Institut Teknologi Sains Bandung Jurnal Tugas Akhir Tahun 2020
Evaluasi Sumur Untuk Meningkatkan Laju Produksi Pada
Permasalahan Scale Di Sumur X Lapangan Y
Mohamad Irgi Budiman
Pembimbing: Ir. Aries Prasetyo, M.T
Program Studi Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Sains Bandung, Bekasi 17530
Email: irgibudiman96@[Link]
Abstrak
Suatu sumur minyak dapat mengalami penurunan produksi yang tidak wajar karena adanya
kerusakan formasi ataupun hambatan yang terjadi diperalatan bawah permukaan, Stimulasi
merupakan suatu metode untuk meningkatkan produktivitas dari sumur dengan memperbaiki
kerusakan formasi atau endapan-endapan mineral. Permasalahan Sumur X Lapangan Y adalah
terbentuknya endapan scale CaCO3 yang menyebabkan kerusakan formasi disekitar lubang sumur.
Untuk melarutkan endapan scale tersebut, dilakukan stimulasi sumur dengan metode matrix
acidizing menggunakan HCl pada formasi karbonat. Dalam proses injeksi asam dilakukan
perhitungan secara manual untuk volume acid, volume preflush, dan volume displace. Untuk
mengetahui hasil dari pekerjaan tersebut maka dilakukan evaluasi hasil berdasarkan analisa
beberapa parameter produksi, yaitu, skin, flow efficiency dan kurva inflow performance
relationship. Hasil yang diperoleh dari evaluasi matrix acidizing adalah terjadinya peningkatan
nilai flow efficiency, kembalinya laju produksi minyak pada sumur X sekitar 57% dengan melihat
data produksi sebelum terbentuknya endapan scale CaCO3, dan nilai skin yang mengalami
penurunan.
Kata Kunci: Skin, Scale, Matrix Acidizing, Flow Efficiency, Inflow Performance Relationship
1. Pendahuluan
Kegiatan di industri minyak dan gas seperti memastikan keuntungan ekonomi. Salah satu
pemboran, completion, workover, dan produksi solusi tersebut dikenal sebagai stimulasi[11].
dapat mengakibatkan pengendapan mineral Stimulasi sumur merupakan suatu teknik
dari waktu ke waktu, Akibatnya dapat yang diterapkan untuk meningkatkan produksi
menyebabkan penurunan produksi karena gas atau minyak dari reservoir ke sumur bor
kerusakan formasi yang terjadi disekitar sumur dan memastikan keuntungan ekonomi yang
[17]
. Oleh karena itu field engineer harus baik[3].
melakukan perawatan yang baik untuk Dalam tugas akhir ini tujuan penelitian pada
meningkatkan produktivitas sumur guna Sumur X Lapangan Y yaitu menganalisa
1
terjadinya penurunan laju produksi yang aktifitas produksi adalah adanya
dikarenakan oleh kerusakan formasi. permasalahan scale yang terjadi didaerah
Merencanakan metode stimulasi yang tepat sekitar wellbore.
untuk memperbaiki kerusakan formasi. Dan
2.2 Permasalahan Scale
mengevaluasi hasil stimulasi dengan melihat
Scale merupakan kristalisasi dan
beberapa parameter produktivitas sumur.
pengendapan mineral yang berasal dari hasil
2. Tinjauan Pustaka reaksi ion-ion yang terkandung dalam air
2.1 Kerusakan Formasi formasi, pembentukan scale dapat terjadi
Kerusakan formasi di lubang sumur ini didaerah tubing, perforasi dan formasi, scale
dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti dapat terbentuk selama produksi diakibatkan
aktifitas pengeboran, penyemenan, ataupun penurunan tekanan dan temperature disekitar
aktifitas-aktifitas dalam kegiatan produksi. lubang sumur dan scale dapat terjadi akibat
Kuantifikasi kerusakan formasi ini pada tercampurnya dua jenis air yang incompitable
umumnya disebut sebagai Skin. antara air formasi dengan air injeksi.
Adanya endapan scale pada komponen-
komponen tersebut diatas, dapat menghambat
aliran fluida baik dalam formasi, lubang sumur
maupun pada pipa-pipa di permukaan. Pada
matriks formasi, endapan scale akan
menyumbat aliran dan menurunkan
permeabilitas batuan. Sedangkan pada pipa,
hambatan aliran terjadi karena adanya
penyempitan volume alir fluida serta
Gambar 1. Efek factor skin penambahan kekasaran permukaan pipa bagian
(Chaves Rodrigues, 2007)
dalam, seperti yang terlihat pada Gambar 2.4.
Efek dari kerusakan formasi di sekitar
lubang sumur mengakibatkan kehilangan
tekanan tambahan di sekitar lubang sumur yang
berakibat pada penurunan Productivity Index
(PI) sumur tersebut. Sehingga laju aliran
minyak atau gas dari reservoir ke permukaan
akan mengalami penurunan laju produksi.
Salah satu penyebab kerusakan formasi akibat
Gambar 2. Ilustrasi pembentukan scale
(ratna permatasari, 2013)
2
2.3 Stimulasi Sumur Sasaran dari stimulasi ini adalah formasi
Metode stimulasi sumur yang sering produktif, karena itu karakteristik reservoir
digunakan yaitu, hydraulic fracturing, acid mempunyai pengaruh besar pada pemilihan
fracturing dan Matrix Acidizing, Dalam stimulasi. Karakteristik reservoir meliputi
prakteknya, hydraulic fracturing dilakukan batuan maupun fluida reservoir terutama
pada formasi produktif yang permeabilitas berpengaruh pada pemilihan fluida treatment
alaminya sangat kecil. Untuk acid fracturing baik pada acidizing maupun pada hydraulic
biasanya dilakukan pada formasi karbonat yang fracturing, faktor lain yang berpengaruh dalam
kaya akan batu gamping dan dolomit[17], stimulasi adalah jenis dan karakteristik dari
dengan rekahan alami dan permeabilitas yang mineral yang menyebabkan kerusakan formasi
besar[11]. 2.4 Matrix Acidizing pada Formasi
Sedangkan matrix acidizing lebih cocok Karbonat
dan efektif pada kondisi sumur yang secara Tujuan matrix acidizing pada batuan
alami rekah dan dalam kondisi normal, karbonat yaitu untuk menghilangkan efek dari
digunakan untuk mengatasi pengendapan kerusakan formasi dan membuat jalan alir
mineral diformasi didekat sumur yang fluida yang lebih konduktif atau sering disebut
mencegah aliran masuk kedalam sumur[5]. wormhole dengan cara melarutkan sebagian
Dalam prakteknya Gambar 3 menunjukan batuan, asam yang umum digunakan pada
perbedaan dari metode stimulasi diatas. formasi karbonat yaitu HCL (Hydrochlorid
Acid) dan Organic Acid. Reaksi asam pada
formasi karbonat dapat dilihat pada gambar
dibawah ini adalah:
Gambar 3. Ilustrasi stimulasi sumur minyak Gambar 4. Reaksi asam pada formasi karbonat
(Leong Van Hong dan Hisham Ben, 2018) (Petrom, 2012)
3
3. Metode Penelitian 3.4 Evaluasi Hasil Pengasaman
3.1 Pengumpulan Data Mengevaluasi hasil dari proses
Terdapat beberapa data yang diperlukan pengasaman merupakan sesuatu yang sangat
dalam melaksanan tahapan analisa kerusakan penting karena ini merupakan suatu penentuan
formasi dan proses stimulasi meliputi data dari berhasil atau tidaknya proses pengasaman.
reservoir, data sumur, data analisa air formasi Keberhasilan dari proses pengasaman ini
dan data produksi. Dalam data reservoir yang dijintau dari berberapa aspek diantaranya
diperlukan adalah data hasil tes sumur (well adalah nilai skin, nilai productivity index, nilai
test). Pada data sumur yang dibutuhkan laju produksi, dan kurva Inflow Perfromance
diantaranya adalah kedalaman sumur, tebal Relationship.
lapisan, diameter sumur, diameter casing, . Setelah itu, kemampuan produksi pada
diameter tubing, dan kedalaman perforasi. Pada Sumur X diramalkan dengan kurva IPR Future
data analisa air formasi dibutuhkan untuk sehingga dapat diketahui umur atau jangka
mengetahui potensi dari pengendapan scale waktu Sumur X setelah dilakukan stimulasi.
Untuk data produksi diperlukan untuk
4. Hasil dan Pembahasan
mendapatkan sejarah produksi sumur X.
4.1 Analisa Data Produksi
3.2 Analisa Penurunan Laju Produksi Berdasarkan data produksi Sumur X pada
Berdasarkan data sejarah produksi pada tahun 2018, dari 1 januari hingga 18 Juli,
sumur X, dapat diketahui bahwa adanya produksi sumur X masih dalam kategori
penurunan laju produksi yang signifikan, hal normal, akan tetapi pada 7 Juli dan 11 Juli 2018
itu mengindikasikan adanya kerusakan formasi produksi mengalami penurunan yang
atau formation damage. Setelah dianalisa signifikan dari sebelumnya, sehingga
bahwa terdapat endapan scale CaCO3 pada mengindikasikan terjadi permasalahan pada
Sumur X. sumur yang menghambat laju alirnya fluida.
3.3 Perencanaan Pengasaman Berdasarkan tes sumur diketahui harga faktor
Suatu proses perencanaan pengasaman skin sebesar 6.63, maka dapat disimpulkan
pada sumur ini yang bertujuan supaya bahwa sumur X ini mengalami formation
penginjeksian asam ke dalam lapisan formasi damage. Hal ini juga didukung dari sejarah
sesuai dengan yang diharapkan, adapun sumur X selama berproduksi yang memiliki
beberapa hal yang harus diperhitungkan untuk permasalahan scale. Permasalahan scale ini
suatu perencanaan dalam proses pengasaman telah dibuktikan dari analisa air formasi Sumur
yaitu penentuan volume injeksi asam dan X di laboratorium seperti yang disajikan pada
konsentrasi asam serta zat aditif yang tabel 3.
diperlukan.
4
4.2 Scale Index matrix acidizing, sebelum melakukan matrix
Setelah mengetahui data komposisi dari acidizing secara kualitas reservoirnya apakah
ion-ion yang terkandung dalam air formasi tepat dilakukan stimulasi dengan metode
yang terlampir pada Tabel 3. Untuk tersebut. Maka perlu dilakukan plot antara
menentukan adanya kecenderungan porositas dan permeabilitas pada gambar 5
terbentuknya scale CaCO3 pada formasi adalah
menghitung nilai Scale Index (SI), salah
satunya dengan menggunakan Metode Stiff dan
Davis. Namun terlebih dahulu menentukan
nilai Ionic Strength (µ) masing - masing ion
dengan mengalikan konsentrasi ion dengan
faktor konversinya, nilai K, nilai pCa2+, dan
pAlk. Maka akan didapat hasil parameter yang
terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil analisa air formasi
Parameter Nilai Satuan
Gambar 5. Reservoir quality vs Stimulation type
Ion Strenght 0.0491 mg/l (NeXt Schlumberger)
pH 7.59 Berdasarkan plot antara porositas
K 1.57 terhadap permeabilitas, bahwa matrix
pCa2+ 2.8 mg/l stimulation cocok digunakan pada Sumur X.
pAlk 1.95 mg/l Hal yang perlu diperhatikan juga sebelum
Scale Index melakukan stimulasi sumur adalah bahwa
1.25
pH - (K+pCa+pAlk) kandidat sumur masih mempunyai cadangan
(reserve) diatas 30% atau dapat dikatakan
Apabila nilai SI > 0 maka CaCO3
masih ekonomis untuk diproduksikan setelah
cenderung terendapkan, jika SI = 0 maka dilakukan stimulasi.
larutan jenuh dengan CaCO3, sedangkan
4.4 Perencanaan Matrix Acidizing
apabila SI < 0 maka endapan CaCO3 tidak akan
Pemilihian jenis asam dan konsentrasi dari
terbentuk asam sangat berpengaruh terhadap
4.3 Pemilihan Kandidat Stimulasi keberhasilan acidizing, konsentrasi 15% HCL
Berdasarkan data tes Sumur X didapat umumnya lebih sering digunakan, bagaimana
nilai skin sebesar 6.6 yang mengindikasikan pun semakin besar konsentrasi dari HCL dapat
adannya kerusakan formasi akibat scale digunakan untuk penetrasi lebih dalam
CaCO3. maka untuk memperbaiki kerusakan pembentukan wormhole. Selain itu temperatur
formasi tersebut perlu dilakukan stimulasi dari reservoir juga sangat mempengaruhi
5
pemilihan konsentrasi dari asam yang akan
digunakan, hal itu dapat dilihat pada gambar 6. Untuk menentukan banyak total volume
akhir yang nantinya akan diinjeksikan ke dalam
sumur X pada proses pengasaman ini dibagi
menjadi 3 tahap yaitu preflush, main acid, dan
overflush. Untuk setiap tahapan banyaknya
fluida baik itu asam maupun lainnya yang
diinjeksikan berbeda.
• Preflush, bertujuan untuk menghilangkan
endapan organik dan inorganik yang
terdapat pada lubang sumur dan perforasi,
mencegah timbulnya emulsi asam dengan
minyak pada saat diinjeksikan, juga
Gambar 6. Pemilihan konsentrasi asam membersihkan tubing agar asam mengalir
(UTC Pertamina)
dengan lancar dengan menginjeksikan fresh
Bottom hole temperature (BHT) pada sumur water dicampur dengan %KCL sebanyak 18
X adalah sekitar 120o F, maka konsentrasi asam bbl dengan pressure 1000 psi dan rate 1
yang tepat adalah sekitar >15 % BPM.
Kemudian sebelum melakukan matrix • Main acid, bertujuan untuk mengatasi
acidizing perlu dilakukan perhitungan BHP kerusakan formasi oleh endapan scale
rekah, tekanan injeksi maksimum, volume CaCO3. Asam yang digunakan adalah 20%
tubing, volume anulus dan juga volume total HCL dan ditambah zat aditif seperti
fluida dengan penetrasi sejauh 5 ft dari corrosion inhibitor, mutual solvent, de-
wellbore. emulsifier agent dengan total volume
sebanyak 48 bbl dengan tekanan injeksi
Tabel 2. Hasil Perhitungan Desain Acidizing
1796 psi dan rate 0.101 BPM
Parameter Nilai Satuan
• Overflush, bertujuan untuk membersihkan
Kapasitas Tubing 0.004 bbl/ft
sisa-sisa pengasaman dengan
Kapasitas Casing 0.039 bbl/ft
mendorongnya sampai menjauh dari critical
Kapasitas Anulus 0.036 bbl/ft
matrix dari perforasi. Umumnya
Volume Tubing 13.618 bbl menggunakan fresh water %KCL sebagai
Volume Anulus 4.378 bbl overflush fluidanya sebanyak paling tidak
Volume Displacement 17.998 bbl lebih dari volume displacement (18 bbl)
BHP Rekah 1999 psi ditambah besar volume pada asam di main
Tekanan Maksimal 1796 psi acid (48 bbl) + 10 bbl yaitu menjadi sekitar
Rate Injeksi Maksimal 0.122 bbl/menit
6
77 bbl dengan tekanan injeksi 1796 psi dan kerusakan (skin) dan flow efficiency,
rate 0.101 BPM sehingga kedua metode tersebut tepat
digunakan pada Sumur X ini.
4.5 Analisa Keberhasilan Acidizing
Kemudian dilakukan perbandingan
• Berdasarkan Permeabilitas dan Skin
kedua metode IPR tersebut terhadap IPR
Analisa keberhasilan acidizing observasi agar mengetahui metode IPR
berdasarkan harga permeabilitas dan skin mana yang tepat digunakan pada sumur
yang didapat menunjukan kenaikan ini. Dilihat pada Gambar 8, metode IPR
permeabilitas menjadi 36.88 mD dari Pudjo Sukarno memiliki selisih yang
20.33 mD dan skin mengalami penurunan paling mendekati dengan data observasi
harga dari S = 6.6 menjadi S = 0.75 sehinga metodenya tepat untuk digunakan
sehingga mengindikasikan bahwa kegiatan pada sumur ini.
acidizing ini berhasil. Maka berdasarkan kurva IPR Pudjo
• Berdasarkan Flow Efficiency Sukarno, laju produksi maksimum setelah
Flow Efficiency merupakan selisih acidizing mengalami kenaikan 57 % dari
antara tekanan statik reservoir terhadap 179 BFPD menjadi 307 BFPD. Hal ini
tekanan alir reservoir, dimana jika di menandakan bahwa kegiatan stimulasi
sekitar lubang formasi sumur tidak berhasil.
mengalami kerusakan terhadap besar • Berdasarkan Laju Produksi
penurunan sebenarnya. Analisa laju produksi setelah acidizing
Harga flow efficiency mengalami dilakukan untuk mengetahui besarnya laju
kenaikan dari FE = 0.5 menjadi FE = 0.89, produksi yang didapatkan setelah
FE dipengaruhi oleh harga skin dimana dilaksanakan program matrix acidizing
harga skin yang semakin kecil akan pada Sumur X. Indikator keberhasilan
menghasilkan harga FE yang semakin dapat dilihat dari laju produksi gross yang
besar. Maka dari itu dapat disimpulkan dihasilkan. Keberhasilan acidizing dapat
bahwa kegiatan acidizing berhasil dikatakan berhasil jika laju produksi
berdasarkan dari indikator kenaikan flow meningkat dibandingkan laju produksi
efficiency (FE) sebelum acidizing. Operating point
• Berdasarkan Kurva IPR sebelum dan setelah acidizing dapat dilihat
Analisa kurva Inflow Performance pada Gambar 9. Setelah dilakukan matrix
Relationship dibuat menggunakan acidizing, besarnya laju produksi
persamaan Pudjo Sukarno dan Harrison. mengalami kenaikan menjadi 243 BFPD
Kedua metode tersebut merupakan dari sebelumnya 140 BFPD atau
persamaan IPR yang memperhitungkan mengalami kenaikan sekitar 57 %.
7
4.6 Analisa Kurva IPR Future IPR Pudjo Sukarno, dan yang paling
Inflow Performance Relationship utama adalah kenaikan laju produksi,
Future (IPRF) merupakan perhitungan berikut summary dari parameter
untuk memperkiraan kurva IPR dimasa yang keberhasilan sebelum dan sesudah
akan datang. dilakukan stimulasi
Dengan anggapan penurunan tekanan Matrix Acidizing
Parameter Unit
pertahunnya adalah 5 %, tidak terjadi Sebelum Setelah
permasalahan sumur kedepannya, dan Pemeabilitas 20.33 36.88 mD
Skin Factor 6.6 0.75
menggunakan komponen outflow saat ini,
FE 0.5 0.89
Sumur X masih mampu untuk berproduksi
Q maksimal 179 307 STB/D
selama 2-3 tahun kedepan sampai
Q Operating 140 243 STB/D
produksinya sama atau kurang dari sebelum
dilakukan stimulasi. Untuk lebih jelasnya Kenaikan laju produksi sebesar 57 %
dapat dilihat pada gambar 8. dari 140 STB/Day menjadi 243 STB/day,
5. Kesimpulan sehingga dapat dikatakan bahwa kegiatan
1. Penurunan laju produksi pada Sumur X stimulasi ini berhasil
dikarenakan adanya kerusakan formasi 6. Saran
yang diakibatkan oleh endapan scale
1. Sebaiknya dilakukan analisis rutin
CaCO3.
mengenai permasalahan scale CaCO3
2. Untuk melarutkan endapan scale CaCO3
tersebut dilakukan stimulasi sumur pada saat laju produksi mulai turun agar
dengan metode matrix acidizing dengan tidak terjadi penurunan produksi yang
menggunakan fresh water %KCL (18 terlalu signifikan, dapat juga dilakukan
bbl) pada tahapan preflush, kemudian dengan menganalisa penurunan Dynamic
pada tahapan main acid, diinjeksi larutan
Fluid Level.
HCl 20 % (48 bbl) yang didalamnya
2. Sebaiknya kurva IPR Future dijadikan
tercampur zat aditif. Terakhir, pada
sebagai acuan dalam penjadwalan
tahapan overflush dilakukan
displacement dengan fresh water %KCL kegiatan stimulasi, maka perlu dilakukan
sebanyak 77 bbl. stimulasi kembali di tahun ke-2 atau ke-3
3. Parameter acuan dari keberhasilan setelah dilakukan acidizing, karena pada
acidizing dapat dilihat dari kenaikan tahun tersebut produksi sudah mengalami
harga permeabilitas, penurunan skin
penurunan seperti sebelum dilakukan
factor, Kenaikan harga flow efficiency,
stimulasi pada saat ini
kenaikan rate maksimum berdasarkan
8
DAFTAR PUSTAKA [9] Houseworth JE (2014) Advanced well
stimulation technologies in California:
[1] Beggs, H., Dale. 2003, Production
anindependent review of scientific and
Optimization Using Nodal Analysis second
technical information, executive summary.
edition, Tulsa, Oklahoma: OGCI and
California Council on Science and
Petroskills Publication.
Technology. 978-1-930117-94
[2] Brown, Kermit E. 1977, The Technology of
[10] Milligan M (1994) Well stimulation using
Arctificial Lift Volume 1. University of
acids. Petroleum Society of Canada,
Tulsa: Oklahoma
Alberta
[3] Cipolla CL (2003) Overview: well
[11] Petrom. 2012. Stimulation by Acidizing.
stimulation. Society of Petroleum
OMV Eksploration Production
Engineers, Dallas
[12] Schechter RS (1992) Oil well stimulation.
[4] Crowe, Curtis dkk. 2012, Trend In matrix
Prentice Hall, Englewood Cliffs
Acidizing. University of Tulsa: Oklahoma
[13] Shadrina, Nurus. 2019. Evaluasi Hasil
[5] Economides, Michael J., Hill, A. Daniel.,
Mini Acid Fracturing Terhadap Sumur X
Ehlig-Economides, Christine. 2009.
Lapangan Y [Skripsi]. Bekasi: Fakultas
Petroleum Production System. Venezuela.
Teknik dan Desain. Institut Teknologi dan
Prentice Hall Petroleum Engineering
Sains Bandung
Series.
[14] Siswoyo, K. E. (2005). Mekanisme
[6] Hasaais, Huner Karim dkk. 2018. Matrix
Pembentukan dan Jenis Scale.
Acidizing for Carbonate Formation.
Yogyakarta: Jurusan Teknik Perminyakan.
International Journal of Engineering and
UPN Veteran Yogyakarta
Techniques. Volume 4 Issue 2
[15] Sobari, Robi. 2019. Evaluasi Keberhasilan
[7] Herawati, Ira dkk. Studi Kasus Lapangan
Stimulasi Sumur Dengan Metode Matrix
Falih. Journal of Earth Energy
Acidizing Pada Sumur X Lapangan Y
Engineering. Vol.4 No. 2
Untuk Meningkatkan Laju Produksi
[8] Hon, Leong Van dkk. 2018. A preliminary
[Skripsi]. Bekasi: Fakultas Teknik dan
screening and characterization of suitable
Desain. Institut Teknologi dan Sains
acids for sandstone matrix acidizing
Bandung
technique: a comprehensive review.
[16] Upstream Technologi Center, Analisa
Journal of Petroleum Exploration and
Kerusakan Formasi. Pertamina: Jakarta
Production Technolog.9:753-778
9
[17] Upstream Technologi Center, Pengenalan
Matrix Acidizing. Pertamina: Jakarta
[18] Williams BB, Gidley JL, Schechter RS.
(1979) Acidizing fundamentals, vol 8.
Society of Petroleum Engineers, United
States
10
LAMPIRAN
1. Daftar Gambar
Gambar 7. Histori produksi Sumur X sebelumdan sesudah stimulasi
Perbandingan kurva IPR
1600
1400
1200
1000
Pwf, Psi
800
600
400
200
0
0.00 100.00 200.00 300.00 400.00
Q, STB/Day
Before"observasi" Before "Harrison"
Before "Pudjo.S" After "Observasi'
After Harisson After"Pudjo.S"
Gambar 8. Perbandingan kurva IPR
11
IPR Pudjo Sukarno
1600
1400
1200
1000
Pwf, psi
800
600
400
200
0
0 50 100 150 200 250 300 350
Q, STB/Day
Sebelum Stimulasi Setelah Stimulasi Outflow (ID :1.995")
Gambar 9. Kurva IPR Pudjo Sukarno vs TPR
IPR FUTURE
1600
1400
1200
1000
Pwf, Psi
800
600
400
200
0
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340
Q, STB/Day
Present 2019 2020 2021 2022 Outflow (ID: 1.995")
Gambar 8. kurva IPR Future
12
2. Daftar Tabel
Tabel 3. Hasil Perhitungan Desain Acidizing
Ion Mg/l Konversi (10-5) Product (10-5)
Na+ Natrium 877.8794 2.2 1,931
Ca2+ Calsium 60 5.8 348
Mg2+ Magnesium 6.08 8.2 50
Ba Barium 32 1.5 48
Cl- Chlorida 1356.846 1.4 1,900
SO42- Sulfat 0 2.1 0
CO3- Karbonat 26.988 3.8 103
HCO3- Bikarbonat 660.6178 0.8 528
Tabel 4. Laju Produksi terhadap Harga Pwf Anggapan Sebelum Stimulasi
Observasi Harrison Pudjo Sukarno
Pwf (Psi) Q (BFPD) Pwf (Psi) Q (BFPD) Pwf (Psi) Q (BFPD)
1423 0.00 1423 0.00 1423 0.00
1232 42.54 1232 51.12 1232 45.73
1032 81.30 1032 91.05 1032 84.77
832 114.14 832 126.25 832 116.23
632 141.06 632 157.29 632 140.84
432 162.06 432 184.66 432 159.14
232 177.15 232 208.79 232 171.51
0 187.24 0 230.07 0 178.68
Tabel 5. Laju Produksi terhadap Harga Pwf Anggapan Sesudah Stimulasi
Observasi Harrison Pudjo Sukarno
Pwf (Psi) Q (BFPD) Pwf (Psi) Q (BFPD) Pwf (Psi) Q (BFPD)
1423 0.00 1423 0.00 1423 0
1232 76.06 1232 108.56 1232 86.56
1032 145.36 1032 177.29 1032 156.42
832 204.08 832 234.18 832 210.27
632 252.21 632 281.29 632 250.87
432 289.77 432 320.29 432 279.98
232 316.75 232 352.57 232 298.67
0 334.78 0 379.30 0 307.81
13
3. Daftar Persamaan
• Persamaan Skin Sesudah Stimulasi
0.00708 x k x h x (Pr − Pwf) 0.472 x re
S= − (Ln )
Q x μ x Bo rw
• Perhitungan Desain Pengasaman
1. Menentukan Kapasitas Tubing, Casing dan Anulus
(ID Tubing)2
Kapasitas Tubing : 1029.4
(ID Casing)2
Kapasitas Casing : 1029.4
(ID Casing)2 −(ID Tubing)2
Kapasitas Anulus : 1029.4
2. Menentukan Volume Tubing dan Anulus dan Displacement
Volume Tubing : (EOT x Kapasitas Tubing)
Volume Annulus : (Perfo to EOT x Kapasitas Anulus)
Volume Displacement: Volume Tubing + Volume Annulus
3. Menentukan tekanan dasar sumur yang tidak akan menyebabkan fracture.
BHPrekah : ([Link] x Depth) – 25
4. Menentukan tekanan maksimum (Pmaks) di permukaan untuk dapat injeksi dibawah
fracture pressure.
Pmaks : ((frac. grad – 0.052 x fluid grad) x Depth) –25
5. Menentukan harga injeksi maksimal atau debit maksimum laju injeksi asam.
Qmax : (4.918 x 10-6 k h (Gf x D – Pr)) / (µ ln (re/rw))
Sebagai safety margin, maka nilai Qmax tersebut dikurangi 10%
Qi : 0.9 x Qmax
• Perhitungan Volume Asam
Pada perhitungan volume asam yang akan diinjeksikan, cukup untuk area radius
penetrasi sebesar 3 ft – 5 ft di sekeliling wellbore (critical matrix area).
𝑣 = 7.4805 𝑥 𝜑 𝑥 𝜋 𝑥 ℎ (𝑟𝑝2 − 𝑟𝑤2 )
14