0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan43 halaman

Pengelolaan Keuangan Sekolah Efektif

Dokumen ini membahas pengelolaan keuangan sekolah, yang merupakan bagian penting dari manajemen keuangan, termasuk perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pengelolaan keuangan sekolah adalah meningkatkan akuntabilitas, transparansi, efektivitas, dan efisiensi penggunaan dana sekolah. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang bertujuan untuk meringankan beban biaya pendidikan dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Diunggah oleh

Conny Lassi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan43 halaman

Pengelolaan Keuangan Sekolah Efektif

Dokumen ini membahas pengelolaan keuangan sekolah, yang merupakan bagian penting dari manajemen keuangan, termasuk perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pengelolaan keuangan sekolah adalah meningkatkan akuntabilitas, transparansi, efektivitas, dan efisiensi penggunaan dana sekolah. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang bertujuan untuk meringankan beban biaya pendidikan dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Diunggah oleh

Conny Lassi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pengelolaan Keuangan Sekolah

Sebelum membahas tentang pengelolaan keuangan sekolah terlebih

dahulu dijelaskan konsep/istilah pengelolaan menurut para ahli.

Menurut Nugroho (2003,119) mengemukakan bahwa pengelolaan

merupakan istilah yang dipakai dalam ilmu manajemen. Secara etimologi

istilah pengelolaan berasal dari kata Kelola (to manage) dan biasanya

merujuk pada proses mengurus atau menangani sesuatu untuk mencapai

tujuan tertentu. Jadi pengelolaan merupakan ilmu manajemen yang

berhubungan dengan proses mengurus dan menangani sesuatu untuk

mewujudkan tujuan tertentu yang ingin dicapai. Sedangkan menurut

syamsu menitikberatkan pengelolaan sebagai fungsi manajemen yang

meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian dan pengontrolan

untuk mencapai efisiensi pekerjaan.

Sementara Terry (2009,9) mengemukakan bahwa pengelolaan sama

dengan manajemen sehingga pengelolaan dipahami sebagai suatu proses

membeda-bedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan

pengawasan dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni agar dapat

menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pengelolaan atau yang sering disebut manajemen pada umumnya

sering dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas dalam organisasi berupa

perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, pengarah dan pengawasan.

16
Istilah manajemen berasal dari kata kerja to manage yang berarti

menangani atau mengatur. Dari pengertian pengelolaan di atas, dapat

disimpulkan bahwa pengertian pengelolaan yaitu bukan hanya

melaksanakan suatu kegiatan, yang meliputi fungsi-fungsi menajemen,

seperti perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan untuk mencapai tujuan

secara efektif dan efisien.

Pengelolaan keuangan sekolah merupakan bagian yang tidak dapat

dipisahkan dalam menajemen keuangan. Secara umum, manajemen

keuangan merupakan pengendalian atas fungsi-fungsi keuangan yang

meliputi kegiatan perencanaan, penganggaran, pengelolaan, pencairan,

penyimpangan, pengendalian dan pemeriksaan keuangan. Manajemen

keuangan di tingkat sekolah pada dasarnya tidak berbeda dengan

manajemen keuangan secara umum. Departemen Pendidikan Nasional

(2011) mendefinisikan pengelolaan keuangan sebagai tindakan

pengurusan/ketatausahaan keuangan yang meliputi pencatatan,

perencanaan, pelaksanaan, pertanggungjawaban dan pelaporan. Dengan

kata lain pengelolaan keuangan sekolah merupakan rangkaian aktivitas

yang mengatur keuangan sekolah mulai dari perencanaan, pembukuan,

pembelanjaan, pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan sekolah.

Pengelolaan keuangan sekolah secara profesional memungkinkan

satuan pendidikan tumbuh secara optimal dan pada akhirnya diharapkan

mampu mendukung kegiatan belajar mengajar yang berkualitas. Sekolah

bukanlah lembaga yang bersifat mencari profit, maka setiap penerimaan

17
sekolah harus digunakan kembali untuk peningkatan kualitas dan kuantitas

pelayanan Pendidikan itu sendiri.

Menurut Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa dana pendidikan adalah seluruh

pengeluaran yang berupa sumber daya (input) baik berupa barang maupun

uang yang ditunjukan untuk menunjang kegiatan proses belajar mengajar.

2.1.1 Tujuan Pengelolaan Keuangan Sekolah

Melalui kegiatan pengelolaan keuangan yang baik, kebutuhan

pendanaan kegiatan sekolah dapat direncanakan, diupayakan

pengadaannya, dibukukan secara transparan, dan digunakan untuk

membiayai pelaksanaan program sekolah secara efektif dan efisien. Oleh

karena itu, tujuan pengelolaan keuangan menurut Kementrian Pendidikan

Nasional (2011:163) adalah:

a) Meningkatkan akuntabilitas dan transparasi penggunaan dana sekolah,

b) Meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan dana sekolah,

c) Mendorong pemanfaatan dana sekolah secara lebih ekonomis,

d) Meminimalkan penggunaan anggaran sekolah,

e) Memupuk kreativitas pencarian sumber pendanaan sekolah

f) Mendorong kompetensi penanggungjawab keuangan sekolah

2.1.2 Prinsip-Prinsip Pengelolaan Keuangan

Pengelolaan keuangan sekolah perlu memperhatikan sejumlah

prinsip. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 48 menyatakan

18
bahwa pengelolaan dana pendidikan didasarkan pada prinsip keadilan,

efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik.

a. Keadilan

Keadilan dalam pengelolaan keuangan adalah adanya kesempatan

yang sama untuk mendapatkan pelayanan publik yang berkualitas.

Prinsip ini menjadi penting pada organisasi yang menyediakan

layanan publik seperti pendidikan, karena fokus pelayanan adalah

agar masyarakat memperoleh kesempatan yang sama dalam

mengakses pelayanan pendidikan. Pengelolaan keuangan

selenggarakan untuk mendukung pencapaian pemerataan kesempatan

tersebut.

b. Efisiensi

Efisiensi terkait dengan kuantitas dari suatu kegiatan. Seringkali

efisiensi digambarkan sebagai perbandingan yang terbaik antara

masukan (input) dan keluaran (output). Daya yang dimaksud meliputi

tenaga, pikiran, waktu dan biaya. Perbandingan tersebut dapat dilihat

dari dua hal, yaitu:

1) Dari penggunaan masukan (input), bahwa kegiatan dapat

dikatakan efisien apabila penggunaan waktu, tenaga dan biaya

yang sekecil-kecilnya dapat mencapai hasil yang ditetapkan.

2) Dari sisi hasil (output), bahwa kegiatan dapat dikatakan efisien

apabila dengan penggunaan waktu, tenaga dan biaya tertentu

19
memberikan hasil sebanyak-banyaknya. Baik kuantitas

maupun kualitasnya.

c. Transparansi

Transparansi berarti adanya keterbukaan. Transparansi di bidang

pengelolaan berarti adanya keterbukaan di bidang pengelolaan

keuangan sekolah. Pada lembaga pendidikan, pengelolaan keuangan

yang transparan berarti adanya keterbukaan akan kebijakan-kebijakan

keuangan, keterbukaan sumber keuangan dan jumlahnya, keteburkaan

penggunaan serta pertanggungjawabannya sehingga memudahkan

pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahuinya.

Transparansi keuangan sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan

dukungan orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam

penyelenggaraan seluruh program pendidikan di sekolah. Di samping

itu, transparansi dapat menciptakan kepercayaan timbal balik antara

pemerintah, masyarakat, orang tua siswa, dan warga sekolah melalui

penyediaan informasi dan menjamin kemudahan dalam memperoleh

informasi yang akurat dan memadai.

d. Akuntabilitas publik

Akuntabilitas merupakan kondisi seseorang yang dinilai oleh orang

lain karena kualitas performansinya dalam menyelesaikan tugas untuk

mencapai tujuan yang menjadi tanggungjawabnya. Akuntabilitas di

dalam pengelolaan keuangan berarti penggunaan uang sekolah dapat

dipertanggungjawabkan sesuai dengan perencanaan yang telah

20
ditetapkan. Berdasarkan perencanaan yang telah ditetapkan dan

peraturan yang berlaku, pihak sekolah membelanjakan uang secara

bertanggungjawab.

Terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya

akuntabilitas, yaitu:

1. Transparansi para penyelenggara sekolah dengan menerima

masukan dan mengikutsertakan berbagai komponen dalam

mengelola sekolah,

2. Standar kinerja di setiap institusi yang dapat diukur dalam

melaksanakan tugas, fungsi dan wewenangnya,

3. Partisipasi untuk saling menciptakan suasana kondusif dalam

mengadakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang

mudah, biaya yang murah dan pelayanan yang cepat.

2.2 Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

Menurut Wikipedia Bantuan Operasioanal Sekolah (BOS) adalah

bantuan pendidikan yang berbentuk dana yang diberikan kepada sekolah

dan madrasah untuk kepentingan nonpersonalia. Dana BOS diberikan

berdasarkan jumlah siswa yang dimiliki sebuah sekolah. Menurut

Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan teknologi Nomor 2

Tahun 2022 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana Bantuan

Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini, Bantuan

Operasional Sekolah, dan Bantuan Operasional Penyelenggaraan

Pendidikan Kesetaraan, pasal 1 ayat (4) Dana Bantuan Operasional

21
Sekolah yang selanjutnya disebut Dana BOS adalah dana yang digunakan

terutama untuk mendanai belanja nonpersonalia bagi satuan pendidikan

dasar dan menengah sebagai pelaksana program wajib belajar dan dapat

dimungkinkan untuk mendanai beberapa kegiatan lain sesuai dengan

ketentuan perundang-undangan.

Program Bantuan Oparasional Pendidikan Dasar dan Menengah

yang kemudian disebut dengan Dana Bantuan Operasional Sekolah atau

yang dikenal Dana BOS adalah dana yang digunakan terutama untuk

mendanai belanja nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar dan

menengah sebagai pelaksana program wajib belajar dan dapat

dimungkinkan untuk mendanai beberapa kegiatan lain sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan. Dana BOS terdiri atas dana

BOS reguler dan dana BOS kinerja. Dana BOS regular adalah Dana BOS

yang dialokasikan untuk membantu kebutuhan belanja operasional seluruh

peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah sedangkan dana

BOS kinerja adalah dana yang digunakan untuk peningkatan mutu

pendidikan dasar dan menengah yang dinilai berkinerja dengan baik.

Satuan Pendidikan yang menerima dana BOS meliputi SD, SDLB, SMP,

SMPLB, SMA, SMALB, SLB dan SMK.

Mengacu pada konsep tersebut maka dana BOS merupakan

program pemerintah dalam memberikan bantuan berupa uang kepada

pihak sekolah sehingga membebaskan pungutan biaya operasional sekolah

yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah dan

22
juga meringankan beban biaya operasional sekolah yang diselenggarakan

oleh masyarakat serta membebaskan pungutan bagi peserta didik yang

orang tua/walinya tidak mampu.

Menurut Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 69 Tahun

2009 tentang Standar Anggaran Operasi Non Personalia, standar anggaran

operasi non personalia adalah standar anggaran yang diperlukan untuk

membiayai aktivitas operasi non personalia selama satu tahun sebagai

bagian dari keseluruhan dana pendidikan supaya satuan pendidikan

sanggup melaksanakan aktivitas pendidikan secara tertata serta

berkelanjutan sesuai Standar Nasional Pendidikan. Dukungan operasional

yaitu program pemerintah yang pada dasarnya untuk penyediaan biaya

operasi nonpersonalia untuk satuan pendidikan dasar selaku pelaksana

program wajib belajar.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang

Pendanaan Pendidikan, anggaran non personalia merupakan biaya untuk

bahan maupun perlengkapan pendidikan habis pakai, serta biaya tidak

langsung berbentuk daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan fasilitas

serta prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak dan lain-lain.

2.2.1 Tujuan Dana BOS

Secara umum, tujuan program pemberian dana BOS bagi satuan

pendidikan adalah untuk meringankan beban masyarakat terhadap

pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 12 tahun yang

23
bermutu. Sedangkan secara khusus program pemberian dana BOS

bertujuan untuk :

a. Membantu penyediaan pendanaan biaya operasi non personil

sekolah, akan tetapi masih ada beberapa pembiayaan personil yang

masih dapat dibayarkan dari dana BOS;

b. Meningkatkan angka partisipasi kasar (APK);

c. Untuk mengurangi angka putus sekolah;

d. Mewujudkan keberpihakan Pemerintah Pusat bagi peserta didik yang

orangtua/walinya tidak mampu dengan membebaskan dan/atau

membantu (discount fee) tagihan biaya sekolah dan biaya

lainnya di SMA/SMALB/SMK sekolah;

e. Memberikan kesempatan yang setara bagi peserta didik yang

orangtua/walinya tidak mampu untuk mendapatkan layanan

pendidikan yang terjangkau dan bermutu;

f. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran di sekolah.

2.2.2 Sasaran Program Dana BOS

Berdasarkan Permendikbud Nomor 6 Tahun 2021 tentang Petunjuk

Teknis Pengelolaan Dana BOS Reguler pasal 3 ayat (1), Sasaran atau

sekolah penerima Dana BOS reguler adalah SD/SDLB/SMP/SMPLB,

SMA/SMALB/SMK, dan SLB yang diselenggarakan oleh pemerintah

pusat di bawah pengelolaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,

pemerintah daerah, atau masyarakat yang telah terdata dalam

Dapodikdasmen dan SD/SDLB/SMP/SMPLB, SMA/SMALB/SMK, dan

24
SLB yang memenuhi syarat sebagai penerima BOS berdasarkan kriteria

yang telah ditentukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

2.2.3 Waktu Penyaluran Dana BOS

Besaran alokasi dana BOS Reguler berdasarkan Permendikbud

Nomor 6 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana BOS

Reguler pasal 5 ayat (1) dihitung berdasarkan besaran satuan biaya

masing-masing daerah dikalikan dengan jumlah peserta didik. Jumlah

peserta didik yang dimaksud dihitung berdasarkan data jumlah peserta

didik yang memiliki Nomor Induk Siswa Nasional (NISN). Mengacu pada

ketentuan tersebut maka besaran dana BOS reguler untuk siswa SD

adalah Rp. 910.000 persiswa pertahun dan untuk siswa SMP adalah Rp.

1.120.000 persiswa pertahun.

Penyaluran dana BOS reguler tahun 2022 dilakukan setahun dalam

tiga tahap, yaitu bulan januari s.d. Maret untuk tahap pertama; bulang

Mei [Link] untuk tahap kedua dan bulan Agustus s.d. September untuk

penyaluran tahap tiga. Penyaluran tahap I dilakukan setelah sekolah

menyampaikan laporan penggunaan Dana BOS tahap II tahun

sebelumnya. Penyaluran tahap II dilakukan setelah sekolah menyampaikan

laporan penggunaan dana BOS tahap III tahun sebelumnya. Penyaluran

tahap III dilakukan setelah sekolah menyampaikan laporan penggunaan

dana BOS tahap I tahun anggaran berjalan.

25
2.2.4 Persyaratan Penerimaan Dana BOS Reguler

a. Memiliki NPSN yang terdata pada Aplikasi Dapodik

b. Telah mengisi dan melakukan pemutakhiran data pada Aplikasi

Dapodik sesuai dengan kondisi riil di Satuan Pendidikan paling lambat

tanggal 31 Agustus tahun anggaran sebelumnya

c. Memiliki izin untuk menyelenggarakan pendidikan bagi Satuan

Pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat yang terdata pada

Aplikasi Dapodik

d. Memiliki Rekening Satuan Pendidikan atas nama Satuan Pendidikan

e. Tidak merupakan Satuan Pendidikan kerja sama

f. Tidak merupakan Satuan Pendidikan yang dikelola oleh

kementrian/Lembaga lain.

2.3 Pengelolaan Dana BOS

Pengelolaan dana BOS pada satuan Pendidikan meliputi perencanaan dan

penganggaran, pelaksanaan penatausahaan, pelaporan dan

pertanggungjawaban.

a. Perencanaan dan Penganggaran

Perencanaan dana BOS melibatkan penyusunan Rencana

Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) yang harus dilakukan secara

partisipatif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan di

26
sekolah. Sebagaimana dinyatakan dalam Petunjuk Teknis BOS

(Kemendikbud, 2022), RKAS disusun oleh tim penyusun yang

melibatkan kepala sekolah, bendahara BOS, guru, komite sekolah,

dan unsur orang tua. Penganggaran dana BOS harus mengacu pada

pedoman dan peraturan yang berlaku. Menurut Peraturan Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2020, Penggunaan dana

BOS harus direncanakan secara matang dan sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku. Dalam penganggaran, sekolah

harus mempertimbangkan prioritas kebutuhan dan memastikan

alokasi dana yang efektif untuk mendukung kegiatan operasional

sekolah. Hartono dan Husain (2019) menyatakan, Penyusunan

anggaran perlu mempertimbangkan skala prioritas kebutuhan sekolah

agar pemanfaatan dana BOS dapat dilakukan secara efektif dan

efisien.

Dalam proses penganggaran dana BOS, terdapat beberapa

prinsip yang harus diperhatikan, antara lain:

1) Transparansi: Proses penganggaran harus dilakukan secara

terbuka dan informasi anggaran tersedia untuk publik

(Mardiasmo, 2018).

2) Akuntabilitas: Penganggaran harus dilakukan dengan

mempertanggungjawabkan setiap penggunaan dana sesuai

dengan peraturan yang berlaku (Republik Indonesia, 2003).

27
3) Efisiensi: Penggunaan dana BOS harus dilakukan secara

hemat, tepat guna, dan menghasilkan output yang optimal

(Kemendikbud, 2022).

4) Efektivitas: Penganggaran harus diarahkan untuk mencapai

tujuan program BOS secara maksimal (Mahmudi, 2016).

Perencanaan dan penganggaran dalam pengelolaan dana BOS

merupakan tahap awal yang penting untuk menentukan kebutuhan

dan alokasi dana yang diperlukan sesuai dengan prioritas pendidikan.

Menurut Prof. Dr. H. M. Arifin, [Link]. Perencanaan dan penganggaran

dana BOS adalah "proses penyusunan rencana dan anggaran yang

melibatkan seluruh pihak terkait untuk memastikan penggunaan dana

secara tepat dan efisien" (Arifin, 2019:72).

b. Pelaksanaan Penatausahaan

Penatausahaan keuangan merupakan serangkaian kegiatan

yang dilakukan untuk mencatat, menggolongkan, dan meringkas

transaksi keuangan dalam rangka menghasilkan laporan keuangan

yang akurat dan tepat waktu. (Bastian, 2010:7). Sedangkan Menurut

Prof. Dr. H. Suyanto, [Link]., pelaksanaan penatausahaan adalah

proses pelaksanaan administrasi keuangan secara tertib, transparan,

dan akuntabel dalam penggunaan dana BOS (Suyanto, 2018:115).

Dalam melakukan penatausahaan keuangan, terdapat beberapa prinsip

yang harus diperhatikan, seperti ketertiban, efisiensi, transparansi,

28
akuntabilitas, dan kepatuhan pada peraturan yang berlaku. (Halim,

2012:98).

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Nomor 8 Tahun 2020 Penatausahaan dana Bantuan Operasional

Sekolah (BOS) adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk

mencatat, menggolongkan, dan meringkas transaksi keuangan yang

terkait dengan penerimaan dan pengeluaran dana BOS. Penatausahaan

ini bertujuan untuk memastikan akuntabilitas dan transparansi

penggunaan dana BOS di sekolah.

1) Pembukuan Penerimaan Dana BOS

Sekolah wajib membukukan penerimaan dana BOS dalam

Buku Kas Umum (BKU) dan Buku Pembantu Kas pada saat

dana diterima dari pemerintah. (Peraturan Menteri Pendidikan

dan Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2020 tentang Petunjuk

Teknis Bantuan Operasional Sekolah Reguler, Pasal 11 ayat 1)

2) Pembukuan Pengeluaran Dana BOS

Setiap pengeluaran dana BOS harus didukung dengan bukti

pengeluaran yang sah, seperti kuitansi, nota, atau faktur.

Pembukuan pengeluaran dilakukan dalam Buku Kas Umum

(BKU) dan Buku Pembantu Kas secara kronologis. (Peraturan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2020

tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Sekolah

Reguler, Pasal 11 ayat 2).

29
c. Pelaporan dan Pertanggungjawaban

Pelaporan dan pertanggungjawaban dalam pengelolaan dana BOS

melibatkan penyusunan laporan keuangan dan non-keuangan serta

pertanggungjawaban atas penggunaan dana kepada pihak-pihak yang

berkepentingan. Menurut Prof. Dr. H. Mulyadi, Ak., [Link]., pelaporan

dan pertanggungjawaban adalah "proses penyampaian informasi

secara akurat dan transparan mengenai penggunaan dana BOS kepada

pihak-pihak yang berkepentingan" (Mulyadi, 2020 : 88). Sekolah

wajib membuat laporan pertanggungjawaban penggunaan dana BOS

secara berkala, minimal setiap triwulan. Laporan ini berisi rincian

penerimaan dan pengeluaran dana BOS, serta dilengkapi dengan

bukti-bukti pendukung. (Peraturan Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Bantuan

Operasional Sekolah Reguler, Pasal 12 ayat 1). Laporan

pertanggungjawaban penggunaan dana BOS harus disampaikan

kepada Dinas Pendidikan setempat dan diarsipkan dengan baik di

sekolah sebagai bahan pertanggungjawaban. (Peraturan Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2020 tentang Petunjuk

Teknis Bantuan Operasional Sekolah Reguler, Pasal 12 ayat 2).

Pengelolaan Dana BOS dilakukan oleh kepala satuan Pendidikan. Kepala

satuan pendidikan dalam pengelolaan dana BOS bertugas :

30
1. Mengisi dan memutakhirkan data satuan pendidikan secara lengkap

dan valid ke dalam aplikasi Dapodik sesuai dengan kondisi riil di

satuan pendidikan.

2. Melakukan verifikasi dan validasi isian data satuan pendidikan yang

masuk dalam aplikasi Dapodik.

3. Menyusun rencana kegiatan dan anggaran satuan pendidikan.

4. Melakukan konfirmasi penerimaan dana BOS sudah diterima melalui

sistem aplikasi yang disediakan oleh kementrian.

5. Melakukan penatausahaan dana BOS.

6. Menggunakan dana BOS sesuai rencana kegiatan dan anggaran satuan

Pendidikan.

7. Melaksanakan pengadaan barang/jasa dalam penggunaan dana BOS.

8. Menyampaikan laporan realisasi penggunaan dana BOS.

9. Memberikan pelayanan dan penanganan pengaduan masyarakat

terhadap pengelolaan dana BOS.

Kepala satuan pendidikan dalam melaksanakan tugas bertanggungjawab

terhadap:

1) Penyediaan data satuan pendidikan pada aplikasi Dapodik secara

benar dan akuntabel.

2) Perencanaan kegiatan dan anggaran satuan pendidikan yang terkait

dengan dana BOS yang diterima.

3) Penggunaan dana BOS yang diterima, dan

4) Pelaporan penggunaan dana BOS.

31
Dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab kepala satuan pendidikan

penerima dana BOS membentuk tim BOS sekolah yang terdiri atas :

1. Kepala sekolah sebagai penanggungjawab

2. Bendahara sekolah

3. Satu orang guru

4. Satu orang perwakilan komite sekolah

5. Satu orang perwakilan orang tua/wali peserta didik

Dalam pengelolaan dana BOS, kepala satuan Pendidikan dan tim bos BOS

sekolah dilarang :

1) melakukan transfer dana BOS ke rekening pribadi atau lainnya untuk

kepentingan selain penggunaan dana

2) membungakan untuk kepentingan pribadi

3) meminjamkan kepada pihak lain

4) membeli perangkat lunak untuk pelaporan keuangan dana BOS atau

perangkat lunak lainnya yang sejenis;

5) menyewa aplikasi pendataan atau aplikasi penerimaan peserta didik

baru dalam jaringan;

6) membiayai kegiatan yang tidak menjadi prioritas satuan pendidikan

7) membiayai kegiatan dengan mekanisme iuran,

8) membiayai kebutuhan pribadi pendidik, tenaga kependidikan,

dan/atau peserta didik;

9) memelihara prasarana satuan pendidikan dengan kategori kerusakan

sedang dan berat;

32
10) membangun gedung atau ruangan baru;

11) membeli instrument investasi;

12) membiayai kegiatan untuk mengikuti pelatihan, sosialisasi dan

pendampingan terkait program dana bos yang diselenggarakan oleh

pihak lain selain dinas dan/atau kementrian;

13) membiayai kegiatan yang telah dibiayai secara penuh oleh pemerintah

pusat, pemerintah daerah, atau sumber lain yang sah;

14) menggunakan dana bos untuk kepentingan pribadi atau kelompok

tertentu dan/atau

15) menjadi distributor atau pengecer bahan pembelajaran, buku, alat

permainan edukatif, dan/atau peralatan lainnya kepada satuan

pendidikan dan/atau peserta didik.

2.3.1 Teknis Pengelolaan Dana BOS

A. Tahapan Perencanaan dan Penganggaran Dana BOS

1. Perencanaan dan penganggaran dana BOS dilakukan sebelum

satuan pendidikan menggunakan dana BOS.

2. Perencanaan dan penganggaran dana BOS disusun untuk 1 (satu)

tahun anggaran dalam bentuk dokumen RKAS.

3. Penyusunan dokumen RKAS dilakukan berdasarkan:

a. kebutuhan satuan pendidikan, dan

b. hasil evaluasi diri pada profil satuan pendidikan

4. Penyusunan dokumen RKAS dilakukan untuk menentukan:

a. komponen penggunaan dana BOS yang digunakan;

33
b. rincian komponen pembiayaan yang dibutuhkan;

c. rincian barang/jasa kebutuhan; dan

d. satuan harga dan volume yang menjadi basis penganggaran

5. Penyusunan dokumen RKAS dilakukan melalui rapat

penyusunan dokumen RKAS dengan melibatkan warga satuan

pendidikan dan komite sekolah.

6. Hasil penyusunan dokumen RKAS diinput/dituangkan ke dalam

aplikasi kegiatan dan anggaran satuan pendidikan yang

disediakan oleh kementrian.

B. Tahapan Pelaksanaan Penatausahaan Dana BOS

1. Penggunaan dana dilaksanakan oleh satuan pendidikan sesuai

dengan dokumen perencanaan dan penganggaran dana BOS

yang telah diinput pada sistem aplikasi yang disediakan oleh

kementrian.

2. Setiap penggunaan dana BOS oleh satuan pendidikan dicatat

secara lengkap yang disertai dengan bukti-bukti pendukung,

termasuk dokumentasi pelaksanaan pengadaan barang/jasa

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

mengenai pengadaan barang/jasa oleh satuan Pendidikan.

3. Setiap penggunaan dana yang telah dilakukan oleh satuan

pendidikan diinput ke dalam sistem aplikasi rencana kegiatan

dan anggaran satuan pendidikan yang disediakan oleh

kementrian.

34
4. Penginputan penggunaan dana dalam sistem aplikasi rencana

kegiatan dan anggaran satuan pendidikan dapat dilakukan

setiap waktu oleh satuan pendidikan.

C. Tahapan Pelaporan dan Pertanggungjawaban Dana BOS

1. Pelaporan dan pertanggungjawaban dana BOS disusun

berdasarkan hasil pelaksanaan penatausahaan dana BOS.

2. Pelaporan dan pertanggungjawaban termasuk pemeriksaan dan

verifikasi atas penyelesaian pengadaan barang/jasa dan

penggunaan dana tahun berkenaan.

3. Bentuk dokumen laporan dan pertanggungjawaban tercantum

dalam sistem aplikasi rencana kegiatan dan anggaran satuan

pendidikan yang diselenggarakan kementrian.

4. Laporan dan pertanggungjawaban dana sebagaimana

dimaksud pada angka 1 diverifikasi, divalidasi, dan

disampaikan oleh satuan pendidikan melalui sistem aplikasi

rencana kegiatan dan anggaran satuan pendidikan yang

disediakan oleh kementrian.

5. Satuan pendidikan bersedia diaudit sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan terhadap laporan dan

pertanggungjawaban dana satuan pendidikan.

2.3.2 Prinsip-Prinsip Pengelolaan Dana BOS

1. Fleksibel yaitu pengelolaan dana dilakukan sesuai dengan kebutuhan

satuan pendidikan berdasarkan komponen penggunaan dana;

35
2. Efektif yaitu pengelolaan dana diupayakan dapat memberikan hasil,

pengaruh, dan daya guna untuk mencapai tujuan pendidikan di satuan

pendidikan;

3. Efisien yaitu pengelolaan dana diupayakan untuk meningkatkan

kualitas belajar peserta didik dengan biaya semininal mungkin dengan

hasil yang optimal;

4. Akuntabel yaitu pengelolaan dana dapat dipertanggungjawabkan

secara keseluruhan berdasarkan pertimbangan yang logis sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

5. Transparan yaitu pengelolaan dana dikelola secara terbuka dan

mengakomodir aspirasi pemangku kepentingan sesuai dengan

kebutuhan satuan pendidikan.

2.3.3 Rincian Komponen Penggunaan Dana BOS Reguler

a. Penerimaan peserta didik baru merupakan komponen yang digunakan

untuk pembiayaan dalam mendukung kegiatan-kegiatan pelaksanaan

rangkaian penerimaan peserta didik baru, mulai dari persiapan

penerimaan sampai dengan pasca penerimaan, seperti :

1) Penggandaan formulir dan publikasi atau pengumuman penerimaan

peserta didik baru, dan biaya layanan penerimaan peserta didik

baru dalam jaringan;

2) Biaya kegiatan pengenalan lingkungan sekolah;

36
3) Penentuan peminatan bagi sekolah yang diselenggarakan oleh

pemerintah daerah dan tes bakat skolastik atau tes potensi

akademik bagi sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat;

4) Pendataan ulang bagi peserta didik lama; dan/atau

5) Kegiatan lainnya dalam rangka pelaksanaan penerimaan peserta

didik baru yang relevan.

b. Pengembangan perpustakaan dan/atau layanan pojok baca merupakan

komponen yang digunakan untuk pembiayaan dalam rangka meningkatkan

layanan perpustakaan dan kegiatan minat baca, seperti :

1) Penyediaan buku teks utama termasuk buku digital dengan

ketentuan :

 Buku yang dibeli sesuai dengan kurikulum yang

diselenggarakan oleh satuan pendidikan;

 Buku yang dibeli merupakan buku yang telah dinilai dan

ditetapkan oleh kementrian sebagaimana tersedia pada

[Link]

 Memenuhi rasio 1 (satu) buku untuk setiap SMK setiap

peserta didik pada setiap tema/mata pelajaran;

 Memenuhi kebutuhan buku untuk guru pada setiap

tema/mata pelajaran yang diajarkan; dan

 Buku yang dibeli oleh sekolah harus dijadikan pegangan

dalam proses pembelajaran di sekolah.

37
2) Penyediaan buku teks pendamping sesuai dengan kurikulum yang

diselenggarakan oleh satuan pendidikan, termasuk buku digital

yang telah dinilai dan ditetapkan oleh kementrian sebagaimana

tersedia pada [Link] yang mendukung

proses belajar;

3) Penyediaan buku nonteks sesuai dengan kurikulum yang

diselenggarakan oleh satuan pendidikan termasuk buku digital

dengan ketentuan :

 Sekolah dapat membeli atau menyediakan buku sekolah

untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah,

diutamakan untuk menunjang penguatan pendidikan

karakter dan pengembangan literasi dan numerasi sekolah;

dan

 Buku yang dibeli sekolah adalah buku yang telah dinilai

dan ditetapkan oleh kementrian atau pemerintah daerah;

4) Penyediaan atau pencetakan modul dan perangkat ajar;

5) Pembiayaan dalam pengembangan minat baca peserta didik;

dan/atau

6) Pembiayaan lain yang relevan dalam rangka pengembangan

perpustakaan

c. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler merupakan

komponen yang digunakan untuk pembiayaan dalam kegiatan

38
pembelajaran dan ekstrakurikuler sesuai dengan konteks tematik program

kementrian berbasis teknologi maupun non-teknologi, seperti:

1) Kegiatan pembelajaran :

 Penyediaan alat pendidikan dan/atau bahan pendukung

pembelajaran;

 Pembelajaran remidial, pembelajaran pengayaan dan

persiapan ujian;

 Biaya untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis

teknologi informasi dan komunikasi;

 Penyediaan aplikasi atau perangkat lunak yang digunakan

dalam proses pembelajaran;

 Penyediaan dan/atau pengembangan konten pembelajaran

 Penguatan/pengembangan pembelajaran literasi dan

numerasi

 Penguatan pendidikan karakter dan penumbuhan budi

pekerti, termasuk pencegahan dan penanggulangan tindak

kekerasan, dan penguatan kebhinekaan dan lingkungan

satuan pendidikan;

 Pengembangan pembelajaran berbasis proyek; dan/atau

 Pembiayaan kegiatan pembelajaran lain yang relevan dalam

rangka menunjang proses pembelajaran.

2) Kegiatan ekstrakurikuler :

39
 Penyelenggaraan ektrakurikuler yang sesuai dengan

kebutuhan sekolah, penguatan pendidikan karakter dan

penumbuhan budi pekerti, pencegahan dan penanggulan

tindak kekerasan, dan penguatan kebhinekaan lingkungan

satuan pendidikan;

 Pembiayaan dalam rangka mengikuti kegiatan/lomba di

dalam negeri; dan/atau

 Pembiayaan lain yang relevan dalam rangka menunjang

operasional kegiatan ekstrakurikuler

d. Pelaksanaan evaluasi dan asesmen pembelajaran merupakan komponen

yang digunakan untuk pembiayaan dalam pelaksanaan evaluasi dan/atau

asesmen dalam rangka peningkatan mutu satuan pendidikan, seperti:

1. Penyelenggaraan ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan

akhir semester, ulangan kenaikan kelas;

2. Dukungan partisipasi dalam pelaksanaan asesmen nasional

dan/atau asesmen lainnya

3. Pelaksanaan refleksi pembelajaran dalam rangka

pengidentifikasian tantangan dalam pembelajaran; dan/atau

4. Pembiayaan lain yang relevan untuk kegiatan asesmen dan evaluasi

pembelajaran.

e. Pelaksanaan administrasi kegiatan satuan pendidikan merupakan

komponen yang digunakan untuk pembiayaan dalam memenuhi kebutuhan

40
administrasi satuan pendidikan dan penguatan tata kelola satuan

pendidikan, seperti :

1. Pengelolaan operasional rutin sekolah baik dalam rangka

pembelajaran tatap muka dan/atau pembelajaran jarak jauh;

2. Penyusunan perencanaan, pelaksanaan pengawasan, pelaksanaan

evaluasi, dan penyusunan tata tertib satuan Pendidikan dalam

rangka penguatan tata kelola satuan pendidikan; dan/atau

3. Pembiayaan lainnya yang relevan dalam rangka pemenuhan

administrasi kegiatan sekolah.

f. Pengembangan profesi pendidik dan tenaga kependidikan merupakan

komponen yang digunakan untuk pembiayaan kualitas pendidik dan

tenaga kependidikan sesuai dengan tematik program kementrian, baik

secara mandiri maupun berpartisipasi pada komunitas belajar, seperti :

1. Pengembangan/peningkatan kompetensi guru dan tenaga

kependidikan;

2. Pengembangan inovasi terkait konten pembelajaran, media dan

metode pembelajaran;

3. Peningkatan kompetensi terkait pengadaan barang dan jasa satuan

pendidikan;

4. Partisipasi dalam komunitas belajar;

5. Pembiayaan lain yang relevan dalam rangka menunjang

pengembangan profesi guru dan tenaga kependidikan.

41
g. Pembiayaan langganan daya dan jasa merupakan komponen yang

digunakan untuk pembiayaan dalam menyediakan daya dan jasa untuk

mendukung operasional rutin satuan pendidikan, seperti :

1. Menyewa atau membeli genset atau panel surya termasuk

peralatan/bahan pendukungnya sesuai dengan kebutuhan, biaya

perawatan dan/atau perbaikan bagi sekolah yang belum ada

jaringan listrik atau kondisi listrik tidak stabil;

2. Pembiayaan langganan daya dan jasa dapat digunakan untuk

pembelian pulsa, paket data, dan/atau layanan pendidikan daring

berbayar bagi pendidik dan/atau peserta didik dalam rangka

pelaksanaan pembelajaran jarak jauh; dan/atau

3. Pembiayaan dalam rangka pembayaran daya dan/atau jasa yang

mendukung operasional sekolah meliputi, pemasangan baru,

penambahan kapasitas, pembayaran langganan rutin listrik, air,

telepon, internet, atau pembiayaan langganan daya dan jasa lain

yang relevan.

h. Pemeliharaan sarana dan prasarana satuan pendidikan merupakan

komponen yang digunakan untuk pembiayaan kegiatan dalam memelihara

prasarana satuan pendidikan dan menyediakan atau memelihara sarana

satuan pendidikan, seperti:

1. Perbaikan kerusakan ringan komponen dalam structural bangunan

sekolah seperti:

 Penutup atap;

42
 Penutup plafond;

 Kelistrikan;

 Pintu, jendela, dan aksesoris lainnya

 Pengecetan dan/atau

 Penutup lantai;

2. Perbaikan meubeliar, dan/atau pembelian meja dan/atau kursi

peserta didik atau guru jika meja dan/atau kursi yang ada sudah

tidak berfungsi dan/atau jumlahnya kurang mencukupi kebutuhan;

3. Perbaikan toilet sekolah, tempat cuci tangan, saluran air kotor, dan

sanitasi lainnya;

4. Penyediaan sumber air bersih termasuk pompa dan instalasinya

bagi sekolah yang belum memiliki air bersih;

5. Penyediaan sarana kesehatan sekolah seperti cairan atau sabun

pembersih tangan, pembasmi kuman (disinfektan), masker, atau

penunjang kebersihan lainnya;

6. Pemeliharaan dan/atau perbaikan computer, printer, laptop,

proyektor, dan/atau pendingin ruangan;

7. Pemeliharaan dan/atau perbaikan peralatan praktikum;

8. Pemeliharaan taman dan fasilitas sekolah lainnya;

9. Penyediaan dan/atau pemeliharaan

sarana/peralatan/fasilitas/aksesibilitas bagi peserta didik

berkebutuhan khusus; dan/atau

43
10. Pembiayaan lain yang relevan dalam rangka pemeliharaan sarana

dan prasarana sekolah.

i. Penyediaan alat multimedia pembelajaran merupakan komponen yang

digunakan untuk pembiayaan dalam menyediakan perangkat keras dan

lunak untuk menunjang pembelajaran berbasis teknologi informasi dan

komunikasi, seperti :

1. Computer desktop/workstation berupa personal computer PC /all

in one computer untuk digunakan dalam proses pembelajaran;

2. Printer/printer plus scanner;

3. laptop

4. Liquit Crystal Display (LCD) proyektor; dan/atau

5. Alat multimedia pembelajaran lainnya dalam rangka menunjang

pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

j. Penyelenggaraan kegiatan peningkatan kompetensi keahlian SMK dan

SMALB merupakan komponen yang digunakan untuk pembiayaan

kegiatan khusus bagi SMK dan SMALB dalam rangka menyelenggarakan

kegiatan peningkatan kompetensi keahlian pendidik dan peserta didik,

k. Penyelenggaraan kegiatan dalam mendukung keterserapan lulusan SMK

dan SMALB merupakan komponen yang digunakan untuk pembiayaan

kegiatan khusus bagi SMK dan SMALB dalam menyelenggarakan

kegiatan yang mendukung keterserapan lulusan satuan pendidikan.

l. Pembayaran honor

44
Pembayaran honor merupakan komponen yang digunakan untuk

pembiayaan honor yang diberikan setiap bulan atas jasa pendidik atau

tenaga kependidikan pada satuan pendidikan dan tidak termasuk honor

yang dibayarkan dalam pelaksanaan kegiatan satuan pendidikan.

2.4 Pengawasan Dana BOS Reguler

Pengawasan dana BOS merupakan aspek penting dalam

pengelolaan dana tersebut agar dapat dimanfaatkan secara efektif dan

sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pengawasan diperlukan untuk

memastikan bahwa dana BOS digunakan secara tepat sasaran, transparan,

dan akuntabel.

2.4.1 Konsep dan Prinsip Pengawasan Keuangan

[Link] Konsep Pengawasan Keuangan

Pengawasan keuangan merupakan proses monitoring dan evaluasi

yang dilakukan secara sistematis untuk memastikan bahwa pengelolaan

keuangan dilakukan dengan transparan, akuntabel, efektif, dan efisien

sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pengawasan keuangan mencakup

kegiatan pengawasan sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan

dan pertanggungjawaban keuangan. (Mardiasmo, 2018).

[Link] Prinsip-Prinsip Pengawasan Keuangan

Dalam melakukan pengawasan keuangan, terdapat beberapa

prinsip yang harus diperhatikan agar pengawasan dapat berjalan efektif

dan mencapai tujuan yang diharapkan. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:

1. Transparansi

45
Transparansi berarti keterbukaan informasi terkait pengelolaan

keuangan sehingga dapat diakses oleh semua pihak yang

berkepentingan. Hal ini penting untuk menjamin akuntabilitas.

Transparansi memberikan akses informasi kepada publik untuk

mengetahui apa yang sedang terjadi dalam pemerintahan.

(Halim & Kusufi, 2014)

2. Akuntabilitas

Akuntabilitas mengacu pada tanggung jawab untuk melaporkan

dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan secara

benar dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Akuntabilitas

merupakan kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban

atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan

seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif suatu organisasi

kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk

meminta keterangan atau pertanggungjawaban. (Mardiasmo,

2018)

3. Efektivitas dan Efisiensi

Pengawasan keuangan harus dilakukan secara efektif agar dapat

mencapai tujuan yang diharapkan, serta efisien dalam

penggunaan sumber daya. Efektivitas adalah hubungan antara

output dengan tujuan, semakin besar kontribusi output terhadap

pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program

atau kegiatan." (Halim & Kusufi, 2014)

46
4. Kepatuhan

Pengawasan keuangan harus memastikan kepatuhan terhadap

peraturan dan ketentuan yang berlaku terkait pengelolaan

keuangan. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan merupakan

prasyarat utama pengelolaan keuangan negara yang akuntabel

dan transparan. (Mardiasmo, 2018).

2.4.2 Mekanisme Pengawasan Internal

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 8

Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Sekolah

Reguler, pengawasan dana BOS dilakukan melalui beberapa mekanisme,

yaitu melalui pengawasan internal dilakukan oleh pihak sekolah sendiri,

terutama oleh kepala sekolah dan dewan guru. Pengawasan ini meliputi

pemantauan penggunaan dana BOS, pengecekan laporan

pertanggungjawaban, serta evaluasi terhadap pencapaian target dan tujuan

penggunaan dana BOS. Pengawasan internal atas pengelolaan BOS

dilakukan oleh kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya

yang ada di sekolah. (Permendikbud No. 8/2020, Pasal 33 ayat 1). Dalam

rangka meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, sekolah juga

diwajibkan untuk melibatkan komite sekolah dan masyarakat dalam

pengawasan penggunaan dana BOS. Hal ini diatur dalam Permendikbud

No. 8/2020, Pasal 34, yang berbunyi: “Sekolah wajib memberikan akses

kepada komite sekolah dan masyarakat untuk memperoleh informasi

47
tentang pengelolaan dana BOS serta melibatkan komite sekolah dan

masyarakat dalam pengawasan pengelolaan dana BOS."

2.4.3 Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengawasan Internal

Pengawasan internal dana BOS melibatkan berbagai pemangku

kepentingan di lingkungan sekolah. Keterlibatan pemangku kepentingan

ini sangat penting untuk memastikan bahwa pengelolaan dana BOS

dilakukan secara transparan, akuntabel, dan sesuai dengan peraturan yang

berlaku.

1) Kepala Sekolah

Kepala sekolah memiliki peran utama dalam pengawasan

internal dana BOS. Kepala sekolah bertanggung jawab dalam

pengawasan penggunaan dana BOS di sekolahnya. (Buku Panduan

BOS, 2020)

Tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dalam pengawasan

tersebut antara lain:

a. Memantau penggunaan dana BOS secara berkala

b. Mengevaluasi pencapaian target dan tujuan penggunaan dana

BOS

c. Memastikan penyusunan laporan pertanggungjawaban yang

akurat dan tepat waktu

2) Dewan Guru

Dewan guru juga berperan penting dalam pengawasan

internal dana BOS. Dewan guru turut berperan dalam pengawasan

48
pengelolaan dana BOS di sekolah. (Permendikbud No. 8/2020,

Pasal 33 ayat 1). Peran dewan guru meliputi:

a. Memberikan masukan dan saran terkait prioritas penggunaan

dana BOS

b. Memantau pelaksanaan kegiatan yang didanai dari dana BOS

c. Berpartisipasi dalam evaluasi pencapaian tujuan penggunaan

dana BOS

3) Komite Sekolah

Komite sekolah, yang merupakan lembaga mandiri yang mewadahi

peran serta masyarakat dalam meningkatkan mutu dan pemerataan

pendidikan, juga memiliki peran dalam pengawasan internal dana

BOS. Sekolah wajib memberikan akses kepada komite sekolah dan

masyarakat untuk memperoleh informasi tentang pengelolaan dana

BOS serta melibatkan komite sekolah dan masyarakat dalam

pengawasan pengelolaan dana BOS. (Permendikbud No. 8/2020,

Pasal 34). Peran komite sekolah meliputi:

a. Memantau penggunaan dana BOS secara berkala

b. Memberikan masukan dan saran terkait prioritas penggunaan

dana BOS

c. Memastikan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana

BOS

2.5 PENELITIAN TERDAHULU

49
Dalam penelitian ini, penulis akan menjelaskan beberapa peneliti terdahulu

yang berkaitan dengan judul yang penulis akan teliti serta dapat digunakan untuk

bahan kajian bagi penulis. Ada beberapa penelitian berkaitan, yakni :

Tabel 2.1 Peneliti Terdahulu


Nama Judul Penelitian Hasil Penelitian
Kusno,dkk Pengelolaan Dana Bantuan Hasil analisis data diperoleh
(2012) Operasional Sekolah simpulan bahwa pengelolaan dana
(BOS) Di Sekolah Dasar Bantuan Operasional Sekolah
Negeri. (BOS) di SD Negeri 01 Muara
Pawan Kabupaten Ketapang telah
dilaksanakan sesuai dengan
mekanisme yang tertuang di dalam
buku panduan BOS yang meliputi
unsur perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan dan evaluasi, serta
pelaporan dana BOS.
Rusmala Dewi, Pengelolaan Dana Bantuan Hasil penelitian menunjukkan
dkk Operasional Sekolah Dasar bahwa (1) Perencanaan Dana BOS
(2014) Negeri 8 Sungai Raya di Sekolah Dasar Negeri 8 Sungai
Kabupaten Kebu Raya. Raya Kabupaten Kubu raya
dilakukan dengan menyusun
RKAS oleh tim anggaran sekolah
dengan diketahui oleh Komite
Sekolah, guru, karyawan, dan
orang tua siswa. (2) Pelaksanaan
Dana BOS, penyaluran Dana BOS
dalam dua tahap. (3) Pengawasan
dan Evaluasi dilakukan secara
internal oleh Komite Sekolah dan
Dinas Pendidikan Kabupaten
Pelaksanaan secara eksternal
dilakukan oleh Dinas Pendidikan
Provinsi. (4) Pelaporan Dana BOS
SD dilakukan setiap semester
melalui LPJ BOS SD beserta
lampirannya.
Sumarni Analisis Pengelolaan Dana Hasil penelitian menunjukkan
(2015) Bantuan Operasional bahwa metode pelaporan Dana

50
Sekolah (Bos) Di Smpn 6 Bantuan Operasional Sekolah yang
Satap Rambah Samo berjalan di UPT TK dan SD
Kecematan Kebon Agung saat ini
adalah metode konvesional yaitu
dengan proses mengetik manual
dengan aplikasi Microsoft word
atau Microsoft excel.
Sukrunnikmatun Manajemen penggunaan Hasil penelitian menunjukan
(2020) dana Bantuan Operasional bahwa pengelolaan dana Bantuan
Sekolah pada SD Inpres Operasional Sekolah (BOS) yaitu
Bontomanai dana BOS melalui melalui
beberapa tahapan dan proses, yaitu
perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan. Dan terdapat
beberapa hambatan, tidak semua
aktivitas dan pembangunan di
sekolah dapat menggunakan dana
BOS, terlambatnya pencairan dana
BOS ke rekening sekolah, dana
yang keluar tidak selalu sesuai
dengan jumlah siswa, terbatasnya
dana apabila dibandingkan dengan
kebutuhan sekolah.
Impian Muhadi Manajemen Dana Hasil penelitian ini adalah yang
(2020) Operasional Sekolah pertama, pengelolaan perencanaan
Untuk Meningkatkan pengaturan RKS dana bantuan
Mutu Sekolah. oprasional sekolah sesuai dengan
visi misi sekolah. Kedua,
pengelolaan pelaksanaan dana BOS
di SMAN 2 Kaur telah
dilaksanakan oleh sekolah sesuai
pedoman operasional dan teknis.
Tiga, pengelolaan pengawasan
BOS di SMAN 2 Kaur bertujuan
untuk mengurangi atau
menghindari masalah yang lebih
baik. Dan yang terakhir adalah
pelaporan manajemen dan
akuntabilitas pelaksanaan
penggunaan dana BOS dalam

51
penyusunan laporan
pertanggungjawaban SMAN 2
Kaur
masing-masing jenis penggunaan
dana dalam bentuk laporan.
Ainul Fitri, dkk Manajemen Kepala Hasil penelitian menunjukkan: (1)
(2019) Sekolah dalam Perencanaan program dilakukan
Pengelolaan Dana Bantuan pada setiap awal tahun ajaran baru
Operasional Sekolah yang dilakukan oleh tim keuangan
(BOS) Pada SMP Negeri sekolah dengan melibatkan guru,
Di Kota Banda Aceh. komite, dan orang tua murid
melalui rapat dan hasil kesepakatan
diprogramkan dalam RKAS yang
berpedoman pada 8 SNP,
menentukan skala prioritas dan
analisis jumlah dana yang tersedia,
(2) Pelaksanaan program diawali
dengan melaksanakan koordinasi
dan sosialisasi dengan berbagai
pihak. Program dilaksanakan
sesuai dengan perencanaan dan
berpedoman pada Juknis dana BOS
yang diedarkan oleh Dinas
Pendidikan Kota Banda Aceh, (3)
Pengawasan dilakukan secara
bersama-sama oleh guru, komite,
kepala sekolah, tim BOS sekolah,
BOS Kota dan tim BOS propinsi
serta inspektorat setiap tiga bulan
sekali atau empat kali dalam
setahun. Hasil pelaksanaan
pengawasan dituliskan dalam
laporan pertanggung jawaban
setiap triwulan dan disampaikan
kepada SKPD Pendidikan Kota,
dan (4) Hambatan yang dihadapi
adalah penggunaan dana BOS
terbatas pada kegiatan tertentu,
terlambatnya pencairan dana BOS,
pencairan dana tidak selalu sesuai

52
dengan jumlah siswa, terbatasnya
dana apabila dibandingkan dengan
kebutuhan sekolah, adanya
pemahaman masyarakat bahwa
dana BOS diberikan supaya adanya
sekolah gratis.
Yohan Wibisono, Manajemen Pembiayaan Hasil penelitian menunjukkan
dkk (2023) Dana Bantuan Operasional bahwa: (1) Penyaluran pembiayaan
Sekolah dalam dana Bantuan Operasional Sekolah
Meningkatkan Mutu pada SMK Negeri I Sabang telah
Pendidikan. dilaksanakan seperti petunjuk
teknis yang telah dibuat. (2)
Pengawasan pembiayaan dana
Bantuan Operasional Sekolah
dilakukan dengan cara langsung
dan tidak langsung, pengawasan
langsung dilakukan untuk
mengamati, memeriksa, mengecek
sendiri secara langsung pekerjaan
dan menerima secara langsung
laporan dari pengawasan; (3)
Implikasi dari pembiayaan dana
Bantuan Operasional Sekolah dapat
dilihat dari meningkatnya hasil
belajar siswa yang dilihat dari
prestasi yang telah diraih.
Kadek Gita Analisis Pengelolaan Dana Hasil penelitian menunjukkan
Puspita Saisarani Bantuan Operasional bahwa 1) Proses Perencanaan,
dan Ni Kadek Sekolah (BOS) di SMA Pelaksanaan, Pengawasan, dan
Sinarwati (2021) Negeri 4 Singaraja Tahun Pelaporan Pengelolaan Dana BOS
2020. di SMA Negeri 4 Singaraja Tahun
2020 telah berjalan dengan baik
sesuai dengan petunjuk teknis
Peraturan Mentri Pendidikan dan
Kebudayaan (Permendikbud)
Nomor 8 Tahun 2020, 2) Kendala
pengelolaan dana BOS di SMA
Negeri 4 Singaraja yaitu waktu
pencairan dana sering mengalami
keterlambatan dan juga terdapat

53
perubahan peraturan pengelolaan
dana BOS. Upaya mengatasi
kendala dilakukan melalui tim
pengelola BOS SMA Negeri 4
Singaraja yaitu dilakukan bon
ditempat rekanan yang sudah
diajak kerjasama dan terkait
perubahan aturan pemerintah, tim
pengelola keuangan dana BOS
melakukan penyusunan laporan
pertanggungjawaban (LPJ) ulang
sesuai dengan petunjuk teknis
Permendikbud yang baru.
Anggit Puteri Analisis Efektivitas Berdasarkan hasil penelitian,
Septhiningrum, Pengelolaan Dana Bantuan peneliti dapat menarik kesimpulan,
dkk (2023) Operasional Sekolah dimana penerapan sikap
(BOS) transparansi dan akuntabilitas
dalam penataan dana BOS
SMK/SMA di Kabupaten
Mojokerto berjalan cukup baik
dikarenakan selaras dengan yang
diharapkan. Terdapat indikator
pencapaian transparansi dan
tanggung jawab, d. H. kerjasama
semua pihak yang terlibat, mis. B.
otoritas sekolah, administrasi
sekolah, partisipasi guru,
karyawan, dan komite sekolah pada
perancangan, penerapan dan
pemeriksaan anggaran. Hal
tersebut menjelaskan fakta
bahwasannya, sekolah telah
menjalankan sikap keterbukaan
anggaran, selaras pada JUKNIS
pada penggunaan dana VSP di tiap-
tiap lembaga sekolah ini.
Akuntabilitas mempunyai
pengaruh yang baik pada
keefektifan penataan dana BOS
dan oleh itu menjadi penting. Pada

54
hipotesis, akuntabilitas memiliki
pengaruh yang efisien pada
efektivitas manajemen kaya BOS
diterima. Artinya, saat akuntabilitas
meningkat maka efektivitas
penataan dana BOS SMK/SMA
Kabupaten Mojokerto akan
meningkat. Transparansi
berdampak positif dan signifikan
terhadap efektivitas pengelolaan
dana BOS, yaitu. H. signifikan.
Maka disimpulkan, akuntabilitas
berpengaruh terhadap efektivitas
manajemen kaya BOS diterima.
Muhamad Fajar Analisis Manajemen Hasil dari penelitian ini
Ronansyah (2023) Kepala Sekolah dalam menunjukkan pertama, Struktur tim
Mengelola Dana BOS manajemen dana BOS dalam
terhadap Efektivitas pengelolaan di SMK 11 Muaro
Pembelajaran Di SMK 11 Jambi dilakukan berdasarkan SK
Muaro Jambi. yang dibuat langsung oleh kepala
sekolah. Kedua Kendala yang
muncul dalam penggunaan dana
BOS, tidak semua kebutuhan
sekolah dapat didanai dari dana
BOS dan terlambatnya pencairan
dana BOS. Ketiga Solusi dalam
mengatasi kendala dalam
penggunaan dana BOS.
Rohyati Sari Manajemen Bantuan Perencanaan anggaran Dana BOS
(2018) Operasional Sekolah SMPN 3 Jati Agung telah
(BOS) di SMP Negeri 3 dilaksanakan oleh pengelola sesuai
Jati Agung Lampung standar pembiayaan pendidikan
Selatan. dan
petunjuk teknis BOS yang tertuang
di dalam RKAS yang disinkronkan
dengan RKS. Pelaksanaan
anggaran dana BOS dari mulai
penerimaan dan pengeluaran
dicatat dan dilaporkan sesuai juknis
BOS, dan SMPN 3 Jati Agung

55
sudah mengikuti rambu-rambu
yang termaksud di dalam juknis
BOS yang alokasinya sudah
tersususn dalam RKAS. Evaluasi,
pertanggungjawaban dan
pengawasan anggaran dana BOS
sudah sesuai dengan standar
pengelolaan dana BOS, secara
internal oleh Pengelola dana BOS
SMPN 3 Jati Agung dan secara
eksternal oleh Tim Manajemen
BOS kabupaten, inspektorat setiap
akhir triwulan serta ada
pengawasan dari Lembaga Sosial
Masyarakat (LSM).
Yani, Dian April Analisis Efektivitas Hasil penelitian menunjukan
dan Syahbudi, Bantuan Operasional bahwa bantuan dana BOS akan
Muhammad Sekolah (Bos) Dalam efektif dalam peningkatan kualitas
Meningkatkan Kualitas pendidikan bagi masyarakat Kota
(2019)
Pendidikan Masyarakat Di Medan khususnya apabila
Kota Medan. memenuhi ketentuan dalam hal
segi ketepatan penyaluran dana,
kecukupan penyaluran dana dan
ketepatan tujuan penggunaan data.
Ahmad Analisis Efisiensi Dan Hasil analisis yaitu: 1) pengelolaan
Rizalluddin, dkk Efektivitas Pengelolaan dana BOS diawali dengan
(2023) Dana Bantuan Operasional penyusunan RKAS yang
Sekolah (Bos) Pada Sdn dilaksnakan dengan rapat antara
Telukbango Vi Desa kepala sekolah, bendahara, guru
Gongcai Kecamatan dan komite, 2) pelaksanaan dana
Batujaya Kabupaten BOS sudah menenuhi standar dan
Karawang. sesuai dengan petunjuk teknis BOS
2021, 3) pelaporan dana BOS
dibuat setiap tahap dan akhir
periode dana BOS untuk
dilaporkan ke Tim BOS Kabupaten
dan Kementrian yang dikirim lewat
email, 4) faktor yang menghambat
pengelolaan yaitu keterlambatan
penyaluran dana BOS dari pihak
pusat ke sekolah, 5)
upaya yang dilakukan sekolah
dalam menangani hambatan yang
terjadi ialah dengan

56
memaksimalkan dana kepada
kebutuhan yang paling penting
seperti pengadaan buku pelajaran
siswa, pembelian alat tulis kantor,
dan gaji guru.
.

2.6 KERANGKA PEMIKIRAN

Dana BOS Reguler

Pengelolaan dan Kendala-kendala


Pengawasan dalam pengelolaan
Dana BOS SD Kristen Hosana dan pengawasan
Reguler Pada Dana BOS Reguler
SDK Hosana Pada SDK Hosana

Perencanaan
dan Pelaksanaan Pelaporan dan
Pengawasan
Penganggara Penatausahaan Pertanggungjawaban
n

57

Kesimpulan
Gambar 2.1
Kerangka pemikiran

58

Anda mungkin juga menyukai