Copyright © Hadijah Rani 2020
Jurnal Konsepsi, Vol.9, No. 2, Agustus 2020
Impelementasi Model Pembelajaran Inquiry dalam
Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran
Sejarah Kebudayaan Islam di MTsN Palopo
Hadijah Rani
Guru Sejarah Kebudayaan Islam MTsN Palopo, Indonesia
[Link]@[Link]
Abstract
Penelitian ini adalah peneilitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan pretasi
belajar siswa pada mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dengan menggunakan
model pembelajaran Inqury. Kegiatan penelitian ini menggunakan dua siklus. Penelitian ini
dilatarbelakangi dengan berbagai problem terkait pembelajaran SKI di MTsN Palopo. Hasil
observasi yang dilakukan peneliti, ditemukan problem yakni minimnya motivasi belajar siswa
terhadap mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam serta minimnyan penggunaan model-
model pembelajaran guru SKI. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai rata-rata pada siklus 1
adalah 75 dan nilai rata-rata pada siklus 2 sebesar 85. Untuk persentase ketuntatasan
klasikal pada siklus 1 sebesar 59% dan persentase ketuntatasan klasikal pada siklus 2
sebesar 81%. Sedangkan untuk kriteria pada siklus 1 belum berhasil dan kriteria pada
siklus 2 berhasil. Berdasarkan standar ketuntasan klasikal yakni >80%, sehingga dapat
disimpulkan bahwa model inquiry yang digunakan dalam penelitian ini dapat dikatakan
berhasil dalam meningkatkan prestasi belajar siswa di MTsN Palopo.
Keywords: Pembelajaran Inqury, Pretasi Belajar, Sejarah Kebudayaan Islam
Introduction
Amanat pendidikan merupakan tanggung jawab semua pihak yang terlibat dalam dunia
pendidikan, terutama bagi para pendidik yang memiliki tanggung jawab dan peran besar bagi
keberlangsungan proses pembelajaran di kelas. Pendidik dalam proses pembelajaran di kelas,
terutama pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, harus mampu menghadirkan pembelajaran
yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM) agar proses pembelajaran tidak
terkesan monoton dan membosankan bagi siswa (Sarkati, 2015).
Pendidikan secara umum mempunyai arti sebagai proses dalam mengembangkan
diri setiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupannya. Bahkan dalam
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional
(Undang-Undang Sisdiknas) bab 2 pasal 3 dikemukakan bahwa: “Pendidikan Nasional
bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam
rangka mencerdasakan kehidupan bangsa.” (UU Sikdiknas, 2004 dan Arifuddin, 2018)
[Link]
82
Jurnal Konsepsi, Vol.9, No. 2, Agustus 2020
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx
Tututan terhadap adanya peningkatan mutu pendidikan menuntut guru sebagai agen
pembelajaran harus mampu menghadirkan proses pembelajaran yang bermutu pula. Tututan
tersebut tentu saja harus dibarengi dengan kemampuan dan kesanggupan guru dalam
menerapkan berbagai model, metode, dan teknik pembelajaran yang akan digunakan (Musgamy,
2017).
Para guru diharapkan dapat belajar sepanjang hayat seirama dengan pengetahuan yang
mereka perlukan untuk mendukung pekerjaannya serta menghadapi tantangan dan kemajuan
sains dan teknologi. Guru tidak diharuskan memiliki semua pengetahuan, tetapi hendaknya
memiliki pengetahuan yang cukup sesuai dengan yang mereka perlukan, di mana
memperolehnya, dan bagaimana memaknainya (Rahayu, 2019).
Islam sebagai agama yang menghargai fitrah manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi
luar biasa, sangat menghargai adanya usaha sadar yang dilakukan dalam memperoleh
seperangkat pengetahuan (Mawarti, 2015). Sebagai salah satu pola pendidikan, model
pembelajaran yang praktikkan Rasulullah bertujuan membentuk manusia yang produktif dan
dapat berkontribusi terhadap lahirnya perabadan keilmuan. Perdaban ilmu yang tidak berhenti
pada level pengetahuan tetapi dapat diwujudkan dalam kehidupan keseharian. Model pendidikan
tersebut pada gilirannya mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang saleh. Dengan kata lain,
pendidikan yang mencerminkan perilaku kenabian, dalam hal ini adalah nabi Muhammad saw.
(Arifuddin, 2019).
Dalam proses pembelajaran seorang siswa dituntut untuk berperan aktif dalam mencari
sendiri pengetahuan atau materi pelajaran yang belum diketahuinya dengan cara mengajukan
pertanyaan (Somantri, 2017). Peran aktif siswa dalam mencari tahu sendiri pengetahuan yang
belum dikuasainya dalam dunia pendidikan, khususnya dalam penerapan model pembelajaran
di dalam kelas lumrah disebut dengan model pembelajaran inquiry. Gulo (2010) mengatakan
bahwa inquiry merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal
seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis,
sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Sasaran
utama kegiatan pembelajaran inquiry adalah a) keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses
kegiatan belajar b) keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran
c) mengembangkan sikap percaya diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inquiry.
Gulo (2010) juga menyatakan bahwa inquiry tidak hanya mengembangkan kemampuan
intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan
keterampilan inquiry merupakan suatu proses yang bermula dari merumuskan masalah,
merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data dan membuat kesimpulan.
Tujuan pembelajaran inkuiri yang lebih penting adalah menyiapkan anak didik untuk (1)
mampu memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari dengan menggu-
nakan konsep-konsep sains yang telah mereka pelajari, (2) mampu mengambil keputusan
yang tepat dengan menggunakan konsep-konsep il-miah, dan (3) mempunyai sikap ilmiah
dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehingga memungkinkan mereka untuk berpikir
dan bertindak secara ilmiah (Agustanti, 2012).
Model pembelajaran inquiry merupakan model pembelajaran yang membimbing siswa untuk
memperoleh dan mendapatkan informasi serta mencari jawaban atau memecahkan masalah
terhadap pertanyaan yang dirumuskan. Dalam model pembelajaran inquiry siswa terlibat secara
mental dan fisik untuk memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru (Nuraini et al.,
2016).
83
Jurnal Konsepsi, Vol.9, No. 2, Agustus 2020
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx
Impelementasi pembelajaran SKI di MTsN Palopo yang dilaksanakan selama ini masih belum
optimal, penerapan pembelajaran masih menggunakan model pembelejaran lama, pembelajaran
yang masih berifat pasif, guru hanya membagikan materi bacaan sebagai tuntutan kurikulum,
guru masih dominan dalam kegiatan pembelajaran dan siswa kurang dilibatkan dalam proses
pembelajaran. Kegiatan pembelajaran masih menggunakan model konvensional seperti metode
ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Sehingga kegiatan pembelajaran yang belangsung
di kelas, guru sibuk menjeskan dan siswa sibuk berbicara pada saat proses pembelajaran
berlangsung.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis melakukan penelitian “Implementasi Model
Pembelajaran Inqury dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam di MTsN Palopo”.
Method
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian tidakan kelas yang
dilaksanakan di MTsN Palopo. Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif yang bertujuan
mengambarkan fenomena situasi dan keadaan sosial (Slameto, 2015). Alasan digunakan
deskriptif eksploratif ini agar peneliti dapat menganalisis peristiwa dan pengalaman yang dilihat,
didengar serta dicatat secara lengkap dan seobjektif mungkin sehingga data yang diperoleh
adalah data yang valid terkait factor yang diselidiki. Dalam hal ini peneliti ingin mengetahui
peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran Inquiry.
Results and Discussion
Siklus I
1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini, terdapat beberapa kegiatan yakni: 1) Melakukan analisis
kurikulum terhadap kompentensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa; 2) Membuat
perencanaan model pembelajaran inquiry; 3) Menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan
dalam proses pembelajaran; 4) Membuat form lembar observasi untuk mengamati aktivitas
siswa selama proses pembelajaran berlangsung; 5) Membuat lembar kerja siswa; 6) Membuat
soal evaluasi sebagai bentuk tes untuk mengetahui kemajuan pembelajaran siswa.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini, tindakan yang dilakukan adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai
dengan rencana sebagai direncanana dalam siklus I dengan menerapkan model pembelajaran
inquiry.
Kegiatan pembelajaran dilaksanakan yang diawali oleh guru dengan mengajak siswa berdoa
secara bersama-sama, melakukan absensi, dan menyampaikan peraturan yang akan
dilaksanakan selama peruses pembelajaran. Selanjutnya guru menyiapkan media yang akan
digunakan yaitu slide power point untuk menjelaskan langkah-langkah kegiatan pembelajaran
model inquiry. Setelah itu guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok dan guru meminta
siswa duduk sesuai kelompoknya masing-masing kemudian guru membagikan lembar kerja
kepada siswa.
84
Jurnal Konsepsi, Vol.9, No. 2, Agustus 2020
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx
Pada kegiatan pembelajaran inti, guru menayankan video tentang fenomena penyebaran
Islam di masa jahiliyah. Setelah siswa mengamati video tersebut, guru mananyakan pendapat
siswa dan meninta mengemukakan pendapat siswa terkait infomasi yang diperoleh dari video
tersebut. Setelah itu, guru bersama siswa mencoba mengidentifikasi peroblema yang dihadapi
terhadap penyebaran Islam di masa jahiliyah dan membimbing siswa untuk menemukan
hipotesis terkait masalah tersebut. Pada kegiatan ini, guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk saling membantu dalam memberikan pemahaman kepada siswa yang belum
memahami, sehingga terjadi intraksi guru dan siswa, siswa dengan siswa lainnya.
Setelah indentifikasi masalah dan menemukan hipotesis, maka guru meminta siswa untuk
mengumpulkan data sebanyak mungkin terkait strategi dakwa Rasulullah di masa jahiliyah
sebagai bukti kebenaran hipotesis yang telah dirumuskan.
Setelah siswa menemukan data, maka guru meminta siswa kembali duduk bersama
kelompoknya masing-masing untuk mendiskusikan materi strategi dakwa Rasulullah di masa
jahiliyah serta memilah data yang sesuai untuk membuktikan hipotesis dan menjawab
pertanyaan yang ada dalam lembar kerja siswa.
Kegiatan selanjutnya guru meminta siswa membuat daftar fokus mengenai substansi strategi
dakwa Rasulullah di masa jahiliyah dengan menggunakan alat dan bahan yang telah disediakan.
Setelah tugas siswa diselesaikan sesuai permintaan dalam lembar kerja siswa, masing-masing
kelompok diminta mengutus perwakilannya untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
masing-masing.
Pada kegiatan penutup, guru dan siswa menyimpulkan materi dan melakukan evaluasi
pembelajaran untuk memperoleh hasil belajar siswa terkait materi pembelajaran yang telah
dilakukan. Selanjutnya guru menutup pembelajaran dengan berdoa.
3. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa. Pengamatan dilakukan mulai dari awal
proses pembelajaran sampai akhir pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang
telah disediakan sebelumnya. Hasil observasi ini selanjutnya akan dianalisis menggunakan
rumus yang sudah ditentukan.
Adapun gambaran hasil observasi terhadap masing-masing aktivitas sebagai berikut.
Observasi aktivitas siswa
Aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung dapat diketahui dari hasil lembar observasi
yang diisi oleh observer. Adapun hasil observasi akan dituankan pada tabel berikut:
No Kategori Jumlah
1 Indikator 7
2 skor maksimal 28
3 skor perolehan 19
4 Nilai aktivitas siswa 68%
Kriteria Cukup Aktif
Dari tabel tersebut, maka diperoleh nilai gambaran aktivitas siswa pada siklus 1 yakni 68%
sehingga diperoleh keriteria cukup aktif.
Hasil evaluasi siklus I
85
Jurnal Konsepsi, Vol.9, No. 2, Agustus 2020
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx
Setelah kegiatan proses pembelajaran, maka kegiatan selanjutnya adalah memberikan tes
evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa. Evaluasi siklus 1 diikuti sebagai 29 siswa dari 32
siswa. Tes evaluasi berjumlah soal 10 dalam bentuk pilihan ganda.
Adapun gambaran dari hasil tes evaluasi pada siklus 1 diuraikan dalam bentuk tabel berikut:
No Kategori Jumlah
1 Siswa 20
2 Siswa yang hadir 20
3 Siswa yang tuntas 11
4 Siswa yang tidak tuntas 9
5 Nilai tertinggi 90
6 Nilai terendah 50
7 Jumlah skor seluruh siswa 1500
8 Nilai rata-rata 75
9 Pesentase ketuntasan Klasikal 59%
Berdasarkan pada tabel tersebut, maka dapat dipahami bahwa persentase ketuntasan siswa
yakni 59%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketuntasan siswa belum memenuhi standar
ketuntasan klasikal yakni >80%, sehingga peneliti menganggap perlu untuk melanjutkan
penelitian agar mencapai ketuntasan klasikal yang sudah ditentutakan.
4. Refleksi
Kegiatan refleksi dilaksanakan setelah proses pembelajaran dan pengamatan dilakukan
terhadap siswa pada siklus 1. Pada kegiatan refleksi ini, guru mencatat hasil kekurangan-
kekurangan dalam prosesn pembelajaran.
Dari hasil refleksi siklus 1 ini, guru menemukan ketidaktuntasan maka dilanjutkan pada siklus
2. Untuk itu, guru berupaya melakukan perbaikan pada siklus berikutnya sesuai dengan
kekurangan-kekurangan yang ada, seperti pada hasil refleksi di atas.
Siklus II
1. Perencanaan
Perencanaan pada siklus 2 ini dilaksanakan dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus
I. Pada tahap perencanaan ini, terdapat beberapa kegiatan yakni: 1) Melakukan analisis kurikulum
terhadap kompentensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa; 2) Membuat perencanaan
model pembelajaran inquiry; 3) Menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan dalam proses
pembelajaran; 4) Membuat form lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa selama
proses pembelajaran berlangsung; 5) Membuat lembar kerja siswa; 6) Membuat soal evaluasi
sebagai bentuk tes untuk mengetahui kemajuan pembelajaran siswa.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pada dasarnya pelaksanaan pembelajaran pada siklus 2 tidak jauh berbeda dengan siklus 1.
Pembelajaran siklus 2 ini guru dan siswa sudah mulai terbiasa dengan penerapan model
pembelajaran inquiry. Tindakan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan kegiatan
belajar di kelas sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran siklus 2 yang telah dibuat
berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1 dengan menerapkan model pembelajaran inquiry.
86
Jurnal Konsepsi, Vol.9, No. 2, Agustus 2020
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx
Kegiatan pembelajaran dilaksanakan yang diawali oleh guru dengan mengajak siswa berdoa
secara bersama-sama, melakukan absensi, dan menyampaikan peraturan yang akan
dilaksanakan selama peruses pembelajaran. Selanjutnya guru menyiapkan media yang akan
digunakan yaitu slide power point untuk menjelaskan langkah-langkah kegiatan pembelajaran
model inquiry. Setelah itu guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok dan guru meminta
siswa duduk sesuai kelompoknya masing-masing kemudian guru membagikan lembar kerja
kepada siswa.
Pada kegiatan pembelajaran inti, guru menayankan video tentang fenomena penyebaran
Islam di masa jahiliyah. Setelah siswa mengamati video tersebut, guru mananyakan pendapat
siswa dan meninta mengemukakan pendapat siswa terkait infomasi yang diperoleh dari video
tersebut. Setelah itu, guru bersama siswa mencoba mengidentifikasi peroblema yang dihadapi
terhadap penyebaran Islam di masa jahiliyah dan membimbing siswa untuk menemukan
hipotesis terkait masalah tersebut. Pada kegiatan ini, guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk saling membantu dalam memberikan pemahaman kepada siswa yang belum
memahami, sehingga terjadi intraksi guru dan siswa, siswa dengan siswa lainnya.
Setelah indentifikasi masalah dan menemukan hipotesis, maka guru meminta siswa untuk
mengumpulkan data sebanyak mungkin terkait strategi dakwa Rasulullah di masa jahiliyah
sebagai bukti kebenaran hipotesis yang telah dirumuskan.
Setelah siswa menemukan data, maka guru meminta siswa kembali duduk bersama
kelompoknya masing-masing untuk mendiskusikan materi strategi dakwa Rasulullah di masa
jahiliyah serta memilah data yang sesuai untuk membuktikan hipotesis dan menjawab
pertanyaan yang ada dalam lembar kerja siswa.
Kegiatan selanjutnya guru meminta siswa membuat daftar fokus mengenai substansi strategi
dakwa Rasulullah di masa jahiliyah dengan menggunakan alat dan bahan yang telah disediakan.
Setelah tugas siswa diselesaikan sesuai permintaan dalam lembar kerja siswa, masing-masing
kelompok diminta mengutus perwakilannya untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
masing-masing.
Pada kegiatan penutup, guru dan siswa menyimpulkan materi dan melakukan evaluasi
pembelajaran untuk memperoleh hasil belajar siswa terkait materi pembelajaran yang telah
dilakukan. Selanjutnya guru menutup pembelajaran dengan berdoa.
3. Observasi
Observasi aktivitas siswa
Aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung dapat diketahui dari hasil lembar observasi
yang diisi oleh observer. Adapun hasil observasi akan dituankan pada tabel berikut:
No Kategori Jumlah
1 indikator 7
2 skor maksimal 28
3 Jumlah skor perolehan 24
4 Nilai aktivitas siswa 86%
Nilai rata-rata 3,4%
Kriteria Aktif
Dari tabel tersebut, maka diperoleh nilai gambaran aktivitas siswa pada siklus 2 mengalami
peningkatan dari siklus 1. Pada siklus 1 nilai rata-rata aktivitas siswa yakni 68% dengan criteria
cukup aktif. Sedangkan pada siklus 2 nilai aktivitas siswa yakni 86% dengan kriteri aktif.
87
Jurnal Konsepsi, Vol.9, No. 2, Agustus 2020
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx
Hasil evaluasi siklus II
Setelah kegiatan proses pembelajaran, maka kegiatan selanjutnya adalah memberikan
evaluasi untuk mengukur ketuntasan hasil belajar siswa setelah melakukan proses pembelajaran
dengan menggunakan model inquiry. Pada evaluasi siklus 2 diikuti sebagai 31 siswa. Evaluasi
pada tahap siklus 2 juga menggukana tes tulis berupa soal pilihan ganda yang berjumlah soal
10, seperti yang telah dilakukan pada tahap siklus I. Adapun gambaran dari hasil evaluasi pada
siklus 2 diuraikan dalam bentuk tabel berikut:
No Kategori Jumlah
1 Siswa 20
2 Siswa yang hadir 20
3 Siswa yang Tuntas 17
4 Siswa yang Tidak Tuntas 3
5 Nilai Tertinggi 100
6 Nilai Terendah 70
7 Jumlah Skor seluruh siswa 1700
8 Nilai Rata-Rata 85
9 Persentase Ketuntasan Klasikal 81%
Berdasarkan pada tabel tersebut, maka nilai rata-rata siswa kelas IX MTsN Palopo pada mata
pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam pada siklus sebesar 85 dengan persentase ketutuntasan
klasikal 81%. Hal tersebut menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan
dari hasil siklus 1. Standar KKM mata pelajaran SKI yakni >80 dengan presentase ketuntasan
klasikal >81%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian telah berhasil.
4. Refleksi
Setelah melaksanakan proses pembelajaran dan kegiatan evaluasi tes hasil belajar pada siklus
2, maka tahap selanjunya adalah melakukan refleksi. Adapun hasil refleksi di atas dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model inquiry dapat atau mampu
meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran SKI di MTsN Palopo. Dengan hasil
yang diperoleh, peneliti tidak perlu untuk melanjutkan penelitian pada siklus berikutnya .
Conclusion
Penelitian tindakan kelas ini, dilaksanakan dengan beberapa tahap yaitu tahap perencanaan,
pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi untuk setiap siklusnya. Siklus 1 dan siklus 2
diadakan satu pertemuan pada proses pembelajaran, maka selanjutnya adalah penilaian hasil
belajar.
Berdasarkan dari hasil tes evaluasi belajar siswa, maka nilai rata-rata pada siklus 1 adalah 75
dan nilai rata-rata pada siklus 2 sebesar 85. Sehingga persentase ketuntatasan klasikal pada
siklus 1 sebesar 59% dan persentase ketuntatasan klasikal pada siklus 2 sebesar 81%. Dapat
disimpulkan bahwa kriteria pada siklus 1 belum berhasil dan criteria pada siklus 2 berhasil.
Berdasarkan standar ketuntasan klasikal yakni >80%, sehingga dapat disimpulkan bahwa model
inquiry yang digunakan peneliti dalam penelitian ini dapat dikatakan berhasil dalam meningkatkan
prestasi belajar siswa pada mata pelajaran SKI di MTsN Palopo.
88
Jurnal Konsepsi, Vol.9, No. 2, Agustus 2020
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx
References
Agustanti, T. H. (2012). Implementasi metode inquiry untuk meningkatkan hasil belajar
biologi. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 1(1).
Akbar, F., & Sulkifli, S. (2021). Integrating Character Values in Junior Secondary Student Writing
Learning. Jurnal Konsepsi, 10(1), 1-9.
Arifuddin, A. (2018). Pengaruh Profesionalitas Guru Terhadap Perkembangan Potensi Belajar
Siswa Dalam Mata Pelajaran Akidah Akhlak Di Madrasah Aliyah Al-Ikhlas Ujung. AL-
QAYYIMAH: Jurnal Pendidikan Islam, 1(1).
Arifuddin, A. (2019). Konsep Pendidikan Profetik (Melacak Visi Kenabian Dalam
Pendidikan). Jurnal MUDARRISUNA: Media Kajian Pendidikan Agama Islam, 9(2), 319-
338.
Aswar, N. (2012). Peningkatan Kemampuan Membaca melalui Teknik Ecola (Extending Concept
Through Language Activities) Siswa Kelas XII SMK Kesehatan Plus Prima Mandiri
Sejahtera Makassar (Doctoral dissertation, PPS).
Aswar, N. (2012). Peningkatan Kemampuan Membaca melalui Teknik Ecola (Extending Concept
Through Language Activities) Siswa Kelas XII SMK Kesehatan Plus Prima Mandiri
Sejahtera Makassar (Doctoral dissertation, PPS).
Gaol, D. K. L., & Sirait, M. (2014). Pengaruh model pembelajaran inquiry training menggunakan
media powerpoint terhadap hasil belajar siswa. INPAFI (Inovasi Pembelajaran
Fisika), 2(2).
Kaso, N., Aswar, N., Firman, F., & Ilham, D. (2019). The Relationship between Principal
Leadership and Teacher Performance with Student Characteristics Based on Local
Culture in Senior High Schools. Kontigensi: Jurnal Ilmiah Manajemen, 7(2), 87-98.
Mahmud, & Tedi Priatna. (2018). Penelitian Tindakan Kelas Teori dan Praktik. In International
Journal of Physiology (Vol. 6, Number 1).
[Link] BUKU PTK PENELITIAN [Link]
Mawarti, S. (2015). Memahami Hakikat Pembelajaran Dalam Islam Sebuah Model-Model dan
Metode. MADANIA: Jurnal-Jurnal Keislaman, 49–74.
Mirnawati, M., & Firman, F. (2019). Penerapan Teknik Clustering Dalam Mengembangkan
Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi Siswa Kelas IV MI Pesanten Datuk Sulaiman
Palopo. Jurnal Studi Guru Dan Pembelajaran, 2(2), 165-177.
Musgamy, A. (2017). Quantum Learning Sebagai Proses Pembelajaran Bahasa Arab Aktif,
Inovatif, Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan. Al Daulah : Jurnal Hukum Pidana dan
Ketatanegaraan, 6(1), 145–155. [Link]
Nuraini, N., Tindangen, M., & Maasawet, E. (2016). Analisis Permasalahan Guru Terkait
Perangkat Pembelajaran Berbasis Model Inquiry Dan Permasalahan Siswa Terkait
Kemampuan Pemecahan Masalah Dalam Pembelajaran Biologi Di SMA. Jurnal
Pendidikan - Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 1(10), 2066–2070.
[Link]
Nurdin, K., Muh, H. S., & Muhammad, M. H. (2019). The implementation of inquiry-discovery
learning. IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and
Literature, 7(1).
Rahayu, G. D. S., & Firmansyah, D. (2019). Pengembangan pembelajaran inovatif berbasis
pendampingan bagi guru sekolah dasar. Abdimas Siliwangi, 1(1), 17-25.
Republik Indonesia, UU RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan [Link]:
Fokus Media, 2009.
89
Jurnal Konsepsi, Vol.9, No. 2, Agustus 2020
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx
Slameto, S. (2015). Implementasi Penelitian Tindakan Kelas. Scholaria: Jurnal Pendidikan dan
Kebudayaan, 5(3), 47. [Link]
Somantri, A. (2017). Implementasi Al-Qur’an Surat An-Nahl Ayat 125 Sebagai Metode
Pendidikan Agama Islam (Studi Analisis al-Quran Surah An-Nahl Ayat 125). Wahana
Karya Ilmiah, 2(01).[Link] view/1036
Surtikanti, H., Adisendjaya, Y. H., & Fitriyani, A. (2015). Pola/Cara Belajar Penerapan Metode
Penemuan (Discovery And Inquiry) Pada Kegiatan Laboratorium Biokimia Di Jurusan
Pendidikan Biologi. Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, 2(1),
41. [Link]
90