RESUME
PETA DAN KONSEP BESERTA GAGASAN YANG KAMI PELAJARI DAN DIPAHAMI
TOPIK 1
ZAKAT HASIL TANAH YANG DISEWAKAN
A. Definisi
Saudara-saudara yang terpelajar, kata “Zakat” ( َ ) َز كاةadalah sebuah istilah yag secara etimologi (bahasa)
berasal dari bahasa Arab yang berarti suci, tumbuh berkembang dan [Link] dengan zakat hasil tanah
yang disewakan terdapat beberpa komponen yang merupkan rukun yang harus terpenuhi dalam transaksi
zakat hasil tanah yang disewakan. Kompoen tersebut meliputi:
1. Sebidang tanah yang disewakan (ْ ) اُلْمَس ْتَأَجُر ة َْلْأُر ض َأ
2. Pemilik tanah (َْ)َأْألِرضَ صِاًح ب: Orang yang menyewakan tanahnya kepada orang lain.
3. Penyewa tanah (َ )ْأُلْمَس ْتِأُجرsekaligus penggarap tanah yang disewakan.
Berdasar kepada beberapa komponen di atas maka dalam transaksi penyewaan tanah terdapat dua pihak
yang terlibat yaitu pihak pemilik tanah dan pihak penyewa tanah,
[Link]
Zakat Hasil Tanah yang Disewakan merupakan salah satu topik dalam fiqh
zakat yang membahas kewajiban zakat atas pendapatan dari tanah yang disewakan.
Menurut pendapat ulama Abu Hanifah yang bersumber dari Umar bin Abdul Aziz adalah bahwa semua
tanaman wajib dikeluarkan zakatnya setiap panen sebesar 10% jika diairi oleh air hujan atau 5 % jika diairi
oleh air yang menggunakan biaya, nisabnya jika sudah mencapai lima wasaq.
Pandangan Ulama
Terdapat perbedaan pendapat ualama fikih tentang siapa yang berkewajiban mengeluarkan
zakat hasil tanah yang disewakan. Berdasar kepadanhukum asalnya bahwa setiap orang yang
bercocok tanaman maka dialah yang wajib mengeluarkan zakar hasil tanamannya
Peta Konsep
A. . Kesimpulan
Zakat hasil tanah yang disewakan yang ditanami dan menghasilkan buah seperti padi, korma, gandum, jeruk,
anggur, semangka, kacang, bawang, dan lain sebagainya. Kewajiban untuk mengeluarkan zakat hasil tanah
yang disewakan didasari oleh ayat QS. al-An’am: 141 dan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim.
MATERI YANG MENIMBULKAN MISKONSEPSI YAITU:
1. Pembaruan dalam Fikih Muamalah
2. Pengelolaan Kekayaan dalam Islam
3. Keadilan Sosial.
4. Kerancuan dalam Klasifikasi Hasil Tanah
5. Relevansi dengan Ekonomi Modern