0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan26 halaman

Penggunaan Ketorolac dalam Terapi Nyeri

Dokumen ini adalah lembar kerja CBL mahasiswa yang mencakup analisis terapi obat untuk pasien dengan gangguan tulang dan sendi. Terdapat beberapa masalah terkait penggunaan obat, termasuk efek samping dan indikasi yang tidak tepat, serta rekomendasi untuk pengobatan yang lebih sesuai. Data pasien dan hasil laboratorium juga disajikan untuk mendukung penilaian dan rekomendasi terapi.

Diunggah oleh

kikiskristavia25
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan26 halaman

Penggunaan Ketorolac dalam Terapi Nyeri

Dokumen ini adalah lembar kerja CBL mahasiswa yang mencakup analisis terapi obat untuk pasien dengan gangguan tulang dan sendi. Terdapat beberapa masalah terkait penggunaan obat, termasuk efek samping dan indikasi yang tidak tepat, serta rekomendasi untuk pengobatan yang lebih sesuai. Data pasien dan hasil laboratorium juga disajikan untuk mendukung penilaian dan rekomendasi terapi.

Diunggah oleh

kikiskristavia25
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LEMBAR KERJA CBL MAHASISWA

LEMBAR KERJA CBL MAHASISWA


Kelompok/Kelas : 2B
Nama Anggota :
1. Ni Luh Putu Taksayani Putri (2308611063)
2. Cokorda Andi Janawi Tanaya (2308611064)
3. Shan Amadeus (2308611065)
4. Diah Mawarni Fitriari (2308611066)
5. Gek Niken Tasya Lingling (2308611067)
Hari, tanggal / CBL ke- : Rabu, 1 November 2023/ CBL ke-9
Topik : Gangguan Tulang dan Sendi

1. DRP yang Ditemukan pada Kasus


PM Terapi Assessment DRP
(Keluhan) Obat
Nyeri Ketorolac
IV Kode Keterangan
Problem P2.1 Kejadian obat yang merugikan
(mungkin) terjadi
P3.3 Masalah terkait obat yang tidak
jelas
Simpulan Penggunaan ketorolak secara bersamaan
dengan NSAID lain atau aspirin dianggap
kontraindikasi. Hal ini dikarenakan
Penggunaan ketorolak dalam kombinasi
dengan obat antiinflamasi nonsteroid
(NSAID) lainnya dapat meningkatkan
risiko efek samping yang serius seperti
gagal ginjal dan toksisitas gastrointestinal
termasuk peradangan, pendarahan,
ulserasi, dan perforasi esofagus, lambung,
atau usus. Kemungkinan terjadinya
kondisi perforasi gastrointestinal
berpotensi fatal dan darurat medis di mana
lubang terbentuk di seluruh lambung atau
usus. Disarankan dalam meminum obat
ini dengan makanan untuk mengurangi
risikonya. Efek samping lain juga dapat
meningkat, termasuk masalah ginjal dan
kardiovaskular ([Link], 2023).
Ketorolac IV pada pasien dewasa adalah
10 mg dilanjutkan dengan 10-30 mg
setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan. Dosis ini
dapat ditingkatkan sesuai dengan respon
pasien terhadap tingkat keparahan nyeri
dengan dosis maksimal perhari 90 mg
(IAI, 2019). Pada kasus tidak disebutkan
dosis ketorolac IV yang diberikan.
Berdasarkan buku ISO (2019) durasi
pengobatan jangka pendek (5 hari). Pada
kasus pengobatan ketorolac sudah tepat
selama 2 hari (IAI, 2019). Selain itu,
terapi ketorolac IV dihentikan karena
dapat menurunkan platelet sehingga
meningkatkan resiko perdarahan jadi
diubah menjadi first line terapinya nyeri
severe dengan tramadol IV (Dipiro, 2020)
(Lacy et al., 2008).

Nyeri Amitriptilin
Neuropati 2 x 12,5 mg Kode Keterangan
Problem P3.1 Perawatan obat yang tidak
perlu
P2.1 Kejadian obat yang merugikan
(mungkin) terjadi
Simpulan Pasien mengalami nyeri akut yang tidak
memerlukan pemberian amitriptilin, hal
ini dikarenakan menurut Drug
Information Handbook 17th edition
amitriptilin digunakan untuk
manajemen nyeri kronis (penggunaan
off label) dengan dosis awal secara oral
25 mg sebelum tidur dan dapat
meningkat hingga 100 mg/hari sesuai
toleransi. Selain itu, amitriptilin
menunjukkan adanya efek samping
pada gangguan kardiovaskular yaitu
hipotensi, dimana pasien MRS
dilakukan pemeriksaan data klinik
tekanan darah sudah termasuk rendah
yaitu 100/60 mmHg. Pemberian
amitriptilin dapat memperburuk kondisi
hipotensi pasien sehingga amitriptilin
tidak perlu diberikan kepada pasien
(Lacy et al., 2008).

Nyeri Parasetamol
3 x 1000 mg Kode Keterangan
Problem P1.2 Efek pengobatan tidak optimal
P2.1 Kejadian Obat yang mungkin
merugikan terjadi
Simpulan Pasien mengalami nyeri akut (penilaian
nyeri: 7) dimana paracetamol
digunakan untuk pasien dengan nyeri
ringan dan demam (Lacy et al., 2008).
Selain itu, Parasetamol sebagai
analgesic memiliki interaksi moderate
dengan ketorolac yang dapat
meningkatkan resiko nefropati
analgesic, nekrosis papiler ginjal,
penyakit ginjal stadium akhir hingga
kanker ginjal atau apabila digunakan
bersamaan (Drugbank, 2023). Hasil
data laboratorium berupa SGOT dan
SGPT menunjukkan nilai SGOT dan
SGPT yang lebih tinggi dari normal dan
mengindikasikan adanya gangguan
pada hati (Hall and Cash, 2012). Pasien
dengan gangguan fungsi hati sebaiknya
perlu menurunkan dosis nya menjadi 3
x 500 mg sehari (IAI, 2019)

Nyeri Natrium
Diklofenak Kode Keterangan
2 x 50 mg Problem P2.1 Kejadian obat yang merugikan
(mungkin) terjadi
Simpulan Penggunaan natrium diklofenak
menyebabkan efek samping rasa
terbakar/menyengat sementara (15%)
dan pasien juga mengalami nyeri
seperti ditusuk-tusuk disertai panas.
Selain itu penggunaan natrium
diklofenak yang dikombinasikan
dengan ketorolac dapat meningkatkan
efek buruk/toksik dengan tingkat
interaksi Major yang dapat
meningkatkan resiko efek samping
pada saluran pencernaan seperti
ulserasi, peradangan, perdarahan dan
perforasi ([Link], 2023), jadi perlu
menghindari 2 kombinasi obat tersebut.
Maka natrium diklofenak dihentikan
(Lacy et al., 2008).
Pelemas Otot Eperisone 2
x 50 mg Kode Keterangan
Problem P3.1 Pengobatan yang tidak
diperlukan
Simpulan Penggunaan eperisone diindikasikan
untuk pengobatan nyeri punggung
bawah akut sedangkan pasien
mengalami nyeri pada sendi kiri saja
(Witenko et al., 2014). Sehingga,
pengobatan eperisone yang diberikan
kepada pasien masih dikatakan kurang
tepat untuk pasien dengan nyeri sendi
kiri.

Mual dan Omeprazole


muntah IV Kode Keterangan
Problem P3.2 Masalah/keluhan yang tidak
jelas. Klarifikasi lebih lanjut
diperlukan
Simpulan Omeprazol yang merupakan golongan
PPIs (Proton Pump Inhibitors) bekerja
untuk mengatasi keluhan mual dan
muntah pada pasien dengan cara
menghambat produksi asam yang
berlebih pada lambung. Penggunaan
omeprazole IV diindikasikan untuk
pengobatan jangka pendek (4-8
minggu) untuk penyakit tukak
duodenum aktif; pengobatan sakit
maag dan gejala lain yang berhubungan
dengan penyakit refluks
gastroesofageal (GERD); pengobatan
jangka pendek (4-8 minggu) untuk
esofagitis erosif yang didiagnosis
secara endoskopi (Lacy et al., 2008).
First line theraphy yang dapat
diberikan untuk pasien dengan mual
dan muntah adalah antasida sebagai
obat tunggal atau kombinasi terutama
yang mengandung magnesium
hidroksida, aluminium hidroksida,
dan/atau kalsium karbonat, mungkin
memberikan bantuan cepat, terutama
melalui netralisasi asam lambung
(Dipiro et al., 2020). Pada kasus ini
pasien juga sudah diberikan sukralfat
3x15 mL yang mengindikasikan
penggunaan obat kombinasi yang
sudah tepat.

Peradangan Curcuma 2 Tidak ada DRP


sendi x 1 tab Ekstrak Curcuma longa dengan kandungan kurkumin
merupakan suplemen yang aman dan efektif untuk pasien
penderita nyeri persendian seperti pada kasus OA.
Sehingga disarankan untuk menggunakan ekstrak
Curcuma longa dan suplemen Kurkumin untuk pasien
nyeri sendi selama lebih dari 12 minggu (Zheng et al.,
2021). Selain itu menurut Buonomo et al. (2019)
mengindikasikan curcuma sebagai suplemen terapi dapat
berperan dalam mencegah kerusakan hati dengan cara
mencegah peradangan dan fibrosis.
Anemia Tidak
Hb: 11,8 diberikan Kode Keterangan
mg/dL terapi Problem P3.2 Masalah/keluhan yang tidak
(rendah) pengobatan jelas. Klarifikasi lebih lanjut
MCV: 71,1 diperlukan
(rendah) Simpulan Anemia biasanya disebabkan oleh
MCH: 24,9 Defisiensi Besi atau kurangnya
(rendah) ketersediaan zat besi di dalam tubuh
MCHC: 35,0 menyebabkan proses tubuh untuk
(tinggi) melakukan eritropoesis tidak cukup.
Pada pasien anemia defisiensi besi
diperlukan pemeriksaan Hb, feritin
MCV, MCH dan MCHC. Menurut
penelitian yang dialkukan Suega
(2007) menyatakan bahwa
pemeriksaan feritin diperlukan, hal ini
dikarenakan feritin memiliki
sensitivitas terbaik (90,6%) dan
spesifisitas (90,6%) dalam
pemeriksaan anemia defisiensi besi.
Pasien dengan MCV rendah perlu
diketahui serum feritin tinggi atau
rendah untuk mendiagnosis pasien
mengalami anemia defisiensi besi atau
anemia of chronic disease (serum
ferritin normal/tinggi dengan TIBC
rendah) (Dipiro et al., 2020). Jadi
sebelum memberikan terapi
pengobatan pada pasien diperlukan
pemeriksaan feritin pasien. Jika
hasilnya <20 ng/mL (untuk pria)
Dokter dapat mendiagnosis pasien
mengalami anemia defisiensi besi dan
diberikan terapi pengobatan yang tepat.

Hiponatremia Tidak
diberikan Kode Keterangan
Natrium 132 terapi Problem P1.3 Gejala atau indikasi yang tidak
mmol/l pengobatan diobati
(rendah) Simpulan Penurunan natrium yang dialami pasien
dapat disebabkan oleh pemberian
omeprazole dan ketorolac pada hari
pertama pasien MRS. Hal ini
dikarenakan efek samping yang
mungkin terjadi dari penggunaan
ketorolac dan omeprazole menurut
Drug Information Handbook 17th
edition yaitu hiponatremia (Lacy et al.,
2008). Pemberian NaCl 3% dapat
dipertimbangkan untuk pasien dengan
hiponatrium akut (Hoorn & Zietse,
2017).
2. Catatan Asuhan Kefarmasian
1. Problem medik (keluhan):
Pasien mengeluh mual, muntah, nyeri pada sendi kiri sejak sejak 6 hari
yang lalu, keluhan nyeri sendi dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan panas.
Nyeri dirasakan berat dan mendadak. Sebelumnya pasien mengeluh demam
sebelum nyeri sendi.
2. Diagnosis:
Diagnosis yang ditetapkan untuk pasien adalah poliarthralgia
3. Assessment Pasien:
Subjektif (S):
Pasien mengeluh mual, muntah, nyeri pada sendi kiri sejak sejak 6 hari
yang lalu, keluhan nyeri sendi dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan panas.
Nyeri dirasakan berat dan mendadak. Sebelumnya pasien mengeluh demam
sebelum nyeri sendi.
Objektif (O):
- Nama pasien Tn B
- Nomor rekam medis pasien 06.6b.56
- Umur pasien 32 tahun 2 bulan 16 hari
- Berat badan pasien 55 Kg
- Tinggi badan pasien 160 cm
- Pasien memiliki riwayat penyakit terdahulu yakni nyeri sendi
- Tanggal masuk IGD dan dipindahkan ke Ruang Rawat Inap Medik
18/10/23
- Memiliki riwayat alergi obat ampicilin
- Mengkonsumsi obat herbal sendifit
- Penilaian nyeri pasien termasuk skala 7 (nyeri akut)
- Data klinik pasien :
No. Data Klinik Nilai Normal Tanggal
18/10/23
1. Suhu 36 – 37,5oC 36,6℃
2. Nadi 80-100x/m 101x/min
3. RR 18-20 x/m 20x/min
4. Tekanan darah <140/90 100/60 mmHg
5. SpO2 > 95% 99%
- Data laboratorium :
No. Data Klinik Rujukan Tanggal
19/10/23
1. PLT 150 - 450 90
2. BUN 6 - 20 17
3. Kreatinin 0,67 - 1,17 0,69
4. SGOT <40 140
5. SPGT <41 64
6. Natrium (Na) 136 – 145 mmol/l 132
7. Kalium (K) 3,5 – 5,1 mmol/l 3,9
8. WBC 3,80 – 10,60 3,82
9. Hemoglobin 13,2 – 17,3 11,8
10. Lekosit 0-5 0-1
11. MCV 80,0 – 100,0 71,1
12. MCH 26,0 – 34,0 24,9
13. MCHC 29,7 – 33,1 35,0
- Profil terapi (IGD dan ranap):
No. Nama Obat Waktu Pemberian
17/10/23 18/10/23
1. Ketorolac IV 13.00 √ 12.00 √
24.00
2. Omeprazole IV 18.00 √
3. Amitriptilin 2 x 18.00 √ 06.00 √
12,5 mg
4. Paracetamol 3 x 13.00 √ 06.00 √
1000 mg 21.00 13.00
5. Eperison 2 x 50 mg 18.00 √ 06.00 √
6. Curcuma 2 x 1 tab 18.00 √ 06.00 √
7. Sucralfat 3 x 15 13.00 √ 06.00 √
mL 18.00
8. Natrium diklofenak 12.00 √
2 x 50 mg 18.00
Assessment (A):
- Identifikasi masalah penyakit:
Berdasarkan kasus diatas menyatakan bahwa pasien didiagnosis
memiliki penyakit polyarthralgia. Polyarthralgia adalah suatu kondisi
medis yang menyebabkan nyeri pada banyak sendi di tubuh, biasanya lima
sendi atau lebih terasa nyeri pada kasus poliartralgia yang khas.
Polyarthralgia atau nyeri sendi yang disertai dengan peradangan pada
persendian. Hal ini terkait dengan nyeri rematik. Diagnosis yang akurat
hanya mungkin dilakukan setelah meninjau riwayat kesehatan dan
pemeriksaan fisik pasien (Singh and Mehra, 2010). Nyeri sendi yang
dirasakan oleh pasien pada kasus seperti nyeri ditusuk - tusuk dan panas.
Selain itu, nyeri yang dirasakan juga terasa berat dan mendadak. Hal ini
dikarenakan, nyeri sendi yang intermiten dan terus-menerus karena
berbagai alasan, seringkali dimulai dengan rasa sakit ringan yang menjadi
semakin hebat seiring berjalannya waktu.
Dalam kasus didapatkan data berupa data klinik dan data laboratorium
pada pasien. Pada data klinik berupa suhu 36,6oC dimana sudah termasuk
kategori normal yakni 36 - 37,5oC; nadi 101x/min sudah termasuk kategori
normal yakni, 80 - 100x/min; RR 20x/min sudah termasuk kategori normal
yakni, 18 - 20x/min; tekanan darah 100/60 mmHg sudah termasuk kategori
normal yakni, <140/90; SpO2 99% sudah termasuk kategori normal yakni,
>95%. Dari hasil data klinik tersebut dinyatakan bahwa pasien secara
keseluruhan normal dalam pemeriksaan. Pada pemeriksaan laboratorium
terdapat hasil yang tidak termasuk kategori normal yakni:
• PLT
Berdasarkan data PLT/trombosit pada pasien diketahui pasien
memiliki nilai 90 x 103/µL dimana kisaran normal pada PLT yaitu 150
- 450 x 103/µL, hal ini menandakan nilai PLT pasien rendah dimana
akan mengakibatkan pendarahan fatal pada pasien (Yu-hua et al.,
2017).
• SGOT dan SGPT
Berdasarkan data SGOT dan SGPT pada pasien diketahui bahwa
pasien memiliki nilai 140 u/L dan 64 u/L, sedangkan nilai normal dari
SGOT dan SGPT yakni <40 u/L dan <41 u/L, sehingga dapat
dikatakan bahwa kadar nilai SGOT dan SGPT pada pasien
meningkat. Kadar SGOT/SGPT yang meningkat disebabkan oleh
kerusakan hepatosit. Penyebab utama peningkatan kadar
SGOT/SGPT adalah fatty liver, hepatitis virus, medication induced
hepatitis¸ hepatits autoimun dan penyakit hepar alkoholik (Aleya dan
Khairun, 2015).
• Natrium (Na)
Berdasarkan data Natrium (Na) pada pasien diketahui memiliki nilai
yang rendah yaitu 132 mmol/L dimana batas nilai normal Na yaitu
136 - 145 mmol/L. Natrium memegang peranan penting dalam
homeostasis tubuh untuk mengatur pelepasan hormon vasopressin
(AVP). Sehingga dapat disimpulkan semakin rendah kadar natrium
pada darah maka akan semakin besar juga terjadi mortalitas pada
pasien (Vitasari dkk., 2018). Dalam kasus ini dilihat pasien
mengalami gejala hiponatremia, hal ini dikarenakan pasien mengeluh
mual, muntah kondisi tersebut menyebabkan tubuh kehilangan
elektrolit, seperti natrium dan juga meningkatkan kadar ADH.
• Hemoglobin
Berdasarkan data Hemoglobin diketahui bahwa nilai dari hemoglobin
pada pasien rendah yaitu 11,8 g/dL, sedangkan hemoglobin dikatakan
normal jika masuk dalam kisaran 13,2 - 17,3 g/dL. Hal ini
menandakan terjadinya penurunan hemoglobin pada pasien.
Penurunan kadar hemoglobin dalam darah disebut anemia. Anemia
disebabkan oleh banyak faktor diantaranya perdarahan, nutrisi
rendah, kadar zat besi, asam folat, vitamin B12 yang rendah (Tutik
dan Ningsih, 2019).
• MCV (Mean Corpuscular Volume)
Berdasarkan data MCV diketahui nilai pasien dibawah rentang yakni
sebesar 71,1 fl, dimana nilai normal MCV yaitu 80,0 - 100,0 fl.
Semakin kecil ukuran sel darah merah biasanya kandungan
hemoglobin juga sedikit.
• MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin)
Berdasarkan data MCH diketahui bahwa nilai pasien berada dibawah
rentang yakni 24,9 pg dimana nilai normal dari MCH yaitu 26,0 - 34,0
pg. MCH merupakan perhitungan jumlah hemoglobin rata - rata pada
satu sel darah merah, dan didapatkan dari pembagian antara
hemoglobin dengan RBC. MCH yang abnormal menggambarkan
penurunan (hipokromik), biasanya terjadi pada defisiensi besi atau
thalasemia. Anemia jenis mikrositik hipokromik adalah jenis anemia
yang terjadi pada pasien tuberkulosis paru. Anemia penyakit kronik
sering bersamaan dengan anemia defisiensi besi dan keduanya
memberikan gambaran penurunan besi (Tirta dan Syarif, 2019).
• MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration)
Berdasarkan data MCHC diketahui bahwa nilai berada diatas rentang
yakni 35,0 g/dL, sedangkan nilai normal dari MCHC yakni 28,7 - 33,1
g/dL. Nilai MCHC meningkat dapat disebabkan oleh penyakit
aglutinin dingin (CAD) , suatu kelainan autoimun langka di mana
sistem kekebalan tubuh menyerang sel darah merah.
- Identifikasi masalah obat:

• Ketorolac IV
Ketorolac merupakan salah satu obat golongan NSAID yang
digunakan sebagai obat pilihan dalam penatalaksanaan nyeri dan
peradangan. Obat ini berguna salah satunya untuk memberikan efek
analgesik pada pasca operasi ortopedi dengan intensitas nyeri sedang
dan nyeri akut, baik digunakan sebagai obat tunggal maupun obat
kombinasi. Ketorolac bekerja dengan menginhibisi perifer dari
sintesis prostaglandin melalui penghambatan COX-1 dan COX-2, dan
dianggap memiliki efek analgesik lebih daripada efek antiinflamasi.
Penggunaan ketorolac dianjurkan berdurasi maksimal dua hari dalam
dosis 10 hingga 30 mg per hari, karena semakin lama penggunaannya
maka risiko potensial efek samping oleh ketorolac meningkat, terlebih
jika digunakan dalam dosis tinggi pada pasien yang rentan terhadap
obat-obatan. Ketorolac IV untuk dewasa dapat diberikan 10-30 mg
setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan mg dengan dosis maksimal perhari
90 mg. Pada kasus tidak disebutkan berapa dosis ketorolac IV yang
diberikan. Oleh sebab itu, dikarenakan kadar kreatinin pasien normal
(indikasi fungsi ginjal masih berjalan normal) serta berat badan pasien
di atas 50 kg, maka pemberian ketorolac dapat diberikan sebanyak 20
mg setiap 6 jam (MIMS, 2023). Pada kasus pengobatan ketorolac
sudah tepat waktu pengunaannya selama 2 hari dan tepat indikasi.
• Omeprazole IV
Omeprazole diindikasikan untuk pengobatan jangka pendek penyakit
tukak lambung pada orang dewasa, dimana sebagian besar pasien
sembuh dalam waktu empat minggu (Bium, 1989). Omeprazole IV
digunakan untuk mengatasi mual dan muntah dengan frekuensi tinggi
dengan segera (Mahdayana dkk., 2020) sehingga ketika mual muntah
telah teratasi maka penggunaan omeprazole IV dihentikan dan telah
digantikan dengan pengobatan oral berupa sucralfat 3 x 15 mL.
Omeprazole IV untuk dewasa dapat diberikan 40 mg sekali sehari
melalui infus IV selama 20-30 menit atau injeksi IV lambat selama
2,5 menit. Pada kasus tidak disebutkan berapa dosis omeprazole IV
yang diberikan (MIMS, 2023).
• Amitriptilin
Amitriptilin dapat digunakan untuk manajemen nyeri kronis atau
penggunaan off label dengan dosis awal secara oral yaitu 25 mg
sebelum tidur, dapat meningkat sesuai toleransi hingga 100 mg/hari.
Menurut Lacy et al (2008) menyatakan bahwa pasien mengalami
nyeri akut dengan penilaian nyeri 7 maka pengobatan tersebut kurang
tepat diberikan untuk pada pasien.
• Parasetamol
Paracetamol atau acetaminophen (N-acetyl-p-aminophenol)
merupakan derivat sintesis nonopioid p-aminofenol. Parasetamol
digunakan secara luas sebagai antipiretik dan analgesik. Dosis
maksimum yang direkomendasikan untuk parasetamol adalah 4
gram/hari (Hidayati dan Anung, 2020). Efek samping dari
paracetamol ini akan lebih parah apabila dikombinasikan dengan
penggunaan ketorolac yakni meningkatkan risiko nefropati analgesik,
nekrosis kapiler ginjal, penyakit ginjal stadium akhir, dan kanker
ginjal atau kantung kemih (Fendrick et al., 2008). Sehingga pemberian
parasetamol kurang tepat.
• Eperison
Eperisone merupakan muscle relaxant yang bekerja secara sentral
dalam menurunkan sensitivitas spindle otot melalui penghambatan
pelepasan neuron motorik. Eperisone juga menunjukkan vasodilatasi
melalui antagonisme Ca influx (MIMS, 2023). Kombinasi eperisone
dengan NSAID seperti natrium diklofenak sering digunakan karena
menimbulkan efek yang baik untuk mengatasi nyeri muskuloskeletal
(Pinzon and Sanyasi, 2018).
• Curcuma
Curcuma sebagai suplemen untuk mengurangi terjadinya
inflamasi/peradangan pada sendi serta dapat digunakan sebagai
hepatoprotektor atau memelihara kesehatan hati karena kadar SGOT
dan SGPT pasien berada pada nilai normal . Curcuma juga dapat
digunakan untuk meningkatkan nafsu makan pasien sehingga
penggunaannya sudah tepat (Raj et al., 2020).
• Sucralfat
Pemberian sukralfat pada pasien yang mengalami osteoartritis, artritis
reumatoid, dan masalah nyeri jangka panjang lainnya yang
diharapkan akan menggunakan NSAID selama lebih dari tiga bulan
telah terbukti dapat mengurangi risiko terjadinya kerusakan
permukaan lambung, tetapi tidak memiliki dampak yang signifikan
pada gejala pasien atau pembentukan tukak lambung (Anand et al.,
2017). Dosis sucralfat untuk orang dewasa adalah 4x1 gr (MIMS,
2023). Dalam kasus Tn. B, pemberian sucralfat dianggap tepat karena
Tn. B mengonsumsi obat golongan NSAID, dimana untuk mencegah
terjadinya efek samping gastrointestinal. Untuk dosis pemakaian
perlu ditingkatkan yaitu menjadi 4x10 mL.
• Natrium Dikolefenak
Natrium diklofenak merupakan obat golongan Anti Inflamasi Non-
Steroid (OAINS) selektif atau inhibitor selektif siklooksigenase2
(COX-2). NSAID memiliki sifat analgesik dan anti-inflamasi
(Katzung et al., 2012). Dosis natrium diklofenak yang diberikan
kepada pasien yakni 2 x 50 mg sudah tepat. Menurut Schwinghammer
et al. (2021) dengan dosis 50 mg 2 -3 kali sehari. Dosis pada kasus
natrium diklofenak diberikan 2 kali sehari 50mg. Dosis pada kasus
sudah tepat.
- Penyelesaian masalah:
a. Pasien mengalami mual muntah yang belum dapat dipastikan
diakibatkan oleh penyakit GERD maka dari itu, penggunaan sukralfat
masih belum tepat. Jika mual dan muntah masih terjadi dapat
diberikan antiemetic
b. Pasien mengalami nyeri yang sangat berat dan mendadak pada area
sendi kiri sejak 6 hari yang lalu sehingga parasetamol dapat
dihentikan.
4. Planning (P):
- Rekomendasi terapi non-farmakologi:
Terapi non-farmakologi diperlukan sebagai pendamping terapi
farmakologi meningkatkan kemanjuran obat dan mengurangi
kemungkinan efek samping. Penatalaksanaan non farmakologi dapat
dilakukan melalui modifikasi gaya hidup, olahraga secara teratur,
pemberian nutrisi yang seimbang.
a. Aktivitas Fisik dan Latihan Fisik
Aktivitas fisik dan latihan fisik bertujuan untuk mempertahankan dan
meningkatkan cakupan gerak sendi. Aktivitas serta latihan fisik ini
sangat disarankan untuk mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi
sendi, misalnya latihan aerobik untuk dilakukan secara rutin 30 - 60
menit/hari selama 3-5 hari minggu. Aktivitas yang dapat dilakukan
seperti jalan pelan, berenang dan bersepeda santai.
b. Pemberian Nutrisi yang Seimbang
Sama seperti anjuran makan untuk masyarakat umum, anjuran makan
bagi penderita Polyarthralgia adalah makanan seimbang yang
menyesuaikan dengan zat gizi dan kebutuhan kalori dari masing -
masing individu. Penderita Polyarthralgia harus mengetahui betapa
pentingnya keteraturan terhadap jenis makanan, jadwal makan, dan
jumlah kalori yang terkandung dalam makanannya.
c. Terapi Okupasi
Terapi okupasi meliputi proteksi sendi dan konservasi energi,
menggunakan splint dan alat bantu gerak sendi untuk aktivitas fisik
sehari-hari (IRA, 2020).
d. Fisioterapi
Fisioterapi pada pasien poliartralgia dapat mengurangi pain score,
penguatan otot, serta peningkatan rentang gerak.
- Rekomendasi terapi farmakologi:
• Terapi untuk nyeri
• Pemberian Ketocolac
Pemberian ketorolac pada pasien dewasa dengan fungsi ginjal
masih berjalan normal serta berat badan pasien di atas 50 kg, maka
pemberian ketorolac dapat diberikan sebanyak 20 mg setiap 6 jam
(MIMS, 2023). Penggunaan ketorolac untuk jangka pendek yaitu
tidak lebih dari 5 hari, sehingga setelah 5 hari dilakukan
pemantauan nyeri sendi pasien kembali apakah derajat nyeri masih
=7 atau tidak.
• Penghentian Parasetamol
Pemberian parasetamol dapat dihentikan karena merupakan obat
golongan analgesik untuk nyeri ringan-sedang, sedangkan pasien
mengalami nyeri akut (tidak optimal). Selain itu, pasien tidak
mengalami demam (Suhu tubuh: 36,6oC) sehingga tidak
memerlukan parasetamol sebagai antipiretik.
• Pemberian Curcuma
Curcuma sebagai suplemen untuk mengurangi terjadinya
inflamasi/peradangan pada sendi serta dapat digunakan sebagai
hepatoprotektor atau memelihara kesehatan hati karena kadar
SGOT dan SGPT pasien berada pada nilai normal
• Terapi mual muntah
Pasien mengeluhkan adanya mual dan muntah sebelumnya. Untuk
mengatasi hal tersebut, maka dapat disarankan untuk menggunakan
ondansetron tablet yang berfungsi sebagai antiemetik.
• Terapi untuk mengatasi anemia
Berdasarkan hasil data laboratorium, pasien teridentifikasi mengalami
anemia yang disebabkan defisiensi zat besi. Hal ini ditunjukkan
dengan nilai Hb (11,8 mg/dL), MCV (71,1), MCH (24,9) yang rendah
dan MCHC (35,0) yang tinggi. Oleh sebab itu, pasien disarankan
mendapat terapi zat besi oral seperti Sangobion. Sangobion dapat
dikonsumsi satu hari sebanyak 1 kapsul (MIMS, 2023).
- Rencana konseling, informasi, dan edukasi:
Pasien diberikan edukasi terkait penggunaan obat, dimana dalam
resep ini pasien diberikan ketorolac, omeprazole, amitriptilin, eperisone,
curcuma, sucralfat. Pasien juga diberikan informasi terkait efek samping
obat dan diberikan mengenai informasi obat. Hal ini juga membantu
mencegah faktor risiko yang potensial, seperti obesitas dan gaya hidup
tidak sehat.
- Rencana monitoring efek terapi & efek samping:
● Tujuan monitoring
Tujuan dari monitoring pada terapi ini adalah dengan melihat apakah
terapi tersebut menghasilkan efek yang baik atau tidak. Jika terapi
mengalami keberhasilan maka terapi obat dapat dilanjutkan. Namun,
apabila terapi obat tidak menghasilkan efek, maka terapi obat dapat
diganti dengan obat lainnya.
● Parameter monitoring
• Monitoring Skala Nyeri
Penilaian nyeri merupakan hal yang penting untuk mengetahui
intensitas dan menentukan terapi yang efektif. Intensitas nyeri
sebaiknya harus dinilai sedini mungkin dan sangat diperlukan
komunikasi yang baik dengan pasien. Penilaian intensitas nyeri
dapat dapat diukur menggunakan berbagai cara, salah satunya
Visual Analogue Scale (VAS). Skala ini mudah digunakan bagi
pemeriksa, efisien dan lebih mudah dipahami oleh pasien. Untuk
memahami penilaian nyeri perlu dipertimbangkan beberapa hal
yang mempengaruhi seperti usia, jenis kelamin dan tingkat
pendidikan. Keterbatasan penilaian yang terjadi pada populasi
pasien lanjut usia adalah karena menurunnya kemampuan
komunikasi dan kognitif.
• Monitoring Penggunaan Obat
Pasien diedukasi agar patuh mengkonsumsi obat, sebab h pasien
diterapi menggunakan banyak obat golongan keras terutama ada
psikotropika, sehingga perlu dilakukan pemantauan penggunaan
obat, hal ini saling berhubungan sehingga diharapkan pasien
mengetahui aturan waktu penggunaan obat.
• Monitoring Efek Samping Obat
Obat yang diresepkan memiliki efek samping yang berbeda setiap
jenisnya. Dengan demikian, pasien perlu menjalani terapi pada
evaluasi efek samping yang dialami, untuk mencegah terjadinya
efek samping yang serius agar dapat dengan cepat memberikan
obat alternatif lain serta perlunya kembali konsultasi terhadap
dokter terkait efek samping obat.
- Waktu, frekuensi monitoring
Monitoring disarankan dilakukan setiap hari. Monitoring dilakukan
bersamaan dengan kunjungan pasien dimana interval kunjungan tersebut
juga disesuaikan dengan risiko kekambuhan dan kebutuhan pasien. Pasien
harus selalu ditanya mengenai kepatuhan dan toleransi terhadap terapi
yang ditentukan. Pasien yang tidak responsif atau tidak toleran terhadap
suatu obat diharuskan untuk dialihkan ke agen alternatif lain daripada
diberikan obat tambahan.
5. Pencatatan dan Pelaporan:
Dokumen Pencatatan:
a. Catatan riwayat medis
• Pasien mengeluh mual, muntah, nyeri pada sendi kiri sejak sejak 6
hari yang lalu, keluhan nyeri sendi dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan
panas. Nyeri dirasakan berat dan mendadak. Sebelumnya pasien
mengeluh demam sebelum nyeri sendi.
• Pasien memiliki riwayat penyakit terdahulu yaitu nyeri sendi.
b. Catatan pemeriksaan fisik
• Penilaian nyeri pasien termasuk skala 7 nyeri akut
• Data klinik pasien
No. Data Klinik Nilai Normal Tanggal
18/10/23
1. Suhu 36 – 37,5oC 36,6℃
2. Nadi 80-100x/m 101x/min
3. RR 18-20 x/m 20x/min
4. Tekanan darah <140/90 100/60 mmHg
5. SpO2 > 95% 99%
• Data laboratorium
No. Data Klinik Rujukan Tanggal
19/10/23
1. PLT 150 - 450 90
2. BUN 6 - 20 17
3. Kreatinin 0,67 - 1,17 0,69
4. SGOT <40 140
5. SPGT <41 64
6. Natrium (Na) 136 – 145 mmol/l 132
7. Kalium (K) 3,5 – 5,1 mmol/l 3,9
8. WBC 3,80 – 10,60 3,82
9. Hemoglobin 13,2 – 17,3 11,8
10. Lekosit 0-5 0-1
11. MCV 80,0 – 100,0 71,1
12. MCH 26,0 – 34,0 24,9
13. MCHC 29,7 – 33,1 35,0

c. Riwayat terapi dan obat-obatan:


• Pasien memiliki riwayat alergi obat ampicillin
• Pasien mengkonsumsi obat herbal sendifit
• Obat-obat yang diberikan untuk terapi pasien :

No. Nama Obat Waktu Pemberian


17/10/23 18/10/23
1. Ketorolac IV 13.00 √ 12.00 √
24.00
2. Omeprazole IV 18.00 √
3. Amitriptilin 2 x 18.00 √ 06.00 √
12,5 mg
4. Paracetamol 3 x 13.00 √ 06.00 √
1000 mg 21.00 13.00
5. Eperison 2 x 50 mg 18.00 √ 06.00 √
6. Curcuma 2 x 1 tab 18.00 √ 06.00 √
7. Sucralfat 3 x 15 13.00 √ 06.00 √
mL 18.00
8. Natrium diklofenak 12.00 √
2 x 50 mg 18.00
d. Catatan Konsultasi dengan Keluarga
Catatan mengenai pembicaraan dengan keluarga Tn. B termasuk keluhan
dan efek samping serta kepatuhan dalam mengkonsumsi obat.
e. Catatan Kemajuan
Catatan mengenai perkembangan kondisi pasien setelah pemberian terapi
atau pengobatan.
f. Catatan Rencana Tindak Lanjut
Rencana untuk kunjungan berikutnya, pengawasan, atau pemantauan
pasien.
Dokumen Pelaporan:
a. Laporan Kejadian (Jika Terjadi Kejadian Penting)
Laporan jika terjadi kejadian penting, seperti reaksi obat yang tidak
diharapkan atau perubahan drastic dalam kondisi pasien
b. Dokumen Pemantauan Jangka Panjang
Jika Tn. B memerlukan pemantauan jangka panjang, catatan, dan laporan
berkala tentang kondisinya.
DAFTAR PUSTAKA

Aleya dan Khairun, N. B. 2014. Korelasi Pemeriksaan Laboratorium SGOT/SGPT dengan


Kadar Bilirubin pada Pasien Hepatitis C di Ruang Penyakit Dalam RSUD Dr. H.
Abdul Moeloek Provinsi Lampung pada Bulan Januari - Desember 2014. Majority.
4(9): 135 – 139.
Bium AL. 1989. Omeprazole: implications for therapy of peptic ulcer and reflux oesophagitis.
Digestion. 44(1): 87-91.
Buonomo, A. R., Scotto, R., Nappa, S., Arcopinto, M., Salzano, A., Marra, A. M., et al. 2019.
The role of curcumin in liver diseases. Archives of Medical Science. 15(6): 1608-
1620.
DiPiro, J. T., Yee, G. C., Posey, L. M., Haines, S. T., Nolin, T., & Ellingrod, V. 2020.
Pharmacotherapy a Pathophysiologic Approach. In Dipiro (Vol. 11). McGraw-
Hill Education.
Drugbank. 2023. Drug Interaction Checker. Tersedia pada [Link]
interaction-checker#results. Diakses pada 1 November 2023.
Hall, P., Cash, J. 20212. What is the real function of the liver 'function' tests?. Ulster Med
Jorunal. 81(1): 30-6.
Hoorn, E. J., & Zietse, R. 2017. Diagnosis and Treatment of Hyponatremia : Compilation of
the Guidelines. American Society of Nephrology. 28: 1340–1349.
IAI. 2019. ISO: Informasi Spesialite Obat Indonesia Voluume 52. Jakarta: Ikatan Apoteker
Indonesia.
IRA (Indonesian Rheumatology Association). 2020. Diagnosis dan Penatalaksanaan
Osteoartritis. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.
Lacy CF, Amstrong LL, Goldman MP, Lance LL. 2008. Drug Information Handbook. 17th.
Ed. Ohio. Lexicomp.
MIMS. 2023. Eperisone. Diakses melalui halaman
internet:[Link]
Diunduh pada tanggal 1 November 2023.
MIMS. 2023. Ketorolac. Tersedia pada.
[Link] Diakses
pada 1 November 2023.
MIMS. 2023. Omeprazole. Diakses melalui halaman internet:
[Link] Diundu
h pada tanggal 1 November 2023.
Pinzon, R.T. and Sanyasi, R.D.L.R. 2018. Systematic Review of Eperison for Low Back Pain.
Asian Journal of Pharmacy and Pharmacology. 4(2): 140-146.
Raj, J.P., Venkatachalam, S., Racha, P., Bhaskaran, S. and Amaravati, R.S. 2020. Effect of
Turmacin Supplementation On Joint Discomfort And Functional Outcome Among
Healthy Participants – A Randomized Placebo-Controlled Trial. Elsevier. 53(1): 1-
8.
Singh, S., and Mehra, S. 2010. Approach to Polyarthritis. Indian J Pediatr. 77 (1):1005–1010.
Suega, K., Bakta, I. M., Adnyana, L., & Darmayuda, T. 2007. Perbandingan Beberapa Metode
Diagnosis Anemia Defisiensi Besi: Usaha Mencari Cara Diagnosis Yang Tepat
Untuk Penggunaan Klinik. Jurnal Penyakit Dalam. 8(1): 1–12.
Tirta, dan Syarif, S. 2019. Perbandingan Penilaian Morfologi Eritrosit Menggunakan Nilai
Indeks Dengan Sediaan Apusan Darah Tepi Pada Penderita Tb Paru Di Puskesmas
Perumnas. Jurnal Medilab Mandala Waluya Kendari. 3(1):52-58.
Tutik, dan Ningsih, S. 2019. Pemeriksaan Kesehatan Hemoglobin Di Posyandu Lanjut Usia
(Lansia) Pekon Tulung Agung Puskesmas Gadingrejo Pringsewu. Jurnal
Pengabdian Farmasi Malahayati. 2(1): 22 - 26.
Vitasari, V., Uddin, I., dan Sofia, S. N. 2018. Hiponatremia Sebagai Prediktor Mortalitas Gagal
Jantung Studi Kasus Di Rsup Dr. Kariadi Semarang. JKD: Jurnal Kedokteran
Diponegoro. 7(2): 1585 - 1595.
Witenko, C., Moorman-li, R., Motycka, C., Duane, K., Hincapie-castillo, J., Leonard, P., &
Valaer, C. 2014. Considerations for the Appropriate Use of Skeletal Muscle
Relaxants for the Management Of Acute Low Back Pain Considerations for the
Use of Skeletal Muscle Relaxants for Acute Low Back Pain. Pharmacy and
Therapeutics. 39(6): 427–435.
Yu-hua et al., 2017. Low platelet count is potentially the most important contributor to severe
bleeding in patients newly diagnosed with acute promyelocytic leukemia. Onco
Targets Ther. 10: 4917–4924.
Zheng, L., Yu, G., Hao, W. 2021. The efficacy and safety of Curcuma longa extract and
curcumin supplements on osteoarthritis: a systematic review and meta-analysis.
Biosci Rep. 41(6): 1-20.

Anda mungkin juga menyukai