ORIGINAL ARTICLE
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery) e-ISSN: 2721-8864
2024, Volume 12, Number 1: pages 121-127 p-ISSN: 2338-669X
DOI: [Link]
Differences in Anxiety Levels of Pregnant Women in the Third Trimester
Before and After Being Given Prenatal Yoga
Ni Wayan Desi Suryaningsih1, Drg. Regina Tedjasulaksana,M.Biomed2,
Ni Luh Putu Sri Erawati, [Link].T., MPH3
1,2,3
Midwifery Department, Poltekkes Kemenkes Denpasar, Indonesia
Corresponding Author: niwayandesisuryaningsih@[Link]
ABSTRACT
Article history: written by Pregnancy is a physiological process that every woman will
editor experience. During pregnancy, there are various changes,
including physical, physiological, and psychological changes.
Submitted, yyyy/mm/dd
Accepted, yyyy/mm/dd Psychological changes during pregnancy that are not properly
Published, yyyy/mm/dd managed will generally lead to anxiety in pregnant women.
Based on interviews with ten third-trimester pregnant women,
Keywords: seven (70%) out of ten reported always feeling anxious during
pregnancy. The purpose of this study is to determine the
Prenatal Yoga, Anxiety, difference in anxiety levels of third-trimester pregnant women
Third Trimester Pregnant
before and after being given prenatal yoga at UPTD Puskesmas
Women
IV South Denpasar. This study uses a Quasi-Experimental
Cite This Article: written by design with a pretest-posttest one-group design. The study was
editor
conducted from March to April 2024 using a simple random
Authors name. Year. Title. sampling technique. The sample consisted of 24 third-trimester
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The pregnant women in the working area of UPTD Puskesmas IV
Journal of Midwifery) South Denpasar. Data collection was carried out using a
Vol(Number):pages. DOI:
questionnaire. Data analysis included univariate analysis in the
form of frequency distribution and bivariate analysis using data
normality tests and the Paired T-Test with a significance level
of p<0.05. The results showed a significant difference in
anxiety levels before and after being given prenatal yoga
(p<0.000). Pregnant women can use prenatal yoga as an
alternative to reduce anxiety, health workers are expected to
apply prenatal yoga as a non-pharmacological therapy to
alleviate anxiety, and future researchers are encouraged to add
other variables that may influence anxiety.
PENDAHULUAN
Kehamilan merupakan proses fisiologis yang akan dialami oleh setiap wanita. Dalam proses
kehamilan terjadi perubahan-perubahan baik perubahan fisik, fisiologis maupun psikologis, terlebih
bila kehamilan tersebut merupakan peristiwa yang pertama kali, yang merupakan pengalaman baru
dan dapat menjadi faktor yang menimbulkan kecemasan, dimana beberapa stresor dapat diduga dan
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery); 12(1): pages 121-127 121
ORIGINAL ARTICLE
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery) e-ISSN: 2721-8864
Year, Volume 12, Number 1 : pages 121-127 p-ISSN: 2338-669X
DOI: [Link]
ada yang tidak terduga (tidak terantisipasi) misalnya komplikasi kehamilan. Perubahan psikologis
pada masa kehamilan yang tidak dapat ditangani oleh ibu umumnya akan menyebabkan terjadinya
kecemasan pada ibu hamil (Aspiani, 2017).
Kecemasan adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena ketidaknyamanan atau
rasa takut yang disertai suatu respon (sumber sering kali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh
individu). Suatu perasaan takut akan terjadi sesuatu yang disebabkan oleh antisipasi bahaya (Yusuf,
2015). Perubahan psikologis yang sering terjadi pada ibu hamil di usia kehamilan trimester III yaitu
perubahan psikologis ibu akan lebih kompleks dibandingkan trimester sebelumnya akibat kondisi
kehamilan yang sudah semakin membesar. Seiring dengan bertambahnya usia kehamilan tersebut,
perubahan psikologis yang paling dominan dirasakan ibu hamil adalah rasa cemas yang akan terus
dirasakan hingga masa persalinan (Elvina dan Rosdiana, 2018).
Data World Health Organization (WHO) tahun 2020 sekitar 8-10 % kecemasan selama
kehamilan, dan meningkat menjadi 12% ketika menjelang persalinan (World Health Organization,
2020). Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2020 menunjukkan bahwa prevalensi
ibu hamil yang mengalami kecemasan sekitar 43,3% dan yang mengalami kecemasan dalam
menghadapi persalinan ada sekitar 48,7% (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020). Data
kecemasan selama kehamilan di Provinsi Bali pada tahun 2020 terdapat 40,35% cemas berat, 31,58%
cemas sedang, dan 28,07% cemas ringan (Dinas Kesehatan Bali, 2020). Berdasarkan data hasil
penelitian di UPTD Puskesmas II Denpasar Barat, kejadian kecemasan ibu hamil trimester III
menjelang persalinan sebagian besar mengalami kecemasan ringan (55,4% dari 74 responden) (Asih,
2021).
Kecemasan pada masa kehamilan berdampak negatif terhadap persalinan, kesehatan mental ibu
postpartum, dan kesehatan bayi. Kecemasan yang tidak teratasi meningkatkan resiko terjadinya
depresi setelah bersalin dan berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan bayi serta
perkembangan. Menurut Lee, dkk (2018) kecemasan pada kehamilan 3,84 kali berpeluang
mengakibatkan depresi postpartum. Hormon stress yang dihasilkan karena cemas yang dirasakan oleh
ibu hamil dapat menghambat suplai darah dari ibu ke janin, sehingga dapat meningkatkan risiko
terjadinya komplikasi terutama pada ibu dan janin. Selain itu, kecemasan ibu hamil memicu terjadinya
rangsangan kontraksi rahim. Akibat dari kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan darah sehingga
mampu memicu terjadinya preeklampsi dan keguguran, kelahiran bayi berat lahir rendah (BBLR) dan
bayi prematur (Aryani, dkk. 2018). Berdasarkan data register kunjungan ibu bersalin di ruang rawat
inap Puskesmas IV Denpasar Selatan, dari 118 ibu bersalin yang berkunjung dari bulan Januari-
Desember 2023, terdapat 16 orang ibu bersalin yang dirujuk ke fasilitas lanjut/rumah sakit oleh karena
hipertensi dalam kehamilan (HDK), 14 orang ibu hamil dirujuk oleh karena pre eklamsia berat (PEB),
dan 9 orang ibu hamil dirujuk oleh karena partus prematurus iminens (PPI).
Di Puskesmas IV Denpasar Selatan sudah dilakukan upaya untuk menurunkan tingkat
kecemasan ibu hamil yaitu berupa pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE). Namun, hal
tersebut belum signifikan dalam menurunkan tingkat kecemasan ibu hamil. Berdasarkan hasil studi
pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas IV Denpasar Selatan terdapat data ibu hamil trimester III
dari bulan Oktober sampai Desember tahun 2023 yaitu dengan jumlah kunjungan ibu hamil pada
bulan Oktober sebanyak 51 orang, bulan November sebanyak 40 orang, dan bulan Desember
sebanyak 44 orang. Berdasarkan hasil wawancara kepada sepuluh orang ibu hamil trimester III, tujuh
ibu hamil (70%) dari 10 ibu hamil mengatakan selalu merasakan kecemasan pada saat kehamilan.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan ibu hamil untuk mengurangi kecemasan selama
kehamilan yaitu olahraga seperti jalan kaki, berenang, senam hamil, prenatal yoga. Salah satu
olahraga atau latihan fisik yang aman dan direkomendasikan adalah prenatal yoga. Prenatal yoga
adalah suatu olahraga yang diperuntukan oleh ibu hamil, yang bermanfaat untuk mengurangi
kecemasan dan memberikan rasa nyaman. Latihan prenatal yoga bagi kehamilan berfokus pada ritme
122 Open Access: [Link]
ORIGINAL ARTICLE
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery) e-ISSN: 2721-8864
2024, Volume 12, Number 1: pages 121-127 p-ISSN: 2338-669X
DOI: [Link]
pernafasan, mengutamakan keamanan serta kenyamanan sehingga memberikan banyak manfaat bagi
ibu hamil. Prenatal yoga adalah sejenis olah tubuh, pikiran dan mental ibu yang sangat membantu ibu
hamil dalam melenturkan persendian dan menenangkan pikiran terutama pada trimester III. Prenatal
yoga selama kehamilan dapat meningkatkan berat lahir dan mengurangi kejadian prematur dan
komplikasi persalinan (Yulinda, 2017).
Hal ini juga didukung oleh penelitian Nurfazriah (2021) yang menunjukkan bahwa kelas ibu
hamil dengan prenatal yoga memiliki pengaruh terhadap penurunan angka kejadian kecemasan ibu
hamil. Penelitian Veftisia dan Afriyani (2021), dari hasil penelitian didapatkan hasil terjadi
pengurangan kecemasan pada ibu hamil setelah diberikan yoga. Hasil penelitian Dewi (2018)
menunjukkan ada pengaruh pemberian prenatal yoga pada ibu hamil dan dapat menurunkan tingkat
kecemasan ibu hamil.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti “Perbedaan Tingkat
Kecemasan Ibu Hamil Trimester Ketiga Sebelum dan Sesudah Diberikan Prenatal Yoga di UPTD
Puskesmas IV Denpasar Selatan”.
METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian Quasi Experimental Design dengan desain
rancangan pretest-posttest one group design. Quasi experimental adalah eksperimen yang tidak
mempunyai karakteristik rancangan eksperimen yang sesungguhnya, sebab variabel yang harus
dikontrol atau dimanipulasi tidak memungkinkan atau sukar dilakukan (Notoatmodjo, 2018). Jenis
penelitian yang digunakan bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan ibu hamil
trimester III sebelum dan sesudah diberikan prenatal yoga di UPTD Puskesmas IV Denpasar Selatan,
Kota Denpasar. Data yang telah diperoleh kemudian diolah menggunakan uji statistik yang sesuai.
Populasi penelitian adalah kelompok subjek yang hendak digeneralisasi untuk memenuhi
kriteria yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2017). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu
hamil trimester III dengan rata-rata kunjungan 45 ibu hamil per bulan di wilayah kerja Puskesmas IV
Denpasar Selatan, Kota Denpasar.
Sampel miminal yang digunakan adalah 22 responden. Peneliti memberikan tambahan sampel
untuk mengantisipasi adanya kriteria drop out sebanyak 10 %. Jadi sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sejumlah 24 orang. Adapun kriteria sampel yang akan digunakan adalah sebagai
berikut: Kriteria inklusi: a. Ibu hamil yang bersedia menjadi responden; b. Ibu hamil trimester III usia
kehamilan 28-37 minggu; c. Belum pernah mengikuti prenatal yoga; d. Tidak sedang mendapatkan
terapi lain; e. Ibu hamil yang tidak pernah keguguran; f. Ibu hamil yang tidak memiliki riwayat
persalinan preterm; g. Ibu hamil yang tidak memiliki tekanan darah tinggi; h. Ibu hamil yang tidak
memiliki riwayat penyakit komplikasi seperti perdarahan dalam kehamilan, ketuban pecah dini,
pertumbuhan janin terhambat. Kriteria ekslusi yaitu ibu hamil sakit.
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer. Data primer adalah data yang
diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat
pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari (Siswanto, dkk., 2017).
Pengumpulan data primer dilakukan peneliti terhadap sampel penelitian dengan cara pengisian
kuesioner oleh sampel secara langsung, dalam penelitian ini yang menjadi data primer yaitu tingkat
kecemasan ibu hamil trimester III sebelum dan sesudah diberikan perlakuan (prenatal yoga).
Pengolahan data merupakan suatu proses untuk memperoleh data berupa ringkasan
berdasarkan suatu kelompok data mentah dengan menggunakan rumus tertentu sehingga dapat
menghasilkan suatu informasi yang dibutuhkan. Langkah-langkah pengolahan data yang dilakukan
yaitu editing, sorting, entry, cleaning/tabulasi. Langkah-langkah pengolahan data dalam penelitian ini
adalah; a. Editing (penyunting data). Tahap ini merupakan kegiatan penyuntingan data yang telah
terkumpul yaitu dengan memeriksa kelengkapan, kesalahan pengisian setiap jawaban dari daftar
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery); 12(1): pages 121-127 123
ORIGINAL ARTICLE
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery) e-ISSN: 2721-8864
Year, Volume 12, Number 1 : pages 121-127 p-ISSN: 2338-669X
DOI: [Link]
pertanyaan sebagai persiapan untuk entry; b. Sorting. Mensorting dengan memilih atau
mengelompokkan data menurut jenis yang dikehendaki (klasifikasi data); c. Entry. Data yang telah
divalidasi dimasukan ke dalam komputer secara manual lalu diolah dengan sistem komputerisasi dan
disimpan untuk memudahkan pengambilan data apabila diperlukan, setelah data didapatkan hasil dari
kuesioner dimasukkan dalam tabel bantu software microsoft excel dan SPSS (Statistical Product and
Service Solutions) Versi 22.0; d. Cleaning/Tabulasi, Data yang sudah dimasukkan kemudian di
cocokan dan diperiksa kembali dengan data yang didapat pada kuesioner. Bila perubahan dan
perbedaan hasil segera dilakukan pengecekan ulang, selanjutnya data yang sudah benar akan di
analisa menggunakan sistem komputer.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis univariat dan analisis bivariat.
Anlisis univariat. Analisis ini dilakukan pada setiap variabel dari hasil penelitian. Dalam penelitian ini
analisis univariat dalam bentuk tabel distribusi dan persentase dari karakteristik setiap variabel yaitu
usia ibu, paritas, tingkat pendidikan, pekerjaan. Analisis data terhadap gambaran tingkat kecemasan
sebelum dan sesudah diberikan prenatal yoga berdasarkan hasil pretest dan posttest menggunakan
mean, median, standar deviasi, maximum dan minimum.
Analisis bivariat, analisis bivariat dilakukan jika variabel yang dianalisis terdiri dari dua
macam yaitu dependen dan independen. Analisis ini bertujuan menguji hipotesis penelitian yang
diajukan peneliti (Nursalam, 2017). Analisis bivariat pada penelitian ini adalah analisis yang
dilakukan untuk mengidentifikasi variabel independent (prenatal yoga) dengan variabel dependent
(kecemasan ibu hamil trimester III). Pada analisis ini dimulai dari uji normalitas data, uji normalitas
dilakukan untuk menilai sebaran data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas data yang
digunakan alam penelitian ini adalah uji Shapiro-Wilk dengan p < 0,05, data dikatakan tidak
berdistribusi normal. Hasil uji normalitas data menunjukkan data berdistribusi normal sehingga
menggunakan uji analisis data yaitu Paired T-Test dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Uji
hipotesis penelitian ditetapkan jika p < α (0,05).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan kriteria sampel yang ditetapkan, maka pada penelitian ini diperoleh sampel penelitian
sebanyak 25 orang yang merupakan ibu hamil trimester III di wilayah UPTD Puskesmas IV Dinas
Kesehatan Kecamatan Denpasar Selatan. Adapun karakteristik sampel penelitian menurut usia ibu,
pendidikan, pekerjaan, dan paritas dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Table 1.
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Ibu, Paritas,
Pendidikan, dan Pekerjaan
No Karakteristik F %
1 Usia Ibu
a. < 20 tahun 1 4,17
b. 20-35 tahun 20 83,33
c. >35 tahun 3 12,5
Total 24 100
2 Paritas
a. Primigravida 13 54,17
b. Multigravida 11 45,83
Total 24 100
124 Open Access: [Link]
ORIGINAL ARTICLE
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery) e-ISSN: 2721-8864
2024, Volume 12, Number 1: pages 121-127 p-ISSN: 2338-669X
DOI: [Link]
No Karakteristik F %
3 Pendidikan
a. Dasar 3 12,5
b. SMP 5 20,83
c. SMA 11 45,83
d. Perguruan Tinggi 5 20.83
Total 24 100
4 Pekerjaan
a. Bekerja 9 37,5
b. Tidak Bekerja 15 62,5
Total 24 100
responden yang berusia 20 sampai 35 tahun yaitu 20 responden (83,33%), paritas primigravida
sebanyak 13 responden (54,17%), berpendidikan SMA 11 responden (45,83%), dan pekerjaan
sebagai ibu rumah tangga atau tidak bekerja sebanyak 15 responden (62,5%).
Tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan prenatal yoga. Gambaran tingkat
kecemasan sebelum diberikan prenatal yoga dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.
Table 2.
Tingkat Kecemasan Sebelum Diberikan Prenatal Yoga
Mean Median Standar Min Max Range P
Deviasi Mean
Pre Test 25,70 25,5 6,37 15 40
5,54 0,000
Post Test 20,16 20 5,10 14 30
Berdasarkan Tabel 4, dapat diketahui hasil pengukuran tingkat kecemasan ibu hamil sebelum
diberikan prenatal yoga dari hasil kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HARS-A) adalah
nilai rata-rata (mean) berada pada skor 25,70, nilai tengah (median) berada pada skor 25,5, nilai
standar deviasi (SD) pada skor 6,37, sedangkan nilai terendah yaitu berada pada skor 15 dan nilai
tertinggi berada pada skor 40. Pengukuran tingkat kecemasan ibu hamil trimester III sesudah
diberikan prenatal yoga dari hasil kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HARS-A) adalah
nilai rata-rata (mean) berada pada skor 20,16, nilai tengah (median) berada pada skor 20, nilai standar
deviasi (SD) pada skor 5,10, sedangkan nilai terendah yaitu berada pada skor 14 dan nilai tertinggi
berada pada skor 30.
Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan prenatal yoga Uji Normalitas
dilakukan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang digunakan
adalah uji Shapiro-Wilk karena jumlah sampel penelitian kurang dari 50 orang. Dasar pengambilan
keputusan uji ini adalah jika nilai p > 0,05 maka data berdistribusi normal dan jika nilai p ≤ 0,05 maka
data berdistribusi tidak normal.
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery); 12(1): pages 121-127 125
ORIGINAL ARTICLE
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery) e-ISSN: 2721-8864
Year, Volume 12, Number 1 : pages 121-127 p-ISSN: 2338-669X
DOI: [Link]
Table 3.
Hasil Uji Normalitas Data
Statistik df p
Pretest 0,943 24 0,191
Posttest 0,921 24 0,061
Berdasarkan tabel di atas hasil uji normalitas tingkat kecemasan sebelum diberikan prenatal
yoga yaitu p = 0,191 dan setelah diberikan prenatal yoga yaitu p = 0,061, ini menunjukkan nilai
signifikansi sebelum dan sesudah diberikan prenatal yoga p > α (0,05) yang berarti data berdistribusi
normal sehingga yang disajikan adalah nilai rata-rata (mean).
Uji yang digunakan untuk menganalisis perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah
diberikan prenatal yoga adalah dengan menggunakan uji Paired T-Test. Dasar pengambilan keputusan
uji Paired T-Test adalah nilai p > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan
sesudah diberikan prenatal yoga da nilai p ≤ 0,05 maka terdapat perbedaan tingkat kecemasan
sebelum dan sesudah diberikan prenatal yoga.
Berdasarkan uji statistika menggunakan Paired T-Test yang dilakukan terhadap 24 orang ibu
hamil trimister III yang telah diberikan prenatal yoga sebanyak 1 (satu) kali dapat diketahui bahwa
selisih nilai rata-rata (mean) kecemasan ibu hamil trimester III berada pada skor 5,54, nilai standar
deviasi 5,29, sedangkan selisih pada nilai terendah yaitu berada pada skor 3,30, dan selisih pada nilai
tertinggi berada pada skor 7,77, p value sebesar 0,000. Hasil uji statistik p value 0,000 < α (0,05),
maka ada perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan prenatal yoga terhadap tingkat
kecemasan ibu hamil trimester III di UPTD Puskesmas IV Dinas Kesehatan Kecamatan Denpasar
Selatan.
Pada penelitian ini dijumpai hampir seluruh usia ibu hamil berada pada usia 20-35 tahun, usia
termuda adalah ibu yang berusia 19 tahun dan usia tertua adalah 42 tahun. Penelitian yang dilakukan
Sulistyowati (2015) menunjukkan bahwa sebagian besar ibu hamil adalah usia 20-35 tahun, hal
tersebut disebabkan karena pada usia tersebut merupakan usia produktif serta usia kehamilan yang
tidak memiliki banyak risiko. Uisa ibu sangat menentukan kesehatan maternal dan berkaitan dengan
kondisi kehamilan. Pada usia 20-35 tahun yang merupakan usia produktif kehamilan, hal ini
berhubungan dengan kemampuan ibu dalam merespon kecemasan yang berkaitan dengan mekanisme
koping yang baik, dimana koping yang baik pada umumnya lebih banyak diterapkan oleh ibu dengan
usia yang lebih tua dibandingkan dengan kelompok ibu dengan usia yang lebih muda. Selain itu, usia
ibu hamil memiliki pengaruh terhadap kesiapan dalam menghadapi proses persalinan yaitu ibu dengan
usia yang lebih muda cenderung memiliki rasa tidak siap secara fisik dan psikis dalam menghadapi
persalinan yang juga dapat meningkatkan tingkat kecemasan pada ibu hamil.
Distribusi ibu hamil berdasarkan paritas dengan persentase tertinggi adalah ibu yang hamil
pertama kali (primigravida) sebesar 13 responden (54,17%) dan ibu yang pernah hamil sebelumnya
(multigravida) sebanyak 11 responden (45,83%). Ibu hamil pertama kali (primigravida) lebih
cenderung mengalami kecemasan pada masa kehamilan karena belum ada pengalaman terkait
kehamilan dan persalinan. Hamil primigravida merupakan kehamilan pertama kali dialaminya
sehingga menginjak trimester III akan merasakan cemas karena semakin dekat dengan proses
persalinan. Ibu dengan paritas pertama kali biasanya masih mengalami kesulitan selama beradaptasi
dengan kehamilannya. Selain itu, pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki seputar kehamilan
masih lebih sedikit dibandingkan dengan wanita paritas tinggi. Pada ibu primigravida biasanya
126 Open Access: [Link]
ORIGINAL ARTICLE
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery) e-ISSN: 2721-8864
2024, Volume 12, Number 1: pages 121-127 p-ISSN: 2338-669X
DOI: [Link]
kesulitan dalam mengenali adanya perubahan yang terjadi dalam tubuhnya sehingga akan merasakan
ketidaknyamanan selama masa kehamilan. Sedangkan ibu yang pernah hamil dan melahirkan
sebelumnya (multigravida), perasaan cemas yang dirasakan hanya berhubungan dengan pengalaman
masa lalu yang pernah dialaminya selama kehamilan dan proses persalinan (Heriani, 2016).
Distribusi ibu hamil berdasarkan pendidikan terakhir dengan persentase tertinggi yaitu SMA
sebanyak 11 responden (45,83%). Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-
hal yang menunjang kesehatan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Pendidikan dapat
memengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam
memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi tingkat
pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengetahuan
yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang
terhadap nilai-nilai baru yang diperkenalkan (Videbeck, 2018).
Distribusi ibu hamil berdasarkan pekerjaan dengan persentase tertinggi adalah ibu hamil yang
tidak bekerja yaitu sebanyak 15 responden (62,5%). Ibu hamil yang tidak bekerja akan lebih banyak
mengalami kecemasan karena tidak memiliki penghasilan sendiri, kurang mendapatkan pengetahuan
tentang kehamilannya dibandingkan dengan ibu hamil yang bekerja. Ibu hamil bekerja akan sering
bertemu dengan orang lain diluar rumahnya, sehingga akan lebih banyak mendapatkan informasi atau
pengetahuan lebih banyak dari pengalaman orang lain mengenai kehamilannya dan membuatnya
merasa lebih tenang (Rahayu, 2019). Bekerja dapat mengalihkan perasaan cemas bagi ibu hamil,
karena bekerja adalah aktivitas menyita waktu dan ibu hamil akan fokus ke pekerjaannya. Ibu hamil
yang bekerja dapat berinteraksi dengan masyarakat sehingga dapat menambah pengetahuan, selain itu
bekerja dapat menambah penghasilan keluarga untuk mencukupi kebutuhan selama kehamilan. Ibu
hamil yang bekerja mempunyai uang sendiri sehingga bisa membeli segala sesuatu yang diinginkan,
memenuhi kebutuhan pribadinya baik kebutuhan yang bersifat primer maupun sekunder dan tersier
sehingga tidak perlu meminta kepada suaminya (Ni’mah, 2019).
Hasil penelitian yang dilakukan pada 24 responden menunjukkan bahwa ibu hamil trimester
III sebelum diberikan prenatal yoga (pretest) sebanyak 13 responden (54,17%) mengalami kecemasan
sedang, sebanyak 7 responden (29,16%) mengalami kecemasan berat, dan sebanyak 4 responden
(16,67%) mengalami kecemasan ringan. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar responden
memiliki tingkat kecemasan sedang.
Menurut Yusuf (2015) kecemasan adalah suatu perasaan samar-samar karena
ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai suatu respon. Kecemasan ibu hamil trimester III dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor internal (usia, paritas, pendidikan, dan pekerjaan) dan
faktor eksternal (lingkungan dan dukungan suami). Untuk mengatasi kecemasan ibu hamil trimester
III, menurut teori yang dikemukakan oleh Yulinda (2017) prenatal yoga adalah suatu olahraga yang
diperuntukkan bagi ibu hamil yang bermanfaat untuk mengurangi kecemasan dan memberikan rasa
nyaman. Hasil penelitian ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Farasari, dkk (2024)
tentang prenatal yoga yang dapat mengurangi tingkat kecemasan pada ibu hamil.
Diketahui bahwa sebian besar responden tidak bekerja atau sebaai ibu rumah tangga yaitu
sebanyak 15 responden (62,5%) dan hamil pertama kali atau primigravida sebanyak 13 responden
(54,17%). Adapun faktor yang kemungkinan memengaruhi tingkat kecemasan dari hasil penelitian ini
adalah jenis pekerjaan dan paritas. Pekerjaan ibu dapat memengaruhi kecemasan sebab ibu hamil
yang tidak bekerja akan lebih banyak mengalami kecemasan karena tidak memiliki penghasilan
sendiri, kurang mendapatkan pengetahuan tentang kehamilannya dengan ibu hamil yang bekerja. Hal
ini sesuai dengan teori Rahayu (2019).
Menurut peneliti kecemasan pada kehamilan primigravida merupakan hal yang wajar karena
kehamilan tersebut merupakan yang pertama kali, ibu hamil belum memiliki pengalaman dalam hal
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery); 12(1): pages 121-127 127
ORIGINAL ARTICLE
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery) e-ISSN: 2721-8864
Year, Volume 12, Number 1 : pages 121-127 p-ISSN: 2338-669X
DOI: [Link]
merawat janin dalam kandungannya. Akan tetapi kecemasan ini akan menjadi masalah jika intensitas
berlebih dan tidak wajar yang mana dapat mengganggu psikologis ibu hamil.
Berdasarkan hasil penelitian ibu hamil trimester III setelah diberikan prenatal yoga (posttest)
setengah dari responden yaitu sebanyak 12 responden (50%) mengalami kecemasan ringan. Selain itu,
sebanyak 9 responden (37,5%) mengalami cemas sedang, sebanyak 3 responden (12,5%) mengalami
cemas berat.
Salah satu cara mengatasi kecemasan ibu hamil yaitu sesuai dengan teorinya prenatal yoga
berpengaruh terhadap kecemasan ibu hamil dan dapat menurunkan tingkat kecemasan ibu hamil
(Dewi, 2018). Perlakuan prenatal yoga diberikan kepada ibu hamil trimester III sebanyak 1 (satu) kali
dengan durasi 60 menit (Farasari, dkk., 2024). Hal tersebut membantu mengurangi tingkat kecemasan.
Menurut peneliti, ibu hamil trimester III yang mengalami tingkat kecemasan berlebih harus segera
diturunkan agar tidak mengganggu kehamilannya. Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar
responden mengalami kecemasan ringan setelah diberikan prenatal yoga walaupun masih terdapat
sebagian kecil responden mengalami kecemasan sedang, hampir seluruh responden mengalami
penurunan satu tingkat kecemasan dari sebelumnya, berat ke sedang, sedang ke ringan.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hartasih (2018) yang
menunjukkan bahwa prenatal yoga dapat memberikan banyak manfaat yang membuat ibu hamil lebih
rileks, ketenangan pikiran, mengetahui teknik pernafasan yang benar, serta memfokuskan perhatian
pada ritme pernafasan dimana semua manfaat tersbut akan memudahkan ibu hamil dalam proses
persalinan nantinya.
Berdasarkan hasil penelitian, masih terdapat ibu hamil yang mengalami kecemasan berat
sebanyak 3 (tiga) responden setelah diberikan prenatal yoga dikarenakan beberapa faktor yang
kemungkinan memengaruhi tingkat kecemasan ibu hamil trimester III yaitu akibat dari kurangnya
konsentrasi saat melakukan latihan atau perlakuan prenatal yoga. Selain itu, frekuensi
pelaksanaan prenatal yoga yang baru diberikan sebanyak 1 (satu) kali sehingga belum
memberikan dampak yang signifikan terhadap ibu hamil trimester III. Hal tersebut sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Hamdiah, dkk (2017) menyatakan bahwa semakin sering ibu
hamil mengikuti prenatal yoga maka akan semakin mengurangi tingkat kecemasan. Selain itu, ibu
hamil mungkin masih merasa cemas setelah diberikan prenatal yoga karena kecemasan tidak
hanya dipengaruhi oleh aktivitas fisik, tetapi juga oleh faktor psikologis, faktor internal, dan
faktor eksternal seperti lingkungan dan dukungan suami.
Menurut asumsi peneliti, latihan prenatal yoga bagi kehamilan berfokus pada ritem
pernafasan, mengutamakan keamanan, serta kenyamanan sehingga memberikan banyak manfaat
bagi ibu hamil. Prenatal yoga adalah sejenis olah tubuh, pikiran, dan mental ibu yang sangat
membantu ibu hamil dalam melenturkan persendian dan menenangkan pikiran. Pada latihan
prenatal yoga akan mendapatkan manfaat selama kehamilan yang dapat membantu kelancaran
dalam kehamilan dan kelahiran anak secara alami dan sehat. Selain itu, prenatal yoga selama
kehamilan dapat meningkatkan berat lahir dan mengurangi kejadian prematur dan komplikasi
persalinan (Ashari, dkk., 2019).
Hasil penelitian ini menunjukkan perubahan nilai rata-rata ibu hamil trimester III sebelum
diberikan prenatal yoga yaitu 25,70 dan setelah diberikan prenatal yoga yaitu 20,16 sehingga
terjadi penurunan tingkat kecemasan pada ibu hamil trimester III setelah diberikan prenatal yoga.
Secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna pada kecemasan ibu hamil trimester III
sebelum dan sesudah diberikan prenatal yoga dengan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05).
Berdasarkan hal tersebut, hasil penelitian dapat diasumsikan bahwa prenatal yoga dapat
menurunkan kecemasan ibu hamil trimester III di UPTD Puskesmas IV Dinas Kesehatan
Kecamatan Denapasar Selatan.
128 Open Access: [Link]
ORIGINAL ARTICLE
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery) e-ISSN: 2721-8864
2024, Volume 12, Number 1: pages 121-127 p-ISSN: 2338-669X
DOI: [Link]
Prenatal yoga adalah gerakan komprehensif yang menggunakan latihan fisik yang
mengkombinasikan antara teknik nafas, relaksasi, meditasi, dan peregangan. Prentatal yoga dapat
menurunkkan kecemasan ibu hamil dikarenakan latihan yoga menekankan kosentrasi yang
memberi pengaruh positif yaitu ketenangan pikiran. Konsentrasi bisa menjadi sarana relaksasi
pikiran yang sangat dibutuhkan pikiran yang sedang sters. Selain itu, pada latihan-latihan yoga
dapat mengurangi kinerja hipotalamus untuk melepaskan neuropeptida yang selanjutnya akan
merangsang kelenjar hipofisis untuk melepaskan ACTH (Adrenocorticotropic Hormone), yang
kemudian menekan produksi kortisol. Dengan menurunnya kadar kortisol menyebabkan gejala
kecemasan yang dirasakan menjadi berkurang. Berkurangnya kecemasan sejalan dengan adanya
penurunan detak jantung, irama nafas, tekanan darah, ketegangan otot, tingkat metabolisme, dan
produksi hormon penyebab kecemasan atau stres, sehingga seluruh badan mulai berfungsi untuk
penyembuhan (healing), penguatan (restoration), dan peremajaan (rejuvenation). Dengan
demikian, ibu hamil merasa rileks seiring dengan menurunnya gejala kecemasan (Hariyanto,
2015).
Menurut Aprilia (2020), melakukan prenatal yoga dapat memberikan manfaat kesehatan
mental dan spiritual ibu hamil sebagai media self help yang akan membantu ibu hamil saat
merasakan kecemasan dan ketakutan selama kehamilan melalui teknik-teknik pernafasan dalam
yoga untuk mengontrol emosi, pikiran negatif dalam diri, rasa khawatir, dan keraguan selama
hamil, sehingga dapat meningkatkan inner peace, penerimaan diri, dan kepasrahan saat melewati
semua kesulitan dalam proses kehamilan maupun persalinan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Amalia, dkk
(2020), terjadi penurunan tingkat kecemasan ibu hamil trimester III secara statistik sehingga
menunjukkan bahwa prenatal yoga dapat menurunkan tingkat kecemasan ibu hamil. Setelah
diberikan prenatal yoga didapatkan bahwa tingkat kecemasan ibu hamil lebih baik dibandingkan
sebelumnya.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mulyati dan Zafariyana
(2018) yang menyebutkan bahwa prenatal yoga dapat menurunkan tingkat kecemasan ibu hamil.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Hartasih (2018) yang menyatakan dari 15 responden
menjawab bahwa prenatal yoga dipercaya dapat menurunkan kecemasan pada ibu hamil.
Menurut penelitian Ashari, dkk (2019) yang melakukan penelitian pada ibu hamil
primigravida, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 14 orang ibu hamil primigravida (87,5%)
yang memiliki tingkat kecemasan tinggi, namun setelah diberikan prenatal yoga maka terjadi penurunan
menjadi 8 orang (50%) ibu hamil primigravida yang mengalami kecemasan. Hal ini karena prenatal
yoga merupakan salah satu cara baik untuk mempersiapkan persalinan yang dilakukan di kelas prenatal,
karena dalam kelas ini latihan disesuaikan dengan kondisi ibu hamil dengan berbagi pendekatan latihan
seperti peregangan, konsentrasi, dan pengaturan pernafasan yang memiliki banyak manfaat bagi ibu
hamil dan janinnya seperti mengurangi kecemasan meningkatkan kualitas tidur, meningkatkan
kekuatan, fleksibilitas dan daya tahan yang diperlukan untuk persalinan, penurunan sakit punggung
bagian bawah, mual sakit kepala, sesak nafas, serta penurunan risiko persalinan prematur, hipertensi
pada kehamilan.
Hasil penelitian dari Sulastri, dkk (2021) terdapat perbedaan kecemasan pada ibu hamil sebelum
dan setelah diberikan intervensi prenatal yoga. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan beberapa
penelitian sebelumnya yang melaporkan bahwa prenatal yoga bermanfaat untuk menurunkan kecemasan
yang berkaitan dengan kehamilan (Hamdiah, dkk., 2017).
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti berasumsi pemberian intervensi prenatal yoga dapat
menurunkan tingkat kecemasan dan dapat diterapkan untuk mencegah timbulnya cemas sehingga dapat
disimpulkan bahwa ada perbedaan tingkat kecemasan ibu hamil trimester III sebelum dan setelah
diberikan prenatal yoga di UPTD Puskesmas IV Dinas Kesehatan Kecamatan Denpasar Selatan.
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery); 12(1): pages 121-127 129
ORIGINAL ARTICLE
Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal of Midwifery) e-ISSN: 2721-8864
Year, Volume 12, Number 1 : pages 121-127 p-ISSN: 2338-669X
DOI: [Link]
KESIMPULAN
Setelah dilakukan penelitian, pengolahan data dan pembahasan tentang Perbedaan Tingkat
Kecemasan Ibu Hamil Trimester III Sebelum dan Sesudah Diberikan Prenatal Yoga di UPTD
Puskesmas IV Dinas Kesehatan Kecamatan Denpasar Selatan Tahun 2024 diperoleh data sebagai
berikut:1. Hampir seluruh responden berusia 20-35 tahun, sebagian besar responden hamil pertama
kali atau primigravida, hampir setengah responden berpendidikan SMA, dan sebagian besar
responden tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga; 2. Tingkat kecemasan sebelum diberikan
prenatal yoga (pre test) yaitu sebagian besar ibu hamil trimester III mengalami kecemasan sedang dan
tingkat kecemasan sesudah diberikan prenatal yoga (post test) yaitu setengah dari seluruh ibu hamil
trimester III mengalami kecemasan ringan. 3. Ada perbedaan tingkat kecemasan ibu hamil trimester
III sebelum dan sesudah diberikan prenatal yoga di di UPTD Puskesmas IV Dinas Kesehatan
Kecamatan Denpasar Selatan.
UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terima kasih terutama kepada orang tua, keluarga, teman-teman dan berbagai pihak
yang sudah mendukung serta membantu dalam proses penelitian ini.
REFERENSI
Aryani,R.Z., Handayani, R., Susilowati, D. Pengaruh Pelaksanaan Prenatal Gentle Yoga Terhadap
Kecemasan Menjelang Persalinan Pada Ibu hamil Primigravida Trimester III Di Klinik Bidan
Kita. Jurnal Kebidanan dan Kesehatan Tradisional, 2018 3(2), 78-83.
Amalia, R., Rusmini, R., & Yuliani, D. R. 2020. Prenatal Yoga Terhadap Tingkat Kecemasan
Primigravida Trimester III. Jurnal Sains Kebidanan, 2(1), 29–34.
[Link]
Asih, N.W.Y. 2021. Gambaran Tingkat Kecemasan Menjelang Persalinan Pada Ibu Hamil Trimester
III Penelitian Dilakukan di Wilayah Unit Pelaksana Teknis Daerah Puskesmas II Dinas
Kesehatan Kecamatan Denpasar Barat Tahun 2021. Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia Politeknik Kesehatan Denpasar. [Link]
Dewi, R. K., Weni, T. P. 2018. Pengaruh Prenatal Yoga Terhadap Tingkat Kecemasan Ibu Hamil
Prmigravida Trimester III di Kediri. 1, s.1. E-jurnal UNAIR, 2018, Vol. 2.
Hariyanto, Miftah. 2020. Pengaruh Senam Yoga Terhadap Tingkat kecemasan Ibu Hamil Trimester
III Di Praktik Bidan Mandiri kabupaten Boyolali. Surakarta: Universitas Muhamadiyah
Lee, A. M., Chong, C.S.Y., Chiu, H.W., Lam, S.K., dan Fong, D.Y.T. 2018. Prevalence, course, and
risk factors, for antenatal anxiety and depression. Obstetry Gynecology, 110 (5): 1102-12
Nurfazriah, I., Sakinah, I. 2021. Penurunan kecemasan Ibu Hamil dengan Mengikuti Kelas Ibu Hamil
Prenatal Yoga. Faletehan Health Journal, 147-151, 8(3).
Yuniza, Y., Tasya, T., & Suzanna, S. 2021. Pengaruh Prenatal Yoga Terhadap Kecemasan Pada Ibu
Hamil Trimester III Di Kecamatan Plaju. Jurnal Keperawatan Sriwijaya, 8(2), 78–84.
[Link]
130 Open Access: [Link]