BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Salah satu tujuan dari negara Indonesia yaitu mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mencerdaskan masyarakat terutama penerus-
penerus bangsa. Penerus bangsa yang tidak lain yaitu anak-anak yang
berpotensi untuk negara ini menjadi negara yang maju, aman dan
sejahtera. Salah satu bentuk menciptakan para generasi bangsa yang
cerdas melalui pendidikan baik formal maupun informal demi
mewujudkan generasi bangsa yang berkualitas. Hak mendapatkan
pendidikan merupakan hak bagi setiap anak bangsa. Penyediaan
pendidikan adalah sebuah keharusan dan kewajiban bagi pemerintah,
karena negara yang maju dan negara yang kuat dilihat seberapa baik
pendidikan yang dimilikinya.
Dalam mencerdaskan anak bangsa tentunya sistem pendidikan
harus sesuai dengan standar kurikulum yang telah ditetapkan, khususnya
dalam penyediaan peralatan pendidikan, penyediaan tempat dalam
melakukan proses pendidikan, karena pendidikan merupakan salah satu
sektor yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Pendidikan
berfungsi sebagai media dalam memandirikan manusia baik itu secara
indvidu maupun kelompok, mengembangkan seluruh potensi yang
dimiliki manusia itu sendiri. Indonesia merupakan negara yang memiliki
sumber daya yang besar baik itu sumber daya alam yang sangat
1
melimpah maupun sumber daya manusia yang kuantitasnya sangat
banyak, Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak ke tiga di
dunia, namun dalam hal kualitas sumber daya manusia masih sangat
kurang. Oleh sebab itu pemerintah membuat peraturan bahwasannya
pendidikan dasar bagi anak mulai umur 7-16 tahun wajib belajar
dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Pemerintah melakukan pembaharuan sistem pendidikan nasional
antara lain adalah memperbaharui visi, misi dan strategi pembangunan
pendidikan nasional yang di wujudkan dengan keluarnya Undang-
Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
menimbang poin (C) menyebutkan pendidikan nasional harus mampu
menjamin pemerataan kesempatan pendidikan dan peningkatan mutu
serta relevansi pendidikan untuk menghadapi tantangan perubahan
kehidupan lokal, nasional, dan global. Namun kondisi pada saat ini,
partisipasi pendidikan masyarakat cenderung menurun seiring dengan
meningkatnya jenjang pendidikan. Angka partisipasi masyarakat pada
jenjang pendidikan dasar lebih tinggi dibandingkan dengan jenjang
pendidikan menengah. Demikian pula angka partisipasi masyarakat pada
pendidikan tinggi lebih rendah dibandingkan dengan partisipasi
pendidikan menengah. Hal ini menunjukan kondisi dimana semakin
tinggi jenjang pendidikan, maka semakin rendah tingkat partisipasi
masyarakat.
Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
2
Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa setiap warga negara
yang berusia tujuh sampai lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan
dasar. PP No. 48. Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan Pasal 34
ayat (2) Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan
bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya
wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut
biaya sedangkan dalam ayat (3) menyebutkan bahwa wajib belajar
merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh
lembaga pendidikan pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat. PP
No. 17 tahun 2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan
kemudian pada pasal 17 ayat 2 disebutkan bahwa pendidikan dasar
berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) serta
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTS)
atau bentuk lainnya yang sederajat. Konsekuensi dari amanat undang-
undang tersebut adalah pemerintah dan pemerintah daerah wajib
memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat
pendidikan dasar (SD dan SMP) serta sekolah lain yang sederajat.
Pemerintah Pusat menyalurkan Program Bantuan Oparasional Pendidikan
Dasar dan Menengah sejalan dengan amanat dari undang-undang untuk
terselenggaranya program wajib belajar sembilan dan dua belas tahun.
Di Indonesia, pemerintah telah memberikan perhatian khusus
terhadap penyediaan akses pendidikan yang berkualitas bagi seluruh
rakyat Indonesia. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar
3
1945 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan
pendidikan (Pasal 31 ayat 1) dan pemerintah wajib membiayainya (Pasal
31 ayat 4) (Undang-Undang Dasar 1945). Salah satu upaya pemerintah
dalam mencapai tujuan tersebut adalah melalui program Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) yang telah diimplementasikan sejak tahun
2005 (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020).
Program BOS merupakan implementasi dari Undang-undang
Nomor 20 tahun 2003 pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah
pusat dan daerah menjammin terselenggaranya wajib belajar minimal
pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Konsekuensi dari
amanat undang-undang tersebut adalah pemerintah pusat dan daerah
wajib memberi layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada
Tingkat pendidikan dasar dan menengah dengan menjamin tidak
terbebani oleh biaya pendidikan. Biaya pendidikan merupakan salah satu
komponen instrument (instrumental input) yang berperan penting dalam
penyelenggaran pendidikan disekolah. Dalam rangka pelaksanaan
otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan, menejemen keuangan
sekolah perlu dilakukan untuk menunjang penyediaan sarana dan
prasarana dalam mengefektifkan kegiatan belajar mengajar dan
meningkatkan prestasi belajar peserta didik. (Mulyasa, 2016:195).
Program Bantuan Oparasional Pendidikan Dasar dan Menengah
yang kemudian disebut dengan Dana Bantuan Operasional Sekolah atau
yang dikenal Dana BOS adalah dana yang digunakan terutama untuk
4
mendanai belanja nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar dan
menengah sebagai pelaksana program wajib belajar dan dapat
dimungkinkan untuk mendanai beberapa kegiatan lain sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Dana BOS terdiri atas dana
BOS reguler dan dana BOS kinerja. Dana BOS reguler adalah Dana BOS
yang dialokasikan untuk membantu kebutuhan belanja operasional
seluruh peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah
sedangkan dana BOS kinerja adalah dana yang digunakan untuk
peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah yang dinilai
berkinerja dengan baik. Satuan Pendidikan yang menerima dana BOS
meliputi SD, SDLB, SMP, SMPLB, SMA, SMALB, SLB dan SMK.
Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dimulai sejak
bulan Juli 2005, telah berperan secara signifikan dalam percepatan
pencapaian wajib belajar sembilan tahun. Oleh karena itu, mulai tahun
2009 pemerintah telah melakukan perubahan tujuan, pendekatan dan
orientasi program BOS, dari perluasan akses menuju peningkatan
kualitas. Dalam perkembangannya, program BOS mengalami
peningkatan biaya satuan dan juga perubahan mekanisme penyaluran.
Tujuan program dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) adalah untuk
membantu biaya operasional sekolah non-personalia, meningkatkan
Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan dasar dan menengah,
mengurangi angka putus sekolah, membebaskan pungutan seluruh
peserta didik miskin dari seluruh pengutan dalam bentuk apapun, baik di
5
sekolah negeri maupun swasta, memberikan kesempatan yang setara
(equal opportunity) bagi siswa miskin untuk mendapatkan layanan
pendidikan yang terjangkau dan bermutu, serta meningkatkan kualitas
proses pembelajaran di sekolah. Dengan adanya program ini, diharapkan
dapat menjamin terselenggaranya pendidikan yang lebih berkualitas bagi
semua siswa di Indonesia (Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008).
Satuan Pendidikan diberi keleluasan dalam mengelola Dana BOS
yang telah diterima. Pengelolaan dana BOS dilakukan oleh tim
manajemen sekolah dengan kepala satuan Pendidikan atau kepala
sekolah selaku penanggungjawab pengelolaan dana BOS. Dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawab, kepala satuan pendidikan
penerima dana BOS membentuk tim BOS sekolah yang terdiri atas
kepala sekolah sebagai penanggung jawab, bendahara BOS, tiga orang
anggota yang terdiri dari satu orang guru, satu orang unsur komite dan
satu orang tua/wali peserta didik.
Moekijat (2000:1) mengemukakan pengertian pengelolaan adalah
suatu proses tertentu yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan, dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan dan
mencapai tujuan tertentu dengan cara menggunakan manusia dan
sumber-sumber lain. Sedangkan Terry (2009:9) mengemukakan bahwa
pengelolaan sama dengan manajemen sehingga pengelolaan dipahami
sebagai suatu proses membeda-bedakan atas perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan dengan memanfaatkan
6
baik ilmu maupun seni agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya. Admosudirjo (2005:160) mendefinisikan bahwa
pengelolaan adalah pengendalian dan pemanfaatan semua faktor sumber
daya yang menurut suatu perencanaan diperlukan untuk menyelesaikan
suatu tujuan tertentu.
Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Nomor 63 Tahun 2022 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana
Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini,
Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pasal 56 ayat (1) dijelaskan bahwa
pengelolaan dana BOS meliputi perencanaan dan penganggaran,
pelaksanaan penatausahaan, serta pelaporan dan pertanggungjawaban.
Pengelolaan BOS tidak terlepas dari peranan kepala sekolah yaitu
bagaimana kepala sekolah mengatur alokasi pembiayaan untuk
operasional sekolah. Kepala sekolah professional dituntut memiliki
kemampuan manajemen keuangan sekolah, baik melakukan perencanaan,
pelaksanaan dan pertanggungjawabannya. Aspek mendasar dari
manajemen adalah perencanaan, dalam hal pembiayaan yang disebut
penganggaran. (Makmun, 2009:17).
Perencanaan merupakan proses penyusunan berbagai keputusan
yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan. Hal ini menunjukan bahwa kepala sekolah
merencanakan keuangan untuk rencana kegiatan beserta sumber daya
pendukung lainnya yang ada disekolah merupakan sesuatu yang sangat
7
penting. Dalam manajemen pembiayaan, satu diantara instrumen yang
penting adalah penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah
(RKAS). Penyusunan RKAS mendasari pelaksanaan dan pelaporan.
Perencanaan dan penganggaran dalam pengelolaan dana BOS
merupakan tahapan awal yang penting untuk menentukan kebutuhan dan
alokasi dana yang diperlukan sesuai dengan prioritas pendidikan. Arifin
(2019:72), mengemukakan bahwa perencanaan dan penganggaran dana
BOS adalah proses penyusunan rencana dan anggaran yang melibatkan
seluruh pihak terkait untuk memastikan penggunaan dana secara tepat
dan efisien. Suyanto (2018,115) mendefenisikan bahwa pelaksanaan
penatausahaan adalah proses pelaksanaan administrasi keuangan secara
tertib, transparan dan akuntabel dalam penggunaan dana BOS. Pelaporan
dan pertanggungjawaban adalah proses penyampaian informasi secara
akurat dan transparan mengenai penggunaan dana BOS kepada pihak-
pihak yang berkepentingan (Mulyadi,2020:88).
Pengelolaan dana BOS sebagai bagian dari manajemen keuangan
sekolah yang efektif dan efisien sangat penting untuk meningkatkan
kualitas pendidikan. Dalam konteks ini, pengelolaan dana BOS harus
dilakukan secara profesional dan transparan untuk memastikan bahwa
penggunaan dana tersebut sesuai dengan tujuan dan kebijakan yang telah
(Fitri, 2014).
ditetapkan.
Wiguna (2008:14), menyebutkan bahwa sedikitnya ada empat hal
yang harus diperhatikan dalam pengelolaan dana BOS yaitu efisien,
8
efektifitas, transparansi dan akuntabilitas. Pertama, efisien maksudnya
adalah dana yang telah didapatkan oleh sekolah digunakan dengan
sebaik-baiknya dengan memperhatikan kebutuhan - kebutuhan. Artinya
bantuan tersebut jangan sampai salah penggunaan dan tepat sasaran.
Kedua, efektivitas maksudnya adalah kelanjutan dari efisien diatas,
artinya efektifitas sejauh mana keberhasilan yang dicapai dari hasil
keputusan yang pertama. Dan efektifitas ini bisa berarti evaluasi dari
program yang telah direncanakan sebelumnya. Ketiga, transparansi.
Transparansi ini sangat penting, karena jika dari pihak sekolah kurang
adanya transparansi maka dari pihak wali murid juga akan melakukan
protes kepada sekolah. Dan ini dimaksudkan untuk mengurangi tingkat
penyelewengan dari pihak sekolah. Keempat, akuntabilitas maksudnya
adalah dalam pencairan dana BOS ini harus bisa dipertanggungjawabkan
secara moral serta sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Sesuai dengan petunjuk teknis, dana BOS Reguler hanya bisa
digunakan oleh sekolah-sekolah penerima untuk membiayai komponen-
komponen berupa : penerimaan peserta didik baru, pengembangan
perpustakaan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler,
pelaksanaan kegiatan asesmen dan evaluasi pembelajaran, pelaksanaan
administrasi kegiatan sekolah, pengembangan profesi guru dan tenaga
kependidikan, pembiayaan langganan daya dan jasa, pemeliharaan sarana
dan prasarana sekolah, penyediaan alat multimedia pembelajaran,
9
penyelenggaraan kegiatan peningkatan kompetensi keahlian,
penyelenggaraan kegiatan dalam mendukung keterserapan lulusan
dan/atau pembayaran honor.
Dana BOS bagi satuan pendidikan merupakan keuangan negara
yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
yang dalam pengelolaannya wajib mendapatkan pengawasan secara
internal maupun eksternal dari lembaga terkait. Pengawasan pengelolaan
keuangan negara tentu memiliki peran penting untuk mewujudkan tujuan
dari setiap anggaran yang telah ditetapkan. Pada dasarnya, pengawasan
berguna untuk menjamin pengelolaan dana BOS tidak menyimpang dari
rencana yang telah ditetapkan. Pengawasan keuangan negara selalu
memiliki andil dalam setiap tahap, yaitu mulai dari tahap perencanaan
dan penganggaran, pelaksanaan penatausahaan dan pelaporan atau
pertanggungjawaban.
Menurut Dale (Winardi, 2007:224) dikatakan bahwa pengawasan
tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil
kegiatan mengawasi, tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan
meluruskannya sehingga mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang
direncanakan. Untuk menjamin agar semua pekerjaan yang telah
diberikan oleh pimpinan kepada bawahannya dapat berjalan sesuai
menurut rencana, maka seorang pimpinan tersebut harus memiliki
kemampuan untuk memandu, menuntut, membimbing, memotivasi,
mengemudikan organisasi, menjalin jaringan komunikasi yang baik,
10
sumber pengawasan yang baik, serta membawa pengikutnya kepada
sasaran yang hendak dituju sesuai ketentuan, waktu dan perencanaan
(Kartono 2002:81).
Pengawasan dana BOS sebagai bagian dari sistem pengawasan
keuangan yang efektif sangat penting untuk memastikan bahwa
penggunaan dana tersebut sesuai dengan tujuan dan kebijakan yang telah
ditetapkan. Dalam konteks ini, pengawasan harus dilakukan secara
partisipatif, objektif, transparantif, dan akuntabilitas untuk memastikan
bahwa penggunaan dana BOS tidak menyimpang dari tujuan dan
(Fitri, 2014)
kebijakan yang telah ditetapkan.
Komite sekolah memiliki peran penting dalam pengawasan dana
BOS. Mereka harus melakukan pengawasan atas terlaksananya
pengelolaan dana BOS, melalui pemantauan dan pengawasan yang
(SMR Vigowati Kafomay, 2020).
efektif dan efisien. Keterlibatan
masyarakat dalam pengawasan dana BOS sangat penting untuk
memastikan bahwa penggunaan dana tersebut sesuai dengan tujuan dan
kebijakan yang telah ditetapkan. Dalam konteks ini, keterlibatan
masyarakat dapat dilakukan melalui pengadaan kotak saran dan evaluasi
yang berkala, serta melalui partisipasi aktif dalam pengawasan dana
(Fitri, 2014.)
BOS.
Mengingat pentingnya program BOS dalam menjamin akses
pendidikan yang berkualitas, pengelolaan dan pengawasan dana BOS
menjadi hal yang sangat krusial. Pengelolaan dana BOS yang baik dan
11
akuntabel akan memastikan bahwa dana tersebut digunakan secara efektif
dan efisien untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Selain itu, pengawasan yang ketat terhadap penggunaan dana BOS juga
diperlukan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau korupsi
(Hartono & Husain, 2019).
Namun, dalam praktiknya, masih sering ditemukan berbagai
permasalahan dalam pengelolaan dan pengawasan dana BOS. Beberapa
laporan mengungkapkan adanya ketidaksesuaian dalam penggunaan dana
BOS, kurangnya transparansi, dan lemahnya sistem pengawasan (Badan
Pemeriksa Keuangan, 2021; Komisi Pemberantasan Korupsi, 2022). Hal
ini tentu saja dapat menghambat tercapainya tujuan program BOS dan
berdampak pada kualitas pendidikan.
Berdasarkan fenomena yang ditemui dilapangan bahwa pada SD
Kristen Hosana, sarana prasarana penunjang kegiatan pembelajaran
kurang memadai, seperti alat peraga dan alat multimedia pembelajaran
yang mana memiliki peran penting dalam proses pembelajaran untuk
membantu siswa memahami konsep-konsep yang diajarkan dengan lebih
baik. Tanpa adanya alat peraga pembelajaran, proses pembelajaran dapat
menjadi monoton dan kurang menarik bagi siswa, sehingga
mempengaruhi efektivitas pembelajaran dan pemahaman siswa terhadap
materi Pelajaran. Selain itu, masih ada beberapa kondisi meja dan kursi
yang sudah tidak layak untuk digunakan, hal ini dapat mengganggu
kenyamanan siswa selama proses belajar mengajar. Kondisi tersebut
12
dapat mempengaruhi konsentrasi siswa dan kinerja belajar mereka,
ketersediaan meja dan kursi yang memadai sangat penting untuk
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan nyaman bagi siswa
dan guru. Selain itu, ketersediaan komputer di lab komputer yang belum
memadai, jumlah komputer yang tidak memadai dapat menghambat
akses siswa terhadap teknologi dan sumber daya pembelajaran digital.
Lab komputer yang minim komputer juga dapat mengganggu
pelaksanaan mata pelajaran yang memerlukan penggunaan teknologi,
seperti pembelajaran komputer atau pengajaran berbasis multimedia.
Sarana prasarana yang tidak memadai dapat menghambat proses
pembelajaran dan kenyamanan siswa dan guru dalam menjalankan
kegiatan belajar-mengajar. Hal ini dapat mempengaruhi motivasi belajar
siswa dan kinerja guru serta berpotensi mengurangi efektivitas
pendidikan secara keseluruhan. Selain sarana prasarana yang belum
memadai di SD Kristen Hosana juga tidak melakukan inventarisasi.
Tidak melakukan inventarisasi dapat mengakibatkan ketidakjelasan
dalam pengelolaan aset sekolah. Dari fenomena yang ada dapat dikatakan
bahwa pengelolaan dana BOS di SD Kristen Hosana belum dilakukan
secara efektif dan efisien.
Oleh karena itu, penelitian yang mendalam terhadap pengelolaan
dan pengawasan dana BOS menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Penelitian ini diharapkan dapat mengidentifikasi permasalahan-
permasalahan yang ada, serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan
13
sistem pengelolaan dan pengawasan dana BOS di SD Kristen Hosana.
Dengan demikian, program BOS dapat diimplementasikan secara lebih
efektif dan efisien, sehingga dapat memberikan kontribusi yang
signifikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Dari uraian di atas penulis tertarik untuk meneliti tentang
“Pengelolaan dan Pengawasan Dana Bantuan Operasional Sekolah
(BOS) Reguler Pada Sekolah Dasar Kristen Hosana Kupang”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada bagian latar belakang maka masalah pokok
dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengelolaan dana BOS Reguler pada SD Kristen Hosana
Kupang ?
2. Bagaimana pengawasan dana BOS Reguler pada SD Kristen Hosana
Kupang ?
3. Apa kendala-kendala dalam pengelolaan dan pengawasan dana BOS
Reguler pada SD Kristen Hosana Kupang ?
1.3 Tujuan Penelitian
Mengacu pada rumusan masalah penelitian tersebut maka tujuan yang
hendak dicapai melalui penelitian ini adalah untuk :
1. Menganalisis pengelolaan dana BOS Reguler pada SD Kristen
Hosana.
2. Menganalisis pengawasan dana BOS Reguler pada SD Kristen
Hosana Kupang.
14
3. Menganalisis kendala-kendala dalam pengelolaan dan pengawasan
dana BOS Reguler pada SD Kristen Hosana.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan penulis terhadap pengelolaan dan pengawasan
dana BOS Reguler diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis maupun
praksis kepada Tim Manajemen BOS yakni sebagai berikut:
a. Manfaat Akademik
Diharapkan bermanfaat bagi pengembangan ilmu manajemen
keuangan khususnya yang berhubungan dengan kebijakan
pengelolaan keuangan yang bersumber dari Dana BOS Reguler.
b. Manfaat Praksis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi
pihak warga sekolah dapat dijadikan bahan masukan untuk
meningkatkan pengelolaan dan pengawasan keuangan yang
bersumber dari dana BOS Reguler.
15