Langit bersorak, seluruh penduduk kota Hazkia tercengang mendengar gema suara Horus.
Semuanya terjelaskan, fenomena pusaran angin yang terjadi, dan pernyataan Horus mengenai
kemunculan penyihir berelemen cahaya, membawa kabar baik ke seluruh kerajaan.
Berbagai macam pujian dan ungkapan syukur menyelimuti seisi kota. Dengan wajah yang
berseri, para warga terus membicarakan peristiwa ini dan bahkan menyebarkannya.
“Kalian dengar itu? Kita memiliki seorang penyihir berelemen cahaya! Kerajaan pasti akan
semakin kuat!”
“Kau benar, saat ini kerajaan hanya memiliki beberapa penyihir cahaya termasuk yang
mulia. Dengan adanya penyihir baru, dapat dipastikan kerajaan akan mampu berdiri diatas
langit!”
Begitulah pembicaraan para warga yang membuat reputasi akademi naik dengan pesat
dikerajaan. Sementara itu, para peserta yang bertahan tak mampu mengatakan apapun,
mereka hanya memendam segala ungkapan dalam hati masing-masing.
Julian tersentak, ini adalah pertama kalinya ia menyaksikan fenomena kemunculan penyihir
elemen cahaya secara langsung. Selama ini ia hanya mendengarnya melalui perbincangan
para petani di sawah.
10 tahun lalu, peristiwa yang sama mengenai kemunculan seorang penyihir elemen cahaya
dan membuat kehebohan di seluruh kota. Dikatakan bahwa setiap kemunculan penyihir
elemen cahaya, mereka akan membawa sebuah badai bersamanya.
Dan peristiwa yang terjadi saat itu adalah, kemunculan 5 penyihir elemen cahaya sekaligus!
Julian tak mengerti kenapa mereka memperlakukan penyihir elemen cahaya dengan
istimewa. Namun setelah kejadian hari ini, ia akhirnya memahami hal tersebut dengan baik,
penyihir elemen cahaya adalah berkah bagi seluruh kerajaan. Mereka memiliki takdir yang
menentukan masa depan kerajaan dengan kekuatan besar dalam genggaman,
Julian mengepal kuat kedua tangannya, entah kenapa ia merasa bahwa dirinya akan
direndahkan sekali lagi, oleh semua orang. Tubuhnya bergetar, dan nafasnya mulai terasa
berat untuk setiap ritme. Kegelisahan kembali membayanginya, ia kehilangan kepercayaan
diri yang ia miliki sebelum datang kemari.
“Elemen cahaya, benar-benar luar biasa. Aku tak tahu elemen apa yang akan ku bangkitkan
nanti. Semoga saja semuanya berjalan sesuai harapan!”
Julian berusaha menenangkan diri, berkali-kali ia mengatur pernafasan dan menjaga
keseimbangan tubuh yang terluka. Ia mengabaikan seluruh cedera yang di deritanya,
menanamkan sugesti bahwa semua ini merupakan bagian dari ujian dan bukanlah hal yang
serius untuk membawanya pada kekhawatiran.
Julian menatap langit dengan wajah penuh harap, sudah berkali-kali ia membuat permohonan
untuk ujian kali ini.
“A, aku membangkitka elemen cahaya? Terima kasih master atas bimbingannya!” ungkap
Zafira membungkuk dengan penuh rasa syukur.
Hal ini jelas melampaui harapan keluarganya, tak ada yang mengira dia akan membangkitkan
elemen cahaya yang begitu melegenda.
“Tak perlu begitu, ini semua adalah bakat alami milikmu, aku sama sekali tidak melakukan
apapun. Jadi bangunlah anak muda, potensimu sangat luar biasa” ucap Horus menerima
penghormatan Zafira dengan wibawa.
“Terima kasih guru, kalau begitu murid ini izin pamit agar ujian tetap berlangsung” Zafira
membungkuk hormat dan pergi menuju asrama.
Horus terus mengusap janggutnya, ia nampak sangat bahagia. Hari ini, orang-orang berbakat
di akademi Hazkia terlihat memiliki akhlak yang baik dan sopan padanya. Ia benar-benar
mengagumi dan bersyukur akan hal tersebut.
Suasana kembali tenang, dan Horus membuka ujian untuk peserta selanjutnya. Julian
melangkah dengan tertatih-tatih, mendekati pedang Sword of Spirit untuk mengikuti tesnya.
Ia membungkuk sembari menyatukan kepalan tangan, bermaksud memberikan hormat pada
Raiga sebelum melakukan ujian.
“Salam tuan! Izinkan saya mencoba ujian”
Horus menerima salam hormat Julian dengan senang hati, ia tak pernah menolak
penghormatan siapapun tak peduli asalnya.
“Anak muda yang baik, semoga keberuntungan berpihak padamu” ucap Raiga memberikan
doa.
Julian kembali berdiri dan berada sangat dekat dengan Sword of Spirit, ia mengangkat kedua
lengannya bermaksud untuk menyentuh pedang tersebut. Jantungnya berdegup kencang
seakan hendak meledak keluar dari tubuhnya, dengan nafas yang semakin tak beraturan,
Julian memaksakan diri untuk menyentuh pedang.
Grep!
Kedua tangannya saling bertumpu di atas gagang pedang, tubuhnya gemetar, kedua kakinya
bahkan sulit untuk berdiri dengan benar. Dengan mata terpejam, Julian berdoa dalam hatinya,
dan mulai memfokuskan diri pada ujian.
“Konsentrasikan pikiran, abaikan seluruh rasa dan bayangkan bahwa energimu mengalir
pada kedua tanganmu. Bayangankan tanganmu memegang sebuah bola cahaya yang
bersinar dan memberikan perasaan nyaman pada tubuhmu” ucap Horus memberikan
instruksi.
Julian mengikuti arahan Horus, ia membayangkan sebuah bola dengan tekstur lembut di
kedua tangannya. Satu tarikan nafas dan Julian berhasil mengatur pikirannya, merealisasikan
bola tersebut dengan bayangan nyata.
Kraaah!
Gema mengerikan terdengar di telinga semua orang, seolah ada bisikan yang menekan
mereka.
Suasana berubah, langit bagaikan sungai darah yang mengaliri seluruh kota, dengan matahari
berwarna kuning terlihat seperti sebuah mata milik dewa. Kota Hazkia berada didalam lautan
ketakutan, para penduduk menganggap ini sebagai pertanda bencana. Mereka berbondong-
bondong keluar rumah dan bersujud dibawah langit, berdoa memohon ampunan dari
kemarahan alam semesta.
“Oh tuhan, tolong ampuni kami..” ungkap para penduduk.
Di akademi, para peserta tercengang menyaksikan fenomena tersebut, mereka jatuh diatas
tanah dengan ketakutan yang membayangi hati. Horus menatap langit, fenomena ini belum
pernah ia alami sebelumnya, seluruh tubuhnya bergetar terpengaruh oleh tekanan yang
ditimbulkan. Ia menatap kedua telapaknya, dan bertanya dalam hati, mengapa kekuatanku tak
dapat digunakan?
“Kemampuan apa yang dibangkitkan oleh anak ini sehingga mampu memblokir semua
elemen tubuh?”
Horus menatap Julian yang sedang terpejam memfokuskan dirinya, anak itu nampak tak
sadar dengan fenomena ini. Tak peduli elemen apa yang ia bangkitkan, aku berani bertaruh
kejadian ini belum pernah di alami oleh akademi manapun, bahkan selama sisa hidupku tak
akan terjadi lagi.
“Anak yang menarik, nampaknya aku akan mengawasinya selama di akademi”
Horus terus memperhatikan Julian, tak pernah terpikirkan olehnya akan menemukan
seseorang yang mampu menarik perhatiannya seperti ini. Dalam hatinya, dibanding dengan
Zafira yang membangkitkan elemen cahaya, ia lebih tertarik pada kemampuan misterius
Julian. Namun ia tetap menginginkan keduanya untuk berlatih di bawah bimbingan dirinya.
Horus mengusap janggutnya, dia tersenyum tipis memikirkan sebuah rencana untuk merekrut
mereka berdua sebagai murid pribadi. Sementara itu Julian masih fokus dengan ujiannya,
dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh, ia bertumpu pada pedang.
Fenomena masih berlangsung, cuaca masih tenang namun menekan semua orang seperti
badai. Setelah beberapa saat, Sword of Spirit mulai bereaksi mengeluarkan kepulan asap
hitam yang menyelimuti badan pedang. Seketika Horus terkejut, ia sadar akan sesuatu dari
asap hitam tersebut.
“Ini, elemen kegelapan!” ungkap Horus.
Suaranya lembut, namun menggelegar dengan gema ke seluruh akademi, membuat semua
peserta tercengang.
“Elemen kegelapan? Bukankah ini elemen misterius yang dikabarkan mampu bersaing
dengan cahaya?” ungkap para peserta yang terkejut.
“Tapi kudengar elemen ini terlarang dan hanya dimiliki bangsa iblis? Bukankah artinya dia
memiliki hubungan dengan para iblis?” ucap salah seorang peserta.
“Ah sepertinya begitu! Kalau benar, orang ini berarti keturunan iblis!” mereka meneriaki
Julian dengan keras.
Berbagai macam bisikan yang menjelekan Julian pun bertebaran diantara para peserta,
mereka bahkan menambahkan beberapa rumor buruk mengenainya. Bisikan-bisikan para
peserta tanpa sadar sampai ke telinga Horus, hal ini membuatnya murka. Horus
mengeluarkan aura api miliknya dan menghempaskan para peserta yang mencibir Julian, ia
kesal mendengar ucapan mereka.
“Hmph, orang-orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Elemen kegelapan bukan berarti iblis!
Hanya karena belum ada manusia yang memilikinya, bukan berarti dia iblis. Ini adalah
sebuah keistimewaan yang datang pada akademi” ungkap Horus kesal.
Ia berdiri dengan kepala terangkat, dan wajah yang berkerut, kedua matanya memancarkan
aura kemarahan. Pandangan yang sinis, ia merendahkan semua orang karena pengetahuan
dangkal mereka. Bagaimana bisa orang awam mencoba mengevaluasi sesuatu yang berada di
luar jangkauannya?
Menurut Horus, kekuatan sihir adalah sesuatu yang berada diluar nalar manusia, ada banyak
misteri tersembunyi didalamnya. Sebelum seseorang mencapai tingkatan yang melampaui
alam semesta, mereka tidak akan bisa mengungkapkan keseluruhan misteri.
Setiap penyihir akan diberi misteri sesuai dengan tingkatan mereka, semakin tinggi, semakin
banyak pula hal yang perlu diungkap. Oleh karena itu, para penyihir umumnya akan
meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari petunjuk dari setiap pertanyaan yang
bermunculan. Dengan berkelana, mereka akan menemui berbagai hal yang membantu dalam
peningkatan kekuatan.
Para peserta terdiam menundukan kepala, mereka tertekan oleh aura milik Horus. Dihadapan
seorang master, siapa yang berani untuk mengangkat kepala, hal itu sama saja dengan
mengajukan sebuah tantangan. Mereka hanya bisa mengangguk dan kembali memperhatikan
Julian, menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Ketika semua orang terdiam dan jatuh dalam keheningan, dengan lantang Horus mengatakan
sesuatu yang mengejutkan .
“Dengar ini! Pemuda ini akan diterima oleh akademi, meski seluruh kerajaan menolak, aku
secara pribadi akan menerimanya. Di bawah bimbinganku, biar kulihat siapa yang berani
menentang!”
Suara Horus jatuh dan menggema ke seluruh kota, dan bahkan sampai pada telinga sang raja.
“Hmm, menarik. Horus sampai melindungi anak ini, dia pasti sangat tertarik pada bakatnya.
Entah jadi apa dia dimasa depan nanti, Horus akan mempertanggungjawabkannya dengan
nyawa” ungkap sang raja yang duduk di balik kegelapan.
Wajahnya tersembunyi dalam bayangan, hanya kedua bola mata yang bersinar dibalik
kegelapan. Kedua matanya menatap tajam pada langit, tak ada yang mengetahui isi pikiran
sang raja, bahkan sang perdana menteri tidak sanggup menebaknya.
Drugi melirik raja sesaat dengan tubuh tegapnya, ia memikirkan setiap kata yang telah
terucap. Dengan kipasnya, ia menghempaskan angin kecil yang berisi sebuah pesan dan
dikirimkan pada seluruh pejabat kerajaan. Drugi meminta seluruh pejabat berkumpul malam
ini untuk membahas para jenius yang muncul di akademi.
Ia kembali memandang langit, dengan suara lembut mengucapkan beberapa kata pada sang
raja.
“Yang mulia, haruskah aku menaruh pandangan untuk anak itu? Nampaknya ia akan
memberikan ancaman pada kerajaan dimasa depan”
Mendengar ucapan sang perdana menteri, raja hanya terdiam tidak memberikan tanggapan.
Hal itu membuat Drugi semakin bingung, yang mulia agung raja Alexander Eugine, benar-
benar seorang karakter misterius diantara para penguasa.
“Pencapaian anak ini dimasa depan tak terbatas, entah akan menjadi rekan atau lawan,
semuanya tergantung pada dirinya. Kita hanya perlu mengawasinya”
Sementara itu Julian masih terus memegang erat ujung Sword of Spirit, asap hitam yang
membayangi pedang tersebut mulai memudar hingga akhirnya menghilang.
Ziiing!
Ujung Sword of Spirit menembakan bayangan hitam kearah Julian, membuatnya terpental
sejauh beberapa meter.
“Ugh” keluh Julian yang terbaring di tanah.
“Apa yang terjadi?”
Julian menatap langit, ia berada dalam kebingungan mendapati warna langit yang berubah
menjadi merah. Apa sebenarnya yang terjadi disini? Ketika menyentuh pedang itu, aku
merasa seperti kesadaranku terhisap kedalam sebuah katai putih dengan tarikan yang sangat
kuat. Entah bagaimana caranya hingga aku akhirnya berhasil keluar dari sana berkat sebuah
rantai emas yang menariku keluar.
Julian bangkit, ia berusaha untuk berdiri dan kembali ketempat Sword of spirit berada.
Krak!
Julian ambruk, kaki kirinya patah hingga membuatnya tak mampu berdiri meski terus
mencobanya.
“Ah, sakit sekali, kenapa harus patah disaat seperti ini.. aku pasti akan gagal dalam ujian
bila begini..”
Julian kecewa terhadap dirinya sendiri, mengapa ia begitu lemah hingga terluka disaat seperti
ini? Namun seorang penyihir sejati tidak boleh menyerah apapun keadaanya, ia harus
berusaha untuk bangkit dan kembali melakukan ujian.
Julian memaksakan diri hingga membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat, wajahnya
meringis menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia menanamkan pikiran dalam dirinya bahwa,
ini bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan perjuangan yang akan ia tempuh untuk
menjadi penyihir tingkat lanjut dan melampaui sang kakak.
Ketika ia hendak berdiri, sebuah gertakan menghentikan tubuhnya,
“Cukup! Kau tidak bisa melanjutkan ujian lagi”
Julian tersentak dan kembali jatuh, ia melirik kedepan untuk mengetahui siapa yang
menghentikannya. Suara tersebut ternyata berasal dari Horus sang penilai ujian, dialah orang
yang menghentikan Julian untuk melanjutkan ujian.
Mengetahui fakta tersebut, Julian kembali pada kekecewaan, ia sudah menduga hal ini akan
terjadi. Saat dimana dia akan dipermalukan karena gagal dalam ujian, hatinya terasa sangat
sakit saat ini hingga melupakan kesedihan yang harusnya ikut terasa. Tak hanya gagal, ia
bahkan mengalami luka-luka pada tubuh yang harus disembuhkan terlebih dahulu, sungguh
terlihat seperti seorang pecundang sejati. Itulah yang dipikirkan oleh Julian dalam kondisi
duduk termenung hingga sebuah suara kembali mengejutkan dirinya.
“Lulus!”
Julian tersentak, ia menatap Horus dengan keterkejutan diwajahnya, tak percaya apa yang
didengar.
“Kau diterima di akademi ini, belajarlah dengan giat dan kau akan memiliki masa depan
yang cerah” ucap Horus memberikan senyuman pada Julian.
Julian tak percaya mendengar hal ini, namun ia tetap bersyukur meski mungkin hanyalah
sebuah khayalan semata. Air mata kebahagian mengalir dengan senyuman penuh syukur yang
terukir jelas diwajahnya, ia bersujud dibawah langit, dan melupakan segala rasa sakit
sebelumnya.
“Terima kasih, tuhan kau telah mengabulkan harapanku. Aku pasti akan berjuang keras
untuk memenuhi takdir yang engkau tentukan” ungkap Julian yang menangis gembira.
Horus hanya tersenyum melihat Julian yang bersujud dibawah sinar matahari. Horus menatap
langit, cuaca kembali normal seperi sedia kala, fenomena kemunculan bakat penuh telah
berakhir.
Bruk!
Julian jatuh pingsan tepat setelah ia memberikan sujud syukur pada langit, dengan cepat
Horus memanggil para penyihir medis untuk membawa Julian ke ruang pengobatan.
Para peserta lain yang melihat kejadian tersebut hanya diam membisu, rasa iri, dengki,
kagum, bahkan simpati terpendam dalam hati masing-masing. Rasa yang tak terungkap
tersebut hanya dapat disimpan dalam hati mereka.