Pembentukan Sikap Spiritual Anak PAI
Pembentukan Sikap Spiritual Anak PAI
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk
Mencapai Gelar Sarjana Dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam
OLEH :
ANJELLI SINAGA
NPM/NIRM : 19.02.0014/[Link].1.I.0632
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
1
KATA PENGANTAR
taufik dan hidayah Nya sehingga proposal ini dapat penulis selesaikan. Banyak
kendala dan hambatan yang dilalui penulis dalam penyusunan skripsi ini, akan tetapi
dengan segala usaha yang penulis lakukan sehingga semuanya itu dapat teratasi.
Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu
„alaihi Wasallam sebagai Nabi pembawa risalah, petunjuk dan menjadi suri tauladan
pengajaran secara khusus dan dunia pendidikan secara umum, demi meningkatkan
ANJELLI SINAGA
NPM 19.02.0014/NIRM [Link].1.I.0632
i
DAFTAR ISI
ii
D. Deskripsi Fokus Penelitian .................................................................................28
E. Sumber Penelitian ...............................................................................................29
F. Instrumen Penelitian ...........................................................................................30
G. Teknik Pengumpulan Data .................................................................................30
H. Teknik Analisis Data ..........................................................................................32
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 35
iii
BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau
sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia menjadi pribadi yang lebih
baik melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perluasan dan cara mendidik. Ki
pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan
menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. 1 Mengacu pada
resensi dalam UU. No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3
yaitu mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan
individu yang setinggi-tingginya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan
spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik lingkungan fisik dan
didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam sebagaimana yang tercantum dalam Al-
1
Amka, Filsafat Pendidikan, (Sidoarjo: Nizamia Learning Center, 2019). hlm. 5
2
Rahmat Hidayat, Abdillah, Ilmu Pendidikan Konsep, Teori Dan Aplikasinya, (Medan: LPPPI, 2019).
hlm. 38
1
2
Qur‟an dan hadits serta dalam pemikiran para ulama dan dalam praktek sejarah umat
Islam. Berbagai komponen dalam pendidikan mulai dari tujuan, kurikulum, guru,
metode, pola hubungan guru dan siswa, sarana dan prasarana, lingkungan dan
evaluasi pendidikan harus didasarkan pada nilai- nilai ajaran Islam. Jika berbagai
komponen tersebut satu dan lainnaya membentuk suatu sistem yang didasarkan pada
nilai-nilai ajaran Islam, maka sistem tersebut selanjutnya dapat disebut sebagai
sistem pendidikan Islam.3 Oleh sebab itu, pendidikan Islam adalah merupakan
berbagai komponen yang salin terkait dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan
lainnya.
diinginkan tidak hanya tergantung pada gedung yang megah, media pembelajaran
yang lengkap, peralatan praktik yang canggih, kurikulum yang baik, serta sarana
pembelajaran lainnya yang dimiliki, melainkan juga tergantung pada sumber daya
peserta didik dapat menghasilkan perubahan dalam dirinya, baik dalam bidang
prestasi belajar yang dihasilkan oleh peserta didik berdasarkan evaluasi yang
3
Ahmad Tafsir, Epistimologi untuk Pendidikan Islam (Bandung: IAIN Sunan Gunung Jati, 1995), hlm
15
4
Saude, Cikka, Hairuddin dan Zaifullah, Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam
Mengoptimalkan Kinerja Guru, AL Mutsla:(2020), hlm. 22
2
3
peserta didik melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sangat penting
Stephen R. Covey yang menyatakan bahwa “kecerdasan spiritual adalah pusat paling
mendasar diantara kecerdasan yang lain, karena dia menjadi sumber bimbingan bagi
kecerdasan lainnya”.5
kewarganegaraan. Hal ini sesuai dengan tujuan pemberlakuan kurikulum 2013 yaitu
Kurikulum 2013 membagi kompetensi sikap menjadi dua yaitu kompetensi sikap
spiritual yang berkaitan dengan pembentukan peserta didik yang beriman dan
bertaqwa dan sikap sosial yang terkait dengan pembentukan peserta didik berakhlak
nilai karakter yang menunjukkan pikiran, perkataan, dan tindakkan seseorang yang
5
Hamdan Rajih, Cerdas Akal Cerdas Hati, Mengasah dan Mengembangkan Kecerdasan Intelektual
(IQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ) Buah Hati Anda. Cet. II; (Jogjakarta: DIVA Press, 2008). Hlm.72
6
Asfiati, Redesign Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Menuju Revolusi Industry 4.0, (Jakarta:
Kencana, 2020), hlm. 38
3
4
menyesuaikan diri pada hal-hal baru dengan menggunakan alat-alat berpikir menurut
tujuan yang ingin dicapai. Sikap spiritual dan intelektual ini termasuk kedalam
kategori akhlak. Adapun sikap atau yang dalam bahasa Arab disebut dengan Akhlak
mirip dengan budi pekerti yang memiliki kedekatan dengan istilah tata karma. Akhlak
atau attitude merupakan suatu hal yang bisa di nilai dari seseorang. 7
tentang pentingnya memiliki akhlak yang baik. Rasulullah Saw di utus oleh Allah
untuk menyempurnakan akhlak manusia. Beliau adalah suri tauladan bagi manusia.
Sebagaimana firman Allah Swt, di dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 83 yang
berbunyi :
ه
سانًا او ِذى الْق ُ ْر هبي َوالْيَ هٰ هٰي َ ّ س َر ۤا ِءيْ َل ََل تَ ْعبُد ُْونَ اِ اَل
َ ّللا َوبِالْ َوالِ َديْ ِن اِ ْح ْ َِواِ ْذ اَ َخ ْرنَا ِميْثَاقَ بَنِ ْْٓي ا
ص هلوةَ َو هاتُوا ال از هكو َۗةَ ث ُ ام تَ َولايْٰ ُ ْم اِ اَل قَلِيْ ًًل ِّمنْكُ ْم َواَنْٰ ُ ْم
سنًا اواَقِيْ ُٰوا ال ا ِ َوالْ َٰ هس ِكيْ ِن َوق ُ ْول ُ ْوا لِلناا
ْ س ُح
َض ْون
ُ ُّم ْع ِر
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil,”Janganlah
kamu menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat,
anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada
7
Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai Karakter, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), hlm. 55
4
5
Dari ayat diatas menunjukkan bahwa begitu penting nya memiliki akhlak atau
sikap yang baik. Perintah untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya
Sedangkan berbuat baik dan bertutur kata yang baik kepada sesama adalah cerminan
dari sikap sosial seorang manusia kepada manusia lainnya. Hal ini menunjukkan
penting nya suatu pendidikan akhlak di sekolah bagi peserta didik agar kelak mereka
peserta didik dalam hal pendidikan karakter. Anak SD merupakan anak yang sedang
berkembang dan merupakan masa yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai karakter
yang baik. Usia rata-rata anak Indonesia saat masuk sekolah dasar adalah (6-12
tahun). Jika mengacu pada tahap perkembangan anak, maka anak usia sekolah dasar
berada dalam dua masa perkembangan, yaitu masa anak-anak tengah (6-9 tahun), dan
Anak usia SD/MI (10-12 tahun) rata-rata berada di kelas IV dan V, pada usia
ini anak sedang mengalami perkembangan fisik dan motorik tak terkecuali
yang bertumbuh pesat. Jika pada masa ini penanaman nilai-nilai karakter ditanamkan
dengan secara sempurna, maka akan menjadi pondasi dasar bagi perkembangan
5
6
kepribadian anak ketika dewasa kelak.8 Sikap spiritual dan intelektual siswa dapat
dengan siswa atau antara siswa dengan teman-temannya. Karena tujuan pembentukan
sikap siswa tidak kalah pentingnya yaitu membentuk dan mengembangkan sikap agar
memiliki ciri-ciri afektif sebagai sikap, minat, nilai, moral dan konsep diri.
fungsi afektif, kognitif dan konatifnya akan meyakini dan menerima tanpa keraguan
bahwa di luar dirinya ada kekuatan Maha Agung yang melebihi apapun, termasuk
dirinya.9
Hikmah Pematang Bandar adalah sekolah Swasta dengan akreditasi B dan memiliki
sarana dan prasarana yang cukup memadai yaitu memiliki ruang belajar yang
nyaman, lapangan yang luas yang bisa digunakan untuk berolahraga serta beribadah
seperti melaksanakan sholat dhuha. Menurut hasil wawancara yang dilakukan peneliti
dengan Ibu Rahmatila mengatakan bahwa sikap spiritual dan intelektual siswa di
8
Nur Hidayati, Psikologi Pendidikan, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2017), hlm. 7
9
Abdul Wahab H.S. dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan spiritual, (Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 29-30.
6
7
pengembangan sikap spiritual dan intelektual dengan berbagai cara dan bentuk
strategi agar siswa menjadi pribadi muslim yang dapat mencerminkan keteladanan
B. Identifikasi Masalah
penyebabnya yang dapat drinci masalah tersebut menjadi masalah penelitian proposal
yang ditunjukkan melaui nilai siswa yang masih banyak dibawah KKM
C. Rumusan Masalah
Berbagai pandangan yang melatar belakangi pentingnya penelitian ini, yang
Kabupaten Simalungun?
10
Juraida, Wawancara, Kerasaan, 7 Maret 2023
7
8
Kabupaten Simalungun?
D. Batasan Masalah
terdapat dalam tema di atas sangat luas, maka penulis membatasi sebagai berikut:
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah penelitian yang telah dikemukakan di atas,
Pematang Bandar.
8
9
F. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa, semoga penelitian ini dapat memberikan motivasi dan pengaruh
9
10
BAB II
LANDASAN TEORITIS
PENELITIAN TERDAHULU
Widya Tangerang dengan jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif,
“Implementasi sikap spiritual dan sosial pada proses pembelajaran dalam kurikulum
2013” bahwa dalam kurikulum 2013 terdapat pengembangan dari domain efektif
yang semula hanya berfokus pada sikap sosial, sekarang berkembang dengan adanya
sikap spiritual. Pada setiap mata pelajaran pada perumusan KI dan KD terdapat sikap
Penelitian yang juga dilakukan oleh Aning Kusuma Wardani, berjudul “Sikap
kualitatif, pengumpulan data melalui triangulasi dan teknik analisis data dengan
analisis interaktif.
10
11
Penelitian yang dilakukan oleh Nuzula Anita Hidayati tentang “Strategi Guru
PAI dalam mengembangkan kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial siswa di SMP
mengembangkan kompetensi sikap seorang guru harus memiliki strategi khusus yang
terlihat. Terlihat dari konteks pembahasan misalnya yang memfokuskan terkait ranah
domain afektif ataupun sikap yakni sikap sosial dan sikap spiritual, kemudian pada
objek sasaran yang sama tertuju kepada peserta didik, pembelajaran atau proses
pembelajaran. Kebanyakan dari penelitian yang ada terkait kompetensi sikap yang
dan berpendapat bahwa keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain, teknik
penilaian yang dilakukan oleh peserta didik pun terkadang sama saja. Namun pada
Bandar. penelitian ini berpandangan bahwa antara sikap spiritual dan intelektual
memiliki perbedaan dari setiap aspek dan tidak dapat disamakan meskipun berada
11
12
terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak maupun perasaan
tidak mendukung atau tidak memihak pada objek tersebut.11 Sikap merupakan
atau kesepian antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial,
atau secara sederhana sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah
terkondisikan.12 Definisi Petty & Cacioppo secara lengkap mengatakan sikap adalah
evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, objek.
bedakan menjadi tiga hal yaitu sikap yang transformatif, transaktif dan
psikomotorik atau kurang di sadari. Sikap yang transaksional merupakan sikap yang
lebih mendasar pada kenyataan obyektif, sedang sikap yang transinternal merupakan
Sikap dalam hal ini adalah Sikap Spiritual dan Intelektual Anak dalam
11
Azwar [Link] Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
12
Syam, Fuadil Munawwar, et al. "Relevansi dan Integrasi Psikologi Religius dengan Konseling Islam
(Motif, Sikap dan Perilaku)." Jurnal Fokus Konseling 9.1 (2023): 39-47.
13
Lukman, Hakim. "Internalisasi nilai-nilai agama islam dalam pembentukan sikap dan perilaku siswa
sekolah dasar islam terpadu Al-Muttaqin Kota Tasikmalaya." Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta‟lim 10.1
(2012): 67-77.
14
Lukman, Hakim. "Internalisasi nilai-nilai agama islam dalam pembentukan sikap dan perilaku siswa
sekolah dasar islam terpadu Al-Muttaqin Kota Tasikmalaya." Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta‟lim 10.1
(2012): 67-77.
12
13
Sikap spiritual terkait dengan pembentukan peserta didik menjadi orang yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengacu pada KI-1 pada
kurikulum 2013 yang menyebutkan bahwa sikap spiritual merupakan sikap untuk
dianutnya.
Dapat dijabarkan bahwa sikap spiritual yang tercantum pada kompetensi inti
pada kurikulum 2013 ini dimaksudkan bahwa peserta didik dapat dikatakan memiliki
terhadap praktik ibadah agama lain, dan c) menjaga kerukunan antar umat beragama.
batin). Kata spiritual berarti sesuatu berhubungan dengan Tuhan yang Maha Esa,
Sikap spiritual adalah suatu keadaan diri seorang dimana setiap melakukan
aktifitasnya selalu berkaitan dengan agamanya dalam hal ini pula dirinya sebagai
mempraktekkan setiap ajaran agamanya atas dasar yang ada dalam batinnya.16
Jadi sikap spiritual adalah kesiapan merespon secara konsisten dalam bentuk
15
ZALYANA AU, „Pemikiran Muhammad Utsman Najati Tentang Motivasi Spiritual Dan
Implikasinya Terhadap Pembentukan Karakter Islami Di Sekolah‟ (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif
Kasim Riau, 2020).
16
Meyla Muridatur Rohmah, „Upaya Guru Fiqih Dalam Meningkatkan Sikap Religius Siswa Melalui
Kegiatan Ekstrakurikuler Pengajian Anjangsana Di Madrasah Aliyah Al-Huda Ngadirejo Kediri‟ (IAIN
Kediri, 2018).
13
14
positif atau negatif terhadap semangat membangkitkan jiwa atau sukma yang
merujuk pada semacam kebutuhan manusia untuk menempatkan upaya dirinya dalam
tersebut.
Nya dan mejauhi larangan-Nya. Semua itu dijalankan dengan sepenuh hati
dan penuh rasa syukur kepada-Nya. Itulah puncak perjalanan dalam agama
Allah SWT18
seseorang untuk menyesuaikan diri pada hal-hal baru dengan menggunakan alat-alat
17
Ach Azizi and Bagus Asharun, „Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membangun Sikap
Spiritual Dan Sikap Sosial Di SMA Pawyatan Daha Kediri‟ (IAIN Kediri, 2020).
18
Cahyaning Putri Wulandari, „Konsep Syukur Dalam Kitab Minhājul „Ābidīn Karya Imam Al-
Ghazali Dan Relevansinya Dengan Materi Aqidah Akhlak Kelas X Madrasah Aliyah‟ (Iain Ponorogo,
2022).
14
15
berpikir menurut tujuan yang ingin dicapai. 19 Kemampuan intelektual juga merujuk
pada kapabilitas seseorang untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara
IQ dibentuk oleh otak kiri yang mencakup kecerdasan linear, matematik, dan
logis sistematis. Kecerdasan ini menghasilkan pola pikir yang berdasarkan logika,
tepat, akurat, dan dapat dipercaya. Orang dengan kecerdasan ini akan mampu
memiliki analisis yang tajam dan memiliki kemampuan untuk menyusun strategi
bisnis yang baik. Namun, kecerdasan intelektual tidak melibatkan emosi dalam
memproses informasi.
disebut sebagai tes IQ. Terdapat juga suatu pendapat yang mengatakan bahwa IQ
Kecerdasan seperti ini tidak dapat diamati secara langsung, karena itu perlu
adanya tes IQ. Namun IQ tinggi belum tentu menggambarkan kecerdasan manusia
19
Ferra Lumban Gaol, „Pengaruh Karakter Budaya Akademik Dan Kecerdasan Intelektual
Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Pendidikan Bisnis 2017 Di Universitas Negeri Medan‟
(Universitas Negeri Medan, 2021).
15
16
logika.20
Pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan
siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam melalui
kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang
suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat
memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan ajarannya yang
hidup.23
20
Daniel Goleman, Kecerdasan Emosional (Gramedia Pustaka Utama, 2000).
21
Departemen Agama RI, Pedoman Pendidikan Agama Islam Sekolah Umum Dan Luar Biasa, tt, hlm.
2.
22
Departemen Agama RI, Pedoman Pendidikan Agama Islam Sekolah Umum Dan Luar Biasa, tt, hlm.
2.
23
Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2004), hlm. 130
16
17
mulai dari latihan amalan sehari-hari yang sesuai dengan ajaran agama, baik yang
menyangkut hubungan manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia lain, manusia
dengan alam, maupun manusia dengan dirinya sendiri.24 Jadi pendidikan agama Islam
tidak hanya mengajarkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan di dunia
nanti.
Islam adalah usaha sadar dan terencana untuk membina peserta didik agar senantiasa
kehidupan sehari-hari.
kedalam tingkah laku sehari-hari. Karena itu, keberadaan sumber Islam itu sendiri,
yaitu Al-Qur‟an dan As-Sunnah.25 Pandangan hidup yang mendasari seluruh kegiatan
24
Zakiyyah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 2005), hlm. 124.
25
Lia Utari, Kurniawan Kurniawan, and Irwan Fathurrochman, „Peran Guru Pendidikan Agama Islam
Dalam Membina Akhlak Peserta Didik Autis‟, JOEAI (Journal of Education and Instruction) , 3.1 (2020),
75–89.
17
18
pendidikan agama Islam ialah pandangan hidup pandangan hidup muslim yang
merupakan nilainilai luhur yang bersifat universal, yakni Al-Qur‟an dan As-Sunnah
yang shahih juga pendapat para sahabat dan ulama sebagai tambahan. Hal ini senada
landasan atau dasar pendidikan diibaratkan sebagai sebuah bangunan sehingga isi
AlQur‟an dan Al-Hadits menjadi fundamen, karena menjadi sumber kekuatan dan
Tujuan adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah kegiatan selesai dan
memerlukan usaha dalam meraih tujuan tersebut. Pengertian tujuan pendidikan adalah
perubahan yang diharapkan pada subye didik setelah mengalami proses pendidikan
bak pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun mayarakat dan
Adapun tujuan pendidikan islam ini tidak jauh berbeda yang dikemukan para
ahli. Meurut Ahmadi, tujuan pendidika agama 10 nislam adalah sejalan pedidikan
hidup manusia dan perannya sebagai mahlluk Allah SWTyaitu semata-mata hanya
beribadah kepada-Nya. Yusuf Amir Faiasal, merinci tujuan pendidikan agama islam
sebagai berikut:
26
Nurdyansyah Nurdyasnyah and Widodo Andiek, „Inovasi Teknologi Pembelajaran‟ (Nizamia
Learning Center (NLC), 2015).
18
19
sebagai pencipta-Nya.
masyarakat.
lainnya27
membiasakan anak dalam agama isam agara menjadai hamba Allah yang
pendidikan prenatal sehingga dalam dirinya tertanam kuat nilainilai keislaman yang
pandangan hidup erta wawasan keilmuan sebagai mahluk indivu dan sosial.
Pendidikan Agama Islam sebagai ilmu, mempunyai ruang lingkup yang sangat
luas, karena itu di dalamnya banyak pihak yang terlibat, baik secara langsung maupun
27
Nurul Jempa, „Nilai-Nilai Agama Islam‟, Jurnal Pedagogik , 1.2 (2018), 101–102.
19
20
tidak langsung.28 Adapun ruang lingkup pendidikan agama Islam adalah sebagai
berikut: Pertama, perbuatan mendidik itu sendiri. Yang dimaksud perbuatan mendidik
adalah seluruh kegiatan, atau perbuatan dari sikap yang dilakukan oleh pendidikan
sewaktu mengasuh anak didik. Atau dengan istilah lain yaitu sikap atau tindakan
anak didik menuju kepada tujuan pendidikan agama Islam; Kedua, anak didik. Yaitu
pihak yang merupakan objek terpenting dalam pendidikan. Hal ini disebabkan
perbuatan atau tindakan mendidik itu diadakan untuk membawa anak didik kepada
tujuan pendidikan agama Islam yang kita cita-citakan; Ketiga, dasar dan tujuan
pendidikan agama Islam. Yaitu landasan yang menjadi fundamen serta sumber dari
segala kegiatan pendidikan agama Islam ini dilakukan. Yaitu ingin membentuk anak
didik menjadi manusia dewasa yang bertaqwa kepada Allah dan kepribadian muslim;
atau tidaknya pendidik berpengaruh besar terhadp hasil pendidikan agama Islam;
untuk dijadikan atau disampaikan kepada anak didik; Keenam, metode pendidikan
28
Hesti Yulianti, Cecep Darul Iwan, and Saeful Millah, „Penerapan Metode Giving Question And
Getting Answer Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama
Islam‟, Jurnal Penelitian Pendidikan Islam,[SL] , 6.2 (2018), 197–216.
29
Tatang Hidayat and Abas Asyafah, „Konsep Dasar Evaluasi Dan Implikasinya Dalam Evaluasi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah‟, Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, 10.1
(2019), 159–81.
20
21
agama Islam, Yaitu cara yang paling tepat dilakukan oleh pendidikan untuk
menyampaikan bahan atau materi pendidikan agama Islam kepada anak didik.
materi tersebut dapat dengan mudah diterima dan dimiliki oleh anak didik; Ketujuh,
penilaian terhadap haisl belajar anak didik. Tujuan pendidikan agama Islam
umumnya tidak dapt dicapai sekaligus melainkan melalui proses atau tahapan
tertentu. Apabila tahap ini telah tercapai maka pelaksanaan pendidikan dapat
muslim. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup pendidikan
agama Islam itu sangat luas, sebab meliputi segala aspek yang menyangkut
untuk mencapai suatu maksud. Dalam bahasa Arab metode dikenal dengan istilah
suatu pekerjaan. Ada beberapa metode dari para ahli yang bisa digunakan oleh guru
21
22
itu sendiri.
didik.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa dalam pembentukan sikap atau
karakter peserta didik di sekolah ada tiga metode yang bisa dilakukan yaitu metode
dokmatis, metode deduktif dan metode induktif yang dilakukan secara teratur dalam
semua bidang studi khususnya bidang studi pendidikan agama Islam. Khususnya di
Intelektual
30
Muwahidah Nur Hasanah and Wibawati Bermi, Metode Pembelajaran PAI (CV. AZKA PUSTAKA,
2022).
22
23
kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga
pendidikan dan lembaga agama, serta faktor emosi dalam diri individu.31
1. Pengalaman pribadi
seseorang dengan suatu objek psikologis, cenderung akan membentuk sikap negatif
terhadap objek tersebut. Sikap akan lebih mudah terbentuk jika yang dialami
seseorang terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Situasi yang
melibatkan emosi akan menghasilkan pengalaman yang lebih mendalam dan lebih
lama membekas.32
atau searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara
lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari
3. Pengaruh Kebudayaan
31
Syamsu Rijal and Suhaedir Bachtiar, ‘Hubungan Antara Sikap, Kemandirian Belajar, Dan Gaya
Belajar Dengan Hasil Belajar Kognitif Siswa’, Jurnal Bioedukatika, 3.2 (2015), 15–20.
32
Linda Juwita and Ninda Ayu Prabasari, „Pengetahuan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
Terhadap Sikap Dan Perilaku Pada Remaja Putri‟, Pengetahuan Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari)
Terhadap Sikap Dan Perilaku Pada Remaja Putri, 4.2 (2018), 12–16.
23
24
4. Media Massa
Berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah dan
lain-lain mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan
opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan
pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk,
garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari
pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.35 Konsep moral dan
kalau pada gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperanan dalam menentukan
33
Triana Setijaningsih and Wiwin Matiningsih, „Pengaruh Program Parenting Terhadap Pengetahuan
Dan Sikap Orang Tua Dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar Anak Usia Dini ‟, Jurnal Ners Dan
Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery) , 1.2 (2014), 129–34.
34
Nurlaila Dwi Khalifah, „EFEK PROGRAM “CURAHAN HATI PEREMPUAN” DI TRANS TV
PADA SIKAP IBU RUMAH TANGGA DALAM MENGHADAPI PERMASALAHAN RUMAH TANGGA ‟,
2016.
35
Muhammad Anas Maarif, „Internalisasi Nilai Multikulutural Dalam Mengembangkan Sikap
Toleransi (Studi Di Di Pesantren Mahasiswa Universitas Islam Malang)‟, Nazhruna: Jurnal Pendidikan
Islam, 2.1 (2019), 164–89.
24
25
sikap individu terhadap sesuatu hal. Apabila terdapat sesuatu hal yang bersifat
kontroversial, pada umumnya orang akan mencari informasi lain untuk memperkuat
posisi sikapnya atau mungkin juga orang tersebut tidak mengambil sikap memihak.
Dalam hal seperti itu, ajaran moral yang diperoleh dari lembaga pendidikan atau
lembaga agama sering kali menjadi determinan tunggal yang menentukan sikap.
6. Faktor Emosional
Suatu bentuk sikap terkadang didasari oleh emosi, yang berfungsi sebagai
Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu
frustrasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan
bertahan lama.36
1. Faktor internal (individu itu sendiri) yaitu cara individu dalam menanggapi
dunia luar dengan selektif sehingga tidak semua yang datang akan diterima
atau ditolak.
36
Fivien Luthfia Rahmi Wardani and Zahrotul Uyun, „“Ngajeni Wong Liyo”; Menghormati Orang
Yang Lebih Tua Pada Remaja Etnis Jawa‟, Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi, 2.2 (2017).
37
Maureen Cindy Novita Bogar and Erliana Hasan, „MANAJEMEN TATA KELOLA KEARSIPAN
DATA KEPRIBADIAN PRAJA DALAM MEWUJUDKAN SIKAP DAN PERILAKU KEPAMONGAN (Studi
Pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri Kampus Jatinangor Sumedang Jawa Barat)‟, VISIONER: Jurnal
Pemerintahan Daerah Di Indonesia, 11.2 (2019), 165–75.
25
26
dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik yang berasal dari luar individu dan faktor intrinsik
26
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini berbentuk non eksperimen yakni suatu penelitian
yang bersifat analisis dan kualitatif dimaksudkan untuk mengkaji obyek yang diteliti
eksplorasi dan memperkuat prediksi terhadap suatu gejala yang berlaku atas dasar
HIKMAH, sekolah ini berbasis Islam dan sederajat dengan SD (Sekolah Dasar)
lainnya. Adapun alasan penulis memilih lokasi ini karena SDS HIKMAH Pematang
38
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Cet. VIII; Bandung: Remaja Rosdakarya,
2000), h. 14.
39
Sukardi, Metode Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Prakteknya (Cet. IV; Jakarta:
Bumi Aksara, 2007), h. 14.
27
28
Bandar dapat memberikan kemudahan bagi penulis dalam memperoleh data dalam
penelitian ini dan waktu penelitian ini akan dilakukan mulai penyusunan proposal
C. Fokus Penelitian
Adapun fokus penelitian ini adalah :
PAI.
PAI.
E. Sumber Penelitian
Sumber data yang di ambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari objek suatu
penelitian. Adapun sumber data yang menjadi sumber data primer dalam
penelitian ini yaitu tentang membentuk sikap ataupun karakter siswa melalui
2. Data Sekunder
yang bukan guru mata pelajaran PAI untuk menjamin obyektifitas penelitian.
Data sekunder ini juga diperoleh melalui studi dokumenter yang dilakukan di
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam
penelitian karena berfungsi sebagai alat bantu agar kegiatan penelitian berjalan
elektronik.
sebagai berikut :
1. Observasi
secara langsung terhadap objek yang akan diteliti seperti keadaan siswa
2. Dokumentasi
diteliti.
3. Wawancara/Interview
pertanyaan secara lisan kepada salah satu atau lebih responden penelitian.
Pertanyaan ini berisi tentang kesulitan belajar yang dialami siswa. Disamping
pada waktu datang, sikap duduk, kecerahan wajah, tutur kata, keramahan,
Analisis data merupakan kegiatan yang dilakukan setelah seluruh responden atau
sumber data lain terkumpul. Dalam penelitian kuantitatif, analisis data adalah
berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang
Tujuan utama analisis data adalah untuk meringkaskan data dalam bentuk yang
mudah dipahami dan mudah ditafsirkan, sehingga hubungan antar problem penelitian
sosial yang didasari pada penelitian yang menyeluruh (holistic), dibentuk oleh kata-
perasaan dan pengetahuan partisipan. Oleh karena itu, semua perspektif menjadi
40
Sugiono, op. cit., h. 169.
33
Metode yang digunakan dalam pendekatan ini tidak kaku dan tidak
tergantung dari tujuan setiap penelitian. Walaupun demikian, selalu ada pedoman
untuk diikuti, tapi bukan aturan yang mati. Jalannya penelitian dapat berubah sesuai
sudut pandang partisipan secara lebih mendalam, dinamis dan menggali berbagai
macam faktor sekaligus. Selain itu pendekatan kualitif tepat digunakan dalam situasi
yang informal, dimana hal ini dimungkinkan oleh topik yang peka bagi responden,
latar belakang demografis (pendidikan, tempat tinggal dan sebagainya) tertentu, dan
Dengan adanya metode deskriptif kualitatif maka teknik analisa data dilakukan
yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Dengan kata lain proses
reduksi data ini dilakukan oleh peneliti secara terus menerus saat melakukan
41
Creswell & Symon.s. Jenis Penelitian. (Jakarta: Shofiah,2007) h 15.
34
bentuk yang sistematis, sehingga menjadi lebih selektif dan sederhana serta
pengambilan tindakan. Dengan proses penyajian data ini peneliti telah siap
sistematis.
3. Kesimpulan, yaitu merupakan tahap akhir dalam proses analisa data. Pada
akan terasa sempurna karena data yang dihasilkan benar-benar valid atau
maksimal.42
Hasil akhir dari penelitian kualitatif, bukan sekedar menghasilkan data atau
informasi yang sulit dicari melalui metode kualitatif, tetapi juga harus mampu
42
Ibid, h 17.
35
DAFTAR PUSTAKA
Au, Zalyana, „Pemikiran Muhammad Utsman Najati Tentang Motivasi Spiritual Dan
Azizi, Ach, Dan Bagus Asharun, „Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam
Membangun Sikap Spiritual Dan Sikap Sosial Di Sma Pawyatan Daha Kediri‟
Bogar, [Link], "Manajemen Tata Kelola Kearsipan Data Kepribadian Praja Dalam
Hasanah, Muwahidah Nur, Dan Wibawati Bermi, Metode Pembelajaran Pai (Cv.
Hidayat, Tatang, Dan Abas Asyafah, "Konsep Dasar Evaluasi Dan Implikasinya
36
Sendiri (Sadari) Terhadap Sikap Dan Perilaku Pada Remaja Putri, 4.2 (2018),
Tangga", (2016)
Putri Wulandari, Cahyaning, "Konsep Syukur Dalam Kitab Minhājul „Ābidīn Karya
Belajar, Dan Gaya Belajar Dengan Hasil Belajar Kognitif Siswa", Jurnal
Rohmah, Meyla Muridatur, "Upaya Guru Fiqih Dalam Meningkatkan Sikap Religius
Dasar Anak Usia Dini", Jurnal Ners Dan Kebidanan (Journal Of Ners And
Utari, Lia,[Link], "Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Akhlak
Peserta Didik Autis", Joeai (Journal Of Education And Instruction), 3.1 (2020)
Wardani, [Link], “Ngajeni Wong Liyo”; Menghormati Orang Yang Lebih Tua Pada
Yulianti, Hesti, [Link], "Penerapan Metode Giving Question And Getting Answer