0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan45 halaman

Karakteristik Edible Film Pati Sagu

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik edible film dari pati sagu dengan penambahan gliserol sebagai plasticizer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi gliserol berpengaruh terhadap warna, ketebalan, kelarutan dalam air, dan transmisi uap air, dengan perlakuan terbaik pada konsentrasi 1 ml gliserol. Edible film yang dihasilkan memiliki kecerahan tinggi, ketebalan 0,37 mm, kelarutan 71%, dan transmisi uap air 2,76 g.m2/jam.

Diunggah oleh

Windii Santika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan45 halaman

Karakteristik Edible Film Pati Sagu

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik edible film dari pati sagu dengan penambahan gliserol sebagai plasticizer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi gliserol berpengaruh terhadap warna, ketebalan, kelarutan dalam air, dan transmisi uap air, dengan perlakuan terbaik pada konsentrasi 1 ml gliserol. Edible film yang dihasilkan memiliki kecerahan tinggi, ketebalan 0,37 mm, kelarutan 71%, dan transmisi uap air 2,76 g.m2/jam.

Diunggah oleh

Windii Santika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KARAKTERISTIK FISIK EDIBLE FILM DARI PATI

SAGU (Metrooxylon sp) DENGAN PEMBERIAN


GLISEROL SEBAGAI PLASTICIZER

RANI AGUSTIANI
NPM : 102 2019 009

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian


Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian
Program Studi Agroteknologi

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN (STIP)
MUJAHIDIN TOLITOLI
2024
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Penelitian :Karakteristik Fisik Edible Film Pati Sagu Dengan

Pemberian Gliserol Sebagai Plasticizer.

Nama Lengkap : Rani Agustiani

NPM : 1022019009

Program Studi : Agroteknologi.

Perguruan Tinggi : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian.

Tolitoli, 23 Desember 2024

Mengetahui. Menyetujui,
Ketua Program Studi Agroteknologi Dosen Pembimbing

[Link], SP.,[Link] Siti Fatima, S.P.,M. Si


NIDN. 0904077701 Pembimbing Utama

Masriani, S.P., [Link]


Pembimbing Anggota

ii
UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas karunia-Nya yang

telah diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan

laporan hasil ini dengan baik.

Dalam menyelesaikan laporan hasil ini banyak kendala yang dihadapi

peneliti dan dapat diselesaikan berkat bimbingan dan dorongan dari berbagai

pihak hingga pada akhirnya penulisan skripsi ini dapat diselesaikan sebagaimana

adanya. Pada kesempatan ini, dengan segala hormat dan kerendahan hati peneliti

menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Ibu Mitin selaku orang tua saya yang telah banyak memberikan bantuan

moral maupun materil disetiap langkah perjalanan penulis dalam

menuntut ilmu.

2. Dr. Sjarifuddin Ende, S.P.,[Link] selaku ketua STIP Mujahidin Tolitoli.

3. [Link], SP.,[Link] dan Tony, S.P.,[Link] selaku ketua dan sekretaris

program studi Agroteknologi STIP Mujahidin Tolitoli.

4. Siti Fatima, S.P.,[Link] dan Masriani, S.P.,[Link] selaku pembimbing dalam

penelitian dan penulisan laporan hasil ini.

5. Dosen serta seluruh staf STIP Mujahidin Tolitoli yang telah banyak

memberikan bantuan dalam penyelesaian studi.

6. Gede ekha setyawan selaku pacar saya yang telah memberikan dukungan

dengan tulus untuk berjuang menyelesaikan laporan hasil penelitian ini

hingga tuntas.

iii
7. Terimakasih untuk sahabat dari SMK saya Nurhalisa, Fransiska Regina

Sumule, Deah Nurqadri, Asti Putri Pratiwi, dan Shofa Marwa Latifa yang

senantiasa memberikan motivasi, dukungan dan semangat untuk

menyelesaikan laporan hasil penelitian ini.

8. Rekan-rekan angkatan 2019 program studi Agroteknologi untuk

kebersamaannya selama perkuliahan dan seluruh teman seangkatan yang

telah memberi banyak dukungan selama perkuliahan.

9. Terimakasih banyak untuk kedua kakaku tersayang sekaligus patner kerja

Sela Selvia [Link] dan Dian Lestari yang telah memberikan semangat

dan dorongan untuk menyelesaikan laporan hasil penelitian ini.

10. Semua pihak yang telah banyak membantu dari awal perkuliahan hingga

penelitian yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas

segalanya.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang

secara tidak sengaja tidak tertulis di atas dan penulis berharap semoga laporan

hasil ini dapat bermanfaat dan berguna bagi semua.

Tolitoli, 17 November 2024


Peneliti,

Rani Agustiani

iv
ABSTRAK

Rani Agustiani, NPM 102 2019 009. Karakteristik Fisik Edible Film Dari Pati
Sagu Dengan Pemberian Gliserol Sebagai Plasticizer. Di bawah bimbingan
Siti Fatima dan Masriani.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik edible film pati sagu
dengan pemberian gliserol sebagai Plasticizer. Penelitian ini telah dilaksanakan di
Laboratorium Ilmu-ilmu Pertanian STIP Mujahidin Tolitoli Kelurahan Tuweley
Kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah pada bulan
Februari sampai dengan April 2024. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak
Lengkap (RAL). Faktor pertama (a) adalah konsentrasi gliserol yaitu r0 (0 ml/100
ml larutan aquadest), r1 (1 ml/100 ml larutan aquadest), r2 (2 ml/ 100 ml larutan
aquadest), r3 (3 ml/ 100 ml larutan aquadest), r4 (4 ml/ 100 ml larutan aquadest),
r5 (5 ml/ 100 ml larutan aquadest), dan r6 (6 ml/ 100 ml larutan aquadest). Hasil
dianalisis menggunakan sidik ragam dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur
(BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi Gliserol
berpengaruh terhadap warna, ketebalan, kelarutan dalam air, dan transmisi uap air.
Perlakuan terbaik akibat penambahan konsentrasi gliserol terhadap edible film
adalah perlakuan konsentrasi gliserol 1 ml yaitu warna memiliki tingkat kecerahan
yang tinggi, ketebalan 0,37 mm, dan kelarutan 71% dengan transmisi uap air
sebesar 2,76 g.m2/jam.

Kata kunci : Gliserol, edible film, pati sagu

v
ABSTRACT

Rani Agustiani, NPM 102 2019 009. The physical characteristics of sago
starch edible film by administering glycerol as a plasticizer. Under the
guidance of Siti Fatima and Masriani.

This research aims to determine the physical characteristics of sago starch edible
film by administering glycerol as a plasticizer. This research was carried out at the
Agricultural Sciences Laboratory of STIP Mujahidin Tolitoli, Tuweley Village,
Baolan District, Tolitoli Regency, Central Sulawesi Province from February to
April 2024. This research used a Completely Randomized Design (CRD). The
first factor (a) is the glycerol concentration, namely r0 (0 ml/100 ml distilled
water solution), r1 (1 ml/100 ml distilled water solution), r2 (2 ml/ 100 ml
distilled water solution), r3 (3 ml/ 100 ml distilled water solution distilled water),
r4 (4 ml/ 100 ml distilled water solution), r5 (5 ml/ 100 ml distilled water
solution), and r6 (6 ml/ 100 ml distilled water solution). The results were analyzed
using variance analysis followed by the Honestly Significant Difference (BNJ)
test. The research results showed that increasing the concentration of glycerol had
an effect on color, thickness, water solubility and water vapor transmission. The
best treatment due to the addition of glycerol concentration to edible film is a
glycerol concentration treatment of 1 ml, namely the color has a high level of
brightness, a thickness of 0.37 mm, and a solubility of 71% with a water vapor
transmission of 2.76 g.m2/hour.

Keywords : Gliserol, edible film, sago strach

vi
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................ii
UCAPAN TERIMA KASIH..................................................................................iii
ABSTRAK...............................................................................................................v
ABSTRACT............................................................................................................vi
DAFTAR ISI..........................................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................ix
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................x

BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................3
1.3 Tujuan dari penelitian...................................................................................3

BAB 2 TINJAUN PUSTAKA DAN HIPOTESIS..................................................4


2.1 Penelitian Terdahulu....................................................................................4
2.1 Tinjauan Pustaka..........................................................................................5
2.2.1 Edible Film..............................................................................................5
2.2.2 Pati Sagu..................................................................................................6
2.2.3 Gliserol....................................................................................................8
2.3 Hipotesis.....................................................................................................10

BAB 3 BAHAN DAN METODE..........................................................................11


3.1 Tempat dan Waktu Penelitian....................................................................11
3.2 Alat dan Bahan...........................................................................................11
3.3 Metode Penelitian.......................................................................................11
3.4 Prosedur Penelitian.....................................................................................12
3.4.1 Pembuatan Edible Film.........................................................................12
3.5 Parameter Pengamatan...............................................................................14

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................16


4.1 Warna.........................................................................................................16
4.2 Ketebalan Film...........................................................................................17

vii
4.3 Kelarutan dalam air (%).............................................................................19
4.4 Transmisi Uap Air......................................................................................20

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN................................................................22


5.1 Kesimpulan.................................................................................................22
5.2 Saran...........................................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................23

LAMPIRAN...........................................................................................................32

viii
DAFTAR GAMBAR

3.1 Prosedur pembuatan edible film dari tepung sagu 12


4.1 Warna Edible Film 15
4.2 Grafik Ketebalan Edible Film 16
4.3 Grafik kelarutan edible film berdasarkan data hasil transformasi akibat
penambahan konsentrasi gliserol 18
4.4 Grafik transmisi uap air edible film berdasarkan data hasil transformasi
akibat penambahan konsentrasi gliserol 19

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Teks Halaman


1a. Data ketebalan Edible film 25
1b. Tabel sidik ragam ketebalan Edible film 25
2a. Data kelarutan Edible film 25
2b. Data kelarutan Edible film hasil transformasi√ y + 1/2 26
2c. Tabel sidik ragam kelarutan Edible film 26
3a. Data transmisi uap air Edible film 26
3b. Data transmisi uap air Edible film hasil transformasi √ y + 1/2 27
3c. Tabel sidik ragam transmisi uap air Edible film 27
4. Gambar alat-alat penelitian 28
5. Gambar bahan-bahan penelitian 28
6. Gambar pengayakan pati sagu 29
7. Gambar proses pembuatan larutan Edible film pati sagu 29
8. Gambar proses pengeringan Edible film pati sagu menggunakan oven 30
9. Gambar hasil larutan Edible film pati sagu setelah pengovenan 30
10. Gambar tampak dari atas transmisi uap air selama 24 jam 31
11. Gambar tampak dari samping transmisi uap air selama 24 jam 31
12. Gambar pengovenan transmisi uap air suhu 105oC hingga konstan 32
13. Gambar penimbangan transmisi uap air 32
14. Denah penelitian 33
15. Riwayat hidup 34

x
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Edible film merupakan lapisan tipis yang dapat dimakan dan dapat

diletakkan pada makanan sebagai pembatas antara makanan dan lingkungannya.

Manfaat edible film sebagai bahan pengemas antara lain kemampuan melindungi

produk pangan, kemampuan terurai secara alami, dan kemampuan untuk

dikonsumsi secara langsung, sehingga diyakini penggunaan edible film sebagai

kemasan akan mengurai polusi. Kemasan yang dapat dimakan diproduksi dalam

bentuk lembaran dalam penelitian ini dan dimaksudkan untuk memiliki sifat

seperti plastik, seperti transparansi dan fleksibilitas. Kemasan edible film adalah

salah satu alternatif dalam memberikan solusi sebagai kemasan yang layak

diterapkan untuk mengatasi permasalahan lingkungan dengan proses dekomposisi

yang lama dan umur simpan yang lebih lama. Kemasan, edible film merupakan

salah satu alternatif dalam memberikan solusi sebagai kemasan yang layak

diterapkan untuk mengatasi permasalahan lingkungan (Skurtys dkk, 2011).

Kelebihan dari edible film antara lain: dapat menghambat difusi oksigen

dan uap air memasuki bahan pelapis, menghambat pembusukan mikroba dan

keamanan yaitu dikonsumsi. Pati adalah salah satu bahan baku alternatif yang

aman kemasan yang dapat dimakan dan mudah diserap oleh tubuh manusia.

Edible film yang terbuat dari hidrokoloid ada beberapa keuntungan, antara lain

membantu melindungi produk dari oksigen dan karbon dioksida, dan memiliki

sifat mekanik yang baik.

1
2

Sagu (Metrooxylon sp) salah satu jenis tumbuhan dari famili palem yang

ditemukan di daerah tropis. Secara ekologis sagu tumbuh di rawa-rawa atau di

sepanjang aliran air atau di hutan rawa. Habitat tempat tumbuh sagu ialah sifat

tanah, air, iklim mikro serta vegetasi pada tempat asal tersebut. Dari informasi

tempat tumbuhnya (yang sangat beragam) dapat dikatakan bahwa sagu sangat

mudah beradaptasi. Sagu adalah salah satu makanan yang paling banyak ditanam

di Indonesia bagian timur dan sering digunakan sebagai bahan masakan

tradisional.

Pati sagu tinggi karbohidrat, tetapi juga mengandung unsur-unsur lain

seperti protein, vitamin, dan mineral. Pati sagu penting dalam semua industri

pengolahan makanan, serta bisnis non-makanan. Pati sagu digunakan di sektor

industri makanan dan non-makanan dalam bentuk pati termodifikasi seperti pati

teroksidasi dan pati terfosforilasi. Pati teroksidasi digunakan sebagai bahan

pengukur dan pelapis dalam industri kertas untuk membuat kertas berkualitas

tinggi seperti kertas kalender dan kertas tulis canggih. Pati merupakan jenis

hidrokoloid yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan edible film. Pati

mengandung dua penyusun penting yang dapat mempengaruhi kestabilan dan

kekuatan edible film, yakni amilosa dan amilopektin

Plasticizer yang sering digunakan dalam pembuatan plastik biodegradable

berbahan selulosa adalah gliserol. Hal ini disebabkan karena bahannya relatif

murah, mudah didapat, ramah lingkungan dan dapat diperbaharui. Selain itu,

Gliserol meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas film, sehingga membuatnya

lebih mudah untuk dibentuk dan tidak mudah patah saat digunakan, serta Gliserol
3

membantu mengurangi kekakuan film dengan menginterupsi ikatan hidrogen

antar molekul polimer, sehingga menghasilkan film yang lebih lentur dan nyaman

saat digunakan.

Gliserol adalah alkohol terhidrik. Nama lain gliserol adalah gliserin atau

1,2,3-propanetriol. Sifat gliserol tidak berwarna, tidak berbau, rasanya manis,

bentuknya liquid sirup, meleleh pada suhu 17,8 oC, mendidih pada suhu 290 oC

dan larut dalam air dan etanol. Gliserol bersifar higroskopis, seperti menyerap air

dari udara, sifat ini yang membuat gliserol digunakan sebagai pelembab pada

kosmetik. Gliserol terdapat dalam bentuk ester (gliserida) pada semua hewan,

lemak nabati dan minyak. Gliserol termasuk jenis plasticizer yang bersifak

hidrofilik, menambah sifat polat dan mudah larut dalam air (huri dan nisa dalam

Thofando Muharram dkk, 2022)

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana karakteristik fisik edible film pati sagu dengan pemberian

gliserol sebagai Plasticizer?

1.3 Tujuan dari penelitian


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik fisik edible

film pati sagu dengan pemberian gliserol sebagai Plasticizer. Sedangkan kegunaan

dari penelitian ini dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan mampu

memperpanjang umur simpan produk.


BAB 2 TINJAUN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

2.1 Penelitian Terdahulu


Menurut Anandito dkk (2012) menunjukkan bahwa penambahan gliserol

meningkatkan kelarutan dan ketebalan edible film, tetapi menurunkan

permeabilitas terhadap uap air (WVP). Penambahan gliserol pada awalnya

meningkatkan pemanjangan dan kuat regang putus dari edible film. Ketika

kondisi jenuh, pemanjangan dan kuat regang putus kemudian turun. Edible film

dengan karakteristik fisik dan mekanik terbaik terdapat pada penambahan gliserol

dengan konsentrasi 20% yang ditunjukkan dengan permeabilitas uap air (WVP)

sebesar 0,687 [Link]/jam.m2 dan pemanjangan (elongation) film 41,022%.

Menurut Kristinah Haryani dkk (2022) menunjukkan edible film dengan

karakteristik terbaik memiliki kandungan 2 % pektin apel dan 1,5 % gliserol

dengan karakteristik ketebalan 0,15 mm; kuat tarik 0,84 MPa; persen elongasi

79,7 %; laju permeasi air 15,56 g/m².menit dan tingkat biodegradabilitas 85,71 %.

Menurut Sitompul dan Zubaidah, (2017) menyatakan bahwa semakin tinggi

konsentrasi yang dipakai maka kadar air, ketebalan, daya serap uap air dan persen

perpanjangan edible film meningkat sedangkan kecerahan, kelarutan dalam air,

transmisi uap air, dan kuat tarik menurun. Perlakuan terbaik adalah edible film

dengan penggunaan plasticizer sorbitol pada konsentrasi sebesar 3%. Nilai

terbaik untuk kadar air 11,86%, ketebalan 0,12 mm, kecerahan 83,47 L, transmisi

uap air 4,43 g/[Link], daya serap uap air 25,12%, kelarutan dalam air 62,35%,

kuat tarik 44,65% dan persen perpanjangan 2,83 N/cm2.

4
5

2.1 Tinjauan Pustaka


2.2.1 Edible Film

Salah satu bahan pengemas yang dapat digunakan sebagai alternatif adalah

edible film. Edible film merupakan bahan pengemas organik berbentuk lapisan

tipis berupa lembaran yang diaplikasikan pada bahan pangan. Lapisan tipis ini

dapat dimakan sekaligus dengan bahan pangan yang dikemasnya (Winarti dkk,

2012).

Setiani dkk, (2013) mengungkapkan bahwa edible film bersifat ramah

lingkungan karena dapat diuraikan kembali oleh mikroorganisme secara alami.

Penggunaan edible film dapat menghambat pembusukan oleh mikroba dan difusi

oksigen serta uap air ke dalam bahan pangan sehingga keamanan pangan tetap

terjaga.

Karakteristik edible film berbahan dasar pati yang dihasilkan dipengaruhi

oleh kadar amilosa dan amilopektin yang terkandung di dalamnya. Amilopektin

memengaruhi kestabilan, sedangkan amilosa mempengaruhi kekompakan edible

film. Di samping itu, amilopektin yang tinggi pada pati menghasilkan edible film

yang jernih. Edible film berbasis pati bersifat non isotropik, tidak bercun, tidak

berasa, dan transparan (Kawija et al, 2017).

Menurut Shanti Fitriani dkk (2023) dengan judul Karakteristik dan Profil

Pasta Pati Sagu Modifikasi Pragelatinisasi pada Suhu yang Berbeda, menyatakan

bahwa kadar amilosa berkisar antara 18,07–25,31%. Kandungan amilosa

penelitian ini digolongkan dalam kadar amilosa sedang yaitu 20–24%.


6

Edible film yang terbuat dari pati memiliki beberapa kelemahan, di

antaranya rendahnya resistensi terhadap air. Sifat penghalang terhadap uap air

juga rendah karena sifat hidrofilik pati dapat memengaruhi stabilitas dan sifat

mekanisnya. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan karakteristik fisik dan mekanis

dari film pati, maka perlu penambahan biopolimer atau bahan lain yaitu

plasticizer. Penambahan plasticizer dapat mengurangi kerapuhan dan

memudahkan pencetakan film, serta mampu meningkatkan fleksibilitas dan

ketahanan film, terutama jika disimpan pada suhu rendah. Jenis plasticizer yang

biasanya ditambahkan adalah sorbitol, gliserol, dan monogliserin yang diasetilasi

(Tarigan dan Damanik, 2018).

Komponen edible film dapat dibuat dengan tiga jenis bahan baku, seperti

hidrokoloid, lipid dan komposit dari keduanya. Ketiga polimer tersebut

mempunyai sifat termoplastik, sehingga mempunyai potensi untuk dibentuk atau

dicetak sebagai edible film kemasan. Keunggulan polimer ini adalah bahannya

yang berasal dari sumber yang terbarukan (renewable) dan dapat dihancurkan

secara alami (Kusnadi dkk, 2015).

2.2.2 Pati Sagu


Pati merupakan polisakarida yang ditemukan dalam sel tumbuhan dan

beberapa mikroorganisme. Pati yang terdapat dalam sel tumbuhan berbentuk

granula (butiran) dengan diameter beberapa mikron. Granula pati mengandung

campuran dari dua polisakarida berbeda, yaitu amilosa dan amolopektin.

Pembentukan pati diawali dengan terbentuknya ikatan glukosida (2 glukosa) yaitu

ikatan antara molekul oksigen pada atom karbon (Sunarya, 2012).


7

Pati dapat diperoleh dari biji-bijian, umbi-umbian, sayuran maupun buah-

buahan. Sumber alami pati adalah: jagung, labu, kentang, ubi jalar, beras, sagu,

dan sorgum. Pemanfaatan pati asli masih sangat terbatas karena sifat fisik dan

kimianya kurang sesuai untuk digunakan secara luas. Oleh karena itu, pati akan

meningkat nilai ekonominya jika dimodifikasi sifat-sifatnya melalui perlakuan

fisik, kimia, atau kombinasi keduanya (Herawati, 2011).

Pati adalah kandungan utama yang sangat berpotensial dapat dihasilkan

oleh sagu yang permintaannya tumbuh secara cepat untuk mengimbangi

pertambahan permintaan pangan industri. Penggunaan pati sangat luas dalam

industri pangan sebagai pengental, pengisi dan pengikat diolah untuk

menghasilkan bahan pemanis dan sirup untuk industri minuman, roti, dan produk

pangan lainnya, untuk menghasilkan gula dan alkohol yang banyak digunakan

dalam industri pangan dan kimia. Kenyatannya kontribusi sagu masih sangat

terbatas (Bantacut, 2011).

Sagu (Metroxylon sp) salah satu pangan pokok lokal yang sudah dikenal

mulai zaman dulu, yaitu di daerah Maluku, Papua, dan Sulawesi. Sagu merupakan

salah satu makanan yang khas karena tumbuhan yang cukup berpotensi, dimana

sejak dulu pati sagu sudah digunakan sebagai bahan pokok seperti papeda, bubur

sagu dan sagu lempeng. Berjalannya perkembangan zaman, pengolahan pati sagu

dikembangkan sebagai bahan industri pangan seperti bahan pembuatan roti,

biscuit, mie, beras sagu, dan di produksi sebagai bahan industri plastik yang

dikenal dengan istilah biodegradable plastic (plastik yang mudah terurai)

(Louhenappesy, 2010).
8

Sagu merupakan sumber makan pokok khas bagi beberapa masyarakat di

Indonesia (Hariyanto, 2011). Kandungan karbohidrat pada sagu hampir setara

dengan beras, sedangkan dari segi harga sagu jauh lebih murah dibandingkan

dengan beras (Sakiynah, et al., 2013). Pati sagu merupakan bahan pangan

unggulan karena kandungan karbohidratnya paling tinggi jika dibandingkan

dengan tanaman penghasil karbohidrat lainnya, seperti jagung, ubi kayu dan tebu

(Syakir dan Karmawati 2013).

Menurut Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI (1990), pati sagu

sebagian besar terdiri dari karbohidrat dan sedikit protein. Kandungan kalori pati

sagu relatif besar yaitu 353 kkal. Nilai ini tidak jauh berbeda dengan nilai kalori

beras yaitu 364 kkal. Komposisi kimia pati sagu dapat dilihat pada Tabel

dibawah ini.

Komposisi Kimia Pati Sagu Per100g Bahan

Komponen Jumlah

Kalori (kkal) 353

Protein (g) 0,7

Lemak (g) 0,2

Karbohidrat (g) 84.7

Kadar Amilosa 28.84%*

Kadar Amilopektin 71.16%*

Air (g) 14.0

Sumber : Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI (1990)

2.2.3 Gliserol
Gliserol adalah komponen utama dari semua lemak dan minyak dalam
9

bentuk ester yang disebut gliserida. Molekul trigliserida terdiri dari satu molekul

gliserol yang dikombinasikan dengan tiga molekul asam lemak. Plasticizer

didefinisikan sebagai zat non volatif, bertitik didih tinggi, yang pada saat

ditambahkan pada material lain mengubah sifat fisik dari material tersebut.

Plasticizer bahan yang tidak mudah menguap, dapat merubah struktur dimensi

objek, menurunkan ikatan rantai antar protein dan mengisi ruang-ruang yang

kosong pada produk.

Pelapisan edible film harus memiliki elastisitas dan fleksibilitas yang baik,

daya kerapuhan rendah, ketangguhan tinggi, untuk mencegah retak selama

penanganan dan penyimpanan. Oleh karena itu, plasticizer dengan berat molekul

kecil (non-volatile) biasanya ditambahkan kedalam pembentukan film hidrokoloid

sebagai solusi untuk memodifikasi fleksibilitas edible film tersebut seperti pati,

pektin, gel dan protein. Plasticizer berfungsi untuk meningkatkan elastisitas

dengan mengurangi derajat ikatan hydrogen dan meningkatkan jarak antar

molekul dari polimer. Syarat plasticizer yang digunakan sebagai zat pelembut

adalah stabil (inert), yaitu tidak terdegradasi oleh panas dan cahaya, tidak

merubah warna polimer dan tidak menyebabkan korosi. Salah satu jenis

plasticizer yang banyak digunakan selama ini adalah gliserol. Gliserol cukup

efektif digunakan untuk meningkatkan sifat plastik film karena memiliki berat

molekul yang kecil (Huri dan Fitri, dalam Thofando Muharram, 2022).

Menurut Coniwanti (2014) penambahan gliserol pada edible film sangat

berpengaruh terhadap bahan baku yang digunakan seperti pati. Dibandingkan dari

pelarut seperti sorbitol, gliserol lebih menguntungkan karena mudah tercampur


10

dalam larutan film dan terlarut dalam air hidrofilik. Sedangkan sorbitol sulit

bercampur dan mudah mengkristal pada suhu ruang. Kelebihan lainnya pada

gliserol adalah bahan organik dengan berat molekul rendah sehingga pada

penambahan bahan baku dapat menurunkan kekakuan dari polimer sekaligus

meningkatkan fleksibilitas pada edible film.

2.3 Hipotesis
Pemberian gliserol sebagai plasticizer berpengaruh signifikan terhadap

karakteristik fisik edible film pati sagu


BAB 3 BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium STIP Mujahidin Tolitoli

Kelurahan Tuweley Kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli Provinsi Sulawesi

Tengah pada bulan Februari - April 2024.

3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu : ayakan No.270 (53 µm),

desikator, talang (L = 414 cm2), timbangan analitik, batang pengaduk, macnetik

stirrer (4 cm), skapel, oven, gelas ukur 5 ml, gelas kimia (100 ml, 500 ml dan 100

ml), hot plate, mistar, mikrometer sekrup (0,01 mm) dan thermometer. Adapun

bahan yang digunakan yaitu : aquadest (2.100 ml), pati sagu (10,5 g), CMC (4,2

g), gliserol (63 ml) dan silica gel.

3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7

perlakuan. Adapun perlakuannya sebagai berikut:

r0 = 0 ml tanpa gliserol/100 ml larutan aquadest

r1 = 1 ml gliserol /100 ml larutan aquadest

r2 = 2 ml gliserol /100 ml larutan aquadest

r3 = 3 ml gliserol /100 ml larutan aquadest

r4 = 4 ml gliserol /100 ml larutan aquadest

r5 = 5 ml gliserol /100 ml larutan aquadest

r6 = 6 ml gliserol /100 ml larutan aquadest

11
12

Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali ulangan sehingga total perlakuan

sebanyak 21 perlakuan. Analisis data dengan menggunakan metode RAL menurut

(Harsojuwono, dkk., 2011) dengan rumus matriks rancangan percobaan yang

dimaksud :

Yij = µ + Ti + €ij

Keterangan :

Yij = Nilai pengamatan pada perlakuan ke-i, dan ulangan ke-j


µ = Nilai tengah umum
Ti = Pengaruh perlakuan ke i
€ij = Pengaruh acak (kesalahan percobaan) pada perlakuan ke i dan ulangan ke

Data dianalisis menggunakan sidik ragam dan pengolahan data

menggunakan [Link]. Jika perlakuan menunjukkan berpengaruh nyata atau

sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji analisis sidik ragam dan uji lanjut BNJ

(Beda Nyata Jujur) taraf 5%.

3.4 Prosedur Penelitian


3.4.1 Pembuatan Edible Film
Bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan edible film adalah

pati sagu (diayak menggunkan ayakan No.270 53 µm), aquadest, CMC, dan

sorbitol. Pertama-tama aquadest 100 ml dicampurkan dengan tepung sagu 5 g dan

dipanaskan dengan menggunakan hot plate dan magnetic stirrer sampai suhu

±70oC selama 6 menit hingga terjadi gelatinisasi. Kemudian sebanyak CMC 0,2 g

dilarutkan sedikit demi sedikit ke dalam larutan sagu sambil diaduk selama 3

menit sampai homogen. Setelah campuran sagu dan CMC homogen, gliserol
13

ditambahkan dengan konsentrasi sesuai perlakuan (1 ml/100 ml larutan, 2 ml/100

ml larutan, 3 ml/ 100 ml larutan, 4 ml/100 ml larutan, 5 ml/100 ml larutan, dan 6

ml/100 ml larutan) untuk meningkatkan elastisitas lapisan, diaduk selama 3 menit

sampai suhu 80oC. Proses selanjutnya yaitu, edible film dicetak di talang dengan

cara menuangkan larutan edible film dengan volume 50 ml sesuai perlakuan ke

dalam talang. Setelah itu pengeringan dilakukan mengunakan oven dengan suhu

75oC selama 6 Jam. Setelah dioven edible film lakukan pengupasan/pelepasan dari

cetakan.

Pati Sagu (5g)

Aquadest
100 ml Pencampuran

Pemanasan & pengadukan


T= ±70oC,t=6 menit
14

Gambar 3.1. Prosedur pembuatan edible film dari tepung sagu.


3.5 Parameter Pengamatan
1. Warna

Pengamatan dilakuakan dengan cara mengamati warna dari permukaan

edible film dari pati sagu.

2. Ketebalan film (mm)

Tebal dari setiap film yang dihasilakan akan diukur dengan menggunakan

mikrometer skrup. Cara pengukuranya adalah dengan memasukkan lembaran film

ke dalam celah diantara ruas batang, kemudian ulir digerakkan dengan cara

diputar sampai tidak bisa bergerak kembali.

3. Kelarutan dalam air (%)

Kelarutan film dilakukan dengan mengikuti prosedur Gontar et al., (1994)

dalam Sitompul dan Zubaidah (2017), sampel dipotong dengan ukuran 2x2 cm (±

0,16 g). Sebelum direndam dalam aquadest edible film dikeringkan terlebih

dahulu dalam oven dengan suhu 105oC hingga beratnya konstan. Setelah

direndam selama 24 jam, dilakukan pengeringan dalam oven dengan suhu 105 oC

hingga beratnya konstan. Setelah berat akhir didapat kemudian dihitung dengan

menggunakan rumus :

m1-m2
% Water Solubility= × 100%
m1

Keterangan :

m1 = Berat awal

m2 = Berat akhir
15

4. Transmisi uap air (g/[Link])

Transmisi uap air dilakukan mengikuti prosedur ATSM (1995) dalam

Sitompul dan Zubaidah (2017), sampel dipotong 5 cm2, kemudian ditutupkan pada

wadah satu yang berisi aquadest. Wadah satu kemudian diletakkan pada wadah

dua yang telah diisi dengan silica gel, yang telah dikeringkan terlebih dahulu pada

suhu 105oC selama 5 jam. Setelah 24 jam sampel ditimbang beratnya, kemudian

dihitung dengan rumus :

∆W
Transimisi Uap Air=
t×A

Keterangan :

W = Perubahan berat film setelah 24 jam

t = Waktu (24 jam)

A = Luas area film


BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Warna
Warna kecerahan edible film akan menurun seiring dengan meningkatnya

griserol yang ditambahkan dan volume larutan pada cetakan. Gambar hasil

pengamatan warna edible film dan volume larutan edible film pada cetakan

disajikan pada gambar berikut.

Gambar 4.1 Warna Edible Film

Berdasarkan hasil penelitian pada gambar diatas dapat dilihat bahwa

penambahan konsentrasi gliserol menyebabkan intensitas kecerahan film

menurun. Film yang memiliki konsentrasi gliserol 1 ml (r1) memiliki tingkat

kecerahan yang tinggi dibandingkan dengan film yang memiliki konsentrasi

gliserol 6 ml (r6) dengan tingkat kecerahan yang rendah.

16
17

4.2 Ketebalan Film


Data ketebalan edible film disajikan pada tabel lampiran 1a, sedangkan

hasil analisis sidik ragamnya disajikan pada tabel lampiran 1b. Hasil analisis sidik

ragam menunjukkan bahwa penambahan konsentarsi gliserol pada cetakan

berpengaruh sangat nyata terhadap ketebalan edible film. Ketebalan film

merupakan sifat fisik yang dipengaruhi oleh konsentrasi padatan terlarut dalam

larutan film dan ukuran plat pencetak. Ketebalan film akan mempengaruhi laju

transmisi uap air, gas dan senyawa volatile. Grafik rata-rata ketebalan edible film

dipengaruhi oleh konsentrasi plasticizer.

Dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh Alfatah Hillah, dkk (2021),

menjelaskan salah satu sifat fisik edible film yang berpengaruh terhadap besarnya

nilai kuat tarik, transmisi uap air, dan elongasi yaitu ketebalan. Peningkatan nilai

ketebalan akan terjadi ketika meningkatnya konsentrasi plasticizer pada larutan

edible film dan cetakan yang digunakan. Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil

analisis yang dilakukan yang mana hal tersebut disebabkan karena semakin

banyak konsentrasi gliserol yang ditambahkan akan meningkatkan total padatan

dalam larutan yang akan mempengaruhi ketebalan edible film dimana ketika zat

menguap maka film yang terbentuk semakin tebal seiring dengan semakin

banyaknya total padatan yang mengendap sebagai bahan pembentuk edible film.
18

1.40 1.30
Ketebalan (mm) 1.20

1.00
0.77
0.80
0.57 0.60
0.60 0.50
0.43
0.37
0.40

0.20

0.00
0 1 2 3 4 5 6

Konsentrasi Gliserol (ml)

Gambar 4.2 Grafik Ketebalan Edible Film

Berdasarkan grafik pada gambar diatas dapat dilihat bahwa ketebalan edible

film mengalami peningkatan, dimana dengan volume pada cetakan tetap

berjumlah 50 ml/cetakan. Gliserol berperan sebagai plasticizer sehingga edible

film menjadi lebih elastis. Rata-rata Ketebalan edible film yaitu dengan

konsentrasi gliserol 0 ml sebesar 0,57 mm, ketebalan edible film dengan

konsentrasi 1 ml 0,37 mm, ketebalan edible film dengan konsentrasi 2 ml 0,43

mm, ketebalan edible film dengan konsentrasi 3 ml 0,50 mm, ketebalan edible

film dengan konsentrasi 4 ml 0,60 mm, ketebalan edible film dengan konsentrasi 5

ml 0,77 mm, serta Ketebalan tertinggi diperoleh pada konsentrasi gliserol

sebanyak 6 ml sebesar 1,30 mm. Menurut Sumarto (2008) Ketebalan film

dipengaruhi oleh banyaknya total padatan dalam larutan dan ketebalan cetakan.

Gliserol berfungsi sebagai plasticizer yang meningkatkan fleksibilitas dan

plastisitas film. Adanya penurunan dan kenaikan pada ketebalan edible film

diduga pada konsentrasi tertentu seperti pada penambahan gliserol dalam jumlah

kecil (seperti 1 ml) dapat menyebabkan struktur film menjadi lebih rapuh dan
19

tidak stabil, sehingga mengurangi ketebalan film yang dihasilkan, dan diduga

dibutuhkan perbandingan yang sesuai antara gliserol dan pati sehingga pada

konsentrasi gliserol 1 ml mengalami penurunan ketebalan. Dengan cetakan yang

sama, film yang terbentuk akan lebih tebal apabila volume larutan yang

dituangkan ke dalam cetakan lebih banyak. Demikian juga dengan total padatan

yang akan membentuk film menjadi lebih tebal dengan jumlah yang lebih banyak.

Sehingga semakin banyak jumlah volume larutan pada cetakan maka akan

meningkatkan total padatan dalam cetakan sehingga edible film yang terbentuk

semakin tebal.

4.3 Kelarutan dalam air (%)


Data kelarutan edible film disajikan pada tabel lampiran 2b sedangkan

hasil analisis sidik ragamnya disajikan pada tabel lampiran 2c. Hasil analisis sidik

ragam menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi gliserol berpengaruh sangat

nyata terhadap kelarutan edible film. Grafik rata-rata kelarutan edible film

dipengaruhi oleh konsentrasi Gliserol dapat dilihat pada gambar 4.3.


20

0.95
0.90
0.90 0.88

0.84
0.85
Kelarutan (%)

0.80
0.80
0.75
0.75
0.71 0.71
0.70

0.65

0.60
0 1 2 3 4 5 6

Konsentrasi Gliserol (ml)

Gambar 4.3 Grafik kelarutan edible film berdasarkan data hasil transformasi
akibat penambahan konsentrasi Gliserol

Berdasarkan grafik pada gambar 4.3 dapat dilihat bahwa peningkatan

konsentrasi gliserol yang digunakan akan cenderung meningkatkan kelarutan

edible film. Kelarutan tertinggi diperoleh pada perlakuan dengan konsentrasi

gliserol 6 ml sebesar 90% sedangkan kelarutan yang terendah pada perlakuan

dengan konsentrasi gliserol 0 ml (kontrol) sebesar 71%. Peningkatan konsentrasi

gliserol berpengaruh pada meningkatnya daya larut edible film. Hal ini karena

gliserol bersifat hidrofilik (Mali dkk., 2005) sehingga dengan meningkatnya

konsentrasi gliserol yang ditambahkan pada larutan film, maka akan

menyebabkan lemahnya interaksi antar molekul-molekul pati, sehingga kerapatan

molekul menjadi berkurang dan terbentuk ruang bebas pada matriks film sehingga

dapat meningkatkan kelarutan.


21

4.4 Transmisi Uap Air


Data transmisi uap air disajikan pada tabel lampiran 3a sedangkan hasil

analisis sidik ragamnya disajikan pada tabel lampiran 3b. Hasil analisis sidik

ragam menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi gliserol pada cetakan

berpengaruh nyata terhadap transmisi uap air edible film. Grafik rata-rata

transmisi uap air edible film dipengaruhi oleh konsentrasi gliserol dapat dilihat

pada gambar 4.4.

5.00
Laju Transmisi Uap Air (g.m2/Jam)

4.50
4.00
3.50 3.91
3.47 3.53
3.00 3.31
3.21
2.76
2.50
2.00 2.10
1.50
1.00
0.50
0 1 2 3 4 5 6
0.00
Konsentrasi Gliserol (ml)

Gambar 4.4 Grafik transmisi uap air edible film berdasarkan hasil transformasi
akibat penambahan konsentrasi Gliserol

Berdasarkan grafik pada gambar 4.6 dapat dilihat bahwa laju transmisi uap

air edible film akan meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi gliserol.

Transmisi uap air tertinggi diperoleh pada perlakuan dengan konsentrasi gliserol

6ml sebesar 3,91 g.m2/jam, sedangkan transmisi uap air yang terendah pada

perlakuan dengan konsentrasi gliserol 0 ml sebesar 2,10 g.m2/jam. Hal ini

disebabkan karena jenis plasticizer yang digunakan adalah gliserol. Gliserol

adalah plasticizer yang bersifat hidrofilik, sehingga penambahannya


22

meningkatkan sifat hidrofilik dari film. Hal ini menyebabkan peningkatan

permeabilitas film terhadap uap air, karena lebih banyak ruang antar molekul yang

memungkinkan uap air untuk bergerak melalui film. Bertambahnya komponen

hidrofilik yang terdapat pada film menyebabkan uap air mudah untuk menembus

film sehingga meningkatkan nilai laju transmisi uap air.


BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Pembuatan edible film dari pati sagu dengan penambahan gliserol

menunjukkan potensi yang signifikan dalam pengembangan bahan kemasan

ramah lingkungan. Perlakuan terbaik akibat penambahan konsentrasi gliserol

terhadap edible film dengan perlakuan konsentrasi gliserol 1 ml. Sifat fisik edible

film terbaik adalah warna memiliki tingkat kecerahan yang tinggi, ketebalan 0,37

mm, dan kelarutan 71% dengan transmisi uap air sebesar 2,76 g.m2/jam.

5.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang masa penyimpanan serta

diaplikasikan pada produk pangan.

23
DAFTAR PUSTAKA

Alfatahhillah, Rahmat Fadhil dan Ratna. 2021. Karakteristik Edible Film Dengan
Konsentrasi Gliserol Sebagai Plasticizer Berbasis Pati Umbi Talas.

Alfredo Johan Wahyu S.S, dan Elok Zubaidah. 2017. Pengaruh Jenis Dan
Konsentrasi Plasticizer terhadap Sifat Fisik Edible Film kolang Kaling
(Arenga Pinnata).

Bantacut, T. 2011. Perspektif pemanfaatan sagu. Bogor : Dapartemen agronomi


dan holtikultura IPB.

Baskara Katri Anandito, Edhi Nurhartadi, Akhmad Bukhori. 2012. Pengaruh


gliserol terhadap karakteristik edible film berbahan dasar tepung jali (Coix
lacryma-jobi L.).

Dewi, H.K., Puspasari, D. A., dan Widjaja, A. 2014. Pra Desain Pabrik Sorbitol
dari Tepung Tapioka dengan Hidrogenasi Katalik. Jurnal Teknik Pomits. 3
(1) : 33-38.

Farhan, Abdulaal & Norziah Moh Hani. 2016. Karakteristik Edible Packaging
Film Berbasis Kappacarageenan Semi Refined yang Diplastisisasi dengan
Gliserol dan Sorbitol. Jurusan Teknologi Hidrokoloid pangan, Sekolah
Teknologi Industri, Universiti Sains Malaysia. Vol.61 ISSN 0268.005x.

Herawati. 2011. Potensi Pengembangan Produk Pati Tahan Cerna Sebagai Pangan
Fungsional. Jurnal Litbang Pertanian, 30(1).

Ikhsanuddin. 2017. Penentuan Konsentrasi Optimum Selulosa Ampas Tebu


(Baggase) dalam Pembuatan Film Bioplastik [Skripsi]. Universitas Islam
Negeri Alauddin Makasar.

International Journal of Biological Macromolecules 103: 581-586. DOI:


10.1016/[Link]. 2017. 05.057.

Kawiji, Atmaka W, Lestariana S. 2017. Studi karakteristik pati singkong utuh


berbasis edible film dengan modifikasi cross-linking asam sitrat. Jurnal
Teknologi Pertanian. 18(2):143–152. Doi:
10.21776/[Link].2017.018.02.14.

Kristinah Haryani , Mhd Shaumi Al Anshar, Viki Hermansyah. 2022.


Penambahan Pektin dan Gliserol terhadap Karakteristik Edible Film dari
Pati Singkong.

Kusnadi J, Budyanto P. 2015. Formulasi Edible Film Kemasan Aktif Antibakteri


Dengan Penambahan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandis). Int J Life Sci
Bioteknologi Farmasi Res. 4(2):79-84.

24
Louhenapessy, J.E. 2010. Sagu, harapan dan tantangan. Jakarta:Bumi Aksara.
[Link]

Nawab, A., F. Alam, dan A. Hasnain. 2017. Mango kernel starch as a novel
edible coating for enhancing shelf-life of tomato (Solanum lycopersicum)
fruit.

Setiani W, Sudiarti T, Rahmidar L. 2013. Preparasi dan karakterisasi edible film


dari poliblend pati sukun-kitosan. Jurnal Valensi . 3(2):100–109. Doi:
10.15408/JKV.V3I2.506.

Shanti Fitriani, Yusmarini, Emma Riftyan, Edo Saputra, & Mega Chafiatun
Rohmah. 2023. Karakteristik dan Profil Pasta Pati Sagu Modifikasi
Pragelatinisasi pada Suhu yang Berbeda. Jurnal Teknologi Hasil
Pertanian. 16(2), 104-115.

Skurtys, O., C. Acevedo, F. Pedreschi, J. Enrious, F. Osorio, dan J.M Aquilera.


2011. Edible film hidrokoloid dan pelapis.

Surbakti, E. S. B., & Berawi, K. N. (2016). Tomat (Lycopersicum esculentum


Mill.) sebagai anti penuaan kulit. Majority, 5(3), 73–78.
[Link]

Tarigan S dan Damanik HC. 2018. Pengaruh komposisi sorbitol dan pati beras
sebagai edible coating terhadap mutu buah salak (Slaca zalacea) selama
penyimpanan. Jurnal Agroteknosains. 2(1):194–203. Doi:
10.36764/ja.v2i1.144.

Thofando Muharam, Desti Fitriani, Devia Fataya Miftahul Jannah, Muhammad


Zian Al-Ghifari, dan Rony Pasonang Sihombing. 2022. Karakteristik daya
serap air dan biodegradabilitas pada bioplastik berbasis pati singkong
dengan penambahan polyvinyl alcohol.

Winarti C, Miskiyah, Widaningrum. 2012. Teknologi produksi dan aplikasi


pengemas edible antimikroba berbasis pati. Jurnal Litbang Pertanian.
31(3):85–93. Doi: 10.21082/jp3.v31n3.2012.p/25p.

25
LAMPIRAN

Lampiran 1a. Data ketebalan edible film


Ulangan Rata-
Perlakuan Total
1 2 3 Rata
r0 0,5 0,8 0,4 1,7 0,57
r1 0,4 0,4 0,3 1,1 0,37
r2 0,2 0,5 0,6 1,3 0,43
r3 0,6 0,4 0,5 1,5 0,50
r4 0,8 0,4 0,6 1,8 0,60
r5 0,9 0,8 0,6 2,3 0,77
r6 1,2 1,2 1,5 3,9 1,30
Total 4,6 4,5 4,5 13,6 0,65

Lampiran 1b. Tabel sidik ragam ketebalan Edible film


F-Tabel
SK Db JK KT F-Hitung
0,05 0,01
Perlakuan 6 1,78571 0,29762 10,77586** 4,83 6,08
Galat 14 0,38667 0,02762
Total 20 2,17238

Keterangan : ** : Berpengaruh sangat nyata


KK : 26%
BNJ 5% : 0,095950
Lampiran 2a. Data kelarutan Edible Film
Ulangan
Perlakuan Total Rata- Rata
1 2 3
r0 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
r1 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
r2 0,20 0,00 0,00 0,20 0,07
r3 0,00 0,17 0,25 0,42 0,14
r4 0,40 0,25 0,00 0,65 0,22
r5 0,25 0,17 0,40 0,82 0,27
r6 0,29 0,29 0,33 0,90 0,30
Total 1,1 0,9 1,0 3,0 0,14

Lampiran 2b. Data kelarutan Edible Film hasil transformasi √ y +1/2

26
Ulangan
Perlakuan Total Rata- Rata
1 2 3
r0 0,71 0,71 0,71 2,12 0,71
r1 0,71 0,71 0,71 2,12 0,71
r2 0,84 0,71 0,71 2,25 0,75
r3 0,71 0,82 0,87 2,39 0,80
r4 0,95 0,87 0,71 2,52 0,84
r5 0,87 0,82 0,95 2,63 0,88
r6 0,89 0,89 0,91 2,69 0,90
Total 5,7 5,5 5,6 16,7 0,80

Lampiran 2c. Tabel sidik ragam kelarutan Edible film


F-Tabel
SK Db JK KT F-Hitung
0,05 0,01
Perlakuan 6 0,10890 0,01815 3,97353** 4,83 6,08
Galat 14 0,06395 0,00457
Total 20 0,17285
Keterangan : ** : Berpengaruh sangat nyata
KK : 8%
BNJ 5% : 0,03902

Lampiran 3a. Data transmisi uap air Edible Film


Ulangan
Perlakuan Total Rata - Rata
1 2 3
r0 0,93 5,56 6,48 12,96 4,32
r1 7,41 6,48 7,41 21,30 7,10
r2 12,04 7,41 10,19 29,63 9,88
r3 9,26 12,04 10,19 31,48 10,49
r4 10,19 15,74 9,26 35,19 11,73
r5 12,04 13,89 10,19 36,11 12,04
r6 17,59 13,89 12,96 44,44 14,81
Total 69,44 75,00 66,67 211,11 10,05

Perlakuan Ulangan Total Rata - Rata

27
1 2 3
r0 1,19 2,46 2,64 6,30 2,10
r1 3,12 4,14 2,81 10,08 3,36
r2 3,54 2,81 3,27 9,62 3,21
r3 4,57 3,54 3,27 11,38 3,79
r4 3,27 4,03 3,12 10,42 3,47
r5 3,54 2,64 3,27 9,45 3,15
r6 4,25 3,79 3,67 11,72 3,91
Total 23,49 23,42 22,05 68,97 3,28
Lampiran 3b. Data tansmisi uap air Edible Film hasil transformasi √ y + 1/2

Lampiran 3c. Tabel sidik ragam transmisi uap air Edible Film
F-Tabel
SK Db JK KT F-Hitung
0,05 0,01
Perlakuan 6 6,31429 1,05238 6,07383** 4,83 6,08

Galat 14 2,42571 0,17326

Total 20 8,74000
Keterangan : ** : Berpengaruh sangat nyata
KK : 13%
BNJ 5% : 0,24032

28
LAMPIRAN GAMBAR

Lampiran 4. Gambar alat-alat penelitian

Pati sagu

Lampiran 5. Gambar bahan - bahan penelitian

29
Lampiran 6. Gambar pengayakan sagu

Lampiran 7. Gambar proses pembuatan larutan Edible film

30
Lampiran 8. Gambar pengeringan Edible film dengan menggunakan oven

Lampiran 9. Gambar hasil larutan Edible fim pada cetakan

31
Lampiran 10. Gambar tampak dari atas transmisi uap air selama 24 Jam

Lampiran 11. Gambar tampak dari samping transmisi uap air selama 24 jam.

32
Lampiran 12. Gambar pengovenan hasil transmisi uap air dengan suhu 105 oC

Lampiran 13. Gambar penimbangan sampel transmisi uap air

33
Lampiran 14. Denah Penelitian

ULANGAN

I II III

r0 r6 r5

r5 r1 r4

r2 r0 r0

r3 r6 r2

r4 r4 r3

r5 r6 r1

r3 r2 r1

Ket : I - III : Ulangan

R1 - R3 : Perlakuan

34
35

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Rani Agustiani, lahir di Tolitoli,

20 Agustus 2001, merupakan anak ketiga dari tiga

bersaudara. Penulis lahir dari pasangan suami istri

[Link] Mustaram dan Ibu Mitin. Penulis menyelesaikan

pendidikan dasar di SDN 5 Tolitoli dan lulus pada tahun

2013, lalu melanjutkan sekolah menengah pertama di SMPN 1 Tolitoli lulus pada

tahun 2016 dan melanjutkan sekolah menengah atas di SMKN 1 Tolitoli dan lulus

pada tahun 2019, kemudian melanjutkan jenjang pendidikan ke Sekolah Tinggi

Ilmu Pertanian (STIP) Mujahidin Tolitoli mengambil jurusan pertanian program

studi Agroteknologi pada tahun 2019. Pada semester akhir tahun 2024 penulis

telah menyelesaikan skripsi yang berjudul “Karakteristik Fisik Edible Film Pati

Sagu Dengan Pemberian Gliserol Sebagai Plasticizer” dan mendapat gelar S1

pada tahun 2025.

Tolitoli, 13 Desember 2024

Penulis

Anda mungkin juga menyukai