BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
Pada bagian ini dibahas mengenai kajian teori yang berkaitan dengan
variabel-variabel di dalam penelitian antara lain karakter siswa, pendidikan
kewarganegaraan, dan penguatan pendidikan karakter.
1. Kajian tentang Karakter Siswa
a. Pengertian karakter. Karakter dalam artian secara etimologis, kata
karakter (Inggris: character) berasal dari bahasa Yunani, yaitu
charassein yang berarti “to engrave” (Ryan, & Bohlin,1999). Kata
“to engrave” dapat diterjemahkan “mengukir, melukis” (Echols, &
Shadily, 1995). Karakter dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
diartikan dengan “sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dari yang lain; tabiat; watak:" (Pusat Bahasa
Departemen Pendidikan Nasional, 2008). Spohrer, & Bailey (2018)
menegaskan bahwa karakter dapat dipahami sebagai keterampilan
dan watak yang harus dikembangkan karena akan membentuk warga
negara yang baik atau sumber daya manusia yang baik dan unggul.
Lebih lanjut dapat diperjelas bahwa terminologi ”karakter” itu
sendiri sedikitnya memuat dua hal: values (nilai-nilai) dan
kepribadian. Suatu karakter merupakan cerminan dari nilai apa yang
melekat dalam sebuah entitas. ”Karakter yang baik” pada gilirannya
adalah suatu penampakan dari nilai yang baik pula yang dimiliki oleh
orang atau sesuatu, di luar persoalan apakah ”baik” sebagai sesuatu
yang ”asli” ataukah sekadar kamuflase. karakter merupakan
cerminan dari kepribadian secara utuh dari seseorang: mentalitas,
sikap dan perilaku. Dalam tulisan bertajuk Urgensi Pendidikan
Karakter, Prof. Suyanto, Ph.D. menjelaskan bahwa karakter adalah
cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu
9
10
untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga,
masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam istilah psikologi, yang
disebut karakter adalah watak perangai sifat dasar yang khas satu
sifat atau kualitas yang tetap terus menerus dan kekal yang dapat
dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seorang pribadi (Ramayulis,
2012).
Amrozowicz (2012) mengatakan bahwa karakter adalah istilah
yang sangat luas cakupannya, yaitu mencakup seluruh manusia.
Maka konsep dari karakter dapat membantu menjelaskan prinsip-
prinsip dasar ilmu pengetahuan manusia dalam bentuk sosial,
kepribadian (diri sendiri), dan simpati. Dikutip dari penelitian oleh
Kamarudin (2012) Hill mengungkapkan karakter menentukan
pikiran pribadi seseorang dan tindakan yang dilakukan seseorang.
Karakter yang baik adalah motivasi batin untuk melakukan apa yang
benar, menurut standar perilaku tertinggi, dalam setiap situasi.
Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral
knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral
behavior) (Zubaidi, 2011: 29). Berdasarkan ketiga komponen ini
dapat dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh
pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan
melakukan perbuatan kebaikan. Pendidikan karakter dianggap atau
dipandang sebagai investasi terbaik dari masyarakat dalam suatu
negara dalam berkehidupan. Selain itu karakter juga dipandang
sebagai wujud yang dapat diukur meskipun sulit dan sebagai dimensi
modal manusia, dengan demikian karakter dapat dijadikan sebagai
solusi terbaik untuk menghidupkan kembali mobilitas sosial seperti
kemiskinan dan pertumbuhan serta produktivitas warga negara yang
terhenti. Selanjutnya, Samani, & Hariyanto (2011), berpendapat
bahwa karakter dapat dimaknai sebagai nilai dasar yang membangun
pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun
pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta
11
diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-
hari.
Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas peneliti
menyimpulkan karakter adalah lukisan jiwa yang termanifestasi
dalam [Link] membedakan seseorang dengan yang lain
berupa nilai dan kepribadian, menjadi ciri khas tiap individu untuk
hidup dan bekerja yang menentukan pikiran pribadi dan tindakan
seseorang dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.
b. Nilai-nilai karakter siswa. Karakter adalah variabel yang sangat sulit
diukur, bahkan dengan psikopat sekalipun, namun untuk dapat
merancang sebuah program dengan pembangunan karakter yang
tepat, harus diukur terhadap karakter. Telah dirancang alat psikotes
untuk mengukur karakteristik menurut Enam Pilar Karakter (Hendra
dan Fransisca, 2003). Karakter yang menjadi landasan berkehidupan
oleh manusia tertuang dalam The Six Pillars of Character yang
dikeluarkan oleh koalisi Character Counts! (proyek The Joseph
Institute of Ethics). Enam jenis karakter tersebut adalah sebagai
berikut:
1) Kepercayaan, bentuk karakter yang membentuk seseorang:
integritas, kejujuran, dan loyalitas.
2) Keadilan, membentuk karakter yang membuat seseorang
berpikiran terbuka dan tidak suka mengambil keuntungan dari
orang lain.
3) Peduli, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki sikap
peduli dan kepedulian terhadap orang lain di kondisi sosial
lingkungan sekitar.
4) Respek, bentuk karakter yang membuat seseorang selalu
menghargai dan menghormati orang lain.
5) Kewarganegaraan, bentuk karakter yang membuat seseorang
sadar akan hukum dan peraturan serta peduli terhadap
lingkungan alam.
12
6) Tanggung jawab, bentuk karakter yang menjadikan seseorang
bertanggung jawab, disiplin, dan selalu melakukan sesuatu
dengan sebaik mungkin.
Dikutip dari Wibowo (2012), Kemendiknas mengidentifikasi ada 18
nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut
ini:
1) Religius: sikap dan perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran
agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah
agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2) Jujur: perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya
sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan,
tindakan dan pekerjaan.
3) Toleransi: sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan
agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain
yang berbeda dari dirinya.
4) Disiplin: tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh
pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5) Kerja Keras: perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-
sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas,
serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6) Kreatif: berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan
cara atau hasil baru dari apa yang telah dimiliki.
7) Mandiri: sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada
orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8) Demokratis: cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai
sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9) Rasa Ingin Tahu: sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk
mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang
dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
13
10) Semangat Kebangsaan: cara berpikir, bertindak, dan wawasan
yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan diri dan kelompoknya.
11) Cinta Tanah Air: cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang
menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang
tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya,
ekonomi, dan politik bangsanya.
12) Menghargai Prestasi: sikap dan tindakan yang mendorong
dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi
masyarakat, dan mengakui, dan menghormati keberhasilan
orang lain.
13) Bersahabat dan Komunikatif: tindakan yang memperlihatkan
rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang
lain.
14) Cinta Damai: sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan
orang lain merasa senang dan aman atas kehadirannya.
15) Gemar Membaca: kebiasaan menyediakan waktu untuk
membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan baginya.
16) Peduli Lingkungan: sikap dan tindakan yang selalu berupaya
mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan
mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan
alam yang sudah terjadi.
17) Peduli Sosial: sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi
bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18) Tanggung jawab: sikap dan perilaku seseorang untuk
melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dia
lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan alam,
sosial, dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
Begitu banyak nilai-nilai karakter yang sebenarnya menjadi panduan
dalam berkehidupan manusia berhubungan dengan hal tersebut nilai-
nilai karakter yang dikembangkan dalam pendidikan formal meliputi
14
nilai kejujuran, tanggung jawab, hidup sehat, disiplin, kerja keras,
percaya diri, berjiwa wirausaha, berpikir kreatif, logis, inovatif,
mandiri, ingin tahu, cinta ilmu, santun, toleransi, demokratis, dan
nasionalis (Asmani, 2011: 36-41). Pemerintah mengeluarkan
peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia
nomor 20 tahun 2018 yang menjelaskan beberapa karakter yang
perlu dikuatkan dalam pendidikan formal meliputi nilai-nilai religius,
jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis,
rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai
prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli
lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Nilai nilai tersebut
tak bisa lepas dari buah pikir dari Ki Hajar Dewantara terkait dengan
pendidikan karakter. Dalam konsep karakter dari Ki Hajar
Dewantara yang berupa olah hati (etika), olah raga (kinestika), olah
rasa dan karsa (estetika), dan olah pikir (literasi).
Berdasarkan pemikiran ahli di atas mengenai nilai-nilai karakter,
terdapat banyak variasi dan pendapat mengenai hal tersebut, karena
manusia merupakan makhluk yang komplek. Peneliti menyimpulkan
bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang umumnya dikembangkan
yaitu nilai cinta kepada Tuhan, hormat, kejujuran, toleransi, santun,
tanggung jawab, kerja keras, percaya diri, kreatif, logis, ingin tahu,
santun, mandiri, dan demokratis. Wirjawan (2020) dalam videonya
mengungkapkan semua karakter-karakter yang berhubungan dengan
manusia baik karakter positif maupun karakter negatif, berkorelasi
dengan pendidikan yang dilalui oleh manusia baik di rumah, di
sekolah, di ekosistem. Berdasarkan pemikiran ahli di atas, nilai-nilai
karakter yang berada di dalam setiap individu pasti dapat
dikembangkan seiring dengan berjalannya waktu, pengembangan
nilai-nilai karakter tersebut disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi
masing-masing individu.
2. Kajian tentang Pendidikan Kewarganegaraan
15
a. Pengertian pendidikan kewarganegaraan. Damri & Putra (2020),
mengungkapkan pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan
yang mengingatkan kita akan pentingnya nilai-nilai hak dan
kewajiban warga negara. Setiap hal yang dikerjakan mesti sesuai
dengan tujuan dan cita-cita bangsa dan tidak melenceng dari apa
yang diharapkan, Pendidikan kewarganegaraan adalah program
pendidikan yang memiliki inti demokrasi politik yang diperluas
dengan sumber-sumber pengetahuan lainnya, pengaruh-pengaruh
positif dari pendidikan sekolah, masyarakat, dan orang tua, yang
semuanya itu diproses guna melatih para siswa untuk berpikir kritis,
analitis, bertindak demokratis dalam menjalankan kehidupan yang
berdasarkan UUD 1945. Menurut Samsuri (2011), Pendidikan
Kewarganegaraan diartikan sebagai penyiapan generasi muda untuk
menjadi warga negara yang memiliki pengetahuan, kecakapan, dan
nilai-nilai yang diperlukan untuk berpartisipasi aktif dalam
masyarakat. Dalam pendidikan kewarganegaraan, terdapat beberapa
ilmu yang berkaitan dengan ilmu-ilmu lain, seperti misalnya ilmu
tentang masyarakat dan antar manusia di dalamnya, ilmu sosiologi
yang mempelajari hubungan antar masyarakat satu dengan yang lain
khususnya dari segi masyarakat sebagai komponen negara atau
sebagai warga negara, dan ilmu-ilmu sosial lainnya.
Pendidikan Kewarganegaraan adalah membawa misi pendidikan
moral bangsa, membentuk warga negara yang cerdas, demokratis,
dan berakhlak mulia, yang secara konsisten melestarikan dan
mengembangkan cita-cita demokrasi dan membangun karakter
bangsa. Sedangkan visi pendidikan Kewarganegaraan adalah
mewujudkan proses pendidikan yang terarah pada pengembangan
kemampuan individu, sehingga menjadi warga Negara yang cerdas,
partisipatif, dan bertanggung jawab. Dengan demikian akan
membentuk warga negara Indonesia yang didasarkan pada Pancasila
dan karakter positif masyarakat Indonesia. Dimensi manusia sebagai
16
makhluk individual, makhluk sosial, makhluk susila, dan makhluk
religi dalam kedudukan kita sebagai warga Negara Indonesia,
hendaknya dikembangkan secara seimbang. Dimensi manusia
tersebut secara konsisten diperjelas dan dipertajam di dalam
memandang dirinya sendiri dengan potensi diri pribadi, dan
pengembangan kerjasama dengan orang lain untuk membawa
keunggulan bangsa dan Negara, serta kepatuhannya untuk mematuhi
norma-norma dalam masyarakat, dan aktualisasi dirinya untuk
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, hal itulah merupakan
beberapa materi Pendidikan Kewarganegaraan Indonesia, disamping
materi-materi lainnya (Azmi, 2016). Pendidikan kewarganegaraan
merupakan bagian utama dalam proses mengembangkan kemampuan
peserta didik agar dapat berpartisipasi dalam membangun peradaban
kehidupan manusia secara global yang lebih baik sebagaimana
pengamalan nilai-nilai Pancasila. Pendidikan kewarganegaraan
menetapkan tujuan kurikulum didasarkan pada konsep
kewarganegaraan yang dinamis dan lancar. Tujuan kurikulum
berfokus pada mendidik warga yang dipersiapkan untuk
berpartisipasi aktif dalam tingkat kehidupan lokal, nasional, dan
global. Kurikulum sebagai proses dinamis harus terus merevisi
tujuannya yang mencakup tiga tujuan dasar yang berupa dimensi
kebudayaan, kemanusiaan, dan keterampilan warga negara
(Zahabioun, Yousefy, Yarmohammadian, & Keshtiaray, 2013).
Rasionalisasi dari PPKn, dirumuskan secara luas untuk
mencakup proses penyiapan generasi muda dalam mengambil peran
dan tanggung jawabnya sebagai warga negara, dan secara khusus
peran pendidikan termasuk di dalamnya persekolahan, pengajaran
dan belajar, dalam proses penyiapan warga negara yang baik. Hal
tersebut diperkuat dengan pernyataan Socrates bahwa tujuan yang
paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang
menjadi “good and smart”. PPKn memberikan harapan yang dapat
17
membawa dan menggiring generasi muda memiliki tingkah laku
sesuai dengan tujuan PPKn yang akan membawa bangsa pada
karakter yang diinginkan melalui proses wahana PPKn dengan bekal
yang baik dalam komposisi pelajaran yang dipelajari oleh peserta
didik, dengan demikian harapan baru harapan national building dapat
terwujud. Pada hakikatnya, pengajaran PPKn berbeda dengan
pengajaran pendidikan lain yang menuntut ketepatan, karena dalam
pembelajaran PPKn lebih berkaitan dengan masalah-masalah sosial
yang sulit untuk mendapatkan ketepatan. Ide pokok pada PPKn dapat
membentuk warga negara yang ideal sesuai dengan prinsip-prinsip
kewarganegaraan, warga negara yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, memiliki watak pribadi yang baik,
berpengetahuan, mempunyai keterampilan dalam menyelesaikan
masalah-masalah sosial (Rahmatiani, 2020).
b. Ruang lingkup pendidikan kewarganegaraan. Pendidikan
kewarganegaraan substansi atau isinya bisa berkembang sesuai
dengan kebutuhan atau mungkin keunikan di dalam sebuah negara
itu sendiri. Seperti contoh di negara Indonesia sendiri karena pada
dasarnya di negara Indonesia merupakan sebuah negara yang plural
dan terdiri dari berbagai agama, suku, dan ras (Bunyamin, 2016),
Keseluruhan substansi atau isinya bertujuan sama yaitu mengandung
arti untuk mendidik atau mencerdaskan warga negaranya agar
mampu ikut melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan di dalam
negaranya. Kementerian pendidikan dan kebudayaan (2016)
menuliskan beberapa ruang lingkup Mata Pelajaran Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Secara Umum Meliputi:
1) Pancasila: (meliputi pemahaman tentang sejarah latar belakang,
Pendahuluan proses perumusan, proses pengesahan, dan
perkembangannya), Substansi (filosofi, konsep, prinsip, dan
norma), Penerapan/Implementasi secara kontekstual.
18
2) Undang-Undang Dasar 1945: pembahasan meliputi latar
belakang, proses perumusan, proses pengesahan, dan
perkembangannya, Substansi /materi filosofi, konsep, prinsip, dan
norma dan Penerapan dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah,
di sekolah dan di masyarakat.
3) Negara Kesatuan Republik Indonesia: pembahasan meliput
Sejarah, Substansi/materi tentang filosofi, konsep, dan prinsip dan
Penerapan secara kontekstual (tantangan dan dinamika)
4) Bhineka Tunggal Ika: meliputi pembahasan tentang (Konsep
idealita dan prinsip-prinsip), Substansi materi realita sosial,
kultural, geografis, politis, dan lingkungan), Tantangan yang
dihadapi dalam penerapan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan
sehari-hari
Wibowo, & Wahono (2017), materi pembahasan dalam PPKn ini
memiliki ruang lingkup pertama, nilai, moral dan norma serta
perilaku yang diharapkan terwujud dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Kedua, kehidupan ideologi politik
ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan serta
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam wadah
kesatuan negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945. Dapat disimpulkan PPKn memuat
persatuan bangsa dan negara, Nilai dan norma (agama, kesusilaan,
kesopanan dan hukum), Hak Asasi Manusia, Kebutuhan hidup warga
negara, Kekuasaan dan politik, masyarakat demokratis, Pancasila
dan konstitusi negara, globalisasi yang berlandaskan pendidikan nilai
dan moral. Karena memang pendidikan kewarganegaraan atau civic
education merupakan perantara misi nasional sebuah negara untuk
mencapai tujuan negara tersebut maka pendidikan kewarganegaraan
di setiap negara memiliki substansi yang sama. Salah satu bukti
bahwa substansi atau isi dari pendidikan kewarganegaraan adalah
muatan identitas nasional bangsa atau negara, dan sistem
19
pemerintahan, perihal hak asasi manusia yang berkaitan dengan hak
dan kewajiban seorang warga negara terhadap negaranya. Karena
seperti yang telah disinggung di atas jika pendidikan
kewarganegaraan ini memang sebuah perantara untuk menjalankan
misi nasional sebuah negara (Welly, & Marzuki, 2019). Pada saat
permulaan atau awal kemerdekaan lebih banyak dilakukan
pendidikan kewarganegaraan pada tataran sosial kultural dan
dilakukan oleh para pemimpin bangsa. Dalam pidato-pidatonya, para
pemimpin mengajak seluruh rakyat untuk mencintai tanah air dan
bangsa Indonesia. Seluruh pemimpin bangsa membakar semangat
rakyat untuk mengusir penjajah yang hendak kembali menguasai dan
menduduki Indonesia yang telah dinyatakan merdeka. Pidato-pidato
dan ceramah-ceramah yang dilakukan oleh para pejuang, serta kyai-
kyai di pondok pesantren yang mengajak umat berjuang
mempertahankan tanah air merupakan PPKn dalam dimensi sosial
kultural. Pasca Orde Baru sampai saat ini, nama mata pelajaran
pendidikan kewarganegaraan kembali mengalami perubahan.
Perubahan tersebut dapat diidentifikasi dari dokumen mata pelajaran
PKn (2006) menjadi mata pelajaran PPKn (2013).
c. Generasi muda. Warga negara muda menurut Murdiono (2018: 37)
juga dapat disebut sebagai generasi muda. Murdiono menjelaskan
bahwa generasi pada umumnya menunjuk pada suatu keberadaan
manusia yang hidup pada periode waktu tertentu, sedangkan muda
dijelaskan dengan merujuk pada pengkategorian menurut
perkembangan hidup manusia, baik secara biologis/fisik, kognitif,
bahasa, dan sosio-emosional. Dengan mengadopsi penjelasan dari
Murdiono (2018: 38) menjelaskan beberapa proses perkembangan
hidup pada diri seorang anak. Pertama, proses biologis adalah
perubahan dalam tubuh anak. Pada proses ini cukup memberikan
pengaruh terhadap perkembangan otak anak, berat dan tinggi badan,
perubahan dalam kemampuan bergerak dan perubahan hormonal di
20
masa puber. Kedua, proses kognitif adalah perubahan dalam
pemikiran, kecerdasan, dan bahasa anak. Pada proses ini seorang
anak mampu mengembangkan kemampuan matematika, menyusun
strategi kreatif, atau menghubungkan kalimat menjadi pembicaraan
yang bermakna. Ketiga, proses sosio-emosional adalah perubahan
dalam hubungan anak dengan orang lain, perubahan dalam emosi,
dan perubahan dalam kepribadian.
Secara teknis, definisi pemuda / generasi muda selalu dikaitkan
dengan usia / umur. Batasan generasi muda berdasarkan usia
cenderung memiliki keragaman. World Health Organization (WHO)
mendefinisikan pemuda sebagai yang berusia antara 10 sampai 24
tahun. Sementara menurut UU Kepemudaan, yang dimaksud dengan
pemuda adalah mereka yang berusia antara 18 hingga hingga 35
tahun. International Youth Year yang diselenggarakan tahun 1985
mendefinisikan pemuda sebagai kelompok penduduk yang berusia
15-24 tahun. Dilihat dari ideologis politis, maka generasi muda
adalah calon pengganti dari generasi terdahulu, dalam hal ini
berumur antara 1-30 tahun, dan kadang-kadang sampai umur 40
tahun (Hasibuan, 2008). Generasi muda adalah generasi penerus
bangsa, generasi yang baik akan menghasilkan bangsa yang baik
pula (Fauzi, Sukmawani, & Astutiningsih, 2019). Perkembangan
zaman yang sudah semakin maju ini akan mempengaruhi kehidupan
penerus generasi khususnya di Negara Indonesia. Berbekal
pendidikan yang baik maka para remaja dapat melanjutkan
kehidupan yang baik pula. Anak-anak merupakan generasi yang
tidak dapat dilupakan begitu saja, anak-anak harus mendapatkan
perhatian yang lebih dari generasi sebelumnya khususnya dari orang
tuanya sendiri. Untuk membantu anak dalam masa pertumbuhan dan
perkembangannya diperlukan adanya suatu pelajaran atau proses
belajar dan keterampilan dalam hidup, sehingga mereka mempunyai
kualitas hidup yang lebih baik. Sejak masa orde baru Indonesia
21
sudah mewajibkan bagi anak usia sekolah yaitu peraturan yang
mewajibkan bahwa anak-anak mendapatkan pendidikan dasar 9
tahun, yang nantinya bertujuan untuk membangun bangsa yang
bebas dari kebodohan dan kemiskinan. Seperti diketahui bersama
bahwa masih banyak anak-anak yang tidak memperoleh pendidikan,
baik itu secara formal maupun informal, sehingga banyak anak-anak
yang sedikit memperoleh keterampilan yang seharusnya ada dalam
kehidupan mereka.
Pada dasarnya, menurut Krori (Buwono, 2019: 85) remaja
merupakan periode yang penting karena memuat masa peralihan,
perubahan, dan juga masa pencarian identitas diri dimana pada usia
tersebut menimbulkan ketakutan, keraguan, dan keegoisan pada diri
remaja atau sedang pada masa ambang menuju kedewasaan. Pada
periode remaja ini, seorang anak semakin ingin bebas dan mencari
jati diri. Pemikiran mereka para remaja menjadi semakin abstrak,
logis, dan idealis. Adapun pengaruh lingkungan diluar lingkungan
keluarga menjadi arus yang sangat besar, terutama pengaruh dari
teman sebaya. Bahkan, seringkali mereka lebih mempercayai teman-
temannya daripada percaya kepada keluarganya sendiri. Generasi
muda merupakan sebuah konsep yang selalu dikaitkan dengan
masalah nilai hal ini merupakan pengertian ideologis dan cultural
daripada pengertian ilmiah, misalnya pemuda harapan bangsa atau
pemuda pemilik masa depan. Posisi generasi muda dalam
masyarakat adalah sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa,
sehingga masa depan suatu bangsa ini terletak pada generasi
mudanya sebab merekalah yang nantinya menggantikan generasi
sebelumya dalam memimpin bangsa.
22
3. Kajian tentang Penguatan Pendidikan Karakter
a. Pengertian pendidikan karakter. Pendidikan karakter memiliki makna
lebih tinggi dari pendidikan moral karena pendidikan karakter tidak
hanya berkaitan dengan benar atau salah, akan tetapi bagaimana
menanamkan kebiasaan tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan
sehingga anak memiliki kesadaran dan pemahaman yang tinggi serta
kepedulian dan komitmen untuk menetapkan kebajikan dalam
kehidupan sehari-hari. Wynne mengemukakan bahwa karakter
berasal dari Bahasa Yunani yang berarti to mark ‘menandai’ dan
memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan
dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari (Mulyasa, 2011).
Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai
karakter kepada peserta didik yang meliputi komponen-komponen
kesadaran, pemahaman, kepedulian, dan komitmen yang tinggi untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut. Anggapan umum menyatakan
bahwa keluarga merupakan pendidik karakter yang pertama dan
utama bagi anak-anak. Orang tua adalah guru dalam pendidikan
karakter yang mempunyai pengaruh sangat besar dan bertahan lama
karena hubungan orang tua dan anak berlangsung sepanjang hayat,
tidak dapat diputus oleh siapa pun atau dengan sebab apa pun.
Hubungan orang tua dan anak juga mengandung hubungan khusus
yang signifikan. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan Lickona
(2013:42) bahwa remaja yang mengikuti hati nurani mereka, ketika
dihadapkan pada sebuah dilema moral, ternyata memiliki orang tua
yang mengajar norma-norma hukum moral secara serius.
Menurut Kesuma (2011), pendidikan karakter adalah
pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan
mental serta perilaku peserta didik. Pendidikan karakter menurut
Thomas dalam tulisan dari Sjarkawi (2006), merupakan pendidikan
yang secara sengaja merancang penanaman dan pengembangan serta
mengubah cara berpikir dan bertindak dalam situasi moral agar dapat
23
diterima dalam lingkungan masyarakat. Pendidikan karakter
membimbing individu untuk dapat menyelesaikan konflik dan untuk
dapat bermasyarakat dengan moral yang baik. Menurut Gholar
dalam buku karya Zuchdi (2011) peserta didik perlu berusaha
memecahkan masalah yang dihadapi sesuai 9 dengan nilai-nilai
keseharian, untuk itu peserta didik perlu memahami kepribadian diri
sendiri dan lingkungan peserta didik. Berdasarkan pemikiran
beberapa ahli di atas mengenai definisi pendidikan karakter, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan karakter berusaha untuk
menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai karakter. Tujuan
pendidikan karakter yaitu supaya peserta didik memiliki tingkah laku
yang sesuai dengan norma sehingga peserta didik dapat diterima
dalam lingkungan masyarakat. Selain itu, berdasarkan pemikiran ahli
yang telah disebutkan di atas, pendidikan karakter memberikan
penguatan dan pengembangan mental agar peserta didik mampu
menyelesaikan masalah yang dihadapi serta
mempertanggungjawabkan masalah tersebut. Kajian pendidikan
karakter bersentuhan dengan wilayah filsafat moral atau etika yang
bersifat universal, seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab.
Dalimunthe (2015) mengungkapkan pendidikan karakter
merupakan suatu sistem penerapan nilai-nilai moral pada peserta
didik melalui ilmu pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan
implementasi nilai-nilai tersebut, baik terhadap diri sendiri, sesama,
lingkungan, bangsa dan negara maupun Tuhan Yang Maha Esa,
kebangsaan sehingga menjadi manusia yang memiliki akhlak yang
terpuji. Pendidikan karakter adalah suatu sistem untuk
mengembangkan nilai-nilai karakter peserta didik yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan
untuk diimplementasikan ke dalam agama, diri sendiri, masyarakat
umum, lingkungan, dan bangsa sebagai manusia seutuhnya (Agung,
2011).
24
b. Tujuan pendidikan karakter
Park (2017: 22-28) menjelaskan pendidikan karakter adalah
pendidikan yang bertujuan untuk menumbuhkan kehidupan batin
atau rohani seseorang yang bertujuan agar dapat membedakan yang
baik dan benar serta untuk menumbuhkan dan mengembangkan
sikap humanis atau kemanusiaan seseorang. Pendidikan karakter
menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua, sekolah dan
masyarakat. Terdapat perbedaan mendasar antara pendidikan
karakter dengan pendidikan kewarganegaraan. Tabel 1 ini
menjelaskan perbedaan pendidikan karakter dengan pendidikan
kewarganegaraan sebagai berikut.
Tabel 1. Perbedaan pendidikan kewarganegaraan dengan pendidikan
karakter
Bidang Fokus Tujuan Dampak StatusResm Politik
Pendidikan i
PPKn Hak-hak Mengubah Partisipasi Legislated Latar
individu dan masyarakat dalam belakang
tanggung jawab dan individu masyarakat Politik
sebagai progresif
masyarakat dan
masyarakat
anggota
Pendidikan Individu dan Warga Memprakti Tidak Latar
Karakter pribadi negara yang kkan diatur Belakang
tanggung jawab baik kebajikan undang Politik
untuk di undang konservat
pembangunan kehidupan if
nasional dan batin
integrasi
Dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah, setiap pemangku
kepentingan pembelajaran harus dilibatkan dalam proses tersebut,
termasuk komponen pendidikan, yaitu kurikulum, proses
pembelajaran dan evaluasi, kualitas hubungan, penanganan atau
pengelolaan pelajaran, manajemen sekolah, ko-kurikuler.
pelaksanaan kegiatan, penggunaan fasilitas, pendanaan, dan kinerja
setiap dan seluruh komponen sekolah (Agung, 2011). Menurut
25
zubaedi dalam penelitian santika (2020) Pendidikan karakter
memiliki tiga fungsi utama. Pertama, fungsi pembentukan dan
pengembangan potensi. Pendidikan karakter membentuk dan
mengembangkan potensi siswa agar berpikiran baik, berhati baik,
dan berperilaku sesuai dengan falsafah Pancasila. Kedua, fungsi
perbaikan dan penguatan. Pendidikan karakter memperbaiki dan
memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan
pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam
pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa
menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Ketiga, fungsi
penyaring. Pendidikan karakter memilah budaya bangsa sendiri dan
menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai
budaya bangsa dan karakter bangsa yang bermartabat. Dengan
demikian pembentukan karakter bangsa ini harus melibatkan
sinergitas ketiga komponen pendidikan antara lain pendidikan
informal, formal dan non formal.
c. Penguatan pendidikan karakter. Akhwan (2014) Pendidikan karakter
membutuhkan metode khusus yang tepat untuk mencapai tujuan
pendidikan. Metode pengajaran yang cocok meliputi metode
keteladanan (al-qudwah), metode pembiasaan, dan metode pujian
dan hukuman. Menurut Asmani (2011), terdapat indikator yang
mengindikasikan bahwa pendidikan karakter telah berhasil
dikerjakan berikut poin-poinnya :
1) Mampu mengimplementasikan ajaran agama yang dianut dalam
kehidupan sehari hari sesuai dengan usia.
2) Memiliki pemahaman mengenai kekurangan dan kelebihan
dalam diri sendiri atau mampu melakukan introspeksi diri.
3) Memiliki rasa percaya pada diri sendiri serta mampu
menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan
inovatif.
26
4) Memiliki kesadaran mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku
baik aturan yang tertulis maupun norma adat yang berlaku.
5) Memiliki rasa menghargai keberagaman agama, budaya, suku,
ras, dan golongan sosial ekonomi.
6) Memiliki rasa keingintahuan dalam belajar secara mandiri dan
mengidentifikasi potensi diri yang dimiliki.
7) Memiliki kemampuan analisis dan pemecahan masalah
kehidupan sehari-hari, serta mampu mendeskripsikan gejala
alam dan sosial.
8) Memiliki rasa menghargai atas karya seni, budaya, dan
kekayaan sosial serta mampu memanfaatkan lingkungan secara
bertanggung jawab.
9) Menghargai nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara kesatuan Republik Indonesia,
berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun.
10) Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk
berkarya.
11) Mampu menerapkan hidup bersih, sehat, aman, dan
memanfaatkan waktu luang dengan baik.
12) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam
pergaulan di masyarakat.
13) Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana.
14) Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti
pendidikan menengah.
15) Memiliki jiwa kewirausahaan.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, ketercapaian indikator-indikator
terkait dengan karakter didapat melalui pendidikan karakter, dapat
disimpulkan bahwa penilaian pendidikan karakter dilakukan untuk
mengetahui ketercapaian indikator-indikator karakter yang dipilih. Selain itu
tujuan dari penilaian ketercapaian pendidikan karakter, juga dapat digunakan
27
sebagai acuan penilaian ketercapaian pembelajaran. Menurut pendapat ahli
di atas, penilaian pendidikan karakter dapat melalui beberapa cara,
diantaranya, melalui tes, observasi, portofolio, lembar skala sikap, dan
wawancara
B. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang peneliti lakukan tidak mungkin berdiri sendiri, selalu
ada keterkaitan dengan penelitian yang lain. Berikut merupakan penelitian
yang relevan dengan yang peneliti kerjakan:
Penelitian yang dilakukan oleh Lestari, Setiawan, & Puspitaningrum
(2018) dari Universitas Negeri Semarang, dengan judul “Urgensi Habituasi
Nilai Karakter Kemandirian Dan Tanggung Jawab Peserta Didik Sekolah
Menengah Keguruan”. Penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan
Terdapat dua skema perencanaan pembiasaan nilai-nilai karakter
kemandirian dan tanggung jawab yakni di selenggarakan di dalam
pembelajaran maupun di luar pembelajaran yang saling terkait. Terkait
dengan kegiatan pembiasaan nilai-nilai di dalam pembelajaran dapat
dilaksanakan melalui tiga tahap, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.
Antara pembelajaran satu dengan lainnya harus saling berkesinambungan
mengenai integrasi nilai ini, terutama pada mata pelajaran praktik, selain itu
kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dalam bentuk ekstrakurikuler,
praktek di luar jam sekolah juga menjadi sarana yang penting dalam
penanaman karakter kemandirian dan tanggung jawab.
Dari Tulisan Gitiani (2020) dengan judul "Analisis Pendidikan
Karakter Kemandirian dan Tanggung Jawab pada Anak” memiliki kaitan
dengan penelitian ini dari sisi pengumpulan data. Validitas yang dilakukan
dengan menggunakan triangulasi sumber data dan triangulasi teknik
pengumpulan data merupakan teknik yang diadaptasi dari penelitian Gitiani,
di kombinasikan dengan pengumpulan data menggunakan wawancara,
observasi, dan dokumentasi dengan objek yang diteliti yang sama yaitu
kemandirian dan tanggung jawab walaupun studi kasus yang dilakukan
28
memiliki subjek yang berbeda dengan harapan memperoleh kesimpulan
hasil yang sama seperti tulisan diatas.
Kemudian Naufal, & Sumardjoko (2020), dari skripsi dengan judul
“Penguatan Karakter Tanggung Jawab Pada Siswa Melalui Kegiatan
Ekstrakurikuler Drumband (Studi Kasus di SMK Negeri 1 Pacitan Tahun
Pelajaran 2019/2020)” dengan urgensi penelitian yang sama yaitu karakter
tanggung jawab dengan hasil yakni bentuk-bentuk penguatan karakter
meliputi melakukan tugas tanpa harus mempertimbangkan hukuman,
menghindari menyontek saat menyelesaikan tugas, mengerjakan tugas
secara teratur, terstruktur, dan aktif dalam kegiatan sekolah yang sudah
sesuai diharapkan dalam penelitian ini memiliki hasil yang serupa.
C. Kerangka Berpikir
Sesuai dengan peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan republik
Indonesia no 20 tahun 2018 menjelaskan tentang penguatan pendidikan
karakter (PPK) pada satuan pendidikan formal sebagai upaya penguatan
karakter dengan tujuan yaitu yakni memperoleh generasi penerus bangsa
yang lebih baik dengan pemahaman yang benar mengenai hak maupun
kewajiban selaras dengan pernyataan diatas kerangka berpikir dalam
penelitian ini di masukkan pada gambar 1 berikut :
Penguatan Pendidikan Karakter Kemandirian dan Tanggung
Pengumpulan data dilakukan di MTs Negeri Blora Jawa
Identifikasi Karakteristik Karakter Kemandirian
dan Tanggung Jawab Siswa
Identifikasi Karakteristik kurikulum pada Masukan
Mata Pembelajaran PPKn Pemerintah,
Peran serta
masyarakat,
Karakter siswa yang mandiri dan bertanggung
Gambar 1 : Kerangka berpikir
29
Dalam Gambar 1 dapat dijelaskan bahwa upaya penguatan karakter
kemandirian dan tanggung jawab yang dilakukan di MTs Negeri Blora Jawa
Tengah dapat dilakukan dengan mengidentifikasi karakteristik karakter
kemandirian dan tanggung jawab siswa di dalam pembelajaran PPKn serta
di luar dan dilakukan penguatan berdasarkan masukan pemerintah
berdasarkan karakteristik siswa dan peran serta masyarakat maupun
keluarga. Diharapkan dengan penelitian ini siswa MTs Negeri Blora lebih
menguatkan karakter mandiri dan tanggung jawab.