Karakteristik Edible Film Pati Sagu
Karakteristik Edible Film Pati Sagu
RANI AGUSTIANI
NPM : 102 2019 009
SKRIPSI
NPM : 1022019009
Mengetahui. Menyetujui,
Ketua Program Studi Agroteknologi Dosen Pembimbing
ii
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas karunia-Nya yang
peneliti dan dapat diselesaikan berkat bimbingan dan dorongan dari berbagai
pihak hingga pada akhirnya penulisan skripsi ini dapat diselesaikan sebagaimana
adanya. Pada kesempatan ini, dengan segala hormat dan kerendahan hati peneliti
1. Ibu Mitin selaku orang tua saya yang telah banyak memberikan bantuan
menuntut ilmu.
5. Dosen serta seluruh staf STIP Mujahidin Tolitoli yang telah banyak
6. Gede ekha setyawan selaku pacar saya yang telah memberikan dukungan
hingga tuntas.
iii
7. Terimakasih untuk sahabat dari SMK saya Nurhalisa, Fransiska Regina
Sumule, Deah Nurqadri, Asti Putri Pratiwi, dan Shofa Marwa Latifa yang
Sela Selvia [Link] dan Dian Lestari yang telah memberikan semangat
10. Semua pihak yang telah banyak membantu dari awal perkuliahan hingga
penelitian yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas
segalanya.
secara tidak sengaja tidak tertulis di atas dan penulis berharap semoga laporan
Rani Agustiani
iv
ABSTRAK
Rani Agustiani, NPM 102 2019 009. Karakteristik Fisik Edible Film Dari Pati
Sagu Dengan Pemberian Gliserol Sebagai Plasticizer. Di bawah bimbingan
Siti Fatima dan Masriani.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik edible film pati sagu
dengan pemberian gliserol sebagai Plasticizer. Penelitian ini telah dilaksanakan di
Laboratorium Ilmu-ilmu Pertanian STIP Mujahidin Tolitoli Kelurahan Tuweley
Kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah pada bulan
Februari sampai dengan April 2024. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak
Lengkap (RAL). Faktor pertama (a) adalah konsentrasi gliserol yaitu r0 (0 ml/100
ml larutan aquadest), r1 (1 ml/100 ml larutan aquadest), r2 (2 ml/ 100 ml larutan
aquadest), r3 (3 ml/ 100 ml larutan aquadest), r4 (4 ml/ 100 ml larutan aquadest),
r5 (5 ml/ 100 ml larutan aquadest), dan r6 (6 ml/ 100 ml larutan aquadest). Hasil
dianalisis menggunakan sidik ragam dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur
(BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi Gliserol
berpengaruh terhadap warna, ketebalan, kelarutan dalam air, dan transmisi uap air.
Perlakuan terbaik akibat penambahan konsentrasi gliserol terhadap edible film
adalah perlakuan konsentrasi gliserol 1 ml yaitu warna memiliki tingkat kecerahan
yang tinggi, ketebalan 0,37 mm, dan kelarutan 71% dengan transmisi uap air
sebesar 2,76 g.m2/jam.
v
ABSTRACT
Rani Agustiani, NPM 102 2019 009. The physical characteristics of sago
starch edible film by administering glycerol as a plasticizer. Under the
guidance of Siti Fatima and Masriani.
This research aims to determine the physical characteristics of sago starch edible
film by administering glycerol as a plasticizer. This research was carried out at the
Agricultural Sciences Laboratory of STIP Mujahidin Tolitoli, Tuweley Village,
Baolan District, Tolitoli Regency, Central Sulawesi Province from February to
April 2024. This research used a Completely Randomized Design (CRD). The
first factor (a) is the glycerol concentration, namely r0 (0 ml/100 ml distilled
water solution), r1 (1 ml/100 ml distilled water solution), r2 (2 ml/ 100 ml
distilled water solution), r3 (3 ml/ 100 ml distilled water solution distilled water),
r4 (4 ml/ 100 ml distilled water solution), r5 (5 ml/ 100 ml distilled water
solution), and r6 (6 ml/ 100 ml distilled water solution). The results were analyzed
using variance analysis followed by the Honestly Significant Difference (BNJ)
test. The research results showed that increasing the concentration of glycerol had
an effect on color, thickness, water solubility and water vapor transmission. The
best treatment due to the addition of glycerol concentration to edible film is a
glycerol concentration treatment of 1 ml, namely the color has a high level of
brightness, a thickness of 0.37 mm, and a solubility of 71% with a water vapor
transmission of 2.76 g.m2/hour.
vi
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................ii
UCAPAN TERIMA KASIH..................................................................................iii
ABSTRAK...............................................................................................................v
ABSTRACT............................................................................................................vi
DAFTAR ISI..........................................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................ix
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................x
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................3
1.3 Tujuan dari penelitian...................................................................................3
vii
4.3 Kelarutan dalam air (%).............................................................................19
4.4 Transmisi Uap Air......................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................23
LAMPIRAN...........................................................................................................32
viii
DAFTAR GAMBAR
ix
DAFTAR LAMPIRAN
x
BAB 1 PENDAHULUAN
Manfaat edible film sebagai bahan pengemas antara lain kemampuan melindungi
kemasan akan mengurai polusi. Kemasan yang dapat dimakan diproduksi dalam
bentuk lembaran dalam penelitian ini dan dimaksudkan untuk memiliki sifat
seperti plastik, seperti transparansi dan fleksibilitas. Kemasan edible film adalah
salah satu alternatif dalam memberikan solusi sebagai kemasan yang layak
yang lama dan umur simpan yang lebih lama. Kemasan, edible film merupakan
salah satu alternatif dalam memberikan solusi sebagai kemasan yang layak
Kelebihan dari edible film antara lain: dapat menghambat difusi oksigen
dan uap air memasuki bahan pelapis, menghambat pembusukan mikroba dan
keamanan yaitu dikonsumsi. Pati adalah salah satu bahan baku alternatif yang
aman kemasan yang dapat dimakan dan mudah diserap oleh tubuh manusia.
Edible film yang terbuat dari hidrokoloid ada beberapa keuntungan, antara lain
membantu melindungi produk dari oksigen dan karbon dioksida, dan memiliki
1
2
Sagu (Metrooxylon sp) salah satu jenis tumbuhan dari famili palem yang
sepanjang aliran air atau di hutan rawa. Habitat tempat tumbuh sagu ialah sifat
tanah, air, iklim mikro serta vegetasi pada tempat asal tersebut. Dari informasi
tempat tumbuhnya (yang sangat beragam) dapat dikatakan bahwa sagu sangat
mudah beradaptasi. Sagu adalah salah satu makanan yang paling banyak ditanam
tradisional.
seperti protein, vitamin, dan mineral. Pati sagu penting dalam semua industri
industri makanan dan non-makanan dalam bentuk pati termodifikasi seperti pati
pengukur dan pelapis dalam industri kertas untuk membuat kertas berkualitas
tinggi seperti kertas kalender dan kertas tulis canggih. Pati merupakan jenis
hidrokoloid yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan edible film. Pati
berbahan selulosa adalah gliserol. Hal ini disebabkan karena bahannya relatif
murah, mudah didapat, ramah lingkungan dan dapat diperbaharui. Selain itu,
lebih mudah untuk dibentuk dan tidak mudah patah saat digunakan, serta Gliserol
3
antar molekul polimer, sehingga menghasilkan film yang lebih lentur dan nyaman
saat digunakan.
Gliserol adalah alkohol terhidrik. Nama lain gliserol adalah gliserin atau
bentuknya liquid sirup, meleleh pada suhu 17,8 oC, mendidih pada suhu 290 oC
dan larut dalam air dan etanol. Gliserol bersifar higroskopis, seperti menyerap air
dari udara, sifat ini yang membuat gliserol digunakan sebagai pelembab pada
kosmetik. Gliserol terdapat dalam bentuk ester (gliserida) pada semua hewan,
lemak nabati dan minyak. Gliserol termasuk jenis plasticizer yang bersifak
hidrofilik, menambah sifat polat dan mudah larut dalam air (huri dan nisa dalam
film pati sagu dengan pemberian gliserol sebagai Plasticizer. Sedangkan kegunaan
meningkatkan pemanjangan dan kuat regang putus dari edible film. Ketika
kondisi jenuh, pemanjangan dan kuat regang putus kemudian turun. Edible film
dengan karakteristik fisik dan mekanik terbaik terdapat pada penambahan gliserol
dengan konsentrasi 20% yang ditunjukkan dengan permeabilitas uap air (WVP)
dengan karakteristik ketebalan 0,15 mm; kuat tarik 0,84 MPa; persen elongasi
79,7 %; laju permeasi air 15,56 g/m².menit dan tingkat biodegradabilitas 85,71 %.
konsentrasi yang dipakai maka kadar air, ketebalan, daya serap uap air dan persen
transmisi uap air, dan kuat tarik menurun. Perlakuan terbaik adalah edible film
terbaik untuk kadar air 11,86%, ketebalan 0,12 mm, kecerahan 83,47 L, transmisi
uap air 4,43 g/[Link], daya serap uap air 25,12%, kelarutan dalam air 62,35%,
4
5
Salah satu bahan pengemas yang dapat digunakan sebagai alternatif adalah
edible film. Edible film merupakan bahan pengemas organik berbentuk lapisan
tipis berupa lembaran yang diaplikasikan pada bahan pangan. Lapisan tipis ini
dapat dimakan sekaligus dengan bahan pangan yang dikemasnya (Winarti dkk,
2012).
Penggunaan edible film dapat menghambat pembusukan oleh mikroba dan difusi
oksigen serta uap air ke dalam bahan pangan sehingga keamanan pangan tetap
terjaga.
film. Di samping itu, amilopektin yang tinggi pada pati menghasilkan edible film
yang jernih. Edible film berbasis pati bersifat non isotropik, tidak bercun, tidak
Menurut Shanti Fitriani dkk (2023) dengan judul Karakteristik dan Profil
Pasta Pati Sagu Modifikasi Pragelatinisasi pada Suhu yang Berbeda, menyatakan
antaranya rendahnya resistensi terhadap air. Sifat penghalang terhadap uap air
juga rendah karena sifat hidrofilik pati dapat memengaruhi stabilitas dan sifat
mekanisnya. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan karakteristik fisik dan mekanis
dari film pati, maka perlu penambahan biopolimer atau bahan lain yaitu
ketahanan film, terutama jika disimpan pada suhu rendah. Jenis plasticizer yang
Komponen edible film dapat dibuat dengan tiga jenis bahan baku, seperti
dicetak sebagai edible film kemasan. Keunggulan polimer ini adalah bahannya
yang berasal dari sumber yang terbarukan (renewable) dan dapat dihancurkan
buahan. Sumber alami pati adalah: jagung, labu, kentang, ubi jalar, beras, sagu,
dan sorgum. Pemanfaatan pati asli masih sangat terbatas karena sifat fisik dan
kimianya kurang sesuai untuk digunakan secara luas. Oleh karena itu, pati akan
menghasilkan bahan pemanis dan sirup untuk industri minuman, roti, dan produk
pangan lainnya, untuk menghasilkan gula dan alkohol yang banyak digunakan
dalam industri pangan dan kimia. Kenyatannya kontribusi sagu masih sangat
Sagu (Metroxylon sp) salah satu pangan pokok lokal yang sudah dikenal
mulai zaman dulu, yaitu di daerah Maluku, Papua, dan Sulawesi. Sagu merupakan
salah satu makanan yang khas karena tumbuhan yang cukup berpotensi, dimana
sejak dulu pati sagu sudah digunakan sebagai bahan pokok seperti papeda, bubur
sagu dan sagu lempeng. Berjalannya perkembangan zaman, pengolahan pati sagu
biscuit, mie, beras sagu, dan di produksi sebagai bahan industri plastik yang
(Louhenappesy, 2010).
8
dengan beras, sedangkan dari segi harga sagu jauh lebih murah dibandingkan
dengan beras (Sakiynah, et al., 2013). Pati sagu merupakan bahan pangan
dengan tanaman penghasil karbohidrat lainnya, seperti jagung, ubi kayu dan tebu
sebagian besar terdiri dari karbohidrat dan sedikit protein. Kandungan kalori pati
sagu relatif besar yaitu 353 kkal. Nilai ini tidak jauh berbeda dengan nilai kalori
beras yaitu 364 kkal. Komposisi kimia pati sagu dapat dilihat pada Tabel
dibawah ini.
Komponen Jumlah
2.2.3 Gliserol
Gliserol adalah komponen utama dari semua lemak dan minyak dalam
9
bentuk ester yang disebut gliserida. Molekul trigliserida terdiri dari satu molekul
didefinisikan sebagai zat non volatif, bertitik didih tinggi, yang pada saat
ditambahkan pada material lain mengubah sifat fisik dari material tersebut.
Plasticizer bahan yang tidak mudah menguap, dapat merubah struktur dimensi
objek, menurunkan ikatan rantai antar protein dan mengisi ruang-ruang yang
Pelapisan edible film harus memiliki elastisitas dan fleksibilitas yang baik,
penanganan dan penyimpanan. Oleh karena itu, plasticizer dengan berat molekul
sebagai solusi untuk memodifikasi fleksibilitas edible film tersebut seperti pati,
molekul dari polimer. Syarat plasticizer yang digunakan sebagai zat pelembut
adalah stabil (inert), yaitu tidak terdegradasi oleh panas dan cahaya, tidak
merubah warna polimer dan tidak menyebabkan korosi. Salah satu jenis
plasticizer yang banyak digunakan selama ini adalah gliserol. Gliserol cukup
efektif digunakan untuk meningkatkan sifat plastik film karena memiliki berat
molekul yang kecil (Huri dan Fitri, dalam Thofando Muharram, 2022).
berpengaruh terhadap bahan baku yang digunakan seperti pati. Dibandingkan dari
dalam larutan film dan terlarut dalam air hidrofilik. Sedangkan sorbitol sulit
bercampur dan mudah mengkristal pada suhu ruang. Kelebihan lainnya pada
gliserol adalah bahan organik dengan berat molekul rendah sehingga pada
2.3 Hipotesis
Pemberian gliserol sebagai plasticizer berpengaruh signifikan terhadap
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu : ayakan No.270 (53 µm),
stirrer (4 cm), skapel, oven, gelas ukur 5 ml, gelas kimia (100 ml, 500 ml dan 100
ml), hot plate, mistar, mikrometer sekrup (0,01 mm) dan thermometer. Adapun
bahan yang digunakan yaitu : aquadest (2.100 ml), pati sagu (10,5 g), CMC (4,2
11
12
dimaksud :
Yij = µ + Ti + €ij
Keterangan :
sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji analisis sidik ragam dan uji lanjut BNJ
pati sagu (diayak menggunkan ayakan No.270 53 µm), aquadest, CMC, dan
dipanaskan dengan menggunakan hot plate dan magnetic stirrer sampai suhu
±70oC selama 6 menit hingga terjadi gelatinisasi. Kemudian sebanyak CMC 0,2 g
dilarutkan sedikit demi sedikit ke dalam larutan sagu sambil diaduk selama 3
menit sampai homogen. Setelah campuran sagu dan CMC homogen, gliserol
13
sampai suhu 80oC. Proses selanjutnya yaitu, edible film dicetak di talang dengan
dalam talang. Setelah itu pengeringan dilakukan mengunakan oven dengan suhu
75oC selama 6 Jam. Setelah dioven edible film lakukan pengupasan/pelepasan dari
cetakan.
Aquadest
100 ml Pencampuran
Tebal dari setiap film yang dihasilakan akan diukur dengan menggunakan
ke dalam celah diantara ruas batang, kemudian ulir digerakkan dengan cara
dalam Sitompul dan Zubaidah (2017), sampel dipotong dengan ukuran 2x2 cm (±
0,16 g). Sebelum direndam dalam aquadest edible film dikeringkan terlebih
dahulu dalam oven dengan suhu 105oC hingga beratnya konstan. Setelah
direndam selama 24 jam, dilakukan pengeringan dalam oven dengan suhu 105 oC
hingga beratnya konstan. Setelah berat akhir didapat kemudian dihitung dengan
menggunakan rumus :
m1-m2
% Water Solubility= × 100%
m1
Keterangan :
m1 = Berat awal
m2 = Berat akhir
15
Sitompul dan Zubaidah (2017), sampel dipotong 5 cm2, kemudian ditutupkan pada
wadah satu yang berisi aquadest. Wadah satu kemudian diletakkan pada wadah
dua yang telah diisi dengan silica gel, yang telah dikeringkan terlebih dahulu pada
suhu 105oC selama 5 jam. Setelah 24 jam sampel ditimbang beratnya, kemudian
∆W
Transimisi Uap Air=
t×A
Keterangan :
4.1 Warna
Warna kecerahan edible film akan menurun seiring dengan meningkatnya
griserol yang ditambahkan dan volume larutan pada cetakan. Gambar hasil
pengamatan warna edible film dan volume larutan edible film pada cetakan
16
17
hasil analisis sidik ragamnya disajikan pada tabel lampiran 1b. Hasil analisis sidik
merupakan sifat fisik yang dipengaruhi oleh konsentrasi padatan terlarut dalam
larutan film dan ukuran plat pencetak. Ketebalan film akan mempengaruhi laju
transmisi uap air, gas dan senyawa volatile. Grafik rata-rata ketebalan edible film
Dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh Alfatah Hillah, dkk (2021),
menjelaskan salah satu sifat fisik edible film yang berpengaruh terhadap besarnya
nilai kuat tarik, transmisi uap air, dan elongasi yaitu ketebalan. Peningkatan nilai
edible film dan cetakan yang digunakan. Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil
analisis yang dilakukan yang mana hal tersebut disebabkan karena semakin
dalam larutan yang akan mempengaruhi ketebalan edible film dimana ketika zat
menguap maka film yang terbentuk semakin tebal seiring dengan semakin
banyaknya total padatan yang mengendap sebagai bahan pembentuk edible film.
18
1.40 1.30
Ketebalan (mm) 1.20
1.00
0.77
0.80
0.57 0.60
0.60 0.50
0.43
0.37
0.40
0.20
0.00
0 1 2 3 4 5 6
Berdasarkan grafik pada gambar diatas dapat dilihat bahwa ketebalan edible
film menjadi lebih elastis. Rata-rata Ketebalan edible film yaitu dengan
mm, ketebalan edible film dengan konsentrasi 3 ml 0,50 mm, ketebalan edible
film dengan konsentrasi 4 ml 0,60 mm, ketebalan edible film dengan konsentrasi 5
dipengaruhi oleh banyaknya total padatan dalam larutan dan ketebalan cetakan.
plastisitas film. Adanya penurunan dan kenaikan pada ketebalan edible film
diduga pada konsentrasi tertentu seperti pada penambahan gliserol dalam jumlah
kecil (seperti 1 ml) dapat menyebabkan struktur film menjadi lebih rapuh dan
19
tidak stabil, sehingga mengurangi ketebalan film yang dihasilkan, dan diduga
dibutuhkan perbandingan yang sesuai antara gliserol dan pati sehingga pada
sama, film yang terbentuk akan lebih tebal apabila volume larutan yang
dituangkan ke dalam cetakan lebih banyak. Demikian juga dengan total padatan
yang akan membentuk film menjadi lebih tebal dengan jumlah yang lebih banyak.
Sehingga semakin banyak jumlah volume larutan pada cetakan maka akan
meningkatkan total padatan dalam cetakan sehingga edible film yang terbentuk
semakin tebal.
hasil analisis sidik ragamnya disajikan pada tabel lampiran 2c. Hasil analisis sidik
nyata terhadap kelarutan edible film. Grafik rata-rata kelarutan edible film
0.95
0.90
0.90 0.88
0.84
0.85
Kelarutan (%)
0.80
0.80
0.75
0.75
0.71 0.71
0.70
0.65
0.60
0 1 2 3 4 5 6
Gambar 4.3 Grafik kelarutan edible film berdasarkan data hasil transformasi
akibat penambahan konsentrasi Gliserol
gliserol berpengaruh pada meningkatnya daya larut edible film. Hal ini karena
molekul menjadi berkurang dan terbentuk ruang bebas pada matriks film sehingga
analisis sidik ragamnya disajikan pada tabel lampiran 3b. Hasil analisis sidik
berpengaruh nyata terhadap transmisi uap air edible film. Grafik rata-rata
transmisi uap air edible film dipengaruhi oleh konsentrasi gliserol dapat dilihat
5.00
Laju Transmisi Uap Air (g.m2/Jam)
4.50
4.00
3.50 3.91
3.47 3.53
3.00 3.31
3.21
2.76
2.50
2.00 2.10
1.50
1.00
0.50
0 1 2 3 4 5 6
0.00
Konsentrasi Gliserol (ml)
Gambar 4.4 Grafik transmisi uap air edible film berdasarkan hasil transformasi
akibat penambahan konsentrasi Gliserol
Berdasarkan grafik pada gambar 4.6 dapat dilihat bahwa laju transmisi uap
air edible film akan meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi gliserol.
Transmisi uap air tertinggi diperoleh pada perlakuan dengan konsentrasi gliserol
6ml sebesar 3,91 g.m2/jam, sedangkan transmisi uap air yang terendah pada
permeabilitas film terhadap uap air, karena lebih banyak ruang antar molekul yang
hidrofilik yang terdapat pada film menyebabkan uap air mudah untuk menembus
5.1 Kesimpulan
Pembuatan edible film dari pati sagu dengan penambahan gliserol
terhadap edible film dengan perlakuan konsentrasi gliserol 1 ml. Sifat fisik edible
film terbaik adalah warna memiliki tingkat kecerahan yang tinggi, ketebalan 0,37
mm, dan kelarutan 71% dengan transmisi uap air sebesar 2,76 g.m2/jam.
5.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang masa penyimpanan serta
23
DAFTAR PUSTAKA
Alfatahhillah, Rahmat Fadhil dan Ratna. 2021. Karakteristik Edible Film Dengan
Konsentrasi Gliserol Sebagai Plasticizer Berbasis Pati Umbi Talas.
Alfredo Johan Wahyu S.S, dan Elok Zubaidah. 2017. Pengaruh Jenis Dan
Konsentrasi Plasticizer terhadap Sifat Fisik Edible Film kolang Kaling
(Arenga Pinnata).
Dewi, H.K., Puspasari, D. A., dan Widjaja, A. 2014. Pra Desain Pabrik Sorbitol
dari Tepung Tapioka dengan Hidrogenasi Katalik. Jurnal Teknik Pomits. 3
(1) : 33-38.
Farhan, Abdulaal & Norziah Moh Hani. 2016. Karakteristik Edible Packaging
Film Berbasis Kappacarageenan Semi Refined yang Diplastisisasi dengan
Gliserol dan Sorbitol. Jurusan Teknologi Hidrokoloid pangan, Sekolah
Teknologi Industri, Universiti Sains Malaysia. Vol.61 ISSN 0268.005x.
Herawati. 2011. Potensi Pengembangan Produk Pati Tahan Cerna Sebagai Pangan
Fungsional. Jurnal Litbang Pertanian, 30(1).
24
Louhenapessy, J.E. 2010. Sagu, harapan dan tantangan. Jakarta:Bumi Aksara.
[Link]
Nawab, A., F. Alam, dan A. Hasnain. 2017. Mango kernel starch as a novel
edible coating for enhancing shelf-life of tomato (Solanum lycopersicum)
fruit.
Shanti Fitriani, Yusmarini, Emma Riftyan, Edo Saputra, & Mega Chafiatun
Rohmah. 2023. Karakteristik dan Profil Pasta Pati Sagu Modifikasi
Pragelatinisasi pada Suhu yang Berbeda. Jurnal Teknologi Hasil
Pertanian. 16(2), 104-115.
Tarigan S dan Damanik HC. 2018. Pengaruh komposisi sorbitol dan pati beras
sebagai edible coating terhadap mutu buah salak (Slaca zalacea) selama
penyimpanan. Jurnal Agroteknosains. 2(1):194–203. Doi:
10.36764/ja.v2i1.144.
25
LAMPIRAN
26
Ulangan
Perlakuan Total Rata- Rata
1 2 3
r0 0,71 0,71 0,71 2,12 0,71
r1 0,71 0,71 0,71 2,12 0,71
r2 0,84 0,71 0,71 2,25 0,75
r3 0,71 0,82 0,87 2,39 0,80
r4 0,95 0,87 0,71 2,52 0,84
r5 0,87 0,82 0,95 2,63 0,88
r6 0,89 0,89 0,91 2,69 0,90
Total 5,7 5,5 5,6 16,7 0,80
27
1 2 3
r0 1,19 2,46 2,64 6,30 2,10
r1 3,12 4,14 2,81 10,08 3,36
r2 3,54 2,81 3,27 9,62 3,21
r3 4,57 3,54 3,27 11,38 3,79
r4 3,27 4,03 3,12 10,42 3,47
r5 3,54 2,64 3,27 9,45 3,15
r6 4,25 3,79 3,67 11,72 3,91
Total 23,49 23,42 22,05 68,97 3,28
Lampiran 3b. Data tansmisi uap air Edible Film hasil transformasi √ y + 1/2
Lampiran 3c. Tabel sidik ragam transmisi uap air Edible Film
F-Tabel
SK Db JK KT F-Hitung
0,05 0,01
Perlakuan 6 6,31429 1,05238 6,07383** 4,83 6,08
Total 20 8,74000
Keterangan : ** : Berpengaruh sangat nyata
KK : 13%
BNJ 5% : 0,24032
28
LAMPIRAN GAMBAR
Pati sagu
29
Lampiran 6. Gambar pengayakan sagu
30
Lampiran 8. Gambar pengeringan Edible film dengan menggunakan oven
31
Lampiran 10. Gambar tampak dari atas transmisi uap air selama 24 Jam
Lampiran 11. Gambar tampak dari samping transmisi uap air selama 24 jam.
32
Lampiran 12. Gambar pengovenan hasil transmisi uap air dengan suhu 105 oC
33
Lampiran 14. Denah Penelitian
ULANGAN
I II III
r0 r6 r5
r5 r1 r4
r2 r0 r0
r3 r6 r2
r4 r4 r3
r5 r6 r1
r3 r2 r1
R1 - R3 : Perlakuan
34
35
RIWAYAT HIDUP
2013, lalu melanjutkan sekolah menengah pertama di SMPN 1 Tolitoli lulus pada
tahun 2016 dan melanjutkan sekolah menengah atas di SMKN 1 Tolitoli dan lulus
studi Agroteknologi pada tahun 2019. Pada semester akhir tahun 2024 penulis
telah menyelesaikan skripsi yang berjudul “Karakteristik Fisik Edible Film Pati
Penulis