0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan7 halaman

Ujian Penyihir: Harapan Julian

Julian, seorang pemuda yang bercita-cita menjadi penyihir tingkat lanjut, menghadapi ujian pendaftaran di akademi sihir dengan harapan untuk membuktikan kemampuannya kepada keluarganya. Pertemuan tak terduga dengan sahabatnya, Karl, yang kini tampak berbeda, memberi Julian semangat baru meskipun ia merasa tertekan dalam antrian. Ujian dimulai dengan fenomena luar biasa ketika Zafira, seorang peserta dari keluarga bangsawan, berhasil memanggil elemen cahaya, menarik perhatian seluruh kota.

Diunggah oleh

zahraaslika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan7 halaman

Ujian Penyihir: Harapan Julian

Julian, seorang pemuda yang bercita-cita menjadi penyihir tingkat lanjut, menghadapi ujian pendaftaran di akademi sihir dengan harapan untuk membuktikan kemampuannya kepada keluarganya. Pertemuan tak terduga dengan sahabatnya, Karl, yang kini tampak berbeda, memberi Julian semangat baru meskipun ia merasa tertekan dalam antrian. Ujian dimulai dengan fenomena luar biasa ketika Zafira, seorang peserta dari keluarga bangsawan, berhasil memanggil elemen cahaya, menarik perhatian seluruh kota.

Diunggah oleh

zahraaslika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Ini adalah momen yang sangat mendebarkan bagi Julian, ia sudah lama

menantikannya. Harapan besarnya untuk menjadi seorang penyihir tingkat


lanjut perlu ia wujudkan dengan berhasil belajar di akademi ini.
Julian berdiri dalam antrian dengan wajah penuh harap, ia ingin membuktikan
pada kedua orang tuanya bahwa dirinya bukanlah seorang sampah, dan dapat
bersaing dengan para penyihir kuat di seluruh dunia seperti sang kakak.
“Aku berharap dapat membangkitkan elemen yang kuat, meski bukan cahaya
setidaknya petir atau api”
“Untuk elemen di bawahnya seperti air, tanah, dan angin, jika aku
mendapatkan itu, aku pasti akan mengalami penghinaan yang lebih parah”
Julian menyatukan kedua tangan di dadanya, berharap hasil yang terbaik untuk
ujian kali ini. Di bawah terik matahari yang membakar kulit, keringatnya
mengalir deras membasahi tubuhnya. Bersama dengan para peserta lain, dia
menunggu dalam antrian dengan kecemasan yang membayangi hatinya.
Angin timur yang membuat dahaga, berhembus melewati kerumunan dengan
damai. Waktu terus berlalu, dan hanya tersisa beberapa menit sebelum
pendaftaran kembali dibuka. Irama jantungnya semakin cepat seiring waktu
berjalan, dan angin panas yang berhembus mulai terasa dingin.
Julian tenggelam dalam dunianya, berbagai macam gambaran yang tak
menyenangkan mulai membayangi dirinya.
Waktu terus berjalan dan Julian semakin terlarut dalam pikirannya. Wajahnya
terlihat kosong, dia terdiam beberapa saat hingga ucapan seseorang
menyadarkan dirinya.
“Siapa ini? Rupanya seorang sampah dari keluarga Roman”
Julian tersentak, ia tersadar dari lautan pikiran yang menenggelamkannya.
Suara ini terdengar tak asing baginya, dengan logat dan nada bicara yang khas,
ini adalah seseorang yang ia kenal. Julian mengedarkan pandangannya mencari
sumber suara tersebut, ia melihat seseorang berdiri dari kejauhan di luar antrian.
Terlihat seorang remaja seusianya datang menghampiri dengan langkah kaki
yang senyap di antara kerumunan. Namanya adalah Karl, seorang remaja
berpakaian mewah yang merupakan sahabat dekat Julian sebelumnya.
Julian terkejut melihat Karl yang mengenakan pakaian berkilau di bawah
teriknya sinar matahari. Ini tak seperti Karl yang ia kenal sebelumnya.
“Karl? Apa yang sedang kau lakukan di sini?” sapa Julian.
Karl terlihat berbeda dari sebelumnya, setelah berbulan-bulan kami tak saling
bertemu apa yang sebenarnya terjadi? Dia terlihat sangat tampan, apakah itu
adalah sebuah permata yang terletak pada pakaianmu?
Bukankah dia berasal dari keluarga bawah sepertiku, kenapa dia bisa memiliki
pakaian bagus? Bahkan rambutnya terlihat sangat rapih, seperti seorang tuan
muda!

Pertemuan ini mengubah suasana hatinya, kegelisahan yang ia rasakan,


tergantikan oleh keingin tahuan sesaat. Julian menjelaskan pandangannya,
memperhatikan dengan baik apa yang dikenakan oleh orang dihadapannya.
“Kau terlihat sangat berbeda, bagaimana kau bisa memakai permata pada
pakaianmu? Kau terlihat seperti seorang tuan muda dari keluarga
bangsawan!” ungkap Julian yang terkagum.
Benar-benar indah dan mewah!
Sebuah kemeja berwarna hitam, dengan motif jahitan benang emas, di hiasi oleh
rangkaian mutiara di beberapa bagiannya. Jubah merah yang mencapai
pergelangan kaki dengan jahitan naga emas terlihat berkibar di terpa angin
timur. Wajahnya bersinar, dengan bola mata besar yang cerah, memberikan
tatapan lembut pada Julian.

Karl berdiri di samping antrian tempat Julian berada, dengan senyuman yang
indah, memberikan kehangatan dalam sapaannya.
“Kawan, lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu?” ucap Karl menepuk bahu
Julian.
Tangannya terasa lembut, tatapan mata yang penuh rasa hormat di berikan pada
Julian. Dari dekat semakin jelas terasa, perbedaan yang di rasakan Julian
terhadap Karl. Perasaan jauh dan tak nyaman dalam hatinya, seperti bertemu
dengan orang asing yang berasal dari dunia lain.
Julian menjadi gugup ketika Karl menatap matanya, perkataannya menjadi
terbata-bata, “Ah, a-aku baik-baik saja, bagaimana denganmu? Setelah
beberapa bulan tak bertemu, kau menjadi orang yang benar-benar berbeda”
Karl hanya tersenyum mendengar ucapan Julian, ia mengetahui alasan
kegugupan Julian. Ia pun menurunkan tangan dari bahu Julian, bermaksud
mengurangi tekanan yang dirasakan Julian.
“Ada beberapa hal yang terjadi dalam keluarga kami, terima kasih karena
telah membantuku”
“Kau pasti sedang menunggu ujian pendaftaran bukan? Kita akan membahas
pertemuan ini setelah kau selesai” ungkap Karl.
Meski merasa kurang nyaman, Julian berusaha menyesuaikan dirinya dan
menganggap Karl masih sama seperti dulu. Setelah melepaskan beberapa nafas,
Julian menjawab pertanyaan Karl dengan santai.
“Ah benar, aku ingin mengikuti ujian untuk membuktikan pada keluargaku
bahwa aku bukanlah sampah, dan akan menjadi penyihir terbaik di kota ini
melampaui kakakku”
“Aku berharap dapat membangkitkan elemen kuat dan akan mengguncang
dunia dengan kekuatanku” ucap Julian.
Terukir dengan jelas harapan tersebut dalam wajah dan kedua bola matanya
yang bersinar, seseorang dapat dengan mudah mengetahui hal tersebut bahkan
tanpa perlu sebuah ungkapan.
Mendengar ucapan tersebut, Karl hanya bisa tersenyum menanggapinya, ia tak
tahu apakah harapan tersebut akan menjadi kenyataan atau berakhir dengan
kekecewaan.
“Baiklah semoga beruntung, kita akan bertemu lagi setelah ujianmu selesai,
ada banyak yang perlu kita bicarakan” Karl menepuk bahu Julian, dan pergi
meninggalkannya.
“Terima kasih, sampai jumpa” Julian melambaikan tangannya, ia sangat senang
dengan pertemuan ini.
Kecemasan dalam hatinya telah teratasi berkat Karl, ia merasa bersemangat
kembali untuk mengikuti ujian. “Tak peduli apapun yang terjadi, aku harus
menjadi penyihir terkuat dan belajar di sini”
Dengan semangat yang menggebu-gebu Julian bersorak dalam hatinya, berkat
Karl, ia terus tersenyum senang sepanjang waktu.
Dong!
Suara gendang raksasa yang menandakan ujian kembali di buka.
Horus kembali pada lokasi ujian untuk memberikan penilaian pada para peserta
nantinya. Dan ujian pun dimulai, satu-persatu peserta memulai ujian seperti
sebelumnya sesuai urutan dalam antrian. Terlihat ratusan peserta yang berbaris
seperti ular, mengantri untuk mengikuti ujian.
Butuh beberapa waktu hingga giliran Julian tiba, ia berada pada pertengahan
antrian. Dibawah teriknya matahari di atas kepala, mereka tetap gigih
melakukannya. Para peserta yang mendaftar tentu memiliki keinginan untuk
menjadi penyihir hebat di masa depan, meski dunia terbakar sekalipun, mereka
tentu tidak akan menyerah hanya karena sebuah antrian yang panjang.
Suasana yang pengap dan bau badan yang menyebar dalam kerumunan
membuat beberapa orang tumbang tidak bisa mengikuti ujian. Julian mencoba
terus bertahan, ia mulai merasakan mual dan kesulitan bernafas.
“Ugh, aku harus bertahan, hanya tersisa beberapa orang di depanku, aku tak
bisa menerobos karena mereka semua tuan muda yang memiliki penjaga”
Julian melindungi hidungnya dengan telapak tangan dan terus mengangkat
kepala untuk bernafas. “Pwah, sangat sulit untuk mencari udara segar di
tengah kerumunan”
“Para tuan muda itu sama sekali tak terganggu, mereka sangat nyaman karena
memiliki antrian yang berbeda dan beberapa penjaga untuk membuka ruang
bernafas” keluh Julian yang merasa iri.
Andaikan dirinya seorang tuan muda, ia pasti tidak akan mengalami hal seperti
ini. Meski antrian kaum bangsawan dan rakyat biasa di bedakan, namun mereka
hanya memiliki satu alat penguji dan akan bergantian dalam ujian.
Waktu terus berlalu dan langit mulai terasa sejuk, menandakan sore hari hampir
tiba. Kini Julian terlihat berada pada antrian terdepan, menunggu untuk
pengujian setelah seorang dari keluarga bangsawan selesai.
Kini adalah seorang remaja perempuan dari keluarga bangsawan yang akan
melakukan ujian. Orang tersebut maju bersama dengan kedua penjaganya
menuju Sword of Spirit.
“Wow gadis itu sangat cantik!” ungkap Julian dalam hati.
Seorang gadis berambut pirang yang terikat ke belakang, berjalan dengan gagah
layaknya seorang ksatria. Dia adalah seorang putri dari saudagar kaya yang
mengelola banyak tambang permata di kerajaan Alhezaa, namanya Zafira
Kieran.
Terlihat pakaian berwarna oranye yang khas milik keluarga Kieran, di lapisi
sebuah rompi coklat dengan jahitan lambang bangau di lengan kirinya, menjadi
tanda latar belakang yang dimilikinya.
Zafira berjalan mendekati Sword of Spirit dan meletakan kedua tangan di
atasnya. Tangannya terlihat sangat lembut namun kuat, dengan rambut yang
dikuncir membuat wajahnya bersinar tanpa satu helaipun yang menghalangi.
Mata birunya bersinar dengan kilatan cahaya yang memantul darinya, membuat
Julian kagum akan keindahan.
“Baiklah nona, konsentrasikan pikiranmu dan bayangkan kekuatan yang
mengalir dari jantung menuju kedua telapak tanganmu” jelas Horus
memberitahu cara untuk melakukan ujian.
“Baik master”
Zafira mengikuti arahan Horus, ia menutup matanya untuk berkonsentrasi
mengendalikan energi.
Wusssh!
Angin bertiup dengan kencang dari segala arah dan membentuk sebuah pusaran
yang berpusat pada Zafira. Fenomena yang luar biasa hingga dapat dilihat oleh
seisi kota dan bahkan sampai pada kediaman sang raja.
“Yang mulia, nampaknya akademi Alhezaa mendapatkan murid yang bagus,
bagaimana menurut anda” ucap seseorang yang berdiri di taman kerajaan
sambil mengibaskan sebuah kipas kecil.
Dia adalah seorang perdana menteri kerajaan Alhezaa, Drugi Normand. Seorang
penyihir elemen angin yang dikenal memiliki kemampuan mengendalikan badai
dan juga seorang pahlawan kerajaan.
“Begitu? Menurutmu apakah dia akan menentang atau mendukung kerajaan?
Putuskan dan kita akan bertindak” ucap seseorang yang sedang duduk dalam
kegelapan.
Dia adalah raja kerajaan Alhezaa, Alexander Eugine!
Dikenal sebagai sang penakluk daratan, penguasa 3 raja beast, seorang penyihir
yang telah melampaui semua batasan. Kekuatannya bahkan terkenal hingga
berbagai kerajaan sekitar, namanya menggema di laut dan terukir pada langit.
Banyak rumor yang tersebar mengenai kehebatan dan kekuatannya, salah
satunya mengenai dirinya yang diduga telah melampaui sang raja pertama.
Drugi terdiam mendengar perkataan raja, ia harus memikirkan setiap kata yang
perlu di ucapkan dengan baik, karena akan berpengaruh kepada masa depan tiap
penyihir di kerajaan.
Sementara itu di tempat ujian, gelombang angin yang kuat menarik seluruh
peserta ke arah Zafira.
Wuussh!
Pusaran kencang yang memutar para peserta dilangit.
Julian berusaha keras menahan tubuhnya dari tarikan pusaran angin yang kuat
dengan memasang kuda-kuda layaknya seekor laba-laba. Julian menekan kaki
dan tangan untuk berpegangan pada tanah, dan secara tak sadar mengaktifkan
energi tubuhnya.
Para peserta yang terhisap pusaran angin terus berotasi searah jarum jam pada
Zafira. Horus dengan tenang memperhatikan fenomena tersebut, ia tak
terpengaruh meski berada sangat dekat dengan Zafira. Horus sengaja
mengabaikan para peserta yang terhisap dan memperhatikan mereka yang
mampu bertahan.
Horus melirik Julian, sebuah asap hitam tipis menyelimuti tubuhnya yang
sedang berusaha keras menahan tarikan pusaran angin. Seluruh tubuh Julian
menegang, otot-ototnya berteriak merasakan beban yang luar biasa.
“Argh, kapan ini akan berakhir aku sudah tak tahan lagi” keluh Julian, seluruh
urat di tubuhnya mulai bermunculan dengan keringat yang mengalir deras.
“Anak itu menarik, sayang sekali” ucap Horus menjentikan jarinya.
Ctik!
Dengan satu jentikan jari, Horus menciptakan sebuah pelindung dan menahan
badai angin yang di ciptakan Zafira. Sebuah pelindung yang terbuat dari lava
melapisi seluruh area layaknya sebuah kubah dalam air.
Para peserta yang terhisap mulai berjatuhan dengan luka di seluruh tubuh
mereka. Raiga memanggil tim medis yang terdiri dari beberapa penyihir tingkat
lanjut dengan keterampilan penyembuhan untuk merawat para peserta.
“Tuan Horus apa yang terjadi?” ucap salah seorang perawat.
“Lihatlah, kita menemukan seorang anak yang memiliki bakat tinggi!”
Raiga menunjuk langit, terlihat kegelapan menyelimuti seluruh kota dengan
badai kecil yang menakutkan. Setelah melihat hal tersebut, para perawat
mengangguk, mereka paham apa yang sedang terjadi, dan dengan segera
membawa peserta yang terluka ke ruang medis.
Horus berdiri tegak menghadap Zafira dengan janggutnya yang tertata rapi,
terus-menerus mengawasi di balik mata tajamnya. Dengan jubah yang berkibar,
dia tersenyum tipis memandang badai di langit.
“Akhirnya, kita mendapat hal bagus lagi setelah beberapa tahun”
Setelah beberapa saat, langit kembali cerah seperti semula dengan warna biru
yang membentang di seluruh kota tanpa hiasan awan sedikitpun. Badai itu telah
berhasil menyapu langit hingga tak tersisa sedikitpun.
Badai tersebut berakhir, hanya sedikit orang yang mampu bertahan dari badai
tersebut, dan sisanya membutuhkan perawatan sebelum dapat mengikuti ujian.
Pihak akademi bertanggung jawab penuh atas seluruh kejadian ini dan akan
memberikan kompensasi kepada para peserta yang terluka, dengan
menambahkan waktu pendaftaran ujian.
Julian bangkit dari posisi sebelumnya, tubuhnya terasa seperti di cabik-cabik
dari segala arah. Kedua kaki dan tangannya gemetar akibat menahan tarikan
pusaran angin, dia menatap dalam telapaknya selama beberapa saat.
Ujian masih berlangsung, setelah badai menghilang pedang Sword of Spirit
memancarkan cahaya putih yang menyilaukan dan menyebar ke seluruh
penjuru. Horus terpaksa menggunakan kekuatannya untuk menahan pancaran
tersebut.
“Ugh, sekarang apa? aku tidak bisa melihat apapun!” ucap Julius menutupi
matanya yang terpejam.
Seluruh peserta yang tersisa menutup mata mereka semua untuk menghindari
kebutaan. Dengan fenomena ini mereka mampu menebak kemampuan apa yang
dihasilkan oleh gadis itu, tentunya adalah elemen cahaya!
Setelah beberapa saat, cahaya tersebut pun menghilang, semua orang dapat
membuka mata mereka dengan tenang. Zafira nampak kelelahan, seluruh energi
dan vitalitasnya terserap oleh Sword of Spirit. Ia ambruk dengan kedua tangan
yang tetap berpegang pada pedang.
“Bagaimana hasilnya master?” ucap Zafira yang duduk lemas.
Horus tersenyum, ini adalah hasil yang sesuai dugaan semua orang, dengan
lantang ia mengumumkannya.
“Dengan ini ku umumkan, akademi Hazkia sekali lagi memiliki penyihir
cahaya! Dengan bakat bernilai sembilan dari sepuluh!”
Suara Horus menggema ke seluruh kota, ia sangat senang dengan hal ini hingga
tidak bisa menahan diri.

Anda mungkin juga menyukai