0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan6 halaman

Literasi dan Keterampilan Abad 21 di Indonesia

Dokumen ini membahas tantangan literasi di Indonesia, terutama terkait hasil rendah dalam pengukuran PISA 2018 yang menunjukkan penurunan kemampuan membaca, matematika, dan sains. Ditekankan pentingnya keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis dan kolaborasi, dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Selain itu, diperlukan sinergi antara kebijakan pemerintah dan praktik di lapangan untuk memperbaiki kondisi literasi dan mempersiapkan generasi yang kompetitif di era global.

Diunggah oleh

Ardiansyah Dian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan6 halaman

Literasi dan Keterampilan Abad 21 di Indonesia

Dokumen ini membahas tantangan literasi di Indonesia, terutama terkait hasil rendah dalam pengukuran PISA 2018 yang menunjukkan penurunan kemampuan membaca, matematika, dan sains. Ditekankan pentingnya keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis dan kolaborasi, dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Selain itu, diperlukan sinergi antara kebijakan pemerintah dan praktik di lapangan untuk memperbaiki kondisi literasi dan mempersiapkan generasi yang kompetitif di era global.

Diunggah oleh

Ardiansyah Dian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROCEEDING The 4th International Conference On Multiliteracy and Higher Order

Thinking Skills – ISBN: 978-623-6535-44-8

PENDIDIKAN LITERASI, HOTS, DAN KETERAMPILAN ABAD KE-21

Dadang Sunendar
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra
Universitas Pendidikan Indonesia
dadangsunendar@[Link]

Abstrak

Pembicaraan tentang literasi di tanah air bergaung keras satu dekade terakhir
dikarenakan isu ini amat erat kaitannya dengan kemampuan dasar peserta didik
yang di dalamnya terdapat literasi keluarga dan literasi sekolah. Kecemasan
pemerintah biasanya terjadi tiga tahun sekali terkait literasi ini seiring
dikeluarkannya hasil pengukuran PISA tiga materi uji yang dilaksanakan oleh
OECD, yaitu kemampuan membaca, matematika, dan sains kepada peserta didik
kelas X secara internasional. Turunnya nilai PISA Indonesia pada tahun 2018
mengundang kembali pertanyaan tentang posisi pendidikan literasi di Indonesia
dan kesiapan kita memasuki abad ke-21 yang sangat kompetitif. Bagaimana
kondisi ini akan diikhtiarkan untuk diperbaiki karena pada saat bersamaan kita
bersama memasuki abad yang menuntut keterampilan tinggi.

PENDAHULUAN
Memasuki abad ke-21 kita dihadapkan pada berbagai tantangan baru yang
menambah daftar panjang isu yang harus dikembangkan dan dipecahkan oleh
para pengajar, pemelajar, peneliti dan kelompok-kelompok keilmuan lainnya.
Persoalan literasi masih menjadi topik populer dan prioritas beragam kepentingan
dikarenakan posisinya yang sangat sentral dan menentukan.
Riuhnya pembicaraan tentang kecakapan cara berpikir aras rendah (LOTS)
dan kecakapan cara berpikir aras tinggi (HOTS) menghiasi banyak ruang diskusi,
seminar, webinar, bahkan seminar tingkat internasional yang menegaskan bahwa
isu ini sangat relevan bagi masyarakat Indonesia yang masih mendamba
menaiknya rapor literasi yang diselenggarakan oleh Organisation for Co-operation
and Development (OECD). Hasil yang dirilis OECD pada awal Desember 2019
menunjukkan nilai PISA Indonesia tahun 2018 masih rendah karena berada pada
urutan 74 dari 79 negara yang disurvei.
Dengan kondisi hasil literasi di atas kita memasuki abad ke-21 yang
menuntut keterampilan-keterampilan tingkat tinggi. Keterampilan-keterampilan
abad ke-21 mengkristal pada empat keterampilan utama, yaitu kemampuan
berpikir kritis (critical thinking), bekerja sama (cooperation), berkomunikasi
(communication), dan berkreasi (creation). Keempat variabel kecakapan ini
diasumsikan akan mewarnai persaingan global dan akan menyentuh persoalan
pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Bagaimana kemampuan literasi dan

1
PROCEEDING The 4th International Conference On Multiliteracy and Higher Order
Thinking Skills – ISBN: 978-623-6535-44-8

upaya mendongkrak kecakapan aras tinggi bisa bersinergi dalam memasuki abad
XXI yang penuh tantangan?

Darurat Literasi di Indonesia


Ada banyak kajian literasi beberapa tahun terakhir yang menunjukkan hasil
beragam, namun sebagian besar mengarah pada masih rendahnya tingkat literasi
Indonesia. Kajian utama disajikan oleh OECD yang selama ini menjadi rujukan
masyarakat internasional dalam bidang literasi. Dari data PISA tahun 2018 yang
mengukur tiga kemampuan, yaitu membaca, matematika, dan sains para siswa
kelas X, nilai Indonesia adalah 371 untuk kemampuan membaca, 379 untuk
kemampuan matematika, dan 396 untuk kemampuan sains. Angka pencapaian ini
turun cukup drastis bila dibandingkan dengan hasil PISA tahun 2015. Nilai
Membaca turun 26 poin dari semula 397, nilai matematika turun 7 poin dari
semula 391, dan nilai sains juga turun 7 poin dari semula 396. Kita harus terus
melakukan evaluasi menyangkut penurunan kemampuan para peserta didik
dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Apa yang menyebabkan penurunan drastis
ini? Apakah ada perubahan kebijakan nasional yang terkait ini? Apakah kurikulum
2013 sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman? Rentetan pertanyaan bergema
melihat hasil PISA tahun 2018 dan banyak jawaban sementara yang masih perlu
dikaji oleh tim yang memang secara khusus mendalami hasil PISA. Rata-rata
negara maju memperoleh nilai PISA di atas 500 dari rentang 200-800 pengukuran
PISA.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ditunjuk sebagai perwakilan
pemerintah untuk mengoordinasikan semua persiapan dan pelaksanaan PISA di
Indonesia yang diikuti oleh 79 negara pada tahun 2018. Pengkajian dilakukan
dengan membandingkan juga dengan negara-negara lain seperti Malaysia,
Singapura, China, Thailand, dan Jepang. China menduduki peringkat terbaik
dunia dengan nilai 555 untuk kemampuan membaca, 591 untuk matematika, dan
590 untuk kemampuan sains. Singapura menduduki peringkat kedua dengan nilai
549 untuk membaca, 569 untuk matematika, dan 551 untuk sains. Jepang meraih
nilai 504 untuk membaca, 527 untuk matematika, dan 529 untuk sains. Malaysia
meraih nilai 415 untuk kemampuan membaca, 440 untuk matematika, dan 438
untuk sains. Sedangkan Thailand memperoleh nilai 393 untuk membaca, 419
untuk matematika, dan 426 untuk sains.
Untuk PISA 2018 Indonesia diwakili oleh peserta didik dari dua kota
berbeda, yaitu Jakarta dan Yogyakarta. Dari beberapa riset lainnya, kedua kota ini
memiliki kemampuan rata-rata literasi yang lebih baik dibandingkan kota lain. Nilai
kedua kota ini 35 poin lebih tinggi dibandingkan hasil nasional dan sejajar dengan
negara ASEAN lainnya. Artinya, terjadi kesenjangan mutu yang nyata
(Kemendikbud, 2019).
Parameter literasi sebuah negara memang tidak hanya diukur oleh hasil
PISA saja. Banyak riset maupun kajian yang dilakukan untuk „mengimbangi‟ hasil
PISA. Di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2018 dilakukan

2
PROCEEDING The 4th International Conference On Multiliteracy and Higher Order
Thinking Skills – ISBN: 978-623-6535-44-8

kajian setara PISA oleh Badan Penelitian dan Pengembangan yang disebut
dengan Aktivasi Literassi Membaca (Alibaca). Kajian Alibaca menggunakan empat
variabel utama, yakni Dimensi Kecakapan untuk mengukur rata-rata lama sekolah
dan kemampuan melek huruf latin (75,92%). Dimensi Akses untuk variabel
perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, dan perpustakaan komunitas
(23,09%). Dimensi Alternatif untuk mengkaji tenaga pengelola perpustakaan
sekolah, membeli surat kabar, majalah, tabloid (40,49%). Dimensi Budaya untuk
mengukur pembacaan media elektronik/internet, membaca buku dan surat kabar,
mengunjungi perpustakaan dan memanfaatkan taman bacaan (28,50%). Total
rata-rata nilai Alibaca nasional sebesar 37,32%. Dari semua provinsi yang diukur,
24 provinsi memiliki nilai rendah, 9 provinsi dengan peringkat sedang, dan 1
provinsi dengan nilai sangat rendah.
Di samping data-data di atas, cukup banyak optimisme terhadap dunia
literasi di tanah air, seperti kajian yang dilakukan oleh taman-taman bacaan
masyarakat yang tersebar di semua daerah. Mereka turut mengawal literasi
masyarakat secara konkrit yang berhadapan langsung dengan pelaku literasi di
lingkungannya yang semakin hari semakin digemari. Kajian yang dilakukan oleh
Perpustakaan Nasional dan Badan Bahasa pada tahun 2018 juga cukup
menunjukkan geliat literasi yang tidak seburuk hasil PISA.
Pendidikan literasi perlu ditegaskan sebagai bagian tidak terpisahkan dari
semua mata pelajaran di sekolah dan para guru dan peserta didik memiliki
kewajiban memperkaya literasi dalam setiap pertemuan. Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi
Pekerti sebenarnya dapat menjadi landasan kegiatan literasi sekolah secara
masif. Dalam salah satu pasal Permendikbud tersebut dinyatakan kegiatan lima
belas menit membaca sebelum kegian belajar dimulai. Bila seluruh peserta didik
di tanah air melakukan itu dengan baik, maka literasi mereka bisa naik. Dengan
catatan para guru menyiapkan dengan serius bahan-bahan bacaan setiap hari
sesuai kemampuan dan standar yang telah ditetapkan.
Dikarenakan kedaruratan persoalan literasi, pemerintah sebenarnya telah
mengeluarkan beberapa peraturan perundangan yang mencukupi untuk semakin
memperkuat kondisi keliterasian Indonesia. Amanat Undang-Undang Sisdiknas
Nomor 20 Tahun 2003 memiliki kandungan yang mengamanatkan peserta didik
dan pengajar untuk lebih literat. Hal ini diperkuat lagi dengan lahirnya Undang-
Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan yang dalam pasal-
pasalnya menyebutkan kegiatan literasi yang harus dilaksanakan. Dalam RPJMN
2015-2019 ditegaskan pula bahwa kurikulum perlu diselaraskan dengan
keterampilan abad XXI yang ditandai oleh kesadaran global, penumbuhan
kreativitas dan inovasi, serta berbagai macam kemampuan. Permendikbun Nomor
23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti merupakan petunjuk teknis
turunan dari beberapa peraturan perundangan di atasnya. Artinya, secara hukum,
landasan untuk memperkuat kegiatan literasi sangat terbuka lebar.

3
PROCEEDING The 4th International Conference On Multiliteracy and Higher Order
Thinking Skills – ISBN: 978-623-6535-44-8

HOTS dan Problematikanya


Benjamin S. Bloom (1956) memaparkan rentang taksonomi yang terdiri atas
enam verba, yaitu mengingat (remembering), memahami (understanding),
mengaplikasikan (applying), menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating),
dan menciptakan (creating). Keenam kriteria verba membawahkan masing-
masing tiga puluhan verba turunan lainnya yang menggambarkan kegiatan yang
masuk dalam kriteria tersebut. Pembagian ini dilakukan oleh Andrew Churches
untuk menggambarkan kekuatan kriteria masing-masing kelompok verba.
Keenam kriteria verba dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu mengingat
(remembering), memahami (understanding), dan mengaplikasikan (applying) yang
dikategorikan sebagai kelompok kemampuan dengan cara berpikir tingkat rendah
(LOTS), dan selebihnya kelompok menganalisis (analyzing), mengevaluasi
(evaluating), dan menciptakan (creating) masuk dalam kategori kemampuan
berpikir aras tinggi (HOTS).
Hasil PISA 2018 menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik berada
pada posisi 1 sampai 3 atau kelompok yang memiliki kemampuan aras rendah
(LOTS) dan tidak banyak yang bisa memasuki kemampuan posisi 4 sampai 6
(HOTS). Jika dikaitkan dengan Kurikulum 2013, sebetulnya isi kurikulum sudah
diukur dan diuji akan mampu melahirkan peserta didik yang mampu menjawab
pertanyaan tingkat tinggi. Lantas di mana persoalannya? Dari beberapa hasil riset,
proses pembelajaran yang terjadi sering dianggap sebagai salah satu faktor
ketidakberhasilan tersebut. Artinya, faktor guru, siswa, sarana dan prasarana, dan
variabel lain akan ikut memberi kontribusi pada hasil tersebut.
Dari sisi perluasan akses pendidikan sebenarnya Indonesia mengalami
kemajuan yang sangat bagus; pada tahun 2000, hanya 39% peserta didik usia 15
tahun yang bersekolah, sedangkan pada tahun 2018 aksesnya sebesar 85%
untuk usia yang sama. Problematikanya terletak pada akses masuk sekolah untuk
usia yang diuji PISA dan kualitas literasi yang diukur oleh tima PISA. Andreas
Schleicher (2019), Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD mengatakan
:”Setelah sukses besar dalam akses pendidikan, Indonesia sekarang harus fokus
pada kualitas”. Dengan kata lain, kesuksesan mendorong akses masuk
pendidikan tidak boleh melupakan kualitas pendidikannya itu sendiri. Hal inilah
yang menjadi pertimbangan sekaligus problematika pendidikan literasi Indonesia,
karena kekuatan anggaran pendidikan disinyalir masih belum mampu
mengimbangi kebutuhan untuk memperbesar akses pendidikan, sekaligus
meningkatkan kualitas. Tantangan ini harus dijawab oleh para penentu kebijakan
di pusat dan para guru yang menjadi ujung tombak implementasi kebijakan.
Pekerjaan besar bagi semua pemangku kepentingan untuk meningkatkan
kemampuan para peserta didik dari berbagai sisi. Soal-soal berkategori HOTS
yang ada dalam PISA secara nyata gagal dijawab oleh peserta didik. Misalnya,
pertanyaan tentang sebuah teks dengan wacana yang panjang, peta dunia, grafik,
dan lain-lain. Para peserta didik juga tidak terbiasa dengan teks yang panjang dan
kompleks. Para guru tidak bisa lagi memberikan teks yang sederhana secara

4
PROCEEDING The 4th International Conference On Multiliteracy and Higher Order
Thinking Skills – ISBN: 978-623-6535-44-8

terus-menerus. Para siswa harus diperkenalkan dengan teks-teks kompleks dan


penuh argumentasi. Aspek penalaran diperkuat melalui bacaan-bacaan setara
PISA yang sebenarnya diamanatkan dalam Kurikulum 2013.

Literasi dan Keterampilan Abad XXI


Pertemuan para ekonom dunia di Davos, Swiss, pada tahun 2015
memberikan penegasan bahwa literasi dasar harus dikuasai setiap bangsa di
dunia karena merupakan kunci dan pintu gerbang ke level kemajuan berikutnya.
Literasi dasar yang dimaksud terdiri atas enam hal, yaitu literasi baca-tulis, literasi
numerik, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, dan literasi kebudayaan dan
kewargaan. Pemenuhan literasi dasar menjadi target yang tidak mudah untuk
Indonesia bila kita merujuk pada hasil PISA 2018.
Di samping itu, OECD pada tahun 2015 telah melakukan revisi terhadap
terminologi baru kata literasi.
“Without the necessary cognitive skills to compete and thrive in the modern
world economy, many people are unable to contribute to and participate in
development gains. Literacy was once defined in terms of ability to read simple
words. But in today’s interconnected societies, it is far more. It is the capacity to
understand, use and reflect critically on written information, the capacity to reason
mathematically and use mathematical concepts, procedures and tools to explain
and predict situations, and the capacity to think scientifically and to draw evidence-
based conclusions”
Definisi baru di atas memberi makna bahwa kata literasi bukan lagi dimaknai
sebagai kemampuan membaca huruf saja, tapi lebih jauh lagi, dalam masyarakat
yang saling terhubung, literasi adalah kemampuan untuk memahami dan
menggunakan serta merefleksikan secara kritis berbagai informasi tertulis,
kemampuan bernalar secara matematis, menggunakan konsep-konsep, prosedur,
alat-alat matematis untuk menjelaskan dan memprediksi situasi, kemampuan
untuk berpikir secara saintifik serta untuk menggambarkan bukti-bukti
berdasarkan simpulan-simpulan.
Fondasi pertama persoalan literasi adalah kemampuan melek huruf.
Berdasarkan hasil Statistik Kesejahteraan Rakyat yang dilaksanakan oleh Badan
Pusat Statistik pada tahun 2019, buta aksara di Indonesia turun 0,15 % menjadi
1,78 %. Artinya, ada penurunan dibandingkan dengan data tahun 2018 yang
sebesar 1,93 %. Dengan kata lain, Indonesia sudah memiliki modal dasar yang
sangat penting karena sekitar 98 % penduduk negeri ini sudah melek huruf.
Persoalan melek huruf, pengembangan literasi dan multiliterasi memang harus
diatasi dengan menghimpun semua potensi dan memperluas keterlibatan publik
dalam menumbuhkembangkan dan membudayakan literasi di Indonesia. Gerakan
bersama harus dilaksanakan secara menyeluruh dan serentak, mulai dari ranah
keluarga sampai ke sekolah dan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.
Meningkatkan literasi bangsa perlu dibingkai dalam sebuah gerakan nasional
yang terintegrasi, tidak parsial, sendiri-sendiri, atau ditentukan oleh kelompok

5
PROCEEDING The 4th International Conference On Multiliteracy and Higher Order
Thinking Skills – ISBN: 978-623-6535-44-8

tertentu. Gerakan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi
juga tanggung jawab semua pemangku kepentingan termasuk dunia usaha,
perguruan tinggi, organisasi sosial, pegiat literasi, orang tua, dan masyarakat.
Oleh karena itu, pelibatan publik dalam setiap kegiatan literasi menjadi sangat
penting untuk memastikan dampak positif dari gerakan peningkatan daya saing
bangsa (Sunendar, 2020).
Saat memasuki abad ke-21 seyogyanya kita sudah tidak memiliki persoalan
literasi, karena dipastikan kemampuan literasi adalah modal dasar pada
persaingan global. Semua potensi harus difokuskan pada strategi bagaimana
memenangkan pertarungan global melalui unjuk kemampuan dalam
pengembangan berpikir kritis dalam berbagai sektor. Kemampuan berkomunikasi
juga menjadi kunci keberhasilan dalam persaingan antarbangsa melalui
perdagangan, pendidikan, kesehatan, pertahanan, dan lain-lain. Para pengajar
dan peserta didik harus didorong memiliki kreativitas dalam pembelajaran di kelas
maupun secara daring. Terobosan-terobosan sangat penting dilakukan para
pengajar agar peserta didik terbiasa mengikuti diskusi yang komprehensif,
kompleks, dan penuh energi penalaran. Kemampuan berkolaborasi menjadi salah
satu aspek penting persaingan abad ke-21 karena keberhasilan sebuah kerja
sama menentukan pemajuan berbagai bidang. Keempat keterampilan di atas
harus terintegrasi pula dalam kebijakan pelaksanaan pendidikan yang menjadi
fondasi semua keberhasilan.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. (2019). Statistik Kesejahteraan Rakyat. Jakarta : BPS
Statistics Indonesia.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2018). Gerakan Literasi
Nasional. Jakarta : Kemendikbud.
Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan. (2019). Literasi dan Teknologi
dalam Pedagogi Penggunaan Bahasa. Jakarta : Kemendikbud.
Bloom, Benjamin, S. Tersedia : [Link]
taxonomy.
OECD. (2015). Universal Basic Skills : What Countries Stand to Gain. OECD
Publishing.
Programme for International Student Assesment. (2018). The PISA Results 2018.
Tersedia : [Link]
Schwab, Klaus. (2015). The Global Competitiveness Report 2015-2016. Insight
Report. Geneva : World Economic Forum.
Sunendar, Dadang. (2020). Literasi, Teknologi, dan Relevansinya dalam
Pengajaran Bahasa. Bandung.
Warschauer, M., & Meskill, C. (2000). Technology and second language learning.
In J. Rosenthal (Ed.), Handbook of undergraduate second language
education (pp. 303-318). Mahwah, New Jersey: Lawrence Erlbaum.

Anda mungkin juga menyukai