BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
Pada penelitian Andryan Mistahfirul dkk (2018), Redesain struktur dengan
menggunakan metode SPRMK bertujuan agar nantinya struktur memiliki tingkat
daktilitas yang mampu menahan beban gempa. Hasil dari redesain menunjukkan
bahwa dengan menggunakan dimensi balok dan kolom struktur yang sama dengan
desain sebelumnya, Pada penulangan kolom, perencanaan dengan SNI 2847:2013
menghasilkan tulangan longitudinal 47,9% lebih sedikit, namun tulangan
transversal yang dihasilkan 25,3% lebih banyak dibandingkan perencanaan
dengan SNI 2847:2002. Pada penulangan balok, perencanaan dengan SNI
2847:2013 menghasilkan tulangan longitudinal 9,1% lebih sedikit, namun
tulangan transversal yang dihasilkan 36,7% lebih banyak dibandingkan
perencanaan dengan SNI 2847:2002. Perencanaan dengan SNI 2847:2013,
menghasilkan total tulangan kolom yang 27,2% lebih sedikit, dan total tulangan
balok yang 2,4% lebih banyak, dibandingkan dengan perencanaan sebelumnya.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Taufikkurrahman dan Lila K.
Wardani pada tahun 2021, membahas tentang perencanaan struktur gedung atas
akibat penambahan ruang kelas baru dengan menggunakan beton bertulang.
Desain struktur dilakukan meliputi desain komponen struktur bangunan yang
meliputi plat lantai, balok, kolom dan fondasi. Dalam perencanaan ini mengacu
5
6
pada peraturan SNI 2847:2019 untuk beton struktural, SNI 1726:2019 untuk
analisis gempa dan SNI 1727:2020 untuk pembebanan.
Afif Navir Refani, dkk (2015), dalam jurnal aplikasi teknik sipil yang
berjudul evaluasi struktur bangunan gedung beton bertulang berusia 50 tahun
membahas penilaian gedung beton bertulang berusia 50 tahun berdasarkan standar
perencanaan bangunan terbaru, dalam perencanaanya digunakan metode SRMPK,
hasil dari pengamatan menunjukkan bahwa bangunan masih aman untuk menahan
beban gravitasi, namun bangunan ini tidak memenuhi persyaratan untuk struktur
rangka pemikul momen khusus.
Menurut Farida Cut Defryanti dkk (2021), Pada penelitian yang berjudul
analisis stuktur penambahan lantai gedung, dilakukan analisis struktur bangunan
eksisting untuk dapat diketahui pengaruh dan kemampuan struktur pada saat
penambahan lantai gedung. Metode yang digunakan yaitu pembesaran dimensi
dan penambahan tulangan pada elemen struktur, mengacu pada data primer dan
data sekunder. Hasil penelitian ini yaitu adanya pembesaran dimensi balok 30/40
menjadi balok 50/60, kolom 30/40 menjadi 50/60. Penambahan tulangan
dilakukan karena perhitungan tidak memenuhi, pada balok daerah tumpuan
tulangan ditambahkan 10 Ø 16, balok daerah lapangan tulangan ditambahkan 8 Ø
16, sedangkan pada kolom ditambahkan jumlah tulangan 14 Ø 16.
Menurut Reinard Sutanto (2018), Pada persyaratan struktur, struktur yang
digunakan harus mampu menerima beban-beban yang bekerja baik beban vertikal
maupun lateral yang disebabkan oleh gempa serta kestabilan struktur dalam kedua
arah tersebut. Metode yang digunakan yaitu analisa struktur SPRMK dengan
7
acuan SNI 2847-2013. Desain perencanaan balok B1 450 x 700, B2 350 x 500 ,
B3 350 x 600, B4 300 x 450. Desain perencanaan kolom K1 = 800 x 800.
Berdasarkan Penelitian Agung Prabowo dan Muhamad Lutfi (2020),
dengan judul analisis struktur bangunan gedung sekolah akibat penambahan ruang
kelas baru. Penelitian dilakukan dengan pengujian mutu beton menggunakan
Hammer Test didapatkan hasil 20,75 Mpa, kemudian dilakukan permodelan
analisis menggunkan software Etabs V9.5.0 dan perhitungan manual berdasarkan
SNI 03-2847-2002, SNI 03-1726-2012 dan SNI 1729-2015. Hasil analisis struktur
eksisting dengan beban tambahan ruang kelas baru, elemen struktur balok
mengalami over strength atau tidak dapat menahan beban tambahan ruang kelas
baru, maka dilakukan perhitungan perkuatan struktur menggunakan metode
concret jackting dengan tebal 10 cm dan jumlah tulangan longitudinal 5D16
sengkang Ø8-100 serta metode perkuatan dengan profil baja WF [Link]
Pada penelitian Chica Oktavia dkk (2018), Redesain gedung asimetris
pada sistem online universitas terbuka. Analasis konfigurasi tidak beraturan
struktur gedung dilakukan untuk mengetahui kinerja gedung terhadap simpangan
antar tingkat akibat beban gempa dan perhitungan pembebanan dilakukan untuk
menghasilkan struktur yang lebih optimal dan efisien. Simpangan antar tingkat
yang terjadi pada gedung akibat pembebanan gempa adalah tidak aman karena
simpangan yang terjadi melebihi simpangan izin yang telah diatur dalam SNI
1726-2019 Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung Ketahanan
Gempa sehingga untuk menambah kekakuan struktur dan memperkecil simpangan
yang terjadi peneliti menempatkan struktur kolom tambahan pada desain.
8
Menurut Wachid Hasyim (2015), dalam penelitiannya yang berjudul
analisa kapasitas dan desain perkuatan kolom bulat struktur gedung akibat
penambahan lantai gedung. Hasil uji kuat tekan beton dengan Hammer Test
menghasilkan beberapa nilai kuat tekan beton rata – rata dengan nilai dibawah
standar yaitu sebesar 16 Mpa di kolom K2. Kegagalan yang terjadi pada kolom
K2 harus diberi perkuatan, desain perkuatan menggunakan CRFP yang
diaplikasikan secara menyeluruh dan parsial dengan lebar dan jarak masing –
masing sebesar 100 mm dan 400 mm.
Menurut Muhammad Rifqi dkk (2023), Pada penelitian yang berjudul
analisis perkuatan stuktur akibat perubahan fungsi ruang dan penambahan jumlah
lantai. Analisis struktur bangunan eksisting setelah penambahan jumlah lantai
menggunakan program ETABS dan dihitung kembali secara manual terhadap
pemenuhan syarat – syarat yang ditetapkan dalam peraturan. Metode yang
digunakan yaitu pembesaran dimensi dan penambahan tulangan pada elemen
struktur, mengacu pada data primer dan data sekunder. Hasil penelitian ini yaitu
adanya pembesaran dimensi balok dari 200/400 menjadi balok 400/500 dengan
tulangan eksisting balok 6D16 tulangan geser Ø10-(150-200) diperkuat dengan
menambahkan tulangan 6D19 tulangan geser Ø10-(90-180), dan kolom dari
200/600 menjadi 400/800 dengan tulangan geser Ø10-(100-200) diperkuat dengan
menambahkan tulangan 14D13 tulangan geser D10-(70-200)
Menurut Hari Subagio dkk (2021), Pada penelitiannya yang berjudul
evaluasi penambahan jumlah lantai pada gedung perkuliahan fakultas teknik
universitas jember, menurutnya adanya penambahan ruang dan lantai pada suatu
9
gedung dengan lahan terbatas akan mengakibatkan kerusakan struktur, kegagalan
struktur yang dimaksud adalah rusaknya struktur balok dan kolom. Metode yang
digunakan yaitu program bantu untuk permodelan bangunan gedung sehingga bisa
diketahui gaya-gaya dalam yang dibutuhkan untuk mendesain struktur tambahan.
Hasil evaluasi diketahui gedung eksisting mampu menahan perencanaan akibat
penambahan lantai, yaitu nilai simpangan antar lantai terbesar adalah 10.2 mm
yang masih di bawah simpangan ijin (31.5 mm), dan nilai integritas struktur
sebesar -0.97 (syarat -1 < -0.97 < 1).
Evaluasi kekuatan struktur pada bangunan gedung tujuh lantai komplek
Gedung H Universitas Dian Nuswantoro mendemonstrasikan dampak rendahnya
mutu beton. Mutu beton rencana dari K250 turun menjadi K150 akibat rendahnya
mutu pengawasan terutama pada lantai 1 sampai 3. Dalam evaluasi kekuatan
struktur gedung menggunakan metode Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
(SRPMK), dan menggunakan konsep strong column weak beam. Hasil penelitian
diketahui Setelah dilakukan peninjauan perhitungan dengan mutu beton K-150
dan K-300, disimpulkan bahwa semua kolom kuat, ditunjukkan dengan hasil
stress ratio kurang dari 1. Stress ratio maksimum kolom bangunan tersebut, adalah
0,78 pada kolom dimensi 50x50 cm, dengan tulangan yang terpasang 16D22. (Nur
Fahria.R.D, dkk, 2016).
Menurut Ricky Januar Honarto dkk, (2019), dalam penelitian yang
berjudul perencanaan bangunan beton bertulang dengan SRMPK di kota manado,
mengatakan bahwa Perencanaan gedung bertingkat di daerah rawan gempa harus
menggunakan salah satu dari beberapa sistem portal, yaitu dinding geser, bracing
10
dan sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK). Beban mati dan beban
hidup mengacu pada SNI 1727-2013 tentang beban minimum untuk perancangan
bangunan gedung dan struktur lain. Beban gempa menggunakan respons spektrum
dengan mengacu pada SNI 1726-2012 tentang tata cara perencanaan ketahanan
gempa untuk struktur bangunan gedung dan non-gedung. Analisis struktur dan
pemodelan menggunakan bantuan program ETABS 2016. Hasil analisis dan
desain menunjukan dimensi-dimensi kolom, balok, plat, dan pilecap telah
memenuhi kriteria penampang untuk SRPMK, dimana syarat strong column weak
beam telah terpenuhi. Simpangan yang terjadi lebih kecil dari simpamgan
maksimum yang diijinkan, dimana simpangan terbesar berada di lantai 5 dengan
nilai ∆ (60,2860mm) lebih kecil dari ∆a (90mm). Rasio penulangan kolom, balok
dan plat telah memenuhi persyaratan penulangan dimana ρ kolom didapat sebesar
1,68% s/d 2,43%, ρ balok didapat sebesar 1,4% s/d 6%, ρ slab didapat sebesar
3,8%, dan ρ pilecap sebesar 2% s/d 5%
Menurut Sari dkk (2021) dalam penelitian evaluasi struktur kolom gedung
2 lantai eksisting terhadapa rencana penambahan beban 2 lantai di atasnya dan
beban yang dimodelkan 3D dengan bantuan program ETABS. Metode yang
digunakan yaitu system rangka pemikul momen khusus. Hasil analisis
menunjukkan bahwa struktur kolom eksisting tidak mampu menahan beban
grafitasi akibat penambahan 2 lantai di atasnya, serta simpangan antar lantai
melebihi batas ijin. Dengan demikian diperlukan upaya perkuatan struktur kolom
jika akan dilakukan penambahan beban 2 lantai di atasnya.
11
Berdasarkan penelitian Fadila Nur Rohmah dkk (2023), yang berjudul
perencanaan ulang struktur atas gedung menara 17 pwnu jawa timur. Metode yang
digunakan dalam perencanaan ulang gedung ini yaitu metode kuantitatif dengan
menggunakan kombinasi system rangka pemikul momen khusus SRMPK.
Pemodelan elemen struktur menggunakan software robot structural analysis
professional (RSAP), Desain struktur dilakukan meliputi desain komponen
struktur bangunan yang meliputi pelat, balok, kolom, tangga dan shear wall.
Dalam perencanaan ini mengacu pada peraturan SNI 2847:2019 untuk beton
struktural, SNI 1726:2019 untuk analisis gempa dan SNI 1727:2020 untuk
pembebanan. Hasil dari perencanaan ulang struktur adalah sebagai berikut : Pelat
atap dengan tebal 120 mm penulangan lapangan arah x dan y P10-150,
penulangan tumpuan arah x dan y P10-150. Balok induk B1 400/600 mm. Balok
induk B2 300/450 mm. Balok anak B3 250/300 mm. Kolom K1 1000/1000 mm.
Berdasarkan Okky Hendra Hermawan dkk (2021), yang berjudul redesain
perencanaan gedung trasa mart slawi menggunakan struktur beton bertulang.
metode yang digunakan dalam perencanaan ulang gedung ini yaitu metode
kombinasi system rangka pemikul momen khusus SRMPK. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui bentuk desain ulang dan seberapa besar kekuatan
struktur beton bertulang tersebut. Hasil dari perencanaan ulang struktur adalah
Pada perhitungan balok tulangan longitudinal B1 (35x60) diperoleh hasil yang
sama pada struktur yaitu Ø 8 - 250 pada tumpuan (1/4L) dan Ø 8 - 450 pada
bentang tengah (1/2L), pada perhitungan kolom tulangan mempanjang K1
(50x50) didapatkan hasil yang sama untuk semua struktur yaitu 16D16,
12
2.2 Dasar Teori
2.2.1 Perencanaan Struktur Rangka Atap Baja
Struktur atap merupakan salah satu bagian penting dari sebuah bangunan
yang memiliki fungsi utama dalam menahan dan mengalirkan beban-beban yang
berasal dari atap itu sendiri. Rangka atap, yang berfungsi untuk menopang beban
dari bahan penutup atap, biasanya terdiri dari susunan balok-balok yang dapat
terbuat dari berbagai material seperti kayu, bambu, atau baja, yang disusun secara
vertikal dan horizontal. Susunan rangka atap ini tidak hanya berperan dalam
menahan beban, tetapi juga dapat menghasilkan lekukan pada permukaan atap,
baik itu jurai dalam maupun luar, serta menciptakan berbagai bentuk atap yang
berbeda sesuai dengan desain arsitektur yang diinginkan.
Konstruksi atap berbentuk limas digunakan profil WF BJ 50. Analisis
beban atap diperhitungkan terhadap beban mati dan beban hidup. Beban mati
meliputi berat sendiri, rangka dan penutup atap, sedangkan beban hidup terdiri
dari orang yang bekerja dan alat kerja. Analisis pembebanan berdasarkan
Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Gedung. Sedangkan analisis gaya
batang kuda-kuda dengan analisis tak tentu menggunakan program SAP2000.
Menurut SNI 1729–2020 tentang tata cara perencanaan struktur baja untuk
bangunan gedung Sifat mekanis baja struktural yang digunakan dalam
perencanaan harus memenuhi persyaratan minimum, Tegangan Leleh (fy = 240
MPa) dan Tegangan Putus (fu = 370 MPa).
Sifat-sifat mekanis lainnya baja struktural untuk maksud perencanaan
ditetapkan sebagai berikut : Modulus elastisitas (E) = 200.000 MPa Modulus
13
geser (G) = 80.000 MPa Nisbah poisson (μ) = 0,3 Koefisien pemuaian (á) = 12 x
10 -6 / 0C.
Dalam Metode LRFD tidak diperlukan analisa probabilitas secara penuh,
terkecuali untuk situasi- situasi tidak umum yang tidak diatur dalam peraturan.
Ada beberapa tingkatan dalam desain probabilitas. Metode Probabilitas Penuh
(Fully Probabilistic Method), merupakan tingkat III dan merupakan cara analisa
yang paling kompleks. Tingkat II dalam desain Probabilitas dinamakan metode
First-Order Second Moment (FOSM) yang menggunakan karakteristik statistik
yang lebih mudah dari tahanan dan beban.
Metode ini mengasumsikan bahwa beban Q dan tahanan R saling bebas
secara statistik.
Perencanaan struktur rangka atap baja terdapat dua komponen penting
yaitu gording dan kuda – kuda. Kedua komponen ini akan direncanakan mengacu
pada teori dasar yang dikutip dan akan diuraikan sesuai tahapan dan urutan
masing – masing perencanaan.
[Link] Perencanaan Gording
Gording merupakan sebagai pengikat yang menghubungkan antar kuda –
kuda. Dalam perencanaan struktur bangunan gedung, penulis berpedoman pada
peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia. Dalam perencanaan gording
menurut setiawan agus (2008) besar beban yang bekerja pada suatu struktur di
atur oleh peratuan pembebanan yang berlaku, sedangkan masalah kombinasi dari
beban – beban yang bekerja telah diatur dalam SNI 1729 - 2020 pasal 6.2.2.
Dalam perencanaan gording ada beberapa langkah yaitu perhitungan momen
14
akibat pembebanan kontrol terhadap tegangan dan lendutan penjelasannya sebagai
berikut :
1) Momen yang terjadi akibat pembebanan
Untuk menghitung momen yang terjadi akibat pembebanan dengan
mengacu dari perencanaan struktur baja dengan metode LRFD maka
gording dapat dihitung dalam tahapan persamaan berikut :
a. Pembebanan akibat beban mati
Untuk pembebanan akibat beban mati pada gording dapat ditinjau
sesuai persamaan pada gambar 2.1 dibawah ini.
Sumber : Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD,
Setiawan Agus 2008
Gambar 2.1 Gording Kanal (Akibat Beban Mati)
Dari gambar 2.1 diatas dapat diketahui arah – arah beban dan momen.
Beban dan momen pada gording dapat diketahui dengan persamaan
sebagai berikut.
Beban pada sumbu x, qx = q cos α ...................................................... (01)
Beban pada sumbu y, qy = q sin α……….. ........................................ (02)
1 2
Momen pada sumbu x, Mx = 8 q ............................................. (03)
1 2
Momen pada sumbu y, My = qy . ............................................ (05)
8
15
Dari persamaan diatas nantinya dapat menemukan hasil dari momen –
momen pada gording.
b. Pembebanan akibat beban hidup
Untuk pembebanan akibat beban hidup pada gording dapat ditinjau
sesuai persamaan pada gambar 2.2 dibawah ini.
Sumber : Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD,
Setiawan Agus 2008
Gambar 2.2 Gording kanal (Akibat Beban Hidup)
Dari gambar 2.2 diatas dapat diketahui beban hidup diambil 100 kg
Adapun untuk menentukan beban dan momen pada gording dengan
persamaan sebagai berikut.
Beban pada sumbu x, Px = P cos α. .................................................... (06)
Beban pada sumbu y, Py = P sin α ...................................................... (07)
1
Momen pada sumbu x, Mx = 4 P ............................................ (08)
1
Momen pada sumbu y, My = Py ............................................ (09)
4
Momen-momen akibat beban hidup merata q, dan terpusat P diambil
yang berpengaruh terbesar . (Akibat q atau akibat P)
c. Beban angin
Tekanan angin, Qw = 0,25 kN/m’ untuk bangunan jauh 5 km dari
16
pantai, Qw = 0,40 kN/m’ untuk daerah 5 km dekat dari pantai. Untuk
gedung tertutup, berdasarkan PPPURG 1987 dihitung koefisien angin
sebagai berikut.
Sumber: PPURG 1987
Gambar 2.3 Koefisien Beban Angin
Dari gambar 2.3 diatas dapat diketahui koefisien angina tekan dan
angina hisap. Perhitungan koefisien angin pada beban angin dapat
ditentukan menggunakan persamaan berikut.
Koefisien angin tekan, Ct = (0,02 x 40 o ) – 0,4 = 0,4 ...................... (10)
Koefisien angin tekan, Ch = - 0,4 = 0,4.............................................. (11)
Dari persamaan diatas akan menemukan hasil dari perhitungan
koefiesien angin pada beban angin.
2) Kontrol terhadap tegangan masalah puntir maka Mny dapat dibagi 2
Untuk struktur berpenampang I dengan rasio bf/d ≤ 1,0 dan merupakan
bagian dari struktur dengan kekangan lateral penuh maka harus dipenuhi
persyaratan seperti pada SNI 1729 :2020 pasal 11.3.1, untuk menghitung
kontrol tegangan dapat dilihat pada rumus sebagai berikut.
u uy
[ ] [ ] ............................................................ (12)
b. p b. py
17
Dari persamaan diatas didapat kontrol terhadap tegangan masalah puntir
nantinya akan digunakan dalam perhitungan perencanaan atap baja WF.
[Link] Perencanaan Kuda – Kuda
Kuda – kuda baja WF merupakan sebuah kerangka utama pada atap
bangunan yang terbuat dari material profil baja WF, yakni Wide Flange yang
mempunyai kekuatan tekan serta tarik yang cukup tinggi. Dalam perencanaan
kuda kuda baja WF perlu dilakukan perhitungan kestabilitasannya yang mencakup
stabilistas batang tekan dan batang lentur. Agar terjamin kestabilitasannya pada
batang tekan harus memperhatikan persamaan berikut :
1) Stabilitas terhadap lokal
Suatu penampang harus memiliki kestabilan dalam menghadapi
kemungkinan tekuk lokal. Kemampuan suatu balok harus stabilitas
tergantung pada ukuran kelangsingan masing-masing elemen pelatnya.
Batasan kelangsingan pelat sayap dan badan dalam stabilitas terhadap
tekuk lokal dengan persamaan sebagai berikut.
170 1680
λp = dan λ p = ........................................................................... (13)
√fy √fy
λf = dan λw = .............................................................................. (14)
Dari persamaan diatas dapat diketahui stabilitas terhadap lokal yang
didapatkan pada batasan kelangsingan pelat sayap dan badan masing –
masing nantinya akan digunakan dalam perhitungan perencanaan atap baja
WF sesuai dimensi yang telah dihitung.
18
2) Kapasitas momen nominal
Dalam desain plastis, kapasitas momen yang diperhitungan yaitu kapasitas
momen plastis, sehingg kita menggunakan modulus plastisitas penampang.
Berdasarkan perhitungan stabilitas baik terhadap tekuk lokal maupun
lateral, penampang memenuhi untuk dihitung secara plastis dengan
persamaan seperti berikut :
a. Modulus plastis
Zx = ( b x tf ) x ( h – tf ) + ( tw x ( h/2 – tf ) 2 ) ............................... (15)
b. Momen ultimate
Dari persamaan diatas dapat diketahui modulus plastis dan momen
ultimate yang di peroleh dari hasil perhitungan dengan bantuan program
SAP 2000 v21.
3) Desain balok terkekang lateral
Tahanan desain balok terkekang lateral dalam desain LRFD harus
memenuhi persyaratan berikut.
Φb . Mn > Mu ............................................................................................ (16)
Dari persamaan dapat diketahui bahwa dimensi WF harus memenuhi
syarat. Dalam perhitungan tahanan momen nominal dibedakan antara
penampang kompak, tak kompak dan langsing, Perbedaan ini sangat
relevan karena masing-masing jenis penampang memiliki karakteristik
struktural yang memengaruhi kemampuannya dalam menahan momen
seperti halnya saat membahas batang tekan. Batasan penampang kompak,
tak kompak dan langsing sebagai berikut :
19
a. Penampang kompak : < p .......................................................... (17)
b. Penampang tak kompak : p < < r ............................................. (18)
c. Langsing : > r .............................................................................. (19)
Dari rumus diatas dapat ditentukan penampang kompak atau tak kompak.
Tahanan momen nominal penampang kompak dan tak kompak dapat
ditinjau dalam persamaan berikut :
a. Penampang kompak
Tahanan momen nominal untuk balok terkekang lateral dengan
penampang kompak sebagai berikut.
Mn = Mp = [Link] .................................................................................. (20)
b. Penampang tak kompak
Tahanan momen nominal untuk balok terkekang lateral dengan
penampang tak kompak pada saat = r sebagai berikut.
Mn = Mr = (fy – fr) . S .......................................................................... (21)
Persamaan diatas digunakan untuk menemukan hasil apakah penampang
baja WF kompak atau penampang baja WF tak kompak.
4) Batas lendutan
Batas-batas lendutan untuk keadaan kemampuan-layan batas harus sesuai
dengan struktur, fungsi penggunaan, sifat pembebanan, serta elemen –
elemen yang didukung oleh struktur tersebut. Batas lendutan maksimum
diberikan dalam tabel sebagai berikut.
20
Tabel 2.1 Batas Lendutan Maksimum
Beban Beban
Komponen Struktur dengan Beban Tidak Terfaktor
Tetap Sementara
Balok Pemikul Dinding atau Finishing yang Getas L/360 -
Balok Biasa L/240 -
Kolom dengan Analisis Orde Pertama Saja h/500 h/200
Kolom dengan Analisis Orde Kedua h/300 h/200
Sumber : SNI 1729 : 2020
Berdasarkan tabel 2.1 diatas merupakan dapat diperoleh dengan
menggunakan komponen struktur dengan beban tidak terfaktor
menggunakan balok biasa yang ditunjukan pada persamaan berikut :
a. Defleksi Yang Di Izinkan Terjadi
..................................................................................................... (22)
240
b. Defleksi Yang Terjadi Pada Pertengahan Batang
2
5. .
............................................................................................ (23)
48 . .
Dari persamaan yang telah disebutkan di atas, kita dapat mengetahui nilai
defleksi serta batasan-batasan yang berlaku untuk baja WF. Informasi ini
akan sangat berguna sebagai acuan atau pembanding dalam perhitungan
dan perencanaan atap yang menggunakan baja WF.
5) Kapasitas geser nominal
Suatu komponen lentur mengakibatkan munculnya gaya geser, pelat badan
merupakan elemen utama dalam memikul gaya geser pada penampang
profil WF. Kekuatan geser Vn dari penampang didasarkan pada lelehan
21
geser keseluruhan tersebut. Untuk menentukan kerampingan dan kontrol
kapasitas geser penampang dapat dilihat pada persamaan berikut.
a. Rasio Kerampingan Terhadap Tekuk Pada Badan Akibat Geser
h kn .
≤1,10 √ ............................................................................... (24)
tw fy
b. Kontrol Kapasitas Geser Penampang
Vu ≤ Vn.............................................................................................. (25)
Dari persamaan diatas dapat diketahui kapasitas geser nominal (V n) harus
lebih kecil dari gaya geser (Vu) sehingga pehitungan atap baja WF dapat
direncanakan dengan aman dan efisien.
2.2.2 Perencanaan Struktur Pelat
Pelat merupakan struktur yang pertama kali menerima beban secara
langsung, kemudian beban-beban tersebut didistribusikan ke elemen pemikul
beban selanjutnya, yaitu balok dan kolom. Berdasarkan geometrinya pelat dibagi
menjadi 2 yaitu pelat satu arah dan pelat dua arah. Apabila nilai perbandingan
antara sisi panjang dan sisi pendek tidak lebih dari dua, digunakan penulangan dua
arah. Tetapi apabila perbandingan antara sisi panjang dan sisi pendek lebih kecil
dari dua, pelat dianggap pelat satu arah.
Menurut PBI-1971, pelat persegi dengan tebal tetap menumpu keempat
tepinya dengan beban merata terbagi menjadi beberapa kondisi diantaranya
sebagai berikut :
22
a. Pada tepi tepinya pelat dapat terletak bebas, terjepit penuh atau terjepit
elastis. Jepitan penuh terjadi, apabila penampang pelat di atas tumpuan itu
tidak dapat berputar akibat pembebanan pada pelat.
b. Pada tepi pelat yang di dalam perhitungan dianggap sebagai tepi yang
terletak bebas, harus dianggap bekerja suatu momen tumpuan tidak
terduga sebesar 0,5 dari momen lapangan di arah yang sejajar dengan tepi
pelat itu atau 0,3 dari momen lapangan di arah yang tegak lurus pada tepi
pelat itu.
c. Untuk berbagai keadaan tepi pelat, dimana pada masing – masing tepi
tersebut pelat dapat terletak bebas atau terjepit penuh, momen – momen di
dalam pelat dapat di hitung dengan perantaraan.
Dari uraian diatas dapat diketahui kondisi pelat yang nantinya akan digunakan
untuk perhitungan penulangan.
Untuk menghitung momen – momen yang menentukan pada pelat yang
menahan dua arah dengan terjepit pada keempat sisinya sebagai berikut :
Momen lapangan arah x (Mlx) = [Link] . Lx2.X
Momen lapangan arah y (Mly) = -[Link] . Lx2.X
Momen tumpuan arah x (Mtx) = [Link] . Lx2.X
Momen tumpuan arah y (Mt y) = -[Link] . Lx2.X
Dari uraian diatas maka didapat momen lapangan dan tumpuan pada pelat
lantai dan pelat atap. Untuk menentukan nilai X dapat dilihat pada tabel plat
menurut PBI-1971, sebagai berikut.
23
Tabel 2.2 Momen Pelat Persegi Akibat Beban Merata
Sumber : PBI-1971
Dari tabel diatas dapat ditentukan nilai koefisien tumpuan dan lapangan. Untuk
perhitungan rasio tulangan minimum dan rasio tulangan dalam kondisi balance
dapat menggunakan persamaan dibawah ini.
0,[Link]’ 600
balance
= * +* + ........................................................................... (26)
600
1,4
min
= .............................................................................................................. (27)
ma
0,75 ρbalance ....................................................................................................................................... (28)
24
Pada rumus (26), (27), dan (28) dapat diketahui nilai terbesar dari hasil ketiga
persamaannya. Faktor pendukung tegangan tekan beton tekan persegi ekivalen
yang bergantung pada mutu beton (fc’). Untuk 1 harus diambil sebesar 0,85.
Untuk beton dengan nilai kuat tekan ’c lebih kecil daripada atau sama dengan di
30 MPa, 1 harus direduksi sebesar 0,05 untuk setiap kelebihan kekuatan sebesar
7 MPa di atas 28 MPa, tetapi 1 tidak boleh kurang dari 0,65.
Untuk menentukan jarak serat teratas pelat maka digunakan persamaan-
persamaan berikut.
dx = h - p - . Ø x .............................................................................................. (29)
dy = h - p - Ø x - . Ø y ..................................................................................... (30)
Dari rumus diatas dapat ditentukan jarak serat teratas pelat. Untuk mencari
tulangan pelat yaitu dengan menerapkan persamaan-persamaan berikut.
......................................................................................................... (31)
M ................................................................................................... (32)
0,85
Dari rumus diatas dapat ditentukan tulangan pelat. Sedangkan rasio tulangan perlu
dapat dihitung dengan persamaan berikut.
1 2
[1-√1- ] ..................................................................................... (33)
Harus memenuhi min ≤ perlu ≤ max
Jika perlu < min, maka digunakan perlu min dan As = min . b.d
Jika perlu > maks, maka tebal pelat harus diperbesar.
25
2.2.3 Pembebanan Struktur Atas Bangunan Gedung
Beban-beban yang bekerja pada perencanaan struktur gedung ini
berpedoman sesuai dengan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung tahun
1983.
Dalam pembebanan struktur atas bangunan gedung terdapat beban – beban
yang bekerja, seperti beban mati (D), beban hidup (L), dan beban gempa (E).
[Link] Beban Mati (D)
Beban mati merupakan berat seluruh bahan konstruksi bangunan gedung
yang terpasang, termasuk dinding, lantai, atap, plafon, tangga, dinding partisi
tetap, finishing, klading gedung dan komponen arsitektural dan struktural lainnya
serta peralatan layan terpasang lain.
Dalam menghitung beban mati terdapat berat sendiri bangunan. Berat
sendiri dari beberapa material konstruksi dan komponen bangunan gedung
ditentukan dari (PPUIG 1983). Informasi mengenai berat satuan dari berbagai
material konstruksi, dicantumkan pada tabel berikut.
Tabel 2.3 Beban Mati Pada Bahan Bangunan
No Bahan Bangunan Berat
1 Baja 7850 kg/m3
2 Batu alam 2600 kg/m3
3 Batu belah, batu bulat, batu gunung 1500 kg/m3
4 Batu karang 700 kg/m3
5 Batu pecah split 1450 kg/m3
6 Besi tuang 7250 kg/m3
Sumber : PPIUG, 1983
26
Tabel 2.3 Beban Mati Pada Bahan Bangunan (Lanjutan)
No Bahan Bangunan Berat
7 Beton 2200 kg/m3
8 Beton Bertulang 2400 kg/m3
9 Kayu (Kelas I) 1000 kg/m3
10 Kerikil, koral (kering udara sampai lembab) 1650 kg/m3
11 Pasangan Batu Merah 1700 kg/m3
12 Pasangan batu belah, batu bulat, batu gunung 2200 kg/m3
13 Pasangan batu cetak 2200 kg/m3
14 Pasangan batu karang 1450 kg/m3
15 Pasir (kering udara sampai lembab) 1600 kg/m3
16 Pasir (jenuh air) 1800 kg/m3
17 Pasir, kerikil, koral (kering udara sampai lembab) 1850 kg/m3
Tanah, lempung dan lanau (kering udara sampai
18 1700 kg/m3
lembab)
19 Tanah, lempung dan lanau (basah) 2000 kg/m3
20 Tanah hitam (timbal) 11400 kg/m3
Sumber : PPIUG, 1983
Pada Tabel 2.3 dapat dilihat berat sendiri beton bertulang yaitu 2400
kg/m3. Untuk Beban mati pada komponen gedung menurut Peraturan Pembebanan
27
Indonesia Untuk Gedung tahun 1983 dapat dilihat pada tabel 2.4 dibawah ini
sebagai berikut.
Tabel 2.4 Beban Mati pada Komponen Gedung
No Komponen Gedung Berat
1 Adukan, per cm tebal:
Dari semen 21 kg/m2
Dari kapur, semen merah atau tras 17 kg/m2
Aspal, bahan-bahan minimal penambah per cm
2 14 kg/m2
tebal
3 Dinding pasangan bata merah :
Satu batu 450 kg/m2
Setengan batu 250 kg/m2
Dinding pasangan batako :
4
Berlubang ;
Tebal dinding 20 cm (HB 20) 200 kg/m2
Tebal dinding 10 cm (HB 10) 120 kg/m2
5 Tanpa lubang :
Tebal dinding 15 cm 300 kg/m2
Langit -langit dan dinding ( termasuk rusuk-
6 rusuknya, tanpa penggantung langit-langit atau 11 kg/m2
pengaku
Penggantung langit-langit (dari kayu), dengan
bentang maksimum 5 m dan jarak s.k.s. minimum 7 kg/m2
0,80 m
Sumber : PPIUG, 1983
Tabel diatas merupakan tabel yang di kutip dari Peraturan Pembebanan
Indonesia Untuk Gedung tahun 1983 yang akan menjadi acuan ditentukannya
koefisien komponen pada bangunan gedung. Pada Tabel diatas dapat dilihat berat
28
dinding pasangan setengah batu ditentukan sebesar 250 kg/m2, penggantung
ditentukan sebesar 7 kg/m2 dan berat plafon ditentukan sebesar 11 kg/m2.
[Link] Beban Hidup (L)
Beban hidup merupakan beban yang diakibatkan oleh pengguna dan
penghuni bangunan gedung atau struktur lain yang tidak termasuk beban
konstruksi dan beban lingkungan, seperti beban angin, beban gempa, beban banjir,
atau beban mati. Beban hidup yang direncakan dalam bangunan ini sebagai
berikut.
Tabel 2.5 Beban Hidup Komponen gedung
No Penggunaan Berat
1. Lantai dan tangga rumah tinggal 200 kg/m2
2. lantai & tangga rumah tinggal sederhana 125 kg/m2
Gudang-gudang selain untuk toko, pabrik, bengkel
3. sekolah, ruang kuliah
Kantor
Toko, toserba
Restoran 250 kg/m2
Hotel, asrama
Rumah sakit
4. Ruang olahraga 400 kg/m2
5. Ruang dansa 500 kg/m2
6. Lantai dan balkon dalam dari ruang pertemuan (masjid,
gereja, ruang pagelaran/rapat, bioskop dengan tempat duduk 400 kg/m2
tetap)
7. Panggung penonton 500 kg/m2
8. Tangga, bordes tangga, dan gang (no 3) 300 kg/m2
9. Tangga, bordes tangga, dan gang (no 4, 5, 6, 7) 500 kg/m2
10. Ruang pelengkap 250 kg/m2
11. Pabrik, bengkel, gudang
Perpustakaan, r. arsip, toko buku 400 kg/m2
Ruang alat dan mesin
29
12. Gedung parkir bertingkat :
Lantai bawah 800 kg/m2
Lantai tingkat lainnya 400 kg/m2
13. Balkon menjorok bebas keluar (minimum) 300 kg/m2
Sumber : PPIUG, 1987
Pada tabel 2.5 beban hidup pada lantai yang digunakan dalam bangunan
ini mengacu pada standar pedoman pembebanan yang ada, yaitu untuk beban
gedung Rumah sakit sebesar 250 kg/m2 (PPIUG 1983). Adapun uraian
pembebanan pada beban hidup ada 2 yaitu sebagai berikut :
1. Beban Hidup pada Atap Gedung
Berat beban hidup pada atap mengacu pada standar pembebanan Peraturan
Pembebanan Indonesia Untuk Gedung tahun 1983, dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 2.6 Beban hidup pada atap gedung
No Bagian Atap Berat
1. Atap / bagiannya dapat dicapai orang, termasuk 100 kg/m2
kanopi (atap dak)
2. Atap / bagiannya tidak dapat dicapai orang (diambil
min.) : (α = sudut atap, min. 20 kg/m2, tak perlu (40-0,8.α)
ditinjau bila α > 50o) kg/m2
- Beban hujan 100 kg
- Beban terpusat
3. Balok/gording tepi kantilever 200 kg
Sumber : PPIUG, 1987
Beban hidup pada atap yang digunakan dalam bangunan ini mengacu pada
standar pedoman pembebanan yang ada, yaitu untuk beban gedung Rumah
Sakit sebesar 100 kg/m2
2. Distribusi Beban
30
Untuk menghitung beban-beban yang bekerja pada balok akibat adanya
distribusi beban oleh pelat. Untuk beban mati terbagi rata akibat pelat
segitiga dapat dihitung menggunakan persamaan berikut.
......................................................................................... . (34)
Dari persamaan diatas dapat diketahui beban segitiga pada pelat. Selain
berbentuk segitiga distribusi beban pelat juga membentuk trapezium dan
untuk beban mati terbagi rata akibat pelat trapezium dapat dihitung
menggunakan persamaan berikut.
( ) ( ) ) .................................................................. (35)
Dari persamaan diatas dapat diketahui beban trapezium pada struktur pelat.
[Link] Beban Gempa (E)
Beban gempa merupakan semua beban statis ekivalen yang bekerja pada
gedung atau bagian yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa
itu. Dalam hal pegaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu
analisa dinamik, maka yang diartikan dengan beban gempa disini yaitu gaya-gaya
di dalam struktur tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu.
Dalam perhitungan terhadap beban gempa, seluruh bagian struktur yang
bergabung menjadi satu kesatuan harus memenuhi SNI 1726:2019, Tata cara
Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non
gedung sebagai berikut :
Faktor Keutamaan
31
Untuk berbagai kategori risiko struktur bangunan gedung non gedung
sesuai Tabel 2.4 pengaruh gempa rencana terhadapnya harus dikalikan
dengan suatu faktor keutamaan Ie menurut Tabel 2.5. Khusus untuk
struktur bangunan dengan kategori risiko IV, bila dibutuhkan pintu masuk
untuk operasional dari struktur bangunan yang bersebelahan, maka
struktur bangunan yang bersebelahan tersebut harus didesain sesuai
dengan kategori risiko IV. Untuk kategori risiko resiko bangunan gedung
dan non gedung.
Untuk Kategori Resiko Bangunan Gedung dan Non Gedung Untuk Beban
Gempa dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.7 Kategori Resiko Bangunan Gedung dan Non Gedung Untuk Beban
Gempa
Jenis Pemanfaatan Kategori
Risiko
Gedung dan non gedung yang memiliki risiko rendah terhadap jiwa
manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi
untuk, antara lain :
Fasilitas pertanian, perkebunan, pertenakan, dan perikanan I
Fasilitas sementara
Gudang penyimpanan
Rumah jaga dan struktur kecil lainnya
Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk dalam
kategori risiko I,III,IV, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk :
Perumahan
Rumah toko dan rumah kantor II
Pasar
Gedung perkantoran
Gedung apartemen / rumah susun
32
Jenis Pemanfaatan Kategori
Risiko
Gedung apartemen / rumah susun
Pusat perbelanjaan / mall
Bangunan Industri II
Fasilitas manufaktur
Pabrik
Gedung dan non gedung yang memiliki risiko tinggi terhadap jiwa
manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi
untuk :
Bioskop, Gedung pertemuan, Stadion
Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit bedah dan unit gawat
darurat
Fasilitas penitipan anak
Bangunan untuk orang jompo
Gedung dan non gedung, tidak termasuk kedalam kategori risiko IV,
yang memiliki potensi untuk menyebabkan dampak ekonomi yang
besar dan/atau gangguan terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari
bila terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk :
III
Pusat pembangkit listrik biasa
Fasilitas penanganan air
Fasilitas penanganan limbah
Pusat telekomunikasi
Gedung dan non gedung yang tidak termasuk dalam kategori risiko
IV, (termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk fasilitas manufaktur, proses,
penanganan, penggunaan atau tempat pembuangan bahan bakar
berbahaya, limbah berbahaya, atau bahan yang mudah meledak) yang
mengandung bahan beracun atau peledak dimana jumlah kandungan
bahannya melebihi nilai batas yang disyaratkan oleh instansi yang
berwenang dan cukup menimbulkan bahaya bagi masyarakat jika
terjadi kebocoran.
33
Tabel 2.7 Kategori Resiko Bangunan Gedung dan Non Gedung Untuk Beban
Gempa (Lanjutan)
Kategori
Jenis Pemanfaatan
Risiko
Gedung dan non gedung yang ditunjukkan sebagai fasilitas yang
penting, termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk :
Bangunan-bangunan monumental
Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan
Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki fasilitas
bedah dan unit gawat darurat
Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, angin badai, dan
tempat perlindungan daruratlainnya
Pusat pembangkit energy dan fasilitas public lainnya yang
dibutuhkan pada saat keadaan darurat IV
Struktur tambahan (termasuk menara telekomunikasi, tangki
penyimpanan bahan bakar, menara pendingin, struktur stasiun
listrik, tangka air pemadam kebakaran atau struktur rumah atau
struktur pendukung air atau materialatau peralatan pemadam
kebakaran) yang disyaratkan untuk beroperasi pada saat keadaan
darurat.
Gedung dan non gedung yang dibutuhkan untuk mempertahankan
fungsi struktur bangunan lain termasuk dalam kategori risiko IV
Sumber : SNI 1726 – 2019
34
Berdasarkan Tabel 2.7 dapat diketahui kategori resiko gempa dengan
meninjau dari jenis pemanfaatan baik untuk gedung maupun non gedung.
Kemudian dari Tabel 2.7. untuk mendapatkan nilai faktor keutamaan
gempa dapat di tinjau pada tabel berikut.
Tabel 2.8 Faktor Keutamaan Gempa
Kategori Risiko Faktor keutamaan gempa, Ie
I atau II 1,0
III 1,25
IV 1,50
Sumber : SNI 1726 – 2019
Pada Tabel di atas dapat di ketahui Gedung Rumah sakit dan fasilitas
kesehatan lainnya yang memiliki fasilitas bedah dan unit gawat darurat
rumah dan fasilitas pendidikan kategori resiko gempa tipe IV dan menurut
SNI 1726-2019 faktor keutamaannya 1,50 Ie.
Wilayah Gempa
Di setiap daratan atau kepulauan memiliki wilayah gempa masing-masing,
yang dimana wilayah gempa ini untuk menentukan percepatan puncak
(PGA) dan respon spektra percepatan yang selanjutnya digunakan untuk
menentukan beban gempa pada suatu perencanaan pembangunan baik
gedung maupun non gedung berdasarkan parameter-parameter. Menurut
peta hazard gempa Indonesia 2021 di SNI 1726 – 2019, meliputi peta
percepatan puncak (PGA) dan respon spektra percepatan dibatuan dasar
(SB) untuk perioda pendek 0.2 detik (Ss) dan untuk periode 1.0 detik (S1)
dengan redaman 5% mewakili tiga level hazard gempa yaitu 500, 1000 dan
2500 tahun atau memiliki kemungkinan terlampaui 10% dalam 50 tahun,
10% dalam 100 tahun, dan 2% dalam 50 tahun. Menurut SNI 1726-2019,
35
penggunaan penting dua perameter ini dalam menentukan parameter
percepatan spectral desain SDS dan SD1 dapat dilihat pada gambar
berikut.
Sumber : SNI 1726:2019
Gambar 2.4 Peta Wilayah Gempa di Indonesia untuk Ss
Pada gambar diatas dapat diketahui wilayah gempa perioda pendek 0.2
detik. Untuk menentukan wilayah gempa perioda pendek 1.0 detik dapat
dilihat pada gambar berikut.
Sumber : SNI 1726:2019
Gambar 2.5 Peta Wilayah Gempa di Indonesia untuk S1
Pada gambar 2.5 dapat diketahui wilayah gempa perioda pendek 1.0 detik.
36
Jenis Tanah Setempat
Perambatan gelombang (PPEBD) melalui lapisan tanah dibawah bangunan
diketahui dapat memperbesar gempa rencana di muka tanah tergantung
pada jenis lapisan [Link] gempa dari kedalaman batuan dasar ke
muka tanah dengan menggunakan gerakan gempa masukan dengan
percepatan puncak untuk batuan dasar. SNI 1726-2019 menetapkan jenis
tanah di Indonesia menjadi 4 kategori jenis tanah versi UBC berturut-turut
SC,SD,SE,dan SF. Jenis-jenis tanah berdasar kelas situs dapat dilihat di
tabel berikut.
Tabel 2.9 Klasifikasi Situs
Kelas situs Vs (m/detik) N atau Nch Su(kPa)
SA (batuan keras) >1500 N/A N/A
SB (batuan) 750 - 1500 N/A N/A
SC (tanah keras, 350 – 750 >50 ≥100
sangatadat dan
batuan lunak)
SD (tanah 175 – 350 15 – 50 50 - 100
sedang)
SE (tanah lunak) < 175 <15 < 50
Sumber : SNI 1726 – 2019
37
Tabel 2.9 Klasifikasi Situs (Lanjutan)
Kelas situs Vs (m/detik) N atau Nch Su(kPa)
SF (tanah N/A >35 ≥ 50 ,
khusus,yang
membutuhkan
investigasi
geoteknik pesifik
dan analisis
espons spesifik-
situs angka
mengikuti 0)
Sumber : SNI 1726 – 2019
Klasifikasi situs pada tabel diatas, tanah sedang mempunyai Vs sebesar
750-1500 m/detik, N sebesar >50, dan Su sebesar ≥100 kPa.
Faktor Respon Gempa
Faktor respon gempa dinyatakan dalam percepatan gravitasi, dan besarnya
nilai faktor respon gempa ini diperoleh dari perhitungan dua komponen
utama yaitu SS dan S1, yang mewakili faktor amplifikasi seismik pada
periode 0,2 detik dan periode 1 detik.
Faktor amplifikasi ini mencakup dua aspek penting, antara lain faktor
amplifikasi getaran yang terkait dengan percepatan pada getaran periode
pendek (Fa), serta faktor amplifikasi yang berhubungan dengan percepatan
yang mewakili getaran pada periode 1 detik (Fv).
Parameter respons spektral percepatan pada periode pendek (SMS) dan
periode 1 detik (SM1), yang telah disesuaikan dengan pengaruh klasifikasi
situs, harus ditentukan berdasarkan perumusan yang telah
38
[Link] dengan perumusan berikut.
SMS=[Link] .............................................................................................. (36)
SM1= Fv.S1 ............................................................................................. (37)
Dari persamaan diatas didapat percepatan pada periode pendek. Untuk
Koefisien-koefisien situs Fa dan Fv seperti tabel berikut.
Tabel 2.10 Koefisien Situs Fa
Parameter respon spektral percepatan gempa maksimum
Kelas Situs yang dipertimbangkan risiko-tertarget (MCEr) terpetakan
pada periode pendek, T = 0,2 detik, SS
SS≤0,25 SS = 0,5 SS = 0,75 SS = 1,0 SS ≥1,25 SS≥1,5
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 0.9 0.9 0,9 0,9 0,9
SC 1,3 1,3 1,2 1,2 1,2 1,2
SD 1,6 1,4 1,2 1,1 1,0 1,0
SE 2,4 1,7 1,3 1,1 0,9 0,8
SF SS(a)
Sumber : SNI 1726 – 2019
Pada tabel diatas dapat diketahui parameter respon spektral percepatan
gempa maksimum yang dipertimbangkan berdasarkan risiko yang telah
ditargetkan. Setelah nilai Fa ditentukan, langkah selanjutnya yaitu
menentukan nilai Fv. Untuk mendapatkan nilai Fv dapat merujuk pada
tabel 2.11, dimana informasi mengenai faktor amplifikasi seismik terkait
percepatan pada periode 1 detik tersebut disajikan secara rinci dapat dilihat
pada tabel berikut.
39
Tabel 2.11 Koefisien Situs Fv
Parameter respon spektral percepatan gempa maksimum
Kelas Situs yang dipertimbangkan risiko-tertarget (MCEr) terpetakan
pada periode pendek, T = 0,2 detik, S1
S1 ≤0,1 S1 = 0,2 S1 = 0,3 S1 = 0,4 S1 ≥ 0,5 S1 ≥ 0,6
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 0,8 0,8 1,0 0,8 0,8
SC 1,5 1,5 1,5 1,4 1,5 1,4
SD 2,4 2,2 2,0 1,6 1,8 1,7
SE 4,2 3,3 2,8 2,4 2,2 2,0
SF SSb
Sumber : SNI 1726 – 2019
Pada tabel diatas dapat dilihat Parameter respon spektral percepatan gempa
maksimum yang dipertimbangkan resiko tertarget. Adapun catatan untuk
pertimbangan diatas sebagai berikut :
a. Untuk nilai-nilai antara S1 dapat dilakukan interpolasi linier.
b. (SS) yaitu situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan
analisis respon situs spesifik.
Pada kedua Tabel 2.10 dapat diambil Fa tanah sedang dengan Ss = 0,75
sebesar 1,2 dan Fv tanah sedang dengan S1 = 0,4 sebesar 1,9. Dan dari
Tabel 2.11 dapat dilihat nilai koefisien nilai Fa berdasarkan kelas situs.
Parameter spectrum respon percepatan pada periode pendek (Sms) dan
periode 1 detik (Sm1) yang disesuaikan dengan pengaruh klasifikasi situs,
40
dan harus ditentukan dengan perumusan atau persamaan yang disediakan
sebagai berikut.
.......................................................................................... (38)
........................................................................................... (39)
Dari perumusan diatas dapat diketahui pengaruh Parameter spectrum
respon percepatan pada periode pendek (Sms) dan periode 1 detik (Sm1).
Kategori Desain Gempa
Kategori desain gempa dapat dilihat berdasarkan periode pendek gampa
dan periode 1 detik. Pengklasifikasian ini dikarenakan pada struktur
berdasar kategori resiko bangunan dan tingkat kekuatan gerakan tanah
akibat gempa yang diantisipasi dilokasi struktur bangunan. Untuk kategori
desain gempa dievaluasi berdasarkan parameter respon percepatan periode
pendek dan berdasarkan parameter respon percepatan periode 1,0 detik.
Kategori berdasarkan pada periode pendek dapat dilihat pada tabel 2.10
sedangkan untuk periode 1,0 detik dapat dilihat dalam tabel 2.12 sebagai
berikut.
Tabel 2.12 Kategori Desain Gempa Berdasar pada Periode Pendek
Kategori Risiko
Nilai SDS
I, II, III IV
SDS< 0,167 A A
0,167 ≤ SDS< 0,33 B C
0,33 ≤ SDS< 0,50 C D
0,50 ≤ SDS D D
Sumber : SNI 1726 – 2019
41
Tabel 2.12 merupakan kategori resiko gempa berdasarkan pada periode
pendek. Untuk kategori resiko gempa berdasarkan pada periode 1 detik
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.13 Kategori Desain Gempa Berdasar pada Periode 1 Detik
Kategori Risiko
Nilai SDS
I, II, III IV
SDS< 0,167 A A
0,067 ≤ SDI< 0,133 B C
0,133 ≤ SDS< 0,20 C D
0,20 ≤ SDS D D
Sumber : SNI 1726 – 2019
Pada 2 tabel 2.12 dan 2.13 dapat diambil Kategori desain seismic
berdasarkan parameter respons percepatan pada periode pendek dengan
nilai 0,50 < SDS kategori resiko II yaitu D, sedangkan Kategori desain
seismic berdasarkan parameter respons percepatan pada periode 1 detik
dengan nilai 0,20 < SD1 kategori resiko II yaitu D. Grafik desain spectral
untuk wilayah tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.
Sumber : [Link]
Gambar 2.6 Grafik Desain Spektral Untuk Wilayah Wonogiri
Pada gambar 2.6 dapat diketahui respon gempa di wilayah Wonogiri
menggunakan aplikasi desain spektra Indonesia.
42
Koefisien Modifikasi Respon (R)
Koefisien modifikasi respon, merupakan rasio antara beban gempa
maksimum akibat pengaruh gempa rencana pada struktur gedung elastik
penuh dan beban gempa nominal akibat pengaruh gempa rencana pada
struktur gedung daktail, bergantung pada faktor daktilitas struktur tersebut.
Parameter daktilitas struktur gedung dapat dilihat di tabel di bawah ini :
Tabel 2.14 Parameter Daktilitas Struktur Gedung
Koefisien
Sistem penahan – gaya gempa modifikasi respon
(R)
C. Sistem rangka pemikul momen
1. Rangka batang baja pemikul momen khusus. 7
2. Rangka baja pemikul momen menengah. 4,5
3. Rangka baja pemikul momen biasa. 3,5
4. Rangka beton bertulang pemikul momen khusus. 8
5. Rangka beton bertulang pemikul momen menengah. 5
6. Rangka beton bertulang pemikul momen biasa. 3
7. Rangka baja dan beton komposit pemikul momen
4
khusus.
8. Rangka baja dan beton komposit pemikul momen
5
menengah.
9. Rangka baja dan beton komposit terkekang parsial
6
pemikul momen.
[Link] baja dan beton komposit pemikul momen
3
biasa.
[Link] baja canai dingin pemikul momen khusus
3,5
dengan pembautan.
Sumber : SNI 1726 – 2019
Pada tabel 2.14 diatas dapat diketahui perencanaan gedung rumah sakit ini
memakai rangka beton bertulang pemikul momen khusus dengan nilai
koefisien 8 yang selanjutnya bisa menjadi acuan untuk menghitung
perioda fundamental struktur.
43
Perioda Fundamental Struktur ( T )
Perioda fundamental struktur, T, dalam arah yang ditinjau harus diperoleh
menggunakan properti struktur dan karateristik deformasi elemen penahan
dalam analisis yang teruji. Perioda fundamental struktur, T, tidak boleh
melebihi hasil koefisien untuk batasan atas pada perioda yang dihitung
(Cu) dari Tabel 2.12 dan perioda fundamental pendekatan, T a, yang sesuai
dengan periode fundamental pendekatan. Sebagai alternatif pada
pelaksanaan analisis untuk menentukan perioda fundamental struktur, T ,
diijinkan secara langsung menggunakan perioda bangunan pendekatan, Ta,
yang dihitung sesuai dengan periode fundamental pendekatan.
Perioda fundamental pendekatan (Ta), dalam detik, harus ditentukan dari
persamaan berikut.
................................................................................................ (40)
Dimana hn yaitu ketinggian struktur, dalam (m), di atas dasar sampai
tingkat tertinggi struktur, dan koefisien Ct dan x ditentukan dari berikut.
Tabel 2.15 Koefisien Untuk Batas Atas Pada Periode Yang Dihitung
Parameter percepatan respons spektral
Koefisien Cu
desain pada 1 detik, SD1
≥ 0,4 1,4
0,3 1,4
0,2 1,5
≤ 0,1 1,7
Sumber : SNI 1726 – 2019
Pada tabel 2.15 koefisien untuk batas atas pada periode yang dihitung ≤
0,1 mempunyai Koefisien Cu yaitu 1,7. Untuk parameter periode dapat
dilihat pada tabel berikut.
44
Tabel 2.16 Nilai Parameter Periode Pendekatan Ct Dan X
Tipe struktur Ct X
Rangka baja pemikul momen 0,0724a 0,8
Rangka beton pemikul momen 0,0466a 0,9
Rangka baja dengan bresing eksentris 0,0731a 0,75
Rangka baja dengan bresing terkekang terhadap 0,0731a 0,75
tekuk
Semua sistem struktur lainnya 0,0488a 0,75
Sumber : SNI 1726 – 2019
Pada tabel di atas rangka beton pemikul momen memiliki nilai parameter
periode pedekatan Ct = 0,0466a dan X = 0,9.
Koefisien Dasar Seismic (V)
Nilai koefisien dasar seismic didapatkan dengan berdasarkan SNI 1726 –
2019, geser dasar seismic V dalam arah yang ditetapkan harus sesuai
dengan persamaan berikut.
V = Cs . W .............................................................................................. (41)
S DS
Cs = ............................................................................................ (42)
R
Ie
S DS
Csmaks = ...................................................................................... (43)
R
T
Ie
Csmin = 0,044 SDS Ie ≥ 0,01
Dari persamaan sebelumnya dapat diketahui nilai koefisien dasar seismic
untuk selanjutnya bisa digunakan untuk menghitung distribusi gaya
gempa.
45
Distribusi Gaya Gempa
Menurut SNI 1726 – 2019, gempa gaya lateral (Fx) yang timbul di semua
tingkat harus ditentukan dari persamaan berikut.
......................................................................................... (44)
∑
........................................................................................ (45)
Persamaan diatas digunakan untuk mengetahui gaya lateral gempa. Untuk
menghitung nilai k diambil dari SNI 1726-2019. Nilai k merupakan
eksponen yang terkait dengan periode struktur, yang memiliki ketentuan
sebagai berikut :
- Untuk struktur yang mempunyai periode sebesar 0,5 detik atau kurang,
k = 1;
- Untuk struktur yang mempunyai periode sebesar 2,5 detik atau lebih, k
= 2;
- Untuk struktur yang mempunyai periode antara 0,5 dan 2,5 detik, k
harus sebesar 2 atau interpolasi linier antara 1 dan 2.
Pada ketentuan diatas dapat ditentukan periode struktur untuk nilai k itu
sendiri. Selanjutnya untuk faktor reduksi kekuatan dapat ditentukan.
Faktor Reduksi Kekuatan
Ketidakpastian terkait kekuatan bahan terhadap pembebanan pada
komponen struktur dianggap sebagai salah satu faktor yang dapat
mengurangi kekuatan efektif dari komponen tersebut.
Oleh karena itu, faktor reduksi kekuatan ini diperlukan untuk memastikan
bahwa desain struktur tetap aman dan andal dalam menghadapi berbagai
46
kondisi beban yang mungkin terjadi. Nilai faktor reduksi kekuatan ini
ditentukan secara rinci dan diatur dalam Pasal 21 SNI 2847:2019 sebagai
berikut.
Tabel 2.17 Faktor Reduksi ( )
Gaya atau elemen struktur Φ Pengecualian
0,65 – Di dekat ujung komponen pratarik
Momen, gaya aksial, atau
0,90 (pretension) dimana strand belum
kombinasi momen dan gaya
sesuasi sepenuhnya bekerja, harus sesuai
aksial
21.2.22 dengan 21.2.3
Persyaratan tambahan untuk struktur
Geser 0,75
tahan gempa terdapat pada 21.2.4
Torsi 0,75
Tumpu (bearing) 0,65
Zona angkur pascatarik
0,85
(post-tension)
Bracket dan korbel 0,75
Strut, ties, zona nodal, dan
daerah tumpuan yang
0,75
dirancang dengan strut and
tie pada pasal 23
Komponen sambungan
beton pracetak terkontrol
0,90
leleh oleh elemen baja
dalam Tarik
Beton polos 0,60
0,45-0,75
Angkur dalam elemen beton sesuasi
pasal 17
Sumber : SNI 2847:2019
Pada tabel diatas terdapat informasi penting mengenai faktor-faktor
reduksi yang diterapkan pada setiap persamaan komponen.
Struktur setiap persamaan komponen struktur yang nantinya digunakan
untuk menghitung gaya – gaya dalam pada gedung.
47
[Link] Kombinasi Pembebanan
Dalam perencanaan pembebanan digunakan kombinasi pembebanan sesuai
dengan SNI 1726:2019 pasal [Link], sebagai berikut.
Tabel 2.18 Faktor Pembebanan
Kombinasi Beban Faktor U
Beban mati (D) 1,4 D
Beban mati (D), beban hidup (L) 1,2 D + 1,6 L
Beban mati (D), beban hidup (L), beban angin (W) 1,2 D + 1,0 L ± 1,0 W
Beban mati (D), beban angin (W) 0,9 D ± 1,0 W
Beban mati (D), beban hidup (L), beban gempa (E) 1,2 D +1,0 L ± 1,0 E
Beban mati (D), beban gempa (E) 0,9 D ± 1,0 E
Sumber : SNI 1726-2019
Tabel diatas merupakan kombinasi beban yang menggunakan persamaan
yang difaktorkan. Pengecualian Faktor beban untuk L pada kombinasi 3 dan 4
diizinkan diambil sama dengan 0,5 untuk semua fungsi ruang apabila beban hidup
desain tak tereduksi (Lo) dalam SNI 1726:2019, lebih kecil atau sama dengan
4,78 kN/m2, kecuali garasi atau ruang pertemuan publik.
Jika beban fluida F bekerja pada struktur, keberadaannya harus
diperhitungkan secara menyeluruh dalam analisis struktural. Dalam hal ini, nilai
faktor beban untuk beban fluida F harus disamakan dengan faktor beban yang
digunakan untuk beban mati D dalam kombinasi perhitungan beban, khususnya
dalam kombinasi 1 hingga 4. Bila beban tanah H bekerja pada struktur, maka
keberadaannya harus diperhitungkan sebagai berikut :
1. Bila adanya beban H memperkuat pengaruh variabel beban utama, maka
perhitungkan pengaruh H dengan faktor beban = 1,6;
48
2. Bila adanya beban H memberi perlawanan terhadap pengaruh variabel
beban utama, maka perhitungkan pengaruh H dengan faktor beban = 0,9
(jika bebannya bersifat permanen) atau dengan faktor beban = 0 (untuk
kondisi lainnya).
Apabila suatu struktur menerima pengaruh beban seismik, maka kombinasi-
kombinasi beban berikut harus diperhitungkan bersama dengan kombinasi beban
dasar di atas. Pengaruh beban seismik yang paling menentukan harus ditinjau.
Apabila pengaruh beban seismik yang dimaksud, E = f(E v,Eh) (pada 0)
dikombinasikan dengan pengaruh beban lainnya, maka kombinasi beban seismik
yang harus digunakan sebagai berikut :
1. 1,2D+Ev,+Eh+L
2. 0,9D-Ev+Eh
Persamaan diatas merupakan kombinasi beban seismik jika ada pengaruh beban
lainnya seperti beban mati dan beban hidup.
[Link] Analisis Struktur Atas Bangunan Gedung
Dalam skripsi ini untuk analisis struktur menggunakan bantuan software
SAP2000 v21. Alasan penulis menggunakan software SAP 2000 v21 karena
software dapat membantu juga mempercepat perhitungan analisis struktur statik
maupun dinamik. Dalam perhitungannya dilakukan otomatis dengan program ini
dengan cara memasukkan data material yang digunakan, membuat frame atau
komponen yang digunakan dan memasukkan beban-beban seperti beban mati,
beban hidup dan beban gempa yang nantinya beban – beban tersebut akan
49
dikombinasikan menjadi satu untuk memperoleh output pembebanan dan juga
gaya – gaya dalam dari bangunan gedung yang direncanakan. Selanjutnya untuk
output berupa momen, gaya geser, dan gaya aksial dipakai dalam perhitungan
balok dan kolom.
2.2.4 Perencanaan Struktur Balok
Balok merupakan elemen struktur yang menyalurkan beban mati maupun
beban hidup dari pelat ke kolom, yang menerima beban tekan dan tarik karena
adanya gaya lentur ataupun gaya lateral. Sehingga pada perencanaan ini, balok
harus direncanakan sedemikian rupa agar balok tersebut mampu menahan beban –
beban yang bekerja pada balok itu sendiri.
Untuk menentukan tinggi efektif (d), maka digunakan persamaan berikut.
d = h - p - Ø sengkang - ( D Tul. Utama)
Pada persamaan diatas dapat diketahui tinggi efektif suatu balok. Untuk
menentukan momen nominal, maka digunakan persamaan berikut.
................................................................................................................ (46)
Pada persamaan diatas dapat diketahui momen nominal balok. Untuk menentukan
rasio tulangan, maka digunakan persamaan berikut.
0,85. 600
balance
= * +* + ........................................................................... (47)
600
Dari persamaan diatas dapat diketahui rasio tulangan balok dengan perbandingan
sebagai berikut.
1 = 0,85 untuk 17 < ’ ≤ 30 Pa ..................................................................... (48)
50
1 = 0,85 - 0,008 (fc - 30) ≥ 0,65 ........................................................................ (49)
Dari persamaan pembanding diatas rasio tulangan, , yang ada tidak boleh
melampaui nilai dari hasil perhitungan berikut.
max = balance ...................................................................................................................................(50)
1,4
min
= ........................................................................................................ (51)
= 2 ..................................................................................................... (52)
.
= ................................................................................................... (53)
0,8 .
1 2 .
(1 -√1 - ).......................................................................... (54)
Pada persamaan diatas dapat diketahui nilai pembanding. Selanjutnya diambil
persamaan yang paling besar sebagai berikut.
Jika perlu < min; maka dipakai min
Asperlu = . b . d
Dari persamaan diatas dapat ditentukan rasio yang paling besar nilainya. Untuk
menentukan kontrol kekuatan balok, maka digunakan persamaan berikut.
.
= ...................................................................................................... (55)
0,85 . .
n= ( - 2) ............................................................................................. (56)
Dari persamaan diatas dapat diketahui nilai kontrol kekuatan balok yang menjadi
pembanding beban ultimate sesuai persamaan berikut.
Jika . Mn > Mu , maka penampang balok dapat digunakan.
51
Berdasarkan SNI 2847:2019 pasal 25.2 spasi bersih minimum antara batang
tulangan yang sejajar dalam suatu lapis, harus sebesar db tetapi tidak kurang dari
25 mm, maka digunakan persamaan berikut.
(b - (2 . d’) - (2 . s) - (n . Ø tul utama)) : (n - 1) > 25 mm
Untuk menghitung gaya geser nominal (Vn), dengan menggunakan persamaan
yang pada mengacu SNI 2847–2019 pasal 22.5. sebagai berikut.
Vn ≥ Vu ............................................................................................................. (57)
Pada rumus (57) dapat ditentukan apakah gaya geser nominal terfaktor lebih besar
daripada gaya geser struktur terhadap beban yang diterima. Untuk menghitung
gaya geser yang mampu diterima oleh beton (Vc) sebagai berikut.
1
Vc . fc . b . d ............................................................................................... (58)
6
Dari persamaan diatas dapat diketahui nilai gaya geser yang mampu diterima oleh
beton. Untuk menentukan daerah penulangan, maka digunakan persamaan berikut.
> ....................................................................................................... (59)
2
Pada persamaan diatas dapat diketahui daerah penulangan. Kemudian dapat
dihitung dengan persamaan berikut.
Vs = Vn – Vc
Dari persamaan diatas dapat diketahui nilai Vs dimana nilai Vs tidak boleh lebih
besar dari nilai yang dihasilkan dari persamaan berikut.
2/3 √ . .............................................................................................. (60)
52
Dari persamaan pembanding diatas dapat diketahui bahwa tulangan dapat
menahan gaya geser atau tidak. Untuk menghitung jarak tulangan dan kebutuhan
sengkang dapat dihitung pada persamaan berikut.
1 2
= . . ................................................................................... (61)
4
perlu ................................................................................................ (62)
maks .............................................................................................................. (63)
2
Untuk mengontrol kebutuhan sengkang dengan persamaan sebagai berikut.
1
. fc . b . d Vs ............................................................................................. (64)
3
Dari persamaan-persamaan diatas bisa ditentukan dimensi dan jumlah tulangan
balok baik jumlah tulangan utama maupun tulangan sengkang.
2.2.5 Perencanaan Struktur Kolom
Kolom merupakan komponen struktur vertikal yang menerima dan
menyalurkan gaya tekan axial bersamaan atau tidak dengan gaya momen atau
merupakan elemen tekan yang menumpu/menahan balok yang memikul beban-
beban pada lantai.
Kolom memiliki fungsi yang sangat vital dibandingkan dengan konstruksi
balok maupun lantai, dikarenakan kolom lebih banyak memikul bagian struktur
dibandingkan struktur balok dan lantai. Apabila kolom runtuh maka akan lebih
banyak bagian bangunan yang hancur. Maka untuk merencanakan pendimensian
dan penulangan kolom sebagai berikut.
53
K u M1
34 - 12 , ................................................................................ (65)
r M2
Dimana M1/ M2 positif jika kolom dibengkokkan dalam kurvatur tunggal, dan
negatif jika komponen struktur dibengkokkan dalam kurvatur ganda. Untuk
menentukan perhitungan eksentrisitas kolom, maka digunakan persamaan berikut.
u
e .................................................................................................(66)
u
emin 15 0,003 . h
e > emin, maka digunakan e
Dari rumus (65) dan (66) dapat digunakan untuk menentukan eksentrisitas kolom.
Untuk memeriksa Pu terhadap beban seimbang Pnb, maka digunakan persamaan
berikut.
600
cb . d ............................................................................................. (67)
600 fy
ab 1. cb ..................................................................................................... (68)
Dari persamaan diatas dapat diperiksa Pu terhadap beban seimbang Pnb.
Pembatasan luas tulangan longitudinal untuk komponen struktur tekan non-
komposit tidak boleh kurang dari 0,01 atau lebih besar dari 0,08 kali luas bruto
penampang kolom Ag.
Adapun untuk menentukan suatu struktur kolom akan mengalami hancur
tarik atau hancur tekan dengan persamaan sebagai berikut.
As ρ . Ag .................................................................................................... (69)
( cb - d' )
s' 0,003 .
cb
54
εs’ >εy , maka tulangan baja tekan telah meleleh, maka fs’ = fy
.Pnb = 0,065 (0,[Link].b) (As’.[Link])
.Pnb > Pu , Maka beton mengalami hancur tarik
Dari persamaan diatas dapat diketahui kondisi kolom mengalami hancur tarik
atau hancur tekan yang nanti akan digunakan untuk menentukan apakah struktur
kolom memerlukan tulangan sengkang ganda atau cukup tulangan sengkang
praktis.
Adapun untuk menentukan kontrol kekuatan penampang, maka digunakan
persamaan berikut.
....................................................................................................... (70)
.................................................................................................................... (71)
................................................................................................................. (72)
Untuk kolom berpenampang persegi dengan hancur tarik, maka digunakan
persamaan berikut.
0,85 ( √( ) ( ))
Untuk kolom berpenampang persegi dengan hancur tekan, maka digunakan
persamaan berikut.
As . fy b . h . fc
= e 1,18
50 3he
(d d) d2
55
, maka ukuran kolom dapat digunakan.
Dari persamaan – persamaan diatas dapat diketahui bahwa jika maka
dimensi kolom cukup untuk menopang seluruh bagian struktur gedung.
Untuk Menentukan perhitungan gaya geser yang mampu dipikul oleh beton (Vc),
maka digunakan persamaan berikut.
Vc = 0,17 . (1 Pu/(14 .Ag)) . λ . √fc .b .d
Untuk menentukan kuat geser besi tulangan, maka digunakan persamaan berikut.
Vs = Vn –Vc ........................................................................................................ (73)
Untuk menentukan gaya geser nominal (Vn), maka digunakan persamaan berikut
............................................................................................................... (74)
Dimana, nilai = 0,75
Menentukan jarak tulangan dan kebutuhan Sengkang, maka digunakan persamaan
berikut.
.............................................................................................(75)
............................................................................................... (76)
Dari persamaan-persamaan diatas bisa ditentukan dimensi dan jumlah tulangan
kolom baik jumlah tulangan utama maupun tula