BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
1. Tinjauan Pustaka
a. Teknologi Informasi
Pada saat ini, salah satu hal yang mendukung berjalannya Sistem Informasi
Manajemen dan telah menjadi trend dalam organisasi adalah Teknologi Informasi
(TI). Dalam hal ini, Teknologi Informasi dapat didefinisikan sebagai ”teknologi yang
digunakan untuk menyimpan, menghasilkan, mengolah, serta menyebarkan
informasi” (Ma’in, 2006 : 1). Berdasar definisi tersebut, menggambarkan bahwa
Teknologi Informasi tergantung pada kombinasi komputasi dan teknologi
telekomunikasi berbasis mikroelektronik.
Sementara itu, pendapat lain tentang Teknologi Informasi yang lebih
terperinci serta mengandung beberapa hal, terutama terkait dengan data dan
informasi dikemukakan oleh Senn. Lebih jauh Senn (1995 : 12) menjelaskan:
”the term of information technology refers to a wide variety of items
and abilities used in the creation, storage, and dispersal of information. Its
important to distinguish between data, information, and knowledge”.
Dari definisi di atas istilah Teknologi Informasi menunjuk pada keberagaman hal
dan kemampuan-kemampuan yang digunakan untuk mencipta, penyimpanan, dan
penyebaran informasi. Hal-hal tersebut untuk membedakan antara data,
informasi dan ilmu pengetahuan). Dalam hal ini, data dimaksudkan sebagai fakta-
fakta dasar, gambaran-gambaran dan detail-detail yang sederhana. Informasi
adalah data yang terorganisasi/terstruktur, data yang memiliki arti, dan data yang
digunakan untuk interpretasi. Ilmu pengetahuan adalah sebuah kesadaran dan
8
9
pemahaman terhadap serangkaian informasi dan bagaimana informasi itu dapat
digunakan secara lebih baik.
b. Penerapan Teknologi Informasi
Menurut Senn (1995 : 23), terdapat enam fungsi dari teknologi informasi,
yaitu: penerapan/prosesing, menghasilkan, penyimpanan dan mendapatkan kembali,
menyalurkan (misalnya menyalurkan kepada tempat lain secara bertahap/berurutan).
Dalam banyak kasus, dua atau lebih fungsi-fungsi tersebut bekerja secara bersamaan.
Berkaitan dengan fungsi penerapan (processing) teknologi informasi biasanya
merupakan aktifitas yang dilakukan sebagai alasan bagi orang dan organisasi penjual
komputer. Penerapan teknologi informasi (processing) adalah ”proses yang meliputi
mengubah, menganalisis, menghitung dan menyatukan semua bentuk data atau
informasi” (Senn, 1995 : 23). Dalam penerapan teknologi informasi, khususnya
pada aplikasi komputer, terdapat dua hal yang melingkupi, yakni: data processing
dan information processing. Data processing merupakan proses melayani data dan
menyebarkannya kedalam informasi. Sedangkan, information processing merupakan
istilah umum pada akttifitas komputer yang menyelenggarakan proses atas beberapa
jenis informasi dan menyebarkannya kedalam jenis-jenis informasi yang berbeda.
Di sisi lain, terdapat pula tipe-tipe dalam penerapan (processing) teknologi
informasi, yaitu:
a. Word processing, merupakan proses untuk membuat dokumen-dokumen yang
berbasis teks (tulisan), yang meliputi pembuatan laporan-laporan, surat kabar,
dan korespondensi. Sistem Word processing ini membantu orang dalam
memasukan data, teks, dan gambar serta mempresentasikannya dalam bentuk
yang sangat menarik.
b. Image Processing, merupakan proses untuk mengubah informasi yang berbentuk
visual (gambar) seperti grafik, foto dan sebagainya; kedalam format yang dapat
diatur dengan sistem komputer atau menyebarkannya antar manusia dan antar
10
tempat. Proses ini disebut scanning yang mengubah cetakan atau gambar film
kedalam suatu bentuk yang dapat dilakukan komputer.
c. Voice Processing, merupakan proses informasi yang bersuara. Pada saat ini,
informasi bersuara lebih sering digunakan melalui telepon. Sistem lain yang
dapat dipakai orang untuk memberikan informasi bersuara secara langsung
melalui sistem komputer juga semakin berkembang.
Dalam konteks implementasi atau penerapan teknologi informasi (TI) di
lingkungan pemerintah, konsep yang sering dipakai adalah penerapan e-government.
Bank Dunia (2002 : 2) menjelaskan lebih terperinci mengenai penerapan e-
government sebagai:
”E-Government berkaitan dengan teknologi informasi (seperti wide
area network, internet, dan komuniasi bergerak) oleh lembaga pemerintah
yang mempunyai kemampuan untuk mentransformasikan hubungan
pemerintah dengan warganya, pelaku dunia usaha (bisnis), dan lembaga
pemerintah lainnya. Teknologi ini dapat mempunyai tujuan yang beragam,
antara lain: pemberian layanan pemerintahan yang lebih baik kepada
warganya, peningkatan interaksi dengan dunia usaha dan industri,
pemberdayaan masyarakat melalui akses informasi, atau manajemen
pemerintahan yang lebih efisien. Hasil yang diharapkan dapat berupa
pengurangan korupsi, peningkatan transparansi, peningkatan kenyamanan,
pertambahan pendapatan dan/atau pengurangan biaya”.
11
Dari definisi di atas dapat ditarik unsur-unsur obyek, tujuan dan alatnya
sebagai terlihat pada gambar di bawah ini:
Gambar: 1
Unsur-unsur Definisi e-Government
E-Government diartikan sebagai:
alat
Penggunaan teknologi informasi
dn komunikasi (ICT)
tujuan
Untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas,
transaparansi, dan akuntabilitas
obyek
layanan pemerintah
Sumber: Djunaedi, 2002 : 3.
12
Kaitannya dengan penerapan E-Government ini, Kartajaya dkk. (2002 : 330-
331) menjelaskan adanya tiga tahapan pengembangan layanan E-Government, yaitu:
Tahap I : Menerbitkan informasi tentang diri sendiri bagi kepentingan warga dan
kalangan bisnis (lewat web/internet), juga menyediakan fasilitas
komunikasi dua arah.
Tahap II : Aplikasi internet yang memungkinkan data dapat dikumpulkan (online),
diolah, dan disebarluaskan dalam bentuk baru (agar lebih efisien),
meskipun sebagian proses pemberian servis tetap secara offline, publik
dapat memantau kinerja secara online.
Tahap III : Aplikasi extranet yang memungkinkan warga wilayah dapat mengisi
blangko aplikasi secara online (lewat internet).
Dalam konteks penerapan E-Government di Indonesia, pemerintah telah
mengeluarkan suatu kebijakan yang tercantum dalam Instruksi Presiden RI Nomor 3
Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government.
Dalam kebijakan tersebut diungkapkan bahwa pengembangan E-Government
merupakan upaya untuk mengembangkan penyelenggaraan kepemerintahan yang
berbasis (menggunakan) elektronik dalam rangka meningkatkan kualitas layanan
publik secara efektif dan efisien. Melalui pengembangan E-Government dilakukan
penataan sistem manajemen dan proses kerja di lingkungan pemerintah dengan
mengoptimalisasikan pemanfaatan teknologi informasi. Pemanfaatan teknologi
informasi tersebut mencakup dua aktifitas yang berkaitan, yaitu (Instruksi Presiden
RI Nomor 3 Tahun 2003):
a. Pengolahan data, pengelolaan informasi, sistem manajemen dan proses kerja
secara elektronis;
b. Pemanfaatan kemajuan teknologi informasi agar pelayanan publik dapat diakses
secara mudah dan murah oleh masyarakat di seluruh wilayah negara.
13
Dalam mengembangkan sistem manajemen dan memanfaatkan kemajuan
teknologi informasi dan komunikasi, maka pemerintah harus segera
melaksanakan proses transformasi menuju e-goverment.
Selanjutnya, dalam kebijakan di atas disebutkan bahwa pengembangan E-
Government diarahkan untuk mencapai empat tujuan, yakni :
a. Pembentukan jaringan informasi dan transaksi pelayanan publik yang memiliki
kualitas dan lingkup yang dapat memuaskan masyarakat luas serta dapat
terjangkau diseluruh wilayah Indonesia pada setiap saat tidak dibatasi oleh sekat
waktu dan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat.
b. Pembentukan hubungan interaktif dengan dunia usaha untuk meningkatkan
perkembangan perekonomian nasional dan memperkuat kemampuan menghadapi
perubahan dan persaingan perdagangan internasional.
c. Pembentukan mekanisme dan saluran komunikasi dengan lembaga-lembaga
negara serta penyediaan fasilitas dialog publik bagi masyarakat agar dapat
berpartisipasi dalam perumusan kebijakan negara.
d. Pembentukan sistem manajemen dan proses kerja yang transparan dan efisien
serta memperlancar transaksi dan layanan antar lembaga pemerintah dan
pemerintah daerah otonom.
Menurut Alter (1996 : 369), untuk melihat pencapaian (performance)
penerapan teknologi informasi dapat dilihat dari beberapa variabel di bawah ini:
14
Tabel : 1
Variabel Pencapaian Penerapan Teknologi Informasi
No Variabel Indikator Pencapaian
1 Kemampuan dan Kapasitas
Keterbatasan Fungsi Kecepatan
Harga
Tingkat Kepercayaan
Kondisi Operasional
2 Kemudahan Kualitas Hubungan dengan Penggunanya
Penggunaan Kemudahan untuk Dipindahkan
3 Kecocokan Teknologi Penyesuaian dengan Standar yang ada
Kecocokan/penyesuaian dengan Teknologi
lain
4 Pemeliharaan Dapat Dipisahkan kedalam Modul-modul
Dapat Ditambah dan Dikurangi
Kapasitasnya
Dapat Dirubah Aspek-aspek Pentingnya
Sumber: Alter, Information Systems, a Management Perspective (1996).
d. Pelayanan Pegawai Negeri Sipil
Dalam rangka pelaksanaan cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan Negara
sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, perlu dibangun Aparatur Sipil Negara yang memiliki
integritas, profesional, netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik
korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik
bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan
kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
Pelayanan merupakan tugas utama dari seorang aparatur, sebagai abdi negara
dan abdi masyarakat. tugas ini telah dijelaskan dalam Undag-Undang Dasar 1945
15
alinea keempat yang meliputi 4 (empat) aspek tugas pokok aparatur terhadap
masyarakat, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
ikut melaksanan ketertiban dunia, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Selain itu
diperjelas lagi dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 63
tahun 2003 yang menguraikan pedoman umum penyelenggaraan pelayanan publik.
Pelayanan pada dasarnya dapat didefinisikan sebagai aktivitas seseorang,
sekelompok dan atau organisasi baik langsung maupun tidak langsung untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan. Pelayanan diberikan sebagai tindakan seseorang
untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan. Dalam artian bahwa pelayan
langsung berhadapan dengan pelanggan dengan menempatkan pelanggan sebagai
sesuatu yang urgen.
Pelayanan administrasi kepegawaian adalah salah satu jenis pelayanan publik
yang masih sering mendapatkan sorotan baik pelayanan kepada pelanggan internal
maupun pelanggan eksternal. Pelayanan yang diberikan oleh adminitrasi
kepegawaian menyangkut nasib pegawai negeri sipil dalam jumlah yang besar.
Untuk itulah, berbagai kekurangan dan kelemahan yang dimiliki perlu untuk
direnungkan dan dievaluasi guna mendapat penyempurnaan, sehingga pelayanan
kepegawaian ke depan lebih sederhana dengan tetap tidak menghilangkan esensi
dasar bahwa hak kepegawaian dapat diperoleh manakala kewajibannya telah
dipenuhi oleh PNS bersangkutan. (Purwaka, 2010). Selanjutnya dikatakan bahwa
kecepatan dalam pelayanan kepegawaian akan memberikan nilai lebih manakala
dalam proses penyelesaiannya dapat dilakukan tepat waktu dan tepat sasaran.
16
Sedangkan kecermatan diperlukan agar titik keputusan kepegawaian tersebut aman
dan tidak terindikasi hukum di kemudian hari. (Purwaka, 2010).
Dalam rangka upaya peningkatan kemampuan dan keterampilan diri pegawai,
perlu dilakukan berbagai upaya, diantaranya melalui program pendidikan dan
pelatihan yang berkenaan dengan tugas dari masingmasing pegawai, sehingga
mereka akan paham dan mengerti apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya
serta tahu bagaimana melaksanakan tugas tersebut. Selama ini pegawai hanya
mengandalkan pengalaman sehingga mutu pelayanan yang mereka berikan tidak
menunjukkan suatu kemajuan yang berarti dikarenakan mereka sendiri sudah terpola
pada pelayanan yang bersifat rutinitas. Selain faktor pendidikan, faktor usia juga
dapat menentukan kualitas pelayanan yang diberikan oleh pegawai.
Faktor yang mendukung pelaksanaan pelayanan administrasi kepegawaian
adalah jumlah pegawai yang cukup dan masih adanya sebagian pegawai yang
memiliki semangat dan motivasi kerja, serta imbalan/kompensasi yang memadai.
Sedangkan faktor yang menghambat adalah kemampuan pegawai, sarana penunjang
peayanan yang kurang lengkap, kedisiplinan sebagian pegawai yang masih rendah,
serta pembinaan dan pengawasan dari pimpinan unit kerja yang belum sesuai
harapan.