0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan51 halaman

Analisis Perkuatan Struktur Gedung

Dokumen ini membahas berbagai penelitian terkait perencanaan dan evaluasi struktur bangunan, khususnya dalam konteks penambahan lantai dan penggunaan metode desain yang sesuai dengan standar SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan ulang dengan metode yang tepat dapat mengurangi jumlah tulangan dan meningkatkan daktilitas struktur, serta memastikan bahwa struktur dapat menahan beban gempa. Selain itu, dokumen juga menjelaskan pentingnya analisis beban dan sifat mekanis material dalam perencanaan struktur atap baja.

Diunggah oleh

nofi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan51 halaman

Analisis Perkuatan Struktur Gedung

Dokumen ini membahas berbagai penelitian terkait perencanaan dan evaluasi struktur bangunan, khususnya dalam konteks penambahan lantai dan penggunaan metode desain yang sesuai dengan standar SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan ulang dengan metode yang tepat dapat mengurangi jumlah tulangan dan meningkatkan daktilitas struktur, serta memastikan bahwa struktur dapat menahan beban gempa. Selain itu, dokumen juga menjelaskan pentingnya analisis beban dan sifat mekanis material dalam perencanaan struktur atap baja.

Diunggah oleh

nofi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Pada penelitian Andryan Mistahfirul dkk (2018), Redesain struktur dengan

menggunakan metode SPRMK bertujuan agar nantinya struktur memiliki tingkat

daktilitas yang mampu menahan beban gempa. Hasil dari redesain menunjukkan

bahwa dengan menggunakan dimensi balok dan kolom struktur yang sama dengan

desain sebelumnya, Pada penulangan kolom, perencanaan dengan SNI 2847:2013

menghasilkan tulangan longitudinal 47,9% lebih sedikit, namun tulangan

transversal yang dihasilkan 25,3% lebih banyak dibandingkan perencanaan

dengan SNI 2847:2002. Pada penulangan balok, perencanaan dengan SNI

2847:2013 menghasilkan tulangan longitudinal 9,1% lebih sedikit, namun

tulangan transversal yang dihasilkan 36,7% lebih banyak dibandingkan

perencanaan dengan SNI 2847:2002. Perencanaan dengan SNI 2847:2013,

menghasilkan total tulangan kolom yang 27,2% lebih sedikit, dan total tulangan

balok yang 2,4% lebih banyak, dibandingkan dengan perencanaan sebelumnya.

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Taufikkurrahman dan Lila K.

Wardani pada tahun 2021, membahas tentang perencanaan struktur gedung atas

akibat penambahan ruang kelas baru dengan menggunakan beton bertulang.

Desain struktur dilakukan meliputi desain komponen struktur bangunan yang

meliputi plat lantai, balok, kolom dan fondasi. Dalam perencanaan ini mengacu

5
6

pada peraturan SNI 2847:2019 untuk beton struktural, SNI 1726:2019 untuk

analisis gempa dan SNI 1727:2020 untuk pembebanan.

Afif Navir Refani, dkk (2015), dalam jurnal aplikasi teknik sipil yang

berjudul evaluasi struktur bangunan gedung beton bertulang berusia 50 tahun

membahas penilaian gedung beton bertulang berusia 50 tahun berdasarkan standar

perencanaan bangunan terbaru, dalam perencanaanya digunakan metode SRMPK,

hasil dari pengamatan menunjukkan bahwa bangunan masih aman untuk menahan

beban gravitasi, namun bangunan ini tidak memenuhi persyaratan untuk struktur

rangka pemikul momen khusus.

Menurut Farida Cut Defryanti dkk (2021), Pada penelitian yang berjudul

analisis stuktur penambahan lantai gedung, dilakukan analisis struktur bangunan

eksisting untuk dapat diketahui pengaruh dan kemampuan struktur pada saat

penambahan lantai gedung. Metode yang digunakan yaitu pembesaran dimensi

dan penambahan tulangan pada elemen struktur, mengacu pada data primer dan

data sekunder. Hasil penelitian ini yaitu adanya pembesaran dimensi balok 30/40

menjadi balok 50/60, kolom 30/40 menjadi 50/60. Penambahan tulangan

dilakukan karena perhitungan tidak memenuhi, pada balok daerah tumpuan

tulangan ditambahkan 10 Ø 16, balok daerah lapangan tulangan ditambahkan 8 Ø

16, sedangkan pada kolom ditambahkan jumlah tulangan 14 Ø 16.

Menurut Reinard Sutanto (2018), Pada persyaratan struktur, struktur yang

digunakan harus mampu menerima beban-beban yang bekerja baik beban vertikal

maupun lateral yang disebabkan oleh gempa serta kestabilan struktur dalam kedua

arah tersebut. Metode yang digunakan yaitu analisa struktur SPRMK dengan
7

acuan SNI 2847-2013. Desain perencanaan balok B1 450 x 700, B2 350 x 500 ,

B3 350 x 600, B4 300 x 450. Desain perencanaan kolom K1 = 800 x 800.

Berdasarkan Penelitian Agung Prabowo dan Muhamad Lutfi (2020),

dengan judul analisis struktur bangunan gedung sekolah akibat penambahan ruang

kelas baru. Penelitian dilakukan dengan pengujian mutu beton menggunakan

Hammer Test didapatkan hasil 20,75 Mpa, kemudian dilakukan permodelan

analisis menggunkan software Etabs V9.5.0 dan perhitungan manual berdasarkan

SNI 03-2847-2002, SNI 03-1726-2012 dan SNI 1729-2015. Hasil analisis struktur

eksisting dengan beban tambahan ruang kelas baru, elemen struktur balok

mengalami over strength atau tidak dapat menahan beban tambahan ruang kelas

baru, maka dilakukan perhitungan perkuatan struktur menggunakan metode

concret jackting dengan tebal 10 cm dan jumlah tulangan longitudinal 5D16

sengkang Ø8-100 serta metode perkuatan dengan profil baja WF [Link]

Pada penelitian Chica Oktavia dkk (2018), Redesain gedung asimetris

pada sistem online universitas terbuka. Analasis konfigurasi tidak beraturan

struktur gedung dilakukan untuk mengetahui kinerja gedung terhadap simpangan

antar tingkat akibat beban gempa dan perhitungan pembebanan dilakukan untuk

menghasilkan struktur yang lebih optimal dan efisien. Simpangan antar tingkat

yang terjadi pada gedung akibat pembebanan gempa adalah tidak aman karena

simpangan yang terjadi melebihi simpangan izin yang telah diatur dalam SNI

1726-2019 Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung Ketahanan

Gempa sehingga untuk menambah kekakuan struktur dan memperkecil simpangan

yang terjadi peneliti menempatkan struktur kolom tambahan pada desain.


8

Menurut Wachid Hasyim (2015), dalam penelitiannya yang berjudul

analisa kapasitas dan desain perkuatan kolom bulat struktur gedung akibat

penambahan lantai gedung. Hasil uji kuat tekan beton dengan Hammer Test

menghasilkan beberapa nilai kuat tekan beton rata – rata dengan nilai dibawah

standar yaitu sebesar 16 Mpa di kolom K2. Kegagalan yang terjadi pada kolom

K2 harus diberi perkuatan, desain perkuatan menggunakan CRFP yang

diaplikasikan secara menyeluruh dan parsial dengan lebar dan jarak masing –

masing sebesar 100 mm dan 400 mm.

Menurut Muhammad Rifqi dkk (2023), Pada penelitian yang berjudul

analisis perkuatan stuktur akibat perubahan fungsi ruang dan penambahan jumlah

lantai. Analisis struktur bangunan eksisting setelah penambahan jumlah lantai

menggunakan program ETABS dan dihitung kembali secara manual terhadap

pemenuhan syarat – syarat yang ditetapkan dalam peraturan. Metode yang

digunakan yaitu pembesaran dimensi dan penambahan tulangan pada elemen

struktur, mengacu pada data primer dan data sekunder. Hasil penelitian ini yaitu

adanya pembesaran dimensi balok dari 200/400 menjadi balok 400/500 dengan

tulangan eksisting balok 6D16 tulangan geser Ø10-(150-200) diperkuat dengan

menambahkan tulangan 6D19 tulangan geser Ø10-(90-180), dan kolom dari

200/600 menjadi 400/800 dengan tulangan geser Ø10-(100-200) diperkuat dengan

menambahkan tulangan 14D13 tulangan geser D10-(70-200)

Menurut Hari Subagio dkk (2021), Pada penelitiannya yang berjudul

evaluasi penambahan jumlah lantai pada gedung perkuliahan fakultas teknik

universitas jember, menurutnya adanya penambahan ruang dan lantai pada suatu
9

gedung dengan lahan terbatas akan mengakibatkan kerusakan struktur, kegagalan

struktur yang dimaksud adalah rusaknya struktur balok dan kolom. Metode yang

digunakan yaitu program bantu untuk permodelan bangunan gedung sehingga bisa

diketahui gaya-gaya dalam yang dibutuhkan untuk mendesain struktur tambahan.

Hasil evaluasi diketahui gedung eksisting mampu menahan perencanaan akibat

penambahan lantai, yaitu nilai simpangan antar lantai terbesar adalah 10.2 mm

yang masih di bawah simpangan ijin (31.5 mm), dan nilai integritas struktur

sebesar -0.97 (syarat -1 < -0.97 < 1).

Evaluasi kekuatan struktur pada bangunan gedung tujuh lantai komplek

Gedung H Universitas Dian Nuswantoro mendemonstrasikan dampak rendahnya

mutu beton. Mutu beton rencana dari K250 turun menjadi K150 akibat rendahnya

mutu pengawasan terutama pada lantai 1 sampai 3. Dalam evaluasi kekuatan

struktur gedung menggunakan metode Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus

(SRPMK), dan menggunakan konsep strong column weak beam. Hasil penelitian

diketahui Setelah dilakukan peninjauan perhitungan dengan mutu beton K-150

dan K-300, disimpulkan bahwa semua kolom kuat, ditunjukkan dengan hasil

stress ratio kurang dari 1. Stress ratio maksimum kolom bangunan tersebut, adalah

0,78 pada kolom dimensi 50x50 cm, dengan tulangan yang terpasang 16D22. (Nur

Fahria.R.D, dkk, 2016).

Menurut Ricky Januar Honarto dkk, (2019), dalam penelitian yang

berjudul perencanaan bangunan beton bertulang dengan SRMPK di kota manado,

mengatakan bahwa Perencanaan gedung bertingkat di daerah rawan gempa harus

menggunakan salah satu dari beberapa sistem portal, yaitu dinding geser, bracing
10

dan sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK). Beban mati dan beban

hidup mengacu pada SNI 1727-2013 tentang beban minimum untuk perancangan

bangunan gedung dan struktur lain. Beban gempa menggunakan respons spektrum

dengan mengacu pada SNI 1726-2012 tentang tata cara perencanaan ketahanan

gempa untuk struktur bangunan gedung dan non-gedung. Analisis struktur dan

pemodelan menggunakan bantuan program ETABS 2016. Hasil analisis dan

desain menunjukan dimensi-dimensi kolom, balok, plat, dan pilecap telah

memenuhi kriteria penampang untuk SRPMK, dimana syarat strong column weak

beam telah terpenuhi. Simpangan yang terjadi lebih kecil dari simpamgan

maksimum yang diijinkan, dimana simpangan terbesar berada di lantai 5 dengan

nilai ∆ (60,2860mm) lebih kecil dari ∆a (90mm). Rasio penulangan kolom, balok

dan plat telah memenuhi persyaratan penulangan dimana ρ kolom didapat sebesar

1,68% s/d 2,43%, ρ balok didapat sebesar 1,4% s/d 6%, ρ slab didapat sebesar

3,8%, dan ρ pilecap sebesar 2% s/d 5%

Menurut Sari dkk (2021) dalam penelitian evaluasi struktur kolom gedung

2 lantai eksisting terhadapa rencana penambahan beban 2 lantai di atasnya dan

beban yang dimodelkan 3D dengan bantuan program ETABS. Metode yang

digunakan yaitu system rangka pemikul momen khusus. Hasil analisis

menunjukkan bahwa struktur kolom eksisting tidak mampu menahan beban

grafitasi akibat penambahan 2 lantai di atasnya, serta simpangan antar lantai

melebihi batas ijin. Dengan demikian diperlukan upaya perkuatan struktur kolom

jika akan dilakukan penambahan beban 2 lantai di atasnya.


11

Berdasarkan penelitian Fadila Nur Rohmah dkk (2023), yang berjudul

perencanaan ulang struktur atas gedung menara 17 pwnu jawa timur. Metode yang

digunakan dalam perencanaan ulang gedung ini yaitu metode kuantitatif dengan

menggunakan kombinasi system rangka pemikul momen khusus SRMPK.

Pemodelan elemen struktur menggunakan software robot structural analysis

professional (RSAP), Desain struktur dilakukan meliputi desain komponen

struktur bangunan yang meliputi pelat, balok, kolom, tangga dan shear wall.

Dalam perencanaan ini mengacu pada peraturan SNI 2847:2019 untuk beton

struktural, SNI 1726:2019 untuk analisis gempa dan SNI 1727:2020 untuk

pembebanan. Hasil dari perencanaan ulang struktur adalah sebagai berikut : Pelat

atap dengan tebal 120 mm penulangan lapangan arah x dan y P10-150,

penulangan tumpuan arah x dan y P10-150. Balok induk B1 400/600 mm. Balok

induk B2 300/450 mm. Balok anak B3 250/300 mm. Kolom K1 1000/1000 mm.

Berdasarkan Okky Hendra Hermawan dkk (2021), yang berjudul redesain

perencanaan gedung trasa mart slawi menggunakan struktur beton bertulang.

metode yang digunakan dalam perencanaan ulang gedung ini yaitu metode

kombinasi system rangka pemikul momen khusus SRMPK. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui bentuk desain ulang dan seberapa besar kekuatan

struktur beton bertulang tersebut. Hasil dari perencanaan ulang struktur adalah

Pada perhitungan balok tulangan longitudinal B1 (35x60) diperoleh hasil yang

sama pada struktur yaitu Ø 8 - 250 pada tumpuan (1/4L) dan Ø 8 - 450 pada

bentang tengah (1/2L), pada perhitungan kolom tulangan mempanjang K1

(50x50) didapatkan hasil yang sama untuk semua struktur yaitu 16D16,
12

2.2 Dasar Teori

2.2.1 Perencanaan Struktur Rangka Atap Baja

Struktur atap merupakan salah satu bagian penting dari sebuah bangunan

yang memiliki fungsi utama dalam menahan dan mengalirkan beban-beban yang

berasal dari atap itu sendiri. Rangka atap, yang berfungsi untuk menopang beban

dari bahan penutup atap, biasanya terdiri dari susunan balok-balok yang dapat

terbuat dari berbagai material seperti kayu, bambu, atau baja, yang disusun secara

vertikal dan horizontal. Susunan rangka atap ini tidak hanya berperan dalam

menahan beban, tetapi juga dapat menghasilkan lekukan pada permukaan atap,

baik itu jurai dalam maupun luar, serta menciptakan berbagai bentuk atap yang

berbeda sesuai dengan desain arsitektur yang diinginkan.

Konstruksi atap berbentuk limas digunakan profil WF BJ 50. Analisis

beban atap diperhitungkan terhadap beban mati dan beban hidup. Beban mati

meliputi berat sendiri, rangka dan penutup atap, sedangkan beban hidup terdiri

dari orang yang bekerja dan alat kerja. Analisis pembebanan berdasarkan

Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Gedung. Sedangkan analisis gaya

batang kuda-kuda dengan analisis tak tentu menggunakan program SAP2000.

Menurut SNI 1729–2020 tentang tata cara perencanaan struktur baja untuk

bangunan gedung Sifat mekanis baja struktural yang digunakan dalam

perencanaan harus memenuhi persyaratan minimum, Tegangan Leleh (fy = 240

MPa) dan Tegangan Putus (fu = 370 MPa).

Sifat-sifat mekanis lainnya baja struktural untuk maksud perencanaan

ditetapkan sebagai berikut : Modulus elastisitas (E) = 200.000 MPa Modulus


13

geser (G) = 80.000 MPa Nisbah poisson (μ) = 0,3 Koefisien pemuaian (á) = 12 x

10 -6 / 0C.

Dalam Metode LRFD tidak diperlukan analisa probabilitas secara penuh,

terkecuali untuk situasi- situasi tidak umum yang tidak diatur dalam peraturan.

Ada beberapa tingkatan dalam desain probabilitas. Metode Probabilitas Penuh

(Fully Probabilistic Method), merupakan tingkat III dan merupakan cara analisa

yang paling kompleks. Tingkat II dalam desain Probabilitas dinamakan metode

First-Order Second Moment (FOSM) yang menggunakan karakteristik statistik

yang lebih mudah dari tahanan dan beban.

Metode ini mengasumsikan bahwa beban Q dan tahanan R saling bebas

secara statistik.

Perencanaan struktur rangka atap baja terdapat dua komponen penting

yaitu gording dan kuda – kuda. Kedua komponen ini akan direncanakan mengacu

pada teori dasar yang dikutip dan akan diuraikan sesuai tahapan dan urutan

masing – masing perencanaan.

[Link] Perencanaan Gording

Gording merupakan sebagai pengikat yang menghubungkan antar kuda –

kuda. Dalam perencanaan struktur bangunan gedung, penulis berpedoman pada

peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia. Dalam perencanaan gording

menurut setiawan agus (2008) besar beban yang bekerja pada suatu struktur di

atur oleh peratuan pembebanan yang berlaku, sedangkan masalah kombinasi dari

beban – beban yang bekerja telah diatur dalam SNI 1729 - 2020 pasal 6.2.2.

Dalam perencanaan gording ada beberapa langkah yaitu perhitungan momen


14

akibat pembebanan kontrol terhadap tegangan dan lendutan penjelasannya sebagai

berikut :

1) Momen yang terjadi akibat pembebanan

Untuk menghitung momen yang terjadi akibat pembebanan dengan

mengacu dari perencanaan struktur baja dengan metode LRFD maka

gording dapat dihitung dalam tahapan persamaan berikut :

a. Pembebanan akibat beban mati

Untuk pembebanan akibat beban mati pada gording dapat ditinjau

sesuai persamaan pada gambar 2.1 dibawah ini.

Sumber : Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD,


Setiawan Agus 2008

Gambar 2.1 Gording Kanal (Akibat Beban Mati)

Dari gambar 2.1 diatas dapat diketahui arah – arah beban dan momen.

Beban dan momen pada gording dapat diketahui dengan persamaan

sebagai berikut.

Beban pada sumbu x, qx = q cos α ...................................................... (01)

Beban pada sumbu y, qy = q sin α……….. ........................................ (02)

1 2
Momen pada sumbu x, Mx = 8 q ............................................. (03)

1 2
Momen pada sumbu y, My = qy . ............................................ (05)
8
15

Dari persamaan diatas nantinya dapat menemukan hasil dari momen –

momen pada gording.

b. Pembebanan akibat beban hidup

Untuk pembebanan akibat beban hidup pada gording dapat ditinjau

sesuai persamaan pada gambar 2.2 dibawah ini.

Sumber : Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD,


Setiawan Agus 2008
Gambar 2.2 Gording kanal (Akibat Beban Hidup)

Dari gambar 2.2 diatas dapat diketahui beban hidup diambil 100 kg

Adapun untuk menentukan beban dan momen pada gording dengan

persamaan sebagai berikut.

Beban pada sumbu x, Px = P cos α. .................................................... (06)

Beban pada sumbu y, Py = P sin α ...................................................... (07)

1
Momen pada sumbu x, Mx = 4 P ............................................ (08)

1
Momen pada sumbu y, My = Py ............................................ (09)
4

Momen-momen akibat beban hidup merata q, dan terpusat P diambil

yang berpengaruh terbesar . (Akibat q atau akibat P)

c. Beban angin

Tekanan angin, Qw = 0,25 kN/m’ untuk bangunan jauh 5 km dari


16

pantai, Qw = 0,40 kN/m’ untuk daerah 5 km dekat dari pantai. Untuk

gedung tertutup, berdasarkan PPPURG 1987 dihitung koefisien angin

sebagai berikut.

Sumber: PPURG 1987

Gambar 2.3 Koefisien Beban Angin

Dari gambar 2.3 diatas dapat diketahui koefisien angina tekan dan

angina hisap. Perhitungan koefisien angin pada beban angin dapat

ditentukan menggunakan persamaan berikut.

Koefisien angin tekan, Ct = (0,02 x 40 o ) – 0,4 = 0,4 ...................... (10)

Koefisien angin tekan, Ch = - 0,4 = 0,4.............................................. (11)

Dari persamaan diatas akan menemukan hasil dari perhitungan

koefiesien angin pada beban angin.

2) Kontrol terhadap tegangan masalah puntir maka Mny dapat dibagi 2

Untuk struktur berpenampang I dengan rasio bf/d ≤ 1,0 dan merupakan

bagian dari struktur dengan kekangan lateral penuh maka harus dipenuhi

persyaratan seperti pada SNI 1729 :2020 pasal 11.3.1, untuk menghitung

kontrol tegangan dapat dilihat pada rumus sebagai berikut.

u uy
[ ] [ ] ............................................................ (12)
b. p b. py
17

Dari persamaan diatas didapat kontrol terhadap tegangan masalah puntir

nantinya akan digunakan dalam perhitungan perencanaan atap baja WF.

[Link] Perencanaan Kuda – Kuda

Kuda – kuda baja WF merupakan sebuah kerangka utama pada atap

bangunan yang terbuat dari material profil baja WF, yakni Wide Flange yang

mempunyai kekuatan tekan serta tarik yang cukup tinggi. Dalam perencanaan

kuda kuda baja WF perlu dilakukan perhitungan kestabilitasannya yang mencakup

stabilistas batang tekan dan batang lentur. Agar terjamin kestabilitasannya pada

batang tekan harus memperhatikan persamaan berikut :

1) Stabilitas terhadap lokal

Suatu penampang harus memiliki kestabilan dalam menghadapi

kemungkinan tekuk lokal. Kemampuan suatu balok harus stabilitas

tergantung pada ukuran kelangsingan masing-masing elemen pelatnya.

Batasan kelangsingan pelat sayap dan badan dalam stabilitas terhadap

tekuk lokal dengan persamaan sebagai berikut.

170 1680
λp = dan λ p = ........................................................................... (13)
√fy √fy

λf = dan λw = .............................................................................. (14)

Dari persamaan diatas dapat diketahui stabilitas terhadap lokal yang

didapatkan pada batasan kelangsingan pelat sayap dan badan masing –

masing nantinya akan digunakan dalam perhitungan perencanaan atap baja

WF sesuai dimensi yang telah dihitung.


18

2) Kapasitas momen nominal

Dalam desain plastis, kapasitas momen yang diperhitungan yaitu kapasitas

momen plastis, sehingg kita menggunakan modulus plastisitas penampang.

Berdasarkan perhitungan stabilitas baik terhadap tekuk lokal maupun

lateral, penampang memenuhi untuk dihitung secara plastis dengan

persamaan seperti berikut :

a. Modulus plastis

Zx = ( b x tf ) x ( h – tf ) + ( tw x ( h/2 – tf ) 2 ) ............................... (15)

b. Momen ultimate

Dari persamaan diatas dapat diketahui modulus plastis dan momen

ultimate yang di peroleh dari hasil perhitungan dengan bantuan program

SAP 2000 v21.

3) Desain balok terkekang lateral

Tahanan desain balok terkekang lateral dalam desain LRFD harus

memenuhi persyaratan berikut.

Φb . Mn > Mu ............................................................................................ (16)

Dari persamaan dapat diketahui bahwa dimensi WF harus memenuhi

syarat. Dalam perhitungan tahanan momen nominal dibedakan antara

penampang kompak, tak kompak dan langsing, Perbedaan ini sangat

relevan karena masing-masing jenis penampang memiliki karakteristik

struktural yang memengaruhi kemampuannya dalam menahan momen

seperti halnya saat membahas batang tekan. Batasan penampang kompak,

tak kompak dan langsing sebagai berikut :


19

a. Penampang kompak :  < p .......................................................... (17)

b. Penampang tak kompak : p <  < r ............................................. (18)

c. Langsing :  > r .............................................................................. (19)

Dari rumus diatas dapat ditentukan penampang kompak atau tak kompak.

Tahanan momen nominal penampang kompak dan tak kompak dapat

ditinjau dalam persamaan berikut :

a. Penampang kompak

Tahanan momen nominal untuk balok terkekang lateral dengan

penampang kompak sebagai berikut.

Mn = Mp = [Link] .................................................................................. (20)

b. Penampang tak kompak

Tahanan momen nominal untuk balok terkekang lateral dengan

penampang tak kompak pada saat  = r sebagai berikut.

Mn = Mr = (fy – fr) . S .......................................................................... (21)

Persamaan diatas digunakan untuk menemukan hasil apakah penampang

baja WF kompak atau penampang baja WF tak kompak.

4) Batas lendutan

Batas-batas lendutan untuk keadaan kemampuan-layan batas harus sesuai

dengan struktur, fungsi penggunaan, sifat pembebanan, serta elemen –

elemen yang didukung oleh struktur tersebut. Batas lendutan maksimum

diberikan dalam tabel sebagai berikut.


20

Tabel 2.1 Batas Lendutan Maksimum


Beban Beban
Komponen Struktur dengan Beban Tidak Terfaktor
Tetap Sementara

Balok Pemikul Dinding atau Finishing yang Getas L/360 -

Balok Biasa L/240 -

Kolom dengan Analisis Orde Pertama Saja h/500 h/200

Kolom dengan Analisis Orde Kedua h/300 h/200


Sumber : SNI 1729 : 2020

Berdasarkan tabel 2.1 diatas merupakan dapat diperoleh dengan

menggunakan komponen struktur dengan beban tidak terfaktor

menggunakan balok biasa yang ditunjukan pada persamaan berikut :

a. Defleksi Yang Di Izinkan Terjadi

..................................................................................................... (22)
240

b. Defleksi Yang Terjadi Pada Pertengahan Batang

2
5. .
............................................................................................ (23)
48 . .

Dari persamaan yang telah disebutkan di atas, kita dapat mengetahui nilai

defleksi serta batasan-batasan yang berlaku untuk baja WF. Informasi ini

akan sangat berguna sebagai acuan atau pembanding dalam perhitungan

dan perencanaan atap yang menggunakan baja WF.

5) Kapasitas geser nominal

Suatu komponen lentur mengakibatkan munculnya gaya geser, pelat badan

merupakan elemen utama dalam memikul gaya geser pada penampang

profil WF. Kekuatan geser Vn dari penampang didasarkan pada lelehan


21

geser keseluruhan tersebut. Untuk menentukan kerampingan dan kontrol

kapasitas geser penampang dapat dilihat pada persamaan berikut.

a. Rasio Kerampingan Terhadap Tekuk Pada Badan Akibat Geser

h kn .
≤1,10 √ ............................................................................... (24)
tw fy

b. Kontrol Kapasitas Geser Penampang

Vu ≤ Vn.............................................................................................. (25)

Dari persamaan diatas dapat diketahui kapasitas geser nominal (V n) harus

lebih kecil dari gaya geser (Vu) sehingga pehitungan atap baja WF dapat

direncanakan dengan aman dan efisien.

2.2.2 Perencanaan Struktur Pelat

Pelat merupakan struktur yang pertama kali menerima beban secara

langsung, kemudian beban-beban tersebut didistribusikan ke elemen pemikul

beban selanjutnya, yaitu balok dan kolom. Berdasarkan geometrinya pelat dibagi

menjadi 2 yaitu pelat satu arah dan pelat dua arah. Apabila nilai perbandingan

antara sisi panjang dan sisi pendek tidak lebih dari dua, digunakan penulangan dua

arah. Tetapi apabila perbandingan antara sisi panjang dan sisi pendek lebih kecil

dari dua, pelat dianggap pelat satu arah.

Menurut PBI-1971, pelat persegi dengan tebal tetap menumpu keempat

tepinya dengan beban merata terbagi menjadi beberapa kondisi diantaranya

sebagai berikut :
22

a. Pada tepi tepinya pelat dapat terletak bebas, terjepit penuh atau terjepit

elastis. Jepitan penuh terjadi, apabila penampang pelat di atas tumpuan itu

tidak dapat berputar akibat pembebanan pada pelat.

b. Pada tepi pelat yang di dalam perhitungan dianggap sebagai tepi yang

terletak bebas, harus dianggap bekerja suatu momen tumpuan tidak

terduga sebesar 0,5 dari momen lapangan di arah yang sejajar dengan tepi

pelat itu atau 0,3 dari momen lapangan di arah yang tegak lurus pada tepi

pelat itu.

c. Untuk berbagai keadaan tepi pelat, dimana pada masing – masing tepi

tersebut pelat dapat terletak bebas atau terjepit penuh, momen – momen di

dalam pelat dapat di hitung dengan perantaraan.

Dari uraian diatas dapat diketahui kondisi pelat yang nantinya akan digunakan

untuk perhitungan penulangan.

Untuk menghitung momen – momen yang menentukan pada pelat yang

menahan dua arah dengan terjepit pada keempat sisinya sebagai berikut :

 Momen lapangan arah x (Mlx) = [Link] . Lx2.X

 Momen lapangan arah y (Mly) = -[Link] . Lx2.X

 Momen tumpuan arah x (Mtx) = [Link] . Lx2.X

 Momen tumpuan arah y (Mt y) = -[Link] . Lx2.X

Dari uraian diatas maka didapat momen lapangan dan tumpuan pada pelat

lantai dan pelat atap. Untuk menentukan nilai X dapat dilihat pada tabel plat

menurut PBI-1971, sebagai berikut.


23

Tabel 2.2 Momen Pelat Persegi Akibat Beban Merata

Sumber : PBI-1971

Dari tabel diatas dapat ditentukan nilai koefisien tumpuan dan lapangan. Untuk

perhitungan rasio tulangan minimum dan rasio tulangan dalam kondisi balance

dapat menggunakan persamaan dibawah ini.

0,[Link]’ 600
balance
= * +* + ........................................................................... (26)
600

1,4
min
= .............................................................................................................. (27)

ma
0,75 ρbalance ....................................................................................................................................... (28)
24

Pada rumus (26), (27), dan (28) dapat diketahui nilai terbesar dari hasil ketiga

persamaannya. Faktor pendukung tegangan tekan beton tekan persegi ekivalen

yang bergantung pada mutu beton (fc’). Untuk 1 harus diambil sebesar 0,85.

Untuk beton dengan nilai kuat tekan ’c lebih kecil daripada atau sama dengan di

30 MPa, 1 harus direduksi sebesar 0,05 untuk setiap kelebihan kekuatan sebesar

7 MPa di atas 28 MPa, tetapi 1 tidak boleh kurang dari 0,65.

Untuk menentukan jarak serat teratas pelat maka digunakan persamaan-

persamaan berikut.

dx = h - p - . Ø x .............................................................................................. (29)

dy = h - p - Ø x - . Ø y ..................................................................................... (30)

Dari rumus diatas dapat ditentukan jarak serat teratas pelat. Untuk mencari

tulangan pelat yaitu dengan menerapkan persamaan-persamaan berikut.

......................................................................................................... (31)

M ................................................................................................... (32)
0,85

Dari rumus diatas dapat ditentukan tulangan pelat. Sedangkan rasio tulangan perlu

dapat dihitung dengan persamaan berikut.

1 2
[1-√1- ] ..................................................................................... (33)

Harus memenuhi min ≤ perlu ≤ max

Jika perlu < min, maka digunakan perlu min dan As = min . b.d

Jika perlu > maks, maka tebal pelat harus diperbesar.


25

2.2.3 Pembebanan Struktur Atas Bangunan Gedung

Beban-beban yang bekerja pada perencanaan struktur gedung ini

berpedoman sesuai dengan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung tahun

1983.

Dalam pembebanan struktur atas bangunan gedung terdapat beban – beban

yang bekerja, seperti beban mati (D), beban hidup (L), dan beban gempa (E).

[Link] Beban Mati (D)

Beban mati merupakan berat seluruh bahan konstruksi bangunan gedung

yang terpasang, termasuk dinding, lantai, atap, plafon, tangga, dinding partisi

tetap, finishing, klading gedung dan komponen arsitektural dan struktural lainnya

serta peralatan layan terpasang lain.

Dalam menghitung beban mati terdapat berat sendiri bangunan. Berat

sendiri dari beberapa material konstruksi dan komponen bangunan gedung

ditentukan dari (PPUIG 1983). Informasi mengenai berat satuan dari berbagai

material konstruksi, dicantumkan pada tabel berikut.

Tabel 2.3 Beban Mati Pada Bahan Bangunan


No Bahan Bangunan Berat
1 Baja 7850 kg/m3
2 Batu alam 2600 kg/m3
3 Batu belah, batu bulat, batu gunung 1500 kg/m3
4 Batu karang 700 kg/m3
5 Batu pecah split 1450 kg/m3
6 Besi tuang 7250 kg/m3
Sumber : PPIUG, 1983
26

Tabel 2.3 Beban Mati Pada Bahan Bangunan (Lanjutan)


No Bahan Bangunan Berat

7 Beton 2200 kg/m3

8 Beton Bertulang 2400 kg/m3

9 Kayu (Kelas I) 1000 kg/m3

10 Kerikil, koral (kering udara sampai lembab) 1650 kg/m3

11 Pasangan Batu Merah 1700 kg/m3

12 Pasangan batu belah, batu bulat, batu gunung 2200 kg/m3

13 Pasangan batu cetak 2200 kg/m3

14 Pasangan batu karang 1450 kg/m3

15 Pasir (kering udara sampai lembab) 1600 kg/m3

16 Pasir (jenuh air) 1800 kg/m3

17 Pasir, kerikil, koral (kering udara sampai lembab) 1850 kg/m3

Tanah, lempung dan lanau (kering udara sampai


18 1700 kg/m3
lembab)

19 Tanah, lempung dan lanau (basah) 2000 kg/m3

20 Tanah hitam (timbal) 11400 kg/m3

Sumber : PPIUG, 1983

Pada Tabel 2.3 dapat dilihat berat sendiri beton bertulang yaitu 2400

kg/m3. Untuk Beban mati pada komponen gedung menurut Peraturan Pembebanan
27

Indonesia Untuk Gedung tahun 1983 dapat dilihat pada tabel 2.4 dibawah ini

sebagai berikut.

Tabel 2.4 Beban Mati pada Komponen Gedung


No Komponen Gedung Berat
1 Adukan, per cm tebal:
 Dari semen 21 kg/m2
 Dari kapur, semen merah atau tras 17 kg/m2
Aspal, bahan-bahan minimal penambah per cm
2 14 kg/m2
tebal
3 Dinding pasangan bata merah :
Satu batu 450 kg/m2
Setengan batu 250 kg/m2
Dinding pasangan batako :
4
Berlubang ;
 Tebal dinding 20 cm (HB 20) 200 kg/m2
 Tebal dinding 10 cm (HB 10) 120 kg/m2
5 Tanpa lubang :
 Tebal dinding 15 cm 300 kg/m2
 Langit -langit dan dinding ( termasuk rusuk-
6 rusuknya, tanpa penggantung langit-langit atau 11 kg/m2
pengaku
 Penggantung langit-langit (dari kayu), dengan
bentang maksimum 5 m dan jarak s.k.s. minimum 7 kg/m2
0,80 m
Sumber : PPIUG, 1983

Tabel diatas merupakan tabel yang di kutip dari Peraturan Pembebanan

Indonesia Untuk Gedung tahun 1983 yang akan menjadi acuan ditentukannya

koefisien komponen pada bangunan gedung. Pada Tabel diatas dapat dilihat berat
28

dinding pasangan setengah batu ditentukan sebesar 250 kg/m2, penggantung

ditentukan sebesar 7 kg/m2 dan berat plafon ditentukan sebesar 11 kg/m2.

[Link] Beban Hidup (L)

Beban hidup merupakan beban yang diakibatkan oleh pengguna dan

penghuni bangunan gedung atau struktur lain yang tidak termasuk beban

konstruksi dan beban lingkungan, seperti beban angin, beban gempa, beban banjir,

atau beban mati. Beban hidup yang direncakan dalam bangunan ini sebagai

berikut.

Tabel 2.5 Beban Hidup Komponen gedung


No Penggunaan Berat

1. Lantai dan tangga rumah tinggal 200 kg/m2


2.  lantai & tangga rumah tinggal sederhana 125 kg/m2
 Gudang-gudang selain untuk toko, pabrik, bengkel
3.  sekolah, ruang kuliah
 Kantor
 Toko, toserba
 Restoran 250 kg/m2
 Hotel, asrama
 Rumah sakit
4. Ruang olahraga 400 kg/m2
5. Ruang dansa 500 kg/m2
6. Lantai dan balkon dalam dari ruang pertemuan (masjid,
gereja, ruang pagelaran/rapat, bioskop dengan tempat duduk 400 kg/m2
tetap)
7. Panggung penonton 500 kg/m2
8. Tangga, bordes tangga, dan gang (no 3) 300 kg/m2
9. Tangga, bordes tangga, dan gang (no 4, 5, 6, 7) 500 kg/m2
10. Ruang pelengkap 250 kg/m2
11.  Pabrik, bengkel, gudang
 Perpustakaan, r. arsip, toko buku 400 kg/m2
 Ruang alat dan mesin
29

12. Gedung parkir bertingkat :


 Lantai bawah 800 kg/m2
 Lantai tingkat lainnya 400 kg/m2
13. Balkon menjorok bebas keluar (minimum) 300 kg/m2
Sumber : PPIUG, 1987

Pada tabel 2.5 beban hidup pada lantai yang digunakan dalam bangunan

ini mengacu pada standar pedoman pembebanan yang ada, yaitu untuk beban

gedung Rumah sakit sebesar 250 kg/m2 (PPIUG 1983). Adapun uraian

pembebanan pada beban hidup ada 2 yaitu sebagai berikut :

1. Beban Hidup pada Atap Gedung

Berat beban hidup pada atap mengacu pada standar pembebanan Peraturan

Pembebanan Indonesia Untuk Gedung tahun 1983, dapat dilihat pada tabel

berikut.

Tabel 2.6 Beban hidup pada atap gedung


No Bagian Atap Berat
1. Atap / bagiannya dapat dicapai orang, termasuk 100 kg/m2
kanopi (atap dak)
2. Atap / bagiannya tidak dapat dicapai orang (diambil
min.) : (α = sudut atap, min. 20 kg/m2, tak perlu (40-0,8.α)
ditinjau bila α > 50o) kg/m2
- Beban hujan 100 kg
- Beban terpusat
3. Balok/gording tepi kantilever 200 kg
Sumber : PPIUG, 1987

Beban hidup pada atap yang digunakan dalam bangunan ini mengacu pada

standar pedoman pembebanan yang ada, yaitu untuk beban gedung Rumah

Sakit sebesar 100 kg/m2

2. Distribusi Beban
30

Untuk menghitung beban-beban yang bekerja pada balok akibat adanya

distribusi beban oleh pelat. Untuk beban mati terbagi rata akibat pelat

segitiga dapat dihitung menggunakan persamaan berikut.

......................................................................................... . (34)

Dari persamaan diatas dapat diketahui beban segitiga pada pelat. Selain

berbentuk segitiga distribusi beban pelat juga membentuk trapezium dan

untuk beban mati terbagi rata akibat pelat trapezium dapat dihitung

menggunakan persamaan berikut.

( ) ( ) ) .................................................................. (35)

Dari persamaan diatas dapat diketahui beban trapezium pada struktur pelat.

[Link] Beban Gempa (E)

Beban gempa merupakan semua beban statis ekivalen yang bekerja pada

gedung atau bagian yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa

itu. Dalam hal pegaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu

analisa dinamik, maka yang diartikan dengan beban gempa disini yaitu gaya-gaya

di dalam struktur tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu.

Dalam perhitungan terhadap beban gempa, seluruh bagian struktur yang

bergabung menjadi satu kesatuan harus memenuhi SNI 1726:2019, Tata cara

Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non

gedung sebagai berikut :

 Faktor Keutamaan
31

Untuk berbagai kategori risiko struktur bangunan gedung non gedung

sesuai Tabel 2.4 pengaruh gempa rencana terhadapnya harus dikalikan

dengan suatu faktor keutamaan Ie menurut Tabel 2.5. Khusus untuk

struktur bangunan dengan kategori risiko IV, bila dibutuhkan pintu masuk

untuk operasional dari struktur bangunan yang bersebelahan, maka

struktur bangunan yang bersebelahan tersebut harus didesain sesuai

dengan kategori risiko IV. Untuk kategori risiko resiko bangunan gedung

dan non gedung.

Untuk Kategori Resiko Bangunan Gedung dan Non Gedung Untuk Beban

Gempa dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.7 Kategori Resiko Bangunan Gedung dan Non Gedung Untuk Beban
Gempa
Jenis Pemanfaatan Kategori
Risiko
Gedung dan non gedung yang memiliki risiko rendah terhadap jiwa
manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi
untuk, antara lain :
 Fasilitas pertanian, perkebunan, pertenakan, dan perikanan I

 Fasilitas sementara
 Gudang penyimpanan
 Rumah jaga dan struktur kecil lainnya
Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk dalam
kategori risiko I,III,IV, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk :
 Perumahan
 Rumah toko dan rumah kantor II

 Pasar
 Gedung perkantoran
 Gedung apartemen / rumah susun
32

Jenis Pemanfaatan Kategori


Risiko
 Gedung apartemen / rumah susun
 Pusat perbelanjaan / mall
 Bangunan Industri II

 Fasilitas manufaktur
 Pabrik
Gedung dan non gedung yang memiliki risiko tinggi terhadap jiwa
manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi
untuk :
 Bioskop, Gedung pertemuan, Stadion
 Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit bedah dan unit gawat
darurat
 Fasilitas penitipan anak
 Bangunan untuk orang jompo
Gedung dan non gedung, tidak termasuk kedalam kategori risiko IV,
yang memiliki potensi untuk menyebabkan dampak ekonomi yang
besar dan/atau gangguan terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari
bila terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk :
III
 Pusat pembangkit listrik biasa
 Fasilitas penanganan air
 Fasilitas penanganan limbah
 Pusat telekomunikasi
Gedung dan non gedung yang tidak termasuk dalam kategori risiko
IV, (termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk fasilitas manufaktur, proses,
penanganan, penggunaan atau tempat pembuangan bahan bakar
berbahaya, limbah berbahaya, atau bahan yang mudah meledak) yang
mengandung bahan beracun atau peledak dimana jumlah kandungan
bahannya melebihi nilai batas yang disyaratkan oleh instansi yang
berwenang dan cukup menimbulkan bahaya bagi masyarakat jika
terjadi kebocoran.
33

Tabel 2.7 Kategori Resiko Bangunan Gedung dan Non Gedung Untuk Beban
Gempa (Lanjutan)
Kategori
Jenis Pemanfaatan
Risiko

Gedung dan non gedung yang ditunjukkan sebagai fasilitas yang

penting, termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk :

 Bangunan-bangunan monumental

 Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan

 Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki fasilitas

bedah dan unit gawat darurat

 Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, angin badai, dan

tempat perlindungan daruratlainnya

 Pusat pembangkit energy dan fasilitas public lainnya yang

dibutuhkan pada saat keadaan darurat IV

 Struktur tambahan (termasuk menara telekomunikasi, tangki

penyimpanan bahan bakar, menara pendingin, struktur stasiun

listrik, tangka air pemadam kebakaran atau struktur rumah atau

struktur pendukung air atau materialatau peralatan pemadam

kebakaran) yang disyaratkan untuk beroperasi pada saat keadaan

darurat.

Gedung dan non gedung yang dibutuhkan untuk mempertahankan

fungsi struktur bangunan lain termasuk dalam kategori risiko IV

Sumber : SNI 1726 – 2019


34

Berdasarkan Tabel 2.7 dapat diketahui kategori resiko gempa dengan

meninjau dari jenis pemanfaatan baik untuk gedung maupun non gedung.

Kemudian dari Tabel 2.7. untuk mendapatkan nilai faktor keutamaan

gempa dapat di tinjau pada tabel berikut.

Tabel 2.8 Faktor Keutamaan Gempa


Kategori Risiko Faktor keutamaan gempa, Ie
I atau II 1,0
III 1,25
IV 1,50
Sumber : SNI 1726 – 2019

Pada Tabel di atas dapat di ketahui Gedung Rumah sakit dan fasilitas

kesehatan lainnya yang memiliki fasilitas bedah dan unit gawat darurat

rumah dan fasilitas pendidikan kategori resiko gempa tipe IV dan menurut

SNI 1726-2019 faktor keutamaannya 1,50 Ie.

 Wilayah Gempa

Di setiap daratan atau kepulauan memiliki wilayah gempa masing-masing,

yang dimana wilayah gempa ini untuk menentukan percepatan puncak

(PGA) dan respon spektra percepatan yang selanjutnya digunakan untuk

menentukan beban gempa pada suatu perencanaan pembangunan baik

gedung maupun non gedung berdasarkan parameter-parameter. Menurut

peta hazard gempa Indonesia 2021 di SNI 1726 – 2019, meliputi peta

percepatan puncak (PGA) dan respon spektra percepatan dibatuan dasar

(SB) untuk perioda pendek 0.2 detik (Ss) dan untuk periode 1.0 detik (S1)

dengan redaman 5% mewakili tiga level hazard gempa yaitu 500, 1000 dan

2500 tahun atau memiliki kemungkinan terlampaui 10% dalam 50 tahun,

10% dalam 100 tahun, dan 2% dalam 50 tahun. Menurut SNI 1726-2019,
35

penggunaan penting dua perameter ini dalam menentukan parameter

percepatan spectral desain SDS dan SD1 dapat dilihat pada gambar

berikut.

Sumber : SNI 1726:2019

Gambar 2.4 Peta Wilayah Gempa di Indonesia untuk Ss

Pada gambar diatas dapat diketahui wilayah gempa perioda pendek 0.2

detik. Untuk menentukan wilayah gempa perioda pendek 1.0 detik dapat

dilihat pada gambar berikut.

Sumber : SNI 1726:2019


Gambar 2.5 Peta Wilayah Gempa di Indonesia untuk S1

Pada gambar 2.5 dapat diketahui wilayah gempa perioda pendek 1.0 detik.
36

 Jenis Tanah Setempat

Perambatan gelombang (PPEBD) melalui lapisan tanah dibawah bangunan

diketahui dapat memperbesar gempa rencana di muka tanah tergantung

pada jenis lapisan [Link] gempa dari kedalaman batuan dasar ke

muka tanah dengan menggunakan gerakan gempa masukan dengan

percepatan puncak untuk batuan dasar. SNI 1726-2019 menetapkan jenis

tanah di Indonesia menjadi 4 kategori jenis tanah versi UBC berturut-turut

SC,SD,SE,dan SF. Jenis-jenis tanah berdasar kelas situs dapat dilihat di

tabel berikut.

Tabel 2.9 Klasifikasi Situs


Kelas situs Vs (m/detik) N atau Nch Su(kPa)

SA (batuan keras) >1500 N/A N/A

SB (batuan) 750 - 1500 N/A N/A

SC (tanah keras, 350 – 750 >50 ≥100

sangatadat dan

batuan lunak)

SD (tanah 175 – 350 15 – 50 50 - 100

sedang)

SE (tanah lunak) < 175 <15 < 50

Sumber : SNI 1726 – 2019


37

Tabel 2.9 Klasifikasi Situs (Lanjutan)


Kelas situs Vs (m/detik) N atau Nch Su(kPa)
SF (tanah N/A >35 ≥ 50 ,
khusus,yang
membutuhkan
investigasi
geoteknik pesifik
dan analisis
espons spesifik-
situs angka
mengikuti 0)

Sumber : SNI 1726 – 2019

Klasifikasi situs pada tabel diatas, tanah sedang mempunyai Vs sebesar

750-1500 m/detik, N sebesar >50, dan Su sebesar ≥100 kPa.

 Faktor Respon Gempa

Faktor respon gempa dinyatakan dalam percepatan gravitasi, dan besarnya

nilai faktor respon gempa ini diperoleh dari perhitungan dua komponen

utama yaitu SS dan S1, yang mewakili faktor amplifikasi seismik pada

periode 0,2 detik dan periode 1 detik.

Faktor amplifikasi ini mencakup dua aspek penting, antara lain faktor

amplifikasi getaran yang terkait dengan percepatan pada getaran periode

pendek (Fa), serta faktor amplifikasi yang berhubungan dengan percepatan

yang mewakili getaran pada periode 1 detik (Fv).

Parameter respons spektral percepatan pada periode pendek (SMS) dan

periode 1 detik (SM1), yang telah disesuaikan dengan pengaruh klasifikasi

situs, harus ditentukan berdasarkan perumusan yang telah


38

[Link] dengan perumusan berikut.

SMS=[Link] .............................................................................................. (36)

SM1= Fv.S1 ............................................................................................. (37)

Dari persamaan diatas didapat percepatan pada periode pendek. Untuk

Koefisien-koefisien situs Fa dan Fv seperti tabel berikut.

Tabel 2.10 Koefisien Situs Fa


Parameter respon spektral percepatan gempa maksimum

Kelas Situs yang dipertimbangkan risiko-tertarget (MCEr) terpetakan

pada periode pendek, T = 0,2 detik, SS

SS≤0,25 SS = 0,5 SS = 0,75 SS = 1,0 SS ≥1,25 SS≥1,5

SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8

SB 1,0 0.9 0.9 0,9 0,9 0,9

SC 1,3 1,3 1,2 1,2 1,2 1,2

SD 1,6 1,4 1,2 1,1 1,0 1,0

SE 2,4 1,7 1,3 1,1 0,9 0,8

SF SS(a)

Sumber : SNI 1726 – 2019


Pada tabel diatas dapat diketahui parameter respon spektral percepatan

gempa maksimum yang dipertimbangkan berdasarkan risiko yang telah

ditargetkan. Setelah nilai Fa ditentukan, langkah selanjutnya yaitu

menentukan nilai Fv. Untuk mendapatkan nilai Fv dapat merujuk pada

tabel 2.11, dimana informasi mengenai faktor amplifikasi seismik terkait

percepatan pada periode 1 detik tersebut disajikan secara rinci dapat dilihat

pada tabel berikut.


39

Tabel 2.11 Koefisien Situs Fv


Parameter respon spektral percepatan gempa maksimum

Kelas Situs yang dipertimbangkan risiko-tertarget (MCEr) terpetakan

pada periode pendek, T = 0,2 detik, S1

S1 ≤0,1 S1 = 0,2 S1 = 0,3 S1 = 0,4 S1 ≥ 0,5 S1 ≥ 0,6

SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8

SB 1,0 0,8 0,8 1,0 0,8 0,8

SC 1,5 1,5 1,5 1,4 1,5 1,4

SD 2,4 2,2 2,0 1,6 1,8 1,7

SE 4,2 3,3 2,8 2,4 2,2 2,0

SF SSb

Sumber : SNI 1726 – 2019

Pada tabel diatas dapat dilihat Parameter respon spektral percepatan gempa

maksimum yang dipertimbangkan resiko tertarget. Adapun catatan untuk

pertimbangan diatas sebagai berikut :

a. Untuk nilai-nilai antara S1 dapat dilakukan interpolasi linier.

b. (SS) yaitu situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan

analisis respon situs spesifik.

Pada kedua Tabel 2.10 dapat diambil Fa tanah sedang dengan Ss = 0,75

sebesar 1,2 dan Fv tanah sedang dengan S1 = 0,4 sebesar 1,9. Dan dari

Tabel 2.11 dapat dilihat nilai koefisien nilai Fa berdasarkan kelas situs.

Parameter spectrum respon percepatan pada periode pendek (Sms) dan

periode 1 detik (Sm1) yang disesuaikan dengan pengaruh klasifikasi situs,


40

dan harus ditentukan dengan perumusan atau persamaan yang disediakan

sebagai berikut.

.......................................................................................... (38)

........................................................................................... (39)

Dari perumusan diatas dapat diketahui pengaruh Parameter spectrum

respon percepatan pada periode pendek (Sms) dan periode 1 detik (Sm1).

 Kategori Desain Gempa

Kategori desain gempa dapat dilihat berdasarkan periode pendek gampa

dan periode 1 detik. Pengklasifikasian ini dikarenakan pada struktur

berdasar kategori resiko bangunan dan tingkat kekuatan gerakan tanah

akibat gempa yang diantisipasi dilokasi struktur bangunan. Untuk kategori

desain gempa dievaluasi berdasarkan parameter respon percepatan periode

pendek dan berdasarkan parameter respon percepatan periode 1,0 detik.

Kategori berdasarkan pada periode pendek dapat dilihat pada tabel 2.10

sedangkan untuk periode 1,0 detik dapat dilihat dalam tabel 2.12 sebagai

berikut.

Tabel 2.12 Kategori Desain Gempa Berdasar pada Periode Pendek


Kategori Risiko
Nilai SDS
I, II, III IV

SDS< 0,167 A A
0,167 ≤ SDS< 0,33 B C
0,33 ≤ SDS< 0,50 C D
0,50 ≤ SDS D D
Sumber : SNI 1726 – 2019
41

Tabel 2.12 merupakan kategori resiko gempa berdasarkan pada periode

pendek. Untuk kategori resiko gempa berdasarkan pada periode 1 detik

dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.13 Kategori Desain Gempa Berdasar pada Periode 1 Detik


Kategori Risiko
Nilai SDS
I, II, III IV
SDS< 0,167 A A
0,067 ≤ SDI< 0,133 B C
0,133 ≤ SDS< 0,20 C D
0,20 ≤ SDS D D
Sumber : SNI 1726 – 2019

Pada 2 tabel 2.12 dan 2.13 dapat diambil Kategori desain seismic

berdasarkan parameter respons percepatan pada periode pendek dengan

nilai 0,50 < SDS kategori resiko II yaitu D, sedangkan Kategori desain

seismic berdasarkan parameter respons percepatan pada periode 1 detik

dengan nilai 0,20 < SD1 kategori resiko II yaitu D. Grafik desain spectral

untuk wilayah tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.

Sumber : [Link]

Gambar 2.6 Grafik Desain Spektral Untuk Wilayah Wonogiri

Pada gambar 2.6 dapat diketahui respon gempa di wilayah Wonogiri

menggunakan aplikasi desain spektra Indonesia.


42

 Koefisien Modifikasi Respon (R)

Koefisien modifikasi respon, merupakan rasio antara beban gempa

maksimum akibat pengaruh gempa rencana pada struktur gedung elastik

penuh dan beban gempa nominal akibat pengaruh gempa rencana pada

struktur gedung daktail, bergantung pada faktor daktilitas struktur tersebut.

Parameter daktilitas struktur gedung dapat dilihat di tabel di bawah ini :

Tabel 2.14 Parameter Daktilitas Struktur Gedung


Koefisien
Sistem penahan – gaya gempa modifikasi respon
(R)
C. Sistem rangka pemikul momen
1. Rangka batang baja pemikul momen khusus. 7
2. Rangka baja pemikul momen menengah. 4,5
3. Rangka baja pemikul momen biasa. 3,5
4. Rangka beton bertulang pemikul momen khusus. 8
5. Rangka beton bertulang pemikul momen menengah. 5
6. Rangka beton bertulang pemikul momen biasa. 3
7. Rangka baja dan beton komposit pemikul momen
4
khusus.
8. Rangka baja dan beton komposit pemikul momen
5
menengah.
9. Rangka baja dan beton komposit terkekang parsial
6
pemikul momen.
[Link] baja dan beton komposit pemikul momen
3
biasa.
[Link] baja canai dingin pemikul momen khusus
3,5
dengan pembautan.
Sumber : SNI 1726 – 2019

Pada tabel 2.14 diatas dapat diketahui perencanaan gedung rumah sakit ini

memakai rangka beton bertulang pemikul momen khusus dengan nilai

koefisien 8 yang selanjutnya bisa menjadi acuan untuk menghitung

perioda fundamental struktur.


43

 Perioda Fundamental Struktur ( T )

Perioda fundamental struktur, T, dalam arah yang ditinjau harus diperoleh

menggunakan properti struktur dan karateristik deformasi elemen penahan

dalam analisis yang teruji. Perioda fundamental struktur, T, tidak boleh

melebihi hasil koefisien untuk batasan atas pada perioda yang dihitung

(Cu) dari Tabel 2.12 dan perioda fundamental pendekatan, T a, yang sesuai

dengan periode fundamental pendekatan. Sebagai alternatif pada

pelaksanaan analisis untuk menentukan perioda fundamental struktur, T ,

diijinkan secara langsung menggunakan perioda bangunan pendekatan, Ta,

yang dihitung sesuai dengan periode fundamental pendekatan.

Perioda fundamental pendekatan (Ta), dalam detik, harus ditentukan dari

persamaan berikut.

................................................................................................ (40)

Dimana hn yaitu ketinggian struktur, dalam (m), di atas dasar sampai

tingkat tertinggi struktur, dan koefisien Ct dan x ditentukan dari berikut.

Tabel 2.15 Koefisien Untuk Batas Atas Pada Periode Yang Dihitung
Parameter percepatan respons spektral
Koefisien Cu
desain pada 1 detik, SD1
≥ 0,4 1,4
0,3 1,4
0,2 1,5
≤ 0,1 1,7
Sumber : SNI 1726 – 2019

Pada tabel 2.15 koefisien untuk batas atas pada periode yang dihitung ≤

0,1 mempunyai Koefisien Cu yaitu 1,7. Untuk parameter periode dapat

dilihat pada tabel berikut.


44

Tabel 2.16 Nilai Parameter Periode Pendekatan Ct Dan X


Tipe struktur Ct X
Rangka baja pemikul momen 0,0724a 0,8
Rangka beton pemikul momen 0,0466a 0,9
Rangka baja dengan bresing eksentris 0,0731a 0,75
Rangka baja dengan bresing terkekang terhadap 0,0731a 0,75
tekuk
Semua sistem struktur lainnya 0,0488a 0,75
Sumber : SNI 1726 – 2019

Pada tabel di atas rangka beton pemikul momen memiliki nilai parameter

periode pedekatan Ct = 0,0466a dan X = 0,9.

 Koefisien Dasar Seismic (V)

Nilai koefisien dasar seismic didapatkan dengan berdasarkan SNI 1726 –

2019, geser dasar seismic V dalam arah yang ditetapkan harus sesuai

dengan persamaan berikut.

V = Cs . W .............................................................................................. (41)

S DS
Cs = ............................................................................................ (42)
R
 
 Ie 

S DS
Csmaks = ...................................................................................... (43)
R
T  
 Ie 

Csmin = 0,044 SDS Ie ≥ 0,01

Dari persamaan sebelumnya dapat diketahui nilai koefisien dasar seismic

untuk selanjutnya bisa digunakan untuk menghitung distribusi gaya

gempa.
45

 Distribusi Gaya Gempa

Menurut SNI 1726 – 2019, gempa gaya lateral (Fx) yang timbul di semua

tingkat harus ditentukan dari persamaan berikut.

......................................................................................... (44)


........................................................................................ (45)

Persamaan diatas digunakan untuk mengetahui gaya lateral gempa. Untuk

menghitung nilai k diambil dari SNI 1726-2019. Nilai k merupakan

eksponen yang terkait dengan periode struktur, yang memiliki ketentuan

sebagai berikut :

- Untuk struktur yang mempunyai periode sebesar 0,5 detik atau kurang,

k = 1;

- Untuk struktur yang mempunyai periode sebesar 2,5 detik atau lebih, k

= 2;

- Untuk struktur yang mempunyai periode antara 0,5 dan 2,5 detik, k

harus sebesar 2 atau interpolasi linier antara 1 dan 2.

Pada ketentuan diatas dapat ditentukan periode struktur untuk nilai k itu

sendiri. Selanjutnya untuk faktor reduksi kekuatan dapat ditentukan.

 Faktor Reduksi Kekuatan

Ketidakpastian terkait kekuatan bahan terhadap pembebanan pada

komponen struktur dianggap sebagai salah satu faktor yang dapat

mengurangi kekuatan efektif dari komponen tersebut.

Oleh karena itu, faktor reduksi kekuatan ini diperlukan untuk memastikan

bahwa desain struktur tetap aman dan andal dalam menghadapi berbagai
46

kondisi beban yang mungkin terjadi. Nilai faktor reduksi kekuatan ini

ditentukan secara rinci dan diatur dalam Pasal 21 SNI 2847:2019 sebagai

berikut.

Tabel 2.17 Faktor Reduksi ( )


Gaya atau elemen struktur Φ Pengecualian
0,65 – Di dekat ujung komponen pratarik
Momen, gaya aksial, atau
0,90 (pretension) dimana strand belum
kombinasi momen dan gaya
sesuasi sepenuhnya bekerja, harus sesuai
aksial
21.2.22 dengan 21.2.3
Persyaratan tambahan untuk struktur
Geser 0,75
tahan gempa terdapat pada 21.2.4
Torsi 0,75
Tumpu (bearing) 0,65
Zona angkur pascatarik
0,85
(post-tension)
Bracket dan korbel 0,75
Strut, ties, zona nodal, dan
daerah tumpuan yang
0,75
dirancang dengan strut and
tie pada pasal 23
Komponen sambungan
beton pracetak terkontrol
0,90
leleh oleh elemen baja
dalam Tarik
Beton polos 0,60
0,45-0,75
Angkur dalam elemen beton sesuasi
pasal 17
Sumber : SNI 2847:2019

Pada tabel diatas terdapat informasi penting mengenai faktor-faktor

reduksi yang diterapkan pada setiap persamaan komponen.

Struktur setiap persamaan komponen struktur yang nantinya digunakan

untuk menghitung gaya – gaya dalam pada gedung.


47

[Link] Kombinasi Pembebanan

Dalam perencanaan pembebanan digunakan kombinasi pembebanan sesuai

dengan SNI 1726:2019 pasal [Link], sebagai berikut.

Tabel 2.18 Faktor Pembebanan


Kombinasi Beban Faktor U
Beban mati (D) 1,4 D
Beban mati (D), beban hidup (L) 1,2 D + 1,6 L
Beban mati (D), beban hidup (L), beban angin (W) 1,2 D + 1,0 L ± 1,0 W
Beban mati (D), beban angin (W) 0,9 D ± 1,0 W
Beban mati (D), beban hidup (L), beban gempa (E) 1,2 D +1,0 L ± 1,0 E
Beban mati (D), beban gempa (E) 0,9 D ± 1,0 E
Sumber : SNI 1726-2019

Tabel diatas merupakan kombinasi beban yang menggunakan persamaan

yang difaktorkan. Pengecualian Faktor beban untuk L pada kombinasi 3 dan 4

diizinkan diambil sama dengan 0,5 untuk semua fungsi ruang apabila beban hidup

desain tak tereduksi (Lo) dalam SNI 1726:2019, lebih kecil atau sama dengan

4,78 kN/m2, kecuali garasi atau ruang pertemuan publik.

Jika beban fluida F bekerja pada struktur, keberadaannya harus

diperhitungkan secara menyeluruh dalam analisis struktural. Dalam hal ini, nilai

faktor beban untuk beban fluida F harus disamakan dengan faktor beban yang

digunakan untuk beban mati D dalam kombinasi perhitungan beban, khususnya

dalam kombinasi 1 hingga 4. Bila beban tanah H bekerja pada struktur, maka

keberadaannya harus diperhitungkan sebagai berikut :

1. Bila adanya beban H memperkuat pengaruh variabel beban utama, maka

perhitungkan pengaruh H dengan faktor beban = 1,6;


48

2. Bila adanya beban H memberi perlawanan terhadap pengaruh variabel

beban utama, maka perhitungkan pengaruh H dengan faktor beban = 0,9

(jika bebannya bersifat permanen) atau dengan faktor beban = 0 (untuk

kondisi lainnya).

Apabila suatu struktur menerima pengaruh beban seismik, maka kombinasi-

kombinasi beban berikut harus diperhitungkan bersama dengan kombinasi beban

dasar di atas. Pengaruh beban seismik yang paling menentukan harus ditinjau.

Apabila pengaruh beban seismik yang dimaksud, E = f(E v,Eh) (pada 0)

dikombinasikan dengan pengaruh beban lainnya, maka kombinasi beban seismik

yang harus digunakan sebagai berikut :

1. 1,2D+Ev,+Eh+L

2. 0,9D-Ev+Eh

Persamaan diatas merupakan kombinasi beban seismik jika ada pengaruh beban

lainnya seperti beban mati dan beban hidup.

[Link] Analisis Struktur Atas Bangunan Gedung

Dalam skripsi ini untuk analisis struktur menggunakan bantuan software

SAP2000 v21. Alasan penulis menggunakan software SAP 2000 v21 karena

software dapat membantu juga mempercepat perhitungan analisis struktur statik

maupun dinamik. Dalam perhitungannya dilakukan otomatis dengan program ini

dengan cara memasukkan data material yang digunakan, membuat frame atau

komponen yang digunakan dan memasukkan beban-beban seperti beban mati,

beban hidup dan beban gempa yang nantinya beban – beban tersebut akan
49

dikombinasikan menjadi satu untuk memperoleh output pembebanan dan juga

gaya – gaya dalam dari bangunan gedung yang direncanakan. Selanjutnya untuk

output berupa momen, gaya geser, dan gaya aksial dipakai dalam perhitungan

balok dan kolom.

2.2.4 Perencanaan Struktur Balok

Balok merupakan elemen struktur yang menyalurkan beban mati maupun

beban hidup dari pelat ke kolom, yang menerima beban tekan dan tarik karena

adanya gaya lentur ataupun gaya lateral. Sehingga pada perencanaan ini, balok

harus direncanakan sedemikian rupa agar balok tersebut mampu menahan beban –

beban yang bekerja pada balok itu sendiri.

Untuk menentukan tinggi efektif (d), maka digunakan persamaan berikut.

d = h - p - Ø sengkang - ( D Tul. Utama)

Pada persamaan diatas dapat diketahui tinggi efektif suatu balok. Untuk

menentukan momen nominal, maka digunakan persamaan berikut.

................................................................................................................ (46)

Pada persamaan diatas dapat diketahui momen nominal balok. Untuk menentukan

rasio tulangan, maka digunakan persamaan berikut.

0,85. 600
balance
= * +* + ........................................................................... (47)
600

Dari persamaan diatas dapat diketahui rasio tulangan balok dengan perbandingan

sebagai berikut.

1 = 0,85 untuk 17 < ’ ≤ 30 Pa ..................................................................... (48)


50

1 = 0,85 - 0,008 (fc - 30) ≥ 0,65 ........................................................................ (49)

Dari persamaan pembanding diatas rasio tulangan, , yang ada tidak boleh

melampaui nilai dari hasil perhitungan berikut.

max = balance ...................................................................................................................................(50)

1,4
min
= ........................................................................................................ (51)

= 2 ..................................................................................................... (52)
.

= ................................................................................................... (53)
0,8 .

1 2 .
(1 -√1 - ).......................................................................... (54)

Pada persamaan diatas dapat diketahui nilai pembanding. Selanjutnya diambil

persamaan yang paling besar sebagai berikut.

Jika perlu < min; maka dipakai min

Asperlu = . b . d

Dari persamaan diatas dapat ditentukan rasio yang paling besar nilainya. Untuk

menentukan kontrol kekuatan balok, maka digunakan persamaan berikut.

.
= ...................................................................................................... (55)
0,85 . .

n= ( - 2) ............................................................................................. (56)

Dari persamaan diatas dapat diketahui nilai kontrol kekuatan balok yang menjadi

pembanding beban ultimate sesuai persamaan berikut.

Jika . Mn > Mu , maka penampang balok dapat digunakan.


51

Berdasarkan SNI 2847:2019 pasal 25.2 spasi bersih minimum antara batang

tulangan yang sejajar dalam suatu lapis, harus sebesar db tetapi tidak kurang dari

25 mm, maka digunakan persamaan berikut.

(b - (2 . d’) - (2 . s) - (n . Ø tul utama)) : (n - 1) > 25 mm

Untuk menghitung gaya geser nominal (Vn), dengan menggunakan persamaan

yang pada mengacu SNI 2847–2019 pasal 22.5. sebagai berikut.

Vn ≥ Vu ............................................................................................................. (57)

Pada rumus (57) dapat ditentukan apakah gaya geser nominal terfaktor lebih besar

daripada gaya geser struktur terhadap beban yang diterima. Untuk menghitung

gaya geser yang mampu diterima oleh beton (Vc) sebagai berikut.

1
Vc  . fc . b . d ............................................................................................... (58)
6

Dari persamaan diatas dapat diketahui nilai gaya geser yang mampu diterima oleh

beton. Untuk menentukan daerah penulangan, maka digunakan persamaan berikut.

> ....................................................................................................... (59)


2

Pada persamaan diatas dapat diketahui daerah penulangan. Kemudian dapat

dihitung dengan persamaan berikut.

Vs = Vn – Vc

Dari persamaan diatas dapat diketahui nilai Vs dimana nilai Vs tidak boleh lebih

besar dari nilai yang dihasilkan dari persamaan berikut.

2/3 √ . .............................................................................................. (60)


52

Dari persamaan pembanding diatas dapat diketahui bahwa tulangan dapat

menahan gaya geser atau tidak. Untuk menghitung jarak tulangan dan kebutuhan

sengkang dapat dihitung pada persamaan berikut.

1 2
= . . ................................................................................... (61)
4

perlu ................................................................................................ (62)

maks .............................................................................................................. (63)


2

Untuk mengontrol kebutuhan sengkang dengan persamaan sebagai berikut.

1
. fc . b . d  Vs ............................................................................................. (64)
3

Dari persamaan-persamaan diatas bisa ditentukan dimensi dan jumlah tulangan

balok baik jumlah tulangan utama maupun tulangan sengkang.

2.2.5 Perencanaan Struktur Kolom

Kolom merupakan komponen struktur vertikal yang menerima dan

menyalurkan gaya tekan axial bersamaan atau tidak dengan gaya momen atau

merupakan elemen tekan yang menumpu/menahan balok yang memikul beban-

beban pada lantai.

Kolom memiliki fungsi yang sangat vital dibandingkan dengan konstruksi

balok maupun lantai, dikarenakan kolom lebih banyak memikul bagian struktur

dibandingkan struktur balok dan lantai. Apabila kolom runtuh maka akan lebih

banyak bagian bangunan yang hancur. Maka untuk merencanakan pendimensian

dan penulangan kolom sebagai berikut.


53

K u  M1 
 34 - 12   , ................................................................................ (65)
r  M2 

Dimana M1/ M2 positif jika kolom dibengkokkan dalam kurvatur tunggal, dan

negatif jika komponen struktur dibengkokkan dalam kurvatur ganda. Untuk

menentukan perhitungan eksentrisitas kolom, maka digunakan persamaan berikut.

u
e .................................................................................................(66)
u

emin 15 0,003 . h

e > emin, maka digunakan e

Dari rumus (65) dan (66) dapat digunakan untuk menentukan eksentrisitas kolom.

Untuk memeriksa Pu terhadap beban seimbang  Pnb, maka digunakan persamaan

berikut.

600
cb  . d ............................................................................................. (67)
600  fy

ab  1. cb ..................................................................................................... (68)

Dari persamaan diatas dapat diperiksa Pu terhadap beban seimbang Pnb.

Pembatasan luas tulangan longitudinal untuk komponen struktur tekan non-

komposit tidak boleh kurang dari 0,01 atau lebih besar dari 0,08 kali luas bruto

penampang kolom Ag.

Adapun untuk menentukan suatu struktur kolom akan mengalami hancur

tarik atau hancur tekan dengan persamaan sebagai berikut.

As  ρ . Ag .................................................................................................... (69)

( cb - d' )
s'  0,003 .
cb
54

εs’ >εy , maka tulangan baja tekan telah meleleh, maka fs’ = fy

.Pnb = 0,065 (0,[Link].b) (As’.[Link])

.Pnb > Pu , Maka beton mengalami hancur tarik

Dari persamaan diatas dapat diketahui kondisi kolom mengalami hancur tarik

atau hancur tekan yang nanti akan digunakan untuk menentukan apakah struktur

kolom memerlukan tulangan sengkang ganda atau cukup tulangan sengkang

praktis.

Adapun untuk menentukan kontrol kekuatan penampang, maka digunakan

persamaan berikut.

....................................................................................................... (70)

.................................................................................................................... (71)

................................................................................................................. (72)

Untuk kolom berpenampang persegi dengan hancur tarik, maka digunakan

persamaan berikut.

0,85 ( √( ) ( ))

Untuk kolom berpenampang persegi dengan hancur tekan, maka digunakan

persamaan berikut.

As . fy b . h . fc
= e 1,18
50 3he
(d d) d2
55

, maka ukuran kolom dapat digunakan.

Dari persamaan – persamaan diatas dapat diketahui bahwa jika maka

dimensi kolom cukup untuk menopang seluruh bagian struktur gedung.

Untuk Menentukan perhitungan gaya geser yang mampu dipikul oleh beton (Vc),

maka digunakan persamaan berikut.

Vc = 0,17 . (1 Pu/(14 .Ag)) . λ . √fc .b .d

Untuk menentukan kuat geser besi tulangan, maka digunakan persamaan berikut.

Vs = Vn –Vc ........................................................................................................ (73)

Untuk menentukan gaya geser nominal (Vn), maka digunakan persamaan berikut

............................................................................................................... (74)

Dimana, nilai = 0,75

Menentukan jarak tulangan dan kebutuhan Sengkang, maka digunakan persamaan

berikut.

.............................................................................................(75)

............................................................................................... (76)

Dari persamaan-persamaan diatas bisa ditentukan dimensi dan jumlah tulangan

kolom baik jumlah tulangan utama maupun tula

Anda mungkin juga menyukai