Retribusi Persetujuan Bangunan Gedung
Retribusi Persetujuan Bangunan Gedung
TENTANG
MEMUTUSKAN :
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Kabupaten Serdang Bedagai.
2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan
oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut
asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-
luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
3. Pemerintah Daerah adalah Bupati sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan
yang menjadi kewenangan daerah otonom.
4. Bupati adalah Bupati Kabupaten Serdang Bedagai.
5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Serdang Bedagai.
6. Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang
menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya
berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi
sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian
atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan
sosial, budaya, maupun kegiatan khusus.
7. Persetujuan Bangunan Gedung yang selanjutnya disingkat PBG adalah
perizinan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai
pada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru, mengubah,
memperluas, mengurangi dan/atau merawat bangunan gedung sesuai
dengan standar teknis bangunan gedung.
8. Sertifikat Laik Fungsi yang selanjutnya disingkat SLF adalah sertifikat
yang diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk menyatakan kelaikan
fungsi Bangunan Gedung sebelum dapat dimanfaatkan.
9. Surat Bukti Kepemilikan Bangunan Gedung yang selanjutnya disingkat
SBKBG adalah surat tanda bukti hak atau status kepemilikan bangunan
gedung.
10. Perizinan Tertentu adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam
rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang
dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan
pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, serta penggunaan
sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu
guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian
lingkungan.
11. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut
peraturan perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan
pembayaran retribusi, termasuk pemungut retribusi tertentu.
12. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan
batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perizinan
tertentu dari pemerintah daerah yang bersangkutan.
13. Surat Setoran Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SSRD, adalah
bukti pembayaran atau penyetoran retribusi yang telah dilakukan
salinan
BAB II
NAMA, OBJEK DAN SUBJEK RETRIBUSI
Pasal 2
Dengan nama Retribusi PBG dipungut retribusi atas penerbitan PBG dan
penerbitan SLF Bangunan Gedung atau Prasarana Bangunan Gedung.
Pasal 3
(1) Objek retribusi PBG sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah
penerbitan PBG dan SLF.
(2) Penerbitan PBG dan SLF sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
kegiatan layanan konsultasi pemenuhan standar teknis, penerbitan PBG,
inspeksi bangunan gedung, penerbitan SLF dan SBKBG, serta
pencetakan plakat SLF.
(3) Penerbitan PBG dan SLF tersebut diberikan untuk permohonan
persetujuan:
a. pembangunan baru;
b. bangunan gedung yang sudah terbangun dan belum memiliki PBG
dan/atau SLF;
c. PBG perubahan untuk:
1. perubahan fungsi bangunan gedung;
2. perubahan lapis bangunan gedung;
3. perubahan luas bangunan gedung;
4. perubahan tampak bangunan gedung;
5. perubahan spesifikasi dan dimensi komponen pada bangunan
gedung yang mempengaruhi aspek keselamatan dan/ atau
kesehatan;
6. perkuatan bangunan gedung terhadap tingkat kerusakan sedang
atau berat;
7. perlindungan dan/ atau pengembangan bangunan gedung cagar
budaya; dan
8. perbaikan bangunan gedung yang terletak di kawasan cagar
budaya.
(4) PBG perubahan tidak diperlukan untuk pekerjaan pemeliharaan dan
pekerjaan perawatan.
(5) Tidak termasuk objek retribusi sebagimana dimaksud pada ayat (1)
adalah penerbitan PBG dan SLF untuk bangunan milik pemerintah
pusat, pemerintah daerah atau bangunan yang memiliki fungsi
keagamaan.
Pasal 4
(1) Subjek retribusi PBG adalah setiap orang pribadi atau badan yang
memperoleh PBG dan SLF.
(2) Wajib retribusi PBG yang selanjutnya disebut Wajib Retribusi, adalah
orang pribadi atau badan yang diwajibkan untuk melakukan pembayaran
retribusi PBG.
BAB III
GOLONGAN RETRIBUSI
Pasal 5
Retribusi PBG digolongkan sebagai retribusi perizinan tertentu.
salinan
BAB IV
CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA
Pasal 6
(1) Besaran retribusi PBG yang terutang dihitung berdasarkan perkalian
antara tingkat penggunaan jasa atas penyediaan layanan dan harga
satuan retribusi PBG.
(2) Tingkat penggunaan jasa atas penyediaan layanan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diukur berdasarkan formula yang mencerminkan
biaya penyelenggaraan penyediaan layanan.
(3) Harga satuan retribusi PBG sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri
atas:
a. indeks lokalitas dan Standar Harga Satuan Tertinggi untuk Bangunan
Gedung;
b. harga satuan retribusi Prasarana Bangunan Gedung untuk Prasarana
Bangunan Gedung.
(4) Formula sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas formula untuk:
a. bangunan gedung; dan
b. prasarana bangunan gedung.
(5) Formula sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a terdiri atas:
a. luas total lantai;
b. indeks terintegrasi; dan
c. indeks bangunan gedung terbangun.
(6) Formula sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b terdiri atas:
a. volume;
b. indeks Prasarana bangunan gedung;
c. indeks bangunan gedung terbangun.
BAB V
PRINSIP DAN SASARAN PENETAPAN BESARAN TARIF
Pasal 7
(1) Prinsip dan sasaran penetapan besaran tarif retribusi PBG didasarkan
pada tujuan untuk menutup sebagian biaya penyelenggaraan penerbitan
PBG dan SLF.
(2) Biaya penyelenggaraan penerbitan PBG dan SLF sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi penerbitan dokumen PBG dan SLF, inspeksi
penilik bangunan, penegakan hukum, penatausahaan, dan biaya
dampak negatif dari penerbitan PBG dan SLF tersebut.
BAB VI
STRUKTUR DAN BESARAN TARIF
Pasal 8
(1) Struktur dan besaran tarif retribusi PBG ditetapkan berdasarkan
kegiatan pemeriksaan pemenuhan standar teknis dan layanan konsultasi
untuk:
a. Bangunan Gedung
Tarif retribusi PBG untuk Bangunan Gedung dihitung berdasarkan
luas total lantai (LLt) dikalikan indeks lokalitas (Ilo) dikalikan standar
harga satuan tertinggi (SHST) dikalikan indeks terintegrasi (It)
salinan
V x I x Ibg x HSpbg
Pasal 9
(1) Nilai Indeks Lokalitas (Ilo) sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 8 ayat
(1) huruf a ditetapkan secara berjenjang paling tinggi 0,5%, sebagaimana
tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
(2) Nilai standar harga satuan tertinggi (SHST) yang dipakai dalam
perhitungan retribusi sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 8 ayat (1)
huruf a adalah harga standar Bangunan Gedung Negara Sederhana yang
telah ditetapkan oleh Bupati.
(3) Harga satuan retribusi prasarana bangunan gedung (HSpbg)
sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b tercantum
dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.
Pasal 10
(1) Tarif retribusi PBG sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ditinjau paling
lama 3 (tiga) tahun sekali.
(2) Peninjauan tarif retribusi PBG sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dilakukan dengan memperhatikan indeks harga dan perkembangan
perekonomian.
(3) Peninjauan tarif retribusi PBG sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
hanya terhadap besaran harga dalam tabel HSBGN/SHST, Ilo dan HSpbg.
(4) Penetapan tarif retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
salinan
BAB VII
PEMUNGUTAN RETRIBUSI
Bagian Kesatu
Pembayaran Retribusi PBG
Pasal 11
(1) Retribusi PBG dipungut di wilayah Kabupaten Serdang Bedagai.
(2) Retribusi PBG dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain
yang dipersamakan.
(3) Tata cara penerbitan dan penyampaian SKRD atau dokumen lain yang
dipersamakan diatur dengan Peraturan Bupati.
(4) Dokumen PBG diterbitkan oleh pejabat penerbit Izin yang tugas dan
tanggung jawabnya di Bidang Pelayanan Perizinan.
(5) Penerbitan dokumen PBG sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
dilakukan setelah wajib retribusi melakukan pembayaran retribusi dan
menyerahkan bukti pembayaran retribusi kepada pejabat penerbit izin.
Pasal 12
(1) Pembayaran retribusi PBG dilakukan sekaligus atau lunas sejak SKRD
atau dokumen lain yang dipersamakan diterbitkan.
(2) Pembayaran retribusi PBG sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diberikan tanda bukti pembayaran dan dicatat dalam buku penerimaan.
(3) Hasil penerimaan retribusi PBG disetor ke Rekening Kas Umum Daerah
melalui Bendahara Khusus Penerimaan Dinas paling lama 1x24 jam.
(4) Bentuk, isi, kualitas, ukuran, buku dan tanda bukti pembayaran, serta
tata cara pembayaran ditetapkan dengan Peraturan Bupati.
Bagian Kedua
Penagihan Retribusi PBG
Pasal 13
(1) Penagihan retribusi PBG yang terutang menggunakan STRD dan
didahului dengan surat teguran atau surat peringatan atau surat lain
yang sejenis.
(2) Surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai
awal tindakan penagihan retribusi PBG diterbitkan 7 (tujuh) hari sejak
jatuh tempo pembayaran.
(3) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran atau
surat peringatan atau surat lain yang sejenis disampaikan, Wajib Retribusi
harus melunasi retribusi yang terutang.
(4) Surat teguran, surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), diterbitkan oleh Bupati atau pejabat yang
ditunjuk.
Bagian Ketiga
Keberatan
Pasal 14
(1) Wajib Retribusi dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau
Pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
salinan
Pasal 15
(1) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal surat
keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang
diajukan dengan menerbitkan Surat Keputusan Keberatan.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah untuk
memberikan kepastian hukum bagi Wajib Retribusi, bahwa keberatan
yang diajukan harus diberikan keputusan oleh Bupati.
(3) Keputusan atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau
sebagian, menolak, atau menambah besarnya Retribusi yang terutang.
(4) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat
dan Bupati tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan
tersebut dianggap dikabulkan.
Pasal 16
(1) Jika pengajuan keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya,
kelebihan pembayaran retribusi dikembalikan dengan ditambah imbalan
bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 12 (dua belas)
bulan.
(2) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sejak bulan
pelunasan sampai dengan diterbitkan SKRDLB.
BAB VIII
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN
Pasal 17
(1) Atas kelebihan pembayaran retribusi, Wajib Retribusi dapat mengajukan
permohonan pengembalian kepada Bupati.
(2) Bupati dalam jangka waktu 6 (enam) bulan, sejak diterimanya
permohonan pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus memberikan keputusan.
(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah
dilampaui dan Bupati tidak memberikan suatu keputusan, permohonan
pengembalian pembayaran Retribusi dianggap dikabulkan dan SKPDLB
harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan.
(4) Apabila wajib retribusi mempunyai utang retribusi lainnya, kelebihan
pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) langsung
diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang retribusi tersebut.
salinan
BAB IX
PENGHAPUSAN PIUTANG DAN KEDALUWARSA PENAGIHAN
Pasal 18
(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi, kedaluwarsa menjadi
kedaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung
sejak saat terhutangnya retribusi, kecuali jika Wajib Retribusi melakukan
tindak pidana di bidang retribusi.
(2) Kedaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tertangguh jika:
a. diterbitkan surat teguran; atau
b. ada pengakuan utang retribusi dari Wajib Retribusi, baik langsung
maupun tidak langsung
(3) dalam hal diterbitkan surat teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf a, kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal diterimanya surat
teguran tersebut.
(4) Pengakuan utang retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf b adalah apabila Wajib Retribusi dengan kesadarannya
menyatakan masih mempunyai utang retribusi dan belum melunasinya
kepada Pemerintah Daerah.
(5) Pengakuan utang retribusi secara tidak langsung sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b dapat diketahui dari pengajuan permohonan
angsuran atau penundaan pembayaran dan permohonan keberatan oleh
Wajib Retribusi.
Pasal 19
(1) Piutang retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk
melakukan penagihan sudah kedaluwarsa dan dihapuskan.
(2) Bupati menetapkan keputusan penghapusan retribusi yang sudah
kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Tata cara penghapusan piutang retribusi yang sudah kedaluwarsa, diatur
dengan Peraturan Bupati.
BAB X
PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN
Pasal 20
(1) Bupati berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban retribusi dalam rangka melaksanakan peraturan
perundang-undangan retribusi daerah.
salinan
BAB XI
INSENTIF PEMUNGUTAN
Pasal 21
(1) Instansi yang melaksanakan pemungutan retribusi dapat diberi insentif
atas pencapaian kinerja tertentu.
(2) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
(3) Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati yang berpedoman pada
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB XII
PENYIDIKAN
Pasal 22
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan pemerintah daerah
diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan
tindak pidana di bidang retribusi, sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Hukum Pidana.
(2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Pejabat Pegawai
Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang diangkat oleh
Pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan Perundang-undangan.
(3) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau
laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah
agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan
jelas;
b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang
pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan
sehubungan dengan tindak pidana di bidang retribusi;
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan
sehubungan dengan tindak pidana di bidang retribusi;
d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen lain
berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi;
salinan
BAB XIII
SANKSI ADMINISTRATIF DAN PIDANA
Pasal 23
(1) Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayarkan tepat waktunya atau
kurang bayar, dikenakan sanksi administratif berupa bunga 2% (dua
persen) setiap bulan dari retribusi yang tidak atau kurang bayar dan
ditagih dengan menggunakan STRD.
(2) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga
merugikan keuangan daerah, diancam dengan pidana kurungan paling
lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak 3 (tiga) kali dari jumlah
retribusi terutang yang tidak atau kurang bayar.
(3) Denda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan penerimaan
Negara.
BAB XIV
PENGURANGAN DAN KERINGANAN RETRIBUSI
Pasal 24
(1) Bupati dapat memberikan keringanan, pengurangan, pembebasan dan
penundaan pembayaran atas pokok dan/atau sanksi retribusi PBG.
(2) Pemberian keringanan, pengurangan, pembebasan dan penundaan
pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
memperhatikan kondisi wajib retribusi dan/atau objek retribusi.
(3) Tata cara pengurangan dan keringanan retribusi PBG sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Bupati.
salinan
BAB XV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 25
Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah
Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 Tahun 2018 tentang Retribusi Izin
Mendirikan Bangunan (Lembaran Daerah Kabupaten Serdang Bedagai
Tahun 2018 Nomor 1, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Serdang
Bedagai Nomor 141) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.
Pasal 26
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten
Serdang Bedagai.
ttd
DARMA WIJAYA
ttd
M. FAISAL HASRIMY
ttd
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI
NOMOR 7 TAHUN 2022
TENTANG
RETRIBUSI PERSETUJUAN BANGUNAN GEDUNG
I. UMUM
Pasal 1
Cukup Jelas
Pasal 2
Cukup Jelas
Pasal 3
Cukup Jelas
Pasal 4
Cukup Jelas
Pasal 5
Cukup Jelas
Pasal 6
Cukup Jelas
Pasal 7
Cukup Jelas
Pasal 8
Ayat 1
Huruf a
Luas Total Lantai (LLt) adalah lantai dan lantai basemen.
Nilai Indeks Lokalitas (Ilo) adalah koefisien untuk menjaga nilai
besaran retribusi agar perbandingan nilai perhitungan retribusi
tidak jauh berbeda dengan nilai retribusi yang berlaku
sebelumnya.
SHST adalah Standar Harga Satuan Tertinggi yang dihitung
menggunakan Standar Harga Satuan Tertinggi yang telah
ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai.
Indeks Terintegrasi ditentukan berdasarkan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Peraturan Pemerintah
No. 16 Tahun 2021.
Indeks Bangunan Gedung Terbangun (ibg) ditentukan berdasarkan
ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang dikeluarkan oleh
Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2021.
Huruf b
Yang dimaksud dengan harga satuan retribusi prasarana bangunan
gedung (HSpbg) adalah harga satuan prasarana BG sesuai jenis dan
bangunan (m dan/atau m2).
salinan
Ayat 2
Indeks Fungsi (If) adalah indeks fungsi yang ditentukan
berdasarkan fungsi usaha, prototype UMKM, Hunian, Keagamaan,
Fungsi Khusus, Sosial Budaya, dan Fungsi Campuran.
Bobot parameter (bp) dikali indeks parameter adalah nilai bobot
dikali nilai indeks yang telah ditentukan berdasarkan klasifikasi
kompleksitas (sederhana, tidak sederhana), permanensi (permanen
dan non permanen), ketinggian (koefisien ketinggian), faktor
kepemilikan (negara, perseorangan/badan usaha).
Ayat 3
Cukup Jelas
Pasal 9
Cukup Jelas
Pasal 10
Cukup Jelas
Pasal 11
Cukup Jelas
Pasal 12
Cukup Jelas
Pasal 13
Cukup Jelas
Pasal 14
Cukup Jelas
Pasal 15
Cukup Jelas
Pasal 16
Cukup Jelas
Pasal 17
Cukup Jelas
Pasal 18
Cukup Jelas
Pasal 19
Cukup Jelas
Pasal 20
Cukup Jelas
Pasal 21
Cukup Jelas
Pasal 22
Cukup Jelas
Pasal 23
Cukup Jelas
salinan
Pasal 24
Cukup Jelas
Pasal 25
Cukup Jelas
Pasal 26
Cukup Jelas
Keterangan:
Nilai retribusi (Nr) : LLt x (Ilo x SHST) x It x Ibg
LLt :l(LLi+LBi)
LLt : Luas total lantai
It :Ifxl(bpxlp) xFm
SHST : Standar Harga Satuan Tertinggi, atau yang
sebelum Peraturan Pemerintah ini dikenal
dengan HSBGN (Harga Standar Bangunan
Gedung Negara)
Ilo : Indeks lokalitas
It : Indeks terintegrasi
Ibg : Indeks BG terbangun
LLi : Luas lantai ke-i
Lbi : Luas basemen ke-i
If : Indeks fungsi
Bp : Bobot parameter
Ip : Indeks parameter
Fm : Faktor kepemilikan
Keterangan:
1. SHST yang dipakai dalam perhitungan retribusi merupakan SHST untuk
Bangunan Gedung Negara sederhana. SHST ini digunakan untuk
perhitungan retribusi seluruh Bangunan Gedung (milik Pemerintah dan
bukan milik Pemerintah).
2. Bagi Pemerintah Daerah yang telah menetapkan HSBGN, dapat
langsung menggunakan nilai tersebut sebagai SHST.
3. SHST dihitung menggunakan aplikasi perhitungan standar harga satuan
tertinggi yang disediakan oleh Kementerian PUPR dan dapat diunduh di
[Link].
salinan
Keterangan:
Untuk basement disebut koefisien jumlah lapis;
Untuk lantai disebut koefisien jumlah lantai;
Koefisien jumlah lantai/lapis digunakan sesuai dengan jumlah lantai atau
lapis basement pada bangunan gedung;
Diatas 3 lapis basement, koefisien ditambahkan 0,1 setiap lapisnya.
Diatas 60 lantai, koefisien ditambahkan 0,003 setiap lantainya.
Koefisien Ketinggian BG =
Keterangan:
LLi : Luas Lantai ke-i
KL : Koefisien jumlah lantai
LBi : Luas Basemen ke-i
KBi : Koefisien Jumlah lapis
V x I x Ibg x HSpbg
Keterangan:
V : Volume
I : Indeks prasarana Bangunan Gedung
Ibg : Indeks BG Terbangun
HSpbg : Harga Satuan Retribusi Prasarana Bangunan Gedung
salinan
Tabel 1. Struktur dan Besaran Tarif Retribusi Prasarana Bangunan Gedung dan Indeks Prasarana Bangunan Gedung
HARGA RUSAK
SATUAN RUSAK BERAT/PEKERJAAN
PEMBANGUNAN KONSTRUKSI SEBERSAR SEDANG/PEKERJAAN
NO JENIS PRASARANA BANGUNAN SATUAN RETRIBUSI KONSTRUKSI SEBERSAR
BARU 65% DARI BANGUNAN
GEDUNG 45% DARI BANGUNAN
GEDUNG
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Konstruksi Pagar m1 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
pembatas/pengaman
/penahan Tanggul / retaining m1 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
5.240
wall
Turap batas m1 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
kaveling/persil
2 Konstruksi penanda Gapura m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
masuk lokasi
Gerbang m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
3 Konstruksi perkerasan Jalan m2 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Lapangan upacara m2 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Lapangan olahraga m2 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
terbuka
4 Konstruksi perkerasan m2 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
aspal, beton
5 Konstruksi perkerasan m2 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
grassblock
6 Konstruksi Jembatan m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
penghubung
Box Culvert m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
7 Konstruksi m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
penghubung (jembatan
antar gedung)
salinan
1 2 3 4 5 6 7 8
8 Konstruksi m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
penghubung (jembatan
penyeberangan
orang/barang)
9 Konstruksi m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
penghubung (jembatan
bawah
tanah/underpass)
10 Konstruksi kolam/ Kolam renang m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
reservoir bawah tanah
Kolam pengolahan m2 10.480 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
air reservoir di
bawah tanah
11 Konstruksi septictank, m2 52.400 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
sumur resapan
12 Konstruksi menara Menara reservoir Per 5 m2 26.200 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Cerobong Per 5 m2 26.200 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
13 Konstruksi menara air Per 5 m2 26.200 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
14 Konstruksi monumen Tugu Unit 2.096.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Patung Unit 2.096.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Di dalam persil Unit 2.096.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Di luar persil Unit 2.096.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
15 Konstruksi instalasi/ Instalasi listrik Unit 52.400 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
gardu listrik (luas maksimum
10 m2 ), apabila
unit lebih dari 10
m2 dikenakan
biaya tambahan
per m2
salinan
1 2 3 4 5 6 7 8
Instalasi Unit 52.400 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
telepon/komunikasi (luas maksimum
10 m2 ), apabila
unit lebih dari 10
m2 dikenakan
biaya tambahan
per m2
Instalasi Unit 52.400 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Pengolahan (luas maksimum
10 m2 ), apabila
unit lebih dari 10
m2 dikenakan
biaya tambahan
per m2
16 Konstruksi reklame/ Billboard papan Unit dan 524.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
papan nama iklan penambahannya
Papan nama (berdiri Unit dan 524.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
sendiri atau berupa penambahannya
tempok pagar)
17 Fondasi mesin (di luar Unit mesin 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
bangunan)
18 Konstruksi menara Unit 47.160.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
televisi (tinggi maksimal
100 m, selebihnya
dihitung
kelipatannya)
19 Konstruksi antena
radio
1) Standing tower Ketinggian 25-50 m Unit 7.860.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
dengan konstruksi
3-4 kaki: Ketinggian 51-75 m Unit 15.720.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Ketinggian 76-100 Unit 23.580.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
m
Ketinggian 101-125 Unit 31.440.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
m
salinan
1 2 3 4 5 6 7 8
Ketinggian 126-150 Unit 39.300.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
m
Ketinggian di atas Unit 47.160.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
150 m
2) Sistem guy wire/ Ketinggian 0-50 m Unit 7.860.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
bentang kawat: Ketinggian 51-75 m Unit 15.720.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Ketinggian 76-100m Unit 23.580.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Ketinggian di atas Unit 31.440.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
100 m
20 Konstruksi antena Menara bersama
(tower telekomunikasi) Ketinggian kurang Unit 7.860.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
dari 25 m
Ketinggian 25-50 m Unit 15.720.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Ketinggian di atas Unit 23.580.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
50 m
Menara mandiri
Ketinggian kurang Unit 7.860.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
dari 25 m
Ketinggian 25-50 m Unit 15.720.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
Ketinggian di atas Unit 23.580.000 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
50 m
21 Tangki tanam bahan Unit 52.400 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
bakar
22 Pekerjaan drainase 1) Saluran m1 5.240 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
(dalam persil) 2) Kolam tampung m2 1,00 0,65 x 50% = 0,325 0,45 x 50% = 0,225
52.400
ttd
DARMA WIJAYA