BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Objek Kajian Matematika
Menurut Mulyani Sumantri matematika adalah pengetahuan yang tidak
kurang pentingnya dalam kehidupan [Link] karena itu tujuan pengajaran
matematika adalah agar siswa dapat berkonsultasi dengan mempergunakan angka-
angka dan bahasa dalam matematika.1 Dalam artian belajar matematika adalah
pembelajaran dengan menggunakan objek kajian yang abstrak yang sering juga
disebut sebagai objek mental.
Adapun karakteristik matematika menurut soedjadi adalah sebagai
berikut :2
1. Memiliki objek kajian yang abstrak
Objek kajian abstrak tersebut meliputi fakta, konsep, operasi, dan prinsip.
a. Fakta
Fakta adalah konvensi dalam matematika yang biasanya
diungkapkan lewat symbol tertentu.
b. Konsep
Konsep adalah ide abstrak pengelompokan objek-objek dan
menentukan apakah objek tersebut merupakan contoh atau bukan
1
Mulyani Sumantri, Kurikulum dan Pengajaran, (Jakarta: Depdikbud Dirjen DIKTI,
1998), H.98.
2
Soedjadi, Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, (Jakarta: Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi, 2000), h.13.
13
14
contoh dari ide abstrak tersebut. Suatu konsep yang berada dalam
lingkup ilmu matematika disebut konsep matematika.
c. Operasi
Operasi adalah aturan untuk memperoleh elemen tunggal dari satu
atau lebih elemen yang diketahui. Elemen tunggal yag diperoleh
disebut sebagai hasil operasi, sedangkan elemen yang diketahui
disebut elemen yang dioperasikan.
d. Prinsip
Prinsip adalah objek matematika yang komplek, ang terdiri dari
beberapa fakta, beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi
atau operasi.
2. Bertumpu pada kesepakatan
Kesepakatan dalam matematika merupakan tumpuan yang amat
[Link]-simbol dan istilah-istilah dalam matematika merupakan
kesepakatan atau konveksi. Dengan simbol dan istilah yang telah disepakati
dalam matematika maka pembahasan selanjutnya akan menjadi mudah
dilakukan dan dikomunikasikan.
3. Berpola pikir deduktif
Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran yang
berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal
yang bersifat khusus. Pernyataan dalam matematika diperoleh dari pola pikir
deduktif, artinya kebenaran suatu pernyataan dalam matematika harus
15
didasarkan pada pernyataan matematika sebelumnya ag telah diakui nilai
kebenarannya.
4. Memiliki simbol yang kosong dari arti
Matematika memiliki banyak simbol, baik yang berupa huruf latin, huruf
yunani, maupun simbol-simbol khusus lainna. Simbol-simbol tersebut
membentuk kalimat dalam matematika yang biasanya disebut dengan model
[Link] matematika dapat berupa persamaan yang berupa gambar
(pictorial) seperti bangun-bangun geometri, grafik, maupun diagram.
5. Memperhatikan semesta pembicaraan
Sehubungan dengan kosongnya arti simbol-simbol matematika, maka dalam
penggunaanya seharusnya memperhatikan pula lingkup [Link]
atau sering disebut semesta pembicaraan bisa sempit atau [Link] kita
berbicara tentang bilangan-bilangan, maka simbol-simbol tersebut
menunjukkan bilangan-bilangan [Link] juga bila berbicara tentang
trigonometri maka symbol-simbol matematikanya menunjukkan suatu
trigonometri pula.
6. Konsisten dalam sistemnya
Matematika memilki berbagai macam hal yang dibentuk dari beberapa
aksioma dan memuat beberapa [Link] sistem berkaitan, ada pula sistem-
sistem yang dapat dipandang lepas satu dengan [Link] sistem
aljabar dan geometri, di dalam masing-masing sistem tersebut berlaku
konsistensi. Artinya tidak boleh terdapat kontradiksi.
16
B. Kemampuan Pemahaman Konsep
Kemampuan pemahaman konsep merupakan bagian yang sangat penting
dalam proses pembelajaran matematika. Kemampuan pemahaman konsep juga
merupakan landasan penting untuk menyelesaikan persoalan-persoalan
matematika maupun persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga,
pemahaman konsep sangat penting, karena dengan penguasaan konsep akan
memudahkan siswa dalam mempelajari matematika. Pada setiap pembelajaran
diusahakan pada penguasaan konsep agar siswa memiliki bekal dasar yang baik
untuk mencapai kemampuan dasar yang lain seperti penalaran, komunikasi,
koneksi dan pemecahan masalah.
Menurut Sardiman, pemahaman (understanding) dapat diartikan
menguasai sesuatu dengan pikiran.3Menurut Yerizon pemahaman adalah tingkat
kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti atau konsep,situasi
serta fakta yang diketahuinya.4Dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemahaman
merupakan kemampuan seseorang untuk memahami atau memperoleh makna dari
suatu informasi melalui pikiran. Sedangkan konsep menurut gadne dalam jurnal
Aulia Rahman Akmil dkk adalah ide abstrak yang memungkinkan kita dapat
mengelompokkan objek atau kejadian.5
Sardiman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta:Rajawali Pers: 2010), h. 43
4
Yerizon, [Link] Konsep Matematisdan Model Pembelajaran Quantum
Teaching. Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 1, No .1, 2012. Diakses pada 05 Desember 2019
dari situs:[Link]
5
Auliya Rahman Akmil, Armiati, dan Yusmet Rizal, Implementasi CTL dalam
Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika Siswa. Jurnal Pendidikan Matematika. Vol. 1
No.1, 2012. Diakses pada tanggal 05 Desembert 2019 dari situs
[Link]
17
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan
pemahaman konsep dapat diartikan sebagai kemampuan siswa dalam memaknai,
menafsirkan, dan menyimpulkan suatu konsep matematika berdasarkan
pengetahuannya dengan berbagai indikator yang termuat di dalamnya.
Indikator kemampuan pemahaman konsep menurut Permendikbud
Nomor 58 Tahun 2014 adalah:6
1. Menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari.
2. Mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi tidaknya
persyaratan yang membentuk konsep tersebut.
3. Mengindentifikasi sifat-sifat operasi atau konsep.
4. Menerapkan konsep secara logis.
5. Memberikan contoh dan non contoh konsep.
6. Menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk representasi
matematis (tabel, grafik, diagram, gambar, sketsa, model
matematika, atau cara lainnya).
7. Mengaitkan berbagai konsep dalam matematika maupun diluar
matematika
8. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Padma Mike Putri dkk,
bahwa pemahaman konsep siswa dapat dikatakan lebih baik dengan
6
Arrahim, Nurul Widayanti, “Perbandingan Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa
Kelas IV Dengan Menggunakan Model Problem Based Learning (PBL) Dan Model Realistik
Mathematic Education (RME) Pada Mata Pelajaran Matematika Di SDIT Darul Hasani Kabupaten
Bekasi”.[Link]. [Link].2, 2018..Diakses pada tanggal 10 Juni 2020
darisitus[Link]
18
menggunakan 3 indikator saja yaitu: (1) Menyatakan ulang sebuah konsep;
(2)Mengklasifikasikan objek menurut sifat tertentu sesuai dengan konsepnya; (3)
Mengaplikasikan konsep atau alogaritma ke pemecahan masalah.7
Berdasarkan pendapat di atas, dalam penelitian ini peneliti bermaksud
memilih 5 indikator saja yaitu : (1) Menyatakan ulang konsep yang telah
dipelajari; (2) Mengindentifikasi sifat-sifat operasi atau konsep; (3) Menerapkan
konsep secara logis; (4) Menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk
representasi matematis (tabel, grafik, diagram, gambar, sketsa, model
matematika, atau cara lainnya); (5) Mengembangkan syarat perlu atau syarat
cukup suatu konsep.
Adapun contoh dari masing-masing indikator tersebut adalah :Seorang
penjahit pakaian akan membuat dua macam pakaian dari bahan katun dantetoron.
Untuk membuat pakaian jenis pertama diperlukan 1 m katun dan 0,8 m tetoron.
Untuk pakaian jenis kedua diperlukan 0,5 m katun dan 0,2 tetoron. Tersedia
bahan katun sebanyak 140 m dan tetoron 96 m. jika keuntungan tiap pakaian
jenis pertama Rp. 50.000,00 dan jenis kedua Rp. 40.000,00. Tentukan fungsi
kendala dan fungsi tujuan dari permasalahan di atas !
Penyelesaian :
1. Menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari
7
Padma Mike Putridkk, Pemahaman Konsep Matematika pada Materi Turunan Melalui
Pembelajaran Teknik Probing, Jurnal Pendidikan [Link].1 No. 1, 2012. Diakses pada
tanggal 1 Juli 2020 dari situs [Link]
19
Kemampuan siswa mengungkapkan kembali apa yang telah
dikomunikasikan kepadanya.
Diketahui :
pakaian jenis 1= 1 m katun dan 0,8 m tetoron
pakaian jenis 2 = 0,5 m katun dan 0,2 tetoron
Persediaan bahan katun = 140 m
Persediaan bahan tetoron = 96 m
keuntungan pakaian jenis 1 = Rp. 50.000,00
keuntungan pakaian jenis 2 = Rp. 40.000,00
Ditanya : Tentukan fungsi kendala dan fungs itujuan?
Langkah-langkah penyelesaiannya sebagai berikut :
Misalkan
x = banyaknya pakaian jenis I
y = banyaknya pakaian jenis II
2. Menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk representasi matematis.
Kemampuan siswa memaparkan konsep menyajikan konsep dalam nernagai
macam bentuk representasi matematis seperti tabel, grafik dan lainnya
maka model matematikanya dapat ditentukan sebagai berikut :
X y Persediaan
Katun 1 0,5 140
Tetoron 0,8 0,2 96
Fungsi Objektif 50000 40000
3. Menerapkan konsep secara logis
Kemampuan siswa menerapkan konsep secara tepat
20
Dari tabel di atas dapat disusun fungsi kendala yaitu :
x + 0,5y ≤ 140
0,8x + 0,2y ≤ 96
x≥ 0
y≥0
4. Mengindentifikasi sifat-sifat operasi atau konsep
Kemampuan siswa dalam menyelesaian soal menggunakan sifat-sifat
operasi atau konsep tertentu
x + 0,5y ≤ 140
0,8x + 0,2y ≤ 96
jika disederhanakan menjadi :
2x + y ≥ 280
4x + y ≥ 480
5. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep.
Kemampuan siswa mengkaji mana syarat perlu atau syarat cukup yang
terkait dalam konsep suatu materi
Jadi Fungsi tujuannya adalah :f(x,y) = 50000x + 40000y
Kriteria penilaian setiap butir soal tes kemampuan pemahaman konsep
mengacu pada kriteria penilaian untuk setiap butir soal tes kemampuan
pemahaman konsep menggunakan rubrik holistik. Menurut Fauzan, rubrik
21
holistik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan kesan keseluruhan atau
kombinasi semua kriteria.8
Tabel 2.1 Rubrik Penskoran Kemampuan Pemahaman Konsep
No Indikator Ketentuan Skor
1 Menyatakan Tidak ada ide untuk menyatakan ulang 0
ulang konsep konsep yang telah dipelajari
yang telah
dipelajari Tidak tepat dalam menyatakan ulang konsep 1
yang telah dipelajari
Dapat menyatakan ulang konsep yang telah 2
dipelajari tetapiterdapat 75% kesalahan
Dapat menyatakan ulang konsep yang telah 3
dipelajari tetapiterdapat 50% kesalahan
Dapat menyatakan ulang konsep yang telah 4
dipelajari dengan benar
2 Mengindentifi Tidak ada ide untuk mengindentifikasi sifat- 0
kasi sifat-sifat sifat operasi atau konsep
operasi atau
konsep Tidak tepat dalam mengindentifikasi sifat- 1
sifat operasi atau konsep
Dapat mengindentifikasi sifat-sifat operasi 2
atau konseptetapiterdapat 75% kesalahan
Dapat mengindentifikasi sifat-sifat operasi 3
atau konseptetapiterdapat 50% kesalahan
Dapat mengindentifikasi sifat-sifat operasi 4
atau konsepdenganbenar
3 Menerapkan Tidak ada ide untuk menerapkan konsep 0
konsep secara secara logis
logis
Tidak tepat dalam menerapkan konsep 1
secara logis
Fauzan Ahmad, Modul I Evaluasi Pembelajaran Matematika Pemecahan masalah
matematik. Evaluasi Matematika (Net:UNP, 2011), h. 38
22
Dapat menerapkan konsep secara logis 2
tetapi terdapat 75% kesalahan
Dapat menerapkan konsep secara logis 3
tetapi terdapat 50% kesalahan
Dapat menerapkan konsep secara logis 4
dengan benar
4 Menyajikan Tidak adaide menyajikan konsep dalam 0
konsep dalam berbagai macam bentuk representasi
berbagai matematis
macam
bentuk Tidak tepat dalam menyajikan konsep dalam 1
representasi berbagai macam bentuk representasi
matematis matematis
Dapat menyajikan konsep dalam berbagai 2
macam bentuk representasi matematis tetapi
terdapat 75% kesalahan
Dapat menyajikan konsep dalam berbagai 3
macam bentuk representasi matematis tetapi
terdapat 50% kesalahan
Dapat menyajikan konsep dalam berbagai 4
macam bentuk representasi matematis
dengan benar.
5 Mengembang Tidak ada ide mengembangkan syarat perlu 0
kan syarat atau syarat cukup suatu konsep
perlu atau
syarat cukup Tidak tepat dalam mengembangkan syarat 1
suatu konsep perlu atau syarat cukup suatu konsep
Dapat mengembangkan syarat perlu atau 2
syarat cukup suatu konsep tetapi terdapat
75% kesalahan
Dapat mengembangkan syarat perlu atau 3
syarat cukup suatu konsep tetapi terdapat
50% kesalahan
23
Dapat mengembangkan syarat perlu atau 4
syarat cukup suatu konsep dengan benar.
Sumber: Modifikasi Jurnal Siti Mawaddah dan Ratih Maryanti.9
C. Model Inquiry
1. PengertianModel Inquiry
Inquiry berasal dari bahasa Inggris yaitu inquiry yang dapat diartikan
sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan
ilmiah yang [Link] adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang
menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. 10Model
Inquiry menekankan pada permasalahan bagaimana siswa menggunakan
sumber belajar.
Hanafiah dan sujana menyebutkan yaitu model inquiry adalah model
pembelajaran yang menuntut siswa untuk dapat menemukan sendiri
pengetahuan dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan
perilaku.11Model Inquiry adalah model pembelajaran yang mampu mengiring
peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar.
Inquiry menempatkan peseta didik sebagai subjek belajar yang aktif.
9
Siti Mawaddah dan Ratih Maryanti, Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa
SMP dalam Pembelajaran Menggunakan Model Penemuan Terbimbing (Discovery Learning).
Jurnal Pendidikan Matematika. Vol. 4, Nomor 1, April 2016. Diakses pada 05 Desember2019 dari
situs :[Link]
10
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta: Kencana, 2008), h. 194
11
Hanafiah, Konsep Sstrategi Pembelajaran, (Bandung: Refika Afitama, 2010), h.77
24
Kendatipun model pembelajaran ini berpusat pada kegiatan paserta didik,
namun guru tetap memegang peranan penting dalam mendesain pengalaman
belajar. Guru berkewajiban mengiring peserta didik dalam melakukan
kegiatan. Kadang kala guru perlu memberikan penjelasan, melontarkan
pertanyaan, memberikan komentar dan melalui penciptaan iklim yang
kondusif, dengan menggunakan fasilitas media dan materi pembelajaran yang
bervariasi.
Pada dasarnya model Inquiry adalah cara menyadari apa yang telah
dialami, karena itu Inquiry menuntut peserta didik berpikir. Model
pembelajaran ini menuntut peserta didik memproses belajar menjadi sesuatu
yang bermakna dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, melalui model
pembelajaran ini peserta didik dibiasakan untuk produktif, analitis, dan
kritis.12
Menurut Schmidt yang mengartikan bahwa, Inquiry adalah suatu
proses untuk mendapatkan informasi dengan cara melakukan observasi dan
atau eksperimen guna mencari jawaban maupun memecahkan masalah
terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan
kemampuan berpikir kritis dan [Link] uraian diatas, model Inquiry
adalah model yang memberikan keleluasaan kepada siswa untuk belajar
secara aktif, analitis dan kreatif dalam memecahkan persoalan matematika.
Adapun tahapan-tahapan dari model Inquiry adalah : merumuskan masalah,
12
H. M. Ali. Hamzah, Muhlisrarini. Perencanaan dan Strategi Pembelajaran Matematika.
(Jakarta: Rajawali Pers. 2014), h. 271.
25
merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan membuat
kesimpulan.13
Pengaruh model Inquiry terhadap kemampuan pemahaman konsep
terlihat pada penelitian Dwi Uswatun Hasanah yang dinyatakan berhasil
meningkatkan kemampuan pemahaman konsep siswa dengan menggunakan
model Inquiry yang melewati dua siklus.14 Sebelum diterapkan model Inquiry
rata-rata kemampuan pemahaman konsep hanya 39,74. Sedangkan setelah
diterapkan model Inquiry kemampuan pemahaman konsep meningkat pada
siklus pertama dengan nilai rata-rata siswa 71,62 dan pada siklus kedua nilai
rata-rata model Inquiry kemampuan pemahaman konsep meningkat menjadi
85,66. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan pemahaman
konsep siswa setelah diterapkan model Inquiry.
2. Kelebihan dan Kekurangan Model Inquiry
Sebagaimana yang diketahui semua model pembelajaran mempunyai
kelebihan dan kekurangan, demikian pula dengan model Inquiry. Kelebihan
model Inquiry adalah :
a. Dapat membentuk dan mengembangkan konsep dasar kepada siswa
sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar ide-ide dengan
lebih baik.
13
Siti atava Rizema Putra, Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains, (Yogyakarta:
Diva Press, 2013), h. 101-104.
14
Dwi Uswatun Hasanah, “Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika dengan
Model Pembelajaran InkuiriTerbimbing Siswa Kelas VIII SMP Negeri 11 Yogyakarta”, Skripsi,
(Universitas PGRI Yogyakarta)
26
b. Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi
proses belajar yang baru.
c. Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri,
bersifat jujur, objektif, dan terbuka.
d. Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan
hipotesisnya sendiri.
e. Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsic.
f. Situasi pembelajaran lebih menggairahkan.
g. Dapat menggembangkan bakat atau kecakapan individu.
h. Memberikan kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
i. Menghindarkan diri dari cara belajar tradisional.
j. Dapat memberikan waktu kepada siswa secukupnyas ehingga mereka
dapat mengeliminasi dan mengakomodasi informasi.15
Adapun kekurangan model Inquiry antara lain :
a. Siswa harus memiliki kesiapan dan kematangan mental, siswa harus
berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan
baik.
b. Keadaan kelas yang besar jumlah siswanya, maka model ini tidak
akan mencapai hasil yang memuaskan.
c. Guru dan siswa yang sudah sangat terbiasa dengan proses belajar
mengajar gaya lama, maka model Inquiry ini akan mengecewakan.
15
H. M. Ali. Hamzah, [Link] dan Strategi..., h. 272
27
d. Ada kritik, bahwa proses dalam model Inquiry terlalu mementingkan
proses pengertian saja, kurang memperhatikan perkembangan sikap
dan keterampilan bagi siswa.16
D. Tinjauan Materi Program Linear
Masalah pemrograman linear adalah masalah optimisasi bersyarat
yakni pencarian nilai maksimum atau pencarian nilai minimum sesuatu
fungsi tujuan berkenaan dengan keterbatasan-keterbatasan atau kendala
yang harus dipenuhi. Persyaratan, batasan, dan kendala dalam persoalan
linear merupakan sistem pertidaksamaan [Link] persamaan
linear adalah sebuah persamaan aljabar, yang tiap sukunya mengandung
konstanta, atau perkalian konstanta dengan variabel tunggal.
Di dalam persoalan linear terdapat fungsi linear yang bisa disebut
sebagai fungsi objektif. Masalah-masalah tersebut secara umum dapat
dirumuskan sebagai berikut :
Fungsi tujuan memaksimumkan dinotasikan dengan Z dan relasi
dalam kendala berbentuk ( ≤ )sehingga bentuknya dapat dilihat pada
persamaan (2.1). Maksimumkan fungsi tujuan.
Z=c 1 x 1 +c 2 x 2 +…+ c j x j (2.1)
terhadap kendala-kendala
16
WinaSanjaya, StrategiPembelajaranBerorientasiStandar Proses Pendidika…, h. 206-207.
28
a 11 x 1 +a 12 x 2+ …+a1 x j ≤b 1
a 21 x 1+ a22 x 2 +…+a 2 x j ≤ b2
⋮⋮⋮⋮
a i1 x 1+ ai 2 x 2 +…+ aij x j ≤ bi (2.2)
Kendala non negatif
x j ≥ 0 ( j=1 , 2 ,… , n )
Fungsi tujuan meminimumkan dinotasikan dengan W dan relasi
dalam kendala berbentuk ( ≥ ) sehingga menjadi :
Meminimumkan fungsi tujuan
W =c 1 x 1 +c 2 x 2 +…+ c j x j
terhadap kendala-kendala
a 11 x 1 +a 12 x 2+ …+a1 x j ≥b 1
a 21 x 1+ a22 x 2 +…+a 2 x j ≥ b2
⋮⋮⋮⋮
a i1 x 1+ ai 2 x 2 +…+ aij x j ≥ bi
Kendala non negatif
x j ≥ 0 ( j=1 , 2 ,… , n )
29
Dengan :
x j :variabel keputusan ke− j/banya k nya produk ke− j ( j=1 ,2 , … , n )
b i : suku tetap/bahan mentah junis ke−i yang tersedia ( i=1 , 2 , … ,m )
a ij : koefisien kendala /bahan mentah ke-i yang digunakan untuk
memproduksi satu unit produk j
c j : koefisien ongkos /harga jual satu unit j.
Secara keseluruhan model matematis yang digunakan untuk
menyelesaikan suatu permasalahan pemrograman linear dapat disusun ke
dalam bentuk tabel, seperti tampak pada Tabel 2.2
Tabel 2.2 bentuk umum tabel model pemrograman linear.
cj c1 c2 … cn
ci xi / x j x1 x2 … xn bi
c1 x1 a 11 a12 … a1 j b1
c2 x2 a 21 a22 … a2 j b2
⋮ ⋮ ⋮
cm xm a i1 ai 2 … aij bm
zj z 1 z 2 … zn Z
z j −c j z 1−c 1 z 2−c2 … z n −c n
Keterangan :
x j :variabel keputusan ke-j/ banyaknya produk ke-j (j = 1, 2, ..., n)
x i :variabel basis ke-I (i = 1, 2,…, m)
c j :koefisien ongkos / harga jual satu unit j
c i : koefisien ongkos milik variable basis ke-I (i = 1, 2, …, m)
a ij: koefisien kendala/ bahan mentah ke-i yang digunakan untuk
30
memproduksi satu unit produk j
b i : suku tetap / bahan mentah jenis ke-i yang tersedia
m
z j : ∑ c i aij ¿ )
i=1
m
z : ∑ c i b i ( jumlahhasil kali c i dengan kolom bi )
i=1
z j −c j :selisih z j denganc j
Adapun langkah-langkah dalam penyelesaian permasalah
program linear adalah sebagai berikut :
1. Tentukan variabel-variabel kendalanya.
2. Tentukan fungsi tujuan.
3. Susun model dari variabel-variabel kendala.
4. Gambarkan grafik dari model yang telah dibuat.
5. Tentukan titik-titik potong dari grafik.
6. Tentukan daerah penyelesaian yang sesuai.
7. Hitung nilai optimum dari fungsi tujuan.
E. Tahapan Pembelajaran pada Materi Program Linear Menggunakan
Model Inquiry
Adapun tahapan pembelajaran pada materi Program Linear
menggunakan model Inquiry adalah sebagai berikut:
31
Tabel 2.3 Tahapan pembelajaran pada materi Program Linear
menggunakan model Inquiry
Tahap Pembelajaran Kegiatan
Fase 1: Menyampaikan a. Guru mengkondisikan siswa untuk siap
Tujuan dan menerima pembelajaran dengan salam dan
Memotivasi Siswa berdoa.
b. Guru memotivasi siswa tentang manfaat
program linear dalam kehidupan sehari-hari.
c. Guru memberikan cakupan materi dan
menyampaikan tujuan pembelajaran yang
harus dicapai oleh siswa.
Fase 2 : Observasi a. Siswa dibagikan dalam beberapa kelompok
Untuk Menemukan
Masalah b. Guru membagikan Lembar Kerja Siswa untuk
diselesaikan dalam kelompok.
c. Setiap kelompok mengerjakan LKS untuk
menentukan daerah himpunan penyelesaian
dari sistem pertidaksamaan linear dua peubah
Fase 3 : Merumuskan a. Guru membimbing siswa untuk merumuskan
Masalah
masalah
Misalnya, bagaimana menentukan daerah
himpunan penyelesaian dari system
pertidaksamaan linear dua variable
Fase 4 : Merumuskan a. Guru membimbing siswa membuat hipotesis
Hipotesis
terhadap masalah yang telah dirumuskan
Fase 5 : a. Guru membimbing siswa untuk membuat
Merencanakan
Pemecahan Masalah rencana pemecahan masalah
b. Guru menugaskan kepada masing-masing
kelompok untuk berdiskusi memecahkan
masalah yang diberikan sesuai dengan LKS.
Fase 6 : Melakukan a. Guru membimbing siswa selama proses
Ekperimen
32
eksperimen dan berperan sebagai fasilitator
b. Guru membimbing siswa agar aktif bekerja
sama dalam memecahkan masalah.
c. Guru berkeliling mengamati kerja setiap
kelompok dan membantu kelompok jika ada
yang mengalami kesulitan
Fase 7 : Melakukan a. Guru membantu siswa melakukan pengamatan
Pengamatan dan
Pengumpulan Data tentang hal-hal penting yang berhubungan
dengan daerah himpunan penyelesaian dari
sistem pertidaksamaan linear dua
Fase 8 : Analisis Data a. Guru meminta perwakilan kelompok untuk
mempresentasikan hasil kerja mereka.
b. Guru bersama siswa mengkaji kembali proses
pemecahan masalah yang digunakan siswa
Fase 9 : Penarikan a. Siswa diminta untuk merangkum (membuat
Kesimpulan
catatan-catatan penting) dari kegiatan belajar
ini
Sumber : Langkah Pembelajaran dengan model Inquiry
F. Penelitian Relevan
Untuk mendukung penelitian ini, peneliti mencantumkan beberapa hasil
penelitian yang berhubungan dengan model Inquiry adalah:
1. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nerru Pranuta Murnaka dan Sri
Ratna Dewi dengan judul “ Penerapan Metode PembelajaranInquiryUntuk
Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis“
33
menunjukkan bahwa model Inquiry dapat meningkatkan kemampuan
pemahaman konsep matematis.17
2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Agata Sri Sumaryati dan Dwi
Uswatun Hasanah dengan judul “Upaya Meningkatkan Pemahaman
Konsep Matematika Dengan Model Pembelajaran Inkuiri Siswa Kelas
VIII C SMP Negeri 11 Yogyakarta” menunjukkan bahwa modelInquiry
mempengaruhi meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa kelas
VIII C SMP Negeri 11 Yogyakarta.18
3. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ketren Ocmita Yanda, Jumroh dan
Dina Octaria dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Model
Pembelajaran Inkuiri Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Ditinjau
Dari otivasi Belajar Siswa” menunjukkan bahwa modelInquiry
mempengaruhi pemahaman konsep matematika siswa dan efektif
digunakan sebagai model pembelajaran.19
G. Keterkaitan Antara Model Inquiry dan Kemampuan Pemahaman Konsep
Model inquiry yang merupakan pembelajaran yang berbasis
keaktifan penemuan dari siswa sendiri akan cocok digunakan untuk
17
Nerru Pranuta Murnaka dan Sri RatnaDewi. Penerapan Metode Pembelajaran Inquiry
Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis. Journal Of Medives : Journal
Of Mathematics Education IKIP Veteran Semarang. Vol. 2, Nomor 2, 2018. h. 103-108
18
Agata Sri Sumaryati dan Dwi Uswatun Hasanah. Upaya Meningkatkan Pemahaman
Konsep Matematika Dengan Model Pembelajaran Inkuiri Siswa Kelas VIII C SMP Negeri 11
Yogyakarta. Jurnal [Link]. 2, Nomor 2, Desember 2015. h.195-206
19
Ketren Ocmita Yanda, dkk. Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Kemampuan
Pemahaman KonsepDitinjau Dari otivasi Belajar Siswa. Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika.
Vol. 2, Nomor 1, Desember 2019.h. 121-125
34
mengetahui pengaruh model pembelajarannya terhadap kemampuan
pemahaman konsep. Hanafiah dan sujana menyebutkan yaitu model
inquiry adalah model pembelajaran yang menuntut siswa untuk dapat
menemukan sendiri pengetahuan dan keterampilan sebagai wujud adanya
perubahan perilaku.20 Model pembelajaran seperti ini akan berdampak
positif bagi penemuan-penemuan siswa. Pemahaman konsep merupakan
kemampuan yang setidakna dimiliki ileh setiap siswa kaena kemampuan
ini akan membantu siswa memahami materi dan memahami konsep-
konsep serta ide-ide pada materi tertentu.
Berdasarkan langkah-langkah model inquiryakan dilihat keterkaitan
model inquiry dengan kemampuan pemaham konsep siswa. Tahap
pertama model inquiry siswa dituntut merumuskan masalah yang
diberikan. Pada tahap ini siswa mampu mengekspresikan ide-ide dan
konsep-konsep matematis secara tertulis sehingga dapat menyatakan ulang
suatu konsep. Pada tahap ini siswa membentuk rumusan-rumusan masalah
yang ditemui selama pembelajaran.
Tahap kedua siswa mengajukan atau merumuskan hipotesis dari
masalah yang dirumuskan sehingga siswa dapat mengembangkan syarat
perlu atau syarat cukup suatu konsep. Pada tahap ketiga siswa secara
berkelompok mulai mengumpulkan data dari teman-teman yang lain. Pada
tahap ini siswa dituntut mampu menyajikan konsep dalam berbagai bentuk
representasi matematis untuk diuji pada tahap [Link] keempat
20
Hanafiah, Konsep Sstrategi Pembelajaran, (Bandung: Refika Afitama, 2010), h.77
35
siswa secara berkelompok mulai menguji data berdasarkan sata yang
ditemukan sehingga siswa dapat mengindentifikasi sifat-sifat operasi atau
konsep. Pada tahap kelima siswa secara berkelompok membuat
kesimpulan sehingga siswa dapat menerapkan konsep secara logis.
Suherman mengemukakan bahwa belajar inquiry adalah belajar
dengan membangun sendiri ide-ide, mempresentasikan masalah dan
menelesaikan permasalahan.21 Dalam hal ini siswa akan belajar mandiri
sehingga siswa dapat memahami konsep yang mampu merepresentasikan
konsep, dan memilih prosedur ang tepat untuk memecahkan masalah yang
diberikan.
H. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap
permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. 22 Hipotesis
dalam penelitian ini adalah: Kemampuan pemahaman konsep matematis siswa
yang belajar dengan model Inquiry lebih baik dari pada pada siswa yang belajar
tanpa menggunakan model Inquiry.
21
E. Suherman, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: JICA, UPI.
2007), h. 70
22
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, edisi 6, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2006), h. 24
36