UJIAN TENGAH SEMESTER
METODOLOGI PENELITIAN
(Peta Literature, Problem Statement dan Kajian Literature)
Diajukan untuk memenuhi ujian tengah semester pada mata kuliah Metodologi Penelitian
yang diampu oleh Dr. Ilfiandra, [Link]
Disusun oleh.
Emria Fitri
1707587
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2018
PROBLEM STATEMENT
PSYCHOLOGY WELL BEING REMAJA DARI KELUARGA BERCERAI
Oleh:
Emria Fitri
Perceraian adalah puncak dari penyesuaian perkawinan yang buruk, yang terjadi
apabila antara suami dan istri sudah tidak mampu lagi mencari cara penyelesaian masalah
yang dapat memuaskan kedua belah pihak (Hurlock, 2008). Perceraian merupakan peristiwa
yang dapat memberi dampak psikologis terhadap seluruh anggota keluarga (Setyawan, 2007).
Kondisi keluarga yang penuh konflik dan pertengkaran orang tua yang berakhir dengan
perceraian dapat menurunkan psychology well being remaja (Berk, 2007).
Remaja dengan latar belakang orangtua yang tidak bercerai akan berdampak pada
perkembangan kesehatan psikologis pada remaja dimana hal itu dapat meningkatkan
psychological wellbeing remaja (Demo, David H., & Alan C. Acock, 1996). Hal ini
mendukung hasil penelitian yang dilakukan Glenn & Krammer (1985), bahwa perceraian
orangtua oleh remaja akan mengakibatkan perasaan tidak nyaman, rendahnya self esteem,
dan beberapa karakteristik yang serupa yang akhirnya berujung pada psychological
wellbeing yang rendah. Efek yang dialami remaja tersebut nantinya akan berlanjut hingga
dewasa. Menurut Woofolk (2008, dalam Aminah, 2012) bagaimanapun juga perceraian
adalah sesuatu yang tidak mudah bagi remaja sehingga dibutuhkan proses atau tahapan
yang membantu remaja mencapai tahap penerimaan diri terhadap keputusan orangtua
untuk bercerai. Remaja yang mengalami perceraian orangtua cenderung tidak memiliki
kepuasan dalam hidup, lemahnya self control, dan tidak ada kebahagiaan (Amato &
Sobolowski, 2001). Beberapa hal tersebut yang nantinya akan mempengaruhi tiap dimensi
yang berada pada psychological wellbeing.
Bahkan Hetherington (dalam Stevenson & Black, 1995) mengungkapkan bahwa
setelah 6 tahun pasca perceraian orang tuanya anak akan tumbuh menjadi seseorang
yang merasa kesepian, tidak bahagia, mengalami kecemasan, dan perasaan tidak aman.
Dalam bidang kesehatan, terungkap bahwa anak yang orang tuanya bercerai mempunyai
masalah kesehatan yang lebih banyak dan lebih sering menggunakan pelayanan kesehatan
dibanding dengan anak yang keluarganya utuh (Cafferata & Kasper; Jennings &
Sheldon; Moreno; Worobey & Angel, dalam Stevenson & Black, 1995). Dalam bidang
akademik ditunjukkan melalui penelitian tentang efek perceraian orang tua terhadap
performansi anak di kelas yang menyimpulkan bahwa anak memiliki nilai performansi
yang lebih rendah jika dibandingkan dengan anak yang orang tuanya tidak bercerai. Hal
tersebut disebabkan oleh stres keluarga yang terjadi akibat perceraian sehingga
mempengaruhi performansi anak di sekolah (Stevenson & Black, 1995)
Angka perceraian pasangan di Indonesia terus meningkat drastis. Berdasarkan data
yang dirilis Dirjen Bimas Islam Kementrian Agama pada tahun 2012 menunjukkan jumlah
penduduk Indonesia yang menikah sebanyak dua juta orang, sementara 285.184 perkara
berakhir dengan perceraian. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga
mencatat ada lebih dari 200.000 kasus perceraian di Indonesia setiap tahunnya dan
merupakan angka yang tertinggi seAsia-Pasifik. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag)
Mahkamah Agung (MA) mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan
perceraian hingga 70%. Pada tahun 2010, terjadi 285.184 perceraian di seluruh Indonesia.
Penyebab pisahnya pasangan jika diurutkan tiga besar paling banyak akibat faktor
ketidakharmonisan sebanyak 91.841 perkara, tidak ada tanggungjawab 78.407 perkara,
dan masalah ekonomi 67.891 perkara. Tahun sebelumnya, tingkat perceraian nasional
masih di angka 216.286 perkara. Angka faktor penyebabnya terdiri atas
ketidakharmonisan 72.274 perkara, tidak ada tanggung jawab 61.128 perkara, dan faktor
ekonomi 43.309 perkara (Antara, 2012).
Dengan diketahuinya begitu banyaknya dampak perceraian terhadap anak seharusnya
orangtua sebaiknya memikirkan dengan matang saat akan mengambil keputusan untuk
bercerai karena akan memberikan dampak bagi seluruh anggota keluarga. Guru bimbingan
dan konseling dapat merancang serta melaksanakan layanan bimbingan dan konseling kepada
siswa yang orangtuanya bercerai terutama bagi siswa yang kesejahteraan psikologisnya
rendah, misalnya dengan melakukan kegiatan konseling kelompok yang dikombinasikan
dengan pendekatan konseling mutakhir seperti bibliotherapy, cinema-therapy, poetry therapy
dan lain-lain.
Kepustakaan :
Amato, Paul R., Sobolewski & Juliana, M. (2001). The Effects of Divorce and
Marital Discord on Adult Children’s Psychological Well Being. American
Sociological Review; Vol 66 (December: 900-921).
Aminah. (2012). Proses Penerimaan Anak (Remaja Akhir) terhadap Perceraian Orangtua dan
Konsekuensi Psikosial yang Menyertainya. Jurnal Imiah Psikologi Candrajiwa.
Volume 1, No.3.
Antara. (2012). Angka Perceraian Pasangan Indonesia Naik Drastis 70%. Republika [on-
line].Diakses p a d a tangan 20 Januari 2012 dari
[Link]
pasangan-indonesia-naik-drastis-70-persen.
Berk, L. E. (2007). Development throught the lifespan. USA: Pearson Education, inc.
Demo, David H., and Alan C. Acock. (1996). Family structure, family process, and
adolescent well-being. Journal of Research on Adolescence, 6, 457-488.
Glenn, Norval D. & Kramer, Kathyrn B. (1985). The Psychological Wellbeing of Adult
Children of Divorce. Journal of Marriage and The Family, 905-912.
Hurlock., E. (2008). Psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang
kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Setyawan, I. (2007). Membangun pemaadan pada anak korban perceraian. Bandung.
Dipresentasikan pada konferensi Nasional I IPK-HIMPSI.
Stevenson, M. R & Black, K. N. 1995. How Divorce Affect Offspring: A Research
Approach. USA: Brown & Benchmark, Inc.