BUPATI HALMAHERA TENGAH
PROVINSI MALUKU UTARA
PERATURANBUPATIHALMAHERATENGAH
NOMOR37 TAHUN2023
TENTANG
OPTIMALISASI KEPESERTAANPROGRAM
JAMINAN KESEHATAN NASIONAL
BUPATIHALMAHERATENGAH,
Menimbang a. bahwa penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan
Nasional diperlukan untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat sebagai upaya perlindungan
dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan;
b. bahwa dalam rangka mendukung program Jaminan
Kesehatan Nasional serta untuk memberikan kepastian
perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh
masyarakat Kabupaten Halmahera Tengah diperlukan
optimalisasi jaminan sosial kesehatan melalui
kepesertaan pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Kesehatan;
c. bahwa untuk memberikan arah landasan dan kepastian
hukum bagi semua pihak yang terlibat dalam
pelaksanaan program jaminan kesehatan nasional di
Kabupaten Halmahera Tengah, diperlukan peraturan
optimalisasi yang mengatur mengenai optimalisasi
kepesertaan Jaminan Kesehatan:
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud pada huruf a, huruf b dan huruf c, perlu
menetapkan Peraturan Bupati tentang Optimalisasi
Kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional;
Mengingat 1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1990 tentang
Pembentukkan Kabupaten Daerah Tingkat II Halmahera
Tengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1990 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3420); Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten,
1
Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera
Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, Kabupaten
Halmahera Timur, Kota Tidore Kepulauan di Provinsi
Maluku Utara;
2. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4456) sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 6573);
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana
telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020
Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republic
Indonesia Nomor 6573);
4. Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang
Jaminan Kesehatan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2018 Nomor 165) sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan
Presiden Namer 64 Tahun 2020 tentang Perubahan
Kedua Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018
tentang Jaminan Kesehatan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2020 Nomor 130);
5. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 4 tahun 2018
tentang Tata Cara Pengenaan dan Pencabutan Sanksi
Administratif Tidak Mendapat Pelayanan Publik Tertentu
b0cgi P~mberi Kerja [Link] Pe;mycdtmgAra N@IAl'fl (Beritft
Negara Republik Indone1ia Tahun 2018 Nomor 130);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2013 tentang
Ttltf.l Olilfti P@Hl@fl(l{ffl SMk8i Admini8tfM,8i [Link]
Pemberi Kerja Selain Penyelengill'a Negara dan Sethtp
Orang, eelain Pemberi Kerja, Pekerja, dan Penerima
Bantuan Iuran dalam Penyelenggaraan Jaminan Sosial
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013
Nomor 238, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5481);
2
7. Peraturan Daerah Kabupaten Halmahera Tengah Nomor
9 Tahun 2014 ten tang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah (Lembaran Daerah kabupaten Halmahera
Tengah Tahun 2014 Nomor 9);
8. Peraturan Daerah Kabupaten Halmahera Tengah Nomor
1 Tahun 2020 Tentang Perubahan atas Peraturan
Daerah Kabupaten Halmahera Tengah Nomor 13 Tahun
2019 ten tang Pembentukan dan Susunan Perangkat
Daerah Kabupaten Halmahera Tengah (Lembaran
Daerah Kabupaten Halmahera Tengah (Lembaran
Daerah Kabupaten Halmahera Tengah Tahun 2020
Nomor 1);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan PERATURAN BUPATI TENTANG OPTIMALISASI KEPESERTAAN
PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Kabupaten Halmahera Tengah
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati sebagai unsur penyelenggara Pemerintah
Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan daerah otonorn
3. Bupati adalah Bupati Halmahera Tengah
4. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu Bupati dan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan daerah otonom
5. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS adalah
badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan programjaminan sosial
6. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan yang selanjutnya disingkat
BPJS Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk untuk
rnenyelenggarakan program Jaminan Kesehatan
7. Jaminan Kesehatan Nasional yang selanjutnya disingkat JKN adalah bagian
dari Sistem Jaminan Sosial Nasional yang diselenggarakan dengan
menggunakan mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib
(mandatory) berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan
dasar kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang
yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah
8. Peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat
6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran.
3
9. Pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji, upah, atau
Imbalan dalam bentuk lain.
10. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan yang selanjutnya disebut PBI
Jaminan Kesehatan adalah fakir miskin dan orang tidak mampu sebagai
Peserta program Jaminan Kesehatan.
11. Pekerja Penerima Upah adalah setiap orang yang bekerja pada Pemberi Kerja
dengan menerima Oaji atau Upah.
12. Pekerja Bukan Penerima Upah adalah setiap orang yang bekerja atau berusaha
atas risiko sendiri,
13. Bukan Pekerja adalah setiap orang yang bukan termasuk kelompok Pekerja
Penerima Upah, Pekerja Bukan Penerima Upah, PBI Jaminan Kesehatan, dan
penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah.
14. Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja yang dibiayai
Pemerintah Daerah yang selanjutnya disebut PBPU dan BP Pemerintah Daerah
adalah peserta yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah dengan manfaat
pelayanan di ruang pelayanan kelas III dibayarkan iurannya oleh Pemerintah
Daerah.
15. Pemberi Kerja selain Penyelenggara Negara adalah:
16. orang, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan
milik sendiri;
17. orang, persekutuan, a tau badan hukum yang secara berdiri sendiri
menjalankan perusahaan bukan miliknya; dan
18. orang, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Kabupaten Halmahera
Tengah, mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan
huruf b yang berkedudukan di luar Daerah.
19. Pemberi Kerja Jasa Konstruksi adalah orang perorangan, pengusaha, badan
hukurn, atau badan badan lainnya yang mempekerjakan pekerja pada Proyek
Jasa Konstruksi dengan membayar gaji, upah, atau imbalan dalam bentuk
lainnya.
20. Pengusaha adalah orang Perseorangan, persekutuan atau badan hukum, yang
menjalakan suatu perusahaan milik sendiri, atau badan hukum yang secara
berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya yang berada di
Provinsi ataupun Kabupaten.
21. Pekerja Harian Lcpas adalah pekerjayang berubah-ubah dalam hal waktu dan
volume pekerjaan serta upah didasarkan pada kehadiran yang bekerja kurang
dari 21 (dua puluh satu) hari dalam satu bulan.
22. Perjanjian Kerja Waktu Tertentu yang selanjutnya disebut PKWT adalah
perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan
hubungan kerja dalam waktu tertentu atau untuk pekerjaan tertentu.
23. Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk
uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pernberi kerja kepada
pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut surat perjanjian
kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk
tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan
dan/ atau jasa yang telah atau yang dilakukan.
24. Iuran adalah sejumlah uang yang dibayar secara teratur oleh peserta, pemberi
kerja, dan/atau penyelenggara negara.
25. Bantuan luran adalah iuran yang dibayarkan oleh pemerintah bagi fakir
miskin dan orang tidak mampu sebagai peserta Program Jaminan Sosial.
4
26. Keluarga adalah suami atau istri dan anak yang sah paling banyak 3 (tiga)
orang.
Pasa12
Optimalisasi kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional di Daerah
bertujuan untuk:
a. memperluas cakupan kepesertaan Program .raminan Kesehatan Nasional
melalui BPJS Kesehatan secara cepat, tepat waktu, tepat tujuan dan tepat
sasaran demi tercapainya Universal Health Coverage;
b. meningkatkan cakupan kepesertaan Program Jaminan Kesehatan dengan
tahapan:
1. tahun 2022 mencapai 96% (sembilan puluh enam persen) dari jumlah
penduduk;
2. tahun 2023 mencapai 97% (sembilan puluh tujuh persen) dari jumlah
penduduk;
3. tahun 2024 mencapai 98% (sembilan puluh delapan persen) dari jumlah
penduduk;
c. memberikan manfaat jaminan sosial bagi penduduk Daerah; dan
d. memberikan perlindungan soslal dalam bentuk jaminan kesehatan, bagi
penduduk dan tenaga kerja dan/ atau anggota keluarganya.
BAB II
KEPESERTAANJAMINANKESEHATAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 3
Optimalisasi kepesertaan Jaminan Kesehatan di Daerah. dilaksanakan melalui
kegiatan pendaftaran penduduk Daerah sebagai peserta BPJS Kesehatan,
meliputi:
a. peserta PBI Jaminan Kesehatan;
b. peserta non-PBI Jaminan Kesehatan, meliputi:
1. Pekerja Penerima Upah;
2. Pekerja Bukan Penerima Upah;
3. Bukan Pekerja; dan
4. PBPU dan BP Pemerintah Daerah.
Bagian Kedua
Kepesertaan bagi Penduduk Miskin dan Tidak Mampu
Pasal 4
(1) Penduduk Daerah yang tergolong dalam fakir miskin dan tidak mampu
didaftarkan menjadi:
a. peserta PBI Jaminan Kesehatan; atau
b. PBPU dan BP Pemerintah Daerah.
5
(2) Pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) dilaksanakan oleh Kepala
Perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
sosial.
(3) Persyaratan
dan tata cara pendaftaran peserta PBI Jaminan Kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan dengan
berpedoman pada ketentuan Peraturan Perundang-Undangan.
(4) Persyaratandan tata cara pendaftaran peserta PBPU dan BP Pemerintah
Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diatur dalam Peraturan
Kepala Perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang sosial dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Bagian Ketiga
Kepesertaan Bagi Pekerja
Pasal 5
(1) Pemberi Kerja Selain Penyelenggara Negara yang mempekerjakan tenaga kerja
dan beroperasi di wilayah Daerah wajib:
a. mendaftarkan dirinya dan pekerjanya sebagai peserta kepada BPJS
Kesehatan; dan
b. memberikan data dirinya dan pekerjanya berikut anggota keluarganya
kepada BPJS Kesehatan secara lengkap dan benar.
(2) Pemberi Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
pemilik/ pengurus/ penanggungjawab pada:
a. badan usaha;
b. perusahaan;
c. yayasan;
d. koperasi;
e. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM);dan
f. lembaga pendidikan, meliputi :
1. satuan pendidikan formal, meliputi : TK/RA, SD/MI, SMP/MTs,
SMA/SMK/MA,perguruan tinggi;
2. satuan pendidikan nonformal, meliputi : Kelompok Belajar, Pusat
Kegiatan Belajar Masyarakat; dan
3. pondok pesantren.
(3) Data dirinya dan pekerjanya secara lengkap dan benar sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. data pekerja beserta anggota keluarganya yang didaftarkan eesual dengan
data pekerja yang dipekerjakan;
b. data upah yang dilaporkan sesuai dengan upah yang diterima pekerja; dan
c. perubahan data pekerja.
(4) Perubahan data sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c paling sedikit
meliputi:
a. alamat perusahaan;
6
b. kepemilikan perusahaan;
c. kepengurusan perusahaan;
d. jenis badan usaha;
e. jumlah pekerja;
f. data pekerja dan keluarganya; dan
g. perubahan besarnya upah setiap pekerja.
(5) Perubahan data sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilaporkan oleh Pemberi
Kerja Selain Penyelenggara Negara kepada BPJS paling lambat 7 (tujuh) hari
kerja sejak terjadinya perubahan.
Pasal 6
( 1) Setiap Pemberi Kerja J asa Konstruksi yang melaksanakan proyek yang dibiayai
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah wajib mendaftarkan pekerjanya
dalam Program Jaminan Kesehatan kepada BPJS Kesehatan.
(2) Pemberi Kerja Jasa Konstruksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. Pengguna J asa Konstruksi; dan
b. Penyedia Jasa Kontruksi pada proyekjasa perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan pada Pekerjaan Konstruksi.
(3) Pekerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Pekerja Harian Lepas;
b. Pekerja Borongan; dan
c. pekerja dengan PKWT.
Pasal 7
(1) Dalam hal Pekerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6 terdaftar
sebagai peserta PBI Jaminan Kesehatan atau peserta Bukan Pekerja, Pemberi
Kerja wajib mengalihkan pekerjanya menjadi Peserta Jaminan Kesehatan yang
dibiayai oleh Badan Usaha sesuai ketentuan ketentuan Peraturan Perundang-
Undangan.
(2) Dalam hal Pekerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sudah tidak bekerja,
maka Pemberi Kerja wajib menyampaikan perubahan data yang bersangkutan
sebagai peserta Pekerja Penerima Upah Nonaktif kepada BPJS Kesehatan
dengan melampirkan surat kcterangan tidak bekerja scsuai ketentuan
Peraturan Perundang-Undangan.
(3) Peserta Pekerja Penerima Upah nonaktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat didaftarkan kembali menjadi pcserta PBI Jaminan Kesehatan atau
peserta Bukan Pekerja sesuai ketentuan Peraturan Perundang-Undangan.
7
Bagian Keempat
Kepesertaan Bagi Pekerja Bukan Penerima Upah
Pasal 8
(1) Setiap Pekerja Bukan Penerima Upah yang mampu membayar iuran wajib:
a. mendaftarkan dirinya dan anggota keluarganya sebagai peserta kepada
BPJS Kesehatan; dan
b. memb@rikiln d@.tft dirtnyn dm mgotft kel\uirgmy1, ,~eATA len1kl\p dm
bonar kepada BPJS Ke,ehatan.
(2) Data dirinya dan angota keluarganya aebagaimana dimakeud pada ayat (1)
huruf b meliputi:
a. daJA Mgf>tA k~lU(;lf[&A ycm; did~Afkm hAr\UI M~MU@J d~n1m dAtA YMI
1ebenarnya:
b. data kepe1ertaan dalam program Jamlnan 101ial bidan1 ke1ehatan;
dan/atau
c. perubahan data dirinya dan anggota keluarganya.
(3) Perubahan data sebagaimana dimakeud pada ayat (2) huruf c paling eedikit
memuat:
a. alamat rumah;
b. jenis pekerjaan; dan
c. jumlah anggota keluarga.
(4) Perubahan data sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaporkan oleh setiap
orang, selain pemberi kerja, pekerja, dan PBIJaminan Kesehatan kepada BPJS
Kesehatan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak terjadinya perubahan.
Pasal 9
(1) Ketentuan bagi Pekerja Bukan Penerima Upah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 berlaku bagi penyewa kios milik Pemerintah Daerah.
(2) Kepesertaan BPJS Kesehatan menjadi persyaratan yang harus dipenuhi untuk
dapat menyewa dan menempati kios milik Pemerintah Daerah.
Bagian Kelima
Sanksi Administratif
Pasal 10
(1) Setiap Pemberi Kerja dan Pekerja Selain Penyelenggara Negara yang melanggar
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1), Pasal 6 ayat (1),
Pasal 7 ayat (1) dan/atau Pasal 8 ayat (1) dikenai sanksi administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis; dan
c. tidak mendapat pelayanan publik tertentu.
8
Pasal 11
(1) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat
(2) huruf a dan huruf b dilaksanakan oleh Kepala Perangkat Daerah terkait
sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
(2) Dalam melaksanakan pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud
pada ayat [I], Kepala Perangkat Daerah berkoordinasi dengan instansi/satuan
kerja terkait dan BPJS Kesehatan.
Pasal 12
(1) Pengenaan sanksi administratif berupa tidak mendapat pelayanan publik
tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf c dilakukan
oleh Kepala Perangkat Daerah yang memberikan pelayanan publik.
(2) Pelayanan publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. perizinan terkait usaha;
b. rekomendasi/ syarat untuk mengikuti tender proyek kegiatan yang dibiayai
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah:
c. izin memperkerjakan tenaga kerja asing;
d. izin perusahaan penyediajasa pekerjaan/buruh; atau
e. persetujuan bangunan gedung.
(3) Pengenaan sanksi administratif tidak mendapat pelayanan publik tertentu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atas:
a. permintaan tertulis dari BPJS; atau
b. rekomendasi tertulis dari Pengawas Ketenagakerjaan.
(4) Sanksi administratif tidak mendapat pelayanan publik tertentu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat dicabut setelah yang bersangkutan dapat
menunjukkan rekomendasi kepesertaan dari BPJS Kesehatan yang memuat
keterangan:
a. kepesertaan aktif Program Jaminan Kesehatan bagi tenaga kerja yang
dipekerjakan oleh Pemberi Kerja; dan
b. keterangan pembayaran iuran bulan terakhir Kepersertaan Program
Jaminan Kesehatan.
Pasal 13
Tata cara pengenaan sanksi kepada Pemberi Kerja selain Penyelenggara Negara
dan kepada setiap orang, selain pemberi kerja, pekerja, dan penerima Bantuan
Juran dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan.
BAB III
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 14
(1) Pembinaan dan pengawasan terhadap kepesertaan program Jaminan
Kesehatan Nasional kepada Pemberi Kerja selain Penyelenggara Negara dan
kepada 1etiap orang, 1elain pemberi kerja, pckerja, dan pcncrima Bantuan
Iuran perusahaan dilakukan secara periodik dan teratur setiap tahunnya.
9
(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
oleh Tim/Forum Koordinasi Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan
Nasional.
(3) Pembentukan Tim/Forum Koordinasi Pelaksanaan Program Jaminan
Kesehatan Nasional sebagaimana dimaksud ayat (2} ditetapkan dengan
Keputusan Bupati sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 15
Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Bupati ini dengan penempatannya dalam Serita Daerah Kabupaten Halmahera
Tengah.
Ditetapkan di Weda
pada tanggal 20 Juli 2023
Pj. BUPATI HALMAHERA TENGAH,
~
IKRAM M. SANGADJI
Diundangkan di Weda
pada tanggal 20 Juli 2023
SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN HALMAHERA TENGAH,
YANTO M. ASRI
BERITA DAERAH KABUPATEN HALMAHERA TENGAH TAHUN 2023 NOMOR 632
PEJABAT PARAF
-- /
-ti
SEKRETARIS DAERAH
ASSISTEN II v
KEPALA BAOIAN HUKUM DAN HAM
~
KEPALA DINAS KESEHATAN ~ '.
I
10