0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

Pendidikan Dasar dan Program BOS Indonesia

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan di Indonesia sebagai hak setiap anak dan tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan akses pendidikan yang berkualitas. Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) diperkenalkan untuk mendukung pendidikan dasar dan menengah tanpa biaya bagi peserta didik, dengan fokus pada pengelolaan dana yang efisien dan transparan. Selain itu, pengawasan terhadap penggunaan dana BOS oleh komite sekolah dan masyarakat juga ditekankan untuk memastikan akuntabilitas dan pencapaian tujuan pendidikan.

Diunggah oleh

Conny Lassi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

Pendidikan Dasar dan Program BOS Indonesia

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan di Indonesia sebagai hak setiap anak dan tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan akses pendidikan yang berkualitas. Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) diperkenalkan untuk mendukung pendidikan dasar dan menengah tanpa biaya bagi peserta didik, dengan fokus pada pengelolaan dana yang efisien dan transparan. Selain itu, pengawasan terhadap penggunaan dana BOS oleh komite sekolah dan masyarakat juga ditekankan untuk memastikan akuntabilitas dan pencapaian tujuan pendidikan.

Diunggah oleh

Conny Lassi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Salah satu tujuan dari negara Indonesia yaitu mencerdaskan

kehidupan bangsa dan mencerdaskan masyarakat terutama penerus-

penerus bangsa. Penerus bangsa yang tidak lain yaitu anak-anak yang

berpotensi untuk negara ini menjadi negara yang maju, aman dan

sejahtera. Salah satu bentuk menciptakan para generasi bangsa yang

cerdas melalui pendidikan baik formal maupun informal demi

mewujudkan generasi bangsa yang berkualitas. Hak mendapatkan

pendidikan merupakan hak bagi setiap anak bangsa. Penyediaan

pendidikan adalah sebuah keharusan dan kewajiban bagi pemerintah,

karena negara yang maju dan negara yang kuat dilihat seberapa baik

pendidikan yang dimilikinya.

Dalam mencerdaskan anak bangsa tentunya sistem pendidikan

harus sesuai dengan standar kurikulum yang telah ditetapkan, khususnya

dalam penyediaan peralatan pendidikan, penyediaan tempat dalam

melakukan proses pendidikan, karena pendidikan merupakan salah satu

sektor yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Pendidikan

berfungsi sebagai media dalam memandirikan manusia baik itu secara

indvidu maupun kelompok, mengembangkan seluruh potensi yang

dimiliki manusia itu sendiri. Indonesia merupakan negara yang memiliki

sumber daya yang besar baik itu sumber daya alam yang sangat

1
melimpah maupun sumber daya manusia yang kuantitasnya sangat

banyak, Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak ke tiga di

dunia, namun dalam hal kualitas sumber daya manusia masih sangat

kurang. Oleh sebab itu pemerintah membuat peraturan bahwasannya

pendidikan dasar bagi anak mulai umur 7-16 tahun wajib belajar

dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Pemerintah melakukan pembaharuan sistem pendidikan nasional

antara lain adalah memperbaharui visi, misi dan strategi pembangunan

pendidikan nasional yang di wujudkan dengan keluarnya Undang-

Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

menimbang poin (C) menyebutkan pendidikan nasional harus mampu

menjamin pemerataan kesempatan pendidikan dan peningkatan mutu

serta relevansi pendidikan untuk menghadapi tantangan perubahan

kehidupan lokal, nasional, dan global. Namun kondisi pada saat ini,

partisipasi pendidikan masyarakat cenderung menurun seiring dengan

meningkatnya jenjang pendidikan. Angka partisipasi masyarakat pada

jenjang pendidikan dasar lebih tinggi dibandingkan dengan jenjang

pendidikan menengah. Demikian pula angka partisipasi masyarakat pada

pendidikan tinggi lebih rendah dibandingkan dengan partisipasi

pendidikan menengah. Hal ini menunjukan kondisi dimana semakin

tinggi jenjang pendidikan, maka semakin rendah tingkat partisipasi

masyarakat.

Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang

2
Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa setiap warga negara

yang berusia tujuh sampai lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan

dasar. PP No. 48. Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan Pasal 34

ayat (2) Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan

bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya

wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut

biaya sedangkan dalam ayat (3) menyebutkan bahwa wajib belajar

merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh

lembaga pendidikan pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat. PP

No. 17 tahun 2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan

kemudian pada pasal 17 ayat 2 disebutkan bahwa pendidikan dasar

berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) serta

Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTS)

atau bentuk lainnya yang sederajat. Konsekuensi dari amanat undang-

undang tersebut adalah pemerintah dan pemerintah daerah wajib

memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat

pendidikan dasar (SD dan SMP) serta sekolah lain yang sederajat.

Pemerintah Pusat menyalurkan Program Bantuan Oparasional Pendidikan

Dasar dan Menengah sejalan dengan amanat dari undang-undang untuk

terselenggaranya program wajib belajar sembilan dan dua belas tahun.

Di Indonesia, pemerintah telah memberikan perhatian khusus

terhadap penyediaan akses pendidikan yang berkualitas bagi seluruh

rakyat Indonesia. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar

3
1945 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan

pendidikan (Pasal 31 ayat 1) dan pemerintah wajib membiayainya (Pasal

31 ayat 4) (Undang-Undang Dasar 1945). Salah satu upaya pemerintah

dalam mencapai tujuan tersebut adalah melalui program Bantuan

Operasional Sekolah (BOS) yang telah diimplementasikan sejak tahun

2005 (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020).

Program BOS merupakan implementasi dari Undang-undang

Nomor 20 tahun 2003 pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah

pusat dan daerah menjammin terselenggaranya wajib belajar minimal

pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Konsekuensi dari

amanat undang-undang tersebut adalah pemerintah pusat dan daerah

wajib memberi layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada

Tingkat pendidikan dasar dan menengah dengan menjamin tidak

terbebani oleh biaya pendidikan. Biaya pendidikan merupakan salah satu

komponen instrument (instrumental input) yang berperan penting dalam

penyelenggaran pendidikan disekolah. Dalam rangka pelaksanaan

otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan, menejemen keuangan

sekolah perlu dilakukan untuk menunjang penyediaan sarana dan

prasarana dalam mengefektifkan kegiatan belajar mengajar dan

meningkatkan prestasi belajar peserta didik. (Mulyasa, 2016:195).

Program Bantuan Oparasional Pendidikan Dasar dan Menengah

yang kemudian disebut dengan Dana Bantuan Operasional Sekolah atau

yang dikenal Dana BOS adalah dana yang digunakan terutama untuk

4
mendanai belanja nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar dan

menengah sebagai pelaksana program wajib belajar dan dapat

dimungkinkan untuk mendanai beberapa kegiatan lain sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan. Dana BOS terdiri atas dana

BOS reguler dan dana BOS kinerja. Dana BOS reguler adalah Dana BOS

yang dialokasikan untuk membantu kebutuhan belanja operasional

seluruh peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah

sedangkan dana BOS kinerja adalah dana yang digunakan untuk

peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah yang dinilai

berkinerja dengan baik. Satuan Pendidikan yang menerima dana BOS

meliputi SD, SDLB, SMP, SMPLB, SMA, SMALB, SLB dan SMK.

Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dimulai sejak

bulan Juli 2005, telah berperan secara signifikan dalam percepatan

pencapaian wajib belajar sembilan tahun. Oleh karena itu, mulai tahun

2009 pemerintah telah melakukan perubahan tujuan, pendekatan dan

orientasi program BOS, dari perluasan akses menuju peningkatan

kualitas. Dalam perkembangannya, program BOS mengalami

peningkatan biaya satuan dan juga perubahan mekanisme penyaluran.

Tujuan program dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) adalah untuk

membantu biaya operasional sekolah non-personalia, meningkatkan

Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan dasar dan menengah,

mengurangi angka putus sekolah, membebaskan pungutan seluruh

peserta didik miskin dari seluruh pengutan dalam bentuk apapun, baik di

5
sekolah negeri maupun swasta, memberikan kesempatan yang setara

(equal opportunity) bagi siswa miskin untuk mendapatkan layanan

pendidikan yang terjangkau dan bermutu, serta meningkatkan kualitas

proses pembelajaran di sekolah. Dengan adanya program ini, diharapkan

dapat menjamin terselenggaranya pendidikan yang lebih berkualitas bagi

semua siswa di Indonesia (Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008).

Satuan Pendidikan diberi keleluasan dalam mengelola Dana BOS

yang telah diterima. Pengelolaan dana BOS dilakukan oleh tim

manajemen sekolah dengan kepala satuan Pendidikan atau kepala

sekolah selaku penanggungjawab pengelolaan dana BOS. Dalam

melaksanakan tugas dan tanggung jawab, kepala satuan pendidikan

penerima dana BOS membentuk tim BOS sekolah yang terdiri atas

kepala sekolah sebagai penanggung jawab, bendahara BOS, tiga orang

anggota yang terdiri dari satu orang guru, satu orang unsur komite dan

satu orang tua/wali peserta didik.

Moekijat (2000:1) mengemukakan pengertian pengelolaan adalah

suatu proses tertentu yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian,

penggerakan, dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan dan

mencapai tujuan tertentu dengan cara menggunakan manusia dan

sumber-sumber lain. Sedangkan Terry (2009:9) mengemukakan bahwa

pengelolaan sama dengan manajemen sehingga pengelolaan dipahami

sebagai suatu proses membeda-bedakan atas perencanaan,

pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan dengan memanfaatkan

6
baik ilmu maupun seni agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah

ditetapkan sebelumnya. Admosudirjo (2005:160) mendefinisikan bahwa

pengelolaan adalah pengendalian dan pemanfaatan semua faktor sumber

daya yang menurut suatu perencanaan diperlukan untuk menyelesaikan

suatu tujuan tertentu.

Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Nomor 63 Tahun 2022 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana

Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini,

Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pasal 56 ayat (1) dijelaskan bahwa

pengelolaan dana BOS meliputi perencanaan dan penganggaran,

pelaksanaan penatausahaan, serta pelaporan dan pertanggungjawaban.

Pengelolaan BOS tidak terlepas dari peranan kepala sekolah yaitu

bagaimana kepala sekolah mengatur alokasi pembiayaan untuk

operasional sekolah. Kepala sekolah professional dituntut memiliki

kemampuan manajemen keuangan sekolah, baik melakukan perencanaan,

pelaksanaan dan pertanggungjawabannya. Aspek mendasar dari

manajemen adalah perencanaan, dalam hal pembiayaan yang disebut

penganggaran. (Makmun, 2009:17).

Perencanaan merupakan proses penyusunan berbagai keputusan

yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai

tujuan yang telah ditentukan. Hal ini menunjukan bahwa kepala sekolah

merencanakan keuangan untuk rencana kegiatan beserta sumber daya

pendukung lainnya yang ada disekolah merupakan sesuatu yang sangat

7
penting. Dalam manajemen pembiayaan, satu diantara instrumen yang

penting adalah penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah

(RKAS). Penyusunan RKAS mendasari pelaksanaan dan pelaporan.

Perencanaan dan penganggaran dalam pengelolaan dana BOS

merupakan tahapan awal yang penting untuk menentukan kebutuhan dan

alokasi dana yang diperlukan sesuai dengan prioritas pendidikan. Arifin

(2019:72), mengemukakan bahwa perencanaan dan penganggaran dana

BOS adalah proses penyusunan rencana dan anggaran yang melibatkan

seluruh pihak terkait untuk memastikan penggunaan dana secara tepat

dan efisien. Suyanto (2018,115) mendefenisikan bahwa pelaksanaan

penatausahaan adalah proses pelaksanaan administrasi keuangan secara

tertib, transparan dan akuntabel dalam penggunaan dana BOS. Pelaporan

dan pertanggungjawaban adalah proses penyampaian informasi secara

akurat dan transparan mengenai penggunaan dana BOS kepada pihak-

pihak yang berkepentingan (Mulyadi,2020:88).

Pengelolaan dana BOS sebagai bagian dari manajemen keuangan

sekolah yang efektif dan efisien sangat penting untuk meningkatkan

kualitas pendidikan. Dalam konteks ini, pengelolaan dana BOS harus

dilakukan secara profesional dan transparan untuk memastikan bahwa

penggunaan dana tersebut sesuai dengan tujuan dan kebijakan yang telah
(Fitri, 2014).
ditetapkan.

Wiguna (2008:14), menyebutkan bahwa sedikitnya ada empat hal

yang harus diperhatikan dalam pengelolaan dana BOS yaitu efisien,

8
efektifitas, transparansi dan akuntabilitas. Pertama, efisien maksudnya

adalah dana yang telah didapatkan oleh sekolah digunakan dengan

sebaik-baiknya dengan memperhatikan kebutuhan - kebutuhan. Artinya

bantuan tersebut jangan sampai salah penggunaan dan tepat sasaran.

Kedua, efektivitas maksudnya adalah kelanjutan dari efisien diatas,

artinya efektifitas sejauh mana keberhasilan yang dicapai dari hasil

keputusan yang pertama. Dan efektifitas ini bisa berarti evaluasi dari

program yang telah direncanakan sebelumnya. Ketiga, transparansi.

Transparansi ini sangat penting, karena jika dari pihak sekolah kurang

adanya transparansi maka dari pihak wali murid juga akan melakukan

protes kepada sekolah. Dan ini dimaksudkan untuk mengurangi tingkat

penyelewengan dari pihak sekolah. Keempat, akuntabilitas maksudnya

adalah dalam pencairan dana BOS ini harus bisa dipertanggungjawabkan

secara moral serta sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang

berlaku.

Sesuai dengan petunjuk teknis, dana BOS Reguler hanya bisa

digunakan oleh sekolah-sekolah penerima untuk membiayai komponen-

komponen berupa : penerimaan peserta didik baru, pengembangan

perpustakaan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler,

pelaksanaan kegiatan asesmen dan evaluasi pembelajaran, pelaksanaan

administrasi kegiatan sekolah, pengembangan profesi guru dan tenaga

kependidikan, pembiayaan langganan daya dan jasa, pemeliharaan sarana

dan prasarana sekolah, penyediaan alat multimedia pembelajaran,

9
penyelenggaraan kegiatan peningkatan kompetensi keahlian,

penyelenggaraan kegiatan dalam mendukung keterserapan lulusan

dan/atau pembayaran honor.

Dana BOS bagi satuan pendidikan merupakan keuangan negara

yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)

yang dalam pengelolaannya wajib mendapatkan pengawasan secara

internal maupun eksternal dari lembaga terkait. Pengawasan pengelolaan

keuangan negara tentu memiliki peran penting untuk mewujudkan tujuan

dari setiap anggaran yang telah ditetapkan. Pada dasarnya, pengawasan

berguna untuk menjamin pengelolaan dana BOS tidak menyimpang dari

rencana yang telah ditetapkan. Pengawasan keuangan negara selalu

memiliki andil dalam setiap tahap, yaitu mulai dari tahap perencanaan

dan penganggaran, pelaksanaan penatausahaan dan pelaporan atau

pertanggungjawaban.

Menurut Dale (Winardi, 2007:224) dikatakan bahwa pengawasan

tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil

kegiatan mengawasi, tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan

meluruskannya sehingga mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang

direncanakan. Untuk menjamin agar semua pekerjaan yang telah

diberikan oleh pimpinan kepada bawahannya dapat berjalan sesuai

menurut rencana, maka seorang pimpinan tersebut harus memiliki

kemampuan untuk memandu, menuntut, membimbing, memotivasi,

mengemudikan organisasi, menjalin jaringan komunikasi yang baik,

10
sumber pengawasan yang baik, serta membawa pengikutnya kepada

sasaran yang hendak dituju sesuai ketentuan, waktu dan perencanaan

(Kartono 2002:81).

Pengawasan dana BOS sebagai bagian dari sistem pengawasan

keuangan yang efektif sangat penting untuk memastikan bahwa

penggunaan dana tersebut sesuai dengan tujuan dan kebijakan yang telah

ditetapkan. Dalam konteks ini, pengawasan harus dilakukan secara

partisipatif, objektif, transparantif, dan akuntabilitas untuk memastikan

bahwa penggunaan dana BOS tidak menyimpang dari tujuan dan


(Fitri, 2014)
kebijakan yang telah ditetapkan.

Komite sekolah memiliki peran penting dalam pengawasan dana

BOS. Mereka harus melakukan pengawasan atas terlaksananya

pengelolaan dana BOS, melalui pemantauan dan pengawasan yang


(SMR Vigowati Kafomay, 2020).
efektif dan efisien. Keterlibatan

masyarakat dalam pengawasan dana BOS sangat penting untuk

memastikan bahwa penggunaan dana tersebut sesuai dengan tujuan dan

kebijakan yang telah ditetapkan. Dalam konteks ini, keterlibatan

masyarakat dapat dilakukan melalui pengadaan kotak saran dan evaluasi

yang berkala, serta melalui partisipasi aktif dalam pengawasan dana


(Fitri, 2014.)
BOS.

Mengingat pentingnya program BOS dalam menjamin akses

pendidikan yang berkualitas, pengelolaan dan pengawasan dana BOS

menjadi hal yang sangat krusial. Pengelolaan dana BOS yang baik dan

11
akuntabel akan memastikan bahwa dana tersebut digunakan secara efektif

dan efisien untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Selain itu, pengawasan yang ketat terhadap penggunaan dana BOS juga

diperlukan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau korupsi

(Hartono & Husain, 2019).

Namun, dalam praktiknya, masih sering ditemukan berbagai

permasalahan dalam pengelolaan dan pengawasan dana BOS. Beberapa

laporan mengungkapkan adanya ketidaksesuaian dalam penggunaan dana

BOS, kurangnya transparansi, dan lemahnya sistem pengawasan (Badan

Pemeriksa Keuangan, 2021; Komisi Pemberantasan Korupsi, 2022). Hal

ini tentu saja dapat menghambat tercapainya tujuan program BOS dan

berdampak pada kualitas pendidikan.

Berdasarkan fenomena yang ditemui dilapangan bahwa pada SD

Kristen Hosana, sarana prasarana penunjang kegiatan pembelajaran

kurang memadai, seperti alat peraga dan alat multimedia pembelajaran

yang mana memiliki peran penting dalam proses pembelajaran untuk

membantu siswa memahami konsep-konsep yang diajarkan dengan lebih

baik. Tanpa adanya alat peraga pembelajaran, proses pembelajaran dapat

menjadi monoton dan kurang menarik bagi siswa, sehingga

mempengaruhi efektivitas pembelajaran dan pemahaman siswa terhadap

materi Pelajaran. Selain itu, masih ada beberapa kondisi meja dan kursi

yang sudah tidak layak untuk digunakan, hal ini dapat mengganggu

kenyamanan siswa selama proses belajar mengajar. Kondisi tersebut

12
dapat mempengaruhi konsentrasi siswa dan kinerja belajar mereka,

ketersediaan meja dan kursi yang memadai sangat penting untuk

menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan nyaman bagi siswa

dan guru. Selain itu, ketersediaan komputer di lab komputer yang belum

memadai, jumlah komputer yang tidak memadai dapat menghambat

akses siswa terhadap teknologi dan sumber daya pembelajaran digital.

Lab komputer yang minim komputer juga dapat mengganggu

pelaksanaan mata pelajaran yang memerlukan penggunaan teknologi,

seperti pembelajaran komputer atau pengajaran berbasis multimedia.

Sarana prasarana yang tidak memadai dapat menghambat proses

pembelajaran dan kenyamanan siswa dan guru dalam menjalankan

kegiatan belajar-mengajar. Hal ini dapat mempengaruhi motivasi belajar

siswa dan kinerja guru serta berpotensi mengurangi efektivitas

pendidikan secara keseluruhan. Selain sarana prasarana yang belum

memadai di SD Kristen Hosana juga tidak melakukan inventarisasi.

Tidak melakukan inventarisasi dapat mengakibatkan ketidakjelasan

dalam pengelolaan aset sekolah. Dari fenomena yang ada dapat dikatakan

bahwa pengelolaan dana BOS di SD Kristen Hosana belum dilakukan

secara efektif dan efisien.

Oleh karena itu, penelitian yang mendalam terhadap pengelolaan

dan pengawasan dana BOS menjadi sangat penting untuk dilakukan.

Penelitian ini diharapkan dapat mengidentifikasi permasalahan-

permasalahan yang ada, serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan

13
sistem pengelolaan dan pengawasan dana BOS di SD Kristen Hosana.

Dengan demikian, program BOS dapat diimplementasikan secara lebih

efektif dan efisien, sehingga dapat memberikan kontribusi yang

signifikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Dari uraian di atas penulis tertarik untuk meneliti tentang

“Pengelolaan dan Pengawasan Dana Bantuan Operasional Sekolah

(BOS) Reguler Pada Sekolah Dasar Kristen Hosana Kupang”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada bagian latar belakang maka masalah pokok

dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana pengelolaan dana BOS Reguler pada SD Kristen Hosana

Kupang ?

2. Bagaimana pengawasan dana BOS Reguler pada SD Kristen Hosana

Kupang ?

3. Apa kendala-kendala dalam pengelolaan dan pengawasan dana BOS

Reguler pada SD Kristen Hosana Kupang ?

1.3 Tujuan Penelitian

Mengacu pada rumusan masalah penelitian tersebut maka tujuan yang

hendak dicapai melalui penelitian ini adalah untuk :

1. Menganalisis pengelolaan dana BOS Reguler pada SD Kristen

Hosana.

2. Menganalisis pengawasan dana BOS Reguler pada SD Kristen

Hosana Kupang.

14
3. Menganalisis kendala-kendala dalam pengelolaan dan pengawasan

dana BOS Reguler pada SD Kristen Hosana.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan penulis terhadap pengelolaan dan pengawasan

dana BOS Reguler diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis maupun

praksis kepada Tim Manajemen BOS yakni sebagai berikut:

a. Manfaat Akademik

Diharapkan bermanfaat bagi pengembangan ilmu manajemen

keuangan khususnya yang berhubungan dengan kebijakan

pengelolaan keuangan yang bersumber dari Dana BOS Reguler.

b. Manfaat Praksis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi

pihak warga sekolah dapat dijadikan bahan masukan untuk

meningkatkan pengelolaan dan pengawasan keuangan yang

bersumber dari dana BOS Reguler.

15

Anda mungkin juga menyukai