Kesulitan Menulis Teks Inspiratif Siswa
Kesulitan Menulis Teks Inspiratif Siswa
Tema: Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Guna Mendukung Merdeka Belajar pada Era Revolusi
Industry 4.0 dan Society
Erika Septiani, Khairil Ansari, Fera Permata Kurnia Dewi, Nona Aprilla
Mahasiswa Prodi S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan
surel: erikaseptiani01@[Link]
Abstrak
Penelitian ini berusaha menganalisis kesulitan dalam menulis teks cerita inspiratif berdasarkan struktur.
Tujuan diadakannya penelitian ini untuk meningkatkan keterampilan menulis cerita inspiratif pada siswa.
Metode penelitian dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Teknis analisis data yang digunakan
yaitu teknik analisis deskriptif yang dilakukan untuk menilai karakteristik dari sebuah data menggunakan
prosedur dengan model analisis dan hasil tes tertulis yang dilakukan. Dengan demikian analisis deskriptif
yang disajikan dalam bentuk teks tertulis yaitu dengan mengumpulkan hasil kerja siswa dalam menulis
contoh teks cerita inspiratif. hasil dari penelitian yang di dapat ialah ketika menulis suatu karangan siswa
mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang efektif.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan kegiatan yang memiliki arah dan tujuan tertentu dalam
mengembangkan potensi atau kemampuan yang dimiliki oleh individu. Kemajuan suatu bangsa
dapat ditandai dan diukur dari kemajuan pendidikannya. Hal tersebut tentu didukung oleh
peranan seorang guru dan hasil pembelajaran yang diharapkan.
Peranan seorang guru dalam proses belajar harus mampu mengembangkan potensi yang
dimiliki oleh seorang siswa dengan cara pembelajaran yang menarik perhatian dan minat siswa.
Bloom dan Krathwohl, (2009: 15) ada tiga mengemukakan bahwa dalam merumuskan tujuan
pembelajaran berpatokan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam menyampaikan materi
pembelajaran terhadap siswa, guru harus memiliki kemampuan dalam mengajar.
Mengembangkan materi dan membuat siswa untuk paham dan aktif didalam kelas.
Bahasa Indonesia merupakan salah satu materi belajar yang penting, yang harus
disampaikan oleh guru terhadap siswa. Pengajaran Bahasa Indonesia tentu harus membawa
serangkaian keterampilan baik dalam proses maupun hasil proses belajar. Keterampilan itu
berhubungan dengan proses belajar siswa Semakin terampil seseorang berbahasa semakin
bagus dan jelas pula jalan pikirannya. Menurut Tarigan (2008) keterampilan berbahasa ada 4
yaitu : (1) keterampilan menulis; (2) keterampilan membaca; (3) keterampilan mendengar; dan
(4) keterampilan menyimak, dan keempat keterampilan tersebut saling berhubungan satu sama
lain. Dari keempat keterampilan tersebut satu adalah keterampilan menulis. Melalui menulis
siswa dapat menuangkan ide, inspirasi dan gagasan yang ada pada fikiran mereka dalam bentuk
tulisan. Baik dari pengalaman pribadi sendiri maupun hasil khayalan siswa.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia tidak hanya dipelajari dalam teori semata, namun
siswa diharapkan mampu mengimplementasikan teori yag telah diperoleh dan menciptakan
tulisan dari hasil pemahaman yang didapat. Dalam kegiatan menulis, seorang siswa harus
mampu menggunakan bahasa, kosa-kata sesuai dengan konteks isi tulisan yang hendak dibuat.
Ketrampilan menulis juga tidak begitu saja dapat dimiliki oleh siswa sekolah menengah
pertama tanpa adanya pehamaman, wawasan dan pengalaman yang luas.
307
Prosiding Seminar Nasional PBSI-III Tahun 2020
Tema: Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Guna Mendukung Merdeka Belajar pada Era Revolusi
Industry 4.0 dan Society
308
Prosiding Seminar Nasional PBSI-III Tahun 2020
Tema: Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Guna Mendukung Merdeka Belajar pada Era Revolusi
Industry 4.0 dan Society
Menyadari banyaknya kekurangan yang dialami oleh siswa dalam menulis, maka penting
dilakukan pendiagnosisan untuk mengetaui kesulitan-kesulitan apa saja yang dialami oleh siwa
sehingga mengalami hal tersebut. Karena kasus permasalahan yang kami temui diatas, ma ka
penulis tertarik untuk mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab
mengapa siswa sekolah menengah pertama kelas IX-8 mengalami kesulitan dalam mengarang
berdasarkan struktur teksnya. Sehingga peneliti mengangkat judul penelitian “Analisis
Kesulitan Siswa Kelas IX-10 Dalam Membuat Cerita Inspiratif Berdasarkan Struktur di SMPN
1 Labuhan Deli”
KAJIAN TEORI
Menulis
Menulis adalah suatu keterampilan berbahasa yang dapat dipelajari oleh siswa dengan
mudah dipahami. Untuk mengasah bakat menulis maka diperlukan proses belajar seta latihan
yang rutin. Keterampilan menulis sangat penting maka para ahli banyak mendefinisikan
keterampilan menulis sesuai dengan pendapatnya masing-masing.
Djuharie (2005:120) mengatakan bahwa menulis adalah suatu keterampilan yang dapat
dilatih. Hal ini sejalan dengan pendapat Ebo (2005:1) yang mengatakan bahwa setiap individu
dapat menulis. Pranoto (2004:9) juga mengatakan bahwa menulis adalah mengungkapkan ide
atau gagasan ke dalam bentuk tulisan atau menceritakan suatu hal kepada orang lain melalui
tulisan. Sedangkan menurut Akhadiah dkk (1998:13) mengatakan bahwa menulis adalah suatu
aktivitas bahasa yang menggunakan tulisan sebagai medianya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa menulis adalah ungkapan atau ekspresi yang dituangkan
dalam bentuk tulisan agar dapat dibaca oleh pembaca dengan kata lain menulis merupakan
berkomunikasi secara tidak langsung. Tulisan merupakan rangkaian huruf yang memiliki
makna dengan segala kelengkapan ejaannya.
Menulis dilakukan atas dasar beberapa tujuan. Beberapa tujuan menulis yaitu untuk
memberikan informasi kepada pembaca, menuangkan ide atau gagasan dalam mengekspresikan
diri, serta menghasilkan karya tulis.
Menurut tujuan diatas, tulisan juga memiliki jenis-jenis. Jenis tulisan tersebut adalah
sebagai berikut.
a. Narasi; karangan ekspositoris ataupun imajinatif yang secara menyeluruh menyampaikan
informasi berupa tindakan yang terjadi dalam satu rangkaian waktu.
b. Eksposisi; karangan yang menyamikan informasi tentang fakta atau konseptual dengan
tujuan menjelaskan, menerangkan, serta menguraikan suatu hal guna menambah wawasan
pembaca.
c. Deksripsi; karangan yang menyampaikan informasi tentang situasi suatu lingkungan
dengan penyampian yang objektif, tanpa manipulasi, dan terperinci.
d. Argumentatif; karangan yang menyampaikan informasi tentang suatu hal dengan tujuan
untu meyakinkan dan membujuk pembaca.
e. Persuasif; karangan yangmenyampaikan informasi tentang suatu hal dengan tujuan untuk
mempengaruhi dan mengajak pembaca.
Selain itu menulis juga memberikan manfaat bagi siapapun, diantaranya:
a. Menambah wawasan bagi pada pembaca.
b. Menambah kemampuan dalam belajar, berpikir, serta bernalah tentang suatu hal.
c. Dapat menyusun gagasan secara teratur dan sistematis.
d. Mengembangkan ide ataupun gagasan dalam bentuk tulisan.
Menulis juga memiliki fungsi. Fungsi utama dalam menulis adalah sebagai alat
komunikasi secara tidak langsung. Menulis sangat berperan guna mempermudah para pelajar
untuk berpikir kritis, memperdalam daya tangkap, memecahkan persoalan yang dihadapi, dan
menuangkan ide serta gagasannya.
309
Prosiding Seminar Nasional PBSI-III Tahun 2020
Tema: Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Guna Mendukung Merdeka Belajar pada Era Revolusi
Industry 4.0 dan Society
Berikut ini terdapat beberapa struktur dalam unsur teks cerita inspirasi, terdiri atas:
1. Orientasi : tahap pengenalan yang berisi pengenalan tokoh, latar, dan latar belakang cerita.
2. Rangkaian peristiwa : awal terjadinya peristiwa sampai puncak masalah.
3. Komplikasi : tahap puncak dari peristiwa yang dikembangkan pada tahap rangkaian
peristiwa sampai masalah tersebut di temukan jalan keluarnya.
4. Resolusi : peristiwa atau masalah yang dikembangkan pada bagaian rangkaian peristiwa
dan komplikasi dikendurkan pada tahap resolusi.
5. Koda : bagian penutup dari sebuah cerita inspiratif dan jenis teks narasi lainnya.
Berikut ini terdapat beberapa unsur-unsur teks cerita inspirasi, terdiri atas:
1. Tema : gagasan, ide,/pikiran utama, yang digunakan sebagai dasar dalam menuliskan
cerita.
2. Tokoh dan Penokohan; Tokoh merupakan individu rekaan yang mengalami peristiwa di
dalam cerita. Penokohan yaitu penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh dalam
cerita.
3. Latar Cerita (Setting); unsur dalam cerita yang menceritakan di mana, bagaimana, dan
kapan peristiwa dalam cerita itu berlangsung.
310
Prosiding Seminar Nasional PBSI-III Tahun 2020
Tema: Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Guna Mendukung Merdeka Belajar pada Era Revolusi
Industry 4.0 dan Society
4. Alur / Jalan Cerita; jalan peristiwa yang menampakkan kepaduan yang dibentuk oleh
hubungan sebab akibat, tokoh utama, tema, atau kegiatan yang dilakukan.
5. Sudut Pandang (Point Of View); posisi pengarang terhadap peristiwa-peritiwa di dalam
cerita.
Berikut merupakan kaidah kebahasaan teks cerita inspirasi, yaitu :
1) Keterangan tempat, waktu, tujuan, dan cara.
2) Kata hubung intrakalimat dan antarkalimat.
3) Kaliamat majemuk sementara dan bertingkat
Berikut ini terdapat beberapa langkah-langkah menulis teks cerita inspirasi, terdiri atas:
1) Temukan tema dan amanat yang akan disampaikan
2) Sasaran pembaca
3) Rancangkan peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur
4) Bagi peristiwa utama ke dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita
5) Rincian peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai pendukung
6) Susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandangan
7) Mengerti aturan tanda bacanya dalam kalimat tersebut
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif.
Metode deskriptif kualitatif merupakan salah satu metode yang menafsirkan dan menguraikan
data berdasarkan fakta-fakta yang tampak dan terjadi dengan menggambarkan kondisi apa
adanya. Sedangkan desai penelitian yag digunakan adalah desai penelitian deskriptif yang
merupakan suatu teknik dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan fakta yang
ditemukan secara umum, kemudian dianalisis dengan teori yang berkaitan guna memperoleh
hasil atau jawaban dari permasalahan yang diteliti.
Sekolah yang kami teliti yaitu di SMP Negeri 1 Labuhan Deli yang berlokasi di [Link]
Pasar IV, Desa Helvetia. Waktu penelitian yang kami laksanakan pada Selasa, 4 Februari 2020,
Pukul 09.00 WIB. Subjek yang kami teliti dalam penelitian ini yaitu dari siswa/i SMP Negeri
1 Labuhan Deli kelas IX-10. Langkah ini merupakan langkah penting karena tujuan utama
penelitian adalah untuk mendapatkan data, kami menggunakan teknik pengumpulan data, yaitu:
a. Observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara langsung di lapangan, khususnya
mengenai keadaan serta penggunaan model pembelajaran Bahasa Indonesia dengan materi
cerita inspiratif.
b. Dokumentasi; Pada teknik ini, peneliti dimungkinkan memperoleh informasi dari
sumber tertulis atau dokumen yang ada pada responden. Dalam hal ini data tentang teks tertulis
mengenai hasil kerja siswa dalam menulis contoh teks cerita inspiratif.
Teknis analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis deskriptif yang dilakukan untuk
menilai karakteristik dari sebuah data menggunakan prosedur dengan model analisis dan hasil
tes tertulis yang dilakukan. Dengan demikian analisis deskriptif yang disajikan dalam bentuk
teks tertulis yaitu dengan mengumpulkan hasil kerja siswa dalam menulis contoh teks cerita
inspiratif.
PEMBAHASAN
Kesulitan siswa kelas IX dalam menulis karangan cerita inspiratif pada penelitian ini
dianalisis dalam ketepatan struktur dari karangan narasi siswa. Struktur karangan narasi menurut
Harsiati (2017:63) terdiri atas orientasi, komplikasi, serta resolusi. Jika di dalam karangan narasi
siswa ditemukan kesalahan baik orientasi, komplikasi, dan resolusi, maka dapat disimpulkan
bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menulis karangan narasi. Berikut merupakan tabel 1
hasil analisis karangan narasi dilihat dari segi ketepatan struktur yang di ambil dari hasil
penugasan terhadap siswa kelas IX yang berjumlah 15 orang.
311
Prosiding Seminar Nasional PBSI-III Tahun 2020
Tema: Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Guna Mendukung Merdeka Belajar pada Era Revolusi
Industry 4.0 dan Society
6 √ - √ √ -
7 √ - √ √ √
8 √ - √ - -
9 - √ √ √ √
10 √ √ - √ √
11 √ - - - √
12 √ √ √ √ -
13 √ √ √ √ √
14 √ - √ √ -
15 √ - √ √ √
Total 13 6 10 12 7
Berdasarkan data yang didapat bahwa dalam menulis karangan cerita inspiratif siswa
banyak yang tidak dapat membuat alur cerita dalam bagian struktur urutan peristiwa dan koda
yang seharusnya urutan peristiwa adalah awal terjadinya sebuah peristiwa/kejadian sampai pada
puncak masalah yang terjadi dan koda yang memuat amanat ataupun pesan yang ingin
disampaikan oleh penulis. Pada saat membuat cerita isnpiratif siswa sebagian besar menuliskan
cerita hanya memuat orientasi, tahap pengenalan dan resolusi.
Contoh karangan yang hanya terdapat orientasi dan resolusi
“Pada suatu pagi aku terbangun dari tidurku. Aku melihat jam di dinding dan ternyata
sudah pukul 6.30. aku terlambat bangun pada pagi itu. Aku langsung panik dan buru-
buru mempersiapkan diriku pada pagi itu. Ketika sampai depan pintu aku lupa
mengambil dasi dikamarku.” (Orientasi)
“Untungnya ada kakak yang membawa dasiku turun kebawah memberikannya
kepadaku. Aku mengucapkan terima kasih dengan ceoat dan segera berlari mencari
angkot yang lewat didepan rumahku” (Koda)
Contoh karangan yang tidak terdapat urutan peristiwa, komplikasi dan koda
“Pada Suatu Hari, ada seorang pengemis diperempatan jalan kota Medan. Pengemis
itu setiap pagi duduk di perempatan jalan dengan mengangkat satu tangannya keatas.”
(Orientasi)
312
Prosiding Seminar Nasional PBSI-III Tahun 2020
Tema: Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Guna Mendukung Merdeka Belajar pada Era Revolusi
Industry 4.0 dan Society
“Karena iba terhadap pengemis itu, akupun segera memberikannya separuh uang
sakuku. Dia tersenyum sambil mengucapkan terima kasih kepadaku” (Resolusi)
“Ketika aku menunggu angkot didepan sekolah aku melihat kawan sekelasku yang
sepertinya sedang kesulitan. Aku lalu mendekatinya. Setelah aku bertanya apa yag
terjadi padanya, ternyata uang buat bayar ongkos angkotnya hilang entah kemana”
(Orientasi)
“Tentu saja aku tidak tega jika meninggalkan dia tanpa membantunya. Beruntung aku
masih ada uang saku lebih, sehingga aku memberikan uang 2000 kepadanya.”
(Resolusi)
Contoh karangan yang terdapat orientasi, urutan peristiwa, kompilkasi namun tidak
terdapat koda
“Disebuah desa aku tinggal bersama dengan kakek dan nenekku. Kakekku berpropesi
sebagai petani. Setiap pagi pukul 7 kakek sudah pergi ke sawah untuk melihat sawah-
sawahnya. Terkadang aku menyusul kakek pergi ke sawah” (Orientasi)
“Pada suatu waktu kakek pergi tanpa membawa bekal sarapan pagi yang selalu nenek
bawak untuk kakek. Khawatir bila kakek kelaparan karena tidak sarapan akupun
berniat untuk menyusul kakek” (Urutan peristiwa)
“Diperjalanan aku berhati-hati membawa bekal agar makanan kakek tidak tumpah.
Namun naas, kakiku tersandung batu besar. Untungnya bekal kakek dengan sigap dapat
kupeluk. Bila tidak aku tidak bisa membayangkan sarapan yang kubawa terbuang sia
sia dan kakek tidak dapat sarapan pagi” (Komplikasi)
“Setelah sampai disawah aku melihat kakek yang sedang membajak sawah dengan
kerbau. Aku juga ingin naik keatas kerbau tersebut. Aku segera memanggil kakek untuk
sarapan bersamaku. “Kek ini makanannya” teriakku dari tepi sawah.
“Kakek menyahut panggilanku dan mencuci kaki dan tangannya disungai tepi sawah.
Kakek mengucapkan terima kasih kepadaku karena mengantar sarapan yang kakek
lupakan dirumah. Akupun sarapan dengan lahap bersama kakek ditepi sawah”
(Resolusi)
Berdasarkan hasil pengamatan di dalam kelas ketika siswa menulis karangan cerita
inspiratif, Ada beberapa kesulitan yang tampak dialami siswa yaitu:
Pertama Siswa ternyata jarang dengan kegiatan menulis karangan. Hal ini tampak dari
sebagian besar siswa merasa bingung harus memulai kegiatan menulisnya. Dalam bukunya
Heri(2010:17) mengatakan bahwa “Tahapan-tahapan yang harus dipersiapkan dalam menulis
cerpen antara lain: menentukan tema dan judul, mencari bahan, menyeleksi bahan, dan membuat
kerangka karangan.”
Kedua, Kesulitan menentukan topik yang akan di angkat. Jika siswa kesulitan dalam hal
memulai kegiatan tersebut tentu berpengaruh pada tahap menentukan topik. Siswa tak jarang
mengalami keterhambatan mengenai tema yang ingin di angkat.
Ketiga, Kesulitan mengembangkan kerangka tulisan berdasarkan pola struktur. Ketika
siswa sudah mendapatkan tema yang hendak di tulis yang berhubungan dengan ciri dalam cerita
inspiratif yaitu adanya empati, simpati dan kepedulian. Siswa mengalami kesulitan dalam
mentransfer hasil pemikiran mereka ke buku untuk ditulis. Sehingga ketika menuliskan karangan
cerita yang seharusnya sesuai dengan struktur, sebagian besar siswa lupa akan struktur urutan
peristiwa, dan koda.
Keempat, Kesulitan menyusun peristiwa menjadi alur. Ketika menyusun peristiwa yang
menarik untuk dibuat menjadi sebuah cerpen, siswa sering dengan mudahnya merangkai
peristiwa menjadi sebuah alur cerita. Hal ini di lihat dari proses pengamatan selama
pembelajaran berlangsung di dalam kelas. Siswa merasa kurang percaya bahwa mereka sudah
kerjakan sehingga menjadi alur cerita yang menarik sesuai dengan urutan struktur dalam cerita
inspiratif. Hal ini sejalan dengan Tarigan (1984:177) mengatakan bahwa salah satu ciri khas dari
313
Prosiding Seminar Nasional PBSI-III Tahun 2020
Tema: Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Guna Mendukung Merdeka Belajar pada Era Revolusi
Industry 4.0 dan Society
cerita yaitu “Dalam sebuah cerita, sebuah insiden adalah yang paling utama yang menguasai
jalan cerita.” Tentu saja siswa hrus berhati hati dalam membuat urutan peristiwa dalam cerita
inspiratif ini dan memilih gaya bahasa yang tepat sesuai dengan kaidah kebahasaan yang baik
dan benar.
Kelima, Kesulitan membuat konflik dan dari peristiwa yang dipilih. Pada cerita
inspiratif konflik adalah puncak dari peristiwa yang menampilkan inti dari pesan cerita inspiratif
yang setelahnya masuk kedalam bagian resolusi, yaitu penyelesaian masalah. Pada bagian ini,
terlihat karakteristik cerita inspiratif yakni empati, simpati dan kepedulian. Tapi, bagi siswa
menentukan konflik dari peristiwa yang sudah dipilih sangat tidak mudah. Siswa dalam
membuat cerita inspiratf masih tidak lengkap berdasarkan strukturnya.
Keenam, ketika menulis suatu karangan siswa cenderung mengalami kesulitan dalam
menyusun kalimat yang efektif. Kesulitan ini adalah contoh kesulitan yang sering ditemukan
dalam menulis baik itu menulis sebuah karya fiksi ataupun non-fiksi. Sejalan dengan Maslakhah
(2005:22) menyatakan “Ketidaktepatan penyusunan kalimat yang biasa ditemukan dalam tulisan
yaitu ketidakbakuan kalimat karena pelesapan imbuhan, pemborosan pemakaian kata, kerancuan
bentuk, kesalahan ejaan, pelesapan salah satu fungsi kalimat, kesalahan struktur kalimat.”
Kesalahan yang ada di tulisan siswa merupakan contoh bukti nyata bahwa siswa memiliki
kesulitan dalam menyusun kalimat efektif saat menulis cerita. Hasil yang didapat dari
pengumpulan tugas yang dilakukan pun menyimpulkan bahwa siswa masih kurang baik
menuliskan cerita dengan gaya bahasa dan kalimat yang efekif.
Pada penelitian ini, kami hanya mencari kesulitan yang dialami siswa dalam menulis
karangan cerita inspiratif berdasarkan struktur kelas IX-10 SMP Negeri 1 Labuhan Deli. Dengan
terlihat adanya kesulitan dan faktor penyebab kesulitan yang dialami oleh kelas IX-10 SMP
Negeri 1 Labuhan Deli, maka harus ada solusi atau strategi untuk mengatasinya. Oleh karena
itu, penelitian terkait dengan solusi atau strategi untuk mengatasi kesulitan siswa menulis
karangan cerita berdasarkan struktur perlu untuk dilakukan. Mengingat setiap kesulitan belajar
siswa dan faktor penyebabnya harus bisa di atasi guna ketercapaian tujuan belajar.
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang di dapat dalam menganalisis kesulitan dalam menulis teks cerita
inspiratif berdasarkan struktur yaitu :
1. Sebelumnya siswa memang kurang terbiasa dengan kegiatan menulis karangan. Hal ini
tampak sebagian siswa merasa bingung harus memulai dari tahap mana.
2. Kesulitan menentukan topik. Berdasarkan kesulittannpetama hal tersebut tentu berpengaruh
pada tahap menentukan topik. Siswa masih mengalami kebingungan tema apa yang akan
mereka angkat.
3. Kesulitan mengembangkan kerangka tulisan berdasarkan struktur. Ketika siswa sudah
menemukan tema apa yang hendak mereka tulis yang berkaitan dengan ciri dari cerita
inspiratif yaitu terdapat empati, simpati dan kepedulian. Siswa mengalami kesulitan dalam
merealisasikan pikiran mereka ke dalam bentuk cerita.
4. Kesulitan merangkai peristiwa menjadi alur. Ketika sudah menentukan peristiwa yang
menarik untuk dijadikan sebuah cerpen, siswa tidak lantas dengan mudahnya merangkai
peristiwa menjadi sebuah alur cerita.
5. Kesulitan menentukan konflik dan dari peristiwa yang dipilih. Pada cerita inspiratif konflik
merupakan puncak dari peristiwa yang menampilkan inti dari pesan cerita inspiratif yang
setelahnya masuk kedalam bagian resolusi, yakni penyelesaian masalah.
6. Ketika menulis suatu karangan siswa mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang
efektif. Kesulitan ini merupakan salah satu kesulitan yang umum dijumpai ketika menulis
baik itu menulis sebuah karya fiksi maupun non-fiksi.
314
Prosiding Seminar Nasional PBSI-III Tahun 2020
Tema: Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Guna Mendukung Merdeka Belajar pada Era Revolusi
Industry 4.0 dan Society
DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, Sabarti, dkk. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta:
Erlangga.
Akhadiah, S., Maidar, G.A., dan Sakura, H.R. 1989. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa
Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Anas Sudijono. 2012. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Arif, Syamsul. (2019). Metode Penelitian. Medan: Unimed Press.
Moleong, Lexy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Musaba, Z.. 1994. Terampil Menulis dalam Bahasa Indonesia yang Benar. Banjarmasin: Sarjana
Indonesia.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Tarigan, Henry Guntur. 1982. Menulis Sebagai Salah Satu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Angkasa.
315
Prosiding Seminar Nasional PBSI-III Tahun 2020
Tema: Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Guna Mendukung Merdeka Belajar pada Era Revolusi
Industry 4.0 dan Society
316