Ejaan Huruf dalam Bahasa Indonesia
Ejaan Huruf dalam Bahasa Indonesia
I. Pemakaian Huruf
A. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia
terdiri atas huruf yang berikut. Nama tiap huruf di- sertakan di
sebelahnya.
A a A J j je S s es
B b B K k ka T t te
e
C c C L l el U u u
e
D d D M m em V v fe
e
E e E N n en W w We
F f Ef O o o X x Eks
G g G P p pe Y y Ye
e
H h H Q q ki Z z Zet
I i I R r er
1
B. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indo- nesia terdiri
atas huruf a, e, i, o, dan u.
C. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa
Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p.
q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
2
Huruf Contoh Pemakaian dalam Kata
Konsonan
Di Awal Di Tengah Di Akhir
3
Huruf Contoh Pemakaian dalam
Diftong Kata
Di Di Tengah Di Akhir
Awal
kh kh usus a kh ir tari kh
ng ngilu bangun sena ng
ny nyata hanyut
sy –
syarat isyarat
ara sy
E. Pemenggalan Kata
1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
a. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan
itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu. Misalnya:
ma-in sa-at bu-ah
Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga
pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu.
Misalnya:
3. Jika suatu kata terdiri at as lebih dari satu unsur dan salah
satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain,
pemenggalan dapat dilakukan (1) di antara unsur-unsur itu
atau (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah 1a, 1b,
1c, dan 1d di atas.
Misalnya:
bio-gra fi bi -o-gr a - fi
foto-grafi fo-to-gra-fi
intro-speksi in-tro-spek-si
kilo-gram ki-lo-gram
kilo-meter ki-lo-me-ter
pasca-panen pas-ca-pa-nen
Keterangan :
Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain
disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
kecuali jika ada pertim- bangan khusus.
6
Misalnya:
Dia mengantuk.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu belum selesai.
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pe- tikan
langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, “ Kapan kita pulang?”
Bapak menasihatkan, “ Berhati-hatilah, Nak!” “Kemarin
engkau terlambat,” katanya.
“Besok pagi,” kata Ibu, “dia akan berangkat.”
7
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf perta- ma nama
gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak
diikuti nama orang.
Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan. Tahun ini ia pergi
naik h aji.
10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama se- mua unsur
nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta
nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.
Misalnya:
10
R epublik Indonesia
M ajelis Permusyawaratan R akyat
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
B adan Kesejahteraan Ibu dan A nak
Keputusan Presiden R epublik I ndonesia,
Nomor 57, Tahun 1972
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf perta- ma
kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dan
ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya:
menjadi sebuah republik beberapa badan h
ukum
kerja sama antara pemerintah dan rakyat menurut u
ndang- u ndang yang berlaku
11
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra .
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pemba- ngunan .
la menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata.”
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur
singkatan nama gelar, pangkat, dan
sapaan. Misalnya:
Dr. doktor
M.A. master of arts
S.H. sarjana hukum
S. S. sarjana sastra
Prof. profesor
T n. tuan
Ny. nyonya
S dr. saudara
13
III. Penulisan Kata
A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata da sar ditulis sebagai satu ke-
satuan.
Misalnya:
Ibu percaya bahwa engkau tahu.
Kantor pajak penuh sesak.
Buku itu sangat tebal.
B. Kata Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai
dengan kata dasarnya.
Misalnya:
bergeletar dikelola penetap an
menengok
mem permain kan
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran
ditulis sera ngkai dengan kata yang langsung mengikuti atau
mendahuluinya. (Lihat juga keterangan tentang tanda
hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
bertepuk tangan garis bawah i
menganak sungai sebar luas kan
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat
awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis
serangkai. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung,
Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
menggarisbawah i meny ebarluas kan
14
dilipatganda kan peng hancurlebur an
4. Jika salah satu unsur ga bungan kata hanya dipa- kai dalam
kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
adipati mahasiswa
aerodinamika mancanegara
antar kota multi lateral
anu merta nara pidana
audio gram non kolaborasi
awa hama Panca sila
bikarbonat panteisme
biokimia pari purna
catur tunggal poligami
dasa warsa pramu niaga
dekameter pra sangka
demoralisasi purnawirawan
dwi warna reinkarnasi
ekawarna sapta krida
ekstra kurikuler semiprofesional
elektroteknik subseksi
infra struktur swadaya
in kovensional telepon
introspeksi trans migrasi
kolonialisme tri tunggal
kosponsor ultra modern
Catatan :
(1) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah
huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda
15
hubung (-).
Misalnya:
non-Indonesia pan-Afrikanisme
(2) Jika kata maha sebaga i unsur gabungan diikuti oleh kata esa
dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya:
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa
melindungi kita.
Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang
Maha Pengasih
C. Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan meng- gunakan tanda
hubung.
Misalnya:
anak-anak gerak-gerik
biri-biri huru-hara
buku-buku lauk-pauk
bumiputra-bumiputra mondar-mandir
centang-perenang porak-poranda
hati-hati ramah-tamah hulubalang-
hulubalang sayur-mayur
kuda-kuda tukar-menukar
kupu-kupu tunggang-langgang
kura-kura terus-menerus
laba-laba berjalan-jala n
mata-mata menulis-nulis
sia-sia dibesar-besarkan
undang-undang
16
D. Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazim disebut kata maje- muk, termasuk
istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar mata pelajaran
orang tua simpang empat
kambing hitam meja tulis
persegi panjang kereta api cepat luar biasa
model linear rumah sakit umum
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin
menimbulkan kes alahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda
hubung untuk menegaskan pertalian di an tara unsur yang
bersangkutan.
Misalnya:
alat pandang-dengar buku sejarah-baru
ibu-bapak kami orang-tua muda
anak-istri saya mesin-hitung tangan
watt-jam
Gabungan kata berikut ditulis serangkai. Misalnya:
Acapkali, adakalanya, akhirulkalam , alhamdulillah ,
astagriullah, bagaimana, barangkali, beasiswa, belasungkawa,
bilaman, bismillah, bumiputra, daripada, darmabakti,
darmasiswa, darmawisata, dukacita, halalbihalal, hulubalang,
kacamata, kasatmata
E. Kata Ganti - ku, kau-, - mu, dan -nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata
yang mengikutinya; -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan
kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa yang ku miliki boleh kau ambil.
Buku ku , buku mu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
17
F. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim
dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. (Lihat
juga Bab III, Pasal D, Ayat 3).
Misalnya:
Kain itu terletak di dalam lemari. Bermalam semalam di
sini.
Di mana Siti sekarang? Mereka ada di rumah.
la ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
Ke mana saja ia selama ini?
Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan. Mari kita
berangkat ke pasar.
Saya pergi ke sana-sini mencarinya. Ia datang dari
Surabaya kemarin.
Catatan:
Kata-kata yang dicetak miring di bawah ini ditulis serangkai.
Si Amin tebih tua daripada Si Ahmad.
Kami percaya sepenuhnya kepada kakaknya.
Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.
Ia masuk, lalu keluar lagi.
Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11
G. Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.
H. Partikel
1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
18
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik.
Jakarta adalah ibukota Republik Indonesia.
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan. Jangankan dua
kali, satu kali pun engkau be-lum pernah datang ke
rumahku.
Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.
Catatan:
19
I. Singkatan dan Akronim
1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas
satu huruf atau lebih.
a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau
pangkat diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
A. S. Kramawijaya
Muh. Yamin Suman Hs.
Sukanto S.A.
M.B.A. master of business adminis- tration
[Link]. master of science
S.E. sarjana ekonomi [Link].
sarjana karawitan
S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat Bpk. Bapak
Sdr. Saudara
Kol. Kolonel
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan
ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama
dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis
dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
DPR Dewan Perwakilan Rakyat
PGRI Persatuan Guru Republik Indo- nesia
GBHN Garis-Garis Besar Haluan Negara
SMTP sekolah menengah tingkat per- tama
PT perseroan terbatas
KIP kartu tanda pengenal
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga kata atau lebih
diikuti satu tanda titik.
Misalnya:
dll. dan lain-lain
dsb. dan sebagainya
dst. dan seterusnya
hlm. halaman
sda. sama dengan atas
Yth. Yang terhormat Tetapi:
20
a.n. atas nama
d.a. dengan alamat
u.b. untuk beliau
u.p. untuk perhatian
d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran,
timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya:
Cu kuprum
TNT trinitrotoluen
cm sentimeter
kVA kilovolt-ampere
l liter
kg kilogram
Rp rupiah
2. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal,
gabungan suku kata, ataupun ga-
bungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan
sebagai kata.
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan
huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf
kapital.
Misalnya:
ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
LAN Lembaga Administrasi Negara
PASI Persatuan Atletik Seluruh Indo- nesia
IKIP Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
SIM surat izin mengemudi
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan
suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret
kata ditulis dengan huruf awal
huruf kapital. Misalnya:
Akabri Akademi Angk atan Bersenjata Republik Indonesia
Bappenas Badan Perencanaan Pemba- ngunan Nasional
Iwapi Ikatan Wanita Pengusaha Indo- nesia
Kowani Kongres Wanita Indonesia
Sespa Sekolah Staf Pimpinan Adminis- trasi
21
c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan
huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata
dari deret kata seluruh- nya ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
pemilu pemilihan umum
radar radio detecting and ranging
rapim rapat pimpinan
rudal peluru kendali
tilang bukti pelanggaran
Catatan :
22
US$3.50* 10 paun Inggris
$5.10* 100 yen
¥ 100 10 persen
2.000 rupiah 27 orang
* Tanda titik di sini merupakan tanda desimal.
1. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan,
rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya:
Jalan Tanah Abang I No. 15 Hotel Indonesia,
Kamar 169
2. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan
ayat kitab suci.
Misalnya:
Bab X, Pasal 5, halaman 252 Surah Yasin: 9
3. Penulisan lambang bila ngan dengan huruf di- lakukan
sebagai berikut.
a. Bilangan utuh Misalnya:
dua belas 12
dua puluh dua 22
dua ratus dua puluh dua222
b. Bilangan pecahan Misalnya:
setengah ½
tiga perempat ¾
seperenam belas 1/1
6
tiga dua pertiga 3
2/3
seperseratus 1/1
00
satu persen 1%
satu permil 1‰
satu dua 1,2
persepuluh
26
4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan
detik yang menunjukkan jangka waktu.
Misalnya:
1.32.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)
5. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang
tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat
terbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara . Wel- tervreden:
Balai Poestaka.
6a. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya.
Misalnya:
Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.
6b. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung. Lihat halaman 2345
dan seterusnya. Nomor gironya 5645678.
7. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala
karangan atau kepala ilustra- si, tabel, dan sebagainya.
Misalnya:
Acara Kunjungan Adam Malik
Bentuk dan Kebudayaan (Bab I UUD '45) Salah Asuhan
8. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan
tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.
Misalnya:
Jalan Diponegoro 82 Jakarta
1 April 1991
Yth. Sdr. Moh. Hasan
Jalan Arif 43
27
Palembang
Kantor Penempatan Tenaga
Jalan Cikini 7l
Jakarta
B. Tanda Koma (,)
28
begitu, dan akan tetapi.
Misalnya:
.... Oleh karena itu , kita harus berhati-hati.
.... Jadi, soalnya tidak semudah itu.
5. Tanda koma dipakai unluk memisahkan kata seperti o, ya, wah,
aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam
kalimat.
Misalnya:
O, begitu?
Wah , bukan main!
Hati-hati, ya, nanti jatuh.
6. Tanda koma dipakai unluk memisahkan petikan langsung dari
bagian la in dalam kalimat. (Lihat juga pemakaian tanda petik,
Bab V, Pasal L dan M.)
Misalnya:
Kata Ibu, “Saya gembira sekali.”
“Saya gembira sekati,” kata Ibu, “karena kamu lulus.”
7. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan ala- mat, (ii)
bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv)
nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas
Kedokteran, Universitas In- donesia, Jalan Raya Salemba
6, Jakarta.
Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor Surabaya, 10
Mei 1960
Kuala Lumpur, Malaysia
8. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang
dibalik susunannya dalam daftar pus- taka.
Misalnya:
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949. Tata-bahasa Baru
Bahasa Indonesia . Jilid 1 dan 2.
Djakarta: PT Pustaka Rakjat.
9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam
catatan kaki.
29
Misalnya:
WJ.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-
mengarang (Yogyaka rta: UP Indonesia. 1967), hlm. 4.
10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar
akademik yang mengikutinya untuk mem- bedakannya dari
singka tan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
[Link], S.E. Ny. Khadijah,
M.A.
11. Tanda koma dipakai di muka angka persepu-
luhan atau diantara rupiah dan sen yang dinyata- kan dengan
angka.
Misalnya:
12,5 m Rp12,50
12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan yang sifatnya
tidak membatasi. (Lihat juga pema- kaian tanda pisah, Bab V,
Pasal F.)
Misalnya:
Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki
yang makan sirih.
Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan,
mengikuti latihan paduan suara.
Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya
tidak diapit tanda koma:
Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada
panitia.
13. Tanda koma dapat di pakai—untuk menghindari salah baca—di
belakang keterangan yang terda- pat pada awal kalimat.
Misalnya:
Dalam pembinaan dan pengembangan ba-hasa, kita
memerlukan sikap yang bersung- guh-sungguh.
Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.
Bandingkan dengan:
30
Kita memerlukan sikap yang bersungguh- sungguh dalam
pembinaan dan pengem- bangan bahasa.
Karyadi mengucapkan terima kasih atas ban- tuan Agus.
14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan pe- tikan langsung
dari bagian lain yang mengiringi- nya dalam kalimat jika
petikan langsung itu
berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. Misalnya:
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim. “Berdiri lurus-
lurus!” perintahnya.
31
Fakultas itu mempunyai jurusan ekonomi umum dan
jurusan ekonomi perusahaan.
2. Tanda titik dua dipakai scsudah kata atau ung- kapan yang
memerlukan pemerian.
Misalnya:
a. Ketua: Ahmad Wijaya
Sekretaris: S. Handayani
Bendahara: [Link]
b. Tempat Sidang: Ruang 104
PengantarAcara: Bambang S.
Hari: Senin
Waktu: 09.30
3. Tanda titik dua dapa t dipakai dalam teks drama sesudah kata
yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu: (meletakkan bebcrapa kopor) “Bawa kopor ini,
Mir!”
Amir: “Baik, Bu.” (mengangkat kopor dan masuk)
Ibu: “Jangan lupa. Letakkan baik-baik!” (duduk di kursi
besar)
4. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau no- mor dan
halaman, (ii) di antara bab dan ayat
dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu
karangan, serta (iv) nama kota dan acuan dalam karangan.
Misalnya:
Tempo, I (1971), 34:7
Surah Yasin: 9
Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah
Studi , sudah terbit.
Tjok ronegoro, Sutomo. 1968. Tjukupkah Saudara Membina
Bahasa Persatuan Kita? Djakarta: Eresco.
32
1. Tanda Hubung menyambung suku-suku kata dasar yang
terpisah oleh pergantian baris.
Misalnya:
Di samping cara-ca ra lama itu ada ju- ga cara yang baru
Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditem- patkan pada
ujung baris atau pangkal baris.
Misalnya:
BUKAN
Kini ada cara yang baru untuk meng- ukur panas. Kukuran
baru ini memudahkan kita me- ngukur kelapa. Senjata ini
merupakan alat pertahan- an yang canggih.
Misalnya:
p-a-n-i-t-i-a 8-4-1973
4. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas
(i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii)
penghilangan bagian kelompok kata.
Misalnya:
ber-evolusi
dua puluh lima-ribuan (20 5000)
tanggung jawab dan kesetiakawanan-sosial
Bandingkan dengan:
be-revolusi
dua-puluh-lima-ribuan (1 2500)
tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial
5. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (i)
se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
(ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan -an, dan (iv)
singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (v)
nama jabatan rangkap.
Misalnya:
se-Indonesia
se-Jawa Barat
hadiah ke-2
tahun 50-an
mem-PHK-kan hari-H
sinar-X
Menteri-Sekretaris Negara
6. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan un- sur bahasa
Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Misalnya: di-smash
pen-tackle -an
34
F. Tanda Pisah (—)
1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kal- imat yang
memberi penjelasan di luar bangun
kalimat. Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai—
diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
2. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan apo- sisi atau
keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Misalnya:
Rangkaian temuan ini—evolusi, teori kenisbi- an, dan kini
juga pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita
tentang alam se-mesta.
3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal
dengan arti ‘sampai’.
Misalnya:
1910–1945
Tanggal 5–10 April 1970
Jakarta–Bandung
Catatan :
37
dipakai dalam kalimat.
Misalnya:
Bacalah “Bola Lampu”dalam buku Dari Suatu Masa, dari
Suatu Tempat .
Karangan Andi Hakim Nasoetion yang ber- judul “Rapor dan
Nilai Prestasi di SMA” diterbitkan dalam Tempo.
Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.
3. Tanda petik mengapit is tilah ilmiah yang kurang dikenal atau
kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat”
saja.
la bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan
nama “cutbrai”.
4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri
petikan langsung.
Misalnya:
Kata Tono, “Saya juga minta satu.”
5. Tanda baca penutup kalim at atau bagian kalimat ditempatkan
[Link] tanda petik yang meng- apit kata atau ungkapan
yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian
kalimat.
Misalnya:
Karena warna kulitnya, Budi mendapat ju- lukan “Si Hitam”.
Bang Komar sering disebut “pahlawan”, ia sendiri tidak tahu
sebabnya.
Catatan :
38
Misalnya:
Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
39
***
Catatan SWD: Seperti tanda baca lain, tanda titik dua (:)
ditulis melekat pada kata yang diberi tanda baca. Tidak ada
titik dua menggantung atau berdiri sendiri.
40