PENANGGULANGAN IBU HAMIL PADA BENCANA
BANJIR
NURMALA DEWI, [Link]
Prodi D III Kebidanan AKBID BUDIMULIA PRABUMULIH
Korespondensi email : nurmaladewin139@[Link]
Abstract
Republic Indonesia is a disaster prone area, usually the victims are
women, children, and elderly. The victim which need spesial treatment is
pregnant women. The purpose of this literature review is to provide
knowledge to readers in helping the post-disaster pregnant women. The
method that we use in is reviewing articles through Google Scholar,
Pubmed, and Mendeley. Before the evacuation, triage actions need to be
carried out as an effort to sort out the patient's priorities based on the
urgency of the management and consideration of the resources available for
the management. Pregnant women are included in the first priority group
(red) which means that they need immediate and appropriate help. The most
appropriate evacuation for pregnant women is a sloping position with knees
folded. If there is a back injury, make an effort so that the inferior vena cava
is not crushed by the uterus. Injuries that need to be watched out for are
bleeding, shock, DIC, and eclampsia. Nutritional and psychological recovery
of pregnant women is also very important to prevent things that are not
desirable for both mother and fetus.
Keywords : Disaster, Pregnant Women, Triage, Evacuation, Nutrition,
Psychic
Abstrak
Republik Indonesia adalah daerah rawan bencana, biasanya para
korban adalah wanita, anak-anak, dan lansia. Korban yang membutuhkan
perawatan khusus adalah wanita hamil. Tujuan dari tinjauan literatur ini
adalah untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca dalam membantu
wanita hamil pasca bencana. Metode yang kami gunakan adalah meninjau
artikel melalui Google Cendekia, Pubmed, dan Mendeley. Sebelum evakuasi,
tindakan triase perlu dilakukan sebagai upaya untuk memilah prioritas
pasien berdasarkan urgensi manajemen dan pertimbangan sumber daya
yang tersedia untuk manajemen. Wanita hamil termasuk dalam kelompok
prioritas pertama (merah) yang berarti bahwa mereka membutuhkan
bantuan segera dan tepat. Evakuasi yang paling tepat untuk wanita hamil
adalah posisi miring dengan lutut terlipat. Jika ada cedera punggung,
usahakan agar vena cava inferior tidak dihancurkan oleh rahim. Cedera
yang perlu diwaspadai adalah pendarahan, syok, DIC, dan eklampsia.
Pemulihan gizi dan psikologis ibu hamil juga sangat penting untuk
mencegah hal-hal yang tidak diinginkan baik untuk ibu maupun janin.
Kata kunci : Bencana, Wanita Hamil, Triase, Evakuasi, Nutrisi, Psikis.
PENDAHULUAN
Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan daerah rawan
bencana. Bencana di Indonesia diakibatkan oleh posisi Indonesia yang terletak
di garis Katulistiwa dan berbentuk Kepulauan, fenomena perubahan iklim,
letak pulau- pulau di Indonesia diantara tiga lempeng tektonik dunia, dan
peningkatan jumlah penduduk yang disertai dengan peletakan permukiman
yang tidak terkendali dan tertata dengan baik, kesadaran masyarakat
terhadap kebersihan dan keamanan yang kurang serta tingginya
perkembangan teknologi.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana Pasal 26 Ayat 1a menyatakan bahwa,
“Setiap orang berhak mendapatkan perlindungan sosial dan rasa aman,
khususnya bagi kelompok masyarakat rentan bencana.” Kelompok masyarakat
rentan bencana adalah anggota masyarakat yang membutuhkan bantuan
karena keadaan yang di sandangnya di
antaranya masyarakat lanjut usia, penyandang cacat, anak-anak, serta ibu
hamil dan menyusui.
Menurut Direktur Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB), Lilik Kurniawan mencatat 60 hingga 70
persen mayoritas korban bencana yang ada di Indonesia adalah perempuan,
anak-anak dan lansia. Pada wanita hamil kebanyakan membutuhkan
pertolongan untuk menyelamatkan diri. Pertolongan yang diberikan pun
berbeda dari korban lainnya karena pada ibu hamil perlu memperhatikan
keselamatan 2 jiwa.
Pengawasan paska badai Katrina di Colorado menemukan 3% dari
kunjungan ruang gawat darurat adalah masalah yang berkaitan dengan
kebidanan dan 13–15% rumah tangga pengungsi membutuhkan layanan yang
terkait dengan program nutrisi tambahan khusus untuk wanita, bayi, dan
anak-anak, kontrol kelahiran dan kesehatan reproduksi, dan perawatan anak.
Perlu diperhatikan hal- hal dalam penyelamatan ibu hamil, mulai dari
proses evakuasi, pemberian pertolongan pertama jika diperlukan, pemantauan
gizi pasca bencana, hingga dukungan sosial serta psikologis. Hal ini perlu
diketahui oleh semua orang yang menjadi penolong, baik tenaga medis atau
tenaga relawan.
Dari permasalahan di atas, maka kami membuat literature review
mengenai manajemen penyelamatan ibu hamil dalam bencana untuk
memberikan wawasan kepada pembaca dalam pertolongan pada ibu hamil
pasca bencana. Adapun metode yang kami gunakan dalam penyusunan
literature review yaitu review artikel melalui google scholar, Pubmed, dan
mendeley.
METODE
Metode yang digunakan dalam literature review ini yaitu review article.
Dengan melakukan pengumpulan referensi sebanyak 9 jurnal dan 10 buku.
Referensi tersebut didapatkan melalui google scholar, Pubmed, dan mendeley.
Dengan kata kunci meliputi bencana, triage, ibu hamil, evakuasi, gizi, psikis.
Data akan dipilih dan kemudian dianalisis sampai mencapai tujuan karya ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penanganan perempuan korban bencana sangat membutuhkan
perlakuan khusus, dikarenakan perempuan memiliki kondisi khusus pula,
termasuk pentingnya antisipasi penyediaan layanan dan memberikan
penanganan khusus pada ibu hamil dan menyusui. Hal tersebut dikarenakan
saat masa tanggap darurat sangat mungkin terdapat ibu hamil yang akan
melahirkan dan menyusui, sebagaimana yang terjadi di pengungsian korban
bencana Sulawesi Tenggara. Dua orang ibu hamil melahirkan bayi kembarnya
beberapa saat dalam masa tanggap darurat. Hal tersebut menyebabkan
dibutuhkan pula dokter kandungan dan bidan yang dapat membantu
persalinan, serta relawan perempuan dalam jumlah yang memadai pada masa
tanggap darurat.
Di seluruh dunia, 15% sampai dengan 20% ibu hamil akan mengalami
komplikasi selama kehamilan atau persalinan. Sekitar lebih dari 500.000
kematian ibu terjadi setiap tahun dengan 99% nya terjadi di negaranegara
berkembang. Di Indonesia, berdasarkan hasil Survei Demografi Kesehatan
Indonesian 2012, Angka Kematian Ibu sebesar 359 per 100,000 kelahiran
hidup.7 Kematian bayi sangat dipengaruhi oleh proses persalinan. Sekitar 130
juta bayi di dunia lahir setiap tahun dan 4 juta diantaranya meninggal dunia
dalam empat minggu pertama kehidupannya (periode neonatal). Menurut
Survei Demografi Kesehatan Indonesia Angka Kematian Bayi 32 per 1000
kelahiran hidup.8 Sebagian besar kematian ibu terjadi pada saat persalinan
dan kematian bayi baru lahir terjadi pada saat proses persalinan dan nifas.
Dari analisa penyebab kematian Ibu diperoleh bahwa 90% kematian ibu
terjadi pada saat persalinan dan segera setelah persalinan. Penyebab utama
kematian ibu adalah
1. Hipertensi dalam Kehamilan (32%),
2. Komplikasi puerperum (31%),
3. Perdarahan (20%),
4. Abortus (4%),
5. Perdarahan Antepartum (3%),
6. Partus macet/lama (1%),
7. Kelainan amnion (2%),
8. lain lain (7%).
9. Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi.
Kondisi ini akan lebih buruk bila terjadi pada kondisi bencana, karena
terganggunya sistem pelayanan kesehatan. Sampai saat ini data kasus
kematian ibu pada daerah bencana belum terdokumentasi, sehingga data yang
digunakan sebagai rujukan adalah angka kematian ibu pada situasi normal.
Menerapkan sistem triase yang membantu membedakan mereka yang
memiliki masalah medis dengan yang memiliki gejala karena takut terpapar.
Untuk mencapai ini, sistem perawatan kesehatan mental harus bergabung
dengan sistem kesehatan masyarakat dan sistem tanggap darurat.
Melatih tanggap psikologis setelah bencana, seperti ketakutan, kemarahan,
dan gejala somatik.
Bersiap untuk tindak lanjut dan pendaftar, yang diperlukan dalam jangka
panjang untuk mengidentifikasi mereka dengan cedera psikis seperti
kerusakan akibat radiasi yang terlambat atau kanker, atau gangguan
kejiwaan.
Evakuasi dan pelayanan kesehatan pada korban pasca bencana peru
dilakukan tindakan triage sebagai upaya pemilahan prioritas pasien
berdasarkan urgensi dilakukannya tatalaksana dan pertimbangan sumber
daya yang tersedia untuk tatalaksana tersebut. Hal ini didasarkan pada
prioritas ABC (Airway dengan proteksi cervical spine, Breathing, Circulation
dengan kontrol perdarahan). Dalam triage perlu dilakukan pencatatan usia,
tanda vital, mekanisme cedera, urutan kejadian, dan perjalanan penyakit pada
fase pra Rumah Sakit. Pembagian triage sebagai berikut:
Prioritas Nol (Hitam): Pasien mati atau cedera fatal yang jelas dan tidak
mungkin diresusitasi.
Prioritas Pertama (Merah): Pasien cedera berat yang memerlukan
penilaian cepat serta tindakan medik dan transport segera untuk tetap
hidup (misal : gagal nafas, cedera torako- abdominal, cedera kepala atau
maksilo- fasial berat, syok atau perdarahan berat, luka bakar berat, ibu
hamil).
Prioritas Kedua (Kuning): Pasien memerlukan bantuan, namun dengan
cedera yang kurang berat dan dipastikan tidak akan mengalami
ancaman jiwa dalam waktu dekat. Pasien mungkin mengalami cedera
dalam jenis cakupan yang luas (misal : cedera abdomen tanpa syok,
cedera dada tanpa gangguan respirasi, fraktur mayor tanpa syok, cedera
kepala atau tulang belakang leher tidak berat, serta luka bakar ringan).
Prioritas Ketiga (Hijau): Pasien dengan cedera minor yang tidak
membutuhkan stabilisasi segera, memerlukan bantuan pertama
sederhana namun memerlukan penilaian ulang berkala (cedera jaringan
lunak, fraktur dan dislokasi ekstremitas, cedera maksilo-fasial tanpa
gangguan jalan nafas, serta gawat darurat psikologis).
Untuk melakukan evakuasi pada ibu hamil diperlukan teknik yang tepat dan
aman untuk ibu dan calon bayinya. Berikut beberapa teknik evakuasi secara
umum:
Firefighter’s Carry
Teknik evakuasi dengan satu penolong atau biasa disebut dengan teknik
repling. Namun teknik ini dilakukan saat sudah dipastikan korban tidak
mengalami patah tulang punggung karna akan memperparah keadaan.
Pack-strap Carry
Teknik ini digunakan ketika firefighter carry tidak aman digunakan,
metode ini lebih disarankan untuk jarak jauh daripada cradle carry.
Dapat dilakukan pada korban yang tidak sadar.
Chair lift
Mobilisasi dengan kursi bisa digunakan untuk korban sadar maupun
tidak, tanpa cedera kepala/ spinal. Metode ini bagus untuk mobilisasi
korban melalui tangga/ turunan/ naikan dengan dua penolong.
Two-handed Seat Carry
Metode ini digunakan untuk mobilisasi jarak jauh. Korban dapat sadar
maupun tidak, tetapi tidak dapat berjalan atau menopang tubuh bagian
atas.
Hammock Carry
Metode ini bisa digunakan oleh tiga penolong atau lebih. Anggota yang
paling kuat berada di sisi dengan jumlah penolong yang paling sedikit
(jika jumlah ganjil).
Logroll
Pada kasus cedera spinal, digunakan teknik logroll dengan tujuan
memindahkan korban tanpa menggerakkan vertebra atau istilah lainnya
adalah inline immobilisation (posisi leher dan batang badan harus
segaris, amankan leher dengan neck collar atau yang sejenis (sandal
bag),
Di Amerika Serikat, trauma obstetrik memperumit 6-7% kehamilan.
Trauma adalah penyebab utama non-obstetri dari morbiditas dan mortalitas
ibu dan merupakan 46% kematian ibu. Karena perubahan fisiologis dan
anatomi kehamilan, risiko trauma pada ibu dan janin meningkat dengan usia
kehamilan. Perubahan anatomi kehamilan ini mengubah pola cedera.
Peningkatan pembengkakan pembuluh panggul menyebabkan peningkatan
risiko perdarahan retroperitoneal dan hematoma. Trauma abdominal tumpul
dapat menyebabkan cedera pada kandung kemih, limpa, dan patah tulang
panggul. Trauma tumpul juga dapat menyebabkan ruptur uterus perlambatan
cepat, terutama di mana telah ada operasi caesar sebelumnya. Luka tusuk
perut bagian atas dapat menyebabkan cedera usus yang lebih kompleks
karena perpindahan isi perut bagian atas.
Tingkat gangguan radang panggul (PID), gangguan menstruasi, dan
penurunan kesuburan lebih tinggi setelah Gempa Wenchuan 2008. Dalam
laporan lain yang menganalisis hasil kebidanan setelah bencana banjir di
Kotlin Klodzki, Polandia 1997, untuk 47 wanita hamil yang terluka dalam
kebuntingan kehamilan adalah 55,3% dibandingkan dengan tidak ada
kerugian dalam kelompok kontrol acak dari 100 wanita hamil pada tahun
1996. Bagi para korban banjir, kerugian terjadi karena meningkatnya
kelahiran prematur, ketuban pecah dini, peningkatan aborsi yang terlewat,
asfiksia lahir, dan retardasi pertumbuhan intrauterin.
Selain menghadapi konstelasi cedera yang sama dari cedera ortopedi,
infeksi, dan kerawanan pangan seperti pria, wanita juga memiliki risiko unik
yang inheren berdasarkan peran sosial mereka dan kerentanan terhadap
predator seksual. Risiko unik ini selama bencana termasuk kehilangan
kehamilan, konsekuensi jangka panjang pada hasil kehamilan dan kesuburan
masa depan, kekerasan seksual, dan penyakit menular seksual.
Persalinan ketika proses evakuasi lebih sulit ditangani dan lebih
berbahaya. Hal ini harus didampingi oleh petugas medis yang kompeten
sampai fasilitas kesehatan yang dituju. Saat evakuasi pun dapat
menyebabkan perburukan kondisi pada korban ibu hamil, seperti perdarahan,
syok, Disseminated Intravascular Coagulation (DIC), dan eklampsia.
Perdarahan yang sering terjadi disebabkan adanya solusio plasenta. Hal
ini dapat terjadi tanpa manifestasi perdarahan pervaginam. Dalam beberapa
menit korban dapat kehilangan setengah volume darahnya dan menyebabkan
syok yang apabila tidak segera ditangani dapat menyebabkan kematian. Untuk
menghindari korban jatuh dalam kondisi syok, harus segera dilakukan
pemasangan IV (intravena) line.
Syok biasanya merupakan akibat dari perdarahan. Ha ini biasanya
dapat diatasi dengan baik, tidak menunjukkan gejala/sindrom pre-syok,
kecuali terjadi kolaps pebuluh darah yang mendadak.
DIC biasanya terjadi pada ibu hamil dengan pre-eklampsi berat, sindrom
HELLP, dan perdarahan intrapartum. Hal ini dapat muncul tiba-tiba dan
dapat mengakibatkan kematian.
Peningkatan tekanan darah ringan pada wanita hamil (pre-eklampsia)
dapat berubah dengan cepat menjadi preeklampsia berat dan eklampsia
(kejang). Wanita hamil denganpre- eklampsia yang akan dievakuasi harus
dilakukan pengawasan terhadap kenaikan tekanan darah dan tersedia obat
serta alat penanganan eklampsia.
Beberapa hari pasca bencana pun dapat timbul kasus baru, diantaranya
adalah kekurangan makanan. American College of Obstetricians dan
Gynecologists (ACOG) mencatat bahwa kurangnya sumber daya termasuk
makanan, air, dan tempat tinggal setelah bencana berdampak buruk pada
kehamilan dan hasil kehamilan.15 Biasanya pada saat bencana, gizi pada ibu
hamil dan menyusui tidak diperhatikan. Padahal pada Ibu hamil dan
menyusui memerlukan tambahan zat gizi. Ibu hamil perlu penambahan energi
300 Kal dan Protein 17 gram, sedangkan ibu menyusui perlu tambahan Energi
500 Kal dan Protein 17 gram. Suplementasi vitamin dan mineral untuk ibu
hamil adalah Fe 1 tablet setiap hari. Khusus ibu nifas (0-42 hari) diberikan 2
kapsul vitamin A dosis 200.000 IU, yaitu 1 kapsul pada hari pertama, dan 1
kapsul pada hari berikutnya (selang waktu minimal 24 jam). Pemberian
vitamin dan mineral dilakukan oleh petugas kesehatan.
Selain masalah gizi, kesehatan mental pada ibu hamil seperti depresi
dan kecemasan sangat umum terjadi pasca bencana. Hubungan antara
masalah kesehatan mental dan kesehatan ibu adalah yang utama karena
mereka secara langsung atau tidak langsung meningkatkan morbiditas dan
mortalitas ibu, serta gangguan tumbuh kembang janin.
Sementara penelitian lain menyimpulkan bahwa wanita dengan PTSD
adalah kelompok berisiko tinggi untuk komplikasi kehamilan.
Menurut WHO, serangkaian intervensi berbasis masyarakat telah terbukti
bermanfaat dan efektif untuk wanita dengan masalah kesehatan mental.
Misalnya, penyedia layanan kesehatan yang bekerja dalam layanan kesehatan
seksual dan reproduksi dan merawat wanita hamil dapat dilatih untuk
mengenali gejala dan tanda yang menunjukkan masalah kesehatan mental
dan memberikan konseling kepada wanita tentang stres serta memberikan
dukungan psikologis yang efektif dan intervensi lain.
Sebagian kecil wanita dengan gangguan fungsi berat sehari-hari akan
membutuhkan dukungan spesialis dan resep obat-obatan psikotropika.
Mengenai pemberian informasi, Juul Gouweloos dkk. menyarankan pihak
berwenang untuk menginformasikan tentang risiko pajanan, tanda-tanda
pajanan (misalnya, lokasi atau demam alih-alih peningkatan denyut jantung,
atau gejala fisik lain yang juga disebabkan oleh kecemasan), tindakan
melindungi diri (misalnya kepatuhan terhadap saran untuk memakai pakaian
pelindung), tindakan berbahaya (misalnya mencari orang yang dicintai di
daerah radiasi tinggi), karantina dan isolasi, strategi dekontaminasi, strategi
vaksinasi dan distribusi obatobatan.
Bentuk dukungan yang orang butuhkan adalah pertama dukungan
praktis, kedua adalah berbicara atau tidak atau berbicara dengan orang-orang
dari jaringan sosial mereka sendiri; tenaga profesional jarang berpengaruh.
Berbagai rekomendasi untuk memfasilitasi dukungan diberikan. Pada
awalnya, berkumpul dengan keluarga. Kedua, dalam kasus serangan teroris,
pihak berwenang mungkin ingin memblokir ponsel. Karena orang menjadi
lebih gelisah dan kurang tangguh ketika mereka tidak dapat mencapai orang
yang mereka cintai, mereka akan enggan untuk diterapkan kebijakan ini dan
mencari cara untuk mencegah blokade ini. Ketiga, dukungan praktis untuk
kembali ke keadaan normal sehubungan dengan perumahan permanen yang
layak, sekolah dan layanan masyarakat sangat penting untuk mengurangi
risiko dampak psikologis jangka panjang pada anak-anak dan keluarga.
Keempat, perhatian harus diberikan pada orang tua yang fokus mencari
keluarganya.
Wanita yang tinggal di daerah terkena dampak bencana berisiko lebih
besar untuk tidak atau lebih pendek lamanya menyusui dibandingkan dengan
wanita pada umumnya. Maka dari itu dukungan menyusui untuk ibu
menyusui sangat diperlukan karena manfaat ASI (Air Susu Ibu) sangat
diperlukan bagi bayi. ASI dapat berfungsi sebagai proteksi pertama dari
penyakit-penyakit yang dapat timbul pasca bencana.
KESIMPULAN
Korban ibu hamil pasca bencana termasuk dalam kategori triage
warna merah (pasien gawat darurat) yang membutuhkan pertolongan segera
dan tepat. Manajemen penyelamatan ibu hamil pasca bencana meliputi
evakuasi, penanganan cedera, kontrol gizi dan psikis. Evakuasi paling tepat
untuk ibu hamil adalah posisi miring dengan lutut dilipat. Jika terdapat
cedera punggung lakukan usaha agar vena cava inferior tidak tertindih uterus.
Cedera yang perlu diwaspadai adalah dapat terjadinya perdarahan, syok, DIC,
dan eklamsi. Pemulihan gizi dan psikis ibu hamil juga sangat penting untuk
mencegah hal-hal yang tidak diinginkan pada ibu maupun janin.
REFERENSI
BNPB. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2015-2019. Jakarta:
BNPB. 2014
Undang-Undang Repubik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang
Penangguangan Bencana
Setiawan, Riyan. “BNPB: 60% Sampai 70% Korban
Bencana adalah Perempuan dan Anak” (onine),
([Link] 70korban-bencana-adalah-
perempuan- dan-anakdgod, diakses tanggal 3 Juli 2019). 2019
Hibino, Y., dkk. “Health impact of disasterrelated stress on pregnant women
living in the affected area of the Noto Peninsula earthquake in
Japan”. Psychiatry and Clinical Neurosciences, 2009; 63: 107–115.
Yamamoto, T., & al., e.”Investigative Research Projects Related to The Yohoku
Earthquake (The Great East Japan Earthquake) Conducted in
Fukushima” . Fukushima J. Med. Sci. 2015; Vol. 61(2): 155-159.
Martiany, D. "Penanganan Khusus Pengungsi Perempuan Pada Masa Tanggap
Darurat Bencana SULTENG". Puslit, 2018; Vol X(19) , 13-18.
Kementerian Kesehatan RI. INFODATIN: Situasi Kesehatan Ibu. Jakarta
Selatan: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2014
Kementerian Kesehatan. Profil Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: Pusat Data
dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2013
Prawirohardjo S. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
2008.
Gouweloos, Juul, dkk. “Psychosocial Care to Affected Citizens and
Communities in Case of CBRN Incidents: Systematic Review”. Jurnal
Elsevier, 2014; 4-6.
Kushayati, N. "Analisis Metode Triage Prehospital pada Insiden Korban Masal
(Mass Casualty Incident)". UNY Journal, 2014; 1-9.
Sastrawan, I. G., dkk. Buku Kurikulum Pendidikan dan Latihan PTBMMKI.
2018
Depkes RI. Pedoman Penanganan Evakuasi Medik. Jakarta: Direktorat Bina
Pelayanan Medik Dasar. 2009
Londok, dkk. “Karakteristik Perdarahan Antepartum dan Perdarahan
Postpartum”. e-Biomedic, 2013;1(1): 614-620.
Goodman, A. “In The Aftermath of Disasters: The Impact on Women’s Health”.
iMedPub Journals , 2016; 2(6):1-5.
Pakaya, Rustam S., et all. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan
Akibat Bencana. Jakarta: DepKesRI. 2007
Mudjiharto,et al. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat
Bencana. Jakarta: Depkes RI. 2011
World Health Organization. Millennium Development Goal 5 – Improving
Maternal Mental Health.
Sugiantono, Anung, dkk. Buku Pedoman Paket Pelayanan Awal Minimum
(PPAM), Kesehatan Reproduksi pada Krisis Kesehatan. Jakarta:
Kemenkes RI. 2014
Harville, E., dkk. “Disasters and Perinatal Health: A Systematic Review”. Obstet
Gynecol Surv, 2010; 65(11): 713–728.
Kemal, A., dkk. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan
Dasar dan Rujukan. Jakarta: 2013;Kemenkes RI.
Setyarini, D. I., & Suprapti. Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal
dan Neonatal. Jakarta: 2016; Kemenkes RI.