0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan25 halaman

Retribusi Persetujuan Bangunan Gedung

Passl

Diunggah oleh

Muhammad Wally
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan25 halaman

Retribusi Persetujuan Bangunan Gedung

Passl

Diunggah oleh

Muhammad Wally
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

salinan

BUPATI SERDANG BEDAGAI


PROVINSI SUMATERA UTARA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI
NOMOR 7 TAHUN 2022

TENTANG

RETRIBUSI PERSETUJUAN BANGUNAN GEDUNG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI SERDANG BEDAGAI,


Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan amanat Pasal 347 ayat (2)
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang
Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud pada huruf a perlu menetapkan Peraturan
Daerah tentang Retribusi Persetujuan Bangunan
Gedung.

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang
Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245,
Tarnbahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 6573);
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2003 tentang
Pembentukan Kabupaten Samosir dan Kabupaten
Serdang Bedagai (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4346);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587)
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015
tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5679);
5. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang
salinan

Administrasi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik


Indonesia Tahun 2014 Nomor 292, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5601);
6. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta
Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5601);
7. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang
Hubungan Keuangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2022 Nomor 4, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 6757);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2017 tentang
Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2017 Nomor 73, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 6041);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang
Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Resiko
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021
Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 6617);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2021 tentang
Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021
Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 6618);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2021 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam rangka
Mendukung Kemudahan Berusaha dan Layanan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2021 Nomor 20);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021
tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021
Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 6628);
13. Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor
6 Tahun 2016 tentang Pembentukan Perangkat Daerah
Kabupaten Serdang Bedagai (Lembaran Daerah
Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2016 Nomor 6);

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI
dan
BUPATI SERDANG BEDAGAI

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI


PERSETUJUAN BANGUNAN GEDUNG.
salinan

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Kabupaten Serdang Bedagai.
2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan
oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut
asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-
luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
3. Pemerintah Daerah adalah Bupati sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan
yang menjadi kewenangan daerah otonom.
4. Bupati adalah Bupati Kabupaten Serdang Bedagai.
5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Serdang Bedagai.
6. Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang
menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya
berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi
sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian
atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan
sosial, budaya, maupun kegiatan khusus.
7. Persetujuan Bangunan Gedung yang selanjutnya disingkat PBG adalah
perizinan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai
pada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru, mengubah,
memperluas, mengurangi dan/atau merawat bangunan gedung sesuai
dengan standar teknis bangunan gedung.
8. Sertifikat Laik Fungsi yang selanjutnya disingkat SLF adalah sertifikat
yang diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk menyatakan kelaikan
fungsi Bangunan Gedung sebelum dapat dimanfaatkan.
9. Surat Bukti Kepemilikan Bangunan Gedung yang selanjutnya disingkat
SBKBG adalah surat tanda bukti hak atau status kepemilikan bangunan
gedung.
10. Perizinan Tertentu adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam
rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang
dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan
pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, serta penggunaan
sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu
guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian
lingkungan.
11. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut
peraturan perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan
pembayaran retribusi, termasuk pemungut retribusi tertentu.
12. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan
batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perizinan
tertentu dari pemerintah daerah yang bersangkutan.
13. Surat Setoran Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SSRD, adalah
bukti pembayaran atau penyetoran retribusi yang telah dilakukan
salinan

dengan cara lain ke kas daerah melalui tempat pembayaran yang


ditunjuk oleh Kepala Daerah.
14. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD,
adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah
pokok retribusi yang terutang.
15. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat STRD, adalah
surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administratif
berupa bunga dan/atau denda.
16. Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan
data objek dan subjek pajak atau retribusi, penentuan besarnya pajak
atau retribusi yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak atau
retribusi kepada wajib pajak dan wajib retribusi serta pengawasan
penyetorannya.
17. Retribusi PBG adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas
pemberian Persetujuan Bangunan Gedung yang diberikan oleh
Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
18. Pejabat Penerbit Izin adalah Organisasi Perangkat Daerah yang tugas
dan tanggung jawabnya di bidang pelayanan perizinan atau pejabat lain
yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Bupati.
19. Penilik Bangunan Gedung yang selanjutnya disebut Penilik adalah orang
perseorangan yang memiliki kompetensi dan diberi tugas oleh
pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan
kewenangannya untuk melakukan inspeksi terhadap Penyelenggaraan
Bangunan Gedung.
20. Penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah adalah serangkaian
tindakan yang dilakukan oleh Penyidik untuk mencari serta
mengumpulkan barang bukti yang dengan bukti itu membuat terang
tindak pidana di bidang retribusi daerah yang terjadi serta menemukan
tersangkanya.
21. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah
data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan
profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan retribusi
dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan daerah dan retribusi daerah.
22. Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan
kesatuan, baik yang melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas,
perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara
(BUMN), atau badan usahan milik daerah (BUMD) dengan nama dan
dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun,
persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial
politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya
termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
23. Prasarana dan Sarana Bangunan Gedung adalah fasilitas kelengkapan di
dalam dan di luar Bangunan Gedung yang mendukung pemenuhan
terselenggaranya fungsi Bangunan Gedung.
salinan

BAB II
NAMA, OBJEK DAN SUBJEK RETRIBUSI
Pasal 2
Dengan nama Retribusi PBG dipungut retribusi atas penerbitan PBG dan
penerbitan SLF Bangunan Gedung atau Prasarana Bangunan Gedung.
Pasal 3
(1) Objek retribusi PBG sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah
penerbitan PBG dan SLF.
(2) Penerbitan PBG dan SLF sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
kegiatan layanan konsultasi pemenuhan standar teknis, penerbitan PBG,
inspeksi bangunan gedung, penerbitan SLF dan SBKBG, serta
pencetakan plakat SLF.
(3) Penerbitan PBG dan SLF tersebut diberikan untuk permohonan
persetujuan:
a. pembangunan baru;
b. bangunan gedung yang sudah terbangun dan belum memiliki PBG
dan/atau SLF;
c. PBG perubahan untuk:
1. perubahan fungsi bangunan gedung;
2. perubahan lapis bangunan gedung;
3. perubahan luas bangunan gedung;
4. perubahan tampak bangunan gedung;
5. perubahan spesifikasi dan dimensi komponen pada bangunan
gedung yang mempengaruhi aspek keselamatan dan/ atau
kesehatan;
6. perkuatan bangunan gedung terhadap tingkat kerusakan sedang
atau berat;
7. perlindungan dan/ atau pengembangan bangunan gedung cagar
budaya; dan
8. perbaikan bangunan gedung yang terletak di kawasan cagar
budaya.
(4) PBG perubahan tidak diperlukan untuk pekerjaan pemeliharaan dan
pekerjaan perawatan.
(5) Tidak termasuk objek retribusi sebagimana dimaksud pada ayat (1)
adalah penerbitan PBG dan SLF untuk bangunan milik pemerintah
pusat, pemerintah daerah atau bangunan yang memiliki fungsi
keagamaan.

Pasal 4
(1) Subjek retribusi PBG adalah setiap orang pribadi atau badan yang
memperoleh PBG dan SLF.
(2) Wajib retribusi PBG yang selanjutnya disebut Wajib Retribusi, adalah
orang pribadi atau badan yang diwajibkan untuk melakukan pembayaran
retribusi PBG.

BAB III
GOLONGAN RETRIBUSI
Pasal 5
Retribusi PBG digolongkan sebagai retribusi perizinan tertentu.
salinan

BAB IV
CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA
Pasal 6
(1) Besaran retribusi PBG yang terutang dihitung berdasarkan perkalian
antara tingkat penggunaan jasa atas penyediaan layanan dan harga
satuan retribusi PBG.
(2) Tingkat penggunaan jasa atas penyediaan layanan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diukur berdasarkan formula yang mencerminkan
biaya penyelenggaraan penyediaan layanan.
(3) Harga satuan retribusi PBG sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri
atas:
a. indeks lokalitas dan Standar Harga Satuan Tertinggi untuk Bangunan
Gedung;
b. harga satuan retribusi Prasarana Bangunan Gedung untuk Prasarana
Bangunan Gedung.
(4) Formula sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas formula untuk:
a. bangunan gedung; dan
b. prasarana bangunan gedung.
(5) Formula sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a terdiri atas:
a. luas total lantai;
b. indeks terintegrasi; dan
c. indeks bangunan gedung terbangun.
(6) Formula sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b terdiri atas:
a. volume;
b. indeks Prasarana bangunan gedung;
c. indeks bangunan gedung terbangun.

BAB V
PRINSIP DAN SASARAN PENETAPAN BESARAN TARIF
Pasal 7
(1) Prinsip dan sasaran penetapan besaran tarif retribusi PBG didasarkan
pada tujuan untuk menutup sebagian biaya penyelenggaraan penerbitan
PBG dan SLF.
(2) Biaya penyelenggaraan penerbitan PBG dan SLF sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi penerbitan dokumen PBG dan SLF, inspeksi
penilik bangunan, penegakan hukum, penatausahaan, dan biaya
dampak negatif dari penerbitan PBG dan SLF tersebut.

BAB VI
STRUKTUR DAN BESARAN TARIF
Pasal 8
(1) Struktur dan besaran tarif retribusi PBG ditetapkan berdasarkan
kegiatan pemeriksaan pemenuhan standar teknis dan layanan konsultasi
untuk:
a. Bangunan Gedung
Tarif retribusi PBG untuk Bangunan Gedung dihitung berdasarkan
luas total lantai (LLt) dikalikan indeks lokalitas (Ilo) dikalikan standar
harga satuan tertinggi (SHST) dikalikan indeks terintegrasi (It)
salinan

dikalikan indeks bangunan gedung terbangun (Ibg) atau dengan


rumus

LLt x (Ilo x SHST) x It x Ibg

b. Prasarana Bangunan Gedung


Tarif retribusi PBG untuk prasarana bangunan gedung dihitung
berdasarkan Volume (V) dikalikan indeks prasarana bangunan gedung
(I) dikalikan indeks bangunan gedung terbangun (Ibg) dikalikan harga
satuan retribusi prasarana bangunan gedung (HSpbg) atau dengan
rumus:

V x I x Ibg x HSpbg

(2) Indeks terintegrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung


berdasarkan indeks fungsi (If) dikalikan penjumlahan dari bobot
parameter (bp) dikalikan indeks parameter (Ip) dikalikan faktor
kepemilikan (Fm) atau dengan rumus:
If x ∑ (bp x Ip) x Fm

(3) Rincian perhitungan struktur dan besaran tarif sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dan ayat (2) tercantum dalam lampiran yang merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Pasal 9
(1) Nilai Indeks Lokalitas (Ilo) sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 8 ayat
(1) huruf a ditetapkan secara berjenjang paling tinggi 0,5%, sebagaimana
tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
(2) Nilai standar harga satuan tertinggi (SHST) yang dipakai dalam
perhitungan retribusi sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 8 ayat (1)
huruf a adalah harga standar Bangunan Gedung Negara Sederhana yang
telah ditetapkan oleh Bupati.
(3) Harga satuan retribusi prasarana bangunan gedung (HSpbg)
sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b tercantum
dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.

Pasal 10
(1) Tarif retribusi PBG sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ditinjau paling
lama 3 (tiga) tahun sekali.
(2) Peninjauan tarif retribusi PBG sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dilakukan dengan memperhatikan indeks harga dan perkembangan
perekonomian.
(3) Peninjauan tarif retribusi PBG sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
hanya terhadap besaran harga dalam tabel HSBGN/SHST, Ilo dan HSpbg.
(4) Penetapan tarif retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
salinan

BAB VII
PEMUNGUTAN RETRIBUSI
Bagian Kesatu
Pembayaran Retribusi PBG
Pasal 11
(1) Retribusi PBG dipungut di wilayah Kabupaten Serdang Bedagai.
(2) Retribusi PBG dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain
yang dipersamakan.
(3) Tata cara penerbitan dan penyampaian SKRD atau dokumen lain yang
dipersamakan diatur dengan Peraturan Bupati.
(4) Dokumen PBG diterbitkan oleh pejabat penerbit Izin yang tugas dan
tanggung jawabnya di Bidang Pelayanan Perizinan.
(5) Penerbitan dokumen PBG sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
dilakukan setelah wajib retribusi melakukan pembayaran retribusi dan
menyerahkan bukti pembayaran retribusi kepada pejabat penerbit izin.

Pasal 12
(1) Pembayaran retribusi PBG dilakukan sekaligus atau lunas sejak SKRD
atau dokumen lain yang dipersamakan diterbitkan.
(2) Pembayaran retribusi PBG sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diberikan tanda bukti pembayaran dan dicatat dalam buku penerimaan.
(3) Hasil penerimaan retribusi PBG disetor ke Rekening Kas Umum Daerah
melalui Bendahara Khusus Penerimaan Dinas paling lama 1x24 jam.
(4) Bentuk, isi, kualitas, ukuran, buku dan tanda bukti pembayaran, serta
tata cara pembayaran ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

Bagian Kedua
Penagihan Retribusi PBG
Pasal 13
(1) Penagihan retribusi PBG yang terutang menggunakan STRD dan
didahului dengan surat teguran atau surat peringatan atau surat lain
yang sejenis.
(2) Surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai
awal tindakan penagihan retribusi PBG diterbitkan 7 (tujuh) hari sejak
jatuh tempo pembayaran.
(3) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran atau
surat peringatan atau surat lain yang sejenis disampaikan, Wajib Retribusi
harus melunasi retribusi yang terutang.
(4) Surat teguran, surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), diterbitkan oleh Bupati atau pejabat yang
ditunjuk.

Bagian Ketiga
Keberatan
Pasal 14
(1) Wajib Retribusi dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau
Pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
salinan

(2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan


disertai alasan-alasan yang jelas.
(3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan
sejak tanggal SKRD diterbitkan, kecuali jika Wajib Retribusi dapat
menunjukkan bahwa jangka waktu itu dapat dipenuhi karena keadaan di
luar kekuasaannya.
(4) Keadaan di luar kekuasaannya sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
adalah suatu keadaan yang terjadi di luar kehendak atau kekuasaan Wajib
Retribusi.
(5) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar retribusi dan
pelaksanaan penagihan retribusi.

Pasal 15
(1) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal surat
keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang
diajukan dengan menerbitkan Surat Keputusan Keberatan.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah untuk
memberikan kepastian hukum bagi Wajib Retribusi, bahwa keberatan
yang diajukan harus diberikan keputusan oleh Bupati.
(3) Keputusan atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau
sebagian, menolak, atau menambah besarnya Retribusi yang terutang.
(4) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat
dan Bupati tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan
tersebut dianggap dikabulkan.

Pasal 16
(1) Jika pengajuan keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya,
kelebihan pembayaran retribusi dikembalikan dengan ditambah imbalan
bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 12 (dua belas)
bulan.
(2) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sejak bulan
pelunasan sampai dengan diterbitkan SKRDLB.

BAB VIII
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN
Pasal 17
(1) Atas kelebihan pembayaran retribusi, Wajib Retribusi dapat mengajukan
permohonan pengembalian kepada Bupati.
(2) Bupati dalam jangka waktu 6 (enam) bulan, sejak diterimanya
permohonan pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus memberikan keputusan.
(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah
dilampaui dan Bupati tidak memberikan suatu keputusan, permohonan
pengembalian pembayaran Retribusi dianggap dikabulkan dan SKPDLB
harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan.
(4) Apabila wajib retribusi mempunyai utang retribusi lainnya, kelebihan
pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) langsung
diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang retribusi tersebut.
salinan

(5) Pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan
sejak diterbitkan SKRDLB.
(6) Jika pengembalian kelebihan pembayaran retribusi dilakukan setelah
lewat 2 (dua) bulan, Bupati memberikan imbalan uang sebesar 2% (dua
persen) atas keterlambatan pembayaran kelebihan pembayaran retribusi.
(7) Tata cara pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

BAB IX
PENGHAPUSAN PIUTANG DAN KEDALUWARSA PENAGIHAN
Pasal 18
(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi, kedaluwarsa menjadi
kedaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung
sejak saat terhutangnya retribusi, kecuali jika Wajib Retribusi melakukan
tindak pidana di bidang retribusi.
(2) Kedaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tertangguh jika:
a. diterbitkan surat teguran; atau
b. ada pengakuan utang retribusi dari Wajib Retribusi, baik langsung
maupun tidak langsung
(3) dalam hal diterbitkan surat teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf a, kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal diterimanya surat
teguran tersebut.
(4) Pengakuan utang retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf b adalah apabila Wajib Retribusi dengan kesadarannya
menyatakan masih mempunyai utang retribusi dan belum melunasinya
kepada Pemerintah Daerah.
(5) Pengakuan utang retribusi secara tidak langsung sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b dapat diketahui dari pengajuan permohonan
angsuran atau penundaan pembayaran dan permohonan keberatan oleh
Wajib Retribusi.

Pasal 19
(1) Piutang retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk
melakukan penagihan sudah kedaluwarsa dan dihapuskan.
(2) Bupati menetapkan keputusan penghapusan retribusi yang sudah
kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Tata cara penghapusan piutang retribusi yang sudah kedaluwarsa, diatur
dengan Peraturan Bupati.

BAB X
PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN
Pasal 20
(1) Bupati berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban retribusi dalam rangka melaksanakan peraturan
perundang-undangan retribusi daerah.
salinan

(2) Wajib retribusi yang diperiksa wajib:


a. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan,
dokumen yang menjadi dasar dan dokumen lain yang berhubungan
dengan objek retribusi yang terutang;
b. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang
dianggap perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran
pemeriksaan; dan/atau
c. memberikan keterangan yang diperlukan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan retribusi diatur
dengan Peraturan Bupati.

BAB XI
INSENTIF PEMUNGUTAN
Pasal 21
(1) Instansi yang melaksanakan pemungutan retribusi dapat diberi insentif
atas pencapaian kinerja tertentu.
(2) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
(3) Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati yang berpedoman pada
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB XII
PENYIDIKAN
Pasal 22
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan pemerintah daerah
diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan
tindak pidana di bidang retribusi, sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Hukum Pidana.
(2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Pejabat Pegawai
Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang diangkat oleh
Pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan Perundang-undangan.
(3) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau
laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah
agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan
jelas;
b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang
pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan
sehubungan dengan tindak pidana di bidang retribusi;
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan
sehubungan dengan tindak pidana di bidang retribusi;
d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen lain
berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi;
salinan

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti


pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen lain, serta
melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas
penyidikan tidak pidana di bidang retribusi;
g. Menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan
ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan
memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa;
h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana dibidang
retribusi;
i. Memanggil orang untuk didengar keterangan dan diperiksa sebagai
tersangka atau saksi;
j. Menghentikan penyidikan; dan/atau
k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan
tidak pidana di bidang retribusi menurut ketentuan dan peraturan
yang berlaku.
(4) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan
dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikan dan
menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum melalui
Penyidik pejabat Polisi Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang
diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

BAB XIII
SANKSI ADMINISTRATIF DAN PIDANA
Pasal 23
(1) Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayarkan tepat waktunya atau
kurang bayar, dikenakan sanksi administratif berupa bunga 2% (dua
persen) setiap bulan dari retribusi yang tidak atau kurang bayar dan
ditagih dengan menggunakan STRD.
(2) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga
merugikan keuangan daerah, diancam dengan pidana kurungan paling
lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak 3 (tiga) kali dari jumlah
retribusi terutang yang tidak atau kurang bayar.
(3) Denda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan penerimaan
Negara.

BAB XIV
PENGURANGAN DAN KERINGANAN RETRIBUSI
Pasal 24
(1) Bupati dapat memberikan keringanan, pengurangan, pembebasan dan
penundaan pembayaran atas pokok dan/atau sanksi retribusi PBG.
(2) Pemberian keringanan, pengurangan, pembebasan dan penundaan
pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
memperhatikan kondisi wajib retribusi dan/atau objek retribusi.
(3) Tata cara pengurangan dan keringanan retribusi PBG sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Bupati.
salinan

BAB XV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 25
Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah
Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 Tahun 2018 tentang Retribusi Izin
Mendirikan Bangunan (Lembaran Daerah Kabupaten Serdang Bedagai
Tahun 2018 Nomor 1, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Serdang
Bedagai Nomor 141) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Pasal 26
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten
Serdang Bedagai.

Ditetapkan di Sei Rampah


pada tanggal 5 Desember 2022
BUPATI SERDANG BEDAGAI,

ttd

DARMA WIJAYA

Diundangkan di Sei Rampah


pada tanggal 5 Desember 2022
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI,

ttd

M. FAISAL HASRIMY

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI TAHUN 20222023


NOMOR 7

NOMOR REGISTRASI PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG


BEDAGAI
PROVINSI SUMATERA UTARA ( 7 – 169 / 2022 )

Salinan sesuai dengan aslinya


Kepala Bagian Hukum
Setdakab Serdang Bedagai

ttd

ABDUL HAKIM SORI MUDA HARAHAP, SH


NIP. 1973122120011210002
salinan

PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI
NOMOR 7 TAHUN 2022
TENTANG
RETRIBUSI PERSETUJUAN BANGUNAN GEDUNG

I. UMUM

Dengan ditetapkanya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang


Cipta Kerja sebagai langkah besar Pemerintah dalam menyelesaikan berbagai
permasalahan hambatan investasi. UU Cipta Kerja secara praktis bertujuan
diantaranya untuk perluasan penciptaan lapangan kerja dan iklim investasi
melalui penyederhanaan perizinan usaha, pembebasan tanah, dan penataan
ruang.
Beberapa ketentuan perundang-undangan yang terkait dengan
kemudahan berusaha dan penciptaan lapangan kerja dibenahi melalui UU Cipta
Kerja, diantaranya yaitu Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang
Bangunan Gedung terkait dengan indikator perizinan bangunan gedung dan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah terkait dengan indikator kemudahan berusaha. Perubahan ketentuan
pada kedua Undang-Undang tersebut mengubah paradigma perizinan bangunan
dari semula Izin Mendirikan Bangunan (IMB) menjadi Persetujuan Bangunan
Gedung (PBG). Ketentuan lebih lanjut mengenai PBG tersebut ditetapkan dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. Berdasarkan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,
penyelenggaraan bangunan gedung di wilayah daerah kabupaten/kota
merupakan bagian dari urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum dan
penataan ruang yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten/kota.
Sejalan dengan pelayanan perizinan bangunan sebelumnya berupa Izin
Mendirikan Bangunan (IMB) yang disediakan oleh pemerintah daerah (pemda),
pemda kabupaten/kota juga berkewajiban menyelenggarakan layanan PBG.
Sebagaimana diamanatkan dalam ketentuan penutup dalam pasal 347 ayat 2
Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2021, perubahan ketentuan mengenai IMB
menjadi PBG tersebut harus ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah
kabupaten/kota melalui penyediaan layanan PBG paling lambat 6 bulan sejak PP
No. 16 Tahun 2021 ditetapkan. Oleh sebab itu, penyusunan Perda mengenai
Retribusi PBG baik sebagai perubahan ataupun pengganti Perda mengenai IMB
menjadi suatu keharusan agar terdapat payung hukum pelaksanaan PBG dan
menghindari hilangnya potensi pendapatan daerah dari Retribusi Persetujuan
Bangunan Gedung.
Selain perubahan nomenklatur jenis retribusi, perubahan retribusi
penyediaan layanan perizinan bangunan gedung juga meliputi objek dan formula
perhitungan nilai retribusi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah.
Formula perhitungan nilai retribusi diperbaiki dan distandardisasi secara
nasional untuk dapat lebih mencerminkan biaya penyelenggaraan penyediaan
layanan yang berdasarkan standar teknis perencanaan, perancangan,
pelaksanaan, dan pengawasan bangunan gedung. Penyelenggaraan penyediaan
layanan tersebut ditujukan untuk dapat menjamin aspek keamanan dan
keselamatan dalam pemanfaatan bangunan gedung. Ketentuan perhitungan nilai
retribusi IMB sebelumnya tidak diatur secara rinci dalam peraturan perundang-
undangan sehingga cenderung menimbulkan perbedaan formula perhitungan
nilai retribusi antar daerah. Kondisi yang tidak terstandardisasi atas perhitungan
salinan

nilai retribusi dalam perda masing-masing daerah ini menciptakan


ketidakpastian dalam penyelenggaraan perizinan bangunan gedung yang
tentunya tidak sejalan dengan prinsip dealing with construction permits sebagai
salah satu indikator penentu peringkat kemudahan berusaha suatu negara.
Percepatan penetapan Perda Retribusi PBG diharapkan dapat
meminimalisasi potensi hilangnya pendapatan daerah dari retribusi PBG.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup Jelas
Pasal 2
Cukup Jelas
Pasal 3
Cukup Jelas
Pasal 4
Cukup Jelas
Pasal 5
Cukup Jelas
Pasal 6
Cukup Jelas
Pasal 7
Cukup Jelas
Pasal 8
Ayat 1
Huruf a
 Luas Total Lantai (LLt) adalah lantai dan lantai basemen.
 Nilai Indeks Lokalitas (Ilo) adalah koefisien untuk menjaga nilai
besaran retribusi agar perbandingan nilai perhitungan retribusi
tidak jauh berbeda dengan nilai retribusi yang berlaku
sebelumnya.
 SHST adalah Standar Harga Satuan Tertinggi yang dihitung
menggunakan Standar Harga Satuan Tertinggi yang telah
ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai.
 Indeks Terintegrasi ditentukan berdasarkan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Peraturan Pemerintah
No. 16 Tahun 2021.
 Indeks Bangunan Gedung Terbangun (ibg) ditentukan berdasarkan
ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang dikeluarkan oleh
Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2021.
Huruf b
Yang dimaksud dengan harga satuan retribusi prasarana bangunan
gedung (HSpbg) adalah harga satuan prasarana BG sesuai jenis dan
bangunan (m dan/atau m2).
salinan

Ayat 2
 Indeks Fungsi (If) adalah indeks fungsi yang ditentukan
berdasarkan fungsi usaha, prototype UMKM, Hunian, Keagamaan,
Fungsi Khusus, Sosial Budaya, dan Fungsi Campuran.
 Bobot parameter (bp) dikali indeks parameter adalah nilai bobot
dikali nilai indeks yang telah ditentukan berdasarkan klasifikasi
kompleksitas (sederhana, tidak sederhana), permanensi (permanen
dan non permanen), ketinggian (koefisien ketinggian), faktor
kepemilikan (negara, perseorangan/badan usaha).
Ayat 3
Cukup Jelas
Pasal 9
Cukup Jelas
Pasal 10
Cukup Jelas
Pasal 11
Cukup Jelas
Pasal 12
Cukup Jelas
Pasal 13
Cukup Jelas
Pasal 14
Cukup Jelas
Pasal 15
Cukup Jelas
Pasal 16
Cukup Jelas
Pasal 17
Cukup Jelas
Pasal 18
Cukup Jelas
Pasal 19
Cukup Jelas
Pasal 20
Cukup Jelas
Pasal 21
Cukup Jelas
Pasal 22
Cukup Jelas
Pasal 23
Cukup Jelas
salinan

Pasal 24
Cukup Jelas
Pasal 25
Cukup Jelas
Pasal 26
Cukup Jelas

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI


TAHUN 2022 NOMOR 153
salinan

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI


NOMOR :
TANGGAL :
TENTANG : RETRIBUSI PERSETUJUAN BANGUNAN GEDUNG

A. Rumus Perhitungan Retribusi


Retribusi dikenakan kepada pemohon PBG oleh pemerintah daerah atas
layanan pemeriksaan pemenuhan standar teknis, penerbitan PBG, inspeksi
bangunan gedung, penerbitan SLF dan SBKPBG, serta pencetakan plakat
SLF.
Rumus Perhitungan Retribusi:
Nilai Retribusi (Nr) : LLt x (Ilo x SHST) x It x Ibg
LLt : ∑ (Lli + LBi)
It : If x ∑ (bp x Ip) x Fm

Keterangan:
Nilai retribusi (Nr) : LLt x (Ilo x SHST) x It x Ibg
LLt :l(LLi+LBi)
LLt : Luas total lantai
It :Ifxl(bpxlp) xFm
SHST : Standar Harga Satuan Tertinggi, atau yang
sebelum Peraturan Pemerintah ini dikenal
dengan HSBGN (Harga Standar Bangunan
Gedung Negara)
Ilo : Indeks lokalitas
It : Indeks terintegrasi
Ibg : Indeks BG terbangun
LLi : Luas lantai ke-i
Lbi : Luas basemen ke-i
If : Indeks fungsi
Bp : Bobot parameter
Ip : Indeks parameter
Fm : Faktor kepemilikan

Keterangan:
1. SHST yang dipakai dalam perhitungan retribusi merupakan SHST untuk
Bangunan Gedung Negara sederhana. SHST ini digunakan untuk
perhitungan retribusi seluruh Bangunan Gedung (milik Pemerintah dan
bukan milik Pemerintah).
2. Bagi Pemerintah Daerah yang telah menetapkan HSBGN, dapat
langsung menggunakan nilai tersebut sebagai SHST.
3. SHST dihitung menggunakan aplikasi perhitungan standar harga satuan
tertinggi yang disediakan oleh Kementerian PUPR dan dapat diunduh di
[Link].
salinan

Tabel 1. Indeks Lokalitas (Ilo)


Indeks lokalitas
Fungsi
Keterangan Jalan Jalan Jalan Jalan
Bangunan
Nasional Provinsi Kabupaten Lingkungan
Sederhana 0,4 0,35 0,3 0,3
Hunian Tidak
0,5 0,5 0,45 0,45
Sederhana
Mikro 0,35 0,35 0,35 0,3
Usaha
Non Mikro 0,5 0,5 0,5 0,4
PAUD s/d
0,1 0,1 0,1 0,1
Sosial SLTA
Budaya Perguruan
0,2 0,2 0,2 0,2
Tinggi
Sosial
0,3 0,3 0,3 0,3
Budaya
Khusus 0,5 0,5 0,5 0,5

Tabel 2. Indeks Terintegrasi (It)


Fungsi Indeks Klasifikasi Bobot Parameter Indeks
Fungsi Parameter Parameter
(If) (bp) (Ip)
Usaha 0,7 Kompleksitas 0,3 a. Sederhana 1
b. Tidak 2
Sederhana
Usaha 0,5 Permanensi 0,2 a. Sederhana 1
(UMKM – b. Permanen 2
prototipe)
Hunian Ketinggian 0,5 *)Mengikuti
a. <100 m2 Tabel
dan < 2 0,15 Koefisien
lantai Jumlah
b. > 100 0,17 Lantai
m2 dan
>2
lantai
Keagamaan 0
Fungsi 1
Khusus
Sosial 0,3 Faktor Kepemilikan (Fm)
Budaya a. Negara 0
b. Perorangan / Badan Usaha 1
Ganda /
Campuran

a. Luas < 0,6


500 m2
dan < 2
lantai
b. Luas 0,8
>500 m2
dan > 2
lantai

Tabel 3. Indeks BG Terbangun (Ibg)


Jenis Pembangunan Indeks BG Terbangun
Bangunan Gedung Baru 1
Rehabilitasi / Renovasi BG
a. Sedang 0,45 x 50% = 0,225
b. Berat 0,65 x 50% = 0,325
Pelestarian/Pemugaran
a. Pratama 0,65 x 50% = 0,325
b. Madya 0,45 x 50% = 0,225
c. Utama 0,30 x 50% = 0,150
salinan

Tabel 4. Koefesien Jumlah Lantai


Koefisien Jumlah Koefisien Jumlah
Jumlah Lantai
Jumlah Lantai Lantai Lantai
Basemen 3 lapis + (n) 1,393 + 0,1 (n) 30 1,676
Basemen 3 lapis 1,393 31 1,686
Basemen 2 lapis 1,299 32 1,695
Basemen 1 lapis 1,197 33 1,704
1 1 34 1,713
2 1,090 35 1,722
3 1,120 36 1,730
4 1,135 37 1,738
5 1,162 38 1,746
6 1,197 39 1,754
7 1,236 40 1,761
8 1,265 41 1,768
9 1,299 42 1,775
10 1,333 43 1,782
11 1,364 44 1,789
12 1,393 45 1,795
13 1,420 46 1,801
14 1,445 47 1,807
15 1,468 48 1,813
16 1,489 49 1,818
17 1,508 50 1,823
18 1,525 51 1,828
19 1,541 52 1,833
20 1,556 53 1,837
21 1,570 54 1,841
22 1,584 55 1,845
23 1,597 56 1,849
24 1,610 57 1,853
25 1,622 58 1,856
26 1,634 59 1,859
27 1,645 60 1,862
28 1,656 60 + n 1,862 + 0,003 (n)
29 1,666

Keterangan:
 Untuk basement disebut koefisien jumlah lapis;
 Untuk lantai disebut koefisien jumlah lantai;
 Koefisien jumlah lantai/lapis digunakan sesuai dengan jumlah lantai atau
lapis basement pada bangunan gedung;
 Diatas 3 lapis basement, koefisien ditambahkan 0,1 setiap lapisnya.
 Diatas 60 lantai, koefisien ditambahkan 0,003 setiap lantainya.

Koefisien Ketinggian BG =

(∑ (Lli x KL)) + ∑ (Lbi x KB))


(∑ Lli + ∑LBI)

Keterangan:
LLi : Luas Lantai ke-i
KL : Koefisien jumlah lantai
LBi : Luas Basemen ke-i
KBi : Koefisien Jumlah lapis

B. Rumus Perhitungan Retribusi Prasarana BG


salinan

V x I x Ibg x HSpbg

Keterangan:
V : Volume
I : Indeks prasarana Bangunan Gedung
Ibg : Indeks BG Terbangun
HSpbg : Harga Satuan Retribusi Prasarana Bangunan Gedung
salinan

Tabel 1. Struktur dan Besaran Tarif Retribusi Prasarana Bangunan Gedung dan Indeks Prasarana Bangunan Gedung

INDEKS PRASARANA BANGUNAN GEDUNG (I)

HARGA RUSAK
SATUAN RUSAK BERAT/PEKERJAAN
PEMBANGUNAN KONSTRUKSI SEBERSAR SEDANG/PEKERJAAN
NO JENIS PRASARANA BANGUNAN SATUAN RETRIBUSI KONSTRUKSI SEBERSAR
BARU 65% DARI BANGUNAN
GEDUNG 45% DARI BANGUNAN
GEDUNG

(Rp) Indeks Indeks Indeks

1 2 3 4 5 6 7 8
1 Konstruksi Pagar m1 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
pembatas/pengaman
/penahan Tanggul / retaining m1 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
5.240
wall
Turap batas m1 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
kaveling/persil
2 Konstruksi penanda Gapura m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
masuk lokasi
Gerbang m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225

3 Konstruksi perkerasan Jalan m2 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225

Lapangan upacara m2 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225

Lapangan olahraga m2 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
terbuka
4 Konstruksi perkerasan m2 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
aspal, beton
5 Konstruksi perkerasan m2 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
grassblock
6 Konstruksi Jembatan m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
penghubung
Box Culvert m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
7 Konstruksi m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
penghubung (jembatan
antar gedung)
salinan

1 2 3 4 5 6 7 8
8 Konstruksi m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
penghubung (jembatan
penyeberangan
orang/barang)
9 Konstruksi m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
penghubung (jembatan
bawah
tanah/underpass)
10 Konstruksi kolam/ Kolam renang m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
reservoir bawah tanah
Kolam pengolahan m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
air reservoir di
bawah tanah
11 Konstruksi septictank, m2 52.400 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
sumur resapan
12 Konstruksi menara Menara reservoir Per 5 m2 26.200 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Cerobong Per 5 m2 26.200 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
13 Konstruksi menara air Per 5 m2 26.200 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
14 Konstruksi monumen Tugu Unit 2.096.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225

Patung Unit 2.096.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225

Di dalam persil Unit 2.096.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225

Di luar persil Unit 2.096.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225

15 Konstruksi instalasi/ Instalasi listrik Unit 52.400 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
gardu listrik (luas maksimum
10 m2 ), apabila
unit lebih dari 10
m2 dikenakan
biaya tambahan
per m2
salinan

1 2 3 4 5 6 7 8
Instalasi Unit 52.400 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
telepon/komunikasi (luas maksimum
10 m2 ), apabila
unit lebih dari 10
m2 dikenakan
biaya tambahan
per m2
Instalasi Unit 52.400 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Pengolahan (luas maksimum
10 m2 ), apabila
unit lebih dari 10
m2 dikenakan
biaya tambahan
per m2
16 Konstruksi reklame/ Billboard papan Unit dan 524.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
papan nama iklan penambahannya
Papan nama (berdiri Unit dan 524.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
sendiri atau berupa penambahannya
tempok pagar)
17 Fondasi mesin (di luar Unit mesin 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
bangunan)
18 Konstruksi menara Unit 47.160.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
televisi (tinggi maksimal
100 m, selebihnya
dihitung
kelipatannya)
19 Konstruksi antena
radio
1) Standing tower Ketinggian 25-50 m Unit 7.860.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
dengan konstruksi
3-4 kaki: Ketinggian 51-75 m Unit 15.720.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Ketinggian 76-100 Unit 23.580.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
m
Ketinggian 101-125 Unit 31.440.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
m
salinan

1 2 3 4 5 6 7 8
Ketinggian 126-150 Unit 39.300.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
m
Ketinggian di atas Unit 47.160.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
150 m
2) Sistem guy wire/ Ketinggian 0-50 m Unit 7.860.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
bentang kawat: Ketinggian 51-75 m Unit 15.720.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Ketinggian 76-100m Unit 23.580.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Ketinggian di atas Unit 31.440.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
100 m
20 Konstruksi antena Menara bersama
(tower telekomunikasi) Ketinggian kurang Unit 7.860.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
dari 25 m
Ketinggian 25-50 m Unit 15.720.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Ketinggian di atas Unit 23.580.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
50 m
Menara mandiri
Ketinggian kurang Unit 7.860.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
dari 25 m
Ketinggian 25-50 m Unit 15.720.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Ketinggian di atas Unit 23.580.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
50 m
21 Tangki tanam bahan Unit 52.400 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
bakar
22 Pekerjaan drainase 1) Saluran m1 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
(dalam persil) 2) Kolam tampung m2 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
52.400

23 Konstruksi m3 52.400 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225


penyimpanan/ silo

BUPATI SERDANG BEDAGAI,

ttd

DARMA WIJAYA

Anda mungkin juga menyukai