn−1 y dy
an (x) n
+ an−1 (x) n−1
+ · · · + a1 (x) + a0 y = b(x)
dx dx dx
dikatakan homogen jika b(x) = 0, dan dikatakan nonhomogen
jika b(x) 6= 0.
6. Sistem persamaan diferensial merupakan kumpulan dari bebera-
pa persamaan diferensial yang saling berkaitan.
7. Penyelesaian persamaan diferensial adalah suatu fungsi yang me-
menuhi persamaan diferensial.
10 Bab 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa
1.5 Bahan Diskusi
Diskusikan beberapa hal berikut
1. Berikan satu buah contoh persamaan diferensial biasa nonlinear
orde tiga.
2. Berikan satu buah contoh persamaan diferensial biasa linear orde
dua nonhomogen dengan koefisien tidak konstan.
3. Berikan alasan mengapa persamaan diferensial
d2 y
+ sin (x + y) = sin x.
dx2
bukan merupakan persamaan diferensial linear.
1.6 Rujukan/Daftar Pustaka
1 Boyce, W.E., R.C. DiPrima, dan D.B. Meade, 2017, Elemen-
tary Differential Equations and Boundary Value Problems, 11th
edition, John Wiley & Sons
2 Howell, K.B, 2019, Ordinary Differential Equations: An Intro-
duction to the Fundamentals, CRC Press
3 Simmons, G.F. dan S.G. Krantz, 2007, Differential Equations
Theory, Technique, and Practice. International Edition, The
McGraw-Hill Companies, Inc.
1.7 Soal-soal Latihan
1. Klasifikasikan persamaan-persamaan diferensial berikut berda-
sarkan PDB atau PDP dan tentukan peubah bebas dan peubah
terikat (peubah tak bebas)
Bab 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa 11
No. Pers. diferensial PDB/PDP Peub. bebas/terikat
d2 y dy
a. dx2
− 2x dx =0 PDB x/y
b. y 000 − 2y 0 + y = cos t ··· ···
∂2u ∂u
c. ∂x2
+ ∂t =0 ··· ···
dx dy
d. dt + dt = 2t ··· ···
∂2z ∂2z ∂2z
e. ∂y 2
+ ∂x2
+ ∂t2
··· ···
2. Klasifikasikan persamaan-persamaan diferensial biasa berikut ber-
dasarkan orde dan kelinearan
No. Persamaan diferensial Orde Linear/Nonlinear
d y 2 dy
a. (1 − x2 ) dx2 − 2x dx = 0 Dua Linear
4 √
b. (t − 1) ddt4x + 3 dx
dt − 4 x = cos t ··· ···
c. yy 00 − 3y 0 = 2x ··· ···
d. y (5) + 3xy 00 = x3/2 ··· ···
dy √
e. dt −t y =0 ··· ···
12 Bab 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa
3. Klasifikasikan persamaan-persamaan diferensial biasa linear ber-
ikut berdasarkan koefisien-koefisiennya
No. Persamaan diferensial Koef. konstan / peubah
2
d y dy
a. (1 − x2 ) dx2 − 2x dx = 0 Koefisien peubah
d4 x
b. dt4
+ 3 dx
dt − 4x − cos t = 0 ···
c. y iv − y = x ···
d. xy 00 − 1 = 0 ···
d2 s
e. dt2
+ ts = cos t ···
4. Klasifikasikan persamaan-persamaan diferensial biasa linear ber-
ikut berdasarkan kehomogenannya:
No. Persamaan diferensial Homogen/Nonhomogen
2
d y dy
a. (1 − x2 ) dx2 − 2x dx = 0 Homogen
d4 x
b. dt4
+ 3 dx
dt − 4x − cos t = 0 ···
c. y iv − y = x ···
d. xy 00 − 1 = 0 ···
Bab 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa 13
5. Periksa, apakah y(t) = 3t + t2 merupakan penyelesaian persama-
an diferensial
ty 0 − y = t2 .
6. Periksa bahwa fungsi implisit y = arcsin (xy) merupakan penye-
lesaian persamaan diferensial
p
xy 0 + y = y 0 1 − x2 y
7. Periksa, apakah fungsi y(x) = cos 2x merupakan penyelesaian
masalah nilai awal
y 00 + 4y = 0; y(0) = 1, y 0 (0) = 0.
8. Diberikan persamaan diferensial
y 00 + y 0 − 6y = 0.
Jika penyelesaian persamaan diferensial tersebut berbentuk y =
epx , tentukan nilai-nilai dari p yang memenuhi.
9. Tunjukkan bahwa fungsi
Z x
x2 2
y=e e−t dt
0
merupakan penyelesaian persamaan diferensial
y 0 = 2xy + 1.
10. Diberikan persamaan diferensial
y 00 − 5y 0 + 4y = 0.
Periksa bahwa
(a) fungsi y = ex dan fungsi y = e4x keduanya merupakan
penyelesaian persamaan diferensial yang diberikan tersebut.
(b) fungsi y = c1 ex +c2 e4x dengan c1 dan c2 konstanta-konstanta
sebarang, merupakan penyelesaian persamaan diferensial
yang diberikan tersebut.
14 Bab 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial Biasa
11. Periksa bahwa x2 y = ln y + C dengan C konstanta sebarang,
merupakan penyelesaian umum persamaan diferensial
dy 2xy 2
= .
dx (1 − x2 y)
12. Untuk nilai-nilai m berapa saja sehingga fungsi y = ym = emx
merupakan penyelesaian persamaan diferensial
2y 000 + y 00 − 5y 0 + 2y = 0?
Bab 2
Persamaan Diferensial
Orde Satu dan Aplikasinya
——————————————————————————–
Setelah membaca dan mempelajari bab ini, kemampuan akhir yang
diharapkan secara umum adalah mahasiswa:
1. memahami bentuk-bentuk persamaan diferensial orde satu;
2. mampu berpikir kritis dan logis;
3. mempunyai kemampuan dan kreativitas dalam menyelesaikan
masalah yang relevan;
4. mempunyai kemampuan berkomunikasi melalui diskusi materi.
Sedangkan kemampuan akhir yang diharapkan secara khusus adalah
mahasiswa mampu
1. menyelesaikan persamaan diferensial orde satu baik linear mau-
pun nonlinear dalam bentuk persamaan peubah terpisah (sepa-
rabel), persamaan diferensial eksak, noneksak, maupun bentuk-
bentuk persamaan diferensial yang lain;
2. mengaplikasikan persamaan diferensial orde satu pada kasus-
kasus pertumbuhan populasi, peluruhan radioaktiv, dan lain-
lain.
15
16 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
Pada bab in akan dibahas penyelesaian persamaan diferensial, baik
yang berbentuk linear maupun nonlinear.
Persamaan diferensial orde satu dapat dinyatakan dalam bentuk
y 0 (x) = f (x, y),
dengan f fungsi sebarang. Atau jika dinyatakan dalam bentuk deriva-
tif adalah
M (x, y)dx + N (x, y)dy = 0,
dengan M dan N fungsi-fungsi sebarang.
2.1 Persamaan Diferensial Linear Orde Satu
Bentuk umum persamaan diferensial linear orde satu adalah
y 0 (x) = a(x)y + b(x), (2.1)
dengan a dan b fungsi-fungsi sebarang dari x. Untuk menyelesaikan
persamaan diferensial linear orde satu (2.1), terlebih dahulu diawali
dengan hal sederhana, yakni menganggap a dan b konstanta. Untuk
hal itu, diberikan teorema berikut.
Teorema 2.1. Persamaan diferensial linear
y 0 = ay + b (2.2)
dengan a dan b konstan dan a 6= 0, mempunyai tak berhingga banyak
penyelesaian dalam bentuk
b
y(x) = Ceax − , C ∈ R. (2.3)
a
Bukti. Pertama pandang kasus b = 0, sehingga y 0 = ay dengan a
sebarang bilangan real. Oleh karena itu, diperoleh
y0
y 0 = ay ⇒ =a ⇒ ln (|y|)0 = a ⇒ ln (|y|) = ax + C0
y
dengan C0 ∈ R adalah konstanta integrasi. Karena itu diperoleh
y(x) = ±eax+C0 = ±eC0 eax = Ceax
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 17
dengan C = ±eC0 . Ini merupakan penyelesaian persamaan diferensial
untuk kasus b = 0.
Untuk kasus b 6= 0 dapat dikonversi ke dalam kasus di atas, yakni
dengan cara menuliskan
y 0 = ay + b ⇒ y 0 = a y + b/a ⇒ y + b/a)0 = a y + b/a).
Dengan menotasikan y = y + (b/a), persamaan di atas dapat ditu-
lis sebagai y 0 = ay. Dari hasil penyelesaian sebelumnya, diperoleh
penyelesaian
y(x) = Ceax
Oleh karena itu, dengan mengembalikan y, diperoleh penyelesaian
umum
b b
y(x) + = Ceax ⇒ y(x) = Ceax − ,
a a
dengan C konstanta sebarang.
Bukti selesai.
Pada Teorema 2.1 mengatakan bahwa persamaan diferensial mem-
punyai penyelesaian yang tak berhingga banyak. Argumen yang kita
gunakan untuk membuktikan Teorema 2.1 tidak dapat digeneralisasi
dengan sederhana ke semua bentuk persamaan linear dengan koefisi-
en peubah. Namun, ada cara untuk menyelesaikan persamaan linear
dengan koefisien-koefisien peubah dengan menggunakan teknik faktor
integrasi. Untuk itu diberikan contoh berikut.
Contoh 2.2. Tentukan semua penyelesaian persamaan diferensial de-
ngan koefisien konstan
y 0 = 2y + 3
Penyelesaian:
Tulis persamaan diferensial sebagai berikut
y 0 − 2y = 3
Kalikan persamaan ini dengan µ(x) = e−2x , diperoleh
e−2x y 0 − 2e−2x y = 3e−2x ⇔ e−2x y 0 + (e−2x )0 y = 3e−2x
⇔ (e−2x y)0 = 3e−2x
yang selanjutnya dengan mengintegralkan diperoleh penyelesaian
3 3
e−2x y = − e−2x + C atau y = Ce2x −
2 2
18 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
dengan C konstanta sebarang. Grafik penyelesaian diberikan pada
Gambar 2.1.
Gambar 2.1: Grafik y = ce2x − 3/2, untuk beberapa nilai c
Penggunaan faktor integrasi lebih jauh akan diberikan pada subbab
2.4.
2.2 Persamaan Diferensial Peubah Terpisah (Se-
parabel)
Bentuk umum persamaan diferensial peubah terpisah atau se-
parabel dalam bentuk derivatif adalah
M (x) dx + N (y) dy = 0. (2.4)
Sebagai contoh, persamaan diferensial
y 0 = xy, (2.5)
merupakan persamaan diferensial peubah terpisah karena persamaan
(2.5) dapat dinyatakan dalam bentuk
1
x dx − dy = 0,
y
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 19
dengan menganggap y 6= 0. Sedangkan persamaan diferensial
y 0 = sin x + y
bukan merupakan persamaan diferensial peubah terpisah karena tidak
dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan (2.4).
Untuk penyelesaian persamaan diferensial peubah terpisah dalam
bentuk persamaan (2.4), cukup kedua ruas persamaan diintegralkan
secara langsung, yakni
Z Z
M (x) dx + N (y) dy = 0,
asalkan M dan N keduanya terintegralkan (misalkan M dan N kedu-
anya fungsi kontinu).
Untuk memperjelas penyelesaian persamaan diferensial peubah terpi-
sah, diberikan contoh-contoh berikut.
Contoh 2.3. Tentukan penyelesaian persamaan diferensial
2yy 0 + 9x = 0.
Penyelesaian:
Persamaan diferensial di atas merupakan persamaan diferensial peu-
bah terpisah karena dapat dinyatakan sebagai
9x dx + 2y dy = 0.
Untuk mendapatkan penyelesaiannya, dengan cara berikut
9x dx + 2y dy = 0
Z Z Z
⇒ 9x dx + 2y dy = 0
9 2
⇒ x + y2 = c
2
Jadi penyelesaian persamaan diferensialnya adalah 92 x2 + y 2 = c, de-
ngan c konstanta sebarang.
Contoh 2.4. Tentukan penyelesaian persamaan diferensial
y
y0 = .
x
20 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
Penyelesaian:
Persamaan diferensial ini merupakan persamaan diferensial peubah
terpisah karena dapat dinyatakan sebagai
1 1
dx − dy = 0.
x y
Untuk mendapatkan penyelesaiannya, dengan cara berikut
1 1
dx − dy = 0
x y
Z Z
1 1
⇒ dy = dx
y x
⇒ ln y = ln x + c1 ; c1 konstanta integrasi
⇒ ln y = ln x + ln c ; di sini ln c = c1
⇒ ln y = ln (cx) ; sifat logaritma
⇒ y = cx
Jadi penyelesaian persamaan diferensialnya adalah y = cx, dengan c
konstanta sebarang, yakni penyelesaiannya merupakan koleksi semua
persamaan garis yang melalui titik asal (kecuali sumbu-y).
Teorema 2.5. Jika h dan g keduanya fungsi kontinu, dengan h 6= 0,
maka
h(y)y 0 = g(x)
mempunyai penyelesaian y tak berhingga banyak yang memenuhi
H(y) = G(x) + c,
dengan H dan G berturut-turut anti turunan h dan g, dan c konstanta
sebarang.
Bukti. Integralkan kedua ruas persamaan terhadap x,
Z Z
h(y)y 0 = g(x) ⇒ h(y(x))y 0 (x) dx = g(x) dx + c,
dengan c konstanta sebarang. Karena y = y(x) berakibat dy =
y 0 (x)dx, dan mensubstitusikan ke persamaan di atas, diperoleh
Z Z Z Z
0
h(y(x))y (x) dx = h(y) dy ⇒ h(y) dy = g(x) dx + c.
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 21
Selanjutnya, tulis H dan G masing-masing primitif dari h dan g
Z Z
H(y) = h(y) dx, G(x) = g(x) dx.
Dengan demikian diperoleh hubungan
H(y) = G(x) + c,
yang mana ini secara implisit mendefinisikan fungsi y yang bergantung
pada x.
Bukti selesai.
Contoh 2.6. Tentukan semua penyelesaian y dari persamaan diferen-
sial
x2
y0 = .
1 − y2
Penyelesaian:
Nyatakan persamaan diferensial dalam bentuk
(1 − y 2 )y 0 = x2 .
Karena h(y) = 1 − y 2 dan g(x) = x2 keduanya fungsi kontinu, dengan
mengintegralkan kedua ruas persamaan diperoleh
Z Z
2 0
(1 − y )y (x) dx = x2 dt + c,
dengan c konstanta sebarang. Ini memberikan
Z Z
(1 − y ) dy = x2 dx + c,
2
sehingga diperoleh penyelesaian
y3 x3
y− = + c,
3 3
dengan c konstanta sebarang.
Contoh 2.7. Tentukan penyelesaian masalah nilai awal
(x2 + 1)y 0 + y 2 + 1 = 0, y(0) = 2.
22 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
Penyelesaian:
Persamaan diferensial (x2 + 1)y 0 + y 2 + 1 = 0 merupakan persamaan
diferensial peubah terpisah karena dapat dinyatakan sebagai
dx dy
+ = 0.
x2 + 1 y 2 + 1
Untuk mendapatkan penyelesaian persamaan terakhir di atas, dengan
cara berikut
dx dy
2
+ 2 =0
x +1 y +1
Z Z
dy dx
⇒ 2
+ 2
=0
y +1 x +1
⇒ arctan y + arctan x = c1
⇒ tan (arctan y + arctan x) = c, (c = tan c1 )
x+y
⇒ =c
1 − xy
x+y
Jadi penyelesaian umum persamaan diferensialnya adalah 1−xy = c,
dengan c konstanta sebarang. Selanjutnya, diberikan nilai awal y(0) =
2, sehingga
0+2
=c ⇒ c = 2.
1−0·2
Jadi penyelesaian masalah nilai awal di atas adalah
x+y 2−x
=2 atau y = .
1 − xy 1 + 2x
2.3 Persamaan Diferensial Eksak
Suatu persamaan dikatakan persamaan diferensial eksak jika
ia merupakan turunan total dari suatu fungsi, yang disebut fungsi
potensial. Persamaan diferensial eksak mudah untuk diintegralkan.
Penyelesaian dari persamaan diferensial ini merupakan permukaan dari
fungsi potensial. Definisi persamaan diferensial eksak secara matema-
tis diberikan sebagai berikut.
Definisi 2.8. Persamaan diferensial eksak adalah persamaan di-
ferensial yang berbentuk
M (x, y)dx + N (x, y)dy = 0
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 23
dengan M dan N adalah fungsi-fungsi yang memenuhi
∂M ∂N
= .
∂y ∂x
Dari definisi di atas, akan kita tunjukkan bahwa persamaan dife-
rensial peubah terpisah (separabel) merupakan persamaan diferensial
eksak melalui teorema berikut.
Teorema 2.9. Setiap persamaan diferensial peubah terpisah merupa-
kan persamaan diferensial eksak.
Bukti. Diberikan sebarang persamaan diferensial peubah terpisah yang
berbentuk M (x)dx + N (y)dy = 0. Akibatnya diperoleh
∂M ∂N
= 0, dan = 0.
∂y ∂x
Jadi
∂M ∂N
= ,
∂y ∂x
yang menunjukkan ini sebagai persamaan diferensial eksak.
Persamaan diferensial eksak dapat ditulis ulang sebagai turunan
total suatu fungsi, yang disebut fungsi potensial. Penyelesaian persa-
maan diferensial eksak diberikan dalam teorema berikut.
Teorema 2.10. Jika persamaan diferensial
M (x, y)dx + N (x, y)dy = 0
merupakan persamaan diferensial eksak, maka ia dapat dinyatakan se-
bagai
dψ
(x, y) = 0,
dx
dengan ψ disebut fungsi potensial dan memenuhi
∂ψ ∂ψ
N= dan M= .
∂y ∂x
Oleh karena itu, penyelesaian persamaan diferensial eksak yang dibe-
rikan dalam bentuk implisit adalah
ψ(x, y) = c, c ∈ R.
24 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
Contoh 2.11. Tentukan semua penyelesaian persamaan diferensial
2xyy 0 + 2x + y 2 = 0
Penyelesaian:
Di sini tahap awal untuk menyelesaiakannya adalah memeriksa apakah
persamaan diferensial tersebut eksak atau bukan.
Ambil
N (x, y) = 2xy dan M (x, y) = 2x + y 2 .
Oleh karena itu, diperoleh
∂N ∂M
= 2y dan = 2y.
∂x ∂y
Karena ∂x N = ∂y M , hal ini menunjukkan persamaan diferensial ek-
sak. Berdasarkan Teorema 2.10, terdapat fungsi potensial ψ yang me-
menuhi persamaan
∂ψ
= N (x, y) (2.6)
∂y
dan
∂ψ
= M (x, y). (2.7)
∂x
Dengan mengintegralkan persamaan (2.6)terhadap y, diperoleh
Z
ψ(x, y) = N (x, y) dy = xy 2 + g(x)
dengan g(x) fungsi sebarang yang tergantung pada x.
Selanjutnya turunkan fungsi ψ terhadap x dan substitusikan ke persa-
maan (2.7), diperoleh
y 2 + g 0 (x) = ∂x ψ(x, y) = M (x, y) = 2x + y 2 ⇒ g 0 (x) = 2x.
Integralkan persamaan terakhir di atas terhadap x, diperoleh
g(x) = x2 .
Dengan demikian diperoleh persamaan potensial
ψ(x, y) = xy 2 + x2
Dengan menggunakan Teorema 2.10, diperoleh penyelesaian dalam
bentuk implisit
xy 2 + x2 = c,
dengan c konstanta sebarang.
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 25
2.4 Persamaan Diferensial Noneksak dan Fak-
tor Integrasi
Terkadang persamaan diferensial noneksak dapat ditulis ulang se-
bagai persamaan diferensial eksak. Salah satu caranya adalah meng-
alikan persamaan diferensial dengan fungsi yang sesuai. Jika hasil
persamaan barunya merupakan persamaan diferensial eksak, fungsi
perkaliannya disebut faktor integrasi.
Definisi 2.12. Persamaan diferensial semieksak adalah persama-
an diferensial noneksak yang dapat ditransformasi ke dalam persamaan
diferensial eksak setelah dikalikan dengan faktor integrasi.
Sebagai kejelasannya untuk mengetahui suatu persamaan diferen-
sial semieksak, diberikan contoh berikut.
Contoh 2.13. Persamaan diferensial linear berbentuk y 0 = a(x)y +
b(x) merupakan persamaan diferensial semieksak.
Penyelesaian:
Pertama akan ditunjukkan persamaan diferensial noneksak.
Persamaan diferensial ditulis ulang menjadi
y 0 − ay − b = 0.
Diambil
N (x, y) = 1 dan M (x, y) = −a(x)y − b(x)
sehingga diperoleh
∂x N (x, y) = 1 dan ∂y M (x, y) = −a(x).
Oleh karena itu
∂x N (x, y) 6= ∂y M (x, y).
Ini menunjukkan persamaan diferensial noneksak.
Selanjutnya, untuk menunjukkan persamaan diferensial semieksak ada-
lah dengan mengalikan persamaan diferensial dengan suatu fungsi, ka-
takan µ, yang bergantung pada x
µ(x)y 0 − µ(x)a(x)y − µ(x)b(x) = 0.
26 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
Perhatikan persamaan terakhir di atas, jika diambil N = µ dan M =
−aµy − µb, maka persamaan diferensial tersebut berbentuk
M dx + N dy = 0,
yang merupakan persamaan diferensial eksak. Oleh karena itu, per-
samaan diferensial pada permasalahan di atas merupakan persamaan
diferensial semieksak.
Teorema 2.14. Diberikan persamaan diferensial noneksak
M (x, y)dx + N (x, y)dy = 0.
Jika didefinisikan fungsi
∂y M − ∂x N
h=
N
yang hanya bergantung pada x tetapi tidak bergantung pada y, maka
persamaan diferensial
eH M dx + eH N dy = 0
dengan H anti turunan h, merupakan persamaan diferensial eksak.
Bukti. Diberikan persamaan diferensial
eH M dx + eH N dy = 0
Ambil
N (x, y) = eH N dan M = eH M.
Oleh karena itu, diperoleh
∂ M − ∂ N
y x
∂x N = e H = ∂y M .
N
Ini membuktikan persamaan eH M dx + eH N dy = 0 merupakan persa-
maan diferensial eksak.
Dalam Teorema 2.14, faktor integrasinya adalah fungsi µ(x) =
eH(x) , dan sebarang faktor integrasi µ merupakan penyelesaian dari
persamaan diferensial
µ0 (x) = h(x)µ(x).
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 27
Contoh 2.15. Tentukan semua penyelesaian y dari persamaan dife-
rensial
(x2 + xy)y 0 + (3xy + y 2 ) = 0.
Penyelesaian:
Ambil
N (x, y) = x2 + xy dan M (x, y) = 3xy + y 2 .
Dengan demikian, diperoleh
∂x N = 2x + x, dan ∂y M = 3x + 2y.
Karena ∂x N 6= ∂y M , ini menunjukkan persamaan diferensial nonek-
sak.
Definisikan fungsi h
∂y M (x, y) − ∂x N (x, y)
h =
N (x, y)
(3x + 2y) − (2x + y)
=
x2 + xy
(x + y)
=
x(x + y)
1
= .
x
Di sini, fungsi h tidak bergantung pada y dan hanya bergantung pa-
da x saja. Ini mengakibatkan persamaan diferensial noneksak dapat
ditransformasikan ke dalam persamaan diferensial eksak. Selanjutnya
kalikan persamaan diferensial di atas dengan fungsi µ yang memenuhi
µ0 (x) = h(x)µ(x). Dengan demikian
µ0 1
= ,
µ x
akibatnya diperoleh µ(x) = x + c. Pilih c = 0, sehingga didapatkan
µ(x) = x.
Kalikan persamaan diferensial semula dengan faktor integrasi µ, dipe-
roleh
(x3 + x2 y)dy + (3x2 y + xy 2 )dx = 0.
28 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
Ambil
N (x, y) = x3 + x2 y dan M (x, y) = 3x2 y + xy 2 ,
sehingga didapatkan kondisi ∂x N = ∂y M .
Untuk mendapatkan fungsi potensial ψ, seperti cara sebelumnya (se-
bagai latihan), diperoleh
1
ψ(x, y) = x3 y + x2 y 2 + g(x),
2
dengan g(x) fungsi sebarang. Dengan cara sebelumnya juga (sebagai
latihan), diperoleh g 0 (x) = 0. Jadi g(x) = c1 . Dengan demikian
diperoleh fungsi potensialnya adalah
1
ψ(x, y) = x3 y + x2 y 2 + c1 ,
2
dengan c1 konstanta sebarang. Penyelesaian akhir y yang memenuhi
persamaan diferensial adalah
1
x3 y + x2 y 2 = c,
2
dengan c konstanta sebarang.
Sesungguhnya, faktor integrasi tidak harus merupakan fungsi dari
x saja, bisa fungsi dari y saja, atau x dan y. Untuk hal itu perhatikan
berikut ini.
Bentuk umum persamaan diferensial orde satu (bentuk derivatif):
M (x, y) dx + N (x, y) dy = 0. (2.8)
Jika
∂M ∂N
= ⇒ persamaan eksak
∂y ∂x
dan jika
∂M ∂N
6= ⇒ persamaan noneksak
∂y ∂x
Jika persamaan (2.8) noneksak, akan ditentukan µ(x, y) sehingga
µ(x, y)M (x, y) dx + µ(x, y)N (x, y) dy = 0 (2.9)
merupakan persamaan diferensial eksak. Untuk menentukan faktor
integrasi µ adalah
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 29
a. Jika
1 ∂M ∂N
− = f (x)
N ∂y ∂y
maka faktor integrasinya
R
f (x)dx
µ(x) = e .
b. Jika
1 ∂M ∂N
− = g(y)
N ∂y ∂y
maka faktor integrasinya
R
−g(y)dy
µ(y) = e .
c. Jika
1 ∂M ∂N
− = h(x, y)
N ∂y ∂y
maka faktor integrasinya µ(x, y) yang memenuhi
N ∂µ
∂x − M ∂µ
∂y
µ(x, y) =
∂M ∂N
∂y − ∂x
Contoh 2.16. Diberikan persamaan diferensial
y
y0 − = e−x .
2
a. Tentukan faktor integrasi persamaan diferensial
b. Tentukan penyelesaian persamaan diferensial
c. Sketsakan grafik penyelesaian dengan y(0) = 7/3
Penyelesaian:
a. Faktor integrasi
Persamaan diferensial dapat diubah menjadi
(e−x + y/2)dx − dy = 0.
Diperoleh
∂M 1
M = (e−x + y/2) ⇒ =
∂y 2
∂N
N = −1 ⇒ =0
∂x
30 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
Karena
∂M ∂N
∂y − ∂x 1/2 − 0 1
= =− ,
N −1 2
dipilih faktor integrasinya
R R
−1/2dx
µ1 (x) = e = e−x/2 atau µ2 (y) = e 1/2dy
= ey/2
b. Kalikan kedua ruas persamaan diferensial dengan faktor integra-
si, misal diambil µ1 , diperoleh
e−x/2 (e−x + y/2)dx − e−x/2 dy = 0,
yang mana merupakan persamaan diferensial eksak.
Fungsi potensial ψ, diperoleh
Z
ψ(x, y) = µ1 N dy + g(x)
Z
= −e−x/2 dy + g(x)
= −ye−x/2 + g(x)
Turunan ψ terhadap x, diperoleh
∂ψ y y
= e−x/2 + g 0 (x) = e−3x/2 + e−x/2
∂x 2 2
sehingga
2
g 0 (x) = e−3x/2 ⇒ g(x) = − e−3x/2 + C1
3
Jadi
2
ψ(x, y) = −ye−x/2 − e−3x/2 + C1
3
dengan penyelesaian persamaan diferensial
2
ye−x/2 = − e−3x/2 + C
3
atau
2
y = − e−x + Cex/2 .
3
c. Grafik penyelesaian untuk nilai y(0) = 7/3 diberikan pada Gam-
bar 2.2.
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 31
y
Gambar 2.2: Grafik penyelesaian y 0 − 2 = e−x , dengan y(0) = 7/3
2.5 Persamaan Diferensial Bernoulli
Pada tahun 1696, Jacob Bernoulli menyelesaiakan persamaan di-
ferensial nonlinear orde satu yang selanjutnya persamaan tersebut di-
sebut dengan persamaan diferensial Bernoulli.
Definisi 2.17. Persamaan diferensial Bernoulli adalah persamaan
yang berbentuk
y 0 = p(x)y + q(x)y n ,
dengan p dan q fungsi-fungsi yang diberikan dan n sebarang bilangan
real.
Jika diperhatikan, untuk kasus n 6= 0 dan n 6= 1, persamaan di-
ferensial Bernoulli berbentuk persamaan diferensial nonlinear. Untuk
kasus n = 2, diperoleh persamaan logistik. Persamaan diferensial
Bernoulli ini bukanlah persamaan Bernoulli yang biasa dijumpai da-
lam mekanika fluida. Persamaan diferensial Bernoulli merupakan per-
samaan diferensial nonlinear yang dapat ditransformasikan ke dalam
persamaan diferensial linear.
Teorema 2.18. Fungsi y merupakan penyelesaian persamaan diferen-
sial Bernoulli
y 0 = p(x)y + q(x)y n , n 6= 1
jika dan hanya jika fungsi v = 1/y (n−1) merupakan penyelesaian per-
samaan diferensial linear
v 0 = −(n − 1)p(x)v − (n − 1)q(x).
32 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
Bukti. Bagi kedua ruas persamaan diferensial Bernoulli dengan y n ,
diperoleh
y0 p(x)
= n−1 + q(x). (2.10)
yn y
Misalkan v = y −(n−1) , diperoleh
v 0 (x) y 0 (x)
v 0 = [y −(n−1) ]0 = −(n − 1)y −n y 0 ⇒ − = n
(n − 1) y (x)
Substitusikan hasil ini ke persamaan (2.10), diperoleh
v0
− = p(x)v + q(x) ⇒ v 0 = −(n − 1)p(x)v − (n − 1)q(x).
(n − 1)
Bukti selesai.
Contoh 2.19. Tentukan penyelesaian tidak nol persamaan diferensial
y 0 = y + 2y 5 .
Penyelesaian:
Ini merupakan persamaan diferensial Bernoulli dengan n = 5. Dengan
membagi persamaan diferensial dengan y 5 , diperoleh
y0 1
5
= 4 + 2. (2.11)
y y
Misalkan v = 1/y 4 , diperoleh v 0 = −4(y 0 /y 5 ), dan substitusikan ke
persamaan (2.11) diperoleh
v0
− =v+2 ⇒ v 0 = −4v − 8 ⇒ v 0 + 4v = −8.
4
Persamaan terakhir di atas merupakan persamaan diferensial linear
atas fungsi v. Dengan menggunakan metode faktor integrasi dengan
mengambil µ(x) = e4x , maka
8
(e4x v)0 = −8e4x ⇒ e4x v = − e4x + c.
4
Dari persamaan tersebut, diperoleh v = ce−4x − 2. Karena v = 1/y 4 ,
diperoleh 1/y 4 = ce−4x − 2. Dengan demikian diperoleh
1
y(x) = ± ,
(ce−4x − 2)1/4
dengan c konstanta sebarang.
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 33
2.6 Persamaan Diferensial Euler
Definisi 2.20. Persamaan diferensial Euler adalah persamaan di-
ferensial homogen yang berbentuk
y(x)
y 0 (x) = F
x
dengan F fungsi sebarang.
Seringkali persamaan diferensial homogen Euler berasal dari per-
samaan diferensial yang berbentuk N y 0 + M = 0 di mana N dan M
keduanya fungsi homogen dengan derajat yang sama.
Teorema 2.21. Jika N dan M keduanya fungsi homogen terhadap
peubah x dan y dan keduanya berderajat sama, maka persamaan dife-
rensial
N (x, y)y 0 (x) + M (x, y) = 0
merupakan persamaan diferensial Euler.
Bukti. Nyatakan persamaan dalam bentuk
M (x, y)
y 0 (x) = − .
N (x, y)
Misalkan f (x, y) = − M (x,y)
N (x,y) , maka
M (cx, cy) cn M (x, y) M (x, y)
f (cx, cy) = − =− n =− = f (x, y).
N (cx, cy) c N (x, y) N (x, y)
Selanjutnya akan ditentukan fungsi F sedemikian sehingga persamaan
diferensial dapat dinyatakan sebagai y 0 = F (y/x).
Karena M dan N berderajat n, kalikan persamaan diferensial dengan
(1/x)n /(1/x)n , sehingga diperoleh
M (x, y) (1/x)n M ((x/x), (y/x)) M (1, (y/x))
y 0 (x) = − n
=− =−
N (x, y) (1/x) N ((x/x), (y/x)) N (1, (y/x))
y
⇒ y0 = F ,
x
dimana y M (1, (y/x))
F =− .
x N (1, (y/x))
Bukti telah selesai.
34 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
Contoh 2.22. Tunjukkan bahwa persamaan
y2
(x − y)y 0 − 2y + 3x + =0
x
merupakan persamaan diferensial Euler.
Penyelesaian:
Nyatakan persamaan dalam bentuk
y2
2y − 3x − x
y0 = .
(x − y)
Untuk itu didapatkan fungsi f yang diberikan sebagai
2
2y − 3x − yx
f (x, y) = .
(x − y)
Karena pembilang dan penyebut berderajat sama, yakni berderajat
satu, maka
2 2
2
2cy − 3cx − c cxy c 2y − 3x − yx
f (cx, cy) = = = f (x, y).
(cx − cy) c(x − y)
Selanjutnya akan dituliskan persamaan dalam bentuk y 0 = F (y/x).
Karena pembilang dan penyebut berderajat satu, kalikan persamaan
dengan (1/x)1 /(1/x)1 , sehingga diperoleh
2
2y − 3x − yx (1/x) 2(y/x) − 3 − ( xy )2
y0 = = = F (y/x).
(x − y) (1/x) (1 − (y/x))
Jadi, persamaan diferensial dalam masalah di atas merupakan persa-
maan diferensial Euler.
Berikutnya dibahas penyelesaian persamaan diferensial Euler me-
lalui teorema berikut.
Teorema 2.23. Persamaan diferensial Euler
y
y0 = F
x
untuk fungsi y menentukan persamaan peubah terpisah v = y/x yang
diberikan oleh
v0 1
= .
(F (v) − v) x
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 35
Bukti. Misalkan v = y/x, substitusikan ke persamaan diferensial di-
peroleh
y 0 = F (v).
Dengan menggantikan y 0 dalam suku-suku v, diperoleh
y(x) = xv(x) ⇒ y 0 (x) = v(x) + xv 0 (x).
Oleh karena itu
F (v) − v v0 1
v + xv 0 = F (v) ⇒ v0 = ⇒ = .
x (F (v) − v) x
Persamaan terakhir paling kanan menyatakan persamaan diferensial
peubah terpisah, ini membuktikan teorema.
Contoh 2.24. Tentukan semua penyelesaian y yang memenuhi per-
samaan
t2 + 3y 2
y0 = .
2ty
Penyelesaian:
Karena
c2 t2 + 3c2 y 2 c2 (t2 + 3y 2 ) t2 + 3y 2
f (ct, cy) = = = = f (t, y),
2c2 ty c2 (2ty) 2ty
ini menunjukkan bahwa persamaan merupakan persamaan diferensial
Euler. Karena pembilang dan penyebut berderajat dua, kalikan ruas
kanan dengan (1/t2 )/(1/t2 ), sehingga
(t2 + 3y 2 )(1/t2 ) 1 + 3(y/t)2
y0 = ⇒ y0 = .
(2ty)(1/t2 ) 2(y/t)
Nyatakan y/t = v, sehingga diperoleh
1 + 3v 2
y0 = .
2v
Karena y = tv, maka y 0 = v + tv 0 , yang berakibat
1 + 3v 2 1 + 3v 2 1 + v2
v + tv 0 = ⇒ tv 0 = −v = .
2v 2v 2v
Oleh karena itu diperoleh persamaan diferensial peubah terpisah
2v 1
2
v0 = .
1+v t
36 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
Integralkan hasil persamaan di atas
Z Z
2v 1
v 0 dt = dt + c1 ⇒ ln (1 + v 2 ) = ln t + ln c2
1 + v2 t
⇒ (1 + v 2 ) = c2 t
⇒ 1 + (y/t)2 = c2 t.
Oleh karena itu diperoleh penyelesaian
√
y(t) = ±t ct − 1
dengan c konstanta sebarang.
2.7 Masalah Nilai Awal
Di dalam fisika, terkadang kita tidak tertarik pada semua penye-
lesaian persamaan diferensial, tetapi hanya penyelesaian yang meme-
nuhi syarat tambahan tertentu. Misalnya, dalam kasus hukum gerak
kedua Newton untuk partikel berupa titik, kita tertarik hanya pada
penyelesaian gerak partikel yang pada awal waktu diketahui posisi-
nya. Kondisi seperti itu disebut syarat awal atau kondisi awal,
dan ini merupakan himpunan bagian penyelesaian persamaan diferen-
sial. Masalah nilai awal berarti menemukan penyelesaian persamaan
diferensial yang memenuhi syarat awal.
Definisi 2.25. Masalah nilai awal adalah mencari penyelesaian un-
tuk y dari persamaan diferensial
y 0 = ay + b (2.12)
yang memenuhi syarat awal
y(t0 ) = y0 (2.13)
dengan a, b, t0 , dan y0 konstanta-konstanta.
Persamaan (2.13) merupakan syarat awal masalah. Meskipun per-
samaan diferensial (2.12) memiliki tak berhingga banyak penyelesaian,
namun masalah nilai awal mempunyai penyelesaian tunggal.
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 37
Teorema 2.26. Diberikan konstanta-konstanta a, b, t0 , y0 , dengan a 6=
0, masalah nilai awal
y 0 = ay + b; y(t0 ) = y0 (2.14)
mempunyai penyelesaian tunggal
b a(t−t0 ) b
y(t) = y0 + e − .
a a
Bukti. Penyelesaian umum dari persamaan diferensial di (2.14) adalah
seperti yang sudah diberikan dalam persamaan sebelumnya, yakni
b
y(t) = ceat −
a
dengan c konstanta yang akan ditentukan. Kondisi awal menentukan
nilai konstanta c, sebagai berikut
at b b −at0
y0 = y(t0 ) = ce − ⇔ c = y0 + e
a a
Substitusikan hasil ini untuk konstanta c ke dalam persamaan diferen-
sial, diperoleh
b a(t−t0 ) b
y(t) = y0 + e − .
a a
Bukti selesai.
Contoh 2.27. Tentukan penyelesaian tunggal dari masalah nilai awal
y 0 = 2y + 3, y(0) = 1. (2.15)
Penyelesaian:
Penyelesaian umum dari persamaan diferensial yang diberikan adalah
3
y(t) = ce2t −
2
dengan c adalah konstanta sembarang. Syarat awal dalam persamaan
(2.15) menentukan c,
3 5
1 = y(0) = c − ⇔ c= .
2 2
Dengan demikian, penyelesaian tunggal dari masalah nilai awal di atas
adalah
5 3
y(t) = e2t − .
2 2
38 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
Contoh 2.28. Temukan penyelesaian y untuk masalah nilai awal
y 0 = −3y + 1, y(0) = 1.
Penyelesaian:
Tuliskan persamaan diferensial sebagai y 0 + 3y = 1, dan kalikan persa-
maan dengan faktor integrasi µ = e3t , yang akan mengubah ruas kiri
di atas menjadi turunan total,
e3t y 0 + 3e3t y = e3t ⇔ e3t y 0 + (e3t )0 y = e3t
Karenanya, diperoleh
(e3t y)0 = e3t .
Eksponensial e3t adalah faktor integrasi. Integralkan kedua ruas per-
samaan di atas, diperoleh
1
e3t y = e3t + c.
3
Jadi penyelesaian persamaan diferensial di atas diberikan oleh
1
y(t) = ce−3t +
3
dengan c sebarang bilangan real.
Dengan memasukkan syarat awal y(0) = 2 menjadikan hanya ada satu
penyelesaian, yakni
2 1
y(t) = e−3t + .
3 3
2.8 Aplikasi Persamaan Diferensial Orde Satu
Beberapa contoh aplikasi persamaan diferensial orde satu yang sering
muncul dalam kehidupan sehari-hari, diberikan dalam contoh-contoh
berikut.
Contoh 2.29. Peluruhan radioaktif Radioaktif isotop Thorium-
234 meluruh sebanding dengan jumlah isotopnya. Jika 100 mg dari
material meluruh menjadi 82,04 mg dalam waktu satu minggu,
a. nyatakan jumlah material Thorium-234 pada saat tertentu;
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 39
b. tentukan waktu paruh isotop tersebut (Waktu paruh adalah waktu
yang digunakan oleh radioaktif untuk meluruh menjadi separuh-
nya).
Penyelesaian :
Untuk menyelesaian permasalahan ini, pertama misalkan Q(t) me-
nyatakan jumlah Thorium-234 (dalam mg) pada saat waktu t, dan r
menyatakan waktu paruh radioaktif Thorium-234.
Selanjutnya, berdasarkan permasalahan pada contoh, diperoleh masa-
lah nilai awal
dQ
= −rQ, Q(0) = 100.
dt
Untuk menyelesaikan masalah nilai awal ini
dQ
= −rQ
dt Z Z
dQ
⇒ = −r dt
Q
⇒ ln Q = −rt + c1
⇒ Q(t) = e−rt+c1 = Ce−rt
Dengan kondisi Q(0) = 100, berakibat C = 100, sehingga diperoleh
Q(t) = 100e−rt
Untuk menentukan waktu paruh, karena dalam waktu satu minggu
(7 hari) isotop Thorium-234 meluruh menjadi 82,04 mg yang berarti
Q(7) = 82, 04, ini memberikan
82, 04 = 100e−7r ⇒ r = 0, 02828.
Misalkan λ menyatakan waktu paruh radioaktif Thorium-234. Karena
waktu paruh adalah waktu yang digunakan meluruh menjadi separuh-
nya, hal ini diperoleh hubungan
50 = 100e−rλ atau rλ = ln 2.
Oleh karena itu, diperoleh
ln 2 ln 2
λ= = ≈ 24, 5.
r 0, 02828
Jadi waktu paruh radio aktif Thorium-234 adalah 24, 5 hari.
40 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
Contoh 2.30. Pertumbuhan populasi Pertumbuhan populasi A
memenuhi persamaan diferensial
dy 1 1
= y 1 − 6y
dt 100 10
dengan y(t) menyatakan jumlah populasi A pada saat t (dalam tahun).
Jika pada tahun 2020 diketahui jumlah populasi A sebanyak 100.000,
tentukan
a. Jumlah populasi A pada tahun 2040
b. Bilamana jumlah populasi A menjadi 200.000
Penyelesaian:
a. Untuk menentukan y(t) adalah dengan cara merubah persamaan
diferensial menjadi persamaan peubah terpisah
1
dy = dt
1 1
100 y 1− 106
y
Integralkan kedua ruas
Z Z
1
dy = dt
1 1
100 y 1 − 10 6 y
Z Z
1 1
100 + dy = dt
y 106 − y
100 ln y − ln (1 − 10−6 y)
= t + c1
y t
ln = + c2
1 − 10−6 y 100
y
= cet/100
1 − 10−6 y
cet/100
y =
1 + 10−6 cet/100
Jika tahun 2020 jumlah populasi 100.000 maka bisa dikatakan
y(2020) = 100.000 sehingga dengan mensubstitusikan ini ke hasil
persamaan terakhir di atas, diperoleh
106
c=
9e152
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 41
sehingga
106
y(t) = (2.16)
1 + 9e1 52 − t/100
Jumlah populasi pada tahun 2040 diperkirakan mencapai
106
y(2040) =
1 + 9e1 52 − 2040/100
= 119.495
b. Jumlah populasi menjadi 200.000, ini berarti y(t) = 200.000. De-
ngan mensubstitusikan ke persamaan (2.16) diperoleh t = 2081.
Jadi jumlah populasi A menjadi 200.000 ketika tahun 2081.
2.9 Rangkuman
1. Bentuk umum persamaan diferensial peubah terpisah (separa-
bel) adalah
M (x) dx + N (y) dy = 0,
dengan penyelesaian
Z Z
M (x) dx + N (y) dy = C,
dengan C konstanta sebarang.
2. Persamaan diferensial eksak adalah persamaan diferensial yang
berbentuk
M (x, y)dx + N (x, y)dy = 0
dengan M dan N adalah fungsi-fungsi yang memenuhi
∂x N (x, y) = ∂y M (x, y).
3. Persamaan diferensial noneksak adalah persamaan diferensial
yang berbentuk
M (x, y)dx + N (x, y)dy = 0
dengan N dan M adalah fungsi-fungsi yang memenuhi
∂x N (x, y) 6= ∂y M (x, y).
42 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
4. Persamaan diferensial noneksak
M (x, y) dx + N (x, y) dy = 0
mempunyai faktor integrasi µ(x, y) sehingga persamaan
µ(x, y)M (x, y) dx + µ(x, y)N (x, y) dy = 0
merupakan persamaan diferensial eksak.
2.10 Bahan Diskusi
Diskusikan dengan teman-teman Anda beberapa permasalahan beri-
kut
1. Diberikan persamaan diferensial
y 00 − x2 y 0 = 0.
Dengan memisalkan y 0 = p, reduksikan persamaan diferensial
di atas menjadi orde satu, lalu selesaikan dengan metode pemi-
sah peubah. Kemudian dengan mensubstitusi kembali, tentukan
penyelesaian persamaan diferensialnya.
2. Gunakan seperti nomor 1, untuk menyelesaikan persamaan dife-
rensial
y 00 · y 0 = x + x2 .
2.11 Rujukan/Daftar Pustaka
1 Boyce, W.E., R.C. DiPrima, dan D.B. Meade, 2017, Elemen-
tary Differential Equations and Boundary Value Problems, 11th
edition, John Wiley & Sons
2 Howell, K.B, 2019, Ordinary Differential Equations: An Intro-
duction to the Fundamentals, CRC Press
3 Simmons, G.F. dan S.G. Krantz, 2007, Differential Equations
Theory, Technique, and Practice. International Edition, The
McGraw-Hill Companies, Inc.
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 43
2.12 Soal-soal Latihan
1. Tentukan persamaan diferensial berbentuk y 0 = f (y) yang ter-
penuhi oleh fungsi
3
y = 3e5x −
7
2. Tentukan konstanta a dan b sehingga
y = (x + 2)e4x
merupakan penyelesaian masalah nilai awal
y 0 = ay + e4x , y(0) = b.
3. Diberikan persamaan diferensial
y 0 = −4y + 2
(a). Tentukan faktor integrasi µ.
(b). Tuliskan persamaan diferensial di atas sebagai derivatif to-
tal fungsi ψ, yakni
y 0 = −4y + 2, ⇔ ψ 0 = 0.
(c). Integralkan persamaan diferensial tersebut untuk ψ.
(d). Hitung y dengan menggunakan hasil dari butir (c).
4. Tentukan semua penyelesaian (penyelesaian umum) persamaan
diferensial
y 0 = 3y + 2
5. Tentukan penyelesaian nilai awal
y 0 = −4y + 2, y(0) = 5.
6. Tentukan penyelesaian umum persamaan diferensial
y 0 = 3xy.
7. Tentukan penyelesaian umum persamaan diferensial
y 0 = −y + e−x .
44 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
8. Tentukan penyelesaian y dari masalah nilai awal
y 0 = y + 2xe2x , y(0) = 0.
9. Tentukan semua fungsi y yang memenuhi
xy 0 + ny = x2 ,
dengan n adalah bilangan bulat positif.
10. Tentukan semua fungsi y yang memenuhi
y 0 = y − 2 sin x.
11. Tentukan penyelesaian penyelesaian masalah nilai awal
xy 0 = 2y + 4x3 cos 4x, y(π/8) = 0.
12. Tentukan penyelesaian umum persamaan diferensial
√
y 0 = −xy + 6x y.
13. Tentukan penyelesaian masalah nilai awal
3
y0 = y + , y(0) = 1.
y2
14. Tentukan semua penyelesaian y dari persamaan diferensial
x2
y0 =
y
dan nyatakan dalam bentuk eksplisit.
15. Tentukan penyelesaian masalah nilai awal
y 0 = x2 y 2 , y(0) = 1.
16. Buktikan bahwa jika y 0 = f (x, y) persamaan Euler dan y1 (x)
adalah penyelesaiannya, maka y(x) = (1/k)y1 (kx) untuk seti-
ap k ∈ R dan k 6= 0, juga merupakan penyelesaian persamaan
diferensial tersebut.
Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya 45
17. Tentukan penyelesaian eksplisit masalah nilai awal
4x − 6x2
y0 = , y(0) = −3.
y
18. Pandang persamaan diferensial
(1 + x2 )y = −2xy.
(a) Periksa, apakah persamaan diferensial tersebut eksak.
(b) Tentukan penyelesaian umum persamaan diferensial terse-
but.
19. Pandang persamaan diferensial
−2 − yexy
y0 =
−2y + xexy
(a) Periksa, apakah persamaan diferensial tersebut eksak.
(b) Tentukan penyelesaian umum persamaan diferensial terse-
but
20. Pandang persamaan diferensial
y
2x2 y + 2 y 0 + 4xy 2 = 0,
x
dengan syarat awal y(0) = −2.
(a) Tentukan faktor integrasi persamaan diferensial tersebut.
(b) Tentukan penyelesaian implisit masalah nilai awal tersebut.
(c) Tentukan penyelesaian eksplisit masalah nilai awal tersebut.
21. Tentukan penyelesaian masalah nilai awal
2x2 y + 2x2 y 2 + 1 + (x3 + 2x3 y + 2xy)y 0 = 0, y(1) = 2.
22. Selesaikan persamaan Bernoulli
xy 0 + y = x4 y 3 .
46 Bab 2. Persamaan Diferensial Orde Satu dan Aplikasinya
23. Tunjukkan bahwa persamaan diferensial
y 0 + p(x)y = q(x)y ln y
dapat diselesaikan dengan cara mengubah peubah z = ln y. Apli-
kasikan cara ini untuk menyelesaikan persamaan
xy 0 = 2x2 y + y ln y.
24. Suatu tangki awal mula berisikan 300 liter larutan yang meng-
andung 150 gram garam. Kemudian, larutan lain yang mengan-
dung garam dengan konsentrasi 1 gram/liter dimasukkan ke da-
lam tangki dengan laju 5 liter/menit dan bercampur sempurna,
kemudian campuran itu dikeluarkan dengan laju 5 liter/menit.
Jika Q menyatakan jumlah garam pada saat t,
(a) rumuskan masalah nilai awal tersebut
(b) tentukan jumlah garam Q setiap saat.
25. Udin menuangkan secangkir minuman kopi dengan suhu 950 C
dari termos pada jam 11.00 dan meletakkan di meja dengan mak-
sud meminumnya setelah berkurang panasnya. Setelah 10 menit
kemudian, suhu kopi menjadi 750 C. Anggap suhu ruang di seki-
tar meja tersebut konstan 270 C.
(a) Tentukan suhu minuman kopi pada jam 11.20,
(b) Jika Udin suka meminum kopi pada suhu 550 C − 600 C,
tentukan antara jam berapa Udin harus minum kopi itu.
Bab 3
Persamaan Diferensial
Orde Dua dan Aplikasinya
——————————————————————————–
Setelah membaca dan mempelajari bab ini, kemampuan akhir
yang diharapkan secara umum adalah mahasiswa:
1. memahami bentuk-bentuk persamaan diferensial orde dua;
2. mempunyai kemampuan dan kreativitas dalam menyelesaikan
masalah yang relevan;
3. mempunyai kemampuan bernalar dengan logis dan sistematis;
4. mempunyai kemampuan berkomunikasi melalui diskusi materi.
Sedangkan kemampuan akhir yang diharapkan secara khusus adalah
mahasiswa mampu
1. menyelesaiakan persamaan diferensial linear orde dua homogen
dengan koefisien konstan;
2. menyelesaiakan persamaan diferensial linear orde dua nonhomo-
gen dengan koefisien konstan;
3. mengaplikasikan persamaan diferensial orde dua dalam kehidup-
an sehari-hari.
47
48 Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya
3.1 Persamaan Diferensial Linear Orde Dua
Kita mulai dengan definisi persamaan diferensial linear orde dua.
Definisi 3.1. Persamaan diferensial linear orde dua dari fungsi
y adalah persamaan diferensial yang berbentuk
y 00 + a1 (x)y 0 + a0 (x)y = b(x), (3.1)
dengan a1 , a0 , dan b fungsi-fungsi yang diberikan pada selang I ⊂ R.
Persamaan diferensial (3.1) dikatakan
(a) homogen jika b(x) = 0 untuk setiap x ∈ I, dan dikatakan no-
nhomogen jika b(x) 6= 0;
(b) dengan koefisien konstan jika a1 dan a0 keduanya konstan;
(c) dengan koefisien peubah jika a1 atau a0 tidak konstan.
Sebagai contoh, persamaan diferensial y 00 + 4y − 3 = 0 merupakan
persamaan diferensial linear homogen dengan koefisien konstan. Un-
tuk persamaan diferensial y 00 + 2y − 2 = 3 cos 2x merupakan contoh
persamaan diferensial linear nonhomogen dengan koefisien konstan.
Sedangkan, persamaan diferensial y 00 −xy 0 −y = e5x merupakan contoh
persamaan diferensial linear nonhomogen dengan koefisien peubah.
Contoh 3.2. Tentukan persamaan diferensial yang memiliki penyele-
saian umum
y = c1 e4x + c2 e−4x ,
dengan c1 dan c2 konstanta-konstanta sebarang.
Penyelesaian:
Dari definisi y yang diberikan, diperoleh
c1 = ye−4x − c2 e−8x .
Turunan dari fungsi y adalah
y 0 = 4c1 e4x − 4c2 e−4x .
Dengan menggantikan c1 dari persamaan pertama di atas ke dalam
ekspresi y 0 ,
y 0 = 4(ye−4x − c2 e−8x )e4x − 4c2 e−4x ⇒ y 0 = 4y + (−4 − 4)c2 e−4x ,
Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya 49
sehingga didapatkan ekspresi untuk c2 dalam suku-suku y dan y 0 ,
1 1
c1 = ye−4x − (4y − y 0 )e4x e−8x ⇒ c1 = (4y + y 0 )e−4x .
8 8
Dengan menghitung turunan persamaan,
1 1
0 = c02 = (4y − y 0 )e4x + (4y 0 − y 00 )e4x
2 8
akibatnya diperoleh
4(4y − y 0 ) + (4y 0 − y 00 ) = 0
yang memberikan hasil persamaan diferensial linear orde dua
y 00 − 16y = 0.
Teorema 3.3. Jika a0 , a1 , dan b fungsi-fungsi kontinu yang terdefi-
nisi pada selang tertutup I ⊂ R, konstanta x0 ∈ I, dan y0 , y1 ∈ R
konstanta-konstanta sebarang, maka terdapat dengan tunggal penyele-
saian y yang terdefinisi pada I dari masalah nilai awal
y 00 + a1 (x)y 0 + a0 (x)y = b(x), y(x0 ) = y0 , y 0 (x1 ) = y1 .
3.2 Persamaan Linear Homogen dengan Koe-
fisien Konstan
Bentuk umum persamaan diferensial linear homogen orde dua de-
ngan koefisien konstan adalah
d2 y dy
a +b + cy = 0 atau ay 00 + by 0 + cy = 0 (3.2)
dx2 dx
dengan a, b, dan c konstanta-konstanta dan a 6= 0. Sebagai ilustrasi,
jika b = c = 0, bentuk persamaan linear homogen orde dua adalah
y 00 = 0 yang mempunyai penyelesaian umum y = c1 x + c2 dengan
c1 dan c2 konstanta-konstanta sebarang, yakni dengan cara menginte-
gralkan dua kali kedua ruas persamaan. Untuk kasus a = 1, b = 0, dan
c = −1, diperoleh persamaan y 00 − y = 0 atau y 00 = y. Untuk men-
dapatkan penyelesaian persamaan ini, sama halnya dengan mencari
50 Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya
bentuk fungsi yang turunannya dua kali sama dengan dirinya sendiri.
Jawabannya adalah fungsi eksponensial, yakni y = c1 ex dan y = c2 e−x
dengan c1 dan c2 konstanta-konstanta sebarang, keduanya memenuhi
penyelesaian persamaan tersebut.
Dari dua contoh kasus persamaan linear orde dua tersebut, mun-
cul dua konstanta sebarang yang mana berbeda dengan penyelesaian
umum persamaan orde satu yang menghasilkan satu konstanta seba-
rang. Jadi penyelesaian umum dari persamaan orde dua akan mengha-
silkan dua konstanta sebarang. Lebih jelasnya, terdapat cara mudah
untuk menemukan penyelesaian umum persamaan differensial linear
homogen orde dua dengan koefisien konstan.
Dengan mengasumsikan penyelesaiannya berbentuk y = ekx , maka
diperoleh persamaan kuadrat dalam k, disebut persamaan karakte-
ristik, yakni
ak 2 + bk + c = 0
dengan penyelesaian
√
−b ± b2 − 4ac
k12 = .
2a
Untuk menentukan penyelesaian umum persamaan diferensial, akan
dikelompokkan menjadi tiga kasus berdasarkan nilai karakteristiknya.
a. Kasus 1. Jika k1 6= k2 keduanya bilangan real, maka penyelesaian
umum persamaan (3.2) adalah
y = c1 ek1 x + c2 ek2 x
dengan c1 dan c2 konstanta-konstanta sebarang.
b. Kasus 2. Jika k1 = k2 = m keduanya bilangan real, maka
y = c1 emx + c2 xemx
dengan c1 dan c2 konstanta-konstanta sebarang.
c. Kasus 3. Jika k1 dan k2 keduanya bilangan kompleks sekawan
misalkan k12 = r ± is, maka
y = c1 erx cos (sx) + c2 erx sin (sx).
dengan c1 dan c2 konstanta-konstanta sebarang.
Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya 51
Contoh 3.4. Tentukan penyelesaian umum persamaan
y 00 + y 0 − 6y = 0.
Penyelesaian:
Persamaan karakteristik persamaan diferensial di atas adalah
k2 + k − 6 = 0
dengan penyelesaian
k1 = 2 dan k2 = −3.
Jadi penyelesaian umum persamaan diferensial adalah
y = c1 e2x + c2 e−3x
dengan c1 dan c2 konstanta-konstanta sebarang.
Contoh 3.5. Tentukan penyelesaian masalah nilai awal
y 00 + 2y 0 + y = 0, y(0) = 1, y 0 (0) = −3
Penyelesaian:
Persamaan karakteristik persamaan diferensialnya adalah
k 2 + 2k + 1 = 0
dengan penyelesaian
k1 = k2 = −1.
Karena akar-akar karakteristik berupa bilangan real kembar, maka
penyelesaian umum persamaan diferensialnya
y(x) = c1 e−x + c2 xe−x (3.3)
dengan c1 dan c2 konstanta-konstanta yang akan dicari.
Dengan memasukkan nilai y(0) = 1 ke persamaan (3.3), diperoleh
c1 = 1, sehingga
y(x) = e−x + c2 xe−x (3.4)
Selanjutnya, turunkan persamaan (3.4) terhadap x diperoleh
y 0 (x) = −e−x + c2 [e−x − xe−x ] (3.5)
52 Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya
Gambar 3.1: Grafik penyelesaian masalah nilai awal y 00 + 2y 0 + y =
0, y(0) = 1, y 0 (0) = −3
Dengan memasukkan nilai y 0 (0) = −3 ke persamaan (3.5), diperoleh
c2 = −2. Lalu mensubstitusikan c2 ke persamaan (3.4) diperoleh pe-
nyelesaian akhir
y(x) = e−x − 2xe−x
yang grafiknya diberikan dalam Gambar 3.1.
Contoh 3.6. Tentukan penyelesaian umum persamaan
y 00 − y 0 + y = 0.
Penyelesaian:
Persamaan karakteristik persamaan diferensial
k2 − k + 1 = 0
dengan penyelesaian
1 1√ 1 1√
k1 = + 3i, k2 = − 3i
2 2 2 2
yang berupa kompleks sekawan.
Jadi penyelesaian umum persamaan diferensial
1√ 1√
y(x) = c1 ex/2 cos ( 3x) + c2 ex/2 sin ( 3x)
2 2
dengan c1 dan c2 konstanta-konstanta sebarang.
Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya 53
3.3 Persamaan Linear Orde Dua Nonhomogen
dengan Koefisien Konstan
Bentuk umum persamaan diferensial linear orde dua nonhomogen
dengan koefisien konstan adalah
d2 y dy
a 2
+b + cy = g(x) atau ay 00 + by 0 + cy = g(x) (3.6)
dx dx
dengan a, b, dan c konstanta-konstanta, a 6= 0 dan g(x) 6= 0.
Penyelesaian persamaan (3.6) adalah jumlahan dari penyelesaian ho-
mogen dan penyelesaian partikular. Penyelesaian homogen, selan-
jutnya dinotasikan dengan yh , adalah penyelesaian persamaan (3.6)
ketika g(x) = 0 seperti telah dibahas pada subbab 3.2. Sedangkan pe-
nyelesaian partikular, selanjutnya dinotasikan dengan yp , dari (3.6)
akan dijelaskan berikutnya. Jadi penyelesaian umum dari persamaan
(3.6) adalah
y(x) = yh (x) + yp (x)
dengan yh penyelesaian homogen dan yp penyelesaian partikular.
Untuk mendapatkan penyelesaian partikular persamaan (3.6) di
sini akan menggunakan metode koefisien tak tentu yang dijelaskan
sebagai berikut.
Pandang persamaan nonhomogen
y 00 − p(x)y 0 + q(x)y = g(x),
dimana p(x), q(x), dan g(x) adalah fungsi-fungsi kontinu pada suatu
selang I.
Untuk kasus ini, diberikan teorema berikut.
Teorema 3.7. Jika Y1 dan Y2 adalah penyelesaian-penyelesaian dari
persamaan nonhomogen, maka Y1 − Y2 adalah penyelesaian dari per-
samaan homogen. Dan jika y1 dan y2 adalah basis atau pembangun
dari penyelesaian-penyelesaian untuk persamaan homogen, maka
Y1 − Y2 = c1 y1 + c2 y2 ,
dimana c1 dan c2 adalah konstanta-konstanta.
54 Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya
Teorema 3.8. Penyelesaian umum persamaan diferensial linear orde
dua dapat dinyatakan sebagai
y(x) = yh (x) + yp (x),
dimana yh adalah penyelesaian homogen dan yp penyelesaian partiku-
lar.
Di sini akan dibahas cara mencari penyelesaian partikular untuk
beberapa kasus g(x) pada persamaan (3.6), diantaranya kasus g(x)
berupa fungsi eksponensial, kasus g(x) berupa fungsi sinus atau cosi-
nus, dan kasus g(x) berupa fungsi polinomial. Diawali dengan contoh
kasus g(x) fungsi eksponensial.
Contoh 3.9. Tentukan penyelesaian partikular persamaan
y 00 − 3y 0 − 4y = 3e2x
Penyelesaian:
Misalkan
yp = Ae2x , (3.7)
dengan A adalah konstanta yang akan dicari. Turunan pertama dan
kedua persamaan (3.7) masing-masing
yp0 = 2Ae2x dan yp00 = 4Ae2x .
Substitusikan hasil-hasil ini ke persamaan diferensial, diperoleh
4Ae2x − 6Ae2x − 4Ae2x = 3e2x .
Karena e2x 6= 0 untuk setiap x, bagi kedua ruas dengan e2x yang ber-
akibat diperoleh A = −1/2. Jadi penyelesaian partikular persamaan
diferensial adalah
1
yp (x) = − e2x .
2
Contoh 3.10. Tentukan penyelesaian partikular
y 00 − 3y 0 − 4y = e−x . (3.8)
Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya 55
Penyelesaian:
Dalam kasus ini, jika kita mengikuti penyelesaian seperti pada Contoh
(3.9) di sini dimisalkan yp (x) = Ae−x . Dengan menentukan yp0 dan yp00
kemudian mensubstitusikan ke persamaan (3.8), diperoleh
(A + 3A − 4A)e−x = e−x . (3.9)
Karena koefisien e−x ruas kiri persamaan (3.9) sama dengan nol, ini
tidak mungkin menyelesaikan persamaan untuk konstanta A. Oleh
karena itu disimpulkan tidak ada penyelesaian persamaan (3.8) da-
lam bentuk Ae−x . Untuk itu, dimisalkan penyelesaian partikularnya
berbentuk
yp (x) = Axe−x .
Turunan pertama dan kedua persamaan ini berturut-turut
yp0 = (A − Ax)e−x yp00 = (−2A + Ax)e−x .
Substitusikan hasil-hasil ini ke persamaan (3.8), diperoleh
(A + 3A − 4A)x + (−2A − 3A)) e−x = e−x ,
yang menghasilkan A = −1/5. Dengan demikian diperoleh penyelesa-
ian partikularnya
1
yp (x) = − xe−x .
5
Untuk mendapatkan penyelesaian persamaan nonhomogen (3.6)
dengan g(x) merupakan fungsi sinus atau cosinus, diberikan dalam
contoh berikut.
Contoh 3.11. Tentukan penyelesaian partikular persamaan
y 00 − 3y 0 − 4y = 2 sin x
Penyelesaian:
Misalkan
yp = A sin x + B cos x, (3.10)
dengan A dan B konstanta-konstanta yang akan dicari. Turunan per-
tama dan kedua persamaan (3.11) masing-masing
yp0 = A cos x − B sin x dan yp00 = −A sin x − B cos x.
56 Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya
Substitusikan hasil-hasil ini ke persamaan diferensial, diperoleh
−A sin x − B cos x − 3A cos x + 3B sin x − 4A sin x
−4B sin x − 4B cos x = 2 sin x.
Dengan mengumpulkan suku-suku sejenis, diperoleh persamaan
(−B − 3A − 4B) cos x + (−A + 3B − 4A) sin x = 2 sin x
Dengan menyesuaikan suku-suku ruas kiri dan ruas kanan, diperoleh
dua persamaan
−3A − 5B = 0,
−5A + 3B = 2.
Dengan menyelesaikan kedua persamaan di atas, diperoleh
5 3
A=− dan B= .
17 17
Jadi penyelesaian partikular persamaan diferensial adalah
5 3
yp (x) = − sin x + cos x.
17 17
Untuk mendapatkan penyelesaian persamaan nonhomogen (3.6)
dengan g(x) merupakan fungsi polinomial, misalkan g(x) polinomial
berderajat n yang dapat dinyatakan dengan
g(x) = a0 + a1 x + · · · + an−1 xn−1 + an xn
dengan an 6= 0, maka penyelesaian partikularnya dimisalkan
yp (x) = A1 + A2 x + · · · + An xn .
Untuk lebih jelasnya, diberikan contoh berikut.
Contoh 3.12. Tentukan penyelesaian partikular persamaan
y 00 − 3y 0 − 4y = 1 − 2x2
Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya 57
Penyelesaian:
Misalkan
yp = A + Bx + Cx2 (3.11)
dengan A, B dan C konstanta-konstanta yang akan dicari. Turunan
pertama dan kedua persamaan (3.11) masing-masing
yp0 = B + 2Cx dan yp00 = 2C.
Substitusikan hasil-hasil ini ke persamaan diferensial, diperoleh
2C − 3(B + 2Cx) − 4(A + Bx + Cx2 ) = 1 − 2x2
Dengan mengumpulkan suku-suku sejenis, diperoleh persamaan
(−4A − 3B + 2C) + (−4B − 6C)x + (−4C)x2 = 1 − 2x2 .
Dengan menyesuaikan suku-suku ruas kiri dan ruas kanan, diperoleh
tiga persamaan
−4A − 3B + 2C = 1
−4B − 6C = 0,
−4C = −2.
Dengan menyelesaikan ketiga persamaan di atas secara simultan, di-
peroleh
9 3 1
A= , B=− , dan C= .
16 4 2
Jadi penyelesaian partikular persamaan diferensial adalah
9 3 1
yp (x) = − x + x2 .
16 4 2
Untuk persamaan linear dengan koefisien konstan nonhomogen ji-
ka g(x) merupakan kombinasi penjumlahan fungsi-fungsi eksponensi-
al, fungsi sinus atau cosinus, dan fungsi polinomial, maka penyelesai-
an partikularnya adalah jumlahan dari masing-masing kasus tersebut.
Misalkan diberikan contoh berikut.
Contoh 3.13. Tentukan penyelesaian partikular persamaan
y 00 − 3y 0 − 4y = 1 − 2x2 + 2 sin x
58 Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya
Penyelesaian:
Dari dua contoh sebelumnya, penyelesaian partikular dari persamaan
y 00 − 3y 0 − 4y = 1 − 2x2
adalah
9 3 1
yp1 = − x + x2 ,
16 4 2
dan penyelesaian partikular persamaan
y 00 − 3y 0 − 4y = 2 sin x
adalah
5 3
yp2 (x) = − sin x + cos x.
17 17
Oleh karena itu penyelesaian partikular dari y 00 − 3y 0 − 4y = 1 − 2x2 +
2 sin x adalah
yp = yp1 + yp2
9 3 1 5 3
= − x + x2 − sin x + cos x.
16 4 2 17 17
Untuk persamaan linear dengan koefisien konstan nonhomogen jika
g(x) merupakan kombinasi perkalian fungsi-fungsi eksponensial, fungsi
sinus atau cosinus, dan fungsi polinomial, maka penyelesaian partiku-
larnya diberikan dalam contoh berikut.
Contoh 3.14. Tentukan penyelesaian partikular persamaan
y 00 − 3y 0 − 4y = −8ex cos 2x. (3.12)
Penyelesaian:
Asumsikan bahwa penyelesaian partikular, yp , merupakan perkalian
dari ex dan kombinasi linear cos 2x dan sin 2x, yakni
yp = ex (A cos 2x + B sin 2x).
Turunan pertama dan kedua persamaan ini, masing-masing diperoleh
yp0 = (A + 2B)ex cos 2x + (−2A + B)ex sin 2x
dan
yp00 = (−3A + 4B)ex cos 2x + (−4A − 3B)ex sin 2x.
Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya 59
Dengan mensubstitusikan hasil-hasil ini ke persamaan (3.12), dipero-
leh
(−10A − 2B)ex cos 2x + (2A − 10B)ex sin 2x = −8ex cos 2x,
sehingga diperoleh dua persamaan
10A + 2B = 8
2A − 10B = 0,
menghasilkan A = 10/13 dan B = 2/13. Oleh karena itu diperoleh
penyelesaian partikular nya
10 2
yp = e x
cos 2x + sin 2x .
13 13
Contoh 3.15. Tentukan penyelesaian partikular persamaan
y 00 + 4y = x2 e−3x sin x. (3.13)
Penyelesaian:
Ruas kanan persamaan (3.13) berbentuk perkalian fungsi polinomi-
al, fungsi eksponensial, dan fungsi sinus. Untuk kasus ini, misalkan
penyelesaian partikularnya adalah
yp = (Ax2 + Bx + C)e−3x cos x + (Dx2 + Ex + F )e−3x sin x
Selanjutnya lakukan penyelesaian seperti pada contoh-contoh sebelum-
nya untuk mendapatkan konstanta-konstanta A, B, C, D, E, dan F .
Dalam hal ini, diperoleh
1 1 46 1 13 19
A= , B= , C= , D= , E= , F =
30 25 3375 15 225 6750
Oleh karena itu diperoleh penyelesaian partikularnya
1 1 46 −3x
yp = x2 + x + e cos x
30 25 3375
1 13 19 −3x
+ x2 + x+ e sin x.
15 225 6750
60 Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya
Contoh 3.16. Selesaikan masalah nilai awal
y 00 + 4y = x + 2e−3x , y(0) = 1, y 0 (0) = −1. (3.14)
Penyelesaian: Penyelesaian homogen persamaan (3.14) adalah
yh (x) = c1 cos 2x + c2 sin 2x.
Penyelesaian partikular persamaan (3.14) adalah yp (x) = yp1 (x) +
yp2 (x), dengan yp1 dan yp2 masing-masing penyelesaian partikular y 00 +
4y = x dan y 00 + 4y = 2e−3x . Untuk mendapatkan yp1 dan yp2 seperti
telah diberikan pada contoh sebelumnya, diperoleh
1 2 −3x
yp1 = x dan yp2 = e .
4 13
Dengan demikian penyelesaian umum persamaan (3.14) adalah
y(x) = yh + yp = yh + yp1 + yp2
1 2
= c1 cos 2x + c2 sin 2x + x + e−3x .
4 13
Dengan menurunkan persamaan ini dan memasukkan syarat awal y(0) =
1 dan y 0 (0) = −1, diperoleh c1 = 11/13 dan c2 = −41/104. Oleh ka-
rena itu diperoleh penyelesaian masalah nilai awal (3.14)
11 41 1 2
y(x) = cos 2x − sin 2x + x + e−3x .
13 104 4 13
Grafik penyelesaian/solusi nilai awal diberikan pada Gambar 3.2.
Gambar 3.2: Grafik solusi y 00 + 4y = x + 2e−3x , y(0) = 1, y 0 (0) = −1
Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya 61
3.4 Aplikasi Persamaan Diferensial Orde Dua
Beberapa aplikasi persamaan diferensial orde dua pada mekanika dan
rangkaian listrik diberikan dalam contoh-contoh berikut.
1. Aplikasi pada mekanika
Contoh 3.17. Partikel P dengan massa 2 gram bergerak pada sumbu-
x dan ditarik menuju titik asal O dengan gaya sama dengan 8X. Jika
partikel itu semula berdiam di X = 10, tentukan posisi partikel pada
setiap saat dengan berasumsi
a. tidak ada gaya lain yang bekerja;
b. gaya peredam bekerja sebesar 8 kali kecepatan sesaat.
Penyelesaian:
a. Jika X > 0 (positif arah kanan), gaya total adalah ke arah ki-
ri dan diberikan −8X. Jika X < 0 gaya total ke arah kanan
dan diberikan −8X (lihat Gambar 3.3). Sesuai hukum Newton,
diperoleh
Massa × Percepatan = Gaya total
d2 X
2 · 2 = −8X.
dt
Gambar 3.3: Ilustrasi permasalahan pada soal
Dengan demikian diperoleh masalah nilai awal
d2 X
+ 4X = 0, X(0) = 10, X 0 (0) = 0.
dt2
Penyelesaian persamaan diferensial ini adalah
X(t) = c1 cos 2t + c2 sin 2t.
62 Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya
Dengan memasukkan syarat-syarat awalnya, diperoleh c1 = 10
dan c2 = 0.
Jadi penyelesaiannya adalah
X(t) = 10 cos 2t.
Grafik pergerakan partikel yang merupakan penyelesaian nilai
awal diberikan pada Gambar 3.4.
Gambar 3.4: Grafik pergerakan partikel
b. Jika X > 0 dan dX/dt > 0, titik P di sebelah kanan O dan
bergerak ke arah kanan, sehingga
Massa × Percepatan = Gaya total
d2 X dX
2 · 2 = −8X − 8 .
dt dt
Masalah nilai awal adalah
d2 X dX
2
+4 + 4X = 0, X(0) = 10, X 0 (0) = 0.
dt dt
Penyelesaian masalah nilai awal adalah
X(t) = 10e−2t (1 + 2t).
Grafik penyelesaian diberikan pada Gambar 3.5.
Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya 63
Gambar 3.5: Grafik pergerakan partikel dengan peredaman
2. Aplikasi pada rangkaian listrik
Contoh 3.18. Sebuah rangkaian listrik terdiri dari induktor 2 henry,
resistor 2 ohm, dan kapasitor 0,02 farad dihubungkan secara seri de-
ngan tegangan E volt. Saat t = 0, muatan kapasitor dan arus dalam
rangkaian sebesar nol. Tentukan muatan dan arus pada sebarang t > 0
jika (a). E = 300 volt, (b)E = 100 sin 3t volt.
Penyelesaian:
Misalkan Q(t) menyatakan muatan listrik pada saat t dan I(t) menya-
takan kuat arus pada saat t. Berdasarkan hukum Kirchoff, diperoleh
dI(t) Q(t)
2 + 16I(t) + = E(t). (3.15)
dt 0, 02
Karena I(t) = dQ/dt, persamaan (3.15) menjadi
d2 Q(t) dQ(t)
2 2
+ 16 + 50Q(t) = E(t),
dt dt
dengan syarat awal Q(0) = 0, I(0) = Q0 (0) = 0.
a. Untuk E(t) = 300, diperoleh masalah nilai awal
d2 Q(t) dQ(t)
2
+8 + 25Q(t) = 150, Q(0) = 0, Q0 (0) = 0.
dt dt
Penyelesaian masalah nilai awal ini, yakni besar muatan listrik
pada saat t, diperoleh
Q(t) = 6 − 6e−4t cos 3t − 8e−4t sin 3t.
64 Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya
Untuk besar kuat arus, diperoleh
dQ(t)
I(t) = = 50e−4t sin 3t.
dt
Grafik muatan (Q) dan arus (I) diberikan pada Gambar 3.6.
Gambar 3.6: Grafik (a) muatan listrik, dan (b) arus listrik
b. Untuk E(t) = 100 sin 3t, diperoleh masalah nilai awal
d2 Q(t) dQ(t)
+8 + 25Q(t) = 50 sin 3t, Q(0) = 0, Q0 (0) = 0.
dt2 dt
Penyelesaian masalah nilai awal ini, yakni besar muatan listrik
pada saat t, diperoleh
25 25
Q(t) = (2 sin 3t − 3 cos 3t) + e−4t (2 sin 3t + 3 cos 3t)
52 52
Untuk besar kuat arus, diperoleh
75 25
I(t) = (3 sin 3t + 2 cos 3t) − e−4t (17 sin 3t + 6 cos 3t).
52 52
Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya 65
3.5 Rangkuman
1. Persamaan diferensial linear orde dua dari fungsi y adalah per-
samaan diferensial yang berbentuk
y 00 + a1 (x)y 0 + a0 (x)y = b(x),
dengan a1 , a0 , dan b fungsi-fungsi yang diberikan pada selang
I ⊂ R. Persamaan diferensial dikatakan
(a) homogen jika b(x) = 0 untuk setiap x ∈ I, dan dikatakan
nonhomogen jika b(x) 6= 0;
(b) dengan koefisien konstan jika a1 dan a0 keduanya kon-
stan;
(c) dengan koefisien peubah jika a1 atau a0 tidak konstan.
2. Persamaan diferensial linear homogen
ay 00 + by 0 + cy = 0,
dengan a, b, dan c konstan, mempunyai akar-akar karakteristik
√
−b ± b2 − 4ac
k12 = .
2a
Penyelesaian persamaan diferensial tersebut adalah
(a) jika k1 6= k2 keduanya real, maka
y(x) = c1 ek1 x + c2 ek2 x ,
dengan c1 dan c2 keduanya konstanta sebarang.
(b) jika k1 = k2 = m real, maka
y(x) = c1 emx + c2 xemx ,
dengan c1 dan c2 keduanya konstanta sebarang.
(c) jika k12 = r ± is keduanya kompleks sekawan, maka
y(x) = erx [c1 cos sx + c2 sin sx],
dengan c1 dan c2 keduanya konstanta sebarang.
66 Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya
3. Persamaan diferensial linear nonhomogen
ay 00 + by 0 + cy = g(x),
dengan a, b, dan c konstan dan g(x) 6= 0, mempunyai penyelesa-
ian
y(x) = yh (x) + yp (x)
dengan yh adalah penyelesaian homogen (penyelesaian persama-
an diferensial saat g(x) = 0) dan yp adalah penyelesaian parti-
kular.
3.6 Bahan Diskusi
Diskusikan dengan teman-temanmu permasalahan-permasalahan ber-
ikut
1. Diberikan persamaan diferensial
y 00 − y = g(x)
dengan (
e−x jika x < 0,
g(x) =
1−x jika x ≥ 0.
Tentukan penyelesaian persamaan diferensial tersebut.
2. Suatu massa M bergerak pada sepanjang sumbu-x yang dipe-
ngaruhi suatu gaya sebanding laju sesaatnya dengan arah ber-
lawanan. Misalkan saat t = 0 partikel berada di x = a dan
bergerak ke arah kanan dengan laju v0 . Tentukan kedudukan
partikel tersebut berhenti.
3.7 Rujukan/Daftar Pustaka
1. Boyce, W.E., R.C. DiPrima, dan D.B. Meade, 2017, Elemen-
tary Differential Equations and Boundary Value Problems, 11th
edition, John Wiley & Sons
2. Simmons, G.F. dan S.G. Krantz, 2007, Differential Equations
Theory, Technique, and Practice. International Edition, The
McGraw-Hill Companies, Inc.
Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya 67
3. Spiegel, M.R, P. Silaban, dan H. Wospakrik, 1999, Transformasi
Laplace: Teori dan Soal-soal, UI-Press
3.8 Soal-soal Latihan
1. Tentukan konstanta c dan k sedemikian sehingga fungsi y(t) =
ctk adalah penyelesaian dari
−t3 y 00 + t2 y 0 + 4ty = 1.
2. Periksa bahwa y1 (t) = t2 dan y2 (t) = 1/t keduanya adalah pe-
nyelesaian dari persamaan diferensial
t2 y 00 − 2y = 0, t > 0.
3. Tentukan penyelesaian umum persamaan:
(a) y 00 + 3y 0 + 2y = 0
(b) 2y 00 − 3y 0 + y = 0
(c) 4y 00 − 9y = 0
(d) y 00 − 2y 0 − 2y = 0.
4. Selesaikan masalah nilai awal berikut:
(a) y 00 + y 0 − 2y = 0, Y (0) = 1, y 0 (0) = 1
(b) 6y 00 − 5y 0 + y = 0, y(0) = 4, y 0 (0) = 0
(c) y 00 + 3y 0 = 0, y(0) = −2, y 0 (0) = 3
(d) 4y 00 − y = 0, y(−2) = 1, y 0 (−2) = −1.
5. Tentukan nilai r sehingga penyelesaian masalah nilai awal
y 00 − y 0 − 2y = 0, y(0) = r, y 0 (0) = 2,
adalah y(x) yang bersifat
lim y(x) = 0.
x→∞
6. Tentukan penyelesaian persamaan-persamaan diferensial berikut
(a) y 00 − 2y 0 − 3y = 3e2x
68 Bab 3. Persamaan Diferensial Orde Dua dan Aplikasinya
(b) y 00 + 2y 0 + 5y = 2 sin 2x
(c) y 00 − 2y 0 − 3 = 3xe−x
(d) y 00 + y 0 = x + sin 2x
(e) y 00 + y 0 + 4y = sinh x
(f) y 00 + y = 4 sin 2x + x cos 2x
7. Selesaikan masalah-masalah nilai awal berikut
(a) y 00 + y 0 − 2y = 2x, y(0) = 0, y 0 (0) = 1
(b) y 00 + 4y = x2 + 3ex , y(0) = 0, y 0 (0) = 2
(c) y 00 − 2y 0 − 3y = 3xe2x , y(0) = 1, y 0 (0) = 0
(d) y 00 + 2y 0 + 5y = 4e−x cos 2x, y(0) = 1, y 0 (0) = 0
8. Tentukan penyelesaian umum persamaan diferensial
N
X
y 00 + α2 y = am sin (mπx),
m=1
dengan α > 0 dan α 6= mπ untuk m = 1, 2, · · · , N .
Bab 4
Persamaan Diferensial
Linear Orde Lebih dari
Dua
——————————————————————————–
Setelah membaca dan mempelajari bab ini, kemampuan akhir
yang diharapkan secara umum adalah mahasiswa:
1. memahami bentuk-bentuk persamaan diferensial orde tinggi le-
bih dari dua;
2. mempunyai kemampuan dan kreativitas dalam menyelesaikan
masalah yang relevan;
3. mempunyai kemampuan bernalar dengan logis dan sistematis;
4. mempunyai kemampuan berkomunikasi melalui diskusi materi.
Sedangkan kemampuan akhir yang diharapkan secara khusus adalah
mahasiswa mampu
1. menyelesaikan persamaan diferensial linear orde tinggi dengan
koefisien konstan, baik homogen maupun nonhomogen;
2. mengaplikasikan persamaan diferensial linear orde tinggi dalam
kehidupan sehari-hari;
69
70 Bab 4. Persamaan Diferensial Linear Orde Lebih dari Dua
Bentuk umum persamaan diferensial linear orde n adalah
an (x)y (n) + an−1 (x)y (n−1) + · · · + a1 y 0 + a0 y = g(x)
dengan an 6= 0.
Pada bab ini dibahas penyelesaian persamaan diferensial linear orde n
homogen maupun nonhomogen hanya untuk kasus koefisien-koefisien
konstan.
4.1 Persamaan Linear Homogen dengan Koe-
fisien Konstan
Persamaan diferensial linear orde n homogen dengan koefisien konstan
berbentuk
an y (n) + an−1 y (n−1) + · · · + a1 y 0 + a0 y = 0, (4.1)
dengan an , an−1 , · · · , a1 , a0 semuanya konstanta real dengan an 6= 0.
Persamaan karakteristik (4.1) adalah
an k n + an−1 k n−1 + · · · + a1 k + a0 = 0,
dengan akar-akar penyelesaian k1 , k2 , · · · , kn .
Penyelesaian persamaan (4.1) dikelompokkan berdasarkan nilai akar-
akar karakteristiknya.
1. Jika k1 , k2 , · · · , kn semuanya real dan berbeda, maka penyelesa-
ian persamaan (4.1) adalah
y(x) = c1 ek1 x + c2 ek2 x + · · · + cn ekn x ,
dengan c1 , c2 , · · · , cn konstanta-konstanta sebarang.
2. Jika k1 = k2 = · · · = kn = m real, maka penyelesaian persamaan
(4.1) adalah
y(x) = c1 emx + c2 xemx + c3 x2 emx + · · · + cn xn−1 emx ,
dengan c1 , c2 , · · · , cn konstanta-konstanta sebarang.
Bab 4. Persamaan Diferensial Linear Orde Lebih dari Dua 71
3. Jika n genap dan k12 = a1 + ±b1 , k34 = a2 ± b2 , · · · semuanya pa-
sangan kompleks sekawan dan berbeda, maka penyelesaian per-
samaan (4.1) adalah
y(x) = ea1 x (c1 cos b1 x + c2 sin b1 x) + ea2 x (c3 cos b2 x + c4 sin b2 x)
+ · · · + ean/2 x (cn−1 cos bn/2 x + cn sin bn/2 x),
dengan c1 , c2 , · · · , cn konstanta-konstanta sebarang.
Contoh 4.1. Selesaikan persamaan diferensial
y iv − 5y 00 + 4y = 0. (4.2)
Penyelesaian:
Persamaan karakteristik (4.2) adalah
k 4 − 5k 2 + 4 = 0,
dengan penyelesaian
k1 = 1, k2 = −1, k3 = 2, k4 = −2.
Jadi penyelesaian persamaan diferensial (4.2) adalah
y(x) = c1 ex + c2 e−x + c3 e2x + c4 e−2x
dengan c1 , c2 , c3 , dan c4 konstanta-konstanta sebarang.
Contoh 4.2. Selesaikan persamaan diferensial
y 000 − 6y 00 + 12y 0 − 8y = 0. (4.3)
Penyelesaian:
Persamaan karakteristik (4.3) adalah
k 3 − 6k 2 + 12k − 8 = 0, atau (k − 2)3 = 0
dengan penyelesaian
k1 = k2 = k3 = 2.
Jadi penyelesaian persamaan diferensial (4.3) adalah
y(x) = c1 e2x + c2 xe2x + c3 x2 e2x
dengan c1 , c2 , dan c3 konstanta-konstanta sebarang.
72 Bab 4. Persamaan Diferensial Linear Orde Lebih dari Dua
Contoh 4.3. Selesaikan persamaan diferensial
y iv − 2y 000 + 3y 00 − 2y 0 + 2y = 0. (4.4)
Penyelesaian:
Persamaan karakteristik (4.4) adalah
k 4 − 2k 3 + 3k 2 − 2k + 2 = 0
dengan penyelesaian
k12 = ±i, k34 = 1 ± i
Jadi penyelesaian persamaan diferensial (4.4) adalah
y(x) = c1 cos x + c2 sin x + c3 ex cos x + c4 ex sin x
dengan c1 , c2 , c3 , dan c4 konstanta-konstanta sebarang.
Untuk kasus akar-akar persamaan karakteristiknya merupakan kom-
binasi dari bilangan real dan kompleks, diberikan dalam contoh beri-
kut.
Contoh 4.4. Selesaikan persamaan diferensial
y (6) − 2y (5) + y iv + 2y 000 − 2y 00 = 0 (4.5)
Penyelesaian:
Persamaan karakteristik (4.5) adalah
k 6 − 2k 5 + k 4 + 2k 3 − 2k 2 = 0, atau k 2 (k − 1)(k + 1)(k 2 − 2k + 2)
dengan penyelesaian
k12 = 0, k3 = 1, k4 = −1, k56 = 1 ± i.
Jadi penyelesaian persamaan diferensial (4.5) adalah
y(x) = c1 + c2 x + c3 ex + c4 e−x + c5 ex cos x + c6 ex sin x
dengan c1 , c2 , c3 , c4 , c5 , dan c6 konstanta-konstanta sebarang.
Contoh 4.5. Selesaikan masalah nilai awal
y 000 − 2y 00 + 3y 0 = 0, y(0) = 0, y 0 (0) = 1, y 00 (0) = 1. (4.6)
Bab 4. Persamaan Diferensial Linear Orde Lebih dari Dua 73
Penyelesaian:
Persamaan karakteristik persamaan diferensial pada (4.6) adalah
k 3 − 2k 2 + 3k = 0,
dengan penyelesaian
√
k1 = 0, k23 = 1 ± 2i.
Jadi penyelesaian persamaan diferensial (4.6) adalah
√ √
y(x) = c1 + c2 ex cos 2x + c3 ex sin 2x.
Dengan memasukkan syarat y(0) = 0, y 0 (0) = 1, dan y 00 (0) = 0 dipe-
roleh
2 2 1√
c1 = − , c2 = , c3 = 2,
3 3 6
sehingga penyelesaian nilai awal adalah
2 2 √ 1√ x √
y(x) = − + ex cos 2x + 2e sin 2x.
3 3 6
4.2 Persamaan Linear Orde Tinggi Nonhomo-
gen dengan Koefisien Konstan
Persamaan diferensial linear orde n nonhomogen dengan koefisien kon-
stan berbentuk
an y (n) + an−1 y (n−1) + · · · + a1 y 0 + a0 y = g(x), (4.7)
dengan an , an−1 , · · · , a1 , a0 semuanya konstanta real dengan an 6= 0
dan g(x) 6= 0. Penyelesaian persamaan (4.7) adalah
y(x) = yh (x) + yp (x)
dengan yh (x) dan yp (x) adalah masing-masing penyelesaian homogen
dan penyelesaian partikular persamaan (4.7). Untuk mendapatkan
penyelesaian homogen telah dijelaskan pada subbab 4.1, sedangkan
untuk penyelesaian partikularnya akan dibahas berikut ini.
Penyelesaian partikular persamaan (4.7) ini dikelompokkan berda-
sarkan jenis fungsi g(x)nya.
74 Bab 4. Persamaan Diferensial Linear Orde Lebih dari Dua
1. g(x) = ebx (fungsi eksponensial).
(a) Jika persamaan (4.7) tidak mempunyai penyelesaian homo-
gen berbentuk y = cebx , maka penyelesaian partikular per-
samaan (4.7) dimisalkan
yp = Aebx
dengan A konstanta yang akan dicari.
(b) Jika persamaan (4.7) mempunyai penyelesaian homogen ber-
bentuk y = cebx , maka penyelesaian partikular persamaan
(4.7) dimisalkan
yp = Axebx
dengan A konstanta yang akan dicari.
2. g(x) = pn (x) (polinom berderajat n).
(a) Jika persamaan (4.7) tidak mempunyai penyelesaian homo-
gen berbentuk y = B0 + B1 x + · · · + Bm xm dengan m < n,
maka penyelesaian partikular persamaan (4.7) dimisalkan
y p = A0 + A1 x + · · · + An x n
dengan Ai , i = 0, 1, 2, · · · , n konstanta-konstanta yang akan
dicari.
(b) Jika persamaan (4.7) mempunyai penyelesaian homogen ber-
bentuk y = B0 + B1 x + · · · + Bm xm dengan m < n, maka
penyelesaian partikular persamaan (4.7) dimisalkan
yp = (A0 + A1 x + · · · + An xn )xm+1
dengan Ai , i = 0, 1, 2, · · · , n konstanta-konstanta yang akan
dicari.
3. Jika g(x) = cos bx atau g(x) = sin bx (fungsi sinus atau cosinus),
maka penyelesaian partikular persamaan (4.7) dimisalkan
yp = A cos bx + B sin bx.
Untuk memperjelas penyelesaian partikular persamaan diferensial li-
near nonhomogen, diberikan contoh-contoh berikut.
Bab 4. Persamaan Diferensial Linear Orde Lebih dari Dua 75
Contoh 4.6. Tentukan penyelesaian partikular persamaan diferensial
y iv − 5y 00 + 4y = e3x . (4.8)
Penyelesaian:
Misalkan yp = Ae3x , maka diperoleh
yp0 = 3Ae3x , yp00 = 9Ae3x , yp000 = 27Ae3x , ypiv = 81Ae3x .
Substitusikan yp , yp00 , dan ypiv ini ke persamaan (4.8), diperoleh
[81A − 45A + 4A]e3x = e3x
sehingga berakibat 40A = 1 atau A = 1/40.
Jadi penyelesaian partikularnya adalah
1 3x
yp (x) = e .
40
Contoh 4.7. Tentukan penyelesaian partikular persamaan diferensial
y 000 − 4y 0 = e2x .
Penyelesaian:
Penyelesaian homogen persamaan diferensial adalah yh = c1 + c2 e2x +
c3 e−2x . Karena dalam penyelesaian homogen terdapat suku e2x , maka
penyelesaian partikularnya dimisalkan
yp = Axe2x .
Dengan mencari turunan-turunannya, diperoleh
yp0 = Ae2x (1 + 2x), yp00 = 4Ae2x (1 + x), yp000 = 4Ae2x (3 + 2x)
Substitusikan yp0 dan yp000 ini ke persamaan diferensial, diperoleh
1
4Ae2x (3 + 2x) − 4Ae2x (1 + 2x) = e2x ⇒ 8A = 1 ⇒ A= .
8
Dengan demikian, diperoleh penyelesaian partikular
1
yp = xe2x .
8
76 Bab 4. Persamaan Diferensial Linear Orde Lebih dari Dua
Contoh 4.8. Tentukan penyelesaian partikular persamaan diferensial
y 000 − y 00 = x.
Penyelesaian:
Persamaan karakteristiknya adalah k 3 − k 2 = 0 dengan akar-akar pe-
nyelesaian k1 = k2 = 0 dan k3 = 1. Oleh karena itu penyelesaian
homogen persamaan diferensial adalah
yh = c1 + c2 x + c3 ex .
Karena penyelesaian homogen memuat suku konstan dan suku x, maka
untuk memisalkan penyelesaian partikularnya adalah
yp = (A + Bx)x2 .
Dengan menurunkannya, diperoleh
yp00 = 2A + 6Bx dan yp000 = 6B.
Selanjutnya mensubstitusikan hasil-hasil ini ke persamaan diferensial,
diperoleh
6B − (2A + 6Bx) = x
yang menghasilkan A = −1/2 dan B = −1/6.
Jadi penyelesaian partikular persamaan diferensial adalah
1 1
yp = − x2 − x3 .
2 6
4.3 Rangkuman
1. Penyelesaian persamaan diferensial
an y (n) + · · · + a1 y 0 + a0 y = 0
dikelompokkan berdasarkan nilai akar-akar karakteristiknya.
(a) Jika k1 , k2 , · · · , kn semuanya real dan berbeda, maka penye-
lesaiannya adalah
y(x) = c1 ek1 x + c2 ek2 x + · · · + cn ekn x ,
dengan c1 , c2 , · · · , cn konstanta-konstanta sebarang.
Bab 4. Persamaan Diferensial Linear Orde Lebih dari Dua 77
(b) Jika k1 = k2 = · · · = kn = m real, maka penyelesaiannya
adalah
y(x) = c1 emx + c2 xemx + c3 x2 emx + · · · + cn xn−1 emx ,
dengan c1 , c2 , · · · , cn konstanta-konstanta sebarang.
(c) Jika n genap dan k12 = a1 +±b1 , k34 = a2 ±b2 , · · · semuanya
pasangan kompleks sekawan dan berbeda, maka penyelesa-
iannya adalah
y(x) = ea1 x (c1 cos b1 x + c2 sin b1 x)
+ea2 x (c3 cos b2 x + c4 sin b2 x) + · · ·
+ean/2 x (cn−1 cos bn/2 x + cn sin bn/2 x),
dengan c1 , c2 , · · · , cn konstanta-konstanta sebarang.
2. Penyelesaian partikular persamaan diferensial
an y (n) + · · · + a1 y 0 + a0 y = g(x)
dikelompokkan berdasarkan jenis fungsi g(x)nya.
(a) g(x) = ebx (fungsi eksponensial).
i. Jika persamaan tidak mempunyai penyelesaian homo-
gen berbentuk y = cebx , maka penyelesaian partikular
persamaan dimisalkan
yp = Aebx
dengan A konstanta yang akan dicari.
ii. Jika persamaan mempunyai penyelesaian homogen ber-
bentuk y = cebx , maka penyelesaian partikular persa-
maan dimisalkan
yp = Axebx
dengan A konstanta yang akan dicari.
(b) g(x) = pn (x) (polinom berderajat n).
i. Jika persamaan tidak mempunyai penyelesaian homo-
gen berbentuk y = B0 + B1 x + · · · + Bm xm dengan
m < n, maka penyelesaian partikular persamaan dimi-
salkan
y p = A0 + A1 x + · · · + An x n
dengan Ai , i = 0, 1, 2, · · · , n konstanta-konstanta yang
akan dicari.
78 Bab 4. Persamaan Diferensial Linear Orde Lebih dari Dua
ii. Jika persamaan diferensial mempunyai penyelesaian ho-
mogen berbentuk y = B0 + B1 x + · · · + Bm xm dengan
m < n, maka penyelesaian partikular persamaan dimi-
salkan
yp = (A0 + A1 x + · · · + An xn )xm+1
dengan Ai , i = 0, 1, 2, · · · , n konstanta-konstanta yang
akan dicari.
(c) Jika g(x) = cos bx atau g(x) = sin bx (fungsi sinus atau co-
sinus), maka penyelesaian partikular persamaan dimisalkan
yp = A cos bx + B sin bx.
4.4 Bahan Diskusi
Diskusikan dengan teman-temanmu masalah-masalah berikut
1. Diberikan persamaan diferensial
y iv − y = g(x)
dengan (
e−x jika x < 0,
g(x) =
1−x jika x ≥ 0.
Tentukan penyelesaian persamaan diferensial tersebut.
2. Tentukan penyelesaian masalah nilai awal dengan bentuk persa-
maan diferensial pada (1) dengan y(0) = 0, y 0 (0) = 1, y 00 (0) = 0,
dan y 000 (0) = 0.
4.5 Rujukan/Daftar Pustaka
1. Boyce, W.E., R.C. DiPrima, dan D.B. Meade, 2017, Elemen-
tary Differential Equations and Boundary Value Problems, 11th
edition, John Wiley & Sons
2. Howell, K.B, 2019, Ordinary Differential Equations: An Intro-
duction to the Fundamentals, CRC Press
Bab 4. Persamaan Diferensial Linear Orde Lebih dari Dua 79
3. Simmons, G.F. dan S.G. Krantz, 2007, Differential Equations
Theory, Technique, and Practice. International Edition, The
McGraw-Hill Companies, Inc.
4. Spiegel, M.R, P. Silaban, dan H. Wospakrik, 1999, Transformasi
Laplace: Teori dan Soal-soal, UI-Press
4.6 Soal-soal Latihan
1. Tentukan penyelesaian persamaan-persamaan diferensial berikut
(a) y iv − y 00 − y 0 + y = 0
(b) y 000 − 2y 00 + y = 0
(c) y iv + y 00 − 2y = 0
(d) y iv + 4y 00 = 0
2. Tentukan penyelesaian masalah-masalah nilai awal berikut
(a) y iv − y = 0, y(0) = 1, y 0 (0) = 0, y 00 (0) = 1, y 000 (0) = 0
(b) y iv − 4y = 0, y(0) = 1, y 0 (0) = 0, y 00 (0) = −2, y 000 (0) = 0
3. Tentukan penyelesaian partikular persamaan-persamaan diferen-
sial berikut
(a) y iv − y 00 − y 0 + y = 2e−x
(b) y 000 − 2y 00 + y = x3
(c) y iv + 4y 00 = sin 2x
(d) y iv + y 00 − 2y = 2ex .
4. Tentukan penyelesaian masalah-masalah nilai awal berikut
(a) y 000 + 4y 0 = x, y(0) = 0, y 0 (0) = 0, y 00 (0) = 1
(b) y iv +2y 00 +y = 3x+4, y(0) = y 0 (0) = 0, y 00 (0) = y 000 (0) = 1
(c) y 000 − 3y 00 + 2y 0 = x + ex , y(0) = 1, y 0 (0) = −1/4, y 00 (0) =
−3/2.
80 Bab 4. Persamaan Diferensial Linear Orde Lebih dari Dua
Bab 5
Penyelesaian Persamaan
Diferensial dengan
Operator D
——————————————————————————–
Setelah membaca dan mempelajari bab ini, kemampuan akhir
yang diharapkan secara umum adalah mahasiswa:
1. memahami konsep operator diferensial;
2. mempunyai kemampuan dan kreativitas dalam menyelesaikan
masalah yang relevan;
3. mempunyai kemampuan bernalar dengan logis dan sistematis;
4. mempunyai kemampuan berkomunikasi melalui diskusi materi.
Sedangkan kemampuan akhir yang diharapkan secara khusus adalah
mahasiswa mampu
1. memahami operator diferensial dan sifat-sifatnya;
2. menyelesaikan persamaan diferensial linear orde tinggi dengan
koefisien konstan menggunakan operator diferensial (operator
D).
81
82 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
Bentuk umum persamaan diferensial linear orde n nonhomogen
adalah
an (x)y (n) + an−1 (x)y (n−1) + · · · + a1 y 0 + a0 y = g(x)
dengan an 6= 0 dan g(x) 6= 0.
Pada bab ini dibahas penyelesaian persamaan diferensial linear no-
nhomogen hanya untuk kasus koefisien konstan dengan menggunakan
operator diferensial.
5.1 Pengertian Operator Diferensial dan Sifat-
sifatnya
Operator diferensial D, atau cukup ditulis operator D, dari
fungsi terdiferensialkan y = f (x) pada R berbentuk
d
D=
dx
Operator D dan versi orde yang lebih tinggi Dn pada fungsi y = f (x)
terdiferensialkan setidaknya n kali membawa derivatif fungsi
df (x)
Df (x) =
dx
d h df (x) i d2 f (x)
D2 f (x) = D[Df (x)] = =
dx dx dx2
..
.
d h dn−1 f (x) i dn f (x)
Dn f (x) = D[Dn−1 f (x)] = = .
dx dxn−1 dxn
Sebagai contoh, diberikan
y = x3 + x + 3e2x − 5 sin (3x)
maka
d 3
x + x + 3e2x − 5 sin (3x) = 3x2 + 1 + 6e2x − 15 cos (3x)
Dy =
dx
D y = 6x + 12e2x + 45 sin (3x)
2
D3 y = 6 + 24e2x + 135 cos (3x)
dan seterusnya untuk orde-orde yang lebih tinggi.
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 83
Penggunaan operator D pada fungsi-fungsi elementer diantaranya fung-
si eksponensial, fungsi sinus dan cosinus, dan fungsi polinomial dibe-
rikan sebagai berikut.
1. D pada fungsi eksponensial
d λx
Deλx = e = λeλx , (5.1)
dx
ini menunjukkan eλx adalah fungsi karakteristik dari D dengan nilai
karakteristik λ.
Untuk orde tinggi Dn dengan n ≥ 2, diperoleh
dn dhd d i
Dn eλx = n eλx = · · · eλx = λn eλx .
dx dx dx dx
2. D2 pada fungsi sinus dan cosinus
D2 sin (βx) = −β 2 sin (βx)
D2 cos (βx) = −β 2 cos (βx)
Hal ini menunjukkan bahwa baik sin (βx) maupun cos (βx) merupa-
kan fungsi-fungsi karakteristik dari D2 dengan nilai karakteristik −β 2 .
Lebih jauh, pandang orde tinggi D2n = (D2 )n , diperoleh
D2n sin (βx) = (D2 )n sin (βx)
h i
= D2 D2 · · · D2 sin βx
n
= − β 2 sin (βx)
D2n cos (βx) = (D2 )n cos (βx)
h i
= D2 D2 · · · D2 cos βx
n
= − β 2 cos (βx)
3. D pada fungsi polinomial
Untuk k ≥ 1, diperoleh
d k
Dxk = x = kxk−1
dx
dn k
D n xk = x = k(k − 1) · · · (k − n + 1)xk−n
dxn
Lebih khusus, untuk k < n, diperoleh
Dn xk = 0.
84 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
Sebagai contoh
d5 3
D 5 x3 =
x = 0.
dx5
Berikutnya, dibicarakan operator D pada fungsi polinomial dan
sifat-sifatnya.
Diberikan fungsi polinomial berderajat n
Pn (x) = an xn + an−1 xn−1 + · · · + a1 x + a0 (5.2)
dengan a0 , a1 , · · · , an konstanta-konstanta real dan an 6= 0. Dengan
mensubstitusikan D = x ke persamaan (5.2) diperoleh
Pn (D) = an Dn + an−1 Dn−1 + · · · + a1 D + a0 (5.3)
disebut polinomial operator D berderajat n.
Adapun sifat-sifat polinomial operator D sebagai berikut:
1. Linear
Teorema 5.1. Jika Pn (D) polinomial operator D berderajat n
Pn (D) = an Dn + an−1 Dn−1 + · · · + a1 D + a0 ,
maka untuk setiap a dan b bilangan-bilangan real dan f dan g
keduanya fungsi terdiferensialkan minimal n kali, berlaku
Pn (D)[af (x) + bg(x)] = aPn (D)f (x) + bPn (D)g(x)
2. Aturan penjumlahan
Teorema 5.2. Jika Pn (D) dan Qm (D) keduanya polinomial ope-
rator D masing-masing berderajat n dan m, maka untuk setiap
fungsi f yang terdiferensialkan sedikitnya maks(n, m) kali, ber-
laku
[Pn (D) + Qm (D)]f (x) = Pn (D)f (x) + Qm (D)f (x)
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 85
3. Aturan perkalian
Teorema 5.3. Jika Pn (D) dan Qm (D) keduanya polinomial ope-
rator D masing-masing berderajat n dan m, maka untuk setiap
fungsi f yang terdiferensialkan sedikitnya maks(n, m) kali ber-
laku
[Pn (D)Qm (D)]f (x) = [Qm (D)Pn (D)]f (x) = Pn (D)[Qm (D)f (x)]
4. Aturan substitusi nilai karakteristik
Teorema 5.4. Jika Pn (D) polinomial operator D berderajat n,
maka
Pn (D)eλx = Pn (λ)eλx = eλx Pn (λ),
dan
Pn (D2 ) sin βx = Pn (−β 2 ) sin βx = sin βxPn (−β 2 ),
Pn (D2 ) cos βx = Pn (−β 2 ) cos βx = cos βxPn (−β 2 )
dengan λ dan β konstanta-konstanta real.
Bukti. Pertama, diperoleh
d
Pn (D)eλx = Pn eλx
dx
dn dn−1
= an n + an−1 n−1 + · · · + a1 D + a0 eλx
dx dx
n n−1
= an λ + an−1 λ + · · · + a1 λ + a0 eλx
= eλx Pn (λ)
Untuk selanjutnya,
Pn (D2 ) sin βx
= an (D2 )n + an−1 (D2 )n−1 + · · · + a1 D2 + a0 sin βx
= an (−β 2 )n + an−1 (−β 2 )n−1 + · · · + a1 (−β 2 ) + a0 sin βx
= Pn (−β 2 ) sin βx
= sin βxPn (−β 2 )
Untuk kasus Pn (D2 ) cos βx serupa.
86 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
5. Aturan perkalian dengan eksponensial
Teorema 5.5. Diberikan Pn (D) polinomial operator D berdera-
jat n. Maka
Dn [eλx f (x)] = eλx (D + λ)n f (x), (5.4)
Pn (D) eλx f (x) = eλx Pn (D + λ)f (x)
(5.5)
dengan f (x) fungsi terdiferensialkan minimal n kali pada R.
Bukti. Pertama akan dibuktikan dengan menggunakan induksi
matematika.
Pertama, untuk n = 1:
d λx d
D eλx f (x) = e f (x) = eλx λ+ f (x) = eλx (D+λ)f (x).
dx dx
Kedua, untuk n = k anggap benar berlaku
Dk eλx f (x) = eλx (D + λ)k f (x)
Dengan demikian, diperoleh
Dk+1 eλx f (x) = D Dk eλx f (x)
= eλx (D + λ) (D + λ)k f (x)
= eλx (D + λ)k+1 f (x)
Untuk bukti selanjutnya,
Pn (D) eλx f (x) = an Dn + an−1 Dn−1 + · · · + a1 D + a0
eλx f (x)
= eλx an (D + λ)n + an−1 (D + λ)n−1 + · · ·
+a1 (D + λ) + a0 f (x)
= eλx Pn (D + λ)f (x)
Bukti telah selesai.
Selanjutnya dikenalkan fungsi operator D dalam ekspansi deret
Taylor.
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 87
Definisi 5.6. Diberikan f (x) fungsi konvergen seragam pada R. Fung-
si operator f (D) didefinisikan dalam suku-suku ekspansi deret Taylor
f (x) di sekitar x = 0:
∞ ∞
X 1 (n) X 1 dn f (x)
f (D) = f (0)Dn = Dn
n! n! dxn x=0
n=0 n=0
∞
X 1dn f (x) dn
= . (5.6)
n! dxn x=0 dxn
n=0
Sebagai contoh,
∞
1 X
= Dn = 1 + D + D2 + D3 + · · ·
1−D
n=0
∞
X 1 n 1 1
eD = D = 1 + D + D2 + D3 + · · ·
n! 2! 3!
n=0
∞
X (−1)n 1 1
sin D = D2n+1 = D − D3 + D5 − · · ·
(2n + 1)! 3! 5!
n=0
∞
X (−1)n 2n 1 1
cos D = D = 1 − D2 + D4 − · · ·
(2n)! 2! 4!
n=0
dan lain sebagainya.
5.2 Kernel Operator D
Sebagaimana definisi umum dari kernel operator, kernel dari operator
Dk , k = 1, 2, · · · , pada ruang fungsi real terdiferensialkan didefinisikan
sebagai berikut:
Definisi 5.7.
kerDk = {f (x)|Dk f (x) = 0}
Jadi, kerDk adalah himpunan semua fungsi polinomial berderajat pa-
ling tinggi k − 1, yakni
kerDk = span{1, x, x2 , · · · , xk−1 }
= {ck−1 xk−1 + ck−2 xk−2 + · · · + c1 x + c0 |
dengan c0 , c1 , · · · , ck−1 konstanta-konstanta.
88 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
Lebih jauh, dapat dituliskan kernel polinomial Pn (D) operator D yang
merupakan ruang penyelesaian persamaan diferensial linear orde n ho-
mogen dengan koefisien-koefisien konstan:
Pn (D)y(x) = an y (n) (x) + an−1 y (n−1) (x) + · · · + a1 y 0 (x) + a0 y(x) = 0.
Nilai kerPn (D) mengambil bentuk-bentuk selisih yang tergantung pa-
da Pn (D). Dengan menerapkan aturan perkalian dengan eksponensial
dan aturan substitusi nilai karakteristik, diperoleh hasil yang diingin-
kan.
Teorema 5.8. Diberikan Pn (D) polinomial operator D.
1. Jika Pn (D) adalah perkalian n faktor-faktor linear berbeda (untuk
sederhananya, diambil an = 1 sekarang dan selanjutnya),
Pn (D) = (D − r1 )(D − r2 ) · · · (D − rn )
dengan ri 6= rj untuk setiap i 6= j dan i, j ∈ {1, 2, · · · , n}, maka
Pn (D) = span{er1 x , er2 x , · · · , ern x }
nX n o
= ci eri x c1 , c2 , · · · , cn konstanta-konstanta
i=1
2. Jika Pn (D) adalah perkalian k faktor-faktor linear berulang yang
berbeda,
Pn (D) = (D − r1 )n1 (D − r2 )n2 · · · (D − rk )nk
dengan ri 6= rj untuk setiap i = 6 j dan i, j ∈ {1, 2, · · · , k} dan
ri ≥ 1 untuk setiap i = 1, 2, · · · , k, ki=1 ni = n, maka
P
Pn (D) = span{xer1 x , x2 er1 x , · · · , xn1 −1 er1 x ; · · · ; xerk x , x2 erk x ,
· · · , xnk −1 erk x }
3. Jika Pn (D) adalah perkalian k faktor-faktor kuadratik berbeda,
dan dalam kasus ini n = 2k,
Pn (D) = (D − α1 )2 + β12 (D − α2 )2 + β22 · · · (D − αk )2 + βk2
dengan αi 6= αj , atau βi 6= βj untuk i 6= j, maka
kerPn (D) = span{eα1 x cos β1 x, eα1 x sin β1 x; · · · ; eαk x cos βk x,
eαk x sin βk x}
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 89
4. Jika Pn (D) adalah perkalian p faktor kuadratik berbeda yang ber-
ulang,
n n n
Pn (D) = (D−α1 )2 +β12 1 (D−α2 )2 +β22 2 · · · (D−αp )2 +βp2 p
dengan αi 6= αj , atau βi 6= βj untuk i 6= j, maka
kerPn (D) = span{eα1 x cos β1 x, eα1 x sin β1 x, xeα1 x cos β1 x,
xeα1 x sin β1 x, · · · , xn1 −1 eα1 x cos β1 x,
xn1 −1 eα1 x sin β1 x; · · · ; eαp x cos βp x,
eαp x sin βp x, xeαp x cos βp x, xeαp x sin βp x, · · · ,
xnp −1 eαp x cos βp x, xnp −1 eαp x sin βp x}
Contoh 5.9. Diberikan
P12 (D) = (D − 2)(D − 5)3 [(D + 3)2 + 4][(D − 7)2 + 16]4
maka
kerP12 (D) = span{e2x ; e5x , xe5x , x2 e5x ; e−3x cos 2x, e−3x sin 2x;
e7x cos 4x, e7x sin 4x, xe7x cos 4x, xe7x sin 4x,
x2 e7x cos4x, x2 e7x cos 4x, x2 e7x sin 4x,
x2 e7x cos4x, x3 e7x cos 4x, x3 e7x sin 4x}
= a0 e2x + b0 + b1 x + b2 x2 e5x
+(c1 cos 2x + c2 sin 2x)e−3x
+(d0 + d1 x + d2 x2 + d3 x3 )e7x cos 4x
+(e0 + e1 x + e2 x2 + e3 x3 )e7x sin 4x
dengan a0 , b0 , b1 , b2 , c1 , c2 , d0 , d1 , d2 , d3 , e0 , e1 , e2 , e3 konstanta-kontanta
real.
5.3 Invers Operator D
Invers operator D, ditulis D−1 , dapat didefinisikan sesuai dengan
Teorema Dasar Kalkulus. Karena
Z x Z x
d
f (x1 ) dx1 = D f (x1 ) dx1 = f (x)
dx x0 x0
90 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
dengan f (x) fungsi kontinu pada selang terbatas [a, b] dan x0 ∈ [a, b],
maka invers operator D pada fungsi kontinu f (x) dapat didefinisikan
dalam integral tentu berikut:
Z x
−1
D f (x) = f (x1 ) dx1 .
x0
Lebih jauh, dapat dengan mudah didefinisikan invers operator D orde
tinggi pada fungsi kontinu f (x) pada selang terbatas:
D−2 f (x) = (D−1 )2 f (x) = D−1 [D−1 f (x)]
Z x Z x1
= f (x2 ) dx2 dx1
x0 x0
Z x Z x1 Z x2
−3 −1 3
D f (x) = (D ) f (x) = f (x3 ) dx3 dx2 dx1
x0 x0 x0
..
.
D−n f (x) = (D−1 )n f (x)
Z x Z x1 Z xn−1
= ··· f (xn ) dxn · · · dx2 dx1
x0 x0 x0
Untuk lebih jelasnya, diberikan contoh-contoh berikut:
1.
Z x
1
D−1 cos 3x = cos 3x dx1 = (sin 3x − sin 3x0 )
x0 3
1 1
= sin 3x + c = sin 3x + kerD
3 3
2.
Z x Z x1
D−2 x = x2 dx2 dx1
Zx0x x0
1 2 1 1 1
= (x1 − x20 ) dx1 = x3 − x20 x + x30
x0 2 6 2 3
1 3 1
= x + c1 x + c2 = x3 + kerD2 .
6 6
Dengan menggunakan representasi deret Taylor (5.6) pada fung-
si operator D, aturan perkalian polinomial operator D, dan definisi-
definisi invers operator D−k pada fungsi kontinu, dapat didefinisikan
invers operator polinomial Pn (D) sebagai berikut:
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 91
Definisi 5.10. Diberikan
Pn (D)f (x) = an Dn + an−1 Dn−1 + · · · + a1 D + a0 f (x) = g(x)
dengan f (x) dan g(x) keduanya fungsi-fungsi terdiferensialkan.
1. Jika a0 6= 0, maka
1
f (x) = [Pn (D)]−1 g(x) = g(x)
Pn (D)
1
= n n−1
g(x)
an D + an−1 D + · · · + a1 D + a0
∞
X 1 an n a 1 p
= (−1)p D + · · · + D g(x).
a0 a0 a0
p=0
2. Jika a0 = a1 = · · · = ak−1 = 0 untuk 1 ≤ k ≤ n dan ak 6= 0,
maka
1
f (x) = [Pn (D)]−1 g(x) = g(x)
Pn (D)
1
= g(x)
an Dn + an−1 Dn−1 + · · · + ak Dk
1
= D−k g(x)
an Dn−k + an−1 Dn−k−1 + · · · + ak
Akibat dari definisi [Pn (D)]−1 dan aturan perkalian, memenuhi sifat
berikut:
Akibat 5.11. Jika Pn (D) dan Qm (D) keduanya polinom masing-
masing berderajat n dan m, maka
1 1
f (x) = f (x)
Pn (D)Qm (D) Qm (D)Pn (D)
1 1
= f (x)
Pn (D) Qm (D)
1 1
= f (x)
Qm (D) Pn (D)
dengan f (x) fungsi terdiferensialkan pada suatu selang.
92 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
Akibat 5.12. Jika Pn (D) dan Qm (D) keduanya polinom masing-
masing berderajat n dan m, maka
1 1
f (x) = Qm (D)f (x)
Pn (D) Pn (D)Qm (D)
1
= Qm (D) f (x)
Pn (D)Qm (D)
dengan f (x) fungsi terdiferensialkan pada suatu selang.
5.4 Penyelesaian Persamaan Diferensial
Linear Nonhomogen dengan Koefisien Kon-
stan
Bentuk umum persamaan diferensial linear orde n nonhomogen
dengan koefisien-koefisien konstan sebagai berikut:
dn y dn−1 y dy
an + an−1 + · · · + a1 + a0 y = g(x) (5.7)
dxn dxn−1 dx
dengan a0 , a1 , · · · , an konstanta-konstanta, an 6= 0, dan g(x) 6= 0.
Bentuk persamaan (5.7) dalam ekspresi operator D adalah
an Dn + an−1 Dn−1 + · · · + a1 D + a0 y = g(x)
(5.8)
Penyelesaian partikular persamaan (5.7) adalah
1
yp (x) = g(x). (5.9)
Pn (D)
Untuk mendapat penyelesaian persamaan partikular dari persamaan
diferensial biasa nonhomogen dengan koefisien-koefisien konstan, akan
dibahas dalam beberapa kasus untuk fungsi g(x).
1. Kasus g(x) fungsi eksponensial
Untuk mendapatkan penyelesaian kasus g(x) fungsi eksponensial,
misal g(x) = Aeax , diberikan dalam teorema berikut.
Teorema 5.13. Diberikan persamaan diferensial
Pn (D)y = Aeax (5.10)
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 93
(i). jika Pn (a) 6= 0, penyelesaian partikular (5.10) adalah
1 1
yp (x) = Aeax = Aeax
Pn (D) Pn (a)
(ii). jika Pn (a) = 0, yakni Pn (D) = (D−a)k Pn−k (D), 1 ≤ k ≤ n,
penyelesaian partikular (5.10) adalah
A xk
yp (x) = + kerDk eax
Pn−k (a) k!
Bukti. Sesuai dengan aturan substitusi nilai karakteristik, dipe-
roleh
Pn (D)eax = APn (a)eax . (5.11)
(i). Karena Pn (a) 6= 0, persamaan (5.11) dibagi dengan Pn (a),
diperoleh
1 Aeax
Pn (D)Aeax = Pn (D) = Aeax .
Pn (a) Pn (a)
Dengan membandingkan persamaan diferensial (5.10), ini me-
nunjukkan bahwa
Aeax
yp (x) = .
Pn (a)
(ii). Karena Pn (a) = 0, polinomial Pn (D) dapat ditulis dalam
bentuk
Pn (D) = Pn−k (D)(D − a)k , Pn−k (a) 6= 0,
sehingga diperoleh bentuk
Pn (D)y = (D − a)k Pn−k (D)y = Aeax .
Karena
h 1 i
(D − a)k Pn−k (D) xk + kerDk eax (5.12)
k!
k ax 1 k
h i
= Pn−k (D − a) e x + kerDk
k!
1
= Pn−k (a)eax Dk [ xk + kerDk
k!
= Pn−k (a)eax (5.13)
94 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
oleh karena itu diperoleh
A xk
yp (x) = + kerDk eax
Pn−k (a) k!
Bukti telah selesai.
Berikut diberikan dua contoh dalam mendapatkan penyelesaian
partikular menggunakan Teorema 5.13.
Contoh 5.14. Tentukan penyelesaian partikular dari persamaan
3y 00 − 2y 0 + 8y = 5e3x
Penyelesaian:
Dengan menggunakan Teorema 5.13 (i), diperoleh
1 5e3x 5
yp (x) = 5e3x = = e3x
3D2 − 2D + 8 2
3·3 −2·3+8 29
Contoh 5.15. Tentukan penyelesaian partikular dari persamaan
(D − 1)(D + 5)(D − 2)3 y = 3ex
Penyelesaian:
Dengan menggunakan Teorema 5.13 (ii), diperoleh
1
yp (x) = 3ex
(D − 1)(D + 5)(D − 2)3
x 3ex
=
1! (1 + 5)(1 − 2)3
3e2x 1
= x = − xex
−6 2
Contoh 5.16. Tentukan penyelesaian partikular dari persamaan
(D − 1)(D + 5)(D − 2)3 y = 3e2x
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 95
Penyelesaian:
Dengan menggunakan Teorema 5.13 (ii), diperoleh
1
yp (x) = 3e2x
(D − 1)(D + 5)(D − 2)3
x3 3e2x
=
3! (2 − 1)(2 + 5)
1 3 2x
= x e
14
Teorema Input Eksponensial berikut merupakan akibat dari Te-
orema 5.13.
Akibat 5.17. Teorema Input Eksponensial Diberikan Pn (D)
polinomial berderajat n. Penyelesaian partikular persamaan di-
ferensial (5.10) adalah
ax
e
Pn (a) , Pn (a) 6= 0
ax
xe
, Pn (a) = 0 asalkan Pn0 (a) 6= 0
P 0 (a)
n
2 ax
Pxn ”(a)
e
, Pn (a) = Pn0 (a) = 0 asalkan Pn ”(a) 6= 0
yp (x) = ..
.
xk eax (k−1)
, Pn (a) = Pn0 (a) = · · · = Pn
(k) (a) = 0,
Pn (a)
(k)
Pn (a) 6= 0
Contoh 5.18. Tentukan penyelesaian partikular dari persamaan
(D − 2)(D − 4)3 y = 5e4x
Penyelesaian:
Karena
P 0 (D) = (D − 4)2 (4D − 10),
P ”(D) = (D − 4)(12D − 36),
P 000 (D) = 12(2D − 7)
P (4) = P 0 (4) = P 00 (4) = 0, P 000 (4) = 12 6= 0
sehingga penyelesaian partikularnya adalah
5x3 e4x 5
yp (x) = 000
= x3 e4x
P (4) 12
96 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
2. Kasus g(x) fungsi polinomial
Untuk menentukan penyelesaian partikular kasus g(x) fungsi po-
linomial, yakni g(x) = Pk (x), diberikan dalam dua contoh beri-
kut
Contoh 5.19. Tentukan penyelesaian partikular persamaan
y 000 − 5y 00 + 3y 0 + 2y = 2x3 + 4x2 − 6x + 5.
Penyelesaian:
Bentuk operator D persamaan di atas adalah
(D3 − 5D2 + 3D + 2)y = 2x3 + 4x2 − 6x + 5
dengan penyelesaian partikularnya adalah
1
yp (x) = (2x3 + 4x2 − 6x + 5)
D3 − 5D2 + 3D + 2
1h 1 i
= (2x3 + 4x2 − 6x + 5)
2 1 + (D3 − 5D2 + 3D)/2
1h 1 1 1 i
= 1 − (D3 − 5D2 + 3D) + (−5D2 + 3D)2 − (3D)3
2 2 4 8
3 2
(2x + 4x − 6x + 5)
1h 3 19 91 i
= 1 − D + D2 − D3 (2x3 + 4x2 − 6x + 5)
2 2 4 8
3 5 2 39 169
= x − x + x− .
2 2 4
Catatan: Pada proses penyelesaian di atas muncul suku 14 (−5D2 +
3D)2 yang sebenarnya adalah 14 (D3 − 5D2 + 3D)2 , hal ini dikare-
nakan (D3 )2 (2x3 + 4x2 − 6x + 5) = 0. Begitu juga muncul suku
− 81 (3D)3 .
Contoh 5.20. Tentukan penyelesaian partikular persamaan
y 000 − 3y 00 + 2y 0 = x3 − 2x2
Penyelesaian:
Bentuk operator D persamaan di atas adalah
(D3 − 3D2 + 2D)y = x3 − 2x2
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 97
dengan penyelesaian partikularnya adalah
1
yp (x) = (x3 − 2x2 )
D3 − 3D2 + 2D
1
= (x3 − 2x2 )
D(1 − D)(2 − D)
1
= (1 + D + D2 + D3 )(x3 − 2x2 )
D(2 − D)
1 h1 1 1 1 i
= 1 + D + D2 + D3 (x3 + x2 + 2x + 2)
D 2 2 4 8
1 −1 3 5 2 9 17
= D x + x + x+
2 2 2 4
1 4 5 3 9 2 17
= x + x + x + x.
8 12 8 8
3. Kasus g(x) fungsi sinus atau cosinus
Untuk g(x) = A sin bx atau g(x) = A cos bx, penyelesaiannya
telah diberikan dalam persamaan (5.9) seperti kasus sebelumnya,
yakni
1
yp (x) = (A cos bx + B sin bx)
Pn (D)
Terdapat dua kasus:
(a) Pn (D) sin bx 6= 0 dan Pn (D) cos bx 6= 0
Dalam kasus ini, dibuat penyebut (denominator) menjadi
fungsi dari D2 lalu diterapkan aturan substitusi nilai ka-
rakteristik. Untuk jelasnya diberikan contoh berikut.
Contoh 5.21. Tentukan penyelesaian partikular persama-
an
2y 000 + y 00 − 5y 0 + 3y = 3 sin 2x
Penyelesaian:
98 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
Penyelesaian partikularnya adalah
1
yp (x) = (3 sin 2x)
2D3 + D2 − 5D + 3
(2D3 − 5D) − (D2 + 3)
= (3 sin 2x)
(2D3 − 5D)2 − (D2 + 3)2
2D3 − D2 − 5D − 3
= (3 sin 2x)
D2 (2D2 − 5)2 − (D2 + 3)2
3
=
(−4)[2 · (−4) − 5]2 − (−4 + 3)2
(2D3 − D2 − 5D − 3) sin 2x
3
= (26 cos 2x − sin 2x)
677
atau
1
yp (x) = (3 sin 2x)
2D3 + D2 − 5D + 3
1
= 3 sin 2x
2(−2 )D − 22 − 5D + 3
2
−3
= sin 2x
13D + 1
−3 13D − 1
= sin 2x
13D + 1 13D − 1
1
= −3(13D − 1) (sin 2x)
(169D2 − 1)
−3
= (13D − 1) sin 2x
(169(−22 ) − 1)
3
= (26 cos 2x − sin 2x)
677
(b) Pn (D) sin bx = 0 dan Pn (D) cos bx = 0
Dalam kasus ini, (D2 + b2 ) sin bx = 0 dan (D2 + b2 ) cos bx =
0, Pn (D) mengambil bentuk
Pn (D) = Pn−2k (D)(D2 + b2 )k , k≥1
Untuk menentukan penyelesaian partikular kasus ini, di-
awali dengan teorema berikut.
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 99
Teorema 5.22. Bahwasannya berlaku
1 (−1)p
cos bx = x2p cos bx,
(D + b2 )2p
2 (2p)!(2b)2p
1 (−1)p
sin bx = x2p sin bx, p = 1, 2, · · ·
(D2 + b2 )2p (2p)!(2b)2p
1 (−1)p
cos bx = x2p+1 sin bx,
(D + b2 )2p+1
2 (2p + 1)!(2b)2p+1
1 (−1)p+1
sin bx = x2p+1 cos bx,
(D2 + b2 )2p+1 (2p + 1)!(2b)2p+1
p = 1, 2, · · ·
Bukti. Dengan menerapkan aturan perkalian eksponensial,
diperoleh
k
(D2 + b2 )k (xk eibx ) = eibx (D + ib)2 + b2 xk
= eibx (D + 2ib)k Dk xk
= eibx ik (2b)k k!
Dengan menggunakan rumus Euler, yakni eix = cos x +
i sin x, untuk k = 2p, p = 1, 2, · · · , diperoleh
(D2 + b2 )2p (x2p cos bx + ix2p sin bx) = (2p)!(2b)2p (−1)p
(cos bx + i sin bx)
Dengan menyesuaikan bagian real dan imaginer, diperoleh
(D2 + b2 )2p (x2p cos bx) = (2p)!(2b)2p (−1)p cos bx,
(D2 + b2 )2p (x2p sin bx) = (2p)!(2b)2p (−1)p sin bx
dan diperoleh hasil yang diinginkan.
Dengan cara serupa, untuk k = 2p + 1, p = 0, 1, 2, · · · , di-
peroleh
(D2 + b2 )2p+1 (x2p1 cos bx + ix2p sin bx) =
(2p + 1)!(2b)2p (−1)p (i cos bx − sin bx)
Dengan mengambil bagian real dan imajiner, diperoleh ha-
sil yang diinginkan.
100 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
Selanjutnya, untuk menentukan penyelesaian partikular ka-
sus Pn (D) = 0 sebagai berikut:
1
yp (x) = (A cos bx + B sin bx)
Pn−2k (D)(D2 + b2 )k
1 h 1 i
= (A cos bx + B sin bx)
(D2 + b2 )k Pn−2k (D)
Bukti telah selesai.
Contoh 5.23. Tentukan penyelesaian partikular persama-
an
(D − 1)2 (D − 2)(D2 + 4)2 y = 4 sin 2x
Penyelesaian:
Penyelesaian partikularnya adalah
1
yp (x) = 4 sin 2x
(D − 1)2 (D
− 2)(D2 + 4)2
4 h 1 i
= sin 2x)
(D2 + 4)2 (D − 1)2 (D − 2)
4 h (D + 1)2 (D + 2) i
= sin 2x
(D2 + 4)2 (D2 − 1)2 (D2 − 4)
1 1
= − (D3 + 4D2 + 5D + 2) sin 2x
50 (D + 4)2
2
1 1
= − (2 cos 2x − 14 sin 2x)
50 (D + 4)2
2
1 2
= x (cos 2x − 7 sin 2x)
800
Cara lain untuk menyelesaikan kasus g(x) = A cos bx +
B sin bx adalah pertama dengan menggunakan rumus Eu-
ler untuk menyatakan cos bx dan sin bx dalam suku-suku
eksponensial kompleks,
1 1 ibx
cos bx = (eibx + e−ibx ), sin bx = (e − e−ibx )
2 2i
atau
cos bx = Re{eibx }, sin bx = Im{eibx }.
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 101
Selanjutnya menentukan penyelesaian partikular dalam ca-
ra yang sama seperti halnya g(x) merupakan fungsi ekspo-
nensial kompleks. Sebagai contoh, penyelesaian partikular
persamaan dalam Contoh 5.21 adalah
1
yp (x) = (3 sin 2x)
2D3 +D2 − 5D + 3
1 h3
2ix −2ix
i
= (e − e )
2D3 + D2 − 5D + 3 2i
3 h 2ix 1 i
= e 1
2i 2(D + 2i)3 + (D + 2i)2 − 5(D + 2i) + 3
h 1 i
−e−2ix 1
2(D − 2i)3 + (D − 2i)2 − 5(D − 2i) + 3
3 h 22ix 2−2ix i
= −
2i −1 − 26i −1 + 26i
3 1
= [(−1 + 26i)(cos 2x + i sin 2x)
2i 677
−(−1 − 26i)(cos 2x − i sin 2x)]
3
= (26 cos 2x − sin 2x)
677
4. Kasus g(x) perkalian fungsi eksponensial dan polinomial
Untuk kasus g(x) merupakan perkalian fungsi eksponensial dan
fungsi polinomial, misalkan g(x) = Pm (x)eax , penyelesaian par-
tikurnya adalah
1 1
yp (x) = Pm (x)eax = eax Pm (x)
Pn (D) Pn (D + a)
Contoh 5.24. Tentukan penyelesaian partikular persamaan
(D − 3)2 y = xe2x
102 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
Penyelesaian:
Penyelesaian partikularnya adalah
1
yp (x) = xe2x
(D − 3)2
1
= e2x x
((D + 2) − 3)2
1
= e2x x
(D − 1)2
1
= e2x 2 x
(D − 2D + 1)
= e2x [1 − (D2 − 2D)]x
= e2x (x + 2)
Contoh 5.25. Tentukan penyelesaian partikular persamaan
(D − 3)2 (D2 − 2D + 5)(D + 2)y = (x2 − 3x + 1)e2x
Penyelesaian:
Penyelesaian partikularnya adalah
1
yp (x) = (x2 − 3x + 1)e2x
(D − 3)2 (D2 − 2D + 5)(D + 2)
1
= e2x
((D + 2) − 3) ((D + 2)2 − 2(D + 2) + 5)
2
1
(x2 − 3x + 1)
((D + 2) + 2)
1
= e2x 5 (x2 − 3x + 1)
D + 4D4 + 2D3 − 27D + 20
1
= e2x (x2 − 3x + 1)
20 − 27D
1h 27 27 2 2 i 2
= e2x 1+ D+ D (x − 3x + 1)
20 20 20
1 2
h 3 119 2x
i
= x − x+ e .
20 10 200
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 103
5. Kasus g(x) perkalian fungsi polinomial dan fungsi sinus
atau cosinus
Untuk kasus g(x) merupakan perkalian fungsi polinomial dan
fungsi sinus atau cosinus, misalkan g(x) = Pm (x)(A cos bx +
B sin bx). Untuk menentukan penyelesaian partikularnya, perta-
ma nyatakan fungsi sinus atau cosinus dalam bentuk eksponensi-
al kompleks, selanjutnya gunakan metode dalam kasus perkalian
fungsi eksponensial dan fungsi polinomial:
1
yp (x) = Pm (x)(A cos bx + B sin bx)
Pn (D)
1 1
= (A − iB)eibx Pm (x)
2 Pn (D + ib)
1 1
+ (A + iB)e−ibx Pm (x)
2 Pn (D − ib)
Contoh 5.26. Tentukan penyelesaian partikular persamaan
y 00 − 4y = (x2 − 3) sin 2x
Penyelesaian:
Penyelesaian partikularnya adalah
1
yp (x) = (x2 − 3) sin 2x
(D2 − 4)
n 1 2 i2x
o
= Im (x − 3)e
(D2 − 4)
n1h 1 1 i o
−2ix
= Im e2ix − e (x 2
− 3)
2i (D + 2i)2 − 4 (D − 2i)2 − 4
n i h 1 1 1 1 i
= Im e2ix 1 + iD − D2 − e−2ix 1 − iD − D2
16 o 2 8 2 8
(x2 − 3)
1 2
= − (4x − 13) sin 2x + 4x cos 2x .
32
6. Kasus g(x) perkalian fungsi eksponensial dan fungsi si-
nus atau cosinus
Untuk kasus g(x) merupakan perkalian fungsi eksponensial dan
fungsi sinus atau cosinus, misalkan g(x) = eax (A cos bx+B sin bx),
104 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
untuk menentukan penyelesaian partikurnya paling mudah ada-
lah menyatakan fungsi sinus atau cosinus dalam bentuk ekspo-
nensial kompleks. Di sini ada dua kemungkinan
(a) Jika Pn (a ± ib) 6= 0, maka dapat diterapkan secara langsung
aturan substitusi nilai karakteristik untuk mendapatkan pe-
nyelesaian partikular:
1
yp (x) = eax (A cos bx + B sin bx)
Pn (D)
1 A − iB (a+ib)x 1 A + iB (a−ib)x
= e + e
2 Pn (a + ib) 2 Pn (a − ib)
Contoh 5.27. Tentukan penyelesaian partikular persama-
an
y 00 − 2y 0 + 2y = e2x (2 cos x − 6 sin x)
Penyelesaian:
Penyelesaian partikularnya adalah
1 2x
yp (x) = e (2 cos x − 6 sin x
D2
− 2D + 2
1
(1 + 3i)e(2+i)x + (1 − 3i)(2−i)x
= 2
D − 2D + 2
e(2+i)x
= (1 + 3i)
(2 + i)2 − 2(2 + i) + 2
e(2−i)x
+(1 − 3i)
(2 − i)2 − 2(2 − i) + 2
2 2x
= e (7 cos x − sin x)
5
(b) Jika Pn (a±ib) = 0, maka dapat diterapkan aturan perkalian
eksponensial dan menggunakan definisi invers operator D.
Contoh 5.28. Tentukan penyelesaian partikular persama-
an
(D − 1)(D2 − 6D + 13)y = 4e3x cos 2x
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 105
Penyelesaian: penyelesaian partikularnya adalah
yp (x) = (D − 1)(D2 − 6D + 13)4e3x cos 2x
1 h
(3+2i)x (3−2i)x
i
= 2 e + e
(D − 3)2 + 4 (D − 1)
1 h 2
(3+2i)x
i
= e
(D − 3)2 + 4 2 + 2i
1 h 2
(3−2i)x
i
+ e
(D − 3)2 + 4 2 − 2i
1 1
= (1 − i)e(3+2i)x 1
2 D(D + 4i)
1 1
+ (1 + i)e(3−2i)x 1
2 D(D − 4i)
1 3x
= xe (1 − i)(cos 2x + i sin 2x)
8i
1
− xe3x (1 + i)(cos 2x + i sin 2x)
8i
1 3x
= xe (sin 2x − cos 2x)
4
Cara lain lebih sederhana dengan menggunakan cara sebe-
lumnya adalah
1
yp (x) = 4e3x cos 2x
(D − 1)(D2 − 6D + 13)
1
= 4e3x cos 2x
(D + 2)(D2 + 4)
1 h D−2 i
= 4e3x 2 cos 2x
D + 4 D2 − 4
1
= e3x 2 (sin 2x + cos 2x)
D +4
1 3x
= xe (sin 2x − cos 2x)
4
7. Kasus g(x) perkalian fungsi polinomial, eksponensial, dan
sinus atau cosinus
Pandang kasus umum g(x) = Pm (x)eax (A cos bx+B sin bx). Me-
tode untuk mendapatkan penyelesaian partikular sama seper-
ti sebelumnya yakni g(x) perkalian dari fungsi polinomial dan
106 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
fungsi eksponensial:
1
yp (x) = Pm (x)eax (A cos bx + B sin bx)
Pn (D)
1 1
= (A − iB)ea+ib Pm (x)
2 Pn (D + a + ib)
1 1
+ (A + iB)ea−ib Pm (x)
2 Pn (D + a − ib)
Contoh 5.29. Tentukan penyelesaian partikular persamaan
y 00 − 5y 0 + 6y = ex cos 2x + e2x (3x + 4) cos x.
Penyelesaian:
Penyelesaian partikularnya adalah
1 x
e cos 2x + e2x (3x + 4) cos x
yp (x) =
D2− 5D + 6
= y1 (x) + y2 (x)
dengan
1
y1 (x) = ex cos 2x
D2 − 5D + 6
1
= ex cos 2x
(D − 2)(D − 3)
1
= ex cos 2x
(D − 1)(D − 2)
(D + 1)(D + 2)
= ex 2 cos 2x
(D − 1)(D2 − 4)
1 x
= e (D + 1)(D + 2) cos 2x
40
1
= − ex (cos 2x + 3 sin 2x)
20
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 107
dan
1
y2 (x) = (3x + 4)e2x cos x
D2 − 5D + 6
1 1
= (3x + 4)(e(2+i)x + e(2−i)x )
2 (D − 2)(D − 3)
1 (2+i)x 1
= e (3x + 4)
2 (D + i)(D − 1 + i)
1 1
+ e(2−i)x (3x + 4)
2 (D − i)(D − 1 − i)
1 (2+i)x 1
= e (3x + 4 + 3i)
2i D−1+i
1 1
− e(2−i)x (3x + 4 − 3i)
2i D−1−i
1 h i
= − e2x (3x + 10) cos x + (3x + 1) sin x
2
5.5 Rangkuman
1. Diberikan Pn (D) polinomial operator D.
(a) Jika Pn (D) adalah perkalian n faktor-faktor linear berbeda,
yakni
Pn (D) = (D − r1 )(D − r2 ) · · · (D − rn )
dengan ri 6= rj untuk setiap i 6= j dan i, j ∈ {1, 2, · · · , n},
maka
Pn (D) = span{er1 x , er2 x , · · · , ern x }
nX n o
= ci eri x c1 , c2 , · · · , cn konstanta-konstanta
i=1
(b) Jika Pn (D) adalah perkalian k faktor-faktor linear berulang
yang berbeda,
Pn (D) = (D − r1 )n1 (D − r2 )n2 · · · (D − rk )nk
dengan ri 6= rj untuk setiap i 6= j dan i, j ∈ {1, 2, · · · , k}
dan ri ≥ 1 untuk setiap i = 1, 2, · · · , k, ki=1 ni = n, maka
P
Pn (D) = span{xer1 x , x2 er1 x , · · · , xn1 −1 er1 x ; · · · ; xerk x ,
x2 erk x , · · · , xnk −1 erk x }
108 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
(c) Jika Pn (D) adalah perkalian k faktor-faktor kuadratik ber-
beda, dan dalam kasus ini n = 2k,
Pn (D) = (D−α1 )2 +β12 (D−α2 )2 +β22 · · · (D−αk )2 +βk2
dengan αi 6= αj , atau βi 6= βj untuk i 6= j, maka
kerPn (D) = span{eα1 x cos β1 x, eα1 x sin β1 x; · · · ;
eαk x cos βk x, eαk x sin βk x}
(d) Jika Pn (D) adalah perkalian p faktor kuadratik berbeda
yang berulang,
n n n
Pn (D) = (D−α1 )2 +β12 1 (D−α2 )2 +β22 2 · · · (D−αp )2 +βp2 p
dengan αi 6= αj , atau βi 6= βj untuk i 6= j, maka
kerPn (D) = span{eα1 x cos β1 x, eα1 x sin β1 x, xeα1 x cos β1 x,
xeα1 x sin β1 x, · · · , xn1 −1 eα1 x cos β1 x,
xn1 −1 eα1 x sin β1 x; · · · ; eαp x cos βp x,
eαp x sin βp x, xeαp x cos βp x, xeαp x sin βp x, · · · ,
xnp −1 eαp x cos βp x, xnp −1 eαp x sin βp x}
2. Diberikan persamaan diferensial
Pn (D)y = Aeax (5.14)
(i). jika Pn (a) 6= 0, penyelesaian partikularnya adalah
1 1
yp (x) = Aeax = Aeax
Pn (D) Pn (a)
(ii). jika Pn (a) = 0, yakni Pn (D) = (D−a)k Pn−k (D), 1 ≤ k ≤ n,
penyelesaian partikularnya adalah
A xk
yp (x) = + kerDk eax
Pn−k (a) k!
Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D 109
5.6 Bahan Diskusi
Diskusikan bersama teman-temanmu masalah-masalah berikut
1. Buktikan sifat linear operator diferensial D.
2. Bagaimana operator D menyelesaian bentuk
1
eax
F (D)
jika F (a) = 0.
5.7 Rujukan/Daftar Pustaka
1. Boyce, W.E., R.C. DiPrima, dan D.B. Meade, 2017, Elemen-
tary Differential Equations and Boundary Value Problems, 11th
edition, John Wiley & Sons
2. Chen, Wenfeng, 2018, Differential Operator Method of Finding
A Particular Solution to An Ordinary Nonhomogeneous Line-
ar Differential Equation with Constant Coefficients, New York:
SUNY Polytechnic Institute, Utica
5.8 Soal-soal Latihan
1. Tentukan penyelesaian partikular persamaan-persamaan diferen-
sial berikut dengan menggunakan operator D:
(a) y 000 − y 00 − y + y = 2e−x
(b) y iv + 4y 000 + 3y = x
(c) y 000 − y 0 = 2 sin x
(d) y 000 − 2y 00 + y 0 = x3 + 2ex
(e) y iv + 4y 00 = sin 2x + xex + 4
(f) y iv + 2y 000 + 2y 00 = 3ex + 2xe−x + e−x sin x
(g) y (5) − y 0 = xe−x sin x
2. Selesaikan masalah-masalah nilai awal berikut dengan bantuan
operator D:
110 Bab 5. Penyelesaian Persamaan Diferensial dengan Operator D
(a) y 000 + 4y 0 = x, y(0) = 0, y 0 (0) = 0, y 00 (0) = 1
(b) y iv + 2y 00 + y = 3x + 4, y(0) = 0, y 0 (0) = 0, y 00 (0) =
1, y 000 (0) = 1
(c) y 000 −3y 00 +2y 0 = 2x+ex , y(0) = 1, y 0 (0) = 0, y 00 (0) = −2
Bab 6
Penyelesaian Masalah
Nilai Awal dengan
Transformasi Laplace
——————————————————————————–
Setelah membaca dan mempelajari bab ini, kemampuan akhir
yang diharapkan secara umum adalah mahasiswa mampu:
1. memahami pengertian transformasi Laplace;
2. mempunyai kemampuan bernalar dengan logis dan sistematis;
3. mempunyai kemampuan berkomunikasi melalui diskusi materi.
Sedangkan kemampuan akhir yang diharapkan secara khusus adalah
mahasiswa mampu:
1. memahami sifat-sifat transformasi Laplace;
2. memahami sifat-sifat transformasi Laplace invers;
3. menyelesaikan masalah nilai batas dengan menggunakan tran-
sformasi Laplace;
111
Bab 6. Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
112 Laplace
6.1 Transformasi Laplace
Definisi 6.1. Diberikan fungsi f (t) untuk t > 0. Transformasi La-
place dari f (t), ditulis L{f (t)}, didefinisikan sebagai
Z ∞
L{f (t)} = e−st f (t) dt = F (s)
0
jika integralnya ada.
Contoh 6.2. Tentukan transformasi Laplace dari f (t) = 1.
Penyelesaian:
Z ∞ Z P
−st
L{1} = e dt = lim e−st dt
0 P →∞ 0
1 P 1
= lim − e−st = , s>0
P →∞ s 0 s
Contoh 6.3. Tentukan transformasi Laplace dari f (t) = t.
Penyelesaian: Dengan mengikuti hasil pada Contoh 6.2, diperoleh
Z ∞ Z P
−st
L{t} = e t dt = lim e−st t dt
0 P →∞ 0
Z P
1h P i
= − lim te−st − lim e−st
s P →∞ 0 P →∞ 0
1 h 1 i 1
= − 0− = 2
s s s
Contoh 6.4. Tentukan transformasi Laplace dari f (t) = sin t.
Penyelesaian:
Z ∞ Z P
−st
L{sin t} = e sin t dt = lim −e−st d(cos t)
0 P →∞ 0
Z P
h P i
= − lim e−st cos t + s lim e−st cos t dt
P →∞ 0 P →∞ 0
h Z i P
= − (0 − 1) + s lim e−st cos t dt
P →∞ 0
Z P
h P i
−st
= 1 + s lim e sin t − s e−st sin t dt
P →∞ 0 0
= 1 + s[0 − sL{sin t}]
(1 + s2 )L{sin t} = 1
Bab 6. Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
Laplace 113
Dengan demikian, diperoleh
1
L{sin t} = .
s2 +1
Transformasi Laplace dari fungsi-fungsi khusus yang lainnya dapat
dilihat pada Tabel 6.1.
Tabel 6.1: Tabel Transformasi Laplace Fungsi-fungsi Khusus
No. f (t) F (s)
n!
1. tn , n = 0, 1, 2, · · · sn+1
1
2. eat s−a
a
3. sin at s2 +a2
s
4. cos at s2 +a2
a
5. sinh at s2 −a2
s
6. cosh at s2 −a2
2as
7. t sin at (s2 +a2 )2
s2 −a2
8. t cos at (s2 +a2 )2
Bab 6. Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
114 Laplace
6.2 Sifat-sifat Transformasi Laplace
1. Sifat Linear
Teorema 6.5. Jika L{f1 (t)} = F1 (s) dan L{f2 (t)} = F2 (s),
maka untuk sebarang α1 dan α2 bilangan-bilangan real berlaku
L{α1 f1 (t) + α2 f2 (t)} = α1 F1 (s) + α2 F2 (s).
Bukti.
Z ∞
e−st α1 f1 (t) + α2 f2 (t) dt
L{α1 f1 (t) + α2 f2 (t)} =
Z0 ∞
= e−st α1 f1 (t) dt
0
Z ∞
+ e−st α2 f2 (t) dt
Z0 ∞
= α1 e−st f1 (t) dt
0
Z ∞
+α2 e−st f2 (t) dt
0
= α1 F1 (s) + α2 F2 (s)
2. Sifat Translasi 1
Teorema 6.6. Jika L{f (t)} = F (s), maka
L{eat f (t)} = F (s − a)
Bukti.
Z ∞
at
L{e f (t)} = e−st eat f (t) dt
0
Z ∞
= e−(s−a)t f (t) dt = F (s − a)
0
Bab 6. Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
Laplace 115
3. Sifat Translasi 2
Teorema 6.7. Diberikan L{f (t)} = F (s). Jika didefinisikan
fungsi g pada R dengan
f (t − a) , t > a
g(t) =
0 ,t < a
maka
L{g(t)} = e−as F (s).
Bukti.
Z ∞
L{g(t)} = e−st g(t) dt
Z0 a Z ∞
= e−st g(t) dt + e−st g(t) dt
Z0 a Z a∞
= e−st · 0 dt + e−st f (t − a) dt
0 a
Z ∞
= e−st f (t − a) dt
a
Dengan mensubstitusi t = u + a, diperoleh
Z ∞
L{g(t)} = e−(u+a)s f (u) d(u + a)
0
Z ∞
−as
= e e−us f (u) du
0
= e−as F (s)
4. Sifat Pengubahan Skala
Teorema 6.8. Jika L{f (t)} = F (s), maka
1
L{f (at)} = F (s/a)
s
Bukti. Z ∞
L{f (at)} = e−st f (at) dt
0
Bab 6. Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
116 Laplace
Dengan menggunakan transformasi t = u/a, diperoleh
Z ∞
L{f (at)} = e−su/a f (u) d(u/a)
0
1 ∞ −su/a
Z
= e f (u) du
a 0
1
= F (s/a)
a
5. Transformasi Laplace dari Turunan
Teorema 6.9. Jika L{f (t)} = F (s), maka
L{f 0 (t)} = sF (s) − f (0)
Bukti.
Z ∞
0
L{f (t)} = e−st f 0 (t) dt
0
hZ P i
= lim e−st f 0 (t) dt
P →∞ 0
Z P
h P i
−st
= lim e f (t) + s e−st f (t) dt
P →∞ 0 0
h Z P i
−sP
= lim e f (P ) − f (0) + s e−st f (t) dt
P →∞ 0
Z ∞
= s e−st f (t) dt − f (0) = sF (s) − f (0).
0
Perluasan ke dalam turunan-turunan yang berorde lebih tinggi
dapat digunakan induksi matematika, sehingga diperoleh
L{f (n) (t)} = sn F (s) − sn−1 f (0) − sn−2 f 0 (0) − · · ·
−sf (n−2) (0) − f (n−1) (0)
asalkan f (t), f 0 (t), · · · , f (n−1) (t) kontinu untuk 0 ≤ t ≤ N dan
eksponensial berorde untuk t > N dan f (n) (t) kontinu sepotong-
sepotong untuk 0 ≤ t ≤ N .
Bab 6. Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
Laplace 117
6. Perkalian dengan tn
Teorema 6.10. Jika L{f (t)} = F (s), maka
dn
L{tn f (t)} = (−1)n F (s).
dsn
6.3 Transformasi Laplace Invers
Jika transformasi Laplace dari fungsi f (t) adalah F (s), yakni L{f (t)} =
F (s), maka f (t) disebut transformasi Laplace invers dari F (s)
yang dinotasikan dengan L−1 {F (s)} = f (t). Sebagai contoh
L−1 {1/s2 } = t
L−1 {1/(s − 2)} = e2t
sin 2t
L−1 {1/(s2 + 4)} =
2
dan sebagainya. Sedangkan untuk sifat-sifat operator L−1 diberikan
sebagai berikut.
1. Sifat Linear
Teorema 6.11. Jika L{f1 (t)} = F1 (s) dan L{f2 (t)} = F2 (s),
maka untuk sebarang α1 dan α2 bilangan-bilangan real berlaku
L−1 {α1 F1 (s) + α2 F2 (s)} = α1 L−1 {F1 (s)} + α2 L−1 {F2 (s)}
= α1 f1 (t) + α2 f2 (t).
2. Sifat Translasi 1
Teorema 6.12. Jika L−1 {F (s)} = f (t), maka
L−1 {F (s − a)} = eat f (t)
3. Sifat Translasi 2
Teorema 6.13. Jika L−1 {F (s)} = f (t), maka
f (t − a) , t > a
L−1 {e−as F (s)} =
0 ,t < a
Bab 6. Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
118 Laplace
4. Sifat Pengubahan Skala
Teorema 6.14. Jika L−1 {F (s)} = f (t), maka
1
L−1 {F (as)} = f (t/a)
a
5. Transformasi Laplace invers dari Turunan
Teorema 6.15. Jika L−1 {F (s)} = f (t), maka
L−1 {F (n) (s)} = (−1)n tn f (t)
6. Perkalian dengan s
Teorema 6.16. Jika L−1 {F (s)} = f (t), maka
L−1 {sF (s)} = f 0 (t), untuk f (0) = 0,
dan
L−1 {sF (s)} = f 0 (t) + f (0)δ(t), untuk f (0) 6= 0.
dengan δ(t) fungsi delta Dirac.
Agar lebih jelas cara mendapatkan transformasi Laplace invers, dibe-
rikan dua contoh berikut.
Contoh 6.17. Tentukan transformasi Laplace invers dari
1
F (s) =
s(s2 − 1)
Penyelesaian:
n 1 o n 1 1 1 1 1 o
L−1 = L −1
− + +
s(s2 − 1) s 2s−1 2s+1
n1o 1 n 1 o 1 n 1 o
= −L−1 + L−1 + L−1
s 2 s−1 2 s+1
1 t 1 −t
= −1 + e + e = cosh t − 1
2 2
Contoh 6.18. Tentukan transformasi Laplace invers dari
s+1
F (s) =
s2 + s + 1
Bab 6. Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
Laplace 119
Penyelesaian:
1 1 o
s+1 o −1 (s + 2 ) + 2
n n
L−1 = L
s2 + s + 1 (s + 12 )2 + 43
√
1 3
n s + o 1 n o
= L−1 2
+ √ L−1 2
(s + 12 )2 + 43 3 (s + 12 )2 + 43
√ √
3t 1 3t
= e−t/2 cos + √ e−t/2 sin
2 3 2
6.4 Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan
Transformasi Laplace
Berikut beberapa contoh penyelesaian masalah nilai awal, pertama
kasus persamaan diferensialnya berbentuk persamaan diferensial linear
dengan koefisien-koefisien konstan.
Contoh 6.19. Diberikan fungsi y = y(t). Selesaikan persamaan dife-
rensial berikut
y 00 (t) + y(t) = t
yang memenuhi y(0) = 1 dan y 0 (0) = −2.
Penyelesaian: Dengan mengambil transformasi Laplace kedua persa-
maan
L{y 00 (t) + y(t)} = L{t}
1
s2 Y (s) − sy(0) − y 0 (0) + Y (s) = 2
s
2 1
s Y (s) − s + 2 + Y (s) = 2
s
Dengan demikian, diperoleh
1 s−2 1 s 3
Y (s) = L{y(t)} = + = 2+ 2 − 2
s2 (s2 + 1) 2
s +1 s s +1 s +1
Dengan mengambil transformasi Laplace invers persamaan terakhir di
atas, diperoleh penyelesaian
n1 s 3 o
y(t) = L−1 {Y (s)} = L−1 2 + 2 − 2
s s +1 s +1
= t + cos t − 3 sin t.
Bab 6. Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
120 Laplace
Selanjutnya, contoh penyelesaian masalah nilai awal dengan kasus per-
samaan diferensialnya berbentuk persamaan diferensial linear dengan
koefisien peubah.
Contoh 6.20. Selesaikan persamaan diferensial berikut
ty 00 (t) + y 0 (t) + 4ty(t) = 0
yang memenuhi y(0) = 3 dan y 0 (0) = 0.
Penyelesaian: Dengan mengambil transformasi Laplace kedua persa-
maan
L{ty 00 (t) + y 0 (t) + 4ty(t)} = L{0}
d d
− {s2 Y (s) − sy(0) − y 0 (0)} + sY (s) − y(0) − Y (s) = 0
ds ds
2 dY
(s + 4) + sY = 0
ds
Dengan demikian, diperoleh
dY s ds
+ 2 = 0.
Y s +4
dengan penyelesaian
C
Y (s) = √
+4s2
dengan C suatu konstanta. Dengan mengambil transformasi Laplace
invers persamaan terakhir di atas, diperoleh
y(t) = CJ0 (2t)
dengan Jn (t) adalah fungsi Bessel berorde n yang didefinisikan
xn x2 x4
Jn (x) = 1 − + + · · ·
2n Γ(n + 1) 2(2n + 2) 2 · 4(2n + 2)(2n + 4)
Untuk menentukan nilai C, diperhatikan bahwa
y(0) = CJ0 (0) = C = 3.
Jadi diperoleh penyelesaian akhir
y(t) = 3J0 (2t)
Bab 6. Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
Laplace 121
6.5 Rangkuman
1. Diberikan fungsi f (t) untuk t > 0. Transformasi Laplace dari
f (t), ditulis L{f (t)}, didefinisikan sebagai
Z ∞
L{f (t)} = e−st f (t) dt = F (s)
0
jika integralnya ada.
2. Sifat-sifat transformasi Laplace
(a) Linear. Jika L{f1 (t)} = F1 (s) dan L{f2 (t)} = F2 (s), maka
untuk sebarang α1 dan α2 bilangan-bilangan real berlaku
L{α1 f1 (t) + α2 f2 (t)} = α1 F1 (s) + α2 F2 (s).
(b) Translasi 1. Jika L{f (t)} = F (s), maka
L{eat f (t)} = F (s − a)
(c) Translasi 2. Diberikan L{f (t)} = F (s). Jika didefinisikan
fungsi g pada R dengan
f (t − a) , t > a
g(t) =
0 ,t < a
maka
L{g(t)} = e−as F (s).
(d) Pengubahan skala. Jika L{f (t)} = F (s), maka
1
L{f (at)} = F (s/a)
s
(e) Transformasi Laplace turunan. Jika L{f (t)} = F (s), maka
L{f (n) (t)} = sn F (s) − sn−1 f (0) − sn−2 f 0 (0) − · · ·
−sf (n−2) (0) − f (n−1) (0)
3. Sifat-sifat operator invers transformasi Laplace, L−1 , sebagai
berikut.
Bab 6. Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
122 Laplace
(a) Linear. Jika L{f1 (t)} = F1 (s) dan L{f2 (t)} = F2 (s), maka
untuk sebarang α1 dan α2 bilangan-bilangan real berlaku
L−1 {α1 F1 (s) + α2 F2 (s)} = α1 L−1 {F1 (s)} + α2 L−1 {F2 (s)}
= α1 f1 (t) + α2 f2 (t).
(b) Translasi 1. Jika L−1 {F (s)} = f (t), maka
L−1 {F (s − a)} = eat f (t)
(c) Translasi 2. Jika L−1 {F (s)} = f (t), maka
f (t − a) , t > a
L−1 {e−as F (s)} =
0 ,t < a
(d) Pengubahan Skala. Jika L−1 {F (s)} = f (t), maka
1
L−1 {F (as)} = f (t/a)
a
(e) Transformasi Laplace invers dari turunan. Jika L−1 {F (s)} =
f (t), maka
L−1 {F (n) (s)} = (−1)n tn f (t)
6.6 Bahan Diskusi
Diskusikan dengan teman-temanmu masalah-masalah berikut
1. Syarat apa saja suatu fungsi dapat memiliki transformasi Lapla-
ce. Apakah fungsi yang tidak kontinu di sejumlah terhitung titik
masih dapat ditransformasi Laplace kan?
2. Bagaimana menyelesaikan persamaan diferensial dengan meng-
gunakan transformasi Laplace tanpa ada syarat tambahan ber-
upa syarat awal dan syarat batas.
3. Suatu partikel dengan massa M bergerak sepanjang sumbu-x
dan ditarik ke titik asal dengan gaya sebesar lx, l > 0. Sebuah
gaya peredam bekerja diberikan oleh αdX/dt, α > 0. Disku-
sikan bagaimana gerakan partikel tersebut untuk semua kondisi
dengan menganggap X(0) = X0 dan X 0 (0) = W0 .
Bab 6. Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
Laplace 123
6.7 Rujukan/Daftar Pustaka
1. Boyce, W.E., R.C. DiPrima, dan D.B. Meade, 2017, Elemen-
tary Differential Equations and Boundary Value Problems, 11th
edition, John Wiley & Sons
2. Spiegel, M.R, P. Silaban, dan H. Wospakrik, 1999, Transformasi
Laplace: Teori dan Soal-soal, UI-Press
6.8 Soal-soal Latihan
Dari soal nomor 1 sampai dengan 5, tentukan transformasi Laplace
dari fungsi yang diberikan
1. t sin 3t
2. t cosh 2t
3. t2 e−3t
4. t2 cos t/2
5. t2 sinh t
Dari soal nomor 6 sampai dengan 9, tentukan transformasi La-
place invers dari fungsi yang diberikan
4
6. (s−1)3
3s
7. s2 −s−6
2s−3
8. s2 −4
2s−3
9. s2 +2s+10
Dari soal nomor 10 sampai dengan nomor 14, tentukan masalah
nilai awal yang diberikan dengan menggunakan metode transfor-
masi Laplace.
10. y 00 + 3y + 2y = 0, y(0) = 1, y 0 (0) = 0
Bab 6. Penyelesaian Masalah Nilai Awal dengan Transformasi
124 Laplace
11. y (4) − y = 0, y(0) = 1, y 0 (0) = 0, y 00 (0) = −2, y 000 (0) = 0
12. y 00 + 4y = f (t).y(0) = 0, y 0 (0) = 1
dengan
1 ,0 < t < 1
f (t) =
0 ,t > 1
13. ty 00 + (t − 1)y 0 − y = 0, y(0) = 5, y(∞) = 0
14. Dalam rangkaian listrik pada Gambar 6.1 dengan
E = 500 sin 10t
R1 = R2 = 10 ohm
L = 1 henry
C = 0, 01 farad
Gambar 6.1: Rangkaian listrik soal nomor 14
Jika muatan kapasitor dan arus-arus I1 dan I2 diketahui adalah
nol pada saat t = 0, tentukan besar muatan pada kapasitor saat
t > 0.
Bab 7
Sistem Persamaan
Diferensial Linear Orde
Satu
——————————————————————————–
Setelah membaca dan mempelajari bab ini, kemampuan akhir
yang diharapkan secara umum adalah mahasiswa:
1. mampu memahami bentuk-bentuk sistem persamaan diferensial;
2. mempunyai kemampuan bernalar dengan logis dan sistematis;
3. mempunyai kemampuan berkomunikasi melalui diskusi materi.
Sedangkan kemampuan akhir yang diharapkan secara khusus adalah
mahasiswa mampu
1. menyelesaikan sistem persamaan diferensial linear homogen;
2. menyelesaikan sistem persamaan diferensial linear nonhomogen;
3. mengaplikasikan sistem persamaan diferensial dalam kehidupan
sehari-hari;
125
126 Bab 7. Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu
Bentuk umum sistem persamaan diferensial linear orde satu
dengan n peubah adalah:
dx1
= a11 x1 + a12 x2 + · · · + a1n xn + g1
dt
dx2
= a21 x1 + a22 x2 + · · · + a2n xn + g2 (7.1)
dt
.. .. .. .. ..
. = . . . .
dxn
= an1 x1 + an2 x2 + · · · + ann xn + gn
dt
dengan xi , aij , dan gi fungsi-fungsi dari t untuk setiap i, j = 1, 2, · · · , n.
Jika pada sistem persamaan (7.1), koefisien-koefisien aij semuanya
konstan untuk setiap i, j = 1, 2, · · · , n, maka disebut sistem per-
samaan diferensial linear dengan koefisien konstan, jika tidak
maka disebut sistem persamaan diferensial linear dengan koe-
fisien peubah. Sistem persamaan (7.1) disebut sistem persamaan
linear homogen jika gi = 0 untuk setiap i, j = 1, 2, · · · , n, jika ti-
dak maka disebut sistem persamaan linear nonhomogen. Sistem
persamaan diferensial (7.1) dapat ditulis
x0 = Ax + g
dengan
a11 a12 . . . a1n
a21 a22 . . . a2n
A= .
.. .. ..
.. . . .
an1 an2 . . . ann
yang disebut matriks koefisien dan
g1
g2
g=.
..
gn
yang disebut fungsi vektor.
Beberapa metode yang bisa digunakan untuk menentukan penye-
lesaian sistem persamaan diferensial linear nonhomogen diantaranya
metode koefisien tak tentu, variasi parameter, dan metode matriks
eksponensial. Kita akan bahas hanya untuk sistem persamaan linear
dengan koefisien konstan baik homogen maupun nonhomogen, diawali
dengan kasus homogen.
Bab 7. Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu 127
7.1 Sistem Persamaan Linear Homogen dengan
Koefisien Konstan
Bentuk umum sistem persamaan linear homogen dengan n peubah
adalah
x0 = Ax (7.2)
dengan
a11 a12 . . . a1n
a21 a22 . . . a2n
A= .
.. .. ..
.. . . .
an1 an2 . . . ann
Teorema 7.1. Prinsip Superposisi Jika fungsi vektor x(1) dan x(2)
adalah penyelesaian-penyelesaian sistem persamaan (7.2), maka kom-
binasi linear c1 x(1) + c2 x(2) dengan c1 dan c2 konstanta-konstanta se-
barang, juga merupakan penyelesaian dari sistem persamaan (7.2).
Dengan mengaplikasikan Prinsip Superposisi ini, dapat disimpul-
kan bahwa jika x(1) , x(2) , · · · , x(k) adalah penyelesaian-penyelesaian
sistem persamaan (7.2), maka kombinasi linear
c1 x(1) + c2 x(2) + · · · + ck x(k)
dengan c1 , c2 , · · · , ck konstanta-konstanta sebarang, juga merupakan
penyelesaian dari sistem persamaan (7.2).
Teorema 7.2. Jika fungsi-fungsi vektor x(1) , x(2) , · · · , x(n) bebas line-
ar yang merupakan penyelesaian-penyelesaian sistem persamaan (7.2),
maka penyelesaian x = x(t) sistem persamaan (7.2) dapat dinyatakan
sebagai kombinasi linear
c1 x(1) + c2 x(2) + · · · + cn x(n)
secara tunggal.
Selanjutnya akan diberikan beberapa contoh mencari penyelesaian
sistem persamaan diferensial linear homogen dengan metode koefi-
sien tak tentu untuk sistem dengan dua peubah untuk beberapa
kasus nilai-nilai karakteritik real berbeda, kompleks sekawan, dan real
kembar.
128 Bab 7. Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu
Contoh 7.3. Tentukan penyelesaian umum sistem persamaan dife-
rensial
dx1
= x1 + x2
dt
dx2
= 4x1 + x2
dt
Penyelesaian:
Sistem persamaan di atas dapat ditulis sebagai
0 1 1
x = x (7.3)
4 1
Asumsikan x = ξert dan substitusikan ini ke persamaan (7.3), dipero-
leh
1−r 1 ξ1 0
= (7.4)
4 1 − r ξ2 0
Persamaan (7.4) mempunyai penyelesaian nontrivial jika dan hanya
jika determinan matriks koefisiennya nol. Dengan demikian diperoleh
(1 − r)2 − 4 = 0
dengan penyelesaian r1 = 3 dan r2 = −1 yang mana merupakan nilai-
nilai karakteristik dari matriks koefisien pada persamaan (7.3) yang
berupa dua bilangan real berbeda. Jika r = 3, sistem persamaan (7.4)
mereduksi menjadi persamaan tunggal
2ξ1 − ξ2 = 0.
Jadi ξ2 = 2ξ1 , dan vektor karakteristik yang bersesuaian dengan r = 3
bisa diambil
(1) 1
ξ =
2
Dengan cara serupa, untuk r = −1, sistem persamaan (7.4) mereduksi
menjadi persamaan tunggal
ξ2 = −2ξ1
dan vektor karakteristik yang bersesuaian dengan r = −1 bisa diambil
(2) 1
ξ =
−2
Bab 7. Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu 129
Fungsi-fungsi vektor penyelesaian persamaan diferensial adalah
1 3t 1
(1)
x (t) = e , (2)
x (t) = e−t .
2 −2
Oleh karena itu, penyelesaian sistem persamaan diferensial (7.3) ada-
lah
x = c1 x(1) (t) + c2 x(2) (t)
1 3t 1
= c1 e + c2 e−t
2 −2
dengan c1 dan c2 konstanta-konstanta sebarang.
Contoh 7.4. Tentukan penyelesaian umum sistem persamaan dife-
rensial
dx1 1
= − x1 + x2
dt 2
dx2 1
= −x1 − x2
dt 2
Penyelesaian:
Sistem persamaan di atas dapat ditulis sebagai
1
0 2 1
x = x (7.5)
−1 − 21
Asumsikan x = ξert dan substitusikan ini ke persamaan (7.5), dipero-
leh 1
−2 − r 1 ξ1 0
1 = (7.6)
−1 − 2 − r ξ2 0
Persamaan (7.6) mempunyai penyelesaian nontrivial jika dan hanya
jika determinan matriks koefisiennya nol. Dengan demikian diperoleh
5
r2 + r + =0
4
dengan penyelesaian r1 = − 21 + i dan r2 = − 21 − i yang mana meru-
pakan nilai-nilai karakteristik dari matriks koefisien pada persamaan
(7.5) yang berupa kompleks sekawan. Mengikuti contoh sebelumnya,
bisa diambil
(1) 1
ξ =
i
130 Bab 7. Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu
dan
(2) 1
ξ =
−i
yang merupakan kompleks sekawan. Oleh karena itu, penyelesaian
yang bersesuaian dengan persamaan diferensial adalah
(1) 1 (−1/2+i)t (2) 1 (−1/2−i)t
x (t) = e , x (t) = e .
i −i
Untuk memperoleh penyelesaian real, kita harus tentukan bagian real
dan bagian imaginer dari x(1) dan x(2) . Kenyataannya bahwa
−t/2 −t/2
(1) 1 −t/2 e cos t e sin t
x (t) = e (cos t + i sin t) = + i −t/2
i −e−t/2 sin t e cos t
sehingga diperoleh pasangan penyelesaian real sistem persamaan dife-
rensial yang diberikan adalah
cos t sin t
u(t) = e−t/2 v(t) = e−t/2 .
− sin t cos t
Jadi penyelesaian umum sistem persamaan diferensial yang diberikan
adalah
x = c1 u(t) + c2 v(t)
cos t sin t
= c1 e−t/2 + c2 e−t/2
− sin t cos t
dengan c1 dan c2 konstanta-konstanta sebarang.
Contoh 7.5. Tentukan penyelesaian umum sistem persamaan dife-
rensial
dx1
= x1 − x2
dt
dx2
= x1 + 3x2
dt
Penyelesaian:
Sistem persamaan di atas dapat ditulis sebagai
0 1 −1
x = x (7.7)
1 3
Bab 7. Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu 131
Asumsikan x = ξert dan substitusikan ini ke persamaan (7.7), dipero-
leh
1 − r −1 ξ1 0
= (7.8)
1 3 − r ξ2 0
Persamaan (7.8) mempunyai penyelesaian nontrivial jika dan hanya
jika determinan matriks koefisiennya nol. Dengan demikian diperoleh
r2 − 4r + 4 = 0
dengan penyelesaian r1 = r2 = 2 merupakan nilai-nilai karakteristik
dari matriks koefisien pada persamaan (7.7) berupa dua bilangan real
kembar. Untuk vektor karakteristik yang bersesuaian dengan nilai
karaktaristik r1 = 2 dapat dipilih
1
ξ (1) =
−1
Oleh karena itu, penyelesaian yang bersesuaian dengan persamaan di-
ferensial adalah
1
x(1) (t) = e2t .
−1
Di sini penyelesaian kedua tidak terdapat penyelesaian yang berbentuk
x = ξe2t karena harus bebas linear dengan x(1) . Untuk itu, penyele-
saian kedua diasumsikan dalam bentuk x = ξte2t . Substitusikan x ke
sistem persamaan diferensial, diperoleh
2ξte2t + ξe2t − Aξte2t = 0.
Karena e2t 6= 0, maka haruslah
t+1 t
2ξt + ξ − Aξt = 0 atau ξ = 0.
−t −t + 1
Karena
t+1 t
6 0,
=
−t −t + 1
maka haruslah
ξ = 0.
Namun karena kita mencari penyelesaian yang tidak nol, maka dia-
sumsikan
x(2) = ξte2t + ηe2t (7.9)
132 Bab 7. Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu
dengan ξ dan η vektor-vektor konstan dimana vektor ξ telah diperoleh
sebelumnya dan vektor η akan ditentukan kemudian.
Dengan mensubstitusikan persamaan (7.9) ke sistem persamaan dife-
rensial, diperoleh vektor η yang dapat dipilih
0
η=
−1
Jadi diperoleh penyelesaian
1 0
x(2) (t) = te2t + e2t .
−1 −1
Dengan demikian diperoleh penyelesaian umum sistem persamaan di-
ferensial
x = c1 x(1) (t) + c2 x(2) (t)
1
1 0
= c1 e2t + c2 te2t + e2t
−1 −1 −1
7.2 Sistem Persamaan Linear Nonhomogen
dengan Koefisien Konstan
Pada penyelesaian sistem persamaan linear nonhomogen, di sini akan
diberikan dengan metode matriks eksponensial. Adapun langkah-
langkah dalam menentukan penyelesaian sistem persamaan diferensial
linear nonhomogen menggunakan metode matriks eksponensial:
1. Menentukan penyelesaian homogen (xh ) dengan langkah-langkah
berikut:
(a) Menentukan matriks koefisien A sistem persamaan diferen-
sial linear nonhomogen yang diberikan.
(b) Mencari nilai karakteristik matriks koefisien A dan menen-
tukan vektor karakteristik yang bersesuaian dengan nilai
karakteristiknya.
(c) Menentukan matriks nonsingular R dari vektor-vektor ka-
rakteristik dan menentukan invers matriks R.
Bab 7. Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu 133
(d) Menentukan matriks diagonal M dengan M = R−1 AR.
(e) Menentukan matriks eksponensial eAt = ReM t R−1 .
(f) Menentukan penyelesaian homogen xh = CeAt , dengan C
konstanta sebarang.
2. Menentukan penyelesaian partikular (xp ) dengan melakukan langkah-
langkah berikut:
(a) Membentuk matriks eksponensial e−At
(b) Menentukan fungsi g(λ)
(c) Kalikan e−Aλ dengan g(λ)
Rt
(d) Hitung 0 e−Aλ g(λ)dλ
(e) Mencari penyelesaian partikular (xp ) dari sistem persama-
an yang diberikan, yakni
Z t
xp = e At
e−Aλ g(λ) dλ.
0
3. Menentukan penyelesaian umum sistem persaman diferensial li-
near nonhomogen:
x = x h + xp .
Untuk menggunakan langkah-langkah di atas, agar lebih jelas diberi-
kan contoh penyelesaian.
Contoh 7.6. Tentukan penyelesaian umum sistem persamaan dife-
rensial linear nonhomogen
dx1
= x1 + x2 − t − 1
dt
dx2
= 4x1 + x2 − 4t − 2
dt
Penyelesaian:
Sistem persamaan diferensial di atas dapat ditulis sebagai
x0 = Ax + g(t)
dengan
1 1
A=
4 1
134 Bab 7. Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu
dan
−t − 1
g(t) = .
−4t − 2
Nilai-nilai karakteristik diperoleh jika
1−r 1
det(A − rI) = 0 ⇒ = 0,
4 1−r
sehingga diperoleh r1 = −1 dan r2 = 3.
Untuk nilai karakteristik r1 = −1 diperoleh vektor karakteristik yang
bersesuaian adalah
−1
x(1) =
2
Sedangkan untuk nilai karakteristik r2 = 3 diperoleh vektor karakte-
ristik yang bersesuaian adalah
1
x(2) =
2
Dengan demikian diperoleh matriks
(1) (2)
−1 1
R= x x =
2 2
Periksa bahwa matriks R merupakan matriks nonsingular. Setelah di-
pastikan matriks R nonsingular, kemudian menentukan invers matriks
R, yakni
−1 1 1
−1 −1 1 1 2 −1 −
R = = = 12 14
2 2 −2 − 2 −2 −1 2 4
Untuk mendapatkan matriks diagonal M , adalah
1 1
−1 − 2 4 1 1 −1 1 −1 0
M = R AR = 1 1 =
2 4 4 1 2 2 0 3
Selanjutnya adalah menentukan matriks eksponensial
M t −1
eAt = Re R
−1 1 e−t 0
1 1
−2 4
= 1 1
2 2 0 e3t 2 4
1 −t 1 3t 1 −t 1 3t
2 e + 2 e − 2 e + 4 e
=
−e−t + e3t 1 −t
2e + 21 e3t
Bab 7. Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu 135
Dengan demikian diperoleh penyelesaian homogen
−t + 1 e3t − 1 e−t + 1 e3t
1
At e C1
xh = e C = 2 −t 2 3t 2
1 −t
4
1 3t
−e + e e + e C2
1 −t 1 3t 2 1 −t 2 1 3t
e + e − e + e
= C1 2 −t 2 3t + C2 12 −t 14 3t
−e + e 2e + 2e
dengan C1 dan C2 konstanta-konstanta sebarang.
Kemudian untuk mendapatkan penyelesaian partikular sistem per-
samaan, terlebih dahulu menentukan matriks e−Aλ yang mana pada
langkah sebelumnya telah didapatkan matriks eAt , sehingga diperoleh
1 −3λ
− 21 eλ + 14 e−3λ
1 λ
e−Aλ = eA(−λ) = 2e + 2e
−e + e−3λ
λ 1 λ
2e + 2e
1 −3λ
Sedangkan untuk matriks g(λ) adalah
−λ − 1
g(λ) = .
−4λ − 2
Dengan demikian, diperoleh
+ 12 e−3λ − 21 eλ + 14 e−3λ
1 λ
−Aλ 2e −λ − 1
e g(λ) =
−e + e−3λ
λ 1 λ 1 −3λ
2e + 2e −4λ − 2
e λ − 32 e−3λ λ − e−3λ
1 λ
= 2
−eλ λ − 3e−3λ λ2e−3λ
Kemudian menghitung
t Z t 1 3 −3λ
λ λ − e−3λ
Z
e−Aλ
g(λ) dλ = 2e λ − 2e dλ
0 0 −e λ − 3e λ2e−3λ
λ −3λ
1 t 1 t 1 −3t
= 2 te − 2 e λ + 2 e
t t
−te + e + te −3t + e−3t −2
Dengan demikian diperoleh penyelesaian partikular
Z t
xp = e e−Aλ g(λ) dλ
At
1 −t0 1 −t
2 e − 2e + t
= .
−e−t − 3e3t + 2
136 Bab 7. Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu
Oleh karena itu diperoleh penyelesaian umum sistem persamaan dife-
rensial
x = xh + xp
1 −t 1 3t 1 −t 1 3t 1 −t 1 −t
2 e + 2e −2e + 4e 2 e − 2e + t
= C1 + C2 1 −t 1 3t +
−e−t + e3t 2e + 2e −e−t − 3e3t + 2
dengan C1 dan C2 konstanta-konstanta sebarang.
7.3 Rangkuman
Langkah-langkah dalam menentukan penyelesaian sistem persamaan
diferensial linear nonhomogen menggunakan metode matriks ekspo-
nensial:
1. Menentukan penyelesaian homogen (xh ) dengan langkah-langkah
berikut:
(a) Menentukan matriks koefisien A sistem persamaan diferen-
sial linear nonhomogen yang diberikan.
(b) Mencari nilai karakteristik matriks koefisien A dan menen-
tukan vektor karakteristik yang bersesuaian dengan nilai
karakteristiknya.
(c) Menentukan matriks nonsingular R dari vektor-vektor ka-
rakteristik dan menentukan invers matriks R.
(d) Menentukan matriks diagonal M dengan M = R−1 AR.
(e) Menentukan matriks eksponensial eAt = ReM t R−1 .
(f) Menentukan penyelesaian homogen xh = CeAt , dengan C
konstanta sebarang.
2. Menentukan penyelesaian partikular (xp ) dengan melakukan langkah-
langkah berikut:
(a) Membentuk matriks eksponensial e−Aλ
(b) Menentukan fungsi g(λ)
(c) Kalikan e−Aλ dengan g(λ)
Rt
(d) Hitung 0 e−Aλ g(λ)dλ
Bab 7. Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu 137
(e) Mencari penyelesaian partikular (xp ) dari sistem persamaan
yang diberikan, yakni
Z t
xp = e At
e−Aλ g(λ) dλ.
0
3. Menentukan penyelesaian umum sistem persaman diferensial li-
near nonhomogen:
x = x h + xp .
7.4 Bahan Diskusi
Diskusikan permasalahan berikut:
Bagaimana proses menyelesaikan sistem persamaan diferensial pada
subbab 7.2 dengan menggunakan metode koefisien tak tentu.
7.5 Rujukan/Daftar Pustaka
1. Boyce, W.E., R.C. DiPrima, dan D.B. Meade, 2017, Elemen-
tary Differential Equations and Boundary Value Problems, 11th
edition, John Wiley & Sons
2. Widyawati, D.R.A, dan I. Wahyudi, 2016, Solusi Sistem Persa-
maan Diferensial Linear Tak Homogen dengan Metode Matriks
Eksponensial, Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Sis-
tem Infomasi, Vol.1 No.1
3. Simmons, G.F. dan S.G. Krantz, 2007, Differential Equations
Theory, Technique, and Practice. International Edition, The
McGraw-Hill Companies, Inc.
7.6 Soal-soal Latihan
1. Diberikan sistem persamaan diferensial orde satu homogen
0 1 1
x = x
4 −2
Tunjukkan bahwa fungsi-fungsi vektor
(1) 1 −3t (2) 1 2t
x = e dan x = e
−4 1
138 Bab 7. Sistem Persamaan Diferensial Linear Orde Satu
merupakan penyelesaian sistem persamaan yang diberikan.
2. Selesaikan sistem persamaan diferensial berikut:
2 −1
x0 = x
3 −2
3. Selesaikan sistem persamaan diferensial berikut:
0 2 −5
x = x
1 −2
4. Selesaikan sistem persamaan diferensial berikut:
1 1 1
x0 = 2 1 −1 x
−8 −5 −3
5. Selesaikan sistem persamaan diferensial berikut dengan menggu-
nakan metode matriks eksponensial:
0 2 −5 − cos t
x = x+
1 −2 sin t
6. Selesaikan sistem persamaan diferensial berikut:
−t
2 −1 e
x0 = x+
3 −2 −e−t
7. Selesaikan sistem persamaan diferensial berikut:
1 1 1 − cos t
x0 = 2 1 −1 x + sin t
−8 −5 −3 sin t − cos t
Bab 8
Kestabilan Sistem
Persamaan Diferensial
——————————————————————————–
Setelah membaca dan mempelajari bab ini, kemampuan akhir
yang diharapkan secara umum adalah mahasiswa:
1. mampu memahami konsep kesetabilan sistem persamaan dife-
rensial;
2. mempunyai kemampuan bernalar dengan logis dan sistematis;
3. mempunyai kemampuan berkomunikasi melalui diskusi materi.
Sedangkan kemampuan akhir yang diharapkan secara khusus adalah
mahasiswa mampu
1. menjelaskan pengertian titik kesetimbangan stabil dan titik tidak
stabil;
2. menjelaskan pengertian stabil asimtotik dan sifat-sifatnya;
3. memeriksa apakah sistem persamaan diferensial stabil atau ti-
dak;
139
140 Bab 8. Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial
Kestabilan persamaan diferensial diperlukan untuk mengetahui kon-
disi persamaan. Sebelum bicara kestabilan, pertama kita membahas
terlebih dahulu linearisasi persamaan nonlinear.
8.1 Linearisasi Sistem Persamaan Diferensial
Nonlinear
Sebelum membahas linearisasi sistem persamaan diferensial nonlinear,
terlebih dahulu diberikan pengertian titik kesetimbangan.
Definisi 8.1. Diberikan sistem persamaan diferensial x0 = f (x). Titik
xs ∈ R disebut titik kesetimbangan atau titik kritis x0 = f (x) jika
f (xs ) = 0.
Contoh 8.2. Tentukan semua titik kesetimbangan sistem persamaan
x01 = −x1 + (x1 )3
x02 = −2x2
Penyelesaian:
Kita akan tentukan semua vektor konstan
x
x= 1
x2
penyelesaian dari
−x1 + (x1 )3 = 0
−2x2 = 0
Dari persamaan kedua di atas, diperoleh x2 = 0. Dari persamaan
pertama di atas, diperoleh x1 = 0 atau x1 = ±1. Oleh karena itu,
diperoleh tiga titik kesetimbangan
0 1 −1
x0 = , x1 = , x2 =
0 0 0
Linearisasi persamaan diferensial diperlukan untuk memudahkan
penyelesaian persamaan diferensial nonlinear. Linearisasi merupakan
proses mentransformasi sistem persamaan nonlinear ke bentuk linear.
Proses ini biasanya dilakukan di sekitar titik kesetimbangan.
Bab 8. Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial 141
Diberikan sistem persamaan diferensial nonlinear
x01 = f1 (x1 , x2 , · · · , xn )
x02 = f2 (x1 , x2 , · · · , xn ) (8.1)
.. .. ..
. = . .
x0n = fn (x1 , x2 , · · · , xn )
Misalkan x̂ = (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn ) adalah titik kesetimbangan sistem (8.1),
maka pendekatan linear dari sistem (8.1) di sekitar titik kesetimbangan
x̂ diperoleh dengan menggunakan deret Taylor fungsi f di sekitar titik
kesetimbangan x̂ adalah
f1 (x1 , x2 , · · · , xn ) = f1 (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )
∂f1
+ (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(x1 − x̂1 )
∂x1
∂f1
+··· + (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(xn − x̂n ) + Rf1
∂xn
f2 (x1 , x2 , · · · , xn ) = f2 (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )
∂f2
+ (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(x1 − x̂1 )
∂x1
∂f1
+··· + (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(xn − x̂n ) + Rf2
∂xn
..
.
fn (x1 , x2 , · · · , xn ) = fn (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )
∂fn
+ (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(x1 − x̂1 )
∂x1
∂fn
+··· + (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(xn − x̂n ) + Rfn
∂xn
Karena fi (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn ) = 0 untuk i = 1, 2, · · · , n dan nilai-nilai
Rf1 , Rf2 , · · · , Rfn mendekati nol, maka nilai-nilai Rf1 , Rf2 , · · · , Rfn
dapat diabaikan. Oleh karena itu, pendekatan linear sistem (8.1) ada-
lah
142 Bab 8. Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial
∂f1
x01 = (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(x1 − x̂1 ) + · · · +
∂x1
∂f1
(xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(xn − x̂n )
∂xn
∂f2
x02 = (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(x1 − x̂1 ) + · · · +
∂x1
∂f2
(xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(xn − x̂n )
∂xn
..
.
∂fn
x0n = (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(x1 − x̂1 ) + · · · +
∂x1
∂fn
(xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(xn − x̂n )
∂xn
Untuk memperjelas linearisasi dari sistem persamaan diferensial non-
linear, diberikan contoh berikut.
Contoh 8.3. Linearisasikan sistem persamaan nonlinear berikut
x01 = −x1 + (x1 )3
x02 = −2x2
di sekitar titik kesetimbangan (1, 0).
Penyelesaian:
Pertama adalah menentukan
∂f1 ∂f1
f1 (x1 , x2 ) = −x1 + (x1 )3 ⇒ = −1 + 3(x1 )2 , =0
∂x1 ∂x2
∂f2 ∂f2
f2 (x1 , x2 ) = −2x2 ⇒ = 0, = −2
∂x1 ∂x2
Dengan demikian, linearisasi dari sistem persamaan diferensial non-
linear yang diberikan di sekitar titik kesetimbangan (1, 0) adalah
x01 = (−1 + 3(1)2 )(x1 − 1) + 0(x2 − 0) = 2x1 − 2
x02 = 0(x1 − 1) − 2(x2 − 0) = −2x2
atau dapat ditulis
0 2 0 −2
x = x+
0 −2 0
Bab 8. Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial 143
8.2 Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial
Titik kesetimbangan dikelompokkan menjadi dua jenis yang ditentu-
kan dari bagian real nilai karakteristiknya.
Definisi 8.4. Titik kesetimbangan xs ∈ Rn disebut hiperbolik dari
sistem x0 = f (x) jika tidak terdapat bagian real nilai karakteristik yang
bernilai nol. Jika nilai karakteristik di titik kesetimbangan mempunyai
bagian real yang bernilai nol, maka titik kesetimbangan tersebut disebut
nonhiperbolik
Diberikan sistem persamaan diferensial linear dengan dua peubah
bebas
x0 = Ax
dengan nilai-nilai karakteristik r1 dan r2 . Akan dikelompokkan jenis-
jenis kestabilan persamaan diferensial dalam beberapa kasus yang ber-
gantung pada nilai-nilai karakteristik r1 dan r2 .
1. Kasus nilai-nilai karakteristik semuanya real dengan tanda yang
sama.
Misalkan r1 dan r2 keduanya real negatif dengan r1 < r2 < 0.
Penyelesaian pada bidang fasa diberikan pada Gambar 8.1.
Gambar 8.1: Bidang fasa x1 vs t kasus nilai-nilai karakteristik bertanda
negatif
144 Bab 8. Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial
2. Kasus nilai-nilai karakteristik semuanya real dengan tanda yang
berlawanan.
Misalkan r1 dan r2 keduanya real dengan r1 < 0 < r2 . Penyele-
saian pada bidang fasa diberikan pada Gambar 8.2.
Gambar 8.2: Bidang fasa x1 vs t kasus nilai-nilai karakteristik berbeda
tanda
3. Kasus nilai-nilai karakteristik semuanya real sama.
Misalkan r1 dan r2 keduanya real dengan r1 = r2 . Penyelesaian
pada bidang fasa diberikan pada Gambar 8.3.
Gambar 8.3: Bidang fasa x1 vs t kasus nilai-nilai karakteristik bertanda
sama
Bab 8. Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial 145
Definisi 8.5. Diberikan sistem persamaan diferensial orde satu x0 =
f (x) dan x(t, x0 ) merupakan penyelesaian persamaan x0 = f (x) pada
saat t dengan nilai awal x(0) = x0 .
(a). Titik kesetimbangan xs dikatakan stabil jika untuk setiap > 0,
terdapat bilangan δ > 0 sedemikian hingga jika ||x0 − xs || < δ
maka
||x(t, x0 ) − xs || <
untuk setiap t ≥ 0.
(b). Titik kesetimbangan xs dikatakan stabil asimtotik jika xs titik
kesetimbangan stabil dan terdapat δ 0 > 0 sedemikian hingga jika
||x0 − xs || < δ 0 maka berlaku
lim ||x(t, x0 ) − xs || = 0.
(c). Titik kestimbangan xs dikatakan tidak stabil jika xs tidak me-
menuhi pada butir (a).
Untuk sistem persamaan diferensial linear dengan dua peubah be-
bas
x0 = Ax + g(t)
dengan nilai-nilai karakteristik r1 dan r2 , maka kestabilan sistem per-
samaan di atas tergantung pada nilai-nilai karakteristik r1 dan r2 yang
diberikan pada Tabel 8.1.
146 Bab 8. Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial
Tabel 8.1: Sifat-sifat kestabilan sistem persamaan linear
Nilai karakteristik Jenis titik kesetim- Kestabilan
bangan
0 < r1 < r2 Improper node Tidak stabil
r1 < r2 < 0 Improper node Stabil asimtotik
r1 < 0 < r2 Titik pelana Tidak stabil
0 < r1 = r2 Proper atau Impro- Tidak stabil
per node
r1 = r2 < 0 Proper atau Impro- Stabil asimtotik
per node
r12 = λ ± iµ, λ > 0 Titik spiral Tidak stabil
r12 = λ ± iµ, λ < 0 Titik spiral Stabil asimtotik
r12 = ±iµ Center Stabil
8.3 Rangkuman
1. Diberikan sistem persamaan diferensial x0 = f (x). Titik xs ∈ Rn
disebut titik kesetimbangan atau titik kritis x0 = f (x) jika
f (xs ) = 0.
2. Diberikan sistem persamaan diferensial nonlinear
x01 = f1 (x1 , x2 , · · · , xn )
x02 = f2 (x1 , x2 , · · · , xn )
.. .. ..
. = . .
x0n = fn (x1 , x2 , · · · , xn )
Pendekatan linear (linearisasi) sistem persamaan di atas di seki-
tar titik kestimbangan x̂ = (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn ) adalah
Bab 8. Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial 147
∂f1
x01 = (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(x1 − x̂1 ) + · · · +
∂x1
∂f1
(xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(xn − x̂n )
∂xn
∂f2
x02 = (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(x1 − x̂1 ) + · · · +
∂x1
∂f2
(xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(xn − x̂n )
∂xn
..
.
∂fn
x0n = (xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(x1 − x̂1 ) + · · · +
∂x1
∂fn
(xˆ1 , xˆ2 , · · · , xˆn )(xn − x̂n )
∂xn
3. Diberikan sistem persamaan diferensial orde satu x0 = f (x) dan
x(t, x0 ) merupakan penyelesaian persamaan x0 = f (x) pada saat
t dengan nilai awal x(0) = x0 .
(a). Titik kesetimbangan xs dikatakan stabil jika untuk setiap
> 0, terdapat bilangan δ > 0 sedemikian hingga jika ||x0 −
xs || < δ maka
||x(t, x0 ) − xs || <
untuk setiap t ≥ 0.
(b). Titik kesetimbangan xs dikatakan stabil asimtotik jika xs
titik kesetimbangan stabil dan terdapat δ 0 > 0 sedemikian
hingga jika ||x0 − xs || < δ 0 maka berlaku
lim ||x(t, x0 ) − xs || = 0.
(c). Titik kestimbangan xs dikatakan tidak stabil jika xs tidak
memenuhi pada butir (a).
8.4 Bahan Diskusi
Diskusikan tentang kestabilan sistem persamaan diferensial dengan n
peubah.
148 Bab 8. Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial
8.5 Rujukan/Daftar Pustaka
1. Boyce, W.E., R.C. DiPrima, dan D.B. Meade, 2017, Elemen-
tary Differential Equations and Boundary Value Problems, 11th
edition, John Wiley & Sons
2. Howell, K.B, 2019, Ordinary Differential Equations: An Intro-
duction to the Fundamentals, CRC Press
3. Simmons, G.F. dan S.G. Krantz, 2007, Differential Equations
Theory, Technique, and Practice. International Edition, The
McGraw-Hill Companies, Inc.
8.6 Soal-soal Latihan
1. Linearisasikan sistem persamaan
x01 = −x1 + (x2 )2
x02 = −x2 + 2(x1 )2
di sekitar titik kesetimbangan (0, 0).
2. Diberikan sistem persamaan
x01 = x1 − (x1 )2 − x1 x2
x02 = 3x2 − x1 x2 − 2(x2 )2
(a) Tentukan semua titik kesetimbangan sistem persamaan
(b) Linearisasikan sistem persamaan yang diberikan di sekitar
titik-titik kesetimbangan
3. Linearisasikan sistem persamaan
x01 = −x1 − (x2 )2 − 2x3 + 2
x02 = 2(x1 )2 − x2 + x3 − 1
x03 = x1 − 2x2 + 1
di sekitar titik kesetimbangan (1, 1, 0).
4. Diberikan sistem persamaan diferensial linear homogen
0 3 −2
x = x
2 −2
Bab 8. Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial 149
(a) Tentukan nilai-nilai karakateritik dan vektor-vektor karak-
teristik yang bersesuaian dengan nilai karakteristiknya
(b) Klasifikasikan jenis titik kesetimbangan (0, 0) dan tentukan
apakah stabil, stabil asimtotik, atau tidak stabil.
5. Diberikan sistem persamaan diferensial linear homogen
0 1 2
x = x
−5 −1
(a) Tentukan nilai-nilai karakateristik dan vektor-vektor karak-
teristik yang bersesuaian dengan nilai karakteristiknya
(b) Klasifikasikan jenis titik kesetimbangan (0, 0) dan tentukan
apakah stabil, stabil asimtotik, atau tidak stabil.
6. Diberikan sistem persamaan diferensial linear homogen
2 − 25
0
x = 9 x
5 −1
(a) Tentukan nilai-nilai karakateritik dan vektor-vektor karak-
teristik yang bersesuaian dengan nilai karakteristiknya
(b) Klasifikasikan jenis titik kesetimbangan (0, 0) dan tentukan
apakah stabil, stabil asimtotik, atau tidak stabil.
(c) Tentukan trayektori-trayektorinya di bidang fasa dan juga
grafik x1 vs t.
7. Diberikan sistem persamaan diferensial linear nonhomogen
0 1 1 2
x = x−
1 −1 0
Tentukan titik kesetimbangan x = x0 dan tentukan jenisnya ber-
dasarkan klasifikasi.
8. Diberikan sistem persamaan diferensial linear nonhomogen
−2 1 −2
x0 = x+
1 −2 1
Tentukan titik kesetimbangan x = x0 dan tentukan jenisnya ber-
dasarkan klasifikasi.
150 Bab 8. Kestabilan Sistem Persamaan Diferensial
9. Diberikan sistem persamaan diferensial linear nonhomogen
0 −1 −1 1
x = x−
2 −1 −5
Tentukan titik kesetimbangan x = x0 dan tentukan jenisnya ber-
dasarkan klasifikasi.
10. Pandang sistem persamaan diferensial linear
dx dy
= ax + by, = cx + dy
dt dt
dengan a, b, c, dan d konstanta-konstanta real.
Diberikan
p = a + d, q = ad − bc, ∆ = p2 − 4q.
Tunjukkan bahwa titik kesetimbangan (0, 0) merupakan titik pe-
lana jika q < 0.
Bibliografi
[1] Boyce, W.E., R.C. DiPrima, dan D.B. Meade, 2017, Elementary
Differential Equations and Boundary Value Problems, 11th edi-
tion, John Wiley & Sons
[2] Chen, Wenfeng, 2018, Differential Operator Method of Finding A
Particular Solution to An Ordinary Nonhomogeneous Linear Di-
fferential Equation with Constant Coefficients, New York: SUNY
Polytechnic Institute, Utica
[3] Howell, K.B, 2019, Ordinary Differential Equations: An Introdu-
ction to the Fundamentals, CRC Press
[4] Simmons, G.F. dan S.G. Krantz, 2007, Differential Equations
Theory, Technique, and Practice. International Edition, The
McGraw-Hill Companies, Inc.
[5] Spiegel, M.R, P. Silaban, dan H. Wospakrik, 1999, Transformasi
Laplace: Teori dan Soal-soal, UI-Press
151
152 BIBLIOGRAFI
.
Glosarium
F
Faktor integrasi suatu fungsi yang apabila dikalikan dengan semua
ruas persamaan diferensial mengakibatkan persamaan tersebut men-
jadi persamaan diferensial eksak.
K
Konstanta integrasi konstanta yang dihasilkan dari hasil mengin-
tegralkan integral tak tentu.
M
Masalah nilai awal persamaan diferensial yang dilengkapi dengan
syarat-syarat awal.
O
Orde persamaan diferensial orde tertinggi turunan yang muncul
pada persamaan diferensial.
P
Persamaan diferensial persamaan yang memuat turunan (deriva-
tif) satu atau lebih peubah tak bebas (peubah terikat) terhadap satu
atau lebih peubah bebas suatu fungsi.
Persamaan diferensial biasa persamaan diferensial yang tergan-
tung hanya pada satu peubah bebas.
Persamaan diferensial parsial persamaan diferensial yang tergan-
tung pada dua atau lebih peubah bebas.
Penyelesaian umum persamaan diferensial koleksi (keluarga)
fungsi yang memenuhi persamaan diferensial yang dimaksudkan
Penyelesaian khusus persamaan diferensial fungsi tertentu yang
memenuhi persamaan diferensial yang dimaksudkan.
153
154 BIBLIOGRAFI
S
Sistem persamaan diferensial kumpulan dari beberapa persamaan
diferensial yang saling berkaitan.
Indeks
Faktor integrasi, 25 Euler, 3
Fungsi Hermite, 3
Bessel, 120 karakteristik, 50
potensial, 22, 23 Laplace, 4
vektor, 126 Legendre, 3
logistik, 31
Invers
Lorenz, 8
operator D, 89
Poisson, 4
Koefisien tak tentu, 53, 126, 127 Persamaan diferensial, 2
Kondisi awal, 36 Bernoulli, 31
biasa, 2
Masalah nilai awal, 36 dengan koefisien konstan, 6
Matriks eksponensial, 126, 132 dengan koefisien peubah, 6
Matriks koefisien, 126 eksak, 22
Mekanika, 61 Euler, 33
homogen, 7, 48
Operator D, 82
linear, 5
Orde persamaan diferensial, 4
linear dengan koefisien konst-
Peluruhan radioaktif, 38 an, 48
Penyelesaian linear dengan koefisien peubah,
homogen, 53 48
khusus, 8 linear lengkap, 7
partikular, 53 linear nonhomogen, 7
singular, 8 linear tereduksi, 7
umum, 8 nonhomogen, 48
Persamaan nonlinear, 5
Airy, 3 orde satu, 4, 5
Bernoulli, 3 parsial, 2
Bessel, 3 peubah terpisah, 18
Chebyshev, 3 semieksak, 25
diferensial, 2 separabel, 18
155
156 INDEKS
Pertumbuhan populasi, 40
Polinomial operator D, 84
Prinsip Superposisi, 127
Rangkaian listrik, 63
Sistem persamaan
diferensial, 7
diferensial orde satu, 126
linear homogen, 126
Stabil asimtotik, 145
Syarat awal, 36
Tidak stabil, 145
Titik
kesetimbangan, 140
kritis, 140
Titik kesetimbangan
hiperbolik, 143
nonhiperbolik, 143
stabil, 145, 147
stabil asimtotik, 147
tidak stabil, 147
Transformasi
Laplace, 111
Laplace invers, 117
Variasi parameter, 126
Biografi Penulis
Firdaus Ubaidillah lahir di Lamongan tanggal 6 Juni 1970, me-
nempuh pendidikan dasar di SD Alun-alun II Lamongan dan SD Di-
noyo III Malang, pendidikan menengah di MTsN Malang II dan MAN
Malang II Batu. Tahun 1989 melanjutkan studi S1 di Jurusan Mate-
matika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya (UB) Malang lulus ta-
hun 1994. Studi S2 ditempuh di Jurusan Matematika Fakultas MIPA
Institut Teknologi Bandung (ITB) lulus tahun 2004. Pendidikan S3
ditempuh di Jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada (UGM)
Yogyakarta dan memperoleh gelar Doktor bidang matematika tahun
2016.
Dalam kesehariannya, penulis aktif mengajar di prodi S1 dan S2
Matematika Fakultas MIPA Universitas Jember dengan matakuliah
yang diampu adalah Kalkulus, Analisis Real, Fungsi Peubah Kom-
pleks, Persamaan Diferensial Biasa, Persamaan Diferensial Parsial,
Aljabar Linear, dan lain-lain. Selain buku Persamaan Diferensial Bi-
asa, karya buku lain yang telah ditulis adalah Kalkulus Fungsi Sa-
tu Peubah (2018), Analisis Kompleks (2019), dan Kalkulus Integral
(2019).