0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan4 halaman

Manajemen Mola Hidatidosa pada Kehamilan

Diunggah oleh

jasagro71
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan4 halaman

Manajemen Mola Hidatidosa pada Kehamilan

Diunggah oleh

jasagro71
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

REVIEW JURNAL TENTANG KEHAMILAN MOLA

HIDATIDOSA
NURMALA DEWI, [Link]
Prodi D III Kebidanan AKBID BUDIMULIA PRABUMULIH
Korespondensi email : nurmaladewin139@[Link]

ABSTRACT
Background: Hydatidiform mole is a condition in which an abnormal
pregnancy develops and no fetus is found and almost all corialis villi undergo
changes in the form of hydropic degeneration.
Case Report : This report present the case of a 21-year-old female patient
with hydatidiform mole and how the initial management principle experienced by
these patients.
Conclusion: The basic principle of management and therapy in
hydatidiform mole patients is to improve general conditions and curettage to
remove mole tissue.
Keywords: Hydatidiform mole; Gestational Trophoblastic Disease;
Curettage

ABSTRAK
Latar Belakang: Mola hidatidosa adalah suatu kondisi dimana adanya
kehamilan yang berkembang tidak wajar dan tidak ditemukan adanya janin dan
hampir seluruh vili korialis mengalami perubahan berupa degenerasi hidropik.
Laporan Kasus: Kasus ini memaparkan kasus pasien wanita usia 21
tahun dengan kondisi mola hidatidosa dan bagaimana prinsip manajemen awal
pada pasien tersebut.
Kesimpulan: Prinsip dasar manajemen dan terapi pada pasien mola
hidatidosa yaitu dilakukan perbaikan keadaan umum dan kuretase untuk
mengeluarkan jaringan mola.
Kata Kunci: Mola Hidatidosa; Penyakit Trofoblastik Gestasional; Kuretase;

PENDAHULUAN
Mola hidatidosa adalah bentuk-bentuk dari Gestational Trophoblastic
Disease (GTD) yang melibatkan pembentukan vili. Penyakit trofoblastik
gestasional (GTD) adalah sekelompok tumor yang muncul dari jaringan plasenta
dan mensekreksikan β-hCG dalam jumlah yang lebih besar dari pada kehamilan
biasa. Penyakit trofoblastik gestasional mempunyai potensi yang cukup besar
untuk menjadi ganas dan menyebabkan berbagai bentuk metastase keganasan
dengan berbagai variasi.) Mola hidatidosa juga merupakan kondisi tidak
ditemukannya adanya pertumbuhan janin, dimana hampir seluruh vili korialis
mengalami perubahan berupa degenerasi hidrofobik sehingga terlihat seperti
sekumpulan buah anggur.

Frekuensi mola hidatidosa sangat tinggi di Asia, Afrika, dan Amerika Latin
dibandingkan dengan negara-negara barat. Di negara-negara barat dilaporkan
1:2000 kehamilan. Frekuensi mola umumnya pada wanita di Asia lebih tinggi
sekitar 1:120 kehamilan. Di Amerika dilaporkan sebesar 1 pada 1000-1200
kehamilan. Di Indonesia sendiri didapatkan kejadian 1:85 kehamilan. Dengan
meningkatnya paritas kemungkinan menderita mola akan lebih besar. Sekitar
10% dari seluruh kasus akan cenderung mengalami transformasi kearah
keganasan, yang disebut sebagai gestational neoplasma.

Penyebab terjadinya mola hidatidosa sampai saat ini belum diketahui


secara pasti. Namun faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keadaan
ini adalah: 1) Faktor Ovum, yang memang sudah patologik sehingga mati, tetapi
terlambat dikeluarkan, 2) Imunoselektif dari trofoblas, 3) Kehamilan usia lanjut
(>35 tahun) atau terlalu muda (<20 tahun), 4) Paritas tinggi, 5) Jarak kehamilan
yang terlalu dekat, 6) Faktor infeksi, 7) Sosial ekonomi rendah yang
mempengaruhi hygiene, nutrisi dan pendidikan, dan 8) Malnutrisi terutama
apabila kekurangan protein.

Secara garis besar penegakkan diagnosis dari kasus mola hidatidosa dapat
ditegakkan hanya dengan berlandaskan anamnesis dan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. Adapun beberapa tanda dan gejala yang dapat
ditemukan pada kasus-kasus mola hidatidosa antara lain: terdapat gejala-gejala
hamil muda yang kadang-kadang lebih nyata dari kehamilan biasa, mual,
muntah, pusing, terdapat tanda toksemia gravidarum, adanya perdarahan
dalam jumlah sedikit-banyak pada trimester I atau awal trimester II dengan
tanda khas berwarna kecoklatan, keluar jaringan mola seperti buah anggut
atau mata ikan.

Pada pemeriksaan fisik secara umum dibagi dengan inspeksi, palpasi dan
auskultasi. Pada inspeksi, terkadang wajah dan badan terlihat pucat kekuning-
kuningan yang bisa disebut dengan muka mola (mola face) dan gelembung mola
dapat dilihat jelas saat keluar. Selanjutnya, pada palpasi biasanya uterus teraba
lebih besar dibandingkan dengan usia kehamilan, tidak teraba bagian-bagian
janin dan balotement, maupun gerakan janin. Kemudian, pada auskultasi tidak
terdengar adanya bunyi denyut jantung janin.
Pada pemeriksaan penunjang, dapat dilakukan pemeriksaan USG, dimana
akan terlihat gambaran yang khas berupa badai salju (snow storm pattern) atau
gambaran seperti sarang lebah (honey comb).(8) Selain USG, bisa juga dilakukan
pemeriksaan β-hCG untuk diagnosis maupun untuk pemantauan pada
penderita penyakit trofoblas. β-hCG (Human Chorionic Gonadotropin) adalah
hormone glikoprotein yang dihasilkan oleh plasenta yang memiliki aktivitas
biologis mirip LH. (9) Pada kasus mola hidatidosa biasanya didapatkan β- hCG
jauh lebih tinggi dari pada kehamilan biasa. Sedangkan pada pemeriksaan
histologis akan tampak adanya beberapa villi yang edema dengan sel trofoblas
yang tidak begitu berproliferasi, dan ditempat lain masih tampak villi yang
normal.

Secara sitogenetik mola hidatidosa dapat dibedakan menjadi dua macam


yaitu mola hidatidosa parsial dan mola hidatidosa parsial atau komplit.

PEMBAHASAN
Pasien perempuan usia 21 tahun G3P2A0 dengan usia kehamilan 4-5
minggu datang ke IGD Kebidanan Rumah Sakit Anutapura dengan keluhan
adanya darah yang keluar dari jalan lahir, keluhan ini dirasakan oleh pasien
kurang lebih sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengatakan
bahwa darahnya keluar kadang bercampur dengan lendir dan gumpalan-
gumpalan seperti daging dengan tekstur lembek. Darah yang keluar berwarna
kecoklatan. Pasien merasa bahwa perutnya semakin membesar tetapi seperti
tidak sesuai dengan usia kehamilannya, dan kehamilannya saat ini sangat
berbeda dengan kehamilan sebelumnya. Pasien juga mengeluh mual, muntah
dan pusing sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit dengan frekuensi 2 kali
sehari. Terdapat juga keluhan nyeri perut bagian bawah. Keluhan berupa sakit
kepala, tangan gemetar, serta jantung berdebar-debar disangkal oleh pasien.
Pasien sebelumnya sudah melakukan test pack dan hasilnya positif hamil.

Hasil pemeriksaan fisik pasien didapatkan kesadaran pasien


composmentis, tanda-tanda vital: tekanan darah: 100/60 mmHg, nadi:
88x/menit, pernapasan: 22x/menit, suhu 36,5OC. Pada pemeriksaan wajah,
didapatkan konjungtiva anemis +/+, bibir pucat, dan warna kulit pucat
kekuningan. Pada pemeriksaan status obstetri untuk inspeksi didapatkan perut
tampak cembung, tampak bekas operasi, striae (+). Untuk palpasi didapatkan
Tinggi Fundus Uteri (TFU) teraba 2 jari dibawah pusat, leopold I-IV tidak teraba
bagian-bagian janin dan pada auskultasi tidak didapatkan adanya denyut
jantung janin (DJJ). Pada pemeriksaan inspekulo didapatkan perdarahan (+)
dengan jumlah sedikit-sedang, portio lunak (+) dan tebal (+), pembukaan (+) dan
terdapat sedikit jaringan menyerupai mata ikan dari ostium uteri.

Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan WBC: 10.7 x 103/mm3, RBC:


4.01 x 106/mm3, HB: 10 gr/dl, HCT: 35.9%, PLT: 366 x
103/mm3, hCG pada urin: Positif. Pada USG abdomen didapatkan gambaran
snow storm atau badai salju. Selama dirawat pasien diberikan terapi IVFD RL
20 tpm, injeksi asam tranexamat
1 amp/8 jam/iv, observasi keadaan umum + tanda-tanda vital pasien, dan
direncanakan untuk melakukan kuretase.

KESIMPULAN
Mola hidatidosa merupakan salah satu penyakit trofoblas pada kehamilan
yang paling banyak terjadi, dengan keluhan utama biasanya yaitu adanya
perdarahan pervaginam. Penatalaksanaan pada kasus mola hidatidosa
sebaiknya sesegera mungkin dilakukan kuretase untuk mengurangi atau
menghindari terjadinya komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi nantinya.
Selanjutnya, penegakan diagnosis awal dalam hal ini adalah anamnesa
terpimpin, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Mulisya O, Roberts D, Sengupta E. Prevalence and Factors Associated with
Hydatidiform Mole among Patients Undergoing Uterine Evacuation at
Mbarara Regional Referral Hospital. Jurnal Obstetrics and Gynecology
Internasional. 2018 Apr 1;10(3):1–7.
Cunningham F, Williams J.W. Williams obstetrics. 24rd ed. New York: McGraw-
Hill Medical; 2014.
Bratakoesoema, Dinan S, Prawiroharjo S. Onkologi Ginekologi. 1st ed. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka; 2010.
Mochtar R. Sinopsis Obstetri. 2nd ed. Jakarta: EGC; 2008.
Lurain JR, MD. Gestational trophoblastic disease I: epidemiology, pathology,
clinical presentation and diagnosis of gestational trophoblastic
disease, and management of hydatidiform mole. American Journal Of
Obstetrics & Gynecology. 2010
Desember;203(6):531–9.
Hanretty KP. Obstetrics Illustrated. 7th ed. New York: Churchill Livingstone;
2010.
Saifuddin, Bari A, Wiknjosastro T, Gulardi H. Ilmu Kebidanan. 4th ed. Jakarta:
PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2008.
Jatgap SV, Aher V, Gadhiya S, Jatgap SS. Gestational Trophoblastic Disease -
Clinicopathological Study at Tertiary Care Hospital. Journal of Clinical
and Diagnostic Research. 2017 Agustus;11(8):27–30.
Kusuma AI, Pramono BA. Karakteristik Mola Hidatidosa Di Rsup Dr. Kariadi
Semarang. Jurnal Kedokteran Diponegoro. 2017;6(2):319–27.
Damongilala S, Tendean HMM, Loho M. Profil Mola Hidatidosa Di Blu Rsup
Prof. Dr.
R. D. Kandou Manado. Jurnal e-Clinic (eCI). 2015;3(2):683–6.
Olivia F. Seorang Wanita 30 Tahun Dengan Mola Hidatidosa Komplet. Fakultas
Kedokteran Universitas Lampung. 2016 Apr;5(2):142–7.
Nugraha GBA, Samodro P. Case study: Thyrotoxicosis on women with complete
hydatidiform molar pregnancy. JKKI. 2019 Dec 30;10(3):292–7.
Pangkahlia E, Pandelaki K. Hipertiroid Pada Kehamilan Mola Hidatidosa.
Jurnal Biomedik. 2009;1(2):124–30.

Anda mungkin juga menyukai