BAB II
PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MEMBENTUK
KEPRIBADIAN ANAK MELALUI KEGIATAN KEAGAMAAN DI
MADRASAH TSANAWIYAH
A. Pendidikan Karakter
1. Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah gerakan nasional menciptakan sekolah yang
membina etika, bertanggung jawab dan merawat orang-orang muda dengan
pemodelan dan mengajarkan karakter baik melalui penekanan pada nilai-nilai
yang kita yakini dengan melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan
(feelings), dan tindakan (action) (Damayanti, 2014: 11).
Pendapat lain tentang pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan
secara individu dan sosial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi
pertumbuhan kebebasan individu itu sendiri. (Koesoema, 2010: 194).
Pendidikan karakter adalah proses upaya secara sadar dan terencana untuk
meningkatkan kualitas pendidikan anak didik serta mengembangkan perilaku agar
memiliki kompetensi intelektual, karakter, dan keterampilan menarik. (Yahya,
2010: 34).
Pendidikan karakter merupakan pemberian tuntunan kepada anak didik agar
menjadi manusia yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta karsa dan
karya sehingga anak didik memiliki karakter yang baik meliputi kejujuran,
tanggung jawab, cerdas, bersih dan sehat, peduli, dan kreatif. (Zusyani, 2012:
155)
12
13
Definisi lain pendidikan karakter yaitu sebagai upaya yang sungguh-
sungguh untuk membantu seseorang memahami, kepedulian dan bertindak dengan
landasan nilai nilai etis dan luhur. (Muchlas & Hariyanto, 2011: 44). Penjelasan-
penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan karakter adalah
penanaman nilai-nilai karakter yang terpuji dimulai dari sejak dini agar peserta
didik menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan masa depan.
2. Tujuan Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter memiliki berbagai macam tujuan. Berikut adalah
penjelasan dari beberapa ahli mengenai tujuan pendidikan karakter sebagai
berikut:
a. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil
pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia
peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang sehingga peserta didik
dapat menginternalisasikan serta mempersonalisasikan nilai-nilai karakter
dan akhlak mulia tersebut dalam perilaku sehari-hari. (Mulyasa, 2012: 9)
b. Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk bangsa yang tangguh,
kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong,
berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi pada ilmu
pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan taqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila sebagai pedoman
bangsa Indonesia. (Gunawan, 2012: 30).
c. Tujuan pendidikan karakter adalah menumbuhkan fitrah pribadi setiap
anak yang dilahirkan suci agar dapat berkembang secara optimal untuk
14
kehidupan yang lebih baik di masa mendatang dengan peran menyeluruh
dari keluarga, sekolah dan komunitas dengan menciptakan lingkungan
kondusif. (Miftah, 2011: 37).
d. Tujuan pendidikan karakter adalah mengembangkan potensi peserta didik
sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai karakter
bangsa, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji
dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang
religius, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta
didik sebagai generasi penerus bangsa, dan mengembangkan kemampuan
peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan
kebangsaan. (Judiani, 2010: 283).
Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa
tujuan pendidikan karakter adalah membentuk pribadi peserta didik dengan
mental yang kuat agar memiliki nilai-nilai luhur sesuai dengan budaya dan
pedoman bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan UUD 1945 guna menghadapi
tantangan zaman.
3. Nilai-Nilai Karakter
Pendidikan karakter memuat nilai-nilai yang perlu dikembangkan kepada
peserta didik. Nilai-nilai tersebut adalah nilai dasar, nilai kemasyarakatan, dan
nilai kenegaraan. (Damayanti, 2014: 42). Berikut adalah ulasan tentang ketiga
nilai tersebut:
a. Nilai Dasar
15
Nilai dasar yaitu nilai yang terkandung dalam dasar dan falsafah negara,
Pancasila, dan UUD 1945.
b. Nilai Kemasyarakatan
Nilai kemasyarakatan berupa nilai moral dan etika yang berlaku dalam
masyarakat setempat.
c. Nilai Kenegaraan
Nilai kenegaraan adalah nilai yang menyangkut kecintaan terhadap tanah air
dan bangsanya. Semua butir nilai tersebut perlu ditanamkan dan dikembangkan
oleh peserta didik. Nilai-nilai tersebut adalah :
1. Nilai Kejujuran adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan
dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan,
dan pekerjaan baik terhadap diri dan pihak lain.
2. Nilai Kepedulian adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah
dan memperbaiki penyimpangan dan kerusakan manusia, alam, dan tatanan di
sekitar dirinya.
3. Nilai Berfikir adalah berfikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau
logika (logis, kritis, kreatif, dan inovatif) untuk menghasilkan cara atau hasil
baru dari apa yang telah dimiliki.
4. Nilai Tanggung Jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk
melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia
lakukan, terhadap diri sendiri, negara, Tuhan YME, masyarakat, lingkungan,
baik alam, sosial, maupun budaya.
16
5. Nilai Cinta Ilmu adalah cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan
kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan.
6. Nilai Kesantunan adalah sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata
bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang.
7. Nilai Menghargai Keberagaman adalah sikap memberikan respek/hormat
terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya,
suku, dan agama.
8. Nilai Kecerdasan adalah ke mampuan seseorang dalam melakukan tugas
secara cermat, tepat, dan cepat.
9. Nilai Ketangguhan adalah sikap dan perilaku pantang menyerah.
10. Nilai Demokratis adalah cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai
sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
11. Nilai Kemandirian adalah sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung
pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
12. Nilai Keberanian Mengambil Resiko adalah kesiapan menerima resiko yang
timbul akibat tindakan yang dilakukan.
13. Nilai Berorientasi pada Tindakan adalah kemampuan untuk mewujudkan
gagasan menjadi tindakan nyata.
14. Nilai Berjiwa Kepemimpinan adalah kemampuan mengarah dan mengajak
individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.
15. Nilai Kerja Keras adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh
dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas dengan baik.
17
16. Nilai Gaya Hidup Sehat adalah segala upaya untuk menerapkan kebiasaan
baik dalam menciptakan hidup sehat.
17. Nilai Kedisiplinan adalah sikap yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh
pada peraturan.
18. Nilai Percaya Diri adalah sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap
pemenuhan tercapainya setiap keinginan.
19. Nilai Keingintahuan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk
mengetahui lebih dalam dan luas dari apa yang dipelajarinya.
20. Nilai Kesadaran akan Hak dan Kewajiban adalah sikap tahu dan mengerti
serta melaksanakan apa yang menjadi milik diri sendiri atau orang lain serta
tugas dan kewajiban diri sendiri dan orang lain.
21. Nilai Kepatuhan terhadap Aturan Sosial adalah sikap menurut dan taat
terhadap aturan-aturan yang berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan
umum.
22. Nilai Penghargaan pada Karya dan Prestasi Orang Lain adalah sikap dan
tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna
bagi masyarakat, mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.
23. Nilai Menghargai Keberagaman adalah sikap memberikan hormat terhadap
berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan
agama.
Pendapat lain tentang nilai-nilai pendidikan karakter untuk pendidikan
budaya dan bangsa terdiri dari 18 butir (Listyarti, 2012: 5-8) yaitu:
1. Religius
18
Sikap perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya,
toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan
pemeluk agama lain. Religius adalah proses mengikat kembali atau bisa
dikatakan dengan tradisi, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan)
dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang
berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang
selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan kepercayaan.
3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat,
sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya
4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai
ketentuan dan peraturan
5. Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai
ketentuan dan peraturan.
6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari
sesuatu yang telah dimiliki.
7. Mandiri
19
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam
menyelesaikan tugas.
8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban
diriya dan orang lain.
9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam
dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10. Semangat Kebangsaan
Cara berfikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan
bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta Tanah Air
Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian,
dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial,
budaya, ekonomi dan politik bangsa.
12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang
berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan
orang lain.
13. Bersahabat/Komunikatif
20
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerja
sama dengan orang lain.
14. Cinta Damai
Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang
dan aman atas kehadiran dirinya.
15. Gemar Membaca
Membaca kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan
yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada
lingkungan alam disekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk
memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan
masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya,
yang seharusnya dia lakukan, terhadap dirinya maupun orang lain dan
lingkungan sekitarnya.
4. Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya karakter. Beberapa
ahli perpendapat bahwa faktor pembentuk karakter terdiri dari dua macam, yaitu
faktor intern dan faktor ekstern. Berikut adalah penjelasan faktor-faktor tersebut:
21
a. Faktor Intern
Terdapat banyak hal yang mempengaruhi faktor internal ini diantaranya
adalah:
1) Insting atau Naluri
Insting adalah suatu sifat yang dapat menimbulkan perbuatan yang
menyampaikan tujuan dengan berfikir lebih dahulu kearah tujuan itu tanpa
didahului latihan perbuatan itu. Setiap perbuatan manusia lahir dari suatu
kehendak yang digerakkan oleh naluri. Pengaruh naluri pada diri seseorang
tergantung pada bagaimana seseorang menyalurkan naluri tersebut. Naluri
pengaruhnya juga sangat besar. Naluri dapat menjerumuskan manusia kepada
hal yang positif. Sebaliknya naluri dapat condong ke arah negatif apabila tidak
tersalurkan dengan benar (Gunawan, 2012: 19).
2) Adat atau Kebiasaan
Salah satu faktor penting dalam tingkah laku manusia adalah kebiasaan,
karena sikap dan perilaku yang menjadi karakter sangat erat sekali dengan
kebiasaan. Kebiasaan adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang sehingga
mudah untuk dikerjakan. Faktor kebiasaan ini memegang peranan yang sangat
penting dalam membentuk dan membina karakter (Gunawan, 2012: 19).
3) Kehendak atau Kemauan
Kemauan ialah keinginan untuk melangsungkan segala ide walau disertai
dengan berbagai rintangan dan kesukaran. Kehendak atau kemauan dikontrol
22
oleh diri sendiri. Salah satu kekuatan yang berlindung dibalik tingkah laku
adalah kehendak atau kemauan keras. Itulah yang menggerakkan dan
merupakan kekuatan yang mendorong manusia dengan sungguh-sungguh
untuk berprilaku baik, sebab dari kehendak itulah menjelma suatu niat yang
baik dan buruk dan tanpa kemauan semua ide, keyakinan, kepercayaan
pengetahuan menjadi pasif. (Gunawan, 2012: 20)
4) Suara Hati atau Hati Nurani
Hati nurani adalah suatu benih yang telah diciptakan oleh Allah dalam jiwa
manusia. Nurani dapat tumbuh berkembang serta berbunga karena pengaruh
pendidikan, dia akan statis bila tidak ditumbuh kembangkan. Oleh karenanya,
pendidikan karakter tidak akan mencapai sasarannya tanpa disertai
pemupukan hati nurani, yang merupakan kekuatan dari dalam diri manusia,
yang dapat menilai baik dan buruk suatu perbuatan (Santhut, 1998: 93).
5) Hereditas atau Keturunan
Hereditas merupakan sifat-sifat atau ciri yang diperoleh oleh seorang anak atas
dasar keturunan atau pewarisan dari generasi ke generasi melalui sebuah
benih. Dalam islam, sifat atau ciri-ciri bawaan tersebut disebut fitrah. Fitrah
adalah potensi atau kekuatan yang terpendam dalam diri manusia, yang ada
dan tercipta bersama dengan proses penciptaan manusia. Potensi tersebut
tumbuh serta berkembang setelah mendapatkan rangsangan-rangsangan dan
pengaruh dari luar atau faktor ekstern (Tadjab, 1994: 27).
b. Faktor Ekstern
Faktor ekstern atau faktor dari luar pembentuk karaktek diantaranya adalah:
23
1) Pendidikan
Pertumbuhan karakter tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan
secara keseluruhan. Tujuan pendidikan ialah menyiapkan manusia supaya
hidup dengan kehidupan yang sempurna. Pendidikan mempunyai peran yang
sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang sehingga baik dan
buruknya akhlak seseorang sangat tergantung pada pendidikan. Pendidikan
menjadikan manusia sebagai insan kamil. Begitu pentingnya faktor
pendidikan itu sehingga dengan pendidikan naluri yang terdapat pada
seseorang dapat dibangun dengan baik dan terarah. Oleh karena itu,
pendidikan agama perlu dipenerapankan baik dalam pendidikan formal di
sekolah, pendidikan informal di lingkungan keluarga dan pendidikan non
formal yang ada di masyarakat (Yunus, 2012: 5).
2) Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar kita, baik berupa
tumbuhan, keadaan tanah, udara, dan pergaulan manusia dengan alam sekitar
(Gunawan, 2012: 22).
Adapun lingkungan dapat dibagi menjadi beberapa macam yaitu:
a) Lingkungan yang bersifat kebendaan
Alam yang ada disekitar manusia merupakan faktor yang mempengaruhi
dan menentukan tingkah laku manusia. Lingkungan alam ini dapat
mematahkan atau mematangkan pertumbuhan bakat yang dibawa
seseorang. Itu semua dapat terjadi tergantung seseorang tersebut dalam
menyikapinya.
24
b) Lingkungan pergaulan
Seorang yang hidup dalam lingkungan yang baik secara langsung atau
tidak dapat membentuk kepribadian manusia menjadi baik, begitu pula
sebaliknya jika seseorang yang hidup dalam lingkungan yang tidak
mendukung dalam proses pembentukan karakter maka setidaknya dia akan
terbawa atau terpengaruh oleh lingkungan tersebut. Lingkungan teman-
teman yang jahat mempunyai pengaruh yang negatif terhadap
perkembangan anak, bukan hanya perkataannya saja tetapi seluruh
perilaku atau perbuatannya. Jadi dapat dikatakan bahwa lingkungan
pergaulan mempunyai pengaruh yang sangat dominan terhadap
perkembangan anak.
c) Lingkungan keluarga
Anak adalah amanat dari Allah SWT yang dititipkan kepada kedua orang
tua. Tanggung jawab keluarga yakni kedua orang tua terhadap pendidikan
anaknya yaitu mendidik dengan sebaik-baiknya agar menjadi manusia
yang bertakwa. Anak lahir dalam keadaan suci, bersih dan sederhana. Hal
ini menunjukkan bahwa anak lahir dalam keadaan tidak berdaya dan
belum dapat berbuat apa-apa, sehingga masih sangat menggantungkan diri
pada orang lain yang lebih dewasa sehingga kedua orang tua adalah
panutan sosok teladan bagi anak bagaimana dia harus bersikap agar
menjadi manusia yang sebaik-baiknya. Apabila orang tua tidak dapat
menjadi figur contoh yang baik, maka anak akan mencari lingkungan lain
yang mungkin saja belum tentu baik untuknya. Oleh karena itu, tugas
25
orang tualah yang harus menjaga serta mengarahkan anak-anaknya sesuai
dengan ajaran agama serta norma-norma yang ada.
d) Lingkungan yang berwujud kesusasteraan.
Lingkungan ini dikategorikan menjadi dua macam yaitu buku bacaan yang
bermanfaat bagi perkembangan anak dan buku bacaan yang merugikan
perkembangan anak. Nilai-nilai baik yang dapat diambil dari buku dapat
menjadi pembentuk karakter anak. Sebaliknya dengan buku-buku yang
membawa pengaruh buruk akan merusak perkembangan anak. Melalui
buku, segala ilmu pengetahuan serta wawasan diperoleh sehingga harus
selektif dalam pemilihan buku. Oleh karena itu, ini merupakan tugas dan
tanggung jawab seorang pendidik dan keluarga.
5. Pengertian Kegiatan Keagamaan
Kegiatan keagamaan adalah kegiatan yang berkaitan dengan bidang
keagamaan yang ada dalam kehidupan masyarakat sebagai bentuk pelaksanaan
ajaran Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. (Jalaludin, 1993: 56)
Kegiatan keagamaan adalah segala bentuk kegiatan yang terencana dan
terkendali sebagai usaha untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan yang dapat
dilakukan oleh perorangan atau kelompok (Novearti, 2017: 2).
Perilaku keagamaan yaitu segala tindakan, perbuatan atau ucapan yang
dilakukan seseorang sedangkan yang berkaitan dengan agama, semuanya
dilakukan karena adanya kepercayaan kepada Tuhan, ajaran, kebaktian dan
kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan kepercayaan (Fauzi, 2016: 150).
26
Dari penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa kegiatan keagamaan
adalah segala aktivitas yang dilakukan secara individu maupun kelompok yang
berhubungan dengan religius atau spiritual sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan
Yang Maha Esa.
6. Tujuan Kegiatan Keagamaan
Tujuan kegiatan keagamaan yang diambil dari buku Ensiklopedia Islam
Cetakan Ke-3 (1994: 120) adalah:
a. Membina hubungan yang serasi dan teratur antara manusia dan Allah, manusia
dengan pencipta-Nya, manusia dengan lingkungannya, serta manusia dengan
sesamanya dalam rangka membina masyarakat yang bertaqwa kepada Allah
SWT.
b. Menambah ilmu pengetahuan agama.
c. Menjalin silaturahmi.
d. Meningkatkan intensitas dakwah islamiyah kepada siswa dalam rangka
membangun siswa sebagai generasi religius.
e. Membangun kesadaran siswa bahwa kegiatan keagamaan akan memotivasi
sikap beragama.
f. Membangun pribadi siswa dalam beribadah.
g. Menciptakan generasi dengan menciptakan siswa yang memiliki SQ baik
dalam moral dan etika.
h. Meningkatkan kemampuan siswa dalam aspek kognitive, afektif, dan
psikomotorik.
i. Pengembangan bakat dan minat siswa sebagai pembinaan pribadi seutuhnya.
27
7. Jenis Kegiatan Keagamaan
Jenis-jenis kegiatan keagamaan itu berbeda-beda (Daradjat, 1983: 4).
Kegiatan keagamaan menurut sudut pandangnya dijelaskan sebagai berikut:
a. Kegiatan keagamaan Islam yang bersifat umum dan khusus
Kegiatan keagamaan yang didasarkan pada umum dan khususnya ada
dua macam, yaitu :
1) Khasahah adalah kegiatan keagamaan Islam yang ketentuannya telah
ditetapkan oleh nash, seperti: shalat, zakat, puasa, dan haji.
2) Aamah adalah semua perbuatan baik yang dilakukan dengan niat yang
baik dan semata-mata karena Allah, seperti makan dan minum, bekerja
dan lain sebagainya dengan niat melaksanakan perbuatan itu untuk
menjadi badan jasmaniyah dalam rangka agar dapat beribadat kepada
Allah.
b. Kegiatan keagamaan Islam dari segi pelaksanaannya
Kegiatan keagamaan Islam dari segi pelaksanaannya dibagi menjadi tiga
yaitu jasmaniyah ruhiyah (shalat dan puasa), ruhiyah dan maliyah (zakat), dan
jasmaniyah ruhiyah dan maliyah, (mengerjakan haji).
c. Kegiatan keagamaan Islam dari segi kepentingan perseorangan atau
masyarakat.
Kegiatan keagamaan Islam dari segi kepentingan perseorangan atau
masyarakat dibagi dua yaitu Fardhi, sepeti shalat dan puasa, kedua ijtimai
seperti zakat dan haji.
d. Kegiatan keagamaan Islam dari segi bentuk dan sifatnya
28
Kegiatan keagamaan Islam dari segi bentuk dan sifatnya dibedakan
menjadi tiga yaitu:
1) Kegiatan keagamaan Islam yang berupa perkataan atau ucapan lidah
seperti: membaca doa, membaca Al-Quran, membaca zikir, membaca
tahmid, dan mendoakan orang yang bersin.
2) Kegiatan keagamaan Islam yang berupa pekerjaan tertentu yang
bentuknya meliputi perkataan dan perbuatan, seperti shalat, zakat, puasa,
haji.
3) Kegiatan keagamaan Islam yang berupa perbuatan yang tidak ditentukan
bentuknya, seperti: menolong orang lain, berjihad, membela diri dari
gangguan tajhizul-janazah.
Dari pendapat di atas penulis memaparkan kegiatan keagamaan yang
penulis ingin teliti adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan keagamaan Islam didasarkan pada umum dan khususnya yaitu
khasahah adalah kegiatan keagamaan Islam yang ketentuannya telah
ditetapkan oleh nash, seperti: shalat. Kegiatan keagamaan Islam yang akan
peneliti teliti yaitu shalat dhuha dan shalat dzuhur berjamaah.
2. Kegiatan keagamaan Islam dari segi bentuk dan sifatnya. Kegiatan keagamaan
Islam yang berupa perkataan atau ucapan lidah seperti: membaca doa sebelum
kegiatan belajar mengajar berlangsung, hafalan juz amma, tadarus, membaca
asmaul husna, tahfidz hafalan Al-Quran dan qiraah.
3. Kegiatan keagamaan Islam yang berupa perbuatan yang tidak ditentukan
bentuknya, seperti: membuat kaligrafi dan infaq.
29
8. Pelaksanaan Kegiatan Keagamaan
Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan di sekolah perlu adanya
perencanaan maupun penjadwalan. Menurut Uzer dan Lilis Setiawati (1993: 22),
sebelum melaksanakan kegiatan ekstra keagamaan hendaknya memperhatikan
langkah-langkah sebagai berikut:
a. Kegiatan ekstrakurikuler yang diberikan kepada siswa secara pererorangan
atau kelompok ditetapkan oleh sekolah berdasarkan minat siswa dan
tersedianya fasilitas yang diperlukan serta adanya guru atau petugas yang
membimbing kegiatan tersebut. Siswa yang mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler berdasarkan minat masing-masing akan lebih berhasil
dibandingkan dengan siswa yang terpaksa atau tidak sesuai dengan keinginan
mereka.
b. Kegiatan yang direncanakan untuk siswa hendaknya memperhatikan
keselamatan dan kemampuan siswa serta kondisi sosial dan budaya setempat.
Sebelum melaksanakan kegiatan pembimbing harus memperhatikan
kemampuan siswa karena dengan begitu akan membuat siswa merasa senang
melakukan kegiatan yang diberikan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.
c. Penyusunan rencana program yang meliputi pembiayaan, jadwal, dan
administrasi dengan melibatkan kepala sekolah, wali kelas dan guru atau
pelatih kegiatan ekstra yang ditentukan.
d. Menetapkan waktu pelaksanaan, objek kegiatan serta kondisi lingkungannya.
Dengan menetapkan waktu pelaksanaan objek kegiatan serta kondisi
lingkungannya dimaksudkan agar siswa mengetahui jenis-jenis kegiatan apa
30
yang dilakukan sesuai dengan bakat dan minatnya serta didukung dengan
kondisi lingkungan yang baik sehingga mengetahui waktu pelaksanaannya dan
tidak berbentur dengan kegiatan lain.
e. Mengevaluasi hasil-hasil kegiatan siswa, setelah melakukan kegiatan
pembimbing diharapkan mengevaluasi kegiatan siswa karena dengan
mengevaluasi akan diketahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki siswa
dari hasil kegiatan itu.
B. Materi PAI di Sekolah Sebagai Wujud Pembentukan Karakter Bagi
Peserta Didik
1. Eksistensi Pendidikan Agama Islam dalam Sisdiknas
Kurikulum merupakan bagian dari sistem pembelajaran yang berfungsi
untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu didalam undang-
undang no 20 tahun 2003 pasal 36 kurikulum di Indonesia disusun dalam
kerangka peningkatan iman dan takwa, peningkatan akhlak mulia,peningkatan
potensi, kecerdasan,dan minat peserta didik, keragaman potensi, daerah dan
lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan dunia kerja,
tuntutan iptek dan seni,agama, dinamika perkembangan global, persatuan nasional
dan nilai-nilai kebangsaan.
Untuk mendukung keterlaksanaan kerangka kurikulum tersebut diatas, maka
dalam pasal selanjutnya (UU No. 20 tahun 2003 pasal 37) dijelaskan bahwa
didalam kurikulum wajib memuat: pendidikan agama, pendidikan
kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan
31
sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olahraga,ketrampilan/kejuruan,
muatan lokal. Pendidikan agama merupakan salah satu materi yang bertujuan
meningkatkan akhlak mulia serta nilai-nilai spiritual dalam diri anak. Hal ini
menunjukkan bahwa pendidikan agama mempunyai peranan yang penting dalam
melaksanakan pendidikan karakter disekolah. Oleh karena itu Pendidikan agama
menjadi salah satu mata pelajaran wajib baik dari sekolah tingkat dasar, menengah
dan perguruan tinggi. Maka sekolah harus mampu menyelenggarakan pendidikan
agama secara optimal dengan cara mengaplikasikan nilai -nilai agama dalam
lingkungan sekolah yang dilakukan oleh seluruh guru dan peserta didik secara
bersama-sama serta berkesinambungan.
Hal yang juga sangat menarik jika sekolah mampu menyusun kurikulum
dengan menerapkan nilai-nilai agama yang tercermin dalam setiap mata pelajaran,
Pada dasarnya pendidikan agama menitik beratkan pada penanaman sikap dan
kepribadian berlandaskan ajaran agama dalam seluruh sendi-sendi kehidupan siswa
kelak. Sehingga penanaman nilai-nilai agama seyogyanya tercantum dalam
keseluruhan mata pelajaran dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh guru.
Muatan kurikulum pendidikan agama dijelaskan dalam Lampiran UU no 22
tahun 2006, termasuk didalamnya kurikulum pendidikan agama Islam dengan
tujuan pembelajarannya adalah menghasilkan manusia yang selalu berupaya
menyempurnakan iman, takwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban dan
keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang
bermartabat. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi
tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat
32
baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global.7 Selanjutnya ruang
lingkup dari pendidikan agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut: Al-
Qur’an dan Hadis, Aqidah, Akhlak, Fiqih, Tarikh dan Kebudayaan Islam.
Pendidikan agama, khususnya pendidikan agama Islam (PAI) mempunyai
posisi yang penting dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan agama menjadi
materi yang wajib diajarkan pada setiap sekolah. Pendidikan agama Islam pada
prinsipnya memberikan pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai spiritualitas
pada peserta didik agar menjadi manusia yang berakhlak, beretika serta berbudaya
sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional. Sedangkan Pelaksanaan
pembelajaran pendidikan agama disekolah dapat diinternalisasikan dalam kegiatan
intra maupun ekstra sekolah dan lebih mengutamakan pengaplikasian ajaran
agama dalam kehidupan sehari-hari.
2. Pembentukan Karakter Anak sebagai Tujuan Pendidikan dalam Islam
Konsep pendidikan karakter sebenarnya telah ada sejak zaman rasulullah
SAW. Hal ini terbukti dari perintah Allah bahwa tugas pertama dan utama
Rasulullah adalah sebagai penyempurna akhlak bagi umatnya. Pembahasan
substansi makna dari karakter sama dengan konsep akhlak dalam Islam, keduanya
membahas tentang perbuatan prilaku manusia. Al-Ghazali menjelaskan jika
akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai
perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa perlu adanya pemikiran dan
pertimbangan.
Suwito menyebutkan bahwa akhlak sering disebut juga ilmu tingkah laku
atau perangai, karena dengan ilmu tersebut akan diperoleh pengetahuan tentang
33
keutamaan-keutamaan jiwa; bagaimana cara memperolehnya dan bagaiman
membersihkan jiwa yang telah kotor.
Sedangkan arti dari Karakter adalah nilai-nilai yang khas-baik (tahu nilai
kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik, dan berdampak baik
terhadap lingkungan) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam
perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah
raga, serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang. Pembahasan
tentang pengertian dasar antara akhlak dan karakter tersebut diatas
mengisyaratkan substansi makna yang sama yaitu masalah moral manusia; tentang
pengetahuan nilai-nilai yang baik, yang seharusnya dimiliki seseorang dan tercermin
dalam setiap prilaku serta perbuatannya. Prilaku ini merupakan hasil dari
kesadaran dirinya sendiri. Seseorang yang mempunyai nilai-nilai baik dalam
jiwanya serta dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari disebut
orang yang berakhlak atau berkarakter.
Akhlak atau karakter dalam Islam adalah sasaran utama dalam pendidikan.
Hal ini dapat dilihat dari beberapa hadits nabi yang menjelaskan tentang
keutamaan pendidikan akhlak salah satunya hadits berikut ini: “ajarilah anak-
anakmu kebaikan, dan didiklah mereka”. Konsep pendidikan didalam Islam
memandang bahwa manusia dilahirkan dengan membawa potensi lahiriah yaitu:1)
potensi berbuat baik terhadap alam, 2) potensi berbuat kerusakan terhadap alam,
3) potensi ketuhanan yang memiliki fungsi-fungsi non fisik.
Ketiga potensi tersebut kemudian diserahkan kembali perkembangannya
kepada manusia. Hal ini yang memunculkan konsep pendekatan yang menyeluruh
34
dalam pendidikan Islam yaitu meliputi unsur pengetahuan, akhlak dan akidah.
Lebih luas Ibnu Faris menjelaskan bahwa konsep pendidikan dalam Islam adalah
membimbing seseorang dengan memperhatikan segala potensi paedagogik yang
dimilikinya, melalui tahapan-tahapan yang sesuai, untuk didik jiwanya,
akhlaknya, akalnya, fisiknya, agamanya, rasa sosial politiknya, ekonominya,
keindahannya, dan semangat jihadnya.13 Hal ini memunculkan konsep
pendidikan akhlak yang komprehensif, dimana tuntutan hakiki dari kehidupan
manusia yang sebenarnya adalah keseimbangan hubungan antara manusia dengan
tuhannya, hubungan manusia dengan sesamanya serta hubungan manusia dengan
lingkungan disekitarnya.
Akhlak selalu menjadi sasaran utama dari proses pendidikan dalam Islam,
karena akhlak dianggap sebagai dasar bagi keseimbangan kehidupan manusia
yang menjadi penentu keberhasilan bagi potensi paedagogis yang lain. Prinsip
akhlak terdiri dari empat hal yaitu:
1) Hikmah ialah situasi keadaan psikis dimana seseorang dapat membedakan
antara hal yang benar dan yang salah.
2) Syajaah (kebenaran) ialah keadaan psikis dimana seseorang melampiaskan
atau menahan potensialitas aspek emosional dibawah kendali akal
3) Iffah (kesucian) ialah mengendalikan potensialitas selera atau keinginan
dibawah kendali akal dan syariat
4) ‘adl (keadilan) ialah situasi psikis yang mengatur tingkat emosi dan keinginan
sesuai kebutuhan hikmah disaat melepas atau melampiaskannya.
35
Prinsip akhlak diatas menegaskan bahwa fitrah jiwa manusia terdiri dari
potensi nafsu yang baik dan potensi nafsu yang buruk, tetapi melalui pendidikan
diharapkan manusia dapat berlatih untuk mampu mengontrol kecenderungan
perbuatannya kearah nafsu yang baik. Oleh karena itu Islam mengutamakan
proses pendidikan sebagai agen pembentukan akhlak pada anak.
Islam selalu memposisikan pembentukan akhlak atau karakter anak pada
pilar utama tujuan pendidikan. Untuk mewujudkan pembentukan akhlak pada
anak al Ghazali menawarkan sebuah konsep pendidikan yang bertujuan
mendekatkan diri kepada Allah. Menurutnya mendekatkan diri kepada Allah
merupakan tolak ukur kesempurnaan manusia, dan untuk menuju kesana ada
jembatan yang disebut ilmu pengetahuan.
Ibn Maskawaih menambahkan tidak ada materi yang spesfik untuk
mengajarkan akhlak, tetapi materi dalam pendidikan akhlak dapat
diimplementasikan ke dalam banyak ilmu asalkan tujuan utamanya adalah sebagai
pengabdian kepada Tuhan.
Pendapat di atas menggambarkan bahwa akhlak merupakan pilar utama dari
tujuan pendidikan didalam Islam, hal ini senada dengan latar belakang perlunya
diterapkan pendidikan karakter disekolah; untuk menciptakan bangsa yang besar,
bermartabat dan disegani oleh dunia maka dibutuhkan good society yang dimulai
dari pembangunan karakter (character building). Pembangunan karakter atau
akhlak tersebut dapat dilakukan salah satunya melalui proses pendidikan
disekolah dengan mengimplementasikan penanaman nilai-nilai akhlak dalam
setiap materi pelajaran.
36
Uraian diatas menggambarkan bahwa pendidikan merupakan agen
perubahan yang signifikan dalam pembentukan karakter anak, dan pendidikan
agama Islam menjadi bagian yang penting dalam proses tersebut, tetapi yang
menjadi persoalan selama ini adalah pendidikan agama Islam disekolah hanya
diajarkan sebagai sebuah pengetahuan tanpa adanya pengaplikasian dalam
kehidupan sehari-hari.
Sehingga fungsi pendidikan agama Islam sebagai salah satu pembentukan
akhlak mulia bagi siswa tidak tercapai dengan baik. Munculnya paradigma bahwa
PAI bukanlah salah satu materi yang menjadi standar kelulusan bagi siswa ikut
berpengaruh terhadap kedalaman pembelajarannya. Hal ini menyebabkan PAI
dianggap materi yang tidak penting dan hanya menjadi pelengkap pembelajaran
saja, dan bahkan pembelajaran PAI hanya dilakukan didalam kelas saja yang
hanya mendapat jatah 2 jam pelajaran setiap minggu, lebih ironis lagi evaluasi
PAI hanya dilakukan dengan tes tertulis.
Pola pembelajaran terhadap materi PAI diatas sudah saatnya dirubah. Guru
yang menjadi ujung tombak keberhasilan sebuah pembelajaran harus menyadari
bahwa tanggung jawabnya terhadap keberhasilan pembelajaran PAI tidak hanya
pada tataran kognitif saja. Tetapi tidak kalah penting adalah bagaimana
memberikan kesadaran kepada siswa bahwa pendidikan agama adalah sebuah
kebutuhan sehingga siswa mempunyai kesadaran yang tinggi untuk melaksanakan
pengetahuan agama yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari. Disinilah
dibutuhkan kreatifitas guru dalam menyampaikan pembelajaran, dimana
pembelajaran PAI seharusnya tidak hanya diajarkan didalam kelas saja, tetapi
37
bagaimana guru dapat memotivasi dan memfasilitasi pembelajaran agama diluar
kelas melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan dan menciptakan
lingkungan sekolah yang religius dan tidak terbatas oleh jam pelajaran saja.
Tujuan utama dari Pembelajaran PAI adalah pembentukan kepribadian pada
diri siswa yang tercermin dalam tingkah laku dan pola pikirnya dalam kehidupan
sehari-hari, maka pembelajaran PAI tidak hanya menjadi tanggung jawab guru
PAI seorang diri, tetapi dibutuhkan dukungan dari seluruh komunitas disekolah,
masyarakat, dan lebih penting lagi adalah orang tua. Sekolah harus mampu
mengkoordinir serta mengkomunikasikan pola pembelajaran PAI terhadap
beberapa pihak yang telah disebutkan sebagai sebuah rangkaian komunitas yang
saling mendukung dan menjaga demi terbentuknya siswa berakhlak dan berbudi
pekerti luhur.
Keberhasilan pembelajaran PAI disekolah salah satunya juga ditentukan
oleh penerapan metode pembelajaran yang tepat. Sejalan dengan hal ini Abdullah
Nasih Ulwan memberikan konsep pendidikan inluentif dalam pendidikan akhlak
anak yang terdiri dari 1) Pendidikan dengan keteladanan, 2) Pendidikan dengan
adat kebiasaan, 3) Pendidikan dengan nasihat,4) pendidikan dengan memberikan
perhatian, 5) pendidikan dengan memberikan hukuman.
Ibnu Shina dalam Risalah al-Siyâsah mensyaratkan profesionalitas Guru
ditentukan oleh kecerdasan, agamanya, akhlaknya, kharisma dan wibawanya. Oleh
karena itu salah satu proses mendidik yang penting adalah keteladanan. Perilaku
dan perangai guru adalah cermin pembelajaran yang berharga bagi peserta didik.
Tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa guru
38
selayaknya berprinsip “ing ngarso sung tulodo ing madyo mangun karso”
(didepan memberi contoh, ditengah memberikan bimbingan dan dibelakang
memberikan dorongan). Keteladanan inilah salah satu metode yang seharusnya
diterapkan guru dalam pembelajaran PAI. Guru harus mampu menerapkan nilai-
nilai agama dalam kehidupannya sebelum mengajarkan nilai-nilai agama tersebut
kepada siswa. Karena ia akan menjadi model yang nyata bagi siswa.
Pendidikan yang berhubungan dengan kepribadian atau akhlak tidak dapat
diajarkan hanya dalam bentuk pengetahuan saja, tetapi perlu adanya pembiasaan
dalam prilakunya sehari-hari. Setelah menjadi teladan yang baik, guru harus
mendorong siswa untuk selalu berprilaku baik dalam kehidupan sehar-hari. Oleh
karena itu selain menilai, guru juga menjadi pengawas terhadap prilaku siswa
sehari-hari di sekolah, dan disinilah pentingnya dukungan dari semua pihak.
Karena didalam metode pembiasaan siswa dilatih untuk mampu
membiasakan diri berprilaku baik dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja.
Proses belajar mengajar yang diharapkan didalam pendidikan akhlak adalah lebih
kepada mendidik bukan mengajar. Mendidik berarti proses pembelajaran lebih
diarahkan kepada bimbingan dan nasihat. Membimbing dan menasehati berarti
mengarahkan peserta didik terhadap pembelajaran nilai-nilai sebagai tauladan
dalam kehidupan nyata, jadi bukan sekedar menyampaikan yang bersifat
pengetahuan saja.
Mendidik dengan memberikan perhatian berarti senantiasa memperhatikan
dan selalu mengikuti perkembangan anak pada prilaku sehari-harinya. Hal ini juga
dapat dijadikan dasar evaluasi bagi guru bagi keberhasilan pembelajarannya.
39
Karena hal yang terpenting dalam proses pemelajaran PAI adalah adanya
perubahan prilaku yang baik dalam kehidupan sehari-harinya sebagai wujud dari
aplikasi pengetahuan yang telah didapat.
Bentuk apresiasi guru terhadap prestasi siswa adalah adanya umpa balik
yang positif yaitu dengan memberikan ganjaran dan hukuman (reward-
punishment). Ganjaran diberikan sebagai apresiasi guru terhadap prestasi siswa
sedangkan hukuman diberikan jika siswa melanggar aturan yang telah ditentukan,
tetapi hukuman disini bukan berarti dengan kekerasan atau merendahkan mental
siswa, tetapi lebih kepada hukuman yang sifatnya mendidik. Metode reward dan
punishment dibutuhkan dalam pembelajaran PAI dengan Tujuan agar anak selalu
termotivasi untuk belajar.
Pemberian pengetahuan tentang aqidah yang benar menjadi dasar yang
paling utama dalam penanaman akhlak pada anak. Disinilah pentingnya
pembelajaran pendidikan agama Islam disekolah, karena pendidikan agama
merupakan pondasi bagi pembelajaaran ilmu pengetahuan lain, yang akan
menghantarkan terbentuknya anak yang berkepribadian, agamis dan
berpengetahuan tinggi. Maka tepat jika dikatakan bahwa penerapan Pendidikan
agama Islam disekolah adalah sebagai pilar pendidikan karakter yang utama.
Pendidikan agama mengajarkan pentingnya penanaman akhlak yang dimulai
dari kesadaran beragama pada anak. Ia mengajarkan aqidah sebagai dasar
keagamaannya, mengajarkan al quran dan hadits sebagai pedoman hidupnya,
mengajarkan fiqih sebagai rambu-rambu hukum dalam beribadah, mengajarkan
40
sejarah Islam sebagai sebuah keteladan hidup, dan mengajarkan akhlak sebagai
pedoman prilaku manusia apakah dalam kategori baik ataupun buruk.
C. Definisi Madrasah Tsanawiyah (MTs)
1. Pengertian Madrasah dan Macam-Macamnya
Kata madrasah dalam bahasa Arab adalah bentuk kata keterangan tempat
dan akar kata darasa. Secara harfiah inadrasah berarti “tempat belajar”, “tempat
untuk memberikan pelajaran.” Dalam bahasa Indonesia, kata madrasah memiliki
arti “sekolah” kendati pada mulanya kata “sekolah” itu sendiri bukan berasal dan
bahasa Indonesia, melainkan dan bahasa asing, yaitu school atau scola. (Malik
Fadjar, 1998: Depag, 2004:1).
Di tanah Arab istilah madrasah ditujukan untuk semua sekolah umum.
tetapi di Indonesia istilah rnadrasah diberi konotasi yang lebih spesifik lagi, yakni
“sekolah agama”, tempat di mana anak-anak didik memperoleh pembelajaran
tentang seluk beluk agama dan keagamaan Islam. Padanan kata madrasah dalam
Bahasa Indonesia adalah sekolah. Tetapi lebih dikhususkan pada sekolah agama
Islam.
Al-Tibawi dan Mehdi Nakosteen menyimpulkan bahwa pada masa klasik
Islam istilah madrasah merujuk pada lembaga pendidikan tinggi. Karena itu,
Nakosteen menerjemahkan madrasah dengan universitas (1996: 66). Sedangkan
George Makdisi berpendapat bahwa istilah madrasah merujuk pada tiga makna
arti, yaitu: pertama, kata universitas, dalam penertian yang paling awal, merujuk
pada komunitas atau sekelompok saijana dan mahasiswa, kedua; merujuk pada
sebuah bangunan tempat kegiatan pendidikan setelah pendidikan dasar
41
berlangsung, dan ketiga, izin mengajar pada madrasah diberikan oleh Syeikh
secara personal tanpa kaitan apa-apa dengan pemerintahan (Azra, 1999: 15)
Namun demikian, madrasah di Indonesia digunakan untuk pengertian yang
berbeda dengan sejarah asalnya. Di Indonesia istilah madrasah bergeser menjadi
lembaga pendidikan tingkat dasar sampai menengah. Di Indonesia istilab
madrasah ditujukan buat sekolah-sekolah yang mata pelajaran dasarnya adalah
Mata Pelajaran Agarna Islam (Depag. 2004:1; Haidar Putra, 2001: 59)
Menurut Kamus Besar Indonesia (Poerwadarminta, 1984: 61 8) istilah
madrasah kini telah menyatu dengan istilah sekolah atau perguruan terutama
perguruan Islam. Akan tetapi menurut Karel A Steenbrink yang dikutip oleh
Muhaimin (1993: 305) istilah madrasah dan sekoai dibedakan arena keduan\a
mempunyai ciri yang berbeda. Departemen Agama RI yang dikutip oleh Haidar
Putera (2001: 61) merumuskan pengertian madrasah sebagai tempat pendidikan
yang diatur sebagai sekolah dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan agama
menjadi pokok pengajaran.
Secara historis, menurut Muhaimin (1993: 305) bahwa kehadiran
madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam mempunyai empat latar belakang,
yaitu: (1) Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam;
(2) Usaha penyempurnaan terhadap sistem pesantren ke arah suatu sistem
pendidikan yang lebih memungkinkan lulusannya untuk memperoleh kesempatan
yang sama dengan sekolah umum, misainva kesamaan kesempatan kerja dan
perolehan ijazah; (3) Adanya sikap mental pada sementara golongan umat Islam,
42
khususnya santri yang terpakau pada Barat sebagai sistem pendidikan mereka; dan
(4) Sebagai upaya untuk menjembatam antara sistem pendidikan modem dan hasil
akulturasi.
Setelah lahirnya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2
Tahun 1989 dan Peraturan Pemerintah No. 28 dan 29 Tahun 1990, rnadrasah
memilki nengertian barn sebagai sekolah umum berciri khas Islam. Eksistensi
madrasah semakin kuat setelah dikeluarkannva Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 di mana [Link] diakui secara
eksplisit sebagai sebuah sistem pendidikan nasional yang berciri khas Islam.
Sistem madrasah terdiri dan tiga jenjang, yaitu Madrasah Ibtidaiyah setingkat
dengan Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah setingkat dengan Sekolah
Menengah Pertama, dan Madrasah Aliyah setingkat dengan Sekolah Menengah
Atas Putera, 2001: 144).
2. Pengertian Madrasah Tsanawiyah (MTs)
Madrasah Tsanawiyah (disingkat MTs) adalah jenjang dasar pada
pendidikan formal di Indonesia, setara dengan sekolah menengah pertama, yang
pengelolaannya dilakukan oleh Kementerian Agama. Pendidikan madrasah
tsanawiyah ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9.
Kurikulum madrasah tsanawiyah sama dengan kurikulum sekolah
menengah pertama, hanya saja pada MTs terdapat porsi lebih banyak mengenai
pendidikan agama Islam, misalnya mata pelajaran Bahasa Arab, Al Qur'an-Hadits,
Fiqih, Aqidah Akhlaq, dan Sejarah Kebudayaan Islam.
43
Peserta didik madrasah tsanawiyah umumnya berusia 13-15 tahun. Di
Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti
pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah
menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.