Bab 1: Konsep Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran adalah proses sistematis untuk menentukan sejauh
mana proses pembelajaran telah mencapai tujuan yang ditetapkan. Evaluasi tidak
hanya menilai hasil akhir, tetapi juga mencakup berbagai komponen yang terlibat
dalam proses pembelajaran, seperti metode pengajaran, keterlibatan siswa, serta
sarana dan prasarana yang digunakan. Kata “evaluasi” berasal dari bahasa Inggris
evaluation yang berarti penilaian, dan dari bahasa Arab at-taqdir yang berarti
taksiran. Dalam konteks pendidikan, evaluasi adalah kegiatan yang dirancang untuk
mendapatkan informasi yang dapat digunakan dalam mengambil keputusan terkait
kegiatan pembelajaran.
1. Pengertian Menurut Para Ahli
Beberapa ahli memberikan definisi yang memperkaya pemahaman kita terhadap
evaluasi pembelajaran. Cross dalam Amri (2013) menyatakan bahwa evaluasi
adalah proses untuk menentukan apakah suatu tujuan dapat tercapai atau tidak.
Stufflebeam dalam Putra (2013) menambahkan bahwa evaluasi adalah proses
pengumpulan dan penyajian informasi untuk merumuskan keputusan. Bloom
(dalam Widoyoko, 2016) mendefinisikan evaluasi pembelajaran sebagai
pengumpulan informasi sistematis untuk menentukan perubahan perilaku dan
kemampuan siswa. Arikunto (2015) menegaskan bahwa evaluasi merupakan
kegiatan untuk mengukur keberhasilan program pendidikan.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa evaluasi pembelajaran
adalah proses sistematis, berkelanjutan, dan menyeluruh yang meliputi
perencanaan, pengumpulan, analisis, serta penyajian informasi yang bertujuan
untuk mengetahui efektivitas kegiatan pembelajaran serta memberikan dasar untuk
pengambilan keputusan.
2. Tujuan Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi dilakukan untuk berbagai tujuan, antara lain:
1. Mengukur Capaian Siswa
Evaluasi membantu guru mengetahui sejauh mana siswa telah mencapai
tujuan pembelajaran. Ini penting untuk memberikan umpan balik baik
kepada siswa maupun guru.
2. Menilai Keberhasilan Program Pembelajaran.
Selain menilai siswa, evaluasi juga digunakan untuk mengetahui sejauh
mana strategi, metode, dan media pembelajaran yang digunakan guru efektif
dalam membantu siswa mencapai kompetensi yang diinginkan.
3. Pengambilan Keputusan
Hasil evaluasi digunakan untuk merancang tindak lanjut dalam proses
pembelajaran. Misalnya, siswa yang belum mencapai kompetensi minimal
dapat diberikan remedial, sedangkan mereka yang sudah bisa mendapatkan
pengayaan.
4. Akuntabilitas
Sekolah sebagai lembaga pendidikan harus memberikan
pertanggungjawaban kepada pemangku kepentingan seperti orang tua
siswa, dinas pendidikan, atau masyarakat. Evaluasi berfungsi sebagai bukti
pencapaian kinerja lembaga pendidikan.
3. Manfaat Evaluasi Pembelajaran
Manfaat evaluasi pembelajaran tidak hanya dirasakan oleh guru dan siswa, tetapi
juga oleh sekolah dan pengambil kebijakan pendidikan. Secara khusus:
• Bagi Siswa: Membantu siswa memahami tingkat penguasaan materi,
mengetahui kelebihan dan kekurangan, serta memotivasi mereka untuk
belajar lebih baik.
• Bagi Guru: Memberi masukan mengenai efektivitas metode mengajar dan
tingkat keberhasilan siswa, serta sebagai dasar refleksi dan perbaikan
pengajaran.
• Bagi Sekolah: Menjadi indikator kualitas penyelenggaraan pembelajaran
dan dasar penyusunan program perbaikan atau pengembangan sekolah.
4. Prinsip-Prinsip Evaluasi Pembelajaran
Menurut Permendikbud No. 23 Tahun 2016, evaluasi pembelajaran harus mengikuti
prinsip-prinsip berikut:
a. Sahih: Mengukur aspek yang seharusnya diukur
b. Objektif: Bebas dari pengaruh subjektivitas
c. Adil: Tidak diskriminatif
d. Terpadu: Menjadi bagian integral dari pembelajaran
e. Terbuka: Siswa tahu kriteria penilaian
f. Menyeluruh dan Berkesinambungan: Mencakup semua aspek dan dilakukan
secara terus menerus
g. Sistematis: Mengikuti langkah-langkah yang runtut dan terstruktur
h. Beracuan Kriteria: Dibandingkan dengan standar pencapaian
i. Akuntabel: Dapat dipertanggungjawabkan dari segi data dan prosedur
5. Fungsi Evaluasi Pembelajaran
Berdasarkan Arifin (2017), fungsi evaluasi pembelajaran dapat dikelompokkan
menjadi:
• Fungsi Sumatif: Untuk mengetahui keberhasilan akhir pembelajaran
seperti penentuan kelulusan, kenaikan kelas.
• Fungsi Formatif: Memberikan umpan balik guna perbaikan proses belajar
dan pembelajaran.
• Fungsi Diagnostik: Mengidentifikasi kelemahan siswa dan faktor
penyebabnya.
• Fungsi Penempatan: Untuk mengetahui posisi siswa dalam kelompok
belajar atau dalam pemilihan jurusan.
6. Pendekatan dalam Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran dapat dilakukan dengan dua pendekatan:
1. Pendekatan Tradisional
Hanya menilai aspek kognitif siswa dan mengabaikan aspek afektif dan
psikomotor. Biasanya hanya siswa yang dievaluasi, sedangkan guru,
metode, dan lingkungan pembelajaran tidak.
2. Pendekatan Sistemik
Menilai semua komponen dalam sistem pembelajaran seperti guru,
metode, media, lingkungan, dan siswa. Pendekatan ini lebih holistik dan
sejalan dengan sistem pendidikan modern.
Pendekatan sistemik ini yang kini lebih banyak diterapkan dalam
sistem pendidikan di Indonesia, terutama karena lebih akurat dalam
mengidentifikasi masalah dan merancang solusi pembelajaran yang lebih
efektif.
Bab 2: Pengukuran, Penilaian, Tes, dan Evaluasi
Bab ini menguraikan empat istilah penting dalam evaluasi pendidikan yang
sering disalahartikan: pengukuran (measurement), penilaian (assessment), tes (test),
dan evaluasi (evaluation). Keempat istilah ini memiliki keterkaitan tetapi berbeda
dalam konsep, tujuan, serta aplikasi.
1. Pengukuran
Pengukuran adalah proses memberikan angka pada karakteristik tertentu
berdasarkan aturan dan prosedur yang telah ditentukan. Sifatnya kuantitatif, karena
hasilnya berbentuk angka yang mencerminkan status atau kemampuan siswa
terhadap aspek tertentu, misalnya nilai 75 untuk tes matematika.
Menurut Robert L. Ebel dan David A. Frisbie (2010), pengukuran adalah
pemberian angka untuk menunjukkan perbedaan antara individu berdasarkan
karakteristik yang diukur. Pengukuran digunakan dalam berbagai konteks seperti
seleksi, prediksi, penempatan, dan perbaikan kurikulum.
2. Penilaian
Penilaian adalah proses pengambilan keputusan terhadap informasi yang
dikumpulkan dari hasil pengukuran. Penilaian bersifat kualitatif, karena
melibatkan interpretasi terhadap hasil pengukuran untuk membuat kesimpulan
tertentu.
Menurut Tery Overton, penilaian melibatkan observasi, wawancara, tes, dan
monitoring perilaku. Tujuan utamanya adalah mengawasi kemajuan dan mengambil
keputusan pendidikan. Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga
proses, motivasi, keterampilan, dan sikap siswa.
Penilaian dapat dibedakan menjadi beberapa tujuan:
• Keeping track: Memantau proses belajar
• Checking-up: Mengetahui pencapaian
• Finding-out: Mengungkap kelemahan
• Summing-up: Menyimpulkan hasil
3. Tes
Tes adalah instrumen pengukuran yang berupa rangkaian soal atau tugas yang
diberikan kepada peserta didik untuk mengetahui kemampuan mereka. Setiap soal
memiliki jawaban benar dan biasanya dilengkapi kunci jawaban.
Menurut Ebel & Frisbie, tes adalah alat ukur yang terdiri atas seperangkat
pertanyaan dengan jawaban yang dapat dinilai benar atau salah. Tes dapat berbentuk
tes objektif (pilihan ganda, isian, benar-salah) maupun tes subjektif (uraian).
Etika dalam pelaksanaan tes meliputi:
• Menjaga kerahasiaan hasil
• Menjamin keamanan instrumen
• Menafsirkan hasil secara bertanggung jawab
• Mengikuti standar prosedur pelaksanaan
4. Evaluasi
Evaluasi merupakan proses menyeluruh yang mencakup pengukuran, penilaian, dan
pengambilan keputusan atas hasil belajar. Evaluasi bertujuan menilai efektivitas dan
efisiensi pembelajaran serta merumuskan perbaikan.
Menurut Guba (1995), evaluasi adalah proses mendeskripsikan objek dan menilai
nilai/kualitasnya. Evaluasi sering digunakan untuk:
• Menentukan kemajuan dan keberhasilan siswa
• Menilai efektivitas kurikulum dan strategi pembelajaran
• Memberikan layanan bimbingan dan konseling
• Mengembangkan kurikulum baru yang lebih sesuai
Prinsip evaluasi:
• Valid (mengukur apa yang seharusnya diukur)
• Mendidik (memberi umpan balik yang konstruktif)
• Objektif dan adil
• Terbuka dan sistematis
• Menyeluruh (mencakup afektif, kognitif, psikomotor)
• Bermakna dan dapat dipertanggungjawabkan
Dengan memahami perbedaan dan hubungan antara empat istilah ini, pendidik
dapat merancang sistem evaluasi yang adil, efektif, dan berorientasi pada
peningkatan kualitas pembelajaran.
Bab 3: Penilaian Afektif
Bab ini membahas penilaian pada ranah afektif, yaitu aspek sikap, emosi, nilai, dan
motivasi siswa. Penilaian afektif sangat penting dalam pendidikan karakter, tetapi
sering diabaikan karena sulit diukur secara langsung.
1. Pentingnya Penilaian Afektif
Kemampuan afektif berpengaruh langsung terhadap proses dan hasil belajar.
Seorang siswa dengan motivasi tinggi, rasa percaya diri, dan sikap positif terhadap
belajar akan lebih mudah mencapai keberhasilan.
Mehrens & Lemans (1991) menegaskan bahwa penilaian afektif memengaruhi
minat belajar, sikap terhadap pendidikan, dan persepsi terhadap guru. Sayangnya,
evaluasi pendidikan di Indonesia cenderung menitikberatkan pada kognitif.
2. Karakteristik Domain Afektif
Afektif berkaitan dengan:
• Emosi (senang, takut, cemas)
• Sikap (positif atau negatif terhadap pelajaran)
• Nilai (kejujuran, tanggung jawab)
• Motivasi (dorongan dari dalam diri)
• Estetika dan spiritualitas
Menurut Krathwohl dkk, domain afektif memiliki lima level:
a. Receiving: Kesediaan memperhatikan
b. Responding: Partisipasi aktif
c. Valuing: Menunjukkan nilai yang dianut
d. Organization: Mengintegrasikan nilai dalam kehidupan
e. Characterization: Nilai menjadi bagian dari kepribadian
3. Dimensi Afektif (Martin & Reigeluth)
Terdapat enam dimensi:
a. Emosional
b. Moral
c. Sosial
d. Spiritual
e. Estetika
f. Motivasi
Setiap dimensi memiliki komponen pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
dapat dikembangkan dalam pembelajaran.
4. Teknik Penilaian Afektif
Karena sifatnya tidak langsung, penilaian afektif dilakukan dengan:
• Observasi perilaku
• Laporan diri (self-assessment)
• Angket atau skala sikap
• Portofolio sikap
• Jurnal reflektif
5. Pengembangan Instrumen Afektif
Instrumen harus memiliki validitas isi dan konstruk. Proses pengembangannya
meliputi:
a. Menentukan aspek yang dinilai (misalnya: kejujuran)
b. Membuat indikator perilaku
c. Menyusun pernyataan sikap
d. Menentukan skala (Likert, Guttman, semantic differential)
e. Uji validitas dan reliabilitas
Contoh pernyataan skala sikap:
• “Saya merasa matematika adalah pelajaran yang menarik.”
• “Saya menghargai pendapat teman saya dalam diskusi.”
Penilaian afektif bukan sekadar formalitas, tetapi alat penting dalam membangun
manusia yang berkarakter.
Bab 4: Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian Berbasis Kelas (PBK) adalah proses pengumpulan dan penggunaan
informasi oleh guru dan siswa untuk membuat keputusan tentang pencapaian
kompetensi dasar. PBK menekankan evaluasi berkelanjutan yang dilakukan selama
proses pembelajaran, bukan hanya pada akhir semester atau tahun ajaran.
1. Pengertian dan Tujuan PBK
Menurut Hidyati (2018), PBK merupakan sarana mengukur hasil belajar
berdasarkan standar kompetensi dan indikator pencapaian. PBK tidak hanya
dilaksanakan dalam suasana resmi (seperti ulangan), tetapi juga dalam kegiatan
informal seperti observasi atau diskusi kelas.
2. Tujuannya:
• Mengetahui capaian siswa secara individual dan klasikal
• Memberikan umpan balik yang membangun
• Membantu guru dan siswa melakukan perbaikan proses belajar
• Memberi dasar dalam perancangan program remedial dan pengayaan
3. Fungsi dan Manfaat PBK
PBK bersifat formatif dan diagnostik. Fungsi utamanya adalah sebagai alat bantu
guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa. Selain itu, PBK
juga:
• Mendorong keterlibatan aktif siswa
• Mengembangkan rasa tanggung jawab siswa terhadap belajarnya
• Menyediakan informasi rinci bagi orang tua dan sekolah
4. Prinsip-Prinsip PBK
Beberapa prinsip penting dalam PBK meliputi:
a. Autentik: Mencerminkan kehidupan nyata siswa
b. Berbasis proses dan hasil: Tidak hanya mengevaluasi akhir, tetapi juga cara
mencapai hasil
c. Berorientasi pada siswa: Menghargai keberagaman gaya belajar dan
kemampuan
d. Berkeadilan: Memberikan kesempatan yang sama untuk menunjukkan
kemampuan
e. Berlangsung terus-menerus: Bukan penilaian satu kali
5. Jenis-Jenis Penilaian dalam PBK
a. Penilaian Proses: Meliputi observasi, jurnal, penilaian diri, dan penilaian
antar teman
b. Penilaian Produk: Hasil nyata dari pembelajaran seperti laporan, poster,
maket
c. Tes Tertulis: Pilihan ganda, uraian, isian, benar-salah
d. Tes Praktik: Demonstrasi keterampilan, eksperimen
e. Portofolio: Kumpulan hasil kerja siswa dari waktu ke waktu
f. Penilaian Proyek: Siswa menyelesaikan tugas dalam jangka waktu tertentu
6. Langkah-langkah Melaksanakan PBK
a. Merancang alat/instrumen: Disesuaikan dengan indikator pencapaian
b. Melaksanakan penilaian: Baik selama atau setelah kegiatan belajar
c. Menganalisis hasil: Untuk melihat tren dan pola perkembangan siswa
d. Memberikan umpan balik: Agar siswa dapat belajar dari kesalahannya
e. Mengambil keputusan: Tentang perbaikan pembelajaran dan tindak lanjut
f. PBK dan Kurikulum Merdeka
Dalam Kurikulum Merdeka, PBK menjadi elemen kunci. Guru diberi kebebasan
untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan murid. PBK berperan dalam
mendorong:
• Profil pelajar Pancasila
• Pembelajaran berdiferensiasi
• Asesmen yang holistik dan kontekstual
Dengan pendekatan PBK, siswa dinilai secara lebih manusiawi dan menyeluruh.
Proses belajar menjadi pengalaman yang lebih bermakna, bukan hanya ajang
pencapaian angka.
Bab 5: Penilaian Proyek
Penilaian proyek adalah penilaian yang dilakukan terhadap tugas yang harus
diselesaikan siswa dalam periode waktu tertentu. Penilaian ini menekankan pada
proses penyelidikan dan pemecahan masalah nyata.
1. Konsep dan Ciri Penilaian Proyek
Penilaian proyek mengintegrasikan beberapa mata pelajaran dan melibatkan kerja
mandiri atau kolaboratif. Ciri khasnya:
• Berorientasi pada proses dan hasil
• Mengembangkan keterampilan berpikir kritis
• Mendorong tanggung jawab dan kemandirian
Proyek bisa berupa pembuatan poster, eksperimen, karya seni, atau kegiatan sosial
seperti kampanye lingkungan.
2. Prinsip Penilaian Proyek
a. Relevan dengan kehidupan nyata
b. Berbasis proses: Penilaian mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan
laporan akhir
c. Autentik dan kontekstual
d. Dapat diamati dan diukur
e. Mengembangkan kolaborasi dan kreativitas
3. Kelebihan Penilaian Proyek
• Mengembangkan kompetensi abad 21 (komunikasi, kolaborasi, kreativitas,
berpikir kritis)
• Membantu siswa belajar secara mendalam
• Menyediakan pengalaman belajar bermakna
• Meningkatkan motivasi siswa
4. Kelemahan Penilaian Proyek
• Membutuhkan waktu lama dan perencanaan matang
• Guru perlu keterampilan tinggi dalam merancang dan mengevaluasi proyek
• Bisa menimbulkan ketimpangan jika siswa memiliki dukungan eksternal
yang berbeda
5. Penilaian Proyek dalam Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based
Learning). Dalam konteks ini, penilaian proyek menjadi bagian penting untuk:
• Menilai kemampuan berpikir tingkat tinggi
• Menilai capaian profil pelajar Pancasila
• Melatih keterampilan lintas disiplin
Bab 6: Instrumen Evaluasi Pembelajaran
Instrumen evaluasi adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan informasi
dalam proses penilaian dan evaluasi. Pemilihan instrumen harus disesuaikan dengan
tujuan dan aspek yang ingin diukur.
1. Jenis Instrumen Evaluasi
a. Tes (test):
• Tes tertulis: Uraian, pilihan ganda, isian, benar-salah
• Tes praktik: Demonstrasi keterampilan
• Tes lisan: Tanya-jawab
b. Non-Tes:
• Observasi (pengamatan langsung)
• Angket (kuisioner)
• Wawancara
• Penilaian diri
• Penilaian antar teman
• Portofolio
• Penilaian proyek
• Penilaian produk
[Link] Instrumen yang Baik
1. Valid: Mengukur apa yang seharusnya diukur
2. Reliabel: Memberikan hasil yang konsisten
3. Objektif: Tidak dipengaruhi subjektivitas
4. Praktis: Mudah digunakan
5. Efisien: Tidak memakan banyak waktu dan biaya
[Link] dalam Kurikulum Merdeka
Guru dianjurkan menggunakan berbagai jenis instrumen sesuai kebutuhan dan
konteks pembelajaran. Evaluasi tak lagi terpaku pada angka, tetapi lebih
menekankan pemahaman dan proses belajar siswa.
Instrumen juga harus mencakup semua ranah pembelajaran:
• Kognitif: melalui tes tertulis atau lisan
• Afektif: melalui observasi, jurnal, angket sikap
• Psikomotorik: melalui demonstrasi atau unjuk kerja
Bab 7: Teknik Penilaian
Bab ini membahas berbagai teknik yang dapat digunakan dalam penilaian
pembelajaran. Teknik penilaian merupakan cara atau metode yang digunakan guru
untuk mendapatkan data atau informasi tentang capaian hasil belajar siswa.
1. Tujuan Teknik Penilaian
Penilaian seharusnya tidak hanya digunakan untuk menentukan nilai akhir siswa,
tetapi juga:
• Menjadi bagian dari proses pembelajaran
• Mengarahkan pembelajaran menjadi lebih reflektif dan bermakna
• Menyediakan umpan balik langsung kepada siswa
• Mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi
2. Mengubah Perspektif Penilaian
Selama ini, penilaian cenderung dianggap sebagai aktivitas akhir yang bersifat
formal (ulangan, ujian). Paradigma baru mengajak guru menjadikan penilaian
sebagai bagian integral dari proses belajar itu sendiri. Dengan demikian, penilaian:
• Tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga proses
• Lebih berorientasi pada perkembangan kompetensi
• Bersifat dinamis dan berkelanjutan
3. Teknik Penilaian dalam Model Pembelajaran Inovatif
a. PBL (Problem Based Learning)
Teknik penilaian fokus pada kemampuan menyelesaikan masalah,
kolaborasi, komunikasi, dan penyelidikan.
Teknik: observasi, penilaian presentasi, rubrik pemecahan masalah
b. STAD (Student Team Achievement Division)
Model pembelajaran kooperatif yang menilai kerja tim dan kontribusi
individual.
Teknik: lembar observasi, skor kelompok, refleksi individu
c. Penilaian Otentik
Penilaian yang mencerminkan dunia nyata dan menuntut siswa
mengaplikasikan pengetahuan.
Contoh: proyek, portofolio, presentasi
d. Penilaian Berbasis Tugas
Tugas-tugas kompleks yang menuntut integrasi berbagai keterampilan.
Contoh: debat, membuat artikel, video dokumenter
e. Pemanfaatan Platform Digital
Dengan perkembangan teknologi, banyak aplikasi yang dapat digunakan untuk
penilaian online, seperti:
• Google Form, Quizizz, Kahoot, Socrative: untuk kuis interaktif
• Padlet, Mentimeter, Jamboard: untuk refleksi dan kolaborasi
• LMS (Learning Management System): Moodle, Edmodo, Microsoft Teams
Manfaat penilaian digital:
• Lebih efisien
• Hasil langsung terdata
• Visualisasi hasil belajar
• Interaktif dan menarik
Tantangan:
• Akses teknologi
• Kesiapan guru
• Keamanan data
Dengan teknik penilaian yang tepat, guru dapat memberikan pengalaman belajar
yang lebih personal, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Bab 8: Validitas dan Reliabilitas
Validitas dan reliabilitas adalah dua prinsip penting dalam evaluasi pembelajaran.
Tanpa keduanya, data hasil evaluasi tidak dapat dipercaya atau digunakan untuk
mengambil keputusan.
1. Validitas
Validitas adalah sejauh mana instrumen mampu mengukur apa yang seharusnya
diukur.
Jenis-jenis validitas:
• Validitas Isi: Seberapa jauh isi instrumen mencerminkan materi atau
kompetensi yang diukur.
Contoh: Soal matematika hanya mengukur logika, tidak kemampuan
bahasa.
• Validitas Konstruk: Seberapa kuat instrumen mengukur konstruk atau
konsep teoretis tertentu.
Contoh: Skala sikap harus benar-benar mengukur sikap, bukan
persepsi umum.
• Validitas Kriteria: Seberapa kuat hasil instrumen berkorelasi dengan
ukuran lain (misalnya, hasil UN dengan nilai rapor).
Cara Meningkatkan Validitas:
• Menyusun kisi-kisi yang baik
• Menggunakan indikator yang jelas
• Melakukan uji validitas (ahli, empiris)
2. Reliabilitas
Reliabilitas adalah konsistensi hasil pengukuran. Instrumen dikatakan reliabel jika
hasilnya stabil dalam berbagai situasi.
Jenis-jenis reliabilitas:
• Test-retest: Memberikan tes dua kali, melihat konsistensinya
• Reliabilitas internal: Konsistensi antarbutir soal dalam satu tes
• Reliabilitas antar-penilai: Konsistensi penilaian antar guru/penilai
Faktor yang Mempengaruhi Reliabilitas:
• Jumlah butir soal
• Kejelasan instruksi
• Subjektivitas penilai (terutama dalam penilaian esai atau observasi)
Implikasi dalam Pembelajaran
• Guru perlu memastikan bahwa instrumen penilaian valid dan reliabel
sebelum digunakan
• Hasil yang tidak valid/reliabel dapat menyesatkan keputusan pembelajaran
• Validitas dan reliabilitas saling berkaitan: tes bisa reliabel tapi tidak valid,
namun tidak bisa valid tanpa reliabel