0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan28 halaman

Perawatan Lochea Rubra Pasca Persalinan

Dokumen ini membahas asuhan keperawatan post natal care (PNC) untuk ibu setelah melahirkan, termasuk definisi, tujuan, dan perawatan yang diperlukan selama masa nifas. Terdapat penjelasan tentang perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu, serta langkah-langkah perawatan yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi. Selain itu, dokumen ini juga menyoroti pentingnya pendidikan laktasi dan konseling keluarga berencana.

Diunggah oleh

Kaderia Yu Min
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan28 halaman

Perawatan Lochea Rubra Pasca Persalinan

Dokumen ini membahas asuhan keperawatan post natal care (PNC) untuk ibu setelah melahirkan, termasuk definisi, tujuan, dan perawatan yang diperlukan selama masa nifas. Terdapat penjelasan tentang perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu, serta langkah-langkah perawatan yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi. Selain itu, dokumen ini juga menyoroti pentingnya pendidikan laktasi dan konseling keluarga berencana.

Diunggah oleh

Kaderia Yu Min
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN PNC (POST NATAL CARE) PADA

NY. S DI RUANG NIFAS SERUNI 3A RSUP DR TADJUDDIN


CHALID MAKASSAR

Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas


Stase Keperawatan Maternitas

Disusun Oleh:
ROSNANI RATMAN (N2415036)

CI LAHAN CI INSTITUSI

(……………………..) (……………………..)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES GRAHA EDUKASI MAKASSAR 2025
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Post Partum


1. Definisi
Post partum merupakan periode waktu yang diperlukan untuk pulihnya organ-
organ reproduksi kembali pada keadaan semula (tidak hamil) yang lamanya 6 minggu
setelah bayi dilahirkan dapat juga disebut dengan masa nifas (peurperium) (Rahmi,
2019).
Persalinan normal adalah proses lahirnya bayi yang terjadi pada kehamilan
cukup bulan (37-42 minggu), keluar secara spontan dengan presentasi kepala, tanpa
komplikasi baik pada ibu ataupun pada bayi (Armini et al., 2016).
Masa nifas (peurperium) adalah periode minggu-minggu pertama setelah
keluarnya bayi hingga alat-alat kandungan kembali ke keadaan tidak hamil yang
membutuhkan waktu sekitar enam [Link] periode ini ditandai dengan banyaknya
perubahan fisiologi (Seniorita, 2017).
2. Tujuan asuhan keperawatan post partum
Tujuan asuhan keperawatan post partum menurut Azlina (2019) yaitu :
a. Mendeteksi adanya perdarahan nifas
Perdarahan post partum merupakan keluarnya darah dari jalan lahir segera
setelah melahirkan. Kondisi ini terjadi jika kehilangan darah yang sangat banyak
sampai 500 ml atau lebih.
b. Menjaga kesehatan ibu dan bayi
Kesehatan ibu dan bayi sangat penting untuk dijaga, baik kesehatan fisik
maupun psikologis. Kesehatan fisik yang dimaksud adakah memulihkan kesehatan
umum ibu.
c. Menjaga kesehatan diri
Pada umumnya ibu dengan persalinan normal akan mempunyai luka
perineum yang sangat rentan terjadi infeksi, oleh karena itu menjaga kesehatan diri
sangat penting. Berikut cara merawat perineum ibu dengan persalinan normal :
1) Ganti pembalut setiap 3-4 jam sekali atau setiap pembalut sudah penuh, agar
tidak terjadi perkembangbiakan bakteri.
2) Lepas pembalut dengan hati-hati mulai dari depan ke belakang untuk
mencegah pindahnya bakteri dari anus ke vagina
3) Bersihkan perineum menggunakan larutan antiseptik setelah buang air kecil
atau saat mengganti pembalut. Keringkan dengan tissue atau handuk, di
tepuk-tepuk secara halus.
4) Jangan pegang area luka perineum sampai benar-benar pulih
5) Sarankan ibu nifas untuk duduk diatas bantal untuk mendukung otot-otot
disekitar perineum, jangan duduk terlalu lama untuk menghindari tekanan
lama pada perineum.
6) Jika luka perineum terasa gatal tandanya luka hmpir sembuh. Rasa gatal
dapat diredakan dengan mandi air hangat atau kompres dengan air panas.
7) Ibu nifas disarankan melakukan latihan kegel supaya merangsang peredaran
darah pada perineum.
d. Melaksanakan screening secara komprehensif
Tujuan dilakukan sreening adalah untuk mendeteksi apabila terjadi
masalah, kemudian mengobati dan merujuk apabila terdapat komplikasi pada ibu
nifas maupun bayinya. Jika terdapat permasalahan, maka harus segera dilakukan
tindakan sesuai dengan standar pelayanan penatalaksanaan masa nifas.
e. Pendidikan laktasi dan perawatan payudara
Ada beberapa hal yang perlu disampaikan kepada ibu bersalin untuk
menyiapkan diri menyusui bayinya yaitu :
1) Merawat agar payudara tetap bersih dan kering
2) Memakai bra yang bisa untuk menyusui agar nyaman melaksanakan peran
sebagai ibu menyusui
3) Menjelaskan tentang teknik menyusui dan pelekatan yang benar
4) Apabila terdapat permasalahan puting yang lecet, disarankan untuk
mengolesi kolostrum ataupun ASI di sekitar puting susu setelah selesai
menyusui.
f. Konseling Keluarga Berencana (KB)
Konseling KB adalah percakapan antara konselor dengan ibu bersalin yang
bertujuan untuk membantu ibu menentukan keputusan sesuai kondisi dan
pilihannya berdasarkan informasi yang lengkap mengenai alat kontrasepsi.
3. Perawatan post partum
1. Mobilisasi
Akibat kelelahan pasca persalinan, ibu bersalin harus istirahat dan tidur
terentang selama 8 jam pasca melahirkan. Kemudian diperbolehkan miring kiri atau
kanan agar tidak terjadi trombosis dan tromboemboli. Pada hari ke-2 boleh duduk,
hari ke-3 boleh jalan-jalan, dan hari ke-4 atau ke-5 boleh pulang. Mobilisasi diatas
berbeda-beda tergantung komplikasi nifas dan sembuhnya luka (Rahmadenti,
2020).
2. Diet
Nutrisi yang baik harus diperhatikan dengan mengonsumsi makanan bergizi
tinggi seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral untuk meningkatkan
produksi ASI dan pemulihan kesehatan ibu (Anggrahini, 2016).
3. Miksi
Buang air kecil harus dilakukan ibu nifas setelah enam jam pasca
persalinan. Kadang ibu nifas mengalami kesulitan berkemih disebabkan karena
kurangnya tekanan intra abdominal, otot-otot perut yang lemah, edema uretra, dan
dinding kandung kemih kurang sensitif (Nurvita, 2014).
4. Defekasi
Jika belum terjadi buang air besar dan konstipasi setelah 2-3 hari pasca
melahirkan, kontrol diet jika perlu menggunakan obat atau lakukan klisma
(Rahmadenti, 2020).
5. Perawatan payudara
Perawatan payudara merupakan suatu tindakan untuk merawat payudara
terutama pada masa nifas untuk melancarkan keluarnya ASI dan supaya puting susu
tidak keras dan tidak kering, untuk persiapan menyusui bayinya (Fatmawati et al.,
2019).
6. Perawatan vulva
Perawatan vulva dilakukan supaya kebersihan vulva dan sekitarnya terjaga
dengan baik untuk mempercepat penyembuhan luka dan menghindari resiko
infeksi. Perawatan vulva bisa dilakukan pada pagi dan sore sebelum mandi ataupun
setelah BAK dan BAB minimal 2x dalam sehari. (Hesty, 2019).
4. Tahapan post partum
Menurut Azlina (2019) ada 3 tahap post partum yaitu :
a. Immediate postpartum : 24 jam pertama, waktu 0-24 jam post partum. Pada
tahap ini dilakukan pemeriksaan uterus, pengeluaran lochea, suhu dan tekanan
darah.
b. Early postpartum : 1 minggu pertama, waktu 1-7 hari post partum. Pada periode
ini memastikan tidak ada perdarahan, lochea tidak berbau busuk, dan ibu nifas
dapat menyusui bayi dengan baik.
c. Late postpartum 1 minggu- minggu ke-6, waktu 1-6 minggu. Pada masa ini
tetap dilakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta konseling KB.
5. Perubahan Fisiologis Pada Post Partum Spontan
Beberapa perubahan fisoiologis post partum sebagai berikut :
a. Sistem reproduksi
1) Uterus
Setelah plasenta keluar, secara bertahap uterus akan kembali ke keadaan
sebelum hamil yang disebut involusi uterus. Involusi dapat terjadi akibat
adanya kontraksi uterus (Armini et al., 2016).
Berikut adalah tabel uterus :
Tabel 1 - Uterus

No. Waktu Tinggi Fundus Berat Diameter Palpasi


Involusi Uteri Uterus Uterus Serviks
1. Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram 12,5 cm Lunak

2. Uri/ plasenta Dua jari bawah 750 gram 12,5 cm Lunak


lahir pusat
3. 1 Minggu Pertengahan 500 gram 7,5 cm 2 cm
pusat simfisis
4. 2 Minggu Tidak teraba 300 gram 5 cm 1 cm
diatas simfisis
5. 6 Minggu Bertambah kecil 60 gram 2,5 cm Menyem
pit
Sumber : (Sulityawati, 2019).
2) Lochea
Lochea merupakan ekskresi cairan rahim selama masa nifas. Lochea
juga mengalami proses involusi. Perubahan lochea menurut W. L. S. Putri
(2020) sebagai berikut :
a) Lochea Rubra
Terjadi pada hari 1-3 post partum, berwarna merah kehitaman
karena berisi darah dan sisa-sisa selaput ketuban.
b) Lochea Sanguilenta
Warnanya putih bercampur merah, berisi sisa darah bercampur
lendir, waktunya 3 sampai 7 hari pasca persalinan.
c) Lochea Serosa
Terjadi hari ke-7 sampai hari ke-14, warna kekuningan,
mengandung lebih sedikit darah.
d) Lochea Alba
Muncul setelah minggu ke-2 sampai minggu ke-6, warnanya putih,
terdiri dari leukosit.
3) Tempat Tertanamnya Plasenta
Saat plasenta keluar uterus akan berkontraksi sehingga volume atau
ruang tempat plasenta akan berubah sepat. 1 hari pasca persalinan berkerut
sampai diameter 7,5 cm. Kira-kira 10 hari setelah persalinan, diameter
plasenta kurang lebih 2,5 cm (Sulityawati, 2019).
4) Perineum, Vagina, Vulva, dan Anus
Berkurangnya sirkulasi progesteron dapat membantu pemulihan
otot panngul, perineum, vagina, dan vulva ke arah elastisitas dari
ligamentum otot rahim. Pada awal masa nifas, vagina dan muara vagina
membentuk suatu lorong luas berdinding licin yang akan berangsur-angsur
mengecil ukurannya tapi jarang kembali ke bentuk nulipara.
Mukosa vagina tetap atrofi pada ibu menyusui sekurang-kurangnya
sampai kembali dimulainya masa menstruasi. Mukosa vagina
membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu untuk kembali sembuh, tetapi
pemulihan luka sub-mukosa akan membutuhkan waktu lebih lama yaitu 4-
6 minggu. Luka perineum akan sembuh setelah 7 hari dan otot perineum
akan pulih pada hari ke 5 sampai 6.
Pada anus biasanya akan terlihat hemoroid, dan ditambah adanya
gejala gatal, kurang nyaman, dan perdarahan pada saat defekasi yang
berwarna merah terang. Ukuran hemoroid akan mengecil beberapa minggu
masa nifas (Sulityawati, 2019).
b. Sistem Pencernaan
Biasanya ibu mengalami konstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan
karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang
menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan waktu
persalinan, kurang asupan makanan, dan kurangnya aktivitas tubuh (F. A. Putri,
2019).
c. Sistem Perkemihan
Terjadi diuresis yang sangat banyak dalam hari-hari pertama pasca
persalinan. Diuresis fisiologis terjadi akibat pengurangan volume darah dan
peningkatan produk sisa yang dimulai pasca persalinan sampai 5 hari post partum
(Aprilianti, 2019).
d. Sistem Musculosceletal
Pada saat persalinan, ligamen, fasia, dan diafragma pelvis akan meregang
dan setelah bayi lahir berangsur-angsur akan akan menciut dan pulih kembali,
sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi, dikarenakan
rotundum yang menjadi kendor. Stabilisasi sendi lengkap akan terjadi pada minggu
ke-6 sampai ke-8 pasca persalinan (Womakal, 2018).
e. Sistem Endokrin
1) Hormon Oksitosin
Oksitosin dikeluarkan oleh glandula pituitari posterior dan bekerja
terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Pada ibu menyusui isapan bayi
merangsang keluarnya oksitosin lagi yang dapat membantu pengeluaran ASI
dan kembalinya uterus kebentuk normal.
2) Hormon Hipofisis
Pada ibu menyusui kadar prolaktin tetap tinggi dan merupakan
permulaan stimulasi folikel di dalam ovarium ditekan. Kadar prolaktin
meningkat secara progresif sepanjang masa hamil dan akan tetap meningkat
sampai minggu ke 6 pasca persalinan.
3) Hormon Plasenta
Ketika plasenta keluar dari dinding uterus, tingkat hormone HCG, HPL,
estrogen, dan progesterone di dalam darah ibu akan menurun cepat, normalnya
setelah 7 hari post partum (Aprilianti, 2019).
f. Tanda-Tanda Vital
Pada ibu post partum, perubahan tanda-tanda vital menurut (Amiatin, 2019) yaitu :
1) Temperatur : Selama 24 jam pasca persalinan, suhu badan akan meningkat
sampai 38 derajat celsius sebagai akibat efek dehidrasi persalinan.
2) Nadi : Setelah melahirkan biasanya denyut nadi akan meningkat lebih cepat.
Setelah minggu ke-8 sampai ke-10 pasca persalinan, denyut nadi akan kembali
ke frekuensi sebelum hamil yaitu 60-80 kali per menit.
3) Pernafasan : Pernafasan selalu berkaitan dengan suhu tubuh dan denyut nadi,
jika suhu badan tidak normal, maka pernafasan akan mengikutinya. Bila
pernafasan pada masa nifas menjadi lebih cepat, kemungkinan ada tanda-tanda
syok.
4) Tekanan Darah : Biasanya tekanan darah tidak berubah. Bila tekanan darah
lebih rendah pasca persalinan, dikarenakan ada perdarahan (Amiatin, 2019).
g. Sistem kardiovaskuler
Setelah bayi dilahirkan, jantung akan bekerja mengalami peningkatan 80%
lebih tinggi dibanding sebelum melahirkan, dikarenakan auto transfusi dari
uteroplasenter dan akan kembali normal pada akhir minggu ketiga (Rahmadenti,
2020).
6. Perubahan Adaptasi Psikologis Pada Post Partum
Menurut Sulityawati (2019) perubahan adaptasi psikologis ibu post partum yaitu :
a. Fase Taking In
Merupakan periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama
sampai hari kedua pasca persalinan. Pada fase ini ibu nifas akan terfokus pada
dirinya sendiri dan bayinya, lebih tertarik untuk menceritakan pengalaman
persalinan yang telah dilaluinya sehingga cenderung pasif terhadap lingkungannya.
Pasca persalinan ibu nifas akan merasakan kelelahan yang membuat ibu harus
cukup istirahat untuk mencegah gejala kurang tidur, seperti mudah tersinggung.
b. Fase Taking Hold
Periode ini berlangsung pada hari ke 3-10 pasca persalinan. Pada fase ini
ibu merasa khawatir dengan tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Peran
pendampingndan keluarga adalah memberikan dukungan dan komunikasi yang
baik agar ibu merasa mampu melewati fase ini. Pada fase ini juga ibu akan belajar
untuk melakukan perawatan bayinya.
c. Fase Letting Go
Fase ini terjadi setelah ibu pulang ke rumah. Pada fase ini seorang ibu nifas
harus mampu menerima tanggung jawab dan peran barunya dalam merawat
bayinya yang dapat menyebabkan berkurangnya hak ibu dalam kebebasan dan
berhubungan sosial. Umumnya di fase ini terjadi depresi post partum.
d. Depresi Post Partum
Depresi post partum membuat ibu mengalami rasa putus harapan, keraguan
dan merasa tidak menjadi ibu yang baik dalam membesarkan anak. Ibu yang
mengalami depresi post partum biasanya mengalami rasa sulit tidur, tidak nafsu
makan dan cemas atau tidak perhatian sama sekali pada bayi.
e. Post Partum Blues
Post partum blues dapat terjadi sekitar 2 hari sampai 2 minggu pasca
persalinan. Ibu post partum blues akan mengalami perubahan perasaan, cemas,
khawatir yang berlebihan mengenai sang bayi, dan mudah [Link]
post partum blues tidak segera ditangani secara tepat akan menjadi lebih buruk dan
menyebabkan terjadinya depresi post patum.
7. Pathway
Post partum spontan

Pengeluaran janin Pengeluaran plasenta

Robekan dinding vagina Penurunan produksi hormone


estrogen dan progesteron
Psikologis Luka
Hipofise anterior Hipofise posterior
Trauma Kuman
Prolaktin Oksitosin
Takut Resiko infeksi
Peningkatan Pengeluaran
Ansietas produksi ASI ASI
Pembengkakan Kontraksi
payudara uterus

Nyeri
Kuat Lemah

Involusi Resiko
uteri perdarahan
(Oktarina, 2020)

B. Konsep Asuhan Keperawatan Post Partum


A. Pengkajian
Pengkajian pada ibu post partum menurut Ilma (2017) yaitu :
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan?
a. Bagaimana keadaan ibu saat ini?
[Link] perasaan ibu pasca persalinan?
b. Pola nutrisi dan metabolik
a. Apakah ibu merasa haus pasca persalinan?
[Link] klien merasa lapar setelah melahirkan?
c. Apakah ibu tidak nafsu makan dan merasa mual muntah?
[Link] terjadi penurunan berat badan?
c. Pola aktivitas
a. Apakah klien merasa lelah setelah melahirkan?
b. Apakah klien toleransi terhadap aktivitas ringan atau sedang?
c. Apakah klien terlihat mengantuk?
d. Pola eliminasi
a. Apakah ada deuresis pasca persalinan?
[Link] klien perlu bantuan saat BAK atau BAB?
e. Pola istirahat dan tidur
a. Apakah ada ketidaknyamanan yang menggangu istirahat?
[Link] lamanya klien saat tidur?
f. Pola persepsi dan konsep diri
a. Bagaimana pandangan klien terhadap dirinya saat ini?
[Link] ada permasalahan perubahan penampilan tubuhnya yang dialami saat
ini?
B. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
1) Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital
2) Pengkajian edema
3) Pemeriksaan reflek
4) Kaji adanya varises
5) Kaji Cortical Vertebra Area Tenderness (CVAT)
b. Payudara
1) Pengkajian area areola ( pecah, pendek, rata)
2) Kaji adanya abses
3) Kaji adanya nyeri tekan
4) Observasi adanya pembengkakan atau ASI terhenti
5) Kaji pengeluaran ASI
c. Uterus
1) Observasi posisi uterus atau TFU
2) Kaji adanya kontraksi uterus
3) Observasi ukuran kandung kemih
[Link] atau perineum
1) Kaji pengeluaran lokhea
2) Observasi penjahitan laserasi atau luka episiotomi
3) Kaji adanya pembengkakan
4) Kaji adanya luka
5) Kaji adanya hemoroid
C. Diagnosa keperawatan
Menurut SDKI PPNI (2016)
a. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
b. Ansietas berhubungan dengan kurang terpapar informasi
D. Intervensi
a. Resiko infeksi b.d trauma jaringan
Tujuan dan kriteria hasil SLKI PPNI (2018):
1) Tidak ada tanda-tanda infeksi
2) klien mampu mengenali tanda gejala infeksi
Planning SIKI PPNI (2018) :
1) Kaji tanda infeksi
2) Edukasi pencegahan infeksi
b. Ansietas b.d kurang terpapar informasi
Tujuan dan kriteria hasil SLKI PPNI (2018) :
1) Tingkat ansietas menurun
2) Klien menunjukkan pengendalian diri terhadap kecemasan
Planning SIKI PPNI (2018) :
1) Beri kesempatan klien mengungkapkan perasaan ketakutannya
2) Berikan informasi tentang perawatan perineum
PENGKAJIAN POST PARTUM (PNC)

Nama Mahasiswa : Rosnani Ratman, [Link]


Tanggal Pengkajian : 28/04/2025
NIM : N2415036
RS / Ruangan : RSUP [Link] Chalid Makassar ruang nifas seruni 3A

A. DATA UMUM KLIEN


Data Pasien Data Suami
1. Inisial Klien : Ny. S Inisial Klien : Tn. N
2. Usia : 24 Tahun Usia : 28 Tahun
3. Status Perkawinan : Menikah Status Perkawinan : Menikah
4. Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
5. Pendidikan Terakhir : SMA Pendidikan Terakhir : SMA

Riwayat Kehamilan Saat Ini


Berapa kali pemeriksaan kehamilan : 8 kali
Masalah kehamilan : Pasien mengatakan tidak ada masalah
Riwayat Persalinan
1. Jenis Persalinan : Spontan
2. Tgl/Jam : 27-04-25 / 09.15 wita
3. Jenis Kelamin Bayi : Perempuan, BB/PB : 3,2 gram / 47 cm
4. Perdarahan :-
5. Masalah Dalam Persalinan : Tidak ada
Riwayat Ginekologi
1. Masalah Ginekologi : Tidak ada masalah ginekologi
2. Riwayat KB : Pasien tidak menggunakan KB
B. DATA UMUM KESEHATAN SAAT INI
1. Status Obstetrik : G1 P1 A0
2. Bayi Rawat Gabung : Ya
3. Keadaan Umum : Mengeluh tidak nyaman karena nyeri di perineum dan kurangnya
ASI yang keluar disertau payudara yang terasa penuh
4. Kesadaran : Composmentis
5. BB/TB : 78 kg / 157 cm
6. Tanda-Tanda Vital
a. Tekanan Darah : 100/60 mmHg
b. Nadi : 104 x/m
c. Pernapasan : 20 x/m
d. Suhu : 36,5oC
7. Head to toe
a. Kepala Leher

1) Kepala : Bentuk kepala bulat, tidak terdapat massa,


dan tidak terdapat nyeri tekan
Simetris, konjungtiva tampak tidak anemis,
2) Mata : Sclera putih, tidak menggunakan
alat bantu penglihatan
Hidung tampak simetris kiri dan kanan, tidak
3) Hidung : Tampak adanya secret, tidak ada nyeri tekan,
tidak ada massa
Bibir tampak sedikit kering, tidak ada lesi,
4) Mulut : Mulut tampak bersih, terdapat karies pada
gigi, lidah bersih.
Simetris, tidak ada perdarahan, pendengaran
baik, tidak menggunakan alat bantu
5) Telinga :
pendengaran, tidak ada nyeri tekan, canalis
auditori kurang bersih.
Tidak tampak adanya pembesaran kelenjar,
6) Leher :
tidak ada nyeri tekan
7) Masalah khusus : Tidak ada masalah
b. Dada
1) Jantung : S1: Loop S2: Dup
2) Paru-paru : Bunyi paru vesicular, ekspansi dada simetris
3) Payudara : Simetris kiri dan kanan, aerola menonjol
berwarna coklat gelap.
4) Puting Susu : Puting susu tampak kedalam, ASI
sedikit
5) Pengeluaran ASI : ASI sedikit
6) Masalah Khusus : Pasien mengatakan ASI sedikit dan payudara
terasa penuh
c. Abdomen
1) Involusi Uterus : Iya
2) Fundus Uteri : 1 jari di bawah pusar
3) Kontraksi : Baik
4) Fungsi Pencernaan : Baik
5) Masalah Khusus : Nyeri perut
d. Perineum dan genital
1) Vagina :
a. Integritas kulit : Terdapat insisi, tidak terdapat edema, tidak
terdapat memar, tidak terdapat hematom
2) Perineum : Ruptur TK II
3) Tanda REEDA
a) R = Kemerahan : Tidak Nampak kemerahan
b) E = Edema : Tidak Terdapat bengkak
c) E = Ekimosis : Tidak ada
d) D = Discharge : Tidak ada
e) A = Approximate : Sekitar genetalia bersih, tidak terdapat
bekas jahitan pada perineum.
4) Kebersihan : Tampak bersih
5) Lokia : Rubra (sisa selaput ketuban)
a) Jenis warna : Merah
b) Konsistensi : 100cc
6) hemoroid : Tampak tidak adanya ambien
e. ekstremitas
1) Ekstremitas atas
a) Edema : Tidak ada
b) Varies : Tidak ada
2) Ekstremitas bawah
a) Edema : Tidak ada
b) Varies : Tidak ada
3) Masalah khusus : Tidak ada
f. Pola Kebiasaan
1) Eliminasi
a) Urin
Kebiasaan BAK : 5-6 x/hari, berwarna kuning bening
BAK Saat ini : 4x/hari setelah melahirkan
b) Fekal
Kebiasaan BAB : 2 - 3 x/hari, konsistensi lunak
BAB Saat ini : BAB Belum
g. Istirahat dan Kenyamanan
1) Pola Tidur : Siang : ± 1 jam, malam: ± 7 jam
3) Pola Tidur Saat Ini : Tidak teratur karena sering terbangun karena
tangisan anak.

4) Keluhan Ketidaknyaman : Pasien mengatakan saat ini tidak ada


keluhan
h. Mobilisasi dan Latihan
1) Tingkat Mobilisasi : Pasien mengatakan bisa melakukan
mobilisasi mandiri, pasien dapat mandiri
dalam melakukan mobilisasi atau ke kamar
kecil.
2) Latihan/ Senam : Tidak pernah
3) Masalah Khusus : Tidak ada masalah
i. Nutrisi dan Cairan
1) Asupan Nutrisi : Nafsu makan berkurang, makan 3x sehari,
porsi makan sedikit
2) Asupan Cairan : Cukup, ± 2 L/Hari atau 2 botol aqua besar
3) Masalah Khusus : Tidak ada masalah
j. Keadaan Mental
1) Adaptasi Psikologis : Klien mengatakan merasa cemas karena
bayinya tidak mau menyusui
2) Penerimaan Terhadap : Ibu mengatakan senang dengan kehadiran
Bayi
bayinya

3) Masalah Khusus : Tidak ada masalah


k. Kemampuan menyusui : Pasien mengatakan ASI nya sedikit keluar,
pasien sedikit cemas dengan bayinya yang
tidak mau menyusui, payudara bengkak

l. Pemberian Obat

TERAPI DOSIS LOKASI INDIKASI


RL 20 Tpm/jam Intravena Untuk mengembalikan
keseimbangan elektrolit
Asam Mefenamat 500 mg/8jam Oral Untuk mengobati nyeri
Ranitide 2 mg/8jam Oral untuk mengatasi sakit
lambung
Vit D 250 mg/hari Oral Untu membantu tubuh
menyerap kalsium dan
menjaga kesehatan tubuh
KLASIFIKASI DATA
Data Subjektif Data Objektif
• Pasien mengeluh nyeri seperti ditusuk- • Pasien tampak meringis
tusuk pada daerah luka perineum, nyeri • Tampak gelisah
seperti tertusuk, nyeri hilang timbul • Sulit tidur
selama waktu 1 menit dengan skala • Napsu makan berubah
nyeri 4 (1-10) kualitas nyeri sedang • Luka episiotomy
• Pasien mengeluh nyeri dan tidak • Payudara bengkak
nyaman pada bekas jahitan post operasi • Bayi tidak mampu melekat pada
• Pasien cemas dengan anaknya yang payudara ibu
tidak mau menyusui • ASI tidak menetes
• Nyeri di payudara
• Bayi menghisap tidak terus-
menerus
• Bayi menolak untuk menghisap
• TTV
TD: 100/60 mmHg
N: 104 x/m
S: 36.5oC
R: 20 x/m

ANALISA DATA
Data Etiologi/Faktor Risiko Problem
DS: Trauma Perineum Selama Ketidaknyamanan
Pasien mengeluh tidak nyaman Persalinan, inovolusi uterus, Pasca Partum
dan nyeri pada bekas jahitan proses pengembalian ukuran
perineum rahim ke ukuran semula,
pembengkakan payudara
DO: dimana alveoli mulai terisi
• Tampak meringis ASI
• Tampak luka episiotomi
• Tampak payudara bengkak
• Pasien tampak merintih
• TTV
TD: 100/60 mmHg
N: 104 x/m
S: 36.5oC
R: 20 x/m
DS: Agen Pencedera Fisik Nyeri Akut
Pasien mengeluh nyeri di (Trauma Perineum)
daerah luka perineum
P: Nyeri saat bergerak
Q: Nyeri seperti tertusuk-tusuk
R: Nyeri di daerah luka
perineum
S: Nyeri dengan skala 4
T: nyeri hilang timbul
DO:
• Tampak gelisah
• Sulit tidur

• Napsu makan berubah


• Pasien tampak meringis
• TD: 100/60 mmHg
• N: 104 x/m

DS: Ketidakadekuatan suplai ASI, Menyusui Tidak


Pasien cemas dengan anaknya Anomali payudara ibu, Efektif
yang tidak mau menyusui Payudara bengkak

DO:
• Bayi tidak mampu melekat
pada payudara ibu
• ASI tidak menetes
• Nyeri di payudara
• Bayi menghisap tidak
terus-menerus
• Bayi menolak untuk
menghisap

DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Ketidaknyamanan pasca partum berhubungan dengan trauma perineum selama
persalinan involusi uterus, proses pengembalian ukuran rahim ke ukuran semula
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (trauma perineum)
3. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan suplai ASI, anomaly
payudara ibu, payudara bengkak
INTERVENSI KEPERAWATAN

TGL/JAM DIAGNOSA RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


KEPERAWATAN
(SDKI) TUJUAN/KRITERIA HASIL INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)
(SLKI)
27/04/2025 (D.0075) Saat dilakukan tindakan selama Perawatan Pasca Persalinan (
19.00 Wita Ketidaknyamanan pasca 2x24 jam maka Status Tindakan
partum Kenyamanan Pasca Partum Observasi:
berhubungan dengan menurun dengan kriteria hasil: 1. Monitor tanda tanda persalinan
involusi uterus, proses • Keluhan tidak nyaman menurun 2. Periksa perineum
pengembalian ukuran • Merringis menurun Terapeutik:
rahim ke ukuran semula • Kontraksi uterus menurun 3. Berikan kenyamanan pada ibu
• Berkeringat menurun merintih Edukasi:
menurun hemoroid menurun 4. Ajarkan ibu mengatasi nyeri secar mandiri
• Payudara bengkak menurun

27/04/2025 (D.0077) Saat dilakukan tindakan Manajemen Nyeri (I.08238)


19.30 Wita Nyeri Akut berhubungan keperawatan selama 2x24 jam Tindakan
dengan agen pencedera maka Tingkat Nyeri menurun Observasi:
fisik (trauma perineum) dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
• Keluhan nyeri menurun kualitas, intensitas nyeri
• Gelisah menurun 2. Identifikasi skala nyeri
• Sulit tidur menurun Terapeutik:
• Napsu makan membaik 3. Berikan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi rasa nyeri
4. Fasilitasi istrahat tidur
Edukasi:
5. Jelaskan strategi meredakan nyeri
6. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
7. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi:
8. Kolaborsi pemberian analgetik, jika perlu
27/04/2025 (D.0029) Saat dilakukan tindakan Edukasi Menyusui (I.12393)
20.00 Wita Menyusui tidak efektif keperawatan selama 2x24 jam Tindakan
berhubungan dengan maka Status Menyusui membaik Observasi:

ketidakadekuatan suplai dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi tujuan atau keinginan menyusui
ASI, anomaly payudara • Perlekatan bayi pada payudara Terapeutik:
ibu, payudara bengkak ibu meningkat 2. Sediakan materi dan media penkes
• Kemampuan ibu memposisikan 3. Jadwalkan penkes sesuai kesepakatan
bayi dengan benar meningkat 4. Berikan kesempatan untuk bertanya
• Suplai ASI adekuat meningkat 5. Dukung ibu meningkatkan kepercayaan diri dalam menyusui
• Hisapan bayi meningkat 6. Libatkan system pendukung suami, keluarga
• Kecemasan maternal menurun Edukasi:
• Bayi rewel menurun 7. Berikan konseling menyusui
8. Jelaskan manfaat menyusui bagi ibu dan bayi
9. Ajarkan perawatan payudara postpartum (mis. memeras ASI,
pijat payudara, pijat oksitosin)
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI HARI KE-1

DIAGNOSA TGL/JAM IMPLEMENTASI EVALUASI


Ketidaknyamanan pasca 27/04/2025 1. Memonitor tanda tanda vital Tanggal: 09-12-2024
partum 20.00 Wita Hasil: TD: 90/60 mmHg Jam: 20:45 Wita
berhubungan dengan N: 104 x/m
involusi uterus, proses 20.07 Wita 2. Memeriksa perineum S:
pengembalian ukuran Hasil: Rupture derajat II Pasien mengeluh tidak nyaman dan
rahim ke ukuran semula 20.13 Wita 3. Memberikan kenyamanan pada ibu nyeri pada bekas jahitan post operasi
Hasil: suhu ruangan pasien sejuk, tidak bising dan
cahaya bisa diatur (matikan atau hidupkan) O:
20.20 Wita 4. Mengajarkan ibu mengatasi nyeri secara mandiri • Tampak meringis
Hasil: pasien mampu memahami dan mengikuti • Luka episiotomi
relaksasi napas dalam untuk mengatasi rasa nyeri yang • Payudara bengkak
dialaminya • Pasien tampak merintih
• TD: 90/60 mmHg
• N: 104 x/m

A : Masalah ketidaknyamanan pasca


partum belum teratasi

P : Intervensi lanjutkan
1. Monitor tanda tanda vital
2. Periksa perineum
3. Berikan kenyamanan pada ibu
4. Ajarkan ibu mengatasi nyeri
secara mandiri
Nyeri Akut berhubungan 14.30 Wita 1. Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, Tanggal 09-12-2024
agen pencedera fisik frekuensi, kualitas, intensitas nyeri Jam 20.45 Wita
(trauma perineum) Hasil: lokasi nyeri di area perineum, nyeri seperti
terbakar, nyeri hilang timbul selama waktu 1 menit S: Pasien mengeluh nyeri seperti
dengan skala nyeri 4 (1-10) kualitas nyeri sedang ditusuk-tusuk pada daerah luka
14.32 Wita 2. Mengidentifikasi skala perineum, nyeri seperti tertusuk,
nyeri Hasil: skala nyeri 4 nyeri hilang timbul selama waktu 1
14.35 Wita 3. Memberikan teknik nonfarmakologi untuk menit dengan skala nyeri 4 (1-10)
mengurangi rasa nyeri kualitas nyeri sedang

Hasil: diberikan posisi semi fowler dan relaksasi nafas


dalam
14.38 Wita 4. Memfasilitasi istrahat tidur O:
Hasil: diberikan fasilitas bed dan untuk tidur diberikan • Tampak gelisah
ruangan yang nyaman • Sulit tidur
14.40 Wita 5. Menjelaskan strategi meredakan nyeri • Napsu makan berubah
Hasil: memberikan strategi relaksasi nafas dalam • Pasien tampak meringis
14.43 Wita 6. Menganjurkan memonitor nyeri secara • TD: 90/60 mmHg
mandiri Hasil: pasien tidak mengetahui cara • N: 104 x/m
untuk mengatasi nyeri secara mandiri
14.50 Wita 7. Mengajarkan teknik nonfarmakologis untuk A: Masalah nyeri belum teratasi
mengurangi rasa nyeri
Hasil: pasien diajarkan teknik berupa relaksasi P: Lanjurkan Intervensi
nafas dalam 2. Identifikasi skala nyeri
17.45 Wita 8. Mengkolaborasi pemberian analgetik 4. Fasilitasi istrahat tidur
Hasil: kolaborasi dengan pemberian obat anti nyeri 7. Ajarkan Teknik
nonfarmakologiis untuk
mengurangi rasa nyeri
8. Kolaborasi pemberian analgetik
Menyusui tidak efektif 15.00 Wita 1. Mengidentifikasi tujuan atau keinginan menyusui Tanggal: 09-12-2024
berhubungan dengan Hasil: pasien tampak kurang suplai ASI adekuat Jam: 20:45 Wita
ketidakadekuatan suplai 15.33 Wita 2. Menyediakan materi dan media penkes
ASI, anomaly payudara Hasil: pasien mengerti dengan materi yang diberikan S:
ibu, payudara bengkak tentang penkes Pasien cemas dengan anaknya yang
15.36 Wita 3. Menjadwalkan penkes sesuai kesepakatan tidak mau menyusui
Hasil: pasien mau memberikan kesempatan untuk
penkes O:
15.40 Wita 4. Memberikan kesempatan untuk bertanya • Bayi tidak mampu melekat pada
Hasil: pasien tampak aktif dan bertanya payudara ibu
15.45 Wita 5. Mengdukung ibu meningkatkan kepercayaan diri dalam • ASI tidak menetes
menyusui • Nyeri di payudara
Hasil: ibu kurang percaya diri untuk menyusui • Bayi menghisap tidak terus-
15.48 Wita 6. Melibatkan system pendukung suami, keluarga menerus
Hasil: pasien sering melibatkan suami dalam keadaan • Bayi menolak untuk menghisap
apapun

15.50 Wita 7. Memberikan konseling menyusui A: Masalah menyusui tidak efektif


Hasil: pasien mengerti dengan konseling menyusui dan belum teratasi
bisa di jelaskan kembali
15.55 Wita 8. Menjelaskan manfaat menyusui bagi ibu dan bayi P: pertahankan intervensi
Hasil: pasien mengerti manfaat menyusui dan bisa 1. Identifikasi tujuan atau keinginan
dijelaskan kembali menyusui
16.00 Wita 9. Mengajarkan perawatan payudara postpartum 9. Ajarkan perawatan payudara
Hasil: pasien belum mengerti perawatan payudara postpartum
seperti memijat payudara atau memeras ASI
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI HARI KE-2
DIAGNOSA TGL/JAM IMPLEMENTASI EVALUASI
Ketidaknyamanan pasca 27/04/2025 1. Memonitor tanda tanda vital Tanggal: 10-12-2024
partum 08.00 Wita Hasil: TD: 120/70 mmHg Jam: 14.00 Wita
berhubungan dengan N: 86 x/m
involusi uterus, proses 08.07 Wita 2. Memeriksa perineum S:
pengembalian ukuran Hasil: Rupture derajat II Pasien mengatakan tidak nyaman dan
rahim ke ukuran semula 08.13 Wita 3. Memberikan kenyamanan pada ibu nyeri pada bekas jahitan post operasi
Hasil: suhu ruangan pasien sejuk, tidak bising dan
cahaya bisa diatur (matikan atau hidupkan) O:
08.20 Wita 4. Mengajarkan ibu mengatasi nyeri secara mandiri • Tampak meringis
Hasil: pasien mampu memahami dan mengikuti • Luka episiotomi
relaksasi napas dalam untuk mengatasi rasa nyeri yang • Payudara bengkak
dialaminya • Pasien tampak merintih
• TD: 120/70 mmHg
• N: 86 x/m

A : Masalah ketidaknyamanan pasca


partum belum teratasi

P : Intervensi dihentikan

Nyeri Akut berhubungan 08.30 Wita 2. Mengidentifikasi skala Tanggal 10-12-2024


agen pencedera fisik nyeri Hasil: skala nyeri 4 Jam 20.45 Wita
(trauma perineum) 08.32 Wita 4. Memfasilitasi istrahat tidur
Hasil: diberikan fasilitas bed dan untuk tidur diberikan S: Pasien mengeluh nyeri seperti
ruangan yang nyaman ditusuk-tusuk pada daerah luka
08.35 Wita 7. Mengajarkan teknik nonfarmakologis untuk perineum, nyeri seperti tertusuk,
mengurangi rasa nyeri nyeri hilang timbul selama waktu 1
Hasil: pasien diajarkan teknik berupa relaksasi menit dengan skala nyeri 1 (1-10)
nafas dalam kualitas nyeri ringan
08.38 Wita 8. Mengkolaborasi pemberian analgetik
Hasil: kolaborasi dengan pemberian obat anti nyeri O:
• Tampak gelisah menurun
• Sulit tidur menurun

• Napsu makan berubah menurun


• Pasien tampak meringis menurun
• TD: 120/70 mmHg
• N: 86 x/m

A: Masalah nyeri teratasi

P: Intervensi dihentikan

Menyusui tidak efektif 09.00 Wita 1. Mengidentifikasi tujuan atau keinginan menyusui Tanggal: 10-12-2024
berhubungan dengan Hasil: pasien tampak kurang suplai ASI adekuat Jam: 14:0 Wita
ketidakadekuatan suplai 09.33 Wita 9. Mengajarkan perawatan payudara postpartum
ASI, anomaly payudara Hasil: pasien belum mengerti perawatan payudara S:
ibu, payudara bengkak seperti memijat payudara atau memeras ASI Pasien cemas dengan anaknya yang
tidak mau menyusui

O:
• Bayi tidak mampu melekat pada
payudara ibu
• ASI tidak menetes
• Nyeri di payudara
• Bayi menghisap tidak terus-
menerus
• Bayi menolak untuk menghisap

A: Masalah menyusui tidak efektif


belum teratasi

P: pertahankan intervensi

Anda mungkin juga menyukai