Jurnal Ekonomi Revolusioner Vol 7, No 11, November 2024, Hal 139-146
ISSN: 24410685
PENGARUH AKUNTABILITAS, TRANSPARANSI, DAN
KOMPETENSI APARAT DESA TERHADAP PENGELOLAAN DANA
DESA DI DESA JATI KESUMA KECAMATAN NAMORAMBE
KABUPATEN DELI SERDANG PROVINSI SUMATERA UTARA
Nadia Azzahra
Universitas Negeri Medan
e-mail: nadiazzhr7@[Link]
Abstrak − Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh akuntabilitas, transparansi, dan
kompetensi aparat desa terhadap pengelolaan dana desa di Desa Jati Kesuma, Kecamatan Namorambe,
Kabupaten Deli Serdang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus,
melibatkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumentasi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa akuntabilitas pengelolaan dana desa masih terkendala oleh keterbatasan sumber
daya manusia dan keterlambatan pelaporan. Transparansi juga belum optimal, ditandai dengan
kurangnya keterbukaan informasi kepada masyarakat. Kompetensi aparat desa menjadi faktor penting,
namun latar belakang pendidikan yang tidak relevan dan minimnya pelatihan menjadi hambatan utama.
Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan kapasitas melalui pelatihan, pendampingan teknis,
dan optimalisasi komunikasi untuk menciptakan pengelolaan dana desa yang akuntabel, transparan,
dan efektif demi mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.
Kata Kunci: Akuntabilitas, Transparansi, Kompetensi Aparat Desa, Pengelolaan Dana Desa,
Pembangunan Berkelanjutan.
PENDAHULUAN
Dana desa disalurkan setiap tahun sebagai salah satu sumber pendapatan desa. Tujuan
penyaluran dana desa adalah untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, mendorong
pemulihan ekonomi secara optimal, menjalankan program utama pemerintah pusat sesuai
kewenangan desa, menyesuaikan kebiasaan baru di desa, dan yang paling utama adalah
mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa (Permendesa, 2020). Salah satu langkah
pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan adalah dengan
memberikan bantuan kepada masyarakat kurang mampu melalui penyaluran BLT DD
(Bantuan Langsung Tunai Dana Desa).
Prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana desa memiliki peran
penting dalam menentukan tingkat pelayanan publik bagi masyarakat serta menjadi alat ukur
pembangunan (Rokhman, 2022). Dengan penerapan prinsip-prinsip ini, pengukuran
pembangunan dapat dilakukan secara lebih optimal. Kedua prinsip tersebut secara bersamaan
juga menjadi indikator utama dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap
pengelolaan dana, anggaran, dan hal-hal terkait lainnya (Saremi & Mohammadi, 2015).
Sebagai salah satu aspek akuntansi sektor publik, pengelolaan dana desa juga menerapkan
prinsip-prinsip ini.
Akuntabilitas merupakan kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atas
kinerja dan tindakan kepada pihak yang memiliki hak dan wewenang untuk meminta
pertanggungjawaban tersebut (Kuswanti, 2020). Menurut Hadi (2019), transparansi adalah
prinsip dasar dalam pengelolaan dana desa yang harus diterapkan dalam seluruh proses, mulai
dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, hingga pelaporan dan
pertanggungjawaban desa.
Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 menyebutkan bahwa transparansi adalah prinsip
keterbukaan yang memastikan informasi keuangan disampaikan secara benar dan terbuka
kepada masyarakat, sehingga masyarakat memiliki kebebasan untuk memahami pengelolaan
sumber daya secara menyeluruh.
139
Terwujudnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan dana desa sangat
dipengaruhi oleh kualitas aparat desa yang bertugas mengelolanya. Dana desa perlu dikelola
oleh aparat pemerintah desa yang kompeten, memiliki latar belakang pendidikan yang
memadai, secara rutin mengikuti pelatihan, serta berpengalaman dalam bidang keuangan
(Ferina et al., 2016). Kompetensi aparat desa juga berkontribusi dalam mencegah atau
mengurangi terjadinya fraud dalam pengelolaan dana desa. Mualifu (2019) menjelaskan
bahwa keterbatasan aparat desa, seperti latar belakang pendidikan yang tidak sesuai bidang
akuntansi, dapat menyebabkan kurangnya pemahaman dalam pengelolaan keuangan desa
secara baik.
Menurut Egi Primayogha, peneliti ICW, korupsi dana desa disebabkan oleh beberapa
faktor, di antaranya adalah kurangnya transparansi, rendahnya kompetensi aparat
pemerintahan desa, serta tidak adanya pengawasan yang memadai (Fauzanto, 2020).
Penelitian Susilawati et al. (2020) juga mengungkapkan bahwa maraknya kasus
penyelewengan atau korupsi dana desa disebabkan oleh lemahnya pengelolaan dana desa
secara sistematis, sebagaimana telah dikonfirmasi melalui hasil kajian lembaga pemerintah
dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Selain itu, Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan (BPKP) menemukan adanya 15.100 potensi kelemahan dalam akuntabilitas
pengelolaan dana desa..
Kecamatan Namorambe, yang terletak di Kabupaten Deli Serdang, menghadapi
tantangan tersendiri dalam pengelolaan dana desa. Berbagai laporan menunjukkan adanya
masalah dalam aspek akuntabilitas, transparansi, dan kompetensi aparat desa, yang
berpengaruh pada rendahnya kualitas pengelolaan dana desa. Pengelolaan dana desa yang
efektif sangat penting bagi keberlangsungan dan kemajuan organisasi desa, karena
berhubungan langsung dengan kesejahteraan masyarakat luas. Pengelolaan dana desa, mulai
dari proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan, harus dilakukan sesuai dengan
prosedur yang berlaku. Dengan demikian, diharapkan dana desa dapat menciptakan
pembangunan yang merata dan memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat desa
(Heru et al., 2020).
STUDI LITERATUR
Akuntabilitas
Menurut UU No.6 Tahun 2014 Pasal 24 menyatakan bahwa akuntabilitas adalah asas
yang menyatakan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan penyelenggaraan
pemerintahan desa harus bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Menurut Tiwinarni (2017) akuntabilitas merupakan asas yang
menentukan bahwa setiap kegiatan penyelenggaraan negara dan hasil akhirnya harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Berdasarkan
pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa akuntabilitas merupakan pertanggungjawaban,
keadaan untuk dipertanggungjawabkan, dan keadaan untuk diminta pertanggungjawaban.
Akuntanbilitas merupakan suatu keharusan untuk memberikan pertanggungjawaban atas
kinerja dan tindakan kepada pihak yang berwenang dan memiliki hak untuk memintanya
(Kusnawanti, 2020). Berdasarkan Ardiyanti (2019), pertanggungjawaban ini berfungsi
sebagai upaya untuk menjawab atau memperjelas penyampaian dari seorang pemimpin,
pemimpin kantor, atau kelompok kepada pihak yang berhak menerimanya. Nafidah dan
Suryaningtyas (2015) menambahkan bahwa akuntabilitas merupakan komitmen pemerintah
provinsi untuk mewakili pelaksanaan dan penyelenggaraan pemerintahan daerah, sejalan
dengan otonomi daerah, dalam mencapai tujuan bersama melalui pertanggungjawaban atas
semua kegiatan secara terukur, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
140
Tujuan Akuntabilitas adalah proses menentukan apa yang harus dipertanggungjawabkan
dengan mempertimbangkan keadaan sebenarnya dan membandingkannya dengan keadaan
yang diharapkan. Untuk memastikan bahwa kegiatan dilakukan dengan benar dan mencapai
tujuan yang diinginkan, setiap kesalahan harus segera diperbaiki. Menurut Amrullah (2019).
Dalam pengelolaan keuangan desa, prinsip akuntabilitas berarti bahwa mereka harus
bertanggung jawab atas apa yang mereka terima dari dana dari pemerintah pusat dan daerah.
Praktik yang efektif akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa.
Transparansi
Menurut Ardiyanti (2019), transparansi berasal dari kata "kebukaan", yang berarti
membuka diri kepada masyarakat untuk memberikan hak mereka untuk mendapatkan
informasi yang benar, adil, dan tidak diskriminatif tentang penyelanggaraan organisasi dengan
memperhatikan perlindungan hak asasi probadi, gologan, dan rahasia negara. Semua proses
perencaan, penganggaran, pelaksanaan, penata usahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban
dana desa harus mengutamakan transparansi, menurut Hadi (2019). Pemendagri Nomor 113
Tahun 2014 menjelaskan transparansi sebagai prinsip keterbukaan yang melibatkan
penyebaran informasi keuangan dengan benar dan terbuka kepada masyarakat, dengan asumsi
bahwa masyarakat memiliki hak untuk memiliki pemahaman yang bebas dan menyeluruh
tentang cara sumber daya yang telah diberikan digunakan.
Karena dana desa adalah milik orang-orang di desa, maka aparatur pemerintahan desa
berwenang untuk mengawasinya. Ini berarti bahwa seluruh masyarakat desa harus tahu dan
menikmatinya. Oleh karena itu, pemerintah desa dan perangkatnya harus secara terbuka
menyampaikan semua informasi tentang penggunaan dana tersebut kepada masyarakat dan
atasan. Jadi, transparansi akan menumbuhkan kepercayaan dan menghasilkan penghargaan
dari masyarakat dan atasan terhadap pemerintah desa (Siregar 2020).
Terwujudnya transparansi dalam pengelolaan dana desa harus didasarkan pada
pemenuhan sejumlah prinsip. Seperti yang dijelaskan oleh Hajar (2017) dengan merujuk pada
pendapat Krina, prinsip transparansi menitikberatkan pada dua aspek utama, yaitu komunikasi
publik oleh pemerintah dan hak masyarakat untuk mendapatkan akses informasi. Transparansi
memiliki peran krusial dalam pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan, mengingat pemerintah
memegang kewenangan dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, pemerintah wajib
menyediakan informasi yang lengkap terkait pertanggungjawabannya dalam mengelola
sumber daya yang telah dipercayakan serta kepatuhannya terhadap peraturan yang berlaku.
Transparansi memiliki peran yang sangat penting dalam menjalankan fungsi
pemerintahan desa sebagai bentuk amanah dari masyarakat. Hal ini dikarenakan wewenang
yang dimiliki pemerintah dalam mengambil keputusan penting dapat memberikan dampak
luas bagi masyarakat. Informasi yang disampaikan sebagai wujud transparansi dapat
digunakan untuk membandingkan kinerja keuangan yang direncanakan dengan hasil yang
dicapai. Selain itu, informasi tersebut juga berfungsi untuk mendeteksi adanya potensi korupsi
atau manipulasi dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban anggaran.
Kompetensi Aparat Desa
Menurut Hafied (2016), kompetensi adalah karakteristik perilaku yang menggambarkan
motif, sifat, konsep diri, nilai-nilai, pengetahuan, dan keterampilan seseorang di tempat kerja.
Pengetahuan, keterampilan, dan perilaku membentuk kompetensi. Peraturan Keputusan
Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Nomor 46A Tahun 2011 mendefinisikan
kompetensi sebagai keahlian dan keistimewaan yang dimiliki oleh seorang pegawai negeri
berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan
tugas pekerjaannya, sehingga aparat tersebut mampu melaksanakan kewajibannya secara
efisien, efektif, dan profesional.
141
Untuk mengelola dana desa dengan sukses, aparat desa harus memiliki kompetensi, yang
merupakan syarat utama. Menurut Mada et al. (2017), kompetensi juga dapat memengaruhi
keberhasilan organisasi. Mereka yang berpengalaman akan lebih memahami bagaimana
mengelola dana desa dengan benar. Aparat yang tidak memahami hal tersebut dapat
menyebabkan kekeliruan dalam laporan keuangan, sehingga informasi yang diberikan
menjadi tidak akurat, dan mempengaruhi pengambilan keputusan yang selanjutnya. Menurut
Medianti (2018).
Berdasarkan pemahaman di atas, kompetensi aparat desa adalah kemampuan yang
dimiliki oleh aparat desa dan kepala desa dalam melaksanakan tugasnya sebagai
penyelenggara pemerintahan yang berkaitan dengan pembangunan desa, pembinaan
kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat desa. Tingkatan kompetensi dapat dinilai
dengan mempertimbangkan latar belakang pendidikan.
Pengelolaan Dana Desa
Menurut Pasal 72 Ayat 1 UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, dana desa termasuk
dalam salah satu pendapatan desa. Dana desa, yang berasal dari APBN dan ditransfer melalui
APBD kabupaten/kota, dimaksudkan untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan
masyarakat serta penyelenggaraan pemerintah.
Menurut Permendagri No. 113 Tahun 2014, pengelolaan dana desa adalah serangkaian
tindakan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sistem pengelolaan
dana desa yang didasarkan pada prinsip transparansi, tanggung jawab, dan keterlibatan.
Menurut Herlianto (2017), pengelolaan dana desa adalah dana atau anggaran yang berasal dari
APBN yang diberikan kepada desa dan ditransfer oleh pemerintah pusat melalui APBD
kabupaten/kota kepada desa. Proses ini mencakup perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, pengawasan, penilaian, dan pelaporan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
METODE
Untuk memahami secara mendalam, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
studi kasus pengaruh akuntabilitas, transparansi, dan kompetensi aparat Desa Jati Kesuma,
Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, tentang cara pengelolaan dana desa.
Menurut Creswell (2014), metode kualitatif bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami
makna yang muncul dari pengalaman individu atau kelompok terhadap suatu fenomena sosial.
Pendekatan studi kasus memungkinkan peneliti untuk menggali fenomena secara rinci dalam
konteks yang spesifik (Yin, 2018). Penelitian ini dilakukan akan mencakup tahap
perencanaan, pengumpulan data lapangan, hingga analisis data.
Informan dalam penelitian ini dipilih secara purposive, yaitu berdasarkan peran mereka
yang relevan dengan pengelolaan dana desa. Informan utama terdiri dari kepala desa,
sekretaris desa, bendahara desa, aparat desa lainnya, serta warga masyarakat yang terlibat atau
menerima manfaat dari dana desa. Teknik purposive sampling, sebagaimana diungkapkan
oleh Patton (2002), bertujuan untuk memilih individu atau kelompok yang memiliki informasi
penting terkait topik penelitian.
Data dikumpulkan melalui beberapa teknik, yaitu wawancara mendalam (in-depth
interviews), observasi partisipatif, dan dokumentasi. Wawancara mendalam dilakukan secara
semi-terstruktur untuk menggali pandangan dan pengalaman informan terkait akuntabilitas,
transparansi, dan kompetensi aparat desa. Teknik wawancara semi-terstruktur memungkinkan
fleksibilitas dalam menggali data tanpa kehilangan fokus penelitian (Kvale, 2007). Observasi
partisipatif dilakukan untuk mengamati secara langsung proses pengelolaan dana desa, mulai
dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan, sebagaimana disarankan oleh Spradley
(1980) untuk memahami konteks sosial secara lebih mendalam. Dokumentasi melibatkan
142
pengumpulan dokumen pendukung seperti laporan keuangan desa, notulen rapat, dan
dokumen relevan lainnya untuk memperkaya data penelitian (Bowen, 2009).
Untuk memastikan validitas data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber,
metode, dan teori. Triangulasi bertujuan untuk memverifikasi dan meningkatkan kredibilitas
data dengan membandingkan hasil dari berbagai teknik pengumpulan data (Denzin, 1978).
Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik, yang mencakup tiga tahap utama
sebagaimana dikemukakan oleh Braun dan Clarke (2006): pengumpulan dan pengorganisasian
data, pengkodean berdasarkan tema utama seperti akuntabilitas, transparansi, dan kompetensi
aparat desa, serta penarikan kesimpulan yang menjawab tujuan penelitian.
Penelitian ini juga mematuhi prinsip-prinsip etika penelitian. Peneliti meminta
persetujuan informan melalui informed consent untuk menjamin bahwa mereka berpartisipasi
secara sukarela (Creswell, 2014). Identitas dan informasi pribadi informan dijaga
kerahasiaannya, serta data yang dikumpulkan hanya digunakan untuk kepentingan akademik.
Prinsip-prinsip ini dilakukan untuk menjaga integritas dan kepercayaan dalam proses
penelitian. Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan yang
mendalam dan komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pengelolaan dana
desa di Desa Jati Kesuma, Kecamatan Namorambe.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pengelolaan dana desa
di Desa Jati Kesuma masih menghadapi berbagai tantangan, meskipun terdapat upaya untuk
meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan kompetensi aparat desa. Berdasarkan hasil
wawancara mendalam dengan kepala desa, bendahara desa, dan masyarakat, serta melalui
analisis dokumen dan observasi langsung, teridentifikasi bahwa akuntabilitas, transparansi,
dan kompetensi aparat desa berperan penting, namun implementasinya belum sepenuhnya
optimal.
Akuntabilitas dalam pengelolaan dana desa menjadi salah satu aspek yang terus menjadi
perhatian. Para informan, khususnya aparat desa, menyatakan bahwa pertanggungjawaban
atas penggunaan dana desa sudah dilakukan melalui laporan rutin kepada pemerintah daerah.
Namun, dalam pelaksanaannya, beberapa kendala ditemukan, seperti kesulitan dalam
menyusun laporan sesuai standar yang berlaku dan keterlambatan dalam pelaporannya.
Informan juga mengungkapkan bahwa keterbatasan sumber daya manusia yang memahami
regulasi keuangan menjadi hambatan utama dalam memastikan pelaporan yang akurat dan
tepat waktu. Akibatnya, masyarakat tidak sepenuhnya mendapatkan akses yang cukup
terhadap informasi mengenai pengelolaan dana desa. Hal ini sesuai dengan pandangan
Kuswanti (2020), yang menyatakan bahwa akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan
pertanggungjawaban atas kinerja secara transparan kepada masyarakat yang berhak
mengetahuinya.
Transparansi dalam pengelolaan dana desa juga menjadi isu yang signifikan.
Berdasarkan hasil observasi, meskipun forum musyawarah desa (Musdes) diadakan secara
rutin, informasi terkait perencanaan dan alokasi dana desa tidak selalu tersampaikan dengan
baik kepada masyarakat. Salah satu masalah utama yang diidentifikasi adalah tidak
diperbaruinya papan informasi yang seharusnya memuat data penggunaan dana desa secara
berkala. Hal ini menyebabkan masyarakat merasa kurang dilibatkan dalam proses
pengambilan keputusan terkait alokasi dana. Beberapa warga menyatakan bahwa keterbukaan
informasi masih terbatas pada segelintir pihak tertentu di desa. Menurut Hadi (2019),
transparansi mencakup keterbukaan dalam semua proses pengelolaan dana, mulai dari
143
perencanaan hingga pelaporan, untuk memastikan partisipasi aktif masyarakat dan
membangun kepercayaan terhadap pemerintah desa.
Kompetensi aparat desa merupakan aspek lain yang turut memengaruhi kualitas
pengelolaan dana desa. Berdasarkan wawancara dengan aparat desa, ditemukan bahwa
sebagian besar dari mereka memiliki latar belakang pendidikan yang tidak terkait dengan
akuntansi atau keuangan, sehingga beberapa prosedur pengelolaan dana masih dianggap
rumit. Misalnya, penggunaan teknologi informasi untuk pencatatan dan pelaporan dana desa
menjadi tantangan yang belum sepenuhnya diatasi. Namun, terdapat beberapa aparat desa
yang menunjukkan pemahaman yang baik tentang pengelolaan dana desa karena telah
mengikuti pelatihan atau memiliki pengalaman di bidang terkait. Hal ini sejalan dengan
temuan Mada et al. (2017), yang menyatakan bahwa kompetensi aparat desa berpengaruh
signifikan terhadap keberhasilan pengelolaan dana desa, terutama dalam hal pengetahuan
teknis dan keterampilan administrasi.
Pembahasan
Pentingnya akuntabilitas, transparansi, dan kompetensi aparat desa dalam mewujudkan
pengelolaan dana desa yang efektif dan efisien. Akuntabilitas yang baik tidak hanya
meningkatkan kepercayaan masyarakat, tetapi juga menjadi indikator utama keberhasilan tata
kelola pemerintahan desa. Dalam penelitian ini, kurangnya akuntabilitas disebabkan oleh
keterbatasan sumber daya manusia yang memahami regulasi keuangan dan sistem
pengawasan yang belum optimal. Untuk mengatasi kendala ini, program pelatihan yang
berfokus pada peningkatan kemampuan menyusun laporan keuangan sesuai standar sangat
diperlukan. Evaluasi rutin dari pihak berwenang juga perlu dilakukan untuk memastikan
bahwa laporan yang disampaikan akurat dan tepat waktu.
Transparansi dalam pengelolaan dana desa juga menjadi perhatian utama. Dalam
penelitian ini, rendahnya tingkat transparansi disebabkan oleh minimnya komunikasi yang
efektif antara pemerintah desa dan masyarakat. Informasi mengenai penggunaan dana desa
yang seharusnya dipublikasikan secara luas sering kali tidak sampai ke masyarakat.
Transparansi yang buruk dapat mengurangi partisipasi masyarakat dan bahkan menimbulkan
kecurigaan terhadap pengelolaan dana. Oleh karena itu, pemerintah desa disarankan untuk
memanfaatkan media digital, seperti website atau media sosial, untuk menyampaikan
informasi keuangan kepada masyarakat. Selain itu, pengelolaan dana desa yang transparan
membutuhkan komitmen aparat desa untuk melibatkan masyarakat dalam setiap tahap
pengelolaan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi.
Kompetensi aparat desa juga menjadi faktor yang sangat penting. Penelitian ini
menunjukkan bahwa aparat desa yang memiliki latar belakang pendidikan dan pelatihan yang
relevan lebih mampu mengelola dana desa secara efektif. Namun, sebagian besar aparat desa
masih membutuhkan pelatihan lanjutan, terutama terkait penggunaan teknologi informasi
dalam pencatatan dan pelaporan dana. Program pelatihan yang terstruktur dapat membantu
meningkatkan kemampuan teknis dan manajerial aparat desa. Selain itu, pemerintah daerah
dapat memberikan dukungan berupa pendampingan teknis untuk memastikan bahwa aparat
desa memiliki kapasitas yang memadai dalam menjalankan tugas mereka.
Dari perspektif teori stewardship, hasil penelitian ini mendukung pandangan bahwa
aparat desa sebagai steward memiliki tanggung jawab untuk mengelola dana desa demi
kepentingan masyarakat sebagai principal. Hubungan yang harmonis antara aparat desa dan
masyarakat hanya dapat terwujud jika akuntabilitas, transparansi, dan kompetensi menjadi
bagian yang terintegrasi dalam setiap aspek pengelolaan dana desa. Dengan meningkatkan
ketiga aspek ini, pemerintah desa dapat menciptakan tata kelola yang lebih baik dan mencapai
tujuan pembangunan desa yang merata dan berkelanjutan.
144
KESIMPULAN
Dari penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa pengelolaan dana desa di Desa Jati
Kesuma, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, masih menghadapi berbagai
tantangan dalam penerapan akuntabilitas, transparansi, dan kompetensi aparat desa.
Akuntabilitas pengelolaan dana desa belum sepenuhnya optimal, yang ditunjukkan oleh
keterlambatan pelaporan dan kurangnya keterampilan teknis aparat desa dalam menyusun
laporan keuangan sesuai standar. Transparansi juga masih menjadi kendala, terutama karena
informasi terkait penggunaan dana desa tidak selalu disampaikan secara terbuka kepada
masyarakat, sehingga mengurangi tingkat kepercayaan dan partisipasi mereka.
Kompetensi aparat desa berperan penting dalam menentukan keberhasilan pengelolaan
dana desa. Namun, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan yang
tidak relevan dan kurangnya pelatihan menjadi hambatan utama dalam memastikan
pengelolaan yang efektif. Aparat desa yang telah mendapatkan pelatihan menunjukkan kinerja
yang lebih baik, tetapi pelatihan yang berkesinambungan masih sangat dibutuhkan.
Dari perspektif teori stewardship, hasil penelitian ini mendukung pandangan bahwa
aparat desa sebagai steward bertanggung jawab atas pengelolaan dana desa demi kesejahteraan
masyarakat sebagai principal. Ketiga faktor utama akuntabilitas, transparansi, dan kompetensi
merupakan elemen kunci dalam menciptakan tata kelola pemerintahan desa yang baik.
Dengan meningkatkan kualitas ketiga aspek tersebut melalui pelatihan, pendampingan teknis,
dan peningkatan komunikasi, pemerintah desa dapat mencapai pengelolaan dana desa yang
lebih akuntabel, transparan, dan efektif. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan
kepercayaan masyarakat dan mendorong pembangunan desa yang berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Adi, F. (2012). Pengantar Kesejahteraan Sosial. PT Refika Aditama.
Aldino, G. R. (2013). Pengaruh Teknologi Informasi (Pendekatan Technology Acceptance Model) dan
E-Filling terhadap User Satisfaction (Survei pada Wajib Pajak Badan di Wilayah KPP Madya
Bandung) Undergraduate Thesis. Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Ardiyanti, R. (2019). Pengaruh Transparansi, Akuntabilitas, Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan
Dana Desa terhadap Pemberdayaan Masyarakat pada Desa Woro Kecamatan Kragan Kabupaten
Rembang Undergraduate Thesis. Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Emylia, L., & Mildawati, T. (2019). Pengaruh Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Desa, Kebijakan
Desa, Kelembagaan Desa terhadap Kesejahteraan Masyarakat. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi,
8(6), 1-18.
Ghozali, I. (2018). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 25. Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.
Hadi, M. N. (2019). Program Aplikasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Menggunakan PHP 5
Kantor Desa Tamiyang. Perpustakaan Akuntansipoliban.
Julianto, I. P., & Dewi, G. A. K. R. S. (2019). Pengaruh Partisipasi Masyarakat Penggunaan Sistem
Keuangan Desa, Kompetensi Pendamping Desa serta Komitmen Pemerintah Daerah terhadap
Keberhasilan Pengelolaan Dana Desa. Jurnal Ilmiah Akuntansi, 4(1), 24-42.
Kuswanti, A. P. E., & Kurnia. (2020). Pengaruh Akuntabilitas, Transparansi ADD, Kebijakan Desa,
dan Partisipasi Masyarakat terhadap Kesejahteraan Masyarakat. Jurnal Ilmu dan Riset
Akuntansi, 9(2), 1-22.
Mardiasmo. (2002). Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Penerbit Andi.
Nafidah, L. N., & Suryaningtyas, M. (2015). Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa dalam
Upaya Meningkatkan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Bisnis dan
Manajemen Islam, 3(1), 213-239.
Saputra, H., Gayatri, I. A. M. E. M., & Soleh, A. (2020). Pengaruh Perencanaan Sumber Daya Manusia,
145
Rekrutmen dan Penempatan terhadap Kinerja Karyawan Kantor Perwakilan Bank Indonesia
Provinsi Bengkulu. Jurnal Inovasi Bisnis dan Manajemen Indonesia, 3(2), 187-197.
Sengaji, I., & Asyik, N. F. (2018). Pengaruh Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Alokasi Dana Desa
(ADD) dan Kebijakan Desa terhadap Pembangunan Desa. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi, 7(3).
Setiadi, N. J. (2013). Perilaku Konsumen (Edisi Revisi). Kencana Prenada Media Group.
Siregar, L., Agustini, T., & Dian. (2020). Pengaruh Fee Audit, Audit Tenure dan Rotasi Audit terhadap
Kualitas Audit di Bursa Efek Indonesia. Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen,
Bisnis dan Akuntansi, 8(1).
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alphabet.
Yupita, L., & Juita, V. (2020). Pengaruh Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Alokasi dan Desa
Kebijakan Desa dan Kelembagaan Desa terhadap Kesejahteraan Masyarakat pada Nagari Sungai
Tanang Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam. Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis, 11(1),
56-64.
Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in
Psychology, 3(2), 77–101
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches.
Thousand Oaks, CA: SAGE.
Mada, S., et al. (2017). Pentingnya kompetensi dalam pengelolaan dana desa.
146