0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan11 halaman

Penerapan Pendidikan Karakter di MTs Cibeber

bab 1

Diunggah oleh

Hisyam Khairy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan11 halaman

Penerapan Pendidikan Karakter di MTs Cibeber

bab 1

Diunggah oleh

Hisyam Khairy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20,

tahun 2003, Pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk

mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat

dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini bertujuan untuk

berkembangya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,

kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung

jawab (Damayanti, 2014: 9).

Rumusan tujuan pendidikan tersebut diatas merupakan landasan

pengembangan pendidikan karakter bangsa. Pendidikan karakter bangsa harus

tetap selalu diberikan kepada peserta didik agar memiliki landasan yang kuat dan

selalu mencerminkan sikap dan tindakan yang sesuai dengan karakter bangsa

Indonesia. Selain itu, sebagai bekal bagi peserta didik untuk mengamalkannya

dalam kehidupan sehari-hari dimanapun berada. Jadi, dalam hal ini peserta didik

tidak hanya pandai dan cakap intelektualnya namun memiliki karakter bangsa

yang kuat.

Tujuan pendidikan belumlah sepenuhnya tercapai. Ini terbukti dengan

adanya fenomena yang terjadi bahwa sikap dan tindakan peserta didik semakin

bergeser kearah yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.

1
2

Penyalahgunaan narkoba, perkelahian, seks bebas, budaya tidak tertib, tidak

disiplin, dan tindakan asusila yang lainnya. Ini mencerminkan bahwa belum

maksimalnya penerapan pendidikan karakter di sekolah.

Peningkatan kegiatan untuk melatih dan membekali peserta didik akan

pendidikan karakter perlu dimaksimalkan. Bentuk kegiatan bisa bermacam-

macam, salah satunya yaitu dengan kegiatan keagamaan. Harapanya adalah

dengan melaksanakan kegiatan keagamaan peserta didik akan dapat melatih dan

membiasakan sikap dan tindakan yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia,

yaitu religius, jujur, toleransi, kerja keras, kreatif, demokratis, rasa ingin tahu,

mandiri, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif,

cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung

jawab.

Kegiatan keagamaan dalam pendidikan agama dimanapun harus mencakup

semua aspek. Pelaksanaan pendidikan agama mampu menghantarkan seorang

peserta didik kepada setidaknya tiga aspek. Pertama, aspek keimanan mencakup

seluruh arkanul iman. Kedua, aspek ibadah, mencakup arkanul islam. Ketiga,

aspek akhlak, mencakup seluruh akhlakul karimah. Kegiatan keagamaan

bermaksud untuk penanaman jiwa/sikap keagamaanya pada peserta didik bukan

pengajaran agama (Putra, 2004: 38).

Penanaman sikap pada peserta didik sangatlah penting. Hal ini disebabkan

karena banyaknya fenomena yang terjadi pada masa kini seperti kemerosotan

moral, pergaulan bebas, dan narkoba yang dapat mengancam generasi penerus

bangsa. Contoh kasus dalam berita siswa SMP mencoba merampas taksi di

2
3

Sleman ([Link]). Diberitakan juga dua remaja putri aniaya siswi SMP

([Link]). Konsumsi narkoba, siswa SMP sampit dikeluarkan dari sekolah

([Link]).

Menurut pengamatan penulis, pendidikan karakter sudah diterapkan di di

MTs Arridwan Assalat ini hanya saja, penulis lihat belum maksimal

penerapannya. Hal ini terlihat dari karakter dan kebiasaan siswanya di sekolah

maupun di lingkungan sekitar sekolah. Dari uraian diatas, maka peneliti tertarik

untuk meneliti tentang penerapan pendidikan karakter dalam membentuk

kepribadian anak melalui kegiatan keagamaan di MTs Arridwan Assalat Kec.

Cibeber Kabupaten Cianjur.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas perlu dibuat rumusan masalah. Rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pendidikan karakter siswa di MTs Arridwan Assalat Kec.

Cibeber Kabupaten Cianjur?

2. Bagaimana penerapan pendidikan karakter siswa melalui kegiatan

keagamaan di MTs Arridwan Assalat Kec. Cibeber Kabupaten Cianjur?

3. Kendala apa saja yang dialami dan cara mengatasi dalam penerapan

pendidikan karakter siswa melalui kegiatan keagamaan di MTs Arridwan

Assalat Kec. Cibeber Kabupaten Cianjur?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

3
4

1. Untuk menegtahui pendidikan karakter siswa di MTs Arridwan Assalat

Kec. Cibeber Kabupaten Cianjur?

2. Untuk mengetahui penerapan pendidikan karakter siswa melalui kegiatan

keagamaan di MTs Arridwan Assalat Kec. Cibeber Kabupaten Cianjur.

3. Untuk mengetahui kendala apa saja yang dialami dan cara mengatasi

dalam penerapan pendidikan karakter siswa melalui kegiatan keagamaan

di MTs Arridwan Assalat Kec. Cibeber Kabupaten Cianjur.

D. Kerangka Pemikiran

Untuk menghindari kemungkinan penafsiran yang berbeda dalam

penggunaan kata pada judul penelitian ini, perlu adanya penjelasan beberapa

istilah pokok maupun kata-kata menjadi variabel. Penulisan istilah yang perlu

dijelaskan adalah sebagai berikut:

1. Penerapan

Penerapan berarti pelaksanaan (KBBI, 2008:548). Penerapan adalah

pelaksanaan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.

2. Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah upaya penanaman kecerdasan dalam berfikir,

penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengamalan dalam bentuk perilaku yang

sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam

interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, masyarakat dan lingkungannya

(Zubaedi, 2011:17). Proses penanaman cara berperilaku yang menjadi ciri

khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama baik dalam lingkup keluarga,

masyarakat, bangsa dan negara.

4
5

3. Kegiatan Keagamaan

Keagamaan adalah sifat yang terdapat dalam agama, segala sesuatu mengenai

agama. Menurut W.J.S Poerwadarminta dalam Fransiska Rara (2017)

Kegiatan keagamaan adalah segala bentuk kegiatan yang terencana dan

terkendali berhubungan dengan usaha untuk menanamkan bahkan

menyebarluaskan nilai-nilai keagamaan dalam tahap pelaksanaanya dapat

dilakukan oleh perorang atau kelompok (Fransiska 2017).

Jadi yang dimaksud dengan judul skripsi ini adalah pelaksanaan atau upaya

penanaman sikap atau perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai leluhur yang

menjadi jati diri siswa melalui kegiatan yang berbentuk keagamaan seperti

sholat berjamaah, membaca asmaul husna, tadarus bersama, infaq, Tahfidz

Quran, kaligrafi dan qiraah.

Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, tentang SKL, Inpres No. 1

tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional

tahun 2010 menyatakan / menghendaki / memerintahkan pengembangan karakter

peserta didik melalui pendidikan di sekolah.

Undang-Undang No. 20 tahun pasal 3 menyebutkan Pendidikan Nasional

berfungsi:

- Mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban


bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
- Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan

5
6

Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang berdemokratis serta bertanggung jawab.

Menurut ajaran Islam, anak adalah merupakan amanah Allah yang wajib

dipertanggungjawabkan keberadaannya. Secara umum inti dari tanggung jawab

itu adalah penyelenggaraan pendidikan bagi kemajuan anak-anak dalam rumah

tangga. Mengingat betapa pentingnya peranan serta keutamaan keluarga sebagai

lembaga pendidikan Islam, diisyaratkan dalam Al Qur'an surat Al-Mujadillah 58

ayat 11:

‫ْل‬ ‫َل‬ ‫ٰا‬ ‫َّل‬ ‫َا‬


‫ٰٓي ُّيَها ا ِذْيَن َمُن ْٓوا ِاَذا ِقْي َل ُكْم َتَفَّس ُح ْوا ِفى ا َمٰج ِلِس َفاْفَس ُح ْوا َيْفَس ِح‬
‫الّٰلُه َلُك ْۚم َوِاَذا ِقْيَل اْنُش ُز ْوا َفاْنُش ُز ْوا َيْر َف ِع الّٰل ُه اَّل ِذْيَن ٰاَمُن ْوا ِمْنُك ْۙم َواَّل ِذْيَن‬
‫ُاْوُتوا اْلِعْلَم َدَر ٰج ٍۗت َوالّٰلُه ِبَما َتْعَمُلْوَن َخ ِبْيٌر‬
Artinya: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah
kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang
yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang
kamu kerjakan. (Al-Mujadillah : 11).

Ada tiga hirarki kecerdasan yakni IQ (Intelligent Quotient=kecerdasan

otak), EQ (Emotional Quotient=kecerdasan emosional), SQ (Spiritual Quotient).

(Fathiyah. 1993: 24).

1. IQ (Intelligent Quotient=kecerdasan otak)

Suatu yang Allah anugerahkan pada manusia adalah bahwa setiap orang

diberi kecerdasan. Dan selama ini kita hanya mengacu pada sekor IQ untuk

mengukur kecerdasan seseorang, padahal IQ hanya mengukur paling banyak tiga

asfek kecerdasan yaitu linguistik, logical-mathematical, dan kadang-kadang

spatial dan semua ini hanya menyangkut otak kiri. Manusia dikotak-kotakan oleh

skor IQ menjadi beberapa kategori dari yang debil, rata-rata sampai yang superior.

6
7

Mereka yang mempunyai bakat musik yang tinggi atau interpersonal bagus,

tapi kalau sekor IQ nya di bawah rata-rata, maka mereka akan tetap dibilang orang

bodoh. Padahal kenyataannya Allah memberikan bakat dan kemampuan yang

berbeda-beda pada setiap manusia. gurdner menganjurkan untuk tidak lagi

memakai sekor IQ yang banyak sekali di salahgunakan. Banyak mudarat yang

ditimbulkan oleh orientasi IQ salah satunya adalah hancurnya sistem pendidikan

yang arahnya adalah hanya untuk mencetak anak “pandai otak kiri”. Dan hasilnya,

kualitas SDM kita hanya mendapat nilai peringkat satu yang terjelek di dunia.

Terbukti orientasi otak kiri lebih dominan sehingga sebagian besar

mematikan apresiasi dan kegairahan anak untuk belajar. Sehingga anak menjadi

tidak bersemangat, malas dan tidak kreatif pada akhirnya bersekolah itu menjadi

beban yang berat bagi mereka.

2. EQ (Emotional Quotient=kecerdasan emosional)

EQ adalah merupakan kemampuan untuk merasa. Kunci kecerdasan emosi

adalah pada kejujuran suara hati. Suara hati ini adalah merupakan pusat prinsip

yang mampu memberi rasa aman, pedoman, kekuatan, serta kebijaksanaan.

Menurut Mc Cleland dalam sebuah makalah pada tahun 1973 yang berjudul

“Testing for Competence Rather than Intellegence”, dijelaskan sebagai berikut:

“Seperangkat kecakapan khusus seperti: empati, disiplin dan inisiatif, akan

membedakan antara mereka yang sukses sebagai bintang kinerja dengan yang

hanya sebatas bertahan di lapangan pekerjaan”.

7
8

3. SQ (Spiritual Quotient=Kecerdasan Spiritual)

SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara

efektif. Bahkan dapat dikatakan bahwa SQ merupakan kecerdasan tertinggi

manusia, yang meliputi kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap

pemikiran, kegiatan serta mampu mensinergikan IQ, EQ, dan SQ secara

komperhensif. Ketika seseorang dengan IQ dan EQ nya berhasil mendaki

kesuksesan acap kali ia disergap oleh perasaan kosong dan hampa dalam

kehidupan celah batin [Link] disinilah fungsinya SQ sebagai

penyeimbang antara akal dengan hati.

E. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif.

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami

fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku,

persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara

deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang

alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Lexy, J Moleong,

1993:6).

Penelitian kualitatif lebih menekankan kepada pemahaman makna, berkaitan

erat dengan nilai-nilai tertentu, lebih menekankan pada proses daripada

pengukuran, mendeksripsikan, menafsirkan, dan memberikan makna dan tidak

cukup dengan penjelasan belaka, dan memanfaatkan multi metode dalam

penelitian (Sutama, 2012:61).

8
9

Penggambaran dan analisis terhadap fenomena adalah ciri dari penelitian

kualitatif. Suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan

menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi,

pemikiran orang secara individual maupun kelompok dengan mempunyai dua

tujuan utama, yaitu pertama menggambarkan dan mengungkap (to describe and

explore) dan kedua menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain)

(Nana Syaodih, 2007 : 60).

2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ialah di MTs Arridwan Assalat yang terletak di Kp.

Kebonpala RT 01/07 Ds. Sukamaju Kec. Cibeber Kabupaten Cianjur. Penelitian

ini dilaksanakan mulai Juli 2021 sampai dengan tanggal Sepetember 2021.

3. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian adalah subjek darimana data dapat diperoleh

(Arikunto, 2006:129). Menurut sumber data utama dalam penelitian kualitatif

ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen

dan lain-lain (Lofland (1984) dalam Moleong (2009:157). Dalam penelitian ini,

data-data yang diperlukan diperoleh dari dua sumber:

a. Data primer

Dalam penelitian ini, data primer digunakan untuk memperoleh data

yang berkaitan dengan penerapan pendidikan karakter melalui kegiatan

keagamaan. Data primer dalam penelitian ini yaitu wakil kepala bidang

kesiswaan, asisten wakil kepala bidang kurikulum guru pembina kegiatan

9
10

keagamaan, guru BK, dan Siswa di MTs Arridwan Assalat Kec. Cibeber

Kabupaten Cianjur.

b. Data sekunder

Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari data yang sudah ada dan

memiliki hubungan dengan masalah yang diteliti, yaitu meliputi buku ilmiah,

jurnal, artikel, observasi, dan dokumentasi.

4. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa

cara yaitu:

a. Wawancara

Wawancara ialah tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara

langsung (Usman&Purnomo, 2011:55). Wawancara dilakukan dengan kepala

sekolah, waka kesiswaan, guru pembimbing kegiatan keagamaan dan siswa di

MTs Arridwan Assalat Kec. Cibeber Kabupaten Cianjur. Wawancara yang

digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur karena peneliti

dalam melakukan kegiatan menggunakan panduan wawancara untuk

mendapatkan data mengenai penerapan pendidikan karakter.

b. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap

gejala-gejala yang diteliti. Menurut Sugiyono (2015: 203), observasi adalah

teknik yang digunakan oleh peneliti untuk mengetahui aktivitas-aktivitas yang

terjadi selama penelitian dengan mengamati secara langsung. Cara ini juga

efektif untuk menggambarkan kondisi kelas, perilaku siswa, atau respon dan

10
11

tanggapan dari siswa tentang penelitian ini. Observasi ini difokuskan pada

penerapan pendidikan karakter melalui kegiatan keagamaan (Usman &

Purnomo, 2011: 52).

c. Dokumentasi

Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi ialah pengambilan data

yang diperoleh melalui dokumen-dokumen. Dokumentasi dalam penelitian ini

diantaranya adalah dokumentasi yang berupa jadwal kegiatan keagamaan,

lembar kegiatan/catatan kegiatan keagamaan, daftar hadir kegiatan dan foto-

foto kegiatan (Usman & Purnomo, 2011: 69). Untuk membuktikan bahwa

kegiatan penerapan pendidikan karakter benar-benar dilaksnakan di di MTs

Arridwan Assalat Kec. Cibeber Kabupaten Cianjur.

11

Anda mungkin juga menyukai