0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan32 halaman

Pendidikan Karakter di Madrasah Tsanawiyah

Dokumen ini membahas penerapan pendidikan karakter dalam membentuk kepribadian anak melalui kegiatan keagamaan di Madrasah Tsanawiyah. Pendidikan karakter diartikan sebagai usaha untuk menanamkan nilai-nilai etika dan moral yang baik kepada peserta didik, dengan tujuan membentuk individu yang memiliki karakter yang kuat dan siap menghadapi tantangan masa depan. Nilai-nilai karakter yang perlu dikembangkan meliputi kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan berbagai nilai lainnya yang mendukung pembentukan karakter yang baik.

Diunggah oleh

Hisyam Khairy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan32 halaman

Pendidikan Karakter di Madrasah Tsanawiyah

Dokumen ini membahas penerapan pendidikan karakter dalam membentuk kepribadian anak melalui kegiatan keagamaan di Madrasah Tsanawiyah. Pendidikan karakter diartikan sebagai usaha untuk menanamkan nilai-nilai etika dan moral yang baik kepada peserta didik, dengan tujuan membentuk individu yang memiliki karakter yang kuat dan siap menghadapi tantangan masa depan. Nilai-nilai karakter yang perlu dikembangkan meliputi kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan berbagai nilai lainnya yang mendukung pembentukan karakter yang baik.

Diunggah oleh

Hisyam Khairy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MEMBENTUK


KEPRIBADIAN ANAK MELALUI KEGIATAN KEAGAMAAN DI
MADRASAH TSANAWIYAH

A. Pendidikan Karakter

1. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah gerakan nasional menciptakan sekolah yang

membina etika, bertanggung jawab dan merawat orang-orang muda dengan

pemodelan dan mengajarkan karakter baik melalui penekanan pada nilai-nilai

yang kita yakini dengan melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan

(feelings), dan tindakan (action) (Damayanti, 2014: 11).

Pendapat lain tentang pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan

secara individu dan sosial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi

pertumbuhan kebebasan individu itu sendiri. (Koesoema, 2010: 194).

Pendidikan karakter adalah proses upaya secara sadar dan terencana untuk

meningkatkan kualitas pendidikan anak didik serta mengembangkan perilaku agar

memiliki kompetensi intelektual, karakter, dan keterampilan menarik. (Yahya,

2010: 34).

Pendidikan karakter merupakan pemberian tuntunan kepada anak didik agar

menjadi manusia yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta karsa dan

karya sehingga anak didik memiliki karakter yang baik meliputi kejujuran,

tanggung jawab, cerdas, bersih dan sehat, peduli, dan kreatif. (Zusyani, 2012:

155)

12
13

Definisi lain pendidikan karakter yaitu sebagai upaya yang sungguh-

sungguh untuk membantu seseorang memahami, kepedulian dan bertindak dengan

landasan nilai nilai etis dan luhur. (Muchlas & Hariyanto, 2011: 44). Penjelasan-

penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan karakter adalah

penanaman nilai-nilai karakter yang terpuji dimulai dari sejak dini agar peserta

didik menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

2. Tujuan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter memiliki berbagai macam tujuan. Berikut adalah

penjelasan dari beberapa ahli mengenai tujuan pendidikan karakter sebagai

berikut:

a. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil

pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia

peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang sehingga peserta didik

dapat menginternalisasikan serta mempersonalisasikan nilai-nilai karakter

dan akhlak mulia tersebut dalam perilaku sehari-hari. (Mulyasa, 2012: 9)

b. Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk bangsa yang tangguh,

kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong,

berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi pada ilmu

pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan taqwa

kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila sebagai pedoman

bangsa Indonesia. (Gunawan, 2012: 30).

c. Tujuan pendidikan karakter adalah menumbuhkan fitrah pribadi setiap

anak yang dilahirkan suci agar dapat berkembang secara optimal untuk
14

kehidupan yang lebih baik di masa mendatang dengan peran menyeluruh

dari keluarga, sekolah dan komunitas dengan menciptakan lingkungan

kondusif. (Miftah, 2011: 37).

d. Tujuan pendidikan karakter adalah mengembangkan potensi peserta didik

sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai karakter

bangsa, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji

dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang

religius, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta

didik sebagai generasi penerus bangsa, dan mengembangkan kemampuan

peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan

kebangsaan. (Judiani, 2010: 283).

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa

tujuan pendidikan karakter adalah membentuk pribadi peserta didik dengan

mental yang kuat agar memiliki nilai-nilai luhur sesuai dengan budaya dan

pedoman bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan UUD 1945 guna menghadapi

tantangan zaman.

3. Nilai-Nilai Karakter

Pendidikan karakter memuat nilai-nilai yang perlu dikembangkan kepada

peserta didik. Nilai-nilai tersebut adalah nilai dasar, nilai kemasyarakatan, dan

nilai kenegaraan. (Damayanti, 2014: 42). Berikut adalah ulasan tentang ketiga

nilai tersebut:

a. Nilai Dasar
15

Nilai dasar yaitu nilai yang terkandung dalam dasar dan falsafah negara,

Pancasila, dan UUD 1945.

b. Nilai Kemasyarakatan

Nilai kemasyarakatan berupa nilai moral dan etika yang berlaku dalam

masyarakat setempat.

c. Nilai Kenegaraan

Nilai kenegaraan adalah nilai yang menyangkut kecintaan terhadap tanah air

dan bangsanya. Semua butir nilai tersebut perlu ditanamkan dan dikembangkan

oleh peserta didik. Nilai-nilai tersebut adalah :

1. Nilai Kejujuran adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan

dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan,

dan pekerjaan baik terhadap diri dan pihak lain.

2. Nilai Kepedulian adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah

dan memperbaiki penyimpangan dan kerusakan manusia, alam, dan tatanan di

sekitar dirinya.

3. Nilai Berfikir adalah berfikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau

logika (logis, kritis, kreatif, dan inovatif) untuk menghasilkan cara atau hasil

baru dari apa yang telah dimiliki.

4. Nilai Tanggung Jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk

melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia

lakukan, terhadap diri sendiri, negara, Tuhan YME, masyarakat, lingkungan,

baik alam, sosial, maupun budaya.


16

5. Nilai Cinta Ilmu adalah cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan

kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan.

6. Nilai Kesantunan adalah sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata

bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang.

7. Nilai Menghargai Keberagaman adalah sikap memberikan respek/hormat

terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya,

suku, dan agama.

8. Nilai Kecerdasan adalah ke mampuan seseorang dalam melakukan tugas

secara cermat, tepat, dan cepat.

9. Nilai Ketangguhan adalah sikap dan perilaku pantang menyerah.

10. Nilai Demokratis adalah cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai

sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

11. Nilai Kemandirian adalah sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung

pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

12. Nilai Keberanian Mengambil Resiko adalah kesiapan menerima resiko yang

timbul akibat tindakan yang dilakukan.

13. Nilai Berorientasi pada Tindakan adalah kemampuan untuk mewujudkan

gagasan menjadi tindakan nyata.

14. Nilai Berjiwa Kepemimpinan adalah kemampuan mengarah dan mengajak

individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.

15. Nilai Kerja Keras adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh

dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas dengan baik.


17

16. Nilai Gaya Hidup Sehat adalah segala upaya untuk menerapkan kebiasaan

baik dalam menciptakan hidup sehat.

17. Nilai Kedisiplinan adalah sikap yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh

pada peraturan.

18. Nilai Percaya Diri adalah sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap

pemenuhan tercapainya setiap keinginan.

19. Nilai Keingintahuan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk

mengetahui lebih dalam dan luas dari apa yang dipelajarinya.

20. Nilai Kesadaran akan Hak dan Kewajiban adalah sikap tahu dan mengerti

serta melaksanakan apa yang menjadi milik diri sendiri atau orang lain serta

tugas dan kewajiban diri sendiri dan orang lain.

21. Nilai Kepatuhan terhadap Aturan Sosial adalah sikap menurut dan taat

terhadap aturan-aturan yang berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan

umum.

22. Nilai Penghargaan pada Karya dan Prestasi Orang Lain adalah sikap dan

tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna

bagi masyarakat, mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.

23. Nilai Menghargai Keberagaman adalah sikap memberikan hormat terhadap

berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan

agama.

Pendapat lain tentang nilai-nilai pendidikan karakter untuk pendidikan

budaya dan bangsa terdiri dari 18 butir (Listyarti, 2012: 5-8) yaitu:

1. Religius
18

Sikap perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya,

toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan

pemeluk agama lain. Religius adalah proses mengikat kembali atau bisa

dikatakan dengan tradisi, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan)

dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang

berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

2. Jujur

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang

selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan kepercayaan.

3. Toleransi

Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat,

sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya

4. Disiplin

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai

ketentuan dan peraturan

5. Kerja Keras

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai

ketentuan dan peraturan.

6. Kreatif

Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari

sesuatu yang telah dimiliki.

7. Mandiri
19

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam

menyelesaikan tugas.

8. Demokratis

Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban

diriya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam

dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan

Cara berfikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan

bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air

Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian,

dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial,

budaya, ekonomi dan politik bangsa.

12. Menghargai Prestasi

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang

berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan

orang lain.

13. Bersahabat/Komunikatif
20

Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerja

sama dengan orang lain.

14. Cinta Damai

Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang

dan aman atas kehadiran dirinya.

15. Gemar Membaca

Membaca kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan

yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli Lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada

lingkungan alam disekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk

memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial

Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan

masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggung Jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya,

yang seharusnya dia lakukan, terhadap dirinya maupun orang lain dan

lingkungan sekitarnya.

4. Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya karakter. Beberapa

ahli perpendapat bahwa faktor pembentuk karakter terdiri dari dua macam, yaitu

faktor intern dan faktor ekstern. Berikut adalah penjelasan faktor-faktor tersebut:
21

a. Faktor Intern

Terdapat banyak hal yang mempengaruhi faktor internal ini diantaranya

adalah:

1) Insting atau Naluri

Insting adalah suatu sifat yang dapat menimbulkan perbuatan yang

menyampaikan tujuan dengan berfikir lebih dahulu kearah tujuan itu tanpa

didahului latihan perbuatan itu. Setiap perbuatan manusia lahir dari suatu

kehendak yang digerakkan oleh naluri. Pengaruh naluri pada diri seseorang

tergantung pada bagaimana seseorang menyalurkan naluri tersebut. Naluri

pengaruhnya juga sangat besar. Naluri dapat menjerumuskan manusia kepada

hal yang positif. Sebaliknya naluri dapat condong ke arah negatif apabila tidak

tersalurkan dengan benar (Gunawan, 2012: 19).

2) Adat atau Kebiasaan

Salah satu faktor penting dalam tingkah laku manusia adalah kebiasaan,

karena sikap dan perilaku yang menjadi karakter sangat erat sekali dengan

kebiasaan. Kebiasaan adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang sehingga

mudah untuk dikerjakan. Faktor kebiasaan ini memegang peranan yang sangat

penting dalam membentuk dan membina karakter (Gunawan, 2012: 19).

3) Kehendak atau Kemauan

Kemauan ialah keinginan untuk melangsungkan segala ide walau disertai

dengan berbagai rintangan dan kesukaran. Kehendak atau kemauan dikontrol


22

oleh diri sendiri. Salah satu kekuatan yang berlindung dibalik tingkah laku

adalah kehendak atau kemauan keras. Itulah yang menggerakkan dan

merupakan kekuatan yang mendorong manusia dengan sungguh-sungguh

untuk berprilaku baik, sebab dari kehendak itulah menjelma suatu niat yang

baik dan buruk dan tanpa kemauan semua ide, keyakinan, kepercayaan

pengetahuan menjadi pasif. (Gunawan, 2012: 20)

4) Suara Hati atau Hati Nurani

Hati nurani adalah suatu benih yang telah diciptakan oleh Allah dalam jiwa

manusia. Nurani dapat tumbuh berkembang serta berbunga karena pengaruh

pendidikan, dia akan statis bila tidak ditumbuh kembangkan. Oleh karenanya,

pendidikan karakter tidak akan mencapai sasarannya tanpa disertai

pemupukan hati nurani, yang merupakan kekuatan dari dalam diri manusia,

yang dapat menilai baik dan buruk suatu perbuatan (Santhut, 1998: 93).

5) Hereditas atau Keturunan

Hereditas merupakan sifat-sifat atau ciri yang diperoleh oleh seorang anak atas

dasar keturunan atau pewarisan dari generasi ke generasi melalui sebuah

benih. Dalam islam, sifat atau ciri-ciri bawaan tersebut disebut fitrah. Fitrah

adalah potensi atau kekuatan yang terpendam dalam diri manusia, yang ada

dan tercipta bersama dengan proses penciptaan manusia. Potensi tersebut

tumbuh serta berkembang setelah mendapatkan rangsangan-rangsangan dan

pengaruh dari luar atau faktor ekstern (Tadjab, 1994: 27).

b. Faktor Ekstern

Faktor ekstern atau faktor dari luar pembentuk karaktek diantaranya adalah:
23

1) Pendidikan

Pertumbuhan karakter tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan

secara keseluruhan. Tujuan pendidikan ialah menyiapkan manusia supaya

hidup dengan kehidupan yang sempurna. Pendidikan mempunyai peran yang

sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang sehingga baik dan

buruknya akhlak seseorang sangat tergantung pada pendidikan. Pendidikan

menjadikan manusia sebagai insan kamil. Begitu pentingnya faktor

pendidikan itu sehingga dengan pendidikan naluri yang terdapat pada

seseorang dapat dibangun dengan baik dan terarah. Oleh karena itu,

pendidikan agama perlu dipenerapankan baik dalam pendidikan formal di

sekolah, pendidikan informal di lingkungan keluarga dan pendidikan non

formal yang ada di masyarakat (Yunus, 2012: 5).

2) Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar kita, baik berupa

tumbuhan, keadaan tanah, udara, dan pergaulan manusia dengan alam sekitar

(Gunawan, 2012: 22).

Adapun lingkungan dapat dibagi menjadi beberapa macam yaitu:

a) Lingkungan yang bersifat kebendaan

Alam yang ada disekitar manusia merupakan faktor yang mempengaruhi

dan menentukan tingkah laku manusia. Lingkungan alam ini dapat

mematahkan atau mematangkan pertumbuhan bakat yang dibawa

seseorang. Itu semua dapat terjadi tergantung seseorang tersebut dalam

menyikapinya.
24

b) Lingkungan pergaulan

Seorang yang hidup dalam lingkungan yang baik secara langsung atau

tidak dapat membentuk kepribadian manusia menjadi baik, begitu pula

sebaliknya jika seseorang yang hidup dalam lingkungan yang tidak

mendukung dalam proses pembentukan karakter maka setidaknya dia akan

terbawa atau terpengaruh oleh lingkungan tersebut. Lingkungan teman-

teman yang jahat mempunyai pengaruh yang negatif terhadap

perkembangan anak, bukan hanya perkataannya saja tetapi seluruh

perilaku atau perbuatannya. Jadi dapat dikatakan bahwa lingkungan

pergaulan mempunyai pengaruh yang sangat dominan terhadap

perkembangan anak.

c) Lingkungan keluarga

Anak adalah amanat dari Allah SWT yang dititipkan kepada kedua orang

tua. Tanggung jawab keluarga yakni kedua orang tua terhadap pendidikan

anaknya yaitu mendidik dengan sebaik-baiknya agar menjadi manusia

yang bertakwa. Anak lahir dalam keadaan suci, bersih dan sederhana. Hal

ini menunjukkan bahwa anak lahir dalam keadaan tidak berdaya dan

belum dapat berbuat apa-apa, sehingga masih sangat menggantungkan diri

pada orang lain yang lebih dewasa sehingga kedua orang tua adalah

panutan sosok teladan bagi anak bagaimana dia harus bersikap agar

menjadi manusia yang sebaik-baiknya. Apabila orang tua tidak dapat

menjadi figur contoh yang baik, maka anak akan mencari lingkungan lain

yang mungkin saja belum tentu baik untuknya. Oleh karena itu, tugas
25

orang tualah yang harus menjaga serta mengarahkan anak-anaknya sesuai

dengan ajaran agama serta norma-norma yang ada.

d) Lingkungan yang berwujud kesusasteraan.

Lingkungan ini dikategorikan menjadi dua macam yaitu buku bacaan yang

bermanfaat bagi perkembangan anak dan buku bacaan yang merugikan

perkembangan anak. Nilai-nilai baik yang dapat diambil dari buku dapat

menjadi pembentuk karakter anak. Sebaliknya dengan buku-buku yang

membawa pengaruh buruk akan merusak perkembangan anak. Melalui

buku, segala ilmu pengetahuan serta wawasan diperoleh sehingga harus

selektif dalam pemilihan buku. Oleh karena itu, ini merupakan tugas dan

tanggung jawab seorang pendidik dan keluarga.

5. Pengertian Kegiatan Keagamaan

Kegiatan keagamaan adalah kegiatan yang berkaitan dengan bidang

keagamaan yang ada dalam kehidupan masyarakat sebagai bentuk pelaksanaan

ajaran Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. (Jalaludin, 1993: 56)

Kegiatan keagamaan adalah segala bentuk kegiatan yang terencana dan

terkendali sebagai usaha untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan yang dapat

dilakukan oleh perorangan atau kelompok (Novearti, 2017: 2).

Perilaku keagamaan yaitu segala tindakan, perbuatan atau ucapan yang

dilakukan seseorang sedangkan yang berkaitan dengan agama, semuanya

dilakukan karena adanya kepercayaan kepada Tuhan, ajaran, kebaktian dan

kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan kepercayaan (Fauzi, 2016: 150).


26

Dari penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa kegiatan keagamaan

adalah segala aktivitas yang dilakukan secara individu maupun kelompok yang

berhubungan dengan religius atau spiritual sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan

Yang Maha Esa.

6. Tujuan Kegiatan Keagamaan

Tujuan kegiatan keagamaan yang diambil dari buku Ensiklopedia Islam

Cetakan Ke-3 (1994: 120) adalah:

a. Membina hubungan yang serasi dan teratur antara manusia dan Allah, manusia

dengan pencipta-Nya, manusia dengan lingkungannya, serta manusia dengan

sesamanya dalam rangka membina masyarakat yang bertaqwa kepada Allah

SWT.

b. Menambah ilmu pengetahuan agama.

c. Menjalin silaturahmi.

d. Meningkatkan intensitas dakwah islamiyah kepada siswa dalam rangka

membangun siswa sebagai generasi religius.

e. Membangun kesadaran siswa bahwa kegiatan keagamaan akan memotivasi

sikap beragama.

f. Membangun pribadi siswa dalam beribadah.

g. Menciptakan generasi dengan menciptakan siswa yang memiliki SQ baik

dalam moral dan etika.

h. Meningkatkan kemampuan siswa dalam aspek kognitive, afektif, dan

psikomotorik.

i. Pengembangan bakat dan minat siswa sebagai pembinaan pribadi seutuhnya.


27

7. Jenis Kegiatan Keagamaan

Jenis-jenis kegiatan keagamaan itu berbeda-beda (Daradjat, 1983: 4).

Kegiatan keagamaan menurut sudut pandangnya dijelaskan sebagai berikut:

a. Kegiatan keagamaan Islam yang bersifat umum dan khusus

Kegiatan keagamaan yang didasarkan pada umum dan khususnya ada

dua macam, yaitu :

1) Khasahah adalah kegiatan keagamaan Islam yang ketentuannya telah

ditetapkan oleh nash, seperti: shalat, zakat, puasa, dan haji.

2) Aamah adalah semua perbuatan baik yang dilakukan dengan niat yang

baik dan semata-mata karena Allah, seperti makan dan minum, bekerja

dan lain sebagainya dengan niat melaksanakan perbuatan itu untuk

menjadi badan jasmaniyah dalam rangka agar dapat beribadat kepada

Allah.

b. Kegiatan keagamaan Islam dari segi pelaksanaannya

Kegiatan keagamaan Islam dari segi pelaksanaannya dibagi menjadi tiga

yaitu jasmaniyah ruhiyah (shalat dan puasa), ruhiyah dan maliyah (zakat), dan

jasmaniyah ruhiyah dan maliyah, (mengerjakan haji).

c. Kegiatan keagamaan Islam dari segi kepentingan perseorangan atau

masyarakat.

Kegiatan keagamaan Islam dari segi kepentingan perseorangan atau

masyarakat dibagi dua yaitu Fardhi, sepeti shalat dan puasa, kedua ijtimai

seperti zakat dan haji.

d. Kegiatan keagamaan Islam dari segi bentuk dan sifatnya


28

Kegiatan keagamaan Islam dari segi bentuk dan sifatnya dibedakan

menjadi tiga yaitu:

1) Kegiatan keagamaan Islam yang berupa perkataan atau ucapan lidah

seperti: membaca doa, membaca Al-Quran, membaca zikir, membaca

tahmid, dan mendoakan orang yang bersin.

2) Kegiatan keagamaan Islam yang berupa pekerjaan tertentu yang

bentuknya meliputi perkataan dan perbuatan, seperti shalat, zakat, puasa,

haji.

3) Kegiatan keagamaan Islam yang berupa perbuatan yang tidak ditentukan

bentuknya, seperti: menolong orang lain, berjihad, membela diri dari

gangguan tajhizul-janazah.

Dari pendapat di atas penulis memaparkan kegiatan keagamaan yang

penulis ingin teliti adalah sebagai berikut:

1. Kegiatan keagamaan Islam didasarkan pada umum dan khususnya yaitu

khasahah adalah kegiatan keagamaan Islam yang ketentuannya telah

ditetapkan oleh nash, seperti: shalat. Kegiatan keagamaan Islam yang akan

peneliti teliti yaitu shalat dhuha dan shalat dzuhur berjamaah.

2. Kegiatan keagamaan Islam dari segi bentuk dan sifatnya. Kegiatan keagamaan

Islam yang berupa perkataan atau ucapan lidah seperti: membaca doa sebelum

kegiatan belajar mengajar berlangsung, hafalan juz amma, tadarus, membaca

asmaul husna, tahfidz hafalan Al-Quran dan qiraah.

3. Kegiatan keagamaan Islam yang berupa perbuatan yang tidak ditentukan

bentuknya, seperti: membuat kaligrafi dan infaq.


29

8. Pelaksanaan Kegiatan Keagamaan

Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan di sekolah perlu adanya

perencanaan maupun penjadwalan. Menurut Uzer dan Lilis Setiawati (1993: 22),

sebelum melaksanakan kegiatan ekstra keagamaan hendaknya memperhatikan

langkah-langkah sebagai berikut:

a. Kegiatan ekstrakurikuler yang diberikan kepada siswa secara pererorangan

atau kelompok ditetapkan oleh sekolah berdasarkan minat siswa dan

tersedianya fasilitas yang diperlukan serta adanya guru atau petugas yang

membimbing kegiatan tersebut. Siswa yang mengikuti kegiatan

ekstrakurikuler berdasarkan minat masing-masing akan lebih berhasil

dibandingkan dengan siswa yang terpaksa atau tidak sesuai dengan keinginan

mereka.

b. Kegiatan yang direncanakan untuk siswa hendaknya memperhatikan

keselamatan dan kemampuan siswa serta kondisi sosial dan budaya setempat.

Sebelum melaksanakan kegiatan pembimbing harus memperhatikan

kemampuan siswa karena dengan begitu akan membuat siswa merasa senang

melakukan kegiatan yang diberikan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.

c. Penyusunan rencana program yang meliputi pembiayaan, jadwal, dan

administrasi dengan melibatkan kepala sekolah, wali kelas dan guru atau

pelatih kegiatan ekstra yang ditentukan.

d. Menetapkan waktu pelaksanaan, objek kegiatan serta kondisi lingkungannya.

Dengan menetapkan waktu pelaksanaan objek kegiatan serta kondisi

lingkungannya dimaksudkan agar siswa mengetahui jenis-jenis kegiatan apa


30

yang dilakukan sesuai dengan bakat dan minatnya serta didukung dengan

kondisi lingkungan yang baik sehingga mengetahui waktu pelaksanaannya dan

tidak berbentur dengan kegiatan lain.

e. Mengevaluasi hasil-hasil kegiatan siswa, setelah melakukan kegiatan

pembimbing diharapkan mengevaluasi kegiatan siswa karena dengan

mengevaluasi akan diketahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki siswa

dari hasil kegiatan itu.

B. Materi PAI di Sekolah Sebagai Wujud Pembentukan Karakter Bagi

Peserta Didik

1. Eksistensi Pendidikan Agama Islam dalam Sisdiknas

Kurikulum merupakan bagian dari sistem pembelajaran yang berfungsi

untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu didalam undang-

undang no 20 tahun 2003 pasal 36 kurikulum di Indonesia disusun dalam

kerangka peningkatan iman dan takwa, peningkatan akhlak mulia,peningkatan

potensi, kecerdasan,dan minat peserta didik, keragaman potensi, daerah dan

lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan dunia kerja,

tuntutan iptek dan seni,agama, dinamika perkembangan global, persatuan nasional

dan nilai-nilai kebangsaan.

Untuk mendukung keterlaksanaan kerangka kurikulum tersebut diatas, maka

dalam pasal selanjutnya (UU No. 20 tahun 2003 pasal 37) dijelaskan bahwa

didalam kurikulum wajib memuat: pendidikan agama, pendidikan

kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan


31

sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olahraga,ketrampilan/kejuruan,

muatan lokal. Pendidikan agama merupakan salah satu materi yang bertujuan

meningkatkan akhlak mulia serta nilai-nilai spiritual dalam diri anak. Hal ini

menunjukkan bahwa pendidikan agama mempunyai peranan yang penting dalam

melaksanakan pendidikan karakter disekolah. Oleh karena itu Pendidikan agama

menjadi salah satu mata pelajaran wajib baik dari sekolah tingkat dasar, menengah

dan perguruan tinggi. Maka sekolah harus mampu menyelenggarakan pendidikan

agama secara optimal dengan cara mengaplikasikan nilai -nilai agama dalam

lingkungan sekolah yang dilakukan oleh seluruh guru dan peserta didik secara

bersama-sama serta berkesinambungan.

Hal yang juga sangat menarik jika sekolah mampu menyusun kurikulum

dengan menerapkan nilai-nilai agama yang tercermin dalam setiap mata pelajaran,

Pada dasarnya pendidikan agama menitik beratkan pada penanaman sikap dan

kepribadian berlandaskan ajaran agama dalam seluruh sendi-sendi kehidupan siswa

kelak. Sehingga penanaman nilai-nilai agama seyogyanya tercantum dalam

keseluruhan mata pelajaran dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh guru.

Muatan kurikulum pendidikan agama dijelaskan dalam Lampiran UU no 22

tahun 2006, termasuk didalamnya kurikulum pendidikan agama Islam dengan

tujuan pembelajarannya adalah menghasilkan manusia yang selalu berupaya

menyempurnakan iman, takwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban dan

keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang

bermartabat. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi

tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat


32

baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global.7 Selanjutnya ruang

lingkup dari pendidikan agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut: Al-

Qur’an dan Hadis, Aqidah, Akhlak, Fiqih, Tarikh dan Kebudayaan Islam.

Pendidikan agama, khususnya pendidikan agama Islam (PAI) mempunyai

posisi yang penting dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan agama menjadi

materi yang wajib diajarkan pada setiap sekolah. Pendidikan agama Islam pada

prinsipnya memberikan pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai spiritualitas

pada peserta didik agar menjadi manusia yang berakhlak, beretika serta berbudaya

sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional. Sedangkan Pelaksanaan

pembelajaran pendidikan agama disekolah dapat diinternalisasikan dalam kegiatan

intra maupun ekstra sekolah dan lebih mengutamakan pengaplikasian ajaran

agama dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pembentukan Karakter Anak sebagai Tujuan Pendidikan dalam Islam

Konsep pendidikan karakter sebenarnya telah ada sejak zaman rasulullah

SAW. Hal ini terbukti dari perintah Allah bahwa tugas pertama dan utama

Rasulullah adalah sebagai penyempurna akhlak bagi umatnya. Pembahasan

substansi makna dari karakter sama dengan konsep akhlak dalam Islam, keduanya

membahas tentang perbuatan prilaku manusia. Al-Ghazali menjelaskan jika

akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai

perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa perlu adanya pemikiran dan

pertimbangan.

Suwito menyebutkan bahwa akhlak sering disebut juga ilmu tingkah laku

atau perangai, karena dengan ilmu tersebut akan diperoleh pengetahuan tentang
33

keutamaan-keutamaan jiwa; bagaimana cara memperolehnya dan bagaiman

membersihkan jiwa yang telah kotor.

Sedangkan arti dari Karakter adalah nilai-nilai yang khas-baik (tahu nilai

kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik, dan berdampak baik

terhadap lingkungan) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam

perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah

raga, serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang. Pembahasan

tentang pengertian dasar antara akhlak dan karakter tersebut diatas

mengisyaratkan substansi makna yang sama yaitu masalah moral manusia; tentang

pengetahuan nilai-nilai yang baik, yang seharusnya dimiliki seseorang dan tercermin

dalam setiap prilaku serta perbuatannya. Prilaku ini merupakan hasil dari

kesadaran dirinya sendiri. Seseorang yang mempunyai nilai-nilai baik dalam

jiwanya serta dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari disebut

orang yang berakhlak atau berkarakter.

Akhlak atau karakter dalam Islam adalah sasaran utama dalam pendidikan.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa hadits nabi yang menjelaskan tentang

keutamaan pendidikan akhlak salah satunya hadits berikut ini: “ajarilah anak-

anakmu kebaikan, dan didiklah mereka”. Konsep pendidikan didalam Islam

memandang bahwa manusia dilahirkan dengan membawa potensi lahiriah yaitu:1)

potensi berbuat baik terhadap alam, 2) potensi berbuat kerusakan terhadap alam,

3) potensi ketuhanan yang memiliki fungsi-fungsi non fisik.

Ketiga potensi tersebut kemudian diserahkan kembali perkembangannya

kepada manusia. Hal ini yang memunculkan konsep pendekatan yang menyeluruh
34

dalam pendidikan Islam yaitu meliputi unsur pengetahuan, akhlak dan akidah.

Lebih luas Ibnu Faris menjelaskan bahwa konsep pendidikan dalam Islam adalah

membimbing seseorang dengan memperhatikan segala potensi paedagogik yang

dimilikinya, melalui tahapan-tahapan yang sesuai, untuk didik jiwanya,

akhlaknya, akalnya, fisiknya, agamanya, rasa sosial politiknya, ekonominya,

keindahannya, dan semangat jihadnya.13 Hal ini memunculkan konsep

pendidikan akhlak yang komprehensif, dimana tuntutan hakiki dari kehidupan

manusia yang sebenarnya adalah keseimbangan hubungan antara manusia dengan

tuhannya, hubungan manusia dengan sesamanya serta hubungan manusia dengan

lingkungan disekitarnya.

Akhlak selalu menjadi sasaran utama dari proses pendidikan dalam Islam,

karena akhlak dianggap sebagai dasar bagi keseimbangan kehidupan manusia

yang menjadi penentu keberhasilan bagi potensi paedagogis yang lain. Prinsip

akhlak terdiri dari empat hal yaitu:

1) Hikmah ialah situasi keadaan psikis dimana seseorang dapat membedakan

antara hal yang benar dan yang salah.

2) Syajaah (kebenaran) ialah keadaan psikis dimana seseorang melampiaskan

atau menahan potensialitas aspek emosional dibawah kendali akal

3) Iffah (kesucian) ialah mengendalikan potensialitas selera atau keinginan

dibawah kendali akal dan syariat

4) ‘adl (keadilan) ialah situasi psikis yang mengatur tingkat emosi dan keinginan

sesuai kebutuhan hikmah disaat melepas atau melampiaskannya.


35

Prinsip akhlak diatas menegaskan bahwa fitrah jiwa manusia terdiri dari

potensi nafsu yang baik dan potensi nafsu yang buruk, tetapi melalui pendidikan

diharapkan manusia dapat berlatih untuk mampu mengontrol kecenderungan

perbuatannya kearah nafsu yang baik. Oleh karena itu Islam mengutamakan

proses pendidikan sebagai agen pembentukan akhlak pada anak.

Islam selalu memposisikan pembentukan akhlak atau karakter anak pada

pilar utama tujuan pendidikan. Untuk mewujudkan pembentukan akhlak pada

anak al Ghazali menawarkan sebuah konsep pendidikan yang bertujuan

mendekatkan diri kepada Allah. Menurutnya mendekatkan diri kepada Allah

merupakan tolak ukur kesempurnaan manusia, dan untuk menuju kesana ada

jembatan yang disebut ilmu pengetahuan.

Ibn Maskawaih menambahkan tidak ada materi yang spesfik untuk

mengajarkan akhlak, tetapi materi dalam pendidikan akhlak dapat

diimplementasikan ke dalam banyak ilmu asalkan tujuan utamanya adalah sebagai

pengabdian kepada Tuhan.

Pendapat di atas menggambarkan bahwa akhlak merupakan pilar utama dari

tujuan pendidikan didalam Islam, hal ini senada dengan latar belakang perlunya

diterapkan pendidikan karakter disekolah; untuk menciptakan bangsa yang besar,

bermartabat dan disegani oleh dunia maka dibutuhkan good society yang dimulai

dari pembangunan karakter (character building). Pembangunan karakter atau

akhlak tersebut dapat dilakukan salah satunya melalui proses pendidikan

disekolah dengan mengimplementasikan penanaman nilai-nilai akhlak dalam

setiap materi pelajaran.


36

Uraian diatas menggambarkan bahwa pendidikan merupakan agen

perubahan yang signifikan dalam pembentukan karakter anak, dan pendidikan

agama Islam menjadi bagian yang penting dalam proses tersebut, tetapi yang

menjadi persoalan selama ini adalah pendidikan agama Islam disekolah hanya

diajarkan sebagai sebuah pengetahuan tanpa adanya pengaplikasian dalam

kehidupan sehari-hari.

Sehingga fungsi pendidikan agama Islam sebagai salah satu pembentukan

akhlak mulia bagi siswa tidak tercapai dengan baik. Munculnya paradigma bahwa

PAI bukanlah salah satu materi yang menjadi standar kelulusan bagi siswa ikut

berpengaruh terhadap kedalaman pembelajarannya. Hal ini menyebabkan PAI

dianggap materi yang tidak penting dan hanya menjadi pelengkap pembelajaran

saja, dan bahkan pembelajaran PAI hanya dilakukan didalam kelas saja yang

hanya mendapat jatah 2 jam pelajaran setiap minggu, lebih ironis lagi evaluasi

PAI hanya dilakukan dengan tes tertulis.

Pola pembelajaran terhadap materi PAI diatas sudah saatnya dirubah. Guru

yang menjadi ujung tombak keberhasilan sebuah pembelajaran harus menyadari

bahwa tanggung jawabnya terhadap keberhasilan pembelajaran PAI tidak hanya

pada tataran kognitif saja. Tetapi tidak kalah penting adalah bagaimana

memberikan kesadaran kepada siswa bahwa pendidikan agama adalah sebuah

kebutuhan sehingga siswa mempunyai kesadaran yang tinggi untuk melaksanakan

pengetahuan agama yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari. Disinilah

dibutuhkan kreatifitas guru dalam menyampaikan pembelajaran, dimana

pembelajaran PAI seharusnya tidak hanya diajarkan didalam kelas saja, tetapi
37

bagaimana guru dapat memotivasi dan memfasilitasi pembelajaran agama diluar

kelas melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan dan menciptakan

lingkungan sekolah yang religius dan tidak terbatas oleh jam pelajaran saja.

Tujuan utama dari Pembelajaran PAI adalah pembentukan kepribadian pada

diri siswa yang tercermin dalam tingkah laku dan pola pikirnya dalam kehidupan

sehari-hari, maka pembelajaran PAI tidak hanya menjadi tanggung jawab guru

PAI seorang diri, tetapi dibutuhkan dukungan dari seluruh komunitas disekolah,

masyarakat, dan lebih penting lagi adalah orang tua. Sekolah harus mampu

mengkoordinir serta mengkomunikasikan pola pembelajaran PAI terhadap

beberapa pihak yang telah disebutkan sebagai sebuah rangkaian komunitas yang

saling mendukung dan menjaga demi terbentuknya siswa berakhlak dan berbudi

pekerti luhur.

Keberhasilan pembelajaran PAI disekolah salah satunya juga ditentukan

oleh penerapan metode pembelajaran yang tepat. Sejalan dengan hal ini Abdullah

Nasih Ulwan memberikan konsep pendidikan inluentif dalam pendidikan akhlak

anak yang terdiri dari 1) Pendidikan dengan keteladanan, 2) Pendidikan dengan

adat kebiasaan, 3) Pendidikan dengan nasihat,4) pendidikan dengan memberikan

perhatian, 5) pendidikan dengan memberikan hukuman.

Ibnu Shina dalam Risalah al-Siyâsah mensyaratkan profesionalitas Guru

ditentukan oleh kecerdasan, agamanya, akhlaknya, kharisma dan wibawanya. Oleh

karena itu salah satu proses mendidik yang penting adalah keteladanan. Perilaku

dan perangai guru adalah cermin pembelajaran yang berharga bagi peserta didik.

Tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa guru


38

selayaknya berprinsip “ing ngarso sung tulodo ing madyo mangun karso”

(didepan memberi contoh, ditengah memberikan bimbingan dan dibelakang

memberikan dorongan). Keteladanan inilah salah satu metode yang seharusnya

diterapkan guru dalam pembelajaran PAI. Guru harus mampu menerapkan nilai-

nilai agama dalam kehidupannya sebelum mengajarkan nilai-nilai agama tersebut

kepada siswa. Karena ia akan menjadi model yang nyata bagi siswa.

Pendidikan yang berhubungan dengan kepribadian atau akhlak tidak dapat

diajarkan hanya dalam bentuk pengetahuan saja, tetapi perlu adanya pembiasaan

dalam prilakunya sehari-hari. Setelah menjadi teladan yang baik, guru harus

mendorong siswa untuk selalu berprilaku baik dalam kehidupan sehar-hari. Oleh

karena itu selain menilai, guru juga menjadi pengawas terhadap prilaku siswa

sehari-hari di sekolah, dan disinilah pentingnya dukungan dari semua pihak.

Karena didalam metode pembiasaan siswa dilatih untuk mampu

membiasakan diri berprilaku baik dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja.

Proses belajar mengajar yang diharapkan didalam pendidikan akhlak adalah lebih

kepada mendidik bukan mengajar. Mendidik berarti proses pembelajaran lebih

diarahkan kepada bimbingan dan nasihat. Membimbing dan menasehati berarti

mengarahkan peserta didik terhadap pembelajaran nilai-nilai sebagai tauladan

dalam kehidupan nyata, jadi bukan sekedar menyampaikan yang bersifat

pengetahuan saja.

Mendidik dengan memberikan perhatian berarti senantiasa memperhatikan

dan selalu mengikuti perkembangan anak pada prilaku sehari-harinya. Hal ini juga

dapat dijadikan dasar evaluasi bagi guru bagi keberhasilan pembelajarannya.


39

Karena hal yang terpenting dalam proses pemelajaran PAI adalah adanya

perubahan prilaku yang baik dalam kehidupan sehari-harinya sebagai wujud dari

aplikasi pengetahuan yang telah didapat.

Bentuk apresiasi guru terhadap prestasi siswa adalah adanya umpa balik

yang positif yaitu dengan memberikan ganjaran dan hukuman (reward-

punishment). Ganjaran diberikan sebagai apresiasi guru terhadap prestasi siswa

sedangkan hukuman diberikan jika siswa melanggar aturan yang telah ditentukan,

tetapi hukuman disini bukan berarti dengan kekerasan atau merendahkan mental

siswa, tetapi lebih kepada hukuman yang sifatnya mendidik. Metode reward dan

punishment dibutuhkan dalam pembelajaran PAI dengan Tujuan agar anak selalu

termotivasi untuk belajar.

Pemberian pengetahuan tentang aqidah yang benar menjadi dasar yang

paling utama dalam penanaman akhlak pada anak. Disinilah pentingnya

pembelajaran pendidikan agama Islam disekolah, karena pendidikan agama

merupakan pondasi bagi pembelajaaran ilmu pengetahuan lain, yang akan

menghantarkan terbentuknya anak yang berkepribadian, agamis dan

berpengetahuan tinggi. Maka tepat jika dikatakan bahwa penerapan Pendidikan

agama Islam disekolah adalah sebagai pilar pendidikan karakter yang utama.

Pendidikan agama mengajarkan pentingnya penanaman akhlak yang dimulai

dari kesadaran beragama pada anak. Ia mengajarkan aqidah sebagai dasar

keagamaannya, mengajarkan al quran dan hadits sebagai pedoman hidupnya,

mengajarkan fiqih sebagai rambu-rambu hukum dalam beribadah, mengajarkan


40

sejarah Islam sebagai sebuah keteladan hidup, dan mengajarkan akhlak sebagai

pedoman prilaku manusia apakah dalam kategori baik ataupun buruk.

C. Definisi Madrasah Tsanawiyah (MTs)

1. Pengertian Madrasah dan Macam-Macamnya

Kata madrasah dalam bahasa Arab adalah bentuk kata keterangan tempat

dan akar kata darasa. Secara harfiah inadrasah berarti “tempat belajar”, “tempat

untuk memberikan pelajaran.” Dalam bahasa Indonesia, kata madrasah memiliki

arti “sekolah” kendati pada mulanya kata “sekolah” itu sendiri bukan berasal dan

bahasa Indonesia, melainkan dan bahasa asing, yaitu school atau scola. (Malik

Fadjar, 1998: Depag, 2004:1).

Di tanah Arab istilah madrasah ditujukan untuk semua sekolah umum.

tetapi di Indonesia istilah rnadrasah diberi konotasi yang lebih spesifik lagi, yakni

“sekolah agama”, tempat di mana anak-anak didik memperoleh pembelajaran

tentang seluk beluk agama dan keagamaan Islam. Padanan kata madrasah dalam

Bahasa Indonesia adalah sekolah. Tetapi lebih dikhususkan pada sekolah agama

Islam.

Al-Tibawi dan Mehdi Nakosteen menyimpulkan bahwa pada masa klasik

Islam istilah madrasah merujuk pada lembaga pendidikan tinggi. Karena itu,

Nakosteen menerjemahkan madrasah dengan universitas (1996: 66). Sedangkan

George Makdisi berpendapat bahwa istilah madrasah merujuk pada tiga makna

arti, yaitu: pertama, kata universitas, dalam penertian yang paling awal, merujuk

pada komunitas atau sekelompok saijana dan mahasiswa, kedua; merujuk pada

sebuah bangunan tempat kegiatan pendidikan setelah pendidikan dasar


41

berlangsung, dan ketiga, izin mengajar pada madrasah diberikan oleh Syeikh

secara personal tanpa kaitan apa-apa dengan pemerintahan (Azra, 1999: 15)

Namun demikian, madrasah di Indonesia digunakan untuk pengertian yang

berbeda dengan sejarah asalnya. Di Indonesia istilah madrasah bergeser menjadi

lembaga pendidikan tingkat dasar sampai menengah. Di Indonesia istilab

madrasah ditujukan buat sekolah-sekolah yang mata pelajaran dasarnya adalah

Mata Pelajaran Agarna Islam (Depag. 2004:1; Haidar Putra, 2001: 59)

Menurut Kamus Besar Indonesia (Poerwadarminta, 1984: 61 8) istilah

madrasah kini telah menyatu dengan istilah sekolah atau perguruan terutama

perguruan Islam. Akan tetapi menurut Karel A Steenbrink yang dikutip oleh

Muhaimin (1993: 305) istilah madrasah dan sekoai dibedakan arena keduan\a

mempunyai ciri yang berbeda. Departemen Agama RI yang dikutip oleh Haidar

Putera (2001: 61) merumuskan pengertian madrasah sebagai tempat pendidikan

yang diatur sebagai sekolah dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan agama

menjadi pokok pengajaran.

Secara historis, menurut Muhaimin (1993: 305) bahwa kehadiran

madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam mempunyai empat latar belakang,

yaitu: (1) Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam;

(2) Usaha penyempurnaan terhadap sistem pesantren ke arah suatu sistem

pendidikan yang lebih memungkinkan lulusannya untuk memperoleh kesempatan

yang sama dengan sekolah umum, misainva kesamaan kesempatan kerja dan

perolehan ijazah; (3) Adanya sikap mental pada sementara golongan umat Islam,
42

khususnya santri yang terpakau pada Barat sebagai sistem pendidikan mereka; dan

(4) Sebagai upaya untuk menjembatam antara sistem pendidikan modem dan hasil

akulturasi.

Setelah lahirnya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2

Tahun 1989 dan Peraturan Pemerintah No. 28 dan 29 Tahun 1990, rnadrasah

memilki nengertian barn sebagai sekolah umum berciri khas Islam. Eksistensi

madrasah semakin kuat setelah dikeluarkannva Undang-Undang Sistem

Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 di mana [Link] diakui secara

eksplisit sebagai sebuah sistem pendidikan nasional yang berciri khas Islam.

Sistem madrasah terdiri dan tiga jenjang, yaitu Madrasah Ibtidaiyah setingkat

dengan Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah setingkat dengan Sekolah

Menengah Pertama, dan Madrasah Aliyah setingkat dengan Sekolah Menengah

Atas Putera, 2001: 144).

2. Pengertian Madrasah Tsanawiyah (MTs)

Madrasah Tsanawiyah (disingkat MTs) adalah jenjang dasar pada

pendidikan formal di Indonesia, setara dengan sekolah menengah pertama, yang

pengelolaannya dilakukan oleh Kementerian Agama. Pendidikan madrasah

tsanawiyah ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9.

Kurikulum madrasah tsanawiyah sama dengan kurikulum sekolah

menengah pertama, hanya saja pada MTs terdapat porsi lebih banyak mengenai

pendidikan agama Islam, misalnya mata pelajaran Bahasa Arab, Al Qur'an-Hadits,

Fiqih, Aqidah Akhlaq, dan Sejarah Kebudayaan Islam.


43

Peserta didik madrasah tsanawiyah umumnya berusia 13-15 tahun. Di

Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti

pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah

menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.

Anda mungkin juga menyukai