KARYA TULIS ILMIAH
PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENDUKUNG
PENINGKATAN PELAYANAN PEGAWAI NEGERI SIPIL
PADA BADAN KEPEGAWAIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER
DAYA MANUSIA KABUPATEN ACEH JAYA
Disusun oleh :
ARIFIN DAYAT, SP
19841010 201903 1 005
BADAN KEPEGAWAIAN DAN PENGEMBANGAN
SUMBER DAYA MANUSIA
KABUPATEN ACEH JAYA
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan
Rahmat dan Hidayah – Nya sehingga penulisan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul
“PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENDUKUNG
PENINGKATAN PELAYANAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA BADAN
KEPEGAWAIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
KABUPATEN ACEH JAYA’’ dapat berjalan dengan lancar.
Karya Tulis yang berjudul “PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI
DALAM MENDUKUNG PENINGKATAN PELAYANAN PEGAWAI NEGERI
SIPIL PADA BADAN KEPEGAWAIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER
DAYA MANUSIA KABUPATEN ACEH JAYA” ini membahas mengenai penerapan
teknologi informasi di kabupaten Aceh Jaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan
kepegawaian.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini belum sempurna, sehingga penulis
menerima kritik dan saran yang membangun sebagai evaluasi penulisan yang
selanjutnya. Penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi saya pribadi dan
para pembacanya.
i
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan ..................................................... 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................... 7
C. Tujuan Penulisan ......................................................................... 7
D. Manfaat Penulisan ....................................................................... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teoritis ..................................................................... 8
1. Teknologi Informasi ............................................................. 8
2. Penerapan Teknologi Informasi............................................ 9
3. Pelayanan Pegawai Negrei Sipil ........................................... 14
BAB III OBJEK DAN METODE PENULISAN
A. Objek Penulisan .......................................................................... 17
B. Metode Penulisan ........................................................................ 17
BAB IV PEMBAHASAN
A. Peningkatan Penerapan Teknologi Informasi ........................ 19
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................ 22
B. Saran-Saran ................................................................................. 22
DAFTAR KEPUSTAKAAN
ii
DAFTAR TABEL
Halaman
TABEL 1 Variabel Pencapaian Penerapan Teknologi Informasi ......................... 14
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sesuai Undang-Undang Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara
yang memiliki visi untuk mewujudkan Aparatur Sipil Negara yang memiliki
integritas, profesional, melayani dan sejahtera, dikatakan bahwa untuk mewujudkan
aparatur sipil negara sebagai bagian dari reformasi birokrasi, perlu ditetapkan
aparatur sipil negara sebagai profesi berlandaskan pada prinsip nilai dasar, kode etik
dan kode perilaku, komitmen, integritas moral, dan tanggung jawab pada pelayanan
publik, komampuan yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas, kualifikasi
akademik, jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan
profesionalitas jabatan yang memiliki kewajiban mengelola dan mengembangkan
dirinya dan wajib mempertanggungjawabkan kinerjanya sebagai upaya dalam rangka
pelaksanaan cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan negara sebagaimana tercantum
dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
sehingga dibutuhkan aparatur sipil negara yang memiliki integritas, profesional,
netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan
nepotisme, serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan
mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa.
Aparatur yang dibutuhkan saat ini, aparatur yang memiliki karakteristik
kerja yang unggul, mampu beradaptasi terhadap situasi dan kondisi yang menuntut
kemampuan diri dan kualitas kerja yang diharapkan untuk mengembangkan dirinya
agar dapat bekerja secara mandiri menuju profesionalisme birokrasi yang handal dan
terpercaya. Profesionalisme birokrasi yang handal dimaksud, aparatur atau pegawai
yang bekerja pada setiap unit pelayanan pemerintahan dalam berbagai level yang
memiliki pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada ilmu tertentu dalam
melaksanakan pekerjaannya dan memiliki tanggungjawab moral atau etika profesi
dalam memberikan pelayanan kepada publik dan lingkungannya sebagai bagian dari
1
2
kewajiban kebijakannya. Tentu hal tersebut sangat beralasan mengingat secara
empirik masyarakat menginginkan agar aparat pemerintah dalam menjalankan tugas-
tugasnya dapat bekerja secara optimal yang akhirnya dapat memberikan pelayanan
yang terbaik bagi masyarakat.
Birokrasi publik yang handal mempunyai daya kritis, tepat dan cepat
dalam menangani pekerjaan serta berorientasi pada aturan yang dipakai dalam
menangani berbagai masalah dengan menempatkan orang-orang sesuai dengan
keahlian, sehingga setiap posisi penting dipegang oleh orang-orang yang menganut
faham profesionalisme yang berbasis pada kinerja individu, kelompok dan organisasi
untuk menciptakan kinerja pegawai secara keseluruhan. Pelaksanaan suatu pekerjaan
dinilai memenuhi standar yang baku bila mengacu pada hasil pekerjaan yang telah
ditetapkan, sehingga mencapai hasil dan sasaran kerja yang telah ditargetkan dan
dicapai secara maksimal.
Setiap organisasi pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai, diperlukan sumber
daya yang maksimal agar tercapainya tujuan organisasi tersebut. Sumber daya yang
terpenting dari sebuah organisasi adalah sumber daya manusia, orang-orang yang
memberikan tenaga, bakat, kreativitas dan usaha mereka kepada organisasi. Oleh
karena itu, pegawai merupakan kunci penentu keberhasilan organisasi. Untuk itu
selain dituntut untuk memiliki pengetahuan, dan keterampilan, komitmen yang
tinggi, disiplin diri, dan semangat kerja tinggi. Sebagai abdi negara harus dapat
mengaplikasikan apa yang menjadi komitmen serta yang tertuang dalam Panca
Prasetya Korps Pegawai Negeri, harus memiliki sifat loyalitas, dedikasi, integritas,
kejujuran, keterampilan kerja serta motivasi yang tinggi dalam menjalankan tugas-
tugas yang diberikan negara. Kesemuanya itu merupakan perwujudan pengabdian
sebagai pegawai negeri dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kepada
masyarakat.
Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan cyber telah mengubah pola
dan tata hubungan antar masyarakat maupun antara masyarakat dengan pemerintah.
Pada era informasi sekarang ini penerapan teknologi informasi telah pula wajib
3
dilakukan di instansi pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada
masyarakat. Untuk itu, pemerintah juga dituntut untuk melakukan reformasi dalam
penyelenggaraan pemerintahannya, termasuk dalam pelayanan kepada publik, yang
berbasis teknologi informasi tersebut.
Dalam konteks di atas, beberapa tahun terakhir ini pemerintah telah
memanfaatkan kemajuan teknologi dalam berbagai aktifitasnya, di antaranya dalam
pelayanan publik berbasis teknologi informasi. Di Indonesia teknologi informasi
telah mendapat perhatian Pemerintah melalui penerapan electric-government (e-
government) dan telah memperoleh komitmen atau dukungan yang kuat melalui
Instruksi Presiden R.I Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan e-Government.
Terkait dengan pembangunan sebuah Sitem Informasi Manajemen (SIM) di
Indonesia, pada hakekatnya pernah dicetuskan pada awal dekade 1990-an. Dalam
Tap MPR RI Nomor II/MPR/1993 tentang GBHN, diamanatkan pentingnya
pengembangan sistem informasi dalam berbagai sektor yang sejalan dengan upaya
untuk terus meningkatkan terciptanya jaringan informasi yang andal, efisien serta
mampu mendukung industrialisasi dan upaya pemerataan pembangunan.
Selanjutnya, dalam dokumen Repelita disebutkan sistem informasi menjadi acuan
realisasi teknologi yang digunakan. Pengertian sistem informasi yang digunakan
dalam konteks ini adalah (Kementrian Kominfo, 2003 : 95)
Perkembangan teknologi informasi (TI) dewasa ini yang semakin pesat
khususnya teknologi komputasi dan jaringan internet, penetrasi internet yang
dilakukan pemerintah dan telkom bahkan sudah merambah sampai kepedesaan.
Kemajuan teknologi ini, telah membawa pengaruh yang cukup signifikan
terhadap pengelolaan pemerintahan yaitu telah dikembangkannya sistem
pelayanan publik melalui jaringan internet yang dinamakan e-
[Link] e-government dapat di-artikan sebagai penggunaan
teknologi informasi dan telekomunikasi untuk administrasi pemerintahan yang
efisien dan efektif, serta memberikan pelayanan yang transparan dan
4
memuaskan kepada masyarakat. Dengan e-government maka memungkinkan
terjadinya interaksi dan komunikasi baru antara pemerintah daerah yang satu
dengan yang lainnya, antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat, antara
pemerintah dengan masyarakat, dan antara pemerintah dengan dunia usaha.
Oleh karena itu, penerapan e-government di sektor pemerintahan ini sangat
berperan dalam mewujudkan keinginan pemerintah untuk meningkatkan
kualitas pelayanan administrasi publik, karena dengan pelayanan yang
transparan yang dapat dilihat dan dilakukan melalui internet maka masyarakat
dapat mengetahui persyaratan - persyaratan yang diperlukan dalam
mengurus sesuatu.
”suatu kesatuan tatanan yang terdiri atas organisasi, manajemen, teknologi,
himpuanan data, dan sumber daya manusia yang mampu menghasikan dan
menyampaikan informasi secara cepat, tepat, lengkap dan akurat untuk
mendukung berbagai upaya dalam mewujudkan sasaran yang dikehendaki”.
Untuk merealisasikan program tersebut, konsep sistem informasi nasional
dikristalisasikan dalam konsep SIMNAS (Sistem Informasi Manajemen Nasional).
Titik berat SIMNAS yang dibangun adalah sistem berbasis kebutuhan manajemen,
sehingga konsep yang diangkat adalah pada pembuatan aplikasi MIS (Management
Information System) Nasional. Aplikasi ini banyak dibangun di lingkungan
pemerintahan dalam negeri, termasuk di lingkungan pemerintah provinsi,
kabupaten/kota.
Visi yang ingin diraih dengan menggelar konsep Sistem Informasi Nasional
adalah: ”terwujudnya masyarakat berbudaya informasi menuju bangsa yang mandiri,
demokratis, dan sejahtera dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia”
(Kementrian Kominfo, 2003 : 102). Untuk mendukung visi tersebut, misi yang harus
dicapai dalam waktu dekat di antaranya adalah (Kementrian Kominfo, 2003 : 104):
1. Mengembangkan sumber daya manusia di bidang komunikasi dan informasi
dalam rangka mengurangi kesenjangan terhadap teknologi komunikasi dan
5
informasi (information and communication technology) dan meningkatkan
kemandirian masyarakat;
2. Meningkatkan kualitas layanan publik melalui pemanfaatan dan pengembangan
teknologi komunikasi dan informasi dalam upaya meningkatkan pemerataan
informasi;
3. Meningkatkan daya jangkau jaringan teknologi komunikasi dan informasi
melalui optimasi berbagai sarana, baik modern maupun tradisional yang tersedia
dengan meningkatkan peran serta masyarakat dalam rangka memperkuat
persatuan dan kesatuan bangsa;
4. Meningkatkan kualitas dan arus teknologi komunikasi dan informasi beretika
dan bertanggungjawab untuk mencerdaskan bangsa;
5. Mendorong kemandirian industri lainnya melalui koordinasi aktif serta sinergi
dengan instansi pemerintah yang terkait, sektor bisnis dan komunitas dalam
upaya meningkatkan daya saing industri nasional;
6. Meningkatkan pemanfaatan informasi oleh publik di dalam dan di luar negeri,
dalam upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memperbaiki citra
Indonesia di luar negeri.
Penerapan SIASN, khususnya SIASN berbasis Web, juga memberikan manfaat
dan keunggulan yang sangat besar dalam pelayanan kepegawaian, diantaranya
adalah: pertama, memfasilitasi pelayanan kepegawaian yang terintegrasi mulai
usulan dari instansi, proses penetapan persetujuan, penetapan SK di BKN sampai
dengan penetapan SK oleh Instansi.
Namun demikian, sejauh pengamatan penulis di lapangan, fenomena-
fenomena yang menggambarkan masih belum optimalnya penerapan Teknologi
Informasi di lingkungan Badan Kepegawaian Dan Pengembangan Sumber Daya
Manusia Kabupaten Aceh Jaya, ditunjukkan dan dikarenakan antara lain:
1. Belum optimalnya kompetensi sumber daya manusia atau pegawai yang
menangani langsung Teknologi Informasi di lingkungan Badan Kepegawaian
Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Aceh Jaya, khususnya
kompetensi pegawai dalam jabatan fungsional pranata komputer. Hal ini sedikit
6
banyak dapat menyebabkan kesulitan dalam menerapkan Teknologi Informasi
yang digunakan dan sekaligus mengembangkan aplikasi yang diperlukan.
2. Belum optimalnya pengembangan atau peningkatan kualitas pegawai, khususnya
pegawai dalam jabatan fungsional pranata komputer. Hal ini dapat disebabkan
terbatasnya anggaran yang dialokasikan bagi pengembangan pegawai, juga
masalah-masalah lainnya terkait dengan komitmen untuk pengembangan
pegawai.
3. Masih kurangnya kerjasama dan koordinasi antar unit kerja terkait dalam
penerapan Teknologi Informasi, khususnya dalam pelayanan kepegawaian. Hal
ini antara lain dikarenakan kurang berjalannya komunikasi yang baik diantara
unit kerja dalam organisasi. Kondisi ini pada akhirnya dapat menyebabkan
terhambatnya penyelesaian pelayanan kepegawaian kepada pelanggannya.
4. Masih kurangnya adaptasi terhadap perkembangan Teknologi Informasi dalam
pengelolaan administrasi kepegawaian. Dalam kaitan ini, masih terdapat
pegawai atau unit kerja yang belum mampu dan mau menggunakan Teknologi
Informasi sebagai alat bantu dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan
administratif pelayanan kepegawaian.
5. Masih kurangnya integritas, komitmen dan konsistensi para pegawai (baik
pegawai dalam jabatan funsional umum maupun pegawai dalam jabatan
fungsional pranata komputer) terhadap tugas atau pekerjaan yang harus
diemban, sehingga seringkali penyelesaian tugas dan pekerjaan tidak sesuai
dengan waktu yang ditetapkan.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, penulis sedikit dapat membuat
kesimpulan awal bahwa penerapan atau pengelolaan Teknologi Informasi di
lingkungan Badan Kepegawaian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Kabupaten Aceh Jaya belum berjalan secara optimal. Dengan demikian, dalam
pelayanan kepegawaian kepada pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders)
serta kepada para Pegawai Negeri Sipil juga belum menunjukkan kinerja yang baik.
7
B. Rumusan Masalah
Dari permasalahan di atas, kemudian dijabarkan menjadi rumusan
masalah sebagai berikut:
a. bagaimanakah peningkatan pengelolaan Teknologi Informasi di lingkungan
Badan Kepegawaian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten
Aceh Jaya?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan Penulisan ini adalah untuk :
1. Untuk mengetahui Penerapan Teknologi Informasi Dalam Mendukung
Peningkatan Pelayanan Pegawai Negeri Sipil di kabupaten Aceh Jaya.
D. Manfaat Penulisan
Diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan menambah wawasan
penulis tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Penerapan Teknologi
Informasi Dalam Mendukung Peningkatan Pelayanan Pegawai Negeri Sipil di
kabupaten Aceh Jaya agar dapat memfasilitasi pelayanan kepegawaian yang
terintegrasi mulai usulan dari instansi, proses penetapan persetujuan, penetapan
SK di BKN sampai dengan penetapan SK oleh Instansi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
1. Tinjauan Pustaka
a. Teknologi Informasi
Pada saat ini, salah satu hal yang mendukung berjalannya Sistem Informasi
Manajemen dan telah menjadi trend dalam organisasi adalah Teknologi Informasi
(TI). Dalam hal ini, Teknologi Informasi dapat didefinisikan sebagai ”teknologi yang
digunakan untuk menyimpan, menghasilkan, mengolah, serta menyebarkan
informasi” (Ma’in, 2006 : 1). Berdasar definisi tersebut, menggambarkan bahwa
Teknologi Informasi tergantung pada kombinasi komputasi dan teknologi
telekomunikasi berbasis mikroelektronik.
Sementara itu, pendapat lain tentang Teknologi Informasi yang lebih
terperinci serta mengandung beberapa hal, terutama terkait dengan data dan
informasi dikemukakan oleh Senn. Lebih jauh Senn (1995 : 12) menjelaskan:
”the term of information technology refers to a wide variety of items
and abilities used in the creation, storage, and dispersal of information. Its
important to distinguish between data, information, and knowledge”.
Dari definisi di atas istilah Teknologi Informasi menunjuk pada keberagaman hal
dan kemampuan-kemampuan yang digunakan untuk mencipta, penyimpanan, dan
penyebaran informasi. Hal-hal tersebut untuk membedakan antara data,
informasi dan ilmu pengetahuan). Dalam hal ini, data dimaksudkan sebagai fakta-
fakta dasar, gambaran-gambaran dan detail-detail yang sederhana. Informasi
adalah data yang terorganisasi/terstruktur, data yang memiliki arti, dan data yang
digunakan untuk interpretasi. Ilmu pengetahuan adalah sebuah kesadaran dan
8
9
pemahaman terhadap serangkaian informasi dan bagaimana informasi itu dapat
digunakan secara lebih baik.
b. Penerapan Teknologi Informasi
Menurut Senn (1995 : 23), terdapat enam fungsi dari teknologi informasi,
yaitu: penerapan/prosesing, menghasilkan, penyimpanan dan mendapatkan kembali,
menyalurkan (misalnya menyalurkan kepada tempat lain secara bertahap/berurutan).
Dalam banyak kasus, dua atau lebih fungsi-fungsi tersebut bekerja secara bersamaan.
Berkaitan dengan fungsi penerapan (processing) teknologi informasi biasanya
merupakan aktifitas yang dilakukan sebagai alasan bagi orang dan organisasi penjual
komputer. Penerapan teknologi informasi (processing) adalah ”proses yang meliputi
mengubah, menganalisis, menghitung dan menyatukan semua bentuk data atau
informasi” (Senn, 1995 : 23). Dalam penerapan teknologi informasi, khususnya
pada aplikasi komputer, terdapat dua hal yang melingkupi, yakni: data processing
dan information processing. Data processing merupakan proses melayani data dan
menyebarkannya kedalam informasi. Sedangkan, information processing merupakan
istilah umum pada akttifitas komputer yang menyelenggarakan proses atas beberapa
jenis informasi dan menyebarkannya kedalam jenis-jenis informasi yang berbeda.
Di sisi lain, terdapat pula tipe-tipe dalam penerapan (processing) teknologi
informasi, yaitu:
a. Word processing, merupakan proses untuk membuat dokumen-dokumen yang
berbasis teks (tulisan), yang meliputi pembuatan laporan-laporan, surat kabar,
dan korespondensi. Sistem Word processing ini membantu orang dalam
memasukan data, teks, dan gambar serta mempresentasikannya dalam bentuk
yang sangat menarik.
b. Image Processing, merupakan proses untuk mengubah informasi yang berbentuk
visual (gambar) seperti grafik, foto dan sebagainya; kedalam format yang dapat
diatur dengan sistem komputer atau menyebarkannya antar manusia dan antar
10
tempat. Proses ini disebut scanning yang mengubah cetakan atau gambar film
kedalam suatu bentuk yang dapat dilakukan komputer.
c. Voice Processing, merupakan proses informasi yang bersuara. Pada saat ini,
informasi bersuara lebih sering digunakan melalui telepon. Sistem lain yang
dapat dipakai orang untuk memberikan informasi bersuara secara langsung
melalui sistem komputer juga semakin berkembang.
Dalam konteks implementasi atau penerapan teknologi informasi (TI) di
lingkungan pemerintah, konsep yang sering dipakai adalah penerapan e-government.
Bank Dunia (2002 : 2) menjelaskan lebih terperinci mengenai penerapan e-
government sebagai:
”E-Government berkaitan dengan teknologi informasi (seperti wide
area network, internet, dan komuniasi bergerak) oleh lembaga pemerintah
yang mempunyai kemampuan untuk mentransformasikan hubungan
pemerintah dengan warganya, pelaku dunia usaha (bisnis), dan lembaga
pemerintah lainnya. Teknologi ini dapat mempunyai tujuan yang beragam,
antara lain: pemberian layanan pemerintahan yang lebih baik kepada
warganya, peningkatan interaksi dengan dunia usaha dan industri,
pemberdayaan masyarakat melalui akses informasi, atau manajemen
pemerintahan yang lebih efisien. Hasil yang diharapkan dapat berupa
pengurangan korupsi, peningkatan transparansi, peningkatan kenyamanan,
pertambahan pendapatan dan/atau pengurangan biaya”.
11
Dari definisi di atas dapat ditarik unsur-unsur obyek, tujuan dan alatnya
sebagai terlihat pada gambar di bawah ini:
Gambar: 1
Unsur-unsur Definisi e-Government
E-Government diartikan sebagai:
alat
Penggunaan teknologi informasi
dn komunikasi (ICT)
tujuan
Untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas,
transaparansi, dan akuntabilitas
obyek
layanan pemerintah
Sumber: Djunaedi, 2002 : 3.
12
Kaitannya dengan penerapan E-Government ini, Kartajaya dkk. (2002 : 330-
331) menjelaskan adanya tiga tahapan pengembangan layanan E-Government, yaitu:
Tahap I : Menerbitkan informasi tentang diri sendiri bagi kepentingan warga dan
kalangan bisnis (lewat web/internet), juga menyediakan fasilitas
komunikasi dua arah.
Tahap II : Aplikasi internet yang memungkinkan data dapat dikumpulkan (online),
diolah, dan disebarluaskan dalam bentuk baru (agar lebih efisien),
meskipun sebagian proses pemberian servis tetap secara offline, publik
dapat memantau kinerja secara online.
Tahap III : Aplikasi extranet yang memungkinkan warga wilayah dapat mengisi
blangko aplikasi secara online (lewat internet).
Dalam konteks penerapan E-Government di Indonesia, pemerintah telah
mengeluarkan suatu kebijakan yang tercantum dalam Instruksi Presiden RI Nomor 3
Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government.
Dalam kebijakan tersebut diungkapkan bahwa pengembangan E-Government
merupakan upaya untuk mengembangkan penyelenggaraan kepemerintahan yang
berbasis (menggunakan) elektronik dalam rangka meningkatkan kualitas layanan
publik secara efektif dan efisien. Melalui pengembangan E-Government dilakukan
penataan sistem manajemen dan proses kerja di lingkungan pemerintah dengan
mengoptimalisasikan pemanfaatan teknologi informasi. Pemanfaatan teknologi
informasi tersebut mencakup dua aktifitas yang berkaitan, yaitu (Instruksi Presiden
RI Nomor 3 Tahun 2003):
a. Pengolahan data, pengelolaan informasi, sistem manajemen dan proses kerja
secara elektronis;
b. Pemanfaatan kemajuan teknologi informasi agar pelayanan publik dapat diakses
secara mudah dan murah oleh masyarakat di seluruh wilayah negara.
13
Dalam mengembangkan sistem manajemen dan memanfaatkan kemajuan
teknologi informasi dan komunikasi, maka pemerintah harus segera
melaksanakan proses transformasi menuju e-goverment.
Selanjutnya, dalam kebijakan di atas disebutkan bahwa pengembangan E-
Government diarahkan untuk mencapai empat tujuan, yakni :
a. Pembentukan jaringan informasi dan transaksi pelayanan publik yang memiliki
kualitas dan lingkup yang dapat memuaskan masyarakat luas serta dapat
terjangkau diseluruh wilayah Indonesia pada setiap saat tidak dibatasi oleh sekat
waktu dan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat.
b. Pembentukan hubungan interaktif dengan dunia usaha untuk meningkatkan
perkembangan perekonomian nasional dan memperkuat kemampuan menghadapi
perubahan dan persaingan perdagangan internasional.
c. Pembentukan mekanisme dan saluran komunikasi dengan lembaga-lembaga
negara serta penyediaan fasilitas dialog publik bagi masyarakat agar dapat
berpartisipasi dalam perumusan kebijakan negara.
d. Pembentukan sistem manajemen dan proses kerja yang transparan dan efisien
serta memperlancar transaksi dan layanan antar lembaga pemerintah dan
pemerintah daerah otonom.
Menurut Alter (1996 : 369), untuk melihat pencapaian (performance)
penerapan teknologi informasi dapat dilihat dari beberapa variabel di bawah ini:
14
Tabel : 1
Variabel Pencapaian Penerapan Teknologi Informasi
No Variabel Indikator Pencapaian
1 Kemampuan dan Kapasitas
Keterbatasan Fungsi Kecepatan
Harga
Tingkat Kepercayaan
Kondisi Operasional
2 Kemudahan Kualitas Hubungan dengan Penggunanya
Penggunaan Kemudahan untuk Dipindahkan
3 Kecocokan Teknologi Penyesuaian dengan Standar yang ada
Kecocokan/penyesuaian dengan Teknologi
lain
4 Pemeliharaan Dapat Dipisahkan kedalam Modul-modul
Dapat Ditambah dan Dikurangi
Kapasitasnya
Dapat Dirubah Aspek-aspek Pentingnya
Sumber: Alter, Information Systems, a Management Perspective (1996).
d. Pelayanan Pegawai Negeri Sipil
Dalam rangka pelaksanaan cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan Negara
sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, perlu dibangun Aparatur Sipil Negara yang memiliki
integritas, profesional, netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik
korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik
bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan
kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
Pelayanan merupakan tugas utama dari seorang aparatur, sebagai abdi negara
dan abdi masyarakat. tugas ini telah dijelaskan dalam Undag-Undang Dasar 1945
15
alinea keempat yang meliputi 4 (empat) aspek tugas pokok aparatur terhadap
masyarakat, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
ikut melaksanan ketertiban dunia, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Selain itu
diperjelas lagi dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 63
tahun 2003 yang menguraikan pedoman umum penyelenggaraan pelayanan publik.
Pelayanan pada dasarnya dapat didefinisikan sebagai aktivitas seseorang,
sekelompok dan atau organisasi baik langsung maupun tidak langsung untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan. Pelayanan diberikan sebagai tindakan seseorang
untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan. Dalam artian bahwa pelayan
langsung berhadapan dengan pelanggan dengan menempatkan pelanggan sebagai
sesuatu yang urgen.
Pelayanan administrasi kepegawaian adalah salah satu jenis pelayanan publik
yang masih sering mendapatkan sorotan baik pelayanan kepada pelanggan internal
maupun pelanggan eksternal. Pelayanan yang diberikan oleh adminitrasi
kepegawaian menyangkut nasib pegawai negeri sipil dalam jumlah yang besar.
Untuk itulah, berbagai kekurangan dan kelemahan yang dimiliki perlu untuk
direnungkan dan dievaluasi guna mendapat penyempurnaan, sehingga pelayanan
kepegawaian ke depan lebih sederhana dengan tetap tidak menghilangkan esensi
dasar bahwa hak kepegawaian dapat diperoleh manakala kewajibannya telah
dipenuhi oleh PNS bersangkutan. (Purwaka, 2010). Selanjutnya dikatakan bahwa
kecepatan dalam pelayanan kepegawaian akan memberikan nilai lebih manakala
dalam proses penyelesaiannya dapat dilakukan tepat waktu dan tepat sasaran.
16
Sedangkan kecermatan diperlukan agar titik keputusan kepegawaian tersebut aman
dan tidak terindikasi hukum di kemudian hari. (Purwaka, 2010).
Dalam rangka upaya peningkatan kemampuan dan keterampilan diri pegawai,
perlu dilakukan berbagai upaya, diantaranya melalui program pendidikan dan
pelatihan yang berkenaan dengan tugas dari masingmasing pegawai, sehingga
mereka akan paham dan mengerti apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya
serta tahu bagaimana melaksanakan tugas tersebut. Selama ini pegawai hanya
mengandalkan pengalaman sehingga mutu pelayanan yang mereka berikan tidak
menunjukkan suatu kemajuan yang berarti dikarenakan mereka sendiri sudah terpola
pada pelayanan yang bersifat rutinitas. Selain faktor pendidikan, faktor usia juga
dapat menentukan kualitas pelayanan yang diberikan oleh pegawai.
Faktor yang mendukung pelaksanaan pelayanan administrasi kepegawaian
adalah jumlah pegawai yang cukup dan masih adanya sebagian pegawai yang
memiliki semangat dan motivasi kerja, serta imbalan/kompensasi yang memadai.
Sedangkan faktor yang menghambat adalah kemampuan pegawai, sarana penunjang
peayanan yang kurang lengkap, kedisiplinan sebagian pegawai yang masih rendah,
serta pembinaan dan pengawasan dari pimpinan unit kerja yang belum sesuai
harapan.
BAB III
OBJEK DAN METODE PENULISAN
1. Objek Penulisan
Berdasarkan judul penelitian maka penulis menuntukan objek penulisannya
adalah bagaimana peningkatan pengelolaan Teknologi Informasi di lingkungan
Badan Kepegawaian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Aceh
Jaya.
2. Metode Penulisan
Penelitian merupakan suatu kegiatan yang di lakukan untuk memperoleh
kebenaran pengetahuan yang bersifat ilmiah melalui prosedur yang telah ditentukan
untuk mencari kebenaran secara sistematis dengan menggunakan metode ilmiah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.
Penelitian ini dilakukan pendekatan kualitatif, sedangkan penulisan
menggunakan metode deskriptif berarti membicarakan sesuatu yang didalamnya
mencakup pandangan-pandangan mengenai realitas objek yang didalam ilmu-ilmu
sosial dan tingkah laku bukan hanya membicarakan tentang metode penelitian yang
sifatnya teknis metodologis dalam pekerjaan penelitian.
Menurut Saebani (2014: 89) menjelaskan bahwa:
Dalam penelitian kualitatif, dominasi filsafat ilmu cukup kuat, karena
penalaran ilmiah lebih banyak menggunakan logika, baik deduktif
maupun induktif. Di antara jenis penelitian kualitatif adalah penelitian
yang menggunakan metode penelitian eksploratif dan metode penelitian
deskriptif. Metode penelitian eksploratif, bertujuan untuk memahami
eksistensi dan elevansi antara berbagai fenomena dalam perilaku sosial
secara komprehensif. Semua operasionalitas di lapangan dilakukan
secara tersusun sebagai upaya untuk menjawab berbagai pertanyaan yang
telah disiapkan sesuai dengan masalah penelitian. Metode penelitian
deskriptif dipergunakan untuk menggambarkan berbagai gejala dan fakta
yang terdapat dalam kehidupan sosial secara mendalam. Metode ini
bertujuan melukiskan dan memahami model kebudayaan suatu
17
18
masyarakat secara fenomenologi dan apa adanya dalam konteks satu
kesatuan yang integral.
Penelitian kualitatif tidak menekan pada generalisasi tetapi lebih pada
kedalaman informasi atau makna. Penggunaan metode kualitatif dalam penelitian ini
adalah untuk mendapatkan data yang lebih lengkap, mendalam, kredibel dan
bermakna sehingga tujuan penelitian dapat tercapai.
BAB IV
PEMBAHASAN
1. Penerapan Teknologi Informasi
Penerapan teknologi informasi terkait dengan pelayanan kepegawaian
bagaimanapun telah menjadi langkah strategis bagi Badan Kepegawaian Dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Aceh Jaya dalam ikut mendorong
reformasi birokrasi yang sedang dijalankan Pemerintah. Fokus yang ingin dicapai
dari penerapan teknologi informasi ini adalah untuk meningkatkan kualitas
pelayanan kepegawaian kepada pelanggannya.
Berkaitan dengan hal tersebut sewajarnyalah perhatian terhadap penerapan
teknologi informasi (TI) di lingkungan tempat kerja (organisasi) menjadi hal yang
serius dilakukan. Hal demikian juga telah dilakukan di lingkup Badan Kepegawaian
Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Aceh Jaya, sebagai Instansi
Pemerintah yang mengelola kepegawaian. Dalam upaya menunjang peningkatan
pelayanan kepada masyarakat (stakeholder) Badan Kepegawaian Dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Aceh Jaya telah membangun dan
mengembangkan teknologi informasi yang modern. Pembangunan dan
pengembangan teknologi informasi tersebut merupakan wujud operasional dan
penjabaran salah satu misinya, yaitu ingin ”mewujudkan pelancaran kegiatan instansi
pemerintah di bidang administrasi kepegawaian”.
Dalam konteks di atas, Badan Kepegawaian Dan Pengembangan Sumber Daya
Manusia Kabupaten Aceh Jaya untuk beberapa tahun terakhir ini telah mampu
menerapkan teknologi informasi sebagai basis pelayanan kepegawaian. Dalam hal
ini, penerapan teknologi informasi diterapkan melalui E- Keurani Dan SIASN
(Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara), dimana informasi pelayanan kepegawaian
berbasis elektronik secara online dan terintegrasi untuk digunakan oleh instansi Pusat
maupun Pemerintah Daerah.
Kaitannya dengan hal tersebut, perlu adanya upaya-upaya untuk penerapan
teknologi informasi dalam Peningkatan pelayanan kepegawaian di lingkup Badan
Kepegawaian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Aceh Jaya.
Upaya-upaya tersebut diharapkan akan mewujudkan proses pelayanan kepegawaian
19
20
menjadi lebih cepat dan secara langsung juga akan berdampak pada akurasi database
kepegawaian. Dengan kata lain, penerapan teknologi informasi dalam pelayanan
kepegawaian, dimaksudkan untuk dapat mewujudkan pelayanan kepegawaian yang
berkualitas (services excellent).
Berdasarkan dengan permasalahan-permasalahan yang terkait dengan
pengelolaan atau penerapan Teknologi Informasi di lingkup BKPSDM, maka
beberapa hal perlu dilakukan, adalah:
1. Pimpinan perlu meningkatkan kompetensi pegawai, khususnya pranata
komputer dalam menjalankan tugas-tugas yang berkaitan dengan penerapan
Teknologi Informasi di lingkup Badan Kepegawaian Dan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Kabupaten Aceh Jaya. Peningkatan kompetensi pranata
komputer ini dapat dilakukan melalui pendidikan formal (perkuliahan) maupun
melalui Diklat Teknis atau Diklat Fungsional. Dalam hal ini, pimpinan atau
organisasi perlu melakukan identifikasi atau analisis kebutuhan pelatihan-
pelatihan terhadap pegawai, khususnya pegawai dalam jabatan pranata
komputer.
2. Pimpinan atau organisasi secara berkesinambungan dan terus menerus
meningkatkan upaya pengembangan karier pegawai, khususunya pegawai dalam
jabatan fungsional pranata komputer. Dalam kaitan ini, perlu adanya skema
mutasi atau promosi yang jelas dalam suatu pola karier yang ditetapkan oleh
organisasi.
3. Melakukan kerjasama dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait (stakeholders)
dengan pelayanan kepegawaian di lingkup Badan Kepegawaian Dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Aceh Jaya dan Kantor
Regional Badan Kepegawaian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Kabupaten Aceh Jaya. Hal ini dimaksudkan agar setiap aplikasi yang digunakan
dapat dipahami dan dimengerti oleh semua pihak terkait, sehingga tidak terjadi
perbedaan bentuk-bentuk pelayanan kepegawaian.
4. Sosialisasi terhadap para pejabat dan pegawai terkait penggunaan atau penerapan
Teknologi Informasi di lingkungan Badan Kepegawaian Dan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Kabupaten Aceh Jaya. Hal ini penting dilakukan untuk
21
memberikan pemahaman tentang arti pentingnya penerapan Teknologi Informasi
dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kepegawaian. Kegiatan ini
dapat dilakukan melalui seminar/workshop atau pertemuan-pertemuan formal
lainnya.
5. Meningkatkan integritas, komitmen dan konsistensi para pegawai (baik pegawai
dalam jabatan funsional umum maupun pegawai dalam jabatan fungsional
pranata komputer) terhadap tugas atau pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menerapakan reward and punishment
yang jelas dan tegas kepada para pegawai. Hal ini diharapkan dapat mendorong
semangat atau motivasi kerja seluruh pegawai dalam organisasi.
6. Pimpinan atau organisasi juga perlu memberikan pelatihan-pelatihan lain untuk
meningkatkan sikap/perilaku pranata komputer, sehingga dapat meningkatkan
integritas dan komitmennya terhadap pekerjaan dan organisasi.
BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Pada hakekatnya penerapan Teknologi Informasi di lingkungan Badan
Kepegawaian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Aceh Jaya
dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepegawaian. Untuk itu,
penerapan teknologi informasi dalam pelayanan kepegawaian menjadi langkah
strategis bagi Badan Kepegawaian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Kabupaten Aceh Jaya dalam ikut mendorong reformasi birokrasi yang sedang
dijalankan Pemerintah. Fokus yang ingin dicapai dari penerapan teknologi informasi
ini adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepegawaian kepada
pelanggannya. Namun demikian, penerapan Teknologi Informasi yang ada (melalui
SIASN) juga belum berjalan secara optimal dan masih terdapat permasalahan-
permasalahan yang melingkupinya. Hal demikian menjadikan pelayanan
kepegawaian kepada pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) serta kepada
para Pegawai Negeri Sipil juga belum menunjukkan hasil yang memuaskan.
2. Saran
Berdasarkan pada pelaksanaan kegiatan ini, saran yang dapat diberikan,
atasan seharusnya lebih sering mensosialisasikan terkait peraturan pegawai kepada
para PNS, pelayanan administrasi kepegawaian dan juga harus sering memberi
motivasi kepada para PNS BKPSDM Aceh Jaya agar PNS termotivasi untuk lebih
kreatif dan inovatif demi meningkatkan kualitas pelayanan kepegawaian
dilingkungan Pemerintahan Kabupaten Aceh Jaya.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, maka pimpinan di lingkup Badan
Kepegawaian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Aceh Jaya
perlu memiliki komitmen untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia
secara berkesinambungan, melakukan sosialisasi kepada pejabat dan para pegawai
terhadap penerapan teknologi informasi, meningkatkan koordinasi dengan unit-unit
kerja terkait, serta meningkatkan komitmen dan integritas para pegawai, khususnya
pranata komputer.
22
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Referensi:
Abdul Ma’in, 2006, ”Teknologi Informasi Dalam Sistem Jaringan Perpustakaan
Perguruan Tinggi”, Jakarta.
Alter, Steven, 1996, Information Systems, a Management Perspective, The
Benjamin/Cumming Publishing Company Inc, Menlo Park, CA.
Kartajaya, 2002, Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia, Jakarta.
Purwaka, 2010, Tingkatkan Pelayanan Kepegawaian (pidato Pelantikan Kepala BKD
Jawa Timur) [Link]/, diakses pada tangal 15 Mei 2011
Senn, James A., 1995, Information Technology in Business, Principles, Practices, and
Opportunities, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.
Dokumen:
Pemerintah Republik Indonesia, Tap MPR RI Nomor II/MPR/1993 tentang GBHN.
Presiden Republik Indonesia, Instruksi Presiden R.I Nomor 3 Tahun 2003 tentang
Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government.
Menteri Kominfo, Keputusan Menteri Kominfo Nomor 2003 Tahun 1995 tentang
Sistem Informasi Manajemen [Link]. (2012) . Human resource
Management. New Jersey: Prentice hall.