0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan34 halaman

Peningkatan Hasil Belajar dengan PowerPoint

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan dan peran guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya dalam mata pelajaran IPA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan media Microsoft Office Power Point untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas II SD Negeri 6 Bantan Tengah. Penelitian ini juga mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran dan memberikan alternatif solusi untuk meningkatkan efektivitas pengajaran.

Diunggah oleh

Ema
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan34 halaman

Peningkatan Hasil Belajar dengan PowerPoint

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan dan peran guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya dalam mata pelajaran IPA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan media Microsoft Office Power Point untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas II SD Negeri 6 Bantan Tengah. Penelitian ini juga mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran dan memberikan alternatif solusi untuk meningkatkan efektivitas pengajaran.

Diunggah oleh

Ema
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan memegang peranan penting dalam kemajuan dan masa depan
bangsa, tanpa pendidikan yang baik mustahil suatu bangsa akan maju. Berhasil
atau tidaknya suatu pendidikan dalam suatu negara salah satunya adalah karena
guru. Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan dan
kemajuan anak didiknya. Dari sinilah guru dituntut untuk dapat menjalankan
tugas dengan sebaik-baiknya. Djamarah (2006:46) mengatakan bahwa untuk dapat
mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan, guru harus pandai memilih metode
serta media pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan anak didik,
supaya anak didik merasa senang dalam proses belajar mengajar berlangsung.
Media pembelajaran terus mengalami perkembangan seiring dengan
berkembangnya dunia informasi dan teknologi, multimedia mempunyai peranan
semakin penting dalam proses pembelajaran. Banyak orang percaya bahwa
multimedia akan dapat membawa kepada situasi belajar dimana learning with
effort akan dapat digantikan dengan learning with fun. Jadi proses pembelajaran
yang menyenangkan, kreatif, tidak membosankan akan menjadi pilihan tepat bagi
para guru.
Pada kenyataannya bahwa saat ini Indonesia memasuki era informasi yaitu
suatu era yang ditandai dengan makin banyaknya medium informasi, tersebarnya
informasi yang makin meluas dan seketika, serta informasi dalam berbagai bentuk
yang bervariasi tersaji dalam waktu yang cepat. Penyajian pesan pada era
informasi ini akan selalu menggunakan media, baik elektronik maupun non
elektronik. Proses belajar mengajar dan hasil belajar saling berhubungan, karena
dalam kegiatan belajar mengajar terdapat tujuan yang akan dicapai. Hasil belajar
seseorang ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Salah satu
faktor dari luar individu yang mempengaruhi hasil belajar adalah tersedianya
media pembelajaran yang memberi kemudahan bagi individu untuk mempelajari
materi pembelajaran, sehingga menghasilkan belajar yang lebih baik. media

1
adalah segala bentuk serta saluran untuk menyampaikan pesan maupun informasi,
media jika dipahami secara garis besar adalah materi, atau kejadian yang
membangun kondisi, menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan,
keterampilan, atau sikap.
Salah satu bentuk media pembelajaran yang digunakan peneliti adalah
Microsoft Office Power Point untuk menarik perhatian siswa serta
membangkitkan motivasi Pelajara IPA kelas II Siswa SD Negeri 6 Bantan
Tengah .
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil pengamatan penulis di kelas II SD Negeri 6 Bantan
Tengah Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis sebagian besar
pembelajaran yang dilaksanakan masih berpusat pada guru sehingga
penulis mengidentifikasi beberapa masalah yang terjadi pada mata
pelajaran IPA seperti :
- Hasil belajar siswa rendah hanya 50% siswa yang menguasai materi
pada mata pelajaran IPA
- Siswa tidak memperhatikan ketika guru menerangkan
- Siswa tidak mau menjawab ketika guru menerangkan pelajaran
- Hanya siswa yang pintar saja yang mau bertanya
- Siswa tidak bisa mengeluarkan pendapat / ide
- Siswa kurang aktif dalam proses belajar mengajar
2. Analisis Masalah
Berdasarkan hasil identifikasi masalah tersebut maka penulis mencoba
menganalisis penyebabnya bersama teman sejawat. Hasil diskusi yang
diperoleh yaitu :
- Guru tidak memperhatikan penguasaan materi siswa
- Proses belajar mengajar hanya terlihat satu arah yaitu hanya dari guru
sedangkan siswa hanya menerima
- Metode pembelajaran yang digunakan guru monoton
- Guru kurangnya menggunakan media pembelajaran

2
- Guru tidak membiasakan siswa untuk berdiskusi dan mengeluarkan
pendapat
- Guru tidak memberikan tugas yang terstruktur kepada siswa
- Guru cendrung memperhatikan sebagian siswa saja
Dalam penelitian kali ini penulis mencoba menerapkan metode
Power Point dalam proses belajar mengajar nantinya. Penulis harapkan
dengan menggunakan metode Power Point ini dapat meningkatkan
motivasi siswa dalam belajar karena adanya unsur kerjasama dalam
memcahkan masalah yang ada sehingga siswa terbiasa untuk berpikir dan
saling mengeluarkan pendapat sehingga akan meningkatkan hasil belajar
mereka.
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Microsoft Office Power Point adalah salah satu jenis program yang
tergabung dalam Microsoft Office Power Point sebagai program aplikasi
yang dirancang khusus untuk menampilkan program multimedia. Hal ini
sebagaimana dikemukakan Riyana (2008) sebagai berikut:
Program Power Point merupakan salah satu software yang dirancang
secara khusus untuk mampu menampilkan program multimedia dengan
menarik, mudah dalam pembuatan, mudah dalam penggunaan dan relative
murah karena tidak membutuhkan bahan baku selain alat untuk
penyimpanan data (data storage)
Melalui penggunaan media Microsoft Office Power Point
diharapkan pembelajaran akan lebih menarik bagi siswa sehingga dapat
meningkatkan minat, perhatian, motivasi serta hasil belajar siswa.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah : apakah media Power Point dapat meningkatkan hasil belajar IPA
siswa kelas II SD Negeri 6 Bantan Tengah Kecamatan Bantan Kabupaten
Bengkalis Tahun Pelajaran 2015/2016 ?

3
C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran IPA dengan menggunakan Metode Power Point di kelas II SD
Negeri 6 Bantan Tengah Kecamatan Bantana Kabupaten Bengkalis Tahun
Pelajaran 2015/2016
D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Adapun manfaat yang penulis harapkan dari penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Bagi guru :
Hendaknya dijadikan reverensi atau bahan masukan untuk memperbaiki
kegiatan belajar mengajar di kelas khususnya pada mata Pelajaran IPA
sehingga tercapainya standar kopetensi yang telah ditetapkan .
2. Bagi siswa
Mendorong semangat siswa untuk aktif di dalam kegiatan belajar
mengajar sehingga penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan
meningkat dan hasil yang diharapkan tercapai dengan baik.
3. Bagi sekolah
Sebagai upaya guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil
pelaksanaan KBM di sekolah.
4. Bagi penulis, dapat dijadikan pedoman atau acuan untuk penelitian
berikutnya.

4
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Pengertian Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) merupakan salah satu
jenis penelitian yang tidak asing lagi bagi para mahasiswa program sarjana
maupun bagi para praktisi pendidikan. Penelitian tindakan kelas yang
dimaksud merupakan terjemahan dari classroom action research, yaitu
penelitian tindakan yang dilaksanakan di kelas. Menurut Hopkim ( 1993 )
sasaran utama dalam kegiatan tindakan kelas adalah menegmbangkan
kehidupan profesionalisme guru agar memiliki kemampuan yang lebih baik
dalam menciptakan suasana kelas dan sekolah yang responsive terhadap visi
mereka untuk masa depan anak.
Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru
di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk
memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi
meningkat.
B. Keterkaitan antara PTK dan PKP
Pada pembajaran mata kuliah PTK mahasiswa memperoleh
pengetahuan dan kompetensi untuk melaksanakanpenelitian tindakan kelas.
Pengetahuan dan kemampuan ini merupakan merupakan bekal untuk
memperlancar penyelesaian tugas-tugas mata kuliah PKP. Selanjutnya
pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh dari kedua mata kuliah tersebut
akan berhubungan dan berdampak terhadap peningkatan profesionalisme
mahasiswa sebagai guru.
C. Karakteristik Peserta Didik
Masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang
berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua
belas tahun. Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka
menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang,
di antaranya, perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan
bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak.

5
Menurut Erikson perkembangan psikososial pada usia enam sampai
pubertas, anak mulai memasuki dunia pengetahuan dan dunia kerja yang luas.
Peristiwa penting pada tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan
dengan tekhnologi masyarakat, di samping itu proses belajar mereka tidak
hanya terjadi di sekolah.
Sedang menurut Thornburg (1984) anak sekolah dasar merupakan
individu yang sedang berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan
kebenarannya. Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan
fisik maupun mental mengarah kepada yang lebih baik. Tingkah laku mereka
dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Anak
kelas lima, memilki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama yang lebih
tinggi, bahkan ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku
mendekati tingkah laku anak remaja permulaan.
Menurut Piaget ada lima faktor yang menunjang perkembangan
intelektual yaitu : kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical
experience), penyalaman logika matematika (logical mathematical
experience), transmisi sosial (social transmission), dan proses keseimbangan
(equilibriun) atau proses pengaturan sendiri (self-regulation ) Erikson
mengatakan bahwa anak usia sekolah dasar tertarik terhadap pencapaian hasil
belajar.
Belajar berkaitan dengan kognitif dan kecerdasan. Kognitif adalah
suatu kemampuan yang unik dari individu mengenai pengetahuan yang
bersumber dari pengalaman, yang dapat disajikan kembali (Recall) ketika
dibutuhkan untuk menjawab tantangan lingkungan, sesuai dengan pendapat
para ahli, diantaranya pendapat Jean Piaget (1954), Piaget menyatakan bahwa
ketika seorang anak mulai membangun pemahamannya tentang dunia, otak
yang berkembangan membentuk Skema kemudian proses-proses berikutnya
meliputi asimilasi, akomodasi, organisasi, keseimbangan dan penyeimbangan.

6
D. Karakteristik Mata Pelajaran IPA
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) didefinisikan sebagai kumpulan
pengetahuan yang tersusun secara terbimbing. Hal ini sejalan dengan
kurikulum KTSP (Depdiknas, 2006) bahwa “IPA berhubungan dengan cara
mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya
penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau
prinsipsaja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan”. Selain itu IPA
juga merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas tentang fakta serta
gejala alam. Fakta dan gejala alam tersebut menjadikan pembelajaran IPA
tidak hanya verbal tetapi juga faktual. Hal ini menunjukkan bahwa, hakikat
IPA sebagai proses diperlukan untuk menciptakan pembelajaran IPA yang
empirik dan faktual. Hakikat IPA sebagai proses diwujudkan dengan
melaksanakan pembelajaran yang melatih ketrampilan proses bagaimana cara
produk sains ditemukan.
Asy’ari, Muslichah (2006:22) menyatakan bahwa ketrampilan
proses yang perlu dilatih dalam pembelajaran IPA meliputi ketrampilan
proses dasar misalnya mengamati, mengukur, mengklasifikasikan,
mengkomunikasikan, mengenal hubungan ruang dan waktu, serta ketrampilan
proses terintegrasi misalnya merancang dan melakukan eksperimen yang
meliputi menyusun hipotesis, menentukan variable, menyusun definisi
operasional, menafsirkan data, menganalisis dan mensintesis data. Poedjiati
(2005:78) menyebutkan bahwa ketrampilan dasar dalam pendekatan proses
adalah observasi, menghitung, mengukur, mengklasifikasi, dan membuat
hipotesis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketrampilan proses
dalam pembelajaran IPA di SD meliputi ketrampilan dasar dan ketrampilan
terintegrasi. Kedua ketrampilan ini dapat melatih siswa untuk menemukan
dan menyelesaikan masalah secara ilmiah untuk menghasilkan produk-produk
IPA yaitu fakta, konsep, generalisasi, hukum dan teori-teori baru.

7
E. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Proses belajar mengajar dilakukan untuk mencapai suatu tujuan yang
telah dirumuskan. Pada umumnya hasil belajar meliputi pengetahuan, sikap
dan keterampilan. Hasil belajar yang akan diperoleh siswa setelah menempuh
pengalaman belajarnya atau proses belajar mengajar. Sudjana (2006)
mengatakan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Proses belajar mengajar dan hasil belajar saling berhubungan karena
dalam kegiatan belajar mengajar terdapat tujuan yang akan dicapai. Siswa
yang sebelumnya tidak tahun menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi
mengerti setelah belajar. Hamalik (2006) mengatakan hasil belajar adalah bila
seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang
tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti
menjadi mengerti.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka disimpulkan bahwa hasil belajar
merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima,
menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses
belajar mengajar. Hasil belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan
sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk
nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar
mengajar. Hasil belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil
dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya hasil
belajar siswa. Hasil belajar merupakan prestasi yang diperoleh setelah
melakukan suatu kegiatan yang dimana akan menimbulkan suatu perubahan-
perubahan pada diri individu.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar


Belajar sebagai proses atau aktivitas disyaratkan oleh banyak sekali hal-
hal atau faktor-faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar sangat
beragam. Suryabrata (2010:233) mengatakan bahwa faktor yang

8
mempengaruhi hasil belajar dibagi dua yaitu faktor yang berasal dari luar diri
pelajar yang meliputi faktor nonsosial dan faktor sosial, serta faktor yang
berasal dari dalam diri pelajar yaitu faktor fisiologis dan psikologis.
a. Faktor Nonsosial dalam Belajar
Lingkungan alami merupakan lingkungan fisik di sekitar anak berupa
berbagai fenomena alam maupun keadaan lingkungan tempat anak hidup.
Lingkungan alami akan membawa dampak besar terhadap hasil belajar
anak. Apabila kondisi lingkungan mendukung proses belajar anak maka
dapat dipastikan hasil belajar anak akan maksimal.
b. Faktor-faktor Sosial dalam Belajar
Suryabrata (2010) mengatakan bahwa faktor sosial dalam belajar adalah
faktor manusia baik manusia itu ada maupun kehadirannya dapat
disimpulkan, jadi tidak langsung hadir. Kehadiran orang atau orang lain
pada waktu seseorang belajar banyak sekali mengganggu belajar atau
sebaliknya. Oleh karenanya diperlukan lingkungan belajar sosial yang
kondusif untuk belajar.
Hasil belajar juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar diri
individu, baik faktor fisik maupun sosial psikologis pada lingkungan
keluarga, sekolah maupun masyarakat. Masing-masing kondisi lingkungan
akan memberikan pengaruh terhadap hasil belajar seseorang.
c. Faktor-faktor Fisiologis dalam Belajar
Faktor fisiologis adalah faktor berkaitan dengan kondisi fisik seseorang
atau kondisi jasmaniah seseorang. Faktor ini merupakan faktor bawaan
dalam diri seorang individu, melekat pada dirinya, serta sebagian menjadi
karakteristik dirinya. Slameto (2010) menyebutkan bahwa faktor
jasmaniah meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh. Faktor fisiologis ini
ada bersifat permanen seperti cacat tubuh permanen, ada pula bersifat
sementara seperti kesehatan.
d. Faktor Psikologis dalam Belajar
Faktor psikologis mempengaruhi hasil belajar meliputi segala hal berkaitan
dengan kondisi mental kejiwaan seseorang. Aspek psikis atau kejiwaan

9
tidak kalah pentingnya dalam belajar dengan aspek jasmaniah. Slameto
(2010:55) mengatakan sekurang-kurangnya ada tujuh faktor
mempengaruhi belajar yaitu inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif,
kematangan dan kelelahan. Untuk kelancaran belajar bukan hanya dituntut
kesehatan jasmaniah tetapi kesehatan rohaniah atau psikis pula.
Orang sehat psikisnya adalah orang terbebas dari tekanan batin mendalam,
frustasi, konflik-konflik psikis, terhindar dari kebiasaan-kebiasaan buruk
mengganggu perasaan. Orang sehat psikisnya akan merasakan
kebahagiaan serta dapat menyerap pelajaran lebih optimal.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor
psikologis dalam belajar meliputi seluruh keadaan psikologi anak yang
sedang belajar. Apabila keadaan psikologis anak baik maka dimungkinkan
akan memperoleh hasil belajar dengan baik pula dan sebaliknya.
F. Media Pembelajaran
1. Pengertian Media Pembelajaran
Media merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran.
Daryanto (2011) mengatakan kata media merupakan bentuk jamak dari
kata medium yang berarti perantara atau pengantar terjadinya komunikasi
dari pengirim menuju penerima. Media merupakan salah satu komponen
komunikasi yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju
komunikan.
Media berasal dari bahasa latin dan merupakan jamak dari kata
medoe yang berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada
penerima pesan. Media merupakan sarana komunikasi tidak langsung
yang digunakan untuk menyampaikan ide, gagasan, maupun informasi
dari seseorang kepada orang lain. Dalam pembelajaran media merupakan
sarana yang dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan bahan
pelajaran kepada seluruh siswa. Media pembelajaran adalah seluruh alat
dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan pendidikan seperti radio,
televise, buku, koran, majalah, komputer dan lain sebagainya. Selain alat-
alat tersebut orang dan bahan serta peralatan yang menciptakan kondisi

10
yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, kterampilan dan
sikap juga disebut sebagai media pembelajaran.
2. Manfaat Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan media yang digunakan dalam
pembelajaran. penggunaan media pembelajaran dapat memberikan
rangsangan kepada siswa dalam proses belajar, sehingga dapat
mempertinggi kualitas belajar mengajar dan dapat mempertinggi hasil
belajar siswa. hal ini sebagaimana dijelaskan Sudjana (2005) bahwa
media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam
pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil
belajar yang dicapainya.
Djamarah (2010) mengklasifikasikan manfaat media
pembelajaran menjadi dua yaitu media sebagai alat bantu dan media
sebagai sumber belajar.
a. Media sebagai Alat Bantu
Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu
kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, karena meang gurulah yang
menghendakinya untuk membantu tugas guru dalam menyampaikan
pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikan guru kepada siswa.
guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka bahan pelajaran sukar
untuk dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik terutama bahan
pelajaran yang rumit dan cukup kompleks seperti dalam pembelajaran
IPS Terpadu.
b. Media sebagai Sumber Belajar
Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengolah sejumlah
nilai untuk dikonsumsi oleh setiap siswa. nilai-nilai itu tidak datang
dengan sendirinya tetapi terambil dari berbagai sumber. Sumber
belajar yang sesungguhnya banyak sekali terdapat dimana-mana.
Djamarah (2010) membagi sumber belajar menjadi lima kategori yaitu
manusia, buku, media massa, alam ligkungan serta media pendidikan.
Oleh karena itu sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat

11
dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau
asal untuk belajar seseorang.
Berdasarkan penjelasan tersebut media pembelajaran sebagai
salah satu sumber belajar ikut membantu guru memperkaya wawasan
siswa. Aneka macam bentuk dan jenis media pendidikan yang
digunakan oleh guru menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi siswa.
Guru dalam menerangkan suatu benda dapat membawa bendanya
secara langsung ke hadapan siswa di depan kelas. Apabila hal tersebut
tidak dimungkinkan, guru dapat membuat sketsa dari benda tersebut
sebagai sumber belajar.
3. Jenis-jenis Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan komponen instruksional
meliputi pesan, orang, maupun peralatan. Dengan masuknya berbagai
pengaruh ke dalam dunia pendidikan misalnya teori atau konsep baru
serta teknologi, media pembelajaran terus mengalami perkembangan,
tampil dalam berbagai jenis, dengan masing-masing ciri serta
kemampuannya sendiri. Dari sinilah kemudian timbul usaha-usaha untuk
melakukan klasifikasi atau pengelompokan media, mengarah kepada
pembuatan taksonomi media pendidikan atau pembelajaran di sekolah.
Sejalan dengan perkembangan teknologi, maka media
pembelajaran pun mengalami perkembangan melalui pemanfaatan
teknologi itu sendiri. Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut,
Arsyad (2011) mengklasifikasikan media atas empat kelompok yaitu
media hasil teknologi cetak, media hasil teknologi audio-visual, media
hasil teknologi berbasis computer, dan media hasil gabungan teknologi
cetak serta komputer.
Beberapa pengelompokkan media dikemukakan tersebut,
hingga saat ini belum terdapat suatu kesepakatan tentang klasifikasi atau
sistem taksonomi media baku. Dengan kata lain, belum ada taksonomi
media berlaku umum serta mencakup segala aspeknya, terutama untuk
suatu sistem instruksional.

12
4. Pengertian Power Point
Power Point merupakan salah satu program dalam Microsoft
Affice. Microsoft Office Power Point adalah salah satu jenis program
yang tergabung dalam Microsoft office. Microsoft Office Power Point
merupakan program aplikasi yang dirancang secara khusus untuk
menampilkan program multimedia. Hal ini sebagaimana dikemukakan
Riyana (2008:102) sebagai berikut:
Program Microsoft Office Power Point adalah salah satu
software yang dirancang khusus untuk mampu menampilkan program
multimedia dengan menarik, mudah dalam pembuatan, mudah dalam
penggunaan dan relative murah karena tidak membutuhkan bahan baku
selain alat untuk menyimpan data.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa


Microsoft Office Power Point adalah perangkat lunak yang mampu
menampilkan program multimedia dengan menarik, mudah dalam
pembuatan, penggunaan serta relatif murah. Pada umumnya Microsoft
Office Power Point digunakan untuk presentasi dalam classical learning,
karena Microsoft Office Power Point merupakan program aplikasi yang
digunakan untuk kepentingan presentasi. Berdasarkan pola penyajian
yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa Microsoft Office Power
Point yang digunakan untuk presentasi dalam classical learning disebut
personal presentation. Microsoft Office Power Point pada pola penyajian
ini digunakan sebagai alat bantu bagi guru untuk menyampaikan materi
dan kontrol pembelajaran terletak pada guru.
Keterbatasan akan adanya media seperti perangkat presentasi
yang diperlukan sebagai alat yang mampu menampilkan informasi yang
terdapat pada Microsoft Office Power Point dapat diatasi dengan
menggunakan pola penyajian stand alone. Daryanto (2006:31)
mengatakan stand alone adalah pola penyajian Microsoft Office Power
Point yang dirancang khusus untuk pembelajaran individual yang bersifat

13
interaktif. Setiap siswa dapat mempelajari materi pelajaran secara
individual. Siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga
penggunaan Microsoft Office Power Point dengan pola penyajian stand
alone diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

14
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN
PEMBELAJARAN

A. Subjek, Tempat, waktu penelitian, Pihak yang membantu


Penelitian perbaikan pembelajaran ini peneliti akan lakukan pada
siswa kelas II SD Negeri 6 Bantan Tengah Kecamatan Bantan Tahun
Pelajaran 2015/2016 dengan jumlah siswa 32 orang, laki-laki 21 perempuan
11 . Sedangkan waktu pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilakukan sebagai
berikut :

Tabel 2. Waktu Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran


Mata
No Hari/Tanggal Waktu Siklus
Pelajaran
Selasa,13 Oktober
1 07.30 – 08.40 IPA Pra siklus
2015
Sabtu, 17 Oktober
2 09.30 – 10.40 IPA 1.1
2015
Selasa,20 Oktober
3 07.30 – 08.40 IPA 1.2
2015
Kamis, 22 Oktober
4 09.30 – 10.40 IPA 2.1
2015
Sabtu, 24 Oktober
5 07.30 – 08.40 IPA 2.2
2015

Pihak yang membantu penelitian perbaikan pembelajaran ini yaitu


Supervisor 1 yaitu Ibu Dra. Darmawati, [Link], Bapak Sopingi, [Link] sebagai
Kepala Sekolah SD Negeri 6 Bantan Tengah serta sebagai supervisor 2
sekaligus penilai 2, Bapak Sunarto, [Link] SD sebagai penilai 1, serta teman-
teman sejawat se- SD Negeri 6 Bantan Tengah serta siswa – siswi yang
terlibat langsung dalam penelitian perbaikan pembelajaran.

15
B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
a. Siklus 1
1. Perencanaan
a. Menentukan materi pembelajaran
b. Menyiapkan silabus
c. Menyiapkan rencana perbaikan pembelajaran
d. Menyiapkan lembar tugas siswa
e. Menyiapkan soal post tes
f. Menyiapkan lembar observasi
g. Menentukan supervisor 2
2. Pelaksanaan
 Kegiatan Awal ( 10 menit )
a. Apersepsi
- Guru menanyakan tentang pelajaran yang telah lalu
1. ikan berenamg dengan menggunakan ?.
2. gajah mengambil makanan dengan apa ?

b. Memotivasi
- Guru memberikan pertanyaan tentang materi yang akan
disampaikan
1. Pernah digigit dengan nyamuk ?
2. anak-anak pernah digigit kutu ?
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
 Kegiatan Inti ( 50 menit )
a. Guru menjelaskan materi tentang nama hewan
yang merugikan manusia dengan menggunakan
power poin
b. Guru menugaskan kepada siswa untuk
menyebutkan nama-nama hewan yang merugikan
manusia

16
[Link] nama-nama hewan yang merugikan
manusia ?
[Link] nama hewan yang merugikan hewan
lain ?
c. Siswa mengerjakan tugas – tugas yang diberikan
d. Guru membimbing siswa mengerjakan tugas- tugas
e. Guru meminta mempersentasekan tugas
f. Guru memantapkan konsep dengan power poin

 Kegiatan Akhir ( 10 menit )


- Siswa bersama – sama guru membuat rangkuman pembelajaran
tentang nama-nama hewan yang merugikan manusia
- Guru memberikan pos tes
- Pemberian PR / tugas kepada siswa
3. Pengamatan
Pengamatan dilakukan dengan lembar pengamatan yang diamati
oleh
Supervisor 2, yang dilaksanakan pada waktu pelaksanaan penelitian
perbaikan pembelajaran yang telah ditentukan waktunya. Adapun yang
diamati pengamat yaitu aktivitas siswa dan guru dalam proses
pembelajaran.
4. Refleksi
Dari hasil temuan di lapangan, peneliti merefleksi hal-hal berikut :
1) Siswa belum bersungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan
belajar yang diadakan guru.
2) Masih ada siswa yang tidak tuntas
Berdasarkan hasil fakta tersebut, untuk meningkatkan hasil belajar,
maka perlu dilakukan siklus II.

b. Siklus 2
1. Perencanaan

17
a. Menentukan materi pembelajaran
b. Menyiapkan silabus
c. Menyiapkan rencana perbaikan pembelajaran
d. Menyiapkan lembar tugas siswa
e. Menyiapkan soal post tes
f. Menyiapkan lembar observasi
g. Menentukan supervisor 2

2. Pelaksanaan
1. Kegiatan Awal ( 10 menit )
a. Apersepsi
- Guru menanyakan tentang pelajaran yang telah lalu
1. nyamuk bisa membawa penyakit apa ?
2. Kalau lalat hinggap di makana kita apa yang akan terjadi ?
b. Memotivasi
- Guru memberikan pertanyaan tentang materi yang akan
disampaikan
1. ikan hidupnya di mana ?
2. kalau pohon pisang di mana hidupnya ?
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
 Kegiatan Inti ( 50 menit )
a. Guru menjelaskan materi tentang tempat hidup hewan dan tumbuhan
dengan menggunkan power poin
b. Guru memberi tugas kepada siswa untuk :
1. Menuliskan nama hewan dan tempat hidupnya
2. Menuliskan nama-nama tumbuhan dengan tempat hidupnya
c. Siswa mengerjakan tugas yang diberikan
d. Guru membimbing siswa dalam mengerjakan tugas
e. guru meminta mempersentasekan tugas
f. Guru memantapkan konsep dengan power poin

18
 Kegiatan Akhir ( 10 menit )
- Siswa bersama – sama guru membuat rangkuman pembelajaran tentang
tempat hidup hewan dan tumbuhan
- Guru memberikan pos tes
- Pemberian PR / tugas kepada siswa
3. Pengamatan
Pengamatan dilakukan dengan lembar pengamatan yang diamati
oleh Supervisor 2, yang dilaksanakan pada waktu pelaksanaan penelitian
perbaikan pembelajaran yang telah ditentukan waktunya. Adapun yang
diamati pengamat yaitu aktivitas siswa dan guru dalam proses
pembelajaran.
4. Refleksi
Setelah data hasil belajar siswa diperoleh, data hasil belajar
tersebut dianalisis sebagai acuan untuk penentuan apakah siklus
berikutnya diperlukan atau tidak.

19
C. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dikelompokkan kemudian dianalisis dengan
menggunakan analisis deskriptif ( analisis ketuntasan belajar ). Analisis ini
bertujuan untuk memperlihatkan tingkat penguasaan dan ketuntasan/
keberhasilan belajar siswa. Seorang siswa dikatakan tuntas secara individu,
apabila siswa tersebut memperoleh daya serap minimal 66, sedangkan
ketuntasan klasikal sebesar ( 85 % ). Persentase ketuntasan ini dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :

Tabel 3 : Rentang Nilai dan Kategori Nilai


No Rentang Nilai Kategori Nilai Keterangan Tuntas
1 85 – 100 Amat baik Tuntas
2 76 – 85 Baik Tuntas
3 70 – 75 Cukup Tuntas
4 66 – 69 Kurang Tidak tuntas
5 <65 Amat kurang Tidak tuntas
( Depdiknas, 2006 )

1. Ketuntasan Belajar Siswa Individu ( KBSI ), menggunakan rumus :


KBSI = Skor yang Diperoleh Siswa x 100%
Skor Maksimal
2. Ketuntasan Belajar Siswa Klasikal ( KBSK ), menggunakan rumus :
KBSK = Jumlah Siswa yang Tuntas x 100%
Jumlah Siswa Keseluruhan
3. Daya Serap Siswa ( DSS ), menggunakan rumus :
DSS = Skor Perolehan x 100
Skor Maksimal

20
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penilaian Perbaikan Pembelajaran
Penelitian pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang telah direncanakan
dan dilaksanakan pada siswa Kelas II SD Negeri 6 Bantan Tengah Kecamatan
Bantan Kabupaten Bengkalis Tahun Pelajaran 2015/2016. Penelitian
dilaksanakan mulai tanggal 17 Oktober 2015, penelitian ini dilaksanakan
sebanyak dua siklus.

Siklus I
1. Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) I.1
Hasil pengamatan atas pelaksanaan perbaikan pembelajaran mata
pelajaran IPA dengan menggunakan Media Power Point pada siswa kelas II
SD Negeri 6 Bantan Tengah Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Tahun
Pelajaran 2015/2016 ditemui hal-hal sebagai berikut :
Siswa sudah memahami materi yang diajarkan, siswa tertarik untuk
mengerjakan tugas sesuai perintah guru, siswa belajar dengan perasaan
gembira,waktu yang disediakan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Di samping
itu, siswa juga lebih mudah merumuskan konsep setelah pembelajaran
disajikan. Hanya sebagian kecil siswa yang terilihat tidak memperhatikan
pelajaran.
Disamping aktivitas dan motivasi yang mengalami peningkatan,
berdasarkan pantauan teman sejawat, aktivitas guru masih kurang
menunjukkan peningkatan. Kegiatan yang dilaksanakan oleh guru kurang
sesuai dengan prosedur yang ditentukan. Sehingga ada beberapa hal yang
perlu ditingkatkan lagi seperti kegiatan pembelajaran yang tidak melibatkan
semua siswa, guru belum sepenuhnya memamfaatkan media pembelajaran
yang dipakai secara maksimal

21
2. Rencanakan Perbaikan Pembelajaran ( RPP) I.2
Pada RPP I.2, Guru kurang memanfaatkan waktu pembelajaran, guru
terlalu singkat dalam melaksanakan refleksi terhadap proses pemecahan
masalah. Hubungan antara siswa dengan guru masih kurang dalam proses
belajar mengajar karena masih banyak permasalahan maka perlu
dilaksanakan refleksi untuk dilaksanakan pada siklus selanjutnya. Guru harus
bisa memanfaatkan waktu agar siswa lebih memahami pelajaran yang
disampaikan. Guru perlu melakukan refleksi secara baik agar proses
pembelajaran terus berjalan aktif sehingga siswa antusias terhadap proses
pembelajaran dengan Media Power Point

3. Refleksi Siklus I
Berdasarkan gambaran dari siklus I bahwa, banyak kekurangan dan
kelemahan pada siswa maupun guru. Permasalahan dari guru yaitu guru
belum bisa sepenuhnya memanfaatkan waktu sehingga siswa kurang antusias
dalam belajar. Dari siswa belum bersungguh-sungguh dalam mengikuti
proses belajar mengajar , Masih ada siswa yang tidak tuntas
Berdasarkan hasil fakta tersebut, untuk meningkatkan hasil belajar, maka
perlu dilakukan perbaikan pembelajaran siklus II.

B. Hasil Penilaian Perbaikan Pembelajaran


1. Hasil Belajar Siswa
Berikut penulis sajikan hasil penelitian perbaikan pembelajaran IPA
dengan menggunakan Media Power Point siswa kelas II SD Negeri 6 Bantan
Tengah Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Tahun 2015.2016 pada
tabel berikut :

22
Tabel Hasil Belajar IPA dengan Media Power Point
Siswa Kelas II SD Negeri 6 Bantan Tengah TP 2015 / 2016 Siklus 1

Rentan
Kategori
N g Data Awal Siklus I U
% Ket
o Pra P H
Nilai
Nilai Siklus % P1 % 2 %
86 - Amat 18.80 18.80 Tunt
1 100 Baik 3 9.40% 2 6.25% 6 % 6 % as
34.30 43.70 1 53.10 40.60 Tunt
2 76 - 85 Baik 11 % 14 % 7 % 13 % as
37.50 34.30 12.50 Tunt
3 70 - 75 Cukup 12 % 11 % 4 % 8 25% as
15.60 15.60 Tida
4 66 - 69 Kurang 2 6.25% 5 % 5 % 3 9.40% k
Amat 12.50 0 Tida
5 < 65 Kurang 4 % % 0% 0 0% 2 6.25% k
7.
Rata-tara 7.6 7 7.9 7.8

23
60.00%

50.00%

40.00%

30.00%
Pra Siklus
20.00% P1
P2
10.00%

0.00%
Amat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Amat
Kurang

Grafik Hasil Belajar IPA dengan Media Power Point


Siswa Kelas II SD Negeri 6 Bantan Tengah TP 2015 / 2016 Siklus 1

Siklus II
1. Rencana Perbaikan Pembelajaran ( RPP ) II.1
Siswa tertarik dengan materi yang diajarkan. Motivasi belajar siswa
meningkat. Tugas-tugas yang diberikan dapat diselesaikan dengan baik dan
tepat waktu. Siswa dapat mempertanggung jawabkan dan melaporkan tugas
yang telah diberikan. Siswa mau bertanya kepada guru apabila menemuai
kendala dalam menyelesaikan tugas.
Siswa sudah ikut serta aktif dalam proses belajar mengajar
Guru sudah melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pembelajaran
yang sudah ditentukan. siswa sudah melaksanakan dan merespon umpan balik
dari guru sehingga proses pembelajaran berjalan lebih lancar.
2. Rencana Perbaikan Pembelajaran ( RPP) II.2
Aktivitas guru lebih baik dari pertemuan dan siklus sebelumnya. Guru
sudah dapat memanfaatkan waktu dengan baik. Guru sudah lebih baik dalam
menjelaskan dan lebih rinci dalam menyampainkan materi . siswa
memberikan umpan balik terhadap proses belajar kepaa guru . Siswa terlihat

24
lebih aktif dan bersemangat. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa dan
lembar observasi yang dilakukan oleh supervisor 2 sebagai observer. Dengan
demikian kelemahan yang terdapat pada siklus I, telah dapat diatasi oleh guru
pada siklus II.

3. Refleksi Siklus II
Berdasarkan hasil belajar siswa yang didapat pada RPP II.2 menunjukkan
bahwa penggunaan Media power poin sangat efektif untuk meningkatkan
hasil belajar mata pelajaran IPA pada siswa kelas II SD Negeri 6 Bantan
Tengah Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Tahun Pelajaran
2015/2016.
2. Hasil Belajar Siswa
Berikut penulis sajikan hasil penelitian perbaikan pembelajaran IPA
dengan menggunakan Media Power Point siswa kelas II SD Negeri 6 Bantan
Tengah Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Tahun 2015.2016 pada
tabel berikut :

Tabel Hasil Belajar IPA dengan Media Power Point


Siswa Kelas II SD Negeri 6 Bantan Tengah TP 2015 / 2016 Siklus 2

Rentan
Kategori Siklus II
g
No UH % Ket
P P
Nilai Nilai % %
1 2
1 37.50 Tunta
1 86 - 100 Amat Baik 3 9.40% 40.60% 12
3 % s
1 1 62.50 Tunta
2 76 - 85 Baik 56.20% 43.80% 20
8 4 % s
Tunta
3 70 - 75 Cukup 9 28.10% 5 15.60% 0 0%
s
4 66 - 69 Kurang 2 6.25% 0 0% 0 0% Tidak
Amat
5 < 65
Kurang
0 0% 0 0% 0 0% Tidak

Rata-raata 7.8 8.3 8.5

25
70.00%

60.00%

50.00%

40.00%
Amat Baik
Baik
30.00%
Cukup
20.00% Kurang
Amat Kurang
10.00%

0.00%
pertemuan 1
prtemuan 2
ulangan harian

Grafik Hasil Belajar IPA dengan Media Power Point


Siswa Kelas II SD Negeri 6 Bantan Tengah TP 2015 / 2016 Siklus 2

26
B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Melihat data yang terdapat pada tabel dan grafik di atas, hasil belajar siswa
sebagai berikut : Dalam proses pembelajaran berlangsung hasil temuan awal
adalah sebagai berikut : siswa tidak dapat menjawab pertanyaan, siswa kurang
motivasi, siswa tidak memahami penjelasan guru, sebagian siswa masih ada yang
ribut ketika belajar, siswa masih ada yang bermain ketika belajar, siswa tidak
fokus dalam belajar, siswa tidak memahami materi yang diberikan, siswa tidak
mampu mengerjakan soal dan tugas.
Hasil belajar siswa pada pertemuan awal ( sebelum siklus 1 ) yaitu ; 1 )
yang memperoleh nilai 86 – 100 = 3 orang ( 9,4 %), siswa yang memperoleh nilai
76 – 85 = 11 orang ( 34,3 % ), siswa yang memperoleh nilai 70 – 75 = 12 orang (
37,5 % ), siswa yang memperoleh nilai 66 – 69 = 2 orang ( 6,25 %), siswa yang
memperoleh nilai < 65 berjumlah 4 orang siswa ( 12,5%). Aktivitas guru pada
proses belajar mengajar tahap ini belum mengacu sesuai dengan RPP, guru tidak
memberikan umpan balik terhadap siswa, proses belajar tidak menggunakan
media, tidak memberikan kesempatan bertanya kepada siswa, proses belajar
mengajar tidak aktif.
Sedangkan pada siklus 1 pertemuan 1 hasil belajar siswa sebagai berikut :
siswa mulai percaya diri dalam belajar, mulai timbul motivasi belajar siswa ,
siswa memahami penjelasan yang disampaikan guru, siswa ribut telah berkurang,
siswa mulai aktif dalam proses belajar mengajar, siswa bermain juga sudah
berkurang, siswa fokus belajar telah meningkat, siswa merasa gembira mulai
pembelajaran, siswa mau bertanya dan dapat menjawab pertanyaan. Hasil belajar
siswa pada pertemuan 1 ini yaitu : yang memperoleh nilai 86 – 100 berjumlah 2
orang siswa ( 6,25% ), siswa yang memperoleh nilai 76 – 85 berjumlah 14 orang (
43 % ), yang memperoleh 70 – 75 berjumlah 11 orang ( 34,3 % ), yang
memperoleh nilai 66 – 69 berjumlah 5 orang ( 15,6% ) , yang memperoleh < 65
berjumlah 0 orang ( 0% ).
Sedangkan pada siklus 1 pertemuan 2 hasil belajar siswa sebagai berikut :
siswa mempunyai motivasi belajar serta merasa nyaman ketika belajar, siswa
memahami penjelasan materi yang disampaikan guru , siswa ribut telah

27
berkurang, siswa mulai aktif keteika proses belajar, siswa bermain juga sudah
berkurang, siswa fokus belajar telah meningkat, siswa tidak memahami materi
yang diberikan berkurang, siswa mau bertanya siswa dapat menjawab pertanyaan.
Hasil belajar siswa pada pertemuan 1 ini yaitu : yang memperoleh nilai 86 – 100
berjumlah 6 orang siswa ( 18,8% ), yang memperoleh nilai 76 – 85 berjumlah 17
orang ( 53,1%), yang memperoleh 70 – 75 berjumlah 4 orang ( 12,5%), yang
memperoleh nilai 66-69 berjumlah 5 orang ( 15,6% ), yang memperoleh nilai < 65
berjumlah 0 orang (0% ).
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus 2 ditemukan kondisi belajar siswa
semangkin baik, hal ini dapat dari keadaan pembelajaran sedang berlangsung yang
menunjukkan meningkatnya aktifitas belajar siswa, siswa bisa belajar aktif
mempunyai hubungan timbal balik antara guru dan siswa, pemahaman materi
pelajaran yang diajarkan telah dapat difahami siswa dengan baik, hal ini dapat
dibuktikan dengan semakin tingginya siswa tuntas belajar sesuai dengan
ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan, keseriusan belajar siswa telah
memuaskan, hal ini dapat dibuktikan dengan tidak adanya siswa bermain-main,
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada siswa dapat dijawab dengan tepat
dan benar, hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa tuntas belajar, latihan-
latihan yang diberikan kepada siswa juga telah banyak dikerjakan siswa sesuai
dengan waktu yang ditentukan , proses pembelajaran telah berjalan dengan
kondusif, hal ini tercermin dari keseriusan siswa belajar, siswa tidak lagi malas
belajar, siswa tidak keluar masuk kelas, siswa tidak mengganggu teman, siswa
tidak merasa bosan ketika belajar, motivasi belajar siswa merangsang pada setiap
anak sehingga proses belajar mengajar menjadi aktif artinya ada hubungan
timbale balik antara guru dengan siswa.
Hasil belajar siswa pada siklus 2 pertemuan 1 yaitu : yang memperoleh
nilai 86-100 sebanyak 3 orang ( 9,4% ), yang memperoleh nilai 76-85 sebanyak
18 orang ( 56,2%), yang memperoleh nilai 70-75 sebanyak 9 orang ( 28,1 % ),
yang memperoleh nilai 66-69 sebanyak 2 orang ( 6,25% ), yang memperoleh nilai
< 65 sebanyak 0 orang ( 0% ).

28
Sedangkan pada pertemuan 2 hasil belajar siswa : yang memperoleh nilai
86-100 sebanyak 13 orang ( 40,6% ), yang memperoleh nilai 76-85 sebanyak 14
orang ( 43,8% ), yang memperoleh nilai 70-75 sebanyak 5 orang ( 15,6% ), yang
memperoleh nilai 66-69 sebanyak 0 orang (0% ), yang memperoleh nilai < 65
sebanyak 0 orang ( 0% ). Aktifitas guru telah sesuai dengan RPP, menggunakan
media, memberikan tugas dengan terarah, memberikan kesempatan bertanya
kepada siswa, melaksanakan rangkaian kegiatan dengan terperinci dan
menyimpulkan pelajaran bersama siswa.
6) Mengefektifkan pemberian rangsangan untuk belajar
Setelah mencermati uraian atau hasil perbaikan pembelajaran IPA pada
siswa kelas II SD NEGERI 6 Bantan Tengah Kecamatan Bantan Kabupaten
Bengkalis, dengan menggunakan Media Power Point, ternyata Media power point
dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan
perolehan hasil belajar dari pelaksanaan pembelajaran sebelum pelaksanaan
perbaikan pembelajaran siklus 1, dan siklus 2. Media power point merupakan
sebuah media dalam pelaksanaan pembelajaran IPA yang efektif sesuai materi dan
karakteristik siswa.
Ibrahim (2008) mengemukakan fungsi atau peranan media dalam proses
belajar mengajar antara lain:
1) Dapat menghindari terjadinya verbalisme.
2) Membangkitkan minat atau motivasi.
3) Menarik perhatian.
4) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan ukuran,.
5) Mengaktifkan siswa dalam belajar.
Media power point juga memiliki kelebihan, atau keunggulan yaitu :
Dapat merangsang siswa lebih aktif dalam belajar,dapat mengembangkan
kemandirian siswa,dapat memperdalam dan menumbuhkan gairah belajar
siswa,membina tanggung jawab dan disiplin siswa,adanya persaingan sehat antar
siswa,hasil belajar lebih tahan lama sesuai dengan minat siswa.
Salah satu bentuk media pembelajaran yang digunakan di SD Negeri 6
Bantan Tengah adalah Microsoft Office Power Point. Kumala (2004) mengatakan

29
Microsoft Power Point merupakan salah satu aplikasi milik Microsoft disamping
Microsoft Word dan Microsoft Exel yang telah di kenal banyak orang. Ketiga
aplikasi ini lazim disebut Microsoft Office. Pada dasarnya, aplikasi Microsoft
Power Point berfungsi untuk membantu user dalam menyajikan persentasi.
Microsoft Office Power Point adalah salah satu jenis program yang
tergabung dalam Microsoft Office Power Point sebagai program aplikasi yang
dirancang khusus untuk menampilkan program multimedia. Hal ini sebagaimana
dikemukakan Riyana (2008:102) sebagai berikut:
Program Power Point merupakan salah satu software yang dirancang secara
khusus untuk mampu menampilkan program multimedia dengan menarik, mudah
dalam pembuatan, mudah dalam penggunaan dan relative murah karena tidak
membutuhkan bahan baku selain alat untuk penyimpanan data (data storage)
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Power Point
merupakan software yang mampu menampilkan program multimedia dengan
menarik, mudah dalam pembuatan serta penggunaannya relatif murah. Power
Point memiliki kemampuan untuk menggabungkan berbagai unsur media seperti
pengolahan teks, warna, gambar, grafik serta animasi.
Aplikasi Power Point menyediakan fasilitas slide untuk menampung pokok-
pokok pembicaraan yang akan disampaikan pada peserta didik. Dengan fasilitas
animasi, suatu slide dapat dimodifikasi dengan menarik. Begitu juga dengan
adanya fasilitas front picture, sound dan effect dapat dipakai untuk membuat suatu
slide yang bagus. Bila produk slide ini disajikan, maka para pendengar dapat
ditarik perhatiannya untuk menerima apa yang disampaikan kepada peserta didik.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Media Power Point dapat
menarik perhatian siswa ketika melaksanakan proses belajar mengajar serta
membangkitkan motivasi peserta didik sehingga proses belajar mengajar dapat
terjalin aktif antara guru dengan siswa.

30
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data, baik data hasil observasi kegiatan guru
dan siswa maupun hasil belajar siswa pada siklus I dan II maka dalam penelitian
ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
a) Penggunaan Media Power Point dapat meningkatkan hasil belajar IPA
pada siswa kelas II SD Negeri 6 Bantan Tengah. Hal ini dibuktikan
dengan rata-rata nilai siswa juga mengalami peningkatan yang sangat
signifikan. Sebelum dilakukan perbaikan pembelajaran sebagian siswa ada
yang nilainya di bawah KKM, Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran
banyak perubahan dalam kegiatan proses belajar mengajar salah satunya
adalah terjadinya keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar,
selanjutnya pada siklus II seluruh siswa dapat tuntas melaksanakan proses
belajar mengajar sesuai dengan KKM.
b) Siswa mengalami perubahan dalam belajar, mereka merasa sengang dan
nyaman belajar menggunakan Media Power Point karena tidak merasa
bosan di dalam kelas.

B. Saran dan Tindak Lanjut


Berdasarkan kesimpulan tersebut maka peneliti menyarankan
beberapa hal sebagai berikut:
1. Diharapkan pada guru khususnya guru IPA atau guru pada umumnya agar
dalam melaksanakan proses pembelajaran dapat menggunakan media
pembelajaran yang sesuai, salah satunya menggunakan media power point
dalam proses pembelajaran baik pada mata pelajaran IPA ataupun pada
mata pelajaran lainnya karena dengan media power point ini dapat
meningkatkan aktivitas belajar siswa sehingga hasil belajarnya pun
meningkat.

31
2. Diharapkan pada sekolah agar dapat memfasilitasi segala sarana dan
prasarana yang dibutuhkan guru dalam proses pembelajaran karena sebaik
apapun metode yang diterapkan oleh guru tidak akan berdampak maksimal
tanpa adanya dukungan sarana dan prasarana yang baik.
3. Penelitian ini tentu saja masih jauh dari kesempurnaan untuk itu
diharapkan pada peneliti selanjutnya agar dapat memperbaiki dan lebih
mengembangkan lagi penelitian ini pada objek-objek yang lain

32
DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas ,(2004) .Interaksi Belajar Mengajar dan Pengeloaan Kelas .


Jakarta:Depdiknas.

Djamarah,Syaiful Bahri.( 2000).Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif.


Jakarta : Rineka Cipta

Hamalik,Oemar (2003).Proses Belajar Mengajar . Jakarta : Bumi Aksara.

Muktar dan Martinis .( 2007 ) . Sepuluh Kiat Sukses Mengajar Di Kelas . Jakarta:
Nimas Multima.

Sabri,Ahmad.(2005) . Strategi Belajar Mengajar Micra [Link]:


Quantum Teaching.

Slameto. (1991) .Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta:


Rhineka Cipta.

Sudjana.(2001). Penilaian Hasil Belajar Mengajar . Bandung : Remaja


Rosdakarya.

Soemanto,Westy. (1990). Psikologi Pendidikan. Malang: Renika Cipta.

[Link], Didaktik Azas-azas Mengajar. Bandung: Jemmars

33
34

Anda mungkin juga menyukai